100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
204 tayangan85 halaman

Qana’ah dan Kecemasan Orang Tua ABK

Hubungan antara qana'ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak terbukti secara signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara qana'ah dan tingkat kecemasan pada orang tua ABK. Faktor lain yang tidak diteliti berpengaruh terhadap kecemasan orang tua.

Diunggah oleh

Bunda Adjierafa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
204 tayangan85 halaman

Qana’ah dan Kecemasan Orang Tua ABK

Hubungan antara qana'ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak terbukti secara signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara qana'ah dan tingkat kecemasan pada orang tua ABK. Faktor lain yang tidak diteliti berpengaruh terhadap kecemasan orang tua.

Diunggah oleh

Bunda Adjierafa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA QANA’AH DENGAN KECEMASAN PADA ORANG

TUA YANG MEMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

SKRIPSI

Diajukan Kepeda Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau


Untuk Memenuhi Sebagian dan Syarat-syarat Guna
Mencapai Derajat Serjana Strata Satu Psikologi

OLEH:

YENI OKTAVIA
158110197

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2019
HALAMAN PERNYATAKAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, nama Yeni Oktavia dengan disaksikan oleh

dewan penguji skripsi, menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya saya sendiri dan

belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di Perguruan Tinggi

manapu, sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat orang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam

naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai

dengan isi penyataan ini, maka saya bersedia gelar kesarjanaan saya dicabut.

Pekanbaru, 28 Maret 2019

Yeni Oktavia
HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini akan aku persembahkan untuk orang yang selalu memberikan

warna dalam hidupku, khususnya untuk kedua orang tua ku yang selalu

memberikan kasih sayang yang tiada henti kepada ku, dan kepada ke tiga

saudara ku yang tiada henti memberiku semangat untuk menyelesaikan

skripsi ini serta untuk sahabat ku tersayang yang selalu membantu ku dan

memberi motivasi.
HUBUNGAN ANTARA QANA’AH DENGAN KECEMASAN PADA ORANG
TUA YANG MEMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

Yeni Oktavia
158110197

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM RIAU

ABSTRAK

Kecemasan adalah suatu keadaan berupa kekhawatiran, ketakutan, kegelisahan atau


ketidak pastian akibat adanya ancaman nyata yang diterima dari berbagai pihak dan
mengakibatkan terjadinya ketidak berdayaan orang tua. Kecemasan yang dirasakan
oleh orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tidak hanya terkait dengan
pengasuhan, namun juga dapat terkait dengan masa depan anak. Faktor yang dapat
menggurahi kecemasan pada orang tua yaitu melalui pengetahuan dan agama,
terdapat berbagai cara untuk menurunkan tingkat kecemasan pada orang tua dengan
melalui pendekatan agama. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara ilmiah
hubungan qana’ah dengan kecemasan pada orang tua. Sampel dalam penelitian ini
adalah 288 orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Pekanbaru dengan
menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Instrumen untuk mengambil data
dalam penelitian ini adalah skala qana’ah dan depression anxiety stress scale
(DASS). Data dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi Spearman’s rho
dengan bantuan program SPSS 22.0 for windows. Hasil analisis korelasi Spearman’s
rho diperoleh koefisian korelasi sebesar -0,004 dengan nilai p = 0,952 (p ˃ 0,05)
yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara qana’ah dan
kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Kecemasan
pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dipengaruhi oleh faktor lain
yang tidak diteliti.

Kata Kunci : qana’ah, kecemasan.


THE CORRELATION BETWEEN QANA’AH AND ANXIETY ON PARENTS
WHO HAVE THE CHILD WITH SPECIAL NEEDS (ABK)

Yeni Oktavia
158110197

FACULTY OF PSYCHOLOGY
RIAU ISLAMIC UNIVERSITY

ABSTRACT

Anxiety is a condition in the form of worriness, fear, hesitation, and uncertainty


because of real threat accepted from various parties and cause the occurance of
helplessness of parents. The anxiety felt by parents who have the child with special
needs is not only related to parenting, but also related to the future of the child. The
factor which can decrease the anxiety on parents is through the knowledge and
religion. There are various ways to decrease the level of anxiety on parents through
religious approach. This research aims to scientifically examine the correlation
between qana’ah and anxiety on parents. The samples in this research were 288
parents who have the child with special needs in Pekanbaru City by using Cluster
Random Sampling Technique. The instruments for taking the data in this research
were qana’ah scale and DASS. The data were analyzed by using correlational
analysis Spearman’s rho with the assitance of SPSS 22.0 program for windows. The
result of Spearman’s rho correlational analysis obtained correlational coefficient in
the amount of -0,004 with p value = 0,952 (p ˃ 0,05) which shows that there is no
significant correlation between qana’ah and anxiety on parents who have the child
with special needs. The anxiety on parents who have the child with special needs is
influenced by other factors which are not investigated in this research.

Keywords: qana’ah, anxiety


‫اﻟﻌﻼﻗﺔ ﺑﯿﻦ اﻟﻘﻨﺎﻋﺔ واﻟﻘﻠﻖ ﻟﺪى اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ اﻟﺬﯾﻦ ﻟﺪﯾﮭﻢ اﻷطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت‬
‫اﻟﺨﺎﺻﺔ‬

‫ﯾﻨﻲ أوﻛﺘﺎﻓﯿﺎ‬
‫‪158110197‬‬

‫ﻛﻠﯿﺔ ﻋﻠﻢ اﻟﻨﻔﺲ‬


‫اﻟﺠﺎﻣﻌﺔ اﻹﺳﻼﻣﯿﺔ اﻟﺮﯾﻮﯾﺔ‬

‫ﻣﻠﺨﺺ‬
‫اﻟﻘﻠﻖ ھﻮ ﺣﺎﻟﺔ ﻓﻲ ﺷﻜﻞ ﻣﺨﺎوف أو ﻗﻠﻖ أو ﺷﻜﻮك ﺑﺴﺒﺐ ﺗﮭﺪﯾﺪات ﺣﻘﯿﻘﯿﺔ ﯾﺘﻢ ﺗﻠﻘﯿﮭﺎ‬
‫ﻣﻦ ﻣﺨﺘﻠﻒ اﻷطﺮاف وﺗﺆدي إﻟﻰ ﻋﺠﺰ اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ‪ .‬اﻟﻘﻠﻖ اﻟﺬي ﯾﺸﻌﺮ ﺑﮫ اﻟﻮاﻟﺪون اﻟﺬﯾﻦ‬
‫ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ ﻻ ﯾﺮﺗﺒﻂ ﻓﻘﻂ ﺑﺎﻷﺑﻮة‪ ،‬ﺑﻞ ﯾﻤﻜﻦ أن ﯾﻜﻮن‬
‫ﻣﺮﺗﺒﻄﺎ ﺑﻤﺴﺘﻘﺒﻞ اﻟﻄﻔﻞ‪ .‬اﻟﻌﻮاﻣﻞ اﻟﺘﻲ ﯾﻤﻜﻦ أن ﺗﺴﺎﻋﺪ اﻟﻘﻠﻖ ﻓﻲ اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ ھﻲ ﻣﻦ‬
‫ﺧﻼل اﻟﻤﻌﺮﻓﺔ واﻟﺪّﯾﻦ‪ ،‬وھﻨﺎك طﺮق ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ ﻟﻠﺤﺪ ﻣﻦ ﻣﺴﺘﻮى اﻟﻘﻠﻖ ﻟﺪى اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ ﻣﻦ‬
‫ﺧﻼل ﻧﮭﺞ دﯾﻨﻲ‪ .‬ﺗﮭﺪف ھﺬه اﻟﺪراﺳﺔ إﻟﻰ اﻟﺘﺤﻘﻖ اﻟﻌﻠﻤﻲ ﻣﻦ ﻋﻼﻗﺔ اﻟﻘﻨﺎﻋﺔ ﺑﺎﻟﻘﻠﻖ ﻟﺪى‬
‫اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ‪ .‬ﻛﺎﻧﺖ اﻟﻌﯿﻨﺔ ﻓﻲ ھﺬه اﻟﺪراﺳﺔ ‪ 288‬ﻣﻦ اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ اﻟﺬﯾﻦ ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي‬
‫اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ ﻓﻲ ﺑﯿﻜﺎﻧﺒﺎرو‪ ،‬ﺑﺎﺳﺘﺨﺪام أﺳﺎﻟﯿﺐ ﺟﻤﻊ اﻟﻌﯿﻨﺎت اﻟﻌﺸﻮاﺋﯿﺔ‬
‫اﻟﻌﻨﻘﻮدﯾﺔ‪ .‬إن أداة ﺟﻤﻊ اﻟﺒﯿﺎﻧﺎت ﻓﻲ ھﺬه اﻟﺪراﺳﺔ ھﻲ ﻣﻘﺎﯾﯿﺲ اﻟﻘﻨﺎﻋﺔ و ‪ .DASS‬ﺗﻢ‬
‫ﺗﺤﻠﯿﻞ اﻟﺒﯿﺎﻧﺎت ﺑﺎﺳﺘﺨﺪام ﺗﺤﻠﯿﻞ اﻻرﺗﺒﺎط ‪ Spearman’s rho‬ﺑﻤﺴﺎﻋﺪة ‪ SPSS 22.0‬ﻟﻨﻈﺎم‬
‫اﻟﻮﻧﺪوز‪ .‬ﺣﺼﻠﺖ ﻧﺘﺎﺋﺞ ﺗﺤﻠﯿﻞ اﻻرﺗﺒﺎط ‪ Spearman’s rho‬ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺎﻣﻞ ارﺗﺒﺎط ‪ 0.004-‬ﻣﻊ‬
‫‪ (p ˃ 0,05) P=0.05‬اﻟﺘﻲ أظﮭﺮت ﻋﺪم وﺟﻮد ﻋﻼﻗﺔ ذات دﻻﻟﺔ إﺣﺼﺎﺋﯿﺔ ﺑﯿﻦ اﻟﻘﺎﻧﻌﺔ‬
‫واﻟﻘﻠﻖ ﻟﺪى اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ اﻟﺬﯾﻦ ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ‪ .‬ﯾﺘﺄﺛﺮ اﻟﻘﻠﻖ‬
‫ﻟﺪى اﻟﻮاﻟﺪﯾﻦ اﻟﺬﯾﻦ ﻟﺪﯾﮭﻢ أطﻔﺎل ﻣﻦ ذوي اﻻﺣﺘﯿﺎﺟﺎت اﻟﺨﺎﺻﺔ ﺑﻌﻮاﻣﻞ أﺧﺮى ﻟﻢ ﯾﺘﻢ‬
‫ﻓﺤﺼﮭﺎ‪.‬‬
‫ﻛﻠﻤﺎت اﻟﺒﺤﺚ‪ :‬اﻟﻘﻨﺎﻋﺔ ‪ ،‬واﻟﻘﻠﻖ‪.‬‬
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahim…

Alhamdulillah, segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat beriring salam tercurah kepada

baginda Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

dengan judul “Hubungan antara Qana’ah dengan Kecemasan pada Orang Tua

yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)”. Skripsi ini dibuat untuk

memenuhi syarat gelar sarjana Psikologi Universitas Islam Riau, Pekanbaru.

Dalam pentelesaian skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan baik berupa

semangat, motivasi dan sumbangan pikiran dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan

segala kerendah hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Syafrinaldi, SH, MCI selaku Rektor Universitas Islam Riau.

2. Bapak Yanwar Arief, [Link]., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Islam Riau.

3. Ibu Tengku Nila Fadhlia, [Link]., Psikolog selaku Wakil Dekan I Fakultas

Psikologi Universitas Islam Riau.

4. Ibu Irma Kusuma Salim, [Link]., Psikologi selaku Wakil Dekan II Fakultas

Psikologi Universitas Islam Riau.

5. Ibu Lisfarika Napitupulu, [Link]., Psikolog selaku Wakil Dekan III Fakultas

Psikologi Universitas Islam Riau.

6. Ibu Yulia Herawaty, [Link]., MA selaku ketua Prodi Fakultas Psikologi

Universitas Islam Riau.


7. Bapak Ahmad Hidayat, [Link]., Psikolog selaku pembimbing satu yang selalu

memberikan waktu luang untuk penulis, memberikan dukungan, dan penuh

kesabaran memberikan bimbingan dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini

bisa diselesaikan.

8. Ibu Juliarni Siregar, M,Psi., Psikolog selaku pembimbing dua yang juga selalu

memberikan waktu luang untuk penulis, memberikan dukungan, dan penuh

kesabaran memberikan bimbingan dan mengarahkan penulis untuk dapat

menyelesaikan skripsi ini.

9. Ibu Syarifah Farradina, [Link]., MA selaku dosen pembimbing akademik yang

sudah membimbing penulis selama proses perkuliahan.

10. Segenap dosen fakultas Psikologi Universitas Islam Riau, Bapak Sigit Nugroho,

[Link]., Psikolog , Ibu Leni Armayati, [Link], Ibu dr. Raihanatu Binqolbi R, Bapak

Didik Widiantoro, [Link]., Psikolog, Icha Herawati, [Link], [Link]., S.C serta

seluruh dosen yang telah mendidik dan membimbing penulis dalam proses

perkuliahan. Bapak Ibu penulis mengucapkan terima kasih atas ilmu dan

bimbingannya selama proses perkuliahan.

11. Segenap pengurus tata usaha fakultas Psikologi Universitas Islam Riau, yang

banyak membantu penulis dalam proses administrasi dan hal-hal lainnya.

12. Kepada kepala SLB Negeri Pembina, SLB Sri Mujinab, SLB Melati, SLB Kasih

Ibu, SLB Kinasih, dan SLB Insan Mutiara yang telah mengizinkan penulis untuk

melaksanakan penelitian di SLB tersebut.


13. Bapak dan Mamak tercinta, Bapak Nurdin dan Mamak Rusdiana. Terima kasih

atas do’a, motivasi, kasih sayang dan kepercayaan yang diberikan kepada

penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

14. Kakak dan Abang ku tersayang Masteni, Dahlia, dan Iskandar, yang telah

memberikan motivasi dan kasih sayang yang tulus kepada penulis sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

15. Teruntuk sahabat ku seperjuangan Era May Saroh Manik, Rapis Rika Yanti,

Rizky Handayani, Wicki Marcella dan Apriansyah. Terima kasih telah

membantu dalam melakukan penelitian, memberikan dukungan dan terima kasih

juga telah datang dalam kehidupan ku.

16. Semua pihak yang telah berjasa bagi penulis dan tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis berharap semoga

dapat bermanfaat dan sumbangan pemikiran untuk di bidang Psikologi.

Skripsi ini mungkin belum sepenuhnya sempurna. Oleh karena itu, bila ada

kekurangan dalam skripsi ini dapat menjadi pertimbangan bagi penulis-penulis lainnya

agar menjadi sebuah karya tulis yang lebih lengkap dan lebih baik.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Pekanbaru, 28 Maret 2019

Yeni Oktavia
DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL ......................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ i

HALAMAN PERNYATAAN........................................................................ ii

HALAMAN PERSEMBAHAN..................................................................... iii

HALAMAN MOTTO .................................................................................... iv

KATA PENGANTAR .................................................................................... v

DAFTAR ISI .................................................................................................. viii

DAFTAR TABEL........................................................................................... xi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii

ABSTRACT ..................................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah....................................................................... 1

B. Rumus Masalah .................................................................................... 10

C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 10

D. Manfaat Penelitian ............................................................................... 10


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecemasan ......................................................................................... 12

1. Pengertian Kecemasan ................................................................ 12

2. Aspek-aspek ................................................................................ 15

3. Jenis-jenis Kecemasan ................................................................. 16

4. Faktor-faktor yang dapat memgurahi kecemasan ........................ 17

B. Anak Berkebutuhan Khusus .............................................................. 18

1. Pengertian anak berkebutuhan khusus (ABK) ............................. 18

C. Qana’ah .............................................................................................. 21

1. Pengertian Qana’ah ...................................................................... 21

2. Aspek-aspek Qana’ah .................................................................. 24

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Qana’ah ................................ 25

D. Hubungan antara Qana’ah dengan Kecemasan .................................... 27

E. Hipotesis Penelitian.............................................................................. 29

BAB III METODE PENELITIAN

A. Identifikasi variabel-variabel Penelitian .............................................. 30

B. Definisi Operasional............................................................................. 30

C. Subjek Penelitian.................................................................................. 31

D. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 33

E. Validitas dan Reabilitas alat ukur ........................................................ 36

F. Metode Analisis Data ........................................................................... 37

G. Teknik Analisis Data ............................................................................ 38


BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Prosedur Penelitian............................................................................... 39

1. Orientasi Kancah Penelitian ........................................................... 39

2. Pengembangan Alat Ukur .............................................................. 40

3. Pelaksanaan Penelitian ................................................................... 43

B. Hasil Penelitian .................................................................................... 44

1. Deskripsi Subjek Penelitian ........................................................... 44

2. Deskripsi Data Penelitian ............................................................... 45

3. Hasil Analisis Data......................................................................... 47

a. Uji Normalitas .......................................................................... 47

b. Uji Linieritas ............................................................................ 48

c. Uji Hipotesis............................................................................. 49

C. Pembahasan .......................................................................................... 49

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan .......................................................................................... 52

B. Saran..................................................................................................... 52

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 53

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jumlah Populasi Penelitian ........................................................ 33

Tabel 3.2 Blue Print Skala Qana’ah sebelum Try Out .............................. 35

Tabel 4.1 Blue Print Skala Qana’ah setelah Try Out................................. 42

Tabel 4.2 Data Demografi Penelitian ......................................................... 44

Tabel 4.3 Deskripsi Data Hipotetik dan Data Empirik ............................ 45

Tabel 4.4 Rumus Kategorisasi .................................................................... 46

Tabel 4.5 Skor Qana’ah ............................................................................... 46

Tabel 4.6 Skor Kecemasan .......................................................................... 47

Tabel 4.7 Hasil Uji Asumsi Normalitas ...................................................... 48


DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I Skala Penelitian

LAMPIRAN II Surat Izin Penelitian

LAMPIRAN III Validitas Isi dari Ahli

LAMPIRAN IV Skoring Data Try Out

LAMPIRAN V Skoring Data Penelitian

LAMPIRAN VI Output SPSS


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Setiap orang tua menginginkan anaknya lahir dalam keadaan sehat dan

dapat tumbuh menjadi anak yang taat ibadah, memiliki intelektual yang baik, dan

sukses dalam hidupnya, namun keadaan akan berubah ketika seorang yang

dilahirkan memiliki masalah mental atau masalah psikologis, sehingga anak

tersebut memerlukan perhatian khusus.

Anak berkebutuhan khusus merupakan seorang anak yang mengalami

hambatan atau kelainan dari segi fisik, keterbelakangan mental, gangguan emosi,

dan gangguan sosial, mengakibatkan anak tersebut memerlukan pelayanan

pendidikan khusus yang dapat di sesuaikan dengan hambatan yang dialami anak

tersebut. Anak berkebutuhan khusus dapat dikategorikan sebagai berikut:

keterbelakangan mental, gangguan emosional, gangguan perilaku, gangguan

sosial, kelumpuan pada otak, dan ketidak mampuan belajar atau gangguan atensi

(Sumekar, 2009).

Jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia belum diketahui secara

pasti, dimana Indonesia belum memiliki data yang spesifik mengenai jumlah anak

berkebutuhan khusus. Berdasarkan data Kementerian Perberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak, dapat diketahui bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus

yang didata sekitar 1,5 juta jiwa pada tahun 2015. Sementara jumlah anak
berkebutuhan khusus di Dunia menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

diperkirakan mencapai 42,8 juta jiwa.

Menurut data statistik Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru jumlah anak

kebutuhan khusus pada tahun 2016 diperkira sekitar 500 jiwa yang baru terdata

berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Depodik) sekolah masing-masing. Jumlah

anak berkebutuhan khusus di Kota Pekanbaru terus mengalami peningkatan secara

drastis sehingga pada tahun 2018 peningkatan menjadi 2 kali lipat dari tahun

sebelumnya yaitu sekitar 1.034 jiwa.

Jumlah anak berkebutuhan khusus di kota Pekanbaru saat ini terus

meningkat dari setiap tahunnya, sehingga menyebabkan pemerintah kota

Pekanbaru membuat kebijakan untuk memberikan pelayanan yang berupa sekolah

Inklusi dimana Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai salah satu Intutisusi pendidikan

yang menerima anak berkebutuhan khusus di kota Pekanbaru tidak lagi dapat

mencukupi kebutuhan masyarakat karena setiap tahunnya terus terjadi

peningkatan jumlah anak berkebutuhan khusus di kota Pekanbaru.

Sampai dengan tahun 2018 terdapat 14 sekolah luar biasa (SLB) di

Pekanbaru. Pemerintah kota Pekanbaru melalui Dinas Pendidikan juga telah

meresmikan 37 Sekolah Dasar Leguler yang berstatus Inklusi. Hal ini bertujuan

untuk menyediakan layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (selain

SLB) meskipun fasilitas sekolah Inklusi di kota Pekanbaru belum memadai.

Kepedulian pemerintah Kota Pekanbaru terhadap anak berkebutuhan

khusus juga dapat dilihat dari diadakan kegiatan lomba tahunan seperti Festival

Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional


(O2SN) dan Literasi untuk anak bekebutuhan khusus. Kegiatan ini dilakukan

untuk mecari bakat dalam diri anak berkebutuhan khusus. Fasilitas yang

diberikan pemerintah saat mengikuti perlombaan yaitu mendapatkan uang saku,

atribut lengkap untuk lomba dan peserta diberikan penginapan di hotel berbintang.

Dengan diadakan perlombaan tersebut banyak orang tua merasa bangga terhadap

anaknya yang dapat meraih prestasi meski pun mereka perlu perhatian khusus dari

orang terdekatnya.

Meskipun pemerintah kota Pekanbaru telah memberikan fasilitas

pendidikan yang cukup untuk anak berkebutuhan khusus, namun keluarga

terutama ibu menjadi orang yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan yang

dicapai oleh anak tersebut. Ibu seharusnya memiliki kesiapan dalam mendidik

anaknya yang berkebutuhan khusus, perkembangan yang dialami anak

berkebutuhan khusus memiliki hubungan yang erat dengan kesiapan yang

dirasakan oleh ibu. Jika seorang ibu dapat memberikan pola asuh yang sesuai

dengan kekhususan anak maka anak tersebut akan menunjukkan adanya kemajuan

dalam perkembangan. Hasil penelitian Raharjo dan Humaedi (2014) menunjukan

bahwa anak berkebutuhan khusus memerlukan pengasuhan (Good Parenting)

yang khusus dari seorang ibu sehingga dapat mengetahui tahap-tahap

perkembangan yang dialami anak tersebut.

Penangan anak berkebutuhan khusus tidak hanya seorang ibu yang

mengasuh anak, melainkan harus adanya kerja sama dengan keluarga, pihak

sekolah dan terapis anak. Selain ibu, keluarga juga memiliki kewajiban dalam

memberikan dukungan dan membantu untuk melalui tahap perkembangan,


meskipun terkadang kehadiran anak berkebutuhan khusus didalam keluarga dapat

memberikan dampak yang buruk atau masalah (problem) bagi keluarga tersebut.

Hidayati (2011) menunjukkan bahwa dukungan sosial terhadap anak

berkebutuhan khusus sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak, terkadang

tidak mudah bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk dapat

menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar.

Menurut Mangunsong (2011) kelahiran setiap anak memiliki dampak pada

dinamika keluarga khususnya pada orang tua dan anak lainnya yang harus

mengalami macam-macam perubahan karena kehadiran anggota keluarga yang

baru. Setiap orang tua tidak dapat memperlakukan anaknya dengan pola asuh

yang sama dan jika didalam keluarga terdapat anak yang mengalami

penyimpangan maka orang tua tersebut harus memberikan penanggan khusus

untuk anak yang berkebutuhan khusus.

Berdasarkan fenomena diatas dapat disimpulkan bahwa seorang ibu harus

mempunyai kesiapan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Kesiapan yang

dibutuhan seorang ibu yaitu adanya pengetahuan yang berkaitan dengan khususan

anak, keterlibatan seorang ibu dalam pendidikan anak dan adanya dukungan sosial

dari keluarga serta masyarakat sekitar.

Peneliti menemukan fenomena di Kota Pekanbaru pada salah satu Sekolah

Luar Biasa (SLB) yang melakukan perkumpulan yang bersifat kekeluargaan untuk

setiap orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (Paguyuban).

Terbentuknya Paguyuban di sekolah tersebut membuat para orang tua untuk dapat

berbagi penggalaman terhadap anaknya masing-masing dan bahkan bukan orang


tua yang dapat merasakan manfaat dari Paguyuban, tetapi pihak sekolah juga

merasa hal tersebut karena untuk meminta para orang tua datang kesekolah itu

sangat sulit tetapi dengan adanya Paguyuban orang tua lebih sering datang

kesekolah untuk menanya kondisi anaknya.

Jika seorang ibu tidak memiliki kesiapan dalam mengasuh anak

berkebutuhan khusus, maka akan memunculkan kecemasan terkait pengasuhan

tersebut. Hasil penelitian Azeem (2013) menunjukkan bahwa ibu yang memiliki

anak berkebutuhan khusus lebih menunjukkan tingkat kecemasan dalam

pengasuhan dari pada ibu yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus. Bahkan

banyak orang tua yang merasa sia-sia ketika memiliki anak berkebutuhan khusus,

tingginya tingkat kecemasan yang dirasakan seorang ibu akan berdampak buruk

pada anak berkebutuhan khusus (Smart,2012).

Berbagai bentuk kecemasan dialami oleh seorang ibu ketika memiliki anak

berkebutuhan khusus. Hasil penelitian Ariesta (2016) menunjukkan bahwa bentuk

kecemasan yang dirasakan oleh seorang ibu terhadap karir anaknya dimasa depan.

Hal ini juga terlihat pada beberapa orang tua yang anaknya memiliki hambatan di

kota Pekanbaru, dimana berdasarkan wawancara peneliti pada tanggal 24 Oktober

2018 menunjukkan bahwa tidak hanya mencemaskan karir anaknya kedepan, tapi

juga menunjukkan kecemasan dalam bentuk lain yaitu takut akan penolakkan dari

keluarga dan masyarakat, bahkan ada juga orang tua yang memindahkan anaknya

ke pondok pesantren karena khawatir tidak dapat mengurus anaknya dengan baik.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kecemasan

diantaranya adalah adanya pikiran yang tidak rasional dan keinginan akan
kesempurnaan (Ghufron & Risnawati, 2014). Pikiran yang tidak rasional

kemungkinan muncul karena kuranganya pengetahuan terhadap hal-hal yang

menjadi sumber kecemasan. Selain itu keinginan akan kesempurnaan juga

merupakan indikasi dari kurangnya penerimaan orang tua terhadap hambatan yang

dimiliki anaknya. Jika orang tua mampu menerima kondisi anaknya, maka tidak

akan menimbulkan masalah psikologis bagi orang tua (Faradina, 2016).

Penerimaan juga dapat terwujud dari perilaku bersyukur, dimana orang tua ABK

yang menunjukkan perilaku bersyukur memiliki kesehatan mental yang baik

(Hambali & Fahmi, 2015).

Oleh karena syukur didorong oleh religiusitas seseorang maka dapat di

prediksi bahwa religiusitas berhubungan erat dengan munculnya kesehatan mental

dimana orang yang sehat mental terhindar dari kecemasan yang tidak rasional.

Semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang maka semakin rendahnya tingkat

kecemasan seseorang. Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan mengenai

hubungan religiusitas dengan kecemasan menyatakan bahwa tingginya tingkat

religiusitas seseorang memiliki pengaruh yang kuat terhadap tingkat kecemasan

(Satrinegara, 2014; Maisaroh & Falah, 2011; Archentari,2013; Zaharuddin &

Reza, 2016).

Konsep religiusitas dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu akidah, ibadah,

dan akhlak. Akhlak didalam Islam menjadi pondasi dalam kehidupan manusia

karena Allah SWT menyukai orang-orang yang berakhlak mulia. Hal ini dapat

dilihat dari hadits riwayat Tirmidzi Al-Albani yang menunjukkan orang mukmin

yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah
SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk sebagai panutan bagi orang muslim

agar dapat memiliki akhlak mulia. Hal ini dapat dilahat dalam sabda Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam,

َ ْ‫أ َ ْﻛ َﻤ ُﻞ اﻟ ُﻤﺆْ ِﻣﻨِﯿﻦَ إِﯾ َﻤﺎﻧًﺎ أَﺣ‬


‫ﺴﻨُ ُﮭ ْﻢ ُﺧﻠُﻘًﺎ‬

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik

akhlaknya.” (HR. Tirmidzi Al-Albani dalam Ash-Shahihah 284). Jadi,

sempurnahnya iman seseorang ditentukan oleh akhlaknya.

Penerimaan dan rasa syukur merupakan akhlak mulia dalam Islam, dimana

seseorang yang menerima nikmat walaupun sedikit dan bersyukur dengan nikmat

tersebut, maka orang tersebut dapat dikatakan memiliki sifat qana’ah. Adapun

fenomena yang ditemukan di lapangan banyak orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus sulit untuk menerima anak sebagai anugerah.

Qana’ah adalah sifat yang diajarankan dalam agama Islam dimana

manusia yang tetap ridha atas pemberian Allah SWT, menerima, dan merasa

cukup atas pemberian Allah SWT. Seseorang yang menanamkan sifat qana’ah

didalam dirinya tidak pernah meminta lebih kepada Allah SWT mereka menerima

pemberian Allah SWT dengan tangan terbuka bahkan orang yang qana’ah selalu

melakukan segala usaha dengan optimal dalam menjalani kehidupnya sehingga

orang memiliki sifat qana’ah dapat menyikapi dengan sabar permasalahan yang

muncul dalam kehidupannya dan berusaha untuk tetap menghadapi masalah serta

orang yang qana’ah hidup selalu sederhana sehingga dalam menjalani kehidupan

tidak mempersulit diri sediri (Rusdi, 2016).


Salah satu ciri seorang yang memiliki sifat qana’ah adalah seseorang yang

merasa puas terhadap hidupnya. Kepuasan hidup diperoleh ketika seseorang

mampu melakukan evaluasi secara positif terhadap hal yang diperoleh dan terjadi

dalam hidupnya. Orang yang memiliki sifat qana’ah akan dikarunai hati yang

tenang dan selalu berpikir positif karena orang yang qana’ah selalu senantiasa

menjalankan kehidupan atas izin Allah. Penelitian qana’ah dilakukan sejak tahun

2016 menunjukkan bahwa, qana’ah memberikan dampak positif pada kondisi

Psikologis seorang yaitu menurunnya distres psikologis dan meningkatnya

kesejahtraan psikologis (Ani, 2016; Saputro, Hasanti & Nashori, 2017; Azkarisa

dan Siregar, 2018).

Manusia sebagai mahkluk yang tidak mempunyai hak untuk menolak

pemberian Allah SWT dan juga manusia tidak mempunyai hak untuk memiliki

pemberian Allah SWT. Tidak banyak orang tua yang mampu menerima anak

berkebutuhan khusus didalam keluarga. Beberapa waktu yang lalu terjadi kasus

reaksi penolakan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak berkebutuhan

khusus (ABK) diduga dengan sengaja membuang anak karena lahir dalam

keadaan bibir sumbing.

Sikap qana’ah yang dapat dilakukan dari manusia yaitu merasa puas atas

apa yang kita miliki saat ini maka dalam masalah dunia kita dapat melihat orang

yang berada di bawah kita dan pada masalah kehidupan akhirat kita dapat melihat

orang yang berada di atas kita. Hal tersebut telah ditegaskan oleh Rasulullah

dalam sebuah hadits:


‫ اﻧﻈﺮوا‬.‫ ﻗﺎل رﺳﻮل ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ و ﺳﻠﻢ‬: ‫ﻋﻦ اﺑﻰ ھﺮﯾﺮة رﺿﻰ ﷲ ﻋﻨﮫ‬

‫ وﻻ ﺗﻨﻈﺮوا اﻟﻰ ﻣﻦ ھﻮ ﻓﻮﻗﻜﻢ ﻓﮭﻮ اﺟﺪر ان ﻻ ﺗﺰدروا ﻧﻌﻤﺔ‬,‫اﻟﻰ ﻣﻦ اﺳﻔﻞ ﻣﻨﻜﻢ‬

(‫ )ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﯿﮫ‬.‫ﷲ ﻋﻠﯿﻜﻢ‬

Artinya; “ Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di

atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak

memandang hina nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepada kalian.”

(Muttafaqun Alaih).

Aspek-aspek dari qana’ah sendiri melingkupi sabar, tawakkal, dan syukur,

dimana penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sabar, tawakkal dan syukur

berindikasi dapat menurunkan tingkat kecemasan seorang ibu. Sejauh apa yang

diketahui oleh peniliti belum ditemukan adanya penelitian yang mengenai

bagaimana sifat qana’ah mempengaruhi kondisi kecemasan pada seorang ibu yang

memiliki anak berkebutuhan khusus. Maka berdasarkan uraian di atas peneliti

tertarik untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Qana’ah dengan

kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah uraikan diatas, maka peneliti ingin

mengetahui apakah terdapat hubungan antara qana’ah dengan kecemasan pada

orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK).


C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara qana’ah

dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus

(ABK).

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin diketahui penelitian ini dapat diambil

beberapa manfaat dari penelitian ini yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis pada penelitian ini diharapkan dapat membantu menemukan

hal-hal yang dapat mempengaruhi orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus (ABK) untuk memiliki qana’ah serta menurutkan

tingkat kecemasan pada orang tua. Sekaligus membuka wacana dalam

penelitian psikologi, khususnya Psikologi Pendidikan, Psikilogi Klinis dan

Psikologi Islam.

2. Manfaat Praktis

Memberikan informasi kepada orang tua tentang hubungan antara sifat

qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan

khusus (ABK), maka dapat menjadi referensi atau masukan bagi orang tua

untuk dapat bersikap penuh kerelaan menerima anugrah yang diberikan

Allah.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecemasan (Anxiety)

1. Pengertian Kecemasan (Anxiety)

Cemas dalam bahasa latin “anxius” dan dalam bahasa Jerman “angst”

kemudian menjadi “anxiety” yang berarti kecemasan. Menurut Freud ( dalam

King, 2012)kecemasan dapat menggambarkan suatu efek negatif terhadap

pengalaman psikis dan hal wajar yang pernah dialami oleh setiap orang untuk

mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

Menurut Kartono (2010) kecemasan merupakan suatu bentuk

kekhawatiran dan rasa ketakutan terhadap hal yang tidak jelas yang dirasa orang

tersebut dan mempunyai ciri mengancam seseorang yang terkena kecemasan

tersebut. Sarwono (2012) menjelaskan kecemasan merupakan takut yang

dirasakan oleh seseorang yang disebabkan dengan objek yang tidak jelas.

Menurut Freud (dalam Feist & Feist, 2010), kecemasan merupakan suatu

kondisi yang tidak menyenangkan yang disertai oleh sensasi fisik berlebihan

sehingga dapat mengacam diri sendiri dan dapat memicu sifat emosional

seseorang. Sedangkan menurut Lovibond dan Lovibond (1995) bahwa

kecemasan merupakan perasaan takut atau kekhawatiran akan terjadinya suatu

hal yang tidak menyenakan di masa yang akan datang. Kecemasaan ditandai

dengan perasaan akan terjadi masalah pada bagian otonomik, masalah pada otot,

situasi yang tidak menyenakan tanpa alasan yang jelas, dan dapat dipengaruhi

pengalaman yang tidak menyenangkan.


Menurut Nevid (2005) kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang

memiliki ciri-ciri seperti perasaan yang tidak menyenangkan, terdapat bagian

anggota tubuh yang kaku, dan memiliki ketakutan akan masalah di masa lalu

terulang kembali di masa yang akan datang. Definisi kecemasan menurut

Durand dan Barlow (2006) merupakan suasana hati yang tidak menyenangkan,

dimana akan berdampak pada ketegangan jasmani yang dapat dialami oleh

seseorang dan memiliki rasa takut datangnya bahaya dimasa yang akan datang

yang dapat menimpah dirinya.

Menurut Friedman dan Schustack (2006) menjelaskan bahwa kecemasan

dasar (basic anxienty) adalah suatu perasan ketakutan akan ditinggalkan sendiri

serta memiliki perasaan yang tidak aman sehingga membuat dirinya menjadi

tidak berdaya. Hal tersebut muncul dari permasalahan yang dihadapi seseorang

dengan orang terdekatnya seperti kurangnya kehangatan orang terdekat, ketidak

stabilan yang diperoleh, dan kurangnya keterlibatan didalam keluarga.

Menurut Horney (dalam Friedman & Schustack, 2006) mengungkapkan

bahwa kecemasan dasar berasal dari konflik sosial dalam keluarga, hampir setiap

orang pernah merasakan kecemasan dasar yang mengakibatkan seseorang

tersebut merasakan kebingungan dalam mecari solusi keluarnya permasalahan

yang menimpah dirinya.

Selain itu Ghufron dan Risnawati (2014) menjelaskan bahwa kecemasan

merupakan suatu kekhawatiran yang berlebihan yang dapat membuat perasan

yang tidak menyenangkan yang dapat dirasakan seseorang sehingga munculnya

perasan cemas, tegang, dan emosi terhadap hal yang sepele. Sedangkan menurut
Kendler (dalam King, 2012) gangguan kecemasan tergeneralisasi (generalize

anxiety disorder) memiliki perbedaan dengan kecemasan yang dirasakan

seseorang dalam kehidupan sehari-hari karena, dimana kecemasan generalisasi

dapat dirasakan oleh seseorang secara berturut-turut selama 6 bulan dan orang

yang memiliki gangguan kecemasan generalisasi tidak mampu mengungkapkan

perasaan cemas yang mereka rasakan.

Menurut Surya (2010) kecemasan adalah kondisi emosional yang

ditandai oleh perasaan takut terhadap sumber yang tidak jelas dan merasa

khawatir dalam menjalankan kehidupan. Sedangkan menurut Sarwono (2012)

kecemasan merupakan suatu keadaan perasaan yang dirasakan oleh individu

seperti merasa lemah sehingga individu tersebut tidak memiliki keberanian dan

melakukan tindakkan tidak secara rasional dengan yang diinginkan.

Berdasarkan dari uraian di atas, maka kecemasan adalah suatu reaksi

yang dialami oleh individu dengan ditandai perasaan takut atau kekhawatiran

yang mendalam sehingga membuat individu tidak mampu berpikir rasional

dalam mengambil keputusan.

2. Aspek - aspek Kecemasan

Hazaleus (dalam Ghufron & Risnawati, 2014) mengemukan beberapa

aspek kecemasan sebagai berikut:

a. Kekhawatiran (worry)

Munculnya pemikiran yang tidak rasional terhadap diri sendiri, sehingga

merasa bahwa dirinya lebih buruk dari pada orang lain.

b. Emosionalitas (emosionality)
Suatu bentuk reaksi yang muncul dari rangsangan saraf otonomi seperti

jantung yang berdebar-debar, merasa tegang pada bagian anggota tertentu,

dan berkeringat dingin.

c. Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generated

interfance)

Suatu reaksi yang dialami individu terhadap tekanan yang disebabkan

pemikiran yang tidak rasional sehingga membuat aktivitas tergangguan.

Aspek-aspek kecemasan menurut Lovibond dan Lovibond (1995) adalah

sebagai berikut :

a. Bagian Otonomik (outonomic arousal)

b. Masalah pada otot (skeletal musculature effects)

c. Situasi kecemasan (situational anxiety)

d. Pengalaman tidak menyenangkan (subjective experience of anxious effect)

Berdasarkan uraian diatas bahwa aspek dari kecemasan menurut

Lovibond dan Lovibond (dalam Damanik, 2006) yaitu bagian otonomik

(outonomic arousal), masalah pada otot (skeletal musculature effects), situasi

kecemasan (situational anxiety), dan pengalaman tidak menyenangkan

(subjective experience of anxious effect).

3. Jenis-jenis Kecemasan

Freud (dalam Wiramihardja, 2005) mengatakan terdapat beberapa jenis

kecemasan sebagai berikut:

a. Kecemasana objek adalah suatu perasaan yang muncul dari pemikiran yang

tidak rasional sehingga selalu berpikir akan terjadi bahaya yang menimpah
dirinya. Kecemasan objek timbul dari sifat pembawaan yang cenderung

takut mendekati benda-benda tertentu dan keadaan tertentu dari lingkungan.

b. Kecemasan neurotik

Freud membagi kecemasan ini kedalam tiga golongan yaitu::

1. Perasaan cemas yang timbulkan akibat adanya ketidak mampunya

seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

2. Bentuk khawatiran dan irasional

3. Bentuk reaksi yang muncul secara tiba-tiba yang dapat membuat

merasa gugup

c. Kecemasan moral

Perasan yang takut terhadap suatu kejadian yang dapat terulang kembali, hal

ini disebabkan karena seseorang pernah mendapatkan pengalaman buruk

terkait dirinya yang pernah melanggar aturan (hukum).

4. Faktor-faktor yang dapat mengurangi kecemasan

Ghufron dan Risnawati (2014) menyatakan terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi kecemasan sebagai berikut:

a. Pengalaman buruk dimasa lalu

Suatu kondisi buruk atau munculnya permasalahan yang membuat

perasaan tidak menyenangkan saat di masa lalu dan berpikir akan

terulang kembali di masa mendatang.

b. Pikiran yang tidak rasional

Suatu pemikiran yang tidak logis dan seseorang yang melakukan sesuatu

tanpa mempertimbangkan dampak dari permasalahan.


c. Kegagalan katastropik

Asumsi yang terjadi pada dirinya sehingga mengakibatkan individu dapat

berpikir buruk terhadap dirinya sendiri dan perasaan tidak mampu untuk

mengatasi permasalah yang sedang dihadapi.

d. Kesempurnaan

Menginginkan sesuatu hal yang ideal sehingga individu tersebut

beranggapan bahwa dirinya telah melakukan suatu hal benar tanpa ada

kesalah sedikit pun dalam melakukan tindakkan.

Berdasarkan uraian diatas menurut Ghufron dan Risnawati (2014) faktor

yang dapat menguragi kecemasan yaitu antara lain pengalaman buruk dimasa

lalu, pikiran yang tidak rasional, kegagalan katastropik, dan kesempurnaan.

B. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Menurut Suran dan Rizzo (dalam Mangusong, 2016) anak berkebutuhan

khusus merupakan anak yang mengalami hambatan secara signifikan pada anak

umumnya, dimana anak berkebutuhan khusus mengalami hambatan dari segi

fisik, psikologis, dan perilaku. Seperti anak yang memiliki hambatan dalam

penglihatan, pendengaran, reterdasi mental, cacat fisik dan gangguan emosional

yang tidak stabil.

Menurut Sumekar (2009) anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang

mengalami penyimpangan dalam segi fisik, mental, sosial, dan emosi. Sehingga

anak yang mengalami penyimpangan memerlukan pelayanan yang khusus dari

orang terdekatnya kemudian dapat diseseuaikan dengan penyimpangan atau


khusus yang di alami anak tersebut. Terdapat beberapa kategori anak

bekebutuhan khusus antara lain seperti tunarungu, tunanetra, tunagrahita,

tunalaras, tunadaksa dan autis sebagai berikut:

a. Tunarungu

Tunarungu merupakan individu yang mengalami gangguan pendengaran dari

sejak lahir, dimana orang yang memiliki gangguan pendengaran tidak dapat

melakukan komunikasi dengan baik sehingga mereka membutuhkan bahasa

isyarat untuk mempermudah mereka dalam melakukan komunikasi dengan

orang lain.

b. Tunanetra

Tunanetra merupakan gangguan dalam penglihatan, dimana pada gangguan

penglihatan dapat dibagi menjadi 2 yaitu buta total dan kurang melihat (low

vision).

c. Tunadaksa

Kelainan fisik khususnya pada bagian anggota tubuh antara lain seperti: kaki,

tangan atau pun bentuk anggota tubuh lainnya.

d. Tunagrahita

Individu yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata atau biasa disebut

raterdasi mental.

Katakteristik anak tunagrahita terbagi menjadi 3 yaitu sebagai berikut:

1) Keterbatasan inteligensi: memiliki kemampuan belajar yang lemah

seperti dalam memahami tulisan, angka, dan huruf.


2) Keterbatasan sosial: tidak mampunya individu untuk melakukan intraksi

dengan orang sekitar sehingga membuat individu merasa terkucilkan dari

lingkungan sekitar.

3) Keterbatasan mental: anak yang mengalami tuangrahita memiliki usia

mental yang tidak sesuai dengan usia sebenarnya.

e. Tunalaras

Merupakan individu yang mengalami hambatan dalam menggontrol emosi

dan tidak dapat mengikuti aturan.

f. Autis

Individu yang memiliki gangguan pada perkembangan otak yang dapat

mempengaruhi perilaku dan interaksi.

Mangunsong (2016) menambahkan karakteristik anak berkebutuhan

khusus sebagai berikut:

a. Tunawicara

Hambatan dalam komunikasi verbal yang efektif, sehingga mengalami

kesulitan untuk memahami bahasa.

b. Autisme Sprectrum Disorder (ASD)

Penarikan diri yang ekstrim dari lingkungan sosialnya, gangguan komunikasi,

melakukan aktivitas yang monoton, dan berulang yang muncul sebelum usia

3 tahun. Asperger Syndrome (AS) disebut dengan mild autis, memiliki tingkat

intelegensi dan komunikasi lebih tinggi dari pada gangguan autis.


c. ADHD (Attetion Deficit Hiperactivite Disorders)

Gangguan pada perkembangan neurologis yang ditandai dengan munculnya

sintom pada pengendalian diri, atensi, hiperaktif dan implusivitas yang

menyebabkan kesulitan mengontrol perilaku.

d. Anak Berbakat (Gifted)

Anak yang diidentifikasikan bahwa memiliki kemampuan di atas rata-rata

yang mendapatkan prestasi yang tinggi dan membutuhkan pendidikan yang

khusus.

e. Anak Indigo

Anak dengan karakteristik unik dan mengidenfikasikan adanya cakra “mata

ketiga” yang menunjukan kemampuan physic dan ketajaman intuisi.

Berdasarkan penjelasan diatas menurut Mangunsong (2016) menyatakan

bahwa karakteristik anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai berikut

tunarungu, tunanetra, tunagrahita, tunalaras, tunadaksa dan autis, autisme

sprectrum disorder (ASD), ADHD (Attetion Deficit Hiperactivite Disorders),

anak berbakat (Gifted), dan anak indigo.

C. Qana’ah

1. Pengertian Qana’ah

Menurut Al-Faruq (2012) qana’ah berasal dari bahasa Arab yaitu rela dan

suka menerima yang diberikan padanya, dimana seorang yang memiliki sifat

qana’ah selalu merasa cukup dan merasa puas dengan apa yang Allah SWT

berikan kepadanya sehingga dapat membuatnya selalu mensyukuri nikmat yang

ada. Qana’ah secara bahasa merupakan ridha dengan ketentuan Allah, artinya
seseorang merasa cukup dan puas dengan apa yang Allah SWT berikan sehingga

membuatnya selalu mensyukuri nikmat yang ada (Abubakar, 2012). Menurut

bahasa qana’ah adalah rela atau ridho sedangkan menurut istilah qana’ah berarti

menerima ketika berada dalam ketiadaan atau tidak memiliki apa yang

diinginkan (Hajjaj, 2011).

Menurut Qurtubbi (2009) yang mengatakan bahwa qana’ah secara bahasa

merupakan penerimaan terhadap apa yang didapat dan merasa ikhlas dengan

kondisi yang dialami. Secara istilah dapat diartikan bahwa orang yang memiliki

sifat qana’ah menerima dengan ketulusan hati dan mengambil manfaat sekedar

untuk keperluan melakukan ketaatan kepada sang Khalik.

Menurut pendapat ulama Sufi qana’ah adalah rasa puas dengan apa yang

diterimanya dan membiasakan diri untuk bersikap tenang. Menurut pendapat

Hafi bahwa qana’ah adalah seseorang yang berusaha mencari nafkah dalam

menjalani kehidupan, akan tetapi tetap melakukan usaha meskipun hasil yang

diperolah tidak sesuai dengan keinginan. Sedangkan menurut Turmidzi qana’ah

merupakan individu yang rela terhadap pemberian rezeki yang telah ditetapkan

oleh Allah SWT (Ar-Rummi, 2007).

Menurut Hamka (2017), qana’ah berarti percaya dengan akan adanya

kekuasaan yang melebihi kekuasaan umatnya, selalu sabar untuk menerima

ketentuan Allah SWT dan mensyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Qana’ah memiliki peran penting untuk menjalani kehidupan sehingga orang

yang memiliki sifat qana’ah tidak pernah mengeluh akan ketetapan Allah SWT

dan mempercayai bahwa sesuatu yang diperoleh hikmah tertentu.


Menurut Yasin (2012), qana’ah yaitu menerima takdir Allah SWT dengan

lapang dada sambil memikirkan agar takhir di hari esok lebih baik dan jauh lebih

bermanfaat ketimbang meluapkan kemarahan. Qana’ah adalah rida terhadap

nikmat yang telah didapat, seseorang yang qana’ah menilai apa yang telah

didapat dan bukan yang sedang di dapat. Qana’ah yang ideal memiliki rasa

cukup terhadap nikmat yang di masa lampau tanpa meminta lebih dimasa

sekarang.

Menurut Ali (2014) qana’ah merupakan salah satu dimensi dalam karakter

yang baik pada manusia (akhlak) dalam hal sikap individu mengenai ketentuan

terhadap sesuatu dan rezeki di dunia. Qana’ah juga dapat diartikan sebagai suatu

bentuk kepuasan terhadap harta atau sesuatu yang telah dimiliki seseorang. Ali

(2014) juga mengungkapkan bahwa terdapat dua aspek yang dapat membangun

qana’ah, yaitu kehidupan yang baik (hayatan tayyibah) dan kesediaan dalam

penerimaan (ridha). Qana’ah dicirikan sebagai individu yang memiliki perasaan

cukup dan terpenuhi kebutuhannya serta perasaan puas terhadap sesuatu.

Ad-Darani berkata kepuasan (Qana’ah) adalah bagian dari rasa dalam

sebuah kedudukan dalam rangka zuhud, ini adalah awal ridha dan awal sikap

zuhud. Abdullah bin Khafif mengungkapkan bahwa kepuasan (Qana’ah) adalah

meninggalkan keinginan melihat apa yang tidak ada dan merasa cukup dengan

yang ada (Shalih & Asmuni, 2013).

Qana’ah juga memiliki akar kata yang merujuk pada perasaan menerima

dengan tangan yang terbuka. Melalui hal tersebut, qana’ah juga dapat disebut

sebagai suatu bentuk kepuasan atau keterpenuhan yang dirasakan individu.


Dalam ajaran Islam diajarkan untuk memiliki sikap qana’ah yaitu menerima

dengan rela apa yang ada dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Sikap

qanaah bukanlah suatu sikap yang menjadikan kita lemah dan pasrah. Justru

dengan qanaah ini akan membawa seseorang pada derajat yang lebih tinggi (Ali,

2014).

Orang yang qana’ah akan senantiasa merasa tenteram dan merasa

berkecukupan terhadap apa yang dimilikinya selama ini. Karena meyakini

bahwa pada hakikatnya kekayaan ataupun kemiskinan tidak diukur dari banyak

dan sedikitnya harta. Akan tetapi, terletak kepada kelapangan hatinya untuk

menerima dan mensyukuri segala karunia yang diberikan Allah SWT (Rusdi,

2016).

Menurut Haqqi (2003) qana’ah merupakan jiwa yang telah merasa cukup,

dengan demikian maka jiwa itu menjadi mulia dan agung serta mendapatkan

ketenteraman, penghormatan dan pujian yang lebih banyak dari pada yang

diterima oleh jiwanya miskin kerena ketamakannya.

Berdasarkan uraian diatas, qana’ah merupakan kondisi dimana seseorang

mampu menerima dirinya sendiri, serta memiliki kemauan untuk menghadapi

kenyataan dan menerima kondisi kehidupan mereka sebagaimana adanya seperi

hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Orang yang

memiliki sifat qana’ah akan merasa puas dengan apa yang diperoleh dan

menjadikannya kenikmatan untuk menghindari dari hal-hal yang buruk sehingga

menjadi seseorang yang tidak sombong karena selalu berpikir apa yang mereka

miliki hanyalah titipan Allah SWT.


2. Aspek-aspek Qana’ah

Menurut Rusdi (2016), terdapat dua aspek dalam qana’ah yaitu sebagai

berikut:

a. Ridha sedikitnya nikmat yang telah di peroleh

Merasa bahagai walaupun harta yang di peroleh itu sedikit dan selalu

menikmati apa yang telah didapat selama hidup yang akan dijadikan sebuah

anugerah pemberian Allah.

b. Tidak menuntut lebih

Merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah SWT dan tidak

meminta kepada Allah SWT agar ditambahkan harta serta tidak menyesali

dengan sedikit harta yang dimiliki.

Aspek-aspek qana’ah menurut Hamka (2015) sebagai berikut :

a. Menerima dengan rela ketentuan Allah SWT

b. Berusaha dan memohon tambahan yang pantas

c. Menerima dengan sabar pemberian dari Allah SWT

d. Bersikap tawakal kepada Allah SWT

e. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia

Berdasarkan uraian diatas bahwa aspek dari qana’ah menurut Rusdi

(2016) dan Hamka (2017) yaitu 1) ridha sedikitnya nikmat yang telah di peroleh;

2) tidak menuntut lebih; 3) menerima dengan rela ketentuan Allah SWT; 4)

berusaha dan memohon tambahan yang pantas; 5) menerima dengan sabar

pemberian dari Allah SWT; 6) bersikap tawakal kepada Allah SWT; 7) tidak

tertarik dengan tipu daya dunia.


3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Qana’ah

Menurut Al-Faruq (2012) terdapat 5 faktor yang dapat mempengaruhi sifat

qana’ah dalam diri seseorang, sebagai berikut:

a. Menguatkan Keimanan

Keyakinan seseorang dengan keagungan Allah SWT dan kenikmat yang

Allah SWT berikan kesuai dengan keperluan umatnya.

b. Meyakinan akan ketentuan rezeki

Menyakini rezeki telah ditentukan Allah SWT, semasa manusia dalam

kandungan ibunya Allah SWT telah menentukan rezeki, jodoh dan ajal. Oleh

karena itu manusia hanya diperintah berusaha dan Allah SWT yang akan

memberikan rezaki.

c. Mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan

Allah SWT menurutkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umatnya utuk

menuju jalan yang benar dan dapat memahami makna yang terkandung dalam

Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

d. Memahami hikmah dari perbedaan rezeki

Rezeki yang Allah berikan kepada umatnya tidaknya berbentuk materi semata

tetapi seorang anak juga termaksud rezeki yang Allah SWT berikan kepada

umatnya dengan memberikan tanggung jawab yang berbeda-beda.

e. Melihat kepada orang yang lebih rendah dalam urusan dunia

Menerima segala pemberian Allah SWT meskipun terkadang tidak sesuai

dengan keinginan dan tetap mensyukuri karunia yang ada.


Berdasarkan penjelasan diatas diketahui bahwa sifat qana’ah dapat

dipengaruhi oleh 5 faktor yaitu sebagai berikut: 1) menguatkan keimanan, 2)

yakin akan ketentuan rezeki, 3) mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan, 4)

memahami nikmat dari perbedaan rezeki dan 5) melihat kepada orang yang

lebih randah dalam urusan dunia.

D. Hubungan antara qana’ah dan kecemasan

Orang tua merupakan komponen utama pada keluarga yang terdiri dari ayah

dan ibu, yang berasal dari suatu ikatan perkawinan yang sah. Menjadi orang tua

adalah salah satu tahapan yang akan dijalani oleh pasangan yang sudah memiliki

keturunan, dalam tahapan tersebut terdapat penerimaan dan penolakan orang tua

yang berbentuk dimensi suatu kehangatan yang diberikan orang tua terhadap anak

(Lestari, 2012).

Ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan

maka dapat menimbulkan perasa kecewaan yang mendalam dan memiliki rasa takut

yang berlebihan sehingga dapat menyebabkan munculnya masalah kecemasan.

Dimana berdasarkan hasil penelitian Setyaningtum dan Azizah (2007), Tussofa

(2015) dan Gunawijaya (2013) menunjukkan bahwa seseorang ibu yang memiliki

tingkat khawatiran yang berlebihan akan menggangu aktivitas sehari-hari dan

beresiko mengalami kecemasan.

Menurut Ghunfron dan Risnawati (2014), faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi kecemasan pada individu yaitu terdiri atas pengalaman buruk di masa

lalu, pikiran yang tidak rasional, kegagalan katastropik dan kesempurnaan. Salah satu

faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan yaitu pengalaman yang buruk dimasa
lalu hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan psikologis, karena terdapat masalah

yang belum diselesaikan di masa lalu.

Kecemasan terdiri atas aspek-aspek kekhawatiran, emosionalitas, dan

hambatan dalam penyelesaian tugas. Sudah banyak penelitian sebelumnya yang

menunjukkan bahwa religiusitas mempengaruhi kecemasan seseorang. Berdasarkan

hasil penelitian yang dilakukan Maisaroh dan falah (2011) menunjukkan bahwa

semakin tingginya tingkat religiusitas seseorang maka semakin rendahnya tingkat

kecemasan.

Konsep religiusitas dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu akidah, ibadah, dan

akhlak. Di dalam Islam akhlak memiliki kedudukan utama sebagai umat muslim,

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk sebagai panutat orang muslim

agar memiliki akhlak mulia. Penelitian tentang akhlak sudah banyak dilakukan

namun, peneliti memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang akhlak. Dimana dalam

Islam dikatakan oleh Aljauziyah (2011) menjelaskan akhlak dengan sifat qana’ah,

tawakal, syukur, amanah, sabar dan tawadhu. Hasil penelitian Dipoalam (2014) yang

menunjukkan bahwa sifat sabar memiliki korelasi negatif dengan kecemasan.

Peneliti telah banyak menemukan penelitian yang menunjukkan bagaimana

akhlak seseorang dapat mempengaruhi kecemasan. Akan tetapi peneliti belum

menemukan penelitian terdahulu mnegenai hubungan sifat qana’ah dengan

kecemasan. Menurut Qurtubbi (2009) yang mengatakan bahwa seseorang yang

memiliki sifat qana’ah menerima dengan ketulusan hati atas apa yang Allah SWT

berikan kepadanya, dengan mengambil manfaat untuk melakukan ketaatan kepada

Allah SWT.
Yasin (2012), menambahkan qana’ah yang ideal memiliki rasa cukup terhadap

nikmat yang di masa lampau tanpa meminta lebih dimasa sekarang. Hamka (2015),

mengatakan bahwa qana’ah manusia untuk selalu sabar ketika mengalami hal-hal

yany tidak sesuai dengan keinginan dan manusia harus dapat menerima ketentuan

yang diberikan Allah SWT sehingga dapat memunculkan ketenangan di dalam hati.

Manusia yang memiliki hati yang tenang dapat mencegah munculnya perasaan

cemas, depresi dan dapat mengontrol diri.

Berdasarkan uraian diatas peneliti belum menemukan penelitian terdahulu yang

mengenai apakah ada hubungan antara qana’ah dan kecemasan, hal ini membuat

peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian mengenai hubungan qana’ah

dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK).

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian diatas maka, hipotesis dalam penelitian ini adalah ada

hubungan yang negatif antara sifat qana’ah dengan kecemasan pada ibu yang

memiliki ABK. Dimana semakin tinggi qana’ah, maka semakin rendahnya

kecemasan, sebaliknya semakin rendah qana’ah maka semakin tingginya kecemasan

pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK).


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Variabel Terikat (Y) : Kecemasan

2. Variabel Bebas (X) : Qana’ah

B. Definisi Operasional

1. Kecemasan

Kecemasan merupakan suatu keadaan dimana individu memiliki reaksi

emosional yang muncul akibat tidak spesifik, sehingga menimbulkan perasaan

khawatir, merasa terancam dan perasaan tidak nyaman. Kecamasan itu sendiri

adalah reaksi yang normal dirasakan oleh setiap ibu yang mempunyai anak

berkebutuhan khusus (ABK) akan tetapi kecemasan itu terasa wajar selama hal

tersebut tidak mengganggu aktifitas sehari-hari. Kecemasan diukur dengan

menggunakan skala dari DASS (Depresion Axienty Stress Scale) (Lovibond &

Lovibond, 1995) yang telah diadaptasi oleh Damanik (2006). Semakin tinggi

skor skala menunjukkan semakin tinggi pula kecemasan dan sebaliknya semakin

rendah skor yang didapatkan maka semakin rendah kecemasan pada orang tua.

2. Qana’ah

Qana’ah merupakan salah satu sifat yang di ajaran dalam Agama Islam

dimana individu yang qana’ah memiliki sikap tenang, rela, rihdo, dan merasa

cukup atas apa yang telah Allah SWT berikan serta menjauhkan diri dari rasa
tidak puas terhadap apa yang telah diberikan olehnya. Rasa cukup yang ada di

diri manusia akan menjadi tonggak utama dari untuk terus bersyukur kepada

SWT. Qana’ah diukur dengan menggunakan skala qana’ah yang dibuat sendiri

oleh peneliti berdasarkan aspek yang dikemukan oleh Hamka (2017) dan Rusdi

(2016). Semakin tinggi skor skala menunjukkan semakin tinggi pula qana’ah dan

sebaliknya semakin rendah skor yang didapatkan maka semakin rendah qana’ah.

C. Subjek Penelitian

1. Populasi Penelitian

Menurut Bungin (2005) populasi penelitian merupakan objek penelitian

antara lain seperti: manusia, hewan, tumbuhan, udara, dan peristiwa. Sehingga

beberapa hal tersebut dapat dijadikan sumber data penelitian. Sedangkan

menururt Setyosari (2015) populasi penelitian adalah suatu bentuk dari

keseluruhan kelompok pada sampel yang diambil dan jumlah kelompak yang

banyak akan dipakai untuk menjadi generalisasi dari penelitian.

Populasi penelitian ini yaitu sebanyak 1.034 orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus (ABK) di kota Pekanbaru yang terdapat pada 14 SLB

diantaranya sebagai berikut a) SLB Pembina, b) SLB Sri Mujinab, c) SLB

Pendomo Limo, d) SLB Al-faqih, e) SLB Pelita Hati, f) SLB Panam Mulia, g)

SLB Kasih Ibu, h) SLB Kinasih, i) SLB Insan Mutiara, j) SLB Pelita Nusa, k)

SLB Anak Mandiri, l) SLB Cendana, m) SLB Melati dan n) SLB Baiquntah.
2. Sampel Penelitian

Sugiyono (2014) sampel penelitian merupakan jumlah dari sebagian yang

dimiliki oleh populasi, sedangkan menurut Bungin (2005) menambakan bahwa

sampel penelitian adalah bentuk perwakilan dari setiap pupulasi. Menurut Azwar

(2017) mengungkapkan bahwa sampel penelitian yaitu sebagian dari jumlah

populasi yang diperoleh. Jika jumlah populasi penelitian besar, maka jumlah

sampel penelitian dapat dilakukan dengan perwakilan dari setiap populasi yang

diperoleh.

Pada penelitian ini teknik sampel penelitian yang digunakan yaitu dengan

menggunakan teknik sampel random. Dimana menurut Sugiyona (2014)

menggungkapkan bahwa sampel random adalah teknik yang diambil dari

perwakilan populasi yang dilakukan secara acak tanpa melihat kestrata dalam

populasi tersebut. Dimana pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan

secara acak dengan menggunakan random pada 14 SLB yang berada di kota

Pekanbaru.

Pengambilan pada sampel berdasarkan karakteristik yaitu orang tua yang

beragama Islam dan orang tua dari anak berkebutuhan khusus tersebut. Jumlah

sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 288

sampel. Pada SLB Negeri Pembina jumlah sumpel yang diambil adalah

sebanyak 100, SLB Melati sebanyak 80 sampel, SLB Sri Mujinab sebanyak 42

sampel, SLB, SLB Kinasi sebanyak 40 sampel dan SLB Insan Mutiara sebanyak

26 sampel.
Tabel 3.1
Jumlah Sampel Penelitian
Nama Sekolah F %
SLB Negeri Pembina 100 34,72%
SLB Melati 80 27,78%
SLB Sri Mujinab 42 14,58%
SLB Kinasi 40 13,89%
SLB Insan Mutiara 26 9,03%
Total 288 100%

Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 288 orang tua yang memiliki

anak berkebutuhan khusus yang diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin

dan menggunakan tingkat kesalahan sebesar 5% sehingga sampel 95% yaitu:

Keterangan: n = N / (1+N.(e)2)

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Batas toleransi eror

D. Metode Pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode

kuantitatif. Penggumpulan data dengan menggunakan metode kuatitatif dapat

dibantu dengan menggunakan skala. Dimana menurut Azwar (2014) skala adalah

berupa pernyataan yang disusun untuk dapat mengungkap tujuan dari penelitian.

Agar mendapatkan hasil yang akurat peneliti menggunakan dua skala yaitu skala

qana’ah dan DASS (Depresion, Anxienty and Sterss Scale).

Skala Qana’ah terdiri dari 7 ciri-ciri yang menggambarkan sifat qana’ah

kemudian digambarkan dalam bentuk indikator. Indikator tersebut dijadikan


sebagai acuan dalam membuta aitem qana’ah. Skala qana’ah dibuat dalam bentuk

skala likert yang terdiri dari 5 pilihan jawaban Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S),

Netral (N), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Apabila subjek

menjawab SS untuk aitem favorable maka akan diberi skor SS (4) dan jika S (3), N

(2), TS (1), dan STS (0). Sedangan pada unfavorable subjek menjawab SS

mendapatkan skor SS (0), S (1), N (2), TS (3), dan STS (4).

Skala kecemasan mengunakan DASS oleh Lovibond dan Lovibond

kemudian diadaptasi oleh Damanik (2006) aitem skala DASS disusun

menggunakan model likert. Skala DASS terdiri dari 42 aitem, yang mencakup tiga

subvariabel yaitu mengungkap depresi, stres, dan kecemasan. Alat ukur ini

menggunakan empat pilihan jawaban yaitu 0 (tidak pernah), 1 (kadang-kadang), 2

(lumayan sering), dan 3 (sering sekali). Aitem 3, 5, 10, 13, 16, 17, 21, 24, 26, 31,

34, 37, 38, dan 42 yaitu pernyatan untuk depresi, aitem 2, 4, 7, 9,15, 19, 20, 23, 25,

28, 30, 36, 40, dan 41 yaitu pernyataan untuk kecemasan (anxiety) sedangan aitem

1, 5, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27, 29, 32, 33, 35, dan 39 yaitu penyataan untuk stress.

1. Skala Qana’ah

Skala ini bertujuan untuk mengukur tingkat qana’ah pada orang tua

yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Skala qana’ah pada penelitian ini

dibuat sendiri oleh peneliti dengan berdasarkan teori Rusdi (2016) dan Hamka

(2017) yang terdiri atas 7 ciri-ciri yaitu sebagai berikut: 1) ridha sedikitnya

nikmat yang telah di peroleh; 2) tidak menuntut lebih; 3) menerima dengan rela

ketentuan Allah SWT; 4) berusaha dan memohon tambahan yang pantas; 5)


menerima dengan sabar pemberian dari Allah SWT; 6) bersikap tawakal kepada

Allah SWT; 7) tidak tertarik dengan tipu daya dunia.

Tabel 3.2
Blueprint skala Qana’ah sebelum Try Out
Ciri-ciri Qana’ah Favorable Unfavorable Jumlah
Ridha sedikitnya nikmat yang 1, 2, dan 3 4, 5, 6, dan 7 7
telah di peroleh
Tidak menuntut lebih 8, 9, dan 10 11, 12, dan 13 6
Menerima dengan rela ketentuan 14 dan 15 16, 17, 18, 19, 7
Allah SWT dan 20
Berusaha dan memohon tambahan 21, 22, 23, dan 25 dan 26 6
yang pantas 24
Menerima dengan sabar sabar 27, 28, 29, dan 31, 32, 33, dan 8
pemberian dari Allah SWT 30 34
Bersikap tawakal kepada Allah 42, 43, 44, dan 46 5
SWT 45
Tidak tertarik dengan tipu daya 35, 36, 37, 38, 40 dan 41 7
dunia dan 39
Jumlah 25 21 46

2. Skala Kecemasan

Pada penelitian ini skala yang digunakan untuk mengukur kecemasan

pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) yaitu dengan

menggunakan skala DASS (Depression Anxiety Stress Scale) dibuat oleh

Lovibond dan Lovibond (1993) yang telah diadaptasi oleh Damanik (2006).

Skala DASS (Depression Anxiety Stress Scale) terdiri dari 42 aitem yang

mencakup tiga subvariabel yaitu mengungkap depresi, kecemasan dan stress.

Alat ukur ini menggunakan empat pilihan jawaban yaitu 0 (tidak pernah), 1

(kadang-kadang), 2 (lumayan sering), dan 3 (sering sekali).


E. Validitas dan Reabilitas Alat Ukur

1. Validitas

Validitas merupakan suatu alat ukur untuk melihat sejauh mana keakuratan

alat ukur yang akan digunakan peneliti. Alat ukur yang akurat akan

menunjukkan validitas yang tinggi terhadap variabel yang ingin diukur peneliti

sedangkan apabila alat ukur yang digunakan peneliti tidak relevan dengan tujuan

pengukuran maka alat ukur tersebut memiliki validitas rendah. Validitas yang

digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Menurut Haynes (dalam

Azwar, 2014) validitas isi merupakan validitas yang melihat elemen-elemen

pada intrumen dalam konstruk yang sesuai dengan tujuan penelitian, dimana isi

skala pada penelitian ini menggunakan analisis rasioanal atau professional

judgement untuk melakukan estimasi pengujian skala yang digunakan peneliti.

2. Reliabilitas

Menurut Azwar (2012) reliabilitas merupakan tahap kepercayaan atau

konsistensi dari hasil pengukuran, salah satu intrumen pengukuran yang

memiliki kualitas baik ialah reliabel, yaitu mampu menghasilkan skor yang

tinggi dengan eror pengukuran yang kecil. uji reliabilita dilakukan pada

penelitian yaitu untuk melihat hasil konsistensi yang relatif tetap, jika dilakukan

pengukuran pada subjek yang sama dengan cara berulang. Jika hasil koefisien

korelasi tinggi berarti pengukuran semakin reliabel. Uji reliabelitas pada

penelitian ini menggunakan pendekatan konsistensi internal yang menggunakan

formula algha cronbach (ά). Koefisien reliabilitas berada dalam rentang angka
dari 0 sampai dengan 1,00 jika koefisien korelasi semakin tinggi mendekati

angka 1,00 yang berarti pengukuran semakin reliabel.

F. Metode Analisis Data

Penelitian ini besifat kuantitatif yang dianalisis menggunakan pendekatan

statistik. Data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini akan dianalisis dengan

menggunakan korelasi Product Moment yang bertujuan untuk mengetahui

hubungan antara dua variabel yang dilakukan oleh peneliti. Data diperoleh akan

dianalisis dengan menggunakan bantuan program komputer yaitu Statistic Product

and Service Solution (SPSS) versi 22.0 for windows. Adapun beberapa uji yang

dilakukan dalam asumsi yaitu:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk melihat skor pada variabel dalam

penelitian yang distribusi normal atau tidak. Perhitungan uji normalitas

menggunakan bantuan program komputer Statistic Product and Service Salution

(SPSS) dengan versi 22.0 for windows, kemudian data dapat dikatakan normal

jika Z = Skewnees dibawah angka 1,97. Data yang berditribusi normal

menperoleh hasil (sig ˃ 0,05) maka dapat menggunakan uji statistik parametik

akan tetapi jika data yang diperoleh tidak berdistribusi norma (sig ˂ 0,05) maka

uji statistik yang digunakan yaitu nonparametik (Siregar, 2015).

2. Uji Linieritas

Penggunaan metode regresi linier diperlukan untuk melakukan uji

linieritas, serta untuk mengetahui apakah variabel yang terikat (Y) dan variabel
bebas (X) memiliki hubungan yang linier. Jika hasil uji linieritas < 0,05 maka

hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat memiliki hubungan

linier, sebaliknya jika hasil uji linieritas > 0,05 maka hubungan antara dua

variabel dinyatakan tidak linier.

G. Teknik Analisis Data

Pada penelitian ini menggunakan korelasi pearson product moment yang

dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel

terikat dan data pada penelitian ini berbentuk interval dan rasio. Sebelum penelitian

ini dilakukannya uji asumsi dengan menggunakan uji normalitas dan uji linieritas,

hal tersebut dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak data yang diperoleh

layak untuk diuji secara paramatik yang dapat mempermudah dalam penghitungan

dengan menggunakan bantuan program SPSS 22 for Windows.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

A. Prosedur Penelitian

Pada penelitian ini dapat dilakukan beberapa tahapan yaitu terdiri sebagai

berikut:

1. Orientasi Kancah Penelitian

Populasi pada penelitian ini sebanyak 1.034 orang tua dari anak

berkebutuhan khusus (ABK) di kota Pekanbaru yang terdapat pada 14 SLB

diantaranya sebagai berikut SLB Pembina, SLB Sri Mujinab, SLB Pendomo

Limo, SLB Al-faqih, SLB Pelita Hati, SLB Panam Mulia, SLB Kasih Ibu,

SLB Kinasi, SLB Insan Mutiara, SLB Pelita Nusa, SLB Anak Mandiri, SLB

Cendana, SLB Melati dan SLB Baiquntah jumlah masing-masing populasi

setiap sekolah berbeda-beda.

Jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan table

Sugiyono (2004) dengan jumlah populasi 1.034, maka sampel pada penelitian

ini adalah sebanyak 288 sampel. Pada SLB Negeri Pembina jumlah sumpel

yang diambil adalah sebanyak 100, SLB Melati sebanyak 80 sampel, SLB Sri

Mujinab sebanyak 42 sampel, SLB Kinasih sebanyak 40 sampel, dan SLB

Insan Mutiara sebanyak 26 sampel.

Sebelum melakukan uji coba dan penelitian kelapangan, peneliti terlebih

dahulu menyelesaikan administrasi yang berupa surat permohonan izin

kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau dengan nomor

055/E-UIR/[Link]/2019 yang ditujukan kepada setiap Kepala Sekolah.


2. Pengembangan Alat Ukur

Pada penelitian ini alat ukur yang digunakan yaitu skala qana’ah dan

skala DASS (Depression Anxiety Stress Scale). Skala qana’ah dibuat sendiri

oleh peneliti berdasarkan teori Rusdi (2016) dan Hamka (2017). Skala DASS

yang dibuat oleh Lovibond dan Lovibond (1995) yang telah diadaptasi

kedalam bahasa Indonesia oleh Damanik (2006).

a. Skala Qana’ah

Skala qana’ah ini dipakai untuk mengungkapkan sifat qana’ah

terhadap orang tua anak berkebutuhan khusus, skala ini disusun

berdasarkan teori dari Rusdi (2016) dan Hamka (2017). Skala ini disusun

berdasarkan 7 ciri-ciri yaitu sebagai berikut: 1) ridha sedikitnya nikmat

yang telah di peroleh; 2) tidak menuntut lebih; 3) menerima dengan rela

ketentuan Allah SWT; 4) berusaha dan memohon tambahan yang pantas;

5) menerima dengan sabar pemberian dari Allah SWT; 6) bersikap tawakal

kepada Allah SWT; 7) tidak tertarik dengan tipu daya dunia.

Ciri-ciri tersebutkan kemudian dijabarkan dalam aitem-aitem yang

terbagi atas aitem-aitem favorable dan unfavorable, peneliti awalnya

membuat 49 aitem tetapi ketika diproses validitas isi yaitu melalui expert

judgement. Aitem yang awalnya 49 kemudian berkurang menjadi 46 aitem

yang terdiri dari 25 aitem favorable dan 21 unfavorable.

Uji coba skala qana’ah dilakukan pada tanggal 21 – 23 Januari 2019 di

SLB Kasih Ibu. Uji coba skala ini dilakukan sendiri oleh peneliti dan

dibantu oleh majelis guru untuk memberikan skala tersebut kepada 60


orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Jumlah subjek dalam

uji coba alat ukur sudah ideal dimana Azwar (2014) mengungkapkan

bahwa sampel yang ideal untuk uji coba alat ukur adalah sebanyak 60.

Peneliti melakukan seleksi butir terhadap aitem-aitem pada skala

qana’ah. Menurut Azwar (2012) sebagai bentuk kriteria dalam pemilihan

aitem berdasar nilai daya beda aitem ≥ 0,30 daya bedanya dapat dianggap

memuaskan. Jika jumlah aitem yang lolos ternyata masih tidak memenuhi

jumlah yang diinginkan, maka dapat suatu pertimbangkan untuk dapat

menurunkan sedikit batas kriteria misalnya menjadi 0,25 sehingga jumlah

aitem yang diinginkan dapat tercapai.

Berdasarkan dari hasil seleksi butir aitem menunjukkan ada 8 aitem

yang memiliki daya beda ≤ 0,25 yaitu aitem a10, a17, a21, a22, a24, a26,

a40 dan a41 dengan reliabilitas 0,885. Setelah dilakukan seleksi butir nilai

reliabilitas meningkat menjadi 0,901. Distribusi blueprint skala qana’ah

setalah try out dapat dilihat dalam table 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1
Blueprint skala Qana’ah setelah Try Out
Ciri-ciri Qana’ah Favorable Unfavorable Jumlah
Ridha sedikitnya nikmat yang 1, 2, dan 3 4, 5, 6, dan 7 7
telah di peroleh
Tidak menuntut lebih 8 dan 9 11, 12, dan 13 5
Menerima dengan rela ketentuan 14 dan 15 16, 18, 19, dan 6
Allah SWT 20
Berusaha dan memohon tambahan 24 25 2
yang pantas
Menerima dengan sabar sabar 27, 28, 29, dan 31, 32, 33, dan 8
pemberian dari Allah SWT 30 34
Bersikap tawakal kepada Allah 42, 43, 44, dan 46 5
SWT 45
Tidak tertarik dengan tipu daya 35, 36, 37, 38, 5
dunia dan 39
Jumlah 21 17 38

b. Skala DASS (Depression Anxiety Stress Scale)

Skala yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada orang tua

anak berkebutuhan khusus yaitu menggunakan skala DASS yang

dikembangkan oleh Lovibond dan Lovibond (1993) yang telah diadaptasi

oleh Damanik (2006) skala DASS terdiri dari 42 aitem, yang mencakup

tiga subvariabel yaitu mengungkap depresi, stres, dan kecemasan.

Uji coba skala DASS ini dilakukan pada tanggal 21 – 23 Januari

2018 yang dilakukan dengan memberikan skala tersebut kepada orang tua

anak berkebutuhan khusus. Dengan jumlah sampel yang digunakan

sebanyak 60 sampel yang bestatus Agama Islam. Hasil uji coba dalam

skala DASS menunjukkan nilai reliabilitas 0,825 pada skala kecemasan ini

tidak dilakukan pengguguran aitem.


3. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28 Januari – 01 Februari 2019

dengan jumlah sampel yaitu sebanyak 288 orang tua anak berkebutuhan

khusus, dimana penelitian dilakukan pagi sampai siang hari saat orang tua

sedang menunggu anaknya sekolah. Selama penelitian, peneliti telah

meminta izin kepada setiap kepala sekolah luar biasa setempat untuk

melaksanakan penelitian. Peneliti membagikan kuesioner kepada 288 orang

tua anak berkebutuhan khusus yang sebelumnya telah diberikan penjelasan

mengenai tata cara pengisian skala dan peneliti memberikan cendra mata

kepada setiap orang tua yang telah berpartisipasi dalam penelitian tersebut.

Setiap orang tua memperoleh satu booklet kuesioner yang berisi dua skala

yaitu skala qana’ah dan skala DASS.


B. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Subjek Penelitian

Data deskripsi subjek pada penelitian dapat dillihat pada tabel 4.2

sebagai berikut ini:

Table 4.2
Data Demografi Penelitian
Detail Data Demografi F %
Usia Orang Tua 20 – 40 Tahun 89 30,90%
41 – 60 Tahun 187 64,93%
61 – Lansia 68 23,61%
Pendidikan Tamat SD - SMP 68 23,61%
Tamat SMA 157 54,51%
Tamat D1 – S2 63 21,88%
Status Penikahan Menikah 251 87,15%
Cerai 37 12,85%
Suku Melayu 119 41,32%
Minang 90 31,25%
Jawa 56 19,44%
Batak 23 7,99%
Jumlah Anak 1–3 234 81,25%
4–6 45 15,625%
7 - 12 9 3,125%
Penghasilan Perbulan IRT 68 23,61%
500.000-2.000.000 107 37,15%
≥ 2.000.000 113 39,24%
Kekhususan Tunanetra 13 4,51%
Tunarungu 112 38,89%
Tunagrahita 114 39,58%
Tunadaksa 11 3,82%
Autis 38 13,19%
Usia Anak 6 – 12 tahun 121 42,01%
12 tahun keatas 167 57,99%

Berdasarkan table 4.2 dapat diketahui bahwa sampel dalam penelitian ini

banyak yang berusia 41-60 tahun (64,93%), pendidikan terakhir Sekolah


Menengah Atas (54,17%), status pernikahan sudah menikah (87,15%), suku

Melayu (41,32%), jumlah anak 1-3 (81,25%), penghasilan perbulan Rp. ≥

2.000.000 (39,24%), kekhususan tunagrahita (39,58%), dan usia anak 12 tahun

keatas (57,99%).

2. Deskripsi Data Penelitian

Berdasarkan hasil data penelitian yang diperoleh dapat diketahui

deskripsi data penelitian yang menunjukkan hasil skor hipotetik dan skor

empirik. Dimana kedua skor masing-masing memperoleh dari hasil skor

maksimal, skor minimal, rata-rata, dan standar deviasi (SD) pada setiap skala

penelitian. Untuk melihat hasil data hipotetik dan data empiric pada penelitian

ini dapat dilihat pada table 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3
Deskripsi Data Hipotetik dan Data Empirik
Skor X yang diperoleh Skor X yang dimungkinkan
Variabel (Empirik) (Hipotetik)
Penelitian
Xmax Xmin Rerata SD Xmax Xmin Rerata SD
Qana’ah 152 89 125,93 13,559 152 0 76 25,33
Kecemasan 33 0 12,84 7,771 42 0 21 7

Berdasarkan table 4.3 diatas dapat menggambarkan secara umum bahwa

qana’ah dan kecemasan pada orang tua anak berkebutuhan khusus sangat

bervariasi berdasarkan hasil skor empirik yang diperoleh yaitu pada variabel

qana’ah rentang skor hasil yang diperoleh berkisar dari 89 sampai 152.

Sedangkan pada variabel kecemasan rentang skor hasil diperoleh berkisar dari 0

sampai 33. Berdasarkan hasil deskriptif data dari skor yang diperoleh (empirik)

dan skor yang dimungkinkan untuk diperoleh (hipotetik) dapat memberikan

perbandingan pada data empirik dan hipotetik.


Berdasarkan hasil deskripsi data yang diperoleh maka peneliti akan

melakukan kategorisasi dengan berdasarkan nilai rata-rata (mean) dan standar

deviasi (SD) empirik. Pada penelitian ini kategorisasi dibagikan menjadi 5

kategori yaitu dapat dilihat pada table 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4
Rumus Kategorisasi
Rumus Kategorisasi
Sangat Tinggi X ≥ M + 1,5 SD
Tinggi M + 0,5 SD ≤ X ˂ M + 1,5 SD
Sedang M - 0,5 SD ≤ X ˂ M + 0,5 SD
Rendah M - 0,5 SD ≤ X ˂ M - 1,5 SD
Sangat Rendah X ≤ M – 1,5 SD

Berdasarkan deskripsi data dengan menggunakan rumus kategorisasi,

maka pada variabel qana’ah terdapat 5 kategori yaitu sangat tinggi, tinggi,

sedang, rendah, dan sangat rendah. Hal tersebut dapat dilihat pada table 4.5

sebagai berikut ini:

Tabel 4.5
Skor Qana’ah
Kategori Skor f Persentase
Sangat Tinggi 147 ˃X ≥ 152 16 6,6%
Tinggi 133 ≤ X ˂ 146 77 26%
Sedang 120 ≤ X ˂ 132 101 35%
Rendah 106 ≤ X ˂ 119 75 26%
Sangat Rendah 89 ˂ X ≤ 105 19 6,6%
Jumlah 288 100%

Berdasarkan dari kategori diatas, maka sebagian besar subjek pada

penelitian ini memiliki tingkat qana’ah dalam kategori sedang dengan hasil

persentase 35%. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa dari 288 subjek hanya

terdapat 101 orang tua anak berkebutuhan khusus yang memiliki kategori
sedang. Sedangkan untuk kategori tingkat kecemasan pada orang tua anak

berkebutuhan khusus dapat dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut ini:

Tabel 4.6
Skor Kecemasan
Kategori Skor f Persentase
Sangat Tinggi 25 ˃ X ≥ 33 25 8,7%
Tinggi 17 ≤ X ˂ 24 61 21,2%
Sedang 9 ≤ X ˂ 16 111 38,5%
Rendah 2≤X˂8 72 25%
Sangat Rendah 0˂X≤2 19 6,6%
Jumlah 288 100%

Berdasarkan dari kategori diatas, maka sebagian besar subjek pada

penelitian ini memiliki tingkat kecemasan dalam kategori sedang dengan hasil

persentase 38,5%. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa dari 288 subjek hanya

terdapat 111 orang tua anak berkebutuhan khusus yang memiliki kategori

sedang.

3. Hasil Analisis Data

Data yang diperoleh sebelum melakukan hipotetik peneliti melakukan uji

asumsi untuk memenuhi ketentuan dalam melakukan analisis dengan uji

parametik. Uji asumsi meliputi uji normalitas dan uji linier varian pada sampel.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas merupakan pengujian yang dapat dilakukan untuk melihat

seberapa layak data yang ada, jika nilai signifikasi p > 0,05 maka data dapat

dinyatakan normal. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dua skala

yaitu skala qana’ah dan skala kecemasan dengan melalui bantuan program

SPSS 22 for Windows. Hasil uji normalitas pada data qana’ah diperoleh p
sebesar 0,066 ( p ˃ 0,05 ), sehingga dapat di simpulkan bahwa data penilitian

menunjukkan distribusi yang normal. Hasil uji normalitas pada data

kecemasan diperoleh p sebesar 0,078 ( p ˃ 0,05), sehingga dapat

disimpulkan bahwa sebaran data penelitian menunjukkan distribusi normal.

Untuk mengetahu uji normalitas pada qana’ah dan kecemasan dapat dilihat

pada tabel 4.7 berikut ini:

Tabel 4.7
Hasil Uji Asumsi Normalitas
Kolmogorov - Smirnova
Statistik Df Sig.
Kecemasan 0,050 288 0,078
Qana’ah 0,051 288 0,066

b. Uji Linieritas

Uji linieritas dilakukan peneliti untuk mengetahui hubungan antara

variabel bebas dengan variabel terikat, uji linieritas dengan menggunakan

kaidah signifikan (p) dari nilai F (Linearity) < 0,05, jika hubungan antara

variabel bebas dan variabel terikat adalah linier. Akan tetapi jika, signifikan

(p) dari nilai F (Linierity) > 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dan

variabel terikat adalah tidak linier. Dari hasil uji linieritas yang telah

dilakukan peneliti menunjukkan bahwa F (Linierity) sebesar -0,004 dengan

nilai p sebesar 0,952 (p ˃ 0,05), maka hasil uji linieritas tersebut

membuktikan bahwa kedua variabel tidak linier. Berdasarkan hasil uji asumsi

normalitas dan linieritas diatas, maka data peneliti tidak memenuhi syarat-
syarat untuk dilakukan uji parametrik yang dilakukan untuk menguji hipotesis

dan uji korelasi pada penelitian ini.

c. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui hasil korelasi dan menguji

hipotesis dalam penelitian ini yang ditemukan bahwa tidak adanya hubungan

yang signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang

memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK). Berdasarkan uji analisis

diperoleh koefisien korelasi sebesar -0.004 dengan nilai p = 0,952 (p˃0,05).

Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara qana’ah dengan kecemasan

pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, maka hasil analisis

data menyataan hipotesis dalam penelitian ini tidak diterima.

d. Hasil Analisis Statistik Tambahan

Penelitian ini tidak memiliki hubungan yang signifikan antara qana’ah

dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus,

maka peneliti melakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan data

demografi pada subjek. Adapun analisis yang dilakukan oleh peneliti terdiri

dari 5 bentuk analisis yaitu analisis hubungan qana’ah dengan kecemasan

berdasarkan pendidikan orang tua, penghasilan, kekhususan anak, usia anak,

dan kategorisasi.

1. Pendidikan orang tua

Pada analisis berdasarkan tingkat pendidikan peneliti melakukan

analisis mengenai hubungan qana’ah dengan kecemasan berdasarkan


masing-masing kelompok pendidikan dimana peneliti membagi menjadi

3 kelompok yaitu SD-SMP, SMA, dan D1-S2.

a. Tingkat pendidikan SD-SMP

Berdasarkan uji analisis diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,045

dengan nilai p = 0,713 (p˃0,05). Hal ini menunjukkan tidak adanya

hubungan yang signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada

orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

b. Tingkat pendidikan SMA

Hasil uji analisis menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pada orang

tua dapat mempengarui hubungan qana’ah dengan kecemasan, dimana

koefisien korelasi sebesar 0,128 dengan nilai p = 0,110 (p ˂ 0,05). Hal

ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara

qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus.

c. Tingkat pendidkan D1-S2

Berdasarkan hasil uji analisis yang diperoleh koefisien korelasi

sebesar 0,035 dengan nilai p = 0,786 (p ˂ 0,05). Hal ini menunjukkan

tidak adanya hubungan yang signifikan antara qana’ah dengan

kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Berdasarkan analisis pada tingkat pendidikan orang tua yang memiliki

anak berkebutuhan khusus yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu SD-SMP,

SMA, dan D1-S2. Menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang


signifikan berdasarkan tingkat pendidikan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhana khusus.

2. Penghasilan perbulan orang tua

Berdasarkan analisis pada penghasilan perbulan orang tua, peneliti

melakukan analisis mengenai hubungan qana’ah dengan kecemasan

berdasarkan penghasilan yang diperoleh orang tua setiap bulannya,

dimana dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu penghasilan Rp. 500.000

– Rp. 2.000.000 dan Rp. 2.000.000 keatas perbulan.

a. Penghasilan Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000 perbulan

Berdasarkan uji analisis diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,025

dengan nilai p = 0,800 (p˃0,05). Hal ini menunjukkan tidak adanya

hubungan yang signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada

orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

b. Penghasilan Rp. 2.000.000 keatas perbulan

Hasil uji analisis diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,048 dengan

nilai p = 0,613 (p˃0,05). Berdasarkan hasil korelasi menunjukkan

bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan antara qana’ah dengan

kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Berdasarkan analisis pada tingkat penghasilan perbulan orang tua yang

memiliki anak berkebutuhan khusus yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu

penghasilan Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000 perbulan dan Rp. 2.000.000 keatas

perbulan.. Maka berdasarkan uraian diatas menunjukan bahwa tidak terdapat


hubungan yang signifikan jika dilihat dari tingkat penghasilan perbulan yang

diperoleh orang tua yang memiliki anak berkebutuhana khusus.

3. Kekhususan Anak

Pada analisis berdasarkan tingkat kekhususan anak peneliti

melakukan analisis mengenai hubungan qana’ah dengan kecemasan

berdasarkan masing-masing kelompok kekhususan yang dialami oleh

anak dimana peneliti membagi menjadi 2 kelompok yaitu tunarungu dan

tunagrahita.

a. Tunarungu

Berdasarkan hasil uji analisis yang diperoleh koefisien korelasi

sebesar -0,060 dengan nilai p = 0,531 (p ˂ 0,05). Hal ini menunjukkan

tidak adanya hubungan yang signifikan antara qana’ah dengan

kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

b. Tunagrahita

Hasil uji analisis yang diperoleh berdasarkan tingkat kekhususan pada

tunagrahita menunjukkan koefisien korelai sebesar -0,013 dengan nilai

p = 0,892 (p ˂ 0,05). Maka tidak terdapatnya hubungan yang

signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang

memiliki anak berkebutuhan khusus.

Berdasarkan analisis pada tingkat kekhususan yang dialami oleh anak

dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu tunarungu dan tunagrahita. Maka

berdasarkan penjelasan diatas menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan


yang signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang

memiliki anak berkebutuhan khusus jika dilihat dari tingkat khususan anak.

4. Usia Anak

Berdasarkan analisis pada usia anak, peneliti melakukan analisis

mengenai hubungan qana’ah dengan kecemasan berdasarkan usia anak

dimana dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu usia 6 -12 tahun dan 12

tahun keatas.

a. Usia 6 -12 tahun

Hasil uji analisis yang diperoleh berdasarkan tingkat usia 6 – 12 tahun

dapat menunjukkan koefisien korelai sebesar -0,005 dengan nilai p =

0,954 (p ˂ 0,05). Maka tidak terdapatnya hubungan yang signifikan

antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus.

b. Usia 12 tahun keatas

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh tingkat usia 12 tahun keatas

menunjukkan hasil koefisien korelasi sebesar 0,035 dengan nilai p =

0,656 (p ˂ 0,05). Berdasrkan hasil koefisien korelasi menunjukkan

bahwa tidak ada hubungan yang signifikan terhadap qana’ah dengan

kecemasan pada orang tua anak berkebutuhan khusus.

Berdasarkan analisis pada tingkat usia anak dapat dibagi menjadi 2

kelompok yaitu usia 6 – 12 tahun dan usia 12 tahun keatas. Maka berdasarkan

hasil analisis diatas menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang


signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki

anak berkebutuhan khusus jika dilihat dari tingkat khususan anak.

5. Kategorisasi

Berdasarkan dari kategorisasi qana’ah dengan kecemasan dapat

dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu tinggi, sedang, rendah. Hal ini

dilakukan oleh peneliti untuk menganalisis berdasarkan kategorisasi.

a. Kategorisasi tinggi

Berdasarkan hasil uji analisis pada kategorisasi tinggi yang diperoleh

koefisien korelasi sebesar -0,003 dengan nilai p = 0,978 (p ˂ 0,05).

Hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara

qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus.

b. Kategorisasi sedang

Dari hasil uji analisis pada kategorisasi sedang yang diperoleh

koefisien korelasi sebesar 0,027 dengan nilai p = 0,703 (p ˂ 0,05). Hal

ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara

qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus.

c. Kategorisasi rendah

Adapun berdasarkan kategorisasi rendah hasil uji analisis pada yang

diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,028 dengan nilai p = 0,801 (p

˂ 0,05). Menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan


antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus.

Berdasarkan analisis pada kategorisasi qana’ah dengan kecemasan

dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kategorisasi tinggi, kategorisasi

sedang, dan kategorisasi rendah. Berdasarkan hasil analisis diatas

menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara qana’ah

dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus

jika dilihat dari tingkat khususan anak.

Berdasarkan hasil analisis statistik tambahan yang dilakukan oleh

peneliti yang terdiri dari 5 bentuk analisis yaitu analisis hubungan qana’ah

dengan kecemasan berdasarkan pendidikan orang tua, penghasilan,

kekhususan anak, usia anak, dan kategorisasi. Dari hasil analisis tersebut

dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan

antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua anak berkebutuhan khusus.

C. Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang

signifikan antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus dengan nilai r = -0,004 dan nilai p = 0,952 (p˃0,05). Dimana

peneliti telah melakukan analisis statistik tambahan berdasarkan pendidikan orang

tua, penghasilan, kekhususan anak, usia anak, dan kategorisasi, akan tetapi hasil

yang diperoleh pada penelitian ini tetap menunjukkan hasil yang tidak signifikan

antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua anak berkebutuhan khusus.
Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian lain yang terkait

dengan akhlak diantaranya penelitian Milla (2015) yang menunjukkan bahwa

tawakal tidak berhubungan signifikan dengan kecemasan. Artinya orang yang

memiliki sifat-sifat mulia yang terkait dengan akhlak tidak berarti bahwa mereka

tidak memiliki kecemasan.

Penelitian lain yang dilakukan Lianawati (2008) juga menunjukkan bahwa

religiusitas tidak berhubungan secara signifikan dengan kecemasan, hal ini juga

menunjukkan bahwa keberagamaan yang dimiliki seseorang tidak berarti

menyebabkan tidak adanya kecemasan dalam diri seseorang. Oleh karena itu

dapat disimpulkan bahwa kecemasan tidak dipengaruhi oleh faktor keberagamaan

ataupun akhlak.

Meskipun demikian beberapa penelitian lainnya menunjukkan hasil yang

bertolak belakang dimana Nurmalasari (2014) juga menunjukkan bahwa

mengamalkan agama dalam kehidupan berupa dzikir, sholat, membaca al-Quran,

membaca buku-buku agama, dan berdoa dapat mengatasi kecemasan yang

dialami. Adapun penelitian Azkarisa (2018) menunjukkan bahwa qana’ah

memiliki hubungan yang signifikan dengan kesehatan mental, dimana semakin

tinggi qana’ah maka semakin tinggi pula kesehatan mental pada seseorang.

Penelitian Almi (2018) juga menunjukkan bahwa akhlak mulia yang lain yaitu

tawakal berpengaruh secara signifikan dengan kesehatan mental, begitu juga

dengan penelitian Khairani (2018) yang menunjukkan bahwa kebersyukur

memiliki hubungan signifikan dengan kesehatan mental.


Jadi dapat disimpulkan bahwa akhlak mulia seperti qana’ah, tawakal, dan

syukur memiliki dampak positif pada kesehatan mental seseorang dimana ciri dari

orang sehat mental adalah memiliki kecemasan yang wajar. Berdasarka uraian

diatas terdapat dua pola yang berbeda dimana pola pertama menunjukkan bahwa

akhlak mulia seperti qana’ah tidak terkait dengan kecemasan sedangan pola kedua

menunjukkan adanya hubungan yang signifikan.

Bila dikaji lebih lanjut pada penelitian ini ada beberapa kemungkinan yang

menyebabkan tidak adanya hubungan antara qana’ah dengan kecemasan pada

orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, diantaranya adalah rentang

usia anak yang telah mencapai 6 tahun keatas dapat mempengaruhi kecemasan

pada orang tua anak berkebutuhan khusus. Adapun penelitian yang dilakukan

Rudi (2014) menunjukkan penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan

khusus pada usia dini cenderung bersifat penolakkan dari orang tua. Hal tersebut

menjadi salah satu faktor penyebab penelitian ini tidak memiliki hubungan yang

signifikan.

Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini tidak spesifik untuk

mengukur kecemasan orang tua yang terkait dengan anak berkebutuhan khusus

yang mereka miliki. Alat ukur DASS yang digunakan oleh peneliti berisikan

aitem - aitem yang menggungkap gangguan kecemasan atau terkiat dengan

gangguan klinis sedangkan pada penelitian ini peneliti ingin melihat kecemasan

pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, sehingga

mengakibatkan tidak adanya hubungan signifikan. Oleh karena itu, jika dilakukan

penelitian yang sama dengan penelitian ini, disarankan agar menggunakan alat
ukur kecemasan yang spesifik terkait dengan kecemasan orang tua terhadap anak

berkebutuhan khusus yang mereka miliki sehingga dapat diperoleh suatu

kesimpulam apakah ada hubungan qana’ah dengan kecemasan terkait pengasuhan

orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan

sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan

antara qana’ah dengan kecemasan pada orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus (ABK) dengan nilai (r) sebesar -0,004 dan p = 0,952 (p ˃

0,05). Artinya orang yang memiliki sifat-sifat qana’ah yang terkait dengan akhlak

tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki kecemasan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian tesebut, adapun saran yang peneliti berikan

yaitu sebagai berikut:

1. Kepada peneliti selanjutnya, diharapkan jika ingin melakukan penelitian yang

sama dapat menspesifikan alat ukur kecemasan terkait pengasuhan yang

diberikan orang tua terhadap anak mereka yang berkebutuhan khusus dan

sebaiknya subjek penelitian yaitu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan

khusus yang berusia dibawah 5 tahun serta dapat mempertimbangkan

hubungan kecemasan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus dengan

variabel terkait akhlak seperti sabar, tawakal, dan ikhlas serta

2. Untuk orang tua yang memiliki anak bekebutuhan khusus (ABK) dapat

mengontrol tingkat kecemasan yang dialami agar terhindar dari gangguan

psikologis lainnya dengan cara tidak menyalahkan masa lalu, berpikir secara

sehat, dan menjalani kehidupan senantiasa karena Allah SWT.


UJI RELIABILITAS QANA’AH

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


N %
Cases Valid 288 100.0
a
Excluded 0 .0
Total 288 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
N of Items
Alpha
.943 38

Item Statistics
Mean Std. Deviation N
a1 3.32 .593 288
a2 3.35 .582 288
a3 3.37 .593 288
a4 3.32 .625 288
a5 2.92 .826 288
a6 3.00 .744 288
a7 3.40 .665 288
a8 3.60 .544 288
a9 3.55 .617 288
a10 3.26 .759 288
a11 3.27 .730 288
a12 3.14 .780 288
a13 3.33 .673 288
a14 3.30 .685 288
a15 3.39 .648 288
a16 3.12 .742 288
a17 3.27 .740 288
a18 3.24 .678 288
a19 3.35 .628 288
a20 3.32 .587 288
a21 3.51 .572 288
a22 3.57 .587 288
a23 3.41 .624 288
a24 3.30 .598 288
a25 3.21 .661 288
a26 3.24 .748 288
a27 3.34 .603 288
a28 3.01 .765 288
a29 3.22 .737 288
a30 3.24 .706 288
a31 3.32 .674 288
a32 3.33 .672 288
a33 3.32 .643 288
a34 3.25 .759 288
a35 3.34 .604 288
a36 3.53 .571 288
a37 3.32 .627 288
a38 3.41 .682 288

Item-Total Statistics
Scale Mean Scale Corrected Cronbach's
if Item Variance if Item-Total Alpha if Item
Deleted Item Deleted Correlation Deleted
a1 122.35 199.343 .499 .942
a2 122.33 199.071 .526 .942
a3 122.31 198.380 .558 .942
a4 122.36 198.690 .509 .942
a5 122.76 196.275 .479 .942
a6 122.68 197.279 .489 .942
a7 122.27 197.405 .546 .942
a8 122.07 200.820 .450 .942
a9 122.13 198.312 .539 .942
a10 122.41 197.010 .491 .942
a11 122.40 196.388 .544 .942
a12 122.53 194.382 .601 .941
a13 122.34 198.044 .504 .942
a14 122.37 197.823 .506 .942
a15 122.28 196.490 .614 .941
a16 122.56 196.527 .528 .942
a17 122.40 195.147 .597 .941
a18 122.44 197.480 .531 .942
a19 122.33 197.294 .587 .941
a20 122.35 198.208 .575 .941
a21 122.17 199.275 .523 .942
a22 122.11 198.842 .536 .942
a23 122.26 198.995 .492 .942
a24 122.37 198.304 .557 .942
a25 122.47 199.100 .456 .942
a26 122.43 195.801 .559 .941
a27 122.34 198.942 .514 .942
a28 122.66 196.908 .492 .942
a29 122.45 194.130 .652 .941
a30 122.43 196.295 .569 .941
a31 122.36 196.203 .604 .941
a32 122.34 196.909 .567 .941
a33 122.35 196.278 .631 .941
a34 122.43 196.155 .532 .942
a35 122.33 198.160 .560 .942
a36 122.14 199.091 .536 .942
a37 122.35 199.908 .437 .942
a38 122.27 197.256 .539 .942

Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items

125.67 208.053 14.424 38


UJI RELIABILITAS KECEMASAN

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


N %
Cases Valid 288 100.0
a
Excluded 0 .0
Total 288 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.803 14

Item Statistics
Mean Std. Deviation N
a2 .96 .949 288
a4 .81 1.048 288
a7 .86 1.093 288
a9 1.03 1.055 288
a15 .80 1.007 288
a19 .88 1.065 288
a20 .81 .998 288
a23 .89 1.118 288
a25 .92 1.066 288
a28 .92 1.049 288
a30 .91 .934 288
a36 .89 1.099 288
a40 .95 1.006 288
a41 1.05 1.070 288
Item-Total Statistics
Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if
Item Deleted Item Deleted Correlation Item Deleted
a2 11.70 53.076 .415 .792
a4 11.85 51.860 .447 .789
a7 11.80 52.306 .393 .794
a9 11.63 53.197 .351 .797
a15 11.86 51.915 .467 .788
a19 11.78 52.107 .421 .791
a20 11.85 51.928 .472 .788
a23 11.77 51.383 .442 .790
a25 11.74 51.000 .498 .785
a28 11.74 51.237 .491 .786
a30 11.75 54.786 .293 .801
a36 11.77 51.369 .453 .789
a40 11.70 53.379 .362 .796
a41 11.61 52.147 .415 .792

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

12.66 59.710 7.727 14


UJI NORMALITAS

Explore

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
kecemasan 288 100.0% 0 0.0% 288 100.0%
qanaah 288 100.0% 0 0.0% 288 100.0%

Descriptives
Statistic Std. Error
kecemasan Mean 12.84 .458
95% Confidence Lower Bound 11.94
Interval for Mean Upper Bound 13.74
5% Trimmed Mean 12.59
Median 12.50
Variance 60.388
Std. Deviation 7.771
Minimum 0
Maximum 33
Range 33
Interquartile Range 11
Skewness .361 .144
Kurtosis -.411 .286
qanaah Mean 125.93 .799
95% Confidence Lower Bound 124.36
Interval for Mean Upper Bound 127.51
5% Trimmed Mean 126.17
Median 126.00
Variance 183.853
Std. Deviation 13.559
Minimum 89
Maximum 152
Range 63
Interquartile Range 21
Skewness -.202 .144
Kurtosis -.351 .286

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
kecemasan .050 288 .078 .975 288 .000
qanaah .051 288 .066 .987 288 .010
a. Lilliefors Significance Correction
UJI HIPOTESIS

Correlation

Descriptive Statistics

Mean Std. Deviation N

kecemasan 12.84 7.771 288


qanaah 125.93 13.559 288

Correlations
kecemasan qanaah
kecemasan Pearson Correlation 1 -.004
Sig. (2-tailed) .952
N 288 288
qanaah Pearson Correlation -.004 1
Sig. (2-tailed) .952
N 288 288

Variables Entered/Removeda
Variables Variables
Model Method
Entered Removed
1 qanaahb . Enter
a. Dependent Variable: kecemasan
b. All requested variables entered.

Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate
1 .004a .000 -.003 7.784
a. Predictors: (Constant), qanaah
b. Dependent Variable: kecemasan
ANOVAa
Sum of Mean
Model Squares df Square F Sig.
1 Regression .221 1 .221 .004 .952b
Residual 17331.108 286 60.598
Total 17331.330 287
a. Dependent Variable: kecemasan
b. Predictors: (Constant), qanaah

Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 13.095 4.292 3.051 .002
qanaah -.002 .034 -.004 -.060 .952
a. Dependent Variable: kecemasan
DATA ANALISIS STATISTIK TAMBAHAN

A. HIPOTESIS

1. Pendidikan orang tua

a. Tingkat SD-SMP
Correlations
qanaah_SD_ kecemasan_
SMP SD_SMP
qanaah_SD_SMP Pearson Correlation 1 -.045
Sig. (2-tailed) .713
N 68 68
kecemasan_SD_ Pearson
-.045 1
SMP Correlation
Sig. (2-tailed) .713
N 68 68

b. Tingkat SMA

Correlations
kecemasa_S
qanaah_SMA
MA
qanaah_SMA Pearson Correlation 1 .128
Sig. (2-tailed) .110
N 157 157
kecemasa_SMA Pearson Correlation .128 1
Sig. (2-tailed) .110
N 157 157
c. Tingkat D1 – S2

Correlations
qanaah_D1 kecemasan_
_S2 D1_S2
qanaah_D1_S2 Pearson Correlation 1 .035
Sig. (2-tailed) .786
N 63 63
kecemasan_D1_S Pearson Correlation .035 1
2 Sig. (2-tailed) .786
N 63 63

2. Penghasilan perbulan orang tua

a. Penghasilan Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000 perbulan

Correlations
qanaah_500_ kecemasan_5
2juta 00_2juta
qanaah_500_2j Pearson Correlation 1 .025
uta Sig. (2-tailed) .800
N 107 107
kecemasan_50 Pearson Correlation .025 1
0_2juta Sig. (2-tailed) .800
N 107 107

b. Penghasilan Rp. 2.000.000 keatas perbulan

Correlations
qanaah_2juta_ kecemasan_
keatas 2juta_keatas
qanaah_2juta_k Pearson Correlation 1 .048
eatas Sig. (2-tailed) .613
N 113 113
kecemasan_2jut Pearson Correlation .048 1
a_keatas Sig. (2-tailed) .613
N 113 113
3. Kekhususan Anak

a. Tunarungu
Correlations
qanaah_tun kecemasan
arungu _tunarungu
qanaah_tunarungu Pearson Correlation 1 -.060
Sig. (2-tailed) .531
N 111 111
kecemasan_tunaru Pearson Correlation -.060 1
ngu Sig. (2-tailed) .531
N 111 111

b. Tunagrahita
Correlations
qanaah_tun kecemasan_t
agrhita unagrahita
qanaah_tunagrhita Pearson Correlation 1 -.013
Sig. (2-tailed) .892
N 114 114
kecemasan_tunag Pearson Correlation -.013 1
rahita Sig. (2-tailed) .892
N 114 114

4. Usia Anak
a. Usia 6 -12 tahun
Correlations
qanaah_6_ kecemasan
12th _6_12th
qanaah_6_12th Pearson Correlation 1 -.005
Sig. (2-tailed) .954
N 121 121
kecemasan_6_12 Pearson Correlation -.005 1
th Sig. (2-tailed) .954
N 121 121
b. Usia 12 tahun keatas

Correlations
qanaah_12t kecemasan_
h_keatas 12th_keata
qanaah_12th_kea Pearson Correlation 1 .035
tas Sig. (2-tailed) .656
N 167 167
kecemasan_12th Pearson Correlation .035 1
_keata Sig. (2-tailed) .656
N 167 167

5. Kategorisasi

a. Kategorisasi tinggi

Correlations
kecemasan qanaah_rend
_rendah ah
kecemasan_rendah Pearson Correlation 1 -.028
Sig. (2-tailed) .801
N 81 81
qanaah_rendah Pearson Correlation -.028 1
Sig. (2-tailed) .801
N 81 81

b. Kategorisasi sedang

Correlations
kecemasan qanaah_seda
_sedang ng
kecemasan_sedang Pearson Correlation 1 .027
Sig. (2-tailed) .703
N 207 207
qanaah_sedang Pearson Correlation .027 1
Sig. (2-tailed) .703
N 207 207
c. Kategorisasi rendah

Correlations
kecemasan qanaah_rend
_rendah ah
kecemasan_rendah Pearson Correlation 1 -.003
Sig. (2-tailed) .978
N 86 86
qanaah_rendah Pearson Correlation -.003 1
Sig. (2-tailed) .978
N 86 86

Anda mungkin juga menyukai