lLampiran 1
SUSUNAN KEPANITIAAN PENGABDIAN MASYARAKAT
TENTANG DIARE PROGRAM STUDI PROFESI NERS
STIKES SARI MULIA BANJARMASIN
KETUA : Devi Agustin
SEKRETARIS : Muhammad Fikriyadi dan Rexa januar Permana
BENDAHARA : Sepriyanto Adana Saputra
1. Penyaji : Reza januar Pe, [Link]
2. Moderator : Muhammad Fikriyadi, [Link]
3. Fasilitator : Devi Agustin, [Link]
Anggota : Sepriyanto Adana Saputra, [Link]
Muhammad Fikriyadi, [Link]
4. Observer : Sepriyanto Adana Saputra, [Link]
Anggota Muhammad Fikriyadi, [Link]
Devi Agustin, [Link]
5. Dokomentasi : Sepriyanto Adana Saputra, [Link]
6. Notulen : Devi Agustin, [Link]
Lampiran 2
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
TENTANG DIARE DI POLI ANAK RSUD ULIN BANJARMASIN
Pokok Bahasan : Diare
Hari/ Tanggal :
Waktu : 30 Menit
Tempat : Poli Anak RSUD Ulin Banjrmasin
Pukul Pelaksanaan :
A. Latar Belakang
Diare merupakan salah satu penyakit dengan insidensi tinggi di dunia
dan dilaporkan terdapat hampir 1,7 milyar kasus setiap tahunnya. Penyakit ini
sering menyebabkan kematian pada anak usia di bawah lima tahun (balita).
Dalam satu tahun sekitar 760.000 anak usia balita meninggal karena penyakit
ini (World Health Organization (WHO, 2013).
Didapatkan 99% dari seluruh kematian pada anak balita terjadi di
negara berkembang. Sekitar ¾ dari kematian anak terjadi di dua wilayah
WHO, yaitu Afrika dan Asia Tenggara. Kematian balita lebih sering terjadi di
daerah pedesaan, kelompok ekonomi dan pendidikan rendah. Sebanyak ¾
kematian anak umumnya disebabkan penyakit yang dapat dicegah, seperti
kondisi neonatal, pneumonia, diare, malaria, dan measles (WHO, 2013).
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara
berkembang seperti Indonesia karena memiliki insidensi dan mortalitas yang
tinggi. Diperkirakan 20-50 kejadian diare per 100 penduduk setiap tahunnya.
Kematian terutama disebabkan karena penderita mengalami dehidrasi berat.
70-80% penderita adalah mereka yang berusia balita. Menurut data
Departemen Kesehatan, diare merupakan penyakit kedua di Indonesia yang
dapat menyebabkan kematian anak usia balita setelah radang paru atau
pneumonia (Paramitha, Soprima, & Haryanto, 2010).
Menurut Kemenkes RI di Kalimantan selatan tahun 2017 ada 107.725
kejadian diare, diare yang ditangani ada 9.986 kejadian dengan presentase
9,3 % (Kemenkes RI, 2017).
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan di harapkan peserta
dapat memahami tentang penyakit diare dan cara penatalaksanaan
Diare.
2. Tujuan khusus
a. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta mampu
menyebutkan pengertian diare,
b. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta mampu mengerti
penyebab penyakit diare,
c. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta mampu mengerti
tanda penyakit diare,
d. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta mampu mengerti
gejala penyakit diare, cara pencegahan penyakit diare, cara
penanganan penyakit diare, obat tradisional.
C. Sasaran
Seluruh orang tua anak di Poli anak RSUD Ulin Banjarmasin.
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
E. Materi
Terlampir
F. Media
G. Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Penyuluhan Peserta Waktu
1. Pre interaksi 1. Mengucapkan salam 1. Menjawab 5 menit
2. Memperkenalkan salam
pembimbing dan 2. Mendengarkan
anggota kelompok 3. Menyetujui
3. Membuat kontrak kontrak waktu
waktu dan bahasa 4. Mendengarkan
4. Menjelaskan tujuan
kegiatan
2 Interaksi 1. Menjelaskan tentang Mendengarkan 15 menit
pengertian diare Memperhatikan
2. Menjelaskan tentang
penyebab diare
3. Menjelaskan tentang Mendengarkan
tanda dan gejala diare. Memperhatikan
3 Terminasi 1. Mempersilahkan Masyarakat 10 menit
masyarakat bertanya bertanya
dan petugas yang
menjawabnya Menjawab
2. Menanyakan kembali pentanyaan
tentang materi diare
yang telah Menjawab salam
disampaikan.
3. Mengucapkan salam.
H. Seting Tempat
Keterangan :
= Penyaji
= Observer
= Fasilitator
= Peserta
= LCD
Keterangan:
1. Penyaji : Reza Januar Permna [Link]
Tugas : Membuka acara, menyampaikan materi
2. Moderator : muhammad Fikriyadi, [Link]
Tugas : Memandu jalannya acara sampai selesai dan
menyampaikantujuan
3. Fasilitator : Devi Agustin, [Link]
Sepriyanto Adana Saputra, [Link]
Tugas : Memfasilitasi jalannya acara penyuluhan
4. Observer : Muhammad Fikriyadi, [Link]
Devi Agustin, [Link]
Sepriyanto Adana Saputra, [Link]
Tugas : Mengobservasi jalannya penyuluhan untuk
Di evaluasi setelah acara selesai bersama
kelompok, guna perbaikan acara
5. Dokomentasi : Sepriyanto Aana Saputra [Link]
Tugas : Mendokomentasikan kegiatan dari awal sampai
akhirkegiatan
6. Notulen : Devi Agustin, [Link]
Tugas : Mencatat hasil kegiatan
Lampiran 3
MATERI DIARE
A. Pengertian Diare
Diare pada dasarnya adalah seringnya frekuensi buang air besar dari
biasanya yang konsistensi yang lebih encer. Menurut Wong dalam Sujono
(2010). Diare adalah gangguan fungsi penyerapan dan sekresi dari saluran
pencernaan, dipengaruhi oleh fungsi kolon dan dapat di identifikasikan dari
perubahan jumlah, konsistensi, frekuensi, dan warna dari tinja.
Menurut FKUI dalam Sujono (2010). Diare adalah pola buang air
besar yang tidak normal dengan bentuk tinja encer, serta adanya
peningkatan frekuensi BAB yang lebih dari biasanya. Frekuensi buang air
besar yang lebih dari 4 kali pada bayi dan lebihdari 3 kali pada
anakkonsisten feces encer, dapat berwarna hijau, ataudapat pula bercampur
lendir dandarahatauhanya lendir saja.
Menurut Nartin dalam Rekawati (2008). Individu mengalami perubahan
dalam kebiasaan BAB yang normal, ditandai dengan seringnya kehilangan
cairan dan feces yang tidak berbentuk. Menurut Suharyono dalam Rekawati
(2008). Defekasi encer lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa darah dan
atau lendir dalam tinja. Sedangkan menurut Pitono dalam Rekawati (2008).
Bertambahnya jumlah atau berkurangnya konsistensi tinja yang dikeluarkan.
B. Klasifikasi
Klasifikasi diare ke dalam jenis akut dan kronis bersifat mutlak, tetapi
biasanya diare harus berlangsung paling sedikit 2 minggu untuk dapat
disebut sebagai kronis. Pada anamnesa umum tentang gejala diare, baik
pada gastroenteritis virus maupun bakteri akut pada anak.
Menurut Oedoman dalam buku Rekawati (2008), diare dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Diare akut, yaitu diare yang terjadi mendadak dan berlangsung paling
lama 3-5 hari.
b. Diare berkepanjangan bila diare berlangsung lebih dari 7 hari.
c. Diare kronik bila diare berlangsung lebih dari 14 hari.
Sedangkan menurut pedoman MTBS dalam buku Rekawati (2008) diare
dapat dikelompokkan atau diklasifikasikan menjadi :
a. Diare akut, terbagi atas :
1) Diare dengan dehidrasi berat,
2) Diare dengan dehidrasi ringan/ sedang
3) Diare tanpa dehidrasi.
b. Diare persisten bila diare berlangsung 14 hari atau lebih, terbagi atas:
1) Diare persisten dengan dehidrasi
2) Diare persisten tanpa dehidrasi.
c. Disentri apabila diare berlangsung disertai dengan darah.
Dalam Sodikin (2012).Secara klinis diare karena infeksi akut terbagi
menjadi 2 golongan :
1) Koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja.
2) Disentriform, pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-
kadang darah.
C. Etiologi
Etiologi Infeksi dalam Sujono (2010) merupakan penyebab utama diare akut,
baik oleh bakteri, parasit maupun virus.
a. Infeksi bakteri : Vibrio, Escherichia Coli, Salmonella,
Shigella, Campylobacter, Yershinia, dan lain-lain.
b. Infeksi virus : Enterovirus, (Virus Echo, Coxsackaie,
Poliomyelitis), Adenovirus, Retrovirus, dan lain-lain.
c. Infeksi parasit : Cacing (Ascori, Trichoris, Oxyuris, Histolitika, Gardia
Lambia, TricomonasHominis), Jamur (Candida Albicans)
d. Infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti : otitis media akut
(OMA, Tonsillitis, Aonsilotaringitis, Bronco Pneumonia, Encetalitis.
Ada beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinnya diare:
a. Tidak memberi ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama dari
kehidupan.
b. Menggunakan botol susu.
c. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar.
d. Air minum tercemar dengan bakteri tinja
e. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang
tinja, atau sebelum memegang makanan.
D. Patofisiologi
Diare adalah ketidakseimbangan antara absorpsi air dan sekresi air atau
elektrolit. Pada keadaan normal, absorpsi air dan elektrolit lebih besar di
bandingkan [Link] mekanisme yang menyebabkan
ketidakseimbangan dan elektrolit, adalah :
Perubahan transfor aktif yang berakibat pada pengurangan
absorpsi sodium (Na) dan peningkatan sekresi klorida
Perubahan motilitasnsaluran pencernaan.
Peningkatan osmolaritas luminal saluran pencernaan
Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan
Diare sekretori dapat terjadi jika dalam saluran pencernaan
terdapat zat-zat sejenis vasoaktif peptide intestinal atau toksin bakteri
yang meningkatkan sekresi atau menghambat absorbs air atau elektrolit
dalam jumlah yang besar. Adanya gangguan absorpsi suatu zat dalam
intestinal yang menyebabkan diare osmotic menyababkan Inflamasi di
usus halus yang menyebabkan diare eksudatif dan terjadi sekresi mucus,
protein atau darah dalam usus halus. Adanya infeksi baik non invesif atau
invasive. Pada non invasive (enterotoksigenik) toksin yang diproduksi
akan terikat pada mukosa usus halus, namun tidak termasuk mukosa.
Pada diare invasive, diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa
nekrosis dan ulcerasi dan menyebabkan sekretorik eksudatif. Penyebab
diare lainnya, seperti parasit menyebabkan keruakan berupa ulkus yag
besar ( hystolitica), kerusakan vili yang penting untuk penyerapan air,
elektrolit da zat makanan.
E. Manifestasi Klinis
Dalam Ricard (2012). Pasien dengan diare akut akibat infeksi sering
mengalami:
a. Nausea
b. Muntah
c. Nyeri perut sampai kejang perut
d. Demam
e. Kekurangan cairan : Menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah
kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi
serak.
f. Gangguan biokimiawi : Seperti asidosis metabolic akan menyebabkan
frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul)
g. Terjadinya hipovolemik : Bila terjadi renjatan hipovolemik berat maka
denyut nadi cepat (lebih dari 120x / menit). Tekanan darah menurun
sampai tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung-ujung ekstremitas
dingin, kadang sianosis.
h. Kekurangan kalium : menyebabkan aritmia jantung menurun fungsi
ginjal sehingga timbul anuria, bila kekurangan cairan tak segera diatasi
dapat timbul penyakit berupa nekrosis tubulasi akut.
F. Komplikasi
Dalam Rekawati (2008) Komplikasi yang terjadi akibat diare adalah :
a. Dehidasi Ringan, sedang dan berat mempunyai komplikasi seperti
hipotonic, isotonic dan hipertonic.
b. Hipokalemia (metoroismus hipotonic otot lemah, bradikardia)
c. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus.
d. Defisensi enzim lactose
G. Pencegahan
Dalam Sodikin (2011). Upaya pemutusan penyebaran kuman penyebab
diare harus berfokus pada cara penyebaran kuman tersebut. Berbagai cara
yang efektif adalah :
a. Menggunakan air bersih untuk minum.
b. Mencuci tangan dengan baik sesudah buang air besar dan setelah
membuang feces bayi, serta sebelum makan. Tingginya morbiditas dan
mortalitas diare disebabkan oleh kualitas cara membuang air besar.
c. Menjaga kebersihan dapur dan kamar mandi.
d. Buang makanan dan minuman yang sudah kadaluarsa.
H. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan tinja
1) Makroskopis dan mikroskopis
2) PH dan kadar gula dalam tinja
3) Bila perlu diadakan uji bakteri
b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah,
dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
c. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium, dan Posfat.
I. Penatalaksanaan
a. Pada dehidrasi ringan diberikan:
Oralit + cairan
Antibiotika (hanya kalau perlu saja)
b. Pada dehidrasi sedang, penderita tidak perlu dirawat dan diberikan:
Seperti pengobatan dehidrasi ringan
c. Pada dehidrasi berat, penderita harus dirawat di RS.
Pengobatan diare lebih mengutamakan pemberian cairan, kalori dan
elektrolit yang bisa berupa larutan oralit ( garam dan gula) guna mencegah
terjadinya dehidrasi berat, sedangkan antibiotika atau obat lain hanya
diberikan bila ada indikasi yang jelas.
Penanganan pertama untuk diare:
Penanganan pertama untuk diare adalah dengan memberikan oralit. Cara
membuat oralit :
a. Cuci tangan sampai bersih dengan menggunakan sabun
b. Tuangkan air putih ke dalam gelas.
c. Masukan setengah sendok teh garam dan dua sendok teh gula.
d. Aduk hingga merata lalu minum secara perlahan.
J. Terapi modalitas
Daun jambu biji untuk mengobati diare:
Salah satu obat diare yang bisa dibuat sendiri adalah ramuan daun
jambu biji.
Bahan:
20 lembar daun biji (cuci bersih)
2 gelas air
Cara membuat:
Panaskan air lalu rebus jambu biji hingga mendidih. Jika ramuan ini
sudah terbuat, selanjutnya dinginkan lalu segera diminum. Jika rutin minum
ramuan ini 2 kali dalam sehari setelah bangun tidur dan sebelum tidur akan
membantu mengobati diare.
K. Jajanan tidak sehat untuk anak
a. Ciri-ciri jajanan tidak sehat
1) Warnanya mencolok
2) Rasanya tajam
3) Kadaluarsa
4) Berbau tengik/apek
5) Sangat kenyal
6) Sangat murah
b. Penyakit akibat jajan sembarangan
1) Diare
2) Mual muntah
3) Pusing
4) Sakit perut
c. Tips memilih jajanan sehat untuk anak
1) Pilih kemasan yang masih bagus
2) Jajan kemasan lihat tanggal kadaluarsanya
3) Pilih jajan di tempat bersih
4) Hindari jajan yang dibungkus kertas bekas/Koran
5) Tertulis: Halal
6) Sarapan pagi di rumah
DAFTAR PUSTAKA
Rekawati, Nursalam. 2008. Asuhan Keperawatan Bayi Dan Anak. Jakarta :
Salemba Medika.
Beheman, Kliegman, Arvin. 2012. Ilmu Kesehatan Anak. Buku
[Link] : EGC
Richard, dkk. 2012. Ilmu kesehatan anak Nelsom Vol.2. Jakarta : EGC
Sujono Riyadi, Suharsono. 2010. Asuhan Keperawatan Anak Sakit. Yogyakarta :
Gosyen Publishing
Sodikin, 2012, keperawatan anak gangguan pencernaan. Jakarta : EGC