Pemahaman Labio Palatoskisis
Pemahaman Labio Palatoskisis
“LABIOSCHISIS”
Disusun Oleh :
Krismaya Ismayanti
180070300111025
Kelompok 2
A. Definisi
Labio atau Palato skisis merupakan kongenital yang berupa adanya kelainan bentuk
pada struktur wajah (Ngastiah, 2005: 167). Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan
oleh gagalnya propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan
embriotik. (Wong, Donna L. 2003). Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada palatum yang
terjadi karena kegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (Wong, Donna
L. 2003). Labio palatoskisis yang terjadi seringkali berbentuk fistula, dimana fistula ini dapat
diartikan sebagai suatu lubang atau celah yang menghubungkan rongga mulut dan hidung
(Sarwoni, 2001).
Menurut beberapa kesimpulan diatas maka dapat disimpulkan pengertian dari
labiopalatoskisis adalah merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut,
palato skisis (sumbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama
perkembangan embrio
B. Etiologi
Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan Labio palatoskisis,
antara lain:
1. Faktor Genetik
Merupakan penyebab beberapa palatoskisis, tetapi tidak dapat ditentukan dengan pasti
karena berkaitan dengan gen kedua orang tua. Diseluruh dunia ditemukan hampir 25 –
30 % penderita labio palatosskisis terjadi karena faktor herediter. Faktor dominan dan
resesif dalam gen merupakan manifestasi genetik yang menyebabkan terjadinya labio
palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan celah bibir dan palatum merupakan
manifestasi yang kurang potensial dalam penyatuan beberapa bagian kontak.
Patten mengatakan bahwa pola penurunan herediter adalah sebagai berikut :
a. Mutasi gen
Ditemukan sejumlah sindroma/gejala menurut hukum Mendel secara otosomal,
dominant, resesif dan X-Linked. Pada otosomal dominan, orang tua yang mempunyai
kelainan ini menghasilkan anak dengan kelainan yang sama. Pada otosomal resesif
adalah kedua orang tua normal tetapi sebagai pembawa gen abnormal. X-Linked adalah
wanita dengan gen abnormal tidak menunjukan tanda-tanda kelainan sedangkan pada
pria dengan gen abnormal menunjukan kelainan ini.
b. Kelainan Kromosom
Celah bibir terjadi sebagai suatu expresi bermacam-macam sindroma akibat
penyimpangan dari kromosom, misalnya Trisomi 13 (patau), Trisomi 15, Trisomi 18
(edwars) dan Trisomi 21.
2. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional, baik kualitas
maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi foto maternal).
Zat –zat yang berpengaruh adalah:
a) Asam folat
b) Vitamin C
c) Zn
Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C dan Zn dapat
berpengaruh pada janin. Karena zat - zat tersebut dibutuhkan dalam tumbuh kembang
organ selama masa embrional. Selain itu gangguan sirkulasi foto maternal juga
berpengaruh terhadap tumbuh kembang organ selama masa embrional.
3. Pengaruh obat [Link] termasuk obat teratogenik adalah:
a) Jamu. Mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat berpengaruh pada janin,
terutama terjadinya labio palatoskisis. Akan tetapi jenis jamu apa yang
menyebabkan kelainan kongenital ini masih belum jelas. Masih ada penelitian lebih
lanjut
b) Kontrasepsi hormonal. Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi
hormonal, terutama untuk hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan
terjadinya hipertensi sehingga berpengaruh pada janin, karena akan terjadi
gangguan sirkulasi fotomaternal.
c) Obat – obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama labio
palatoschizis. Obat – obatan itu antara lain :
a. Talidomid, diazepam (obat – obat penenang)
b. Aspirin (Obat – obat analgetika)
d) Kosmetika yang mengandung merkuri & timah hitam (cream pemutih)
Sehingga penggunaan obat pada ibu hamil harus dengan pengawasan dokter.
4. Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan Labio
palatoskisis, yaitu:
a. Zat kimia (rokok dan alkohol). Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi rokok
dan alkohol dapat berakibat terjadi kelainan kongenital karena zat toksik yang
terkandung pada rokok dan alkohol yang dapat mengganggu pertumbuhan organ
selama masa embrional.
b. Gangguan metabolik (DM). Untuk ibu hamil yang mempunyai penyakit
diabetessangat rentan terjadi kelainan kongenital, karena dapat menyebabkan
gangguan sirkulasi fetomaternal. Kadar gula dalam darah yang tinggi dapat
berpengaruh padatumbuh kembang organ selama masa embrional.h
c. Penyinaran radioaktif. Untuk ibu hamil pada trimester pertama tidak dianjurkan
terapi penyinaran radioaktif, karena radiasi dari terapi tersebut dapat
mengganggu proses tumbuh kembang organ selama masa embrional.
d. Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil yang terinfeksi
virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin sehingga dapat berpengaruh
terjadinya kelainan kongenital terutama labio palatoschizis.
5. Faktor usia ibu
Dengan bertambahnya usia ibu sewaktu hamil, maka bertambah pula resiko dari
ketidaksempurnaan pembelahan meiosis yang akan menyebabkan bayi dengan
kehamilan trisomi. Wanita dilahirkan dengan kira-kira 400.000 gamet dan tidak
memproduksi gamet-gamet baru selama hidupnya. Jika seorang wanita umur 35tahun
maka sel-sel telurnya juga berusia 35 tahun. Resiko mengandung anak dengan cacat
bawaan tidak bertambah besar sesuai dengan bertambahnya usia ibu.
6. Stress Emosional
Korteks adrenal menghasilkan hidrokortison yang berlebih. Pada binatang percobaan
telah terbukti bahwa pemberian hidrokortison yang meningkat pada keadaan hamil
menyebabkan cleft lips dan cleft palate.
7. Trauma
Salah satu penyebab trauma adalah kecelakaan atau benturan pada saat hamil minggu
kelima.
C. Patofisiologi
Pertumbuhan dan perkembangan wajah serta rongga mulut merupakan suatu proses
yang sangat kompleks. Bila terdapat gangguan pada waktu pertumbuhan dan perkembangan
wajah serta mulut embrio, akan timbul kelainan bawaan (kongenital). Kelainan bawaan adalah
suatu kelainan pada struktur, fungsi maupun metabolism tubuh yang ditemukan pada bayi
ketika ia lahir. Salah satunya adalah celah bibir dan langit-langit. Kelainan wajah ini terjadi
karena ada gangguan pada organogenesis antara minggu keempat sampai minggu kedelapan
masa embrio.
Beberapa teori yang menggambarkan terjadinya celah bibir :
a) Teori Fusi / Teori kalsik
Pada akhir minggu keenam dan awal minggu ketujuh masa kehamilan, processus
maxillaries berkembang kearah depan menuju garis median, mendekati processus
nasomedialis dan kemudian bersatu. Bila terjadi kegagalan fusi antara processus
maxillaries dengan processus nasomedialis maka celah bibir akan terjadi.
b) Teori Penyusupan Mesodermal / Teori hambatan perkembangan
Mesoderm mengadakan penyusunan menyebrangi celah sehingga bibir atas
berkembang normal. Bila terjadi kegagalan migrasi mesodermal menyebrangi celah bibir
akan terbentuk.
c) Teori Mesodermal sebagai Kerangka Membran Brankhial
Pada minggu kedua kehamilan, membran brankhial memerlukan jaringan mesodermal
yang bermigrasi melalui puncak kepala dan kedua sisi ke arah muka. Bila mesodermal
tidak ada maka dalam pertumbuhan embrio membran brankhial akan pecah sehingga
akan terbentuk celah bibir.
d) Gabungan Teori Fusi dan Penyusupan Mesodermal
pertama kali menggabungkan kemungkinan terjadinya celah bibir, yaitu adanya fusi
processus maxillaris dan penggabungan kedua processus nasomedialis yang kelak
akan membentuk bibir bagian tengah.
D. Klasifikasi
1. Berdasarkan organ yang terlibat
a. Celah bibir ( labioscizis ) : celah terdapat pada bibir bagian atas
b. Celah gusi ( gnatoscizis ) : celah terdapat pada gusi gigi bagian atas
c. Celah palatum ( palatoscizis ) : celah terdapat pada palatum
2. Berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk
a. Komplit : jika celah melebar sampai ke dasar hidung
b. Inkomplit : jika celah tidak melebar sampai ke dasar hidung
3. Berdasarkan letak celah
a. Unilateral : celah terjadi hanya pada satu sisi bibir
b. Bilateral : celah terjadi pada kedua sisi bibir
c. Midline : celah terjadi pada tengah bibir
E. Manifestasi Klinis
1. Deformitas pada bibir
2. Kesukaran dalam menghisap/makan
3. Kelainan susunan archumdentis
4. Distersi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan
5. Gangguan komunikasi verbal
6. Regurgitasi makanan
Pada Labio skisis
a. Distorsi pada hidung
b. Tampak sebagian atau keduanya
c. Adanya celah pada bibir
Pada Palato skisis
a. Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen incisive.
b. Ada rongga pada hidung.
c. Distorsi hidung
d. Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan jari.
e. Kesukaran dalam menghisap/makan.
F. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada pasien dengan Labio palatoskisis adalah:
a. Kesulitan berbicara – hipernasalitas, artikulasi, kompensatori. Dengan adanya celah
pada bibir dan palatum, pada faring terjadi pelebaran sehingga suara yang keluar
menjadi sengau.
b. Maloklusi – pola erupsi gigi abnormal. Jika celah melibatkan tulang alveol, alveol ridge
terletak disebelah palatal, sehingga disisi celah dan didaerah celah sering terjadi erupsi.
c. Masalah pendengaran – otitis media rekurens sekunder. Dengan adanya celah pada
paltum sehingga muara tuba eustachii terganggu akibtnya dapat terjadi otitis media
rekurens sekunder.
d. Aspirasi. Dengan terganggunya tuba eustachii, menyebabkan reflek menghisap dan
menelan terganggu akibatnya dapat terjadi aspirasi.
e. Distress pernafasan. Dengan terjadi aspirasi yang tidak dapat ditolong secara dini, akan
mengakibatkan distress pernafasan
f. Resiko infeksi saluran nafas. Adanya celah pada bibir dan palatum dapat
mengakibatkan udara luar dapat masuk dengan bebas ke dalam tubuh, sehingga kuman
– kuman dan bakteri dapat masuk ke dalam saluran pernafasan.
g. Pertumbuhan dan perkembangan terlambat. Dengan adanya celah pada bibir dan
palatum dapat menyebabkan kerusakan menghisap dan menelan terganggu. Akibatnya
bayi menjadi kekurangan nutrisi sehingga menghambat pertumbuhan dan
perkembangan bayi.
h. Asimetri wajah. Jika celah melebar ke dasar hidung “ alar cartilago ” dan kurangnya
penyangga pada dasar alar pada sisi celah menyebabkan asimetris wajah.
i. Penyakit peri odontal. Gigi permanen yang bersebelahan dengan celah yang tidak
mencukupi di dalam tulang. Sepanjang permukaan akar di dekat aspek distal dan medial
insisiv pertama dapat menyebabkan terjadinya penyakit peri odontal.
j. Crosbite. Penderita labio palatoschizis seringkali paroksimallnya menonjol dan lebih
rendah posterior premaxillary yang colaps medialnya dapat menyebabkan terjadinya
crosbite.
k. Perubahan harga diri dan citra tubuh. Adanya celah pada bibir dan palatum serta
terjadinya asimetri wajah menyebabkan perubahan harga diri da citra tubuh.
l. Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan jaringan
parut.
G. Penatalaksanaan
Tergantung pada beratnya kecacatan. Penatalaksanaan pada pasien labiopalatoskisis
diantaranya adalah:
c) Perkembangan sensoris
1. Usia 0 -1 bulan
a. Membedakan rasa manis dan asam
b. Menari diri dari stimulus yang menyakitkan
c. Membedakan bau, mampu mendeteksi bau ibu
d. Memalingkan kepala dari bau yang tidak disukai
e. Membedakan bunyi berdasarkan perbedaan nada, frekuensi dan durasi
f. Berespon terhadap penurunan cahaya
g. Mudah melacak objek tetapi mudah juga kehilangan objek tersebut
h. Lebih berfokus pada wajah manusia dibandingkan benda – benda lain yang ada
dalam satu lapang pandang
i. Mempunyai ketajaman penglihatan 20 / 40, mampu berfokus pada objek yang
berada pada jarak 20 cm
j. Terdiam jika mendengar bunyi suara
2. Usia 1 – 4 bulan
a. Membedakan wajah dan suara ibu
b. Menunjukkan pelacakan visual yang akurat
c. Membeda-bedakan antar pola penglihatan
d. Membeda-bedakan wajah yang dikenal dan tidak kenal
3. Usia 4 – 8 bulan
a. Berespon terhadap perubahan warna
b. Mengikuti objek dari garis tengah ke samping
c. Mengikuti objek dari berbagi arah
d. Mencoba mencari sumber bunyi
e. Berusaha mengkoordinasikan tangan – mata
f. Indera penciuman sudah berkembang dengan baik
g. Mencapai batas ketajaman penglihatan dewasa
h. Berespon terhadap suara yang tidak terlihat
4. Usia 8 – 12 bulan
a. Persepsi ke dalam telah meningkat
b. Mengenali namanya sendiri
d) Perkembangan kognitif
1. Usia 0 -1 bulan
a. Perilaku involunter
b. Refleksif primer
c. Orientasi autistik
d. Tidak ada konsep baik diri sendiri maupun orang lain
2. Usia 1 – 4 bulan
a. Perilaku reflektif secara bertahap diagantikan gerakan volunter
b. Aktifitas berpusat di sekitar tubuh
c. Membuat usaha awal untuk mengulang atau menirukan tindakan
d. Banyak menunjukkan perilaku trial dan error
e. Berusaha memodifikasi perilaku sebagai respon terhadap berbagai stimulus
(menghisap payudara vs botol)
f. Menunjukkan orientasi simbolitik
g. Tidak mampu membedakan diri sendiri dan orang lain
h. Terlibat dalam suatu aktifitas, karena aktifitas tersebut menyenangkan
3. Usia 4 – 8 bulan
a. Menunjukkan pengulangan tindakan yang bertujuan
b. Menunjukkan keinginan berperilaku untuk mencapai tujuan
c. Menentukan perbedaan intensitas (suara dan penglihatan)
d. Menunjukkan tindakan sederhana
e. Menunjukkan permulaan objek permanent
f. Antisipasi kejadiaan – kejadian di masa akan datang (makan)
g. Menunjukkan kesadaran bahwa diri sendiri terpisah dengan orang tua
4. Usia 8 – 12 bulan
a. Mengantisipasi kejadian sebagai suatu yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan
b. Menunjukkan tingkat kegawatan pada kesengajaan perilaku
c. Menunjukkan perilaku – perilaku yang mengarah pada tujuan
d. Membuktikan kepermanenan objek
e. Mencari objek – objek yang hilang
f. Dapat mengikuti sejumlah besar tindakan
g. Memahami dari kata – kata dan perintah sederhana
h. Menghubungkan sikap dan perilaku dengan symbol
i. Menjadi lebih mandiri dan figur keibuan
e) Perkembangan bahasa
1. Usia 0 -1 bulan
a. Mendengkur
b. Membuat suara tanpa huruf hidup
c. Membuat suara merengek ketika sedang kesal
d. Membuat suara berdeguk ketika sedang kenyang
e. Tersenyum sebagai respon terhadap pembicaraan orang dewasa
2. Usia 1 -4 bulan
a. Bersuara dan tersenyum
b. Dapat membuat bunyi huruf hidup
c. Bersuara
d. Berceloteh
3. Usia 4 -8 bulan
a. Menggunakan vokalisasi yang semakin banyak
b. Menggunakan kata – kata yang terdiri dari 2 suku kata (buu – buu)
c. Dapat membuat dan bunyi vokal bersamaan
4. Usia 8 -12 bulan
a. Mengucapkan kata – kata pertama
b. Menggunakan bunyi untuk mengidentifikasikan objek, orang dan aktifitas
c. Menirukan berbagai bunyi kata
d. Mengucapkan serangkaian suku kata
e. Memahami arti larangan misal : “ jangan “
f. Berespon terhadap panggilan dan orang – orang yang mirip anggota keluarga
g. Menunjukkaninfleksi kata – kata yang nyata
h. Menggunakan 3 kosa kata
i. Menggunakan kalimat satu kata
f) Perkembangan psikoseksual (Tahap oral)
1. Berfokus pada tubuh – mulut
2. Tugas perkembangan – gratifikasi kebutuhan dasar (makanan, kehangatan dan
kenyamanan)
3. Krisis perkembangan dan penyapihan; bayi dipaksa untuk menghentikan
kesenangannya untuk minum ASI / menyusu dari botol
4. Keterampilan koping yang umum – menghisap, menangis, mendengkur, berceloteh,
memukul dan bentuk perilaku lainnya sebagai respon iritan
5. Kebutuhan seksual – menggeneralisasikan sensasi tubuh yang
[Link] berfokus pada kebutuhan oral, bayi mendapat
kesenangan fisik dari digendong, ditimang, diayun
6. Bermain – stimultan taktil diberikan melalui aktifitas pengasuhan
g) Perkembangan psikososial
1. Tugas perkembangan – perkembangan rasa percaya terhadap pemberian asuhan
primer
2. Krisis perkembangan – disapih dari ASI / susu botol
3. Bermain – interaksi dengan pemberi asuhan. Membentuk dasar – dasar
perkembangan hubungan di kemudian hari
4. Peran orang tua – bayi merumuskan sikap dasar terhadap kehidupan berdasarkan
pengalamannya bersama orang tua. Orang tua dapat dianggap sebagai sebagai
seorang yang dapat dipercaya, konsisten, selalu ada dan penyayang
h) Perilaku social
1. Usia 0 -1 bulan
a. Bayi tersenyum tanpa membeda -bedakan
2. Usia 1 – 4 bulan
a. Tersenyum pada wajah manusia
b. Waktu tidur dalam sehari lebih sedikit daripada waktu terjaga
c. Membentuk siklus tidur bangun
d. Menangis menjadi sesuatu yang berbeda
e. Membeda – bedakan wajah yang dikenal dan tidak dikenal
f. Senang menatap wajah – wajah yang dikenalnya
g. Diam saja jika ada orang asing
3. Usia 4 – 8 bulan
a. Merasa terpaksa jika ada orang asing
b. Mulai bermain dengan mainan
c. Takut akan kehadiran orang asing
d. Mudah frustasi
e. Memukul - mukul lengan dan kaki jika sedang kesal
4. Usia 8 -12 bulan
a. Bermain permainan sederhana (cilukba)
b. Menangis jika dimarahi
c. Membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh
d. Menunjukkan peningkatan ansietas terhadap perpisahan
e. Lebih menyukai menyukai figure pemberi asuhan daripada orang dewasa lainnya
f. Mengenali anggota keluarga
I) Perkembangan moral
Perkembangan moral tidak dimulai sampai usia toddler, ketika kognitif awal sudah muncul
Perkembangan kepercayaan (tahap tidak membedakan)
Rasa percaya dan interaksi dengan pemberi asuhan membentuk dasar untuk
perkembangan kesetiaan selanjutnya
PENGKAJIAN PRE OP
a) Identitas : biasanya ditemukan sejak usia bayi atau sebelumnya (prenatal)
b) Keluhan utama : bayi sulit untuk menyusu (ASI keluar lewat hidung)
c) Riwayat penyakit sekarang : terdapat celah pada bibir, palatum atau keduanya
d) Riwayat penyakit dahulu :
Kehamilan : apakah ibu pernah mengalami trauma pada kehamilan Trimester I, nutrisi
ibu yang kurang saat hamil, obat-obat yang pernah dikonsumsi oleh ibu dan apakah ibu
pernah stress saat hamil, apakah ibu sorang perokok
e) Riwayat psikososial : Orang tua menyatakan tidak dapat merawatnya.
f) Imunisasi : Nama, Jumlah dosis, usia saat diberikan
g) Riwayat kesehatan keluarga :
Apakah orang tua memiliki kelainan kromosom, apakah di dalam keluarga ada yang
menderita CLP, apakah ada anggota keluarga di rumah yang merokok.
h) Pola fungsional kesehatan:
1. Pola Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
a) Riwayat penatalaksanaan kesehatan yang biasa dilakukan.
b) Obat-obat yang biasa dikonsumsi ( tanpa resep, dengan resep, obat terakhir)
c) Sumber pelayanan/ perawatan
d) Persepsi kondisi sehat sakit
e) Kebiasaan yang merugikan kesehatan
2. Pola Pemenuhan Nutrisi
Sebelum sakit : frekuensi, menu sehari-hari, makanan yang disuka
3. Pola Eliminasi:
Kebiasaan BAB
Sebelum sakit : frekuensi, karakteristik feces, waktu, pengunaan
obat pencahar
Kebiasaan BAK
Sebelum sakit : frekuensi, waktu, karakteristik urin
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan bayi lelah menghisap, intake
makanan dan minuman pada anak tidak adekuat.
2. Risiko aspirasi berhubungan dengan gangguan menelan.
3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit.
4. Risiko infeksi berhubungan dengan aspirasi ke dalam saluran pernapasan dan
masuknya cairan ke saluran telinga
5. Resiko perubahan perilaku orang tua yang berhubungan dengan cacat fisik yang sangat
nyata pada bayi.
6. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan teknik pemberian makan, dan
perawatan dirumah
Tujuan : bayi dapat terpenuhi nutrisinya secara adekuat setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ....x24 jam
Kriteria hasil :
Nutrisi bayi terpenuhi
Mempertahankan BB dalam batas normal.
Bayi dapat tidur nyenyak
Intervensi :
1. Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.
R/ Memberikan informasi sehubungan dgn keb nutrisi & keefektifan terapi.
2. Gunakan dot botol yang lunak yang besar, atau dot khusus dengan lubang yang
sesuai untuk pemberian minum
R/ Untuk mempermudah menelan dan mencegah aspirasi.
3. Tepuk punggung bayi setiap 15ml 30ml minuman yang diminum, tetapi jangan
diangkat dot selama bayi menghisap.
R/ Karena cenderung menelan banyak udara dan mencegah cedera pada bayi
4. Monitor atau mengobservasi kemampuan menelan dan menghisap.
R/ Untuk mengetahui kemampuan menelan dan menghisap pada bayi.
5. Berikan makan pada anak sesuai dengan jadwal dan kebutuhan
R/ Mempertahankan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi
6. Mempertahankan nutrisi adekuat
R/ Nutrisi yang adekuat dapat mempertahankan atau menambah berat badan
bayi
7. Kaji kemampuan menelan dan menghisap
R/ Bila kemampuan menelan dan menghisap baik maka nutrisi yang masuk
dapat terpenuhi.
8. Tempatkan dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah mendorong
makan/minuman kedalam
R/ Posisi tempat dot yang tepat mencegah resiko aspirasi dan memberikan
kenyamanan posisi pada bayi.
Intervensi:
1. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk mengekspresikan perasaan mereka.
R/ untuk mendorong koping keluarga
2. Perlihatkan perilaku menerima bayi dan keluarganya
R/ karena orang tua sensitive terhadap perilaku afektif anaknya
3. Tunjukkan dengan perilaku bahwa anak adalah manusia yang berharga
R/ untuk mendorong penerimaan bayi cacat fisik.
Betz, cecily, dkk. 2002. Buku saku keperawatan pediatrik. Jakarta: EGC
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar ilmu keperawatan anak. Jakarta: Salemba Medika