Penegakan Hukum Perdagangan Satwa Liar
Penegakan Hukum Perdagangan Satwa Liar
1
Abdul Khakim, Pengantar Hukum Kehutanan Indonesia (Bandung: PT Citra Aditya Bakti,
2005), hlm. 6
2
IUCN, “Jumlah spesies yang terancam (hampir punah, terancam punah dan rentan) di dalam
setiap kelompok organisme berdasarkan negara”, The IUCN Red List of Thereatened Species
version 2014 (Maret 2014), diakses tanggal 12 November 2018.
1
2
dilindungi berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Hal tersebut sangat tidak
sebanding dengan keuntungan yang diperoleh oleh para pelaku tindak pidana
perdagangan satwa liar yang dilindungi tersebut. Skripsi ini berusaha untuk
membahas dan menguraikan segi-segi penegakkan hukum terhadap pelaku tindak
pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi dikaji secara teoritis berdasarkan
peraturan perundang-undangan terutama Undang-Undang No.5 Tahun 1990
Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang bertujuan
untuk memastikan penggunaan sumber daya alam secara berkesinambungan untuk
mendukung kesejahteraan dan kualitas hidup manusia. Hal ini mengatur
pelestarian dan konservasi flora dan fauna, ekosistem, wilayah lindung,
penggunaan sumber daya alam berkesinambungan, dan menerangkan proses
penyidikan, hukuman, dan sanksi bagi kejahatan yang disebutkan dalam Undang-
Undang ini, sudah jelas tertera bahwa dalam Undang-Undang tersebut khususnya
pada Pasal 21 ayat (2) berbunyi sebagai berikut:
“Setiap orang dilarang untuk menangkap, membunuh, melukai,
menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meniagakan satwa
yang di lindungi dalam kedaan hidup; menyimpan, memiliki,
memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang di lindungi
dalam keadaan mati; mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu
tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-
bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari
bagian-bagian tersebut atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia
ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; mengambil, merusak,
memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan
atau sarang satwa yang dilindungi”.
korban perdagangan ilegal sejak 2015 dan ditangkap di Kuwait dan Thailand.
Setelah melalui proses rehabilitasi dan reintroduksi, Moza dan Junior nantinya
akan dilepasliarkan di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, sementara Puspa,
yang menurut tes DNA adalah orangutan Sumatera, akan dilepasliarkan di lahan
milik Program Konservasi Orangutan Sumatera yang pusatnya di Medan,
Sumatera Utara. Menurut Jamartin, memang ada kenaikan tren “permintaan”
orangutan dari Timur Tengah yang melihat bahwa memelihara orangutan adalah
prestise tersendiri. Selain itu, Thailand juga menjadi negara tujuan perdagangan
orangutan yang cukup besar, karena orangutan dipakai untuk hiburan. Dari
penyelidikan BOS, orangutan yang diselundupkan keluar dari Kalimantan
biasanya tidak akan melalui bandara, melainkan lewat pelabuhan-pelabuhan laut
bersama pengangkutan kayu kemudian dibawa ke pelabuhan-pelabuhan di
Semarang dan Surabaya.3
Dampak negatif aktivitas manusia bagi kehidupan alam terus meningkat
hari demi hari, demikian pula dengan dampak konservasi. Dipenjuru dunia
organisasi besar dan organisasi kecil melakukan upaya bersama untuk
melestarikan alam dan memastikan alam dimanfaatkan dengan baik dan tidak
dirusak. Sejauh ini cara paling efektif untuk menyelamatkan hewan adalah
melindungi habitat mereka. Habitat hewan memberikan apapun yang dibutuhkan
untuk bertahan hidup. Pada kondisi alaminya, habitat dapat terus melaksanakan
hal ini ketika makanan dan energi diteruskan dari satu spesies ke spesies yang
lain. Ini adalah pemikiran dibalik pembangunan taman nasional dan suaka alam
namun, berdasarkan aturan umum semakin banyak jumlah spesies yang
diuntungkan dan semakin tinggi kemungkinan habitat itu akan dapat bertahan
secara mandiri.
Di Indonesia pada saat ini, masih banyak dijumpai berbagai jenis satwa
liar yang dilindungi Undang-Undang dengan bebas diperjualbelikan secara ilegal
baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Jika hal ini di biarkan tanpa adanya
pengawasan dari pemerintah tentunya akan sangat mengancam keberadaan satwa
liar itu sendiri yang berakibat pada kerusakan dan terganggunya keseimbangan
3
Artharini Isyana, “Menelusuri ‘jalur’ perdagangan orang utan,”
[Link]
diakses 17 November 2018.
5
lingkungan, terlebih jika hewan tersebut adalah predator di alam maka akan
sangat mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Selain itu juga akan berakibat
punahnya stawa liar di alam, terutama satwa liar langka di Indonesia. Habitat dan
kepunahan beberapa jenis satwa langka yang dilindungi saat ini kebanyakan
merupakan suatu ketidaksadaran manusia akan pentingnya suatu keseimbangan
ekosistem. Segala bentuk upaya akan perlindungan satwa langka ini harus
dilaksanakan, sebab tanpa kita sadari jumlah satwa yang ada di dunia khususnya
di Indonesia ini semakin hari semakin berkurang. Tidak menutup kemungkinan
spesies-spesies yang telah punah atau hamper punah tersebut memiliki peranan
yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem. Faktor terancam punahnya
satwa langka ini salah satunya adalah untuk kepentingan pribadi, kepemilikan
satwa langka berdampak dengan semakin sedikitnya jumlah spesies mereka di
bumi. Banyak dari manusia sangat menginginkan satwa liar langka yang beraneka
jenis, tanpa disadari hal tersebut akan semakin berlanjut dengan adanya suatu
perdagangan satwa liar langka secara ilegal. Dapat diambil contoh mengenai
kepemilikan trenggiling, seorang individu dapat memiliki beraneka ragam satwa
liar langka hanya dengan mengeluarkan uang Rp 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah) per ekornya. Kepemilikan satwa liar langka merupakan suatu bentuk
pengerusakan ekosistem yang di alami oleh manusia sebagai suatu individu yang
saling membutuhkan satu sama lain.
Kesenangan akan kepemilikan hewan sangatlah terpancar dari banyaknya
perdagangan hewan secara ilegal yang dilakukan oleh berbagai macam sindikat.
Cara untuk memiliki satwa langka ditempuh oleh berbagai kalangan secara ilegal,
perdagangan hewan secara ilegal tersebut bila tidak ditangani akan mengakibatkan
permasalahan yang cukup serius dikemudian hari, antara lain kepunahan populasi
yang ada di alam, bahkan hingga mengganggu keseimbangan ekosistem dan
siklus rantai makanan yang ada dan pada akhirnya membawa dampak buruk yang
sangat besar bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk yang ada di bumi.
Apabila terus dibiarkan, maka dikhawatirkan suatu saat akan terjadi suatu
kepunahan yang menyebabkan generasi mendatang tidak bisa melihat secara
langsung hewan-hewan tersebut, atau bahkan hanya bisa melihat melalui foto
dokumentasi saja.
6
B. Identifikasi Masalah
Adapun pokok permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini, di identifikasi
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaturan tindak pidana perdagangan satwa liar yang
dilindungi menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam dan Hayati dan Ekosistemnya?
2. Bagaimanakah penegakan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana
perdagangan satwa liar yang dilindungi dalam putusan nomor
17/[Link]/2016/[Link]?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui mengenai pengaturan tindak pidana perdagangan
satwa liar yang dilindungi di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
2. Untuk mengetahui mengenai penegakan hukum pidana terhadap pelaku
tindak pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi pada putusan
nomor perkara 17/[Link]/2016/[Link].
D. Kegunaan Penelitian
Penulis berharap penelitian ini dapat berguna secara teoritis ataupun secara
praktis, yakni sebagai berikut:
1. Secara Teoretis, penulisan ini diharapkan bermanfaat untuk memberikan
masukan untuk perkembangan kemajuan hukum pidana pada khususnya
menambah wawasan dan ilmu pengetahuan terkait mengenai dengan
penegakan hukum terhadap tindak pidana satwa liar yang dilindungi.
7
4
Friederich Julius Stahl dalam Moch Mahfud MD., Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi
(Yogyakarta: Gama Media, 1999), hlm. 127.
8
5
[Link] dalam Jimly Asshidiqqie, Gagasan Negara Hukum Indonesia,
[Link] diakses 24
Oktober 2018.
6
Widiada Gunakaya, Pengantar Ilmu Hukum (Bandung: Pustaka Harapan Baru, 2012),
hlm. 88.
7
Pasal 1 Angka (7) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya.
9
8
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 181.
9
Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis (Yogyakarta: Genta
Publishing, 2009), hlm. 7.
10
Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana (Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro,1995), hlm. 39.
10
Sebagai suatu konsep hal ini harus menjadi perhatian bagi perumus
kebijakan, karena didalam praktik, penegakan hukum pidana secara total ini tidak
mungkin dilakukan, mengingat adanya batasan-batasan yang dilakukan oleh
hukum itu sendiri, yakni untuk menjaga keseimbangan antara berbagai
kepentingan hukum di atas, yang refleksinya merupakan keselarasan antara
ketertiban umum (public order) dan hak warga negara (citizen rights).11
Sebagai suatu proses yang berifat sistemik, maka penegakan hukum
pidana menampakkan diri sebagai penerapan hukum pidana (criminal law
application) yang melibatkan berbagai sub-sistem struktural berupa aparat
Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Permasyarakatan. Termasuk di
dalamnya tentu saja Lembaga Penasehat Hukum.
Dalam hal ini penerapan hukum haruslah dipandang dari 3 dimensi, yaitu:
1. Penerapan hukum dipandang sebagai sistem normatif (normative system)
yaitu penerapan keseluruhan aturan hukum yang menggambarkan nilai-
nilai sosial yang didukung oleh sanksi pidana.
2. Penerapan hukum dipandang sebagai sistem administratif (administrative
system) yang mencakup interaksi antara berbagai aparatur penegak
hukum yang merupakan sub-sistem peradilan di atas;
3. Penerapan hukum pidana merupakan sistem sosial (social system), dalam
arti bahwa dalam mendefinisikan tindak pidana harus pula
diperhitungkan berbagai perspektif pemikiran yang ada dalam lapisan
masyarakat. Sehubungan dengan berbagai dimensi di atas dapat
dikatakan bahwa sebenarnya hasil penerapan hukum pidana harus
menggambarkan keseluruhan hasil interaksi antara hukum, praktek
administrative dan pelaku sosial.12
Menurut Yahya Harahap masalah yang ditemui ialah kesulitan dan
hambatan yang tak terhitung jumlahnya, disebabkan beberapa faktor antara lain:
1. Faktor kecerdasan masyarakat umumnya masih rendah. Penghayatan
mereka belum dimasuki nilai-nilai hak dan kewajiban yang
berpandangan luas, meliputi seluruh wawasan nusantara. Itu sebabnya
terkadang nilai-nilai kaidah hak dan kewajiban hukum yang mereka
miliki, bersifat antagonistik dan berlawanan dengan hak dan kewajiban
yang digariskan undang-undang.
2. Faktor kedua, faktor taraf ekonomi ikut menghambat pertumbuhan
penghayatan hak dan kewajiban hukum. Pada umumnya masyarakat
masih disita waktu dan pikirannya melulu untuk bergerak di bidang
perjuangan mencari kebutuhan nafkah.
11
Ibid.
12
Ibid., hlm. 41.
11
3. Faktor lain, latar belakang budaya yang masih diliputi sikap paternalism,
masyarakat selalu pasrah kepada mereka yang memegang kekuasaan.
Mereka sepenuhnya percaya dan menyerahkan nasib kepada kehendak
para pejabat. Tidak berkehendak menyerahkan nasibnya dibawah
kekuasaan hukum. Bagi mereka hukum identic dengan pejabat penguasa
atau yang memegang “power posisi”. Akibatnya mereka tidak merasa
perlu dan tidak mau tahu akan kehendak dan perintah penguasa. Kalua
begitu, salah satu usaha mempercepat arus dimaksud, diantaranya
ditentukan oleh cepat atau lambatnya budaya paternalism lenyap dari
latar belakang budaya masyarakat.
4. Faktor selanjutnya, belum ditemukan pola operasional penyuluhan
hukum yang efektif.13
Selain dari hal yang telah disebutkan di atas, dalam rangka penegakan
hukum pidana (yang kebijakannya terejawantah dalam sub-sub Sistem Peradilan
Pidana), supaya tercipta keadilan, kedamaian, dan tertib hukum, maka dalam
substansi hukum tadi terutama menyangkut substansi kebijakan proseduralnya
(hukum acaranya) sudah harus ditetapkan asas-asas hukum yang dapat mengikat
semua pihak, yang terlibat dalam penyelenggaraan peradilan pidana, sehingga
dalam penegakan hukum akan benar-benar terarah dan tercapai tujuan yang
dikehendaki. Asas-asas hukum yang harus ditetapkan dalam rangka penegakan
hukum dalam sistem peradilan pidana, di antaranya adalah14:
13
M Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Jakarta: Sinar
Grafika, 2000), hlm. 59.
14
Widiada Gunakaya, Politik Hukum Pidana (Criminal Law Policy) (Bandung:
STHB,2008), hlm. 69.
12
Modus kejahatan eksploitasi satwa yang berkaitan dengan satwa liar yang
dilindungi khususnya satwa liar yang terancam punah merupakan suatu kegiatan
yang secara jelas memiliki potensi yang akan merusak hak generasi mendatang.
Pengelolaan lingkungan hidup, diwujudkan dengan upaya perlindungan terhadap
spesies satwa liar yang dilindungi di Indonesia yang mencakup tindakan-tindakan
atau upaya memelihara, melestarikan lingkungan hidup, termasuk tindakan
pengaturan yang didalamnya, meliputi tindakan hukum yang diberlakukan
terhadap perbuatan-perbuatan baik orang maupun badan hukum yang
berakibatnya ke lingkungan hidup. Kendati demikian, harus diingat bahwa
penegakan hukum bukan semata-mata menjadi kewajiban penegak hukum sebagai
pihak pelaksana. Penegakan hukum adalah kewajiban dari seluruh masyarakat dan
untuk ini pemahaman tentang hak dan kewajiban dari seluruh masyarakat dan
untuk ini pemahaman tentang hak dan kewajiban menjadi syarat mutlak.
Masyarakat seharusnya berperan aktif dalam penegakan hukum. Masyarakat
terlebih dahulu harus memahami nilai terkandung dalam potensi satwa liar di
Indonesia.
Potensi satwa di Indonesia, semata-mata bukan hanya sebagai modal
untuk menghasilkan produk dan jasa saja, sesungguhnya potensi tersebut
17
Ibid.
14
18
Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2016), hlm. 8.
19
Widiada Gunakaya, Politik Hukum... [Link]., hlm. 69.
15
fundamental dalam setiap negara hukum. Setiap perbuatan yang disangkakan atau
yang didakwakan kepada tersangka atau terdakwa harus berdasarkan hukum
positif.20
Kendatipun di atas dikatakan demikian, namun perlu disadari, bahwa
baik dalam perumusan ataupun pelaksanaan kebijakan hukum pidana, norma
hukum pidana ini sesungguhnya tidak dapat ditegakkan secara total. Dimaksud
dengan penegakan hukum pidana secara total (Total law enforcement) pada
hakikatnya adalah:
“suatu konsep penegakan hukum pidana yang diarahkan untuk
melindungi berbagai nilai berupa kepentingan hukum yang ada di dalam
norma hukum pidana yang berkaitan, baik kepentingan hukum negara,
masyarakat maupun kepentingan hukum warga masyarakat sebagai
individu”.21
Jadi, penegakan hukum pidana secara total yang merupakan ruang
lingkup penegakan hukum pidana secara total yang merupakan ruang lingkup
penegakan hukum pidana materiil, dibatasi secara ketat oleh hukum acara pidana
antara lain mencakup aturan-aturan penangkapan, penahanan, penggeledahan,
penyitaan, dan pemeriksaan pendahuluan. Di samping itu hukum pidana materiil
itu sendiri juga memberikan batasan-batasan, misalnya dibutuhkan aduan terlebih
dahulu sebagai syarat penuntutan pada delik-delik aduan.22
F. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sebagai berikut:
1. Spesifikasi Penelitian.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriftip analitis, yaitu penelitian yang
menggambarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ada
kaitannya dengan Penegakan Undang-Undang No.5 Tahun 1990 Tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dikaitkan dengan
teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif mengenai
Penegakan Hukum terhadap tindak pidana satwa liar yang dilindungi. yang
menyangkut permasalahan di atas dalam hal ini putusan nomor
17/[Link]/2016/[Link].
20
Ibid.,
21
Ibid., hlm. 72.
22
Ibid., hlm. 73.
16
2. Jenis Penelitian.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
yuridis-normatif. Penelitian hukum normatif merupakan penelitian
kepustakaan, yaitu penelitian terhadap data sekunder atau data
kepustakaan23. Dalam hal ini mencakup bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder, dan bahan hukum tersier.
23
Ronny Hanitijosoemitro, Metodologi Penelitian dan Jurimetri, [Link]-4, (Jakarta:
Ghalia Indonesia,1990), hlm.11.
17