Qana’ah dan Kecemasan Orang Tua ABK
Qana’ah dan Kecemasan Orang Tua ABK
SKRIPSI
OLEH:
YENI OKTAVIA
158110197
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2019
HALAMAN PERNYATAKAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, nama Yeni Oktavia dengan disaksikan oleh
dewan penguji skripsi, menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya saya sendiri dan
manapu, sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat orang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai
dengan isi penyataan ini, maka saya bersedia gelar kesarjanaan saya dicabut.
Yeni Oktavia
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini akan aku persembahkan untuk orang yang selalu memberikan
warna dalam hidupku, khususnya untuk kedua orang tua ku yang selalu
memberikan kasih sayang yang tiada henti kepada ku, dan kepada ke tiga
skripsi ini serta untuk sahabat ku tersayang yang selalu membantu ku dan
memberi motivasi.
HUBUNGAN ANTARA QANA’AH DENGAN KECEMASAN PADA ORANG
TUA YANG MEMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
Yeni Oktavia
158110197
FAKULTAS PSIKOLOGI
ABSTRAK
Yeni Oktavia
158110197
FACULTY OF PSYCHOLOGY
RIAU ISLAMIC UNIVERSITY
ABSTRACT
ﯾﻨﻲ أوﻛﺘﺎﻓﯿﺎ
158110197
ﻣﻠﺨﺺ
اﻟﻘﻠﻖ ھﻮ ﺣﺎﻟﺔ ﻓﻲ ﺷﻜﻞ ﻣﺨﺎوف أو ﻗﻠﻖ أو ﺷﻜﻮك ﺑﺴﺒﺐ ﺗﮭﺪﯾﺪات ﺣﻘﯿﻘﯿﺔ ﯾﺘﻢ ﺗﻠﻘﯿﮭﺎ
ﻣﻦ ﻣﺨﺘﻠﻒ اﻷطﺮاف وﺗﺆدي إﻟﻰ ﻋﺠﺰ اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ .اﻟﻘﻠﻖ اﻟﺬي ﯾﺸﻌﺮ ﺑﮫ اﻟﻮاﻟﺪون اﻟﺬﯾﻦ
ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ ﻻ ﯾﺮﺗﺒﻂ ﻓﻘﻂ ﺑﺎﻷﺑﻮة ،ﺑﻞ ﯾﻤﻜﻦ أن ﯾﻜﻮن
ﻣﺮﺗﺒﻄﺎ ﺑﻤﺴﺘﻘﺒﻞ اﻟﻄﻔﻞ .اﻟﻌﻮاﻣﻞ اﻟﺘﻲ ﯾﻤﻜﻦ أن ﺗﺴﺎﻋﺪ اﻟﻘﻠﻖ ﻓﻲ اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ ھﻲ ﻣﻦ
ﺧﻼل اﻟﻤﻌﺮﻓﺔ واﻟﺪّﯾﻦ ،وھﻨﺎك طﺮق ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ ﻟﻠﺤﺪ ﻣﻦ ﻣﺴﺘﻮى اﻟﻘﻠﻖ ﻟﺪى اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ ﻣﻦ
ﺧﻼل ﻧﮭﺞ دﯾﻨﻲ .ﺗﮭﺪف ھﺬه اﻟﺪراﺳﺔ إﻟﻰ اﻟﺘﺤﻘﻖ اﻟﻌﻠﻤﻲ ﻣﻦ ﻋﻼﻗﺔ اﻟﻘﻨﺎﻋﺔ ﺑﺎﻟﻘﻠﻖ ﻟﺪى
اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ .ﻛﺎﻧﺖ اﻟﻌﯿﻨﺔ ﻓﻲ ھﺬه اﻟﺪراﺳﺔ 288ﻣﻦ اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ اﻟﺬﯾﻦ ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي
اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ ﻓﻲ ﺑﯿﻜﺎﻧﺒﺎرو ،ﺑﺎﺳﺘﺨﺪام أﺳﺎﻟﯿﺐ ﺟﻤﻊ اﻟﻌﯿﻨﺎت اﻟﻌﺸﻮاﺋﯿﺔ
اﻟﻌﻨﻘﻮدﯾﺔ .إن أداة ﺟﻤﻊ اﻟﺒﯿﺎﻧﺎت ﻓﻲ ھﺬه اﻟﺪراﺳﺔ ھﻲ ﻣﻘﺎﯾﯿﺲ اﻟﻘﻨﺎﻋﺔ و .DASSﺗﻢ
ﺗﺤﻠﯿﻞ اﻟﺒﯿﺎﻧﺎت ﺑﺎﺳﺘﺨﺪام ﺗﺤﻠﯿﻞ اﻻرﺗﺒﺎط Spearman’s rhoﺑﻤﺴﺎﻋﺪة SPSS 22.0ﻟﻨﻈﺎم
اﻟﻮﻧﺪوز .ﺣﺼﻠﺖ ﻧﺘﺎﺋﺞ ﺗﺤﻠﯿﻞ اﻻرﺗﺒﺎط Spearman’s rhoﻋﻠﻰ ﻣﻌﺎﻣﻞ ارﺗﺒﺎط 0.004-ﻣﻊ
(p ˃ 0,05) P=0.05اﻟﺘﻲ أظﮭﺮت ﻋﺪم وﺟﻮد ﻋﻼﻗﺔ ذات دﻻﻟﺔ إﺣﺼﺎﺋﯿﺔ ﺑﯿﻦ اﻟﻘﺎﻧﻌﺔ
واﻟﻘﻠﻖ ﻟﺪى اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ اﻟﺬﯾﻦ ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ .ﯾﺘﺄﺛﺮ اﻟﻘﻠﻖ
ﻟﺪى اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ اﻟﺬﯾﻦ ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ ﺑﻌﻮاﻣﻞ أﺧﺮى ﻟﻢ ﯾﺘﻢ
ﻓﺤﺼﮭﺎ.
ﻛﻠﻤﺎت اﻟﺒﺤﺚ :اﻟﻘﻨﺎﻋﺔ ،واﻟﻘﻠﻖ.
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrahim…
Alhamdulillah, segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah
dengan judul “Hubungan antara Qana’ah dengan Kecemasan pada Orang Tua
yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)”. Skripsi ini dibuat untuk
Dalam pentelesaian skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan baik berupa
semangat, motivasi dan sumbangan pikiran dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan
1. Bapak Prof. Dr. H. Syafrinaldi, SH, MCI selaku Rektor Universitas Islam Riau.
3. Ibu Tengku Nila Fadhlia, [Link]., Psikolog selaku Wakil Dekan I Fakultas
4. Ibu Irma Kusuma Salim, [Link]., Psikologi selaku Wakil Dekan II Fakultas
5. Ibu Lisfarika Napitupulu, [Link]., Psikolog selaku Wakil Dekan III Fakultas
bisa diselesaikan.
8. Ibu Juliarni Siregar, M,Psi., Psikolog selaku pembimbing dua yang juga selalu
10. Segenap dosen fakultas Psikologi Universitas Islam Riau, Bapak Sigit Nugroho,
[Link]., Psikolog , Ibu Leni Armayati, [Link], Ibu dr. Raihanatu Binqolbi R, Bapak
Didik Widiantoro, [Link]., Psikolog, Icha Herawati, [Link], [Link]., S.C serta
seluruh dosen yang telah mendidik dan membimbing penulis dalam proses
perkuliahan. Bapak Ibu penulis mengucapkan terima kasih atas ilmu dan
11. Segenap pengurus tata usaha fakultas Psikologi Universitas Islam Riau, yang
12. Kepada kepala SLB Negeri Pembina, SLB Sri Mujinab, SLB Melati, SLB Kasih
Ibu, SLB Kinasih, dan SLB Insan Mutiara yang telah mengizinkan penulis untuk
atas do’a, motivasi, kasih sayang dan kepercayaan yang diberikan kepada
14. Kakak dan Abang ku tersayang Masteni, Dahlia, dan Iskandar, yang telah
memberikan motivasi dan kasih sayang yang tulus kepada penulis sehingga
15. Teruntuk sahabat ku seperjuangan Era May Saroh Manik, Rapis Rika Yanti,
16. Semua pihak yang telah berjasa bagi penulis dan tidak dapat penulis sebutkan
satu persatu, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis berharap semoga
Skripsi ini mungkin belum sepenuhnya sempurna. Oleh karena itu, bila ada
kekurangan dalam skripsi ini dapat menjadi pertimbangan bagi penulis-penulis lainnya
agar menjadi sebuah karya tulis yang lebih lengkap dan lebih baik.
Yeni Oktavia
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN PERNYATAAN........................................................................ ii
DAFTAR TABEL........................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Kecemasan ......................................................................................... 12
2. Aspek-aspek ................................................................................ 15
C. Qana’ah .............................................................................................. 21
E. Hipotesis Penelitian.............................................................................. 29
B. Definisi Operasional............................................................................. 30
C. Subjek Penelitian.................................................................................. 31
A. Prosedur Penelitian............................................................................... 39
c. Uji Hipotesis............................................................................. 49
C. Pembahasan .......................................................................................... 49
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 52
B. Saran..................................................................................................... 52
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 3.2 Blue Print Skala Qana’ah sebelum Try Out .............................. 35
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap orang tua menginginkan anaknya lahir dalam keadaan sehat dan
dapat tumbuh menjadi anak yang taat ibadah, memiliki intelektual yang baik, dan
sukses dalam hidupnya, namun keadaan akan berubah ketika seorang yang
hambatan atau kelainan dari segi fisik, keterbelakangan mental, gangguan emosi,
pendidikan khusus yang dapat di sesuaikan dengan hambatan yang dialami anak
sosial, kelumpuan pada otak, dan ketidak mampuan belajar atau gangguan atensi
(Sumekar, 2009).
pasti, dimana Indonesia belum memiliki data yang spesifik mengenai jumlah anak
dan Perlindungan Anak, dapat diketahui bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus
yang didata sekitar 1,5 juta jiwa pada tahun 2015. Sementara jumlah anak
berkebutuhan khusus di Dunia menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
kebutuhan khusus pada tahun 2016 diperkira sekitar 500 jiwa yang baru terdata
drastis sehingga pada tahun 2018 peningkatan menjadi 2 kali lipat dari tahun
Inklusi dimana Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai salah satu Intutisusi pendidikan
yang menerima anak berkebutuhan khusus di kota Pekanbaru tidak lagi dapat
meresmikan 37 Sekolah Dasar Leguler yang berstatus Inklusi. Hal ini bertujuan
khusus juga dapat dilihat dari diadakan kegiatan lomba tahunan seperti Festival
untuk mecari bakat dalam diri anak berkebutuhan khusus. Fasilitas yang
atribut lengkap untuk lomba dan peserta diberikan penginapan di hotel berbintang.
Dengan diadakan perlombaan tersebut banyak orang tua merasa bangga terhadap
anaknya yang dapat meraih prestasi meski pun mereka perlu perhatian khusus dari
orang terdekatnya.
terutama ibu menjadi orang yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan yang
dicapai oleh anak tersebut. Ibu seharusnya memiliki kesiapan dalam mendidik
dirasakan oleh ibu. Jika seorang ibu dapat memberikan pola asuh yang sesuai
dengan kekhususan anak maka anak tersebut akan menunjukkan adanya kemajuan
mengasuh anak, melainkan harus adanya kerja sama dengan keluarga, pihak
sekolah dan terapis anak. Selain ibu, keluarga juga memiliki kewajiban dalam
memberikan dampak yang buruk atau masalah (problem) bagi keluarga tersebut.
tidak mudah bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk dapat
dinamika keluarga khususnya pada orang tua dan anak lainnya yang harus
baru. Setiap orang tua tidak dapat memperlakukan anaknya dengan pola asuh
yang sama dan jika didalam keluarga terdapat anak yang mengalami
dibutuhan seorang ibu yaitu adanya pengetahuan yang berkaitan dengan khususan
anak, keterlibatan seorang ibu dalam pendidikan anak dan adanya dukungan sosial
Luar Biasa (SLB) yang melakukan perkumpulan yang bersifat kekeluargaan untuk
Terbentuknya Paguyuban di sekolah tersebut membuat para orang tua untuk dapat
merasa hal tersebut karena untuk meminta para orang tua datang kesekolah itu
sangat sulit tetapi dengan adanya Paguyuban orang tua lebih sering datang
tersebut. Hasil penelitian Azeem (2013) menunjukkan bahwa ibu yang memiliki
pengasuhan dari pada ibu yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus. Bahkan
banyak orang tua yang merasa sia-sia ketika memiliki anak berkebutuhan khusus,
tingginya tingkat kecemasan yang dirasakan seorang ibu akan berdampak buruk
Berbagai bentuk kecemasan dialami oleh seorang ibu ketika memiliki anak
kecemasan yang dirasakan oleh seorang ibu terhadap karir anaknya dimasa depan.
Hal ini juga terlihat pada beberapa orang tua yang anaknya memiliki hambatan di
2018 menunjukkan bahwa tidak hanya mencemaskan karir anaknya kedepan, tapi
juga menunjukkan kecemasan dalam bentuk lain yaitu takut akan penolakkan dari
keluarga dan masyarakat, bahkan ada juga orang tua yang memindahkan anaknya
ke pondok pesantren karena khawatir tidak dapat mengurus anaknya dengan baik.
diantaranya adalah adanya pikiran yang tidak rasional dan keinginan akan
kesempurnaan (Ghufron & Risnawati, 2014). Pikiran yang tidak rasional
merupakan indikasi dari kurangnya penerimaan orang tua terhadap hambatan yang
dimiliki anaknya. Jika orang tua mampu menerima kondisi anaknya, maka tidak
Penerimaan juga dapat terwujud dari perilaku bersyukur, dimana orang tua ABK
dimana orang yang sehat mental terhindar dari kecemasan yang tidak rasional.
Reza, 2016).
dan akhlak. Akhlak didalam Islam menjadi pondasi dalam kehidupan manusia
karena Allah SWT menyukai orang-orang yang berakhlak mulia. Hal ini dapat
dilihat dari hadits riwayat Tirmidzi Al-Albani yang menunjukkan orang mukmin
yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah
SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk sebagai panutan bagi orang muslim
agar dapat memiliki akhlak mulia. Hal ini dapat dilahat dalam sabda Nabi
Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
Penerimaan dan rasa syukur merupakan akhlak mulia dalam Islam, dimana
seseorang yang menerima nikmat walaupun sedikit dan bersyukur dengan nikmat
tersebut, maka orang tersebut dapat dikatakan memiliki sifat qana’ah. Adapun
fenomena yang ditemukan di lapangan banyak orang tua yang memiliki anak
manusia yang tetap ridha atas pemberian Allah SWT, menerima, dan merasa
cukup atas pemberian Allah SWT. Seseorang yang menanamkan sifat qana’ah
didalam dirinya tidak pernah meminta lebih kepada Allah SWT mereka menerima
pemberian Allah SWT dengan tangan terbuka bahkan orang yang qana’ah selalu
orang memiliki sifat qana’ah dapat menyikapi dengan sabar permasalahan yang
muncul dalam kehidupannya dan berusaha untuk tetap menghadapi masalah serta
orang yang qana’ah hidup selalu sederhana sehingga dalam menjalani kehidupan
mampu melakukan evaluasi secara positif terhadap hal yang diperoleh dan terjadi
dalam hidupnya. Orang yang memiliki sifat qana’ah akan dikarunai hati yang
tenang dan selalu berpikir positif karena orang yang qana’ah selalu senantiasa
menjalankan kehidupan atas izin Allah. Penelitian qana’ah dilakukan sejak tahun
kesejahtraan psikologis (Ani, 2016; Saputro, Hasanti & Nashori, 2017; Azkarisa
pemberian Allah SWT dan juga manusia tidak mempunyai hak untuk memiliki
pemberian Allah SWT. Tidak banyak orang tua yang mampu menerima anak
berkebutuhan khusus didalam keluarga. Beberapa waktu yang lalu terjadi kasus
reaksi penolakan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak berkebutuhan
khusus (ABK) diduga dengan sengaja membuang anak karena lahir dalam
Sikap qana’ah yang dapat dilakukan dari manusia yaitu merasa puas atas
apa yang kita miliki saat ini maka dalam masalah dunia kita dapat melihat orang
yang berada di bawah kita dan pada masalah kehidupan akhirat kita dapat melihat
orang yang berada di atas kita. Hal tersebut telah ditegaskan oleh Rasulullah
Artinya; “ Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di
atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak
(Muttafaqun Alaih).
berindikasi dapat menurunkan tingkat kecemasan seorang ibu. Sejauh apa yang
bagaimana sifat qana’ah mempengaruhi kondisi kecemasan pada seorang ibu yang
B. Rumusan Masalah
dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus
(ABK).
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Psikologi Islam.
2. Manfaat Praktis
qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan
khusus (ABK), maka dapat menjadi referensi atau masukan bagi orang tua
Allah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kecemasan (Anxiety)
Cemas dalam bahasa latin “anxius” dan dalam bahasa Jerman “angst”
pengalaman psikis dan hal wajar yang pernah dialami oleh setiap orang untuk
kekhawatiran dan rasa ketakutan terhadap hal yang tidak jelas yang dirasa orang
dirasakan oleh seseorang yang disebabkan dengan objek yang tidak jelas.
Menurut Freud (dalam Feist & Feist, 2010), kecemasan merupakan suatu
kondisi yang tidak menyenangkan yang disertai oleh sensasi fisik berlebihan
sehingga dapat mengacam diri sendiri dan dapat memicu sifat emosional
hal yang tidak menyenakan di masa yang akan datang. Kecemasaan ditandai
dengan perasaan akan terjadi masalah pada bagian otonomik, masalah pada otot,
situasi yang tidak menyenakan tanpa alasan yang jelas, dan dapat dipengaruhi
anggota tubuh yang kaku, dan memiliki ketakutan akan masalah di masa lalu
Durand dan Barlow (2006) merupakan suasana hati yang tidak menyenangkan,
dimana akan berdampak pada ketegangan jasmani yang dapat dialami oleh
seseorang dan memiliki rasa takut datangnya bahaya dimasa yang akan datang
dasar (basic anxienty) adalah suatu perasan ketakutan akan ditinggalkan sendiri
serta memiliki perasaan yang tidak aman sehingga membuat dirinya menjadi
tidak berdaya. Hal tersebut muncul dari permasalahan yang dihadapi seseorang
bahwa kecemasan dasar berasal dari konflik sosial dalam keluarga, hampir setiap
perasan cemas, tegang, dan emosi terhadap hal yang sepele. Sedangkan menurut
Kendler (dalam King, 2012) gangguan kecemasan tergeneralisasi (generalize
dapat dirasakan oleh seseorang secara berturut-turut selama 6 bulan dan orang
ditandai oleh perasaan takut terhadap sumber yang tidak jelas dan merasa
seperti merasa lemah sehingga individu tersebut tidak memiliki keberanian dan
yang dialami oleh individu dengan ditandai perasaan takut atau kekhawatiran
a. Kekhawatiran (worry)
b. Emosionalitas (emosionality)
Suatu bentuk reaksi yang muncul dari rangsangan saraf otonomi seperti
interfance)
sebagai berikut :
3. Jenis-jenis Kecemasan
a. Kecemasana objek adalah suatu perasaan yang muncul dari pemikiran yang
tidak rasional sehingga selalu berpikir akan terjadi bahaya yang menimpah
dirinya. Kecemasan objek timbul dari sifat pembawaan yang cenderung
b. Kecemasan neurotik
merasa gugup
c. Kecemasan moral
Perasan yang takut terhadap suatu kejadian yang dapat terulang kembali, hal
Suatu pemikiran yang tidak logis dan seseorang yang melakukan sesuatu
berpikir buruk terhadap dirinya sendiri dan perasaan tidak mampu untuk
d. Kesempurnaan
beranggapan bahwa dirinya telah melakukan suatu hal benar tanpa ada
yang dapat menguragi kecemasan yaitu antara lain pengalaman buruk dimasa
khusus merupakan anak yang mengalami hambatan secara signifikan pada anak
fisik, psikologis, dan perilaku. Seperti anak yang memiliki hambatan dalam
mengalami penyimpangan dalam segi fisik, mental, sosial, dan emosi. Sehingga
a. Tunarungu
sejak lahir, dimana orang yang memiliki gangguan pendengaran tidak dapat
orang lain.
b. Tunanetra
penglihatan dapat dibagi menjadi 2 yaitu buta total dan kurang melihat (low
vision).
c. Tunadaksa
Kelainan fisik khususnya pada bagian anggota tubuh antara lain seperti: kaki,
d. Tunagrahita
raterdasi mental.
lingkungan sekitar.
e. Tunalaras
f. Autis
a. Tunawicara
melakukan aktivitas yang monoton, dan berulang yang muncul sebelum usia
3 tahun. Asperger Syndrome (AS) disebut dengan mild autis, memiliki tingkat
khusus.
e. Anak Indigo
C. Qana’ah
1. Pengertian Qana’ah
Menurut Al-Faruq (2012) qana’ah berasal dari bahasa Arab yaitu rela dan
suka menerima yang diberikan padanya, dimana seorang yang memiliki sifat
qana’ah selalu merasa cukup dan merasa puas dengan apa yang Allah SWT
ada. Qana’ah secara bahasa merupakan ridha dengan ketentuan Allah, artinya
seseorang merasa cukup dan puas dengan apa yang Allah SWT berikan sehingga
bahasa qana’ah adalah rela atau ridho sedangkan menurut istilah qana’ah berarti
menerima ketika berada dalam ketiadaan atau tidak memiliki apa yang
merupakan penerimaan terhadap apa yang didapat dan merasa ikhlas dengan
kondisi yang dialami. Secara istilah dapat diartikan bahwa orang yang memiliki
sifat qana’ah menerima dengan ketulusan hati dan mengambil manfaat sekedar
Menurut pendapat ulama Sufi qana’ah adalah rasa puas dengan apa yang
Hafi bahwa qana’ah adalah seseorang yang berusaha mencari nafkah dalam
menjalani kehidupan, akan tetapi tetap melakukan usaha meskipun hasil yang
merupakan individu yang rela terhadap pemberian rezeki yang telah ditetapkan
ketentuan Allah SWT dan mensyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
yang memiliki sifat qana’ah tidak pernah mengeluh akan ketetapan Allah SWT
lapang dada sambil memikirkan agar takhir di hari esok lebih baik dan jauh lebih
nikmat yang telah didapat, seseorang yang qana’ah menilai apa yang telah
didapat dan bukan yang sedang di dapat. Qana’ah yang ideal memiliki rasa
cukup terhadap nikmat yang di masa lampau tanpa meminta lebih dimasa
sekarang.
Menurut Ali (2014) qana’ah merupakan salah satu dimensi dalam karakter
yang baik pada manusia (akhlak) dalam hal sikap individu mengenai ketentuan
terhadap sesuatu dan rezeki di dunia. Qana’ah juga dapat diartikan sebagai suatu
bentuk kepuasan terhadap harta atau sesuatu yang telah dimiliki seseorang. Ali
(2014) juga mengungkapkan bahwa terdapat dua aspek yang dapat membangun
qana’ah, yaitu kehidupan yang baik (hayatan tayyibah) dan kesediaan dalam
sebuah kedudukan dalam rangka zuhud, ini adalah awal ridha dan awal sikap
meninggalkan keinginan melihat apa yang tidak ada dan merasa cukup dengan
Qana’ah juga memiliki akar kata yang merujuk pada perasaan menerima
dengan tangan yang terbuka. Melalui hal tersebut, qana’ah juga dapat disebut
dengan rela apa yang ada dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Sikap
qanaah bukanlah suatu sikap yang menjadikan kita lemah dan pasrah. Justru
dengan qanaah ini akan membawa seseorang pada derajat yang lebih tinggi (Ali,
2014).
bahwa pada hakikatnya kekayaan ataupun kemiskinan tidak diukur dari banyak
dan sedikitnya harta. Akan tetapi, terletak kepada kelapangan hatinya untuk
menerima dan mensyukuri segala karunia yang diberikan Allah SWT (Rusdi,
2016).
Menurut Haqqi (2003) qana’ah merupakan jiwa yang telah merasa cukup,
dengan demikian maka jiwa itu menjadi mulia dan agung serta mendapatkan
ketenteraman, penghormatan dan pujian yang lebih banyak dari pada yang
memiliki sifat qana’ah akan merasa puas dengan apa yang diperoleh dan
menjadi seseorang yang tidak sombong karena selalu berpikir apa yang mereka
Menurut Rusdi (2016), terdapat dua aspek dalam qana’ah yaitu sebagai
berikut:
Merasa bahagai walaupun harta yang di peroleh itu sedikit dan selalu
menikmati apa yang telah didapat selama hidup yang akan dijadikan sebuah
Merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah SWT dan tidak
meminta kepada Allah SWT agar ditambahkan harta serta tidak menyesali
(2016) dan Hamka (2017) yaitu 1) ridha sedikitnya nikmat yang telah di peroleh;
pemberian dari Allah SWT; 6) bersikap tawakal kepada Allah SWT; 7) tidak
a. Menguatkan Keimanan
kandungan ibunya Allah SWT telah menentukan rezeki, jodoh dan ajal. Oleh
karena itu manusia hanya diperintah berusaha dan Allah SWT yang akan
memberikan rezaki.
menuju jalan yang benar dan dapat memahami makna yang terkandung dalam
Rezeki yang Allah berikan kepada umatnya tidaknya berbentuk materi semata
tetapi seorang anak juga termaksud rezeki yang Allah SWT berikan kepada
memahami nikmat dari perbedaan rezeki dan 5) melihat kepada orang yang
Orang tua merupakan komponen utama pada keluarga yang terdiri dari ayah
dan ibu, yang berasal dari suatu ikatan perkawinan yang sah. Menjadi orang tua
adalah salah satu tahapan yang akan dijalani oleh pasangan yang sudah memiliki
keturunan, dalam tahapan tersebut terdapat penerimaan dan penolakan orang tua
yang berbentuk dimensi suatu kehangatan yang diberikan orang tua terhadap anak
(Lestari, 2012).
maka dapat menimbulkan perasa kecewaan yang mendalam dan memiliki rasa takut
(2015) dan Gunawijaya (2013) menunjukkan bahwa seseorang ibu yang memiliki
mempengaruhi kecemasan pada individu yaitu terdiri atas pengalaman buruk di masa
lalu, pikiran yang tidak rasional, kegagalan katastropik dan kesempurnaan. Salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan yaitu pengalaman yang buruk dimasa
lalu hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan psikologis, karena terdapat masalah
hasil penelitian yang dilakukan Maisaroh dan falah (2011) menunjukkan bahwa
kecemasan.
Konsep religiusitas dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu akidah, ibadah, dan
akhlak. Di dalam Islam akhlak memiliki kedudukan utama sebagai umat muslim,
Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk sebagai panutat orang muslim
agar memiliki akhlak mulia. Penelitian tentang akhlak sudah banyak dilakukan
namun, peneliti memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang akhlak. Dimana dalam
Islam dikatakan oleh Aljauziyah (2011) menjelaskan akhlak dengan sifat qana’ah,
tawakal, syukur, amanah, sabar dan tawadhu. Hasil penelitian Dipoalam (2014) yang
memiliki sifat qana’ah menerima dengan ketulusan hati atas apa yang Allah SWT
Allah SWT.
Yasin (2012), menambahkan qana’ah yang ideal memiliki rasa cukup terhadap
nikmat yang di masa lampau tanpa meminta lebih dimasa sekarang. Hamka (2015),
mengatakan bahwa qana’ah manusia untuk selalu sabar ketika mengalami hal-hal
yany tidak sesuai dengan keinginan dan manusia harus dapat menerima ketentuan
yang diberikan Allah SWT sehingga dapat memunculkan ketenangan di dalam hati.
Manusia yang memiliki hati yang tenang dapat mencegah munculnya perasaan
mengenai apakah ada hubungan antara qana’ah dan kecemasan, hal ini membuat
dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK).
E. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian diatas maka, hipotesis dalam penelitian ini adalah ada
hubungan yang negatif antara sifat qana’ah dengan kecemasan pada ibu yang
METODE PENELITIAN
B. Definisi Operasional
1. Kecemasan
khawatir, merasa terancam dan perasaan tidak nyaman. Kecamasan itu sendiri
adalah reaksi yang normal dirasakan oleh setiap ibu yang mempunyai anak
berkebutuhan khusus (ABK) akan tetapi kecemasan itu terasa wajar selama hal
menggunakan skala dari DASS (Depresion Axienty Stress Scale) (Lovibond &
Lovibond, 1995) yang telah diadaptasi oleh Damanik (2006). Semakin tinggi
skor skala menunjukkan semakin tinggi pula kecemasan dan sebaliknya semakin
rendah skor yang didapatkan maka semakin rendah kecemasan pada orang tua.
2. Qana’ah
Qana’ah merupakan salah satu sifat yang di ajaran dalam Agama Islam
dimana individu yang qana’ah memiliki sikap tenang, rela, rihdo, dan merasa
cukup atas apa yang telah Allah SWT berikan serta menjauhkan diri dari rasa
tidak puas terhadap apa yang telah diberikan olehnya. Rasa cukup yang ada di
diri manusia akan menjadi tonggak utama dari untuk terus bersyukur kepada
SWT. Qana’ah diukur dengan menggunakan skala qana’ah yang dibuat sendiri
oleh peneliti berdasarkan aspek yang dikemukan oleh Hamka (2017) dan Rusdi
(2016). Semakin tinggi skor skala menunjukkan semakin tinggi pula qana’ah dan
sebaliknya semakin rendah skor yang didapatkan maka semakin rendah qana’ah.
C. Subjek Penelitian
1. Populasi Penelitian
antara lain seperti: manusia, hewan, tumbuhan, udara, dan peristiwa. Sehingga
keseluruhan kelompok pada sampel yang diambil dan jumlah kelompak yang
Populasi penelitian ini yaitu sebanyak 1.034 orang tua yang memiliki anak
Pendomo Limo, d) SLB Al-faqih, e) SLB Pelita Hati, f) SLB Panam Mulia, g)
SLB Kasih Ibu, h) SLB Kinasih, i) SLB Insan Mutiara, j) SLB Pelita Nusa, k)
SLB Anak Mandiri, l) SLB Cendana, m) SLB Melati dan n) SLB Baiquntah.
2. Sampel Penelitian
sampel penelitian adalah bentuk perwakilan dari setiap pupulasi. Menurut Azwar
populasi yang diperoleh. Jika jumlah populasi penelitian besar, maka jumlah
sampel penelitian dapat dilakukan dengan perwakilan dari setiap populasi yang
diperoleh.
Pada penelitian ini teknik sampel penelitian yang digunakan yaitu dengan
perwakilan populasi yang dilakukan secara acak tanpa melihat kestrata dalam
secara acak dengan menggunakan random pada 14 SLB yang berada di kota
Pekanbaru.
beragama Islam dan orang tua dari anak berkebutuhan khusus tersebut. Jumlah
sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 288
sampel. Pada SLB Negeri Pembina jumlah sumpel yang diambil adalah
sebanyak 100, SLB Melati sebanyak 80 sampel, SLB Sri Mujinab sebanyak 42
sampel, SLB, SLB Kinasi sebanyak 40 sampel dan SLB Insan Mutiara sebanyak
26 sampel.
Tabel 3.1
Jumlah Sampel Penelitian
Nama Sekolah F %
SLB Negeri Pembina 100 34,72%
SLB Melati 80 27,78%
SLB Sri Mujinab 42 14,58%
SLB Kinasi 40 13,89%
SLB Insan Mutiara 26 9,03%
Total 288 100%
Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 288 orang tua yang memiliki
Keterangan: n = N / (1+N.(e)2)
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
dibantu dengan menggunakan skala. Dimana menurut Azwar (2014) skala adalah
berupa pernyataan yang disusun untuk dapat mengungkap tujuan dari penelitian.
Agar mendapatkan hasil yang akurat peneliti menggunakan dua skala yaitu skala
skala likert yang terdiri dari 5 pilihan jawaban Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S),
Netral (N), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Apabila subjek
menjawab SS untuk aitem favorable maka akan diberi skor SS (4) dan jika S (3), N
(2), TS (1), dan STS (0). Sedangan pada unfavorable subjek menjawab SS
menggunakan model likert. Skala DASS terdiri dari 42 aitem, yang mencakup tiga
subvariabel yaitu mengungkap depresi, stres, dan kecemasan. Alat ukur ini
(lumayan sering), dan 3 (sering sekali). Aitem 3, 5, 10, 13, 16, 17, 21, 24, 26, 31,
34, 37, 38, dan 42 yaitu pernyatan untuk depresi, aitem 2, 4, 7, 9,15, 19, 20, 23, 25,
28, 30, 36, 40, dan 41 yaitu pernyataan untuk kecemasan (anxiety) sedangan aitem
1, 5, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27, 29, 32, 33, 35, dan 39 yaitu penyataan untuk stress.
1. Skala Qana’ah
Skala ini bertujuan untuk mengukur tingkat qana’ah pada orang tua
yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Skala qana’ah pada penelitian ini
dibuat sendiri oleh peneliti dengan berdasarkan teori Rusdi (2016) dan Hamka
(2017) yang terdiri atas 7 ciri-ciri yaitu sebagai berikut: 1) ridha sedikitnya
nikmat yang telah di peroleh; 2) tidak menuntut lebih; 3) menerima dengan rela
Tabel 3.2
Blueprint skala Qana’ah sebelum Try Out
Ciri-ciri Qana’ah Favorable Unfavorable Jumlah
Ridha sedikitnya nikmat yang 1, 2, dan 3 4, 5, 6, dan 7 7
telah di peroleh
Tidak menuntut lebih 8, 9, dan 10 11, 12, dan 13 6
Menerima dengan rela ketentuan 14 dan 15 16, 17, 18, 19, 7
Allah SWT dan 20
Berusaha dan memohon tambahan 21, 22, 23, dan 25 dan 26 6
yang pantas 24
Menerima dengan sabar sabar 27, 28, 29, dan 31, 32, 33, dan 8
pemberian dari Allah SWT 30 34
Bersikap tawakal kepada Allah 42, 43, 44, dan 46 5
SWT 45
Tidak tertarik dengan tipu daya 35, 36, 37, 38, 40 dan 41 7
dunia dan 39
Jumlah 25 21 46
2. Skala Kecemasan
pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) yaitu dengan
Lovibond dan Lovibond (1993) yang telah diadaptasi oleh Damanik (2006).
Skala DASS (Depression Anxiety Stress Scale) terdiri dari 42 aitem yang
Alat ukur ini menggunakan empat pilihan jawaban yaitu 0 (tidak pernah), 1
1. Validitas
Validitas merupakan suatu alat ukur untuk melihat sejauh mana keakuratan
alat ukur yang akan digunakan peneliti. Alat ukur yang akurat akan
menunjukkan validitas yang tinggi terhadap variabel yang ingin diukur peneliti
sedangkan apabila alat ukur yang digunakan peneliti tidak relevan dengan tujuan
pengukuran maka alat ukur tersebut memiliki validitas rendah. Validitas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Menurut Haynes (dalam
pada intrumen dalam konstruk yang sesuai dengan tujuan penelitian, dimana isi
2. Reliabilitas
memiliki kualitas baik ialah reliabel, yaitu mampu menghasilkan skor yang
tinggi dengan eror pengukuran yang kecil. uji reliabilita dilakukan pada
penelitian yaitu untuk melihat hasil konsistensi yang relatif tetap, jika dilakukan
pengukuran pada subjek yang sama dengan cara berulang. Jika hasil koefisien
formula algha cronbach (ά). Koefisien reliabilitas berada dalam rentang angka
dari 0 sampai dengan 1,00 jika koefisien korelasi semakin tinggi mendekati
statistik. Data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini akan dianalisis dengan
hubungan antara dua variabel yang dilakukan oleh peneliti. Data diperoleh akan
and Service Solution (SPSS) versi 22.0 for windows. Adapun beberapa uji yang
1. Uji Normalitas
(SPSS) dengan versi 22.0 for windows, kemudian data dapat dikatakan normal
menperoleh hasil (sig ˃ 0,05) maka dapat menggunakan uji statistik parametik
akan tetapi jika data yang diperoleh tidak berdistribusi norma (sig ˂ 0,05) maka
2. Uji Linieritas
linieritas, serta untuk mengetahui apakah variabel yang terikat (Y) dan variabel
bebas (X) memiliki hubungan yang linier. Jika hasil uji linieritas < 0,05 maka
linier, sebaliknya jika hasil uji linieritas > 0,05 maka hubungan antara dua
terikat dan data pada penelitian ini berbentuk interval dan rasio. Sebelum penelitian
ini dilakukannya uji asumsi dengan menggunakan uji normalitas dan uji linieritas,
hal tersebut dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak data yang diperoleh
layak untuk diuji secara paramatik yang dapat mempermudah dalam penghitungan
A. Prosedur Penelitian
Pada penelitian ini dapat dilakukan beberapa tahapan yaitu terdiri sebagai
berikut:
Populasi pada penelitian ini sebanyak 1.034 orang tua dari anak
diantaranya sebagai berikut SLB Pembina, SLB Sri Mujinab, SLB Pendomo
Limo, SLB Al-faqih, SLB Pelita Hati, SLB Panam Mulia, SLB Kasih Ibu,
SLB Kinasi, SLB Insan Mutiara, SLB Pelita Nusa, SLB Anak Mandiri, SLB
Sugiyono (2004) dengan jumlah populasi 1.034, maka sampel pada penelitian
ini adalah sebanyak 288 sampel. Pada SLB Negeri Pembina jumlah sumpel
yang diambil adalah sebanyak 100, SLB Melati sebanyak 80 sampel, SLB Sri
Pada penelitian ini alat ukur yang digunakan yaitu skala qana’ah dan
skala DASS (Depression Anxiety Stress Scale). Skala qana’ah dibuat sendiri
oleh peneliti berdasarkan teori Rusdi (2016) dan Hamka (2017). Skala DASS
yang dibuat oleh Lovibond dan Lovibond (1995) yang telah diadaptasi
a. Skala Qana’ah
berdasarkan teori dari Rusdi (2016) dan Hamka (2017). Skala ini disusun
membuat 49 aitem tetapi ketika diproses validitas isi yaitu melalui expert
SLB Kasih Ibu. Uji coba skala ini dilakukan sendiri oleh peneliti dan
uji coba alat ukur sudah ideal dimana Azwar (2014) mengungkapkan
bahwa sampel yang ideal untuk uji coba alat ukur adalah sebanyak 60.
aitem berdasar nilai daya beda aitem ≥ 0,30 daya bedanya dapat dianggap
memuaskan. Jika jumlah aitem yang lolos ternyata masih tidak memenuhi
yang memiliki daya beda ≤ 0,25 yaitu aitem a10, a17, a21, a22, a24, a26,
a40 dan a41 dengan reliabilitas 0,885. Setelah dilakukan seleksi butir nilai
setalah try out dapat dilihat dalam table 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1
Blueprint skala Qana’ah setelah Try Out
Ciri-ciri Qana’ah Favorable Unfavorable Jumlah
Ridha sedikitnya nikmat yang 1, 2, dan 3 4, 5, 6, dan 7 7
telah di peroleh
Tidak menuntut lebih 8 dan 9 11, 12, dan 13 5
Menerima dengan rela ketentuan 14 dan 15 16, 18, 19, dan 6
Allah SWT 20
Berusaha dan memohon tambahan 24 25 2
yang pantas
Menerima dengan sabar sabar 27, 28, 29, dan 31, 32, 33, dan 8
pemberian dari Allah SWT 30 34
Bersikap tawakal kepada Allah 42, 43, 44, dan 46 5
SWT 45
Tidak tertarik dengan tipu daya 35, 36, 37, 38, 5
dunia dan 39
Jumlah 21 17 38
oleh Damanik (2006) skala DASS terdiri dari 42 aitem, yang mencakup
2018 yang dilakukan dengan memberikan skala tersebut kepada orang tua
sebanyak 60 sampel yang bestatus Agama Islam. Hasil uji coba dalam
skala DASS menunjukkan nilai reliabilitas 0,825 pada skala kecemasan ini
dengan jumlah sampel yaitu sebanyak 288 orang tua anak berkebutuhan
khusus, dimana penelitian dilakukan pagi sampai siang hari saat orang tua
meminta izin kepada setiap kepala sekolah luar biasa setempat untuk
mengenai tata cara pengisian skala dan peneliti memberikan cendra mata
kepada setiap orang tua yang telah berpartisipasi dalam penelitian tersebut.
Setiap orang tua memperoleh satu booklet kuesioner yang berisi dua skala
Data deskripsi subjek pada penelitian dapat dillihat pada tabel 4.2
Table 4.2
Data Demografi Penelitian
Detail Data Demografi F %
Usia Orang Tua 20 – 40 Tahun 89 30,90%
41 – 60 Tahun 187 64,93%
61 – Lansia 68 23,61%
Pendidikan Tamat SD - SMP 68 23,61%
Tamat SMA 157 54,51%
Tamat D1 – S2 63 21,88%
Status Penikahan Menikah 251 87,15%
Cerai 37 12,85%
Suku Melayu 119 41,32%
Minang 90 31,25%
Jawa 56 19,44%
Batak 23 7,99%
Jumlah Anak 1–3 234 81,25%
4–6 45 15,625%
7 - 12 9 3,125%
Penghasilan Perbulan IRT 68 23,61%
500.000-2.000.000 107 37,15%
≥ 2.000.000 113 39,24%
Kekhususan Tunanetra 13 4,51%
Tunarungu 112 38,89%
Tunagrahita 114 39,58%
Tunadaksa 11 3,82%
Autis 38 13,19%
Usia Anak 6 – 12 tahun 121 42,01%
12 tahun keatas 167 57,99%
Berdasarkan table 4.2 dapat diketahui bahwa sampel dalam penelitian ini
keatas (57,99%).
deskripsi data penelitian yang menunjukkan hasil skor hipotetik dan skor
maksimal, skor minimal, rata-rata, dan standar deviasi (SD) pada setiap skala
penelitian. Untuk melihat hasil data hipotetik dan data empiric pada penelitian
Tabel 4.3
Deskripsi Data Hipotetik dan Data Empirik
Skor X yang diperoleh Skor X yang dimungkinkan
Variabel (Empirik) (Hipotetik)
Penelitian
Xmax Xmin Rerata SD Xmax Xmin Rerata SD
Qana’ah 152 89 125,93 13,559 152 0 76 25,33
Kecemasan 33 0 12,84 7,771 42 0 21 7
qana’ah dan kecemasan pada orang tua anak berkebutuhan khusus sangat
bervariasi berdasarkan hasil skor empirik yang diperoleh yaitu pada variabel
qana’ah rentang skor hasil yang diperoleh berkisar dari 89 sampai 152.
Sedangkan pada variabel kecemasan rentang skor hasil diperoleh berkisar dari 0
sampai 33. Berdasarkan hasil deskriptif data dari skor yang diperoleh (empirik)
Tabel 4.4
Rumus Kategorisasi
Rumus Kategorisasi
Sangat Tinggi X ≥ M + 1,5 SD
Tinggi M + 0,5 SD ≤ X ˂ M + 1,5 SD
Sedang M - 0,5 SD ≤ X ˂ M + 0,5 SD
Rendah M - 0,5 SD ≤ X ˂ M - 1,5 SD
Sangat Rendah X ≤ M – 1,5 SD
maka pada variabel qana’ah terdapat 5 kategori yaitu sangat tinggi, tinggi,
sedang, rendah, dan sangat rendah. Hal tersebut dapat dilihat pada table 4.5
Tabel 4.5
Skor Qana’ah
Kategori Skor f Persentase
Sangat Tinggi 147 ˃X ≥ 152 16 6,6%
Tinggi 133 ≤ X ˂ 146 77 26%
Sedang 120 ≤ X ˂ 132 101 35%
Rendah 106 ≤ X ˂ 119 75 26%
Sangat Rendah 89 ˂ X ≤ 105 19 6,6%
Jumlah 288 100%
penelitian ini memiliki tingkat qana’ah dalam kategori sedang dengan hasil
persentase 35%. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa dari 288 subjek hanya
terdapat 101 orang tua anak berkebutuhan khusus yang memiliki kategori
sedang. Sedangkan untuk kategori tingkat kecemasan pada orang tua anak
berkebutuhan khusus dapat dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut ini:
Tabel 4.6
Skor Kecemasan
Kategori Skor f Persentase
Sangat Tinggi 25 ˃ X ≥ 33 25 8,7%
Tinggi 17 ≤ X ˂ 24 61 21,2%
Sedang 9 ≤ X ˂ 16 111 38,5%
Rendah 2≤X˂8 72 25%
Sangat Rendah 0˂X≤2 19 6,6%
Jumlah 288 100%
penelitian ini memiliki tingkat kecemasan dalam kategori sedang dengan hasil
persentase 38,5%. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa dari 288 subjek hanya
terdapat 111 orang tua anak berkebutuhan khusus yang memiliki kategori
sedang.
parametik. Uji asumsi meliputi uji normalitas dan uji linier varian pada sampel.
a. Uji Normalitas
seberapa layak data yang ada, jika nilai signifikasi p > 0,05 maka data dapat
dinyatakan normal. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dua skala
yaitu skala qana’ah dan skala kecemasan dengan melalui bantuan program
SPSS 22 for Windows. Hasil uji normalitas pada data qana’ah diperoleh p
sebesar 0,066 ( p ˃ 0,05 ), sehingga dapat di simpulkan bahwa data penilitian
Untuk mengetahu uji normalitas pada qana’ah dan kecemasan dapat dilihat
Tabel 4.7
Hasil Uji Asumsi Normalitas
Kolmogorov - Smirnova
Statistik Df Sig.
Kecemasan 0,050 288 0,078
Qana’ah 0,051 288 0,066
b. Uji Linieritas
kaidah signifikan (p) dari nilai F (Linearity) < 0,05, jika hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat adalah linier. Akan tetapi jika, signifikan
(p) dari nilai F (Linierity) > 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dan
variabel terikat adalah tidak linier. Dari hasil uji linieritas yang telah
membuktikan bahwa kedua variabel tidak linier. Berdasarkan hasil uji asumsi
normalitas dan linieritas diatas, maka data peneliti tidak memenuhi syarat-
syarat untuk dilakukan uji parametrik yang dilakukan untuk menguji hipotesis
c. Uji Hipotesis
hipotesis dalam penelitian ini yang ditemukan bahwa tidak adanya hubungan
yang signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang
Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara qana’ah dengan kecemasan
pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, maka hasil analisis
dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus,
demografi pada subjek. Adapun analisis yang dilakukan oleh peneliti terdiri
dan kategorisasi.
berkebutuhan khusus.
berkebutuhana khusus.
penghasilan Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000 perbulan dan Rp. 2.000.000 keatas
3. Kekhususan Anak
tunagrahita.
a. Tunarungu
b. Tunagrahita
memiliki anak berkebutuhan khusus jika dilihat dari tingkat khususan anak.
4. Usia Anak
dimana dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu usia 6 -12 tahun dan 12
tahun keatas.
antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak
berkebutuhan khusus.
kelompok yaitu usia 6 – 12 tahun dan usia 12 tahun keatas. Maka berdasarkan
5. Kategorisasi
a. Kategorisasi tinggi
berkebutuhan khusus.
b. Kategorisasi sedang
berkebutuhan khusus.
c. Kategorisasi rendah
berkebutuhan khusus.
dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus
peneliti yang terdiri dari 5 bentuk analisis yaitu analisis hubungan qana’ah
kekhususan anak, usia anak, dan kategorisasi. Dari hasil analisis tersebut
antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua anak berkebutuhan khusus.
C. Pembahasan
signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak
berkebutuhan khusus dengan nilai r = -0,004 dan nilai p = 0,952 (p˃0,05). Dimana
tua, penghasilan, kekhususan anak, usia anak, dan kategorisasi, akan tetapi hasil
yang diperoleh pada penelitian ini tetap menunjukkan hasil yang tidak signifikan
antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua anak berkebutuhan khusus.
Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian lain yang terkait
memiliki sifat-sifat mulia yang terkait dengan akhlak tidak berarti bahwa mereka
religiusitas tidak berhubungan secara signifikan dengan kecemasan, hal ini juga
menyebabkan tidak adanya kecemasan dalam diri seseorang. Oleh karena itu
ataupun akhlak.
tinggi qana’ah maka semakin tinggi pula kesehatan mental pada seseorang.
Penelitian Almi (2018) juga menunjukkan bahwa akhlak mulia yang lain yaitu
syukur memiliki dampak positif pada kesehatan mental seseorang dimana ciri dari
orang sehat mental adalah memiliki kecemasan yang wajar. Berdasarka uraian
diatas terdapat dua pola yang berbeda dimana pola pertama menunjukkan bahwa
akhlak mulia seperti qana’ah tidak terkait dengan kecemasan sedangan pola kedua
Bila dikaji lebih lanjut pada penelitian ini ada beberapa kemungkinan yang
orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, diantaranya adalah rentang
usia anak yang telah mencapai 6 tahun keatas dapat mempengaruhi kecemasan
pada orang tua anak berkebutuhan khusus. Adapun penelitian yang dilakukan
khusus pada usia dini cenderung bersifat penolakkan dari orang tua. Hal tersebut
menjadi salah satu faktor penyebab penelitian ini tidak memiliki hubungan yang
signifikan.
Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini tidak spesifik untuk
mengukur kecemasan orang tua yang terkait dengan anak berkebutuhan khusus
yang mereka miliki. Alat ukur DASS yang digunakan oleh peneliti berisikan
gangguan klinis sedangkan pada penelitian ini peneliti ingin melihat kecemasan
mengakibatkan tidak adanya hubungan signifikan. Oleh karena itu, jika dilakukan
penelitian yang sama dengan penelitian ini, disarankan agar menggunakan alat
ukur kecemasan yang spesifik terkait dengan kecemasan orang tua terhadap anak
PENUTUP
A. Kesimpulan
sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak
berkebutuhan khusus (ABK) dengan nilai (r) sebesar -0,004 dan p = 0,952 (p ˃
0,05). Artinya orang yang memiliki sifat-sifat qana’ah yang terkait dengan akhlak
B. Saran
diberikan orang tua terhadap anak mereka yang berkebutuhan khusus dan
sebaiknya subjek penelitian yaitu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan
2. Untuk orang tua yang memiliki anak bekebutuhan khusus (ABK) dapat
psikologis lainnya dengan cara tidak menyalahkan masa lalu, berpikir secara
Reliability Statistics
Cronbach's
N of Items
Alpha
.943 38
Item Statistics
Mean Std. Deviation N
a1 3.32 .593 288
a2 3.35 .582 288
a3 3.37 .593 288
a4 3.32 .625 288
a5 2.92 .826 288
a6 3.00 .744 288
a7 3.40 .665 288
a8 3.60 .544 288
a9 3.55 .617 288
a10 3.26 .759 288
a11 3.27 .730 288
a12 3.14 .780 288
a13 3.33 .673 288
a14 3.30 .685 288
a15 3.39 .648 288
a16 3.12 .742 288
a17 3.27 .740 288
a18 3.24 .678 288
a19 3.35 .628 288
a20 3.32 .587 288
a21 3.51 .572 288
a22 3.57 .587 288
a23 3.41 .624 288
a24 3.30 .598 288
a25 3.21 .661 288
a26 3.24 .748 288
a27 3.34 .603 288
a28 3.01 .765 288
a29 3.22 .737 288
a30 3.24 .706 288
a31 3.32 .674 288
a32 3.33 .672 288
a33 3.32 .643 288
a34 3.25 .759 288
a35 3.34 .604 288
a36 3.53 .571 288
a37 3.32 .627 288
a38 3.41 .682 288
Item-Total Statistics
Scale Mean Scale Corrected Cronbach's
if Item Variance if Item-Total Alpha if Item
Deleted Item Deleted Correlation Deleted
a1 122.35 199.343 .499 .942
a2 122.33 199.071 .526 .942
a3 122.31 198.380 .558 .942
a4 122.36 198.690 .509 .942
a5 122.76 196.275 .479 .942
a6 122.68 197.279 .489 .942
a7 122.27 197.405 .546 .942
a8 122.07 200.820 .450 .942
a9 122.13 198.312 .539 .942
a10 122.41 197.010 .491 .942
a11 122.40 196.388 .544 .942
a12 122.53 194.382 .601 .941
a13 122.34 198.044 .504 .942
a14 122.37 197.823 .506 .942
a15 122.28 196.490 .614 .941
a16 122.56 196.527 .528 .942
a17 122.40 195.147 .597 .941
a18 122.44 197.480 .531 .942
a19 122.33 197.294 .587 .941
a20 122.35 198.208 .575 .941
a21 122.17 199.275 .523 .942
a22 122.11 198.842 .536 .942
a23 122.26 198.995 .492 .942
a24 122.37 198.304 .557 .942
a25 122.47 199.100 .456 .942
a26 122.43 195.801 .559 .941
a27 122.34 198.942 .514 .942
a28 122.66 196.908 .492 .942
a29 122.45 194.130 .652 .941
a30 122.43 196.295 .569 .941
a31 122.36 196.203 .604 .941
a32 122.34 196.909 .567 .941
a33 122.35 196.278 .631 .941
a34 122.43 196.155 .532 .942
a35 122.33 198.160 .560 .942
a36 122.14 199.091 .536 .942
a37 122.35 199.908 .437 .942
a38 122.27 197.256 .539 .942
Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.803 14
Item Statistics
Mean Std. Deviation N
a2 .96 .949 288
a4 .81 1.048 288
a7 .86 1.093 288
a9 1.03 1.055 288
a15 .80 1.007 288
a19 .88 1.065 288
a20 .81 .998 288
a23 .89 1.118 288
a25 .92 1.066 288
a28 .92 1.049 288
a30 .91 .934 288
a36 .89 1.099 288
a40 .95 1.006 288
a41 1.05 1.070 288
Item-Total Statistics
Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if
Item Deleted Item Deleted Correlation Item Deleted
a2 11.70 53.076 .415 .792
a4 11.85 51.860 .447 .789
a7 11.80 52.306 .393 .794
a9 11.63 53.197 .351 .797
a15 11.86 51.915 .467 .788
a19 11.78 52.107 .421 .791
a20 11.85 51.928 .472 .788
a23 11.77 51.383 .442 .790
a25 11.74 51.000 .498 .785
a28 11.74 51.237 .491 .786
a30 11.75 54.786 .293 .801
a36 11.77 51.369 .453 .789
a40 11.70 53.379 .362 .796
a41 11.61 52.147 .415 .792
Scale Statistics
Explore
Descriptives
Statistic Std. Error
kecemasan Mean 12.84 .458
95% Confidence Lower Bound 11.94
Interval for Mean Upper Bound 13.74
5% Trimmed Mean 12.59
Median 12.50
Variance 60.388
Std. Deviation 7.771
Minimum 0
Maximum 33
Range 33
Interquartile Range 11
Skewness .361 .144
Kurtosis -.411 .286
qanaah Mean 125.93 .799
95% Confidence Lower Bound 124.36
Interval for Mean Upper Bound 127.51
5% Trimmed Mean 126.17
Median 126.00
Variance 183.853
Std. Deviation 13.559
Minimum 89
Maximum 152
Range 63
Interquartile Range 21
Skewness -.202 .144
Kurtosis -.351 .286
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
kecemasan .050 288 .078 .975 288 .000
qanaah .051 288 .066 .987 288 .010
a. Lilliefors Significance Correction
UJI HIPOTESIS
Correlation
Descriptive Statistics
Correlations
kecemasan qanaah
kecemasan Pearson Correlation 1 -.004
Sig. (2-tailed) .952
N 288 288
qanaah Pearson Correlation -.004 1
Sig. (2-tailed) .952
N 288 288
Variables Entered/Removeda
Variables Variables
Model Method
Entered Removed
1 qanaahb . Enter
a. Dependent Variable: kecemasan
b. All requested variables entered.
Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate
1 .004a .000 -.003 7.784
a. Predictors: (Constant), qanaah
b. Dependent Variable: kecemasan
ANOVAa
Sum of Mean
Model Squares df Square F Sig.
1 Regression .221 1 .221 .004 .952b
Residual 17331.108 286 60.598
Total 17331.330 287
a. Dependent Variable: kecemasan
b. Predictors: (Constant), qanaah
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 13.095 4.292 3.051 .002
qanaah -.002 .034 -.004 -.060 .952
a. Dependent Variable: kecemasan
DATA ANALISIS STATISTIK TAMBAHAN
A. HIPOTESIS
a. Tingkat SD-SMP
Correlations
qanaah_SD_ kecemasan_
SMP SD_SMP
qanaah_SD_SMP Pearson Correlation 1 -.045
Sig. (2-tailed) .713
N 68 68
kecemasan_SD_ Pearson
-.045 1
SMP Correlation
Sig. (2-tailed) .713
N 68 68
b. Tingkat SMA
Correlations
kecemasa_S
qanaah_SMA
MA
qanaah_SMA Pearson Correlation 1 .128
Sig. (2-tailed) .110
N 157 157
kecemasa_SMA Pearson Correlation .128 1
Sig. (2-tailed) .110
N 157 157
c. Tingkat D1 – S2
Correlations
qanaah_D1 kecemasan_
_S2 D1_S2
qanaah_D1_S2 Pearson Correlation 1 .035
Sig. (2-tailed) .786
N 63 63
kecemasan_D1_S Pearson Correlation .035 1
2 Sig. (2-tailed) .786
N 63 63
Correlations
qanaah_500_ kecemasan_5
2juta 00_2juta
qanaah_500_2j Pearson Correlation 1 .025
uta Sig. (2-tailed) .800
N 107 107
kecemasan_50 Pearson Correlation .025 1
0_2juta Sig. (2-tailed) .800
N 107 107
Correlations
qanaah_2juta_ kecemasan_
keatas 2juta_keatas
qanaah_2juta_k Pearson Correlation 1 .048
eatas Sig. (2-tailed) .613
N 113 113
kecemasan_2jut Pearson Correlation .048 1
a_keatas Sig. (2-tailed) .613
N 113 113
3. Kekhususan Anak
a. Tunarungu
Correlations
qanaah_tun kecemasan
arungu _tunarungu
qanaah_tunarungu Pearson Correlation 1 -.060
Sig. (2-tailed) .531
N 111 111
kecemasan_tunaru Pearson Correlation -.060 1
ngu Sig. (2-tailed) .531
N 111 111
b. Tunagrahita
Correlations
qanaah_tun kecemasan_t
agrhita unagrahita
qanaah_tunagrhita Pearson Correlation 1 -.013
Sig. (2-tailed) .892
N 114 114
kecemasan_tunag Pearson Correlation -.013 1
rahita Sig. (2-tailed) .892
N 114 114
4. Usia Anak
a. Usia 6 -12 tahun
Correlations
qanaah_6_ kecemasan
12th _6_12th
qanaah_6_12th Pearson Correlation 1 -.005
Sig. (2-tailed) .954
N 121 121
kecemasan_6_12 Pearson Correlation -.005 1
th Sig. (2-tailed) .954
N 121 121
b. Usia 12 tahun keatas
Correlations
qanaah_12t kecemasan_
h_keatas 12th_keata
qanaah_12th_kea Pearson Correlation 1 .035
tas Sig. (2-tailed) .656
N 167 167
kecemasan_12th Pearson Correlation .035 1
_keata Sig. (2-tailed) .656
N 167 167
5. Kategorisasi
a. Kategorisasi tinggi
Correlations
kecemasan qanaah_rend
_rendah ah
kecemasan_rendah Pearson Correlation 1 -.028
Sig. (2-tailed) .801
N 81 81
qanaah_rendah Pearson Correlation -.028 1
Sig. (2-tailed) .801
N 81 81
b. Kategorisasi sedang
Correlations
kecemasan qanaah_seda
_sedang ng
kecemasan_sedang Pearson Correlation 1 .027
Sig. (2-tailed) .703
N 207 207
qanaah_sedang Pearson Correlation .027 1
Sig. (2-tailed) .703
N 207 207
c. Kategorisasi rendah
Correlations
kecemasan qanaah_rend
_rendah ah
kecemasan_rendah Pearson Correlation 1 -.003
Sig. (2-tailed) .978
N 86 86
qanaah_rendah Pearson Correlation -.003 1
Sig. (2-tailed) .978
N 86 86