0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan12 halaman

Pengenalan Metode Elemen Hingga dan ABAQUS

Dokumen tersebut membahas tentang metode elemen hingga (FEM) dan penggunaan perangkat lunak ABAQUS untuk analisis struktur. Dokumen tersebut menjelaskan konsep dasar FEM, langkah-langkah analisis FEM, dan cara menganalisis suatu struktur balok dengan menggunakan perangkat lunak ABAQUS untuk memodelkan, melakukan diskritisasi, menentukan muatan dan batas, serta menganalisis hasil simulasi tegangan.

Diunggah oleh

fahmishfl
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan12 halaman

Pengenalan Metode Elemen Hingga dan ABAQUS

Dokumen tersebut membahas tentang metode elemen hingga (FEM) dan penggunaan perangkat lunak ABAQUS untuk analisis struktur. Dokumen tersebut menjelaskan konsep dasar FEM, langkah-langkah analisis FEM, dan cara menganalisis suatu struktur balok dengan menggunakan perangkat lunak ABAQUS untuk memodelkan, melakukan diskritisasi, menentukan muatan dan batas, serta menganalisis hasil simulasi tegangan.

Diunggah oleh

fahmishfl
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Metode Elemen Hingga


Finite Element Method pada awalnya merupakan kebutuhan untuk memecahkan
permasalahan elastisitas yang kompleks dan masalah analisis struktural di dalam sipil dan
aeronautical engineering. FEM adalah singkatan dari Finite Element Method, dalam bahasa
Indonesia disebut Metode Elemen Hingga. Konsep paling dasar FEM adalah, menyelesaikan
suatu problem dengan cara membagi obyek analisa menjadi bagian-bagian kecil yang terhingga.
Bagian-bagian kecil ini kemudian dianalisa dan hasilnya digabungkan kembali untuk
mendapatkan penyelesaian untuk keseluruhan daerah. Kata “finite atau terhingga” digunakan
untuk menekankan bahwa bagian-bagian kecil tersebut tidak tak terhingga, seperti yang lazim
digunakan pada metode integral analitik.
Membagi bagian analisa menjadi bagian-bagian kecil disebut “discretizing atau
diskritisasi”. Bagian-bagian kecil ini disebut elemen, yang terdiri dari titik-titik sudut (disebut
nodal, atau node) dan daerah elemen yang terbentuk dari titik-titik tersebut. Membagi sebuah
object menjadi bagian-bagian kecil secara fisika sebenarnya menuntun kita kepada pembuatan
persamaan diferensial. Jadi secara lebih matematis, FEM didefinisikan sebagai teknik numerik
untuk menyelesaikan problem yang dinyatakan dalam persamaan diferensial. Namun biasanya
definisi FEM secara matematis memberikan kesan yang rumit yang sebenarnya tidak perlu.
Oleh karena itu dalam pelajaran kita, pendekatan matematis tidak terlalu ditekankan.
Secara umum langkah-langkah dalam FEM bisa diringkas sebagai berikut:
1. Membagi obyek analisa ke dalam elemen-element kecil.
2. Melakukan modelisasi sederhana yang berlaku untuk setiap elemen. Misalnya dimodelkan
sebagai pegas, di mana pegas ini sifatnya sederhana, yaitu tegangan berbanding lurus
dengan perubahan bentuknya.
3. Membuat formula sederhana untuk setiap element tersebut. Misalnya untuk pegas berlaku
hukum f = k.x. Di mana k adalah konstanta pegas, dan x adalah pertambahan panjang pegas.
Pada langkah ini kita akan memperoleh sebuah persamaan yang disebut “element stiffness
matrix” atau matriks kekakuan elemen.
4. Mengkombinasikan seluruh elemen dan membuat persamaan simultan yang mencakup
semua variabel. Untuk elemen yang dimodelkan dengan pegas, mencakup f, k, dan x dari
semua [Link] pada langkah ini kita akan memperoleh sebuah persamaan yang
disebut “global stiffness matrix” atau matriks kekakuan global.

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

1.2 ABAQUS

ABAQUS adalah paket program simulasi rekayasa yang kuat, didasarkan pada metode
elemen hingga, yang dapat memecahkan masalah mulai dari analisis linier relatif sederhana
sampai simulasi nonlinier yang paling menantang. ABAQUS berisi perpustakaan yang luas dari
unsur-unsur yang dapat memodelkan hampir semua geometri apapun. Program ini memiliki
daftar yang sangat luas dari model material yang dapat mensimulasikan perilaku sebagian besar
bahan rekayasa, termasuk logam, karet, polimer, komposit, beton bertulang, busa yang lentur
dan kuat, dan bahan geoteknik seperti tanah dan batuan.
Dirancang sebagai alat simulasi untuk keperluan umum, ABAQUS dapat digunakan untuk
mempelajari lebih dari sekedar masalah struktural (stres/perpindahan). Program ini dapat
mensimulasikan masalah di berbagai bidang seperti perpindahan panas, difusi massal,
manajemen termal dari komponen listrik (ditambah termal-listrik analisis), akustik, mekanika
tanah (ditambah pori-pori stress analisis), analisis piezoelektrik, dan dinamika fluida.
ABAQUS menawarkan berbagai kemampuan untuk simulasi aplikasi linier dan nonlinier.
Masalah dengan beberapa komponen dimodelkan dengan mengaitkan geometri mendefinisikan
masing-masing komponen dengan model bahan yang sesuai dan menentukan interaksi
komponen. Dalam ABAQUS, analisis nonlinier otomatis memilih penambahan beban yang
tepat dan toleransi konvergensi dan terus menyesuaikan mereka selama analisis untuk
memastikan bahwa solusi yang akurat dan efisiensi diperoleh.

Gambar 1.2. Logo ABAQUS

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

1. Soal

A. Material Properties
Elastic Modulus, E : 210 kN/mm2
Poison’s Ratio : 0.3
Model thickness : 10 mm
Beam height : 200 mm
Concentrated load : 20 kN
Maximum Element allowed : 150 linear elements
Boundary Condition : Pinned support
B. Problem
a) Diagram of mesh used in which nodes and element
b) Estimation of the magnitude and distribution of the stresses along the beam
c) Deformed shape diagram
d) Plot of contour of von-mises equivalent stress
e) Plot of maximum principal stress
f) Discussion of the modeling result
C. Further Investigation
1. Effect of different stiffness ratio of beam to column
2. Effect of different mesh size
3. Effect of type of element

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

2. Tahapan
1. Membuka Abaqus CAE, Klik Create Model Database. Pada menu bar, klik File dan Set
Work Directory untuk mementukan tempat penyimpanan pada komputer. Klik Save As
dan beri nama file.

Gambar. User Interface Save Model ABAQUS

2. Klik kanan Part pada menu bagian kiri untuk membuat model lalu pilih Create lalu akan
muncul kotak dialog Create Part. Beri nama Part-1, pilih 3D pada Modelling Space, pilih
Deformable pada type, pilih Solid pada Base Feature, masukan 2000 pada Approximate
Size.

Gambar. User Interface Create Part ABAQUS

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

3. Selanjutnya buat model dengan menggunakan Create Line: Connected dan tool yang
lainnya.

4. Buat material dengan asumsi elastic modulus 210000 dan poisson’s rasio 0.3. Buat
section selanjutnya pilih Solid pada Category, pilih Homogeneous pada Type. Pada
kotak dialog Edit Section, pilih material Steel yang dibuat sebelumnya dengan plane
stress/strain thickness bernilai 10. Dan masukkan jenis section pada plat menggunakan
tools Section Assignment. (Satuan menggunakan N dan mm)

Gambar. User Interface Input Material ABAQUS

5. Selanjutnya pilih Assemble dan klik Create Instance pilih independence pada Instance
Type. Masukkan beban concentrated load 20000N dengan cara klik Load lalu Create
Load Selanjutnya Create Boundary Condition, pilih pinned pada ujung-ujung kolom.

Gambar. User Interface Load Input ABAQUS

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

6. Klik Mesh selanjutnya pilih Mesh Control lalu pilih Quad (Bagian daerah luar) pada
Element Shape dan Structured pada Technique. Pada Element Type pilih Standart pada
Element Library, Linear pada Geometric untuk metode Quadratic untuk metode LST.
Pada menu bar pilih Seed dan klik part. Lalu selanjutnya digunakan seed edges untuk
mengatur jumlah mesh dikarenakan menggunakan Aplikasi Abaqus Student Version
yang membatasi hanya sampai 1000 nodes. Selanjutnya klik Mesh dan Part pilih Yes.
Pada kasus ini akan dibuat beberapa jenis mesh yaitu Linear dengan 56,144 dan 300
mesh dan 144 dengan mesh type Quadratic

Gambar. User Interface Boundary Condition ABAQUS

Gambar. No Mesh dan Node

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

3. Hasil
1. A=200 mm- 56 Linear Element

2. A=200 mm- 144 Linear Element

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

3. A=200 mm- 286 Linear Element

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

4. A=400 mm- 144 Linear Element

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

5. A=200 mm- 192 3D

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

4. Kesimpulan
Dengan menggunakan rumus dibawah untuk mencari tegangan dan lendutan
1
𝐼= 𝑏ℎ3
12
1
𝐼= . 10. 2003
12
= 6666667
𝑃.𝐿.𝑦 𝑃𝐿3
𝜎= ∆=
𝐼 3𝐸𝐼
20000.800.100
𝜎=
6666667
= 240 Mpa
20000. 8003
∆=
210000.6666667
Didapatkan bahwa tegangan dan lendutan yang terjadi di program ABAQUS pada element
dengan jumlah mesh tertentu akan menghasilkan nilai salahsatu diantara 2 parameter tersebut
yang mendekati (error<10%). Hal tersebut mungkin dikarenakan asumsi pada perhitungan
manual diatas diasumsikan pada ujung balok adalah jepit.

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA


FAHMI SHOFI AULIA (03111540000082)

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA (RC184705)

Deformasi Ukuran Element


nx ny Jumlah Mesh
(mm) lx ly
10 1 10 2.300 80 800
30 1 30 2.422 26.6667 800
30 2 60 2.530 26.6667 400
80 2 160 2.622 10 400
150 1 150 2.438 5.33333 800
1 40 40 3.654 800 20
4 100 400 1.896 200 8

Lalu dengan mencoba-coba jumlah element dan ukuran elemen dari balok kantilever diatas
didapatkan hasil hubungan antara displacement U2 terhadap jumlah dan ukuran mesh seperti
tabel diatas. Dimana displacement U2 pada program ABAQUS akan mendekati dengan
perhitungan rumus diatas jika pembagian mesh pada program lebih berorientasi ke arah sumbu
X. Hasil yang sama juga ditemukan pada stress, sehingga perlu dimodelkan ulang akan
mendapatkan hasil yang optimal.

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL – INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

Anda mungkin juga menyukai