0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan19 halaman

Praktik Dumping dalam Perdagangan Internasional

Dokumen tersebut membahas tentang dumping, yaitu praktik menjual barang ke luar negeri dengan harga lebih rendah dari harga di dalam negeri. Dokumen menjelaskan pengertian dumping menurut berbagai sumber, ketentuan hukum yang mengatur dumping, dan komite yang bertugas menangani masalah dumping. Tujuan penulisan adalah agar pembaca memahami praktik dumping yang merupakan persaingan tidak sehat dan harus diatur oleh pemerintah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan19 halaman

Praktik Dumping dalam Perdagangan Internasional

Dokumen tersebut membahas tentang dumping, yaitu praktik menjual barang ke luar negeri dengan harga lebih rendah dari harga di dalam negeri. Dokumen menjelaskan pengertian dumping menurut berbagai sumber, ketentuan hukum yang mengatur dumping, dan komite yang bertugas menangani masalah dumping. Tujuan penulisan adalah agar pembaca memahami praktik dumping yang merupakan persaingan tidak sehat dan harus diatur oleh pemerintah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Globalisasi adalah integrasi negara dengan masyarakat didunia yang dimungkinkan
dengan menurunkan biaya transportasi dan komunikasi, serta hilangnya hambatan bagi
arus barang dan jasa, modal, pengetahuan dan orang antar negara. Proses globalisasi
dalam berbagai bidang serta perkembangan teknologi dan informasi menimbulkan gejala
penyatuan ekonomi semua negara dan bangsa. Terjadi hubungan saling ketergantungan
dan integrasi ekonomi nasional ke dalam ekonomi global. Proses itu terjadi secara
bersamaan dengan bekerjanya mekanisme pasar yang dijiwai persaingan. Tindakan
persaingan antara pelaku usaha tidak jarang mendorong dilakukannya persaingan curang,
baik dalam bentuk harga maupun bukan harga (price or nor price comeitition). Dalam
bentuk harga misalnya terjadi diskriminasi harga (price discrimination) yang dikenal dengan
istilah dumping. Dumping merupakan salah satu bentuk hambatan perdagangan yang
bersifat nontarif, berupa diskriminasi harga. Perbuatan melakukan praktek dumping
dianggap sebagai perbuatan yang tidak fair (unfair).

1.2. Rumusan Masalah


1. Menjelaskan pengertian dumping?
2. Menjelaskan mengapa dumping merupakan salah satu bentuk hambatan perdagangan
yang berupa diskriminasi harga?
3. Dasar hukum yang mengatur tentang dumping?
4. Komite yang terkait tentang dumping?
5. Menjelaskan ketentuan umum dalam dumping?
6. Menjelaskan jenis-jenis dumping?
7. Apa saja yang termasuk barang dumping?
8. Menjelaskan batas harga dumping?
9. Bagaimana motif dan dampak praktek dumping dalam perekonomian?
10. Apa saja instrumen yang digunakan untuk melindungi industri dalam negeri dari praktik
dumping?

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan dituliskannya paper tentang praktek dumping ini yaitu agar pembaca dapat
memahami benar praktik dumping, yang dimana dumping merupakan persaingan dalam
perdagangan yang tidak sehat serta merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh
pemerintah. Dalam hal ini untuk menciptakan pasar kompetatif dengan persaingan yang
sehat atau wajar.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Dumping


Sebagaimana diketahui bahwa semua negara anggota WTO telah sepakat untuk
menciptakan perdagangan dunia yang bebas, di mana semua hambatan perdagangan baik
yang berbentuk tarif maupun non tarif dihapuskan. Dengan adanya penghapusan
hambatan-hambatan perdagangan tersebut, maka arus barang dapat masuk ke semua
negara anggota dengan bebas. Indonesia merupakan salah satu negara anggota Organisasi
Perdagangan Dunia (The World Trade Organization), karena telah meratifikasi Agreement
Establishing the World Trade Organization sebagaimana diwujudkan dalam Undang undang
No. 7 tahun 1994 tentang Pengesahan Establishing The World Trade Organization
(Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). Sebagai Negara anggota WTO,
Indonesia harus mematuhi peraturan organisasi perdagangan dunia tersebut.
Konsekuensi dari perdagangan bebas tersebut menyebabkan persaingan dalam
merebut pasar menjadi semakinn ketat, dan kemungkinan praktik perdagangan yang tidak
sehat (unfair trade practices) dapat terjadi. Dalam kaitannya dengan perdagangan
internasional banyak praktik perdagangan yang tidak sehat, dan yang paling banyak terjadi
adalah masalah dumping, karena praktik dumping dapat menimbulkan kerugian yang
cukup besar bagi industri dalam negeri, dan secara lebih luas lagi dapat memukul dunia
usaha suatu negara tempat praktik dumping itu terjadi.
Dumping merupakan strategi penetapan harga ekspor suatu barang lebih rendah dari
harga jual produk tersebut di dalam negerinya (nilai normal) yang dilakukan oleh
perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan pangsa pasar, memperluas pasar, atau
tujuan lainnya. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W. J. S. Poerwadarminta
disebutkan, dumping adalah menjual barang ke negeri lain dengan harga yang lebih murah
dari pada di negeri sendiri. Menurut Sumadji P, Yudha Pratama dan Rosita, dumping adalah
politik ekonomi yang dilakukan suatu negara untuk menjual hasil produksinya di luar negeri
dengan harga lebih murah daripada penjualan dalam negeri, dengan tujuan menguasai
pasaran luar negeri.
Menurut Kamus Lengkap Perdagangan Internasional, dumping adalah penjualan
suatu komuditi di suatu pasar luar negeri pada tingkat harga yang lebih rendah dari nilai
yang wajar, biasanya dianggap sebagai tingkat harga yang lebih rendah dari pada tingkat
harga di pasar domestiknya, atau negara ketiga, sedangkan menurut Kamus Hukum
Ekonomi, dumping adalah praktik dagang yang dilakukan eksportir dengan menjual
komuditi di pasaran internasional dengan harga kurang dari nilai yang wajar, atau lebih
rendah dari pada harga barang tersebut di negerinya sendiri, atau dari pada harga jual
kepada negara lain, pada umumnya, praktik ini dinilai tidak adil karena dapat merusak
pasar dan merugikan produsen pesaing di negara pengimpor.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kedua) disebutkan, dumping adalah
sistem penjualan barang di pasaran luar negeri dalam jumlah banyak dengan harga yang
rendah sekali (dengan tujuan agar harga pembelian di dalam negeri tidak diturunkan

2
sehingga akhirnya dapat menguasai pasaran luar negeri dan dapat menguasai harga
kembali).
Muhammad Ashri menyebutkan dumping adalah suatu persaingan curang dalam
bentuk diskriminasi harga, yaitu suatu produk yang ditawarkan di pasar Negara lain lebih
rendah dibandingkan dengan harga normalnya atau dari harga jual di Negara ketiga.
Pengertian dumping dalam konteks hukum perdagangan internasional adalah suatu bentuk
diskriminasi harga internasional yang dilakukan oleh sebuah perusahaan atau negara
pengekspor, yang menjual barangnya dengan harga yang lebih rendah di pasar luar negeri
dibandingkan di pasar dalam negeri sendiri, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan
atas produk ekspor tersebut.
Berdasarkan ketentuan dan pengertian tentang dumping tersebut di atas dapat
disebutkan bahwa unsur unsur dumping adalah :
1. adanya penjualan suatu jenis barang di luar negeri (ekspor)
2. harga jenis barang yang dijual di luar negeri lebih rendah dari pada harga jenis barang
di dalam negeri (negara pengimpor)
3. adanya kerugian (injury) bagi produsen dalam negeri yang memproduksi
barang sejenis.
4. adanya hubungan (causal link) antara dumping yang dilakukan dengan akibat
injury yang terjadi.
Pada dasarnya dumping tidak dilarang dalam perdagangan internasional, tetapi jika
menimbulkan kerugian pada pihak lain, dapat dilawan dengan aturan negara tersebut
berupa tindakan anti dumping. Article VI GATT mengatur bahwa suatu negara anggota
diperkenankan mengenakan tindakan antidumping apabila barang impor tersebut
mengandung dumping dan menimbulkan kerugian bagi industri dalam negeri. Praktik
dumping merupakan tindakan yang sangat merugikan perekonomian suatu negara dan bisa
mematikan industri dalam negeri. Globalisasi perdagangan semakin menuntut kesiapan
setiap negara untuk bersaing secara sehat dan terbuka.

2.2. Dasar Hukum


Dumping:
1. UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun
1996 tentang Bea Masuk
2. Peraturan Pemerintah no. 34 tahun 1996 tentang Bea Masuk Anti Dumping Dan Bea
Masuk Imbalan.
3. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 430/MPP/9/1999 tentang
Komite Anti Dumping Indonesia Dan Tim Operasional Anti Dumping
4. Surat Edaran Dirjen Bea dan No. SE-19/BC/1007 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemungutan Bea Masuk Anti Dumping/Sementara.
Anti Dumping:
1. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 430/MPP/Kep/9/1999
tentang Komite Antidumping Indonesia dan Tim Operasional Antidu
2. Surat Edaran Dirjen Bea dan No. SE-19/BC/1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemungutan Bea Masuk Anti Dumping/Sementara

3
2.3. Komite Anti-Dumping
Untuk menangani masalah dumping dan imbalan, pemerintah dalam hal ini mentri
perindustrian dan perdagangan membentuk komite anti dumping (KADI) yang
beranggotakan unsur deperindag, depkeu dan depertemen atau lembaga non depertemen
terkait lainnya.
Komite tersebut bertugas :
1. Melakukan penyelidikan terhadap barang dumping dan barang yang mengandung
subsidi.
2. Mengumpulkan, meneliti dan mengelola bukti dan informasi.
3. Mengusulkan pengenaan bea masuk anti dumping dan bea masuk imbalan
4. Melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh mentri perindustrian dan perdagangan
5. Membuat laporan pelaksanaan tugas.
6. Penjelasan Bea Masuk Anti dumping dikenakan terhadap barang dumping yang
menyebabkan kerugian bagi industri dalam negeri. Besarnya Bea Masuk Anti
dumping adalah setinggi-tingginya sama dengan margin dumping yaitu selisih antara
nilai normal dengan harga ekspor dari barang dumping. Nilai normal adalah harga
yang sebenarnya dibayar atau akan dibayar untuk barang sejenis di pasar domestik
negera pengekspor untuk tujuan konsumsi.

2.4. Ketentuan Umum


a. Bea Masuk Anti Dumping
Bea Masuk Anti dumping dikenakan terhadap barang dumping yang menyebabkan
kerugian bagi industri dalam negeri. Besarnya Bea Masuk Antidumping adalah
setinggi-tingginya sama dengan margin dumping yaitu selisih antara nilai normal
dengan harga ekspor dari barang dumping. Nilai normal adalah harga yang
sebenarnya dibayar atau akan dibayar untuk barang sejenis di pasar domestik negera
pengekspor untuk tujuan konsumsi.
b. Bea Masuk Imbalan
Bea Masuk Imbalan dikenakan terhadap barang yang mengandung subsidi yang
menyebabkan kerugian bagi industri dalam negeri besarnya Bea Masuk Imbalan
adalah setinggi-tingginya sama dengan subsidi neto.
Subsidi neto adalah selisih antara subsidi dengan:
1. biaya permohonan, tanggungan atau pungutan lain yang dikeluarkan untuk
memperoleh subsidi, dan/atau
2. pungutan yang dikenakan pada saat ekspor untuk pengganti subsidi yang
diberikan kepada barang ekspor tersebut. Dalam hal importasi barang yang
bersangkutan dapat dikenakan Bea Masuk Antidumping dan Bea Masuk Imbalan
secara bersamaan, maka harus dikenakan salah satu yang tertinggi.

2.5. Jenis-jenis Dumping


Suatu barang yang diekspor ke negara lain di mana harga ekspornya lebih rendah dari
harga normalnya, atau harga domestik negara pengekspor, maka barang tesebut dianggap
sebagai barang [Link] adalah agar pengusaha dapat merebut konsumen

4
sebanyak banyaknya, maka pengusaha menempuh strategi persaingan harga dengan
menekan harga serendah mungkin untuk barang sejenis dengan perusahaan lain. Praktik
dumping dalam perdagangan internasional merupakan praktik dagang yang tidak fair yang
dipandang sebagai perbuatan curang, yaitu merupakan persaingan yang tidak jujur (unfair
competition).
Menurut Daniel Suryana, praktik dumping merupakan praktik dagang yang tidak fair
karena bagi negara pengimpor, praktik dumping akan menimbulkan kerugian bagi dunia
usaha, atau industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir barang barang
dari pengekspor yang harganya jauh lebih murah dari pada barang dalam negeri akan
mengakibatkan barang sejenis kalah bersaing, sehingga pada akhirnya akan mematikan
pasar barang sejenis dalam negeri, yang diikuti munculnya dampak ikutannya, seperti
pemutusan hubungan kerja massal, pengangguran, dan bangkrutnya industri sejenis dalam
negeri.
Dalam praktik dumping ada penyerahan barang bergerak dari eksportir ke importir
(Negara yang memproduksi barang sejenis) yaitu terjadi penyerahan nyata sebagaimana
diatur dalam artikel Civil Code.
Dalam praktik perdagangan internasional dumping ada beberapa jenis, dan oleh para
ahli ekonomi pada umumnya dapat diklasifikasikan atas 3 (tiga) jenis, yaitu.
1. Sporadic Dumping (Dumping yang bersifat sporadis)
Dumping yang dilakukan dengan menjual barang pada pasar luar negeri (Pasar
ekspor) pada jangka waktu yang pendek dengan harga dibawah harga dalam
negeri negara pengekspor atau biaya poduksi barang tersebut. Biasanya produsen
menjual barang untuk jangka waktu yang pendek dengan harga jual dibawah harga
biasa sering dimaksudkan untuk menghapuskan barang yang tidak diinginkan,
dumping jenis itu biasanya mengganggu pasar domestik negara pengesport karena
adanya ketidakpastian dikarenakan permintaan diluar negeri berubah secara tiba-
tiba. Dumping jenis tersebut merupakan diskriminasi harga pada waktu tertentu
yang dilakukan oleh produsen yang mempunyai keuntungan karena terjadi over
produksi (karena perubahan dalam pasar dalam negeri yang tidak terantisipasi
atau buruknya perencanaan produksi), untuk mencegah penumpukan barang di
pasar domestik produsen menjual kelebihan produksinya tadi kepada pembeli luar
negeri dengan harga yang telah direduksi sehingga harganya menjadi lebih rendah
dari harga didalam negeri.
2. Persistent Dumping (Diskriminasi harga internasional)
Penjualan barang pada pasar luar negeri dengan harga di bawah harga domestik
atau biaya produksi yang dilakukan secara menetap dan terus menerus yang
merupakan kelanjutan dari penjualan barang yang dilakukan sebelumnya.
Penjualan tersebut dilakukan oleh produsen barang yang mempunyai pasar secara
monopolistik di dalam negeri dengan maksud untuk memaksimalkan total
keuntungannya dengan menjual barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi
dalam pasar domestiknya. Dumping yang menetap itu terjadi dalam masa yang
lama dan terjadi karena perbedaan keadaan pasar di negara importir dan negara
eksportir.

5
Dumping dapat disebut sebagai diskriminasi harga berarti menjual barang yang
sama dengan harga berbeda pada pasar-pasar yang terpisah. Hal ini biasanya
sejalan dengan suatu posisi monopoli di pasar dalam negeri yang bersangkutan,
pembentukan kartel dan atau biaya yang melindungi terhadap import yang lebih
murah, dapat juga diartikan sebagai penawaran di luar negeri dengan harga di
bawah biaya produksi pada negara yang mengekspor.
3. Predatory Dumping
Predatory Dumping terjadi apabila perusahaan untuk sementara waktu membuat
diskriminasi harga tertentu sehubungan dengan adanya para pembeli hasil,
diskriminasi itu untuk menghilangkan pesaing-pesaingnya dan kemudian menaikan
lagi harga barang nya setelah persaingan tidak ada. Predatory dumping adalah
dumping yang paling buruk karena dumping itu dipraktikan hanya untuk tujuan
merebut keuntungan monopoli dan membatasi perdagangan untuk jangka waktu
yang lama meskipun hal itu menyebabkan kerugian jangka pendek.
Disamping jenis dumping tersebut dalam perkembanganya muncul istilah Diversinary
Dumping dan Downstream Dumping. Diversinary Dumping adalah dumping yang dilakukan
oleh produsen luar negeri yang menjual barangnya ke dalam pasar negara ketiga dengan
harga di bawah yang adil dan barang tersebut nantinya diproses dan dikapalkan untuk
dijual ke pasar negara lain, sedangkan Downstream Dumping adalah dumping yang
dilakukan apabila produsen luar negeri menjual produknya dengan harga di bawah harga
normal kepada produsen yang lain di dalam pasar dalam negerinya dan produk tersebut
diproses lebih jauh dan dikapalkan untuk dijual kembali ke pasar negara lain.
Menurut Robert Willig ada 5 (lima) tipe dumping yang dilihat dari tujuan eksportir
kekuatan pasar dan struktur pasar import, yaitu:
1. Market Expansion Dumping
Perusahaan pengekspor bisa meraih untung dengan menetapkan ”mark-up” yang
lebih rendah di pasar import karena menghadapi elastisitas permintaan yang lebih
besar selama harga yang ditawarkan rendah.
2. Cyclical Dumping
Motivasi dumping jenis ini muncul dari adanya biaya marginal yang luar biasa
rendah atau tidak jelas, kemungkinan biaya produksi yang menyertai kondisi dari
kelebihan kapasitas produksi yang terpisah dari pembuatan produk terkait.
3. State Trading Dumping
Latar belakang dan motivasinya mungkin sama dengan kategori dumping lainnya,
tetapi yang menonjol adalah akuisisi moneternya.
4. Strategic Dumping
Istilah ini diadopsi untuk menggambarkan ekspor yang merugikan perusahaan
saingan di negara pengimpor melalui strategis keseluruhan negara pengekspor,
baik dengan cara pemotongan harga ekspor maupun dengan pembatasan
masuknya produk yang sama ke pasar negara pengekspor. Jika bagian dari porsi
pasar domestik tiap eksportir independen cukup besar dalam tolok ukur skala
ekonomi, maka memperoleh keuntungan dari besarnya biaya yang harus
dikeluarkan oleh pesaing pesaing asing.

6
5. Predatory Dumping
Istilah predatory dumping dipakai pada ekspor dengan harga rendah dengan
tujuan mendepak pesaing dari pasar, dalam rangka memperoleh kekuatan
monopoli di pasar negara pengimpor. Akibat terburuk dari dumping jenis ini
adalah matinya perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang sejenis.

2.6. Barang Dumping


Untuk mengetahui apakah produsen melakukan praktik dumping atau tidak, maka
perlu diketahui apakah barang yang diproduksinya merupakan barang dumping atau tidak.
Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan barang dumping
tersebut. Untuk menentukan apakah ada barang dumping atau tidak tergantung dari harga
normal (normal value). Untuk itu penentuan harga normal (normal value) adalah sangat
perlu dilakukan. Dalam article 2(1), regulation 384/96 (Peraturan Perundang-undangan
Masyarakat Eropa Mengenai Masalah Antidumping dan Countervailing Duties) diatur:
“The normal value is typically based on the priclahes paid or payable,in the ordinary course
of trade, by independent customers in the exporting country” (dalam Bahasa Indonesia
diterjemahkan: Harga Normal adalah biasanya didasarkan pada alat pembayaran atau daya
bayar dalam kegiatan perdagangan oleh pelanggan independen di negara pengekspor).
Menurut PP. No. 34 Tahun 1996 Pasal 1 butir 3 ditentukan harga normal (normal
value) adalah nilai yang sebenarnya dibayar atau akan dibayar untuk barang sejenis dalam
perdagangan pada umumnya di pasar domestik, sedangkan menurut kesepakatan
mengenai dumping yang tertuang dalam Article VI ayat (1) bagian b butir i dan ii yang
menentukan sebagai berikut:
Bagian (b) : in the absence of such domestic price, is less than either:
(i) the highest comparable price for the like product for export to any third country in the
ordinary course of trade, or
(ii) the cost of production of the product in the country of origin plus reasonable addition
for selling cost and profit.
Dari ketentuan tersebut dapat dilihat bahwa tidak adanya harga domestik yang digunakan
sebagai dasar dalam penentuan harga normal. Dengan demikian penentuan harga normal
didasarkan pada harga perbandingan harga tertinggi barang sejenis yang diekspor ke
negara ketiga dalam perdagangan pada umumnya, atau ditentukan atas dasar biaya
produksi barang sejenis dengan tambahan biaya penjualan dan laba secara wajar.
Penentuan harga normal seperti yang diatur pada ketentuan di atas didasarkan atas
pertimbangan berikut.
1. Adanya produsen di suatu negara yang hanya memproduksi suatu barang untuk
tujuan ekspor atau tidak memproduksi barang sejenis untuk dikonsumsi di dalam
negeri.
2. Adanya produsen di suatu negara yang selain memproduksi barang sejenis untuk
tujuan ekspor, juga memproduksi barang sejenis untuk dipasarkan di pasar
domestik, tetapi volume penjualan di pasar domestik di negara pengekspor relatif
kecil sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar penentuan nilai normal.
Untuk menentukan apakah penghitungan harga normal produk yang bersangkutan
didasarkan pada harga jual sebenarnya atau biaya produksi. Dalam Buku Panduan berjudul
7
“Bagaimana Menghadapi Tuduhan Dumping” yang dikeluarkan oleh Direktorat
Pengamanan Perdagangan Direktorat Jenderal Kerjasama Industri Dan Perdagangan
Internasional Departemen Perindustrian dan Perdagangan diuraikan penghitungan harga
normal (normal value) berdasarkan harga dalam negeri dan berdasarkan biaya produksi
(constructed value) sebagai berikut:
a) Harga Normal (Normal Value) Berdasarkan Harga Dalam Negeri
Agar diperoleh perhitungan margin dumping yang benar, maka harga domestik
harus dalam bentuk harga domestik eks-pabrik.
Contoh Perhitungan :
- Harga domestik (pada juni 1998) US $ 80/MT
- Biaya Transportasi US $ 5/MT
- Biaya Handling US $ 2/MT
Harga domestik eks-pabrik US $ 73/MT
Catatan:
Harga jual domestik per metrik ton seringkali bervariasi antara US$ 80/MT
hingga US$ 100. Agar perhitungan dilakukan secara wajar (fair), maka diambil
harga jual domestik terendah, yaitu US$ 80/MT.
b) Harga Normal (Normal Value) Berdasarkan Biaya Produksi (Constructed Value)
Apabila pemohon tidak memperoleh harga domestik di negara eksportir, maka
normal value dapat ditentukan berdasarkan constructed value, yaitu menetapkan
biaya produksi yang terdiri dari biaya pabrik ditambah biaya biaya pemasaran dan
administrasi, serta financing charges. Kemudian untuk memperoleh harga jual
domestik eks-pabrik (normal value), maka biaya produksi ditambah profit margin
(bisa 5% atau 10% disesuikan dengan tingkat keuntungan normal industri
tersebut).
Contoh Perhitungan:
Jenis Biaya US $
Biaya bahan mentah 45
Biaya pekerja langsung 10
Biaya overhead pabrik 15
Total biaya pabrik 70
Biaya pemasaran dan administrasi 8
Financing Charge 2
Jumlah biaya 80
Profit (5%) 4
Normal Value 84
Dalam Undang Undang No. 19 Tahun 1995 tentang Kepabeanan pada penjelasan
Pasal 18 ditentukan bahwa apabila terjadi ketiadaan harga domestik, maka harga normal
ditentukan berdasarkan:
1. harga tertinggi barang sejenis yang diekspor ke negara ketiga.
2. harga yang dibentuk dari penjumlahan biaya produksi, biaya administrasi, biaya
penjualan, dan laba yang wajar(constructed value).
Dari uraian mengenai harga normal tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksudkan dengan barang dumping adalah barang yang diimpor dengan harga dumping,
8
yaitu harga ekspornya lebih rendah dari harga normalnya di pasaran domestik negara
pengekspor.

2.7. Batas Harga Dumping


Untuk mengetahui batas harga dumping (margin of dumping) yang benar, maka yang
perlu ditetapkan terlebih dahulu adalah harga ekspor, karena perhitungan margin dumping
didasarkan atas perbedaan harga domestik eks-pabrik dengan harga ekspor eks-pabrik
dibagi harga ekspor CIF. Dalam menetapkan baik harga normal maupun harga ekspor harus
memenuhi ketentuan antara lain berdasarkan ketentuan perdagangan yang berlaku umum
(in the ordinary course of trade). Ketentuan perdagangan yang berlaku umum (in the
ordinary course of trade), yaitu bahwa transaksi penjualan barang tersebut ada unsur
profit, dijual kepada konsumen (importir) yang tidak mempunyai hubungan tertentu
dengan eksportir (unrelated parties), atau tidak di-treat secara berbeda. Harga ekspor CIF
harus ditetapkan dalam bentuk harga ekspor eks-pabrik. Untuk memperoleh harga ekspor
eks-pabrik, maka harga ekspor CIF harus dikurangkan dengan biaya biaya yang timbul mulai
dari pintu pabrik ke pelabuhan tujuan ekspor. Biaya biaya tersebut dapat meliputi: island
freight, werehousing, handling, sea freight dan lainnya. Biaya biaya tersebut dapat
diperoleh dengan adanya bukti berupa invoice atau faktur, dan juga berdasarkan estimasi
pasar (berdasarkan pengalaan). Bukti-bukti nyata atau estimasi tersebut harus dilampirkan.
Contoh perhitungannya:
- Harga ekspor CIF berdasarkan BPS US $ 85/MT
- Sea Freight US $ 20/MT
- Island Freight US $ 2/ MT
Harga domestik eks-pabrik US $ 63/MT
Dengan mengetahui harga ekspor eks-pabrik maka batas margin dumping dapat
dihitung didasarkan atas perbedaan harga domestik eks-pabrik dengan harga ekspor eks-
pabrik dibagi harga ekspor CIF.
Contoh perhitungannya:
- Harga domestik eks-pabrik (sebutkan periode) US $ 73/MT
- Harga ekspor eks-pabrik (sebutkan periode) US $ 2/MT
Margin US $ 10/MT
Margin Dumping (%) terhadap harga ekspor CIF adalah 0/85 x 100% = 11.76%
Catatan Khusus:
Harga jual lokal yang sebenarnya adalah alternatif pertama untuk menentukan harga
normal, dengan catatan bahwa penjualan:
- Mewakili paling sedikit 5% dari keseluruhan total tipe produk yang bersangkutan;
- Dilakukan dengan pembeli yang tidak berkaitan dengan penjual (arms length
basis);
- Mencakup laba.
Kalau tidak ada penjualan di pasar lokal, OAD akan menetapkan harga normal
berdasarkan biaya produksi (constructed value), atau bahkan berdasarkan
informasi dari perusahaan perusahaan lain.
Sejauh mungkin usahakan untuk mendasarkan penghitungan yang berdasarkan harga
jual lokal yang sebenarnya karena:
9
- Penghitungan berdasarkan biaya produksi bisa ditafsirkan berbeda beda, dan
setiap penyesuaian dalam pengeluaran yang berupa penambahan (upward
adjustmen) pada biaya produksi bisa berakibat pada penetapan suatu margin
dumping yang tinggi.
- Besarnya keuntungan ditetapkan dengan membandingkan biaya produksi untuk
penjualan di pasar lokal dengan harga jual rata-rata di pasar lokal setelah dikurangi
diskon dan rabat. Kalau penjualan dilakukan di bawah harga (selling at a loss),
harga normal jelas akan lebih tinggi karena perhitungannya adalah biaya produksi
plus margin keuntungan yang layak.
Teknis perhitungan margin of dumping dihitung dari selisih harga normal dengan
harga Less Than Fair Value (LTFV) kalau mengikuti ketentuan dalam Pasal VI ayat
(1) GATT 1947 adalah sebagai berikut.
1. Selisih antara harga normal dan harga less than fair value (LTFV) di pasar
domestik negara tujuan ekspor. (dalam ketentuan aslinya berbunyi: Is less
than the comparable price, in the ordinary course of trade, for the like
product when destined for consumption in the exporting country, or.)
2. Selisih antara harga normal dan harga less than fair value (LTFV) di pasar
negara ketiga jika tidak terdapat harga dalam negeri (dalam ketentuan
aslinya berbunyi: The highest comparable price for the like product for
export to any third country in the ordinary of trade, or.)
3. Selisih antara harga normal dan jumlah biaya produksi, ongkos-ongkos
penjualan, dan keuntungan jika tidak terdapat harga dalam negeri (dalam
ketentuan aslinya berbunyi: The cost of production of the product in the
country of origin plus a reasonable addition for selling cost and profit).

2.8. Motif dan Dampak Dumping


Dumping merupakan salah satu dari strategi dalam merebut persaingan pasar luar
negeri yaitu dengan cara diskriminasi harga. Diskriminasi harga menurut Ida Bagus Wyasa
Putra, ada 3 alasan yaitu: Pertama, mengembangkan pasar, dengan cara memberikan
insentif melalui pemberlakuan harga yang lebih rendah kepada pembeli pasar yang dituju.
Kedua, adanya peluang, pada kondisi pasar yang memungkinkan penentuan harga secara
lebih leluasa, baik didalam pasar ekspor maupun impor. Ketiga, untuk mempersiapkan
kesempatan bersaing dan pertumbuhan jangka panjang yang lebih baik dengan cara
memanfaatkan strategi penetapan harga yang lebih baik dan progresif.
Umumnya motif suatu negara pengekspor yang melakukan dumping adalah merebut
pangsa pasar bagi produknya di negara-negara tujuan ekspor. Ketika harga barang yang
diekspor lebih rendah dar harga barang yang sama di negara tujuan ekspor maka tentunya
ini akan menguntungkan negara pengekspor karena secara rasional produknya akan
digemari dinegara luar negeri dan ini akan memberikan multiplier yang positif dan besar
bagi perekonomian negara pengekspor.

10
2.9. Instrumen Yang digunakan Untuk Melindungi Industri Dalam Negeri Dari Praktik
Dumping
1. Anti Dumping
Mengenai Anti-dumping dapat dilihat pengaturannya dalam GATT-WTO dan
pengaturan dalam hukum nasional.
a) Pengaturan Anti- Dumping Dalam GATT-WTO.
Negara negara GATT pada saat berlakunya Persetujuan Pembentukan WTO
menjadi “Original Members” WTO sepanjang sudah memenuhi persyaratan
mengenai komitmen dan konsesi. Negara yang menjdi anggota WTO tentu saja
wajib menerima Persetujuan Pembentukan WTO dan persetujuan persetujuan
yang menjadi lampirannya, yang dalam hal ini adalah GATT, GATS (General
Agreement on Trade in Servises), dan TRIPs (Agreement on Trade Related of
Intellectual Property Rights), atau secara keseluruhan disebutkan persetujuan
perdagangan multilateral (Multilateral Trade Agreements). Indonesia adalah
salah satu anggota “Original Members” dari WTO Cerminan dari diterimanya
hasil hasil Putara Uruguay oleh Bangsa Indonesia adalah pengesahan
keikutsertaan Indonesia dalam WTO dengan dikeluarkannya Undang-Undang
No. 7 tahun 1994 pada tanggal 2 Nopember 1994. Sudah jelas bahwa
keikutsertaan Indonesia dalam WTO dan pelaksanaan berbagai komitmen yang
disampaikan tidaklah terlepas dari rangkaian kebijaksanaan disektor
perdagangan khususnya perdagangan luar negeri. Dalam perdagangan luar
negeri atau perdagangan internasional pengusaha untuk dapat merebut
konsumen sebanyak mungkin, sering menempuh strategi persaingan harga
(price competition), yaitu dengan menekan harga serendah mungkin untuk
barang sejenis dengan perusahaan lainnya. Perbuatan tersebut dipandang
sebagai perbuatan curang, karena melakukan suatu perbuatan dalam bentuk
persaingan yang tidak jujur (unfair competition).
Dalam perdagangan internasional perbuatan curang tersebut dikenal sebagai
praktik dumping, yaitu merupakan praktik dagang yang tidak fair, karena bagi
negara pengimpor, praktik dumping akan menimbulkan kerugian bagi dunia
usaha atau industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir
barang barang dari pengekspor yang harganya jauh lebih murah dari pada
harga barang dalam negeri. Hal tersebut akan mengakibatkan barang sejenis
kalah saing, sehingga akan mematikan pasar barang sejenis dalam negeri, dan
pada akhirnya adalah industri barang sejenis dalam negeri menjadi bangkrut.
Untuk melindungi industri dalam negeri dari praktik dumping, maka dikeluarkan
peraturan antidumping yang merupakan salah satu perhatian khusus Indonesia
terhadap hasil putaran Uruguay. Peraturan antidumping terdapat dalam
Persetujuan Anti-Dumping GATT, yaitu pada article VI dari GATT 1994 yang
terdiri dari 7 (tujuh) ayat.
Persetujuan atas implementasi Article VI GATT dikenal sebagai Anti Dumping
Agreement (ADA) di mana menyediakan perluasan lebih lanjut atas prinsip
prinsip dasar dalam Article VI GATT itu sendiri, memerintahkan investigasi,
ketentuan, dan aplikasi bea antidumping. Dalam article VI GATT 1994, para
11
anggota WTO dapat membebankan/mengenakan antidumping measures jika
setelah investigasi sesuai dengan persetujuan, suatu ketentuan dibuat, yaitu:
a. bahwa dumping sedang terjadi,
b. bahwa industri domestik memproduksi produk yang sama (like product) di
negara pengimpor mendapatkan/memperoleh material injury, dan
c. bahwa ada suatu hubungan sebab akibat (causal link) antara keduanya.
b) Pengaturan Anti-Dumping Dalam Hukum Nasional
Pengaturan anti dumping dalam hukum nasional Indonesia sebagai tindak
lanjut dari ratifikasi Pesetujuan Pembentukan WTO melalui Undang-Undang
No. 7 tahun 1994 ternyata sampai saat ini belum ada pengaturannya secara
khusus dalam satu peraturan yang berbentuk undang-undang. Pengaturan anti
dumping dalam hukum nasional Indonesia tersebar dalam Peraturan
Perundang-undangan, Peraturan Pemerintah, dan produk produk hukum
lainnya yang terkait seperti Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan,
dan Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai sebagai berikut.
1. Undang-undang Nomor 7 tahun 1994 tentang pengesahan (ratifikasi)
Agreement Establishing the World Trade Organization. Dengan adanya
pengesahan tersebut maka persetujuan itu yang berisi 28 ketentuan telah
sah menjadi bagian dari peraturan nasional, dan sekaligus meratifikasi
pula Anti dumping Code tahun 1994 yang merupakan salah satu dari
Multilateral Trade Agreement.
2. Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan yang telah
diubah dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 17 tahun 2006
tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang
Kepabeanan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 1996 tentang Bea Masuk Anti
dumping dan Bea Masuk Imbalan.
4. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
261/MPP/Kep/9/1996 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permohonan
Penyelidikan Atas Barang Dumping dan atau Barang Mengandung Subsidi,
sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Nomor 216/MPP/Kep/7/2001 sebagai ketentuan hukum
acara (formal), dan ketentuan pembentukan Komite Anti Dumping
Indonesia (KADI) berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Nomor 427/MPP/Kep/10/2000 tentang Komite Anti
Dumping Indonesia, dan Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Nomor 428/MPP/Kep/10/2000 tentang Penunjukan dan
Pengangkatan Anggota Komite Andi Dumping Indonesia serta Struktur
Kepegawaian Komite Anti Dumping Indonesia berdasarkan Keputusan
Ketua Komite Anti Dumping Indonesia Nomor 346/KADI/Kep/10/2000
tentang Penunjukan dan Pengangkatan Kepala Bidang dan Anggota di
Lingkungan Komite Anti Dumping Indonesia.
5. Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai Nomor SE-19/BC/1997 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Bea Masuk Anti Dumping/Sementara.

12
Peraturan peraturan tersebut dapat digunakan dalam penanganan kasus kasus
dumping di Indonesia, terutama untuk pelaksanaan persyaratan dan tata cara
pengenaan bea masuk anti-dumping dan bea masuk imbalan bagi produk
produk dari luar negeri yang masuk ke dalam negeri sebelum adanya undang
undang nasional yang secara khusus mengatur anti-dumping.
Indonesia dengan meratifikasi Agreement Establishing the World Trade
Organization dengan dikeluarkannya Undang undang No. 7 tahun 1994 tanggal
2 Nopember 1994, maka Indonesia harus mengimplementasikan 28
persetujuan yang telah sah menjadi bagian dari peraturan nasional. Hal ini
sesuai dengan teori Hukum Alam yang dikemukakan oleh Grotius yang
memaparkan ada 4 (empat) norma dasar yang terkandung dalam Hukum Alam,
yaitu.
1. Kita harus menjauhkan diri dari harta benda kepunyaan orang lain.
2. Kita harus mengembalikan harta kepunyaan orang lain yang berada di
tangan kita beserta hasil dari benda orang lain yang sudah kita nikmati.
3. Kita harus menepati janji janji yang kita buat.
4. Kita harus mengganti kerugian yang disebabkan oleh kesalahan kita, lagi
pula kita harus dihukum apabila perbuatan kita pantas disalahkan.
Berdasarkan teori Hukum Alam dari Grotius itu, maka janji-janji yang kita buat
kita harus menepatinya dengan mengimplementasikan kebijakan antidumping,
yaitu mengacu sepenuhnya kepada aturan WTO. Bila terbukti ada praktik
dumping dan kerugian, maka pihak yang menimbulkan kerugian itu harus
mengganti kerugian akibat pratik dumping yang dilakukan oleh eksportir, dan
Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) merekomendasikan pengenaan Bea
Masuk Anti Dumping (BMAD) sebesar margin dumping, yaitu selisih harga
ekspor dengan harga di pasar asal eksportir. Tetapi dalam penerapan ketentuan
anti dumping berdasarkan GATT-WTO, Peraturan Pemerintah No. 34 tahun
1996 ternyata kurang mengakomodasi semua ketentuan GATT-WTO tentang
anti dumping, sehingga perlu penafsiran penafsiran terutama mengenai harga
normal, kerugian (injury), dan causal link, sehingga kurang memberikan
kepastian hukum dan perlindungan bagi produsen dalam negeri.
Dalam upaya untuk melindungi industri dalam negeri dari praktik dumping, oleh
karena Indonesia telah meratifikasi Agreement Establishing the World Trade
Organization, maka ada suatu perjanjian atau kontrak di antara negara negara
yang meratifikasi untuk menerapkan persetujuan persetujuan yang telah
disepakati itu. Hal ini dapat didasarkan pada teori kontrak sebagaimana
dikemukakan oleh Rudolf Von Jehring, bahwa kontrak tidak lain dari pada janji
(promise). Janji menurut Jehring memiliki kekuatan hukum, yaitu kekuatan
hukum yang tidak berasal dari hal hal di luar dari janji para pihak, tetapi dari
fungsi praktis (practical function) dari janji itu sendiri. Tanpa adanya kekuatan
mengikat dari janji itu, maka perjanjian itu menjadi tidak ada artinya dalam
hubungan bisnis. Konsekuensinya, hubungan bisnis hanya akan berlangsung di
antara pihak yang sudah benar-benar dikenal satu sama lainnya.

13
Daya kekuatan mengikat dari suatu perjanjian atau kontrak dapat dijelaskan
melalui beberapa teori, yaitu.
1. Teori Kehendak (Will Theory)
Menurut teori ini suatu kesepakatan mengikat karena memang
merupakan keinginan dari beberapa pihak yang menginginkan
kesepakatan itu mengikat. Para pihak sendirilah yang menyatakan sendiri
kehendaknya untuk mengikatkan diri.
2. Teori Persetujuan (Bargain Theory)
Teori ini merupakan pengingkaran dari teori pertama. Menurut teori ini
dasar mengikatnya suatu kontrak bukan kehendak dari para pihak, tetapi
persetujuan dari para pihak. Persetujuan yang telah dibuat oleh para
pihak mengikat sepanjang apa yang telah disepakati oleh para pihak
tersebut.
3. Teori kesetaraan (Equivalen Theory)
Menurut teori ini bahwa para pihak dalam kesepakatan tersebut telah
memberikan kesetaraan(kesamaan) bagi para pihak
4. Teori Kerugian (Injurious Reliance Theory)
Teori ini menyatakan bahwa para pihak terikat karena para pihak telah
menyatakan dirinya untuk mengandalkan pada pihak yang menerima janji
dengan akibat adanya kerugian. Dengan kata lain pelanggaran terhadap
kesepakatan akan menimbulkan kerugian.
Dari berbagai teori yang diuraikan di atas, tampaknya teori yang paling tepat
dan juga dianut di Indonesia adalah teori yang pertama, yaitu teori kehendak
(Will Theory) seperti yang diungkapkan oleh Subekti, bahwa perikatan yang
lahir dari perjanjian memang dikehendaki oleh dua orang atau dua pihak yang
membuat suatu perjanjian.
2. Subsidi
Subsidi dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan
kemakmuran negaranya, sehingga pada prinsipnya subsidi tidak dilarang, tetapi
perlu adanya pembatasan untuk mencegah timbulnya persimpangan yang justru
dapat menimbulkan kerugian bagi negara lain, karena persaingan akan berubah
menjadi tidak sehat (unfair) apabila produk yang di eksport tersebut memperoleh
keuntungan (benefit) yang diperoleh dari subsidi atau bantuan keuangan dari
pemerintah atau badan pemerintah, baik langsung ataupun tidak langsung kepada
perusahaan, industri atau eksportir. Dalam perdagangan internasional subsidi
merupakan suatu perbuatan yang tidak fair (unfair practices) yang dapat
merugikan pihak-pihak yang terkena perbuatan praktik subsidi.
Praktik subsidi mengeleminasi persaingan yang wajar dalam mekanisme pasar
sehingga dapat melumpuhkan iklim usaha yang competitive yang mengakibatkan
rusaknya tatanan hubungan dagang yang fair. Ketentuan yang mengatur masalah
subsidi ini dapat dilihat daam GATT dan dalam Agreement On Subsidies And
Countervailing Measure (persetujuan tentang subsidi-subsidi dan tindakan
balasan).

14
a) Ketentuan subsidi dalam GATT
GATT yang mengatur masalah pembatasan subsidi terdapat dalam article VI
dan article XVI. Article VI GATT 1947 mengatur tentang tindakan bea balasan
(countervailing duty) terhadap produk primer dan non primer. Kedua artikel
tersebut tidak ada yang mengatur batasan subsidi tersebut. Hanya dalam article
XVI GATT mengatur masalah subsidi secara umum.
Dari ketentuan tersebut terdapat adanya ketentuan yang memberi dan
mempertahankan subsidi yang meliputi berbagai upaya untuk menambah
penghasilan para produsen serta menekan harga produknya. Pemberian subsidi
untuk mendorong ekspor, baik langsung maupun tidak langsung dan pemberian
subsidi untuk mengurangi impor, dan ketentuan mengenai kewajiban
pemberitahuan subsidi yang maksudnya untuk melindungi industri dalam
negeri negara importir bagi subsidi produksinya dengan beberapa ketentuan,
yaitu pemberitahuan harus dilakukan secara tertulis, yaitu selain harus memuat
jumlah produk yang diberikan subsidi, juga nilai subsidinya dan keadaan-
keadaan yang dijadikan alasan diberikannya subsidi.
b) Ketentuan subsidi dalam Agreement On Subsidies And Countervailling Measures
(Persetujuan Tentang Subsidi-Subsidi Dan Tindakan Balasan)
Pengertian subsidi dalam Agreement On Subsidies And Countervailling
Measures (Persetujuan Tentang Subsidi-Subsidi Dan Tindakan Balasan) terdapat
dalam part 1 General Provisions, article 1.
Dari pengertian subsidi tersebut dapat disebutkan bahwa suatu subsidi
dianggap ada jika:
1. terdapat kontribsi financial oleh pemerintah, atau terdapat bentuk
pedapatan atau bantuan harga seperti yang tercantum dari pasal 16
persetujuan umm tentang tarif dan perdagangan 1924.
2. akibatnya diperoleh suatu keuntungan.
Subsidi merupakan keuntungan yang diperoleh industri atau produsen dari:
a. transfer dana langsung dari pemerintah (grants, pinjaman, atau saham),
atau jaminan pembayaran pinjaman oleh pemerintah.
b. Pendapatan pemerintah yang tidak dipungut.
Mengenai subsidi ini ada yang dilarang dan ada juga subsidi yang dapat
dikenakan tindakan (astionable subsidies). Subsidi ekspor dilarang jika subsidi
dikaitkan dengan kinerja ekspor dan dikaitkan dengan penggunaan kandungan
lokal, sedangkan subsidi yang dapat dikenakan tindakan, jika:
a. menyebabkan kerugian serius terhadap industri dalam negeri negara
importir
b. mengurangi keuntungan yang diperoleh dari konsensi tarif.
c. Pemerintah menyediakan barang/jasa/pembelian barang
Mengenai subsidi ini ada yang dilarang dan ada juga subsidi yang dapat
dikenakan tindakan (astionable subsidies). Subsidi ekspor dilarang jika subsidi
dikaitkan dengan kinerja ekspor dan dikaitkan dengan penggunaan kandungan
lokal, sedangkan subsidi yang dapat dikenakan tindakan, jika:

15
a. menyebabkan kerugian serius terhadap industri dalam negeri negara
importir
b. mengurangi keuntungan yang diperoleh dari konsensi tarif.
Disamping subsidi yang dapat dikenakan tindakan, juga ada subsidi yang tidak
dapat dikenakan tindakan, jika subsidi tersebut diberikan untuk:
a. penelitian oleh industri (tidak boleh lebih dari 75% dari biaya)
b. adaptasi fasilitas produksi dengan persyaratan-persayatan lingkungan
yang baru (hanya satu kali dan tidak lebih dari 20% dari biaya adaptasi)
c. pembangunan industri di wilayah tertinggal.
3. Safeguard
Pada saat krisis ekonomi global, dan untuk melindungi industri daam negeri agar
tetap eksis dan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), maka salah
satu instrument trade remedies yang sering digunakan oleh negara anggota WTO
adalah safeguard disamping dua instrument lainnya yaitu dumpig dan subsidi.
Safeguard adalah suatu tindakan pengamanan industri dalam negeri yang berupa
larangan import dan atau menaikan tariff atau menetapkan kuota selama periode
waktu tertentu. Tindkan ini dilakukan karena terjadinya kerugian serius (Serious
Injury) atau terancam kerugian serius (Threaten to cause serious injury) pada
industri dalam negeri yang disebabkan karena meningkatnya import dalam jumlah
yang besar secara tiba-tiba. Pada dasarnya produsen/eksportir mengekspor
produknya ke suatu negara tidak melakukan praktek perdagangan yang tidak
sehat namun produk yang di import dari berbagai negara tersebut secara
kuantitas melonjak secara dramatis baik secara absolut maupun relatif sehingga
produsen dalam negeri produk sejenis mengalami kerugian serius (serious Injury)
atau terancam kerugian serius (threaten to cause serious injury). Akibat dari
lojakan impor tersebut berdasarkan WTO Agreement diperkenankan untuk
diambil tindakan pemulihan yang dinamakan dengan tindakan safeguard
(safeguard measures).
Kesepakatan safeguards organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization)
adalah peraturan yang memuat prosedur dan tata cara melakukan tindakan
pengamanan (safeguard) oleh masing-masing negara anggota. Menurut keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 84 tahun 2002 tentang Tindakan Pengaman
Industri Dalam Negeri Dari Akibat Lonjakan Impor disebutkan tindakan
pengamanan adalah tindakan yang diambil pemeritah untuk memulihkan kerugian
serius dan atau mencegah ancaman kerugian serius dari industri dalam negeri
sebagai akibat dari lonjakan impor barang sejenis atau barang yang secara
langsung merupakan saingan hasil industri dalm negeri dengan tujuan agar
industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius dan atau ancaman kerugian
serius tersebut dapat melakukan penyesuaian struktural (pasal 1 angka 1).
Kerugian serius adalah kerugian nyata yang diderita oeh industri dalam negeri,
sedangkan ancaman kerugian serius adalah ancaman terjadinya kerugian serius
yang akan diderita dalam waktu dekat oleh industri dalam negeri. Penentuan
kerugian serius dan atas ancaman kerugian serius terhadap industri dalam negeri
akibat lonjakan import barang terselidik harus didasarkan kepada hasil analisis dari

16
seluruh faktor-faktor terkait secara obyektif dan terukur dari industri dalam
negeri.
Faktor-faktor tersebut dimaksud meliputi:
 Tingkat dan besarnya lonjakan impor baik secara absolut ataupun relative
 Perubahan tingkat penjualan
 Produksi
 Produktifitas
 Pemanfaatan kapasitas
 Keuntungan dan kerugian
 Kesempatan kerja
 Pangsa pasar dalam negeri, Dll.
Dalam kesepakatan Safeguard WTO di persyaratkan keharusan dilakukannya
penyelidikan sebelum tindakan safeguard tersebut ditetapkan. Adapun lembaga
yang berwenang untuk melakukan penyelidikan di indonesia adalah komite
pengaman perdagangan indonesia (KPPI). KPPI harus membuktikan bahwa
lonjakan barang impor mengakibatkan menurunnya kinerja atau mengancam akan
menurunkan kinerja industri dalam negeri kepada semua pihak yang terkait
dengan kasus tersebut harus diberitahu rencana penetapan tindakan safeguard
tersebut dan kepada para eksportir diberikan kesepakatan yang cukup waktunya
untuk memberikan pandangan atau pendapat mereka.
KPPI dalam melakukan penyelidikan dapat atas inisiatif sendiri atau atas
permohonan dari dunia usaha atau organisasi usaha / pekerja. Dalam pasal 8
Keputusan Presiden No. 84 tahun 2002 ditentukan penyelidikan yang dilakukan
oleh komite harus selesai dalam waktu 200 (dua ratus) hari sejak penetapan
dimulainya penyelidikan. (ayat 1).
Dalam hal hasil penyelidikan ternyata tidak ada bukti kuat yang menunjukan
industri dalam negeri mengalami kerugian serius dan atau ancaman kerugian
serius sebagai akibat dari lonjakan impor, komite menghentikan penyelidikan
tindakan pengamanan (pasal 7 ayat 1). Komite dapat merekomendasikan tindakan
pengamanan sementara dalam bentuk bea masuk, yaitu dalam hal (pasal 9
Keputusan Presiden No. 84 tahun 2002).

17
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:

Dumping adalah suatu bentuk diskriminasi harga, dimana misalnya seorang produsen
menjual pada dua pasar yang berbeda atau dengan harga-harga yang berbeda, karena adanya
penghalang tertentu antara pasar-pasar tersebut dan terdapat elastisitas permintaan yang
berbeda antara kedua pasar tersebut. untuk menangani masalah dumping dan imbalan,
pemerintah dalam hal ini mentri perindustrian dan perdagangan membentuk KOMITE ANTI
DUMPING (KADI) yang beranggotakan unsur deperindag, depkeu dan depertemen atau
lembaga non depertemen terkait lainnya.
Dampak dari praktek dumping iyalah menimbulkan kerugian bagi dunia usaha atau
industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir barang-barang dari pengekspor
yang harganya jauh lebih murah daripada barang dalam negeri akan mengakibatkan barang
sejenis kalah bersaing.

18
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]

19

Anda mungkin juga menyukai