MAKALAH
TRANSISTOR
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Elektronika
Disusun Oleh:
Rimbun Priambudi 162220005
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI JAKARTA
2017
A. TRANSISTOR
1. Pengertian
Pengertian Transistor adalah komponen elektronika terbuat dari alat
semikonduktor yang banyak di pakai sebagai penguat, pemotong
(switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal dan masih banyak lagi
fungsi lainnya. Pengertian Transistor pada alat semikonduktor mempunyai 3
elektroda (triode), yaitu dasar (basis), pengumpul (kolektor) dan pemancar
(emitor). Pada dasarnya transistor juga memiliki banyak kegunaan, salah
satunya adalah berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET) memungkinkan mengalirkan
arus listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Tegangan yang
memiliki satu terminal contohnya adalah Emitor yang dapat di pakai untuk
mengatur arus dan tegangan yang lebih besar dari pada input basis. Dalam
sebuah rangkaian analog, komponen transistor dapat di gunakan dalam
penguat (amplifier). Komponen yang terdapat dalam rangkaian analog
antara lain pengeras suara, sumber listrik stabil dan penguat sinyal radio.
Jadi pengertian transistor dapat di bilang sebagai pemindahan atau peralihan
bahan setengah penghantar menjadi penghantar pada suhu tertentu.
Pengertian transistor merupakan komponen yang sangat penting dan di
perlukan untuk sebuah rangkaian elektronika. Tegangan yang terdapat pada
transistor merupakan tegangan satu terminal, misalnya emitor yang dapat di
pakai untuk mengatur arus dan tegangan inputnya, memungkinkan
pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.
Pengertian transistor berasal dari perpaduan dua kata, yakni “transfer”
yang artinya pemindahan dan “resistor” yang berarti penghambat. Dengan
demikian transistor dapat diartikan sebagai suatu pemindahan atau peralihan
bahan setengah penghantar menjadi penghantar pada suhu atau keadaan
tertentu.
2. Jenis-Jenis Transistor Dari Fungsi Transistor
Transistor ditemukan pertama kali oleh William Shockley, John
Barden, dan W. H Brattain pada tahun 1948. Mulai dipakai secara nyata
dalam praktik mereka pada tahun 1958. Transistor termasuk komponen semi
konduktor yang bersifat menghantar dan menahan arus [Link] 2 jenis
transistor yaitu transistor tipe P – N – P dan transistor jenis N – P – N.
Transistor NPN adalah transistor positif dimana transistor dapat bekerja
mengalirkan arus listrik apabila basis dialiri tegangan arus positif.
Sedangkan transistor PNP adalah transistor negatif,dapat bekerja
mengalirkan arus apabila basis dialiri tegangan negatif.
3. Macam-macam Transistor dari Fungsi Transistor
Fungsi transistor pada umumnya ada tiga kegunaan. Ketiga guna
tersebut akan saya bahas dalam tulisan ini beserta gambar rangkaiannya
agar penjelasannya dapat lebih mudah dimengerti. Tapi kalau belum
tau pengertian transistor ataupun cara kerja nya, baca dulu ya artikel
sebelumnya diblog ini. Kalau sudah, yuk mari kita bahas satu-persatu
kegunaannya.
4.
Bias Transistor
Fungsi transistor yang pertama adalah sebagai saklar. Dengan
mengontrol bias dari transistor hingga komponen ini menjadi jenuh,
akan menyebabkan seolah-olah diperoleh hubungan singkat diantara
emitor dan kaki kolektor. Fenomena ini lah yang dapat dimanfaatkan
hingga transistor bisa dipakai sebagai saklar elektronika.
5.
Fungsi Transistor Sebagai Saklar
Transistor sebagai saklar
Perhatikan gambar diatas fungsi transistor sebagai saklar, yang
merupakan rangkaian saklar elektronic dgn memakai transistor PNP
serta transistor jenis NPN. Terlihat pula TR4 (PNP) serta TR3 (NPN)
digunakan untuk mematikan dan menghidupkan LED.
TR3 digunakan sebagai pemutus serta penyambung hubungan diantara
katoda-LED dgn ground. Dengan demikian apabila transistor dalam
posisi ON maka LED akan nyala, sedangkan bila transistor dalam
keadaan OFF maka LED menjadi mati. Dengan kaki emitor yang
berhubungan dengan ground, maka kita harus melakukan cara tertentu
agar transistor menyala. Caranya dengan membuat keadaan saklar
SW1 menjadi ON hingga basis-transistor TR3 memperoleh bias yang
bersumber dari tegangan positir, hal ini akan menyebabkan transistor
jadi jenuh / ON kemudian kaki emitor dengan kaki kolektor menjadi
tersambung. Sebaliknya, untuk membuat LED mati caranya adalah
dengan membuat keadaan SW1 menjadi OFF.
Sebagai penyambung dan pemutus hubungan diantara tegangan positif
dan anoda LED, digunakanlah TR4. Dengan begitu apagila transistor
ON maka LED jadi menyala, sebaliknya bila transistor posisinya OFF
maka LED jadi mati. Berbeda dengan penjelasan dalam paragraf
sebelumnya, disini kaki emitor berhubungan dengan tegangan posifit.
Karena itu untuk menyalakan transistor, kita harus mengatur keadaan
saklar SW2 menjadi ON hingga basis transistornya T4 memperoleh
bias dr tegangan negatif yang menyebabkan transistor jadi jenuh / ON
dengan psisi kakli emitor tersambung dengan kaki kolektor. Cara
mematika LED nya sama, yaitu merubah posisi SW1 menjadi OFF.
Fungsi transistor sebagai penguat arus
Adalah kegunaannya yang kedua. Guna komponen yang kedua
ini membuatnya dapat digunakan dalam rangkaian power supply yang
tegannya diset. Dalam keadaan tersebut transisor haruslah terlebih
dahulu dibias dengan tegangan yg konstan pd basisnya, tujuannya
biardi emitor menghasilkan tegangan yg tetap. Umumnya yang
dipakai untuk mengontrol tegangan basis agar tetap adalah dioda
zener.
6.
Kalau diperhatikan pada gambar fungsi transistor sebagai penguat arus
diatas ada 2 regulator dgn polaritas tegangan keluar yg bebeda.
Transistor TR5 / NPN digunakan sebagai regulator tegangan positif,
kemudian transistor TR6/PNP dipakai sebagai regulator tegangan
negatif. Tegangan basis di tiap-tiap transistor diawasi sehingga
nilainya tetap dengan menggunakan dioda zener D4 dan D3. Keadaan
ini akan menyebabkan tegangan yg keluar di emitor memiliki arus
sejumlah per-kalian antara HFE transistor dengan arus basis.
Fungsi transistor yang terakhir adalah untuk menguatkan sinyal AC.
Kegunaan komponen dalam hal ini haruslah memakai beberapa jenis
tekhnik pembiasan basis-transistor. Ketika transistor bekerja untuk
menguatkan sinyal AC, komponen ini digolongkan jadi beberapa tipe
penguat, yaitu penguat kelas C; penguat kelas AB; penguat kelas B dan
penguat kelas A.
7.
Gambar. Fungsi Transistor Sebagai Penguat Sinyal Ac
Bipolar Junction Transistor (BJT)
Bi artinya dua dan Polar asal kata dari polarity yang artinya
polaritas, dengan kata lain bipolar junction transistor (BJT) adalah jenis
Transistor yang memiliki dua polaritas yaitu hole (lubang) atau elektron
sebagai carier (pembawa) untuk menghantarkan arus listrik. Prinsip
dasar konstruksinya disusun seperti dari dua buah dioda yang
disambungkan pada kutub yang sama yaitu Anoda dengan anoda
sehingga menghasilkan transistor jenis NPN atau Katoda dengan katoda
yang menjadi transistor jenis PNP. kaki pada transistor BJT ada 3 yaitu
kaki Basis sebagai titik pertemuan dua dioda dan dua kaki lainnya
adalah kolektor dan emiter. Perhatikan gambar berikut:
Simbol Transistor Bipolar
Konstruksi sambungan pada transistor BJT terdiri dari 2 lapisan penyangga
atau sering disebut depletion layer, lapisan penyangga pertama yaitu antara
kaki basis dan kolektor dan yang kedua lapisan penyangga antara basis dan
emiter. Untuk membuat sambungan antara basis dengan emiter maka lapisan
penyangga dibuat lebih tebal dibanding dengan lapisan penyangga untuk
sambungan kolektor dan basis, tetapi ketebalan masing-masing lapisan ini
dapat berubah sesuai besar arus pada yang diberikan pada kaki basis.
Seperti kita ketahui bahwa komponen dioda memiliki tegangan drop,
itu juga terjadi untuk transistor, dimana tegangan drop ini tergantung dari
bahan semikonduktor yang digunakan. umumnya untuk transistor berbahan
silicon memiliki tegangan drop 0,7V. Tegangan drop ini adalah minimal
tegangan yang bisa menembus lapisan penyangga pada transistor. Transistor
BJT bekerja berdasarkan besar arus pada kaki basis sebagai biasnya, semakin
besar arus bias pada kaki basis maka semakin besar juga arus yang dapat
dihantarkan antara emiter ke kolektor.
Jika dijadikan sebagai rangkaian penguat atau amplifier, ada 3
konfigurasi rangkaian dasar penguatan transistor antara lain:
1. Rangkaian penguat basis bersama (Common base), pada konfigurasi ini
tegangan yang akan diperkuat.
2. Rangkaian penguat kolektor bersama (Common Colector), Arus yang akan
diperkuat pada konfigurasi ini.
3. Rangkaian emiter bersama (Common eiter), Konfigurasi ini akan
menghasilkan penguatan arus dan tegangan.
Unipolar Junction Transistor (UJT)
Uni artinya satu Polar artinya polaritas. Pada transistor UJT hanya satu
polaritas saja yang dijadikan carier/pembawa muatan arus listrik, yaitu
elektron saja atau hole/lubangnya saja, tergantung dari jenis transistor UJT
tersebut. Karena prinsip kerjanya transistor ini berdasarkan dari efek medan
listrik, maka transistor UJT lebih dikenal dengan nama FET (Field Efect
Transistor) atau Transistor Efek Medan. Sama seperti transistor Bipolar FET
juga memiliki 3 kaki tetapi dengan nama yang berbeda yaitu Gate
(G) seperti basis pada transistor BJT, Drain (D) seperti koleltor dan Source
(S) seperti emiter .
Simbol Field Efect Transistor (FET)
Berbeda dengan BJT, Arus Output pada kaki Drain ini dikontrol oleh
besar tegangan pada kaki gate, Perubahan besar tegangan pada gate akan
merubah besar arus pada kaki drain, efek membesar atau mengecilnya arus
pada kaki drain ini ditentukan oleh konstruksi FETnya. FET dibagi dua jenis
yaitu kanal P seperti BJT jenis NPN dan FET kanal N seperti BJT jenis
PNP, dan keluarga FET yang sering digunakan yaitu JFET kepanjangan
dari Junction-Field Efect Transistor dan MOSFET kepanjangan dari Metal
Oxide Semiconductor-Field Efect Transistor . Cara kerja mosfet ada dua
model dan ini ditentukan oleh konstruksinya yaitu Enhancement
mode (mode penebalan) dan Depletion mode (mode penipisan), sedangkan
cara kerja JFET hanya pada mode Depletion saja.
4. Karakteristik Transistor
Transistor bipolar dan Unipolar memiliki perbedaan karakteristik dari
cara kerjanya, Ada kekurangan dan kelebihan dari keduanya.. Perbedaan
tersebut dapat dilihat dari tabel karakteristik transistor dibawah ini:
Karakteristik Transistor
Cara kerja J-FET dan cara kerja MOSFET juga berbeda, dilihat dari tabel
dibawah in.i
Cara Kerja FET
Dari tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pada FET dengan mode penebalan atau enhancement modes, Jika
tegangan pada Gate bukan (0V) maka kondisi FET sama
dengan "OFF" atau seperti switch yang terbuka, danFET
akan "ON" seperti switch tertutup jika tegangan pada Gate
diberi (+V) untuk kanal-N. Dan proses sebaliknya terjadi untuk FET
dengan jenis kanal-P
Sebaliknya pada FET deplestion mode (mode penipisan), jika gate
tegangannya bukan (0V) maka FET pada kondisi "ON" (close switch).
Dan akan "OFF" (close switch) jika tegangan untuk Gate diberi polaritas
negatif (-V) prose ini berlaku untuk jenis FET kanal-N dan proses
sebaliknya untuk FET jenis kanal-P
5. Kelebihan dan Kekurangan Transistor
Transistor memiliki kelebihan antara lain yaitu :
a. Arus pengendali pada transistor jauh lebih kecil sehingga lebih
mudah mengendalikannya.
b. Transistor tidak menggunakan kontak mekanis, sehingga tidak
menimbulkan percikan api dan lebih tahan lama.
c. Ukuran transistor relatif lebih kecil dan kompak dibanding relay.
d. Dapat bekerja pada tegangan kerja yang bervariasi.
Transistor juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
a. Kesalahan penghubungan kaki transistor akan berakibat kerusakan
permanen.
b. Panas yang dihasilkan pada transistor lebih besar sehingga bila
tidak diberi pendinginan yang cukup, akan memperpendek usia
transistor.
Cara Menentukan Kaki Transistor
Sebelumnya perlu diketahui bahwa cara mengetahui kaki-kaki tiap jenis
transistor berbeda-beda. Cara mengetahui kaki transistor persegi berbeda
dengan cara mengetahui kaki transistor jengkol. Oleh karena itu langsung saja
simak ulasan lengkap bagaimana caranya berikut ini.
Cara Menentukan Kaki Transistor Persegi
Berikut ada cara mengetahui kaki-kaki transistor persegi atau transistor pipih
seperti transistor TIP32A. TIP41C, D313, D139, dan D140 tanpa
menggunakan alat ukur berupa multimeter atau avometer.
1. Pertama-tama posisikan transistor secara tegak ke hadapan kita sehingga
mudah dibaca. Perhatikan agar posisi trasistor tidak terbalik
2. Lihat kaki-kaki transistor mulai dari yang paling kiri menuju kaki paling
kanan
3. Kaki paling kiri adalah kaki basis (B), kaki yang di tengah adalah kolektor
(C), dan kaki yang paling kanan adalah kaki emitor (E)
Cara Menentukan Kaki Transistor Persegi
Berikut ada cara mengetahui kaki-kaki transistor jengkol seperti transistor
2N3055 dan 2N2955 menggunakan alat ukur berupa multimeter atau
avometer.
1. Pertama-tama silahkan lihat kaki-kaki transistor. Kaki yang menempel
menempel ke body adalah kaki kolektor (C)
2. Selanjutnya anda harus mencari kaki basis (B) dan kaki emitor (E)
3. Cari kaki basis (B) menggunakan multimeter
4. Setelah kaki basis ditemukan, maka secara otomatis kaki emotor (E) juga
akan ditemukan
Cara Menentukan Kaki Transistor Lalat
Berikut ada cara mengetahui kaki-kaki transistor yang memiliki bentuk kecil
(transistor lalat) seperti transistor C945, C1815, dan 2N5551 menggunakan
alat ukur berupa multimeter atau avometer.
1. Pertama-tama posisikan transistor secara tegak ke hadapan kita sehingga
mudah dibaca. Perhatikan agar posisi trasistor tidak terbalik
2. Setelah itu tentukan letak kaki basis (B) menggunakan multimeter atau
avometer
3. Jika kaki basis (B) berada di sebelah kiri, maka kaki kolektor (C) berada di
tengah, dan kaki emitor (E) berada di sebelah kanan
4. Sebaliknya jika kaki basis (B) berada di sebelah kanan, maka kaki kolektor
(C) berada di tengah, dan kaki emitor (E) berada di sebelah kiri