0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan9 halaman

Randa

tugas filsafat PTK

Diunggah oleh

T Soa Randa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan9 halaman

Randa

tugas filsafat PTK

Diunggah oleh

T Soa Randa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UJIAN AKHIR SEMESTER

FILSAFAT PENDIDIKAN TEKNOOGI DAN KEJURUAN

Diajukan sebagai salah satu tugas akhir semester pada mata kuliah Filsafat Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan

Dosen:
Prof. Genefri, Ph. D.
Dr. Rijal Abdullah, MT.

Oleh:
No. Absen: 04
T. RANDA
18138032/2018

PROGRAM PASCA SARJANA


PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018
1. Apa yang saudara pahami tentang konsep life long learning?. Jelaskan dan berikan
contoh-contohnya!
Jawaban:
Belajar dapat diartikan yaitu kemauan untuk mengembangkan diri secara teus
menerus selama belajar itu masih dibutuhkan. Konsep life long learning yaitu konsep
belajar secara terus menerus sepanjang hayat mulai dari kanak-kanak sampai dengan
dewasa bahakan sampai tua sekalipun sehingga ilmu pengetahuan dan informasi selalu
berkembang dan terbaharui secara terus-menerus.
Islam mewajibkan pemeluknya untuk belajar dan mengembangkan kemampuan
nalarnya secara terus menerus bukan saja terhadap objek-objek di luar dirinya, tetapi
juga terhadap kehidupannya sendiri baik sebagai perorangan maupun sebagai suatu
komunitas. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-bentuk belajar secara informal, non
formal maupun formal baik yang berlangsung dalam keluarga, disekolah, dalam
pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat.
Untuk indonesia sendiri, konsepsi pendidikan seumur hidup melalui kebijakan Negara
(Tap MPR No. IV / MPR / 1970 jo. Tap No. IV/ MPR / 1978 Tentang GBHN ) yang
menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional, antara lain :
a. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (arah pembangunan jangka
panjang ).
b. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam keluarga (rumah
tangga ), sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab
bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. (BAB IV GBHN bagian
pendidikan ).
Pendidikan atau belajar sepanjang hayat adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan
yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang
belangsung dalam seluruh kehidupan manusia. Proses belajar sepanjang hayat
berlangsung secara kontinu dan tidak terbatas oleh waktu yang terpelajar tetapi semua
lapisan masyarakat bisa melaksanakannya.

Referensi:
[Link]
TAP MPR No. IV/MPR/1978 GBHN
2. Pendidikan itu terbuka untuk semua. Jelaskan pengertiannya disertai dengan
contoh-contohnya yang relavan.
Jawaban:
Pendidikan merupakan usaha yang sengaja secara sadar dan terencana untuk
membantu meningkatkan perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat
bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga
negara/masyarakat, dengan memilih isi (materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian
yang sesuai
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak dibatasi pada kalangan
tertentu baik dari segi ekonomi, perbedaan status sosial maupun segi usia, akan tetapi
pendidikan itu bisa mengayomi dan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan
minat dan bakatnya.
EFA (Education for All) adalah pendidikan yang merata untuk semua lapisan
masyarakat tanpa membedakan suku, ras, agama, golongan, pendidikan adalah hak
Warga Negara tanpa kecuali baik berupa pendidikan formal maupun non formal. Hal
tersebut diatur dalam UUD 1945 pasal 31.
Hakekat dari “Education for All” pada intinya adalah mengupayakan agar setiap
warga negara dapat memenuhi haknya, yaitu layanan pendidikan. Pembelajaran untuk
semua merupakan wujud pembelajaran yang menyangkut semua usia entah itu dewasa,
orang tua maupun anak-anak yang bertujuan agar lebih mengerti tentang sesuatu.
Pendidikan terbuka untuk umum dapat diartikan sebagai pemerataan pendidikan.
Pemerataan pendidikan dalam arti pemerataan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan telah lama menjadi masalah yang mendapat perhatian, terutama di negara-
negara sedang berkembang. Hal ini tidak terlepas dari makin tumbuhnya kesadaran
bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam pembangunan bangsa, seiring juga
dengan berkembangnya demokratisasi pendidikan dengan semboyan education for all.
Pemerataan pendidikan mencakup dua aspek penting yaitu equality dan equity.
Equality atau persamaan mengandung arti persamaan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan, sedangkan equity bermakna keadilan dalam memperoleh kesempatan
pendidikan yang sama diantara berbagai kelompok dalam masyarakat.
Secara konsepsional konsep pemerataan yakni : pemerataan aktif dan pemerataan
pasif. Pemerataan pasif adalah pemerataan yang lebih menekankan pada kesamaan
memperoleh kesempatan untuk mendaftar di sekolah, sedangkan pemerataan aktif
bermakna kesamaan dalam memberi kesempatan kepada murid-murid terdaftar agar
memperoleh hasil belajar setinggi-tingginya (Sismanto , 1993 : 31). Dalam pemahaman
seperti ini pemerataan pendidikan mempunyai makna yang luas tidak hanya persamaan
dalam memperoleh kesempatan pendidikan, tapi juga setelah menjadi siswa harus
diperlakukan sama guna memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi yang
dimilikinya untuk dapat berwujud secara optimal. Apabila dimensi-dimensi tersebut
menjadi landasan dalam mendekati masalah pemerataan pendidikan, nampak betapa
rumit dan sulitnya menilai pemerataan pendidikan yang dicapai oleh suatu daerah,
apalagi bagi negara yang sedang membangun dimana kendala pendanaan nampak masih
cukup dominan baik dilihat dari sudut kuantitas maupun efektivitas.
Contoh yang relavan bahwasanya pendidikan untuk semua yaitu kemerataan
kurikulum pendidikan (KTSP, Kurikulum 13) ditiap-tiap satuan pendidikan. Pendidikan
harus menyesuaikan dengan kearifan lokal dan kebutuhan peserta didik di masyarakat.
Ini bertujuan sebagai pemerataan pendidikan di seluruh pelosok negeri. Pendidikan untuk
semua juga dapat dicontohkan seperti persamaan bahan-bahan ajar, methode, model baik
sekolah yang berada di kota maupun di desa.

Referensi:
[Link]
[Link]
[Link]
Sismanto, 1993. Pendidikan Luar Sekolah dalam Upaya Mencerdaskan Bangsa:
[Link].

3. Salah satu prinsip dari Pendidikan Kejuruan adalah Career and Prevocational
Education. Jelaskan maksudnya dan diberikan contoh pelaksanaanya!
Jawaban:
Menurut Undang-Undang Pendidikan Nasional (UUSPN) no. 20 tahun 2003
”pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik terutama
untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu dan siap pula melanjutkan ke tingkat
pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan pada jenjang
menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan
jenis pekerjaan tertentu.
Dari berbagai definisii di atas dapat kita kemukakan bahwa pendidikan teknologi
dan kejuruan adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi para siswa yang
merencanakan dan mengembangkan karirnya pada bidang keahlian tertentu untuk
bekerja secara produktif dan professional dan juga siap melanjutkan ke tingkat
pendidikan yang lebih tinggi.
Fungsi pendidikan kejuruan menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja produktif antara lain
meliputi:
 Memenuhi keperluan tenaga kerja dunia usaha dan industri.
 Menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan bagi orang lain.
 Merubah status siswa dari ketergantungan menjadi bangsa yang berpenghasilan
(produktif).
Career and Prevocational adalah Karir dan Pra Pendidikan Kejuruan yaitu
persiapan karir peserta didik sekolah kejuruan sebelum terjun langsung ke bidang minat
atau karir yang di tuju oleh peserta didik. Disini peserta didik diberikan bimbingan dan
arahan karir oleh tim pengajar mengenai studi serta minat peserta didik. Ini diperlukan
agar setiap siswa yang lulus dari sekoah kejuruan dapat langsung mengembangkan
karirnya sesuai dengan minat dan kebutuhan masyarakat disekitaran lingkungan peserta
didik agar dapat menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan orang lain agar bisa lebih
produktif.

Referensi:
[Link]
PP 29 tahun 1990 Pasal 1 ayat 3
Undang-Undang Pendidikan Nasional (UUSPN) no. 20 tahun 2003

4. Jelaskan apa yang saudara pahami tentang Mastery Learning?


Jawaban:
Belajar tuntas (mastery learning) adalah filosofi pembelajaran yang berdasar pada
anggapan bahwa semua siswa dapat belajar bila diberi waktu yang cukup dan
kesempatan belajar yang memadai. Selain itu, dipercayai bahwa siswa dapat mencapai
penguasaan akan suatu materi bila standar kurikulum dirumuskan dan dinyatakan dengan
jelas, penilaian mengukur dengan tepat kemajuan siswa dalam suatu materi, dan
pembelajaran berlangsung sesuai dengan kurikulum. Dalam metode belajar tuntas, siswa
tidak berpindah ke tujuan belajar selanjutnya bila ia belum menunjukkan kecakapan
dalam materi sebelumnya.
Sistem belajar tuntas (mastery learning) adalah suatu sistem pengajaran yang
berupaya memungkinkan semua siswa mencapai tujuan pembelajaran dengan waktu
pembelajaran yang berbeda jika dibutuhkan.
Ada satu hal yang penting digarisbawahi bila guru ingin mengajar dengan sistem
ini, yaitu penggunaan waktu, karena telah disebutkan bahwa dalam sistem belajar tuntas,
semua siswa dimungkinkan untuk mencapai tujuan pembelajaran bahkan dengan waktu
pembelajaran yang berbeda bila dibutuhkan. Pada kenyataannya, waktu tidaklah
berpihak pada kita. Waktu adalah sebuah komponen pengajaran yang terbatas dan harus
dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karenanya, ada banyak tantangan yang harus dihadapi
guru bila menerapkan sistem belajar tuntas (mastery learning) ini. Berikut tips yang
dapat anda gunakan saat menerapkan sistem belajar tuntas (mastery learning) ini di kelas
anda.
Tips Belajar Tuntas
a. Bagilah materi pembelajaran menjadi unit-unit kecil.
Dengan membagi materi pembelajaran menjadi unit-unit kecil, maka guru dapat
membuat penyajian yang berurutan secara logis, dan memudahkan mengevaluasi
penguasaan siswa pada setiap unit kecil itu. Selain itu, dengan cara ini guru dapat
benar-benar mengetahui unit kecil mana yang amat dibutuhkan siswa, dan unit kecil
mana yang kurang diperlukan.
b. Perhatikan perbedaan kecepatan belajar siswa.
Hal ini penting karena setiap individu siswa mempunyai kemampuan belajar yang
amat bervariasi. Bila siswa adalah individu yang cepat belajar, maka pembelajaran
dapat dibuat pada tataran yang lebih tinggi kualitasnya, sedangkan bagi siswa yang
lebih lamban maka perlu lebih banyak waktu untuk menguasai materi, bahkan pada
bagian dasar sekalipun. Pemahaman dan pengertian dari guru mutlak dibutuhkan
dalam hal ini.
c. Adakan evaluasi formatif berkelanjutan dan terus-menerus.
Guru perlu melakukan tes formatif yang frekuensinya sering dan berkelanjutan.
Setiap unit kecil diakhiri dengan tes formatif untuk memantau dan mengevaluasi
pembelajaran yang telah atau sedang dilakukan. Selain itu, guru juga harus
melakukan tes sumatif untuk mengecek belajar siswa pada satu unit besar (gabungan
unit-unit kecil). Pada siswa belum mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan,
maka perlu diadakan pengajaran perbaikan (remidial), dan pada siswa telah
mencapai tujuan pembelajaran maka perlu dilakukan pengayaan.
d. Bersikap selektif dalam pelaksanaan sistem belajar tuntas ( mastery
learning).
Hal ini disebabkan isu waktu pada sistem belajar tuntas ini. Sebaiknya, tidak semua
unit pembelajaran dilakukan sistem ini. Hanya unit-unit tertentuyang bersifat
penting, misalnya merupakan unit prasyarat untuk pembelajaran di masa yang akan
datang, atau unit yang sangat penting bagi kehidupan siswa selanjutnya dalam dunia
nyata.
Referensi:
[Link]
[Link]
[Link]

5. Apa pengertian saudara tentang konsep Constructivism?


Jawaban:
Konstruktivisme (Constructivism) adalah proses membangun atau menyusun
pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut
pengembang filsafat konstruktivisme Mark Baldawin dan diperdalam oleh Jean Piaget
menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hannya dari objek semata, tetapi
juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang
diamatinya.
Landasan pembelajaran ini adalah bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri
dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal. Pembelajaran harus dikemas
menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Oleh karena itu guru
harus memfasilitasi proses tersebut dengan:
 Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
 Memberi kesempatan siswa menemukan dan menetapkan idenya sendiri
 Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar
Penerapan teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran dapat mengembangkan
berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, mandiri, cinta ilmu, rasa ingin
tahu, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan percaya diri.
Referensi:
[Link]
[Link]
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Teaching Factory, berikan contoh-contoh
penerapannya.
Jawaban:
Penerapan teaching factory di SMK merupakan wujud dari salah satu upaya
Direktorat Pembinaan SMK untuk lebih mempererat kerjasama atau sinergi antara SMK
dengan industri. Belajar tuntas merupakan pembelajaran yang dapat dilaksanakan di
dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan
mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap
seluruh bahan yang dipelajari (Ramayulis, 2005:193).
Menurut Kuswantoro (2014), teaching factory menjadi konsep pembelajaran dalam
keadaan yang sesungguhnya untuk menjembatani kesenjangan kompetensi antara
pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan industri. Teaching factory
merupakan pengembangan dari unit produksi yakni penerapan sistem industri mitra di
unit produksi yang telah ada di SMK. Unit produksi adalah pengembangan bidang usaha
sekolah selain untuk menambah penghasilan sekolah yang dapat digunakan dalam upaya
pemeliharaan peralatan, peningkatan SDM, dll juga untuk memberikan pengalaman kerja
yang benar-benar nyata pada siswanya. Penerapan unit produksi sendiri memiliki
landasan hukum yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 pasal 29 ayat 2 yaitu
"Untuk mempersiapkan siswa sekolah menengah kejuruan menjadi tenaga kerja, pada
sekolah menengah kejuruan dapat didirikan unit produksi yang beroperasi secara
profesional."
Pembelajaran melalui teaching factory bertujuan untuk menumbuh-kembangkan
karakter dan etos kerja (disiplin, tanggung jawab, jujur, kerjasama, kepemimpinan, dan
lain-lain) yang dibutuhkan DU/DI serta meningkatkan kualitas hasil pembelajaran dari
sekedar membekali kompetensi (competency based training) menuju ke pembelajaran
yang membekali kemampuan memproduksi barang/jasa (production based training).
Hubungan kerjasama antara SMK dengan industri dalam pola
pembelajaran Teaching Factory akan memiliki berdampak positif untuk membangun
mekanisme kerjasama (partnership) secara sistematis dan terencana didasarkan pada
posisi tawar win-win solution.
Penerapan pola pembelajaran Teaching Factory merupakan interface dunia
pendidikan kejuruan dengan dunia industri, sehingga terjadi check and balance terhadap
proses pendidikan pada SMK untuk menjaga dan memelihara keselarasan (link and
match) dengan kebutuhan pasar kerja.
Referensi:
[Link]
[Link]

7. Jelaskan pengertian saudara tentang Asesmen Berdasarkan Kompetensi dan


berikan berbagai contoh yang terkait.
Jawaban:
Assessment Kompetensi adalah proses asesmen baik pengetahuan (knowledge),
ketrampilan (skill) maupun sikap kerja (attitude) melalui pengumpulan bukti yang
relevan untuk menentukan apakah seseorang kompeten atau belum kompeten pada suatu
unit kompetensi atau kualifikasi tertentu.
Kegiatan asesmen kompetensi diterapkan dalam berbagai tujuan, yakni; untuk
tujuan sertifikasi profesi, rekrutmen karyawan berbasis kompetensi, asesmen proses dan
hasil pembelajaran, RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau), RCC (Recognition Prior
Learning), Surveilan, appraisal, remunerasi berbasis kompetensi, proses verifikasi
dalam sistem perbaikan berlanjut industri, dan lain-lain.
Contoh dari Asesment berdasarkan kompetensi yaitu seperti UKG (Uji Kompetensi
Guru) dimana setiap guru kejuruan meakukan ujian kompetensi untuk mengukur tingkat
kompetensi guru baik dalam hal penyampaian teori maupun praktik kejuruan. Ainnya
yaitu sertifikasi guru, untuk memperoleh sertifikat pendidik yang professional, guru
diwajibkan mengikuti dertifikasi guru agar menamtapkan kedudukan guru dibidang
kompetensi yang didalaminya.

Referensi:
[Link]

Anda mungkin juga menyukai