100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
755 tayangan13 halaman

Pentingnya Resusitasi Jantung Paru

Resusitasi jantung paru (RJP) adalah tindakan kegawatdaruratan untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi darah pada pasien yang mengalami henti jantung dan napas untuk mencegah kematian. Tindakan ini meliputi kompresi dada, membuka saluran pernapasan, dan memberikan napas buatan.

Diunggah oleh

yudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
755 tayangan13 halaman

Pentingnya Resusitasi Jantung Paru

Resusitasi jantung paru (RJP) adalah tindakan kegawatdaruratan untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi darah pada pasien yang mengalami henti jantung dan napas untuk mencegah kematian. Tindakan ini meliputi kompresi dada, membuka saluran pernapasan, dan memberikan napas buatan.

Diunggah oleh

yudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEGAWAT DARURATAN

RESUSITASI JANTUNG PARU


Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Kegawat Daruratan
Yang Dibina Oleh Ibu Maria Diah CT, [Link], [Link]

Oleh :
Yolanda Fany Z. J 1601100046
Eka Kartika A. H 1601100047
Nanda Eka R. 1601100051
Yulela 1601100052
Putri Ayu Amalia 1601100058
Sukma Nur Sakinah 1601100059
Yenni Rosa D. 1601100062
Diah Febianty 1601100063
Imam Safi’i 1601100064
Yudiansyah 1601100066
Imam Khoirudin 1601100067
Andi Ferdian P. 1601100071
Adinda Eka N. 1601100075
Risma Budi Utami 1601100079
Tesalonika Liontinia C. 1601100080
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN MALANG
OKTOBER 2018
UCAPAN TERIMAKASIH

Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas ridho
dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini
berisi sedikit pengetahuan seputar tindakan keperawatan mengenai kegawat
daruratan pemberian resusitas jantung paru.

Penulis mengetahui masih banyak kekurangan didalam menyelesaikan


makalah ini, maka penulis berharap pembaca dapat memberikan kritikan dan
saran yang membangun agar lebih baik dikemudian hari.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua kalangan yang


membutuhkan.

Malang, Oktober 2018

i
DAFTAR ISI

UCAPAN TERIMAKASIH............................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang......................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................3

1.3 Tujuan....................................................................................................3

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Pengertian RJP.....................................................................................5

2.2 Indikasi RJP..........................................................................................6

2.3 Manfaat RJP..........................................................................................6

2.4 Teknik RJP............................................................................................7

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan...........................................................................................11

3.2 Saran.....................................................................................................11

DAFTAR RUJUKAN.....................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bantuan hidup dasar merupakan dasar dalam menyelamatkan penderita dalam
kondisi yang mengancam nyawa. Pengertian bantuan hidup dasar itu sendiri yaitu
sebuah tindakan yang dilakukan oleh seorang penolong yang jika pada suatu
keadaan ditemukan korban dengan penilaian dini terdapat gangguan tersumbatnya
jalan nafas, tidak ditemukan adanya nafas dan atau tidak ada nadi. Tindakan yang
kita lakukan yaitu dengan segera mengaktifkan system respon kegawatdaruratan
dan segera melakukan (Sufia, 2015).
Resusitasi Jantung Paru (RJP). Resusitasi jantung paru-paru atau CPR
(Cardiopulmonary resuscitation) menurut WHO adalah tindakan pertolongan
pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu.
CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup
sama sekali. CPR sangat dibutuhkan bagi orang tenggelam, terkena serangan
jantung, sesak napas karena syok akibat kecelakaan, terjatuh, dan sebagainya
(WHO, 2018).
Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan serangkaian usaha penyelamatan
hidup pada kondisi henti jantung dan henti nafas. Hal ini dilakukan untuk
mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Tanpa
bantuan hidup dasar (Resusitasi Jantung Paru) kemungkinan korban untuk
bertahan hidup berkurang antara 7-10% /menit, dengan bantuan hidup dasar
(Resusitasi Jantung Paru) kemungkinan korban untuk bertahan hidup bertambah
antara 3-4% /menit sampai dilakukan defibrilasi
Tindakan resusitasi jantung paru ini adalah salah satu tindakan kegawat
daruratan yang harus segera dilakukan apabila terjadi kecelakaan, karena tindakan
ini dilakukan pada korban dengan indikasi adanya henti nafas dan henti jantung.
Pengertian dari henti jantung sendiri adalah berhentinya denyut jantung dan
sirkulasi peredaran darah secara mendadak tanpa adanya peringatan sebelumnya,
yang dapat mengakibatkan korban secara mendadak tidak mampu bernapas serta
hilang kesadaran. Ketidakmampuan tubuh untuk bernapas merupakan efek dari
henti jantung atau kita lebih sering mendengarnya dengan istilah henti napas. Dan

1
henti napas atau gagal napas adalah kegagalan paru dalam proses pertukaran
oksigen dan karbondioksida. Yang dimaksud kegagalan disini adalah ketidak
mampuan tubuh untuk melakukan pertukaran gas yang seharusnya udara yang
mengandung oksigen disalurkan pada peredaran darah dan karbondioksida yang
ada dikeluarkan melalui hembusan napas. Gagal napas juga dapat disebabkan oleh
gangguan pada pusat pernapasan di otak, atau pun kegagalan otot-otot pernapasan
untuk mengembangkan paru-paru.
Dalam tindakannya ada beberapa hal yang harus dilakukan, pertama
dilakukan kompresi. Tindakan ini dilakukan apabila tidak ditemukan denyut nadi
atau detak jantung pada orang yang tidak sadarkan diri. Caranya cukup dengan
meletakkan salah satu telapak tangan di bagian tengah dada korban kemudian
tangan yang lainnya ditaruh di atas tangan yang pertama. Kemudian eratkan jari-
jari kedua tangan dan lakukan penekanan dada sedalam 5-6 cm, kemudian
lepaskan. Ulangi pemberian tekanan di dada sebanyak 100-120 kali tekanan tiap
menit hingga pertolongan medis datang atau hingga korban menunjukkan respons.
Kedua, adalah upaya membuka jalur pernapasan korban. Hal ini biasanya
dilakukan setelah menekan dada korban. Caranya dengan mendongakkan kepala
korban, lalu kedua tangan diletakkan di dahinya. Setelah itu, angkat dagu orang
tersebut dengan lembut untuk membuka dan mengamankan saluran
pernapasannya. Dan Tahap ketiga dari RJP adalah memberikan napas bantuan dari
mulut ke mulut. Hal ini bisa dilakukan dengan menjepit hidung korban, lalu
posisikan mulut kita tepat di mulut korban. Tiupkan napas kita ke dalam mulutnya
dan periksa apakah dada korban sudah mengembang dan mengempis seperti orang
bernapas pada umumnya. Pada setiap 30 kali kompresi dada, iringi dengan dua
kali bantuan napas. Teknik pernapasan dari mulut ke mulut sebaiknya hanya
dilakukan oleh mereka yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
Angka kematian dunia akibat penyakit jantung koroner berkisar 7,4 juta pada
tahun 2012 (WHO 2015) penyakit jantung koroner (PJK) atau disebut arteri
koroner dapat menyebabkan masalah listrik yang menyebabkan SCA (Sudden
Cardiac Arres) (National Heart Lung and Blood Institute 2011). Sebagian besar
kasus henti jantung disebabkan oleh arteri koroner (Mayo Clinic 2012).
Di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan
oleh Balitbangkes pada tahun 2013 bahwa prevalensi nasional penyakit jantung

2
koroner sebesar 1,5%. Namun hasil riset kesehatan dasar (2007) menunjukkan
data bahwa kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung mendapatkan porsi
4,6% dari 4.552 mortalitas dalam 3 tahun. Sedangkan data yang diperoleh WHO
pada tahun 2002 di Indonesia sudah terjadi 220.372 kasus kematian yang
disebabkan oleh penyakit jantung yang memiliki resiko tinggi henti jantung
mendadak (WHO 2014).
Upaya untuk mengurangi angka kematian akibat henti jantung, maka
dibutuhkan penatalaksanaan yang tepat dalam penanganan pasien henti jantung.
Hingga saat ini RJP merupakan penatalaksanaan yang sangat vital dalam kasus
henti jantung. American Health Association menyebutkan bahwa kejadian henti
jantung dapat terjadi dimana saja, penanganan RJP pada saat kejadian dapat
membantu mengurangi resiko kematian. Henti jantung dapat sangat mematikan,
namun ketika RJP dan Defibrilasi dapat diberikan secepatnya, dalam banyak
kasus jantung dapat berdenyut kembali (AHA 2015).
Dari uraian diatas sudah mampu dipahami bahwa begitu pentingnya tindakan
resusitasi jantung paru tersebut, maka dalam penatalaksanaan tindakannya kita
juga memerlukan pemahaman serta mengetahui standar operasional pelaksanaan
yang benar agar kita bisa melakukan tindakan secara tepat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan RJP?
2. Apa indikasi dari dilakukan RJP?
3. Apa manfaat dilakukan RJP?
4. Bagaimana Teknik RJP yang benar?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan RJP.
2. Untuk mengetahui apa saja indikasi dilakukan RJP.
3. Untuk mengetahui manfaat dari dilakukannya RJP.
4. Untuk mengetahui bagaimana teknik RJP.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian RJP


Resusitasi jantung paru (RJP) adalah suatu tindakan gawat darurat akibat
kegagalan sirkulasi dan pernapasan untuk dikembalikan ke fungsi optimal guna
mencegah kematian biologis. Dalam pelaksanaannya resusitasi dilakukan untuk
mencegah mati klinis (mati suri, otak berhenti berfungsi) menjadi mati biologis
(otak dan organ vital rusak secara menetap). Resusitasi jantung paru dilakukan
jika terjadi Respiratory arrest / apneu / napas berhenti atau Cardiac arrest /
jantung berhenti berdenyut.
Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan pertolongan yang
dilakukan kepada korban yang mengalami henti napas dan henti jantung.
Keadaan ini bisa disebabkan karena korban mengalami serangan jantung (heart
attack), tenggelam, tersengat arus listrik, keracunan, kecelakaan, dan lain-lain.
Pada kondisi napas dan denyut jantung berhenti, sirkulasi darah dan
transportasi oksigen juga berhenti sehingga dalam waktu singkat organ-organ
tubuh terutama organ vital akan mengalami kekurangan oksigen yang berakibat
fatal bagi korban dan mengalami kerusakan.
Organ yang paling cepat mengalami kerusakan adalah otak, karena otak
hanya akan mampu bertahan jika ada asupan glukosa dan oksigen. Jika dalam
waktu lebih dari 10 menit otak tidak mendapat asupan oksigen dan glukosa,
maka otak akan mengalami kematian secara permanen. Kematian otak berarti
pula kematian si korban. Oleh karena itu golden period (waktu emas) pada
korban yang mengalami henti napas dan henti jantung adalah di bawah 10
menit. Artinya, dalam watu kurang dari 10 menit penderita yang mengalami
henti napas dan henti jantung harus sudah mulai mendapatkan pertolongan. Jika
tidak, maka harapan hidup si korban sangat kecil. Adapun pertolongan yang
harus dilakukan pada penderita yang mengalami henti napas dan henti jantung
adalah dengan melakukan resusitasi jantung paru/CPR.

2.2 Indikasi RJP


1. Henti Napas (Apneu)

4
Dapat disebabkan oleh sumbatan jalan napas atau akibat depresi
pernapasan baik di sentral maupun perifer. Berkurangnya oksigen di
dalam tubuh akan memberikan suatu keadaan yang disebut hipoksia.
Frekuensi napas akan lebih cepat dari pada keadaan normal. Bila
berlangsungnya lama akan memberikan kelelahan pada otot-otot
pernapasan. Kelelahan otot-otot napas akan mengakibatkan terjadinya
penumpukan sisa-sisa pembakaran berupa gas CO2, kemudian
mempengaruhi SSP dengan menekan pusat napas. Keadaan inilah yang
dikenal sebagai henti napas.
2. Henti Jantung (Cardiac Arrest)
Otot jantung juga membutuhkan oksigen untuk berkontraksi agar darah
dapat dipompa keluar dari jantung ke seluruh tubuh. Dengan berhentinya
napas, maka oksigen akan tidak ada sama sekali di dalam tubuh sehingga
jantung tidak dapat berkontraksi dan akibatnya henti jantung ( cardiac
arrest ).

2.3 Manfaat RJP

 Dapat mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada


henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest)
pada orang dimana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang
memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi
tersebut bekerja kembali

 Dapat mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi


(nafas)

 Dapat memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi


jantung) dan ventilasi (fungsi pernafasan/paru) pada pasien/korban
yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui Cardio
Pulmonary Resuciation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP).

2.4 Teknik RJP

a. Penentuan Tingkat Kesadaran ( Respon Korban )

5
Dilakukan dengan menggoyangkan korban. Bila korban menjawab, maka
ABC dalam keadaan baik. Dan bila tidak ada respon, maka perlu ditindaki
segera.

b. Memanggil bantuan (call for help)

Bila petugas hanya seorang diri, jangan memulai RJP sebelum memanggil
bantuan

c. Posisikan Korban

Korban harus dalam keadaan terlentang pada dasar yang keras (lantai, long
board). Bila dalam keadaan telungkup, korban dibalikkan. Bila dalam
keadaan trauma, pembalikan dilakukan dengan ”Log Roll”

d. Posisi Penolong

Korban di lantai, penolong berlutut di sisi kanan korban

e. Pemeriksaan Pernapasan

Yang pertama harus selalu dipastikan adalah airway dalam keadaan baik

 Tidak terlihat gerakan otot napas


 Tidak ada aliran udara via hidung
 Dapat dilakukan dengan menggunakan teknik lihat, dengan dan rasa
 Bila korban bernapas, korban tidak memerlukan RJP
f. Pemeriksaan Sirkulasi
 Pada orang dewasa tidak ada denyut nadi carotis
 Pada bayi dan anak kecil tidak ada denyut nadi brachialis
 Tidak ada tanda – tanda sirkulasi
 Bila ada pulsasi dan korban pernapas, napas buatan dapat dihentikan.
Tetapi bila ada pulsasi dan korban tidak bernapas, napas buatan diteruskan.
Dan bila tidak ada pulsasi, dilakukan RJP.
Henti Napas

Pernapasan buatan diberikan dengan cara :

6
a. Mouth to Mouth Ventilation
Cara langsung sudah tidak dianjurkan karena bahaya infeksi (terutama
hepatitis, HIV) karena itu harus memakai ”barrier device” (alat
perantara). Dengan cara ini akan dicapai konsentrasi oksigen hanya 18
%.

 Tangan kiri penolong menutup hidung korban dengan cara


memijitnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, tangan kanan
penolong menarik dagu korban ke atas

 Penolong menarik napas dalam – dalam, kemudian letakkan


mulut penolong ke atas mulut korban sampai menutupi seluruh
mulut korban secara pelan – pelan sambil memperhatikan
adanya gerakan dada korban sebagai akibat dari tiupan napas
penolong. Gerakan ini menunjukkan bahwa udara yang
ditiupkan oleh penolong itu masuk ke dalam paru – paru korban.

 Setelah itu angkat mulut penolong dan lepaskan jari penolong


dari hidung korban. Hal ini memberikan kesempatan pada dada
korban kembali ke posisi semula.

b. Mouth to Stoma
Dapat dilakukan dengan membuat Krikotiroidektomi yang kemudian
dihembuskan udara melalui jalan yang telah dibuat melalui prosedur
Krikotiroidektomi tadi.

c. Mouth to Mask ventilation

Pada cara ini, udara ditiupkan ke dalam mulut penderita dengan bantuan
face mask.

d. Bag Valve Mask Ventilation ( Ambu Bag)

7
Dipakai alat yang ada bag dan mask dengan di antaranya ada katup.
Untuk mendapatkan penutupan masker yang baik, maka sebaiknya
masker dipegang satu petugas sedangkan petugas yang lain memompa

e. Flow restricted Oxygen Powered Ventilation (FROP)

Pada ambulans dikenal sebagai “ OXY – Viva “. Alat ini secara


otomatis akan memberikan oksigen sesuai ukuran aliran (flow) yang
diinginkan.

Bantuan jalan napas dilakukan dengan sebelumnya mengevaluasi jalan


napas korban apakah terdapat sumbatan atau tidak. Jika terdapat sumbatan
maka hendaknya dibebaskan terlebih dahulu.

Henti Jantung

RJP dapat dilakukan oleh satu orang penolong atau dua orang penolong.

Lokasi titik tumpu kompresi:

 1/3 distal sternum atau 2 jari proksimal Proc. Xiphoideus


 Jari tengah tangan kanan diletakkan di Proc. Xiphoideus,
sedangkan jari telunjuk mengikuti
 Tempatkan tumit tangan di atas jari telunjuk tersebut
 Tumit tangan satunya diletakkan di atas tangan yang sudah
berada tepat di titik pijat jantung
 Jari – jari tangan dapat dirangkum, namun tidak boleh
menyinggung dada korban

Teknik Resusitasi Jantung Paru (Kompresi)

 Kedua lengan lurus dan tegak lurus pada sternum


 Tekan ke bawah sedalam 4 – 5 cm
 Tekanan tidak terlalu kuat

8
 Tidak menyentak
 Tidak bergeser / berubah tempat
 Kompresi ritmik 100 kali / menit ( 2 pijatan / detik )
 Fase pijitan dan relaksasi sama ( 1 : 1)
 Rasio pijat dan napas 15 : 2 (15 kali kompresi : 2 kali hembusan
napas)
 Setelah empat siklus pijat napas, evaluasi sirkulasi

Resusitasi jantung paru pada bayi ( < 1 tahun)

 jari atau kedua ibu jari

 Titik kompresi pada garis yang menghubungkan kedua papilla


mammae

 Kompresi ritmik 5 pijatan / 3 detik atau kurang lebih 100 kali per
menit

 Rasio pijat : napas 15 : 2

 Setelah tiga siklus pijat napas, evaluasi sirkulasi

Resusitasi Jantung paru pada anak – anak ( 1 – 8 tahun)

 Satu telapak tangan

 Titik kompresi pada satu jari di atas Proc. Xiphoideus

 Kompresi ritmik 5 pijatan / 3 detik atau kurang lebih 100 kali per
menit Rasio pijat : napas 15 : 2

 Setelah tiga siklus pijat napas, evaluasi sirkulasi

BAB III

9
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Resusitasi jantung paru (RJP) adalah suatu tindakan gawat darurat


akibat kegagalan sirkulasi dan pernapasan untuk dikembalikan ke fungsi
optimal guna mencegah kematian biologis. Dalam pelaksanaannya resusitasi
dilakukan untuk mencegah mati klinis (mati suri, otak berhenti berfungsi)
menjadi mati biologis (otak dan organ vital rusak secara menetap). Resusitasi
jantung paru dilakukan jika terjadi Respiratory arrest / apneu / napas berhenti
atau Cardiac arrest / jantung berhenti berdenyut. Indikasi dilakukannya RJP
adalah henti napas dan henti jantung.

3.2 SARAN
Bagi petugas kesehatan :
1. Disarankan untuk petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan
kemampuan dalam melakukan RJP sehingga dalam memberikan
pertolongan dapat maksimal.
Bagi Pasien :
1. Disarankan untuk selalu menjaga kesehatan sehingga terhindar dari
segala penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Hartami, D. 2015. Makalah RJP. Online


([Link] diakses 2 Oktober 2018

Rampengan, S.H. 2015. Kegawatdaruratan Jantung. Online


([Link] diakses 3 Oktober 2018

10

Anda mungkin juga menyukai