BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih.
Sedangkan gemelli adalah satu kehamilan dengan dua janin. Dari tahun ke tahun
angka kejadian gemelli semakin meningkat. Kehamilan kembar telah mengalami
peningkatan sekitar 76% sejak tahun 1980 sebagai hasil dari meningkatnya usia
maternal, peningkatan dalam penggunaan agen induksi untuk ovulasi, dan
teknologi bantu reproduksi (ACOG, 2014)
Prevalensi kejadian kehamilan ganda di dunia sebenarnya belum diketahui.
Menurut WHO kehamilan ganda yang dapat bertahan hidup pada masa kelahiran
tanpa menjalani pembedahan sebanyak 40-60% dan 20 % -25 menjalani
pembedahan dan pengobatan (WHO,2009). Penemu kasus kehamilan ganda
menjelaskan bahwa dari 16.288 persalinan terdapat 197 persalinan gemelli
(kembar 2) dan 6 persalinan triplet (kembar 3) (Prawirohardjo,2000).
Kehamilan ganda beresiko lebih tinggi dalam komplikasi maternal dan fetal
dengan morbiditas dan mortalitas perinatal sebanyak 3 hingga 4 kali
dibandingkan dengan kehamilan tunggal. Peningkatan angka morbiditas perinatal
dan maternal dan angka mortalitas dihubungkan dengan komplikasi dalam
kehamilan termasuk diabetes gestasional, preeklampsia, kelahiran prematur,
ruptur membran prematur, abrupsio plasenta, pielonefritis, persalinan prematur,
IUGR, perdarahan post partum, anomali kongenital, dan cerebral palsy.
Komplikasi pada ibu akibat gemelli lebih sering daripada kehamilan tunggal
(ACOG,, 2014)
Perubahan fisik pada ibu dengan kehamilan ganda pada umumnya sama
dengan kehamilan tunggal, namun biasanya lebih besar menimbulkan masalah.
Perubahan tersebut seperti peningkatan hCG yang dapat mengakibatkan
hyperemesis gravidarum,pembesaran payudara, peningkatan frekuensi berkemih,
nafsu makan meningkat dan mudah lelah. Pada trimester kedua akan terjadi sesak
nafas, pembengkakan pada bagian ekstremitas bawah (oedema), peningkatan
berat badan, pembesaran rahim yang tidak seperti kehamilan tunggal,pergerakan
janin yang lebih kuat (Obstetri Patologi,2009).
Penyulit pada bayi yang meningkatkan terjadinya morbiditas (angka
serangan penyakit yang terjadi pada bayi dan selama kehamilan) serta mortalitas
(kematian) pada bayi kembar, yaitu Akardius Amorfus yaitu kondisi dimana
salah satu dari bayi ganda mati atau perkembangannya hanya menyerupai
segumpal daging akibat dari salah satu jantung salah satu seorang anak ganda
lebih kuat dibanding yang lain (Patologi Kebidanan,2010)
Letak bayi pada kehamilan ganda juga bisa menjadi penyulit bagi kelahiran
bayi ganda (Patologi Kebidanan, 2010)
Berbagai kombinasi letak, presantasi dan posisi bisa terjadi. Yang paling
sering di jumpai adalah kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala (44-
47%), letak membujur, presentasi kepala bokong ( 37-38%), keduanya presentasi
bokong (8-10), letak lintang dan presentasi kepala ( 5-5,3%), letak lintang dan
presentasi bokong ( 1,5-2%), dua-duanya letak lintang Universitas Sumatera
Utara (0,2-0,6%), letak dan presentasi “69” adalah letak yang berbahaya, karena
dapat terjadi kunci-mengunci (Interlocking) (Mochtar ,2000).
Untuk mengurangi resiko, pasien dengan kehamilan ganda dianjurkan
untuk lebih sering di monitoring dan follow up. (ACOG, 2014)
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui gejala gejala dari
gemeli, serta penyebab dan faktor resikonya sehingga dapat melakukan diagnosis
dan tatalaksana yang tepat untuk kasus seperti ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi dan Epidemiologi
Gemelli adalah satu kehamilan dengan dua janin. Dari tahun ke tahun angka
kejadian gemelli semakin meningkat. National Center for Health Statistics (2006)
menyebutkan bahwa antara tahun 1980 sampai tahun 2004, tingkat kelahiran
gemelli meningkat secara dramatis di Amerika Serikat (dari 18,9 menjadi 32,2 per
1000 kelahiran hidup).
Kehamilan kembar telah mengalami peningkatan sekitar 76% sejak tahun
1980 sebagai hasil dari meningkatnya usia maternal, peningkatan dalam
penggunaan agen induksi untuk ovulasi, dan teknologi bantu reproduksi.
Kehamilan ganda beresiko lebih tinggi dalam komplikasi maternal dan fetal
dengan morbiditas dan mortalitas perinatal sebanyak 3 hingga 4 kali dibandingkan
dengan kehamilan tunggal. Peningkatan angka morbiditas perinatal dan maternal
dan angka mortalitas dihubungkan dengan komplikasi dalam kehamilan termasuk
diabetes gestasional, preeklampsia, kelahiran prematur, ruptur membran prematur,
abrupsio plasenta, pielonefritis, persalinan prematur, IUGR, perdarahan post
partum, anomali kongenital, dan cerebral palsy. Untuk mengurangi resiko, pasien
dengan kehamilan ganda dianjurkan untuk lebih sering di monitoring dan follow
up. (ACOG, 2014).
2.2 Patofisiologi
Kehamilan kembar dapat monozigotik, yaitu sebuah ovum fertil yang
terbagi menjadi 2 fetus atau dizigotik, yaitu dua bagian ovum yang memisah. Di
United State, dua pertiga kehamilan gemeli adalah dizigotik dan sepertiganya
adalah monozigotik (Cunningham et al 2010). Kehamilan dizigotik secara genetik
berbeda. Kehamilan monozigot identik secara genetik, dapat menjadi dikarionik
diamniotik, monokorionik diamniotik, atau monokorionik monoamniotik
tergantung dari waktu kapan pemisahan ovum yang fertil terjadi. Kehamilan
monokorionik diamniotik memiliki resiko terjadinya twin- twin transfusion
syndrome dan kehamilan monokorionik monoamniotik memiliki resiko untuk
terjadinya tali pusat yang menyatu. ( Cunningham et al , 2010 )
2.3 Diagnosis
Dengan biasanya penggunaan USG dalam obstetri modern, diagnosis
kehamilan kembar sering dapat dibuat pada saat pemeriksaan USG yang pertama.
Korionisitas dapat terbentuk di semua kehamilan kembar dan paling efektif
ditemukan pada pemeriksaan sonogram pertama di awal kehamilan; Waktu yang
optimal untuk pemeriksaan adalah di akhir trimester 1 dan diawal trimester kedua.
Indikasi ditemukannya kehamilan kembar dikorionik termasuk dari terlihatnya
dua plasental disk, dengan ketebalan membran > 2mm atau memiliki 3-4 lapis,
terlihatnya dua gelombang lambda (proyeksi triangular dari plasenta diantara
lapisan lapisan yang membagi membran) dan kelamin yang berbeda (Cunningham
et al 2010). Kehamilan kembar monokorionik sebaiknya dirujuk ke spesialis
obstetri ginekologi untuk konsultasi dan penanganannya.
2.4 Tatalaksana
Perawatan prenatal terhadap wanita dengan kehamilan kembar
sebaiknya mengikuti Penanganan Prenatal Rutin oleh APEC Guideline.
Frekuensi pemeriksaan
Kehamilan kembar dikorionik sebaiknya dilakukan pemeriksaan setiap
3-4 minggu secara rutin dimulai dari usia kehamilan 16 minggu, dengan tanpa
komplikasi kehamilan, dilakukan pemeriksaan USG dengan interval 4-6
minggu dimulai dari usia kehamilan 18-20 minggu. Kehamilan kembar
monokorionik sebaiknya dipantau dengan interval 2 minggu, pemeriksaan
USG dengan interval dua minggu dimulai dari usia kehamilan 16 minggu
dengan mempertahankan tanda dari twin twin transfusion syndrome.
Diagnosis prenatal
Pada trimester pertama dan kedua pemeriksaan marker untuk aneuploidy
dua kali lebih tinggi daripada kehamilan kembar dibandingkan dengan
kehamilan tunggal, yang membuat sulitnya membedakan fetus mana yang
mengalami abnormalitas analisis konsentrat, namun, pemeriksaan serum dapat
dilakukan untuk menguranginya. Pemeriksaan translusensi nuchal setiap fetus
merupakan sebuah alternatif yang dapat diterima terhadap pemeriksaan
aneuploidy pada kehamilan ganda. (D’Alton M.E., 2010)
Serum maternal alfa feto protein kadarnya dua kali lebih tinggi pada
kehamilan kembar dibandingkan dengan kehamilan tunggal. Level kadar yang
lebih dari 4.0 Mosm sebaiknya dilakukan penapisan untuk menilai adanya
defek neural tube dan dinding ventral. Sejak kehamilan kembar monokorionik
memiliki resiko tinggi terjadinya anomali kongenital, USG yang diarahkan
pada organ target yang dicurigai perlu untuk dilakukan.
Pengobatan dan Penanganan Nutrisi
Wanita dengan kehamilan kembar memiliki tambahan dalam asupan
kalori, protein, mineral vitamin dan asam lemak esensial. Konsumsi sumber
energi secara umum sebaiknya 3000 kcal/hari. Penambahan berat badan yang
direkomendasikan dalam kehamilan kembar didasarkan pada tabel dibawah ini
(Luke B., 2001).
BMI Sebelum Penambahan BB Penambahan Penambahan
kehamilan minggu 20 (satuan BB minggu 28 BB minggu 38
lbs) (satuan lbs) (satuan lbs)
≤19 25-35 37-51 50-66
20-24 20-30 30-46 40-56
25-29 20-25 28-37 38-47
≥30 15-20 23-28 31-36
Catatan : 1 lbs(pound) = 0,45 kg
Dengan meningkatnya resiko anemia berat oleh karena defisiensi Fe dan
asam Folat, suplementasi dengan 60-100mg/ hari elemen besi (ferous sulfat 325
mg/ hari) dan 1 mg/ hari asam folat direkomendasikan pada anemia yang memiliki
cadangan Fe yang potensial.
Pencegahan kelahiran prematur
Lima puluh persen kehamilan kembar dihubungkan dengan kelahiran
dengan masa gestasi kurang dari 37 minggu dengan angka rataan usia gestasional
dalam kelahiran berkisar pada 35.3 minggu. Transvaginal ultrasound dengan
panjang cervikal kurang dari 25 mm pada kehamilan 24 minggu dihubungkan
dengan peningkatan resiko kelahiran prematur sebelum usia kehamilan 32
minggu, namun, tidak ada bukti bahwa profilaksis servikal cerclage, prohilactic
pessary, hospitalisasi rutin, bed rest, outpatient uterine monitoring, atau
penggunaan jangka panjang agen tokolitik efektif dalam pencegahan kelahiran
prematur atau mempertahankan kehamilan pada kehamilan ganda dan sebaiknya
tidak digunakan. (ACOG,2014). Hampir mirip, penggunaan progesteron IM tidak
mengurangi insiden kelahiran prematur pada kehamilan kembar dan tidak
direkomendasikan. (ACOG, 2014; Rouse et al, 2007). Tidak terdapat aturan untuk
penggunaan agen tokolitik apapun sebagai profilaksis pada wanita dengan
kehamilan ganda, termasuk penggunaan betamimetik untuk indikasi ini. Dalam
persiapan akut kelahiran prematur, penggunaan tertentu tokolitik dapat diberikan
dalam 48 jam untuk memungkinkan pemberian kortikosteroid dan persiapan ke
pusat pelayanan tersier (ACOG, 2014). Wanita dengan resiko kelahiran pada usia
kehamilan 24 dan 34 minggu, sebaiknya mendapatkan setidaknya satu kali
pemberian kortikosteroid antenatal kecuali terdapat kontraindikasi pemberian
(ACOG, 2014).
Preeklampsia
Insiden preeklampsia sebanyak 2.6 kali lebih tinggi pada kehamilan kembar
dibandingkan dengan pada kehamilan tunggal, sehingga setiap pemeriksaan harus
termasuk pemantauan untuk tanda dan gejala dari hipertensi. Jika preeklampsia
atau HELLP sindrom berkembang sebelum kehamilan matur, pertimbangkan
untuk rujukan ke pusat pelayanan tertier.
Untuk kehamilan kembar monokorionik, didasarkan pada resiko
meningkatnya angka kejadian twin-twin tranfusion syndrome, ultrasound serial
untuk cairan dan pertumbuhan janin sebaiknya dimulai tidak lebih dari usia
kehamilan 16 minggu dan dapat diulangi setiap dua minggu. Sebagai tambahan,
USG dengan target dan konsultasi dengan [Link] sebaiknya dilakukan. Pada
kondisi apapun dimana dicurigai terjadinya hamil kembar monokorionik
monoamniotik, konsultasi ke [Link] harus dilakukan sesegera mungkin.
Untuk kehamilan dikorionik diamniotik tanpa komplikasi, serial ultrasound
sebaiknya dilakukan dengan interval 4-6 minggu dimulai di minggu 18-20 untuk
menilai adanya IUGR dan diskordansi pasangan kembar. Estimasi perbedaan berat
fetal lebih dari 20 persen kemungkinan merupakan diskordansi dan membutuhkan
manajemen tambahan dan konsultasi dengan spesialis obstetri dan ginekologi.
Tidak terdapat aturan untuk penggunaan profilaksis agen tokolitik apapun
pada wanita dengan kehamilan ganda, termasuk penggunaan betamimetik untuk
memperpanjang kehamilan pada indikasi ini. Dalam persiapan akut kelahiran
prematur, penggunaan tertentu tokolitik dapat diberikan setelah 48 jam untuk
melakukan pemberian kortikosteroid dan persiapan ke pusat pelayanan tersier
(ACOG, 2014)
Wanita dengan resiko kelahiran pada usia kehamilan 24 dan 34 minggu,
sebaiknya mendapatkan setidaknya satu kali pemberian kortikosteroid antenatal
kecuali terdapat kontraindikasi pemberian. Pencegahan seperti profilaksis
cerclage, profilaksis pessary, hospitalisasi rutin, dan bed rest tidak terbukti
mengurangi morbiditas dan mortalitas neonatal dan sebaiknya tidak dilakukan
pada wanita dengan kehamilan ganda. Wanita dengan resiko kelahiran pada usia
kehamilan 24 dan 34 minggu, sebaiknya mendapatkan setidaknya satu kali
pemberian kortikosteroid antenatal kecuali terdapat kontraindikasi pemberian.
(ACOG, 2014). Magnesium sulfat mengurangi keparahan dan resiko serebral
palsy pada infan yang bertahan jika diberikan ketika usia kehamilan sebelum 32
minggu, tidak tergantung pada jumlah fetus.
Persalinan
Didasarkan pada peningkatan resiko mortalitas perinatal, persalinan pada
kehamian 38 minggu (tidak lebih dari 39 minggu) pada kembar diskorionik
sebaiknya dilakukan sebagaimana pada kehamilan tanpa komplikasi. Kembar
monokorionik yang tidak terdapat komplikasi sebaiknya dilahirkan pada minggu
37-38 . Rencana persalinan sebaiknya disesuaikan dengan kehamilan yang
memiliki komplikasi.
Beberapa faktor sebaiknya dipertimbangkan ketika memilih rute persalinan
pada pasien dengan kehamilan kembar termasuk usia gestasi, EFW, presentasi
fetus, dan ketersediaan kemampuan provider dalam persalinan brach. Untuk
kembar dengan presentasi kepala/ kepala, sangat beralasan untuk dilakukannya
persalinan pervaginam. Presentasi kepala/ bukan kepala rute persalinanya
sebaiknya ditentukan oleh EFW dan pengalaman provider. Jika bayi pertama
presentasinya kepala, sangat beralasan untuk menawarkan persalinan pervaginam.
Jika bayi kedua presentasinya bukan kepala, dapat dilakukan ekstraksi brach
dengan syarat:
• Kehadiran penolong yang berpengalaman dan profesional dalam persalinan
• EFW ≥ 1500 gram
• Diskordansi EFW antar fetus < 20%
Presentasi bukan kepala/kepala atau bukan kepala/ bukan kepala sebaiknya
dilahirkan secara seksio sesaria. Keputusan untuk dilakukannya persalinan seksio
sesaria didasarkan sesuai dengan individu.
BAB III
KASUS
3.1 Identitas
Nama : Ny. NC
Usia : 33 tahun
Alamat : Setro Baru Utara 4/84 Surabaya
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMA
Suku / Bangsa : Jawa/ Indonesia
Agama : Islam
Status Pernikahan : Menikah
Tanggal pemeriksaan : 16 April 2019 ( Tanggal MRS 13 April 2019)
Sebelum SC
3.2 Data Dasar
3.2.1 Keluhan Utama:
Kenceng-kenceng sejak 1 hari SMRS.
3.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke UGD RS Universitas Airlangga diantar oleh
suaminya dengan keluhan kenceng-kenceng sejak 1 hari SMRS. Kenceng-
kenceng dikatakan ibu hilang timbul. Ibu mengatakan keluhan tersebut
disertai dengan keluarnya lendir dan darah dari jalan lahir. Gerak janin aktif.
Riwayat Perjalanan Singkat
September 2018
Pasien merasa sudah tidak mendapat haid selama 2 bulan, kemudian ibu
test pack di rumah dan hasilnya positif. Setelah itu pasien datang ke BPM
Ria untuk periksa kehamilan. Saat itu dikatakan hamil 1.5 bulan. Saat
periksa tekanan darah pasien normal. Kemudian pasien diberikan tablet
tambah darah dan vitamin kehamilan.
November - Desember 2019
Atas rekomendasi teman, pasien periksa ke dr. Amir Fahat [Link]. saat
itu dilakukan USG dan dikatakan hamil anak kembar. Saat itu tekanan
darah pasien normal. Pasien diberkan vitamin kehamilan saja. Kemudian
pasien disarankan oleh dr. Amir untuk periksa ke Rumah Sakit agar bisa
melahirkan di Rumah sakit.
Januari – April 2019
Pasien periksa ke poli hamil RS Unair secara rutin. Saat periksa tekanan
darah normal dan diberi vitamin kehamilan.
3.2.3 Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1x selama 14 tahun.
Riwayat ANC :
BPM Ria 1 kali
dr. Amir Fahat 3 kali
Klinik Tabita 1 kali
Poli hamil RSUA 6 kali
Riwayat Obstetric lalu :
1. 9 bln / Spt B / Dokter / RS Soewandhi / Laki-laki / 3400 gram / 12
tahun
2. 9 bln / Spt B / Bidan / BPM / Perempuan / 3200 gram / 7 tahun
3. Hamil ini
3.2.4 Riwayat Haid
Menarche : 12 tahun Siklus : 28 hari
Siklus haid : teratur (3 Jumlah : 3-4 pembalut/hari
tahun terakhir tidak
Nyeri : (-) saat awal menstruasi
teratur)
Lama : ± 7 hari
3.2.5 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku tidak pernah sakit sebelumnya. Hipertensi disangkal,
DM disangkal, penyakit jantung disangkal, asma disangkal, alergi makanan
maupun obat-obatan juga disangkal.
3.2.6 Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu pasien memiliki [Link] ada keluarga yang memiliki
hipertensi, penyakit jantung, asma, maupun alergi. Ibu dari suami pasien
kembar.
3.3 Pemeriksaan Fisik
3.3.1 Status Umum
GCS:456 TD : 123/91 N: 86 RR: 20 T: 36,7
TB :156 cm BB: 85 kg BMI: 34,9 (Obesitas gr I)
Kepala/Leher: anemia (-) icterus (-) sianosis (-) dyspnea (-)
Thorax
Pulmo : ves+/+, rhonki -/-, wheezing-/-
Cor : S1/S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: Soepel, BU (+) N
Inguinal: Tidak teraba massa
Extremitas: akral hangat, kering, merah, CRT <2”, edema -/-
3.3.2 Status Obstetri
Tinggi Fundus Uteri: 39 cm
Vaginal Touche : 2 cm / 25% / ketuban (+) / kepala / HI
DJJ : I (140 x/menit) ; II (152 x/menit)
HIS : (+/-)
3.4 Pemeriksaan Penunjang
3.4.1 Hasil USG
(05/11/2018)
Janin I : ~ 15/16 minggu ; EFW 133 gram
Janin II : ~ 16/17 minggu ; EFW 116 gram
(05/12/2018)
Janin I : ~ 20/21 minggu ; EFW 356 gram
Janin II : ~ 20/21 minggu ; EFW 263 gram
(07/01/2019)
Janin I : ~ 23 minggu ; EFW 700 gram
Janin II : 22/23 minggu ; 600 gram
(07/02/2019)
Janin I : ~ 28 minggu ; EFW 1413 gram
Janin II : ~ 28 minggu ; EFW 1348 gram
(21/02/2019)
Janin I : ~ 31 minggu ; EFW 1720 gram
Janin II : ~ 30/31 minggu ; EFW 1580 gram
(26/03/2019)
Janin I : ~ 29/30 minggu ; EFW 2000 gram
Janin II : ~ 28/29 minggu ; EFW 1800 gram
(02/04/2019)
Janin I : ~ 36 minggu ; EFW 2400 gram
Janin II : ~ 36 minggu ; EFW 1950 gram
(09/04/2019)
Janin I : ~ 37 minggu ; EFW 1970 gram
Janin II : ~ 37 minggu ; EFW 2600 gram
3.4.2 Hasil Laboratorium (Pemeriksaan di RSUA, 14-04-2019)
HEMATOLOGI
PARAMETER [Link] HASIL
Hemoglobin 11.7 – 15.5 10.5
Lekosit 6.0 – 12.0 7.15
Eritrosit 4.0 – 5.2 4.34
Hematokrit 35 - 47 32.3
Trombosit 150 - 440 180
MCV 80 - 100 74.4
MCH 26 - 34 24.2
MCHC 32 – 36 32.5
RDW 11.5 – 14.5 14.9
MPV 6.8 - 10 12.6
Limfosit% 25-40 24.1
Monosit% 2-8 8.7
Eosinofil% 2-4 1.3
Basofil% 0-1 0.1
Neutrofil% 50-70 65.8
FAAL KOAGULASI
PARAMETER [Link] HASIL
PPT
Control 12.5
Pasien 11-15 detik 12.0
APTT
Control 30.2
Pasien 25-35 detik 31.2
3.5 Diagnosis
GIII P2002 37/38 minggu GHHIU + letkep letkep + Obs. Inpartu + TBJ 2300
g/2600 g
3.6 Planning
a. Diagnosis: -
b. Terapi:
Observasi inpartu
Observasi CHPB
Evaluasi 6 jam, jika inpartu pro spt B
Perkembangan :
(14/04/2019 pukul 07.00)
S : pasien merasakan gerak janin berkurang
O : STU : CM , a(-)/i(-)/c(-)/d(-)
TD 120/70 mmHg ; N 80 x/menit ; RR 20 x/menit ; T 36.5
18
STO : His (-) ; DJJ (I:12-12-12 ;II: 11-12-12) ; NST (140/3-5/low variability
Kategori III)
A : GIIIP2002 37/38 minggu GHHIU + letkep letkep + TBJ 2300 gram/2600 gram +
NST kategori III)
P : Pro Cito SC + Sterilisasi
Atas pertimbangan : Gemelli, NST kategori III
(14/04/2019 pukul 10.30)
Lahir 2 bayi :
I : Laki-laki / 2595 gram / 46 cm / AS 8-9
II : Laki-laki / 2390 gram / 46 cm / AS 8-9
(15/04/2019 pukul 06.00)
S : pasien tidak ada keluhan
O : STU : CM , a(-)/i(-)/c(-)/d(-)
TD 120/80 ; N 88 x/menit ; RR 20 x/menit ; t 36.1
STO : TFU 3 jbpst ; kontraksi uterus (+) baik ; fluksus (-) ; lochea Rubra
A : P3004 post Sc + sterilisasi H-1
P : Perawatan post op
I : Diet bebas
Asam Mefenamat 3x500 mg
SF 2x1
Mobilisasi
Monitoring keluhan, vital sign, fluksus, kontraksi uterus
19
(16/04/2019 pukul 11.00)
S : tidak ada keluhan
O : STU : CM, a(-)/i(-)/c(-)/d(-)
TD 110/70 mmHg ; N 91 x/menit ; RR 18 x/menit ; t 36.0
STO : TFU 3 jbpst ; kontraksi uterus (+) baik, fluksus (-), lochea Rubra (sudah
berkurang dari hari kemarin)
A : P3004 post SC + Sterilisasi H-2
P : pasien pro KRS
(16/04/2019 pukul 13.00)
Pasien KRS bersama 2 bayinya
20
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. 2014. Multifetal Gestations: Twin, Triplet, and Higher-Order Multifetal
Pregnancies. The American College of Obstetricians and Gynecologists.
Cunningham, F.G.2010. Williams Obstetrics (23rd ed.). New York, USA: Mc Graw-
Hill.
D’Alton M.E., F.K.M. 2010. Twins, Triplets and Beyond In [Link], J. C.
Hobbins& C.Y. Spong (Eds.), Protocols for High-Risk Pregnancies (5th ed., pp
535-544). West Sussex, UK: Willey Blackwell.
Luke B., E. T. 2011. When you’re expecting twins, triplets or quads (3rd ed.) New
York: Happer Collins.
Rouse, D.J., Caritis, S.N., Peaceman, A.M., Sciscione, A., Thom, E.A., Spong C.Y.
Human Development Maternal-Fetal Medicine Units. 2007. A trial 0f 17 alpha-
hydroxyprogesterone caproate to prevent prematurity in twins. Engl J Med.
357(5), 454-461.
21