100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan6 halaman

Perbedaan RTRW, RDTR, dan RTBL

Dokumen tersebut membahas perbedaan antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). RTRW merupakan rencana tata ruang yang bersifat umum untuk wilayah kabupaten/kota. RDTR adalah rencana terperinci tentang tata ruang kabupaten/kota yang dilengkapi peraturan zonasi. Sedangkan RTBL bertujuan menyinergikan sel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan6 halaman

Perbedaan RTRW, RDTR, dan RTBL

Dokumen tersebut membahas perbedaan antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). RTRW merupakan rencana tata ruang yang bersifat umum untuk wilayah kabupaten/kota. RDTR adalah rencana terperinci tentang tata ruang kabupaten/kota yang dilengkapi peraturan zonasi. Sedangkan RTBL bertujuan menyinergikan sel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Perbedaan RTRW, RDTR dan RTBL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perencanaan


Perkotaan Semester 2 Tahun Akademik 2017/2018

Oleh :
Andi Nur Aldaena 10070316080

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018 M / 1439 H
[Link] RTRW
Rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota yang selanjutnya disingkat
RTRWkabupaten/kota adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari
wilayahkabupaten/kota, yang merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, dan
yang berisitujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten/kota,
rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota, rencana pola ruang wilayah
kabupaten/kota, penetapankawasan strategis kabupaten/kota, arahan
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota,dan ketentuan pengendalian
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota. Nomor: 20/PRT/M/2011 tentang
Pedoman Penususan Rencana Detail Tata Ruang danPeraturan Zonasi
Kabupaten/Kota. (PeraturanMenteri Pekerjaan Umum Nomor: 20/PRT/M/2011
tentang Pedoman Penususan Rencana 'etail Tata Ruang danPeraturan Zonasi
Kabupaten/Kota.
[Link] RDTR
Rencana detail tata ruang kabupaten/kota yang selanjutnya disingkat R'TR
adalahrencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota
yang dilengkapidengan peraturan onasi kabupaten/kota (Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor: 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penususan
Rencana 'etail Tata Ruang danPeraturan Zonasi Kabupaten/Kota.
[Link] RTBL
Rencana Tata Bangunan dan .ingkungan yang selanjutnya disebut RT-.
adalahsebuah produk pengaturan yang disusun diharapkan dapat
mensinergikan seluruh perencanaan yang ada di suatu kawasan sehingga dapat
mendukung dan memberikankontribusi terhadap terwujudnya kota hijau yang
berkelanjutan. RTBL adalah juga merupakan upaya konservasi kawasan
berskala lingkungan dalamdokumen yang disusun sesuai Pedoman RTBL
(Permen PU No. 06/PRT/M/2007). Upaya tersebut diharapkan tercapai dengan
fokus pada penciptaan ide1ide kreatif sebagai target hijau kawasan yang
menciptakan suasana kondusif dalam rangka pembangunan bangunan
gedunghijau, fokus pada desain lingkungan yang dapat menghemat penggunaan
sumber dayatak terbarukan/fossil fuel2 dan, Pendetilan tata cara pelaksanaan di
tingkat basis masyarakat.
 Segala bentuk rencana yang dibuat dan diharuskan ada dalam suatu
pembangunan baik itu negara, wilayah ataupun sekecil kawasan harus
sesuai perencanaan. Begitu pula masyarakat biasa yang seharusnya
memahami juga apa pentingnya suatu perencanaan itu ada. Karena inti
dari seluruh perencanaan tersebut adalah untuk masyarakat dan
dilakukan oleh masyarakat. Dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 pasal 1
ayat 5 disebutkan bahwa Penataan ruang adalah proses perencanaan
tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Sesuai dengan ketentuan pasal diatas maka setiap kegiatan penataan
ruang ada 3 aspek yang harus dilakukan yaitu: Penataan, Pemanfaatan,
Pengendalian, mencapai target sasaran hijau di [Link] UU
No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 14 ayat (1) sampai
dengan ayat (7) disebutkan bahwa Perencanaan tata ruang dilakukan
untuk menghasilkan rencana umum tata ruang; dan rencana rinci tata
ruang. Rencana umum tata ruang secara berhierarki terdiri atas rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional, rencana tata ruang wilayah provinsi dan
rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota.
 Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah
rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota
yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/[Link]
ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW kabupaten/kota harus
menetapkan bagian dari wilayah kabupaten/kota yang perlu disusun
RDTR-nya. Bagian dari wilayah yang akan disusun RDTR tersebut
merupakan kawasan perkotaan atau kawasan strategis kabupaten/kota.
Kawasan strategis kabupaten/kota dapat disusun RDTR apabila
merupakan Kawasan yang mempunyai ciri perkotaan atau direncanakan
menjadi kawasan perkotaan serta memenuhi kriteria lingkup wilayah
perencanaan RDTR yang ditetapkan dalam pedoman ini. RDTR
merupakan rencana yang menetapkan blok pada kawasan fungsional
sebagai penjabaran kegiatan ke dalam wujud ruang yang memperhatikan
keterkaitan antar kegiatan dalam kawasan fungsional agar tercipta
lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan
penunjang dalam kawasan fungsional tersebut. Dalam Proses
pengendalian penataan ruang, peraturan zonasi sangat berperan
penting. Dibandingkan dengan RDTRK, peraturan zonasi mengatur lebih
rinci dan lengkap ketentuan pemanfaatan ruang dengan tetap mengacu
pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota yang ada. Perbedaan antara
RDTRK dengan Peraturan zonasi terletak pada peran dan fungsi
keduanya dalam Sistem Penataan Ruang di Indonesia. RDTRK
merupakan salah satu jenjang rencana tata ruang kota dengan skala
1:5000, sedangkan peraturan zonasi merupakan salah satu perangkat
pengendalian pemanfaatan ruang yang berisi ketentuan-ketentuan teknis
dan administratif pemanfaatan ruang dan pengembangan tapak. RDTR
dan Peraturan zonasi berfungsi sebagai kendali mutu pemanfaatan ruang
wilayah kabupaten/kota berdasarkan RTRW, acuan bagi kegiatan
pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan pemanfaatan ruang
yang diatur dalam RTRW, acuan bagi kegiatan pengendalian
pemanfaatan ruang, acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan
acuan dalam penyusunan RTBL. RDTR dan peraturan zonasi bermanfaat
sebagai penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan
fungsi dan lingkungan permukiman dengan karakteristik tertentu, alat
operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan
pelaksanaan pembangunan fisik kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, swasta, dan/atau masyarakat.
Kemudian sebagai ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap
bagian wilayah sesuai dengan fungsinya di dalam struktur ruang
kabupaten/kota secara keseluruhan dan Ketentuan bagi penetapan
kawasan yang diprioritaskan untuk disusun program pengembangan
kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat BWP
atau Sub BWP. Dalam Sistem Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan,
peraturan zonasi merupakan pengaturan lebih lanjut untuk pemanfaatan
ruang yang ditetapkan dalam pola pemanfaatan ruang suatu wilayah.
Peraturan ini dapat menjadi rujukan untuk menyusun RTRK/RTBL.
Peraturan Zonasi pada prinsipnya mencakup aturan-aturan mengenai
penggunaan lahan dan bangunan (penggunaan utama, penggunaan
pelengkap, penggunaan bersyarat, penggunaan dengan pengecualian
khusus penggunaan yang dilarang), intensitas pemanfaatan ruang atau
kepadatan pembangunan (KDB, KLB, KDH, bangunan/ha), tata massa
bangunan (tinggi bangunan, garis sempadan bangunan, jarak antar
bangunan, luas minimun persil, dll), pengendalian (eksternalitas negatif,
insentif dan disinsentif, perijinann, pengawasan, penertiban).
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
ruang-wilayah-kabkota/

Anda mungkin juga menyukai