0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan17 halaman

Penegakan Hukum Perdagangan Satwa Liar

Tindak pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi masih sering terjadi di Indonesia meskipun sudah diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990. Putusan pengadilan No. 17/PID.SUS/2016/PN.NGA menunjukkan upaya penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan satwa dilindungi seperti orangutan. Skripsi ini akan membahas penegakan hukum pidana terhadap pelaku perdagangan satwa dilindungi berdasarkan undang-

Diunggah oleh

Benyamin Sianturi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan17 halaman

Penegakan Hukum Perdagangan Satwa Liar

Tindak pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi masih sering terjadi di Indonesia meskipun sudah diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990. Putusan pengadilan No. 17/PID.SUS/2016/PN.NGA menunjukkan upaya penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan satwa dilindungi seperti orangutan. Skripsi ini akan membahas penegakan hukum pidana terhadap pelaku perdagangan satwa dilindungi berdasarkan undang-

Diunggah oleh

Benyamin Sianturi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK

PIDANA PERDAGANGAN SATWA LIAR YANG DILINDUNGI


MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1990
TENTANG SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN
EKOSISTEMNYA DIHUBUNGKAN DENGAN
PUTUSAN NOMOR 17/[Link]/2016/[Link]

Usulan Penelitian Skripsi

A. Latar Belakang Masalah


Negara Indonesia adalah bangsa yang melimpah akan sumber daya
alamnya terutama sumber daya alam hayati, baik berupa jenis tumbuh-tumbuhan,
maupun satwa-satwa yang ada di dalamnya. Sumber daya alam hayati yang
beranekaragam tersebut diantaranya adalah berbagai satwa endemic (jenis satwa
yang terbatas dengan daerah penyebaran tertentu) yang tersebar hamper diseluruh
kepulauan Indonesia yang memiliki ciri-ciri tertentu menyesuaikan habitatnya
karena ekosistem didalamnya.
Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri
dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa)
yang bersama unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk
ekosistem.1
Indonesia adalah salah satu dari 10 besar negara “mega biodiversivitas”
dan pemasok terbesar produk satwa liar di Asia, baik secara legal maupun ilegal.
Meskipun hanya menempati 1,3% permukaan bumi, Indonesia mempunya 12%
mamalia dunia, 7,3% amfibi dan reptile dunia, dan 17% burung-burung dunia.
Dari numlah ini, 1,225 spesies fauna dan flora terancam punah dalam skala
global, urutan keempat terbanyak disbanding negara-negara lainnya, termasuk
mamalia (185 spesies, lebih dari semua negara lain di dunia), burung (131 spesies,
kedua terbesar di dunia), amfibi dan reptile (64 spesies), ikan 149 spesies),
moluska dan invertebrata lainnya (288 spesies), dan tanaman (408 spesies).2

1
Abdul Khakim, Pengantar Hukum Kehutanan Indonesia (Bandung: PT Citra Aditya Bakti,
2005), hlm. 6
2
IUCN, “Jumlah spesies yang terancam (hampir punah, terancam punah dan rentan) di dalam
setiap kelompok organisme berdasarkan negara”, The IUCN Red List of Thereatened Species
version 2014 (Maret 2014), diakses tanggal 12 November 2018.

1
2

Berbagai jenis satwa dilindungi dan terancam punah masih


diperdagangkan secara bebas di Indonesia. Semakin langka satwa tersebut maka
akan semakin mahal pula harganya. Binatang-binatang yang banyak diburu dan
diperdagangkan secara ilegal diantaranya adalah berbagai jenis burung yang sudah
semakin sedikit jumlah populasinya. Sedangkan satwa lain yang diperdagangkan
yaitu Musang, Landak Semut, Orang Utan, Gajah, Harimau dan sebagainya.
Tentunya dengan kekayaan yang begitu besar, Indonesia harus memiliki peraturan
dan kebijakan untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam ini. Pemerintah
pusat maupun daerah memiliki peranan penting dalam perumusan berbagai
kebijakan pengelolaan sumber daya alam atau spesies-spesies langka yang
terancam kepunahan. Di ketahui juga bahwa perburuan dan perdagangan satwa
liar yang dapat berujung pada kepunahan suatu spesies, yang akan berdampak
buruk pada ekosistem di lingkungan hidup.
Punahnya satwa liar yang dilindungi di Indonesia dikarenakan beberapa
faktor, baik itu oleh perburuan liar yang dilakukan oleh manusia, maupun jumlah
jenis satwa yang semakin sedikit secara alami. Adapula penyebab punahnya satwa
liar yang dilindungi antara lain karena adanya faktor permintaan masyarakat yang
semakin meningkat untuk mempunyai hak milik satwa liar yang dilindungi dan
juga adanya kebutuhan masyarakat terhadap satwa liar yang bisa dipergunakan
bagian-bagian tubuhnya untuk obat-obatan dan juga mahalnya harga satwa liar
yang hampir punah.
Manusia melakukan perburuan terhadap satwa liar maupun satwa yang
mulai punah salah satu penyebabnya karena baik pemburu maupun penjual
memiliki kesenjangan ekonomi yang menyebabkan mereka melakukan tindakan
pemburuan dan perdagangan satwa liar maupun satwa yang hampir punah,
didukung dengan harga jual daripada satwa liar atau satwa yang hampir punah
sangat tinggi di pasar dunia sehingga membuat mereka tertarik untuk melakukan
tindakan tersebut.
Semakin maraknya kasus perdagangan satwa liar yang dilindungi baik
hidup maupun sudah mati (bagian-bagian tubuhnya) sudah terjadi hampir di
seluruh pelosok Indonesia yang kemudian melatarbelakangi penulisan skripsi ini.
Kejahatan terhadap satwa khususnya tindak pidana perdagangan satwa liar yang
3

dilindungi berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Hal tersebut sangat tidak
sebanding dengan keuntungan yang diperoleh oleh para pelaku tindak pidana
perdagangan satwa liar yang dilindungi tersebut. Skripsi ini berusaha untuk
membahas dan menguraikan segi-segi penegakkan hukum terhadap pelaku tindak
pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi dikaji secara teoritis berdasarkan
peraturan perundang-undangan terutama Undang-Undang No.5 Tahun 1990
Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang bertujuan
untuk memastikan penggunaan sumber daya alam secara berkesinambungan untuk
mendukung kesejahteraan dan kualitas hidup manusia. Hal ini mengatur
pelestarian dan konservasi flora dan fauna, ekosistem, wilayah lindung,
penggunaan sumber daya alam berkesinambungan, dan menerangkan proses
penyidikan, hukuman, dan sanksi bagi kejahatan yang disebutkan dalam Undang-
Undang ini, sudah jelas tertera bahwa dalam Undang-Undang tersebut khususnya
pada Pasal 21 ayat (2) berbunyi sebagai berikut:
“Setiap orang dilarang untuk menangkap, membunuh, melukai,
menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meniagakan satwa
yang di lindungi dalam kedaan hidup; menyimpan, memiliki,
memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang di lindungi
dalam keadaan mati; mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu
tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-
bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari
bagian-bagian tersebut atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia
ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; mengambil, merusak,
memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan
atau sarang satwa yang dilindungi”.

Sebagaimana yang sudah dijelaskan tadi, konservasi sumber daya alam


hayati dan ekosistemnya bertujuan untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian
sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih
mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan
manusia karena hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama. Namun,
meskipun telah terdapat aturan aturan yang jelas mengenai sanksi pidana bagi
pelaku perburuan dan penjualan satwa liar masih saja terjadi sampai saat ini.
Pada tahun 2015 telah terjadi perdagangan ilegal orangutan yang
diperdagangkan bernama Puspa, Moza, Junior, tiga orangutan ini termasuk dari
tujuh yang akan direhabilitasi ke Sumatera dan Kalimantan setelah menjadi
4

korban perdagangan ilegal sejak 2015 dan ditangkap di Kuwait dan Thailand.
Setelah melalui proses rehabilitasi dan reintroduksi, Moza dan Junior nantinya
akan dilepasliarkan di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, sementara Puspa,
yang menurut tes DNA adalah orangutan Sumatera, akan dilepasliarkan di lahan
milik Program Konservasi Orangutan Sumatera yang pusatnya di Medan,
Sumatera Utara. Menurut Jamartin, memang ada kenaikan tren “permintaan”
orangutan dari Timur Tengah yang melihat bahwa memelihara orangutan adalah
prestise tersendiri. Selain itu, Thailand juga menjadi negara tujuan perdagangan
orangutan yang cukup besar, karena orangutan dipakai untuk hiburan. Dari
penyelidikan BOS, orangutan yang diselundupkan keluar dari Kalimantan
biasanya tidak akan melalui bandara, melainkan lewat pelabuhan-pelabuhan laut
bersama pengangkutan kayu kemudian dibawa ke pelabuhan-pelabuhan di
Semarang dan Surabaya.3
Dampak negatif aktivitas manusia bagi kehidupan alam terus meningkat
hari demi hari, demikian pula dengan dampak konservasi. Dipenjuru dunia
organisasi besar dan organisasi kecil melakukan upaya bersama untuk
melestarikan alam dan memastikan alam dimanfaatkan dengan baik dan tidak
dirusak. Sejauh ini cara paling efektif untuk menyelamatkan hewan adalah
melindungi habitat mereka. Habitat hewan memberikan apapun yang dibutuhkan
untuk bertahan hidup. Pada kondisi alaminya, habitat dapat terus melaksanakan
hal ini ketika makanan dan energi diteruskan dari satu spesies ke spesies yang
lain. Ini adalah pemikiran dibalik pembangunan taman nasional dan suaka alam
namun, berdasarkan aturan umum semakin banyak jumlah spesies yang
diuntungkan dan semakin tinggi kemungkinan habitat itu akan dapat bertahan
secara mandiri.
Di Indonesia pada saat ini, masih banyak dijumpai berbagai jenis satwa
liar yang dilindungi Undang-Undang dengan bebas diperjualbelikan secara ilegal
baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Jika hal ini di biarkan tanpa adanya
pengawasan dari pemerintah tentunya akan sangat mengancam keberadaan satwa
liar itu sendiri yang berakibat pada kerusakan dan terganggunya keseimbangan

3
Artharini Isyana, “Menelusuri ‘jalur’ perdagangan orang utan,”
[Link]
diakses 17 November 2018.
5

lingkungan, terlebih jika hewan tersebut adalah predator di alam maka akan
sangat mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Selain itu juga akan berakibat
punahnya stawa liar di alam, terutama satwa liar langka di Indonesia. Habitat dan
kepunahan beberapa jenis satwa langka yang dilindungi saat ini kebanyakan
merupakan suatu ketidaksadaran manusia akan pentingnya suatu keseimbangan
ekosistem. Segala bentuk upaya akan perlindungan satwa langka ini harus
dilaksanakan, sebab tanpa kita sadari jumlah satwa yang ada di dunia khususnya
di Indonesia ini semakin hari semakin berkurang. Tidak menutup kemungkinan
spesies-spesies yang telah punah atau hamper punah tersebut memiliki peranan
yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem. Faktor terancam punahnya
satwa langka ini salah satunya adalah untuk kepentingan pribadi, kepemilikan
satwa langka berdampak dengan semakin sedikitnya jumlah spesies mereka di
bumi. Banyak dari manusia sangat menginginkan satwa liar langka yang beraneka
jenis, tanpa disadari hal tersebut akan semakin berlanjut dengan adanya suatu
perdagangan satwa liar langka secara ilegal. Dapat diambil contoh mengenai
kepemilikan trenggiling, seorang individu dapat memiliki beraneka ragam satwa
liar langka hanya dengan mengeluarkan uang Rp 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah) per ekornya. Kepemilikan satwa liar langka merupakan suatu bentuk
pengerusakan ekosistem yang di alami oleh manusia sebagai suatu individu yang
saling membutuhkan satu sama lain.
Kesenangan akan kepemilikan hewan sangatlah terpancar dari banyaknya
perdagangan hewan secara ilegal yang dilakukan oleh berbagai macam sindikat.
Cara untuk memiliki satwa langka ditempuh oleh berbagai kalangan secara ilegal,
perdagangan hewan secara ilegal tersebut bila tidak ditangani akan mengakibatkan
permasalahan yang cukup serius dikemudian hari, antara lain kepunahan populasi
yang ada di alam, bahkan hingga mengganggu keseimbangan ekosistem dan
siklus rantai makanan yang ada dan pada akhirnya membawa dampak buruk yang
sangat besar bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk yang ada di bumi.
Apabila terus dibiarkan, maka dikhawatirkan suatu saat akan terjadi suatu
kepunahan yang menyebabkan generasi mendatang tidak bisa melihat secara
langsung hewan-hewan tersebut, atau bahkan hanya bisa melihat melalui foto
dokumentasi saja.
6

Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas maka


penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini dalam bentuk skripsi dengan judul;

“PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK


PIDANA PERDAGANGAN SATWA LIAR YANG DILINDUNGI
MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG
SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA
DIHUBUNGKAN DENGAN PUTUSAN NOMOR
17/[Link]/2016/[Link]”

B. Identifikasi Masalah
Adapun pokok permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini, di identifikasi
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaturan tindak pidana perdagangan satwa liar yang
dilindungi menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam dan Hayati dan Ekosistemnya?
2. Bagaimanakah penegakan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana
perdagangan satwa liar yang dilindungi dalam putusan nomor
17/[Link]/2016/[Link]?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui mengenai pengaturan tindak pidana perdagangan
satwa liar yang dilindungi di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
2. Untuk mengetahui mengenai penegakan hukum pidana terhadap pelaku
tindak pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi pada putusan
nomor perkara 17/[Link]/2016/[Link].
D. Kegunaan Penelitian
Penulis berharap penelitian ini dapat berguna secara teoritis ataupun secara
praktis, yakni sebagai berikut:
1. Secara Teoretis, penulisan ini diharapkan bermanfaat untuk memberikan
masukan untuk perkembangan kemajuan hukum pidana pada khususnya
menambah wawasan dan ilmu pengetahuan terkait mengenai dengan
penegakan hukum terhadap tindak pidana satwa liar yang dilindungi.
7

2. Secara Praktis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan


rujukan, masukan,dan informasi bagi rekan mahasiswa, masyarakat,
Lembaga swadaya masyarakat, para praktisi hukum, dan pemerintah
dalam melakukan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana satwa
liar yang dilindung.
E. Kerangka Pemikiran
“Negara Indonesia adalah Negara Hukum” sebagaimana ditetapkan Pasal
1 Ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, maka dari itu hukum harus ditegakkan.
Hukum yang hendak ditegakkan ialah hukum yang berlandaskan Pancasila,
Undang-Undang Dasar 1945 serta segala hukum dan peraturan perundang-
undangan yang tidak bertentangan dengan sumber hukum yang benar-benar sesuai
dengan nilai kesadaran yang hidup dalam masyarakat. Sebagai negara yang
berlandaskan hukum, maka seluruh tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara
harus berdasarkan atas hukum yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan memberi hukuman bagi yang bersalah. Selain memberi
hukuman bagi mereka yang bersalah, negara juga mempunyai kewajiban untuk
membina mereka yang telah melanggar hukum atau melakukan tindak kejahatan.
Penegakan hukum sebagai sarana untuk mencapai tujuan hukum, maka sudah
semestinya seluruh usaha dikerahkan agar hukum mampu bekerja untuk
mewujudkan nilai-nilai moral di dalam hukum. Kegagalan penegakan hukum
merupakan bahaya akan lemahnya hukum yang ada, keberhasilan penegakan
hukum akan menentukan barometer sejauh mana hukum tersebut diterima dan
ditaati oleh masyarakat di dalam realita kehidupan.
Ciri-ciri negara hukum formal menurut Friederich Julius Stahl
sebagaimana dikuti oleh Moch Mahfud Md., adalah:
1. Hak-hak asasi manusia.
2. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak
manusia itu yang bisa dikenal sebagai Trias Politika.
3. Pemerintah berdasarkan peraturan-peraturan.
4. Peradilan administrasi dalam perselisihan4.

4
Friederich Julius Stahl dalam Moch Mahfud MD., Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi
(Yogyakarta: Gama Media, 1999), hlm. 127.
8

Sedangkan A. V. Dicey sebagaimana dikutip oleh Jimly Asshidiqqie


memberikan ciri-ciri:
1. Supermasi hukum, dalam arti tidak boleh ada kesewenang-wenangan.
2. Kedudukan yang sama di depan hukum baik bagi rakyat biasa maupun
pejabat.
3. Terjaminnya hak-hak manusia oleh Undang-undang dan keputusan-
keputusan pengadilan5.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang dimaksud dengan


hukum itu ?, pertanyaan tersebut dijawab melalui pendapat Mochtar
Kusumaatmadja yang mengemukakan:

“Hukum itu tidak saja merupakan asas-asas dan kaidah-kaidah yang


mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat melainkan meliputi pula
lembaga-lembaga (institutions) dan proses-proses (process) yang
mewujudkan berlakunya kaidah-kaidah itu dalam kenyataan”6.

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan satwa liar


tertinggi di dunia. Namun, kekayaan tersebut terancam keberadaannya, salah
satunya diakibatkan oleh perdagangan satwa liar yang banyak dilakukan oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Indonesia telah mempunyai peraturan
hukum yang terkait dengan perdagangan satwa liar, salah satunya ialah Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya.
Berdasarkan Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990
Tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya mendefinisikan satwa liar
sebagai berikut:
“Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air,
dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup
bebas maupun yang dipelihara oleh manusia”.7
Walaupun sudah ada peraturan tentang perdagangan satwa liar akan
tetapi tetap saja dalam kenyataannya masih saja terjadi perdagangan satwa liar.
Hukum akan menjadi efektif apabila terjadi dampak hukum yang positif, artinya

5
[Link] dalam Jimly Asshidiqqie, Gagasan Negara Hukum Indonesia,
[Link] diakses 24
Oktober 2018.
6
Widiada Gunakaya, Pengantar Ilmu Hukum (Bandung: Pustaka Harapan Baru, 2012),
hlm. 88.
7
Pasal 1 Angka (7) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya.
9

hukum mencapai sasarannya di dalam menuntun atau mengubah perilaku manusia


sehingga menjadi perilaku yang taat hukum. Efektivitas hukum berkaitan dengan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas hukum yaitu peraturan hukum,
petugas atau penegak hukum, sarana atau fasilitas dalam menegakkan hukum dan
kesadaran masyarakat.
Dalam Bahasa Indonesia dikenal beberapa istilah di luar penegakan
hukum tersebut seperti “penerapan hukum”. Tetapi tampaknya istilah penegakan
hukum adalah yang paling sering digunakan dan dengan demikian pada waktu-
waktu mendatang istilah tersebut akan makin mapan atau merupakan istilah yang
dijadikan (coined). Dalam bahasa asing kita juga mengenal berbagai peristilahan
seperti : rechtstoepassing, rechtshandhaving (Belanda): law enforcement,
application (Amerika).8
Penegakan hukum selalu melibatkan manusia di dalamnya dan
melibatkan juga tingkah laku manusia. Hukum tidak dapat tegak dengan
sendirinya, artinya hukum tidak mampu nmewujudkan sendiri janji-janji serta
kehendak-kehendak yang tercantum dalam peraturan-peraturan hukum. Janji dan
kehendak tersebut, misalnya untuk memberikan hak kepada seseorang,
memberikan perlindungan kepada seseorang, mengenakan pidana terhadap
seseorang yang memenuhi persyaratan tertentu dan sebagainya.9
Kendatipun di atas demikian, namun perlu disadari, bahwa baik dalam
perumusan maupun dalam pelaksanaan kebijakan penegakan hukum pidana,
norma hukum pidana ini sesungguhnya tidak dapat ditegakkan secara total.
Dimaksud dengan penegakan hukum pidana secara total (total law enforcement)
pada hakikatnya adalah:
“Suatu konsep penegakan hukum pidana yang diarahkan untuk
melindungi berbagai nilai berupa kepentingan hukum yang ada di dalam
norma hukum pidana yang berkaitan, baik kepentingan hukum negara,
masyarakat maupun kepentingan hukum warga masyarakat secara
individu.”10

8
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 181.
9
Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis (Yogyakarta: Genta
Publishing, 2009), hlm. 7.
10
Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana (Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro,1995), hlm. 39.
10

Sebagai suatu konsep hal ini harus menjadi perhatian bagi perumus
kebijakan, karena didalam praktik, penegakan hukum pidana secara total ini tidak
mungkin dilakukan, mengingat adanya batasan-batasan yang dilakukan oleh
hukum itu sendiri, yakni untuk menjaga keseimbangan antara berbagai
kepentingan hukum di atas, yang refleksinya merupakan keselarasan antara
ketertiban umum (public order) dan hak warga negara (citizen rights).11
Sebagai suatu proses yang berifat sistemik, maka penegakan hukum
pidana menampakkan diri sebagai penerapan hukum pidana (criminal law
application) yang melibatkan berbagai sub-sistem struktural berupa aparat
Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Permasyarakatan. Termasuk di
dalamnya tentu saja Lembaga Penasehat Hukum.
Dalam hal ini penerapan hukum haruslah dipandang dari 3 dimensi, yaitu:
1. Penerapan hukum dipandang sebagai sistem normatif (normative system)
yaitu penerapan keseluruhan aturan hukum yang menggambarkan nilai-
nilai sosial yang didukung oleh sanksi pidana.
2. Penerapan hukum dipandang sebagai sistem administratif (administrative
system) yang mencakup interaksi antara berbagai aparatur penegak
hukum yang merupakan sub-sistem peradilan di atas;
3. Penerapan hukum pidana merupakan sistem sosial (social system), dalam
arti bahwa dalam mendefinisikan tindak pidana harus pula
diperhitungkan berbagai perspektif pemikiran yang ada dalam lapisan
masyarakat. Sehubungan dengan berbagai dimensi di atas dapat
dikatakan bahwa sebenarnya hasil penerapan hukum pidana harus
menggambarkan keseluruhan hasil interaksi antara hukum, praktek
administrative dan pelaku sosial.12
Menurut Yahya Harahap masalah yang ditemui ialah kesulitan dan
hambatan yang tak terhitung jumlahnya, disebabkan beberapa faktor antara lain:
1. Faktor kecerdasan masyarakat umumnya masih rendah. Penghayatan
mereka belum dimasuki nilai-nilai hak dan kewajiban yang
berpandangan luas, meliputi seluruh wawasan nusantara. Itu sebabnya
terkadang nilai-nilai kaidah hak dan kewajiban hukum yang mereka
miliki, bersifat antagonistik dan berlawanan dengan hak dan kewajiban
yang digariskan undang-undang.
2. Faktor kedua, faktor taraf ekonomi ikut menghambat pertumbuhan
penghayatan hak dan kewajiban hukum. Pada umumnya masyarakat
masih disita waktu dan pikirannya melulu untuk bergerak di bidang
perjuangan mencari kebutuhan nafkah.

11
Ibid.
12
Ibid., hlm. 41.
11

3. Faktor lain, latar belakang budaya yang masih diliputi sikap paternalism,
masyarakat selalu pasrah kepada mereka yang memegang kekuasaan.
Mereka sepenuhnya percaya dan menyerahkan nasib kepada kehendak
para pejabat. Tidak berkehendak menyerahkan nasibnya dibawah
kekuasaan hukum. Bagi mereka hukum identic dengan pejabat penguasa
atau yang memegang “power posisi”. Akibatnya mereka tidak merasa
perlu dan tidak mau tahu akan kehendak dan perintah penguasa. Kalua
begitu, salah satu usaha mempercepat arus dimaksud, diantaranya
ditentukan oleh cepat atau lambatnya budaya paternalism lenyap dari
latar belakang budaya masyarakat.
4. Faktor selanjutnya, belum ditemukan pola operasional penyuluhan
hukum yang efektif.13
Selain dari hal yang telah disebutkan di atas, dalam rangka penegakan
hukum pidana (yang kebijakannya terejawantah dalam sub-sub Sistem Peradilan
Pidana), supaya tercipta keadilan, kedamaian, dan tertib hukum, maka dalam
substansi hukum tadi terutama menyangkut substansi kebijakan proseduralnya
(hukum acaranya) sudah harus ditetapkan asas-asas hukum yang dapat mengikat
semua pihak, yang terlibat dalam penyelenggaraan peradilan pidana, sehingga
dalam penegakan hukum akan benar-benar terarah dan tercapai tujuan yang
dikehendaki. Asas-asas hukum yang harus ditetapkan dalam rangka penegakan
hukum dalam sistem peradilan pidana, di antaranya adalah14:

1. Asas pembagian tugas dan kewenangan yang jelas, melalui


pentahapan dalam proses peradilan. Tahap penyelidikan
(investigating), tahap penuntutan (prosecuting) dan tahap pengadilan
(trial). Ditinjau dari alokasi pembagian tugas dan kewenangan, fungsi
investigasi diberikan pada polisi, fungsi penuntutan diberikan kepada
penuntut umum, dan fungsi yudisial diberikan kepada badan
pengadilan.
2. Asas Legalitas, asas ini merupakan asas fundamental dalam setiap
negara hukum. Setiap perbuatan yang disankakan atau yang
didakwakan kepada tersangka atau terdakwa harus berdasarkan
hukum positif. Demikian pula terhadap setiap tindakan tersangka atau
terdakwa maupun aparat penegak hukum dalam tahapan-tahapan
proses peradilan pidana (penegakan hukum pidana) harus pula
berdasarkan atas hukum.
3. Asas Persumption of innoncence (Asas Praduga tak bersalah), yaitu
asas yang menyatakan bahwa seseorang tersangka atau terdakwa dari
suatu tindak pidana menurut hukum dianggap tidak bersalah sampai

13
M Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Jakarta: Sinar
Grafika, 2000), hlm. 59.
14
Widiada Gunakaya, Politik Hukum Pidana (Criminal Law Policy) (Bandung:
STHB,2008), hlm. 69.
12

ada keputusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap dan


pasti. Unsur dari asas ini adalah asas utama perlindungan terhadap
hak warga negara “melalui proses hukum yang adil” (due process of
law) yang sekurang-kurangnya mencakup:
a. Perlindungan terhadap tindakan sewenang-wenang dari pejabat
negara
b. Bahwa pengadilanlah yang berhak menentukan salah tidaknya
terdakwa
c. Bahwa sidang pengadilan harus terbuka dan tidak boleh bersifat
rahasia
d. Bahwa tersangka atau terdakwa harus diberikan jaminan-jaminan
untuk dapat membela diri sepenuh-penuhnya15
4. Asas ini melahirkan asas beban pembuktian, yaitu “tersangka atau
terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian”. Jadi, kewajiban
pembuktian dibebankan kepada jaksa penuntut umum. Bukan
sebaliknya.
5. Asas perlakuan sama dihadapan hukum. Asas ini menunjukkan,
bahwa di dalam proses peradilan pidana tidak diperbolehkan adanya
diskriminasi berdasarkan agama, ras, paham politik, kekayaan, jenis
kelamin, atau berdasarkan status sosialnya.
6. Asas Integralitas, artinya bahwa pelaksanaan pengelolaan manajemen
dari setiap elemen sistem peradilan pidana didasarkan atas konsep
integralisme, yang bersifat menyeluruh (wholism), sistemik, dan
sinkronisasi baik vertikal maupun horizontal. Tidak bersifat
fragmentaris, yakni berjalan sendiri-sendiri.
7. Asas diskresi. Asas ini diberikan kepada para penegak hukum baik
pada tahap penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di pengadilan, dan
di lembaga permasyarakatan. Penerapan asas ini harus dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum dan dilakukan demi keadilan
(kesejahteraan). Diskresi pada dasarnya tidak lain adalah langkah
penyerasian nilai-nilai dilakukan untuk mencapai keselarasan antara
kepastian hukum dan keadilan, dan kemanfaatan.
8. Asas Peradilan yang adil dan terbuka untuk umum (fair trial and
public hearing). Pengertian “terbuka untuk umum” di sini adalah
adanya “public hearing”, dan dimaksudkan mencegah adanya “secret
hearings”, sehingga masyarakat tidak dapat mengawasi ‘apakah
pengadilan secara seksama telah melindungi hak-hak terdakwa’.
Tidak boleh asas ini diartikan untuk menjadikan peradilan itu suatu
“show case” atau dimaksudkan sebagai “instrument of deterence”.
Baik dengan cara mempermalukan terdakwa (prevensi khusus) atau
pun menakut-nakuti masyarakat atau “potensial offenders” (prevensi
umum16.
9. Asas Peradilan bebas dan dilakukan dengan cepat dan sederhana. Di
sini sesungguhnya terdapat dua asas, yaitu:
a. Peradilan yang bebas dari pengaruh siapapun, dan;
b. Cara proses peradilan pidana haruslah cepat dan sederhana.
15
M Yahya Harahap, Pembahasan ... [Link]., hlm. 70.
16
Ibid., hlm. 71.
13

Kebebasan peradilan (independen judiciary) adalah titik pusat dari


konsep negara hukum menganut paham rule of law, yakni hukum
ditegakkan secara tidak berpihak (impartial). Peradilan yang bebas
tidak akan mengijinkan, bahwa seseorang telah “dianggap bersalah”
sebelum ada pembuktian yang kuat tentang hal itu, tidak akan
mengijinkan adanya “show trials” dimana terdakwa tidak diberikan
kesempatan yang layak untuk membela diri, dan orang-orang sudah
dapat menduga bahwa putusan hakim akan mempersalahkan
terdakwa tanpa menghiraukan pembuktian ataupun pembelaan.
Keinginan mempunyai proses peradilan pidana yang cepat dan
sederhana, merupakan tuntutan yang logis dari setiap tersangka dan
terdakwa. Asas ini dimaksudkan untuk mengurangi sampai
seminimal mungkin penderitaan tersangka maupun terdakwa. Apalagi
bilamana mungkin penderitaan tersangka atau terdakwa di dalam
tahanan, maka ia berhak menuntut untuk diadili dalam jangka waktu
yang wajar. Tidak boleh ada kelambatan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan oleh penegak hukum17.

Modus kejahatan eksploitasi satwa yang berkaitan dengan satwa liar yang
dilindungi khususnya satwa liar yang terancam punah merupakan suatu kegiatan
yang secara jelas memiliki potensi yang akan merusak hak generasi mendatang.
Pengelolaan lingkungan hidup, diwujudkan dengan upaya perlindungan terhadap
spesies satwa liar yang dilindungi di Indonesia yang mencakup tindakan-tindakan
atau upaya memelihara, melestarikan lingkungan hidup, termasuk tindakan
pengaturan yang didalamnya, meliputi tindakan hukum yang diberlakukan
terhadap perbuatan-perbuatan baik orang maupun badan hukum yang
berakibatnya ke lingkungan hidup. Kendati demikian, harus diingat bahwa
penegakan hukum bukan semata-mata menjadi kewajiban penegak hukum sebagai
pihak pelaksana. Penegakan hukum adalah kewajiban dari seluruh masyarakat dan
untuk ini pemahaman tentang hak dan kewajiban dari seluruh masyarakat dan
untuk ini pemahaman tentang hak dan kewajiban menjadi syarat mutlak.
Masyarakat seharusnya berperan aktif dalam penegakan hukum. Masyarakat
terlebih dahulu harus memahami nilai terkandung dalam potensi satwa liar di
Indonesia.
Potensi satwa di Indonesia, semata-mata bukan hanya sebagai modal
untuk menghasilkan produk dan jasa saja, sesungguhnya potensi tersebut

17
Ibid.
14

merupakan penopang kehidupan, yang memiliki nilai dalam aspek sosial,


ekonomi dan lingkungan serta sistem pengetahuan dan etika, namun nilai-nilai
tersebut sering kali diabaikan. Sosialisasi nilai dari potensi satwa liar kepada
masyarakat luas terutama juga pihak pelaksana regulasi yang menjadi mekanisme
penegakan regulasi secara preventif dan efektif. Timbulnya seperti ini diharapkan,
penyidikan serta pelaksanaan sanksi administrasi dan sanksi pidana seharusnya
menjadi pilihan terakhir dalam proses penegakan hukum. Supaya masa depan dari
potensi satwa liar yang dilindungi di Indonesia menjadi lebih baik, prinsip-prinsip
serta aturan-aturan tersebut bukan hanya di ciptakan, disetujui dan diterbitkan saja
oleh pemerintah dan masyarakat, akan tetapi juga dimengerti sehingga dapat
dilaksanakan secara efektif. Baik dari pihak para penegak hukum maupun dari
pihak masyarakat.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, efektif atau
tidaknya penegakan hukum itu sendiri terpengaruh dari faktor-faktor yang
berorientasi dalam penegakan hukum itu. Adapun faktor yang dimaksud oleh
beliau adalah sebagai berikut:
1. Faktor Hukumnya sendiri (Undang-Undang)
2. Faktor Penegak Hukum (pihak-pihak yang membentuk maupun yang
menerapkan hukum)
3. Faktor Sarana dan Fasilitas yang mendukung penegakan hukum.
4. Faktor masyakarat (Lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau
diterapkan)
5. Faktor kebudayaan (sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan
pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup).18
Di samping hal di atas, dalam rangka penegakan hukum pidana (yang
kebijakannya terejawantah dalam sub-sub Sistem Peradilan Pidana), supaya
tercipta keadilan, kedamaian dan tertib hukum, maka dalam substansi hukum tadi
terutama menyangkut substansi kebijakan prosedurnya (hukum acaranya) sudah
harus ditetapkan asas-asas hukum yang dapat mengikat semua pihak yang terlibat
dalam penyelenggaraan peradilan pidana, sehingga dalam penegakan hukum akan
benar-benar terarah dan tercapai tujuan yang dikehendaki. 19 Adapun asas yang
paling utama dari Negara Hukum adalah Asas Legalitas, asas ini merupakan asas

18
Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2016), hlm. 8.
19
Widiada Gunakaya, Politik Hukum... [Link]., hlm. 69.
15

fundamental dalam setiap negara hukum. Setiap perbuatan yang disangkakan atau
yang didakwakan kepada tersangka atau terdakwa harus berdasarkan hukum
positif.20
Kendatipun di atas dikatakan demikian, namun perlu disadari, bahwa
baik dalam perumusan ataupun pelaksanaan kebijakan hukum pidana, norma
hukum pidana ini sesungguhnya tidak dapat ditegakkan secara total. Dimaksud
dengan penegakan hukum pidana secara total (Total law enforcement) pada
hakikatnya adalah:
“suatu konsep penegakan hukum pidana yang diarahkan untuk
melindungi berbagai nilai berupa kepentingan hukum yang ada di dalam
norma hukum pidana yang berkaitan, baik kepentingan hukum negara,
masyarakat maupun kepentingan hukum warga masyarakat sebagai
individu”.21
Jadi, penegakan hukum pidana secara total yang merupakan ruang
lingkup penegakan hukum pidana secara total yang merupakan ruang lingkup
penegakan hukum pidana materiil, dibatasi secara ketat oleh hukum acara pidana
antara lain mencakup aturan-aturan penangkapan, penahanan, penggeledahan,
penyitaan, dan pemeriksaan pendahuluan. Di samping itu hukum pidana materiil
itu sendiri juga memberikan batasan-batasan, misalnya dibutuhkan aduan terlebih
dahulu sebagai syarat penuntutan pada delik-delik aduan.22

F. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sebagai berikut:
1. Spesifikasi Penelitian.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriftip analitis, yaitu penelitian yang
menggambarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ada
kaitannya dengan Penegakan Undang-Undang No.5 Tahun 1990 Tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dikaitkan dengan
teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif mengenai
Penegakan Hukum terhadap tindak pidana satwa liar yang dilindungi. yang
menyangkut permasalahan di atas dalam hal ini putusan nomor
17/[Link]/2016/[Link].

20
Ibid.,
21
Ibid., hlm. 72.
22
Ibid., hlm. 73.
16

2. Jenis Penelitian.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
yuridis-normatif. Penelitian hukum normatif merupakan penelitian
kepustakaan, yaitu penelitian terhadap data sekunder atau data
kepustakaan23. Dalam hal ini mencakup bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder, dan bahan hukum tersier.

a. Bahan Hukum Primer yaitu berupa Peraturan Perundang-Undangan dan


Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, misalnya seperti:
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Undang-
Undang-Undang No.5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan putusan nomor
17/[Link]/2016/[Link].
b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan-bahan hukum yang erat
hubungannya dengan bahan hukum primer, yaitu berupa Buku-buku,
jurnal-jurnal ilmiah, hasil penelitian, makalah-makalah, serta hasil-hasil
penelitian.
c. Bahan Hukum Tersier atau bahan hukum penunjang bahan hukum primer
dan sekunder seperti kamus hukum, dan kamus bahasa.
3. Metode Pendekatan.
Penelitian hukum ini menggunakan pendekatan perundang-undangan yaitu
undang-undang yang terkait dengan penelitian ini , pendekatan kasus yaitu
studi tentang putusan nomor 17/[Link]/2016/[Link]., dan pendekatan
kebijakan penegakan hukum yang berkaitan dengan kebijakan dalam hukum
pidana.
4. Teknik Pengumpulan Data.
Data yang diperlukan untuk penelitian ini dikumpulkan dengan cara studi
dokumen atau studi kepustakaan (Study Research). Yang dilakukan untuk
mengumpulkan dan menginventarisasikan semua data keperpustakaan atau
data sekunder yang terkait dengan objek penelitian

23
Ronny Hanitijosoemitro, Metodologi Penelitian dan Jurimetri, [Link]-4, (Jakarta:
Ghalia Indonesia,1990), hlm.11.
17

5. Metode Analisis Data.


Seluruh data primer dan data sekunder yang diperoleh, kemudian dianalisis
dengan menggunakan metode normatif kualitatif. Metode normatif karena
penelitian ini berangkat dari peraturan perundang-undangan hukum positif,
sedangkan kualitatif karena analisis data dilakukan tanpa menggunakan
model-model matematik dan rumus-rumus statistik.
G. Sistematika Penulisan
Hasil penelitian ini akan dituangkan dalam skripsi, yang akan disusun dengan
sistematika sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan. Mendiskripsikan latar belakang masalah yang menjadi alas
an penting dilakukannya penelitian hukum ini, kemudian dilanjutkan dengan
merumuskan permasalahan yang menjadi titik tolak dilakukannya penelitian,
tujuan penelitan, kegunaan penelitian, metode penulisan yang berisi uraian
mengenai spesifikasi penelitian, jenis penelitian, metode pendekatan, metode
pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB II Pengaturan Tentang Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar yang
Dilindungi, dalam Bab II ini akan diuraikan mengenai faktor penyebab terjadinya
perdagangan satwa liar yang dilindungi, perbuatan yang termasuk tindak pidana
terhadap satwa liar yang dilindungi, pertanggungjawaban pidana dan sanksi
pidana terhadap satwa liar yang dilindungi.
Bab III, Objek Penelitian Tinjauan Terhadap Putusan, dalam Bab III ini akan
diuraikan mengenai gambaran umum dan kasus yang terjadi dalam perdagangan
satwa liar yang dilindungi.
Bab IV, Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana
Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi, dalam Bab IV ini dibahas faktor-
faktor yang mempengaruhi perdagangan satwa liar yang dilindungi. Selanjutnya,
dibahas putusan Mahkamah Agung terkait kasus perdagangan satwa liar yang
dilindungi.
Bab V Penutup, merupakan bagian akhir dari penelitian yang berisi bagian
simpulan dan bagian saran, bagian simpulan merupakan jawaban singkat terhadap
permasalahan yang telah dirumuskan, bagian saran berisi sumbangan pemikiran
dari penelitian ini.

Anda mungkin juga menyukai