Rencana HSE untuk Proyek PT. 1
Rencana HSE untuk Proyek PT. 1
HSE PLAN
Nomor Dokumen :
Disiapkan Oleh :
Persetujuan
Nama Jabatan Tanggal Tandatangan
Revisi Status
Revisi Tanggal Dikeluarkan PT Dikeluarkan untuk Keterangan
Disiapkan Oleh Diperiksa Oleh Disetujui Oleh
0 Persetujuan
TABEL REVISI
HAL
REVISI
HAL
REVISI
LAMPIRAN
REVISI
00 01 02 03 04 05 06 07 00 01 02 03
04 05 06 07 00 01 02 03 04 05 06 07
1 X
A X
2 X
B X
3 X
C X
4 X
D X
5 X
E X
6 X
F X
7 X
G X
8 X
H X
9 X
10 X
11 X
12 X
13 X
14 X
15 X
16 X
17 X
18 X
19 X
20 X
21 X
22 X
23 X
24 X
25 X
26 X
27 X
28 X
29 X
30 X
31 X
32 X
33 X
34 X
35 X
36 X
37 X
38 X
39 X
40 X
41 X
42 X
43 X
44 X
45 X
46 X
47 X
48 X
49 X
50 X
51 X
52 X
53 X
54 X
55 X
56 X
57 X
58 X
59 X
60 X
61 X
62
REVISI LOG
Dokumen Nomor :
Judul Dokumen :
Revisi : 0
Halamn
Tanggal
Revisi
DAFTAR ISI
ITEMS CHAPTER PAGE
0.0 GENERAL INFORMASI 6
0.1 LATAR BELAKANG 8
0.2 TUJUAN 8
0.3 OBJECTIVES � TARGETS 8
0.4 PENANGGUNG JAWAB HSE PLAN 9
0.5 DEFINISI 9
1 KOMITMEN MANAJEMEN 9
1.1 PERNYATAAN KEBIJAKAN HSE DAN SASARAN STRATEGIS 11
2 HSE PERFORMANCE INDIKATOR 12
3 ORGANISASI HSE 14
4 RISK ASSESSMENT 21
5 PROGRAM PENGENDALIAN RESIKO 24
5.1 ORIENTASI DAN INDUKSI 24
5.2 SERTIFIKAT KOMPETENSI DAN HSE 24
5.3 SERTIFIKASI PERALATAN 25
5.4 SIKA DAN JSA 25
5.5 LOTO (Lock Out Tag Out) 27
5.6 SOP PEKERJAAN DAM PENDUKUNGNYA 27
5.7 SISTEM PEMELIHARAAN PERALATAN 28
5.8 PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN LIMBAH DOMESTIK (ORGANIK, AN-ORGANIK, DAN
LIMBAH B3) 29
5.9 HSE MITING 30
5.10 PENGUKURAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA (KEBISINGAN) 30
5.11 PEMERIKSAAN KESEHATAN RUTIN (MCU) 32
5.12 KARTU OBSERVASI (PEKA) 33
5.13 RAMBU-RAMBU DAN PROMOSI HSE 33
5.14 HOUSE KEEPING 34
5.15 ALAT PELINDUNG DIRI (APD) 36
6 JOURNEY MANAGEMENT PLAN 36
7 EMERGENCY RESPONSE PLAN 37
8 INVESTIGASI INSIDEN 46
9 PENGELOLAAN ASPEK HSE SUBKONTRAKTOR 47
10 INSPEKSI DAN AUDIT HSE 47
11 COMPLIANCE REGULASI PERUNDANG-UNDANGAN 48
0.2 TUJUAN
Tujuan Spesifikasi Persyaratan HSE ini adalah untuk menentukan persyaratan
Kesehatan, Keselamatan dan Lingkungan minimum (K3L) yang harus dipenuhi oleh PT. 1
dan subkontraktor / pemasok PT.2 lainnya yang bekerja di PT. 1, harus mematuhi
Sistem Manajemen HSE Perusahaan dan sepenuhnya mematuhi peraturan dan persyaratan
Pemerintah
0.3 OBJECTIVES-TARGETS
0.3.1 OBJECTIVES
o Untuk mematuhi undang-undang dan peraturan Nasional dan Internasional yang
berlaku melalui pelaksanaan KONTRAK, di bidang Kesehatan, Keselamatan Kerja,
Lingkungan dan Keamanan.
o Untuk menyoroti persyaratan K3L yang terkait dengan rencana pelaksanaan
proyek.
o Mengidentifikasi prosedur yang relevan untuk dilaksanakan untuk memenuhi
persyaratan.
o Melindungi semua orang dan menghindari cedera dan kesulitan pribadi.
o Melakukan semua tugas dengan aman.
o Untuk menunjukkan melalui catatan HSE bahwa bisnis tersebut dioperasikan
secara bertanggung jawab.
o Untuk mengembangkan rasa tanggung jawab pribadi di semua karyawan sehubungan
dengan kesehatan, keselamatan kerja, keamanan dan perlindungan lingkungan kerja.
o Untuk menunjukkan bahwa operasi yang aman merupakan elemen penting dari
operasi yang efisien.
o Untuk mencegah insiden ini dapat menyebabkan cedera dan kesulitan pribadi.
0.3.2 TARGET
o �0� ACCIDENT
o �0� HARM TO PEOPLE (KERUGIAN JIWA)
o NO HARM TO ENVIRONMENT (TIDAK MERUSAK LINGKUNGAN)
MANAJER PROYEK (PM) bertanggung jawab untuk menetapkan, menerapkan dan memelihara
Persyaratan Rencana HSE ini. Project Manager (PM) akan menyetujui Persyaratan
Rencana HSE ini, menerbitkan dan memperbarui revisi berikutnya. PM akan memastikan
distribusi dan diseminasi efektifnya sepanjang proyek.
TIM MANAJEMEN PROYEK (PMT) harus memverifikasi (di lokasi) bahwa persyaratan
Persyaratan Rencana HSE dilaksanakan setiap hari dan mengkomunikasikan penyimpangan
/ ketidaksesuaian, secara tertulis kepada Manajer Proyek.
SEMUA CREWS ONBOARD harus mematuhi ketentuan dalam Persyaratan Rencana HSE ini dan
dokumen rujukannya dan harus melakukan tindakan tambahan yang diperlukan untuk
melindungi dari cedera personil, atau kerusakan atau kehilangan harta benda selama
pelaksanaan Kegiatan Kerja.
0.5 DEFINISI
1. KOMITMEN MANAJEMEN
Kepemimpinan dan Komitmen adalah dasar dari Sistem Manajemen HSE yang efektif.
Setiap orang yang melakukan fungsi manajemen harus menunjukkan komitmen terhadap
Manajemen HSE. Namun, kepemimpinan dan komitmen tidak terbatas pada posisi
manajemen. Semua orang di PT. 1 dapat menunjukkan kepemimpinan dan komitmen atas
tindakan dan komitmen mereka terhadap pengelolaan HSE.
Tanggung jawab utama atas keberhasilan kebijakan dan tujuan K3 Pejabat Kontraktor
bertumpu pada Top Manajemen/Direktur yang mendelegasikan wewenang untuk pelaksanaan
dan Tanggung Jawab Manajemen:
o Memimpin dengan teladan dan komitmen melalui kepedulian karyawan dan crew
terhadap perlindungan, keselamatan, dan kesehatan dan lingkungan.
o Menyiapkan kebijakan dan mengalokasikan sumber daya untuk memastikan
lingkungan kerja yang aman dan efisien.
o Berikan prioritas yang memadai untuk HSE di semua area kerja.
o Mengembangkan dan memantau setiap program HSE.
o Memastikan prosedur ijin kerja sesuai dengan persyaratan PERUSAHAAN (PEP3).
o Melaakukan pelatihan dan pengetahuan HSE reguler tentang praktik kerja yang
aman.
Bagian dari proses ini adalah komitmen yang besar terhadap pengembangan dan
implementasi Rencana HSE yang efektif yang ditetapkan melalui prosedur perencanaan
HSE yang telah ditetapkan untuk mendorong proses perbaikan kinerja HSE secara
terus-menerus.
Top Management dan Manajemen Level Manajer terlibat secara aktif terlibat dalam
masalah K3LL seperti menghadiri pertemuan rutin K3LL, inspeksi, investigasi, audit
dan tinjauan, dsb. Selain itu, Top Management Level Marine Contractor juga harus
bisa memberikan suatu sistem umpan balik untuk mendorong dan memfasilitasi crew
mengenai hal-hal K3LL, mempromosikan budaya positif K3LL serta prosedur maupun
standard harus didukung dan dilaksanakan di semua tingkatan.
Manajemen dan Team Operasional akan memberikan umpan balik dari hasil kunjungan ke
kapal (Management Visit). (Mohon lihat Lampiran A - Form Management Visit)
PT. 1,
SUTARMAN � DIREKTUR
PT. 1 memastikan bahwa Kebijakan K3LL dan Mutu ditandatangani oleh Top Management
Level, berisi tentang pernyataan yang jelas, singkat dan memotivasi, pentingnya
K3LL dan Mutu sebagai salah satu tujuan kontrak, insiden dan cidera tidak dapat
diterima, K3LL dan Mutu dibuat sebagai tanggungjawab line management dan setiap
personil bertanggung jawab untuk meyakinkan keselamatan diri sendiri dan rekannya
di lokasi kerja.
PT. 1 menjamin bahwa kebijakan K3LL dan Mutu dipahami oleh semua pekerja termasuk
crew diatas kapal dengan memberikan familiarisasi secara periodik dan mengawasi
pelaksanaan kebijakan K3LL dan Mutu tersebut.
Kami PT.1 akan mendapat dukungan penuh untuk PT. 1 tentang KPI DAN TARGET HSE UNTUK
PROYEK INI
TUJUAN Sasaran: ("0" ACCIDENT), ("0" HARM TO PEOPLE (KERUGIAN JIWA)), (TIDAK MRUSAK
LINGKUNGAN)
i.) Director
Direktur memiliki tanggung jawab utama untuk mengelola dan menerapkan Sistem
Manajemen Keselamatan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Direktur adalah tingkat
manajemen tertinggi dan bertugas untuk memastikan bahwa semua personil memiliki
kualifikasi dan pengalaman yang sesuai untuk melakukan tugas spesifik mereka.
Tugas, tanggung jawab dan wewenang Direktur meliputi:
o Persetujuan akhir dari semua sistem Manajemen Keselamatan, Kesehatan dan
Keselamatan manual.
o Memastikan Sistem Manajemen diterapkan secara efektif untuk mencapai tujuan.
o Menilai Sistem Manajemen setidaknya setahun sekali untuk memastikan
kesesuaian dan efektivitasnya.
o Memobilisasi sumber daya dan personil untuk memelihara Sistem Manajemen
Keselamatan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja untuk mencapai hasil dan sasaran
perusahaan.
o Menetapkan target dan peraturan perusahaan.
e. Barge Master harus segera melapor ke perusahaan jika mengubah prosedur kerja
yang telah ditentukan untuk menjamin Kesehatan, Keselamatan, Mutu dan Perlindungan
Lingkungan.
f. Barge Master diberi hak dan kewenangan atas atau di atas yang lain untuk
mengambil tindakan dalam aspek keselamatan dan pencegahan.
g. Barge Master harus memastikan bahwa semua laporan dan dokumentasi laporan
konsumsi bahan bakar tersebut akan selesai sesuai dengan jadwal yang ditentukan dan
dikirim ke kantor pusat tepat pada waktunya.
Barge HSE Officer memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan
rencana HSE Plan ini di lokasi. Barge HSE Officer akan bekerja sama dengan Barge
Master dan HSE Koordinator untuk mencapai tujuan dan sasaran K3L yang tercantum
dalam rencana HSE. Barge HSE Officer melaporkan langsung kepada Barge Master, dan
secara administratif kepada HSE Coordinator. Barge HSE Officer memiliki tanggung
jawab, dan tugas berikut mengenai pengelolaan HSE:
o Memastikan orientasi manajemen kapal dan supervisor/kru kapal mengenai HSE
Plan, untuk tanggung jawab dan kepatuhan mereka terhadap Kesehatan Keselamatan dan
Perlindungan Kerja.
o Memastikan melaksanan induksi / orientasi HSE dari semua kru Kapal dan
pengunjung kapal.
o Memantau sistem perawatan dan pemeriksaan peralatan life saving dan peralatan
Fire Fighting
o Melaksanakan pelatihan yang diperlukan untuk memastikan semua personil
dilatih secara memadai sesuai dengan tanggung jawab pekerjaan dan HSE.
o Membantu Investigasi insiden dan analisis kejadian
o Membantu evakuasi medis dan menanggapi keadaan darurat.
o Mengumpulkan data statistik HSE untuk dilaporkan ke Perusahaan dan Kontraktor
o Interface dengan HSE Perusahaan (HSE PEP3) bila diperlukan
o Memastikan kecukupan alat pelindung diri yang diperlukan (PPE)
o Berpartisipasi dalam penyelesaian JSA dan TBRA
o Berpartisipasi dalam pembicaraan toolbox
o Menghadiri semua pertemuan HSE kapal
o Periksa secara teratur area kerja untuk mengidentifikasi tindakan dan kondisi
yang tidak aman dan beri tahu manajemen proyek mengenai hal-hal yang tidak dapat
segera diperbaiki.
o Laporkan SEMUA insiden, terlepas dari tingkat keparahannya, ke supervisor
lini dan Barge Master.
Barge Supervisor / Chief Officer Barge adalah kunci Program HSE yang efektif. Barge
Supervisor / Chief Officer Barge menyediakan jalur komunikasi dan menerapkan kepada
kru Kapal; Oleh karena itu, mereka harus memberi contoh yang baik untuk bawahan
dengan mengkomunikasikan persyaratan Rencana HSE (HSE Plan) kepada semua Kru Kapal.
Supervisor Line (termasuk Foreman dan Leadermen) memiliki tanggung jawab untuk
memastikan bahwa pekerjaan secara langsung di bawah kendali mereka dilakukan dengan
cara yang menjamin kesehatan dan keselamatan tenaga kerja sekaligus melindungi
lingkungan dari bahaya dan pencemaran .
Barge Supervisor / Chief Officer Barge bertanggung jawab kepada Barge Master dan
Manajer Opersional/DPA ; memiliki tanggung jawab, akuntabilitas, dan aktivitas
berikut mengenai pengelolaan HSE:
o Memastikan tempat kerja aman sebelum pekerjaan dimulai
o Melatih Kru untuk melakukan pekerjaan dengan aman
o Berpartisipasi dan mematuhi semua instruksi HSE, prosedur dan aktivitas HSE
o Mempromosikan Housekeeping yang baik.
o Memastikan tenaga kerja dan subkontraktor kompeten untuk melaksanakan
pekerjaan.
o Memastikan bahwa persyaratan sistem Perizinan (Permit to Work System) / SIKA
(Surat Ijin Kerja Aman) untuk Bekerja dipahami dan diterapkan.
o Melakukan pemeriksaan HSE di tempat kerja secara berkala dan lakukan tindakan
perbaikan seperlunya
o Menyampaikan pembicaraan Toolbox Meeting / Pre-Job Safety Meeting kepada
pekerja dan membuat JSA dengan kru sebelum melakukan pekerjaan yang dibutuhkan.
o Memberikan pengawasan yang ketat selama durasi pekerjaan.
o Pastikan semua tenaga kerja mengetahui tindakan yang harus dilakukan dalam
keadaan darurat.
o Memastikan kecukupan APD (Alat Pelindung Diri) yang digunakan oleh personil
o Amati, perbaiki dan catat tindakan dan kondisi yang tidak aman dengan
menggunakan Kartu Observasi / Kartu PEKA (Pengamatan Kerja Aman)
o Membantu dalam menyelidiki SEMUA insiden, tanpa mempedulikan tingkat
keparahan, akar penyebab dan tindakan korektif
o Mengkomunikasikan hasil investigasi insiden kepada kru
o Mendorong awak Kapal untuk berpartisipasi aktif dalam Program HSE.
o Berpartisipasi Mempromosikan HSE
ix.) Vessel Crew
PT. 1 memperkejakan anggota awak kapal dan menetapkan standar kompetensi dengan
mengacu pada peraturan pengawakan kapal baik internasional, nasional dan lokal
seperti Standards of Training Certification and Watch keeping for Seafarers (STCW),
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 70 Tahun 1999 tentang Pengawakan Kapal
Niaga, dsb. serta kesiapan crew untuk senantiasa sehat selama bekerja (fit to
work). Persyaratan khusus lainnya dapat diatur kemudian berdasarkan pada kebutuhan
tiap-tiap project yang dibutuhkan.
Trijaya memberikan pelatihan untuk awak kapal di Sistem Manajemen HSE perusahaan.
Pelatihan ini dilakukan secara bertahap untuk memastikan bahwa semua awak terlatih
dengan baik. Semua awak dan petugas baru diberi orientasi dan orientasi yang benar
mengenai persyaratan perlindungan dan perlindungan kapal sebelum berlayar. Daftar
periksa orientasi disediakan dan catatan dipelihara.
Jika ada kru / karyawan dapat mengajukan perubahan prosedur atau instruksi oleh
prosedur Manajemen Perubahan untuk memperbaiki sistem manajemen kesehatan,
keselamatan, kualitas dan lingkungan.
4. RISK ASSESSMENT
Probability
Effect 1 2 3 4 5
1 1
LOW 2
LOW 3
LOW 4
LOW 5
MEDIUM
2 2
LOW 4
LOW 6
MEDIUM 8
MEDIUM 10
MEDIUM
3 3
LOW 6
MEDIUM 9
MEDIUM 12
MEDIUM 15
HIGH
4 4
LOW 8
MEDIUM 12
MEDIUM 16
HIGH 20
HIGH
5 5
MEDIUM 10
MEDIUM 15
HIGH 20
HIGH 25
HIGH
LOW RISK May be acceptable, however review task to see if the risk can be
reduced further.
1-4
MEDIUM RISK Task should only proceed with appropriate management authorization
after consultation with appointed personnel or assessment team. Where possible the
task should be redefined to take account of the hazards involved or the risk should
be reduced further prior to task commencement
5-12
HIGH RISK Task must not proceed. It should be redefined or further control
measures put in place to reduce risk. The controls should be reassessed for
adequacy prior to task commencement
15-25
Restricted Work Injury (RWI) & Medical Treatment (MTI) Damage to equipment
requiring minor remedial repair, operational
downtime, damage 10M � 100M Can result in environmental change, but the effect of
such change is easily recoverable, and oil spill <100bbl 2
Lost Time Injury (LTI) Localized damage to equipment requiring extensive repair,
significant loss or temporary operational downtime, damage 100M-500M Can cause
environmental damage, but such damage is short term, effect only in the workplace,
and oil spill >100bbl. 3
Permanent disability Damage to equipment resulting in significant
operational loss or total operational downtime, damage 500M-1Bilion Can cause
seriously environmental damage, limited to the controlling, and oil spill >100bbl,
4
Fatality (FAT)
Mayor damage >1Bilion Can cause severe major pollution or permanent
environmental damage. and losing the entire cargo into the sea. 5
PT. 1 menetapkan dokumen, dan memelihara prosedur untuk memastikan personel dan
personel baru dipindahkan ke tugas baru yang berkaitan dengan HSE diberikan
orientasi dan pengenalan yang tepat dengan tugas mereka.
Barge Master bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua personel yang baru
bergabung menjalani pengenalan terhadap persyaratan pencegahan keselamatan dan
polusi kapal dan menetapkan staf yang bertanggung jawab untuk melakukan orientasi
terhadap personil baru. Program orientasi adalah untuk memastikan bahwa semua
personil baru mengetahui posisi dan bagaimana menggunakan semua perlengkapan
penyelamat dan pemadam kebakaran.
Trijaya memastikan bahwa personil yang tanggung jawab dan aktivitas kerjanya dapat
mempengaruhi operasi yang aman dan pencegahan polusi. Kompetensi ini dapat dicapai
dengan pendidikan dan pelatihan yang sesuai (baik yang eksternal maupun yang
disediakan secara internal), keterampilan dan atau pengalaman, dan dengan
pengetahuan yang memadai tentang peraturan, peraturan, pedoman dan pedoman yang
relevan.
Dokumentasi :
- Laporan Inspeksi Peralatan Keselamatan dan Penanggulangan Kebakaran
5.4 WORK PERMIT SYSTEM / SIKA (SURAT IJIN KERJA AMAN) & JSA (JOB SAFETY ANALYSIS)
b. Oxigen (O2), Karbon Monoksida (CO), Hidrogen Sulfida (H2S), dan Lower
Exposure Limit (LEL) harus diperiksa sebelum memasuki ruang tertutup.
c. Pastikan bahwa ruang memiliki kadar Oxigen (O2) 19% -21% volume ruang, Carbon
Monoxide (CO): <25 ppm, Hidrogen Sulfida (H2S): <10 ppm, dan Lower Exposure Limit
(LEL): <10% .
JSA adalah tinjauan dan evaluasi rincian dan setiap langkah yang diambil dalam
melaksanakan pekerjaan, dan untuk menganalisa setiap prosedur yang berlaku dengan
menggunakan metode observasi dan diskusi kelompok dan untuk mengingat dan
mendiskusikan pekerjaan. Proses ini diperlukan di setiap langkah sebuah pekerjaan
dan untuk setiap pekerjaan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, atau setiap
kali sebuah prosedur baru diterapkan dan setiap kali sebuah sistem kerja baru
diperkenalkan. Dalam melaksanakan JSA kita telah menganalisa sebagai berikut:
1. Langkah untuk melaksanakan pekerjaan.
2. Potensi bahaya dan konsekuensi dari bahaya ini.
3. Peralatan, bahan dan mesin terlibat dalam melaksanakan pekerjaan.
4. Faktor risiko
5. Rencana pencegahan dan mitigasi.
6. Personel yang bertanggung jawab.
7. Evaluasi risiko dan risiko residual dan, otorisasi.
5.5 LOTO (Lock Out Tag Out)
Prosedur untuk isolasi energi dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari
sistem berikut, yaitu prosedur Lock Out dan Tag Out (LOTO):
� "Lock Out" adalah sistem yang digunakan untuk melindungi sumber energi dari
kemungkinan digunakan atau dipindahkan, yang dapat membahayakan keselamatan
personil atau dapat menyebabkan kerusakan peralatan atau mesin.
� "Tag Out" adalah metode atau sistem pemberitahuan bahwa masing-masing saklar
atau katup atau panel sumber energi lainnya terkunci dan tidak dapat dioperasi atau
tidak tersentuh.
PT. 2 memastikan seluruh crew kapal mengetahui format dan cara pengisian PTW dengan
melakukan sosialisasi dan terdokumentasi diatas kapal. Seluruh kegiatan / pekerjaan
beresiko tinggi harus diterbitkan PTW dan ditentukan masa berlakunya. PTW yang
diterbitkan harus diketahui dan dimengerti oleh para pekerja yang terlibat dengan
menandatangani form PTW yang diterbitkan. SC memberikan stamp atau catatan di dalam
permit setelah menandatangani sebagai berikut "STOP the Job if unsafe".
Dokumentasi :
- Lembar Permit To Work / SIKA (SURAT IJIN KERJA AMAN)
e. Tugas
Pekerjaan pemeliharaan dan inspeksi ini akan dilakukan oleh Mualim II yang dibantu
oleh AB yang ditugaskan sesuai prosedur dan instruksi yang diberikan oleh Mualim I
dan Nakhoda untuk persetujuan.
f. Designated Person Ashore (DPA)
akan memastikan perawatan dan pengujian peralatan keselamatan dilakukan secara
tepat dan tepat waktu.
g. Semua catatan pemeliharaan peralatan HSE dilaporkan pada PMS (Plan
Maintenance System) Deck.
Waste Disposal
a. Nakhoda harus memastikan bahwa limbah yang dibuang sesuai dengan ketentuan
dalam Rencana Pengelolaan Limbah.
b. Chief Officer/Mualim I yang bertanggung jawab atas pembuangan limbah lengkap
berupa formulir sesuai rencana pengelolaan sampah meliputi semua kategori sampah,
jumlah sampah yang dibuang ke fasilitas / insinerator laut / penerimaan, serta
posisi kapal.
c. Untuk limbah yang dibuang di fasilitas / pelabuhan penerima, dilengkapi
dengan formulir catatan pengiriman limbah dan ditandatangani oleh penerima.
d. Pembuangan limbah yang diatur dalam Konvensi Internasional tentang pencegahan
pencemaran dari kapal-kapal 1973 yang diperbaharui dengan Protokol 1978 POLLUTION
OLEH LIMBAH Limbah V Peraturan Pembuangan Limbah.
e. Melampirkan Peraturan Pembuangan Limbah berdasarkan jenis limbah dan area
pembuangan.
Kehadiran dan hasil pertemuan dilaporkan ke kantor pusat. Nakhoda juga bertanggung
jawab untuk menunjuk Petugas Keselamatan/ Barge HSE Officer yang akan memantau
pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Perlindungan Lingkungan, pemeriksaan
peralatan keselamatan dan latihan darurat di kapal. Petugas Keselamatan/ Barge HSE
Officer akan melaporkan semua temuan kepada Nakhoda yang akan membahas masalah ini
selama Rapat Keselamatan. Nakhoda akan mengkomunikasikan masalah keamanan apapun
ke kantor pusat dan semua awak kapal.
Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB (Nilai Ambang Batas) adalah
faktor standar bahaya di tempat kerja sebagai rata-rata tertimbang / intensitas
bobot rata-rata (rata-rata tertimbang waktu) tenaga kerja yang dapat diterima tanpa
menyebabkan penyakit atau penyakit, pekerjaan sehari-hari untuk periode tidak
Melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
Noise :
Noise Induced Hearing Loss (NIHL) harus dihindari dan dideteksi sejak dini.
Survei kebisingan dilakukan di lokasi dengan meteran tingkat suara dan meteran
dosis kebisingan. Semua karyawan yang terpapar tingkat kebisingan lebih tinggi dari
85 dBA selama 8 jam (terpapar TWA), harus memiliki tes pendengaran atau
audiometrik.
Beberapa posisi pekerjaan, yang dapat menimbulkan bahaya kebisingan, namun tidak
terbatas pada: teknisi (mekanik, instrumentasi, tukang listrik, dll), supervisor
mekanik, dll.
Secara historis telah diamati bahwa penyebab kecelakaan yang paling rentan adalah
perilaku dan sikap orang-orang yang bekerja di tempat kerja. Setiap orang cenderung
mengambil jalan pintas untuk melakukan sebuah pekerjaan. Sering kali, hal-hal tidak
dijalankan sesuai rencana dan prosedur, dan kejadian atau kecelakaan terjadi karena
pelanggaran terhadap prosedur K3L.
PT. 1 memastikan Kartu Observasi PEKA berjalan di dalam kontrak ini yang berfungsi
untuk mengamati kondisi yang tidak aman atau tindakan yang tidak aman mengenai hal-
hal yang dilakukan orang pada pelaksanaan pekerjaan yang diambil orang di tempat
kerja.
Tujuan Program Kartu Observasi PEKA adalah untuk mengidentifikasi tindakan atau
praktik yang tidak aman sebelum terjadinya kejadian atau kecelakaan apa pun. Dalam
kasus dimana tindakan atau kelambanan yang menyimpang dari Prosedur K3L diamati,
siapa pun yang telah melihat tindakan atau kelambanan ini akan menerbitkan Kartu
Observasi PEKA, kemudian akan dibahas bersama dengan risiko yang terkait dan
rencana mitigasinya.
Kartu Observasi PEKA (Pengamatan Kerja Aman) dikumpulkan 5 Kartu/ Kru / Bulan.
General
a. Kebersihan adalah makanan pokok utama untuk mencegah terjadinya masalah di
atas yang memerlukan penangan serius dengan benar, kebutuhan yang aman dan esensial
seperti makanan / air minum bersih sangat penting bagi awak kapal.
b. Meski kebersihan dan perawatan katering terus diimplementasikan yang akan
berdampak pada kru kesehatan baik di kapal, namun yang membutuhkan perawatan adalah
prosedur yang benar untuk personil dan makanan higienis.
c. Master harus mengendalikan dan melakukan inspeksi berkala kebersihan,
kebersihan dan kesehatan di kapal.
Bacterial Contamination
a. Banyak bakteri berbahaya ditemukan di sekitar kita mulai dari manusia,
serangga, hewan pengerat, barang yang tidak terpakai dan junk food yang juga debu.
b. Bakteri berbahaya bisa dihancurkan dengan pengolahan makanan yang tepat,
higienis dan tempat penyimpanan makanan.
Hygienic Personnel
a. Organisme berbahaya biasanya ada di tubuh kita, karena kru katering harus
memperhatikan kebersihan pribadi untuk menghindari kontaminasi bakteri bawaan
makanan.
b. Kebersihan tangan harus waspada dan selalu cuci tangan Anda pada khususnya:
a. Semua anggota awak akan membagikan satu set APD setiap enam (6) bulan
mengikuti peraturan dan harus merawat dengan baik.
b. Semua APD adalah milik 2 dan kru tidak diijinkan membawa APD saat mereka
mengundurkan diri atau menghentikan pekerjaannya.
c. Persyaratan dan prosedur APD untuk masing-masing kru dilakukan sebagai
berikut:
� Semua anggota awak akan membagikan satu (1) set up sesuai APD yang dibutuhkan
dan harus diurus dengan baik.
� Sebelum didistribusikan, setiap karyawan harus menerima pelatihan penggunaan
APD dilakukan secara berkala sebagai bagian dari pelatihan keselamatan setidaknya
termasuk namun tidak terbatas pada:
- Saat APD digunakan
- Gunakan yang benar
- Perawatan dan perawatan
- Kebijakan ganti rugi
� Awak harus mengenakan APD selama jam kerja dan waktu mengerjakan tugas
kecuali untuk kondisi atau tempat tertentu di kapal yang tidak memerlukan PPE akan
ditentukan oleh Petugas Master dan Keselamatan dan disetujui oleh DPA. Tanda-tanda
harus memakai APD yang ditempatkan pada area tertentu untuk menghindari kebingungan
dalam penggunaan APD.
� Saat awak kapal melakukan mutasi lainnya sebelum habisnya masa pakai APD dan
APD harus segera dibawa ke kapal baru.
� Bagian kru yang bertanggung jawab untuk mendistribusikan APD sesuai dengan
keseluruhan kru.
Communication in an Emergency
a. Master harus melapor ke DPA untuk setiap kejadian sesuai prosedur.
b. DPA harus memberi nasehat kepada Master dimana pihak-pihak yang
menginformasikan dan harus memasukkan pemilik, operator, chatterer dan otoritas
pelabuhan sebagaimana berlaku.
c. Informasi berikut harus dilaporkan oleh Master saat laporan keadaan darurat
ke kantor / DPA:
� Nama Kapal
� Tanggal dan waktu kejadian
� Sebutkan Nama Master
� Posisi dan kapal rute
� Jenis insiden
� Deskripsi kejadian tersebut
� Korban, kerusakan, polusi dan efek lain dari kejadian
� Jumlah kru
� Kondisi cuaca dan laut
� Nama kapal yang berhubungan (tabrakan) dan kerusakan
� Tindakan yang diambil oleh kapal
� Para pihak telah mengetahui kejadiannya
� Informasi penting lainnya.
d. Nomor kontak darurat dan kapal pembaruan harus ada di kapal dan ditampilkan di
tempat yang menonjol.
e. Nomor telepon darurat juga harus tersedia di kantor, diperbarui sesuai kebutuhan
dan tersedia sesegera mungkin untuk menghubungi pihak-pihak terkait dengan keadaan
darurat yang terjadi.
Emergency Drills.
a. Master akan menentukan jadwal latihan darurat dan keselamatan. Bor harus
diadakan minimal sebulan sekali di mana waktu dan keadaan memungkinkan.
b. Bila lebih dari 25% awak kapal telah berubah, latihan ini harus dilakukan
dalam waktu 24 jam setelah meninggalkan pelabuhan.
c. Pelaksanaan latihan darurat dilakukan sesuai jadwal yang ditentukan dan akan
dilaporkan dalam bentuk laporan Safety Drill.
d. Kapal ke Shore Bor akan dilakukan setidaknya setahun sekali untuk melatih
kesiapan situasi darurat Darurat Tim Ganda di kapal.
e. Melaporkan hasil pelaksanaan tanggap darurat di kantor akan didokumentasikan
dalam bentuk Ship to Shore Drill Report.
Procedures :
Langkah-langkah berikut menguraikan prosedur yang harus diikuti di lokasi proyek
jika terjadi keadaan darurat medis, baik yang disebabkan oleh kecelakaan atau
penyakit, memerlukan penanganan atau penyelamatan langsung oleh pengamat atau tim
penyelamat, dan evakuasi korban terhadap peralatan medis yang lengkap. , Fasilitas.
N / B:
Penyelamatan medis - adalah misi medis untuk menyelamatkan orang yang terluka /
sakit di luar markas dan memerlukan perawatan medis yang mendesak.
Medical Emergency Response (MEDI-RESCUE) .
Ini adalah prosedur langkah demi langkah standar atau tindakan yang diikuti oleh
seorang pengamat atau petugas medis yang terlatih untuk segera memberikan bantuan
kepada personil yang tiba-tiba sakit atau terlibat dalam sebuah kecelakaan.
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
Langkah 1.
Saksi mengamati luka / penyakit.
Langkah 2.
Pengamat meminta bantuan medis.
Langkah 3.
Pengamat memberitahu petugas keamanan dan petugas medis jika tersedia.
Langkah 4.
Saksi tetap dengan orang yang terluka / sakit sampai tim medi-�response datang.
Langkah 5.
Sementara yang tersisa dengan orang yang terluka / sakit, pengamat harus melakukan
survei di tempat kejadian (apakah aman?). Jika ya, dan pengamat berpengetahuan
mulai memberi bantuan kepada korban dengan menggunakan fakta yang diperoleh melalui
survei primer, jika tidak membuat orang yang terluka merasa nyaman dan menunggu
petugas medis.
Langkah 6.
Pengamat / responden harus melakukan survei primer dan memeriksa ketidaktanggapan.
6.1 Berbicara kepada pasien / korban luka dan menilai responsif.
6.2 Jika pasien merespon, survei primer telah selesai.
6.3 Jika pasien tidak responsif, mendahului dengan pernafasan dan sirkulasi udara
(ABC) sebagai berikut:
- Jalan napas: Menilai jalan napas. Pastikan jalan napas terbuka. Jika dicurigai
adanya cedera tulang belakang, gunakan mengangkat rahang.
- Pernapasan: Pastikan pasien melewati volume udara yang cukup. Jika tidak,
mulailah pernafasan dari mulut ke mulut.
- Sirkulasi: Evaluasi pulsa karotis (di leher) jika denyut nadi tidak ada; Mulai
kompresi jantung. Kontrol pendarahan dengan TEKANAN LANGSUNG.
Langkah 7
Setelah kedatangan tim medi-response, pengamat atau responden pertama kemudian
memberi tim tersebut fakta-fakta yang diperoleh melalui survei utamanya. Bila
responden pertama buta huruf mengenai apa yang harus dilakukan pada survei primer /
pertolongan pertama, tim medi-response kemudian akan melakukan survei di tempat
kejadian untuk menentukan apakah aman (seperti pada langkah 5) dan kemudian
melanjutkan untuk melakukan survei primer (seperti pada Langkah 6).
Langkah 8
Tim medi-response kemudian melakukan survei sekunder dengan melakukan pemeriksaan
menyeluruh terhadap korban luka atau orang sakit. Dalam Survei mereka, mereka harus
WAWANCARA pengamat / responden pertama, mencari TANDA VITAL dan melakukan
pemeriksaan KEPALA TO-TOE pasien / luka-luka.
Langkah 9
Petugas keamanan, dengan bantuan dan kehadiran petugas medis, menghubungi fasilitas
medis darurat dari klien dan / atau perusahaan (jika perlu) untuk mendapatkan
informasi medis.
Langkah 10
Petugas pengawas / petugas HSE harus mengatur transportasi evakuasi yang tepat
setelah konfirmasi bahwa evakuasi diperlukan.
Langkah 11.
Petugas keamanan kemudian menghubungi manajer keselamatan / manajer proyek dengan
informasi yang sesuai, manajer kemudian mengatur untuk menerima pasien / cedera
dengan membuat pengaturan medis yang tepat untuk menerima korban tersebut.
N/B.
1. Petugas medis harus tetap bersama pasien yang cedera sampai melakukan evakuasi
dan serah terimaTenaga medis di pangkalan selesai
2. Tim medis-timbal balik terdiri dari:
O Petugas keamanan harus mengarahkan semua respons medis.
O Obat-obatan
O Supervisor
O Orang lain yang diidentifikasi sebagai orang yang sangat terpelajar dalam First
Aid.
Anggota tim ini harus memiliki pengetahuan latar belakang dalam pertolongan
pertama, jika kurang, mereka harus dikirim untuk program pelatihan pertolongan
pertama yang terdiri dari:
O Pelatihan CPR
O Evaluasi Survei Primer.
O Metode evakuasi
EMERGENCY MEDICAL EVACUATION (MEDEVAC PROCEDURE)
UNTUK KASUS YANG MEMBUTUHKAN EVAKUASI MEDIS, SESUAIKAN
PROSEDUR BERIKUT:
WHAT TO DO
1. Menganalisis situasi tetap tenang jangan panik.
2. Waspada orang sekitar.
3. Hubungi perawat lokasi atau petugas pertolongan pertama, supervisor dan / atau
petugas keamanan.
4. Memulai tindakan pengendalian darurat awal, termasuk tindakan pengusutan.
5. Untuk memberi tahu secara formal dan memberikan rekomendasi kepada supervisor
lokasi atau Petugas Keselamatan.
6. Berikan pertolongan pertama.
7. Atur pertolongan pertama untuk orang sakit / terluka
8. Hubungi manajer proyek / pengelola keselamatan.
9. Pertahankan jalur komunikasi; (Melalui radio).
O Lokasi darurat termasuk zona + blok No. dan tongkang koordinat.
O nama negara reporter
O Menghubungi no telepon atau call base melalui radio.
10. Pasokan khusus kecelakaan / sakit
O lokasi
O Waktu kecelakaan.
O Kondisi lokasi.
O Ayub
O Sub-kontraktor (jika ada). Perkirakan waktu keberangkatan.
O Perkiraan Waktu kedatangan.
O Negara pick-up point.
11. Pasokan khusus pasien / korban luka atau korban.
O Nama pasien / korban.
O daftar gaji
O alamat rumah
O Telepon NO. (jika ada)
O Cedera / penyakit.
O Kondisi (tandu kasus dan perhatian medis diberikan).
Informasi medis yang penting lainnya.
12. Supervisory engineer untuk mengatur medi-vac di markas setelah berkonsultasi
dengan manajemen.
13. Siapkan laporan rinci untuk disampaikan dalam waktu 24 jam ke manajemen.
14. Untuk bekerja sama dengan koordinator koordinator proyek / tugas untuk mengatur
medi-vac.
15. Furnish koordinator proyek dan koordinator tugas dengan keterangan / laporan
yang tersedia mengenai keadaan darurat sebagaimana dipasok oleh supervisor /
Petugas Petugas.
16. Selesaikan medevac dengan mentransfer korban dari klinik (setelah menjalani
perawatan simpan nafas) ke klinik pengikut perusahaan.
Tindak Lanjut:
INVESTIGASI KECELAKAAN UNTUK MEMAHAMI SEGERA DITERBITKAN SEBELUMNYA.
Semua kasus yang memerlukan evakuasi dari tempat kerja harus disampaikan ke
kendaraan perusahaan untuk tujuan itu. Namun, jika terjadi kasus pemasangan /
fasilitas klien, prosedur medivasinya akan diutamakan.
CATATAN:
Evakuasi dengan air tersedia hanya pada siang hari saja. Kecuali dalam kasus khusus
ini disahkan oleh manajemen.
Semua personil yang bepergian untuk perawatan medis harus melapor ke departemen
HSES sebelum melanjutkan. Ke klinik perusahaan sebelum keberangkatan mereka kecuali
MEDI-RESCUE berpikir lebih tinggi
1. Setibanya di pangkalan, pasien akan dievaluasi oleh petugas keamanan / medis
yang akan
Tentukan apakah perawatan lebih lanjut diperlukan.
2. Pasien kemudian akan diangkut ke klinik yang ada untuk perawatan medis yang
memadai
Medivac by Boat to Shore/Base
8. INVESTIGASI INSIDEN
8.1 Accident Report
a. Kecelakaan adalah peristiwa yang lengkap dengan hasilnya: hasil akhir dari
serangkaian kecelakaan atau tindakan yang menghasilkan konsekuensi yang tidak
diinginkan, (cedera, kerusakan properti, dll.) Atau kecelakaan yang tidak
diinginkan yang mengakibatkan cedera fisik atau kerusakan properti.
b. Setiap personil yang mengalami kecelakaan (baik yang terlibat langsung atau
menyaksikan kecelakaan) harus dilaporkan dalam waktu 1 x 24 jam setelah kecelakaan
terjadi dengan menggunakan Formulir Laporan Kecelakaan.
c. Originator harus secara jelas menuliskan informasi umum tentang deskripsi
kecelakaan, tindakan yang dilakukan, luka atau kerusakan dan kerugian yang terjadi.
Jika memungkinkan, bukti pendukung seperti foto, sketsa, dan lain-lain harap
disertakan bersamaan dengan laporan kecelakaan awal.
d. Pejabat HSE akan memberikan nomor seri pada Formulir Laporan Kecelakaan yang
diterima sesuai dengan ketentuan dan akan mengupdate status masing-masing laporan
kecelakaan melalui data di server.
Silakan merujuk ke "Appendix F" - Form Incident Investigation Report
8.3 Komunikasi
a. Setiap kapal bertanggung jawab untuk melaporkan semua aktivitas sehari-hari di
Laporan Harian Kapal.
b. Kapal perlu melaporkan hal-hal sebagai berikut:
� Kegiatan kapal selama 24 jam terakhir.
� Jumlah muatan pada kapal
� Jam kerja (running hour) selama 24 jam
� Jumlah konsumsi bahan bakar
� Jarak terliputi 24 jam terakhir.
� Laporan HSE
� Laporan Cuaca dan Kondisi Laut
c. Onboard komunikasi keselamatan juga dilakukan dalam pertemuan yang dilakukan
setidaknya seminggu sekali.
d. Hasil pertemuan dan daftar kehadiran dicatat dalam formulir Laporan Rapat
Keselamatan dan dilaporkan ke kantor.
PT. 2 harus melakukan integrasi dengan sistem manajemen subcontractor agar HSSE
Plan dapat dijalankan oleh subcontractor secara konsisten dengan tujuan yang sama
untuk mencapai target K3LL Company yakni tidak ada insiden. PT. 2 memastikan setiap
insiden yang dialami oleh subcontractor harus dilaporkan dan dikomunikasikan kepada
Company. PT.2 menentukan penilaian dalam hal pemilihan dan evaluasi terhadap
performa subcontractor dengan mencantumkan pencapaian HSSE.
O Setiap karyawan subkontraktor baru harus diberi pengarahan tentang prosedur HSE
situs, alarm darurat dan peran masing-masing dalam keadaan darurat.
O mematuhi peraturan dan standar tentang HSE dan proteksi kebakaran yang
ditetapkan oleh PT.2
O Pegawai subkontraktor harus waspada terhadap potensi bahaya lingkungan kerja
mereka.
O Menyediakan dan selalu memakai Alat Pelindung Diri yang sesuai.
O memastikan bahwa semua peralatan yang dibawa ke area lokasi kerja berada dalam
kondisi kerja yang aman.
INSPEKSI
Program Inspeksi K3L harus dibentuk dan dilakukan secara berkala setidaknya 6 bulan
sekali dalam setahun.
AUDIT
a. Audit internal dilakukan untuk memverifikasi keefektifan sistem manajemen di
kantor dan di atas kapal. Lakukan setidaknya satu kali dalam setahun, mengingat
signifikansi operasional, hasil penilaian risiko dari kegiatan dan laporan audit
sebelumnya.
b. Proses dan pelaksanaan audit dilakukan berdasarkan:
� Audit sistem manajemen kantor adalah menilai efektivitas pelaksanaan sistem
manajemen di kantor berdasarkan standar dan prosedur.
� Audit sistem manajemen kapal adalah menilai keefektifan sistem manajemen yang
ditentukan oleh perusahaan dan implementasinya di atas kapal berdasarkan standar
dan prosedur.
MANAJEMEN REVIEW
a. Review Manajemen Agenda terdiri dari:
1. Hasil audit dan evaluasi kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan dan
persyaratan lainnya.
2. Hasil partisipasi dan konsultasi.
3. Kepuasan dan komunikasi pelanggan dengan pihak luar, termasuk keluhan.
4. Proses kinerja, Prestasi Tujuan, Sasaran dan Program dan kesesuaian layanan
5. Kinerja HSE
6. Status tindakan investigasi, korektif dan preventif.
7. Tindak lanjut tinjauan manajemen sebelumnya.
8. Perubahan Manual HSE.
9. Rekomendasi untuk meningkatkan pelayanan.
b. Data ditampilkan dengan presentasi oleh setiap orang yang bertanggung jawab
untuk menilai semua waktu proses pengukuran sebagai perbandingan periode sebelumnya
dan menjelaskan semua temuan dan kesimpulan.
c. Sebuah tinjauan dilakukan setiap 1 kali dalam setahun. Bagian HSE bertanggung
jawab untuk membuat undangan dan mendistribusikannya ke semua peserta Review
Manajemen ini.
d. Manajer HSE dan bagian yang relevan akan mengidentifikasi peluang perbaikan
terus menerus dan perbaikan perencanaan untuk setiap ketidaksesuaian yang
diperoleh.
e. Notulen akan disiapkan oleh bagian HSE untuk didistribusikan ke semua bagian
yang terkait.
f. Kajian ulang akan dilakukan oleh Master onboard minimal setahun sekali.
11. COMPLIANCE
11.1 HSE Legislations and Standards.
Semua manajer dan pemangku kepentingan akan menerapkan undang-undang dan peraturan
yang harus diterapkan dalam pengoperasian kapal atau darat, perubahan dan pembaruan
berikut yang dikeluarkan oleh IMO, IOS, instansi pemerintah, klasifikasi biro dan
organisasi industri maritim sebagai berikut: