RELIABILITAS DALAM AKUNTANSI
Dalam penyajian laporan keuangan, informasi yang terkandung di dalamnya harus dapat
diandalkan jika cukup terbebas dari kesalahan dan penyimpangan merupakan suatu
penyajian yang jujur. Keandalan diperlukan oleh pribadi-pribadi yang tidak mempunyai
cukup waktu atau keahlian untuk memeriksa isi sebenarnya dari informasi tersebut. Keiso
(1995:53) mengatakan supaya dapat diandalkan, informasi akuntansi harus mempunyai tiga
karakteristik, yaitu dapat diperiksa, kejujuran dalam penyajian, dan netral. Di samping itu,
White dkk. (1993:10) juga mengatakan bahwa reliabilitas tersebut mencakup variability,
representational faithfulness, dan neutrality.
Agar laporan keuangan dapat dikatakan lebih reliable, maka
penyajiannya harus menggunakan biaya historis (CGA-Ontario, 2005). Prinsip biaya historis
merupakan pencatatan atas aktiva, modal, kewajiban, dan biaya yang didasarkan pada
harga perolehan (Zaki, 1999:10). Selama ini masih terdapat kesulitan-kesulitan dalam
menggunakan biaya historis seperti pembelian barang lebih dari satu macam dengan satu
harga. Meskipun terdapat kesulitan dengan 10. biaya histories, sampai saat ini masih tetap
berlaku karena data biaya historis
masih dianggap paling objektif dan dapat diperiksa kebenarannya.
RELIABILITAS LAPORAN KEUANGAN
Dalam Pernyataan standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 tentang penyajian laporan
keuangan menyebutkan bahwa agar dapat digunakan, suatu informasi haruslah dapat
diandalkan (reliable). Informasi dapat dikatakan reliable ketika bebas dari kesalahan dan
penyimpangan yang material dan menyebabkan pengguna bergantung pada informasi
dengan penyajian jujur tersebut. Beberapa pihak juga berpandangan bahwa pengukuran
yang dapat diandalkan berarti pengukuran yang dapat diverifikasi. Pengertian reliabilitas
tidak berarti bahwa akurat sepenuhnya, karena informasi yang diperoleh berdasarkan
pertimbangan professional (professional judgements) meliputi berbagai estimasi serta
perkiraan yang tidak dapat akurat sepenuhnya, tetapi informasi tersebut seharusnya tetap
dapat dihandalkan (Hery, 2009:30-31). Di dalam reliabilitas terdapat beberapa unsur atau
sub karakteristik yang mampu mencerminkan keandalan suatu informasi laporan keuangan,
antara lain: a. Representational Faithfulness atau penyajian jujur b. Substance Over Form
atau substansi mengungguli bentuk c. Neutrality atau netralitas d. Prudence atau
pertimbangan sehat e. Completeness atau kelengkapan 12 Agar dapat diandalkan,
informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang
seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan merupakan
unsur reliabilitas berupa penyajian jujur (representational faithfulness). Misalnya, neraca
harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain dalam bentuk aktiva,
kewajiban dan ekuitas organisasi pada tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria
pengakuan. Informasi keuangan pada umumnya tidak luput dari resiko penyajian yang
dianggap kurang jujur dari apa yang seharusnya digambarkan. Jika informasi dimaksudkan
untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan,
maka peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas
ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Substansi transaksi atau peristiwa lain tidak
selalu konsisten dengan apa yang terlihat dari bentuk hukum. Hal tersebut yang merupakan
gambaran atas substansi yang mengungguli bentuk (substance over form). Informasi harus
diarahkan pada kebutuhan umum pemakai dan tidak hanya bergantung pada kebutuhan
dan keinginan pihak tertentu. Selain itu, tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi
yang menguntungkan beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain
yang mempunyai kepentingan yang berlawanan. Hal tersebut memenuhi asumsi netralitas
(neutrality) suatu laporan keuangan. Penyusun laporan keuangan adakalanya menghadapi
ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan,
perkiraan masa manfaat pabrik serta peralatan, dan adanya tuntutan atas jaminan garansi
yang 13 mungkin timbul. Ketidakpastian semacam itu diakui dengan mengungkapkan
hakekat serta tingkatnya dan dengan menggunakan pertimbangan sehat (prudence) dalam
penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada
saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva atau penghasilan
tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah.
Karakteristik agar informasi dapat diandalkan bahwa dalam laporan keuangan harus
lengkap (complete) dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak
mengungkapkan (omission) mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau
menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi
relevansi.