0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan56 halaman

Golput: Protes terhadap Kualitas Demokrasi

Tulisan ini membahas spektrum golput dan alasan-alasan rakyat memilih golput dalam Pemilu 2019. Golput muncul sebagai bentuk protes atas kualitas demokrasi yang memburuk dan kekecewaan terhadap kandidat yang tersedia, terutama karena janji Jokowi selama menjabat belum terpenuhi seperti masalah pembagian kursi kabinet dan pengangkatan Wiranto meski terlibat pelanggaran HAM berat.

Diunggah oleh

AndraWidjaja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan56 halaman

Golput: Protes terhadap Kualitas Demokrasi

Tulisan ini membahas spektrum golput dan alasan-alasan rakyat memilih golput dalam Pemilu 2019. Golput muncul sebagai bentuk protes atas kualitas demokrasi yang memburuk dan kekecewaan terhadap kandidat yang tersedia, terutama karena janji Jokowi selama menjabat belum terpenuhi seperti masalah pembagian kursi kabinet dan pengangkatan Wiranto meski terlibat pelanggaran HAM berat.

Diunggah oleh

AndraWidjaja
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

GOLPUT

Siapapun yang
Menang, Rakyat
Tetap Kalah

Penulis: Bilven
Kurang dari dua minggu menjelang
Pemilihan Umum 17 April 2019 (Pilpres dan
Pileg serentak), ruang publik masih diisi oleh
kampanye remeh temeh, penuh hoax, dangkal,
dan tanpa substansi. Golput kembali muncul
sebagai akibat dari reaksi publik yang menilai
makin buruknya kualitas demokrasi. Sampai
Debat Capres ke-4 tanggal 30 Maret yang
lalu dari rencana lima putaran debat, secara
umum tak ada perbedaan dan perdebatan
substansial antara kedua paslon yang
tersedia—debat hanya berputar-putar sekitar
klaim, jargon, dan retorika. Dengan modal
angka golput sebesar 30,42% pada Pilpres
2014 silam—ditambah kandidat yang tersedia
masih itu-itu lagi dan relatif sama saja—
golput berpotensi menang dalam Pemilu kali
ini. Tulisan ini berupaya memaknai golput
hari ini. Semoga bermanfaat.
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

muncul sebagai gerakan protes

Golongan putih atau golput adalah istilah politik di Indonesia yang


berawal dari gerakan moral sebagai gerakan protes dari para mahasiswa
dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971 yang merupakan
pemilu pertama di era orde baru. Tokoh yang terkenal memimpin gerakan
ini adalah Arief Budiman, sementara pencetus istilah “golput” adalah
Imam Waluyo.
Istilah ini meniru nama partai politik Soeharto: Golkar. Dipakai
istilah “putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian
putih di kertas surat suara di luar gambar parpol peserta pemilu bagi yang
datang ke bilik suara, sebab kala itu jarang ada yang berani tidak datang
ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena akan ditandai. Menurut
gerakan ini, dengan atau tanpa pemilu, kekuatan efektif yang banyak
menentukan nasib negara ke depan adalah ABRI.1
Dengan struktur politik yang dibangun rezim orde baru Soeharto
melalui 3 pilar politiknya (ABRI, birokrasi, dan Golkar), apa pun pilihan
dalam pemilu tidak akan mengubah sistem yang ada. Politik massa
mengambang (floating mass) yang diterapkan pemerintah orba membuat
rakyat tidak punya kemampuan, baik secara moral maupun aktual, untuk
memengaruhi elite politik. Dengan instrumen politik perizinan, rezim
orba membatasi kebebasan rakyat dalam berkumpul, berorganisasi, dan
mengekspresikan pendapat, dan tentu saja ini bertujuan untuk mengham­
bat lawan-lawan politiknya dalam melakukan kegiatan politik.

1  [Link]

7
Bilven Sandalista

spektrum golput

Secara umum dan sederhana, saat ini semua bentuk hak pilih yang
tidak digunakan (non-voting) disamaratakan sebagai golput. Tapi,
setidaknya ada empat jenis golput yang berbeda latar belakang dan
makna politiknya.
Pertama, golput karena persoalan administratif. Misalnya, tidak
terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan/atau tidak mendapat
undangan untuk mencoblos. Atau mereka yang baru meninggal, tapi
namanya masih masuk DPT.
Kedua, golput karena persoalan teknis. Misalnya, tidak mungkin
menjangkau TPS pada saat hari-H pencoblosan karena lokasi pemilih
jauh di tempat terpencil. Misalnya juga, mahasiswa yang kuliah jauh
di luar kota asal tempatnya terdaftar dan tidak tahu caranya mengurus
mutasi. Atau suatu pekerjaan darurat yang tidak mungkin ditinggalkan
atau diinterupsi, misalnya sedang merawat orang sakit.
Ketiga, golput karena apatisme politik. Tidak mau ambil pusing
dalam persoalan politik. Capek atau bosan dengan ingar bingar
politik yang ada, sementara kehidupan ekonomi tak kunjung ada
perbaikan. Atau misalnya lebih memilih bangun kesiangan pada
hari-H ketimbang pergi antre ke TPS untuk mencoblos. Atau lebih
memilih pergi berlibur ketika hari pencoblosan Rabu 17 April 2019
yang telah ditetapkan menjadi hari libur nasional; apalagi libur
panjang karena Jumat 19 April juga merupakan libur nasional wafat
Isa Almasih dan dengan kemungkinan hari Kamisnya juga akan
mengambil cuti bersama.

8
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Keempat, golput karena kesadaran politik. Merasa tidak ada kandidat


yang layak, kecewa atas dua paslon (pasangan calon) yang tersedia,
protes atas terbatasnya pilihan atau bobroknya sistem politik yang
menghalangi munculnya kemungkinan pilihan alternatif, dan lain
sebagainya.

alasan untuk golput (1):


jokowi mengecewakan

Pada Pilpres 9 Juli 2014, pasangan Joko Widodo–Jusuf Kalla terpilih


sebagai presiden dan wakil presiden dengan perolehan suara sebesar
53,15% mengalahkan pasangan Prabowo Subianto–Hatta Rajasa yang
memperoleh suara sebesar 46,85%.
Pasangan Jokowi–JK mengampanyekan janji-janji dan visi-misi yang
dibungkus dengan sembilan agenda prioritas yang diberi nama Nawacita,
dengan jargon Trisakti berupaya melanjutkan semangat perjuangan dan
cita-cita Soekarno yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi,
dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Ketika rakyat dihadapkan pada dua pilihan antara Jokowi, sipil yang
belum banyak memiliki dosa politik dan Prabowo, bekas jenderal yang
memiliki catatan kejahatan HAM, ternyata memang lebih banyak orang
memilih Jokowi; sebagian orang—termasuk kaum golput seumur hidup
yang kali itu terpaksa “turun gunung”—memilih dengan tujuan untuk
menghadang Prabowo, mantan menantu orang nomor satu rezim orde
baru Soeharto. Prestasi Jokowi sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI
Jakarta menjadi tambahan alasan untuk memilih.

9
Bilven Sandalista

Jokowi pun berkuasa. Semua harapan-harapan pemilih disematkan di


pundak Jokowi. Ia diharapkan mampu mengakomodasi agenda-agenda
progresif dengan melaksana-kan janji-janji kampanye, visi-misi Nawacita,
juga semangat Trisakti dan Revolusi Mental.
Tapi, harapan sudah mulai memudar sejak ia membentuk kabinet
pertamanya.

bagi-bagi kursi
hingga mengangkat wiranto

Saat hendak mendaftarkan diri menjadi calon presiden, Jokowi berjanji


tidak akan membagi-bagikan kursi kepada partai politik pengusungnya
dalam pemerintahan mendatang. Ia mengatakan bahwa tidak ada
transaksi politik apa pun bagi partai yang ingin bergabung dalam koalisi
PDI Perjuangan. Ia berjanji akan mengisi kabinet dengan orang-orang
profesional.
Pernyataan Jokowi menjelang pemilihan presiden itu ternyata
bertolak belakang ketika 15 September 2014. Sesudah terpilih, Jokowi
mengumumkan akan membagi kursi menteri dalam dua bagian, yaitu
16 kursi untuk kalangan profesional partai dan 18 kursi untuk kalangan
profesional nonpartai.
Jokowi-JK mengumumkan kabinet pertama 26 Oktober 2014 di
halaman Istana Negara dan melantiknya sehari setelahnya. Kabinet Kerja
itu diisi 4 menteri koordinator dan 30 menteri. Latar belakang anggota
kabinet ini berasal dari kalangan porfesional dan partai politik pengusung
pemerintah, yaitu PDIP, PKB, Partai NasDem, dan Partai Hanura.

10
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Seiring berjalannya waktu, menjelang satu tahun usia pemerintahan,


tanggal 12 Agustus 2015 Jokowi merombak kabinet. Pada Reshuffle Jilid I
ini, Jokowi mengganti 6 menteri. Perombakan ini tak terkait dengan jatah
parpol, karena yang masuk relatif berlatar belakang profesional semua
kecuali Pramono Anung yang merupakan politisi PDIP.
Beberapa bulan kemudian banyak partai politik melaku-kan konso­
lidasi dengan menggelar Munas, Muktamar, atau Kongres. Usai regenerasi
itu, beberapa partai politik mengubah sikap koalisi. PAN, PPP, dan
Partai Golkar yang semula berada dalam Koalisi Merah Putih (KMP),
pascakonsolidasi berubah haluan menjadi partai pendukung pemerintah.
Mereka bergabung dengan empat parpol yang sejak awal mendukung
Jokowi-JK.
Momen konsolidasi diikuti dengan soal “jatah” kursi untuk parpol
baru pendukung pemerintah. Dua parpol yaitu PAN dan Golkar belum
ada wakil di kabinet, sementara PPP direpresentasikan oleh Menteri
Agama Lukman Hakim. Maka, pada 27 Juli 2016 Presiden Jokowi resmi
melakukan Reshuffle Jilid II dengan 12 menteri sekaligus dari 34 anggota
Kabinet Kerja dengan masuknya politisi PAN dan Golkar di dalam kabinet.
Dalam reshuffle kedua ini adalah kursi Hanura di kabinet diduduki
Wiranto sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan
(Menko Polhukam). Tentu saja penunjukan Wiranto sebagai Menko
Polhukam mendapat reaksi keras. Wiranto adalah salah satu sosok di
balik pelanggaran HAM berat saat aktif menjabat di militer. Berdasarkan
catatan Komnas HAM, Wiranto terlibat kasus penyerbuan kantor PDI 27
Juli 1996, Tragedi Trisakti, Peristiwa Mei 1998, Peristiwa Semanggi I dan
II, penculikan dan penghilangan aktivis prodemokrasi tahun 1997/1998,

11
Bilven Sandalista

dan peristiwa Biak Berdarah. Menurut laporan khusus 92 halaman yang


dikeluarkan Serious Crimes Unit bentukan PBB disebut bahwa ia gagal
mencegah terjadinya kejahatan HAM di Timor Leste.2

kriminalisasi petani
dan konflik agraria

Saat ini, masa pemerintahan Jokowi hampir berakhir, tapi reforma agraria
yang menjadi salah satu janji politiknya semasa kampanye yang tertuang
dalam Nawacita tidak berjalan sebagaimana mestinya. Malah kriminalisasi
di sektor agraria justru terus meluas dan tidak memperlihatkan indikasi
yang serius dari pemerintahan Jokowi untuk menyelesaikan konflik-
konflik tersebut.
Pemerintahan Jokowi malah meneruskan program Masterplan Per­
cepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
yang sangat identik dengan pembangunan infrastruktur dan industri
perkebunan skala luas. Strategi pembangunan yang tidak partisipatif
dan cenderung hanya mewadahi keinginan pemodal oleh pemerintah
menjadi penyebab banyaknya muncul korban dari pihak rakyat kecil.
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat bahwa pada masa
Jokowi konflik tanah meningkat tajam. Sepanjang tahun 2018 sedikitnya
telah terjadi 410 konflik agraria dengan luasan wilayah konflik mencapai
807.177,613 hektar dan melibatkan 87.568 KK di berbagai provinsi di

2  [Link] 160727_indone-
sia_jokowi_wiranto

12
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Indonesia. Sedikitnya 10 orang telah terbunuh, 6 orang tertembak, 132


orang mengalami penganiayaan selama menghadapi tindakan represif,
115 laki-laki dan 17 perempuan.
Sepanjang 2017 terjadi 659 konflik agraria memakan korban 612
orang dengan 369 orang dikriminalisasi, 230 dianiaya atau tertembak,
dan 13 lainnya tewas. Angka itu meningkat hampir 50% dibandingkan
2016. Persoalan agraria tahun 2017 mencakup lahan seluas 520 ribu
hektar dan melibatkan 652 ribu kepala keluarga. Tahun 2016 terjadi 450
konflik. Sepanjang tahun 2015 sedikitnya telah terjadi 252 konflik agraria
dengan luasan wilayah konflik mencapai 400,430 Ha. Konflik-konflik
ini melibatkan sedikitnya 108.714 kepala keluarga (KK). Tahun 2014
terjadi 472 konflik. Infrastruktur dan perkebunan menjadi dua sektor
yang mendominasi konflik.
Secara akumulatif selama kepemimpinan Jokowi hingga 2018 terjadi
1.769 konflik agraria, sedikitnya 41 orang tewas di berbagai wilayah konflik
agraria. Sementara itu, 546 di antaranya dianiaya, 51 orang tertembak,
dan 940 orang dikriminalisasi.3
Artinya, selama empat tahun terjadi 1769 konflik atau 442 kasus/
tahun. Jika dibandingkan era SBY selama sepuluh tahun yang mencapai
987 kasus atau nyaris 100 kasus/tahun, konflik agraria pada era Jokowi
meningkat 4,5 kali lipat dibanding era SBY.
Praktik kriminalisasi aktivis lingkungan memang sudah terjadi sejak
era orde baru, dan pemerintahan Jokowi melanjutkannya. Usman Hamid

3 [Link]
hu-2018-kpa-edisi-peluncuran_.pdf

13
Bilven Sandalista

(Amnesty International Indonesia) menyebut ada dua jenis kriminalisasi


yang biasa dilakukan. Pertama, aktivis lingkungan dituduh sebagai
pihak yang melawan negara. Mereka dituduh sebagai penyebar ideologi
komunisme dan anti-NKRI.
Kedua, aktivis lingkungan dijerat kasus kriminal yang tidak konteks­tual
dengan kasus lingkungan yang mereka perjuangkan. Cara itu dilakukan sa­at
ini karena ambisi pemerintah yang berlebihan dalam proyek pembangun­an
PLTU, PLTA, bandara, Kulonprogo, Kertajati, Kendeng, dsb.4
Mengutip data Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia
(YLBHI), ada 50 orang pejuang lingkungan dan hak atas tanah yang
dikriminalisasikan pada 2017. Sementara sepanjang tahun 2018 lalu,
YLBHI telah menangani 300 kasus konflik agraria di 16 provinsi, dengan
luasan lahan konflik lebih dari 488 hektar. YLBHI menemukan 367
pelanggaran HAM dalam kasus tersebut. Konflik agraria ini berasal dari
perampasan-perampasan lahan di masa lalu. Lahan masyarakat lokal
maupun masyarakat adat yang diambil alih oleh perusahaan swasta
maupun BUMN dengan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) maupun
dengan izin-izin yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan. Dan izin-izin itu sudah berakhir dan tanahnya tidak kunjung
dikembalikan. Pelaku pelanggaran HAM dalam konflik agraria sebagian
besar berasal dari perusahaan, yaitu mencapai 84 kasus. Disusul kemudian
pemerintah daerah dengan 73 kasus dan Perhutani 53 kasus.5

4  [Link]
wi-didesak-setop-kriminalisasi-aktivis-bendera-terbalik
5  [Link]
wi-tak-sentuh-konflik-agraria/[Link]

14
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Kasus-kasus agraria ini tidak tersentuh program reforma agraria


pemerintah. Sebab, reforma agraria yang dijalankan pemerintahan Joko
Widodo-Jusuf Kalla tidak dalam konteks penyelesaian konflik.

gagal penuhi janji


kepada masyarakat adat

Saat pencalonan pada Pilpres 2014, guna meraih simpati dan dukungan
Masyarakat Adat, Jokowi berkomitmen mengakui dan melindungi
Masyarakat Adat yang termanifestasi dalam beberapa poin Nawacita,
yakni, pengesahan RUU Masyarakat Adat, pembentukan Satgas Masyarakat
Adat, meninjau ulang berbagai peraturan sektoral, membentuk mekanisme
nasional penyelesaian sengketa, melaksanakan Putusan MK 35/2012,
dan memulihkan korban-korban kriminalisasi. Tapi, hingga menjelang
akhir lima tahun pertama, komitmen itu mengalami stagnasi. Beberapa
kebijakan pembangunan Jokowi justru memunculkan beban baru bagi
Masyarakat Adat.
Mengenai RUU Masyarakat Adat, justru pemerintahlah yang kini
berupaya menghambat pengesahan RUU Masyarakat Adat. DIM (Daftar
Inventarisasi Masalah) kini tak kunjung diserahkan oleh Pemerintah kepada
DPR RI. Ibaratnya, sekarang pemerintahlah yang melempar bola (RUU
Masyarakat Adat) keluar lapangan. Justru, produk hukum pengakuan
Masyarakat Adat lahir dari utusan politik AMAN (Aliansi Masyarakat Adat
Nusantara) di legislatif. Rukka Sombolinggi (Sekjen AMAN) mengatakan
bahwa RUU Masyarakat Adat adalah harga mati. Melalui itu, AMAN
menilai bagaimana kualitas rezim Jokowi selama lima tahun ini.

15
Bilven Sandalista

Ada empat bukti empirik komitmen Jokowi-JK untuk Masyarakat


Adat dalam Nawacita yang sampai hari ini justru kontradiktif. Pertama,
berbagai kasus pelanggaran HAM yang dialami Masyarakat Adat masih
menggantung. Sampai 2018, AMAN mencatat 262 orang dikriminalisasi.
Kondisi ini menjadi bukti tak terbantahkan dari belum serius­nya
pemerintahan Jokowi-JK dalam menyelesaikan masalah hukum dan
HAM sebagaimana dijanjikan.
Kedua, target pemerintah mempercepat penetapan status hutan
adat sesuai mandat Putusan MK 35/2012 belum tercapai. Pemerintah
berkomitmen menargetkan penetapan hutan kelola masyarakat termasuk
hutan adat 12,6 juta hektar. Sayangnya, hingga kini, untuk hutan adat hanya
berhasil ditetapkan 27.000-an hektar. Jumlah ini sangat jauh dari target.
Ketiga, belum ada desa adat ditetapkan pemerintah. Dari 133 desa adat
yang telah ditetapkan melalui produk hukum daerah, belum ada satu pun
mendapatkan registrasi dan kode desa dari Kementerian Dalam Negeri.
Hal ini karena tumpang tindih fungsi antara Kementerian Dalam Negeri
dan Kementerian Desa. Selain itu, Kementerian Desa juga tak memiliki
nomenklatur dalam pengaturan desa adat secara jelas hingga terjadi
kemandulan dalam mengimplementasi-kan UU Desa Nomor 6/2014.
Keempat, peraturan perundang-undangan soal Masyarakat Adat
masih tumpang-tindih dan saling menyandera. Belum mampu menjawab
kebutuhan Masyarakat Adat bahkan menjadi penyebab utama pengabaian
dan kekerasan terhadap Masyarakat Adat. Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP) mengeluarkan Permen Nomor 8/2018 tentang pedoman
pengakuan Masyarakat Adat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
yang secara substantif sama dengan Permendagri 52/2014. Peraturan

16
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

ini khawatir akan mengalami tumpang-tindih proses dan berujung


kemandulan dalam implementasi.
Empat poin di atas adalah bukti bahwa rezim ini belum serius meng­
akui dan melindungi kedaulatan Masyarakat Adat.6

kebijakan jokowi-jk rugikan buruh

Janji politik Jokowi-JK saat kampanye Pilpres 2014 antara lain janji
menciptakan sepuluh juta lapangan pekerjaan baru, janji Tri Layak
(kerja layak, upah layak, dan hidup layak), janji mempersulit investasi
asing, dan tidak akan membuat utang luar negeri. Namun, terbukti ini
cuma sekadar janji. Kebijakan pemerintahan Jokowi-JK dinilai semakin
menjauh dari tujuan memberikan perlindungan dan menyejahterakan
kaum buruh Indonesia.
Terbit Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tentang Pengupahan dan
Formula Kenaikan Upah Minimum yang menyengsarakan kehidupan para
kaum buruh. Serikat pekerja tidak akan dilibatkan dalam menentukan
kenaikan upah minimum. Keterlibatan serikat pekerja dalam menentukan
kenaikan upah merupakan sesuatu yang sangat prinsip. Di seluruh dunia,
kenaikan upah selalu melibatkan serikat pekerja. Dengan menetapkan
formula kenaikan upah sebatas inflasi ditambah pertumbuhan ekonomi,
maka pemerintahan Jokowi-JK telah merampas hak serikat pekerja untuk
terlibat dalam menentukan kenaikan upah minimum. Ini bertentangan

6 [Link]
akat-adat/

17
Bilven Sandalista

dengan UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No.21 tahun


2000 tentang Serikat Pekerja/Buruh, dan Konvensi ILO No.87 tentang
Kebebasan Berserikat.
Sejak 1982 pada zaman orde baru, Serikat Pekerja dilibatkan dalam
survei pasar untuk menentukan nilai Kebutuhan Fisik Minimum (KFM).
Baru kemudian berunding untuk menentukan besarnya upah minimum
yang salah satu acuannya adalah hasil survei yang dilakukan secara
bersama-sama. Hal ini tidak akan terjadi lagi dengan berlakunya PP
Pengupahan, karena yang menetapkan besarnya inflasi dan pertumbuhan
ekonomi adalah Pemerintah (Badan Pusat Statistik). PP Pengupahan
merupakan kebijakan yang memiskinkan buruh dan mengancam
demokrasi dalam hal kebebasan berserikat. Pemerintahan Jokowi-JK lebih
kejam dibandingkan dengan masa pemerintahan orde baru Soeharto. Pada
masa orde baru, Serikat Pekerja masih dilibatkan dalam kenaikan upah
minimum melalui mekanisme tripartit (buruh – pengusaha – pemerintah).
Upah minimum di Indonesia masih lebih rendah jika dibandingkan
dengan negara-negara lain di ASEAN. Upah rata-rata per bulan di
Indonesia hanya US$174. Angka ini berada di bawah Vietnam US$181
per bulan, Malaysia US$506 per bulan, Filipina US$206 per bulan, dan
Thailand US$357 per bulan. Di Jakarta, upah pada tahun 2017 sekitar
Rp3,3 juta per bulan juga dianggap masih rendah. Padahal upah di Manila,
Filipina, Rp4,2 juta per bulan, Kuala Lumpur, Malaysia, sebesar Rp3,9 juta
per bulan. Sementara Bangkok, Thailand, Rp3,9 juta per bulan sampai
Rp4,1 juta per bulan. Harusnya pemerintah bisa menaikkan upah buruh
sebesar 15 sampai 20 persen. Bukan dengan formula PP 78 dengan besaran
8,25 persen. Apabila kenaikan upah ditentukan hanya sebatas inflasi plus

18
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

pertumbuhan ekonomi, maka setiap tahun penyesuaian upah di Indonesia


hanya dalam kisaran 10 persen (bahkan bisa lebih kecil). Padahal harga
kebutuhan pokok di Indonesia penuh dengan ketidakpastian.
PP 78 pengupahan didalangi “pengusaha hitam” yang serakah
dan rakus. Dalam paket ekonomi jilid I hingga III, pengusaha sudah
mendapatkan semua kemudahan yang mereka inginkan. Serikat pekerja
pun mendukung langkah pemerintah untuk melindungi dunia usaha
dengan penurunan tarif listrik untuk industri, gas untuk industri, dan
memberikan bantuan dan kemudahan bagi pengusaha yang tidak
melakukan PHK terhadap pekerja. Tetapi dalam paket ekonomi jilid IV,
yang diterima kaum pekerja seperti air susu dibalas air tuba. Kenaikan
upah dibatasi hanya sebatas inflasi dan pertumbuhan ekonomi, dan
bisa dipastikan nilainya akan sangat kecil sekali. Dengan kata lain,
pemerintah telah membuat kebijakan yang berorientasi terhadap upah
murah. Kebijakan seperti ini curang dan tidak adil bagi buruh.7
Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 16 Tahun
2015 sebagai revisi Permenaker Nomor 12 Tahun 2013, pemerintah
telah menghapus syarat kewajiban berbahasa Indonesia terhadap Tenaga
Kerja Asing (TKA) yang ingin bekerja di Indonesia. Kemudahan dalam
berbahasa inilah yang menjadi salah satu sebab membanjirnya TKA,
khususnya “unskill workers” dari Tiongkok. Berbanding terbalik dengan
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di luar negeri, yang
diwajibkan untuk belajar bahasa negara tujuan.

7  [Link]
jelasan-lengkap/

19
Bilven Sandalista

Permenaker Nomor 35 tahun 2015 menghilangkan syarat rasio


1:10, di mana setiap 1 orang TKA harus ada 10 orang tenaga kerja
Indonesia sebagai pendamping, yang bertujuan untuk transfer ilmu dan
teknologi. Penghapusan syarat rasio di atas dikhawatirkan menghilangkan
kesempatan terjadinya alih pengetahuan dan alih teknologi dari TKA ke
tenaga kerja lokal.
Permenaker No.36/2016 tentang Pemagangan di Dalam Negeri,
merugikan hak-hak pekerja. Peraturan tersebut malah membuat celah
bagi perusahaan untuk semakin eksploitatif terhadap pekerja. Permenaker
tersebut hanya menguntungkan bagi perusahaan saja. Berdasarkan
Permenaker No.36/2016, pengusaha dapat mempekerjakan peserta
magang hingga 30 persen dari jumlah karyawan. Jangka waktunya satu
tahun. Namun dapat diperpanjang terus, tanpa kewajiban membayar
upah. Alasannya, pemagangan sebagai bagian sistem pelatihan kerja untuk
menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Peserta magang hanya
berhak dapat uang saku yang meliputi biaya transpor, uang makan, dan
insentif yang besarannya ditentukan sepihak oleh perusahaan. Sehingga,
pemagangan mengakibatkan PHK pada karyawan tetap karena penguasaha
memilih menggunakan tenaga kerja magang yang jauh lebih murah.
Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja
Asing, bakal membuat arus kedatangan pekerja asing ke dalam negeri
semakin deras, dan mengancam tenaga kerja lokal untuk bisa mendapatkan
pekerjaan.

20
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

kedaulatan pangan gagal,


impor besar-besaran

Jokowi mencantumkan kedaulatan pangan sebagai salah satu program


prioritas dalam Nawacita. Saat baru menjabat sebagai presiden tahun 2014,
Jokowi menargetkan swasem-bada sejumlah komoditi pangan strategis
seperti kedelai, jagung, padi, dan gula, bisa terlaksana dalam tiga tahun.
Namun, yang terjadi justru impor ugal-ugalan yang sangat merugikan
petani sehingga kedaulatan pangan gagal tercapai.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras tahun 2014
tembus 844 ribu ton. Setahun setelah pemerintahan berjalan, impor beras
naik tipis 861 ribu ton. Kemudian, pemerintah kembali mengimpor beras
sebanyak 1,28 juta ton pada 2016, dan sempat turun menjadi hanya 305
ribu ton pada 2017. Tahun lalu, impor beras kembali meroket hampir
mencapai tujuh kali lipat tahun sebelumnya menjadi 2,25 juta ton.
Impor gula tahun 2014 tercatat 2,96 juta ton. Sementara akhir tahun
lalu, angkanya sudah mencapai 5,02 juta ton.
Impor garam tahun 2014 terpantau sebesar 2,26 juta ton. Sempat
ditekan pada 2015 menjadi 1,86 juta ton. Namun, kembali melonjak pada
2016 menjadi 2,14 juta ton. Impor garam kembali bertambah menjadi
2,55 juta ton pada 2017 dan sebesar 2,83 juta ton pada 2018.8
Beberapa bahan pangan belum bisa ditingkatkan produksinya untuk
menekan impor. Sebagai negara pembuat tempe, Indonesia membutuhkan

8 [Link]
swasembada-pangan-kau-kejar-banjir-impor-ku-dapat

21
Bilven Sandalista

sekitar 2 juta ton kedelai setiap tahun. Tapi, produksi dalam negeri menurut
BPS masih kurang dari satu juta ton. Tahun 2014, total produksi kedelai
di Indonesia hanya 954.997 ton. Setahun kemudian, angkanya naik,
tetapi tak signifikan, hanya 963.183 ton. Tahun 2016, produksi malah
turun ke angka 890 ribu ton. Tahun 2017 diprediksi turun lagi menjadi
hanya 750 ribu ton.
Swasembada kedelai telah dicanangkan sejak 2014, tetapi sampai
2017 masih jauh panggang dari api. Setiap tahun, Indonesia lebih banyak
mengimpor kedelai daripada yang bisa diproduksi. Ini ironi lain di negara
produsen tempe. Tahun 2016, misalnya, impor kedelai mencapai 2,3 juta
ton. Sampai akhir tahun 2017, angka impor kedelai diperkirakan naik
menjadi 2,53 juta ton.
Produksi kacang tanah lebih menyedihkan dibanding kedelai. Kalau
produksi kedelai sempat naik tipis pada 2015, produksi kacang tanah malah
menurun. Tahun 2013, produksi kacang tanah Indonesia bisa menyentuh
angka 701.680 ton. Tahun 2014, pada masa awal pemerintahan Jokowi-JK,
angkanya turun menjadi 638.896 ton. Tahun 2015, total produksi turun
lagi menjadi 605.449 ton.
Padahal kebutuhan kacang tanah menurut Kementerian Pertanian
sekitar 700 ribu ton pada 2016. Alhasil, Indonesia masih harus mengimpor
kacang tanah. Sepanjang 2014, volume impor kacang tanah tercatat sebesar
253.236 ton. Tahun 2015, meski produksi menurun, tetapi volume impor
juga turun tipis menjadi hanya 194.430 ton.9

9  [Link]

22
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Dalam empat tahun terakhir impor tidak terkendali malah cenderung


obral impor. Dampaknya, yang terpukul adalah petani dalam negeri.
Tujuan untuk swasembada pangan dikhianati dengan kebijakan impor
ugal-ugalan dan penunjukan pejabat yang doyan rente.

ingkar janji penyelesaian


pelanggaran ham berat

Pada masa kampanye Pilpres 2014, Jokowi berkomitmen menyelesai­kan


kasus-kasus pelanggaran berat HAM masa lalu dan menghapus impunitas.
Komitmen tersebut tercantum dalam visi, misi, dan program aksi yang
dikenal dengan sebutan Nawacita. Salah satu poin dalam sembilan agenda
prioritas Nawacita, Jokowi berjanji akan memprioritaskan penyelesaian
secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa
lalu yang menjadi beban sosial politik, yaitu kasus Kerusuhan Mei 1998,
kasus Trisaksi, Semanggi I, Semanggi II, kasus Penghilangan Paksa, kasus
Talangsari, Tanjung Priok, dan Tragedi 1965.
Selama menjabat, Presiden Joko Widodo belum melakukan langkah
signifikan terkait janji penuntasan kasus pelanggaran berat HAM masa lalu.
Tidak ada satu kasus pun yang diselesaikan. Hingga saat ini, Kejaksaan
Agung belum membuat langkah konkret untuk menindaklanjuti berkas
penyelidikan kasus pelanggaran berat HAM masa lalu dari Komnas HAM.
Padahal Komnas HAM telah menyerahkan berkas penyelidikan sejumlah
kasus pelanggaran berat HAM masa lalu kepada Jaksa Agung sejak 2002.
Berkas penyelidikan yang telah diserahkan adalah kasus Peristiwa
1965/1966, Peristiwa Penembakan Misterius (Petrus) 1982–1985, Peristiwa

23
Bilven Sandalista

Penghilangan Paksa Aktivis 1997–1998, Peristiwa Trisakti, Semanggi I, dan


Semanggi II 1998–1999, Peristiwa Talangsari 1989, Peristiwa Kerusuhan
Mei 1998, dan Peristiwa Wasior Wamena 2000–2003. Komnas HAM juga
menambah tiga berkas kasus pelanggaran berat HAM di Aceh, yakni
kasus Jambu Kepok, kasus Simpang KKA, dan kasus Rumah Gedong
yang diserahkan pada 2017–2018.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang
Politik, Hukum dan Keamanan, mewacanakan penyelesaian kasus
melalui mekanisme nonyudisial, yakni pembentukan Dewan Kerukunan
Nasional (DKN). Kemudian DKN diubah menjadi Tim Gabungan Terpadu
Penyelesaian Pelanggaran HAM berat masa lalu. Pembentukan Tim
Gabungan ini jelas sekali tidak memperhatikan mekanisme akuntabilitas
dan prinsip keadilan bagi korban, mengingat penyelesaian pelanggaran
HAM berat di Indonesia harus diselesaikan melalui Pengadilan HAM ad
hoc sebagaimana diatur dalam UU 26/2000 tentang Pengadilan HAM.10
Jokowi setidaknya merangkul tiga purnawirawan jenderal yang
diduga terlibat dalam pelanggaran HAM berat. Menurut KontraS,
tiga jenderal yang mengunci Jokowi itu adalah Menko Polhukam
Wiranto, yang patut dimintai pertanggungjawaban dalam kasus Trisakti,
Semanggi I, Semanggi II, dan Timor Leste; Hendropriyono dalam
kasus Talangsari dan pembunuhan Munir Said Thalib; serta Menteri
Pertahanan Ryamizard Ryacudu dalam kasus pembunuhan pemimpin
Papua Theys Hiyo Eluay.

10  [Link]
saikan-kasus-pelanggaran-ham-berat-masa-lalu/

24
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Ditambah pula, empat orang yang terlibat dalam operasi Tim Mawar,
tim yang ditengarai terlibat dalam penculikan sejumlah aktivis di era
Orde Baru, mengalami kenaikan pangkat tahun 2016. Empat anggota
Tim Mawar yang baru saja menerima kenaikan pangkat menjadi Brigadir
Jenderal adalah Fauzambi Syahrul Multazhar, Nugroho Sulistyo Budi,
Yulius Selvanus, dan Dadang Hendra Yuda.1112
Pada 16 September 2016, Hartomo jadi sorotan media lantaran
institusi militer mengabaikan jejak masa lalunya dan malah diangkat
sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI. Sebelumnya,
Hartomo diangkat menjadi Gubernur Akademi Militer di Magelang.
Pangkatnya kini adalah Mayor Jenderal. Pada 2003, Hartomo didakwa
oleh sebuah persidangan dan divonis 3,5 tahun penjara karena terlibat
dalam pembunuhan tokoh Papua Theys Eluay 11 November 2001
oleh prajurit Komando Pasukan Khusus ketika Hartomo menjabat
Komandan Satuan Tugas Tribuana 10, sebuah Satgas Kopassus, yang
bertugas di Jayapura.13
Menurut Yati Andriyani (Koordinator Kontras), Jokowi tersandera
dengan berbagai kompromi politik atas nama stabilitas politik. Presiden
Jokowi menggunakan isu pelanggaran HAM berat hanya untuk men­
dapatkan sokongan politik, suara, atau dukungan politik.14

11  [Link] pengangkatan.


[Link].
12  [Link]
13  [Link]
cat-hartomo-kini-jadi-kabais/full&view=ok
14  [Link]
rat-ct4G

25
Bilven Sandalista

Jokowi tidak memiliki komitmen yang kuat untuk menyelesaikan


pelanggaran HAM masa lalu. Jokowi bahkan dapat disebut ingkar janji,
utamanya kepada para keluarga korban kasus pelanggaran HAM berat
masa lalu. Selain catatan merah bagi pemerintahan Jokowi–JK terkait
penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat yang menjadi poin dalam
Nawacita namun tak terlaksana, Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
Jakarta juga mencatat banyak kasus pelanggaran HAM yang terjadi di
era pemerintahan Jokowi–JK seperti misalnya kasus Novel Baswedan
yang tak kunjung tuntas lalu dibiarkan saja.
Selama tiga tahun pertama pemerintah era Jokowi–JK berjalan, sudah
18 orang dieksekusi mati. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan
eksekusi mati sebanyak 16 orang ketika era SBY selama 10 tahun menjabat.
Indonesia menjadi sorotan internasional dalam forum Persatuan Bangsa-
bangsa (PBB). Sejumlah negara menyorot soal tingginya angka hukuman
mati di Indonesia. PBB mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk
Indonesia, intinya meminta agar hukuman mati dihapuskan.15
Sejak rezim Jokowi gencar membangun infrastruktur, dalam 4 tahun,
Komnas HAM mencatat ada sekitar 400 aduan masyarakat berkaitan
dengan isu pembangunan jalan tol, revitalisasi jalur dan stasiun kereta
api, pembangunan bandara, waduk, dan sejenisnya. Komnas HAM
menyayangkan masih terjadi kriminalisasi terhadap warga oleh aparatur
dalam pembebasan lahan yang tanahnya terdampak pembangunan
strategis. Umumnya, konflik yang berpotensi memunculkan pelanggaran

15  [Link] komnas-ham-ek-


sekusi-mati-di-era-jokowi-lebih-banyak-daripada-era-sby

26
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

itu terjadi antara masyarakat dan TNI-Polisi. Di Jakarta, dalam catatan


LBH Jakarta, ada 57 persen kasus penggusuran paksa yang melibatkan
aparat TNI sepanjang 2016. Dari 90 kasus penggusuran paksa, 53 kasus
di antaranya mengerahkan aparat TNI. Pada 2015, 65 dari 113 kasus
penggusuran paksa melibatkan TNI.16
KontraS mencatat tindak kekerasan telah mencoreng kredibilitas
TNI sepanjang Agustus 2016 hingga Agustus 2017. Ada 138 tindak
kekerasan dan pelanggaran HAM yang melibatkan serdadu. Di antaranya
mengakibatkan 15 orang meninggal, 124 luka-luka, 63 orang ditangkap
secara sewenang-wenang, dan 65 peristiwa penganiayaan sipil. Dari
pelaku: 97 kasus oleh TNI AD; 25 kasus oleh TNI AU; dan 16 kasus
oleh TNI AL. Kasus-kasus ini tergolong penganiayaan (65 kasus),
bisnis keamanan (42 kasus), tindakan yang merendahkan martabat
manusia (32 kasus), perusakan (16 kasus), penembakan (10 kasus),
dan pendudukan (10 kasus). Dari lokasi: 93 kali terjadi di Sumatera
Utara, 39 kali di Nusa Tenggara Barat, 38 kali di Jawa Barat, 36 kali di
Sulawesi Selatan, 23 kali di Jawa Timur, dan 18 kali di Papua. Pelanggaran
HAM ini paling sering terjadi pada September, Oktober, dan November
2016. Komnas Perempuan juga mencatat ada 31 kasus kekerasan TNI
terhadap perempuan sepanjang 2016. Selain itu, ada 6 kasus kekerasan
terhadap perempuan dalam proses penangkapan dan penahanan oleh
aparat kepolisian dan TNI di Banten, DKI Jakarta, Sulawesi Tengah,
dan Jawa Tengah.17

16  [Link]
17  Ibid.

27
Bilven Sandalista

Berdasarkan catatan Setara Institute, ada 13 pelanggaran HAM


selama 2015: 6 kasus di antaranya dilakukan oleh tentara dan polisi. Ada
sekitar 100 orang Papua yang jadi korban, 9 orang meninggal, 49 orang
luka-luka, dan 42 orang ditangkap oleh aparat TNI dan Polri. Papua tetap
jadi salah satu wilayah paling termiliterisasi: seorang polisi atau tentara
mengawasi 97 warga sipil.18
Tanggal 8 Desember 2014—masa pemerintahan Jokowi–JK—terjadi
peristiwa di lapangan Karel Gobai, Kota Enarotali, Kabupaten Paniai,
Papua, menewaskan empat pemuda setempat, Apius Gobay (16 tahun)
yang tertembak di perut, Alpius Youw (18 tahun) tertembak di pantat,
Simon Degei (17 tahun) tertembak di rusuk, dan Yulianus Yeimo (17
tahun) tertembak di perut dan punggung. Presiden Joko Widodo di depan
masyarakat Papua saat ibadah Natal nasional di Stadion Mandala, Jayapura,
27 Desember 2014 meminta Kepolisian RI agar segera menyelesaikan
kasus Paniai Berdarah hingga tuntas. Namun, sudah lebih dari empat
tahun berjalan, janji Presiden Jokowi akan mengusut tuntas kasus Paniai
Berdarah belum juga ditepati. Keluarga korban bahkan merasa tertipu
dan sudah tidak percaya Indonesia. Paniai adalah kata kunci penting
untuk menilai kesungguhan pemerintah menyelesaikan kasus-kasus
pelanggaran HAM di Tanah Papua. Keluarga korban justru ditawarkan
uang oleh pemerintah dengan nominal menggiurkan, Rp4 miliar sebagai
kompensasi atas tewasnya empat pelajar di Enarotali itu. Tawaran tersebut
ditolak keluarga korban dengan alasan mereka mau pemerintah harus
mengungkap para pelaku penembakan, keadilan harus ada karena anak

18  Ibid.

28
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

mereka yang mau sekolah untuk menjadi tuan di atas tanah airnya sendiri
telah mati ditembak. Nyawa manusia tidak bisa dibeli dengan uang.
Belakangan korban meninggal dunia bertambah menyusul meninggalnya
Yulianus Yeimo pada April 2018. Ia adalah pemuda kampung Ipakiye,
korban penganiayaan aparat tanggal 7 Desember 2014 malam, beberapa
jam sebelum tragedi berdarah di Lapangan Karel Gobai Enarotali, Paniai.19
Selain itu, kasus pelanggaran HAM yang menjadi catatan merah
pemerintahan Jokowi adalah pelanggaran hak berekspresi. UU ITE20 saat
ini menjadi senjata ampuh untuk membungkam kebebasan berekspresi
rakyatnya.21 Sudah ratusan korban UU ITE. Yang paling mutakhir adalah
kasus penangkapan Robertus Robet, dosen Sosiologi Universitas Negeri
Jakarta (UNJ). Ia diciduk polisi 7 Maret dini hari dari rumahnya setelah
beberapa hari sebelumnya diteror dan diintimidasi aparat, lalu ditahan
dan diperiksa, karena menyanyikan gubahan mars ABRI yang pernah
populer dinyanyikan aktivis ketika masa gerakan reformasi 21 tahun
silam di dalam Aksi Kamisan ke-576, 28 Februari 2018 yang mengangkat
tema “tolak dwifungsi TNI”, sebagai pengantar pembuka orasi refleksi
yang isinya menolak rencana pemerintah menempatkan perwira aktif
di kementerian. Robet dijadikan tersangka atas Pasal 45 ayat (2) Jo Pasal
28 ayat (2) UU 19/2016 tentang perubahan atas UU 11/2009 tentang

19  [Link]
lum-terungkap-jokowi-tipu-oap/ ; [Link] [Link]/a/amnesty-in-
ternational-indonesia-desak-pemerintah-tuntaskan-kasus-paniai/[Link]
20  Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU Nomor 11
Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik
21  [Link]
mereka-yang-dibungkam-uu-ite-di-rezim-jokowi/2 ; [Link]
nasional/521564/uu-ite-ancam-kebebasan-berpendapat-dan-berekspresi

29
Bilven Sandalista

ITE dan/atau Pasal 14 ayat (2) jo Pasal 15 UU No 1 tahun 1946 tentang


Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP.22

gagal melindungi minoritas

Berbagai kasus yang menunjukkan gagalnya pemerintah melindungi


kaum minoritas menjadi catatan buruk yang mewarnai pemerintahan
Jokowi. Pasal penistaan agama yang memakan korban, penutupan rumah
ibadah, kekerasan terhadap kaum marginal, dsb.
Sepanjang lima tahun masa pemerintahan Joko Widodo yang
mengusung “kebhinnekaan” dalam kampanye Nawacita, kasus-kasus
penutupan gereja yang berlarut-larut seperti GKI Yasmin (sejak 2008)
dan HKBP Filadelfia (juga sejak 2008) tak kunjung beres. Para jemaat
kedua gereja itu sudah menggelar 189 kali kebaktian di depan Istana
Negara, tapi tak kunjung diselesaikan oleh pemerintahan Jokowi. Kasus
seperti ini bukan cuma terjadi pada kelompok Kristen, tapi juga pada
Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Sepanjang lima tahun terakhir, ada lima
masjid Ahmadiyah ditutup. Itu belum termasuk persekusi dan pengusiran
di Lombok.
Tidak ada jejak keberpihakan Jokowi terhadap kelompok minoritas
yang tertindas. Dalam urusan SKB 2 Menteri tentang pendirian rumah
ibadah yang kerap jadi batu sandungan pendirian rumah ibadah kelompok
minoritas, Jokowi sama sekali tidak melakukan apa-apa. Padahal sebagai

22  [Link]
kum-demokrasi-diEG ; [Link]
ya-berlanjut-diFE

30
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

presiden, ia memiliki kuasa untuk memerintahkan menterinya mencabut


peraturan bermasalah tersebut.23
Jokowi hanya jualan isu keberagaman, toleransi, pluralisme, dan lain
lain. Ada kasus-kasus lama seperti kasus GKI Yasmin, HKBP Filadelfia
yang seharusnya dapat dia selesaikan, tapi tidak dia selesaikan, atau
tentang putusan Mahkamah Konstitusi untuk Penghayat. Padahal ia tak
perlu melakukan tindakan yang heroik, cukup menjalankan putusan
pengadilan, tapi itu pun tak dilakukan. Aspirasi minoritas bukan lagi
prioritas Jokowi. Ia lebih memilih memainkan politik identitas dengan
memenangkan hati kaum Islam konservatif dan mengesampingkan suara
kaum minoritas dan pluralis. Jokowi lebih memilih mengabaikan suara
kaum marginal yang dibungkam oleh kaum religius yang seringkali
menjadi pemegang “kebenaran” di Indonesia di atas hukum yang berlaku.
Penutupan gereja, perlakuan diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum
LGBT, sering dibiarkan demi menyenangkan kaum mayoritas.
Kecewa dengan pilihan cawapres Ma’ruf Amin
Pada 9 Agustus 2018, Jokowi secara resmi memilih Ketua Majelis
Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Rais ‘Aam PBNU [Link]. K.H. Ma’ruf
Amin. Pilihan ini merupakan hasil kompromi dengan partai-partai
pendukungnya, dan merupakan upaya meraih suara dari golongan Islam
konservatif, termasuk menepis tuduhan Jokowi sebagai antiulama.
Yang lebih mengecewakan, tokoh agama yang diusung Jokowi ini
memiliki catatan buruk terhadap kaum minoritas, salah satunya ketika

23  [Link]
dhkd

31
Bilven Sandalista

2016 lalu menjadi salah satu saksi yang memberatkan Basuki Tjahaja
Purnama dalam persidangan atas tuduhan penodaan agama. Pernyataan
ini turut membikin Ahok, yang ketika itu masih jadi Gubernur DKI,
mendekam di sel.
Tahun 2005, dalam Munas VII MUI, Ma’ruf Amin yang ketika itu
menjabat Komisi Fatwa MUI memutuskan Ahmadiyah adalah aliran
sesat dan menyesatkan. Menurut Asfinawati (Direktur YLBHI), MUI
memang punya hak untuk mengeluarkan fatwa, tapi MUI sudah melebihi
kewenangan mereka karena dalam keputusan yang sama juga meminta
pemerintah pusat menutup rumah ibadah Ahmadiyah. Tahun 1980-an
ada pandangan terhadap Ahmadiyah yang sangat berbeda, tapi tidak bisa
meminta negara untuk mengeksekusi dan menutup rumah-rumah ibadah.
Pernyataan terbuka Ma’ruf juga kerapkali kontroversial dan men­
diskreditkan kelompok minoritas, dan ini sejalan dengan pandangannya
bertahun-tahun sebelumnya. Ketika Satpol PP Depok menyegel masjid
milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di kawasan Sawangan, Depok,
pada 2016, Ma’ruf mendukung itu.
Ma’ruf juga pernah mengatakan bahwa LGBT itu haram dan seharus­­nya
di­pidana. Ia bilang, kaum LGBT seharusnya direhabilitasi. Pernyataan-
pernyataan tersebut, kata Asfin, tentu saja mampu memicu konflik dan
kekerasan berkepanjangan karena keluar dari mulut orang yang punya
otoritas.24

24  [Link]
amp-prabowo-cRWL

32
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

alasan untuk golput (2):


prabowo bukan pilihan

Prabowo jelas bukan merupakan pilihan karena rekam jejaknya pada kasus
pelanggaran HAM. Prabowo memiliki catatan dalam kasus penculikan
aktivis 1997/1998 yaitu peristiwa penghilangan orang secara paksa atau
penculikan terhadap para aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang
pelaksanaan Pemilu 1997 dan Sidang Umum MPR 1998
Mendukung Prabowo berarti mendukung bagian dari dinasti orde
baru Soeharto. Saat orde baru berkuasa, militer sepenuhnya memegang
kendali di Indonesia. Beragam peristiwa kekerasan yang dimotori militer
menjadi bagian sejarah pahit yang tak bisa dihapus.
Prabowo yang kerap bicara isu kerakyatan dan di visi misinya menyebut
soal kriminalisasi, tapi Prabowo di masa lalu adalah bagian dari pelaku
kriminalisasi. Belum lagi ratusan hektar tanah yang dimiliki Prabowo dan
proyek-proyek yang dimilikinya tentu akan menjadi konflik kepentingan
apabila berkuasa.
Lagipula, selama lima tahun pemerintahan Jokowi-JK ini, kubu
oposisi yang dipimpin Prabowo dan Partai Gerindra bersama dengan
partai koalisinya—PAN dan PKS, tidak menjalankan fungsi oposisi
sebagaimana mestinya. Berbeda dengan kritik yang dilakukan bekas
pemilih Jokowi di atas tadi, kubu oposisi ini tidak mengkritik Jokowi-JK
dengan substansi kritik yang sama. Kritik atau serangan kubu oposisi ini
kepada kubu petahana kebanyakan superfisial, recehan, dan menyerang
personal—keturunan PKI/Cina, asing-aseng, plonga-plongo, kominis, dan
semacamnya. Tidak ada kemajuan yang berarti dalam kualitas demokrasi

33
Bilven Sandalista

dibanding Pilpres 2014. Jika menjadi oposisi saja mengecewakan,


bagaimana mungkin bisa menjadi alternatif pilihan? Kira-kira apa sebab
kubu oposisi tidak mengkritik petahana secara substansial dan intelek?
Jangan-jangan memang kedua kubu ini tidak memiliki perbedaan yang
signifikan.

para oligark di belakang jokowi


dan prabowo

Tidak mudah bikin parpol untuk ikut Pemilu 2019. Syarat administratif
yang berat seperti kantor di seluruh provinsi hingga kota, kepengurusan
minimal 75% dari jumlah kabupaten/kota di setiap provinsi, 50% dari
jumlah kecamatan di kabupaten/kota itu, keterwakilan perempuan 30%,
serta keanggotaan minimal 1.000 atau 1/1.000 dari jumlah penduduk,
selain berbadan hukum. Untuk bisa masuk parlemen mensyaratkan
ambang batas perolehan suara (electoral threshold) 4%, lebih tinggi dari
dua Pemilu sebelumnya, yaitu 2,5% (2009) dan 3,5% (2014). Pemilu 2019
ini mereka tak hanya saling bersaing, tetapi juga berkoalisi mengusung
calon presiden dan wakil presiden, karena tak satu partai meraih 20%
kursi di DPR.
Banyak parpol berada dalam cengkeraman oligarki. Golkar yang
dibesarkan di dalam negara orde baru, menjadi kendaraan politik penting
bagi oligarki dalam berebut sumber daya negara hingga kini. Oligarki tak
lagi menumpuk di Golkar. Mereka saling bersaing, dengan menyeberang
partai lain atau membentuk partai baru. PDIP yang awalnya sebagai
oposisi, juga menarik masuk sejumlah pengusaha atau pebisnis untuk

34
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

menduduki jabatan di partainya. PAN tak ketinggalan mengikuti jejak


yang sama, menyediakan posisi pada pebisnis. Partai Demokrat yang
muncul setelah Pemilu 1999, tetap tak terlepas dari jangkauan oligarki
hingga SBY bisa melenggang dua periode terpilih jadi presiden. Dalam
periode ini pula terselip skandal bailout Bank Century serta “mafia migas”.
Mereka yang hengkang dari Golkar membesut beberapa partai
baru. Prabowo Subianto bersama adiknya Hashim, yang juga seorang
konglomerat, mengibarkan Partai Gerindra. Wiranto mendirikan Partai
Hanura yang kini diketuai seorang pengusaha. Belakangan “putra Cendana”,
Tommy Soeharto membesut Partai Berkarya. Surya Paloh, seorang
konglomerat media dan properti, memimpin Partai Nasdem. Konglomerat
media lainnya, Hary Tanoesoedibjo, mengerek partai baru, Partai Perindo.
Partai baru lainnya, Partai Garuda, disebut-sebut ada keluarga Cendana di
belakangnya. PKB di bawah sentuhan Muhaimin Iskandar, juga menarik
beberapa pengusaha.
Begitulah gejala oligarki menguasai parpol, maka politik ditentukan
oleh kekuatan uang dan kepentingan bisnis. Sehingga demokrasi elektoral—
Pemilu Legislatif dan Presiden, serta Pilkada—selalu dilumuri “politik
uang” (money politics), serta buahnya banyak politikus DPR dan DPRD
maupun pejabat politik dililit kasus korupsi dan suap. Politik ini semakin
meneguhkan “negara korup”.25
Pemetaan terhadap para konglomerat di belakang kedua kandidat
presiden bisa menjelaskan tak semata soal akses atas duit super jumbo,

25  Hendardi, “Partai Politik dan Oligarki”, [Link] [Link]/tribun-


ners/2018/04/09/partai-politik-dan-oligarki

35
Bilven Sandalista

melainkan menggambarkan jaringan pengaruh dari segelintir orang yang


menguasai akses sumber kekayaan di Indonesia.26
Menurut data Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), di kubu Jokowi
ada enam orang yang diketahui merupakan pengusaha tambang, yakni
kakak dari Ketua TKN, Erick Thohir, Garbaldi Thohir; Bendahara TKN,
Wahyu Trenggono; Luhut Binsar Panjaitan; Ketua Bravo 5 Fachrur Razi;
dan anggota Bravo 5 Letnan Jenderal Suaidi Marasabessy; Serta anak
Dewan Pengarah TKN, Jusuf Kalla, Solihin Jusuf Kalla. Sedangkan
di kubu Prabowo diketahui setidaknya ada lima pengusaha tambang;
Prabowo Subianto sendiri pemilik PT Nusantara Energy; calon wakilnya,
Sandiaga Uno yang melalui PT Saratoga Investama Sedaya Tbk yang
memiliki 20,75 persen saham di PT Merdeka Copper Gold Tbk; adik
dari Prabowo, Hashim Djojohadikusumo pemilik Asrari Group; Hanifah
Husain istri dari Direktur Relawan BPN, Ferry Mursyidan Baldan yang
menjadi direktur di tiga perusahaan tambang. Relasi antara penguasa dan
pengusaha berpotensi melahirkan konflik kepentingan. 27
Konglomerat pengusaha pemilik media pun dengan gagah berada di
kedua kubu. Masuknya Erick Thohir di TKN Jokowi Ma’ruf memperpan­
jang daftar yang ada di kubu petahana. Sebelum Thohir bergabung, sudah
ada Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Perindo yang juga menguasai
jaringan MNC Media. Ia pemilik resmi RCTI, Global TV, Koran Sindo,
Okezone, INews TV, dan sejumlah media elektronik lain. Di sana juga
ada Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem sekaligus pimpinan Media

26  [Link]
pilpres-2019-c1kn
27  [Link]

36
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Group yang membawahi merek seperti Media Indonesia dan Metro TV.
Keberadaan Hary Tanoe, Erick Thohir, dan Surya Paloh di kubu Jokowi-
Ma’ruf membuat hampir semua media elektronik dan TV sudah “dikuasai”
pasangan tersebut.28 Aburizal Bakrie, usai suara Golkar diarahkan untuk
Jokowi, agaknya masih setia mendukung kubu Prabowo. Di bawah Visi
Media Asia, yang berkongsi dengan Erick Thohir, Bakrie memiliki tvOne,
ANTV, dan portal berita [Link]. Sementara itu, ke mana kira-kira
dukungan mantan menteri era Presiden SBY, Chairul Tanjung baron
media lewat konglomerasi CT Corp yang memiliki Trans TV, Trans7,
Detik, CNN Indonesia dan CNBC Indonesia? SBY dan Partai Demokrat
sendiri secara resmi ikut mengusung paslon Prabowo–Sandi.
Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)
menyebut masing-masing kubu menyumbang purnawirawan TNI yang
duduga atau sudah diputus terlibat pelanggaran HAM. Keseriusan
penanganan kasus pelanggaran HAM pun diragukan siapa pun yang
jadi pemenang Pilpres 2019. Kubu capres-cawapres nomor urut 01 Joko
Widodo–Ma’ruf Amin disebut menyumbang 10 jenderal, sementara kubu
capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto memiliki 9 jenderal
diduga terlibat kasus HAM. Namun, itu belum termasuk Prabowo sendiri
yang disebut dipecat dari TNI karena kasus penculikan aktivis 97/98.
Dari kubu 01 adalah Jenderal (Purn) Fachrul Razi (Kerusuhan 13-
14 Mei 1998, Timor Timur 1999), Letjen (P) Sutiyoso (peristiwa 27 Juli
1996, Kerusuhan Mei 1998, penghilangan paksa aktivis), Jenderal (P) Try

28  [Link]
tuk-demokrasi-cXMH

37
Bilven Sandalista

Sutrisno (Tanjung Priok 1984, Peristiwa Talangsari), Jenderal (P) A.M.


Hendropriyono (Talangsari 1989, Peristiwa 27 Juli 1996, Kerusuhan Mei
1998, dan Peristiwa Tomor Timur). Selain itu ada Jenderal (P) Wismoyo
Arismunandar (Peristiwa Talangsari), Jenderal (P) Wiranto (Tragedi Mei
1998, Tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II/kasus TSS, penculikan
aktivis 97/98), Tomor Timur), Jenderal (P) Ryamizard Ryacudu (Peristiwa
Aceh, Peristiwa Papua), Mayjen (P) Winston Pardamean S. (kasus bentrok
TNI-Polri di Batam November 2014), dan Mayjen (P) Muchdi P.R.
(penculikan aktivis 97/98, pembunuhan aktivis Munir).
Dari kubu 02, menurut KontraS, mereka adalah Letjen (Purn) Yunus
Yosfiah (penembakan wartawan Balibo 5, Timor Timur 1999), Letjen
Sjafrie Sjamsoeddin (DOM Aceh, Peristiwa Timor Timur, Kerusuhan Mei
1998, Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II, penculikan dan penghilangan
paksa), Brigjen (P) Chairawan Kadarsyah (penculikan aktivis 97/98). Di
samping itu, Mayjen (P) Glen Kairupan, Letjen (P) Yayat Sudrajat, Mayjen
(P) Tono Suratman (Timor Timur 1999), Kolonel (P) Fauka Noor Farid
(penghilangan paksa aktivis 97/98), dan Mayor (P) Bambang Kristiono
(penghilangan paksa aktivis 97/98).
Keberadaan para terduga pelanggar HAM dalam barisan pendukung
menunjukkan ketidakseriusan calon presiden dalam rangka pengakuan,
penghormatan, dan perlindungan HAM ke depan. Namun, setidaknya
kita tahu bahwa keduanya terjebak pada bayang-bayang purnawirawan.29

29  [Link]
tras-sebut-tiap-kubu-sumbang-purnawirawan-dengan-kasus-ham

38
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

secara terbuka
mendeklarasikan golput

Dengan kenyataan yang ada di atas—sekadar menyebut beberapa dari


sekian banyak persoalan—bahwa ternyata kedua pilihan yang tersedia
sama-sama buruknya, menjelang Pilpres 17 April 2019 banyak pemilih
Indonesia mulai secara terbuka menyatakan niat untuk tidak memberikan
suara alias golput.
Tanggal 15 Januari 2019 sekelompok mahasiswa mende-klarasikan
“Milenial Golput”. Mereka mengaku kecewa dengan dua kubu di Pilpres
2019. Di media sosial mereka melihat banyak posting bermuatan kebencian.
Di dunia nyata menyaksikan dalam keluarga sering berdebat politis karena
menyaksikan pemberitaan di media soal panasnya persaingan politik.
Mereka mengaku resah melihat media sosial dipenuhi unggahan politis
tak sehat. Buzzer membuat ruang publik di media sosial jadi sesak dengan
hoax dan ujaran kebencian.30
Nining Elitos, Ketua Umum Konfederasi Kongres Aliansi Serikat
Buruh Indonesia (KASBI) mengatakan KASBI bakal menyerukan
anggotanya untuk golput karena tak ada hal baru dalam pemilu tahun
ini, juga pada tahun-tahun sebelumnya. Ia juga mengatakan banyak buruh
kecewa dengan kebiasaan elite melupakan kepentingan rakyat. Jokowi
juga terbukti sesudah berkuasa, yang dulu janjinya rakyat harus hidup
layak, mendapat pekerjaan yang layak, upah layak, BPJS gratis, pada

30  [Link]
pok-mahasiswa-deklarasi-milenial-golput

39
Bilven Sandalista

kenyataannya tidak terjadi alias janji kosong. Nining menyindir keputusan


pemerintahan Jokowi yang mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang menambah susah
kehidupan kelas pekerja.31
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) memilih tidak men­
dukung capres mana pun. Padahal, ketika Pilpres 2014, AMAN secara
vokal mendukung Joko Widodo yang saat itu menjadi gubernur Jakarta,
dalam pemilu presiden. Tetapi, AMAN telah menolak untuk mendukung
Jokowi lagi saat pemilu presiden bulan April nanti, dengan mengatakan
presiden tidak menepati janji yang ia buat untuk kelompok-kelompok
masyarakat adat. Aliansi ini juga tidak mendukung Prabowo Subianto.32
Tanggal 13 Februari 2019, sejumlah organisasi yang menggeluti isu
Papua menyatakan tidak akan memilih presiden (golput) pada Pemilu 2019
mendatang. Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua)
merupakan koalisi yang mewakili lima organisasi, yakni Pembebasan, PPR,
PPRI, SEBUMI, serta LSS. Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) juga menyatakan
untuk golput. Berbagai kasus pelanggaran hukum dan hak asasi manusia
(HAM) yang banyak terjadi di Papua justru tidak disinggung sama sekali
dalam debat-debat capres-cawapres. Mereka menyampaikan bahwa baik
Jokowi ataupun Prabowo memiliki citra yang buruk bagi mereka. Prabowo
memiliki catatan buruk dalam kasus Mapenduma, sedangkan Jokowi sebagai
petahana mengabaikan sejumlah pelanggaran yang berlangsung. Janji-janji

31  [Link]
lam-diskusi-bagaimana-kita-menyikapi-golput/
32  [Link]
akat-adat-nusantara-tak-dukung-capres-manapun/

40
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Jokowi untuk menyelesaikan kasus-kasus seperti Paniai Berdarah, Deiyai,


Dogiyai, dan sebagainya, tapi hanya berakhir dengan kata maaf. Setiap
tahun ada peningkatan mobilisasi militer ke West Papua.33
Sejumlah aktivis masyarakat sipil tanggal 23 Januari 2019 juga me­
nyatakan sikap untuk tidak memilih saat pemilu atau golongan putih
(golput). Hal itu disampaikan dalam diskusi “Golput Itu Hak dan Bukan
Tindak Pidana” yang dihadiri ICJR, KontraS, LBH Jakarta, LBH Masyara­kat,
Lokataru, Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), dan YLBHI.
Beberapa aktivis HAM secara terbuka telah menyatakan golput,
seperti Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI),
Asfinawati. Menurutnya golput dalam konteks sekarang adalah suatu
langkah rasional. Sebagai pegiat HAM, ia melihat tidak ada jalan keluar
bagi para korban pelanggaran HAM dari kedua calon, keduanya punya
rekam jejak yang sama. Kelompok yang mendukung Prabowo dan kawan-
kawan, banyak dari mereka terlibat kasus-kasus intoleransi. Sedangkan
Ma’ruf Amin, mengeluarkan fatwa-fatwa yang menimbulkan diskriminasi,
bahkan kekerasan kepada minoritas.
Haris Azhar (Lokataru Foundation) menilai kedua pasangan calon
presiden dan wakil presiden memiliki latar belakang yang sama. Karenanya,
ia memilih untuk golput pada 17 April mendatang.34
Advokat publik, mantan Direktur LBH Jakarta, Alghiffari Aqsa,
menyebutkan bahwa pilihan untuk menjadi golongan putih (golput) adalah

33  [Link]
dgNZ
34  [Link]
berhak-menuntut-presiden

41
Bilven Sandalista

bentuk protes karena menginginkan sistem politik yang lebih baik. Golput
merupakan hak konstitusional warga negara dan ternasuk hak untuk
memilih dan berekspresi yang diatur dan dilindungi oleh UUD 1945.35
Maria Catarina Sumarsih, ibu dari korban Tragedi Semanggi I, kecewa
dengan Presiden Joko Widodo yang dinilainya tidak tepat janji. Sudah
memasuki tahun ketiga pemerintahan, Presiden Jokowi belum juga
melaksanakan salah satu poin dalam Nawacita, yakni menuntaskan perkara
pelanggaran HAM berat masa lalu. Sumarsih pun menegas-kan, tidak akan
menjatuhkan pilihannya pada Pilpres 2019 untuk Jokowi. Program aksi
Jokowi-JK, salah satu butirnya mengatakan, kami berkomitmen meng­
hapus impunitas. Tapi, kenyataannya sudah tahun ketiga pemerintahannya,
sampai sekarang belum ada tanda-tanda memprioritaskan penyele-saian
kasus HAM berat masa lalu.36
Suciwati, istri almarhum pejuang HAM Munir Said Thalib mengaku
tak mau lagi terlalu berharap kepada Presiden Joko Widodo. Pasalnya,
hingga kini, kasus kematian suaminya itu tak kunjung dituntaskan. Padahal
dalam janjinya saat kampanye dan September 2016, Jokowi mengatakan
akan menuntaskannya dan menemukan dokumen tim pencari fakta (TPF)
kasus Munir yang dinyatakan hilang.37
Warga korban gusuran di Cikuasa Pantai dan Kramat Raya, kota
Cilegon menyatakan golput dalam Pemilu 2019. Jumlah pemilih di dua

35  [Link]
sebagai-bentuk-protes
36  [Link]
bicara-pemilu-2019-saya-lebih-baik-golput-
37  [Link]
ti-jokowi-bisanya-ngomong-doang

42
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

wilayah itu mencapai 3.000 pemilih. Warga korban gusuran memilih


golput lantaran tak ada kejelasan soal ganti rugi dari pemerintah Kota
Cilegon. Padahal, mereka telah dinyatakan menang oleh pengadilan dan
Pemkot wajib mengganti rugi. Mereka digusur oleh Pemkot Cilegon pada
Agustus 2016 lalu, dua tahun lebih warga di sana mengharapkan belas
kasih warga lain untuk menyambung hidup.38
Tanggal 8 Maret 2019, Komite Politik Alternatif, yang merupakan koa­lisi
organisasi buruh yang terdiri dari Partai Rakyat Pekerja (PRP), Konfederasi
Serikat Nasional (KSN), Kesatuan Perjuangan Rakyat (KPR), Kongres
Politik Organisasi (KPO), Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia
(KPRI), dan Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN), mendeklarasikan
diri golput di gelaran Pilpres bulan depan dalam demonstrasi di depan
gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU).39
Melalui referendum yang diselenggarakan secara demokratis pada
tanggal 10 Maret 2019, Pengurus Federasi Serikat Buruh Demokratik
Kerakyatan (FSEDAR) mengajukan golput menjadi posisi organisasi
dalam Pemilu 2019. Posisi golput dinilai sebagai satu-satunya posisi politik
yang tidak kontradiktif dengan program politik, yakni pembangunan
partai politik alternatif. Dalam referendum tersebut, 80,52% anggota
FSEDAR menyetujui posisi politik golput, sedangkan sebanyak 19,48%
menyatakan hak pilih harus tetap digunakan. Dengan demikian, serikat
secara resmi dapat menjadikan golput sebagai posisi organisasi. Tentunya

38  [Link]
gon-golput-di-pemilu-2019
39  [Link]
asikan-golput/

43
Bilven Sandalista

posisi golput bukanlah suatu bentuk kepasrahan, tetapi sebagai bagian


dari upaya pembangunan kekuatan politik alternatif.40
Sebagai bentuk kekecewaan atas Pemilu 2019 yang tidak demokratis,
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menyatakan sikap
untuk tidak menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2019. Langkah ini
merupakan keputusan secara nasional yang ada di 11 Provinsi dan 23
kabupaten dan kota se-Indonesia. Menurut mereka, tidak ada satu pun
partai politik yang mewakili kepentingan rakyat dan lahir dari rahim
rakyat. Pemilu hanya sebagai ajang pesta kaum modal, bukan pesta rakyat.
Undang-undang pemilu dan pembentukan partai itu menyulitkan rakyat
luas untuk terlibat dalam kontestasi pemilu.41
Sejumlah aktivis hak asasi manusia, tokoh-tokoh simpul gerakan
rakyat, kelompok terpelajar lainnya, dan individu-individu secara meluas
mulai mendeklarasikan pilihan mereka untuk tak memilih alias golput.42

gus dur pernah golput

Sikap golput Gus Dur pada tahun 2004 adalah sebuah sikap moral yang
merupakan hak sebagai warga negara, menurut tata hukum yang berlaku.
Bahkan, dalam pandangan mantan presiden Abdurrahman Wahid, atau
biasa dipanggil Gus Dur, gerakan golput tidak hanya untuk memberikan

40  [Link]
lih-golput/
41  [Link]
42  [Link] ; [Link]
indonesia/rosa-folia/aktivis-lini-zurlia-bicara-soal-golput-dan-intimidasi-di-dun-
ia-maya

44
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

kritik pada sistem yang dianggap lalim, tapi juga memperbaiki sistem
demokrasi pascareformasi.
Kenyataan demi kenyataan yang Gus Dur gambarkan, tidak heran jika
lalu mendorongnya kepada sikap menolak berpartisipasi dalam sebuah
“pemilu” yang hanya akan mempertahankan dan melestarikan status quo?
Gus Dur beranggapan, keikutsertaannya dalam pemilu seperti itu, hanya
akan berarti kerja “memperpanjang penderitaan” saja. Karenanya ia lalu
mengambil sikap “bergolput ria”. Apa akibatnya bagi sistem politik kita
yang ada dewasa ini? Mungkin dengan sikap Gus Dur itu, akan cukup
banyak anak-anak bangsa yang tergerak hati dan pikiran mereka untuk
melakukan perlawanan lebih jauh.43

tidak ada peluang memunculkan


calon alternatif

Buruknya sistem politik yang berlaku saat inilah yang mengakibatkan


rakyat hanya ditawari dua paslon yang sama-sama buruk dari 250 juta
penduduk yang tersedia di NKRI ini. Syarat-syarat membentuk partai
elektoral dipersulit, sehingga hanya partai-partai modal besar yang dapat
ikut pemilu dan sistem politik kita menutup adanya partai lokal, kecuali
di Aceh yang memiliki Otonomi Khusus.
Ketentuan di Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 yang mengatur
tentang ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) 20

43  Abdurrahman Wahid, “Mengapa Saya Golput?” 10 September 2004, http://


[Link]/id/gagasan-gus-dur/mengapa-saya-golput

45
Bilven Sandalista

persen kursi DPR atau 25 persen suara sah pemilu nasional sebelumnya
sudah jelas mengecilkan peluang munculnya tokoh alternatif.
Meski sebuah partai politik telah lolos verifikasi nasional dengan
syarat yang berat dan berbiaya mahal, telah punya kursi di DPR, tapi
tidak dapat serta merta mencalonkan siapa pun sebagai Presiden Republik
Indonesia. Syarat yang berat untuk mengajukan calon presiden ini,
memaksa sesama partai modal besar, bergabung menjadi kekuatan modal
yang lebih besar agar dapat mencalonkan seseorang sebagai presiden.
Padahal, pengalaman memiliki presiden secara langsung selama tiga
kali sejak 2004, menunjukkan bahwa calon yang diinginkan masyarakat
umum bisa berbeda dengan calon-calon yang dikehendaki para kumpulan
partai modal besar ini.
Aroma oligarki para elite ini semakin dikunci dengan tidak ada
peluang mengajukan calon presiden independen. Padahal, masih dalam
sistem NKRI yang sama, gubernur, bupati, atau walikota dapat dicalonkan
dari jalur independen.
Padahal sistem rekrutmen pejabat publik lewat mesin-mesin partai
modal besar bersama para sponsornya ini (oligarki) tidak selalu menjamin
hasil yang baik. Dalam 13 tahun terakhir, terdapat 392 kepala daerah yang
tersangkut kasus korupsi. Dan sebagian besar dari mereka dipastikan
adalah pejabat yang disorongkan dan didukung lewat jalur partai-partai
politik. Dengan sistem politik yang oligarkis dan tertutup seperti ini pun,
kedua capres dan cawapres saat ini sama-sama terjebak dalam politik
identitas yang menggunakan simbol-simbol agama tertentu semata-mata
untuk meraih dukungan.

46
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

meningkat dari pemilu ke pemilu

Berdasarkan sekian banyak varian kekecewaan rakyat sekaligus kemacetan


politik di atas—sekadar menyebut beberapa saja dari 1001 alasan-alasan
lainnya—maka pada Pemilu 2019 yang akan berlangsung kurang dari
sebulan lagi, jumlah mereka yang memilih golput diprediksi akan
meningkat.
Indonesia sebetulnya memiliki tingkat partisipasi pemilih yang relatif
tinggi dengan standar internasional—misalnya kalau dibandingkan dengan
negara yang dianggap kampiun demokrasi Amerika Serikat dengan
rata-rata pemilih cuma 50% setiap pemilu—tetapi tingkat golput telah
meningkat secara signifikan dari pemilu ke pemilu.
Bila dihitung dari pemilih tidak datang dan suara tidak sah, golput
pada Pemilu 1955 sebesar 12,34%. Tingginya angka golput bisa jadi
disebabkan karena ini merupakan penyelenggaraan pemilu pertama
dalam sejarah Indonesia dan masih banyak rakyat buta huruf.
Pada Pemilu 1971—pemilu pertama rezim orba—ketika golput
dicetuskan dan dikampanyekan, justru angka golput hanya 6,67%. Golput
pada Pemilu 1977 sebesar 8,40%. Dan angka golput berturut-turut pada
Pemilu 1982 sebesar 9,61%; Pemilu 1987 sebesar 8,39%; Pemilu 1992
sebesar 9,05%; dan Pemilu 1997 sebesar 10,07%.
Pascareformasi, angka golput pada Pemilu 1999 sebesar 10.40%.
Berturut-turut pada Pileg 2004 golput sebesar 23,34%; Pilpres 2004
putaran I sebesar 23,47%; Pilpres 2004 putaran II sebesar 24,95%. Pileg
2009 sebesar 29,01%; Pilpres 2009 sebesar 27,77%; Pileg 2014 sebesar

47
Bilven Sandalista

24,89%; dan Pilpres 2014 sebesar 30,42%.44


Sebagai pembanding, pada Pilkada Serentak 2015, 2017, dan 2018,
tingkat partisipasi pemilih berada rata-rata di kisaran 70–75%. Bahkan,
di beberapa daerah partisipasi pemilih di bawah 60%. Sementara target
KPU sebesar 77,5%. Angka partisipasi pemilih ini belum termasuk
angka mereka yang tetap datang memilih namun mencoblos sehingga
menjadikan surat suaranya tidak sah (golput aktif).
Pada pemilu 2019 ini, KPU menetapkan jumlah pemilih 192.828.520
orang. Jika tren golput sama dengan Pemilu sebelumnya, diperkirakan
ada sekitar 60 juta pemilih yang tidak akan memilih. Namun jika tren
itu naik jadi 40 persen, bisa dipastikan justru “suara” golput akan lebih
besar dari kemungkinan perolehan suara masing-masing capres. Angka
golput 40 persen setara dengan 77.131.408 suara. Artinya, kedua capres
hanya memperebutkan sekitar 115 juta suara, sementara hasil survei-
survei terbaru menyebutkan selisihnya tidak akan besar.
Meski tren golput kemungkinan naik, suara pada pilpres mungkin
tidak akan terlalu anjlok karena suara pemilih yang baru mendapatkan
hak pilih di pilpres ini. Mereka punya potensi untuk memilih karena
mereka belum pernah dikecewakan. Mereka akan memilih presiden
untuk pertama kali, bisa jadi partisipasi mereka akan tinggi.

44  Dari berbagai sumber; terdapat perbedaan angka persentase golput


disebabkan perbedaan definisi. KPU sendiri menyebut angka golput sebagai
mereka yang tidak berpartisipasi mencoblos surat suara, padahal dari angka
tingkat partisipasi mereka yang datang mencoblos, terdapat angka golput aktif,
yaitu mereka yang sengaja mencoblos sedemikian rupa sehingga suara menjadi
tidak sah.

48
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

golongan setan

Ketika golput dicetuskan pada awal orde baru, Pangkopkamtibda Djakarta


menyatakan Golput sebagai organisasi terlarang, dan pamflet tanda gambar
golput mesti dibersihkan. Sejumlah diskusi yang digelar anasir golput
juga dilarang oleh Komando Keamanan Langsung (Kokamsung) Komda
Metro Jaya. Larangan serupa juga dilakukan di Jawa Tengah. Adam Malik,
Menteri Luar Negeri ketika itu, menyebut golput sebagai golongan setan.
Sementara Ali Murtopo, yang saat itu menjadi asisten pribadi Presiden
Soeharto, menyebut golput “Seperti bau kentut saja. Rupanya tidak ada
tetapi baunya ada.”
Mirip zaman orba, kini golput juga punya banyak julukan. Seorang
seniman poster Alit Ambara menyebut golput sebagai “golongan pucuk
tai”. Seorang rohaniwan, mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara, Rm. Franz Magnis-Suseno,S.J., menyebut mereka golput
sebagai bodoh, just stupid, berwatak benalu, kurang sedap, mental tidak
stabil, psycho-freak.45 Belakangan Romo Magnis menyesal dan mengakui
hal itu merupakan kebodohan terbesar memakai kata-kata sebutan itu. Ia
pun menarik kata-kata benalu dan psycho-freak. Grup musik Slank juga
menyebut golput itu cemen.46
Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri menyebut golput sebagai
sikap pengecut. Hal itu disampaikannya dalam kampanye yang digelar di
Gedung Olahraga Pandawa Solo Baru, Sukoharjo, 31 Maret 2019. “Sebagai

45  Franz Magnis-Suseno, “Golput”, Kompas, 12 Maret 2019.


46  [Link]

49
Bilven Sandalista

warga negara Indonesia jangan golput, golput itu pengecut, tidak punya
harga diri, tidak usah jadi WNI,” kata Megawati dalam orasinya yang
disambut sorak sorai pendukungnya.47 Padahal, berdasar jejak digital,
Megawati juga pernah menyerukan dan mendeklarasikan dirinya golput
dalam Pemilu 1997 yang lalu.48
Menko Polhukam Wiranto, 27 Maret 2019, menyatakan orang yang
mengajak menjadi golongan putih (golput) dalam Pemilu 2019 merupakan
pengacau. Menurut dia, mengajak golput merupakan tindakan yang meng­
ancam hak dan kewajiban orang lain. Wiranto menuturkan pihak yang
mengajak golput berpotensi bisa dikenakan sanksi yang diatur dalam Undang-
Undang Terorisme. Jika UU itu tidak bisa diterapkan, ia menyebut masih ada
UU Informasi Transaski Elektronik atau UU Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana untuk menjerat pihak yang mengajak golput saat Pemilu 2019.49
Tentu saja pernyataan Wiranto ini langsung direspons banyak orang.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Aziz mengatakan
masyarakat yang tak menggunakan hak pilih alias golput tak perlu
dipidana Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Antiterorisme.
Pernyataan Wiranto tersebut kurang tepat karena tak berlandaskan
aturan perundang-undangan. Ia mengatakan hukum Indonesia memang
memandang golput sebagai hak politik, setara dengan memilih. Hak
politik warga negara dijamin Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia.

47  [Link]
ti-golput-itu-pengecut-tak-punya-harga-diri/full&view=ok
48  [Link]
49  [Link]
to-sebut-pengajak-golput-pengacau-dan-terancam-dipidana

50
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menilai


pernyataan Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, soal
pemi­dananaan penganjur golput sebagai hal yang kontraproduktif.
Pernyataan Wiranto justru berpeluang mengubah golput menjadi
gerakan ideologis.50
Direktur Eksekutif Insitute for Criminal Justice Reform (ICJR) Anggara
menyanggah pernyataan Menko Polhukam Wiranto. Ia menilai tiga
undang-undang (UU) yang disebut Wiranto yakni Pemberantasan Tindak
Pidana Terorisme, Informasi dan Transaksi Elektronik, atau KUHP tidak
bisa digunakan untuk menjerat pihak yang mengajak golput. Ancaman
pidana bagi pihak yang mengajak golput sebagaimana disampaikan
Wiranto hanya menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat
Pasal 1 angka 2 UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme telah
menyampaikan secara tegas bahwa terorisme adalah perbuatan yang
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan
suasana teror atau rasa takut secara meluas, menimbulkan korban massal,
menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang
strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional
dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.
Terkait penggunaan UU ITE, ketentuan tentang perbuatan yang
dilarang dalam regulasi itu hanya dapat digunakan untuk menjerat
perbuatan-perbuatan seperti penyebaran informasi atau dokumen
elek­tronik yang memiliki muatan pelanggaran kesusilaan, perjudian,

50  [Link]
sa-ubah-golput-jadi-gerakan-ideologis/full&view=ok

51
Bilven Sandalista

penghinaan, pencemaran nama baik, pemerasan, pengancaman. Selain


itu, berita bohong yang mengakibatkan kerugian konsumen, informasi
yang menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan, ancaman kekerasan
atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi, akses tanpa izin,
perusakan informasi elektronik, dan perbuatan lain. Tidak ada satu
ketentuan pun dalam UU ITE yang dapat digunakan untuk menjerat
perbuatan kampanye golput sebagaimana disampaikan.
Dalam Pasal 146 hingga 152 KUHP pun telah dengan jelas di­
nyatakan beberapa perbuatan yang dapat dipidana terkait dengan
Pemilu. Pasal 148 KUHP menyatakan bahwa perintangan terhadap
penggunaan hak pilih yang dapat dipidana harus dilakukan dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan dan dilakukan pada saat waktu
pemilihan diadakan. Ketentuan ini, memiliki muatan yang hampir
sama dengan Pasal 515 UU Pemilu.
ICJR menilai bahwa kampanye golput yang dilakukan beberapa
kelompok masyarakat, tidak dapat dipidana menggunakan ketentuan ini.
Anggara pun menegaskan pilihan untuk menjadi golput adalah bagian
dari hak warga negara untuk mengekspresikan pikirannya yang dijamin
oleh UUD 1945 di Pasal 28. Hak untuk menyatakan pilihan politik pada
hakikatnya merupakan hak yang sifatnya boleh digunakan maupun tidak
digunakan, sehingga menyatakan diri menjadi golput sebenarnya adalah
pilihan untuk tidak menggunakan hak tersebut.

52
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

golput dan kampanye golput,


tidak bisa dipidana

Posisi seseorang atau sekelompok orang yang memilih untuk tidak memilih
sama sekali bukan pelanggaran hukum dan tak ada satu pun aturan hukum
yang dilanggar. Sebab, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang
Pemilihan Umum (UU Pemilu) tidak melarang seseorang menjadi golput.
Pidana dalam pemilu pada dasarnya mengatur mengenai kemungkinan
golput, namun berdasarkan Pasal 515 UU Pemilu, terdapat unsur-unsur
pidana yang sudah diatur dengan jelas kepada siapa pidana itu dapat berlaku.
Pasal 515 UU pemilu berbunyi: “Setiap orang yang dengan sengaja
pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau
materi lainnya kepada Pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya
atau memilih Peserta Pemilu tertentu atau menggunakan hak pilihnya
dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).”
Atas dasar rumusan pasal ini, maka terdapat catatan penting yang
harus diperhatikan: Pertama, memperhatikan unsur “dengan sengaja
pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau
materi lainnya kepada Pemilih”, dengan unsur ini maka yang dapat
dipidana hanya orang yang mengerakkan orang lain untuk golput pada
hari pemilihan dengan cara menjanjikan atau memberikan uang atau
materi lainnya. Dengan demikian tanpa adanya janji atau memberikan
sejumlah uang atau materi, tindakan sekedar menggerakkan orang untuk
golput tidak dapat dipidana.

53
Bilven Sandalista

Kedua, orang yang memilih golput atau mendeklarasikan dirinya


Golput tidak dapat dipidana. Masih sejalan dengan unsur sebelumnya.
Seorang yang memilih golput tidak dapat dipidana. Bahwa seseorang
mendeklarasikan dirinya golput adalah hak yag dijamin oleh Undang-
Undang dan Konstitusi selama tidak menggerakkan orang lain meng­
gunakan janji dan pemberian uang atau materi lainnya untuk golput.
Dengan demikian, mengambil sikap golput di dalam pemilihan
presiden 2019 adalah hak politik warga negara sepenuhnya dan bukan
pelanggaran hukum. Demikian juga dengan menyebarluaskan gagasan atau
ekspresi tentang pilihan politik ini. Apabila nantinya terjadi penyelidikan
untuk kasus seperti ini, maka penting untuk memastikan unsur-unsur
pidana dalam pasal 515 UU Pemilu harus diimplementasikan dengan
ketat. Penggunaan pasal ini bagi mereka yang golput atau melakukannya
ekspresi politiknya dengan berkampanye golput adalah pelanggaran serius
bagi hak konstitusi negara.
Sikap golput, dilindungi oleh Konvensi Internasional tentang Hak
Sipil dan Politik (ICCPR), UUD 1945, dan Undang-Undang Hak Asasi
Manusia (HAM). Klausul yang dijadikan dalil pembenaran logika golput
dalam Pemilu di Indonesia yaitu UU No.39/1999 tentang HAM Pasal
43. Selanjutnya, UU No.12/2005 tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil
Politik yaitu di Pasal 25.
Golput sah secara hukum karena dijamin pada Pasal 28 UUD dan
Pasal 23 UU tentang HAM. Pasal 28 UUD berisi apa-apa saja yang
dianggap hak asasi tiap manusia. Pasal 28E: “Pemilu dilaksanakan
secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun
sekali.” Hak memilih di sini termaktub dalam kata “bebas”. Artinya,

54
Siapa pun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah

bebas digunakan atau tidak. Sementara Pasal 23 UU HAM berisi:


“(1) Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan
politiknya; (2) Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan
menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau
tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan
nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan
keutuhan bangsa.”

kritik dari gerakan golput

Golput yang berangkat dari pemikiran rasional mesti diyakinkan dengan


visi, program, dan janji yang logis dan rasional. Mencegah golput tidak
akan mempan jika hanya dipaparkan dengan hal-hal yang bombastis,
janji palsu, dan harapan tak masuk akal. Golput adalah protes, karena
itu perlu penjelasan dengan data valid beserta argumentasi yang kokoh,
bukan malah mendiskreditkan golput. Golput tidak dapat ditumpas
dengan berbagai ancaman atau larangan yang sampai saat ini digunakan
untuk sekadar menakut-nakuti.
Jika ingin menumpas golput, berikut kira-kira tips yang harus
dilakukan:
Pertama, karena Golput adalah sikap protes terhadap sistem politik
yang ada, maka segeralah merevisi dan mengubah UU tentang Pemilu
dan kepartaian yang ada menjadi lebih demokratis.
Kedua, jangan coba-coba mengingkari suara rakyat. Karena Golput
adalah semacam bentuk hukuman terhadap penguasa yang pernah
terpilih sebelumnya, agar jangan sekali-kali mengkhianati kepercayaan

55
Bilven Sandalista

dan harapan-harapan yang sudah dititipkan rakyat atas janji-janji pada


masa kampanye.
Ketiga, karena Golput dengan tidak memilih partai politik adalah juga
bentuk kritik terhadap partai politik yang semakin hari semakin tidak
membawa aspirasi rakyat, maka parpol-parpol yang ada sebaiknya segera
membenahi diri agar semakin tidak ditinggalkan rakyat pemilihnya.
Keempat, terhadap para pendukung paslon yang ada, Golput sebagai
bentuk kritik terhadap perilaku cebong–kampret yang semakin hari
semakin membabi-buta mendukung pujaannya, maka semakin cerdaslah
dalam dukung-mendukung junjunganmu, agar kehidupan politik kita
semakin sehat dan bukannya malah semakin menjengkelkan dan
mengganggu khalayak.

bagaimana seandainya jokowi kalah

Seandainya Jokowi kalah, itu bukan karena golput, tapi karena ia tidak
menggunakan kesempatan selama berkuasa untuk melaksanakan janji-
janji kampanye dan harapan-harapan rakyat yang sudah memilihnya 5
tahun lalu.
Meskipun banyak yang menakut-nakuti bahwa dengan golput akan
membuat yang terburuk berkuasa, tapi bagi golput, politik ketakutan
untuk memenangkan salah satu calon sudah tidak relevan lagi. Doktrin
minus malum atau prinsip the lesser of two evils sudah tidak berlaku lagi.
Sebab kedua calon yang ada sama buruknya.
Siapa pun yang menang, rakyat tetap kalah.

56

Anda mungkin juga menyukai