Klasifikasi Titik Panas Lahan Gambut C5.0
Klasifikasi Titik Panas Lahan Gambut C5.0
DHITA APRITA
Dhita Aprita
NIM G6413016
ABSTRAK
DHITA APRITA. Klasifikasi Kemunculan Titik Panas pada Lahan Gambut di Su-
matera dan Kalimantan dengan Menggunakan Algoritme Pohon Keputusan C5.0 .
Dibawah bimbingan IMAS SUKAESIH SITANGGANG.
Kata kunci: C5.0; kebakaran hutan; klasifikasi; pohon keputusan; titik panas
ABSTRACT
DHITA APRITA. Classification of Hotspot Occurences on Peatlands in
Suma-tra and Kalimantan using C5.0 Decision Tree Algorithm. Supervised by
IMAS SUKAESIH SITANGGANG.
DHITA APRITA
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Komputer
pada
Departemen Ilmu Komputer
Disetujui oleh
Diketahui oleh
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Klasifikasi Kemunculan Titik Panas pada Lahan Gambut Di Sumatera
dan Kalimantan dengan Menggunakan Algoritme Pohon Keputusan C5.0”.
Skripsi ini disusun sebagai syarat mendapat gelar Sarjan Komputer (SKomp)
pada Program Sarjana Ilmu Komputer di Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
dalam penelitian ini, di antaranya:
1 Ibu, Ayah, Kakak, adek dan keluarga lainnya yang telah memberikan
dukungan, doa, motivasi, dan semangat untuk keberhasilan studi
2 Ibu Dr Imas Sukaesih Sitanggang, SSi MKom selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan bimbingan, saran, arahan, dan
bantuan selama penyelesaian skripsi
3 Bapak Muhammad Ahsyar Agmalaro, SSi MKom dan Bapak
Muhammad Abrar Istiadi, SKomp MKom selaku dosen penguji
4 Sahabat-sahabat terbaik penulis, serta teman-teman satu bimbingan,
terima kasih atas doa, semangat, dan bantuannya
5 Seluruh dosen dan civitas akademika Departemen Ilmu Komputer IPB.
Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang
membutuhkan.
Bogor, Januari 2016
Dhita Aprita
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
METODE 3
Klasifikasi Data Menggunakan Algoritme C5.0 3
Data Penelitian 5
Tahapan Penelitian 8
Praproses Data 9
Pembagian Dataset 9
Pembuatan Model Klasifikasi Menggunakan Algoritme C5.0 9
Perhitungan Akurasi 10
Penerapan Model Terbaik Pada Data Baru 10
Lingkungan Pengembangan 10
HASIL DAN PEMBAHASAN 11
Praproses Data 11
Seleksi Data Titik Panas pada Lahan Gambut 11
Pembuatan Data Non Titik Panas 12
Pembuatan Dataset 14
Penambahan Atribut Primary Key 15
Klasifikasi Titik Panas Menggunakan Algoritme C5.0 15
Penerapan Terbaik Hasil Klasifikasi Titik Panas Pada Data Baru 20
SIMPULAN DAN SARAN 20
Simpulan 20
Saran 21
DAFTAR PUSTAKA 21
LAMPIRAN 23
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
1 Peta lahan gambut di Sumatera 6
2 Peta lahan gambut di Kalimantan 6
3 Tahapan penelitian 9
4 Jumlah data titik panas di Sumatera dan Kalimantan tahun 2001-
2014 11
5 Hasil seleksi data titik panas pada lahan gambut 12
6 Hasil buffer titik panas 12
7 Hasil dissolve titik panas 13
8 Data titik panas dan non titik panas 13
DAFTAR LAMPIRAN
1 Contoh penggunaan algoritme C5.0 terhadap dataset kecil
kebakaran hutan 23
2 Model klasifikasi pohon keputusan dengan algoritme C5.0
menggunakan perangkat lunak R 26
3 Model klasifikasi berbasis aturan dengan algoritme C5.0
menggunakan perangkat lunak R 28
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebakaran hutan di Indonesia pada saat ini dapat dipandang sebagai peristiwa
bencana regional dan global. Tahun 1997, kebakaran lahan gambut di Sumatera dan
Kalimantan telah menjadi berita utama. Hal ini disebabkan karena dampak dari
kebakaran hutan sudah menjalar ke negara-negara tetangga dan gas-gas hasil
pembakaran yang diemisikan ke atmosfer seperti karbondioksida berpotensi
menimbulkan pemanasan global (Adinugroho et al. 2005).
Salah satu cara penanggulangan terhadap bencana kebakaran hutan di
Indonesia adalah melakukan pemantauan terhadap titik panas (hotspot). Hotspot
merupakan suatu objek permukaan bumi yang memiliki suhu relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan sekitarnya yang dapat deteksi oleh satelit. Area tersebut
direpresentasikan dalam suatu titik yang memiliki koordinat tertentu (Awang 2014).
Data titik panas dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kemungkinan
terjadinya kebakaran, tetapi masih perlu dilakukan pemantauan dan pengecekan
ulang di lapangan untuk mengetahui apakah dapat diperlukan penindakan lebih
lanjut atau tidak.
Tacconi (2003) menyebutkan 3 masalah utama terkait dengan kebakaran
hutan di Indonesia yaitu (1) pencemaran kabut asap, emisi karbon dan dampak
terkait lainnya; (2) degradasi hutan, deforestasi dan hilangnya hasil hutan dan
berbagai jasa lingkungan serta (3) kerugian di sektor pedesaan akibat kebakaran
hutan dan anomali cuaca yang dipicu oleh kebakaran hutan. Oleh karena itu,
dibutuhkan suatu sistem untuk membantu mengurangi terjadinya kebakaran hutan.
Data kebakaran hutan umumnya berukuran besar, data titik panas merupakan data
spasial. Untuk analisis data berukuran besar salah satu metode yang dapat untuk
digunakan adalah teknik data mining. Penggunaan teknik data mining mampu
mengolah dan menganalisis data yang berukuran besar.
Salah satu penggunaan data mining dalam pengolahan data titik panas ialah
klasifikasi. Klasifikasi adalah proses menemukan model (fungsi) yang
menggambarkan dan membedakan kelas data atau konsep. Model yang diturunkan
berdasarkan analisis set data pelatihan (yaitu, objek data yang label kelas diketahui).
Model ini digunakan untuk memprediksi label kelas objek yang label kelas tidak
diketahui (Han et al. 2012).
Penelitian Sitanggang et al. (2014) menggunakan algoritme ID3 memiliki
akurasi sebesar 49.02% , C4.5 memiliki akurasi sebesar 65.24%, dan menghasilkan
akurasi dari algoritme spatial decision tree sebesar 71.66%. Hasil penelitian
tersebut menyimpulkan bahwa melibatkan hubungan spasial dalam algoritme
pohon keputusan menghasilkan pengklasifikasi yang lebih baik untuk memprediksi
terjadinya titik panas.
Penelitian Siknun (2015) menggunakan data kebakaran hutan di wilayah
Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau dengan algoritme C5.0 dan melakukan
pengembangan aplikasi berbasis web dengan menggunakan framework Shiny.
Penelitian yang dilakukan oleh Siknun (2015) menghasilkan model pohon
keputusan dengan akurasi 72.72%, dan model berbasis aturan dengan akurasi
73.51%.
2
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Model klasifikasi kemunculan titik panas yang dihasilkan pada penelitian ini
diharapkan dapat membantu untuk memprediksi kejadian titik panas di masa
mendatang sehingga dapat membantu dalam pencegahan kebakaran hutan.
METODE
Algoritme C5.0 adalah perluasan dari algoritme C4.5 dan juga ID3 (Patil et
al. 2012). C5.0 adalah algoritme klasifikasi yang dapat menangani kumpulan data
besar. C5.0 lebih baik daripada C4.5 dalam hal kecepatan, memori dan efisiensi.
Model C5.0 bekerja dengan memisahkan sampel berdasarkan bidang yang
menyediakan keuntungan informasi dengan maksimum. Model C5.0 dapat
membagi sampel berdasarkan nilai information gain terbesar. Atribut yang
memiliki information gain terbesar akan dipilih sebagai parent atau untuk node
selanjutnya.
Sebuah pohon keputusan adalah classifier yang direpresentasikan sebagai
struktur pohon, di mana masing-masing simpul adalah simpul daun. Klasifikasi
yang berlaku untuk semua kasus yang mencapai daun atau node non-leaf, beberapa
tes dilakukan pada nilai atribut tunggal, dengan satu cabang dan sub-pohon untuk
setiap kemungkinan hasil tes. Node dalam pohon keputusan melibatkan pengujian
atribut tertentu. Biasanya, tes pada node membandingkan nilai atribut dengan
konstan. Namun, beberapa pohon membandingkan dua atribut satu sama lain, atau
menggunakan beberapa fungsi dari satu atau lebih atribut. Node daun memberikan
klasifikasi yang berlaku untuk semua kasus yang mencapai daun, atau satu set
klasifikasi, atau distribusi probabilitas atas semua klasifikasi yang mungkin (Witten
et al. 2011). Algoritme generate decision tree adalah sebagai berikut (Han et al.
2012):
1 Partisi data, D, data latih yang telah ditentukan label kelasnya
2 Attribute_list, himpunan yang terdiri dari kandidat atribut
3 Attribute_selection_method, prosedur untuk menentukan kriteria
pemotongan yang partisi tuple data terbaik ke kelas masing-masing.
Algoritme klasifikasi pohon keputusan adalah sebagai berikut (Han et al.
2012):
1 Membuat simpul N;
2 Jika semua tupel di D memiliki kelas yang sama yaitu C.
Maka simpul N sebagai simpul daun dan diberi label dengan kelas C.
3 Jika attribute list kosong, maka
Jadikan simpul N sebagai simpul daun dan diberi label = nilai kelas
terbanyak pada sampel
4 Menerapkan attribute selection method (D, attribute list) untuk
memperoleh atribut uji terbaik
5 Beri label simpul N dengan atribut data uji
6 Jika atribut bernilai diskret dan diperbolehkan untuk dipisah, maka
7 Attribute list <- attribute list <- atribut uji
8 Untuk setiap nilai j dari atribut uji yang diketahui
Buat Dj menjadi kumpulan data tuple D untuk memenuhi
hasil j
Jika Dj kosong maka
Tambahkan simpul daun yang diberi label = nilai kelas
yang terbanyak pada D ke simpul N
4
Info(D)= − ∑m
i=1 pi log2 (pi ) (1)
dinyatakan sebagai pohon keputusan atau set aturan (aturan-aturan). Metode set
aturan C4.5 ini terlalu lambat dan memakan banyak memori (RAM). C5.0
merupakan algoritme baru untuk memberikan aturan-aturan (ruleset), dan
memperbaiki secara substansial. C5.0 memiliki beberapa jenis data baru selain
yang tersedia di C4.5, termasuk tanggal, waktu, timestamp (tanggal dan waktu),
atribut diskrit, dan label kasus. Beberapa perbedaan algoritme C4.5 dan C5.0
(Rulequest 2012) :
1 Akurasi: C5.0 memiliki tingkat kesalahan yang lebih rendah. C4.5 dan
C5.0 memiliki akurasi prediksi yang sama, tetapi set aturanC5.0 lebih
kecil.
2 Kecepatan: C5.0 jauh lebih cepat, menggunakan algoritme yang
berbeda dan sangat dioptimalkan.
3 Memory: C5.0 umumnya lebih ringan dari C4.5.
Perbedaan utama antara C4.5 dan C5.0 adalah boosting, winnowing.
Boosting adalah teknik untuk menghasilkan dan menggabungkan beberapa
pengklasifikasi untuk meningkatkan akurasi prediksi. Winnowing adalah langkah
seleksi fitur yang dilakukan sebelum pemodelan (Rulequest 2012).
Data Penelitian
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data titik panas di Pulau Su-
matera dan Kalimantan pada tahun 2001-2014. Data ini diperoleh dari Moderate-
resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) milik National Aeronautics and
Space Administration (NASA). Sedangkan data untuk kedalaman lahan gambut dan
jenis lahan gambut diperoleh dari Wetland International. Data yang digunakan
merupakan data time series pemantauan kejadian titik panas dilakukan setiap hari,
data ini masih harus dilakukan praproses data untuk mendapatkan data yang ingin
diklasifikasi. Data titik panas dinyatakan dalam format CSV, dan data lahan
gambut dinyatakan dengan format SHP. Atribut data titik panas dapat dilihat pada
Tabel 1. Peta gambut di Pulau Sumatera dapat dilihat pada Gambar 1 dan di Pulau
Kalimantan pada Gambar 2.
No Atribut Tipe
1 Longitude Numeric
2 Latitude Numeric
3 Brightness Numeric
4 Scan Numeric
5 Track Numeric
6 Acq date Date
7 Acq time Character varying(5)
8 Satelite Character varying (1)
9 Confidence Integer
10 Version Chatacter varying(3)
11 Bright T31 Numeric
12 FRP Numeric
6
Dari perintah tersebut didapatkan jumlah luas area lahan gambut di Sumatera
dapat dilihat pada Tabel 2. Tipe gambut yang memiliki luas area paling kecil di
Pulau Sumatera yaitu hemists/mineral (90/10) sedang dengan luas area 0.62 ha.
Tahapan Penelitian
Tahapan praproses data dilakukan untuk mendapatkan data yang siap untuk
digunakan. Pada proses klasifikasi terdapat beberapa tahapan dalam melakukan
praproses data yaitu data cleaning, dan data selection. Pembersihan data dilakukan
untuk menghilangkan mising value atau membuang data yang tidak konsisten.
Pemilihan data merupakan pengambilan data yang relevan yang akan digunakan
untuk penelitian. Proses ini menyeleksi variabel data titik panas longitude,
latitude, dan tanggal.
Pembagian Dataset
Untuk melakukan klasifikasi dataset dibagi menjadi data latih dan data uji.
Data latih digunakan untuk membangun pohon keputusan, sedangkan data uji
digunakan untuk menghitung akurasi pohon keputusan. Pembagian dataset
menggunakan teknik 10-cross fold validation. 10-cross fold validation adalah
sebuah metode yang membagi himpunan contoh secara acak menjadi K himpunan
bagian (subset) (Fu 1994).
Perhitungan Akurasi
Pada tahap ini akurasi dihitung dari model klasifikasi. Akurasi untuk
menunjukkan tingkat kebenaran pengklasifikasian data terhadap kelas yang
sebenarnya. Tingkat akurasi yang baik adalah tingkat akurasi yang mendekati 100%.
Semakin tinggi tingkat akurasi maka semakin rendah kesalahan klasifikasi pada
data baru. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam proses perhitungan
akurasi adalah metode 10-cross fold validation. Akurasi diperoleh dari data uji
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
True positive
Sensitivity= × 100 % (5)
True positive + false negative
Pada penelitian ini model klasifikasi dengan model terbaik akan diterapkan
pada data baru tahun 2015.
Lingkungan Pengembangan
Tahap pertama penelitian ini adalah melakukan praproses data. Data titik
panas yang diperoleh harus melalui tahap ini agar menghasilkan data yang relevan
dan siap digunakan dalam tahap klasifikasi. Pada tahapan praproses data
menggunakan Quantum GIS dan PostgreSQL. Sebelum praproses dilakukan, data
titik panas dibagi per tahun. Data titik panas yang lengkap dalam 12 bulan yaitu
tahun 2001-2014. Jumlah data titik panas pertahun dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Jumlah data titik panas di Sumatera dan Kalimantan tahun 2001-2014
Jumlah titik panas terbanyak terdapat di Sumatera yaitu pada tahun 2014
dengan titik panas 26234 dan di Kalimantan titik panas terbanyak terdapat pada
tahun 2006 dengan jumlah titik panas sebanyak 20300.
Pembuatan Dataset
Pada pembuatan dataset digunakan atribut kelas yang terdiri dari nilai TRUE
dan nilai FALSE. Nilai TRUE menyatakan kejadian titik panas, dan nilai FALSE
menyatakan bukan kejadian titik panas. Pembuatan dataset dilakukan
menggunakan PostgresSQL. Pembuatan dataset dengan atribut kelas menggunakan
SQL yaitu :
1 Membuat satu tabel baru bernama target2001, tabel target2001 berisi
beberapa atribut yang diambil dari tabel titik_panas yang mempunyai
nilai confidence 70% . Pernyataan SQL untuk langkah tersebut, yaitu :
CREATE TABLE target2001 AS SELECT gid, geom,
longitude, latitude, acq_date, acq_time,
confidence, class FROM reptitikpanas2001 WHERE
confidence >= 70%.
Tabel target2001 terdiri dari 889 record data titik panas di tahun 2001.
2 Menambahkan satu kolom di dalam tabel false alarm bernama class
dengan nilai default F atau FALSE. Pernyataan SQL untuk langkah
tersebut, yaitu :
ALTER TABLE randompoints2001 ADD COLUMN class
char DEFAULT 'F';
3 Menambahkan satu kolom di dalam tabel titik_panas bernama class
dengan nilai default T atau TRUE. Pernyataan SQL untuk langkah
tersebut, yaitu :
ALTER TABLE reptitikpanas2001 ADD COLUMN class
char DEFAULT 'T';
4 Penggabungan target2001 dan titik acak (non titik panas) dibangkitkan
sejumlah 889 titik acak.
INSERT INTO target2001 (gid,geom,class) SELECT
gid,geom,class FROM randompoints2001;
5 Membuat tabel dataset1
Dataset1 terdiri dari 7 variabel yaitu gid, gid0, the_geom, confidence,
class, depth, dan type. Variabel type menunjukkan tipe dari lahan gambut.
Dataset yang akan diolah untuk klasifikasi terdiri dari 4 variabel yaitu
class, depth, type. Query yang digunakan untuk membuat dataset tersebut
sebagai berikut:
CREATE TABLE dataset1 AS SELECT [Link], t.gid0,
[Link], [Link], [Link], [Link], [Link]
FROM target2001 AS t, gambut_kalimantan AS g
WHERE ST_Within( [Link], [Link]) ORDER BY gid;
6 Membuat dataset2 yang akan menjadi input algoritme pohon keputusan.
CREATE TABLE dataset2 AS SELECT [Link],
[Link], [Link] FROM target2001 AS t,
gambut_kalimantan AS g WHERE ST_Within([Link],
[Link]);
15
Penambahan atribut yang bertipe SERIAL dengan nama gid. Atribut gid ini
dibuat sebagai nilai terurut datadi dalam tabel target2001, dan gid yang sebelumnya
diubah menjadi gid0, gid0 merupakan primary key asli namun tidak terurut.
Perubahan atribut ini dengan menggunakan SQL yaitu:
1 SQL untuk mengubah nama kolom gid menjadi gid0
ALTER TABLE target2001 RENAME COLUMN gid TO gid0;
2 Menambahkan kolom bernama gid dengan tipe data BIGSERIAL sebagai
primary key baru
ALTER TABLE target2001 ADD COLUMN gid BIGSERIAL
PRIMARY KEY;
Penambahan gid digunakan untuk membuat dataset1. Selanjutnya data yang
telah diproses dapat diexport menjadi format Comma delimited (.CSV) untuk
implementasi algoritme C5.0 pada R. Setelah melakukan penambahan gid dan
mengubah nama kolom gid maka selanjutnya dilakukan pemuatan dataset ke
Quantum GIS untuk tahap selanjutnya yaitu klasifikasi titik panas menggunakan
algoritme C5.0.
tersebut diprediksi tidak terjadi kemunculan titik panas. Nilai (67/23) menyatakan
67 data tergolong kelas hotspot dan 23 data bukan kelas hotspot.
Beberapa Aturan yang dihasilkan dari dataset Sumatera tahun 2001 untuk
model berbasis aturan sebagai berikut :
1 IF tipe gambut in {(Hemists/mineral (90/10), sedang), (Hemists/Saprists
(60/40), dalam), (Hemists/Saprists (60/40), sangat dalam),
(Hemists/Saprists (60/40), sedang), (Saprists (100), dalam)} THEN
hotspot (184/38, lift 1.6).
2 IF tipe gambut in {(Hemists/mineral (30/70),dangkal),
(Hemists/mineral(30/70), sedang), (Hemists/mineral(90/10),sedang),
(Hemists/Saprists(60/40),dalam),(Hemists/Saprists (60/40),sedang),
(Saprists/Hemists(60/40),dalam), (Saprists/Hemists(60/40),sedang),
(Saprists/Hemists (60/40),sedang),(Saprists/mineral (90/10),sedang)}
AND tutupan lahan in {(Belukar rawa, Kelapa pada bekas hutan rawa
> 5 tahun)} THEN Non hotspot (150/27, lift 1.6).
Aturan ke-1 menyatakan jika tipe gambut adalah {(Hemists/mineral (90/10),
sedang) atau (Hemists/Saprists (60/40), dalam) atau (Hemists/Saprists(60/40),
sangat dalam) atau (Hemists/Saprists (60/40), sedang) atau (Saprists (100), dalam)}
maka wilayah tersebut diprediksi terdapat kemunculan titik panas. Aturan ke-2
menyatakan jika tipe gambut adalah {(Hemists/mineral (30/70), dangkal) atau
(Hemists/mineral (30/70), sedang) atau (Hemists/mineral (90/10), sedang) atau
(Hemists/Saprists(60/40), dalam) atau (Hemists/Saprists (60/40), sedang) atau
(Saprists/Hemists(60/40), dalam), (Saprists/Hemists(60/40), sedang) atau
(Saprists/Hemists (60/40), sedang) atau (Saprists/mineral (90/10), sedang)} AND
tutupan lahan adalah Belukar rawa, Kelapa pada bekas hutan rawa > 5 tahun maka
wilayah tersebut diprediksi tidak terdapat kemunculan titik panas.
Pada aturan ke-1 nilai (184) menyatakan 184 data tergolong kelas hotspot.
Nilai lift merupakan hasil pembagian akurasi rasio Laplace dengan frekuensi relatif
kelas yang diprediksi. Lift 1.6 adalah hasil pembagian akurasi (n-m+1)/(n+ 2)
dengan frekuensi relatif kelas yang diprediksi. N adalah jumlah data yang benar
tergolong kelas dan m adalah jumlah data yang bukan kelas tetapi diprediksi sebagai
kelas.
Hasil dari kedua model pohon keputusan dan model berbasis aturan memiliki
persamaan penggunaan variabel penjelas pada aturan yang dihasilkan. Penggunaan
variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 8.
Table 8 Penggunaan variabel penjelas pada model berbasis pohon keputusan dan
berbasis aturan
pohon keputusan terdapat variabel tutupan lahan gambut. Sedangkan pada model
berbasis aturan variabel tutupan lahan gambut digunakan sebesar 93.66% yang
menyatakan bahwa tidak semua aturan mengandung variabel tutupan lahan.
Nilai akurasi tertinggi untuk model pohon keputusan pada dataset
Kalimantan 71.91% yaitu pada tahun 2001 dan 71.91% untuk model berbasis aturan.
Model pohon keputusan menghasilkan 2 aturan dan model berbasis aturan juga
terdiri dari 2 aturan. Aturan-aturan tersebut adalah
1 IF kedalaman gambut {100-200,200-400,50-100} THEN Non hotspot
(882/256)
2 IF kedalaman gambut in {400-800,800-1200} THEN Hotspot (719/171)
Aturan ke-1 menyatakan bahwa jika kedalaman lahan gambut adalah 100-
200 atau 200-400 atau 50-100 maka wilayah tersebut diprediksi tidak terdapat
kemunculan titik panas. Aturan ke-2 menyatakan bahwa jika kedalaman lahan
gambut adalah 400-800 atau 800-1200 maka wilayah tersebut diprediksi terdapat
kejadian kemunculan titik panas. Nilai (719/171) adalah 719 tergolong kelas yang
benar diprediksi sebagai titik panas dan 171 adalah data yang tidak benar
diklasifikasikan sebagai kelas titik panas.
Algoritme C5.0 diterapkan pada dataset baru yaitu dataset Kalimantan tahun
2015 dan dataset Sumatera tahun 2015. Data latih yang digunakan adalah data latih
dari masing-masing Pulau yang menghasilkan model klasifikasi dengan akurasi
tertinggi, yaitu data Kalimantan tahun 2001 dan Sumatera tahun 2001. Akurasi yang
dihasilkan pada data baru Pulau Kalimantan sebesar 42.22% untuk model berbasis
pohon keputusan dan 42.22% untuk akurasi berbasis aturan. Dataset Kalimantan
2001 digunakan sebagai data latih dan dataset Kalimantan 2015 sebagai data uji
Jumlah data latih yang digunakan sebanyak 1780 data, dan data uji sebanyak 46
data. Pada data baru Pulau Sumatera menghasilkan akurasi sebesar 50.99% untuk
model berbasis pohon keputusan dan 50.99% untuk model berbasis aturan. Dataset
Sumatera 2001 digunakan sebagai data latih dan dataset Sumatera 2015 sebagai
data uji. Jumlah data latih yang digunakan sebanyak 3508 data dan data uji
sebanyak 1056 data.
Dari hasil penerapan model pada dataset baru menggunakan algoritme C5.0,
maka dapat dinyatakan model yang dihasilkan dapat mengklasifikasi dengan baik
data titik panas.
Simpulan
Penelitian ini menggunakan data titik panas pada lahan gambut di Pulau
Kalimantan dan Sumatera tahun 2001-2014, untuk pengklasifikasian kemunculan
titik panas menggunakan algoritme C5.0 yang merupakan pengembangan dari C4.5.
Dataset yang menghasilkan model klasfikasi dengan akurasi tertinggi yaitu dataset
Sumatera tahun 2001 dan Kalimantan tahun 2001. Nilai akurasi tertinggi dari model
berbasis pohon keputusan pada dataset Sumatera tahun 2001 adalah 88.98% dengan
21
jumlah aturan sebanyak 8 aturan dan model berbasis aturan sebesar 89.93% terdiri
dari 7 aturan. Akurasi yang dihasilkan pada dataset Kalimantan tahun 2001 untuk
model berbasis pohon keputusan sebesar 71.91% dengan jumlah aturan sebanyak 2
aturan dan model berbasis aturan sebesar 71.91% dengan jumlah aturan sebanyak
2 aturan. Penerapan model pada data baru menghasilkan akurasi model klasifikasi
untuk dataset Kalimantan tahun 2015 sebesar 42.22% dan dataset Sumatera tahun
2015 sebesar 50.99%. Algoritme C5.0 berhasil diterapkan untuk memprediksi
kemunculan titik panas pada lahan gambut berdasarkan tipe lahan gambut dan
kedalaman lahan gambut.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
200-400 Hemists/Fibrists C1
200-400 Hemists/Fibrists C1
50-100 Hemists/Mineral C1
50-100 Hemists/Fibrists C2
100-200 Hemists/Mineral C2
100-200 Hemists/Fibrists C1
50-100 Hemists/Mineral C1
100-200 Hemists/Fibrists C1
200-400 Hemists/Fibrists C2
50-100 Hemists/Fibrists C2
Dengan menggunakan data pada Tabel 1.1 data yang digunakan terdiri dari
6 data sebagai data latih dan 4 data digunakan untuk data uji. Tahap ini dimulai
dengan melakukan seleksi atribut menggunakan formula information gain yang
terdapat pada algoritma C5.0, sehingga diperoleh nilai gain untuk masing-masing
atribut, atribut dengan nilai gain tertinggi akan menjadu parent bagi node-node
selanjutnya. Node-node tersebut didapat dari atribut-atribut yang memiliki nilai
gaiun yang lebih kecil dari nilai gain atribut parent. Data latih dicari nilai
information gainnya yaitu,
4 4 2 2
I(4;2) = - log2 ( 6 ) - log2 ( 6 ) = 0.924
6 6
Nilai 4 didapat dari jumlah kelas C1 dan 2 dari jumlah kelas C2. Dengan
menggunakan formula yang sama dilakukan pemilihan atribut, dihitung rasio nilai
C1 dan C2 dari seluruh atribut. Tabel 1.2 atribut kedalaman gambut dengan jumlah
kelas C1 dan C2 untuk menghitung gain di setiap atributnya.
Lampiran 1 Lanjutan
2 2 0 0
I (2,0) = - log 2 ( ) − log 2 ( ) = 0
2 2 2 2
Lampiran 1 Lanjutan
50-100 Hemists/Mineral C1 C1
100-200 Hemists/Fibrists C1 C1
200-400 Hemists/Fibrists C2 C1
50-100 Hemists/Fibrists C2 C2
Pengujian data menghasilkan 3 data benar diklasifikasi dan 1 data tidak benar
diklasifikasi. Maka akurasi yang dihasilkan yaitu :
3
x 100% = 75%
4
26
Lampiran 2 Lanjutan
: (Saprists/Hemists (60/40),
sedang),(Saprists/mineral (90/10),sedang)}:
: (Kelapa pada bekas hutan rawa > 5 tahun)}: Non
Hotspot (150/27)
:...Tutupan lahan in {(Belukar rawa),
Lampiran 3 Lanjutan
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 9 April 1993 dari Ayah Ir.
Sumantri dan Ibu Lianawati. Penulis adalah putri kedua dari tiga bersaudara. Tahun
2010 penulis lulus SMA Pusaka 1 Jakarta dan pada tahun yang sama penulis lulus
seleksi masuk Institut Pertanian Bogor Program Diploma, Program Keahlian
Manajemen Informatika. Setelah menempuh pendidikan pada Program Diploma
penulis melanjutkan pendidikan tingkat sarjana pada Program Alih Jenis Ilmu
Komputer IPB angkatan ke-8.