0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
307 tayangan3 halaman

Modul Diklat Tenaga Bakti Rimbawan

Modul ini memberikan pembekalan awal tentang Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) kepada calon Tenaga Bakti Rimbawan sebelum mengikuti pelatihan lanjutan. Modul ini diharapkan dapat menambah pemahaman para Tenaga Bakti Rimbawan, terutama yang berasal dari latar belakang non-kehutanan, tentang pengelolaan hutan di tingkat lapangan oleh KPH.

Diunggah oleh

Syiha Bunardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
307 tayangan3 halaman

Modul Diklat Tenaga Bakti Rimbawan

Modul ini memberikan pembekalan awal tentang Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) kepada calon Tenaga Bakti Rimbawan sebelum mengikuti pelatihan lanjutan. Modul ini diharapkan dapat menambah pemahaman para Tenaga Bakti Rimbawan, terutama yang berasal dari latar belakang non-kehutanan, tentang pengelolaan hutan di tingkat lapangan oleh KPH.

Diunggah oleh

Syiha Bunardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Peraturan Menteri Kehutanan No. P.

58/Menhut-II/2014 tentang Bakti Rimbawan dalam


Pembangunan Kehutanan mengamanatkan bahwa diklat bagi Tenaga Bakti Rimbawan
memuat kurikulum yang berisi (1) pengetahuan dan keterampilan teknis atau administrasi
kehutanan, (2) pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, (3) pengetahuan tentang
kewirausahaan, dan (4) pembinaan sikap mental dan perilaku.

Modul Pengantar KPH ini disajikan sebagai pembekalan awal bagi Tenaga Kerja Bakti
Rimbawan sebelum mengikuti diklat secara klasikal di Pusat Diklat Kehutanan, Balai Diklat
Kehutanan Bogor dan Balai Diklat Kehutanan Kadipaten, yang terdiri atas 4 (empat) jenis
diklat, yaitu:

1. Diklat Administrasi Pengelolaan Keuangan Negara


2. Diklat Pemberdayaan Masyarakat
3. Diklat Teknis Pengelolaan Hutan bagi lulusan D3 dan S1
4. Diklat Teknis Pengelolaan Hutan bagi lulusan SMK Kehutanan

Sekitar 25% calon peserta Diklat Tenaga Bakti Rimbawan


memiliki latar belakang pendidikan non kehutanan, oleh karena itu modul ini diharapkan
dapat bermanfaat untuk memberikan pemahaman awal dan wawasan tentang Kesatuan
Pengelolaan Hutan (KPH). Bagi Tenaga Bakti Rimbawan lulusan SMK Kehutanan, D3
Kehutanan dan S1 Kehutanan, diharapkan pula bermanfaat untuk menambah pemahaman
tentang KPH.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan dan dukungannya sehingga
modul ini dapat diselesaikan.

Selamat belajar, saran konstruktif untuk perbaikan modul ini sangat kami harapkan.

Bakti Rimbawan adalah program Kementerian Kehutanan untuk memenuhi kebutuhan tenaga
kerja tingkat terampil dan ahli pada instansi kehutanan, dan untuk mengembangkan profesi di
bidang kehutanan bagi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) kehutanan dan Sekolah
Program Keahlian Kehutanan, Diploma, Sarjana serta program magang/praktek bagi siswa
SMK Kehutanan dan mahasiswa fakultas/program studi/jurusan kehutanan dalam rangka
melaksanakan pengabdian pada negara khususnya pembangunan kehutanan. Tenaga bakti
rimbawan terdiri atas: (a) tenaga kerja bakti rimbawan, dan (b) tenaga magang bakti
rimbawan.

Tenaga kerja bakti rimbawan adalah lulusan SMK Kehutanan atau yang serumpun, Diploma,
Sarjana, dan Pasca Sarjana dari berbagai disiplin ilmu, diutamakan yang berasal dari disiplin
ilmu kehutanan, yang mengabdikan dirinya pada negara khususnya pembangunan kehutanan.
Kantor KPH umumnya terletak di daerah perkantoran dekat dengan Dinas Kehutanan
setempat, sedangkan wilayah kerjanya berada di dalam kawasan hutan yang memerlukan
waktu untuk menjangkaunya. Kondisi jalan menuju wilayah kerja KPH sangat beragam.
Sebagian wilayah kerja KPH dapat dijangkau dengan kendaraan darat baik roda empat
maupun roda dua. Namun sebagian wilayah kerja KPH harus ditempuh melalui jalan darat
dan jalan air (boat/perahu), serta jalan setapak sehingga harus menggunakan jasa ojek.

Tenaga kerja bakti rimbawan mempunyai tugas sebagai :

1. tenaga teknis dan administrasi di KPH atau KHDTK;


tenaga pendamping pemberdayaan masyarakat pada KPH dan UPT Kementerian
2.
Kehutanan dalam kegiatan, antara lain HTR, HKm, HD, HR, KBR dan MDK;
tenaga teknis pendukung penyuluhan kehutanan di instansi penyelenggara penyuluhan
3.
kehutanan provinsi dan kabupaten/kota; atau
4. tenaga teknis dan pendamping di BUMN, BUMD, BUMS dan Koperasi bidang Kehutanan.
Sosialisasi keberadaan KPH merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan di masa-
masa awal pembangunan KPH, yaitu untuk membangun pemahaman bersama tentang KPH
sehingga dapat mengurangi potensi konflik antara pengelola KPH dengan masyarakat atau
para pihak yang berkepentingan lainnya.

Hutan lestari dan masyarakat sejahtera secara berkeadilan merupakan visi, sekaligus tujuan
mulia dari kegiatan pengelolaan hutan. Dengan demikian, suatu kelompok masyarakat di
sekitar maupun di dalam kawasan hutan, hendaknya tidak hanya diakui keberadaannya tapi
lebih dari itu, mereka harus dilibatkan dan diprioritaskan dalam berbagai kegiatan
pembangunan kehutanan. Pemerintah terus berupaya memberdayakan masyarakat melalui
berbagai program, antara lain Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Kemasyarakatan
(HKm), Hutan Desa (HD). Oleh karena itu Kepala KPHP Kapuas Hulu berharap, Nisa
mampu melakukan pembentukan dan pengembangan kelembagaan kelompok tani hutan,
upaya resolusi konflik, dan pendampingan masyarakat dalam pelaksanaan program-program
pemberdayaan dan aneka usaha di bidang kehutanan.

Sejarah pengelolaan hutan di Indonesia telah mengalami empat periode yang


menggambarkan berbagai pemahaman menuju pengelolaan hutan secara lestari dalam
konteks “Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)” (selengkapnya di sini). Dalam perkembangan
pemahaman tersebut, banyak hal terjadi dan dengan berbagai implikasinya akibat dari sistem
pengelolaan hutan yang belum optimal. Implikasi berikutnya mengarah pada terjadinya
degradasi dan deforestasi hutan, masalah lingkungan dan sosial. UU No. 41 Tahun 1999
merupakan landasan bagi pembangunan KPH, namun dalam realisasi pembentukan KPH
secara umum terjadi sejak terbitnya PP No. 6 Tahun 2007.

Pembangunan KPH menjadi suatu keharusan karena keberadaan KPH diharapkan dapat
menjadi lembaga pelaksana kegiatan pengelolaan hutan di tingkat tapak. KPH merupakan
instrumen menuju pengelolaan hutan lestari, sehingga pembangunan KPH menjadi penting
karena memiliki manfaat antara lain mencakup:
1. sebagai mediator terkait hak akses para pihak termasuk masyarakat terhadap sumber
daya hutan;
2. sebagai lembaga yang mampu mengakomodir ketersediaan dan keakuratan data dan
informasi terkait sumber daya hutan;
3. keberadaan KPH dapat memberikan kejelasan dan kepastian investasi di sektor
Kehutanan;
4. KPH dapat meminimalisasi konflik sektor kehutanan guna mewujudkan kelestarian
hutan yang antara lain dapat melalui keberdayaan masyarakat;
5. KPH sebagai penggerak atau motor bagi kegiatan sektor lain;
6. merupakan kegiatan pengelolaan hutan yang sudah sangat familiar dan bukan
merupakan hal yang sulit bagi stakeholders yang bergerak di sektor kehutanan
(kegiatan pengelolaan hutan dalam konteks KPH dapat dapat melengkapi kegiatan
pengelolaan hutan sebelumnya);
7. KPH dapat melakukan kegiatan pengelolaan hutan di wilayah tertentu;
8. KPH dapat sebagai fasilitator dalam kegiatan pengelolaan hutan, antara lain: fasilitasi
kegiatan pemberdayaan masyarakat, fasilitasi kegiatan kemitraan (kewirausahaan),
dan fasilitasi terkait potensi sumber daya hutan (SDH) di KPH.

Tugas Pokok dan Fungsi KPH

1. Menyelenggarakan pengelolaan hutan, meliputi:

 Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan (planning & budgeting)
 Pemanfaatan Hutan; dalam hal pemantauan dan pengendalian terhadap pemegang izin
(controlling & budgeting)
 Penggunaan Kawasan Hutan; dalam hal pemantauan dan pengendalian terhadap
pemegang izin (controlling & budgeting)
 Rehabilitasi hutan dan reklamasi (actuating & budgeting)
 Pemanfaatan hutan di wilayah tertentu (actuating & budgeting)
 Perlindungan hutan dan konservasi alam (actuating & budgeting)

2. Menjabarkan kebijakan kehutanan Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota untuk


diimplementasikan (planning, actuating & budgeting)

3. Melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan di wilayahnya mulai dari perencanaan,


pengorganisasian, pelaksanaaan dan pengawasan serta pengendalian (planning, organizing,
actuating, controling & budgeting)

4. Melaksanakan pemantauan dan penilaian atas pelaksanaan kegiatan pengelolaan hutan di


wilayahnya (actuating, controlling & budgeting)

5. Membuka peluang investasi guna mendukung tercapainya tujuan pengelolaan hutan


(actuating & budgeting)

Anda mungkin juga menyukai