Praktik Dumping dalam Perdagangan Internasional
Praktik Dumping dalam Perdagangan Internasional
PENDAHULUAN
1
BAB II
PEMBAHASAN
2
sehingga akhirnya dapat menguasai pasaran luar negeri dan dapat menguasai harga
kembali).
Muhammad Ashri menyebutkan dumping adalah suatu persaingan curang dalam
bentuk diskriminasi harga, yaitu suatu produk yang ditawarkan di pasar Negara lain lebih
rendah dibandingkan dengan harga normalnya atau dari harga jual di Negara ketiga.
Pengertian dumping dalam konteks hukum perdagangan internasional adalah suatu bentuk
diskriminasi harga internasional yang dilakukan oleh sebuah perusahaan atau negara
pengekspor, yang menjual barangnya dengan harga yang lebih rendah di pasar luar negeri
dibandingkan di pasar dalam negeri sendiri, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan
atas produk ekspor tersebut.
Berdasarkan ketentuan dan pengertian tentang dumping tersebut di atas dapat
disebutkan bahwa unsur unsur dumping adalah :
1. adanya penjualan suatu jenis barang di luar negeri (ekspor)
2. harga jenis barang yang dijual di luar negeri lebih rendah dari pada harga jenis barang
di dalam negeri (negara pengimpor)
3. adanya kerugian (injury) bagi produsen dalam negeri yang memproduksi
barang sejenis.
4. adanya hubungan (causal link) antara dumping yang dilakukan dengan akibat
injury yang terjadi.
Pada dasarnya dumping tidak dilarang dalam perdagangan internasional, tetapi jika
menimbulkan kerugian pada pihak lain, dapat dilawan dengan aturan negara tersebut
berupa tindakan anti dumping. Article VI GATT mengatur bahwa suatu negara anggota
diperkenankan mengenakan tindakan antidumping apabila barang impor tersebut
mengandung dumping dan menimbulkan kerugian bagi industri dalam negeri. Praktik
dumping merupakan tindakan yang sangat merugikan perekonomian suatu negara dan bisa
mematikan industri dalam negeri. Globalisasi perdagangan semakin menuntut kesiapan
setiap negara untuk bersaing secara sehat dan terbuka.
3
2.3. Komite Anti-Dumping
Untuk menangani masalah dumping dan imbalan, pemerintah dalam hal ini mentri
perindustrian dan perdagangan membentuk komite anti dumping (KADI) yang
beranggotakan unsur deperindag, depkeu dan depertemen atau lembaga non depertemen
terkait lainnya.
Komite tersebut bertugas :
1. Melakukan penyelidikan terhadap barang dumping dan barang yang mengandung
subsidi.
2. Mengumpulkan, meneliti dan mengelola bukti dan informasi.
3. Mengusulkan pengenaan bea masuk anti dumping dan bea masuk imbalan
4. Melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh mentri perindustrian dan perdagangan
5. Membuat laporan pelaksanaan tugas.
6. Penjelasan Bea Masuk Anti dumping dikenakan terhadap barang dumping yang
menyebabkan kerugian bagi industri dalam negeri. Besarnya Bea Masuk Anti
dumping adalah setinggi-tingginya sama dengan margin dumping yaitu selisih antara
nilai normal dengan harga ekspor dari barang dumping. Nilai normal adalah harga
yang sebenarnya dibayar atau akan dibayar untuk barang sejenis di pasar domestik
negera pengekspor untuk tujuan konsumsi.
4
sebanyak banyaknya, maka pengusaha menempuh strategi persaingan harga dengan
menekan harga serendah mungkin untuk barang sejenis dengan perusahaan lain. Praktik
dumping dalam perdagangan internasional merupakan praktik dagang yang tidak fair yang
dipandang sebagai perbuatan curang, yaitu merupakan persaingan yang tidak jujur (unfair
competition).
Menurut Daniel Suryana, praktik dumping merupakan praktik dagang yang tidak fair
karena bagi negara pengimpor, praktik dumping akan menimbulkan kerugian bagi dunia
usaha, atau industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir barang barang
dari pengekspor yang harganya jauh lebih murah dari pada barang dalam negeri akan
mengakibatkan barang sejenis kalah bersaing, sehingga pada akhirnya akan mematikan
pasar barang sejenis dalam negeri, yang diikuti munculnya dampak ikutannya, seperti
pemutusan hubungan kerja massal, pengangguran, dan bangkrutnya industri sejenis dalam
negeri.
Dalam praktik dumping ada penyerahan barang bergerak dari eksportir ke importir
(Negara yang memproduksi barang sejenis) yaitu terjadi penyerahan nyata sebagaimana
diatur dalam artikel Civil Code.
Dalam praktik perdagangan internasional dumping ada beberapa jenis, dan oleh para
ahli ekonomi pada umumnya dapat diklasifikasikan atas 3 (tiga) jenis, yaitu.
1. Sporadic Dumping (Dumping yang bersifat sporadis)
Dumping yang dilakukan dengan menjual barang pada pasar luar negeri (Pasar
ekspor) pada jangka waktu yang pendek dengan harga dibawah harga dalam
negeri negara pengekspor atau biaya poduksi barang tersebut. Biasanya produsen
menjual barang untuk jangka waktu yang pendek dengan harga jual dibawah harga
biasa sering dimaksudkan untuk menghapuskan barang yang tidak diinginkan,
dumping jenis itu biasanya mengganggu pasar domestik negara pengesport karena
adanya ketidakpastian dikarenakan permintaan diluar negeri berubah secara tiba-
tiba. Dumping jenis tersebut merupakan diskriminasi harga pada waktu tertentu
yang dilakukan oleh produsen yang mempunyai keuntungan karena terjadi over
produksi (karena perubahan dalam pasar dalam negeri yang tidak terantisipasi
atau buruknya perencanaan produksi), untuk mencegah penumpukan barang di
pasar domestik produsen menjual kelebihan produksinya tadi kepada pembeli luar
negeri dengan harga yang telah direduksi sehingga harganya menjadi lebih rendah
dari harga didalam negeri.
2. Persistent Dumping (Diskriminasi harga internasional)
Penjualan barang pada pasar luar negeri dengan harga di bawah harga domestik
atau biaya produksi yang dilakukan secara menetap dan terus menerus yang
merupakan kelanjutan dari penjualan barang yang dilakukan sebelumnya.
Penjualan tersebut dilakukan oleh produsen barang yang mempunyai pasar secara
monopolistik di dalam negeri dengan maksud untuk memaksimalkan total
keuntungannya dengan menjual barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi
dalam pasar domestiknya. Dumping yang menetap itu terjadi dalam masa yang
lama dan terjadi karena perbedaan keadaan pasar di negara importir dan negara
eksportir.
5
Dumping dapat disebut sebagai diskriminasi harga berarti menjual barang yang
sama dengan harga berbeda pada pasar-pasar yang terpisah. Hal ini biasanya
sejalan dengan suatu posisi monopoli di pasar dalam negeri yang bersangkutan,
pembentukan kartel dan atau biaya yang melindungi terhadap import yang lebih
murah, dapat juga diartikan sebagai penawaran di luar negeri dengan harga di
bawah biaya produksi pada negara yang mengekspor.
3. Predatory Dumping
Predatory Dumping terjadi apabila perusahaan untuk sementara waktu membuat
diskriminasi harga tertentu sehubungan dengan adanya para pembeli hasil,
diskriminasi itu untuk menghilangkan pesaing-pesaingnya dan kemudian menaikan
lagi harga barang nya setelah persaingan tidak ada. Predatory dumping adalah
dumping yang paling buruk karena dumping itu dipraktikan hanya untuk tujuan
merebut keuntungan monopoli dan membatasi perdagangan untuk jangka waktu
yang lama meskipun hal itu menyebabkan kerugian jangka pendek.
Disamping jenis dumping tersebut dalam perkembanganya muncul istilah Diversinary
Dumping dan Downstream Dumping. Diversinary Dumping adalah dumping yang dilakukan
oleh produsen luar negeri yang menjual barangnya ke dalam pasar negara ketiga dengan
harga di bawah yang adil dan barang tersebut nantinya diproses dan dikapalkan untuk
dijual ke pasar negara lain, sedangkan Downstream Dumping adalah dumping yang
dilakukan apabila produsen luar negeri menjual produknya dengan harga di bawah harga
normal kepada produsen yang lain di dalam pasar dalam negerinya dan produk tersebut
diproses lebih jauh dan dikapalkan untuk dijual kembali ke pasar negara lain.
Menurut Robert Willig ada 5 (lima) tipe dumping yang dilihat dari tujuan eksportir
kekuatan pasar dan struktur pasar import, yaitu:
1. Market Expansion Dumping
Perusahaan pengekspor bisa meraih untung dengan menetapkan ”mark-up” yang
lebih rendah di pasar import karena menghadapi elastisitas permintaan yang lebih
besar selama harga yang ditawarkan rendah.
2. Cyclical Dumping
Motivasi dumping jenis ini muncul dari adanya biaya marginal yang luar biasa
rendah atau tidak jelas, kemungkinan biaya produksi yang menyertai kondisi dari
kelebihan kapasitas produksi yang terpisah dari pembuatan produk terkait.
3. State Trading Dumping
Latar belakang dan motivasinya mungkin sama dengan kategori dumping lainnya,
tetapi yang menonjol adalah akuisisi moneternya.
4. Strategic Dumping
Istilah ini diadopsi untuk menggambarkan ekspor yang merugikan perusahaan
saingan di negara pengimpor melalui strategis keseluruhan negara pengekspor,
baik dengan cara pemotongan harga ekspor maupun dengan pembatasan
masuknya produk yang sama ke pasar negara pengekspor. Jika bagian dari porsi
pasar domestik tiap eksportir independen cukup besar dalam tolok ukur skala
ekonomi, maka memperoleh keuntungan dari besarnya biaya yang harus
dikeluarkan oleh pesaing pesaing asing.
6
5. Predatory Dumping
Istilah predatory dumping dipakai pada ekspor dengan harga rendah dengan
tujuan mendepak pesaing dari pasar, dalam rangka memperoleh kekuatan
monopoli di pasar negara pengimpor. Akibat terburuk dari dumping jenis ini
adalah matinya perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang sejenis.
10
2.9. Instrumen Yang digunakan Untuk Melindungi Industri Dalam Negeri Dari Praktik
Dumping
1. Anti Dumping
Mengenai Anti-dumping dapat dilihat pengaturannya dalam GATT-WTO dan
pengaturan dalam hukum nasional.
a) Pengaturan Anti- Dumping Dalam GATT-WTO.
Negara negara GATT pada saat berlakunya Persetujuan Pembentukan WTO
menjadi “Original Members” WTO sepanjang sudah memenuhi persyaratan
mengenai komitmen dan konsesi. Negara yang menjdi anggota WTO tentu saja
wajib menerima Persetujuan Pembentukan WTO dan persetujuan persetujuan
yang menjadi lampirannya, yang dalam hal ini adalah GATT, GATS (General
Agreement on Trade in Servises), dan TRIPs (Agreement on Trade Related of
Intellectual Property Rights), atau secara keseluruhan disebutkan persetujuan
perdagangan multilateral (Multilateral Trade Agreements). Indonesia adalah
salah satu anggota “Original Members” dari WTO Cerminan dari diterimanya
hasil hasil Putara Uruguay oleh Bangsa Indonesia adalah pengesahan
keikutsertaan Indonesia dalam WTO dengan dikeluarkannya Undang-Undang
No. 7 tahun 1994 pada tanggal 2 Nopember 1994. Sudah jelas bahwa
keikutsertaan Indonesia dalam WTO dan pelaksanaan berbagai komitmen yang
disampaikan tidaklah terlepas dari rangkaian kebijaksanaan disektor
perdagangan khususnya perdagangan luar negeri. Dalam perdagangan luar
negeri atau perdagangan internasional pengusaha untuk dapat merebut
konsumen sebanyak mungkin, sering menempuh strategi persaingan harga
(price competition), yaitu dengan menekan harga serendah mungkin untuk
barang sejenis dengan perusahaan lainnya. Perbuatan tersebut dipandang
sebagai perbuatan curang, karena melakukan suatu perbuatan dalam bentuk
persaingan yang tidak jujur (unfair competition).
Dalam perdagangan internasional perbuatan curang tersebut dikenal sebagai
praktik dumping, yaitu merupakan praktik dagang yang tidak fair, karena bagi
negara pengimpor, praktik dumping akan menimbulkan kerugian bagi dunia
usaha atau industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir
barang barang dari pengekspor yang harganya jauh lebih murah dari pada
harga barang dalam negeri. Hal tersebut akan mengakibatkan barang sejenis
kalah saing, sehingga akan mematikan pasar barang sejenis dalam negeri, dan
pada akhirnya adalah industri barang sejenis dalam negeri menjadi bangkrut.
Untuk melindungi industri dalam negeri dari praktik dumping, maka dikeluarkan
peraturan antidumping yang merupakan salah satu perhatian khusus Indonesia
terhadap hasil putaran Uruguay. Peraturan antidumping terdapat dalam
Persetujuan Anti-Dumping GATT, yaitu pada article VI dari GATT 1994 yang
terdiri dari 7 (tujuh) ayat.
Persetujuan atas implementasi Article VI GATT dikenal sebagai Anti Dumping
Agreement (ADA) di mana menyediakan perluasan lebih lanjut atas prinsip
prinsip dasar dalam Article VI GATT itu sendiri, memerintahkan investigasi,
ketentuan, dan aplikasi bea antidumping. Dalam article VI GATT 1994, para
11
anggota WTO dapat membebankan/mengenakan antidumping measures jika
setelah investigasi sesuai dengan persetujuan, suatu ketentuan dibuat, yaitu:
a. bahwa dumping sedang terjadi,
b. bahwa industri domestik memproduksi produk yang sama (like product) di
negara pengimpor mendapatkan/memperoleh material injury, dan
c. bahwa ada suatu hubungan sebab akibat (causal link) antara keduanya.
b) Pengaturan Anti-Dumping Dalam Hukum Nasional
Pengaturan anti dumping dalam hukum nasional Indonesia sebagai tindak
lanjut dari ratifikasi Pesetujuan Pembentukan WTO melalui Undang-Undang
No. 7 tahun 1994 ternyata sampai saat ini belum ada pengaturannya secara
khusus dalam satu peraturan yang berbentuk undang-undang. Pengaturan anti
dumping dalam hukum nasional Indonesia tersebar dalam Peraturan
Perundang-undangan, Peraturan Pemerintah, dan produk produk hukum
lainnya yang terkait seperti Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan,
dan Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai sebagai berikut.
1. Undang-undang Nomor 7 tahun 1994 tentang pengesahan (ratifikasi)
Agreement Establishing the World Trade Organization. Dengan adanya
pengesahan tersebut maka persetujuan itu yang berisi 28 ketentuan telah
sah menjadi bagian dari peraturan nasional, dan sekaligus meratifikasi
pula Anti dumping Code tahun 1994 yang merupakan salah satu dari
Multilateral Trade Agreement.
2. Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan yang telah
diubah dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 17 tahun 2006
tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang
Kepabeanan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 1996 tentang Bea Masuk Anti
dumping dan Bea Masuk Imbalan.
4. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
261/MPP/Kep/9/1996 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permohonan
Penyelidikan Atas Barang Dumping dan atau Barang Mengandung Subsidi,
sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Nomor 216/MPP/Kep/7/2001 sebagai ketentuan hukum
acara (formal), dan ketentuan pembentukan Komite Anti Dumping
Indonesia (KADI) berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Nomor 427/MPP/Kep/10/2000 tentang Komite Anti
Dumping Indonesia, dan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Nomor 428/MPP/Kep/10/2000 tentang Penunjukan dan
Pengangkatan Anggota Komite Andi Dumping Indonesia serta Struktur
Kepegawaian Komite Anti Dumping Indonesia berdasarkan Keputusan
Ketua Komite Anti Dumping Indonesia Nomor 346/KADI/Kep/10/2000
tentang Penunjukan dan Pengangkatan Kepala Bidang dan Anggota di
Lingkungan Komite Anti Dumping Indonesia.
5. Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai Nomor SE-19/BC/1997 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Bea Masuk Anti Dumping/Sementara.
12
Peraturan peraturan tersebut dapat digunakan dalam penanganan kasus kasus
dumping di Indonesia, terutama untuk pelaksanaan persyaratan dan tata cara
pengenaan bea masuk anti-dumping dan bea masuk imbalan bagi produk
produk dari luar negeri yang masuk ke dalam negeri sebelum adanya undang
undang nasional yang secara khusus mengatur anti-dumping.
Indonesia dengan meratifikasi Agreement Establishing the World Trade
Organization dengan dikeluarkannya Undang undang No. 7 tahun 1994 tanggal
2 Nopember 1994, maka Indonesia harus mengimplementasikan 28
persetujuan yang telah sah menjadi bagian dari peraturan nasional. Hal ini
sesuai dengan teori Hukum Alam yang dikemukakan oleh Grotius yang
memaparkan ada 4 (empat) norma dasar yang terkandung dalam Hukum Alam,
yaitu.
1. Kita harus menjauhkan diri dari harta benda kepunyaan orang lain.
2. Kita harus mengembalikan harta kepunyaan orang lain yang berada di
tangan kita beserta hasil dari benda orang lain yang sudah kita nikmati.
3. Kita harus menepati janji janji yang kita buat.
4. Kita harus mengganti kerugian yang disebabkan oleh kesalahan kita, lagi
pula kita harus dihukum apabila perbuatan kita pantas disalahkan.
Berdasarkan teori Hukum Alam dari Grotius itu, maka janji-janji yang kita buat
kita harus menepatinya dengan mengimplementasikan kebijakan antidumping,
yaitu mengacu sepenuhnya kepada aturan WTO. Bila terbukti ada praktik
dumping dan kerugian, maka pihak yang menimbulkan kerugian itu harus
mengganti kerugian akibat pratik dumping yang dilakukan oleh eksportir, dan
Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) merekomendasikan pengenaan Bea
Masuk Anti Dumping (BMAD) sebesar margin dumping, yaitu selisih harga
ekspor dengan harga di pasar asal eksportir. Tetapi dalam penerapan ketentuan
anti dumping berdasarkan GATT-WTO, Peraturan Pemerintah No. 34 tahun
1996 ternyata kurang mengakomodasi semua ketentuan GATT-WTO tentang
anti dumping, sehingga perlu penafsiran penafsiran terutama mengenai harga
normal, kerugian (injury), dan causal link, sehingga kurang memberikan
kepastian hukum dan perlindungan bagi produsen dalam negeri.
Dalam upaya untuk melindungi industri dalam negeri dari praktik dumping, oleh
karena Indonesia telah meratifikasi Agreement Establishing the World Trade
Organization, maka ada suatu perjanjian atau kontrak di antara negara negara
yang meratifikasi untuk menerapkan persetujuan persetujuan yang telah
disepakati itu. Hal ini dapat didasarkan pada teori kontrak sebagaimana
dikemukakan oleh Rudolf Von Jehring, bahwa kontrak tidak lain dari pada janji
(promise). Janji menurut Jehring memiliki kekuatan hukum, yaitu kekuatan
hukum yang tidak berasal dari hal hal di luar dari janji para pihak, tetapi dari
fungsi praktis (practical function) dari janji itu sendiri. Tanpa adanya kekuatan
mengikat dari janji itu, maka perjanjian itu menjadi tidak ada artinya dalam
hubungan bisnis. Konsekuensinya, hubungan bisnis hanya akan berlangsung di
antara pihak yang sudah benar-benar dikenal satu sama lainnya.
13
Daya kekuatan mengikat dari suatu perjanjian atau kontrak dapat dijelaskan
melalui beberapa teori, yaitu.
1. Teori Kehendak (Will Theory)
Menurut teori ini suatu kesepakatan mengikat karena memang
merupakan keinginan dari beberapa pihak yang menginginkan
kesepakatan itu mengikat. Para pihak sendirilah yang menyatakan sendiri
kehendaknya untuk mengikatkan diri.
2. Teori Persetujuan (Bargain Theory)
Teori ini merupakan pengingkaran dari teori pertama. Menurut teori ini
dasar mengikatnya suatu kontrak bukan kehendak dari para pihak, tetapi
persetujuan dari para pihak. Persetujuan yang telah dibuat oleh para
pihak mengikat sepanjang apa yang telah disepakati oleh para pihak
tersebut.
3. Teori kesetaraan (Equivalen Theory)
Menurut teori ini bahwa para pihak dalam kesepakatan tersebut telah
memberikan kesetaraan(kesamaan) bagi para pihak
4. Teori Kerugian (Injurious Reliance Theory)
Teori ini menyatakan bahwa para pihak terikat karena para pihak telah
menyatakan dirinya untuk mengandalkan pada pihak yang menerima janji
dengan akibat adanya kerugian. Dengan kata lain pelanggaran terhadap
kesepakatan akan menimbulkan kerugian.
Dari berbagai teori yang diuraikan di atas, tampaknya teori yang paling tepat
dan juga dianut di Indonesia adalah teori yang pertama, yaitu teori kehendak
(Will Theory) seperti yang diungkapkan oleh Subekti, bahwa perikatan yang
lahir dari perjanjian memang dikehendaki oleh dua orang atau dua pihak yang
membuat suatu perjanjian.
2. Subsidi
Subsidi dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan
kemakmuran negaranya, sehingga pada prinsipnya subsidi tidak dilarang, tetapi
perlu adanya pembatasan untuk mencegah timbulnya persimpangan yang justru
dapat menimbulkan kerugian bagi negara lain, karena persaingan akan berubah
menjadi tidak sehat (unfair) apabila produk yang di eksport tersebut memperoleh
keuntungan (benefit) yang diperoleh dari subsidi atau bantuan keuangan dari
pemerintah atau badan pemerintah, baik langsung ataupun tidak langsung kepada
perusahaan, industri atau eksportir. Dalam perdagangan internasional subsidi
merupakan suatu perbuatan yang tidak fair (unfair practices) yang dapat
merugikan pihak-pihak yang terkena perbuatan praktik subsidi.
Praktik subsidi mengeleminasi persaingan yang wajar dalam mekanisme pasar
sehingga dapat melumpuhkan iklim usaha yang competitive yang mengakibatkan
rusaknya tatanan hubungan dagang yang fair. Ketentuan yang mengatur masalah
subsidi ini dapat dilihat daam GATT dan dalam Agreement On Subsidies And
Countervailing Measure (persetujuan tentang subsidi-subsidi dan tindakan
balasan).
14
a) Ketentuan subsidi dalam GATT
GATT yang mengatur masalah pembatasan subsidi terdapat dalam article VI
dan article XVI. Article VI GATT 1947 mengatur tentang tindakan bea balasan
(countervailing duty) terhadap produk primer dan non primer. Kedua artikel
tersebut tidak ada yang mengatur batasan subsidi tersebut. Hanya dalam article
XVI GATT mengatur masalah subsidi secara umum.
Dari ketentuan tersebut terdapat adanya ketentuan yang memberi dan
mempertahankan subsidi yang meliputi berbagai upaya untuk menambah
penghasilan para produsen serta menekan harga produknya. Pemberian subsidi
untuk mendorong ekspor, baik langsung maupun tidak langsung dan pemberian
subsidi untuk mengurangi impor, dan ketentuan mengenai kewajiban
pemberitahuan subsidi yang maksudnya untuk melindungi industri dalam
negeri negara importir bagi subsidi produksinya dengan beberapa ketentuan,
yaitu pemberitahuan harus dilakukan secara tertulis, yaitu selain harus memuat
jumlah produk yang diberikan subsidi, juga nilai subsidinya dan keadaan-
keadaan yang dijadikan alasan diberikannya subsidi.
b) Ketentuan subsidi dalam Agreement On Subsidies And Countervailling Measures
(Persetujuan Tentang Subsidi-Subsidi Dan Tindakan Balasan)
Pengertian subsidi dalam Agreement On Subsidies And Countervailling
Measures (Persetujuan Tentang Subsidi-Subsidi Dan Tindakan Balasan) terdapat
dalam part 1 General Provisions, article 1.
Dari pengertian subsidi tersebut dapat disebutkan bahwa suatu subsidi
dianggap ada jika:
1. terdapat kontribsi financial oleh pemerintah, atau terdapat bentuk
pedapatan atau bantuan harga seperti yang tercantum dari pasal 16
persetujuan umm tentang tarif dan perdagangan 1924.
2. akibatnya diperoleh suatu keuntungan.
Subsidi merupakan keuntungan yang diperoleh industri atau produsen dari:
a. transfer dana langsung dari pemerintah (grants, pinjaman, atau saham),
atau jaminan pembayaran pinjaman oleh pemerintah.
b. Pendapatan pemerintah yang tidak dipungut.
Mengenai subsidi ini ada yang dilarang dan ada juga subsidi yang dapat
dikenakan tindakan (astionable subsidies). Subsidi ekspor dilarang jika subsidi
dikaitkan dengan kinerja ekspor dan dikaitkan dengan penggunaan kandungan
lokal, sedangkan subsidi yang dapat dikenakan tindakan, jika:
a. menyebabkan kerugian serius terhadap industri dalam negeri negara
importir
b. mengurangi keuntungan yang diperoleh dari konsensi tarif.
c. Pemerintah menyediakan barang/jasa/pembelian barang
Mengenai subsidi ini ada yang dilarang dan ada juga subsidi yang dapat
dikenakan tindakan (astionable subsidies). Subsidi ekspor dilarang jika subsidi
dikaitkan dengan kinerja ekspor dan dikaitkan dengan penggunaan kandungan
lokal, sedangkan subsidi yang dapat dikenakan tindakan, jika:
15
a. menyebabkan kerugian serius terhadap industri dalam negeri negara
importir
b. mengurangi keuntungan yang diperoleh dari konsensi tarif.
Disamping subsidi yang dapat dikenakan tindakan, juga ada subsidi yang tidak
dapat dikenakan tindakan, jika subsidi tersebut diberikan untuk:
a. penelitian oleh industri (tidak boleh lebih dari 75% dari biaya)
b. adaptasi fasilitas produksi dengan persyaratan-persayatan lingkungan
yang baru (hanya satu kali dan tidak lebih dari 20% dari biaya adaptasi)
c. pembangunan industri di wilayah tertinggal.
3. Safeguard
Pada saat krisis ekonomi global, dan untuk melindungi industri daam negeri agar
tetap eksis dan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), maka salah
satu instrument trade remedies yang sering digunakan oleh negara anggota WTO
adalah safeguard disamping dua instrument lainnya yaitu dumpig dan subsidi.
Safeguard adalah suatu tindakan pengamanan industri dalam negeri yang berupa
larangan import dan atau menaikan tariff atau menetapkan kuota selama periode
waktu tertentu. Tindkan ini dilakukan karena terjadinya kerugian serius (Serious
Injury) atau terancam kerugian serius (Threaten to cause serious injury) pada
industri dalam negeri yang disebabkan karena meningkatnya import dalam jumlah
yang besar secara tiba-tiba. Pada dasarnya produsen/eksportir mengekspor
produknya ke suatu negara tidak melakukan praktek perdagangan yang tidak
sehat namun produk yang di import dari berbagai negara tersebut secara
kuantitas melonjak secara dramatis baik secara absolut maupun relatif sehingga
produsen dalam negeri produk sejenis mengalami kerugian serius (serious Injury)
atau terancam kerugian serius (threaten to cause serious injury). Akibat dari
lojakan impor tersebut berdasarkan WTO Agreement diperkenankan untuk
diambil tindakan pemulihan yang dinamakan dengan tindakan safeguard
(safeguard measures).
Kesepakatan safeguards organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization)
adalah peraturan yang memuat prosedur dan tata cara melakukan tindakan
pengamanan (safeguard) oleh masing-masing negara anggota. Menurut keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 84 tahun 2002 tentang Tindakan Pengaman
Industri Dalam Negeri Dari Akibat Lonjakan Impor disebutkan tindakan
pengamanan adalah tindakan yang diambil pemeritah untuk memulihkan kerugian
serius dan atau mencegah ancaman kerugian serius dari industri dalam negeri
sebagai akibat dari lonjakan impor barang sejenis atau barang yang secara
langsung merupakan saingan hasil industri dalm negeri dengan tujuan agar
industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius dan atau ancaman kerugian
serius tersebut dapat melakukan penyesuaian struktural (pasal 1 angka 1).
Kerugian serius adalah kerugian nyata yang diderita oeh industri dalam negeri,
sedangkan ancaman kerugian serius adalah ancaman terjadinya kerugian serius
yang akan diderita dalam waktu dekat oleh industri dalam negeri. Penentuan
kerugian serius dan atas ancaman kerugian serius terhadap industri dalam negeri
akibat lonjakan import barang terselidik harus didasarkan kepada hasil analisis dari
16
seluruh faktor-faktor terkait secara obyektif dan terukur dari industri dalam
negeri.
Faktor-faktor tersebut dimaksud meliputi:
Tingkat dan besarnya lonjakan impor baik secara absolut ataupun relative
Perubahan tingkat penjualan
Produksi
Produktifitas
Pemanfaatan kapasitas
Keuntungan dan kerugian
Kesempatan kerja
Pangsa pasar dalam negeri, Dll.
Dalam kesepakatan Safeguard WTO di persyaratkan keharusan dilakukannya
penyelidikan sebelum tindakan safeguard tersebut ditetapkan. Adapun lembaga
yang berwenang untuk melakukan penyelidikan di indonesia adalah komite
pengaman perdagangan indonesia (KPPI). KPPI harus membuktikan bahwa
lonjakan barang impor mengakibatkan menurunnya kinerja atau mengancam akan
menurunkan kinerja industri dalam negeri kepada semua pihak yang terkait
dengan kasus tersebut harus diberitahu rencana penetapan tindakan safeguard
tersebut dan kepada para eksportir diberikan kesepakatan yang cukup waktunya
untuk memberikan pandangan atau pendapat mereka.
KPPI dalam melakukan penyelidikan dapat atas inisiatif sendiri atau atas
permohonan dari dunia usaha atau organisasi usaha / pekerja. Dalam pasal 8
Keputusan Presiden No. 84 tahun 2002 ditentukan penyelidikan yang dilakukan
oleh komite harus selesai dalam waktu 200 (dua ratus) hari sejak penetapan
dimulainya penyelidikan. (ayat 1).
Dalam hal hasil penyelidikan ternyata tidak ada bukti kuat yang menunjukan
industri dalam negeri mengalami kerugian serius dan atau ancaman kerugian
serius sebagai akibat dari lonjakan impor, komite menghentikan penyelidikan
tindakan pengamanan (pasal 7 ayat 1). Komite dapat merekomendasikan tindakan
pengamanan sementara dalam bentuk bea masuk, yaitu dalam hal (pasal 9
Keputusan Presiden No. 84 tahun 2002).
17
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Dumping adalah suatu bentuk diskriminasi harga, dimana misalnya seorang produsen
menjual pada dua pasar yang berbeda atau dengan harga-harga yang berbeda, karena adanya
penghalang tertentu antara pasar-pasar tersebut dan terdapat elastisitas permintaan yang
berbeda antara kedua pasar tersebut. untuk menangani masalah dumping dan imbalan,
pemerintah dalam hal ini mentri perindustrian dan perdagangan membentuk KOMITE ANTI
DUMPING (KADI) yang beranggotakan unsur deperindag, depkeu dan depertemen atau
lembaga non depertemen terkait lainnya.
Dampak dari praktek dumping iyalah menimbulkan kerugian bagi dunia usaha atau
industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir barang-barang dari pengekspor
yang harganya jauh lebih murah daripada barang dalam negeri akan mengakibatkan barang
sejenis kalah bersaing.
18
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
19