0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan23 halaman

SOP Distilasi H2O2 di PT Peroksida

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut berisi laporan tentang Standart Operating Procedure (SOP) unit distilasi di PT Peroksida Indonesia Pratama; (2) Unit distilasi berfungsi untuk memperkonsentrasikan larutan hidrogen peroksida 30-32% menjadi 50-51% atau 60-61%; (3) Dokumen tersebut menjelaskan langkah-langkah start up, pengoperasian, dan shut down unit distilasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan23 halaman

SOP Distilasi H2O2 di PT Peroksida

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut berisi laporan tentang Standart Operating Procedure (SOP) unit distilasi di PT Peroksida Indonesia Pratama; (2) Unit distilasi berfungsi untuk memperkonsentrasikan larutan hidrogen peroksida 30-32% menjadi 50-51% atau 60-61%; (3) Dokumen tersebut menjelaskan langkah-langkah start up, pengoperasian, dan shut down unit distilasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN TUGAS KHUSUS

STANDART OPERATING PROCEDURE (SOP)


UNIT DISTILSI
PT PEROKSIDA INDONESIA PRATAMA

DISUSUN OLEH :

NAMA : Nur Afni Syarifatul Khoir


NIM : I8316040

PROGRAM STUDIDIPLOMA III TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
NIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses produksi hidrogen peroksida (H2O2) di PT Peroksida Indonesia
Pratama menggunakan proses autooksidasi antrakuinon yang terdiri atas tiga
proses utama yaitu proses hidrogenasi, oksidasi, dan ekstraksi. Tahapan tambahan
yang dilakukan PT Peroksida Indonesia Pratama adalah purifikasi dan distilasi.
Adanya tahapan tambahan purifikasi dan distilasi akan menghasilkan H2O2dengan
kandungan Total Carbon yang relatif rendah dan konsentrasi yang cukup tinggi.
Tahap distilasi merupakan tahap yang bertujuan untuk menghasilkan H2O2
dengan konsentrasi yang lebih pekat. Larutan H2O2 30-32 % -b yang berasal dari
Unit Purifikasi dipekatkan pada unit ini menadi larutan H2O2 50-51 %-b atau 60-
61 %-b sesuai dengan kebutuhan. Pemekatan berlangsung dalam kolom distilasi
(#1501) dengan sistem distilasi vakum pada tekanan sekitar 75 mmHg untuk
menghasilkan Larutan H2O2 30-32 % -b dan tekanan sekitar 110 mmHg untuk
menghasilkan H2O2 60-61 %-b. Distilasi harus berlangsug dengan tekanan dan
temperatur rendah karena laju dekomposisi H2O2 meningkat seiring dengan
peningkatan temperatur.
Unit distilasi merupakan unit yang beroperasi dengan kondisi vakum yaitu
kondisi tekanan dibawah kondisi atmosferis agar air dalam larutan H2O2 menguap
dalam temperatur yang lebih rendah sehingga didapatkan larutan H2O2 dengan
konsentrasi yang lebih pekat. Kondisi vakum dihasilkan oleh sistem vakum yang
terdiri dari dua buah kolom barometrik (#1556 dan #1558). Setelah tercapai
kondisi vakum, kemudian memasukkan refluks PW selanjutnya larutan H2O2 dari
unit purifikasi dialirkan ke vaporizer untuk mengubah sebagian larutan H2O2
menjadi gas yang kemudian masuk ke kolom #1501 untuk dicairkan .
Melihat pentingnya unit distilasi dalam pembuatan Hidrogen peroksida,
maka pengoperasian unit distilasi harus dilakukan dengan tepat sesuai Standart
Operating Procedure (SOP) yang telah ada, serta didukung oleh pengalaman
sehingga dapat menghasilkan produk Hidrogen peroksida sesuai dengan yang
diinginkan.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana Standart Operating Procedure (SOP) unit distilasi agar proses
produksi dapat berjalan dengan baik sesuai dengan standar yang telah ditentukan ?
C. Tujuan
Mengetahui cara start up, pengopersian, dan shut down dari unit distilasi.
D. Manfaat
Manfaat dari penulisan tugas khusus ini adalah Penulis mendapatkan
pengetahuan yang lebih luas tentang langkah start up, pengopersian, dan shut
down dari unit distilasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Distilsi
Distilasi adalah suatu metode untuk memisahkan larutan ke dalam masing-
masing komponen berdasarkan perbedaan titik didih komponen zatnya. Distilasi
dapat digunakan untuk memurnikan senyawa-senyawa yang mempunyai titik
didih berbeda sehingga dapat menghasilkan senyawa dengan kemurnian tinggi.
Proses distilasi meliputi penguapan larutan yang diikuti dengan pendinginan dan
pengembunan. Komponen yang mempunyai titik didih lebih rendah akan
menguap terlebih dahulu sehinggaberada dalam fase uap, sedangkan komponen
yang mempunyai titik didih lebih tinggi berada dalam fase cair. Berdasarkan
perbedaan densitas, fase cair akan berada pada bagian bawah kolom distilasi dan
fase uap akan berada pada bagian atas kolom [Link] alir proses Unit
Pemekatan atau Distilasi (#1500) dapat dilihat pada Gambar berikut

Larutan H2O2 30-37%-berat yang berasal dari unit purifikasi dipekatkan menjadi
larutan H2O2 50,3-66%-berat pada unit distilasi. Pemekatan berlangsung dengan
sistem distilasi vakum pada tekanan 90 mmHg dengan temperatur 60ºC. Distilasi
berlangsung dengan tekanan dan temperatur rendah karena laju dekomposisi H2O2
meningkat seiring dengan peningkatan temperatur.
B. Umpan Larutan H2O2
Larutan H2O2 30-37%-berasal dari unit purifikasi dialirkan dari tangki
#1422 dengan laju alir 4 m3 /jam ke vaporizer #1531 yang berbentuk shell and
tube. Pada bagian tube, larutan H2O2 dipanaskan oleh kukus 3S hingga 60°C yang
mengalir pada bagian shell sehingga terbentuk dua fasa uap dan cair dengan
perbandingan sekitar 20:80. Selama penguapan diharapkan kotoran-kotoran lain
terutama pelarut yang masih terbawa ikut teruapkan seperti halnya dengan air dan
terhisap oleh sistem vakum. Campuran fase uap dan cair dari vaporizer #1531 ini
kemudian masuk melalui bagian bawah kolom #1501.
C. Sistem Vakum
Sistem vakum yang terdiri dari dua buah steam ejector #1557 dan #1559
dengan tenaga kukus 20S (steam 20 kg/cm2G) dan dua buah kolom barometrik
#1556 dan #1558 berfungsi mengisap uap air dan gas lainnya yang teruapkan di
vaporizer #1531. Kondensat yang terbentuk pada kolom barometrik dialirkan ke
#2007 (reverse CW pit) untuk dikirimkan ke menara pendingin/cooling water.
D. Umpan Pure Water
Pure wateryang digunakan sebagai refluks masuk dari bagian atas kolom
#1500 masuk dengan laju alir 1 m3 /jam. Pure water didistribusikan secara merata
di bagian atas structured packing agar dapat kontak dengan uap H2O2 di sepanjang
dinding packing.
E. Kolom Distilasi
Kolom ini menggunakan packing jenis structured packing aluminium yang
berfungsi untuk menghambat laju alir uap H2O2 dan memperluas bidang kontak
antara uap H2O2 yang menempel pada packing dengan PW yang mengalir dari
bagian atas kolom distilasi.
F. Produk Larutan H2O2
Larutan H2O2 keluar dari bagian bawah kolom #1501 dengan konsentrasi
50,3-66%-berat dan temperatur sekitar 60°C. Temperatur tersebut memungkinkan
adanya H2O2 yang terdekomposisi menjadi H2 dan O2. Oleh karena itu, larutan
H2O2 ini didinginkan terlebih dahulu oleh cooler #1533 untuk memisahkan gas
O2 hasil dekomposisi sebelum ditampung dalam tangki #[Link] O2yang
terpisahkan di tangki #1523 dihisap melalui pipa yang dihubungkan dengan
sistem vakum. Produk larutan H2O2 dialirkan dari tangki #1523 ke filter #1534
(product filter) untuk menyaring kotoran terutama unsur logam yang mungkin
masih terbawa. Aliran dari #1523 ke filter #1534 dikontrol oleh LICA-1523
dengan menjaga level cairan tangki #1523 pada posisi 50%. Bagian atas dari
product filter #1534 dihubungkan dengan tangki #1523 untuk mengirim gas O2
hasil dekomposisi yang terbawa. Larutan H2O2 yang memiliki konsentrasi 50,3-
66%-berat keluar dari filter #1543 dan selanjutnya dialirkan ke Unit
Pengisian/Filling (#2500).
BAB III
METODOLOGI

A. Pengumpulan data
A. 1 Pengumpulan data primer
Data primer yaitu data yang diproleh dengan mengadakan pengamatan
langsung dari sumbernya. Data yang diambil meliputi :
a. Bagian CCR (Central Control Room)
Berupa data flow chart unit distilasi, P-14J ( Prosedur start up dan
Prosedur shut down normal #1500)
b. Penjelasan dari trainer tentang unit distilasi
A.2 Pengumpulan data sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari lapangan,
melainkan studi literatur dari buku serta sumber lain yang berhubungan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Start up
 General start up
a. Jaga sistem vakum dalam kondisi stabil
b. Atur flow rate FIC-1501-2 (PW refluks)
c. Start up #1412 (pompa H2O2)
d. Atur flow rate secara terus menerus pada
- FRCQ 1501-1 (Purified H2O2 solution)
- FIC 1531 (3S = 3 Kg/Cm2g steam)
e. Atur level H2O2 pekat pada #1523 (H2O2 intermediate tank)
f. Start up #1513 dipekatkan
Kondisi operasi nornal seksi #1500 adalah sebagai berikut :
Kondisi operasi rate 143%
N0 Item range aktual Satuan
1 Flow rate H2O2 yang telah 2,2-5,0 4,8 m3/hr
dipurifikasi FRCQ 1501-1
2 PW flow rate (PW refluk) 0,2-1,5 H2O2 50% m3/hr
FIC 1501-2 = 0,99
H2O2 60%
= 1,5
3 3S flow rate FIC 1531 1,0-5,0 H2O2 50% ton/hr
= 2,5
H2O2 60%
= 3,6
4 PIA 1531 (vaporizer outlet) 40~150 H2O2 50% mmHg
= 75 abs
H2O2 60%
=100
5 TRA 1531 (vaporizer 65~70 H2O2 50% ºC
outlet) = 58
H2O2 60%
= 74
Sumber : Laboratorium PT PIP 28 Februari 2019 dan 07 Maret 2019
1. PW feed
a. Buka valve 4 (FIC 1501-2 CV upstream valve)
b. Atur PW flow rate (FIC 1501-2) (sesuai dengan data pada tabel diatas)
dengan membuka FIC 1501-2 ke dalam mode “MAN” secara berangsur-
angsur
c. Ubahlah FIC 1501-2 dari mode “MAN” ke dalam mode “AUTO”
2. H2O2 dan feed 3S
a. Ubah pilihan SW RV-1531 dari “OFF” ke “MAN”
b. Start up #1412 dan buka aliran valve 1
c. Buka valve 31 (FIC-1531 CV upstream valve)
d. Buka FRCQ 1501-1 CV (H2O2 feed) ke dalam mode “MAN”
e. Buka FIC-1531 CV (3S feed) secara berangsur-angsur ke dalam mode
“MAN”
f. Setelah kondensat steam turun dari #1531, tutup valve 34 (by-pas valve of
steam trap for #1531)
g. Atur flow rate H2O2 secara terus menerus (FRCQ-1501-1) dan flow rate
3S (FIC-1531) seperti yang telah diperintahkan
Catatan =
dalam beban operasi 143%, flow rates sebagai berikut :
H2O2 : kurang lebih 4,8 m3/hr
3S : 2,5 ton/hr (utuk menghasilkan H2O2 50%)
: 3,6 ton/hr (utuk menghasilkan H2O2 60%)
h. Ubah mode FRCQ 1501-1 dan FIC 1531 dari mode “MAN” ke dalam
mode “AUTO”
i. Ubah pilihan SW-RV 1531 dari “MAN” ke “INTELOCK”
3. Keluaran H2O2
3.a Persiapan
Sebelumnya, H2O2 pekat diumpankan ke #2521-1 atau #2521-2 periksa
sebagai berikut :
1. #2521-1 atau -2 harus mempunyai space untuk menerima H2O2 pekat
2. Pilih tangki #2521-1 atau #2521-2
3. Periksa level, temperatur dan konsenrasi H2O2 yang tersisa di dalam
tangki yang telah dipilih
4. Hitung volume dan jumlah sisa H2O2
5. Catat data 2,3, dan 4 diatas
Contoh :
Date Tank No Level Vol Temp Conc Density H2O2
Xx 1 0,41 m ...m3 30ºC 52,1 wt % 1,2 kg/m3 ...kg
Catatan =
Volume = (luas alas) x (level) (m3)
Jumlah sisa H2O2 =
(volume) (m3) x (density)(kg/m3) x (konsentrasi/100)(kg)
3.b Keluaran H2O2
1. Catat data FRQ-1513 (counter) sebelum mengeluarkan H2O2
2. Ketika level #1523 menjadi 30%, start up #1513 dan buka valve 5 atau
6 secara berangsur-angsur
Catatan =
Ketika start up, sifat fisik H2O2 berbeda dari operasi normal dan H2O2
biasanya dialirkan keluar ke #1422. Perhatikan level #1421, #1422,
dan #1523. Konsentrasi H2O2 di dalam #1422 harus dijaga dibawah
33,0 wt %
3. Atur level yang diijinkan menggunakan LICA-1523
4. Ubahlah LICA-1523 dari mode “MAN” ke “AUTO”
5. Atur FI-1513 kira-kira 3,0 m3/hr dengan membuka valve 7 (DR-1513
by-pass valve)
6. Periksa data densitas antara DR-1513 dengan actual valve. Actual
valve biasanya diukur menggunakan Hydrometer
7. Setelah densitas DR-1513 menjadi seperti yang diinginkan dan tidak
jauh berbeda dengan actual valve, rekam kembali data FRQ-1513
(Counter) dan ubahlah line dari FRQ-1513 → #1422 ke FRQ 1513 →
#2521 dengan mengoperasikan valve 22 dan 23
3.c Switch tanki
1. Ketika level tanki penerimaan mencapai upper limit, switch tanki ke
stand-by dengan mengoperasikan valve 2501 dan 2502
Catatan =
- Switch #2521 biasanya dilakukan saat pukul 12.00 tengah malam
jadi perhitungan daily production dapat dibuat dengan mudah
- Tanki stand-by harus mempunyai space kapasitas yang cukup
untuk menerima H2O2 pekat
- Valve 2501 dan 2502 diinstal di lapangan #2500
4. Penambahan Stabilizer
a. Setelah switch tanki, baca dan rekam level LI-2521 (dial gauge type) tanki
yang menerima H2O2
b. Hitung seluruh H2O2 di dalam tanki berdasarkan prosedur yang sama yang
ditunjukkan oleh 4-a “Persiapan”
c. Hitung volume H2O2 berdasarkan rumus berikut
(volume) (m3)
= (seluruh volume)-(volume sisa sebelum menerima H2O2)
d. Hitung jumlah stabilizer yang akan ditambahkan ke dalam tanki
AN =
HP = (Lihat data tabel kontrol proses)
NAP =
e. Larutkan stabilizer dengan PW dalam plastic bucket kemudian tuangkan
ke dalam tanki
Catatan =
Pakailah face shield, rubber gloves, dll ketika melakukan pekerjaan ini.
5. Agitasi (Mixing)
a. Putar float LI-2521 (dial gauge type)
b. Supply PA ke #2521 dengan rate kurang lebih 100 m3/hr kurang lebih 1
jam dengan mengoperasikan valve 2552 atau 2554
Catatan =
- PA yang digunakan untuk agitasi harus bebas dari material asing untuk
mencegah dekomposisi H2O2
- Flow rate harus diatur oleh FI-2521. Jangan mensuplai PA terlalu
banyak yang akan menyebabkan IA kekurangan/tekanan menurun
c. Stop PA ke #2521 kemudian ambillah sampel “L-1” dan “L-2”
d. Putarlah ke bawah float LI-2521 1 jam setelah stop suplai PA
6. Perhitungan jumlah produksi
a. Hitunglah seluruh jumlah H2O2 di dalam tanki berdasarkan prosedur yang
sama yang ditunjukkan dalam 4 a “Persiapan”
b. Hitunglah jumlah H2O2 yang diproduksi berdasarkan rumus :
(jumlah produksi H2O2)-(jumlah sisa H2O2 sebelummenerima H2O2)
c. Rekam di “daily report of production”

B. Continous Operation
 . General Continous Operation
Inti dari operasi yang stabil di seksi #1500 sebagai berikut :
a. Kendalikan konsentrasi H2O2 pekat
b. Perhatikan untuk mengoperasikan kondisi #1531 (vaporizer)
c. Perhatikan pressure drop melalui #1543 (product filter = filter untuk H2O2
pekat)
d. Perhatikan dekomposisi H2O2
e. Pastikan pompa berjalan dalam kondisi yang baik
f. Pastikan instrumen berfungsi dengan baik
Catatan =
Untuk keselamatan pakailah face shield, rubber gloves, dll dalam
pekerjaan di seksi ini
Sub-section ini menunjukkan bagaimana mempertahankan kondisi operasi
yang tepat.
Di seksi ini digunakan singkatan sebagai berikut :
C = Corrective action
I = Interval
M = Method
D = Deviation
J = Judgement
P = Purpose
1. Filter #1543
Deskripsi
P Untuk menghilangkan material asing dari H2O2 pekat
J Ketika perbedaan tekanan #1543 menjadi lebih dari 1 kg/cm2
Catatan =
(Beda tekan #1543)
= inlet~out pressure
M 1. switch #1543 ke stand-by
2. setelah switching #1543 yang sebelumnya H2O2 di lined-up,
filter harus segera diencerkan menggunakan PW
Dalam filter #1543-1, pencucian dilakukan sebagai berikut
a. Tutup valve 10 dan 11 (in/out valve #1543-1)
b. Tutup valve 13 (#1543-1 vent valve)
c. Letakkan plastic bucket dibawah drain valve 15
d. Buang sisa larutan H2O2 dari #1543-1 dengan
mengoperasikan valve 15 dan 14
3. Gantilah catridge filter yang harus diturunkan sebelum
digunakan, mengunakan surfaktan “scourol”
Catatan =
Untuk keselamatan, pakailah face shield, rubber gloves, dll
ketika switching #1543 dan mengganti elemen filter
2. Memeriksa dekomposisi H2O2
Deskripsi
P Untuk memeriksa stabilitas konsentrasi H2O2
J 1. Flow H2O2 pekat dari #1501 ke #1523 fluktuatif dan level #1523
juga demikin fluktuatif
2. TRA-1501 (temperature of the lower part of #1501) meningkat
3. TRA-1523 meningkat
4. Jumlah bubbles (yang dihasilka dari dekomposisi H2O2) yang
SG ditetapkan ke #1543 vent line meningkat
5. pH H2O2 pekat meningkat
6. Simplified Stability (SS) H2O2 pekat menjadi berkurang
Catatan =
SS berdasarkan sampel “J” yang ditunjukkan dalam chapter 3
“Chemical Control Manual”
M Masukkan stabilizer ke #1501 dengan membuka valve 8 (#1501
stabilizer inlet valve). Kondisi yang lebih detail akan diinstruksikan oleh
manajer produksi

3. Pompa
a. Berdasarkan vendor’s instruction/manual book
b. Pastikan sebagai berikut :
- minyak pelumas
- tidak ada kebisingan yang luar biasa
- tidak ada kebocoran melalui mechanical seal
- kebocoran dibawah spesifikasi pembuatan
4. instrument
a. Berdasarkan vendor’s instruction/manual book
b. Periksa panel data dengan data, data operasi lain, analisis, dll secar periodik

C. Shut down
 General Shut down
a. Bila LIA-1422 = 20% stop pompa 1412. Kemudian buka PW feed ke
#1531
b. Bila DR-1501 telah turu ke 1.170, switch transfer H2O2 dari #2521-1/2 ke
#1422 sirkulasi
c. Bila DR-1501 telah turun ke 1.110, stop suplai steam 3S. Keep PW refluk
d. Bila DR-1501 telah turun ke 1.000, stop PW feed dan 1316-2, lalu stop
PW refluk. Stop #1513 bila LICA-1523 < 30%
e. Stop stop CW suplai ke barometik kondenser, stop# 2017. Buka vacuum
breaker sehingga tekanan menjadi atmosferik
f. Lakukan pencucian lokal di #1543 dengan PW. Buka venting valve #1543
g. Periksa line setelah seksi 1500 shut down
Catatan =
Untuk keselamatan, pakailah face shield, rubber gloves, helmet, dll ketika
melakukan pekerjaan ini di lapagan
1. Stop keluaran H2O2 ke #2521
a. Kecilkan hold up di #1422 dan #1523
b. Ketika densitas DR-1513 menjadi rendah *1), rekam data FRQ-1513
(counter) dan ubah line dari FRQ-1513→#2521 ke FRQ-1513→#1422
dengan mengoperasikan valve 22 dan 23
2. Lanjutkan distilasi
pada normal shut down, distilasi dilanjutkan sampai konsentrasi H2O2 di
#1422 (tanki H2O2) mencapai level tertentu*1)
3. Ubahlah line dari H2O2 feed ke PW feed
Setelah konsentrasi H2O2 di #1423 telah mencapai level diatas yang
disebutkan *1), operasikan sebagai berikut :
a. Ubahlah FRCQ-1501-1 dari mode “AUTO” ke mode“MAN”
b. Stop feed H2O2 denga menutup valve 2 dan start feed PW dengan
membuka valve 25 (FRCQ-1501-1 Pstream Valve) secara berangsur-
angsur
- Setelah operasi selesai, tutup #1412 delivery valve 1 and stop #1412
c. Aturlah flow rate FRCQ-1501-1 sampai kira-kira 1-2 m3/hr dengan
mengoperasikan FRCQ-1501-1 CV
d. Aturlah flow rate FIC-1531 sampai kira-kira 1,000-2,000 kg/hr dengan
mengoperasikan FIC-1531 CV
Catatan =
*1) Kondisi ini akan diarahkan oleh “manajer produksi”. Konsentrasi
H2O2 di dalam #1422 harus dijag dibawah 2 wt %.
e. Lanjutkan air distilasi untuk beverapa saat *2)
Cataan =
*2) Kodisi ini akan ditentukan saat precommissioning
4. stop supply 3S dan feed PW
a. Ubah FIC-1531 dari mode “AUTO ke mode “MAN”
b. TutupFIC-1531 CV dan valve 2 (FIC-1531 CV upstream valve)
c. stop feed PW dengan menutup valve 25
5. stop refluks PW
a. Jika stabilizer sedang diumpankan, stop dengan dengan menutup valve 8
sebelum stop refluks feed (PW )
b. Ubah FIC-1501-2 dari mode “AUTO” ke mode “MAN”
6. stop Keluaran H2O2 ke #1422
a. Ubah LICA-1523dari mode “AUTO” ke mode “MAN” kemudian keluarkan
H2O2 dari #1523 (H2O2 intermediate tank) sebanyak mungkin
Catatan =
Setelah distilasi air, konsentrasi H2O2 ini juga sangat rendah
b. Tutup LICA-1523 CV
c. Tutup delivery valve 5 dan 6 dan stop #1513
d. Rekam data FRCQ-1513
7. Stop vacuum unit
a. Stop suplai 20S ke #1557 dan #1559 (ejector) dengan menutup masing-
masing valve 36 dan 37
b. Hentikan vakum dengan membuka valve 39 (vacuum break valve pada titik
sampel)
c. Stop suplai CW ke #1556 dan #1558 (Barometric Condenser) dengan
menutup masing-masing valve 55 dan 56 secara berangsur-angsur
perhatikan level #2007
d. tutup #2017 secara berangsur-angsur dengan menutup delivery valve 57
dan minimum flow valve 52 kemudian stop #2017 (CW returning pum)
8. Stop utilitas
a. Stop suplai CW ke #1533
9. Treatment setelah Shut down
9.a Pengenceran H2O2 dengan PW
untuk shut down berkepanjangan, sisa H2O2 di #1523, #1531, #1543,
dan line pipa harus diencerkan dengan PW. Pada kasus ini PW disuplai
dengan mngoperasikan valve 9, 25, 12 dan/atau 18
9.b Membuang sisa larutan H2O2 di #1531
Buang sisa larutan H2O2 dari #1531 dengan membuka drain valve 9
untuk mencegah dekomposisi H2O2 dan ganti elemen filter, sisa
pengenceran H2O2 di #1543 harus di keluarkan pertamakali
9.c Membuang pengenceran H2O2 di #1543
Prosedur penggantian filter dijelaskan dalam B.1 Filter #1543
Catatan =
Untuk mencegah tekanan naik yang disebabkan oleh dekomposisi sisa
H2O2

C. Safety in Operation
1. Penanganan H2O2
a. Ketika menangani #1543 (Product filter) dan pompa, yakinlah untuk
menggunakan protector untuk mencegah cedera kimia seperti kehilangan
penglihatan
b. Jika dengan beberapa perubahan cairan H2O2 terpisah dengan air lebih dari
15 menit, segera dapatkan perawatan medis.
- Terutama hati-hatilah dengan mata
c. Tumpahan H2O2 diatas lantai harus dibersihkan dengan air
2. Penanganan HNO3
a. Ketika menangani cairan HNO3 yakinlah untuk memakai protectors untuk
mencegah insiden seperti kebakaran bahan kimia
b. Untuk keselamatan, pakailah face shield, rubber gloves, dll.
3. Dekomposisi H2O2
Kemungkinan dekomposisi H2O2 mengalami kenaikan ketika :
a. Konsentrasi cairan H2O2 tinggi
b. Temperatur cairan H2O2 tinggi
c. Cairan H2O2 terkontaminasi logam berat seperti Fe (Iron), Cr (Chrom), Cu
(Copper), dll.
d. pH cairan H2O2 tinggi
e. Peralatan yang berhubungan dengan cairan H2O2 tidak besih
Hilangkan faktor-faktor tersebut untuk meminimalisir terjadinya
dekomposisi H2O2
4. Pencegahan dekomposisi dalam ruang tertutup
Seperti yang telah dijelaskan diatas, H2O2 juga terdekomposisi dan
menghasilkan gas O2 sedikit demi sedikit. Jika hal ini terjadi pada ruang yang
tertutup, tekanan pada ruang tertutup akan mengalami kenaikan dan dapat
mengarah pada terjadinya ledakan.
Sebagai contoh rangkaian tanki 1-pompa-tanki 2 harus ditutup dan valve lain
harus terbuka penuh, yang ditunjukkan pada gambar berikut :

D. Fresh Product Treatment (Intermediate Product)


 General
Prosedur ini menjelaskan dan mengaplikasikan treatmen fresh product yang
harus diperiksa kualitas untuk seksi filling sebagai customer. Fresh product
dari seksi proses dikirim ke tanki produk #2521-1/-2
Prosedur :
a. Switch tanki produk setiap tengah malam (00.00 a.m)
b. Tambahlah stabilizer jika perlu
c. Mix fresh product menggunakan PA
d. Ambillah sampel untuk analisis oleh seksi analisis
e. Jika hasil analisi “OK” informasikan ke seksi filling untuk mengirimkan
fresh product dari #2521 -1/-2 tanki #2521-5, #2521-6, #2521-7, #2521-8
E. Prosedur Pengendalian Proses
Sampel Parameter Range Penyebab Tindakan perbaikan
normal penyimpangan
J H2O2 50,3~66,0 [Link] H2O2, 1. Atur umpan H2O2,
wt-% steam, dan steam, dan PW
refluk tidak refluks ke #1501
sesuai
[Link] 1. Cek temperatur di
H2O2 #1531, #1501, dan
#1533
2. Cek #1543
3. Cek flow
stabilizer dan
komposisinya
Ph 1,1~2,5 1. Flow stabiliser 1. Cek stroke pompa
ke #1501 kurang #1316-2
2. Komposisi 1. Cek komposisi
stabiliser tidak stabiliser
sesuai
3. Kualitas PW 1. Cek kondisi PW
rendah (pH>6) unit
SS 0,4~4,0 [Link] stabiliser 1. Cek stroke pompa
mL ke#1501 kurang #1316-1
O2/10'
2. Komposisi 1. Cek komposisi
stabiliser tidak stabiliser
sesuai
3. Temperatur di 1. Cek laju alir steam
#1531, #1501 2. Cek vakum di
naik #1501
4. Kontaminasi 1. Clean up seksi
seksi #1500 #1500
2. Cek #1543
TC 10~100 [Link] H2O2 1. Cek TC H2O2 di
mg/L di seksi #1400 sampel G
tidak sempurna
K H2O2 <0,1 wt% [Link] PW refluks 1. Naikkan flow PW
kurang dngan FIC-1501-2
[Link] yang 1. Turunkan flow
berlebihan steam ke #1531
3. #1501 1. Turunkan laju alir
beroperasi diatas umpan H2O2 ke
kapasitas #1501
maksimum
4. Tekanan vakum 1. Cek PIA-1531 dan
di #1501 terlalu PGV-1501
rendah 2. Naikkan tekanan di
#1501 dengan
mengatur steam ke
ejector dan CW
barometrik

Data Kontrol proses


No Item Range Aktual Satuan
1 FRCQ-1501-1 (umpan 2,2-5,0 4,8 m3/h
H2O2)
2 FIC-1531 (flow steam) 1,0~5,0 H2O2 50% = 2,5 ton/h
H2O2 60% = 3,6
3 FIC-1501-2 (PW refluks) 0,2~1,5 H2O2 50% = 0,99 m3/h
H2O2 60% = 1,5
4 TRA-1531 (Temperatur 40-80 H2O2 50% = 57,9 ºC
5 vaporizer) H2O2 60% = 74,2
- TH-1501-1 35~75 H2O2 50% = 51
H2O2 60% = 68
- TH-1501-2 35~67 H2O2 50% = 45
H2O2 60% =50,5
-TH-1501-3 35~60 H2O2 50% = 44,5
H2O2 60% = 47
- TH-1501-4 35~60 H2O2 50% = 45,5
(Temperatur kolom H2O2 60% = 48
1501)
6 TH-1532 (Temperatur 25-45 41 ºC
#1532)
7 Komposisi stabiliser
- HP 10 gr/l
- NAP 15
- AN 2
8 TC sample G <250 134 mg/L
9 PIA-1531 (tekanan 40-150 H2O2 50% =75 mmHg
vaporizer) H2O2 60% = 101
10 PGV-1501 (tekanan 600-720 H2O2 50% = 690 mmHg
kolom 1501 H2O2 60% = 680
Sumber : Laboratorium PT PIP 28 Februari 2019 dan 07 Maret 2019
F. Prosedur ketika power failure
Ketika power failure, peralatan yang menggunakan daya listrik akan mati
seperti pompa, cooling water, dan instrumen yang dikontrol di control room.
Cairan H2O2 yang berada di dalam unit ini tidak dapat mengalir dan berada dalam
ruang tertutup. Cairan H2O2 akan mudah terdekomposisi dalam kondisi ni. Untuk
menghindari hal tersebut, penanganan yang harus dilakukan adalah dengan
mengalirkan line PW ke semua peralatan dalam unit ini sampai densitas
mendekati densitas air yang menunjukkan bahwa di dalam unit ini jumlah H2O2
minimal sehingga tidak mengalami dekmposisi. Untuk Kolom #1501 dan vakum
unit tidak perlu dialiri dengan PW karena, jika H2O2 terdekomposisi, maka gas
oksigen langsung terbuang keluar ke atmosfer.

G. Prosedur setelah power failure


Setelah listrik hidup maka peralatan yang menggunakan daya listrik kembali
menyala. Hal yang harus dilakukan adalah stop suplai PW, kemudian biarkan
aliran H2O2 mengalir sampai densitas tertentu seperti yang diinginkan. Jika
densitas belum mencapai target, maka cairan H2O2 disirkulasi kembali dari
keluaran filter #1543 menuju tanki #1422 kembali sampai densitas yang
diinginkan. Setelah densitas tercapai, cairan H2O2 kemudian dikirim ke tanki
produk.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Unit distilasi #1500 merupakan tahapan proses produksi H2O2 setelah tahap
purifikasi. Larutan H2O2 yang telah dipurifikasi di unit purifikasi sudah tidak
mengandung solven seperti AQ dan HQ kemudian masuk ke unit distilasi. Pada
unit distilasi, larutan yang sebelumnya mengandung 30-31% H2O2 dipekatkan
menjadi larutan H2O2 50-51% dan 60-61% sesuai dengan kebutuhan pasar.
Prosedur start up dan shut down dilakukan satu tahun sekali ketika perbaikan
tahunan dalam rangka pembersihan alat yang dilakukan sesuai Standart Operating
Procedure (SOP) dari PT Peroksida Indonesia Pratama.
Pengendalian proses dilakukan untuk mendapakan hasil larutan H2O2 sesuai
dengan permintamaan pasar dan sesuai dengan rate produksi yang ingin dicapai
pabrik. Power failure merupakan kejadian yang tidak dapat diduga, maka cara-
cara yang cepat dan tepat diperlukan agar suatu proses dapat berjalan dengan
mengikuti SOP pabrik sebagai langkah awal pengendalian agar tidak terjadi
sesuatu yang tidak diingikan.
B. Saran
Melihat pentingnya Standart Operating Procedure (SOP) dalam suatu
proses maka hendaknya dilakukan pembukuan dan pembaharuan Standart
Operating Procedure (SOP) mengingat adanya perbedaan kondisi unit pabrik PT
Peroksida Indonesia Pratama dari awal berdiri dengan yang sekarang, agar jika hal
yang sama terjadi lagi dapat dengan mudah mendapatkan solusi yang tepat dengan
adanya pembukun dan pembaharuan tersebut.

Anda mungkin juga menyukai