LAPORAN KERJA PRAKTIK
ANALISA PENGUJIAN ELEKTRIK
PADA ROTOR GENERATOR SINKRON SAAT OVERHAUL
GTG 1.1 PLTGU BLOK 1
PT. INDONESIA POWER UP SEMARANG
Diajukan Oleh :
Dimas Wahyu Pribadi
1310161033
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN D4 TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
2019
HALAMAN PENGESAHAN
KERJA PRAKTIK
ANALISA PENGUJIAN ELEKTRIK
PADA ROTOR GENERATOR SINKRON SAAT OVERHAUL
GTG 1.1 PLTGU BLOK 1
PT. INDONESIA POWER UP SEMARANG
Disusun oleh :
Nama : Dimas Wahyu Pribadi
Nomor Induk Mahasiswa : 1310161033
Jurusan : D4 Teknik Elektro Industri
PT/Sekolah : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Waktu Kerja Praktik : 4 Februari s.d 29 Maret 2019
Telah diperiksa pada tanggal :
..........
Mengetahui,
General Manager Pembimbing Lapangan
Suparlan Marno Siswanto
ii
ABSTRAK
Kebutuhan pasokan listrik merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat
Indonesia. Terutama pada sektor perkembangan industri dan teknologi yang
semakin meningkat, sehingga selaras dengan besarnya kebutuhan energi listrik.
Dengan demikian Indonesia Power hadir untuk berkontribusi sebagai pemasok
energi listrik terbesar di Indonesia meliputi PLTA, PLTD, PLTG, PLTU,dll. Dan
salah satu Power Plant yang memiliki efisiensi tinggi serta ramah lingkungan
dengan bahan bakar gas untuk diolah menjadi energi listrik adalah di PLTGU PT.
Indonesia Power UP Semarang.
Untuk menjaga kehandalan sistem diperlukan perawatan dan pengujian
secara berkala dengan tidak mengesampingkan sistem proteksinya. Generator
sinkron dengan kapasitas besar membutuhkan perawatan ataupun pengujian untuk
menjaga agar tetap dapat beroperasi secara normal dan terhindar dari bermacam -
macam gangguan. Salah satu bagian yang memiliki peran penting pada generator
sinkron adalah Rotor. Gangguan yang berpotensi terjadi pada rotor antara lain
vibrasi pada rotor, hubung singkat pada lilitan rotor, dsb. Beberapa langkah
dilakukan untuk meminimalisasi gangguan tersebut, salah satunya dengan
melakukan Pengujian elektrik. Pengujian elektrik pada rotor terdiri dari banyak
pengujian diantaranya adalah Winding Resistance Test, Insulation Resistance Test,
Voltage Balance Test, Sweep Frequency Response Analysis Test (SFRA Test),
Surge Test dan Repetitive Surge Oscillograph Test (RSO Test)
Pengujian elektrik rotor generator sinkron GTG 1.1 pada PLTGU PT.
Indonesia Power UP Semarang dilaksanakan saat Overhaul. Hal ini dilakukan
agar dapat mengetahui pasti kerusakan pada rotor generator. Maka dengan
pengujian elektrik rotor yang saat ini dilakukan di luar stator akan lebih mudah
mengidentifikasi kerusakan pada rotor generator sinkron.
Kata kunci : Generator sinkron, Overhaul, Pengujian Elektrik Rotor
iii
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi maha
Penyayang, kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat-Nya, yang telah
melimpahan rahmat, hidayah serta inayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat
menyelesaikan laporan Kerja Praktik yang berjudul “ANALISA PENGUJIAN
ELEKTRIK PADA ROTOR GENERATOR SINKRON SAAT OVERHAUL GTG
1.1 PLTGU BLOK 1 PT. INDONESIA POWER UP SEMARANG”.
Laporan ini disusun berdasarkan hasil kerja praktik yaitu pengamatan
dilapangan, studi pustaka dan pengumpulan data di PT. Indonesia Power UP
Semarang mulai tanggal 4 Februari 2019 - 29 Maret 2019. Ilmu serta pengalaman
baru yang berharga serta pengarahan, bimbingan dan bantuan dari beberapa pihak
yang banyak membantu dalam pembuatan laporan ini. Oleh karena itu penulis
mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1. Kedua orang tua kami yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan
moril maupun material.
2. Bapak Epyk Surnarno, [Link]., M.T sebagai Ketua Program Studi D4 Teknik
Elektro Industri PENS.
3. Bapak Lucky Pradigta, [Link].,MT selaku koordinator Kerja Praktik Program
Studi Teknik Elektro Industri PENS.
4. Bapak Drs. Irianto.,MT selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktik.
5. Bapak Suparlan selaku General Manager PT. Indonesia Power UP Semarang.
6. Bapak Marno Siswanto selaku pembimbing kerja praktik kami selama di PT.
Indonesia Power UP Semarang.
7. Semua karyawan PT. Indonesia Power UP Semarang yang telah membantu
melancarkan kerja praktik.
8. Semua rekan-rekan Sekelompok dan sahabat yang tidak dapat kami sebutkan
satu persatu yang telah membantu dan mendukung selama menjalani kerja
Praktik.
iv
Dengan segala kerendahan hati penulis ucapkan mohon maaf yang
sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam isi laporan
Kerja Praktik ini. Penulis menyadari bahwa ilmu dan pengalaman yang penulis
miliki belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan
dari para pembaca laporan Kerja Praktik ini.
Demikianlah Laporan Kerja Praktik ini penulis persembahkan. Semoga
laporan Kerja Praktik ini dapat memberikan ilmu dan informasi bermanfaat bagi
para pembacanya, dan semoga amal baik mereka yang telah membantu kelancaran
Kerja Praktik ini mendapat balasan dari Allah SWT. Amin.
Semarang, 2019
Penulis
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................................. ii
ABSTRAK..................................................................................................................................iii
KATA PENGANTAR............................................................................................................ iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ................................................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................................ xii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah ................................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan Laporan........................................................................................ 2
1.4 Waktu dan Lokasi Praktik Kerja Industri ............................................................ 3
1.5 Tujuan Kerja Praktik.................................................................................................. 3
1.6 Metode Pengambilan Data ....................................................................................... 4
1.7 Sistematika Penyusunan Laporan .......................................................................... 4
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN .............................................................. 6
2.1 Sejarah PT Indonesia Power .................................................................................... 6
2.2 Visi, Misi, Motto PT. Indonesia Power ................................................................ 7
2.3 Makna dan Bentuk Logo PT. Indonesia Power ................................................. 8
2.4 Nilai Perusahaan ......................................................................................................... 9
2.5.1 Unit Pembangkitan (UP) 10
2.5.2 Unit Jasa Pembangkitan (UJP) dan Unit Pembangkitan dan Jasa
Pembangkitan (UPJP) 11
2.6 PT. Indonesia Power UP Semarang .................................................................... 12
2.7 Kapasitas Daya PT Indonesia Power UP Semarang ....................................... 13
2.8 Lokasi PT. Indonesia Power UP Semarang ...................................................... 13
2.9 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power UP Semarang .............................. 15
BAB III DASAR TEORI ..................................................................................................... 17
3.1 Proses Pembangkitan Listrik PLTGU................................................................. 17
vi
3.2 Gas Turbine Generator dan Bagiannya (GTG)......................................... 21
3.2.1 Cranking Motor............................................................................. 21
3.2.2 Kompresor..................................................................................... 21
3.2.3 Air Filter Inlet................................................................................ 21
3.2.4 Combustion Chamber.................................................................... 22
3.2.5 Turbin Gas..................................................................................... 22
3.2.6 Selektor Valve (Diverter Damper)................................................ 22
3.2.7 Stack Open Cycle ( Cerobong asap).............................................. 22
3.3 Tinjauan Mengenai Rotor Generator Saat Overhaul............................... 22
3.3.1 Dasar Teori..................................................................................... 22
3.3.2 Konstruksi Generator Sinkron........................................................ 23
3.4 Overhaul Pada Generator Sinkron............................................................ 27
3.4.1 Definisi Overhaul........................................................................... 27
3.4.2 Siklus Overhaul.............................................................................. 27
BAB IV PEMBAHASAN..................................................................................... 29
4.1 Kondisi Overhaul Pada Rotor Generator Sinkron.................................... 29
4.2 Jenis - Jenis Pengujian Elektrik Pada Rotor Generator Sinkron............... 31
4.2.1 Pengujian Winding Resistance....................................................... 31
4.2.2 Pengujian Insulation Resistance..................................................... 33
4.2.3 Pengujian Voltage Balance............................................................. 34
4.2.4 Pengujian Sweep Frequency Response Analysis (SFRA Test)....... 35
4.2.5 Pengujian Surja .............................................................................. 36
4.2.6 Pengujian Repetitive Surge Oscillograph (RSO Test)................... 39
4.3 Cara Pengujian Elektrik Pada Rotor Generator Sinkron.......................... 40
4.3.1 Cara Pengujian Winding Resistance............................................... 40
4.3.2 Cara Pengujian Insulation Resistance............................................ 41
4.3.3 Cara Pengujian Voltage Balance.................................................... 43
4.3.4 Cara Pengujian Sweep Frequency Respons Analysis..................... 43
4.3.5 Cara Pengujian Surja...................................................................... 44
4.3.6 Cara Pengujian Repetitive Surge Osillograph (RSO Test)............. 44
4.4 Analisa Pengujian Elektrik Pada Rotor Generator Sinkron...................... 46
vii
4.4.1 Analisa Pengujian Winding Resistance 46
4.4.2 Analisa Pengujian Insulation Resistance 47
4.4.3 Analisa Pengujian Voltage Balance 48
4.4.4 Analisa Pengujian Sweep Frequency Respons Analysis 51
4.4.5 Analisa Pegujian Surja 53
4.4.6 Analisa Pengujian Repetitive Surge Osillograph 54
BAB V PENUTUP.................................................................................................................. 56
5.1 KESIMPULAN ......................................................................................................... 56
5.2 SARAN ........................................................................................................................ 57
5.1.1 Saran yang terkait dengan laporan 57
5.1.2 Saran ke Perusahaan 58
5.1.3 Saran ke Universitas 58
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 58
LAMPIRAN ............................................................................................................................. 59
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Logo PT. Indonesia Power ............................................................................... 8
Gambar 2.2 IP AKSI ................................................................................................................. 9
Gambar 2.3 Unit Pembangkit Indonesia Power............................................................... 12
Gambar 2.4 Lokasi PT. Indonesia Power UP Semarang dalam Google Map .. 14
Gambar 2.5 Struktur Organisasi Unit Pembangkitan Semarang................................. 15
Gambar 2.6 Bagan Susunan Jabatan Bagian Pemeliharaan Unit Pembangkitan
Semarang 16
Gambar 3.1 Siklus Pembangkitan Listrik Pada PLTGUPT. Indonesia Power UP
Semarang 17
Gambar 3.3 Rotor tipe kutub-sepatu (salient pole) ......................................................... 26
Gambar 3.4 Rotor tipe silinder ............................................................................................. 26
Gambar 3.5 Frame Work Outage Management ............................................................... 28
Gambar 4.1 Rotor Generator Sinkron Saat Overhaul GTG 1.1 .................................. 29
Gambar 4.2 Perbandingan kondisi vibrasi terhadap daya aktif (MW) dan daya
reaktif (MVAR) 30
Gambar 4.3 Transform Winding Resistance Meter (TRM-40) ................................... 32
Gambar 4.4 Rangkaian pengujian winding resistance pada rotor menggunakan
TRM 40 32
Gambar 4.5 Megger MIT 1025............................................................................................. 34
Gambar 4.6 Variac Voltage Regulator dan Multitester ................................................. 35
Gambar 4.7 Sinyal Gelombang Frekuensi Pengujian SFRA ....................................... 35
Gambar 4.8 M5400 SRFA Tester ........................................................................................ 36
Gambar 4.9 Tampilan Pengujian Surja .............................................................................. 37
Gambar 4.10 Surge Comparison Tester ............................................................................. 38
Gambar 4.11 Sumatron - Generator Rotor Shorted Turn Analyzer ........................... 40
Gambar 4.12 Kondisi pada lilitan berdasarkan nilai indeks polarisasi berdasarkan
IEEE-43 42
Gambar 4.13 Rangkaian pengujian voltage balance rotor ........................................... 43
Gambar 4.14 Rangkaian Pengujian Repetitive Surge Osillograph ............................ 44
Gambar 4.15 Siklus Sinyal Frekuensi Input dan Output Pada Pengujian RSO .... 45
ix
Gambar 4.16 Hasil pengujian tahanan dalam menggunakan TRM-40 ................ 46
Gambar 4.17 Kurva Perubahan secara tipikal dalam 1 menit dan 10 menit
resistansi isolasi 48
Gambar 4.18 Grafik Hasil Pengujian Voltage Balance ................................................. 49
Gambar 4.19 Sweep Frequency Respons Analysis (Pole A to Ground) ................... 51
Gambar 4.20 Sweep Frequency Respons Analysis (Pole B to Ground) .................... 52
Gambar 4.21 Sweep Frequency Respons Analysis (Pole A to Pole B) ..................... 52
Gambar 4.22 Obvious deformation pada Pole A to Ground ........................................ 52
Gambar 4.23 Hasil Pengujian Surja .................................................................................... 53
Gambar 4.24 Hasil Pengujian Repetitive Surge Osillograph pada saat FSNL .... 54
Gambar 4.25 Terdapat ketidaksimetris pada gelombang pengujian RSO ............... 54
x
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel siklus Overhaul pada beberapa jenis pembangkit ............................ 27
Tabel 3.2 Jam Periode Overhaul .......................................................................................... 27
Tabel 4.1 Tegangan DC yang diterapkan untuk pengujian megger berdasarkan
tegangan kerja lilitan 34
Tabel 4.2 Rekomendasi nilai minimum indeks polarisasi pada semua komponen
mesin menurut IEEE-43 berdasarkan kelasnya 42
Tabel 4.3 Data Pengujian Tahanan Isolasi ........................................................................ 47
Tabel 4.4 Data Hasil Pengujian Voltage Balance ........................................................... 49
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Gambar 5.1 Kondisi rotor sebelum pengujian ................................................................. 60
Gambar 5.2 Kondisi rotor saat menjalani pengujian ...................................................... 60
Gambar 5.3 Cleaning pada belitan rotor ............................................................................ 60
xii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tenaga listrik merupakan salah satu faktor yang sangat vital dalam
pembangunan suatu negara. Energi listrik telah menjadi kebutuhan mendasar
manusia. Berbagai lini aktivitas manusia telah memanfaatkan energi listrik,
mulai dari sektor industri, usaha, hingga rumah tangga. Di Indonesia kebutuhan
tenaga listrik dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Untuk
mendapatkan energi listrik diperlukan mekanisme pembangkitan yang beragam.
Salah satu instansi yang berkerja dalam bidang tersebut yang terdapat pada
Pulau Jawa adalah PT. Indonesia Power UP Semarang.
PT. Indonesia Power UP Semarang memegang peranan penting dalam
menyuplai energi listrik terutama pada daerah Jawa Tengah. Salah satu
mekanisme pembangkitannya adalah Pembangkitan Listrik Tenaga Gas dan
Uap (PLTGU). Untuk mendapatkan listrik melalui PLTGU dilakukan
pembakaran bahan bakar dengan menggunakan gas untuk mengubah udara
bebas menjadi gas bertekanan dan bertemperatur tertentu yang akan digunakan
untuk memutar turbin gas. Turbin gas dikopel dengan generator sehingga
putarannya dapat dikonversi menjadi energi listrik.
Salah satu peralatan yang penting dalam penyediaan listrik ke konsumen
adalah generator sinkron. Sedangkan, pada saat peralatan listrik tersebut
mengalami gangguan misalnya hubung singkat pada lilitannya dan sebagainya,
maka diambil suatu tindakan preventif untuk mengatasi gangguan tersebut.
Untuk mengatasi hal tersebut, mutlak diperlukan suatu pemeliharaan. Salah
satu pemeliharaan tersebut adalah dengan pengujian elektrik pada rotor
generator sinkron. Sehingga pada saat pelaksanaan overhaul, menjadi waktu
yang tepat dalam melakukan pullout pada rotor generator untuk dilakukan
pengujian elektrik.
1
1.2 Perumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam penelitian Kerja Praktik ini adalah
1. Apa yang menyebabkan kondisi rotor generator singkron perlu dilakukan
pullout saat overhaul di GTG 1.1 PLTGU Blok 1 PT. Indonesia Power UP
Semarang?
2. Apa saja jenis pengujian elektrik yang dilakukan pada rotor generator
singkron dalam kondisi pullout saat overhaul di GTG 1.1 PLTGU Blok 1 PT.
Indonesia Power UP Semarang ?
3. Bagaimana cara pengujian elektrik yang dilakukan pada rotor generator
singkron dalam kondisi pullout saat overhaul di GTG 1.1 PLTGU Blok 1 PT.
Indonesia Power UP Semarang ?
4. Bagaimana analisa pengujian elektrik yang dilakukan pada rotor generator
singkron saat overhaul di GTG 1.1 PLTGU Blok 1 PT. Indonesia Power UP
Semarang ?
1.3 Tujuan Penulisan Laporan
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), berusaha agar lulusanya
bisa dan siap menghadapi tantangan begitu memasuki dunia kerja, sehingga
mahasiswa dapat mengetahui permasalahan – permasalahan yang sering
terjadi di dunia kerja. Dalam melaksanakan Kerja Praktik ini, kami memiliki
tujuan sebagai berikut :
1. Meningkatkan kepedulian dan partisipasi dunia usaha dalam
memberikan kontribusinya dalam sistem pendidikan nasional.
2. Terciptanya suatu hubungan yang sinergis, jelas dan terarah antara
dunia perguruan tinggi dan dunia kerja sebagai pengguna outputnya.
3. Membuka wawasan mahasiswa agar dapat mengetahui dan memahami
aplikasi ilmunya di dunia industri pada umumnya dan mampu
menyerap serta berasosiasi dengan dunia kerja secara utuh.
4. Mahasiswa memahami dan mengetahui sistem kerja di dunia industri
sekaligus mampu mengadakan pendekatan masalah secara utuh.
2
5. Menumbuhkan dan menciptakan pola berpikir konstruktif yang lebih
berwawasan bagi mahasiswa.
6. Untuk mengetahui proses kerja unit har divisi listrik PLTGU Blok 2 di
PT. Indonesia Power UP Semarang.
7. Untuk mengetahui kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan
kerja PT. Indonesia Power UP Semarang.
8. Untuk mengetahui proses pembangkitan listrik khususnya PLTGU di
PT. Indonesia Power UP Semarang.
9. Untuk mengetahui kondisi rotor generator sinkron saat overhaul GTG
1.1 PLTGU Blok 1 di PT. Indonesia Power UP Semarang.
10. Untuk mengetahui proses overhaul pada GTG serta memahami jenis -
jenis pengujian yang dilakukan
11. Untuk mengetahui analisa pengujian elektrik pada rotor generator
singkron GTG 1.1 PLTGU Blok 1 di PT. Indonesia Power UP
Semarang.
1.4 Waktu dan Lokasi Praktik Kerja Industri
Praktik Kerja Lapangan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang
dilaksanakan oleh mahasiswa untuk mengenal dunia kerja pada Instansi Negara
atau Industri.
Mulai tanggal 4 Februari 2019 sampai tanggal 29 Maret 2019 dan
berlangsung selama kurang lebih dua bulan, dengan jadwal efektif lima hari
praktik dalam satu minggu dari pukul 07:30 s/d 16:00.
Adapun tempat pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ini adalah di PT.
Indonesia Power UP Semarang yang bertempat di Jl. Ronggowarsito, Tanjung
Emas, Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah 50174.
1.5 Tujuan Kerja Praktik
Tujuan dari kegiatan kerja praktek ini adalah :
1. Mengetahui proses pembangkitan energi listrik di PT. Indonesia
Power UP Semarang tepatnya di PLTU Tambak Lorok.
3
2. Mempraktekkan apa yang telah dipelajari dibangku kuliah.
3. Belajar untuk terlibat langsung dalam dunia kerja yang
sesungguhnya.
4. Mempelajari pengujian yang dilakukan pada rotor generator
sinkron berkapasitas besar.
1.6 Metode Pengambilan Data
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dan pembuatan laporan
kerja praktik di PT. Indonesia Power UP Semarang adalah sebagai berikut :
1. Metode Observasi
Metode ini dilakukan melalui pengamatan dan penelitian secara
langsung melalui kegiatan–kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan pada
pelaksanaan KP di PT. Indonesia Power UP Semarang.
2. Metode interview
Metode ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung pada
pihak yang bersangkutan untuk mendapatkan data yang tepat dan benar.
3. Metode Studi Literatur
Metode ini dilakukan dengan cara membaca, mengamati, dan
memahami dari sumber tertulis dan media internet, sehingga diperoleh
informasi yang membantu proses penyusunan laporan ini.
1.7 Sistematika Penyusunan Laporan
Laporan kerja praktek ini disusun dalam beberapa bab dan subbab dan
dibagi menjadi 4 bab utama, diantaranya:
1. BAB I PENDAHULUAN
Memuat latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan
laporan, waktu dan lokasi, tujuan kerja praktik, metode pengumpulan data,
dan sistematika penyusunan laporan.
4
2. BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
Dalam bab ini dijelaskan tentang profil, susunan organisasi, dan
lokasi PT. Indonesia Power UP Semarang.
3. BAB III DASAR TEORI
Pada bab ini membahas tentang teori pembangkitan listrik pada
PLTGU, Overhaul Pada Generator Sinkron,
4. BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini mengemukakan pembahasan tentang Kondisi Overhaul
Pada Rotor Generator Sinkron, Jenis - Jenis Pengujian Elektrik Pada Rotor
Generator Sinkron meliputi : Uji Tahanan Dalam, Uji Tahanan Isolasi,
voltage balance Rotor Test, Sweep Frequency Response Analysis Test,
Surge Test dan Repetitive Surge Oscillograph Test, Cara Pengujian
Elektrik Pada Rotor Generator Sinkron dan Analisa Pengujian Elektrik
Pada Rotor Generator Sinkron.
5. BAB V PENUTUP
Dalam bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil dan pembahasan
yang telah dibahas serta saran yang dapat diambil dari kegiatan kerja
praktik.
5
BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 Sejarah PT Indonesia Power
Pada awal 1990-an pemerintah Indonesia mempertimbangkan perlunya
deregulasi pada sektor ketenagalistrikan. Langkah ke arah deregulasi tersebut
diawali dengan berdirinya Paiton Swasta 1, yang dipertegas dengan
dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 37 tahun 1992 tentang pemanfaatan
sumber daya swasta melalui pembangkit-pembangkit listrik swasta.
Kemudian pada akhir 1993, Menteri Pertambangan dan Energi (MPE)
menerbitkan kerangka dasar kebajikan (Sasaran dan Kebijakan) yang
merupakan pedoman jangka panjang restrukturasi sektor ketenagalistrikan.
Sebagai penerapan tahap awal, pada 1994 PLN diubah statusnya dari
PERUM menjadi PERSERO. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 3
Oktober 1995, PT PLN (PERSERO) membentuk dua anak perusahaan, yang
tujuannya untuk memisahkan misi sosial dan misi komersial yang diemban
oleh BUMN tersebut. Salah satu dari anak perusahaan tersebut adalah PT
Pembangkit Tenaga Listrik Jawa Bali I, atau dikenal dengan PLN PJB I.
Anak perusahaan ini ditujukan untuk menjalankan usaha komersial pada
bidang pembangkitan tenaga listrik dan usaha-usaha lain yang terkait.
Pada 3 Oktober 2000, tepatnya pada ulang tahunnya yang ke-5,
manajemen perusahaan secara resmi mengumumkan perubahan nama PLN
PJB1 menjadi PT INDONESIA POWER. Perubahan nama ini merupakan
upaya untuk menyikapi persaingan yang semakin ketat dalam bisnis
ketenagalistrikan dan sebagai persiapan untuk privatisasi Perusahaan yang
akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
Walaupun sebagai perusahaan komersial di bidang pembangkitan baru
didirikan pada pertengahan 1990-an, INDONESIA POWER mewarisi
berbagai sejumlah aset berupa pembangkit dan fasilitas-fasilitas
pendukungnya. Dengan menggunakan beragam energi primer seperti air, batu
bara, panas bumi, dan sebagainya. Namun demikian dari pembangkit-
6
pembangkit tersebut, terdapat pula beberapa pembangkit paling tua di
Indonesia seperti PLTA Plengan, PLTA Ubruk, PLTA Ketenger, dan
sejumplah PLTA lainnya yang dibangun pada tahun 1920-an dan sampai
sekarang masih beroperasi. Dari sini, dapat dipandang bahwa secara
kesejarahan pada dasarnya usia PT INDONESIA POWER sama dengan
keberadaan listrik di Indonesia.
Pembangkit-pembangkit yang dimiliki oleh Indonesia Power dikelola dan
dioperasikan oleh 5 (lima) Unit Pembangkit. Secara keseluruhan, Indonesia
Power memiliki daya mampu terbesar yang dimiliki oleh sebuah perusahaan
pembangkitan di Indonesia. PT INDONESIA POWER juga sebagai penyedia
jasa Operasi dan Pemeliharaan dari PT PLN (Persero) yang disebut dengan
UBOH. 5 (lima) Unit Pembangkit tersebut antara lain :
1. PT. INDONESIA POWER UP Suralaya (PLTU Batubara)
2. PT. INDONESIA POWER UP Saguling (PLTA)
3. PT. INDONESIA POWER UP Mrica (PLTA)
4. PT. INDONESIA POWER UP Semarang (PLTU, PLTG, PLTGU,PLTD)
5. PT. INDONESIA POWER UP Bali (PLTD, PLTG)
PT. INDONESIA POWER UP Semarang terletak di jalan Ronggowarsito,
komplek Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, Jawa Tengah. Unit
Pembangkitan (UP) Semarang mengoperasikan unit – unit Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Gas & Uap (PLTGU) dan
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang memiliki total kapasitas
1313,33 MW. Unit Pembangkit Semarang memegang peranan yang penting
dalam menjaga keandalan dan mutu sistem kelistrikan Jawa Bali terutama
Jawa Tengah.
2.2 Visi, Misi, Motto PT. Indonesia Power
2.2.1 Visi
Menjadi perusahaan energi terpercaya yang tumbuh berkelanjutan
7
2.2.2 Misi
Menyelenggarakan bisnis pembangkitan tenaga listrik dan jasa terkait
yang bersahabat dengan lingkungan
2.2.3 Motto
Motto PT Indonesia Power adalah “Trust Us for Power Excelent”
2.3 Makna dan Bentuk Logo PT. Indonesia Power
Logo dari PT Indonesia Power adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Logo PT. Indonesia Power
Makna bentuk dan warna logo PT. Indonesia Power merupakan cerminan
identitas dan lingkup usaha yang dimilikinya.
Makna dalam Segi Bentuk
Adapun makna bentuk logo diatas adalah :
1. Nama yang kuat, kata INDONESIA dan POWER ditampilkan dengan
menggunakan jenis atau font huruf yang tegas dan kuat ( futura book regular
dan futura bold).
2. Aplikasi bentuk kilata petir pada huruf “O” melambangkan “Tenaga
Listrik” yang merupakan lingkup usaha utama.
3. Red dot (bulatan merah) di ujung ilatan petir merupakan simbol
perusahaan yang telah digunakan saat bernama PT PLN PJB I. Titik ini
merupakan simbol yang digunakan di sebagian besar materi komunikasi
8
perusahaan. Dengan simbol yang kecil ini, diharapkan identitas perusahaan
dapat langsung terwakili.
Makna dalam Segi Warna
Adapun makna warna bentuk logo diatas adalah :
1. MERAH
Diaplikasikan pada kata INDONESIA, menunjukkan identitas yang
kuat dan kokoh sebagai pemilik sumber daya untuk memproduksi tenaga
listrik, guna dimanfaatkan di Indonesia dan juga di luar negeri.
2. BIRU
Diaplikasikan pada kata POWER, pada dasarnya warna biru
menggambarkan sifat pintar dan bijaksana, dengan aplikasi pada kata
POWER, makna warna ini menunjukkan produk tenaga listrik yang
dihasilkan perusahaan memiliki ciri-ciri berteknologi tinggi, efisien, aman
dan ramah lingkungan.
2.4 Nilai Perusahaan
Gambar 2.2 IP AKSI
1. Integritas
Insan IP senantiasa bertindak sesuai etika perusahaan serta
memberikan yang terbaik pada perusahaan.
9
2. Profesional
Insan IP senantiasa menguasai pengetahuan, ketrampilan, dan kode
etik bidang pekerjaan serta melakukannya secara akurat dan konsisten.
3. Pro aktif
Insan IP senantiasa peduli dan cepat tanggap melakukan peningkatan
kinerja untuk mendapatkan kepercayaan stackholder.
4. Sinergi
Insan IP senantiasa membangun hubungan kerja sama yang produktif
atas dasar saling percaya untuk menghasilkan karya unggul.
2.5 Bisnis Utama PT. Indonesia Power
Berawal pada pengelolaan pembangkit listrik di Jawa – Bali, saat ini
Indonesia Power telah melakukan Pengembangan Bisnis Jasa Operasi
Pemeliharaan di seluruh Indonesia baik melalui pengelolaan sendiri,
melalui Anak Perusahaan, maupun melalui usaha patungan. PT. Indonesia
Power mengelola 5 Unit Pembangkitan (UP), serta 3 Unit Pembangkitan
dan Jasa Pembangkitan (UPJP)
2.5.1 Unit Pembangkitan (UP)
Fungsi pembangkitan tenaga listrik melalui 5 (lima) UP dengan total
kapasitas terpasang sebesar 6377,33 MW. Ke – lima UP adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.1 Unit Pembangkitan
Unit Pembangkitan (UP)
No Nama Unit Kapasitas Jasa Pembangkit
Terpasang
1 Unit Pembangkitan Suralaya 3400 MW PLTU
2 Unit Pembangkitan Saguling 797 MW PLTA
3 Unit Pembangkitan Mrica 310 MW PLTA
4 Unit Pembangkitan Semarang 1313,33 MW PLTU,PLTG,PLTGU,PLTD
5 Unit Pembangkitan Bali 557 MW PLTD, PLTG
10
2.5.2 Unit Jasa Pembangkitan (UJP) dan Unit Pembangkitan dan Jasa
Pembangkitan (UPJP)
Indonesia Power mengoperasikan dan memelihara pembangkit
Program Percepatan Diversifikasi Energi (PPDE) 10.000 MW dengan
total kapasitas terpasang sebesar 8333 MW melalui 12 Unit Jasa
Pembangkitan (UJP) dan 3 Unit Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan
(UPJP). Berikut adalah UJP dan UPJP :
Tabel 2.2 Unit Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan
Unit Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan (UPJP)
No Nama Unit Kapasitas Jasa Pembangkit Lokasi
Terpasang
1 UPJP Perak dan 864 MW PLTGU Pasuruan
Grati
2 UPJP Priok 1248 MW PLTU,PLTGU, Jakarta
PLTD, PLTG
3 UPJP Kamojang 375 MW PLTP Garut
Tabel 2.3 Unit Jasa Pembangkitan
Unit Jasa Pembangkitan (UJP)
No Nama Unit Kapasitas Jasa Lokasi
Terpasang Pembangkit
1 Unit Jasa Pembangkitan Banten 1 625 MW PLTU Cilegon, Banten
Suralaya
2 UJP Banten 2 Labuan 2 x 300 MW PLTU Pandeglang
3 UJP PLTU Banten 3 Lontar 3 x 315 MW PLTU Tangerang
4 UJP Jabar 2 Pelabuhan Ratu 3 x 350 MW PLTU Sukabumi
5 UJP PLTU Jawa Tengah Adipala 660 MW PLTU Jawa Tengah
6 UJP PLTU Pangkalan Susu 2 x 200 MW PLTU Langkat
7 UJP PLTGU Cilegon 740 NW PLTGU Serang
8 UJP PLTU Barru 2 x 50 MW PLTU Sulawesi Selatan
9 UJP PLTU Jeranjang 3 x 25 MW PLTU Lombok Barat,
NTB
10 UJP PLTU Sanggau 2 x 7 MW PLTU Sanggau,
Kalimantan Barat
11 UJP PLTU Houltecamp 2 x 10 MW PLTU Jayapura, Papua
12 UJP Sintang 3 x 21 MW PLTU Sintang,
Kalimantan Barat
11
2.6 PT. Indonesia Power UP Semarang
Gambar 2.3 Unit Pembangkit Indonesia Power
Unit Pembangkitan Semarang dibangun pada bulan September 1973
dan selesai pada tahun 1978 oleh PLN Proyek Induk Pembangkitan
Thermis (PIKITTERM) yang menghasilkan PLTU Unit I dan II siap untuk
dioperasikan. Sesuai dengan keputusan Kepala Wilayah XIII
No.003/PW/XII/81, pada tanggal 1 Juli 1981 diresmikan PLTU Sektor
Semarang Unit I dan II berkapasitas 100 MW.
Dengan terbitnya Surat Keputusan Direksi No.016/DIR/83 tanggal
12 Februari 1983 Sektor Semarang dalam organisasi PLN Pembangkitan
dan Penyaluran Jawa-Bali, PLN Sektor Semarang mengelola 3 Unit PLTU
dan 4 Unit PLTG. Pada bulan Nopember 1993 Unit Bisnis Pembangkitan
Semarang ditambah dengan 2 Blok Unit PLTGU (combined cycle) terdiri
dari 6 x 100 MW PLTG dan 2 x 200 MW PLTU. Karena penambahan
besar daya terpasang tersebut keberadaan PLTG Pandan Lamper unit 1
sampai 4 dihentikan operasinya sejak awal tahun 1994. Sejak tanggal 1
Nopember 1994, berubah namanya menjadi PT. PLN PJB I yang
berkedudukan di Jalan Roggowarsito Semarang.
Unit pembangkitan Semarang mengelola unit – unit Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU), Gas (PLTG) dan Gas Uap (PLTGU) dengan
total kapasitas terpasang sebesar 1.313,3 MW yang tersebar di 3 lokasi
yaitu PLTU dan PLTGU Tambak Lorok (Semarang), PLTG Lomanis
12
(Cilacap), PLTG Sunyaragi (Cirebon) dan PLTD Karimunjawa. Unit
Pembangkitan Semarang memegang peranan yang penting dalam menjaga
keandalan dan mutu sistem kelistrikan Jawa-Bali terutama Jawa Tengah
2.7 Kapasitas Daya PT Indonesia Power UP Semarang
Unit Bisnis Pembangkitan Semarang sampai saat ini mempunyai
pembangkit dengan kapasitas terpasang total 1313,33 MW. Daya yang
terpasang di Unit Pembangkitan Semarang adalah sebagai berikut :
Tabel 2.4 Daya Yang Terpasang Pada Unit Pembangkitan Semarang
Mesin Pembangkit Daya Terpasang Merek Mesin Tahun Operasi
PLTU
Tambak Lorok 3 200,00 MW Mitsubishi 1983
PLTGU
Tambak Lorok GTG 1.1 109,65 MW GE 1993
Tambak Lorok GTG 1.2 109,65 MW GE 1993
Tambak Lorok GTG 1.3 109,65 MW GE 1993
Tambak Lorok STG 1.0 188,00 MW GE 1997
Tambak Lorok GTG 2.1 109,65 MW GE 1996
Tambak Lorok GTG 2.2 109,65 MW GE 1996
Tambak Lorok GTG 2.3 109,65 MW GE 1996
Tambak Lorok STG 2.0 188,00 MW GE 1997
PLTG
Sunyaragi 2 20,03 MW Alshtom 1976
Cilacap 1 29,00 MW Westinghause 1996
Cilacap 2 26,00 MW Westinghause 1996
PLTD
Legon Bajak Karimunjawa 4,4 MW Mesin Diesel 2016
Total Daya Terpasang 1.313,33 MW
2.8 Lokasi PT. Indonesia Power UP Semarang
PT. Indonesia Power UP Semarang terletak di sebelah utara kota
semarang dengan area seluas 400.000 m². Pemilihan lokasi ini dikarenakan
kebutuhan air dalam jumlah besar .
13
Gambar 2.4 Lokasi PT. Indonesia Power UP Semarang dalam Google
Map
PT. Indonesia Power UP Semarang Beralamat di Jl. Ronggowarsito,
Tanjung Mas, Semarang Utara, Jawa Tengah 50174
Semua Unit Bisnis Pembangkitan di PT. Indonesia Power sudah
dilengkapi dengan dokumen AMDAL dan diimplemasikan melalui
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Laporan RKL dan PRL tersebut
setiap bulan dilaporkan ke BAPEDAL Pusat.
PT. Indonesia Power UP Semarang telah menerapkan ISO 14001
(Sertifikat Sistem Manajemen Lingkungan) diseluruh unit pembangkitnya.
PT. Indonesia Power memberikan prioritas yang sama terhadap
perlindungan lingkungan, pembangunan masyarakat, keamanan maksimum,
produk berkualitas tinggi, dan komersial yang optimal. Kegiatan tersebut
merupakan aktivitas perusahaan yang mencerminkan perhatian terhadap
masa depan.
PT. Indonesia Power juga segera terus-menerus berusaha
memanfaatkan energi terbaru yang ramah lingkungan. Salah satu
contohnya pada PT. Indonesia Power UP Semarang sudah meninggalkan
14
pemakaian bahan bakar minyak dalam prosesnya dengan mengganti
menggunakan bahan bakar gas yang lebih ramah lingkungan.
2.9 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power UP Semarang
Gambar 2.5 Struktur Organisasi Unit Pembangkitan Semarang
15
Gambar 2.6 Bagan Susunan Jabatan Bagian Pemeliharaan Unit
Pembangkitan Semarang
16
BAB III
DASAR TEORI
3.1 Proses Pembangkitan Listrik PLTGU
GAS
Gambar 3.1 Siklus Pembangkitan Listrik Pada PLTGU
PT. Indonesia Power UP Semarang
Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) adalah gabungan
antara PLTG dengan PLTU, dimana panas dari gas buang dari PLTG
digunakan untuk menghasilkan uap yang digunakan sebagai fluida kerja di
PLTU. Dan bagian yang digunakan untuk menghasilkan uap tersebut adalah
HRSG (Heat Recovery Steam Generator). PLTGU merupakan suatu instalasi
peralatan yang berfungsi untuk mengubah energi panas (hasil pembakaran
bahan bakar dan udara) menjadi energi listrik yang bermanfaat.
PLTU memanfaatkan energi panas dan uap dari gas buang hasil
pembakaran di PLTG untuk memanaskan air di HRSG (Heat Recovery Steam
Generator), sehingga menjadi uap jenuh kering. Uap jenuh kering inilah yang
akan digunakan untuk memutar turbin. Gas yang dihasilkan dalam ruang
bakar pada Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) akan menggerakkan turbin dan
kemudian generator, yang akan mengubahnya menjadi energi listrik. Sama
17
halnya dengan PLTU, bahan bakar PLTG bisa berwujud cair (BBM) maupun
gas (gas alam). Penggunaan bahan bakar menentukan tingkat efisiensi
pembakaran dan prosesnya.
Kapasitas PLTGU pada Tambak Lorok Blok I dan Blok II masing-
masing berkapasitas 516,95 MW yang identik dan tiap-tiap blok terdiri dari :
1) Tiga Unit Gas Turbin Generator dengan kapasitas 3 x 109,65 MW
2) Tiga Unit Heat Recovery Steam Generator (HRSG)
3) Satu Unit Steam Turbin Gas (STG) kapasitas 1x 188 MW
Turbin gas tersebut buatan General Electric (GE) dengan kode MS-9001
E GE. Untuk temperatur udara luar 270 C, 38 % humidity dan bahan bakar
gas akan mampu membangkitkan 109,65 MW. Turbin gas ini memutar
generator dengan putaran 3000 rpm, berpendingin hidrogen, dan tegangan
keluar 11,5 KV.
Beban tiap-tiap unit generator bisa dilihat pada aplikasi SIT (sistem
informasi terpadu) PT. Indonesia Power UP Semarang. Masing-masing
exhaust turbin gas dipasang sebuah hidrolik damper untuk mengalirkan gas
buang atau sisa ke HRSG atau mem-by pass ke stack.
Setiap turbin gas mempunyai HRSG dan setiap HRSG mempunyai
sistem uap tekanan rendah sekitar 6 Bar abs, dan sistem uap tekanan tinggi
sekitar 70-87 Bar abs. Ketiga HRSG (1 Blok) ini mendapatkan suplai air
pengisi dari Condensate pump. Uap dari tiap-tiap HRSG dialirkan ke header
tekanan rendah untuk sistem uap tekanan rendah dan header tekanan tinggi
untuk sistem uap tekanan tinggi. Dari sini uap dialirkan ke turbin uap.
Satu block combined cycle dapat dioperasikan sebagai berikut :
a) 1 Gas Turbin, 1 HRSG dan 1 STG yang beroperasi.
b) 2 Gas Turbin, 2 HRSG dan 1 STG yang beroperasi.
c) 3 Gas Turbin, 3 HRSG dan 1 STG yang beroperasi.
18
Secara umum sistem produksi tenaga listrik dari PLTGU dibagi menjadi
dua siklus, yaitu :
A. Open Cycle
Open cycle merupakan proses produksi listrik pada PLTGU dimana
gas buangan dari turbin gas langsung dibuang ke udara melalui cerobong
exhaust. Suhu gas buangan di cerobong exhaust ini mencapai 565 C.
Proses seperti ini pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) dapat
disebut sebagai proses Pembangkitan / Produksi Listrik Turbin Gas (PLTG)
yaitu suatu proses pembangkitan listrik yang dihasilkan oleh putaran turbin
gas.
Mula-mula sebagai pemutar awal saat turbin belum menghasilkan
tenaga, motor cranking mulai berputar dengan menggunakan energi listrik
yang diambil dari jaringan listrik 150 KV atau 500 KV Jawa – Bali. Motor
cranking ini berfungsi memutar compressor sebagai penghisap udara luar,
dengan terlebih dahulu melalui air filter. Udara luar ini akan diubah
menjadi udara atomizing untuk sebagian kecil pembakaran dan sebagian
besar sebagai pendingin turbin.
Disisi lain bahan bakar gas dialirkan dan dipompa lagi dengan pompa
bahan bakar dimasukkan ke dalam ruang bakar atau combustion chamber.
Pada saat bahan bakar yang berasal dari pompa bahan bakar dan udara
atomizing yang berasal dari compressor bercampur dalam combustion
chamber, maka bersamaan dengan itu busi (spark plug) mulai memercikkan
api sehingga menyulut pembakaran.
Gas panas yang dihasilkan dari proses pembakaran inilah yang akan
digunakan sebagai penggerak atau pemutar turbin gas. Sehingga listrik
dapat dihasilkan setelah terlebih dahulu diolah pada GTG. Daya yang
dihasilkan mencapai 90 MW untuk tiap gas turbine generator.
Pada PLTGU memiliki dua buah blok dengan masing-masing blok
terdiri dari 3 buah gas turbine generator. Karena tegangan yang dihasilkan
dari generator masih rendah maka pada tahap selanjutnya tegangan ini akan
disalurkan ke trafo utama untuk dinaikkan menjadi 150 KV. Jadi
19
pada proses open cycle maka gas buangan dari turbin gas akan langsung
dibuang malalui cerobong exhaust.
B. Combined Cycle
Kalau pada open cycle gas buang dari turbin gas langsung dibuang
melalui cerobong exhaust, maka pada proses combined cycle / closed cycle,
gas buang dari tubin gas akan dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memasak
air yang berada di HRSG (Heat Recovery Steam Generator). Kemudian uap
yang dihasilkan dari HRSG (Heat Recovery Steam Generator) tersebut
akan digunakan untuk memutar turbin uap agar dapat menghasilkan listrik
setelah diolah terlebih dahulu pada generator.
Prosesnya bermula dari Gas bekas yang ke luar dari turbin gas
dimanfaatkan lagi setelah terlebih dulu diatur oleh selector valve untuk
dimasukkan ke dalam HRSG (Heat Recovery Steam Generator) yang
memiliki LP & HP drum. Uap yang dihasilkan dipakai untuk memutar
turbin uap agar menghasilkan tenaga listrik pada generator. Uap bekas dari
turbin tadi diembunkan lagi di condensor kemudian air condensate di
pompa oleh condensate pump.
Selanjutnya dimasukkan lagi ke dalam deaerator dan oleh feed
waterpump dipompa lagi ke dalam drum untuk kembali diuapkan. Inilah
yang disebut dengan combined cycle atau closed cycle. Jadi secara singkat
dapat dikatakan bahwa combined cycle/closed cycle merupakan rangkaian
open cycle ditambah dengan proses pemanfaatan kembali gas buang dari
proses open cycle untuk menghasilkan uap sebagai penggerak turbin uap.
Kedua siklus diatas disesuaikan dengan kebutuhan listrik masyarakat.
Misalnya hanya diinginkan open cycle karena pasokan daya dari open cycle
sudah memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Sehingga stack holder yang
membatasi antara cerobong gas dan HRSG dibuat close, dengan demikian
gas buang dialirkan ke udara melalui cerobong exhaust. Sebaliknya Jika
kebutuhan listrik masih kurang maka akan digunakan combined cycle.
20
3.2 Gas Turbine Generator dan Bagiannya (GTG)
Generator jenis ini berfungsi sebagai alat pembangkit listrik dengan
menggunakan tenaga putaran yang dihasilkan dari turbin gas. Pada
PLTGU, satu buah generator ini menghasilkan daya 100 MW. PT.
Indonesia Power Unit Pembangkitan Semarang memiliki enam buah Gas
Turbine generator dengan kapasitas masing-masing adalah 100 MW.
Berikut adalah komponen-komponen dalam Gas Turbin Generator :
3.2.1 Cranking Motor
CrangkingMotor adalah motor yang digunakkan sebagai penggerak
awal saat turbin belum menghasilkan tenaga penggerak generator ataupun
compressor. Motor Crangking mendapatkan suplai listrik yang berasal
dari jaringan tegangan tinggi 150 KV / 500 KV Jawa - Bali. Setelah
sistem pembangkit sudah berjalan dan mencapai kecepatan putar yang
diinginkan untuk mencapai fase berbeban maka Motor Cranking
dimatikan.
3.2.2 Kompresor
Secara umum kompresor berfungsi mengalirkan dan menaikkan
tekanan udara. Dengan kata lain, compressor digunakan sebagai
penghisap udara luar yang terlebih dahulu melewati air filter dan
tekanannya dinaikkan sampai 8kali tekanan semula. Udara luar akan
diubah menjadi udara atomizing utnuk sebagian kecil digunakan untuk
pembakaran dan sebagian besar digunakan sebagai pendingin turbin gas.
Selanjutnya udara bertekanan akan mengalir ke ruang bakar dan
bercampur dengan bahan bakar untuk proses pembakaran.
3.2.3 Air Filter Inlet
Air Filter Inlet merupakan filter yang berfungsi untuk menyaring
udara bebas agar udara yang mengalir menuju compressor merupakan
21
udara yang bersih dari debu dan partikel-partikel lain yang dapat merusak
sudu compressor.
3.2.4 Combustion Chamber
Combustion Chamber adalah suatu ruang yang dipakai sebagai
tempat pembakaran bahan bakar (CNG) atau bisa juga (HSD) dan udara
atomizing yang berasal dari compressor. Biasanya combustion chamber
berbentuk basket atau bulatan-bulatan yang agak kecil. Gas panas yang
dihasilkan dari proses pembakaran di combustion chamber akan
digunakan sebagai penggerak turbin gas.
3.2.5 Turbin Gas
Gas Turbine adalah turbin yang berputar dengan menggunakan
energi gas panas yang dihasilkan dari combustion chamber. Hasil putaran
dari turbin akan memutar rotor yang telah dikopel dengan generator. Dan
gerakan inilah yang akan diubah generator untuk menghasilkan listrik.
3.2.6 Selektor Valve (Diverter Damper)
Diverter damper merupakan valve atau katup berukuran besar yang
mengatur gas buangan dari turbin gas apakah akan dibuang langsung ke
udara melalui cerobong / stack (open cycle) atau dialirkan ke HRSG
sebagai media pemanas (combined cycle)
3.2.7 Stack Open Cycle ( Cerobong asap)
Cerobong asap untuk membuang gas sisa yang dihasilkan
combustion chamber.
3.3 Tinjauan Mengenai Rotor Generator Saat Overhaul
3.3.1 Dasar Teori
Generator arus bolak-balik yang kadang-kadang disebut dengan
generator sinkron atau alternator adalah sebuah peralatan listrik yang
berfungsi untuk mengubah energi gerak (mekanis) menjadi energi listrik
AC dimana kecepatan putaran medan dan kecepatan putaran rotornya
sama atau tidak ada slip. Kumparan medan pada generator sinkron
22
terletak pada rotornya sedangkan kumparan jangkarnya terletak pada
stator. Generator besar yang digunakan untuk mencatu jala-jala daya
listrik nasional modern digerakkan oleh turbin uap atau kincir angin.
Generator yang digunakan untuk mencatu sistem daya terpisah, atau
sistem yang lebih kecil atau untuk memperlengkapi daya beban puncak
tambahan terhadap jala-jala listrik yang lebih besar kerap kali digerakkan
oleh mesin diesel atau turbin bakar.
Prinsip kerja generator sinkron adalah menggunakan prinsip
induksi elektromagnetik dimana disini rotor berlaku sebagai kumparan
medan (yang menghasilkan medan magnet) dan akan menginduksi stator
sebagai kumparan jangkar yang akan menghasilkan energi listrik. Pada
belitan rotor diberi arus eksitasi DC yang akan menciptakan medan
magnet. Rotor ini dikopel dengan turbin putar dan ikut berputar sehingga
akan menghasilkan medan magnet putar. Medan magnet putar ini akan
memotong kumparan jangkar yang berada di stator.
Oleh karena adanya perubahan fluks magnetik pada tiap waktunya
maka pada kumparan jangkar akan mengalir gaya gerak listrik yang
diinduksikan oleh rotor. Kecepatan sudut putar rotor dengan rumus
berikut :
120 f
n
Dimana : n = kecepatan putar rotor (rpm)
f = frekuensi (Hz)
p = jumlah kutub
3.3.2 Konstruksi Generator Sinkron
Dalam generator sinkron, lilitan jangkar dipasang pada bagian
mesin yang berputar agar memungkinkan pengubahan tegangan bolak-
balik yang dibangkitkan dalam lilitan menjadi tegangan searah pada
terminal melalui penggunaan komutator yang berputar. Kutub medan
diletakkan pada bagian mesin yang diam. Dalam semua generator bolak-
23
balik bertegangan rendah yang kecil, medan diletakkan pada bagian yang
berputar atau rotor, dan lilitan jangkar pada bagian yang diam atau stator
dari mesin. Konstruksi medan yang berputar dan jangkar-diam
menyederhanakan masalah isolasi generator ac. Karena tegangan yang
biasa dibangkitkan adalah setinggi 18.000 sampai 24.000 volt, maka
tegangan tinggi ini tidak perlu dikeluarkan melalui cincin slip (slip ring)
dan kontak geser tetapi dapat dikeluarkan langsung ke alat penghubung
dan pembagi (switchgear) melalui kawat berisolasi dari jangkar diam.
Konstruksi ini juga mempunyai keuntungan mekanis yaitu getaran
lilitan jangkar berkurang dan gaya sentrifugal menjadi lebih baik. Medan
yang berputar dicatu/dieksitasi dengan arus searah dengan tegangan 125,
250 atau 375 V melalui cincin slip dan sikat-sikat, atau melalui hubungan
kabel langsung antara medan dan penyearah yang berputar jika
digunakan sistem eksitasi tanpa sikat-sikat (brushless). Lilitan jangkar
atau stator bisa salah satu dari sekian banyak tipe. Tipe yang paling
banyak digunakan adalah lilitan rangkaian terbuka yang dibentuk dari
kumparan yang terisolasi terpisah mirip dengan lilitan sengkelit generator
dc. Sebenarnya, lilitan yang demikian tersusun dari tiga lilitan terpisah
(pada generator tiga fase), yang masing-masing terpisah satu sama yang
lain sebesar 120 derajat.
Ketiga lilitan bisa hubungan Y atau delta. Hubungan Y adalah yang
paling umum karena dengan sendirinya langsung memberikan tegangan
tinggi, dan kawat netral dapat dikeluarkan bersama tiga saluran
membentuk sistem empat kawat tiga fase. Stator generator ac bersama
lilitannya ditunjukkan dalam gambar
24
Gambar 3.2 Lilitan Komersial Generator
(a) Tampak yang dibentangkan dari lilitan stator tiga
fase sederhana hubungan Y.
(b) Cara menghubungkan terminal untuk hubungan
delta.
Gambar yang telah dibentangkan dari lilitan tiga fasa sederhana
ditunjukkan dalam gambar. Lilitan yang ditunjukkan dalam gambar a
adalah hubungan Y. Cara menghubungkan terminal untuk hubungan
delta ditunjukkan dalam gambar b. Lilitan yang digambarkan disebut
lilitan yang terpusatkan (concrentrated winding) karena semua konduktor
tiap-tiap fase dimasukkan dalam satu alur dibawah tiap-tiap kutub.
Lilitan komersial seperti yang ditunjukkan dalam gambar 3.2 adalah
lilitan yang terdistribusi, dengan konduktor tiap-tiap grup fase
menempati dua atau lebih alur dibawah tiap-tiap kutub. Lilitan yang
terdistribusi memberikan distribusi panas yang lebih merata dan hasilnya
adalah pembangkitan gelombang ggl yang lebih baik.
Ada dua jenis yang berbeda dari struktur medan generator sinkron,
yaitu tipe kutub-sepatu (salient) dan silinder.
Rotor tipe kutub-sepatu (salient pole)
Generator kepesatan rendah seperti yang digerakkan oleh mesin
diesel atau turbin air mempunyai rotor dengan kutub medan yang
menonjol atau kutub medan sepatu seperti rotor yang ditunjukkan
25
dalam gambar 3.3 Keping kutub yang dilaminasi dengan kumparan
medannya dipasang pada bingkai dari besi, yang terpasok pada
poros.
Gambar 3.3 Rotor tipe kutub-sepatu (salient pole)
Rotor tipe silinder
Generator kepesatan tinggi atau tipe turbo mempunyai rotor
silinder seperti yang ditunjukkan dalam gambar 4.5. rotor yang
ditunjukkan akan dibelitkan untuk dua kutub dan dirancang untuk
bekerja pada 3000 putaran per menit (rpm). Konstruksi silinder
penting dalam mesin kepesatan tinggi karena tipe kutub sepatu sukar
dibuat untuk menahan tekanan pada kepesatan tinggi. Lebih lanjut,
rotor kutub sepatu mempunyai rugi angin yang tinggi pada
kepesatan yang tinggi. Generator sinkron dengan konstruksi rotor
silinder digerakkan oleh turbin uap atau gas. Generator yang
ditunjukkan oleh gambar 3.4 mempunyai rotor silinder dua kutub.
Gambar 3.4 Rotor tipe silinder
26
3.4 Overhaul Pada Generator Sinkron
3.4.1 Definisi Overhaul
Overhaul adalah perbaikan mesin/alat secara total yang dilakukan oleh
perusahaan supaya kinerja mesin atau alat bekerja dengan baik sesuai
kondisi idealnya. Untuk memulihkan kinerja mesin atau alat tersebut tidak
harus membeli baru. Namun, dapat dilakukan perbaikan atau pengujian
keandalan mesin atau alat tersebut.
3.4.2 Siklus Overhaul
Siklus Overhaul terbagi atas 4 Siklus Pemeliharaan Besar (OH),
dimana tiap Siklus biasanya terdiri atas ; 2 tahun ( Untuk PLTGU), 4 tahun
( Untuk PLTU) dan 6 tahun (untuk PLTA).
Siklus tersebut didasarkan pada siklus equipment sebagaimana
digambarkan sebagai berikut
Tabel 3.1 Tabel siklus Overhaul pada beberapa jenis pembangkit
Tabel 3.2 Jam Periode Overhaul
SI Simple Inspection 8.000 OH
ME Medium Inspection 16.000 OH
SE Serius Inspection 32.000 OH
AI Annual Inspection 8.000 OH
GI General Inspection 20.000 OH
27
MO Major OH 40.000 OH
CI Combustion Inspection 8.000 OH
TI Turbine Inspection 16.000 OH
MI Major Inspection 32.000 OH
TA Type A Inspection 6.000 OH
TB Type B Inspection 12.000 OH
TC Type C Inspection 24.000 OH
TO Top OH 3.000 OH
SO Semi OH 6.000 OH
MO Major OH 12.000 OH
Memasuki Siklus ke-V ( lima ), harus direncanakan capital project
guna meningkatkan Kinerja Unit Pembangkit yang meliputi :
1. Assessment ( RLA ) untuk Boiler, Turbine, Generator & Alat-Alat
Bantu.
2. Replace Equipment / system untuk Boiler, Turbine, Generator &
Alat-Alat Bantu.
3. Retrofit / Rehabilitasi untuk Boiler, Turbine, Generator & Alat-Alat
Bantu.
Gambar 3.5 Frame Work Outage Management
28
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Overhaul Pada Rotor Generator Sinkron
Gambar 4.1 Rotor Generator Sinkron Saat Overhaul GTG 1.1
Salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan
Overhaul adalah pada bagian generator. Pada pelaksanaan Overhaul di GTG
1.1 PLTGU BLOK 1 PT. Indonesia Power Semarang selama 64 hari
melaksanakan berbagai pengujian pada setiap bagian. Hal ini dikarenakan
terdapat beberapa kendala selama menjalani pengoperasian sebelumnya,
diantaranya :
1. Kegagalan rotor generator dalam menjalankan On Cool Down.
Pada saat akan menjalankan sistem On Cool Down pada rotor generator,
maka rotor akan gagal menjalankannya. Sehingga rotor tidak mampu untuk
mempertahankan kecepatan rendah pada proses berjalannya On Cool
Down.
2. Timbulnya panas pada generator.
Dengan timbulnya panas yang terlalu tinggi dengan waktu yang lama.
Maka seiring berjalannya waktu akan menimbulkan vibrasi akibat dari
kerusakan pada mekanik dan mempengaruhi besar daya yang dihasilkan
29
3. Kenaikan Vibrasi akibat dinaikkannya daya reaktif (MVAR)
Pada kondisi normal, kenaikan Daya aktif (MW) maupun daya reaktif
(MVAR) tidak dapat mempengaruhi vibrasi secara signifikan. Namun,
kendala yang terjadi pada generator saat ini adalah kenaikan vibrasi yang
dipengaruhi oleh kenaikan daya reaktif (MVAR).
Gambar 4.2 Perbandingan kondisi vibrasi terhadap daya aktif (MW) dan
daya reaktif (MVAR)
Untuk menindaklanjuti kondisi tersebut, maka perlu dilakukan
overhaul. Hal ini dilakukan agar dapat memastikan kondisi sebenarnya
pada generator. Salah satu cara untuk memastikan keandalan pada
generator tersebut adalah dengan dilakukannya pengujian pada generator
GTG 1.1 PLTGU BLOK 1 PT. Indonesia Power Semarang. Maka terlebih
dahulu dilakukan pengujian pada rotor generator. Pengujian dilakukan saat
rotor masih berada didalam stator dan diluar stator. Namun, saat dilakukan
pengujian elektrik pada stator menandakan bahwa kondisi rotor yang
bermasalah. Maka dilakukan pullout pada rotor dan diuji lebih lanjut.
Berikut jenis pengujian elektrik rotor :
1) Winding Resistance Test
2) Insulation Resistance Test
3) voltage balance Test
4) Sweep Frequency Response Analysis Test (SFRA Test)
5) Surge Test
30
6) Repetitive Surge Oscillograph Test (RSO Test)
4.2 Jenis - Jenis Pengujian Elektrik Pada Rotor Generator Sinkron
4.2.1 Pengujian Winding Resistance
Pengujian Winding Resistance atau pengujian tahanan dalam adalah
pengujian untuk mengetahui kesetidaktimbangan tahanan antar fasa/kutub,
kesesuaian antara nilai tahanan dalam lilitan yang diukur, pengukuran
sebelumnya dan dengan nilai pada nameplate. Jika terjadi masalah, rotor
seharusnya diperiksa untuk mencari penyebab ketidaksesuaian tersebut.
Masalah yang timbul biasanya adalah tahanan antar pole, apakah
mengalami kerusakan pada brazing connection atau tidak dan lepas atau
rusaknya koneksi lilitan. Pada pengukuran tahanan dalam rotor (Rd) dapat
dilakukan pada saat Retaining Ring (R-R) masih berada pada rotor.
Apabila ingin melepas retaining ring ini membutuhkan waktu yang lama
karena proses pelepasannya harus dengan pemanasan yang sangat tinggi (
sekitar 200° C ) secara merata sehingga retaining ring dapat memuai
sehingga retaining ring dapat didorong keluar. Pemanasan ini dengan
media arus yang besar yang dialirkan melalui elemen heater.
Pengujian ini dapat mengidentifikasi terjadinya gejala pada gangguan
sebagai berikut :
Bad connection pada connection series pole
Indikasi crack pada tembaga / coil
Pengujian ini dapat dilakukan saat sebelum atau sesudah Retaining Ring
dilepas
Peralatan yang digunakan untuk mengukur tahanan dalam adalah
Transform Winding Resistance Meter, pada pengukuran ini digunakan alat
produk dari Vanguard Instruments Company type TRM-40.
31
Gambar 4.3 Transform Winding Resistance Meter (TRM-40)
TRM-40 adalah generasi ketiga transformator Vanguard Instruments.
TRM-40 dirancang khusus untuk mengukur nilai resistansi DC belitan,
belitan putaran mesin, atau hambatan dc apa pun dari perangkat induktif.
Gambar 4.4 Rangkaian pengujian winding resistance pada rotor menggunakan TRM 40
TRM-40 memiliki saluran input pembacaan resistansi ganda yang
dapat mengukur dua hambatan berliku secara bersamaan (gulungan pole A
dan pole B dari sebuah rotor). Alat ini dapat menampilkan pembacaan yang
sangat cepat dengan memanfaatkan catu daya 60Vdc. TRM-40 mampu
menghasilkan arus uji yang dapat dipilih dari 1A ke 40A. Karena TRM-40
dapat secara akurat mengukur nilai resistansi dari 1 mikro-ohm hingga 500
Ohm, alat ini dapat digunakan sebagai mikro-ohm meter untuk mengukur
32
resistansi kontak pemutus sirkuit EHV, atau untuk aplikasi pengukuran
resistansi rendah. TRM-40 dapat secara otomatis mendemagnetisasi
perangkat induktif yang sedang diuji.
4.2.2 Pengujian Insulation Resistance
Insulation Resistance Test atau Megger Test merupakan pengujian
yang paling mudah dan sederhana untuk menentukan kemampuan isolasi.
Megger test ini dilakukan pada rotor dan stator generator, selain itu juga
dapat diterapkan pada semua mesin atau lilitan. Peralatan yang digunakan
untuk pengujian ini disebut Mega Ohm Meter atau biasa disebut Megger
Tester atau Megger saja. Peralatan ini membangkitkan tegangan internal
tetap dan mempunyai resistansi internal yang tinggi. Pengukuran
sesungguhnya adalah mensensing tegangan terminal, jadi arus yang
mengalir menurunkan pembacaan skala yang dikalibrasi dalam Mega ohm.
Indeks yang biasa digunakan dalam menunjukkan pembacaan megger
dikenal sebagai dielectric absorbtion, yang diperoleh dengan pembacaan
yang berkelanjutan untuk periode waktu yang lebih lama. Jika pengujian
berkelanjutan untuk periode selama 10 menit, megger akan mempunyai
kemampuan untuk mempolarisasikan atau mencharge kapasitansi tinggi ke
isolasi stator, dan pembacaan resistansi akan meningkat jika isolasi bersih
dan kering. Rasio pembacaan 10 menit dibandingkan pembacaan 1 menit
dikenal sebagai Polarization Index atau Indeks Polarisasi (IP).
Berdasarkan standar IEEE no 43-2000 besarnya tegangan yang
diterapkan untuk pengujian berdasarkan tegangan kerja pada lilitan
generator dapat dilihat pada tabel berikut.
33
Tabel 4.1 Tegangan DC yang diterapkan untuk pengujian megger berdasarkan tegangan kerja
lilitan.
Vac (L-L) Vdc
(Tegangan Kerja Lilitan (Line to Line)) (Tegangan Yang Diterapkan)
<1000 500
1000 - 2500 500 - 1000
2501 - 5000 1000 - 1500
5001 - 12000 2500 - 5000
>12000 5000 - 10000
Alat yang digunakan dalam megger adalah Megger MIT 1025 dengan
tegangan yang diterapkan untuk megger rotor tegangan yang diterapkan
adalah 250 Volt DC karena melihat kemampuan rotor untuk menahan
tegangan.
Gambar 4.5 Megger MIT 1025
4.2.3 Pengujian Voltage Balance
Pengujian Voltage Balance adalah mengukur ketidakseimbangan
tegangan (unbalance voltage) dan mengidentifikasi deviasi antara kutub A
dan kutub B terhadap center pole pada rotor. Dengan menginjeksi tegangan
AC pada kedua ujung kumparan rotor untuk mengukur besarnya tegangan
kutub A terhadap center pole kemudian mengukur kumparan yang lain
34
(kutub B) sehingga akan didapatkan tegangan dari masing masing tegangan
kutub A terhadap center pole (VA) dan tegangan kutub B terhadap center
pole (VB).
Gambar 4.6 Variac Voltage Regulator dan Multitester
Pengujian voltage balance menggunakan Variac Voltage Regulator
220Vac sebagai injeksi tegangan AC pada masing - masing kumparan
kutub A dan B. Selanjutnya ukur tegangan pada kumparan kutub A dan B
untuk membandingkan tegangan keluaran pada kedua kutub tersebut.
4.2.4 Sweep Frequency Response Analysis Test (SFRA Test)
Sweep Frequency Response Analysis Test (SFRA) melibatkan
menyuntikkan sinyal di satu ujung lilitan dan mengukur respons di ujung
lainnya.
Gambar 4.7 Sinyal Gelombang Frekuensi Pengujian SFRA
35
Sweep Frequency Response Analysis Test (SFRA) dengan melakukan
injeksi sinyal disatu ujung lilitan dan mengukur respons di ujung
[Link] dengan besar variasi dalam redaman pada rentang
frekuensi yang diukur diperoleh sebagai hasil dari variasi dalam impedansi
M5400 SRFA Tester untuk menyelidiki kondisi mekanik
transformator, reaktor, dan peralatan lainnya yang terdiri dari belitan. Jika
dilakukan pengukuran respons frekuensi belitan maka dapat dilakukan pula
identifikasi gerakan belitan.
Gambar 4.8 M5400 SRFA Tester
M5400 mengirimkan sinyal ke belitan dan mengukur sinyal yang
kembali. Membandingkan respons ini dengan pembacaan garis dasar dan
hasil dari unit serupa memungkinkan untuk mengidentifikasi
penyimpangan dan mengkonfirmasi masalah mekanis internal.
M5400 memastikan tentang kondisi peralatan dengan memberikan
bukti kuat tentang kondisi mekanik atau gerakan belitan. Hal ini membantu
untuk membantu menentukan bagaimana kondisi kumparan, dapat kembali
digunakan untuk beroperasi atau jika telah rusak selama penggunaan.
4.2.5 Surge Test
Tes surja sangat penting karena ini adalah satu-satunya tes yang dapat
menemukan kelemahan isolasi. Kelemahan ini ditemukan pada tegangan di
36
atas tegangan operasi dari rancangan yang sedang diuji. Tes surja juga
digunakan untuk menemukan hubung singkat dan sejumlah kesalahan lain
dalam belitan dan kumparan.
Kegagalan lilitan dari Surge Test, termasuk hubung singkat dengan
ground diawali dengan kondisi isolasi yang lemah. Setelah lemahnya
isolasi menyebabkan lilitan satu dengan yang lain terhubung dan menjadi
hubung singkat. dibuat dan akhirnya gulungan berliku ke tanah.
Tes surja disebut uji perbandingan lonjakan karena hasil dari lonjakan
pengujian koil atau fase dibandingkan dengan hasil dari koil atau fase lain.
Kumparan dirancang untuk identik, hasil tes lonjakan harus dekat dengan
yang sama.
Gambar 4.9 Tampilan Pengujian Surja
Pengujian ini merupakan satu-satunya pengujian yang dapat
menemukan lemahnya tahanan isolasi. Agar dapat memperbaiki tahanan
isolasi tersebut. Maka diuji dengan tegangan yang lebih tinggi. Karena
apabila diuji dengan tegangan rendah tidak dapat menekan isolasi, dan
akibatnya lemahnya kekuatan dielektrik tidak ditemukan. Beberapa
kesalahan koneksi hanya dapat ditemukan dengan tes surja atau uji
induktansi ketika tahanan sudah sesuai.
Jika memiliki kesalahan atau isolasi yang lemah, gelombang akan
memiliki frekuensi yang berbeda dari yang lain dan terpisah. Kemudian
37
akan dihitung perbedaan gelombang (% WD), juga disebut% EAR atau
Error Area Ratio).
Pengujian Surja memeriksa kekuatan insulasi tanah yang terdiri dari
insulasi enamel. Alat ini mendeteksi kegagalan isolasi seperti hubung
singkat antar lapisan, hubung singkat antar kumparan, hubung singkat antar
belitan, dan hubung singkat fase-ke-fase.
Gambar 4.10 Surge Comparison Tester
Deteksi rangkaian terbuka dan ground dimanfaatkan untuk pengujian
surja. Surge tester menggunakan prinsip keseimbangan impedansi untuk
menguji kualitas gulungan listrik. Surge tester berfungsi sebagai sistem
pelepasan kapasitif. Kapasitor diisi dengan tegangan tinggi dan kemudian
dilepaskan ke belitan, melalui unit solid state. Urutan ini diulang sehingga
menekankan insulasi belitan dengan pulsa tegangan tinggi. Pola peluruhan
tegangan yang dihasilkan dari dua belitan kemudian ditampilkan pada CRT.
Pola gelombang akan ditumpangkan dengan sempurna untuk belitan yang
baik tetapi jika belitan yang rusak, pola gelombang ganda akan muncul di
layar sebagai satu pola gelombang dari belitan yang baik ditambah pola
yang tidak menentu dari belitan yang bermasalah.
38
4.2.6 Repetitive Surge Oscillograph Test (RSO Test)
Repetitive Surge Oscillograph merupakan pengujian yang digunakan untuk
mendeteksi adanya hubung singkat dengan memasukkan frekuensi tinggi,
tegangan rendah pada kedua ujung kumparan dan dievaluasi secara visual
kedua perbedaan didalam pengembalian sinyal. RSO Test dapat dilakukan
pada sisi dalam rotor dan sisi luar stator. RSO Test dapat digunakan saat rotor
bekerja disesuaikan dengan diatur tegangan rendah. Pengujian ini juga aman
untuk isolasi karena menggunakan tegangan rendah. RSO Test hanya bisa
diterapkan pada bidang silindris (Generator) karena memiliki melekat dengan
simetri yang tinggi pada belitannya.
Prinsip pengujian ini berdasarkan kondisi bidang generator yang memiliki
geometri simetris yang tinggi. Di bawah frekuensi yang relatif tinggi dari
sinyal yang diinjeksikan, belitan difungsikan sebagai impedansi yang
terdisitribusi dan dengan demikian asimetri apapun akibat hubung singkat
grounding dan kecacatan konduktor yang sangat besar akan menghasilkan
perubahan dalam bentuk gelombang sinyal
Metode uji RSO mengatasi masalah beberapa pantulan dalam belitan rotor.
Pengujian ini dapat mendeteksi dan menemukan kesalahan pembumian atau
belokan korsleting pada belitan rotor dan bergantung pada kondisi belitan rotor
yang simetris. Sebagai contoh, sebuah rotor 2-kutub berisi dua lilitan setengah-
identik secara nominal, satu untuk kutub Utara dan lainnya untuk kutub
Selatan, keduanya terhubung secara seri seperti ditunjukkan di atas.
Properti simetri ini digunakan untuk membandingkan respons 2 bagian
belitan rotor dengan pulsa tegangan yang diterapkan antara setiap slip-ring dan
badan rotor. Bentuk pulsa dan sinyal pantulan dipantau di setiap ujung belitan
rotor menggunakan osiloskop. Jika belitan rotor bebas dari kesalahan, dua
bentuk gelombang yang identik akan diamati pada setiap ring slip. Namun, jika
satu setengah lilitan mengandung kesalahan, kedua bentuk gelombang akan
berbeda.
39
Uji RSO dilakukan dengan menerapkan pulsa dari setiap ujung belitan
rotor secara bergantian dan tampilan osiloskop pada setiap ujung belitan
dicatat dan dibandingkan. Jika rotor bebas kesalahan, tampilan kedua
gelombang pada osiloskop akan sama.
Pengujian RSO (Repetitive Surge Oscilloscope) yang merupakan prinsip
yang diterapkan untuk "Sumatron - Generator Rotor Shorted Turn
Analyzer"
Gambar 4.11 Sumatron - Generator Rotor Shorted Turn Analyzer
Pengujian RSO memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pengujian
lain karena dapat digunakan secara berkala selama rewinds untuk
memverifikasi bahwa belitan terbebas dari hubung singkat pada saat diam
dan saat rotor berputar.
4.3 Cara Pengujian Elektrik Pada Rotor Generator Sinkron
4.3.1 Cara Pengujian Winding Resistance
Tujuan pengujian tahanan dalam adalah untuk mengetahui gejala
gangguan pada lilitan rotor akibat loose connection dan shorted turn.
Dalam melakukan pengujian Winding Resistance dengan cara
menyambungkan ujung - ujung lilitan rotor yang berada pada slip ring
rotor dengan alat ukur yang digunakan pengujian. Kemudian ukur suhu
temperatur ruangan menggunakan Infrared Thermometer. Selanjutnya
40
injeksi ujung lilitan rotor dengan input arus sebesar 40 Ampere.
Kemudian akan didapat data berupa nilai pada salah satu kumparan (R1).
Selanjutnya hitung nilai Resistansi Ekivalennya (Rs) dengan rumus
sebagai berikut :
R R
s meas ((T T ) /(T T ))
s k m k
Nilai Resistansi Ekivalennya (Rs) kemudian dibandingkan dengan
data sebelumnya. Apabila mendekati 0 Ω maka kondisi kumparan masih
sangat baik
4.3.2 Cara Pengujian Insulation Resistance
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui gejala fault
winding akibat short to ground. Pengujian ini akan membuktikan suatu
indikasi apakah ada atau tidak bagian lilitan yang terhubung singkat pada
atau disekitar sistem isolasi.
Cara pengujian insulation resistance pada rotor adalah dengan
menghubungkan satu kabel alat ukur pada ujung kumparan Pole A dan Pole
B dengan ground. Kemudian pada alat ukur diatur tegangan DC sebesar
250 Vdc. Kemudian catat nilai resistansi pada megger selama 1 menit
hingga 10 menit. Selanjutnya akan didapat nilai Indeks Polarisasi (IP)
dengan rumus :
IP R 10 menit
R 1 menit
Dimana : R10 menit : Resistansi pengukuran pada menit ke-10
R1 menit : Resistansi pengukuran pada menit pertama
Jika IP terlalu rendah dapat mengindikasikan bahwa lilitan mungkin
terkontaminasi oli, kotoran, serangga, atau terbasahi oleh air.
41
Gambar 4.12 Kondisi pada lilitan berdasarkan nilai indeks polarisasi
berdasarkan IEEE-43
Untuk menentukan Nilai Indeks Polarisasi minimum harus sesuai
dengan spesifikasi peralatan yang diuji. Pada isolasi rotor generator sinkron
GTG 1.1 memiliki spesifikasi kelas F pada peringkat kelas termal, sehingga
dalam pengujian ini perlu mengetahui terlebih dahulu untuk nilai Indeks
Polarisasi minimumnya. Berikut merupakan tabel Indeks Polarisasi (IP)
minimum berdasarkan kelasnya.
Tabel 4.2 Rekomendasi nilai minimum indeks polarisasi pada semua
komponen mesin menurut IEEE-43 berdasarkan kelasnya
Peringkat Kelas
Minimum IP
Termal
Kelas A 1.5
Kelas B 2.0
Kelas F 2.0
Kelas H 2.0
42
Sehingga berdasarkan IEEE-43 pada kelas F memiliki nilai Indeks
Polarisasi minimum sebesar 2. Hal ini kemudian akan diuji dan dihitung
untuk memastikan kondisi isolasi generator tetap kering dan tidak berdebu.
4.3.3 Cara Pengujian Voltage Balance
Tujuan Pengujian Voltage Balance adalah untuk memastikan bahwa
kumparan sisi A dan B pada rotor memiliki keluaran tegangan yang sama.
Cara pengujian voltage balance dengan menginjeksi tegangan dengan
menggunakan Variac Voltage Regulator 220 Vac pada lilitan rotor.
Tegangan yang diinjeksikan adalah sebesar 20 Volt - 200 Volt AC.
Kemudian catat nilai tegangan dari masing - masing kutub terhadap center
pole beserta arusnya menggunakan Multitester.
Rangkaian pengujian voltage balance adalah sebagai berikut :
Gambar 4.13 Rangkaian pengujian voltage balance rotor.
4.3.4 Cara Pengujian Sweep Frequency Respons Analysis
Tujuan pengujian Sweep Frequency Respons Analysis (SFRA Test)
adalah untuk mengetahui mechanical defect (deformasi) pada winding,
gangguan short inter turn, loose connection antara winding dan tap changer,
dan deformasi pada core.
Cara melakukan pengujian ini adalah dengan menginjeksi sinyal
frekuensi tertentu pada kedua ujung kumparan kutub A dan B. Kemudian
pada SFRA Analyzer akan muncul kurva yang mengindikasikan berhimpit
atau tidak kedua kurva dari masing - masing kutub. Apabila kumparan
43
dalam kondisi normal, maka kedua kurva akan berhimpit. Sebaliknya
apabila kedua kurva tidak berhimpit maka akan terdapat 3 kondisi yakni :
a) Slight Deformation (deformasi ringan)
b) Obvious Deformation (deformasi nyata)
c) Severe Deformation (deformasi berat)
4.3.5 Cara Pengujian Surja
Tujuan dari pengujian ini adalah Untuk mengetahui indikasi short inter
turn pada rotor winding.
Cara melakukan pengujian ini adalah menginjeksikan tegangan AC
sebesar 500 Vac. Pengujian ini akan mendeteksi deformasi pada belitan
kumparan rotor. Sehingga bentuk perubahan susunan pada belitan
kumparan rotor dapat dideteksi dengan besar nilai Error Area Ratio.
Toleransi nilai Error Area Ratio tersebut sebesar 5%.
4.3.6 Cara Pengujian Repetitive Surge Osillograph (RSO Test)
Tujuan pengujian ini untuk mengetahui gejala gangguan pada rotor
winding akibat shorted turn dengan menggunakan recurring pulse
phenomena. Peralatan RSO ini menggunakan frekuensi tinggi dan pulsa
tegangan rendah.
110VAC
Gambar 4.14 Rangkaian Pengujian Repetitive Surge Osillograph
Cara melakukan pengujian ini adalah dengan menginjeksi sinyal
frekuensi tertentu pada kumparan kutub A dan B serta ground. Kemudian
44
setelah sinyal frekuensi diinjeksikan maka akan muncul sinyal terima yang
dapat dilihat dari tampilan gelombang pada oscilloscope.
Gambar 4.15 Siklus Sinyal Frekuensi Input dan Output
Pada Pengujian RSO
Apabila kedua gelombang linier, maka tidak terdapat permasalahan
pada kumparan dalam rotor. Namun sebaliknya apabila terjadi suatu
asimetris pada gelombang, maka dapat dipastikan terjadi suatu masalah
pada bagian kumparan rotor.
45
4.4 Analisa Pengujian Elektrik Pada Rotor Generator Sinkron
4.4.1 Analisa Pengujian Winding Resistance
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan. Didapat data sebagai
berikut :
Gambar 4.16 Hasil pengujian tahanan dalam menggunakan
TRM-40
Dari data hasil pengujian didapatkan besarnya temperatur dan tahanan
dalam masing – masing lilitan dari kedua kutub adalah sebagai berikut :
Tm= 25 C (Meas. Temperature)
Ts = 75 C (Ref. Temperature)
Tk = 234,5 C (Copper Winding)
R1 = 246,35 mΩ
R1s= 293,82 mΩ (Nilai tahanan dalam secara praktik)
Arus= 40 A
Pada saat pengujian ini maka akan timbul panas pada lilitan rotor, suhu
yang terukur pada lilitan rotor ini kemudian akan dicari nilai resistansi
ekivalennya dari lilitan aluminum atau tembaga berdasarkan standar
referensi suhu. Nilai resistansi ekivalen inilah yang kemudian disebut
hambatan dalam.
46
Nilai tahanan ekivalen secara teori berdasarkan data yang didapat
sebesar :
Rs Rmeas ((Ts Tk ) /(Tm Tk ))
75 234 ,5
Rs 246 ,35
25 234 ,5
Rs 293,816 m
Dari perhitungan dan data yang didapat. Nilai Rs masih cukup baik
yakni mendekati 0 Ω sebesar 293,816 mΩ. Hal ini mengindikasikan bahwa
kondisi kumparan masih cukup baik, namun masih terdapat tahanan yang
harus segera dikurangi. Nilai resistansi kumparan akan semakin baik
apabila bernilai 0 Ω. Dan apabila sebaiknya. Maka terdapat bagian
kumparan yang putus atau terjadi keretakan.
4.4.2 Analisa Pengujian Insulation Resistance
Berikut merupakan data pengujian yang didapat untuk pengujian
Tahanan isolasi pada rotor generator sinkron GTG 1.1
Tabel 4.3 Data Pengujian Tahanan Isolasi
Waktu Resistansi (MΩ)
30 detik 40
1 menit 42
2 menit 42
3 menit 43
4 menit 43,09
5 menit 42
6 menit 44,3
7 menit 43,4
8 menit 42,5
9 menit 41,3
10 menit 42,1
Dari data yang didapat dari pengujian Indeks Polarisasi dapat
dihitung sebagai berikut :
47
R 10 menit
IP
R 1 menit
42 ,1
IP 1,002
42
IP 1,002
Berdasarkan jenis rotor yang diuji merupakan rotor jenis kelas F.
Sehingga nilai Indeks Polarisasi minimal sebesar 2. Namun dari data hasil
perhitungan yang didapat memiliki hasil dibawah 2. Sehingga
mengindikasikan kondisi tahanan isolasi pada kumparan rotor sangat buruk.
Hal ini dapat dikarenakan kondisi berdebu / lembab pada isolasi belitan
rotor.
Gambar 4.17 Kurva Perubahan secara tipikal dalam 1 menit dan 10
menit resistansi isolasi
Perbedaan antara megger rotor dengan pengukuran tahanan dalam
(Rd) rotor adalah level tegangan yang digunakan untuk pengujian, dalam
megger rotor tegangan pengujian adalah besar dengan arus yang kecil
hanya dalam orde miliampere. Sedangkan dalam pengukuran tahanan
dalam rotor tegangan pengujian hanya sampai beberapa Volt dengan arus
yang besar hingga orde puluhan Ampere.
4.4.3 Analisa Pengujian Voltage Balance
48
Dari hasil pengukuran didapatkan hasil percobaan untuk masing
masing kutub terhadap center pole adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4 Data Hasil Pengujian Voltage Balance
Injeksi Tegangan Tegangan Tegangan Arus (A)
(A - B) (A - C) (B - C)
20 V 10,117 V 9,416 V 3,63 A
40 V 19,677 V 17,867 V 6,38 A
60 V 32,073 V 27,523 V 9,56 A
80 V 42,561 V 37,257 V 12,98 A
100 V 52,185 V 47,985 V 15,42 A
120 V 62,58 V 57,32 V 18,25 A
140 V 71,46 V 67,34 V 20,22 A
160 V 75,30 V 83,86 V 22,81 A
180 V 89,16 V 88,71 V 27,92 A
200 V 96,24 V 104,2 V 29,14 A
Menghasilkan grafik sebagai berikut :
Gambar 4.18 Grafik Hasil Pengujian Voltage Balance
49
Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa terdapat sedikit ketidaksimetrian
antara tegangan pada kumparan A dan B. Grafik dari data yang didapat
mengindikasikan bahwa grafik pada tegangan tidak simetris. Sehingga
terdapat unbalance pada kedua kumparan
Syarat seimbang adalah tegangan diantara kutub terhadap center pole
adalah harus sama atau masih dalam batas toleransi yaitu maksimal drop
tegangannya (ΔV) adalah tidak boleh lebih dari 5 % dari total tegangan
yang diinjeksikan ke rotor.
Dimana drop tegangannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
V V A C VB C 100 %
VR
Dimana :
ΔV = drop tegangan dalam %
VR = tegangan yang diinjeksikan ke lilitan rotor
VA-C = tegangan hasil pengukuran kutub A terhadap center pole
VB-C = tegangan hasil pengukuran kutub B terhadap center pole
Dari pengujian diatas memiliki drop tegangan adalah sebesar :
10 ,117 9,416
V 20 100 % 3,5%
20
19 ,677 17 ,897
V 40 100 % 4,45 %
40
32 ,073 27 ,523
V 60 100 % 7,58 %
60
42 ,561 37 ,257
V 80 100 % 6,63 %
80
52 ,185 47 ,985
V 100 100 % 4,2%
100
50
62 ,58 57 ,32
V 120 100 % 4,38
% 120
71,46 67 ,34
V 140 100 % 2,94
% 140
75 ,30 83 ,86
V 160 100 % 5,35
% 160
89 ,16 88 ,71
V 180 100 % 0,25
% 180
96 ,24 104 ,2
V 200 100 % 3,98
% 200
Berdasarkan data dan perhitungan membuktikan bahwa pengujian
voltage balance pada kedua kumparan rotor dinyatakan Unbalance
Voltage. Hal ini dikarenakan pada injeksi tegangan 60Vac, 80Vac, dan
160Vac melebihi batas toleransi Unbalance yankni sebesar 5%. Dan
dalam pengujian yang dilakukan terdapat deviasi tegangan hingga
mencapai 7,58 % pada injeksi tegangan 60Vac
4.4.4 Analisa Pengujian Sweep Frequency Respons Analysis
Berikut merupakan hasil dari pengujian Sweep Frequency Respons
Analysis Test. Pada pengujian ini diberikan input berupa sinyal frekuensi
yang kemudian ditampilkan output berupa gelombang seperti berikut.
Gambar 4.19 Sweep Frequency Respons Analysis (Pole A to Ground)
51
Gambar 4.20 Sweep Frequency Respons Analysis (Pole B to Ground)
Gambar 4.21 Sweep Frequency Respons Analysis (Pole A to Pole B)
Dapat dilihat dari output sinyal gelombang tersebut bahwa pada pole A
to Ground terdapat deformasi. Jenis deformasi yang terjadi adalah Obvious
Deformasi.
Gambar 4.22 Obvious deformation pada Pole A to Ground
52
Obvious Deformation atau deformasi nyata/sedang yang terjadi
mengindikasikan bahwa pada Pole A to Ground terjadi deformasi nyata.
Pada range frekuensi rendah yaitu 1kHz sampai 100kHz
mengindikasikan terjadinya masalah hubung singkat di belitan. Sehingga
terjadi perubahan respon frekuensi. Hal yang sama terjadi pada range
frekuensi menengah yaitu 100kHz sampai 600kHz. Kondisi ini
menunjukkan terjadinya pergerakan aksial atau radial dalam kumparan
pole A to Ground. Namun, pada frekuensi tinggi 600kHz sampai 1MHz
dalam keadaan normal. Tidak mengindikasikan terjadinya masalah pada
kumparan.
4.4.5 Analisa Pegujian Surja
Berikut merupakann hasil dari pengujian Surja. Pada pengujian ini
diberikan input berupa tegangan AC sebesar 500 Volt yang kemudian akan
diinputkan pada belitan.
Gambar 4.23 Hasil Pengujian Surja
Dapat dilihat dari hasil data yang didapat bahwa gelombangnya akan
hampir identik jika belitannya identik. Hal ini dapat terjadi apabila terjadi
lemahnya isolasi pada belitan rotor, gelombang akan memiliki frekuensi
yang berbeda dari yang lain dan terpisah. Kemudian akan dihitung Error
Area Ratio. Dari data yang didapat besar nilai prosentase %EAR atau Error
Area Ratio sebesar 3% masih acceptable, karena masih dibawah nilai
maksimum tolearnsi %EAR yaitu sebesar 5%.
53
4.3.6Analisa Pengujian Repetitive Surge Osillograph
Berikut merupakan hasil dari pengujian Repetitive Surge Osillograph.
Pada pengujian ini diberikan berupa sinyal frekuensi tinggi dan secara
visual dari kedua perbedaan didalam pengembalian sinyal didapat sinyal
feedback seperti gambar berikut
Gambar 4.24 Hasil Pengujian Repetitive Surge Osillograph pada saat FSNL
Pada hasil sinyal feedback yang didapat bahwa terdapat
ketidaksimetrian sinyal feedback. Hal ini dapat disebabkan oleh terjadinya
hubung singkat antar belitan maupun terjadinya lemahnya isolasi pada
belitan.
c
Gambar 4.25 Terdapat ketidaksimetris pada gelombang pengujian RSO
Pada pengujian SRFA Test, Surge Test, dan RSO Test memiliki tujuan
yang sama yakni membandingkan dan mengamati perbedaan kondisi
belitan pada kumparan A dan B pada rotor. Dengan ketiga percobaan
54
tersebut mengindikasikan terdapat permasalahan pada deformasi isolasi
belitan dan short to turn pada belitan rotor.
55
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Dari hasil kerja praktik yang telah dilaksanakan pada tanggal 4 Februari
2019 – 29 Maret 2019 di PT. INDONESIA POWER UP SEMARANG dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Pembangkit PT. INDONESIA POWER UP SEMARANG adalah
pembangkit tenaga gas dan uap dengan bahan gas CNG (Compressed
Naturan Gas).
2. Pada PLTGU PT. INDONESIA POWER UP SEMARANG terdapat 2 blok
yang masing – masing menggunakan sistem operasi 3 – 3 – 1 dalam
pembangkitan listriknya yang terdiri dari 3 GTG, 3 HRSG, dan 1 STG
yang identik.
3. Satu unit GTG mampu menghasilkan sekitar 90 MW dari total kapasitas
dari generatornya sebesar 109 MW dengan output tegangannya sebesar
11,5 KV.
4. Overhaul merupakan perbaikan mesin/alat secara total yang dilakukan oleh
perusahaan supaya kinerja mesin atau alat bekerja dengan baik sesuai
kondisi idealnya.
5. Terdapat beberapa faktor kelainan pada Generator 1.1
- Kegagalan rotor generator dalam menjalankan On Cool Down.
- Timbulnya panas pada generator.
- Kenaikan Vibrasi akibat dinaikkannya daya reaktif (MVAR)
6. Terdapat pengujian elektrik yang dilakukan pada rotor generator yakni :
- Winding Resistance Test
- Insulation Resistance Test
- Voltage Balance Test
- Sweep Frequency Response Analysis Test (SFRA Test)
- Surge Test
- Repetitive Surge Oscillograph Test (RSO Test)
56
7. Tujuan utama dari pengujian elektrik pada rotor generator adalah untuk
mengetahui keandalan kumparan, isolasi belitan dan kesimetrian kedua
kumparan yang dimiliki rotor.
8. Berdasarkan dari data dan analisa percobaan dapat disimpulkan bahwa
kondisi rotor pada generator sinkron GTG 1.1 berada dalam kondisi yang
kurang baik. Kondisi yang saat ini terjadi adalah adanya migrasi dalam
isolasi yang menyebabkan adanya hubung singkat antar belitan dan kondisi
isolasi belitan yang berdebu dan lembab. Hal ini karenakan dari hasil
pengujian dimana nilai IP (Indeks Polarisasi) masih dibawah kelas termal,
adanya unbalance pada kedua kumparan (kumparan A dan Kumparan B)
dan terdapat asimetris sebesar 3% pada gelombang kedua kumparan pada
rotor
9. Berdasarkan data dan hasil tersebut. Saat ini sedang dilakukan cleaning
pada winding sebelum menjalankan proses resolasi. Dengan cara melepas
seluruh Retaining Ring rotor, kemudian melepas satu persatu belitan setiap
kumparan rotor, dan membersihkan belitan tersebut agar tidak lembab
sebelum dilakukan resolasi
5.2 SARAN
Sebagai bentuk evaluasi dari yang telah penulis laksanakan pada saat
kerja praktik di PT. INDONESIA POWER UP SEMARANG ini, maka kami
dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut :
5.1.1 Saran yang terkait dengan laporan
Berdasarkan laporan yang telah kami buat. Merupakan beberapa
cara pengujian secara elektrik. Alangkah lebih lengkapnya apabila
laporan ini juga dapat memuat pengujian secara mekanik. Namun, karena
keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan kerja praktik. Sehingga
pembahasan mengenai analisa pengujian mekanik tidak dapat dimuat
karena sampai saat ini masih belum dilaksanakan
57
5.1.2 Saran ke Perusahaan
Berdasarkan pelaksanaan Kerja Praktik yang telah kami lakukan.
Kami menyarankan pada pengoperasian generator seharusnya sesuai
dengan spesifikasi dari generator dan tidak dipaksakan untuk beroperasi
secara terus menerus pada kondisi maksimal nominalnya. Karena
terjadinya Migrasi pada isolasi dapat disebabkan oleh panas yang
kemudian terjadi vibrasi lebih maupun pergeseran kondisi aksial/radial
pada kumparan. Hal ini dapat diantisipasi dengan pergantian
pengoperasian pada setiap unit GTG Blok 1 pada kondisi waktu tertentu
agar generator setiap unit tidak dioperasikan terus menerus.
5.1.3 Saran ke Universitas
Berdasarkan manfaat yang kami dapatkan dalam pelaksanaan Kerja
Praktik ini sangat banya. Pemahaman mengenai dunia lapangan kerja
khususnya pembangkit, bahkan hal yang tidak dapat kami pahami di
bangku kuliah dapat kami pahami disini. Sehingga saya menyarankan
agar pengujian elektrik yang telah kami pelajari kemudian dapat menjadi
referensi untuk dapat dipelajari di Kampus.
58
DAFTAR PUSTAKA
Baasith, Muhammad. 2008. Laporan Kerja Praktik Berjudul “Pengujian
Generator Secara elektrik PLTGU Blok 2 GTG 2.3 Saat Overhaul”. Jurusan
Teknofisika Nuklir. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir.
C. Stone, Greg. 2004.“Recent Important Changes in IEEE Motor and Generator
Winding Insulation Diagnostic Testing Standards”: IEEE Fellow, Iris Power
Engineering, 1 Westside Drive Unit 2 Toronto, Canada, PCIC – XX.
Dr. Christian Staubach, Stefan Krane.2016. “Detection of Faults in Rotor-
Windings of Turbogenerators” : Electrical Engineering CDEE
IEEE Power Engineering Society. 2000. “IEEE Std 43-2000 Recommended
Practice for Testing Insulation Resistance of Rotating Machinery”
Instruments, electrom. 2018. Surge Comparison Test Summary. (Online)
([Link] /, diakses 21
Maret 2019)
Kennedy,G M,McGrail,A J and Lapworth,J A. 2007. “Transformer sweep
frequency response analysis (SFRA)”
LTD, Rowtest. 2011. “Testing Generator Rotor Windings Using The RSO TEST
Method”Isidor “Izzy” Kerszenbaum, PhD, PE, “Utilization of Repetitive Surge
Oscillograph (RSO)” Detection of Rotor Shorted-Turns in Large Turbine-Driven
Generators : EIC Conference
Muadz, Muhammad. 2016. Pengertian Overhaul. (Online)
([Link]
diakses 20 Maret 2019)
Operation Maintenance & Engineering Power Plant. 2018. “PEMELIHARAAN
MESIN PEMBANGKIT LISTRIK”. (Online)
([Link] diakses 20
Maret 2019).
Parjono, Eko. 2008. Laporan Kerja Praktik Berjudul “Pengujian Rotor dan Stator
Generator Sinkron 50 MW di PLTU Unit 1 PT Indonesia Power UP Semarang”
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
59
LAMPIRAN
Gambar 5.1 Kondisi rotor sebelum pengujian
Gambar 5.2 Kondisi rotor saat menjalani pengujian
Gambar 5.3 Cleaning pada belitan rotor
60