Metode Pengukuran Debit V-Rata
Metode Pengukuran Debit V-Rata
2-2000
1. Ruang Lingkup
1.1 Standar ini mencakup pengukuran debit di sungai atau saluran buatan pada kondisi aliran
katup atau berobah perlahan dengan menggunakan Ambang V - rata.
Standar ambang V - rata adalah bangunan pengontrol, ambang berbentuk V dangkal apabila
dilihat dari arah aliran.
1.2 Ambang ini dapat digunakan untuk aliran tidak sempurna atau sempurna. Pada aliran
sempurna, debit hampir tergantung pada taraf air di udik dan pengukuran cukup dilakukan di
udik ambang. Pada aliran tidak sempurna, debit tergantung pada taraf air di udik dan di hilir
serta diperlukan dua pengukuran tinggi tekan air secara sendiri-sendiri.
Pada ambang V - rata yang standar terdapat :
a) Tinggi tekan di udik;
b) Tinggi tekan dalam zone pemisah yang terbentuk tepat di hilir ambang.
1.3 Ambang V - rata digunakan untuk pengukuran debit dengan kisaran yang besar dan
mempunyai keuntungan dimana kepekaannya sangat tinggi pada aliran tidak sempurna.
Pengoperasian dalam aliran tidak sempurna dapat meminimumkan beda muka air pada aliran
dengan debit besar. Ambang V - rata tidak boleh digunakan pada sungai curam terutama yang
mempunyai angkutan sedimen sangat tinggi.
Tabel 1
Kisaran Debit untuk Tiga Tipe Ambang V - Rata
Tinggi Ambang Kemiringan Leba Kisaran Debit
dari Dasar (m) melintang mercu r (m3/det)
(m)
2. Acuan
1) ISO 4377, Liquid Flow Measurement in Open Channels – Flat V - Weirs
2) ISO 722 : 1988, Liquid Flow Measurement in Open Channels - Vocabulary and Symbols.
3) ISO 5168 : 1978, Measurement of Fluid Flow - Estimation of Uncertainty of a Flow-Rate
Measurement.
3. Pengertian
Beberapa pengertian yang berkaitan dengan metode ini, sebagai berikut :
1) Ambang adalah bangunan yang berfungsi untuk meninggikan taraf muka air di udik
sehingga dapat menimbulkan tinggi muka air pembendungan di udik dan terjunan di hilir.
2) Aliran tidak sempurna adalah kenaikan tinggi muka air hilir ambang mempengaruhi tinggi
muka air udik.
3) Aliran sempurna adalah kenaikan tinggi muka air hilir ambang tidak mempengaruhi tinggi
muka air udik.
1
SNI 03-6455.2-2000
4) Ambang V-rata adalah profil segitiga dengan kemiringan di udik 1:2 dan di hilir 1:5.
Kemiringan penampang melintang antara 0 s.d 1:10 dengan batasan, bila kemiringan melintang
= 0, ambang menjadi profil segitiga dua dimensi, lihat ISO 4360.
4. Pembuatan
4.1 Pemilihan Lokasi
4.1.1 Ambang harus diletakkan pada bagian alur yang lurus, hindari rintangan setempat,
kekasaran ketidakrataan dasar.
4.1.2 Survei pendahuluan harus dilakukan terhadap kondisi fisik dan hidraulik pada lokasi yang
diusulkan apakah sesuai (atau dapat disesuaikan) untuk keperluan pengukuran dengan
ambang.
Pemilihan lokasi ambang harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Tersedia panjang dan lebar saluran dengan penampang yang teratur dan cukup untuk
digunakan;
b) Distribusi kecepatan yang ada;
c) Sedapat mungkin menghindari adanya terjunan;
d) Pengaruh pertambahan muka air di udik akibat adanya alat ukur, keadaan aliran di hilir,
termasuk pengaruh gelombang, pertemuan dengan aliran lain, pintu geser, ambang gerak dan
pengaturan lainnya yang mengakibatkan penggenangan;
Kekedapan tanah tempat bangunan, kebutuhan membuat tiang, grouting dan lain-lain yang
diperlukan untuk mencegah rembesan;
e) Tanggul banjir yang diperlukan mencegah debit maksimum dalam saluran;
f) Stabilitas tanggul, penyesuaian atau tembok penguat yang diperlukan pada saluran alam;
g) Pembersihan dasar saluran pengarah berupa batu-batuan atau bongkahan-bongkahan;
h) Pengaruh angin dan pengaruh lainnya yang dapat berpengaruh terhadap aliran di sungai
atau aliran yang melintasi ambang.
4.1.3 Bila lokasi tidak memiliki karakteristik yang diperlukan untuk pengukuran yang
memuaskan, atau pemeriksaan aliran menunjukkan bahwa distribusi kecepatan dalam saluran
pengarah menyimpang dari contoh yang diuraikan dalam lampiran B, lokasi ini tidak boleh
digunakan kecuali perbaikan lokasi dilakukan secara memadai. Cara lain kinerjanya pembuatan
harus diperiksa dengan melakukan pengukuran aliran yang tidak berkaitan.
2
SNI 03-6455.2-2000
3
SNI 03-6455.2-2000
Gambar 1
Ambang V-rata
4
SNI 03-6455.2-2000
5
SNI 03-6455.2-2000
Dalam pembuatan di laboratorium, permukaannya harus setara dengan lembaran logam yang
digilas atau diratakan, kayu yang diampelas dan dicat.
4.3.3 Untuk memperkecil penyimpangan debit, toleransi berikut harus dicapai selama
pelaksanaan :
a) pada lebar mercu, 0,2% dari lebar mercu dan maksimum 0,01m;
b) pada kemiringan di udik dan di hilir 0,5%;
c) pada kemiringan melintang mercu 0,1%;
d) pada titik deviasi dari garis mercu rata-rata 0,05% dari lebar mercu.
Di laboratorium, pemasangan-pemasangan umumnya memerlukan ketelitian ukuran yang lebih
tinggi.
4.3.4 Bangunan harus diukur setelah pelaksanaan selesai dan nilai rata-rata dari ukurannya
dan penyimpangan standar berada pada batas kepercayaan 95% harus dihitung. Nilai rata-rata
digunakan untuk menghitung debit dan standar deviasi digunakan untuk mendapatkan
penyimpangan total dalam penentuan debit tunggal (lihat 9.6).
6
SNI 03-6455.2-2000
6.2.2 Tabung duga muka air harus vertikal dan tinggi serta dalamnya cukup memadai untuk
mencakup seluruh taraf muka air. Pemasangan di lapangan tinggi minimumnya 0,3 m di atas
tinggi muka air maksimum yang diharapkan. Tabung duga muka air harus dihubungkan ke
posisi pengukuran tinggi tekan yang cocok dengan menggunakan pipa-pipa.
6.2.3 Tabung duga muka air dan pipa penghubungnya harus kedap air dan dilengkapi untuk
mengakomodasi alat pencatat jenis pelampung maka ukuran dan bila kedalaman cukup untuk
memberikan kelengkapan di sekeliling dan di bawah pelampung harus berjarak sedikitnya 0,075
m dari pada seluruh tingginya dinding tabung duga muka air.
6.2.4 Ujung pipa paling bawah tidak boleh kurang dari 0,06 m di bawah taraf muka air
terendah yang akan diukur.
6.2.5 Sambungan pipa ke posisi pengukur tinggi tekan di udik harus berakhir pada saluran
pengarah dan tegak lurus. Batas saluran pengarah harus rata dan halus (sama dengan beton)
pada jarak 10 kali diameter pipa dari garis pusat pipa penghubung. Pipa boleh miring terhadap
dinding hanya jika dipasang dengan plat atau ditutup yang mudah dipindahkan, dibuat rata
dengan dinding melalui lubang-lubang yang dibor. Ujung lubang tidak boleh dibulatkan atau
ditimbun. Plat penutup berlubang tidak disarankan bila terdapat tumbuhan atau sedimen.
6.2.6 Pipa penghubung ke posisi pengukuran untuk zone pemisah tinggi tekan harus berakhir
pada mercu ambang. Untuk pembuatan di lapangan yang luas, pengeluaran dari pipa-pipa ini
harus terdiri dari 10 lubang 10 mm dengan jarak 2 m pada 50 mm antara panjang garis paralel
dan 20 mm di hilir garis mercu, untuk pembuatan di laboratorium atau di daerah sempit (b < 2,5
m) ukuran-ukuran ini harus dibagi dua.
Posisi pusat 10 puncak lubang pengeluaran harus seimbang dengan sisi dari puncak terendah
pada jarak 0,1 kali lebar total puncak (lihat Gambar 1). Lubang harus serasi dengan permukaan
balok ambang di hilir, lebih disukai plat baja yang dapat digerakkan untuk pemeliharaan sistem.
Plat penutup ini perlu diberi seal disekelilingnya. Lokasi posisi pengukuran beda tinggi dijelaskan
dalam butir 6.4.
6.2.7 Perlu disediakan tambahan kedalaman di dalam tabung untuk mencegah kandasnya
pelampung di dasar tabung atau karena endapan jika perlu, disediakan sarana pembuangan
endapan.
Penataan tabung duga dapat meliputi ruang antara dengan ukuran yang sama dan saluran
pengarah untuk memungkinkan lumpur dan sampah lain mengendap di luar sehingga mudah
dilihat dan dibersihkan.
6.2.8 Diameter pipa penghubung atau lebar lubang-lubang harus cukup untuk memungkinkan
muka air di tabung mengikuti naik turunnya tinggi tekan tanpa penundaan yang berarti,
meskipun lubang-lubang tersebut sekecil mungkin, pemeliharaan mudah, merekam oksilasi
karena gelombang periode pendek.
6.2.9 Tidak ada aturan tepat yang digunakan untuk mencatumkan ukuran pipa penyambung
karena ini tergantung pada lingkungan pemasangan khusus, misalnya lokasinya terbuka dan
menyebabkan terjadinya gelombang, dan bila diperlukan tabung dengan diameter besar untuk
menempatkan pelampung alat duga air. Lebih baik membuat penyambung yang terlalu besar
daripada yang terlalu kecil karena pembatasan dapat dengan mudah ditambahkan kemudian
jika gelombang periode pendek tidak dapat diredam secara cukup. Pipa berdiameter 100 mm
biasanya cocok untuk pengukuran tinggi tekan yang tepat dengan aliran tetap di laboratorium.
6.2.10 Katup pemisah dengan kelas yang diperpanjang lebih baik dipasang untuk
menghubungkan pipa di dalam tabung duga sehingga tabung-tabung dapat dikeringkan atau
dipasang dan dibersihkan. Jika mungkin, ambang harus dihubungkan ke sistem drainase
melalui katup penyumbat lumpur dan pipa.
6.3 Pemasangan Titik Nol
6.3.1 Ketepatan pemasangan awal titik nol dari alat pengukuran tinggi tekan dengan mengacu
pada mercu ambang, kemudian dilanjutkan dengan pengecekan secara teratur, diperlukan
7
SNI 03-6455.2-2000
6.3.2 Alat pemeriksaan titik nol pada interval pendek yang akurat harus disediakan. Titik tetap
dalam bentuk plat baja horisontal, harus dipasang dipuncak dinding vertikal samping dan pada
ambang duga muka air. Titik tetap ini harus disifat datar dengan teliti sehingga taraf relatif
terhadap mercu yang diketahui. Perlengkapan titik nol dapat diperiksa terhadap titik-titik tetap ini
tanpa melakukan survei ulang taraf mercu setiap saat. Penurunan struktur dapat mempengaruhi
hubungan antara taraf mercu dan titik tetap, sehingga pemeriksaan sewaktu-waktu terhadap
hubungan ini harus dilakukan.
6.3.3 Pemeriksaan titik nol berdasarkan pada taraf muka air (pada saat aliran berakhir atau
baru mulai) menimbulkan kesalahan fatal karena pengaruh tegangan permukaan dan tidak
boleh dilakukan.
6.3.4. Nilai untuk kemiringan melintang mercu m dan titik nol dapat diperoleh dengan
pengukuran taraf mercu pada interval teratur sepanjang garis mercu. Garis lurus terbaik
dipasang melalui titik-titik pengukuran pada setiap sisi ambang dan perpotongan garis ini
merupakan taraf titik nol. Rata-rata kemiringan di kedua sisi digunakan sebagai nilai m dalam
rumus debit. Untuk pemasangan di lapangan disarankan penggunaan teknik sifat datar, tetapi
alat ukur meteran mikro atau jangka sorong harus digunakan untuk pemasangan di
laboratorium.
Tabel 2.
Koreksi terhadap koefisien debit
L1 Kenaikan (%) dalam CD untuk nilai H1/P1
1 2 3
10 h’ 0 0 0
8 h’ 0 0,3 0,6
6 h’ 0 0,6 0,9
4 h’ 0 0,8 1,2
6.4.3. Ambang V - rata dapat digunakan untuk pengukuran pada rentang aliran tidak sempurna
jika pemasangan tabung duga dikombinasikan dengan yang berada pada mercu. (lihat butir
8
SNI 03-6455.2-2000
6.2.6)
5/2 1/2
4 1
Q =
1/2 5/2
CD CV CS Cdr m g h ................................... (1)
5 2
3/ 2
h
C D C DM e C DM (1 k m / h )5 / 2
h
5/2
H1
CV = ............................... (3)
h
Keterangan : H1 adalah tinggi tekan total di udik yang terkait dari taraf mercu terendah.
9
SNI 03-6455.2-2000
V 2 .1
H1 h
2.g
Keterangan : V1 adalah kecepatan rata-rata pada saluran pengarah;
2
1 0,4 - CV CS Cdr m h 5/2
2
h =
b (P1 + h)
P1 adalah beda tinggi antara taraf mercu terendah dan taraf rata-rata dasar
saluran
pengarah;
b adalah lebar mercu.
Sehingga :
2/5 1 2
cv = 1 + Y1 CV ................................... (4)
2
Keterangan :
2
0,4 CD CS Cdr m h 2
Y1 =
b (P1 + h)
Persamaan (4) dapat diselesaikan dengan iterasi; nilai C v didapat dari persamaan Y1 dan dapat
dilihat pada Tabel 4.
1,25 Y1
CV = 1 + ........................... (6)
1 - 2,5 Y1
Kesalahan relatip karena pendekatan ini kurang dari 0,7%.
1 5/2
Cs = 1 - ( 1 - h / h e ) jika h e > h1 .............................. (7)
Keterangan h1 = b/2m adalah perbedaan antara taraf mercu terendah dan tertinggi.
10
SNI 03-6455.2-2000
h pe
3/2
Keterangan :
hpe adalah beda tinggi tekan zona pemisah efektif dengan taraf mercu terendah = h p - km;
Hp adalah beda tinggi tekan zona pemisah terukur dengan taraf mercu terendah;
He adalah beda tinggi tekan total efektif dengan taraf mercu terendah.
2
V
He = h + - km
2g
Nilai Cdr dihitung dengan menggunakan rumus (8) nilai h pe / he dan Y2 dapat dilihat pada tabel 5,
dimana :
2
CD CS m h
Y2 =
[b ( P1 + h)]
Untuk hpe/he < 0,9; Cdr dapat dihitung dengan pendekatan menggunakan prosedur dua langkah
(kesalahan relatip 1%) sebagai berikut :
a) Perkiraan Cdro berdasarkan pada nilai hpe / he menggunakan hubungan sebagai berikut :
Cdro = 1 ------> jika hpe /he < 0,55
Cdro = 0,9 ------> jika 0,55 pe /he < 0,7
Cdro = 0,8 ------ pe /he < 0,85 ................. (9)
Cdro = 0,7 ------ pe /h e < 0,9
Y1 = 0,16 Cdro2 Y2 2
Cv 0,4 = 1 + 0,5 Y1 Cv 2
He = Cv 0,4 he
0,183
h pe
3/2
11
SNI 03-6455.2-2000
Tabel 3
Ringkasan koefisien yang disarankan, pembatasan dan penyimpangan
Nilai yang disarankan menurut nilai
Tipe ambang V - rata kemiringan melintang mercu
1 : 20 1 : 10
H1/h1
- Koefisien debit modular CDm 1). 1,23 1,22 1,21
- Faktor koreksi tinggi tekan km . 0,0004 m 0,0005 m 0,0008 m
- Penyimpangan acak pada debit X1 CDm. ± 0,5% ± 0,5% ± 0,5%
- Penyimpangan menurut sistem pada
penyesuaian koefisien debit modular X11 ± 3% ± 3,2% 9± 2,3%
CDm. 65% - 75% 65% - 65% -
- Batas modular. 75% 75%
- Pembatasan lain :
= h1/P1
= h1/P2
- Celah pengukuran
H1/h1 > 1
- Koefisien debit modular CDm 1). 1,24 1,23 1,22
- Faktor koreksi tinggi tekan km . 0,0004 m 0,0005 m 0,0008 m
- Penyimpangan acak pada debit X1 CDm. ± 0,5% ± 0,5% ± 0,5%
- Penyimpangan menurut sistem pada
penyesuaian koefisien debit modular ± 2,5% ± 2,8% ± 2,3%
X11 CDm.
- Batas modular. 65% - 75% 65% - 65% -
- Pembatasan lain : 75% 75%
= h1/P1
= h1/P2
- Celah pengukuran
12
SNI 03-6455.2-2000
Tabel 4
Kecepatan faktor pendekatan dalam pengertian Y1.
Catatan : Tabel 4 dibaca sebagai berikut : Kolom pada tanda Y1 menunjukkan nilai Y1
dalam dua desimal; baris pada tanda Y1 menunjukkan nilai Y1 untuk desimal
ketiga. Contoh, nilai Cv untuk Y1 = 0,069 adalah 1,100
13
SNI 03-6455.2-2000
Tabel 5
Faktor reduksi aliran tidak sempurna Cdr1 fungsi hpe/he dan Y2
14
SNI 03-6455.2-2000
8. Perhitungan Debit
Persamaan (1) digunakan untuk menghitung debit dari besaran yang diketahui : P 1, m, h’, b, h
dan hp. Perhitungannya adalah sebagai berikut :
a) Hitung he = h - km dan CD menggunakan persamaan (2) dan nilai C D dan km yang sesuai
dari Tabel 3;
b) Hitung Cs menggunakan persamaan (7);
c) Hitung Cdr. Bila ada kondisi aliran modular, Cdr = 1. Bila kondisi aliran tidak sempurna,
hitung hpe = hp - km dengan menggunkan nilai km dari Tabel 3; hitung perbandingan hpe/he; hitung
Y2 = CD Cs m h2 / [ b (P1 + h) ]; cari nilai Cdr dari Tabel 5 atau hitung Cdr dengan persamaan (9)
dan (10);
d) Hitung Y1 menggunakan persamaan (5); tentukan nilai C v dengan menggunakan
persamaan (6) atau Tabel 4;
e) Tentukan nilai Q dengan mengganti besaran yang telah diketahui kedalam persamaan (1).
Contoh diberikan pada butir 11.
8.2 Akurasi
9.1 Umum
9.1.1 Penyimpangan total dalam pengukuran aliran dapat diperkirakan jika penyimpangan dari
berbagai sumber digabung. Pada umumnya, kontribusi pada penyimpangan total dapat
diperkirakan dan akan menunjukkan apakah debit aliran dapat diukur dengan ketelitian yang
cukup terhadap masalah yang ditangani.
Butir 9.2. sampai butir 9.7 akan memberikan keterangan yang lengkap kepada pemakai Standar
untuk memperkirakan penyimpangan dalam pengukuran debit.
9.1.2 Kesalahan dapat diketahui jika perbedaan antara debit aliran sebenarnya dan yang
dihitung sesuai dengan persamaan yang digunakan untuk kalibrasi bangunan ukur yang
diperkirakan dibangun dan dipasang menurut standar ini. Pengertian “Penyimpangan”
digunakan untuk menentukan kisaran nilai pengukuran sebenarnya diharapkan berada antara
19 sampai 20 kali (dengan tingkat kepercayaan 95%).
15
SNI 03-6455.2-2000
5/2 1/2
4 1
Q =
1/2 5/2
CD CV CS Cdr m g h
5 2
Konstanta (4/5)5/2 (1/2) ½ tidak menimbulkan kesalahan dan kesalahan terhadap g dapat
diabaikan.
9.2.2 Oleh karena itu sumber kesalahan yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut :
a) Koefisien debit CD; perkiraan numerik penyimpangan, yang intinya sama dengan nilai
penyimpangan seperti pada CDm dalam tabel 3;
b) Faktor kecepatan pengarah Cv yang pada umumnya penyimpangan acak dalam faktor ini
begitu kecil, sehingga dapat diabaikan :
XCv = 0 ………………………………….……..(11)
Penyimpangan yang terjadi dalam faktor ini dapat diturunkan dari persamaan (4). Dalam praktek
penyimpangan sistematik (dalam persen) dapat didekati dengan persamaan :
2
h
X" CV = 6 .........................................(12)
b (P1 + h)
c) Faktor bentuk Cs : bila aliran dibatasi oleh V, nilai faktor ini adalah satu dan tidak ada nilai
penyimpangan. Bila aliran diatas kondisi V penuh, nilai faktor ini tergantung pada h
(lihat persamaan 7). Kedua besaran ini akan merupakan besaran yang cukup berarti dan
kesalahan dalam tinggi tekan tidak akan besar pada tingkat ini. Jadi ada lagi penyimpangan
yang diabaikan dalam faktor ini;
d) Faktor reduksi aliran tidak sempurna C dr : umumnya penyimpangan secara acak dalam
faktor ini dapat diabaikan, sehingga :
XCdr = 0 ………………………………….………...(14)
Bila aliran sempurna nilai faktor ini adalah satu dan tidak ada nilai penyimpangan. Bila alirannya
tidak sempurna ada tiga faktor yang mempengaruhi nilai penyimpangan:
1) Penyimpangan dalam penentuan hubungan antara C dr dengan hpe/He di laboratorium;
2) Penyimpangan dalam pengukuran tinggi tekan efektip di udik, h e;
3) Penyimpangan dalam pengukuran tinggi efektip dalam zona pemisah h pe. Penyajian untuk
penyimpangan sistematik (dalam persen) adalah :
16
SNI 03-6455.2-2000
e) Kemiringan melintang mercu m : nilainya akan tergantung pada keakuratan konstruksi dan
pengukuran berikutnya pada struktur.
f) Tinggi tekan terukur di udik : penyimpangan acak (dalam persen) dalam h diberikan
dengan :
2 Sh
X 'h 100 .............................(16)
h
Keterangan : 2 Sh adalah penyimpangan rata-rata dari n pembacaan tinggi tekan di udik (lihat
butir 9.3); Faktor ini dihubungkan dengan fluktuasi acak dari suatu seri pengukuran. Jika hanya
dilakukan satu kali pembacaan tinggi tekan penyimpangan ini harus diperkirakan oleh
pengguna.
Penyimpangan sistematik dalam h tergantung pada penyimpangan pengukuran tinggi tekan dan
pemasangan titik nol pada alat ukur. Faktor ini diberikan (dalam persen) dengan :
100 e 2h e 2ho
X"h ..........................(17)
h
Keterangan :
eh adalah Penyimpangan sistematik dalam pengukuran tinggi tekan di udik (semua
penyimpangan tidak merubah secara acak selama satu seri pengukuran harus dimasukkan
seperti : pantulan balik dan geseran).
eho adalah penyimpangan dalam penentuan titik nol alat ukur.
Penyimpangan eh dan eho harus diperkirakan oleh pengguna.
g) Tinggi tekan zone pemisah hp : penyimpangan dalam hp harus diperlakukan dengan cara
yang sama seperti pada penyimpangan h.
Sy i 1 ................................... (18)
n 1
adalah :
SY
SY = ............................................... (19)
n
17
SNI 03-6455.2-2000
dan penyimpangan pada rata-rata adalah 2 Sy (pada tingkat kepercayaan 95%). Penyimpangan
ini adalah kontribusi dari pengamatan y terhadap total penyimpangan.
9.3.3 Suatu pengukuran dapat juga mendapatkan kesalahan sistematik. Nilai rata-rata dari
sangat banyak nilai pengukuran akan tetap berbeda dari nilai sebenarnya yang sedang diukur.
Sebagai contoh, kesalahan dalam pemasangan titik nol pada alat ukur tinggi muka air pada
elevasi balik menghasilkan perbedaan sistematik antara rata-rata pengukuran tinggi energi
sebenarnya dengan nilai-nilai sesungguhnya. Pengulangan pengukuran tidak akan
menghilangkan kesalahan sistematik. Nilai sebenarnya hanya dapat ditentukan dengan
pengukuran tersendiri yang diketahui lebih akurat.
18
SNI 03-6455.2-2000
9.6.4. Persentase penyimpangan acak X’Q dalam debit aliran diberikan seperti :
XQ = X" C 2
D X" C 2V Cdr
2
X1m/ 2 6,25X1h/ 2
1/ 2
............................... (21)
10. Contoh
10.1 Aliran Modular Pada Debit Rendah
10.1.1 Data Dasar
Suatu bendung V rata dengan kemiringan melintang mercu 1 : 20,3. Lebar mercu dan lebar
saluran pengarah 36 m dan permukaan dasar di hulu rata-rata 0,82 m di bawah elevasi mercu
terendah. Hitung debit bila pengukuran tinggi energi di hulu 0,61 m. Pembacaan tinggi energi 10
kali berturut-turut memberikan standar deviasi rata-rata 0,5 mm dan perkiraan penyimpangan
pada pembacaan pengukuran titik nol adalah 1 mm. Pengukuran dasar bersama dengan
perkiraan penyimpangan acak dan sistematik diberikan dalam Tabel 6.
19
SNI 03-6455.2-2000
Tabel 6
Penyimpangan acak dan sistematik.
Pengukuran Dasar Estimasi Penyimpangan 1)
Sembarang Sistematik
m = 20,3 ± 0% ± 0,2%
b = 36 m ± 0,002 m ± 0.005 m
P1 = 0,82 m ± 0,001m ± 0,001 m
h = 0,621 m ± 2 sh m ± 0,003 m
h’ = 0,887 m ± 0,001 m ± 0,001 m
Koefisien dan nilai koreksi tinggi energi yang sesuai didapat dari tabel 3 seperti di bawah ini :
CDm adalah 1,22 (penyimpangan acak ± 0,5% dan penyimpangan sistematik ± 3,2%)
km adalah 0,0005 m (penyimpangan dan diabaikan).
he 5 / 2
CD CD ( ) 1,2175
h
b) Cs = 1
c) Cdr = 1
2
0,4 C D CS C dr m h 2
d). Y1 =
(P1 + h) b
= 0,0055
1,25 Y1
Cv = 1 + = 1,0070
1 - 2,5 Y1
4 5 1 1 1 5
e). Q = ( ) 2 ( ) 2 CD Cv Cs Cdr m g 2 h 2
5 2
= 9,59 m3/det
20
SNI 03-6455.2-2000
2Sh_ 0, 00 01
c). Xh = 100 = 100 x = 0,2%
h 0,621
0, 6212
X"CV = [ 6 x ] =0
36 ( 0,82 + 0,621 )
X"Q = 3, 2 + 0 + 0 + 0, 2 + 6,25 x 0, 5
2 2 2 2 2
= ± 3,4%
XQ = 0, 7 + 3, 4 = 3,5%
2 2
21
SNI 03-6455.2-2000
Tabel 7
Perkiraan penyimpangan acak dan penyimpangan sistematik
Perkiraan penyimpangan 1)
Pengukuran Dasar
Acak Sistematik
m = 10,1 ± 0% ± 0,2%
b = 25 m ± 0,002 m ± 0.004 m
P1 = 0,56 m ± 0,002 m ± 0,002 m
h = 2,614 m ± 2 Sh m ± 0,003 m
hp = 2,211 m ± 2 Shp m ± 0,003 m
h1= 1,238 m ± 0,001 m ± 0,001 m
Nilai koefisien dan koreksi tinggi energi yang sesuai didapat dari Tabel 3 sebagai berikut:
Cdm adalah 1,22 (penyimpangan acak ± 05%);
(penyimpangan sistematik ± 2,3%)
km adalah 0,0008 (penyimpangan diabaikan)
CD CS m h 2
Y2 =
b (P1 + h)
= 0,847
22
SNI 03-6455.2-2000
0,4 CD CS Cdr m h2 2
d) Y1 =
(P1 + h) b
= 0,0713
2, 614 2
X "CV = 6 x = 0,5%
25 (0,56 + 2,614)
c) Untuk menghitung X”Cdr dari persamaan (14), lebih dahulu hitung X”h dan X”hp. Dari
persamaan (17);
0, 003 2 + 0, 002 2
X"h = 100 = 0,1%
2,614
dan
23
SNI 03-6455.2-2000
0, 003 2 + 0, 002 2
X"hp = 100 = 0,1%
2,211
d) X”m = ± 0,2%
e) X”h = ± 0,1%
f) Dari persamaan (21);
XQ = 0, 6 + 2, 6 = 2,7%
2 2
24
SNI 03-6455.2-2000
Lampiran A
Daftar Istilah
25
SNI 03-6455.2-2000
Lampiran B
Daftar Simbol
INDEKS :
1 Nilai di udik.
2 Nilai di hilir.
e efektip; menyatakan bahwa koreksi terhadap efek cairan sudah diperhitungkan pada
parameternya.
26
SNI 03-6455.2-2000
Lampiran C
Daftar Nama dan Lembaga
1) Pemrakarsa
Pusat Litbang Teknologi SDA, Badan Litbang Kimbangwil
2) Penyusun
NAMA LEMBAGA
27