0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan19 halaman

Ciri dan Klasifikasi Arthropoda Insecta

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang filum Arthropoda, khususnya serangga. Ia menjelaskan ciri-ciri umum filum Arthropoda seperti tubuh yang terbagi ruas-ruas dan memiliki jumlah spesies terbanyak. Dokumen ini juga menjelaskan tentang kelas Insecta atau Hexapoda sebagai salah satu kelas dalam filum ini, dengan ciri-ciri tubuh terbagi atas kepala, dada, dan perut. Terakhir, dokumen

Diunggah oleh

Laia Socrates
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan19 halaman

Ciri dan Klasifikasi Arthropoda Insecta

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang filum Arthropoda, khususnya serangga. Ia menjelaskan ciri-ciri umum filum Arthropoda seperti tubuh yang terbagi ruas-ruas dan memiliki jumlah spesies terbanyak. Dokumen ini juga menjelaskan tentang kelas Insecta atau Hexapoda sebagai salah satu kelas dalam filum ini, dengan ciri-ciri tubuh terbagi atas kepala, dada, dan perut. Terakhir, dokumen

Diunggah oleh

Laia Socrates
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Arthropoda berasal dari bahasa yunani, yaitu arthro yang artinya ruas dan
podos yang artinya kaki, oleh karena itu ciri-ciri utama hewan yang termasuk
ke dalam filum ini adalah terdapat ruas-ruas (buku-buku). Jumlah spesies
filum ini adalah yang terbanyak dibandingkan dengan filum lainnya, yaitu lebih
dari 800.000 spesies. Contoh anggota filum ini antara lain Kepiting, Udang,
Serangga, Laba-laba, Kalajengking, Kelabang dan Kaki seribu, serta spesies-
spesies lain yang dikenal hanya berdasarkan fosil. Habitat hewan anggota filum
arthropoda di air dan didarat (Yasminah, 2007).

Serangga adalah binatang terbanyak di dunia. Serangga mempuyai nama


lain insekta dan hexapoda. Kata insekta atau insect berasal dari kata insecare.
Kata tersebut mengandung dua arti, yaitu in berarti “menjadi” dan secare
berarti “memotong” atau “membagi”. Jadi, insekta berarti binatang yang
mempunyai tubuh terbagi-bagi atau bersegmen-segmen. Sedangkan hexapoda
terdiri dari dua kata hexa dan poda. Hexa mempunyai arti “enam” dan poda
mempunyai arti “kaki” sehingga hexapoda berarti binatang berkaki enam.
Golongan binatang secara berurutan akan terdiri atas beberapa phyila, satu
phyila terdiri atas beberapa kelas, demikian seterusnya yang berarti jumlahnya
akan terus meningkat dalam setiap kelompok (Pracaya, 2004).

Filum Arthropoda memiliki ciri-ciri yang tubuhnya terbagi atas : caput


(kepala), thoraks (dada), abdomen (perut). Pada caput (kepala) mempunyai 1
pasang antenna dan thoraks (dada) dengan 3 pasang kaki biasanya terdapat 1
atau 2 pasang sayap pada tingkat dewasa. Pernapasan dilakukan dengan
menggunakan tabung udara yang disebut trakea, peredaran darahnya terbuka
karena terdapat ada atau tidaknya pembuluh – pembuluh balik dan kapiler.
Oksigen terutama diangkut oleh cabang – cabang trakea ke hampir seluruh
bagian sel di dalam tubuhnya (Rusyana, 2014).

Berdasarkan urain di atas yang melatarbelakangi percobaan ini yaitu


mengenal anggota dari phylum Arhropoda dari kelas insect serta mengenal ciri
kelas yang penting untuk di identifikasi.

2.1 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengenal anggota dari phylum
Arthropoda dari kelas insect serta mengenal ciri kelas yang penting untuk di
identifikasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro yang berarti ruas dan
podos yang berarti kaki. Jadi, Arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas.
Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki yang berbuku-buku.
Hewan ini memiliki jumlah spesies yang saat ini telah diketahui sekitar 900.000
spesies. Hewan yang tergolong arthropoda hidup di darat sampai ketinggian 6.000
m, sedangkan yang hidup di air dapat ditemukan sampai kedalaman 10.000 meter
(Karmana,2007)

Habitat hewan anggota phylum Arthropoda di air dan darat. Di air dapat
mencapai kedalaman lebih dari 6000 meter, sedangkan di darat dapat mencapi
ketinggian lebih dari 7000 meter. Sifat hidup Arthropoda bervariasi, ada yang hidup
bebas, tetapi ada juga yang bersifat parasite pada organisme lain (Erwin, 2012).

Mula – mula perkembangan arhropoda dimulai dari bentuk tubuhnya, yaitu


mulai dengan terbentuknya alat tambahan bagian ventral tubuh, terbentuknya
sepasang mata, dan antenna pada bagian protomium, terjadinya ruas – ruas pada
pasangan kaki, serta terjadinya persatuan antara prostomium dan segmen postoral
membentuk struktur caput yang disebut procephalon, kemudian tiga pasang alat
tubuh berikutnya mengalami modifikasi dimana bentuknya memendek dan hanya
berfungsi untuk mendorong makanan ke mulut, fase semacam ini disebut dengan
fase trilobitamerpha dan fase ini menunjukan perkembangan menuju hewan
Arhropoda (Mochamad, 2004).

Dalam filum arthoropoda terdapat 6 kelas dan salah satunya yaitu kelas
insecta (Heksapoda) atau kelompok hewan yang memiliki jumlah kaki 6. Ciri
khusus serangga adalah dibagian tubuh dibagi menjadi tiga daerah yaitu kepala
(caput), perut (abdomen) dan dada (thoraks). Bagian kepala mempunmyai sepasang
antenna, dada mempunyai tiga pasang kaki dan sepasang sayap. Abdomen
merupakan bagian yang hanya sedikit mengalami perubahan, dan antara lain berisi
alat pencernaan, kaki ataupun sayap dapat hilang sesuai dengan cara kehidupan
khusus (Sastrodihardjo, 1979).

Ciri-ciri umum dari antropoda antara lain mempunyai anggota yang beruas,
tubuhnya bilateral simetris terdiri atas sejumlah ruas-ruas, tubuh dibungkus oleh zat
kitin sehingga merupakan rangka luar, biasanya ruas-ruas terdapat bagian-bagian
yang tidak berkitin sehingga ruas-ruas tersebut mudah digerakkan, sistem saraf
berupa sistem saraf tangga tali, coelom pada hewan dewasa adalah kecil dan
merupakan satu rongga berisi darah dan disebut haemocoel. Klasifikasi antropoda
terdiri dari Class crustae (udang), Class Onychophora (preparatus), Class
Chilopoda (kelabang), Class Diplopoda (kelemayar), Class insecta (belalang),
Class Arachnoidae (laba-laba), Class Pauropoda (pauropus) dan Class Symphyla
(scutigerella) ( Austin,1988).

Pada serangga terjadi tiga pengelompokan segmen yaitu kepala, dada dan
perut yang secara umum satu kesatuan disebut tagma. Prostomium bersatu dengan
kepala sedangkan periprok bersatu dengan perut. Pada tingkatan embrio kepala
teridiri dari dua tagmata yaitu prosomium dengan mata dan antenna ketiga segmen
prosoral tersebut dinamakan juga gnatosefalon dan masing – masing segmen di
namai segmen mandibula, segmen maksila dan segmen labium. Pada dada bagian
ini terdiri dari tiga semit yang disebut dada depan (prothorax), dada tengah
(mesathorax) dan dada belakang (metathorax) (Sastradihardjo, 1979).

Pada ordo Orthopthera mempunyai metamorposa yang bertingkat tipe mulut


unutk menggigit dan mengunyah, ukurannya relative besar, umumnya dengan
sayap depan yang bersifat liat dan disebut juga tegmina, sayap belakang tipis berupa
selaput. Pada waktu beristirahat dilihat lurus di atas badan ditutupi oleh sayap depan
(tegmina). Kaki belakang umumnya panjang juga kuat yang dipakai untuk
meloncat. Misalnya Valanga sp. (belalang) (Rusyana, 2014).
Lepidoptera (lepis = sisik) merupakan metamorfosa sempurna , tipe alat
mulut untuk menghisap, terdapat 2 pasang sayap seperti membran yang ditutupi
oleh sisik yang bertumpuk, Lepidoptera ini termasuk semua jenis kupu – kupu
(Papilinidae sp) (Rusyana, 2014).

Hewan arthropoda ada yang mengalami metemorfosis sempurna,


metemorfosis tidak sempurna, dan ada yang tidak bermetamorfosis. Sistem
reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara [Link] ada juga yang
secara aseksual, yaitu dengan partenogenesis. Partenogenesis adalah pembentukan
individu baru tanpa melalui fertilisasi (pembuahan). Individu yang dihasilkan
bersifat [Link] reproduksi jantan dan betina pada Arthropoda terpisah,
masing-masing menghasilkan gamet pada individu yang berbeda sehingga bersifat
dioseus (berumah dua). Filum arthropoda dibagi menjadi empat kelas, yaitu
Crustcea, Arachnida, Insecta dan Myriapoda (Erwin, 2012).

Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas
(Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang) karena itulah mereka disebut
pula Hexapoda (dari bahasa Yunani yang berarti “berkaki enam”). Serangga
termasuk kedalam kelas insekta (subfilum Uniramia) yang dibagi lagi menjadi
29 ordo, antara lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera (misalnya kumbang),
Hymenoptera (misalnya semut, lebah dan tabuhan) dan memiliki sayap. Serangga
merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. ukuran
serangga relatif kecil dan pertama kali sukses berkolonisasi di bumi (Pracaya,
2004).

Serangga atau insekta merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang
sangat tinggi. Fosil-fosilnya dapat dirunut hingga ke massa fosil raksasa primitif
telah ditemukan. Serangga mampu hidup dimanapun, bahkan ada serangga yang
mampu hidup tanpa oksigen. Hal ini dikarenakan serangga yang mampu
beradaptasi dengan segala kondisi yang membuat variasi morfologi sesuai dengan
cara adaptasi mereka dengan lingkungannya. Ada serangga yang mampu terbang,
serangga yang hidup di air dan banyak yang hidup di terestrial atau di atas tanah
(Slamet, 2008).

Secara morfologi, tubuh serangga dewasa dapat dibedakan menjadi tiga


bagian utama, sementara bentuk pradewasa biasanya menyerupai moyangnya,
hewan lunak beruas mirip cacing. Ketiga bagian tubuh serangga dewasa adalah
kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen) (Fahlevi, 2010).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:


Hari/Tanggal : Rabu, 05 Desember 2018
Waktu : Pukul 13.00 WITA Sampai Selesai.
Tempat : Laboratorium Biologi Dasar Jurusan Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Tadulako.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini sebagai berikut:
1. Papan bedah
2. Pinset

3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu :


1. Kuku-kupu (Morpho Menelaus)
2. Capung (Neutothemis sp.)
3. Belalang (Dissosteira curolma)

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang harus dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Diamati ciri morfologi serangga dan digambarkan bagian-bagiannya
meliputi caput, toraks dan abdomen.
2. Diidentifikasi spesies serangga hingga kategori ordo, serangga lain yang
sudah dikoleksi dan dibuat klasifikasinya
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan

Hasil pengamtan yang diperoleh berdasarkan praktikum yang telah


dilakukan adalah sebagai berikut :

No. Gambar Keterangan

1. Kupu-kupu (Maroko menelaus) a. Antena


Ordo Lepidoptera b. Mata majemuk
(facet)
c. Mata tunggal
(ocellus)
d. Palpus lablalis
e. Probosis
(belalai)
f. Toraks (dada)
g. Abdomen (perut)
h. Caput (kepala)
i. Dasar sayap
j. Kokra
k. Trakonter
l. Femur (paha)
m. Tibia (betis)
n. Tarus (duri)
o. Kaki panjang
p. Kaki pendek
q. Protoraks
r. Mesotoraks
s. Metotoraks
2. Belalang (Discosteira curama) a. Antena
Ordo Orthoptera b. Facet (mata
majemuk)
c. Thoraks (dada)
d. Abdomen
(perut)
e. Femur (paha)
f. Tibia (betis)
g. Tarus (duri)
h. Dorsal valve
i. Ventral valve
j. Ovipositor
k. Caput (kepala)
l. Ocellus (mata
tunggal)
m. Mandibula
n. Labrum
o. Labium
p. Protoraks
t. Mesotoraks
u. Metotoraks
3. Capung (Neutothemis sp.) a. Antena
Ordo Odonata b. Facet (mata
majemuk)
c. Thoraks (dada)
d. Abdomen (perut)
e. Femur (paha)
f. Mulut
g. Femur (paha)
h. Tibia (betis)
i. Tarus (duri)
j. Spor
k. Female
ovipositor
l. Male crospers
m. Ocellus (mata
unggal)
n. Protoraks
o. Mesotoraks
p. Metotoraks
4.2 Pembahasan

Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro yang berarti ruas
dan podos yang berarti kaki. Jadi, Arthropoda berarti hewan yang kakinya
beruas-ruas. Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki yang
berbuku-buku. Hewan ini memiliki jumlah spesies yang saat ini telah diketahui
sekitar 900.000 spesies. Hewan yang tergolong arthropoda hidup di darat
sampai ketinggian 6.000 m, sedangkan yang hidup di air dapat ditemukan
sampai kedalaman 10.000 meter (Karmana,2007)

Dari hasil pengamatan pada praktikum ini, untuk mengetauhi ordo setiap
spesies di lakukan pengamatan pada morfologi setiap spesies yang di dapatkan.
Pada morfologi Lepidopthera (kupu-kupu) terdiri atas caput (kepala) antenna
yang berfungsi sebagai system indra , toraks (dada), sayap untuk membantu
terbang, ocellus yan berfungsi untuk menanggapi perubahan intensitas cahaya,
facet mata majemuk) berfungsi sebagai indra penglihatan, probosis (belalai),
kaki pendek, kaki panjang dan abdomen (perut).

Daur hidup kupu-kupu dimulai dari telur. Telur kupu-kupu biasanya


berada di permukaan daun. Telur kemudian menetas menjadi ulat. Ulat itu akan
makan selama berhari-hari, lama kelamaan ulat akan behenti makan, dan mulai
berubah menjadi kepompong. Masa kepompong ini berlangsung selama
berhari-hari. Jika telah sempurna, kupu-kupu keluar dari kepompong
tersebut,dan menjadi Kupu-kupu dewasa. Yang berkembang biak dengan
bertelur. Dari telur itu, proses metamorfosis dimulai lagi

Kunci identifikasi pada Ordo Lepidoptera (kupu–kupu) di mulai dari 1a-


2b-5b-7b-10a dengan keterangan sebagai berikut :
1a : Serangga bersayap
2b : Sayap 2 pasang
5b : Sayap depan tidak seperti di atas
7b : Kedua pasang saya sama strukturnya
10a : Sayap depan sebagian atau seluruhnya ditututpi oleh sisik yang kecil–
kecil (Ordo Lepidopera)

Pada morfologi Orhtoptera (belalang) terdiri atas antenna sebagai system


indra, ocellus (mata tunggal) yang berfungsi untuk menganggapi perubahan
intensitas cahaya, facet (mata majemuk) yang berfungsi sebagai indra
penglihatan, femur (paha), tibia (betis), tarus (duri), toraks (dada) dibedakan
menjadi dada depan (prothorax), dada tengah (mesathorax) dan dada belakang
(metathorax), abdomen (perut), ovipositor yang berfungsi sebagi tempat
penyimpana telur dan sayap.

Metamorfosis belalang hanya melalui 3 tahapan utama, yaitu fase telur, fase
nimfa, dan fase belalang dewasa

Kunci determinasi pada belalang di mulai dari 1a-2b-5b-7a-b8-9b dengan


keterangan sebagai berikut :
1a : Serangga bersayap
2b : Sayap 2 pasang
5b : Sayap depan tidak seperti di atas
7a : Kedua pasang saying tidak sama strukturnya
8b : Sayap depan tidak seperti di atas
9b : Sayap depan seperti kulit seluruhnya alat mulut pengunyah (Ordo
Orthoptera)

Pada ordo Odonata (capung) terdiri atas caput (kepala), antena yang
berfungsi sebagai alat komunikasi serta sebagi sistem indra, sayap yang
berfungsi untuk terbang, segmen, kaki untuk menumpang dan ekor, serta toraks
(dada) dibedakan menjadi dada depan (prothorax), dada tengah (mesathorax)
dan dada belakang (metathorax) abdomen (perut), tarus (duri), tibia (bets) dan
femur (paha).
Siklus hidup capung, dari telur hingga mati setelah dewasa, bervariasi
antara enam bulan hingga maksimal enam atau tujuh tahun. Capung meletakkan
telurnya pada tetumbuhan yang berada di air. Ada jenis yang senang dengan air
menggenang, namun ada pula jenis yang senang menaruh telurnya di air yang
agak deras. Setelah menetas, tempayak (larva) capung hidup dan berkembang
di dasar perairan, mengalami metamorfosis menjadi nimfa, dan akhirnya keluar
dari air sebagai capung dewasa

Kunci determinasi pada capung di mulai dari 1a-2b-5b-7b-10b-11b-12b-


13a-14a dengan keterangan sebagai berikut :
1a : Serangga bersayap
2b : Sayap 2 pasang
5b : Sayap depan tidak seperti di atas
7b : Kedua pasang sayap sama strukturnya
10b : Sayap transparan atau ditutup oleh rambut – rambut halus
11b : Sayap tidak seperti di atas
12b : Alat mulut tidak menusuk – mengisap, alat mulut normal terletak pada
bagian depan dari kepala
13a : Antenna kecil seperti bristle
14a : Sayap depan dan belakang kira – kira ukurannya sebanding ujung
abdomen tanpa filament terminal (Ordo Odonata)
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamtan dan pembahasan dapat di simpulkan :


1. Pada morfologi Lepidopthera (kupu kupu) terdiri atas antena, toraks (dada)
dibedakan menjadi dada depan (prothorax), dada tengah (mesathorax) dan
dada belakang (metathorax), sayap atas, ocellus (mata tunggal), facet (mata
majemuk), probosis, kaki pendek, kaki panjang, perut (abdomen) dan sayap.
Daur hidup kupu-kupu dimulai dari telur. Telur kupu-kupu biasanya berada
di permukaan daun. Telur kemudian menetas menjadi ulat. Ulat itu akan
makan selama berhari-hari, lama kelamaan ulat akan behenti makan, dan
mulai berubah menjadi kepompong. Masa kepompong ini berlangsung
selama berhari-hari. Jika telah sempurna, kupu-kupu keluar dari
kepompong tersebut,dan menjadi Kupu-kupu dewasa. Yang berkembang
biak dengan bertelur. Dari telur itu, proses metamorfosis dimulai lagi.
Kunci identifikasi pada kupu–kupu di mulai dari 1a-2b-5b-7b-10a
2. Pada morfologi Orhtoptera (belalang) terdiri atas antena, ocellus (mata
tunggal), facet (mata majemuk), femur, tibia, tarus, toraks (dada) dibedakan
menjadi dada depan (prothorax), dada tengah (mesathorax) dan dada
belakang (metathorax), abdomen, ovipositor. Sayap. Metamorfosis belalang
hanya melalui 3 tahapan utama, yaitu fase telur, fase nimfa, dan fase
belalang dewasa.
3. Pada morfologi ordo Odonata (capung) terdiri atas kepala (caput), antena
yang berfungsi sebagai alat komunikasi dengan sesama, sayap yang
berfungsi untuk terbang, segmen, kaki untuk menumpang dan ekor, serta
abdomen, tibia dan femur. Siklus hidup capung, dari telur hingga mati
setelah dewasa, bervariasi antara enam bulan hingga maksimal enam atau
tujuh tahun. Capung meletakkan telurnya pada tetumbuhan yang berada di
air. Ada jenis yang senang dengan air menggenang, namun ada pula jenis
yang senang menaruh telurnya di air yang agak deras. Setelah
menetas, tempayak (larva) capung hidup dan berkembang di dasar perairan,
mengalami metamorfosis menjadi nimfa, dan akhirnya keluar dari air
sebagai capung dewasa. Kunci determinasi pada belalang di mulai dari 1a-
2b-5b-7a-b8-9b

5.2 Saran

Saran saya pada praktikum kali ini adalah memperjelas penjelasan tentang
insecta terutama bagian morfologi serta fungsi dari bagiannya, agar praktikan
dapat dengan mudah mempelajairnya.
DAFTAR PUSTAKA

Erwin, Mulyo. 2012. Binatang Serangga. Jakarta : UIP.

Kastawi, Y., dkk. 2003. Zoologi Invertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang.

Mochamad H. Udit. Rully R. 2004. Biologi insecta entomologi. Graha ilmu.


Bandung.

Pracaya. 2004. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.

Rusyana. A. 2014. Zoologi Invertebrata. Bandung: Alfabeta

Sasbrodihardjo, 1979. Pengantar Entomologi Terapan Institut Tekonologi


Bandung. Bandung: ITB.

Slamet, Adeng. 2008. Zoologi Vertebrata. Indralaya: Laboratorium biologi


program studi pendidikan biologi FKIP UNSRI.
LEMBAR ASISTENSI

NAMA : RISKA SEPTIANA


STAMBUK : G 401 1 017 075
KELOMPOK : VI (ENAM)
ASISTEN : ALMAIDA

NO. HARI/TANGGAL KOREKSI PARAF


LAPORAN PRAKTIKUM
BIOSISTEMATIKA HEWAN I

MODUL II
“ARTHROPODA”
(Insecta)

DISUSUN OLEH:

NAMA : RISKA SEPTIANA


STAMBUK : G 401 17 075
KELOMPOK : VI (ENAM)
ASISTEN : ALMAIDA

LABORATORIUM BIOLOGI DASAR


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
DESEMBER, 2018

Anda mungkin juga menyukai