0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan21 halaman

Peningkatan Kehamilan Kembar dan Risikonya

Bab 1 memberikan latar belakang tentang kehamilan kembar dan tujuan penulisan laporan ini untuk mengetahui gejala, penyebab, dan penatalaksanaan kehamilan kembar. Bab 2 membahas definisi, epidemiologi, patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan kehamilan kembar termasuk monitoring yang lebih sering.

Diunggah oleh

Nanda Firdaus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan21 halaman

Peningkatan Kehamilan Kembar dan Risikonya

Bab 1 memberikan latar belakang tentang kehamilan kembar dan tujuan penulisan laporan ini untuk mengetahui gejala, penyebab, dan penatalaksanaan kehamilan kembar. Bab 2 membahas definisi, epidemiologi, patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan kehamilan kembar termasuk monitoring yang lebih sering.

Diunggah oleh

Nanda Firdaus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih.

Sedangkan gemelli adalah satu kehamilan dengan dua janin. Dari tahun ke tahun

angka kejadian gemelli semakin meningkat. Kehamilan kembar telah mengalami

peningkatan sekitar 76% sejak tahun 1980 sebagai hasil dari meningkatnya usia

maternal, peningkatan dalam penggunaan agen induksi untuk ovulasi, dan

teknologi bantu reproduksi (ACOG, 2014)

Prevalensi kejadian kehamilan ganda di dunia sebenarnya belum diketahui.

Menurut WHO kehamilan ganda yang dapat bertahan hidup pada masa kelahiran

tanpa menjalani pembedahan sebanyak 40-60% dan 20 % -25 menjalani

pembedahan dan pengobatan (WHO,2009). Penemu kasus kehamilan ganda

menjelaskan bahwa dari 16.288 persalinan terdapat 197 persalinan gemelli

(kembar 2) dan 6 persalinan triplet (kembar 3) (Prawirohardjo,2000).

Kehamilan ganda beresiko lebih tinggi dalam komplikasi maternal dan fetal

dengan morbiditas dan mortalitas perinatal sebanyak 3 hingga 4 kali

dibandingkan dengan kehamilan tunggal. Peningkatan angka morbiditas perinatal

dan maternal dan angka mortalitas dihubungkan dengan komplikasi dalam

kehamilan termasuk diabetes gestasional, preeklampsia, kelahiran prematur,

ruptur membran prematur, abrupsio plasenta, pielonefritis, persalinan prematur,

IUGR, perdarahan post partum, anomali kongenital, dan cerebral palsy.


Komplikasi pada ibu akibat gemelli lebih sering daripada kehamilan tunggal

(ACOG,, 2014)

Perubahan fisik pada ibu dengan kehamilan ganda pada umumnya sama

dengan kehamilan tunggal, namun biasanya lebih besar menimbulkan masalah.

Perubahan tersebut seperti peningkatan hCG yang dapat mengakibatkan

hyperemesis gravidarum,pembesaran payudara, peningkatan frekuensi berkemih,

nafsu makan meningkat dan mudah lelah. Pada trimester kedua akan terjadi sesak

nafas, pembengkakan pada bagian ekstremitas bawah (oedema), peningkatan

berat badan, pembesaran rahim yang tidak seperti kehamilan tunggal,pergerakan

janin yang lebih kuat (Obstetri Patologi,2009).

Penyulit pada bayi yang meningkatkan terjadinya morbiditas (angka

serangan penyakit yang terjadi pada bayi dan selama kehamilan) serta mortalitas

(kematian) pada bayi kembar, yaitu Akardius Amorfus yaitu kondisi dimana

salah satu dari bayi ganda mati atau perkembangannya hanya menyerupai

segumpal daging akibat dari salah satu jantung salah satu seorang anak ganda

lebih kuat dibanding yang lain (Patologi Kebidanan,2010)

Letak bayi pada kehamilan ganda juga bisa menjadi penyulit bagi kelahiran

bayi ganda (Patologi Kebidanan, 2010)

Berbagai kombinasi letak, presantasi dan posisi bisa terjadi. Yang paling

sering di jumpai adalah kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala (44-

47%), letak membujur, presentasi kepala bokong ( 37-38%), keduanya presentasi

bokong (8-10), letak lintang dan presentasi kepala ( 5-5,3%), letak lintang dan

presentasi bokong ( 1,5-2%), dua-duanya letak lintang Universitas Sumatera


Utara (0,2-0,6%), letak dan presentasi “69” adalah letak yang berbahaya, karena

dapat terjadi kunci-mengunci (Interlocking) (Mochtar ,2000).

Untuk mengurangi resiko, pasien dengan kehamilan ganda dianjurkan

untuk lebih sering di monitoring dan follow up. (ACOG, 2014)

1.2 Tujuan

Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui gejala gejala dari

gemeli, serta penyebab dan faktor resikonya sehingga dapat melakukan diagnosis

dan tatalaksana yang tepat untuk kasus seperti ini.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Epidemiologi

Gemelli adalah satu kehamilan dengan dua janin. Dari tahun ke tahun angka

kejadian gemelli semakin meningkat. National Center for Health Statistics (2006)

menyebutkan bahwa antara tahun 1980 sampai tahun 2004, tingkat kelahiran

gemelli meningkat secara dramatis di Amerika Serikat (dari 18,9 menjadi 32,2 per

1000 kelahiran hidup).

Kehamilan kembar telah mengalami peningkatan sekitar 76% sejak tahun

1980 sebagai hasil dari meningkatnya usia maternal, peningkatan dalam

penggunaan agen induksi untuk ovulasi, dan teknologi bantu reproduksi.

Kehamilan ganda beresiko lebih tinggi dalam komplikasi maternal dan fetal

dengan morbiditas dan mortalitas perinatal sebanyak 3 hingga 4 kali dibandingkan

dengan kehamilan tunggal. Peningkatan angka morbiditas perinatal dan maternal

dan angka mortalitas dihubungkan dengan komplikasi dalam kehamilan termasuk

diabetes gestasional, preeklampsia, kelahiran prematur, ruptur membran prematur,

abrupsio plasenta, pielonefritis, persalinan prematur, IUGR, perdarahan post

partum, anomali kongenital, dan cerebral palsy. Untuk mengurangi resiko, pasien

dengan kehamilan ganda dianjurkan untuk lebih sering di monitoring dan follow

up. (ACOG, 2014).


2.2 Patofisiologi

Kehamilan kembar dapat monozigotik, yaitu sebuah ovum fertil yang

terbagi menjadi 2 fetus atau dizigotik, yaitu dua bagian ovum yang memisah. Di

United State, dua pertiga kehamilan gemeli adalah dizigotik dan sepertiganya

adalah monozigotik (Cunningham et al 2010). Kehamilan dizigotik secara genetik

berbeda. Kehamilan monozigot identik secara genetik, dapat menjadi dikarionik

diamniotik, monokorionik diamniotik, atau monokorionik monoamniotik

tergantung dari waktu kapan pemisahan ovum yang fertil terjadi. Kehamilan

monokorionik diamniotik memiliki resiko terjadinya twin- twin transfusion

syndrome dan kehamilan monokorionik monoamniotik memiliki resiko untuk

terjadinya tali pusat yang menyatu. ( Cunningham et al , 2010 )

2.3 Diagnosis

Dengan biasanya penggunaan USG dalam obstetri modern, diagnosis

kehamilan kembar sering dapat dibuat pada saat pemeriksaan USG yang pertama.

Korionisitas dapat terbentuk di semua kehamilan kembar dan paling efektif

ditemukan pada pemeriksaan sonogram pertama di awal kehamilan; Waktu yang


optimal untuk pemeriksaan adalah di akhir trimester 1 dan diawal trimester kedua.

Indikasi ditemukannya kehamilan kembar dikorionik termasuk dari terlihatnya

dua plasental disk, dengan ketebalan membran > 2mm atau memiliki 3-4 lapis,

terlihatnya dua gelombang lambda (proyeksi triangular dari plasenta diantara

lapisan lapisan yang membagi membran) dan kelamin yang berbeda (Cunningham

et al 2010). Kehamilan kembar monokorionik sebaiknya dirujuk ke spesialis

obstetri ginekologi untuk konsultasi dan penanganannya.

2.4 Tatalaksana

Perawatan prenatal terhadap wanita dengan kehamilan kembar

sebaiknya mengikuti Penanganan Prenatal Rutin oleh APEC Guideline.

Frekuensi pemeriksaan

Kehamilan kembar dikorionik sebaiknya dilakukan pemeriksaan setiap

3-4 minggu secara rutin dimulai dari usia kehamilan 16 minggu, dengan tanpa

komplikasi kehamilan, dilakukan pemeriksaan USG dengan interval 4-6

minggu dimulai dari usia kehamilan 18-20 minggu. Kehamilan kembar

monokorionik sebaiknya dipantau dengan interval 2 minggu, pemeriksaan

USG dengan interval dua minggu dimulai dari usia kehamilan 16 minggu

dengan mempertahankan tanda dari twin twin transfusion syndrome.

Diagnosis prenatal

Pada trimester pertama dan kedua pemeriksaan marker untuk aneuploidy

dua kali lebih tinggi daripada kehamilan kembar dibandingkan dengan

kehamilan tunggal, yang membuat sulitnya membedakan fetus mana yang


mengalami abnormalitas analisis konsentrat, namun, pemeriksaan serum dapat

dilakukan untuk menguranginya. Pemeriksaan translusensi nuchal setiap fetus

merupakan sebuah alternatif yang dapat diterima terhadap pemeriksaan

aneuploidy pada kehamilan ganda. (D’Alton M.E., 2010)

Serum maternal alfa feto protein kadarnya dua kali lebih tinggi pada

kehamilan kembar dibandingkan dengan kehamilan tunggal. Level kadar yang

lebih dari 4.0 Mosm sebaiknya dilakukan penapisan untuk menilai adanya

defek neural tube dan dinding ventral. Sejak kehamilan kembar monokorionik

memiliki resiko tinggi terjadinya anomali kongenital, USG yang diarahkan

pada organ target yang dicurigai perlu untuk dilakukan.

Pengobatan dan Penanganan Nutrisi

Wanita dengan kehamilan kembar memiliki tambahan dalam asupan

kalori, protein, mineral vitamin dan asam lemak esensial. Konsumsi sumber

energi secara umum sebaiknya 3000 kcal/hari. Penambahan berat badan yang

direkomendasikan dalam kehamilan kembar didasarkan pada tabel dibawah ini

(Luke B., 2001).

BMI Sebelum Penambahan BB Penambahan Penambahan


kehamilan minggu 20 (satuan BB minggu 28 BB minggu 38
lbs) (satuan lbs) (satuan lbs)
≤19 25-35 37-51 50-66
20-24 20-30 30-46 40-56
25-29 20-25 28-37 38-47
≥30 15-20 23-28 31-36
Catatan : 1 lbs(pound) = 0,45 kg
Dengan meningkatnya resiko anemia berat oleh karena defisiensi Fe dan

asam Folat, suplementasi dengan 60-100mg/ hari elemen besi (ferous sulfat 325

mg/ hari) dan 1 mg/ hari asam folat direkomendasikan pada anemia yang memiliki

cadangan Fe yang potensial.

Pencegahan kelahiran prematur

Lima puluh persen kehamilan kembar dihubungkan dengan kelahiran

dengan masa gestasi kurang dari 37 minggu dengan angka rataan usia gestasional

dalam kelahiran berkisar pada 35.3 minggu. Transvaginal ultrasound dengan

panjang cervikal kurang dari 25 mm pada kehamilan 24 minggu dihubungkan

dengan peningkatan resiko kelahiran prematur sebelum usia kehamilan 32

minggu, namun, tidak ada bukti bahwa profilaksis servikal cerclage, prohilactic

pessary, hospitalisasi rutin, bed rest, outpatient uterine monitoring, atau

penggunaan jangka panjang agen tokolitik efektif dalam pencegahan kelahiran

prematur atau mempertahankan kehamilan pada kehamilan ganda dan sebaiknya

tidak digunakan. (ACOG,2014). Hampir mirip, penggunaan progesteron IM tidak

mengurangi insiden kelahiran prematur pada kehamilan kembar dan tidak

direkomendasikan. (ACOG, 2014; Rouse et al, 2007). Tidak terdapat aturan untuk

penggunaan agen tokolitik apapun sebagai profilaksis pada wanita dengan

kehamilan ganda, termasuk penggunaan betamimetik untuk indikasi ini. Dalam

persiapan akut kelahiran prematur, penggunaan tertentu tokolitik dapat diberikan

dalam 48 jam untuk memungkinkan pemberian kortikosteroid dan persiapan ke

pusat pelayanan tersier (ACOG, 2014). Wanita dengan resiko kelahiran pada usia

kehamilan 24 dan 34 minggu, sebaiknya mendapatkan setidaknya satu kali


pemberian kortikosteroid antenatal kecuali terdapat kontraindikasi pemberian

(ACOG, 2014).

Preeklampsia

Insiden preeklampsia sebanyak 2.6 kali lebih tinggi pada kehamilan kembar

dibandingkan dengan pada kehamilan tunggal, sehingga setiap pemeriksaan harus

termasuk pemantauan untuk tanda dan gejala dari hipertensi. Jika preeklampsia

atau HELLP sindrom berkembang sebelum kehamilan matur, pertimbangkan

untuk rujukan ke pusat pelayanan tertier.

Untuk kehamilan kembar monokorionik, didasarkan pada resiko

meningkatnya angka kejadian twin-twin tranfusion syndrome, ultrasound serial

untuk cairan dan pertumbuhan janin sebaiknya dimulai tidak lebih dari usia

kehamilan 16 minggu dan dapat diulangi setiap dua minggu. Sebagai tambahan,

USG dengan target dan konsultasi dengan [Link] sebaiknya dilakukan. Pada

kondisi apapun dimana dicurigai terjadinya hamil kembar monokorionik

monoamniotik, konsultasi ke [Link] harus dilakukan sesegera mungkin.

Untuk kehamilan dikorionik diamniotik tanpa komplikasi, serial ultrasound

sebaiknya dilakukan dengan interval 4-6 minggu dimulai di minggu 18-20 untuk

menilai adanya IUGR dan diskordansi pasangan kembar. Estimasi perbedaan berat

fetal lebih dari 20 persen kemungkinan merupakan diskordansi dan membutuhkan

manajemen tambahan dan konsultasi dengan spesialis obstetri dan ginekologi.

Tidak terdapat aturan untuk penggunaan profilaksis agen tokolitik apapun

pada wanita dengan kehamilan ganda, termasuk penggunaan betamimetik untuk

memperpanjang kehamilan pada indikasi ini. Dalam persiapan akut kelahiran


prematur, penggunaan tertentu tokolitik dapat diberikan setelah 48 jam untuk

melakukan pemberian kortikosteroid dan persiapan ke pusat pelayanan tersier

(ACOG, 2014)

Wanita dengan resiko kelahiran pada usia kehamilan 24 dan 34 minggu,

sebaiknya mendapatkan setidaknya satu kali pemberian kortikosteroid antenatal

kecuali terdapat kontraindikasi pemberian. Pencegahan seperti profilaksis

cerclage, profilaksis pessary, hospitalisasi rutin, dan bed rest tidak terbukti

mengurangi morbiditas dan mortalitas neonatal dan sebaiknya tidak dilakukan

pada wanita dengan kehamilan ganda. Wanita dengan resiko kelahiran pada usia

kehamilan 24 dan 34 minggu, sebaiknya mendapatkan setidaknya satu kali

pemberian kortikosteroid antenatal kecuali terdapat kontraindikasi pemberian.

(ACOG, 2014). Magnesium sulfat mengurangi keparahan dan resiko serebral

palsy pada infan yang bertahan jika diberikan ketika usia kehamilan sebelum 32

minggu, tidak tergantung pada jumlah fetus.

Persalinan

Didasarkan pada peningkatan resiko mortalitas perinatal, persalinan pada

kehamian 38 minggu (tidak lebih dari 39 minggu) pada kembar diskorionik

sebaiknya dilakukan sebagaimana pada kehamilan tanpa komplikasi. Kembar

monokorionik yang tidak terdapat komplikasi sebaiknya dilahirkan pada minggu

37-38 . Rencana persalinan sebaiknya disesuaikan dengan kehamilan yang

memiliki komplikasi.

Beberapa faktor sebaiknya dipertimbangkan ketika memilih rute persalinan

pada pasien dengan kehamilan kembar termasuk usia gestasi, EFW, presentasi
fetus, dan ketersediaan kemampuan provider dalam persalinan brach. Untuk

kembar dengan presentasi kepala/ kepala, sangat beralasan untuk dilakukannya

persalinan pervaginam. Presentasi kepala/ bukan kepala rute persalinanya

sebaiknya ditentukan oleh EFW dan pengalaman provider. Jika bayi pertama

presentasinya kepala, sangat beralasan untuk menawarkan persalinan pervaginam.

Jika bayi kedua presentasinya bukan kepala, dapat dilakukan ekstraksi brach

dengan syarat:

• Kehadiran penolong yang berpengalaman dan profesional dalam persalinan

• EFW ≥ 1500 gram

• Diskordansi EFW antar fetus < 20%

Presentasi bukan kepala/kepala atau bukan kepala/ bukan kepala sebaiknya

dilahirkan secara seksio sesaria. Keputusan untuk dilakukannya persalinan seksio

sesaria didasarkan sesuai dengan individu.


BAB III

KASUS

3.1 Identitas

Nama : Ny. NC

Usia : 33 tahun

Alamat : Setro Baru Utara 4/84 Surabaya

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SMA

Suku / Bangsa : Jawa/ Indonesia

Agama : Islam

Status Pernikahan : Menikah

Tanggal pemeriksaan : 16 April 2019 ( Tanggal MRS 13 April 2019)

 Sebelum SC

3.2 Data Dasar

3.2.1 Keluhan Utama:

Kenceng-kenceng sejak 1 hari SMRS.


3.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke UGD RS Universitas Airlangga diantar oleh

suaminya dengan keluhan kenceng-kenceng sejak 1 hari SMRS. Kenceng-

kenceng dikatakan ibu hilang timbul. Ibu mengatakan keluhan tersebut

disertai dengan keluarnya lendir dan darah dari jalan lahir. Gerak janin aktif.

Riwayat Perjalanan Singkat

 September 2018

Pasien merasa sudah tidak mendapat haid selama 2 bulan, kemudian ibu

test pack di rumah dan hasilnya positif. Setelah itu pasien datang ke BPM

Ria untuk periksa kehamilan. Saat itu dikatakan hamil 1.5 bulan. Saat

periksa tekanan darah pasien normal. Kemudian pasien diberikan tablet

tambah darah dan vitamin kehamilan.

 November - Desember 2019

Atas rekomendasi teman, pasien periksa ke dr. Amir Fahat [Link]. saat

itu dilakukan USG dan dikatakan hamil anak kembar. Saat itu tekanan

darah pasien normal. Pasien diberkan vitamin kehamilan saja. Kemudian

pasien disarankan oleh dr. Amir untuk periksa ke Rumah Sakit agar bisa

melahirkan di Rumah sakit.

 Januari – April 2019

Pasien periksa ke poli hamil RS Unair secara rutin. Saat periksa tekanan

darah normal dan diberi vitamin kehamilan.


3.2.3 Riwayat Pernikahan

Pasien menikah 1x selama 14 tahun.

 Riwayat ANC :

BPM Ria 1 kali

dr. Amir Fahat 3 kali

Klinik Tabita 1 kali

Poli hamil RSUA 6 kali

 Riwayat Obstetric lalu :

1. 9 bln / Spt B / Dokter / RS Soewandhi / Laki-laki / 3400 gram / 12

tahun

2. 9 bln / Spt B / Bidan / BPM / Perempuan / 3200 gram / 7 tahun

3. Hamil ini

3.2.4 Riwayat Haid

 Menarche : 12 tahun  Siklus : 28 hari

 Siklus haid : teratur (3  Jumlah : 3-4 pembalut/hari

tahun terakhir tidak


 Nyeri : (-) saat awal menstruasi
teratur)

 Lama : ± 7 hari
3.2.5 Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengaku tidak pernah sakit sebelumnya. Hipertensi disangkal,

DM disangkal, penyakit jantung disangkal, asma disangkal, alergi makanan

maupun obat-obatan juga disangkal.

3.2.6 Riwayat Penyakit Keluarga

Ibu pasien memiliki [Link] ada keluarga yang memiliki

hipertensi, penyakit jantung, asma, maupun alergi. Ibu dari suami pasien

kembar.

3.3 Pemeriksaan Fisik

3.3.1 Status Umum

GCS:456 TD : 123/91 N: 86 RR: 20 T: 36,7

TB :156 cm BB: 85 kg BMI: 34,9 (Obesitas gr I)

Kepala/Leher: anemia (-) icterus (-) sianosis (-) dyspnea (-)

Thorax

Pulmo : ves+/+, rhonki -/-, wheezing-/-

Cor : S1/S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen: Soepel, BU (+) N

Inguinal: Tidak teraba massa

Extremitas: akral hangat, kering, merah, CRT <2”, edema -/-

3.3.2 Status Obstetri

Tinggi Fundus Uteri: 39 cm

Vaginal Touche : 2 cm / 25% / ketuban (+) / kepala / HI


DJJ : I (140 x/menit) ; II (152 x/menit)

HIS : (+/-)

3.4 Pemeriksaan Penunjang

3.4.1 Hasil USG

(05/11/2018)

Janin I : ~ 15/16 minggu ; EFW 133 gram

Janin II : ~ 16/17 minggu ; EFW 116 gram

(05/12/2018)

Janin I : ~ 20/21 minggu ; EFW 356 gram

Janin II : ~ 20/21 minggu ; EFW 263 gram

(07/01/2019)

Janin I : ~ 23 minggu ; EFW 700 gram

Janin II : 22/23 minggu ; 600 gram

(07/02/2019)

Janin I : ~ 28 minggu ; EFW 1413 gram

Janin II : ~ 28 minggu ; EFW 1348 gram

(21/02/2019)

Janin I : ~ 31 minggu ; EFW 1720 gram

Janin II : ~ 30/31 minggu ; EFW 1580 gram

(26/03/2019)

Janin I : ~ 29/30 minggu ; EFW 2000 gram

Janin II : ~ 28/29 minggu ; EFW 1800 gram


(02/04/2019)

Janin I : ~ 36 minggu ; EFW 2400 gram

Janin II : ~ 36 minggu ; EFW 1950 gram

(09/04/2019)

Janin I : ~ 37 minggu ; EFW 1970 gram

Janin II : ~ 37 minggu ; EFW 2600 gram

3.4.2 Hasil Laboratorium (Pemeriksaan di RSUA, 14-04-2019)

HEMATOLOGI
PARAMETER [Link] HASIL
Hemoglobin 11.7 – 15.5 10.5
Lekosit 6.0 – 12.0 7.15
Eritrosit 4.0 – 5.2 4.34
Hematokrit 35 - 47 32.3
Trombosit 150 - 440 180
MCV 80 - 100 74.4
MCH 26 - 34 24.2
MCHC 32 – 36 32.5
RDW 11.5 – 14.5 14.9
MPV 6.8 - 10 12.6
Limfosit% 25-40 24.1
Monosit% 2-8 8.7
Eosinofil% 2-4 1.3
Basofil% 0-1 0.1
Neutrofil% 50-70 65.8
FAAL KOAGULASI
PARAMETER [Link] HASIL
PPT
Control 12.5
Pasien 11-15 detik 12.0
APTT
Control 30.2
Pasien 25-35 detik 31.2

3.5 Diagnosis

GIII P2002 37/38 minggu GHHIU + letkep letkep + Obs. Inpartu + TBJ 2300

g/2600 g

3.6 Planning

a. Diagnosis: -

b. Terapi:

 Observasi inpartu

 Observasi CHPB

 Evaluasi 6 jam, jika inpartu pro spt B

Perkembangan :

(14/04/2019 pukul 07.00)

S : pasien merasakan gerak janin berkurang

O : STU : CM , a(-)/i(-)/c(-)/d(-)

TD 120/70 mmHg ; N 80 x/menit ; RR 20 x/menit ; T 36.5

18
STO : His (-) ; DJJ (I:12-12-12 ;II: 11-12-12) ; NST (140/3-5/low variability 

Kategori III)

A : GIIIP2002 37/38 minggu GHHIU + letkep letkep + TBJ 2300 gram/2600 gram +

NST kategori III)

P : Pro Cito SC + Sterilisasi

Atas pertimbangan : Gemelli, NST kategori III

(14/04/2019 pukul 10.30)

Lahir 2 bayi :

I : Laki-laki / 2595 gram / 46 cm / AS 8-9

II : Laki-laki / 2390 gram / 46 cm / AS 8-9

(15/04/2019 pukul 06.00)

S : pasien tidak ada keluhan

O : STU : CM , a(-)/i(-)/c(-)/d(-)

TD 120/80 ; N 88 x/menit ; RR 20 x/menit ; t 36.1

STO : TFU 3 jbpst ; kontraksi uterus (+) baik ; fluksus (-) ; lochea Rubra

A : P3004 post Sc + sterilisasi H-1

P : Perawatan post op

I : Diet bebas

Asam Mefenamat 3x500 mg

SF 2x1

Mobilisasi

Monitoring keluhan, vital sign, fluksus, kontraksi uterus

19
(16/04/2019 pukul 11.00)

S : tidak ada keluhan

O : STU : CM, a(-)/i(-)/c(-)/d(-)

TD 110/70 mmHg ; N 91 x/menit ; RR 18 x/menit ; t 36.0

STO : TFU 3 jbpst ; kontraksi uterus (+) baik, fluksus (-), lochea Rubra (sudah

berkurang dari hari kemarin)

A : P3004 post SC + Sterilisasi H-2

P : pasien pro KRS

(16/04/2019 pukul 13.00)

Pasien KRS bersama 2 bayinya

20
DAFTAR PUSTAKA

ACOG. 2014. Multifetal Gestations: Twin, Triplet, and Higher-Order Multifetal

Pregnancies. The American College of Obstetricians and Gynecologists.

Cunningham, F.G.2010. Williams Obstetrics (23rd ed.). New York, USA: Mc Graw-

Hill.

D’Alton M.E., F.K.M. 2010. Twins, Triplets and Beyond In [Link], J. C.

Hobbins& C.Y. Spong (Eds.), Protocols for High-Risk Pregnancies (5th ed., pp

535-544). West Sussex, UK: Willey Blackwell.

Luke B., E. T. 2011. When you’re expecting twins, triplets or quads (3rd ed.) New

York: Happer Collins.

Rouse, D.J., Caritis, S.N., Peaceman, A.M., Sciscione, A., Thom, E.A., Spong C.Y.

Human Development Maternal-Fetal Medicine Units. 2007. A trial 0f 17 alpha-

hydroxyprogesterone caproate to prevent prematurity in twins. Engl J Med.

357(5), 454-461.

21

Anda mungkin juga menyukai