100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
133 tayangan28 halaman

Metode Pengukuran Debit V-Rata

Standar ini menjelaskan metode pengukuran debit pada saluran terbuka dengan menggunakan ambang V-rata. Ambang V-rata adalah bangunan pengontrol berbentuk V yang digunakan untuk mengukur debit dengan kisaran luas. Standar ini menjelaskan persyaratan pembuatan dan lokasi ambang serta kondisi saluran pengarah untuk mendapatkan distribusi kecepatan yang merata bagi pengukuran yang akurat.

Diunggah oleh

Yudi Lasmana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
133 tayangan28 halaman

Metode Pengukuran Debit V-Rata

Standar ini menjelaskan metode pengukuran debit pada saluran terbuka dengan menggunakan ambang V-rata. Ambang V-rata adalah bangunan pengontrol berbentuk V yang digunakan untuk mengukur debit dengan kisaran luas. Standar ini menjelaskan persyaratan pembuatan dan lokasi ambang serta kondisi saluran pengarah untuk mendapatkan distribusi kecepatan yang merata bagi pengukuran yang akurat.

Diunggah oleh

Yudi Lasmana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SNI 03-6455.

2-2000

Standar Nasional Indonesia

Metode pengukuran debit pada saluran terbuka


dengan bangunan ukur ambang V-rata

ICS 93.010 Badan Standardisasi Nasional


BSN
SNI 03-6455.2-2000

1. Ruang Lingkup
1.1 Standar ini mencakup pengukuran debit di sungai atau saluran buatan pada kondisi aliran
katup atau berobah perlahan dengan menggunakan Ambang V - rata.
Standar ambang V - rata adalah bangunan pengontrol, ambang berbentuk V dangkal apabila
dilihat dari arah aliran.

1.2 Ambang ini dapat digunakan untuk aliran tidak sempurna atau sempurna. Pada aliran
sempurna, debit hampir tergantung pada taraf air di udik dan pengukuran cukup dilakukan di
udik ambang. Pada aliran tidak sempurna, debit tergantung pada taraf air di udik dan di hilir
serta diperlukan dua pengukuran tinggi tekan air secara sendiri-sendiri.
Pada ambang V - rata yang standar terdapat :
a) Tinggi tekan di udik;
b) Tinggi tekan dalam zone pemisah yang terbentuk tepat di hilir ambang.

1.3 Ambang V - rata digunakan untuk pengukuran debit dengan kisaran yang besar dan
mempunyai keuntungan dimana kepekaannya sangat tinggi pada aliran tidak sempurna.
Pengoperasian dalam aliran tidak sempurna dapat meminimumkan beda muka air pada aliran
dengan debit besar. Ambang V - rata tidak boleh digunakan pada sungai curam terutama yang
mempunyai angkutan sedimen sangat tinggi.

Tabel 1
Kisaran Debit untuk Tiga Tipe Ambang V - Rata
Tinggi Ambang Kemiringan Leba Kisaran Debit
dari Dasar (m) melintang mercu r (m3/det)
(m)

0,2 1:10 4 0,015 s.d 5.

0,5 1:20 20 0,03 s.d 180 (dengan tinggi


tekan maksimum 3 m).

1,0 1:40 80 0,055 s.d 630


(dengan tinggi tekan
maksimum 3 m).

2. Acuan
1) ISO 4377, Liquid Flow Measurement in Open Channels – Flat V - Weirs
2) ISO 722 : 1988, Liquid Flow Measurement in Open Channels - Vocabulary and Symbols.
3) ISO 5168 : 1978, Measurement of Fluid Flow - Estimation of Uncertainty of a Flow-Rate
Measurement.

3. Pengertian
Beberapa pengertian yang berkaitan dengan metode ini, sebagai berikut :
1) Ambang adalah bangunan yang berfungsi untuk meninggikan taraf muka air di udik
sehingga dapat menimbulkan tinggi muka air pembendungan di udik dan terjunan di hilir.

2) Aliran tidak sempurna adalah kenaikan tinggi muka air hilir ambang mempengaruhi tinggi
muka air udik.
3) Aliran sempurna adalah kenaikan tinggi muka air hilir ambang tidak mempengaruhi tinggi
muka air udik.
1
SNI 03-6455.2-2000

4) Ambang V-rata adalah profil segitiga dengan kemiringan di udik 1:2 dan di hilir 1:5.
Kemiringan penampang melintang antara 0 s.d 1:10 dengan batasan, bila kemiringan melintang
= 0, ambang menjadi profil segitiga dua dimensi, lihat ISO 4360.

4. Pembuatan
4.1 Pemilihan Lokasi
4.1.1 Ambang harus diletakkan pada bagian alur yang lurus, hindari rintangan setempat,
kekasaran ketidakrataan dasar.
4.1.2 Survei pendahuluan harus dilakukan terhadap kondisi fisik dan hidraulik pada lokasi yang
diusulkan apakah sesuai (atau dapat disesuaikan) untuk keperluan pengukuran dengan
ambang.
Pemilihan lokasi ambang harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Tersedia panjang dan lebar saluran dengan penampang yang teratur dan cukup untuk
digunakan;
b) Distribusi kecepatan yang ada;
c) Sedapat mungkin menghindari adanya terjunan;
d) Pengaruh pertambahan muka air di udik akibat adanya alat ukur, keadaan aliran di hilir,
termasuk pengaruh gelombang, pertemuan dengan aliran lain, pintu geser, ambang gerak dan
pengaturan lainnya yang mengakibatkan penggenangan;
Kekedapan tanah tempat bangunan, kebutuhan membuat tiang, grouting dan lain-lain yang
diperlukan untuk mencegah rembesan;
e) Tanggul banjir yang diperlukan mencegah debit maksimum dalam saluran;
f) Stabilitas tanggul, penyesuaian atau tembok penguat yang diperlukan pada saluran alam;
g) Pembersihan dasar saluran pengarah berupa batu-batuan atau bongkahan-bongkahan;
h) Pengaruh angin dan pengaruh lainnya yang dapat berpengaruh terhadap aliran di sungai
atau aliran yang melintasi ambang.
4.1.3 Bila lokasi tidak memiliki karakteristik yang diperlukan untuk pengukuran yang
memuaskan, atau pemeriksaan aliran menunjukkan bahwa distribusi kecepatan dalam saluran
pengarah menyimpang dari contoh yang diuraikan dalam lampiran B, lokasi ini tidak boleh
digunakan kecuali perbaikan lokasi dilakukan secara memadai. Cara lain kinerjanya pembuatan
harus diperiksa dengan melakukan pengukuran aliran yang tidak berkaitan.

4.2 Syarat-Syarat Pembuatan


4.2.1. Syarat-Syarat Umum
[Link] Pembuatan bangunan ukur yang lengkap terdiri dari 3 komponen yaitu saluran
pengarah, bangunan ukur dan saluran hilir. Kondisi masing-masing komponen secara
keseluruhan berpengaruh secara menyeluruh terhadap akurasi pengukuran. Syarat-syarat
pembuatan termasuk dalam ambang bentuk penampang melintang saluran, kekasaran saluran
dan pengaruh alat pengendalian keadaan permukaan di udik atau di hilir bangunan ukur.
[Link] Distribusi dan arah kecepatan sangat berpengaruh terhadap kinerja ambang (lihat butir
4.2.2 dan lampiran B).
[Link] Setelah ambang dibuat, setiap perubahan fisik pada waktu pembuatan akan merubah
karakteristik debit, sehingga perlu dikalibrasi.

4.2.2 Saluran Pengarah


[Link] Jika aliran pada saluran pengarah terganggu oleh dasar atau tebing yang tidak teratur,
sebagai contoh batu-batu besar atau batu-batu lepas, atau belokan, pintu air atau hal-hal lain
yang menyebabkan debit yang melimpah pada satu penampang dapat sangat berpengaruh
pada ketelitian pengukuran. Debit pada saluran pengarah harus mempunyai distribusi
kecepatan yang simetris. (lihat lampiran B). Hal ini dapat dicapai dengan saluran pengarah yang

2
SNI 03-6455.2-2000

panjang, lurus dan penampang melintang seragam.


[Link] Panjang saluran pengarah biasanya lima kali lebar muka air pada debit maksimum,
pada saat aliran tidak masuk ke saluran pengarah dengan kecepatan tinggi melalui belokan
tajam atau pintu air bersudut. Akan tetapi saluran pengarah seragam yang lebih panjang lebih
baik jika dapat dipenuhi.
[Link] Panjang saluran pengarah seragam yang disarankan pada butir [Link] mengacu pada
jarak pengukuran tinggi tekan di udik. Tetapi, membuat lapisan beton pada dasar dan tebing
saluran alam bisa menjadi tidak ekonomis, dan untuk itu perlu bangunan penyempitan jika lebar
antara dinding vertikal saluran pengarah yang dilakukan pada ambang lebih kecil dari lebar
saluran alaminya. Pada saluran yang dilapis di udik harus memenuhi persyaratan butir [Link]
dan butir [Link].
[Link] Dinding vertikal samping dibangun untuk penyempitan saluran alami harus simetris
terhadap garis sumbu saluran dan sebaiknya dibuat lengkung dengan jari-jari R
seperti terlihat pada Gambar 1. Titik singgung lengkungan paling dekat ke ambang harus paling
sedikit sama dengan Hmax pengukuran tinggi tekan di udik. Tinggi dinding samping harus dipilih
sedemikian rupa sehingga mampu mengalirkan debit maksimum rencana.
[Link] Pada saluran yang bebas dari sampah dan benda-benda melayang dapat dicapai
dengan menempatkan dinding peredam terbuat dari balok vertikal, tetapi jarak dinding peredam
dengan titik pengukuran tinggi tekan minimum 10 Hmax.
[Link] Pada kondisi tertentu loncatan air dapat terjadi di udik bangunan pengukur sebagai
contoh jika saluran pengarah curam. Kejadian gelombang terjadi pada jarak tidak kurang dari 30
Hmax ke udik, pengukuran masih dapat dilakukan untuk memastikan bahwa dengan distribusi
kecepatan teratur pada stasiun pengukur.
[Link] Kondisi pada saluran pengarah dapat diuji dengan pemeriksaan atau pengukuran
dengan menggunakan beberapa metode yang ada seperti alat ukur arus, pelampung, tongkat
kecepatan dan zat warna; cara terakhir berguna untuk memeriksa kondisi dasar saluran.
Taksiran kuantitatif dan lengkap terhadap distribusi kecepatan dapat dilakukan dengan
menggunakan alat ukur arus. Informasi lebih lanjut tentang alat ukur arus pada ISO 748.
Distribusi kecepatan dapat diperkirakan dengan menggunakan acuan pada lampiran B.

4.3 Bangunan Ambang


4.3.1 Bangunan harus kaku, kedap air dan cukup kuat pada kondisi aliran banjir tanpa terjadi
kerusakan akibat pengelupasan atau gerusan di hilir. Dilihat dari arah denah mercu ambang
harus lurus dan tegak lurus terhadap arah aliran di udik, dan geometri harus sesuai dengan
ukuran yang ditentukan. Ambang harus berada diantara tembok pangkal dan lebar mercu harus
maksimum sama dengan lebar saluran pengarah (lihat Gambar 1). Blok ambang dapat berupa
potongan-potongan tetapi tidak boleh kurang dari ukuran horisontal pada arah aliran, minimum
sama dengan Hmax di udik dan 2 Hmax di hilir dari garis mercu ambang.
4.3.2 Ambang dan saluran pengarahnya (bagian sisi dinding tegak) dapat dibuat dari beton
dengan permukaan yang diplester halus atau dilapisi dengan bahan anti karat halus.
Permukaan yang dihaluskan diutamakan di sekitar mercu tetapi lebih baik bila pada jarak ½
Hmax di udik dan hilir garis mercu.

3
SNI 03-6455.2-2000

Gambar 1
Ambang V-rata

4
SNI 03-6455.2-2000

5
SNI 03-6455.2-2000

Dalam pembuatan di laboratorium, permukaannya harus setara dengan lembaran logam yang
digilas atau diratakan, kayu yang diampelas dan dicat.
4.3.3 Untuk memperkecil penyimpangan debit, toleransi berikut harus dicapai selama
pelaksanaan :
a) pada lebar mercu, 0,2% dari lebar mercu dan maksimum 0,01m;
b) pada kemiringan di udik dan di hilir 0,5%;
c) pada kemiringan melintang mercu 0,1%;
d) pada titik deviasi dari garis mercu rata-rata 0,05% dari lebar mercu.
Di laboratorium, pemasangan-pemasangan umumnya memerlukan ketelitian ukuran yang lebih
tinggi.
4.3.4 Bangunan harus diukur setelah pelaksanaan selesai dan nilai rata-rata dari ukurannya
dan penyimpangan standar berada pada batas kepercayaan 95% harus dihitung. Nilai rata-rata
digunakan untuk menghitung debit dan standar deviasi digunakan untuk mendapatkan
penyimpangan total dalam penentuan debit tunggal (lihat 9.6).

4.4 Hilir Bangunan


Kondisi hilir bangunan penting untuk mengendalikan taraf muka air hilir. Taraf muka air ini
adalah salah satu faktor yang menentukan apakah akan terjadi kondisi aliran tidak sempurna
atau sempurna pada ambang. Oleh karena itu penting untuk menghitung atau mengamati taraf
muka air hilir pada seluruh kisaran debit pada ukuran debit penuh dan membuat keputusan
tentang tipe ambang dan geometri yang diperlukan dilihat dari kenyataannya dan untuk
menentukan jenis/tipe ambang. Harus dipertimbangkan mengenai cara / sarana dengan dapat
meredam energi ruang olahan di hilir lengkap dengan pekerjaan pelindung untuk mencegah
gerusan dan atau yang kemungkinan terjadi di bawah bangunan.

5. Ketentuan Umum dan Pemeliharaan


Pemeliharaan bangunan ukur saluran pengarah dan saluran di hilir penting untuk menjamin
pengukuran yang teliti. Hal yang penting untuk saluran pengarah bahwa harus bersih dan bebas
dari sedimen dan tumbuh-tumbuhan pada jarak minimum yang ditentukan pada butir [Link].
Tabung pengukur arus dan alur masuk saluran pengarah harus juga bersih dan bebas dari
endapan.
Tubuh ambang harus bersih dan bebas lekatan kotoran dan pembersihan dilakukan secara hati-
hati agar tidak terjadi kerusakan mercu ambang.

6. Pengukuran Tinggi Tekan


6.1 Ketentuan Umum
6.1.1 Bila diperlukan pengukuran sesaat, tingi tekan dapat diukur dengan menggunakan
pengukuran vertikal, sudut, titik, tali atau pita ukur. Bila pencatatan kontinu diperlukan, pencatat
muka air harus digunakan. Lokasi dimana harus digunakan pengukuran dijelaskan pada butir
6.4.
6.1.2 Dengan berkurangnya ukuran ambang dan tinggi tekan, penyimpangan kecil dalam
pelaksanaan konstruksi dan penentuan titik nol serta pembacaan alat ukur tinggi tekan relatif
menjadi lebih penting

6.2 Tabung Duga Muka Air


6.2.1 Pengukuran tinggi tekan di udik lebih disukai dengan menggunakan tabung duga muka
air untuk pengukuran mengurangi pengaruh ketidakteraturan muka air. Bila ini dilakukan juga
sebaiknya mengukur tinggi muka air di saluran pengarah sehingga pengecekan dari waktu ke
waktu. Bila ambang didesain untuk operasi pada kisaran aliran tidak sempurna, pemisahan
sumur duga muka air diperlukan untuk mencatat tinggi tekan pisometer dalam zone pemisah
yang terbentuk tepat di hilir mercu ambang.

6
SNI 03-6455.2-2000

6.2.2 Tabung duga muka air harus vertikal dan tinggi serta dalamnya cukup memadai untuk
mencakup seluruh taraf muka air. Pemasangan di lapangan tinggi minimumnya 0,3 m di atas
tinggi muka air maksimum yang diharapkan. Tabung duga muka air harus dihubungkan ke
posisi pengukuran tinggi tekan yang cocok dengan menggunakan pipa-pipa.
6.2.3 Tabung duga muka air dan pipa penghubungnya harus kedap air dan dilengkapi untuk
mengakomodasi alat pencatat jenis pelampung maka ukuran dan bila kedalaman cukup untuk
memberikan kelengkapan di sekeliling dan di bawah pelampung harus berjarak sedikitnya 0,075
m dari pada seluruh tingginya dinding tabung duga muka air.
6.2.4 Ujung pipa paling bawah tidak boleh kurang dari 0,06 m di bawah taraf muka air
terendah yang akan diukur.
6.2.5 Sambungan pipa ke posisi pengukur tinggi tekan di udik harus berakhir pada saluran
pengarah dan tegak lurus. Batas saluran pengarah harus rata dan halus (sama dengan beton)
pada jarak 10 kali diameter pipa dari garis pusat pipa penghubung. Pipa boleh miring terhadap
dinding hanya jika dipasang dengan plat atau ditutup yang mudah dipindahkan, dibuat rata
dengan dinding melalui lubang-lubang yang dibor. Ujung lubang tidak boleh dibulatkan atau
ditimbun. Plat penutup berlubang tidak disarankan bila terdapat tumbuhan atau sedimen.
6.2.6 Pipa penghubung ke posisi pengukuran untuk zone pemisah tinggi tekan harus berakhir
pada mercu ambang. Untuk pembuatan di lapangan yang luas, pengeluaran dari pipa-pipa ini
harus terdiri dari 10 lubang 10 mm dengan jarak 2 m pada 50 mm antara panjang garis paralel
dan 20 mm di hilir garis mercu, untuk pembuatan di laboratorium atau di daerah sempit (b < 2,5
m) ukuran-ukuran ini harus dibagi dua.
Posisi pusat 10 puncak lubang pengeluaran harus seimbang dengan sisi dari puncak terendah
pada jarak 0,1 kali lebar total puncak (lihat Gambar 1). Lubang harus serasi dengan permukaan
balok ambang di hilir, lebih disukai plat baja yang dapat digerakkan untuk pemeliharaan sistem.
Plat penutup ini perlu diberi seal disekelilingnya. Lokasi posisi pengukuran beda tinggi dijelaskan
dalam butir 6.4.
6.2.7 Perlu disediakan tambahan kedalaman di dalam tabung untuk mencegah kandasnya
pelampung di dasar tabung atau karena endapan jika perlu, disediakan sarana pembuangan
endapan.
Penataan tabung duga dapat meliputi ruang antara dengan ukuran yang sama dan saluran
pengarah untuk memungkinkan lumpur dan sampah lain mengendap di luar sehingga mudah
dilihat dan dibersihkan.
6.2.8 Diameter pipa penghubung atau lebar lubang-lubang harus cukup untuk memungkinkan
muka air di tabung mengikuti naik turunnya tinggi tekan tanpa penundaan yang berarti,
meskipun lubang-lubang tersebut sekecil mungkin, pemeliharaan mudah, merekam oksilasi
karena gelombang periode pendek.
6.2.9 Tidak ada aturan tepat yang digunakan untuk mencatumkan ukuran pipa penyambung
karena ini tergantung pada lingkungan pemasangan khusus, misalnya lokasinya terbuka dan
menyebabkan terjadinya gelombang, dan bila diperlukan tabung dengan diameter besar untuk
menempatkan pelampung alat duga air. Lebih baik membuat penyambung yang terlalu besar
daripada yang terlalu kecil karena pembatasan dapat dengan mudah ditambahkan kemudian
jika gelombang periode pendek tidak dapat diredam secara cukup. Pipa berdiameter 100 mm
biasanya cocok untuk pengukuran tinggi tekan yang tepat dengan aliran tetap di laboratorium.
6.2.10 Katup pemisah dengan kelas yang diperpanjang lebih baik dipasang untuk
menghubungkan pipa di dalam tabung duga sehingga tabung-tabung dapat dikeringkan atau
dipasang dan dibersihkan. Jika mungkin, ambang harus dihubungkan ke sistem drainase
melalui katup penyumbat lumpur dan pipa.
6.3 Pemasangan Titik Nol
6.3.1 Ketepatan pemasangan awal titik nol dari alat pengukuran tinggi tekan dengan mengacu
pada mercu ambang, kemudian dilanjutkan dengan pengecekan secara teratur, diperlukan

7
SNI 03-6455.2-2000

untuk mendapatkan ketelitian menyeluruh.

6.3.2 Alat pemeriksaan titik nol pada interval pendek yang akurat harus disediakan. Titik tetap
dalam bentuk plat baja horisontal, harus dipasang dipuncak dinding vertikal samping dan pada
ambang duga muka air. Titik tetap ini harus disifat datar dengan teliti sehingga taraf relatif
terhadap mercu yang diketahui. Perlengkapan titik nol dapat diperiksa terhadap titik-titik tetap ini
tanpa melakukan survei ulang taraf mercu setiap saat. Penurunan struktur dapat mempengaruhi
hubungan antara taraf mercu dan titik tetap, sehingga pemeriksaan sewaktu-waktu terhadap
hubungan ini harus dilakukan.
6.3.3 Pemeriksaan titik nol berdasarkan pada taraf muka air (pada saat aliran berakhir atau
baru mulai) menimbulkan kesalahan fatal karena pengaruh tegangan permukaan dan tidak
boleh dilakukan.
6.3.4. Nilai untuk kemiringan melintang mercu m dan titik nol dapat diperoleh dengan
pengukuran taraf mercu pada interval teratur sepanjang garis mercu. Garis lurus terbaik
dipasang melalui titik-titik pengukuran pada setiap sisi ambang dan perpotongan garis ini
merupakan taraf titik nol. Rata-rata kemiringan di kedua sisi digunakan sebagai nilai m dalam
rumus debit. Untuk pemasangan di lapangan disarankan penggunaan teknik sifat datar, tetapi
alat ukur meteran mikro atau jangka sorong harus digunakan untuk pemasangan di
laboratorium.

6.4 Lokasi Penampang Pengukuran Tinggi Tekan


6.4.1. Arah aliran menuju ambang V - rata adalah 3 dimensi. Penurunan muka air dari
pengarah taraf mercu terendah lebih besar dari pada pengarah ke posisi lain selebar
penampang saluran pengarah dan ini menghasilkan penurunan tekanan pada permukaan air
tepat di udik mercu terendah, lebih jauh ke udik, penurunan tekanan ini berkurang dan pada
jarak 10 kali tinggi V, 10 h, taraf muka air melintang saluran mendekati konstan. Dengan
demikian untuk mecapai perkiraan beda tinggi tekan yang akurat, pemasangan alat ukur harus
10 h’ di udik garis mercu. H’ = b/2 m adalah perbedaan antara mercu terendah dan tertinggi
dalam meter. Akan tetapi jika jarak tersebut kurang dari 3 Hmax, pemasangan alat ukur harus
diletakkan pada jarak 3 Hmax di udik mercu untuk menghindari pengaruh garis penurunan (lihat
Gambar 1).
6.4.2 Jika diperlukan pertimbangan lain dalam pemasangan tabung duga yang lebih dekat
dengan tabung perlu dilakukan koreksi koefisien debit jika H 1/P1 > 1. Dalam segala hal,
pertambahan koefisien dapat dilakukan dan pertambahan persentase akan tergantung pada
lokasi tabung duga L1 dan nilai H1/P1 seperti ditunjukkan pada tabel 2, dimana :
H1 adalah total tinggi tekan relatif di udik dari taraf mercu terendah;
P1 adalah tinggi mercu terendah dari taraf dasar udik;
L1 adalah jarak lokasi pengukuran tinggi tekan di udik dari garis mercu

Tabel 2.
Koreksi terhadap koefisien debit
L1 Kenaikan (%) dalam CD untuk nilai H1/P1
1 2 3

10 h’ 0 0 0
8 h’ 0 0,3 0,6
6 h’ 0 0,6 0,9
4 h’ 0 0,8 1,2

6.4.3. Ambang V - rata dapat digunakan untuk pengukuran pada rentang aliran tidak sempurna
jika pemasangan tabung duga dikombinasikan dengan yang berada pada mercu. (lihat butir
8
SNI 03-6455.2-2000

6.2.6)

7. Hal-Hal yang Berkaitan Dengan Debit

7.1 Persamaan Debit


Persamaan debit didasarkan pada penggunaan tinggi tekan terukur :

5/2 1/2
4 1
Q =    
1/2 5/2
CD CV CS Cdr m g h ................................... (1)
5 2

Keterangan : Q adalah debit total;


CD adalah koefisien debit;
CV adalah faktor kecepatan datang;
CS adalah faktor bentuk;
Cdr adalah faktor reduksi aliran tidak sempurna;
m adalah kemiringan melintang mercu;
g adalah percepatan gravitasi;
h adalah tinggi tekan terukur di udik relatif terhadap taraf mercu terendah.

7.2 Koefisien Debit Aliran


Koefisien debit dirumuskan dengan :

3/ 2
h 
C D  C DM  e   C DM (1  k m / h )5 / 2
h 

Keterangan : Cdm adalah koefisien debit modul;


he adalah tinggi tekan terukur, sama dengan h - km;
km adalah faktor koreksi tinggi tekan.
Cdm dan km tergantung pada kemiringan melintang ambang. Lihat Tabel 3.
Untuk pengukuran lapangan, km diabaikan karena kurang dari 1 mm.

7.3 Faktor Kecepatan Pengarah


Karena persamaan debit diturunkan dari rumus yang menggunakan tinggi tekan total, faktor

5/2
 H1 
CV =   ............................... (3)
 h 

kecepatan datang CV digunakan untuk mengoreksi tinggi tekan terukur, yaitu :

Keterangan : H1 adalah tinggi tekan total di udik yang terkait dari taraf mercu terendah.

9
SNI 03-6455.2-2000

Penggunaan persamaan (1)

V 2 .1
H1  h 
2.g
Keterangan : V1 adalah kecepatan rata-rata pada saluran pengarah;

2
1  0,4 - CV CS Cdr m h 5/2 
2  
h =
b (P1 + h) 

P1 adalah beda tinggi antara taraf mercu terendah dan taraf rata-rata dasar
saluran
pengarah;
b adalah lebar mercu.
Sehingga :
2/5 1 2
cv = 1 + Y1 CV ................................... (4)
2
Keterangan :
2
 0,4 CD CS Cdr m h 2 
Y1 =  
 b (P1 + h) 
Persamaan (4) dapat diselesaikan dengan iterasi; nilai C v didapat dari persamaan Y1 dan dapat
dilihat pada Tabel 4.

Untuk Y1 < 0,08; Cv memberi pendekatan yang baik dengan :

1,25 Y1
CV = 1 + ........................... (6)
1 - 2,5 Y1
Kesalahan relatip karena pendekatan ini kurang dari 0,7%.

7.4 Faktor Bentuk


Faktor bentuk dimasukkan ke dalam persamaan debit untuk ambang V - rata karena sebab
geometri aliran berubah bila debit melampaui kondisi penuh V- rata, sehingga :
1
Cs = 1 jika he

1 5/2
Cs = 1 - ( 1 - h / h e ) jika h e > h1 .............................. (7)

Keterangan h1 = b/2m adalah perbedaan antara taraf mercu terendah dan tertinggi.

10
SNI 03-6455.2-2000

7.5 Faktor Reduksi Aliran Tidak Sempurna


Bila ambang tidak sempurna, yaitu hpe > 0,4 He debitnya berkurang. Faktor reduksi digunakan
untuk menghitung debit tidak sempurna :

Cdr = 1 jika hpe/He

  h pe  
3/2

Cdr = 1,078  0,909 -    0,183 jika h pe /H - e > 0,4 ........ (8)


  H e  

Keterangan :
hpe adalah beda tinggi tekan zona pemisah efektif dengan taraf mercu terendah = h p - km;
Hp adalah beda tinggi tekan zona pemisah terukur dengan taraf mercu terendah;
He adalah beda tinggi tekan total efektif dengan taraf mercu terendah.
2
V
He = h + - km
2g
Nilai Cdr dihitung dengan menggunakan rumus (8) nilai h pe / he dan Y2 dapat dilihat pada tabel 5,
dimana :
2
CD CS m h
Y2 =
[b ( P1 + h)]
Untuk hpe/he < 0,9; Cdr dapat dihitung dengan pendekatan menggunakan prosedur dua langkah
(kesalahan relatip 1%) sebagai berikut :
a) Perkiraan Cdro berdasarkan pada nilai hpe / he menggunakan hubungan sebagai berikut :
Cdro = 1 ------> jika hpe /he < 0,55
Cdro = 0,9 ------> jika 0,55 pe /he < 0,7
Cdro = 0,8 ------ pe /he < 0,85 ................. (9)
Cdro = 0,7 ------ pe /h e < 0,9

b) Hitung besaran-besaran berikut :


b (P1 + h)
Y2 =
CD CS m h
2

Y1 = 0,16 Cdro2 Y2 2

Cv 0,4 = 1 + 0,5 Y1 Cv 2

He = Cv 0,4 he
0,183
  h pe  
3/2

Cdr = 1,078  0,909 -   


  H e  

Bila hpe /he

11
SNI 03-6455.2-2000

7.6 Batasan Penggunaan


7.6.1 Batas bawah tinggi tekan udik dalam praktek berhubungan dengan besaran pengaruh
sifat fluida dan batas kekasarannya. Untuk ambang dengan mercu berpenampang halus dan
dipelihara dengan baik, tinggi tekan minimum disarankan 0,03 m. Bila mercu dibuat dari beton
halus atau bahan bertekstur serupa, disarankan batas bawahnya 0,06 m.
7.6.2 Nilai perbandingan h’/p1 juga dibatasi pada 2,5 dan batas untuk h’/P2, dimana P2 adalah
taraf mercu terendah relatif terhadap tinggi dasar hilir, seperti terlihat pada Tabel 3. Hal-hal
tersebut diatur dengan lingkup percobaan pemeriksaan dan bervariasi dengan kemiringan
melintangnya.

Tabel 3
Ringkasan koefisien yang disarankan, pembatasan dan penyimpangan
Nilai yang disarankan menurut nilai
Tipe ambang V - rata kemiringan melintang mercu
1 : 20 1 : 10

H1/h1
- Koefisien debit modular CDm 1). 1,23 1,22 1,21
- Faktor koreksi tinggi tekan km . 0,0004 m 0,0005 m 0,0008 m
- Penyimpangan acak pada debit X1 CDm. ± 0,5% ± 0,5% ± 0,5%
- Penyimpangan menurut sistem pada
penyesuaian koefisien debit modular X11 ± 3% ± 3,2% 9± 2,3%
CDm. 65% - 75% 65% - 65% -
- Batas modular. 75% 75%
- Pembatasan lain :
= h1/P1
= h1/P2
- Celah pengukuran

H1/h1 > 1
- Koefisien debit modular CDm 1). 1,24 1,23 1,22
- Faktor koreksi tinggi tekan km . 0,0004 m 0,0005 m 0,0008 m
- Penyimpangan acak pada debit X1 CDm. ± 0,5% ± 0,5% ± 0,5%
- Penyimpangan menurut sistem pada
penyesuaian koefisien debit modular ± 2,5% ± 2,8% ± 2,3%
X11 CDm.
- Batas modular. 65% - 75% 65% - 65% -
- Pembatasan lain : 75% 75%
= h1/P1
= h1/P2
- Celah pengukuran

1) Perhitungan pada kondisi bukan modular harus didasarkan pada C Dm = 1,25;


1,24; 1,22 untuk
nilai kemiringan melintang mercu masing-masing1:40, atau lebih kecil 1:20 dan
1:10.

12
SNI 03-6455.2-2000

Tabel 4
Kecepatan faktor pendekatan dalam pengertian Y1.

Cv untuk masing-masing nilai Y1


Y1 0.000 0.002 0.004 0.006 0.008

0.00 1.000 1.002 1.005 1.008 1.010


0.01 1.013 1.016 1.018 1.021 1.024
0.02 1.027 1.030 1.032 1.035 1.038
0.03 1.041 1.044 1.047 1.050 1.054
0.04 1.057 1.060 1.063 1.067 1.070
0.05 1.074 1.077 1.080 1.084 1.088
0.06 1.092 1.096 1.100 1.104 1.108
0.07 1.112 1.116 1.120 1.124 1.129
0.08 1.133 1.138 1.143 1.148 1.153
0.09 1.158 1.163 1.168 1.174 1.180
0.10 1.185 1.191 1.197 1.203 1.210
0.11 1.216 1.223 1.230 1.237 1.244
0.12 1.252 1.260 1.268 1.277 1.286
0.13 1.295 1.305 1.316 1.326 1.338
0.14 1.350 1.363 1.377 1.392 1.408
0.15 1.426 1.446 1.468 1.492 1.523

Catatan : Tabel 4 dibaca sebagai berikut : Kolom pada tanda Y1 menunjukkan nilai Y1
dalam dua desimal; baris pada tanda Y1 menunjukkan nilai Y1 untuk desimal
ketiga. Contoh, nilai Cv untuk Y1 = 0,069 adalah 1,100

13
SNI 03-6455.2-2000

Tabel 5
Faktor reduksi aliran tidak sempurna Cdr1 fungsi hpe/he dan Y2

14
SNI 03-6455.2-2000

8. Perhitungan Debit

8.1 Langkah-Langkah Perhitungan

Persamaan (1) digunakan untuk menghitung debit dari besaran yang diketahui : P 1, m, h’, b, h
dan hp. Perhitungannya adalah sebagai berikut :
a) Hitung he = h - km dan CD menggunakan persamaan (2) dan nilai C D dan km yang sesuai
dari Tabel 3;
b) Hitung Cs menggunakan persamaan (7);
c) Hitung Cdr. Bila ada kondisi aliran modular, Cdr = 1. Bila kondisi aliran tidak sempurna,
hitung hpe = hp - km dengan menggunkan nilai km dari Tabel 3; hitung perbandingan hpe/he; hitung
Y2 = CD Cs m h2 / [ b (P1 + h) ]; cari nilai Cdr dari Tabel 5 atau hitung Cdr dengan persamaan (9)
dan (10);
d) Hitung Y1 menggunakan persamaan (5); tentukan nilai C v dengan menggunakan
persamaan (6) atau Tabel 4;
e) Tentukan nilai Q dengan mengganti besaran yang telah diketahui kedalam persamaan (1).
Contoh diberikan pada butir 11.

8.2 Akurasi

8.2.1 Secara keseluruhan ketepatan pengukuran akan tergantung pada :

a) Akurasi konstruksi dan bentuk akhir ambang;


b) Akurasi pengukuran tinggi energi;
c) Akurasi pengukuran dimensi;
d) Akurasi nilai-nilai koefisien;
e) Akurasi rumus persamaan debit.
Metode untuk memperkirakan parameter penyimpangan dapat digabungkan untuk memperoleh
penyimpangan secara keseluruhan dalam perhitungan debit seperti diberikan pada butir 9.
8.2.2 Penyimpangan (tingkat kepercayaan 95%) dalam koefisien debit modular dapat dilihat
pada Tabel 3. Hal ini mengakibatkan kesalahan acak dan kesalahan sistematik yang terjadi
pada saat percobaan kalibrasi dan juga pada kondisi sebenarnya tetapi sedikit mengubah nilai
koefisien yang terjadi dengan variasi debit.

9. Kesalahan dalam Pengukuran Debit

9.1 Umum

9.1.1 Penyimpangan total dalam pengukuran aliran dapat diperkirakan jika penyimpangan dari
berbagai sumber digabung. Pada umumnya, kontribusi pada penyimpangan total dapat
diperkirakan dan akan menunjukkan apakah debit aliran dapat diukur dengan ketelitian yang
cukup terhadap masalah yang ditangani.
Butir 9.2. sampai butir 9.7 akan memberikan keterangan yang lengkap kepada pemakai Standar
untuk memperkirakan penyimpangan dalam pengukuran debit.

9.1.2 Kesalahan dapat diketahui jika perbedaan antara debit aliran sebenarnya dan yang
dihitung sesuai dengan persamaan yang digunakan untuk kalibrasi bangunan ukur yang
diperkirakan dibangun dan dipasang menurut standar ini. Pengertian “Penyimpangan”
digunakan untuk menentukan kisaran nilai pengukuran sebenarnya diharapkan berada antara
19 sampai 20 kali (dengan tingkat kepercayaan 95%).

15
SNI 03-6455.2-2000

9.2 Sumber-Sumber Kesalahan


9.2.1. Sumber kesalahan dalam pengukuran debit dapat diidentifikasi dengan menggunakan
persamaan (1) :

5/2 1/2
4 1
Q =    
1/2 5/2
CD CV CS Cdr m g h
5 2

Konstanta (4/5)5/2 (1/2) ½ tidak menimbulkan kesalahan dan kesalahan terhadap g dapat
diabaikan.
9.2.2 Oleh karena itu sumber kesalahan yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut :
a) Koefisien debit CD; perkiraan numerik penyimpangan, yang intinya sama dengan nilai
penyimpangan seperti pada CDm dalam tabel 3;
b) Faktor kecepatan pengarah Cv yang pada umumnya penyimpangan acak dalam faktor ini
begitu kecil, sehingga dapat diabaikan :

XCv = 0 ………………………………….……..(11)

Penyimpangan yang terjadi dalam faktor ini dapat diturunkan dari persamaan (4). Dalam praktek
penyimpangan sistematik (dalam persen) dapat didekati dengan persamaan :

2
h
X" CV =  6 .........................................(12)
b (P1 + h)

c) Faktor bentuk Cs : bila aliran dibatasi oleh V, nilai faktor ini adalah satu dan tidak ada nilai
penyimpangan. Bila aliran diatas kondisi V penuh, nilai faktor ini tergantung pada h
(lihat persamaan 7). Kedua besaran ini akan merupakan besaran yang cukup berarti dan
kesalahan dalam tinggi tekan tidak akan besar pada tingkat ini. Jadi ada lagi penyimpangan
yang diabaikan dalam faktor ini;

XCs = XCs ………………………………….……..(13)

d) Faktor reduksi aliran tidak sempurna C dr : umumnya penyimpangan secara acak dalam
faktor ini dapat diabaikan, sehingga :

XCdr = 0 ………………………………….………...(14)

Bila aliran sempurna nilai faktor ini adalah satu dan tidak ada nilai penyimpangan. Bila alirannya
tidak sempurna ada tiga faktor yang mempengaruhi nilai penyimpangan:
1) Penyimpangan dalam penentuan hubungan antara C dr dengan hpe/He di laboratorium;
2) Penyimpangan dalam pengukuran tinggi tekan efektip di udik, h e;
3) Penyimpangan dalam pengukuran tinggi efektip dalam zona pemisah h pe. Penyajian untuk
penyimpangan sistematik (dalam persen) adalah :

X" Cdr =  5 ( 1 - Cdr) 1 + X"2h + X"2hp .............. (15)

16
SNI 03-6455.2-2000

e) Kemiringan melintang mercu m : nilainya akan tergantung pada keakuratan konstruksi dan
pengukuran berikutnya pada struktur.
f) Tinggi tekan terukur di udik : penyimpangan acak (dalam persen) dalam h diberikan
dengan :

2 Sh
X 'h  100 .............................(16)
h

Keterangan : 2 Sh adalah penyimpangan rata-rata dari n pembacaan tinggi tekan di udik (lihat
butir 9.3); Faktor ini dihubungkan dengan fluktuasi acak dari suatu seri pengukuran. Jika hanya
dilakukan satu kali pembacaan tinggi tekan penyimpangan ini harus diperkirakan oleh
pengguna.
Penyimpangan sistematik dalam h tergantung pada penyimpangan pengukuran tinggi tekan dan
pemasangan titik nol pada alat ukur. Faktor ini diberikan (dalam persen) dengan :

100 e 2h  e 2ho
X"h  ..........................(17)
h

Keterangan :
eh adalah Penyimpangan sistematik dalam pengukuran tinggi tekan di udik (semua
penyimpangan tidak merubah secara acak selama satu seri pengukuran harus dimasukkan
seperti : pantulan balik dan geseran).
eho adalah penyimpangan dalam penentuan titik nol alat ukur.
Penyimpangan eh dan eho harus diperkirakan oleh pengguna.
g) Tinggi tekan zone pemisah hp : penyimpangan dalam hp harus diperlakukan dengan cara
yang sama seperti pada penyimpangan h.

9.3 Tipe-Tipe Kesalahan


9.3.1 Kesalahan dapat diklasifikasi sebagai kesalahan acak atau kesalahan sistematik,
kesalahan acak dipengaruhi oleh hasil pengukuran dan kesalahan sistematik dipengaruhi oleh
keakuratan sebenarnya.
9.3.2 Deviasi standar dari n pengukuran besaran y keadaan tetap dapat diperkirakan dengan
menggunakan persamaan berikut :
Keterangan Y adalah rata-rata aritmatika dari n pengukuran. Deviasi standar dari rata-rata
1
 n 2
  ( Yi  Y ) 
2

Sy   i 1  ................................... (18)
 n 1 
 
adalah :

SY
SY = ............................................... (19)
n

17
SNI 03-6455.2-2000

dan penyimpangan pada rata-rata adalah 2 Sy (pada tingkat kepercayaan 95%). Penyimpangan
ini adalah kontribusi dari pengamatan y terhadap total penyimpangan.
9.3.3 Suatu pengukuran dapat juga mendapatkan kesalahan sistematik. Nilai rata-rata dari
sangat banyak nilai pengukuran akan tetap berbeda dari nilai sebenarnya yang sedang diukur.
Sebagai contoh, kesalahan dalam pemasangan titik nol pada alat ukur tinggi muka air pada
elevasi balik menghasilkan perbedaan sistematik antara rata-rata pengukuran tinggi energi
sebenarnya dengan nilai-nilai sesungguhnya. Pengulangan pengukuran tidak akan
menghilangkan kesalahan sistematik. Nilai sebenarnya hanya dapat ditentukan dengan
pengukuran tersendiri yang diketahui lebih akurat.

9.4 Kesalahan pada Besaran-Besaran dalam Standar ini


9.4.1 Semua kesalahan dalam kategori ini adalah kesalahan sistematik. Nilai koefisien debit
dan sebagainya yang dikutip dalam Standar ini didasarkan pada taksiran percobaan, yang
dilakukan dengan seksama dan dengan pengulangan pembacaan yang cukup untuk menjamin
ketepatan yang memadai.
9.4.2 Akan tetapi, bila pengukuran dilakukan pada instalasi lain yang serupa, perbedaan
sistematik antara koefisien debit dapat terjadi menurut variasi permukaan akhir alat ukur
pemasangannya, kondisi aliran pengarah dan lain-lain.
9.4.3 Penyimpangan koefisien yang dikutip dalam Standar ini dihitung berdasarkan
penyimpangan data percobaan (dari berbagai sumber) dari persamaan teori yang telah
diberikan. Penyimpangan yang disarankan menunjukkan kumpulan kejadian dan percobaan
yang telah dilakukan.

9.5 Kesalahan pada besaran-besaran yang diukur oleh pengguna


9.5.1 Kesalahan acak dan sistematik akan terjadi dalam pengukuran yang dilakukan oleh
pengguna.
9.5.2 Apabila metode pengukuran atau cara-cara pengukuran tidak dispesifikasikan, nilai
penyimpangan tidak dapat diberikan nilai-nilai tersebut harus diperkirakan oleh pemakai.
Sebagai contoh, pertimbangan metode pengukuran lebar bendung harus memungkinkan
pengguna memperkirakan besarnya penyimpangan.
9.5.3 Penyimpangan pada nilai tinggi energi terukur harus ditentukan dari taksiran dari
sumber-sumber penyimpangan yang berbeda, seperti penyimpangan penetapan titik nol,
karakteristik arah angin dominan, kepekaan alat ukur dan pantulan yang ditimbulkan oleh alat
(jika dapat dipertimbangkan) dan sisa penyimpangan rata-rata dari segi pengukuran (jika dapat
dipertimbangkan)

9.6 Kombinasi Penyimpangan


9.6.1 Total penyimpangan sistematik atau acak merupakan penjumlahan dari masing-masing
penyimpangan yang dapat merupakan gabungan dari penyimpangan. Asalkan kontribusi
penyimpangan tidak saling bergantung, kecil-kecil dan banyak penyimpangan ini dapat
digabungkan bersama untuk memberi penyimpangan acak (atau sistematik) pada tingkat
kepercayaan 95%.
9.6.2 Semua sumber yang memberi penyimpangan akan memiliki dua komponen sembarang
dan sistematik. Akan tetapi, dalam dalam kasus tertentu salah satu komponen sembarang atau
sistematik mungkin lebih dominan dan komponen yang lain dapat diabaikan.
9.6.3 Karena perbedaan sifat penyimpangan acak dan sistematik, penyimpangan tersebut
sebaiknya tidak digabungkan satu dengan lainnya. Akan jika tetapi persyaratan pada butir 9.6.1,
dipertimbangkan penyimpangan acak dari sumber yang berbeda dapat digabungkan bersama-
sama dengan cara akar jumlah kuadrat, penyimpangan sistematik dari sumber yang berbeda
dapat digabungkan dengan cara yang sama.

18
SNI 03-6455.2-2000

9.6.4. Persentase penyimpangan acak X’Q dalam debit aliran diberikan seperti :

XQ =  X' CD + Xm + 6, 25 Xh .......................................... (20)


2 2 2 2

Pada pernyataan di atas, Xm umumnya diabaikan.

9.6.5. Persentase penyimpangan sistematik X”Q dalam batasan sebagai berikut :

XQ =  X" C 2
D  X" C 2V  Cdr
2
 X1m/ 2  6,25X1h/ 2 
1/ 2
............................... (21)

Pada pernyataan di atas X”m juga diabaikan.


9.6.6 Harus dicatat bahwa penyimpangan pada debit aliran tidak konstan untuk alat ukur
tertentu, tetapi bervariasi dengan debit aliran. Sebabitu perlu mempertimbangkan
penyimpangan untuk berbagai debit aliran yang mencakup kisaran pengukuran yang diperlukan.

9.7 Penyajian Hasil


Meskipun daftar penyimpangan acak dan sistematik secara terpisah lebih disukai dan sering
diperlukan, namun perlu XQ = +  XQ2 + XQ2 penyajian hasil yang lebih sederhana. Untuk
keperluan ini, penyimpangan acak dan sistematik dapat digabungkan. Dalam hal ini,
penyimpangan acak dan sistematik dapat digabung untuk menghasilkan penyimpangan total
XQ.

10. Contoh
10.1 Aliran Modular Pada Debit Rendah
10.1.1 Data Dasar
Suatu bendung V rata dengan kemiringan melintang mercu 1 : 20,3. Lebar mercu dan lebar
saluran pengarah 36 m dan permukaan dasar di hulu rata-rata 0,82 m di bawah elevasi mercu
terendah. Hitung debit bila pengukuran tinggi energi di hulu 0,61 m. Pembacaan tinggi energi 10
kali berturut-turut memberikan standar deviasi rata-rata 0,5 mm dan perkiraan penyimpangan
pada pembacaan pengukuran titik nol adalah 1 mm. Pengukuran dasar bersama dengan
perkiraan penyimpangan acak dan sistematik diberikan dalam Tabel 6.

19
SNI 03-6455.2-2000

Tabel 6
Penyimpangan acak dan sistematik.
Pengukuran Dasar Estimasi Penyimpangan 1)
Sembarang Sistematik

m = 20,3 ± 0% ± 0,2%
b = 36 m ± 0,002 m ± 0.005 m
P1 = 0,82 m ± 0,001m ± 0,001 m
h = 0,621 m ± 2 sh m ± 0,003 m
h’ = 0,887 m ± 0,001 m ± 0,001 m

1) eho = ± 0,001 m (penyimpangan sistematik)


2 sh = ± 0,001 (penyimpangan acak)

Koefisien dan nilai koreksi tinggi energi yang sesuai didapat dari tabel 3 seperti di bawah ini :

CDm adalah 1,22 (penyimpangan acak ± 0,5% dan penyimpangan sistematik ± 3,2%)
km adalah 0,0005 m (penyimpangan dan diabaikan).

10.1.2 Perhitungan Debit


Berikut ini merupakan contoh perhitungan debit (lihat butir 8.1)
a) he = h - km = 0,6205

he 5 / 2
CD  CD ( )  1,2175
h

b) Cs = 1

c) Cdr = 1

2
 0,4 C D CS C dr m h 2 
d). Y1 =  
 (P1 + h) b 

= 0,0055

1,25 Y1
Cv = 1 + = 1,0070
1 - 2,5 Y1

4 5 1 1 1 5
e). Q = ( ) 2 ( ) 2 CD Cv Cs Cdr m g 2 h 2
5 2

= 9,59 m3/det

Jadi debit yang dihitung adalah 9,59 m 3/det.

20
SNI 03-6455.2-2000

10.1.3. Penyimpangan acak pada debit yang dihitung


Contoh berikut merupakan perhitungan penyimpangan pada debit yang dihitung (lihat butir 9.2).
a) Dari Tabel 3, XCD = ± 0,5%
b) X’m = 0

2Sh_ 0, 00 01
c). Xh =  100 =  100 x =  0,2%
h 0,621

d) Dari persamaan (20) :

XQ =  0, 5 + 0 + 6,25 x 0, 2 =  0,7%


2 2 2

10.1.4 Penyimpangan sistematik pada debit yang dihitung


Contoh perhitungan penyimpangan sistematik pada debit yang dihitung adalah sebagai berikut :
a) Dari Tabel 3 : X’ CD = ± 3,2%
b) Dari persamaan (12) :

0, 6212
X"CV = [ 6 x ] =0
36 ( 0,82 + 0,621 )

c) Untuk aliran modular, XCdr = 0


d) Xm = ± 0,2%
e) Dari persamaan (17) :

100 0, 003 2 + 0, 0012


X"h =  =  0,5%
0,621

f) Dari persamaan (21) :

X"Q =  3, 2 + 0 + 0 + 0, 2 + 6,25 x 0, 5
2 2 2 2 2

= ± 3,4%

10.1.5. Total penyimpangan pada debit


Berdasarkan persamaan (22) total penyimpangan pada debit adalah :

XQ =  0, 7 + 3, 4 =  3,5%
2 2

21
SNI 03-6455.2-2000

10.2. Aliran Tidak Sempurna pada Debit Tinggi


10.2.1 Data Dasar
Ambang V- rata mempunyai kemiringan melintang mercu 1 :10,1. Lebar ambang dan saluran
pengarah adalah 25 m, permukaan dasar di hulu rata-rata 0,56 m di bawah taraf mercu
terendah. Hitung debit bila alat pencatat muka air di hulu dan muka air di atas alat pencatat di
mercu masing-masing 2,614 m dan 2,211 m. Pembacaan berturut-turut terhadap tinggi energi
pada zone pemisah menghasilkan standar deviasi 2,1mm dan perkiraan penyimpangan pada
titik nol 2 mm.

Tabel 7
Perkiraan penyimpangan acak dan penyimpangan sistematik

Perkiraan penyimpangan 1)
Pengukuran Dasar
Acak Sistematik

m = 10,1 ± 0% ± 0,2%
b = 25 m ± 0,002 m ± 0.004 m
P1 = 0,56 m ± 0,002 m ± 0,002 m
h = 2,614 m ± 2 Sh m ± 0,003 m
hp = 2,211 m ± 2 Shp m ± 0,003 m
h1= 1,238 m ± 0,001 m ± 0,001 m

1) eho = ± 0,002 m (penyimpangan sistematik)


2 Sh = ± 0,003 m (penyimpangan acak)
s Shp = ± 0,0042 m (penyimpangan acak)

Nilai koefisien dan koreksi tinggi energi yang sesuai didapat dari Tabel 3 sebagai berikut:
Cdm adalah 1,22 (penyimpangan acak ± 05%);
(penyimpangan sistematik ± 2,3%)
km adalah 0,0008 (penyimpangan diabaikan)

10.2.2 Perhitungan Debit


Berikut ini contoh perhitungan debit (lihat 8.1) :
a) he = h - km = 2,6132 m, atau 2,613 m
CD = CDm (he / h )5/2 = 1,219
b) Cs = 1 - (1 - h1/he)5/2
= 0,7991
c) Hpe = hp - km = 2,2102 m, atau 2,210 m
Hpe/he = 0,8458

CD CS m h 2
Y2 = 
b (P1 + h)

= 0,847

22
SNI 03-6455.2-2000

0,4 CD CS Cdr m h2 2

d) Y1 = 
(P1 + h) b

= 0,0713

e) Q = (4 / 5)5/2 (1 / 2)1/2 CD CV CS Cdr m g1/2 h5/2


= 120, 4 m3/det

Debit yang dihitung adalah 120,4 m 3/det

10.2.3 Penyimpangan acak dalam debit yang dihitung.


Berikut ini contoh perhitungan penyimpangan acak pada debit.
a) dari tabel 3, XCD = + 0,5%
b) Xm = 0
c) Xh = + 100 ( 2 Sh / h ) = + 100 x ( 0,003 / 2,614 ) = + 0,1%
d) Dari persamaan (20)
___________________
XQ = +  0,52 + 02 + 6,25 + 0,12 = + 0,6%

10.2.4 Penyimpangan sistematik pada debit yang dihitung.


Berikut ini contoh perhitungan penyimpangan sistematik pada perhitungan debit yang dihitung
(lihat 9.2)
a) Dari tabel 3, X”CD = ± 2,3%
b) Dari persamaan (12);

 2, 614 2 
X "CV =   6 x =  0,5%
 25 (0,56 + 2,614) 

c) Untuk menghitung X”Cdr dari persamaan (14), lebih dahulu hitung X”h dan X”hp. Dari
persamaan (17);

0, 003 2 + 0, 002 2
X"h =  100 =  0,1%
2,614

dan

23
SNI 03-6455.2-2000

0, 003 2 + 0, 002 2
X"hp =  100 =  0,1%
2,211

Dari persamaan (15);

X"Cdr =  5 (1 - 0,788 1 + 0,12 0,12 =  1,1%

d) X”m = ± 0,2%
e) X”h = ± 0,1%
f) Dari persamaan (21);

X"Q =  2, 3 + 0, 5 + 1, 1 + 0, 2 + 6,25 x 0, 1 =  2,6%


2 2 2 2 2

10.2.5 Total penyimpangan dalam debit


Menurut persamaan (22) total penyimpangan dalam debit adalah :

XQ =  0, 6 + 2, 6 =  2,7%
2 2

24
SNI 03-6455.2-2000

Lampiran A
Daftar Istilah

Aliran tidak sempurna : Undrowned


Aliran sempurna : Drowned
Akurasi : Accuracy
Udik : Upstream
Hilir : Downstream
Pengelupasan : Outflanks
Alat ukur arus : Current - meter
Taraf : Elevation

25
SNI 03-6455.2-2000

Lampiran B
Daftar Simbol

Simbo Keterangan Satuan


l
b Lebar mercu. m
B Lebar saluran pengarah. m
CD Koefisien debit tidak berdimensi
Cdm Koefisien debit modular. tidak berdimensi
Cdr Faktor reduksi aliran tidak sempurna. tidak berdimensi
Cs Faktor bentuk. tidak berdimensi
CV Faktor kecepatan dalam saluran pengarah. tidak berdimensi
eh Penyimpangan pada pengukuran tinggi tekan. m
eh0 Penyimpangan pada pembacaan titik nol. m
g Percepatan gravitasi. m/dt2
h Tinggi tekan di atas taraf mercu terendah. m
H1 Total tinggi tekan di atas taraf mercu terendah. mm
HMax Total tinggi tekan di udik di atas taraf mercu terendah. m
hp Tinggi air pada zone pemisah. m
h1 Perbedaan taraf antara mercu tertinggi dan terendah. m
Km Faktor koreksi tinggi tekan. m
m1 Jarak pengukuran tinggi tekan di udik dari garis mercu. m
m Kemiringan melintang mercu tidak berdimensi (Vertikal : Tidak berdimensi.
Horizontal = 1 : m).
n Jumlah pengukuran. -
P1 Beda tinggi rata-rata dasar dan mercu terendah. m
Q Debit total. m3/dt
R Jari-jari lengkung. m
Sh- Deviasi standar dari rata-rata beberapa pembacaan tinggi m/dt
v tekan. Tidak berdimensi
X1y Kecepatan rata-rata pada penampang melintang. Tidak berdimensi
X”y Persentase penyimpangan acak pada parameter y. Tidak berdimensi
XQ Pesentase penyimpangan sistematik pada parameter y. Tidak berdimensi
Y1 Persentase penyimpangan pada pengukuran debit. Tidak berdimensi
Y2 Parameter yang digunakan dalam perhitungan C v. Tidak berdimensi
Kr Parameter yang digunakan dalam perhitungan C dr. Tidak berdimensi
Kn Koefisien tekan Coriolis untuk tebing kanan. Tidak berdimensi
Koefisien tekan Coriolis untuk tebing kiri dan kanan.

INDEKS :
1 Nilai di udik.
2 Nilai di hilir.
e efektip; menyatakan bahwa koreksi terhadap efek cairan sudah diperhitungkan pada
parameternya.

26
SNI 03-6455.2-2000

Lampiran C
Daftar Nama dan Lembaga

1) Pemrakarsa
Pusat Litbang Teknologi SDA, Badan Litbang Kimbangwil

2) Penyusun

NAMA LEMBAGA

Ir. Sumudi Kartono, Sp Pusat Litbang Teknologi SDA


Ir. Pipin Chr. Sitohang. Pusat Litbang Teknologi SDA

27

Anda mungkin juga menyukai