DISCERNMENT
Panduan Mengambil Keputusan
Resume
Mau hidup berarti mau memilih. Sebab dalam hidup, selalu saja ada pilihan-pilihan
yang mengharuskan seseorang untuk memilih. Mengadakan pemilihan dan mengambil
keputusan adalah hal yang wajar dan mutlak dalam hidup setiap hari. Kita memilih dan
memutuskan untuk hal-hal sederhana dan juga untuk hal-hal yang tergolong penting. Kita
memilih untuk diri kita sendiri dan di lain waktu kita memilih untuk kebersamaan.
Mengadakan pemilihan dan mengambil keputusan hendaknya dilakukan dengan
serius dan bijaksana. Sebab keputusan yang diambil akan mempengaruhi kehidupan
selanjutnya. Kesalahan dalam mengambil keputusan akan berakibat ketidaknyamanan
dalam hidup, sebaliknya mengambil keputusan secara benar akan membawa kebahagiaan
dalam hidup. Dengan kata lain, memilih dan mengambil keputusan berarti menentukan
hidup yang bagaimana yang akan kita hidupi kemudian.
Paul Suparno, dalam bukunya Discernmnet: Panduan Mengambil Keputusan,
memberikan bantuan yang sangat berguna dalam mengambil sebuah keputusan. Banyak
hal yang harus diperhatikan dan menjadi bahan pertimbangan sebelum mengambil
keputusan yang defenitif. Dengan mengutip pemikiran Wolf, dipaparkan empat sarana
yang sangat penting dalam discernment, yakni cara untuk mengambil keputusan. Keempat
sarana itu antara lain pikiran/otak, hati/afeksi, nilai, dan waktu.
Sebelum mengambil keputusan atas pilihan-pilihan yang ada, peran pikiran
sangatlah penting. Pikiran bertugas untuk menelaah secara rasional apa saja yang perlu
dipertimbangkan dari pilihan-pilihan tersebut. Di sini, peran pikiran ialah mencari
informasi sebanyak mungkin entah tertulis atau tidak tertulis, berkaitan dengan persoalan
yang harus kita putuskan. Dari data dan informasi yang terhimpun, pikiran kemudian
menimbang, mencari alasan pro dan kontra untuk masing-masing, lalu secara sederhana
dan rasional memilih mana yang terbaik.
Namun manusia tidak hanya memiliki pikiran, tetapi juga hati. Kedua hal ini
kadang bertentangan dalam diri seseorang. Pilihan yang telah diputuskan oleh pikiran
1
seringkali tidak sejalan dengan penilaian hati. Maka, kita perlu juga merasakan gerak rasa
atau hati kita atas keputusan yang telah diambil. Tentu cara ini harus dilakukan dalam
suasana tenang. Jika setelah mengambil keputusan, hati merasa nyaman, semangat dan
gembira, berarti keputusan itu oke. Sebaliknya, jika hati merasa gelisah dan tidak tenang,
berarti keputusan itu kurang oke dan perlu ditinjau kembali.
Segala sesuatu memiliki nilai. Inilah unsur yang juga sangat penting dalam
menentukan keputusan. Nilai menjadi tonggak, dasar atau basis dalam setiap pemilihan.
Walaupun demikian, nilai dapat berbeda bagi setiap orang tergantung pada iman
kepercayaannya masing-masing. Nilai menjadi penting, karena suasana hati
pascapemilihan pun akan disesuaikan dengan nilai ini. Nilai ini sekaligus akan
mempermudah kita dalam menentukan keputusan. Sebab, suatu bahan pemilihan yang
bernilai tidak baik, tidak usah dipilih dan langsung ditolak saja. Karena kalau pun itu
dipilih, hati tidak akan tenang dan gembira.
Unsur yang terakhir yang perlu diperhatikan adalah waktu. Untuk menentukan
keputusan yang oke, dibutuhkan waktu yang cukup. Jika hendak memutuskan hal yang
sederhana, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama. Tetapi untuk memutuskan hal
yang sangat penting dalam hidup kita, jangan tergesa-gesa. Lebih baik bermenung untuk
waktu yang lama agar keputusan yang akan diambil benar dan sesuai dengan nilai dan
gerak hati.
Dalam proses pengambilan keputusan, terlebih dahulu kita harus melihat dengan
saksama bahan pemilihan yang ada atau apa saja yang yang harus kita pilih. Pilihan-
pilihan itu harus jelas atau tidak kabur dan harus setara. Setara artinya bahan pemilihan
tersebut harus berada pada bidang dan porsi yang sama. Jangan mengadakan pemilihan
pada hal-hal yang tidak setara, misalnya yang satu baik sedangkan yang lainnya buruk. Ini
bukan pemilihan yang baik, karena dari segi nilai-nya, yang buruk sudah pasti harus
ditolak. Pilihan selalu diikuti konsekuensi. Kita harus siap dengan segala konsekuensi
yang ada. Dari segi kategori perubahan, ada dua jenis keputusan yaitu keputusan yang
dapat diubah dan keputusan yang sulit diubah. Keputusan yang dapat diubah biasanya
berkaitan dengan hal-hal yang sederhana. Sedangkan keputusan yang sulit diubah
berkaitan dengan arah hidup pribadi, keputusan atas sesuatu yang amat penting dan besar.
Oleh karena itu, dalam hal ini, unsur waktu memegang peranan yang utama. Lebih baik
lama untuk menentukan sesuatu yang besar dalam hidup.
2
Sikap yang perlu dalam pengambilan keputusan adalah sikap indifferent, seimbang
atau bebas. Sikap indifferent berarti sikap tidak menyukai atau membenci sesuatu lebih
dari yang lain. Sangat tidak baik kita memilih sesuatu hanya karena kita membenci yang
lainnya. Selain itu, kemampuan untuk membedakan roh akan sangat membantu dalam
menentukan keputusan. Dengan kemampuan ini, kita tidak akan ditipu untuk menganggap
hal yang jelek sebagai yang baik dan yang baik sebagai yang jelek. Di atas semua ini, yang
paling utama adalah mengandalkan cinta dan rahmat Tuhan. Kita mengadakan pemilihan
dan menentukan keputusan untuk hidup kita secara keseluruhan. Oleh karena itu,
hendaknya kita melaksanakannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka, kita perlu terus
menerus memohon rahmat Tuhan agar sudi mengarahkan pikiran dan hati kita agar sesuai
kehendakNya dan agar mampu mendengarkan suaraNya dalam keheningan dan
ketenangan batin. Dalam hal ini, barang kali kita bisa meniru kepasrahan Bunda Maria
yang berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu.”
Refleksi
Unsur-unsur penting dalam mengambil sebuah keputusan yang diterangkan dalam
buku ini cukup menggugah dan membantu saya dalam menentukan keputusan yang saya
harus ambil. Contoh yang diberikan dalam buku ini sangat sederhana, dan bagi saya
pribadi sangat sesuai konteks terutama pada masa kini. Keputusan yang mesti saya ambil
adalah apakah berkaul kekal atau tidak berkaul kekal sebagai Kapusin. Ini adalah
keputusan yang menentukan perjalanan hidup saya selanjutnya. Masa sekarang inilah
masa paling penting dalam keseluruhan perjalanan panggilan saya yang telah saya mulai
tujuh tahun lalu.
Bahan pemilihan yang saya hadapi sekarang ini adalah berkaul kekal atau tidak
berkaul kekal. Kedua bahan ini pastilah memicu pikiran saya untuk berpikir dan mencari
sisi keunggulan dan kelemahan masing-masing. Walaupun demikian, mencari alasan-
alasan yang rasional atas kedua bahan ini tidak cukup untuk menentukan keputusan.
Karena bagaimanapun pikiran bisa saja salah dalam proses kerjanya. Pikiran tidak selalu
bisa terlepas dari pengaruh hal-hal lain yang berasal dari luar pikiran. Tetapi bahwa pada
awalnya, keputusan memang harus ditentukan oleh pikiran. Keputusan oleh pikiran ini
harus dihadapkan kembali dengan hati untuk memperkuat alasan mengapa memilih
keputusan tersebut.
3
Saya sudah memutuskan untuk berkaul kekal sebagai kapusin. Keputusan ini
adalah buah permenungan, cita-cita, harapan, dan pemasrahan diri kepada Tuhan. Saya
akhirnya berani mengambil keputusan ini karena gerak hati saya juga condong pada
keputusan untuk berkaul kekal. Hati dan perasaan saya lebih tenang dan damai dengan
keputusan ini. Saya yakin bahwa saya pasti akan bahagia dengan keputusan ini. Meski
harus berjuang keras dan berkanjang, itulah cara untuk mendapatkan kebahagiaan.
Nilai yang saya perjuangkan dengan keputusan ini adalah cinta kasih karena
dalamnya kerahiman Tuhan dan kebahagiaan. Saya sangat yakin Tuhan mencintai saya
dan Dia menuntun saya untuk memilih cara hidup ini. Selama saya menjalani cara hidup
ini, saya sangat merasakan tuntunan dan penyertaanNya. Meskipun saya terkadang merasa
kurang pantas dan tidak layak, tetapi saya tetap merasa dikuatkan oleh besarnya
kerahimanNya. Semua orang berdosa yang mau bertobat diterimaNya, dimaafkan, dan
diberi karunia untuk menunjukkan cinta kasihNya kepada siapa pun. Dalam
keberdosaanku, Dia tetap memberikan rahmat agar saya bisa setia berjuang dalam cara
hidup yang telah saya pilih ini. Inilah kebahagiaan yang saya alami dan saya tetap
harapkan dengan menjatuhkan pilihan menyerahkan diri kepadaNya. Saya juga yakin
bahwa saya akan selalu bahagia dalam hidup saya bersama Kapusin dan bersama Tuhan.
Saya sadar, menentukan keputusan ini bukanlah hal yang sederhana. Oleh karena
itu, saya telah memiliki banyak waktu untuk memikirkan dan merasakan gerak hati.
Kurang lebih dua tahun (mulai tingkat IV-TOPP), saya dicerahi oleh pengalaman,
dikuatkan oleh perjuangan, diteguhkan oleh dukungan serta dibimbing dalam doa, maka
saya semakin yakin untuk maju. Barang kali, waktu yang relatif lama tersebut membantu
saya untuk semakin berkembang dan berani menentukan langkah.
Buku Discernment ini membantu saya untuk melihat kembali keputusan saya. Dan
dari situ saya yakin, meski belum sepenuhnya langkah-langkah dalam buku ini saya ikuti,
tetapi sebagian besar sudah saya lakukan. Keputusan yang telah saya ambil ini setidaknya
telah saya pikirkan dan perasaan saya tenang dan damai setelahnya.
Dengan keputusan yang saya ambil ini, saya sepenuhnya sadar apa tanggung jawab
yang mesti saya emban serta apa konsekuensi logis yang saya harus terima. Sedikit pun
saya tidak merasa bahwa keputusan ini berat dan salah. Sebaliknya dengan menentukan
keputusan ini saya semakin ditantang untuk semakin baik dan berkembang. Inilah yang
4
saya harapkan sebagai buah kedewasaan saya dalam hidup sebagai pribadi yang bebas dan
bertanggung jawab.
Discernment yang berlaku pada pengambilan keputusan ini adalah discernment
pribadi sehingga yang sungguh bertanggung jawab adalah pribadi saya sendiri. Melalui
buku ini saya kembali diingatkan atas proses bagaimana saya akhirnya menentukan
keputusan saya ini. Saya yakin Tuhan memanggil saya dan panggilan itu saya jawab
dengan keputusan saya. Inilah bentuk discernment yang telah saya lakukan dengan
bantuan Roh Kudus.
Dalam hati saya sangat percaya, Tuhan tidak akan meninggalkan saya sendiri
setelah keputusan ini saya ambil. Sebaliknya, saya percaya, Tuhan akan menyertai
perjalanan panggilan saya selanjutnya dan saya akan berusaha semakin mendengarkan
suaraNya dalam keheningan batin saya. Karena yang saya putuskan untuk saya pilih
adalah Dia dan kehendakNya.
Sdr. Tommy Simamora