0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan22 halaman

Pengantar Higiene Industri dan Tugasnya

Dokumen tersebut membahas tentang materi mata kuliah Pengantar Higiene Industri. Ringkasannya adalah: (1) Materi mata kuliah tersebut membahas tentang pengertian, sejarah, tugas, dan kode etik higiene industri serta konsep dasar dan ruang lingkupnya; (2) Higiene industri adalah ilmu yang bertujuan mengenali, menilai, dan mengendalikan faktor lingkungan kerja yang dapat membahayakan kesehatan

Diunggah oleh

Baktiar Kris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan22 halaman

Pengantar Higiene Industri dan Tugasnya

Dokumen tersebut membahas tentang materi mata kuliah Pengantar Higiene Industri. Ringkasannya adalah: (1) Materi mata kuliah tersebut membahas tentang pengertian, sejarah, tugas, dan kode etik higiene industri serta konsep dasar dan ruang lingkupnya; (2) Higiene industri adalah ilmu yang bertujuan mengenali, menilai, dan mengendalikan faktor lingkungan kerja yang dapat membahayakan kesehatan

Diunggah oleh

Baktiar Kris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUME MATERI MATA KULIAH PENGANTAR

HIGIENE INDUSTRI

Ahmad Baktiar Kris Aziz


R0217004

PROGRAM D4 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Surakarta

2017
I. HIGIENE INDUSTRI

1. Pengertian Higiene Indutri


Menurut American Industrial Higiene Association, Higiene Industri adalah
ilmu dan seni yang ditujukan untuk pengenalan, penilaian dan pengendalain
faktor-faktor lingkungan kerja : fisik, kimia, biologi, fisiologi dan psikologi
yang dapat mengganggu kesehatan, kesejahteraan, kenyamanan dan efisiensi
pekerja dan masyarakat.
Higiene industri atau perusahaan dianggap sebagai ilmu dan seni yang
mampu mengantisipasi, mengenal, mengevaluasi dan mengendalikan bahaya
faktor-faktor yang timbul di dalam lingkungan kerja yang dapat
mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau
ketidaknyamanan dan ketidakefisienan kepada masyarakat yang berada di
lingkungan kerja tersebut maupun kepada masyarakat yang berada diluar
industri”.
Jadi, higiene industri merupakan aspek perlindungan bagi kesehatan
tenaga kerja dan sarana untuk membina dan mengembangkan tenaga kerja
menjadi sumber daya manusia yang disiplin, dedikatif, penuh tanggung jawab
dan mampu bekerja secara produktif dan efisien.

2. Sejarah Higiene Industri


a. Tingkat Dunia
Kapan mulainya perkembangan Higiene Industri atau Perusahaan
secara tepat tidak pernah diketahui dengan pasti, namun ada perkiraan
bahwa Higiene Industri atau Perusahaan mulai timbul sejak kesehatan
Kerja ada yaitu sejak adanya hubungan antara pekerjaan dengan
penggajian.
Selanjutnnya pada abab ke-16 mulai ada petunjuk yang lebih jelas
tentang gambaran penyakit-penyakit yang diderita oleh para tenaga kerja
tambang dimana kebanyakan penyakit yang diderita para tenaga kerja
adalah penyakit saluran pernapasan yang penyebabnya diduga sebagai
akibat terjadinya pemajanan terhadap debu dan batu-batuan yang
ditambang.
Pada abad ke-17, Berdadinne Ramzz yang oleh beberapa penulis
dianggap sebagai Bapak Hiperkess (Higene Perusahaan dan Kesehatan
Kerja ) telah memperjelas persoalan bahwa pekerjaan dapat menimbulkan
penyakit yang disebut sebagai penyakit akibat kerja dan juga tentang cara-
cara menegakkan diagnose penyakit akibat kerja.
Pada pertengahan abad 18, dengan terjadinya revolusi di inggris,
dimana pada saat itu mulai di temukan cara-cara berproduksi baru,yaitu
ditemukan mesin – mesin baru untuk industri tekstil.
b. di Indonesia
Seperti halnya dengan perkembangan higiene industri di Negara-negra
maju, perkembangan higiene industri di Indonesia tidak diketahui secara
pasti kapan tepatnya. Kemajuan-kemajuan yang terjadi di eropa sangat
dirasakan sejak timbulnya revolusi industri, namun perkembangan higiene
industri di Indonesia yang sesungguhnya baru dirasakan (terjadi) beberapa
tahun setelah kita merdeka yaitu pada saat munculnya undang-undang
kerja dan undang-undang kecelakaan. Pokok-pokok tentang higiene
industri dan kesehatan kerja telah dimuat dalam undang-undang tersebut,
meskipun tidak atau belum diberlakukan saat itu juga.

3. Tugas Industrial Hygienist


Menurut George D. Clayton, Tugas Iindustrial Hygienist adalah :
1. Pemeriksaan Lingkungan Industri
2. Interpretasi data yang dikumpulkan dari studi yang dilakukan di
lingkungan industri
3. Mempersiapkan Tindakan pengendalian dan pelaksanaan pengendalian
4. Membuat standart peranturan di tempat kerja
5. Presentasi kesaksian yang kompeten dan bermakna saat diminta
melakukannya oleh dewan, komisi, instansi, pengadilan, atau badan
investigasi
6. Mempersiapkan peringatan dan tindakan pencegahan yang memadai
dimana bahaya ada di tempat kerja
7. Memberikan Edukasi pembelajaran mengenai Higiene Industri
8. Melakukan studi Epidemiologi untuk mengungkap adanya penyakit akibat
kerja

4. Kode Etik Profesi Industrial Hygienist


1. Mempraktikkan profesinya mengikuti prinsip ilmiah yang diakui dengan
kesadaran bahwa kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan orang mungkin
bergantung pada penilaian profesional mereka dan mereka berkewajiban
untuk melindungi keselamatan dan kesehatan orang-orang.
2. Menasehati pihak yang terkena dampak secara nyata mengenai potensi
risiko kesehatan dan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk
menghindari dampak kesehatan yang buruk
3. Merahasiakan informasi pribadi dan bisnis yang diperoleh selama
pelaksanaan kegiatan Higiene industri, kecuali jika diwajibkan oleh
undang-undang / pertimbangan keselamatan dan kesehatan kerja
4. Menghindari keadaan / Konflik yang timbul antar pekerja
5. Melakukan pelayanan di bidang kompetisi mereka
6. Bertindak dan bertanggung jawab untuk menegakkan integritas profesi.

5. Konsep Dasar Higiene Industri


Untuk penerapan higiene perusahaan di tempat kerja suatu perusahaan
akan di perlukan pemahaman terhadap tiga prinsip dasar yaitu :
a. Pengenalan terhadap bahaya faktor-faktor lingkungan kerja.
Pengenalan dalam prinsip dasar penerapan Higiene
Industri/perusahaan yang pertama adalah pengenalan terhadap bahaya
faktor – faktor yang timbul di lingkungan kerja sebagai akibat penerapan
teknologi proses produksi suatu industri (yang meliputi faktor kimia,
faktor fisik, faktor ergonomik dan faktor biologi) yang dapat berpengaruh
buruk kepada pekerjaan dan lingkungan kerja, yang terhadap tenaga kerja
dapat mengakibatkan gangguan kesehatan (sakit) yang akan mencakup
pengetahuan dan pengertian tentang berbagai jenis bahaya serta
pengaruhnya terhadap kesehatan tenaga kerja atau akibat – akibat yang
dapat ditmbulkan kepada kesehatan tenaga kerja.
b. Penilaian/evaluasi terhadap bahaya faktor-faktor lingkungan kerja.
Di dalam higiene industry/perusahaan evaluasi adalah proses
pengambilan keputusan untuk menilai tingkat resiko pajanan dari bahaya
semua faktor yang timbul (yang ada) di lingkungan tempat kerja kepada
tenaga kerja, sebagai akibat penerapan teknologi proses produksi suatu
industry ( termasuk faktor kimia, faktor fisik, faktor ergonomic, dan faktor
biologi ).
Kebutuhan untuk melakukan evaluasi terhadap bahaya tersebut
didorong oleh suatu kenyataan bahwa faktor yang timbul dilingkungan
tempat kerja dapat menyebabkan sakit, lika, cacatdan kematian yang lebih
cepat kepada tenaga kerja yag terpajan kepadanya. Maka dengan evaluasi
telah diperoleh suatu manfaat yang berupa keinginan melakukan upaya
pencegahan terhadap pajanan faktor – faktor lingkungan kerja yang
berbahaya yang dapat menghasilkan pengaruh yang merugikan keehatan.
c. Pengendalian terhadap bahaya faktor-faktor lingkungan kerja.
Pengendalian faktor – faktor lingkungan kerja sesungguhnya
dimaksudkan untuk menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar
tetap sehat dan aman atau memenuhi persyaratan kesehatan dan norma
keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari ancaman gangguan
kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita penyakit akibat
kerja dan tidak mendapat kecelakaan kerja.

6. Ruang Lingkup Higiene Industri


Ruang lingkup higiene industri merupakan sekuen atau urutan langkah
atau metode dalam implementasi higiene industri,dimana urutan tidak bisa
dibolak balik dan merupakan suatu siklus yang tidak berakhir (selama
aktivitas industri berjalan).
Ruang lingkup hygiene industry terdiri dari :
a. Antisipasi
Antisipasi merupakan kegiatan untuk memprediksi potensi bahaya dan
risiko di tempat kerja. Tahap awal dalam melakukan atau penerapan
higiene industri di tempat kerja. Adapun tujuan dari antisipasi adalah :
1. Mengetahui potensi bahaya dan risiko lebih dini sebelum muncul
menjadi bahaya dan risiko yang nyata
2. Mempersiapkan tindakan yang perlu sebelum suatu proses dijalankan
atau suatu area dimasuki
3. Meminimalisasi kemungkinan risiko yang terjadi pada saat suatu
proses dijalankan atau suatu area dimasuki
Langkah-langkah dalam antisipasi yaitu :
1) Pengumpulan Informasi
2) Melalui studi literature
3) Mempelajari hasil penelitian
4) Dokumen-dokumen perusahaan
5) Survey lapangan
6) Analisis dan diskusi
7) Diskusi dengan pihak terkait yang kompeten
8) Pembuatan Hasil
Output yang dihasilkan dari melakukan antisipasi adalah daftar potensi
bahaya dan risiko yang dapat dikelompokkan:
a. Berdasarkan lokasi atau unit
b. Berdasarkan kelompok pekerja
c. Berdasarkan jenis potensi bahaya
d. Berdasarkan tahapan proses produksi dll
b. Rekognisi
Rekognisis merupakan serangkaian kegiatan untuk mengenali suatu
bahaya lebih detil dan lebih komprehensif dengan menggunakan suatu
metode yang sistematis sehingga dihasilkan suatu hasil yang objektif dan
bias dipertanggung jawabkan. Di mana dalam rekognisi ini kita melakukan
pengenalan dan pengukuran untuk mendapatkan informasi tentang
konsentrasi, dosis, ukuran (partikel), jenis, kandungan atau struktur, sifat,
dll . Adapun tujuan dari rekognisi adalah :
1) Mengetahui karakteristik suatu bahaya secara detil (sifat, kandungan,
efek, severity, pola pajanan, besaran)
2) Mengetahui sumber bahaya dan area yang berisiko
3) Mengetahui pekerja yang berisiko
Yang dilakukan adalah :
1) Ahli higienis industri melakukan observasi kualitatif dan subyektif
dalam upaya mengenali potensi bahaya kesehatan.
2) Melakukan inspeksi untuk mengidentifikasi proses dan metode spesifik
yang digunakan pada operasi, higiene industri mengidentifikasi
paparan pekerja potensial terhadap pemicu lingkungan.
3) Melalui penggunaan indra manusia, higienis industri menjaga
kesadaran akan reaksi mereka saat terlibat dalam melihat, mendengar,
mencium, merasakan, atau menyentuh komponen utama tempat kerja.
Output yang dihasilkan adalah daftar potensi bahaya dan risiko secara
lebih deskriptif
c. Evaluasi
Pada tahap penilaian/evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran,
pengambilan sampel dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian
lingkungan dapat ditentukan kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif
dan terinci, serta membandingkan hasil pengukuran dan standar yang
berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau tidaknya teknologi
pengendalian, ada atau tidaknya korelasi kasus kecelakaan dan penyakit
akibat kerja dengan lingkungannya , serta sekaligus merupakan dokumen
data di tempat kerja.
Tujuan pengukuran dalam evaluasi yaitu
1) Untuk mengetahui tingkat risiko
2) Untuk mengetahui pajanan pada pekerja
3) Untuk memenuhi peraturan (legal aspek)
4) Untuk mengevaluasi program pengendalian yang sudah dilaksanakan
5) Untuk memastikan apakah suatu area aman untuk dimasuki pekerja
6) Mengetahui jenis dan besaran hazard secara lebih spesifik
Evaluasi mengharuskan Para Hygienist menggunakan instrumentasi
pemantauan lapangan yang spesifik dan sensitif untuk mengumpulkan data
kuantitatif sebanyak mungkin dan praktis
Output dari evaluasi adalah Proses menilai keterpaparan dan mencapai
kesimpulan mengenai tingkat risiko terhadap kesehatan manusia
d. Pengontrolan
Pengendalian faktor – faktor lingkungan kerja sesungguhnya
dimaksudkan untuk menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar
tetap sehat dan aman atau memenuhi persyaratan kesehatan dan norma
keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari ancaman gangguan
kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita penyakit akibat
kerja dan tidak mendapat kecelakaan kerja.
Ada 6 tingkatan Pengontrolan di Tempat Kerja yang dapat dilakukan:
1) Eliminasi : merupakan upaya menghilangkan bahaya dari sumbernya
serta menghentikan semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi
bahaya.
2) Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran debu atau
asap, dan mengurangi bahaya, Pengendalian bahaya kesehatan kerja
dengan mengubah beberapa peralatan proses untuk mengurangi
bahaya, mengubah kondisi fisik bahan baku yang diterima untuk
diproses lebih lanjut agar dapat menghilangkan potensi bahayanya.
3) Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan pekerja
dengan menempatkannya di tempat lain atau menjauhkan lokasi kerja
yang berbahaya dari pekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar,
4) Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan
modifikasi pada faktor lingkungan kerja selain pekerja. Misalnya :
a. Menghilangkan semua bahaya-bahaya yang ditimbulkan.,
b. Mengurangi sumber bahaya dengan mengganti dengan bahan yang
kurang berbahaya,
c. Proses kerja ditempatkan terpisah,
d. Menempatan ventilasi local/umum.
5) Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan
modifikasi pada interaksi pekerja dengan lingkungan kerja Misalnya :
Pengaturan schedule kerja atau meminimalkan kontak pekerja dengan
sumber bahaya
6) Alat Pelindung Diri (APD), Ini merupakan langkah terakhir dari
hirarki pengendalian. Jenis-jenis alat pelindung diri Alat pelindung diri
diklasifikasikan berdasarkan target organ tubuh yang berpotensi
terkena resiko dari bahaya.

7. Potensi Bahaya (Hazard) di Tempat Kerja


a. Occupational Health Hazard
Suatu kondisi / keadaan tempat kerja yang berpotensi menyebabkan
terjadinya penyakit akibat kerja, gangguan kesehatan lainnya, stress
ataupun inefisiensi kerja serta berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja
b. Non Occupational Health Hazard
Safety hazard adalah kondisi / keadaan tempat kerja yang berpotensi
menyebabkan incident atau kecelakaan di tempat kerja

8. Potensi Bahaya Pada Faktor Fisika dan Kimia yang Terjadi dalam
Higiene Industri
Faktor lingkungan kerja yang dapat menimbulkan bahaya di tempat
kerja(occupational health hazards) adalah bahaya faktor fisika, bahaya faktor
kimia.
1. Bahaya Fisik :
Bahaya faktor fisika meliputi : kebisingan, pencahayaan, iklim
kerja/tekanan panas, getaran, radiasi dsb
a. Kebisingan
Kebisingan mempengaruhi kesehatan antara lain dapat
menyebabkan kerusakan pada indera pendengaran sampai kepada
ketulian. Dari hasil penelitian diperoleh bukti bahwa in tensitas bunyi
yang dikategorikan bising dan yang mempengaruhi kesehatan
(pendengaran) adalah diatas 60 dB. Oleh sebab itu para karyawan yang
bekerja di pabrik dengan intensitas bunyi mesin diatas 60 dB maka
harus dilengkapi dengan alat pelindung (penyumbat) telinga guna
mencegah gangguan pendengaran. Disamping itu kebisingan juga dapat
mengganggu komunikasi.
b. Penerangan atau pencahayaan
Penerangan yang kurang di lingkungan kerja bukan saja akan
menambah beban kerja karena mengganggu pelaksanaan pekerjaan
tetapi juga menimbulkan kesan kotor. Oleh karena itu penerangan
dalam lingkungan kerja harus cukup untuk menimbulkan kesan yang
higienis. Disamping itu cahaya yang cukup akan memungkinkan
pekerja dapat melihat objek yang dikerjakan dengan jelas dan
menghindarkan dari kesalahan kerja. Akibat dari kurangnya penerangan
di lingkungan kerja akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental bagi
para karyawan atau pekerjanya. Gejala kelelahan fisik dan mental ini
antara lain sakit kepala (pusing-pusing), menurunnya kemampuan
intelektual, menurunnya konsentrasi dan kecepatan berpikir. Disamping
itu kurangnya penerangan memaksa pekerja untuk mendekatkan
matanya ke objek guna memperbesar ukuran benda.
c. Getaran
Getaran mempunyai parameter yang hampir sama dengan bising
seperti: frekuensi, amplitudo, lama pajanan dan apakah sifat getaran
terus menerus atau [Link] kerja dan ketrampilan
memegang peranan penting dalam memberikan efek yang berbahaya.
Pekerjaan manual menggunakan “powered tool” berasosiasi dengan
gejala gangguan peredaran darah yang dikenal sebagai ” Raynaud’s
phenomenon ” atau ” vibration-induced white fingers”(VWF).
Peralatan yang menimbulkan getaran juga dapat memberi efek
negatif pada sistem saraf dan sistem musculo-skeletal dengan
mengurangi kekuatan cengkram dan sakit tulang belakang.
2. Bahaya Kimia
Bahaya faktor kimia meliputi korosi,debu Pb, NOx, NH3, CO, dsb.
a. Korosi
Bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan pada
permukaan tempat dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem
pencernaan adalah bagain tubuh yang paling umum terkena. Contoh :
konsentrat asam dan basa , fosfor.
b. Iritasi
Iritasi menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat kontak.
Iritasi kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim atau dermatitis.
Iritasi pada alat-alat pernapasan yang hebat dapat menyebabkan sesak
napas, peradangan dan oedema (bengkak)
c. Racun Sistemik
Racun sistemik adalah agen-agen yang menyebabkan luka pada
organ atau sistem tubuh. Contoh :
1) Otak : pelarut, lead,mercury, manganese
2) Sistem syaraf peripheral : n-hexane,lead,arsenic,carbon
disulphide
3) Sistem pembentukan darah : benzene,ethylene glycol ethers
4) Ginjal : cadmium,lead,mercury,chlorinated hydrocarbons
5) Paru-paru : silica,asbestos, debu batubara ( pneumoconiosis )

9. Perbedaan Keselamatan Kerja, Kesehatan Kerja, dan Higiene Industri


1. Definisi Higiene Industri
Higiene Industri adalah ilmu dan seni yang ditujukan untuk
pengenalan, penilaian dan pengendalain faktor-faktor lingkungan kerja :
fisik, kimia, biologi, fisiologi dan psikologi yang dapat mengganggu
kesehatan, kesejahteraan, kenyamanan dan efisiensi pekerja dan
masyarakat.
2. Definisi Kesehatan Kerja
Menurut defenisi bersama antara “ ILO & WHO “ berisikan hal-hal sebagi
berikut :
a. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setingginya
baik jasmani, rohani, maupun sosial tenaga kerja dalam semua
jabatan atau lapangan kerja.
b. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh
kondisi kerja
c. Melindungi tenaga kerja dalam pekerjaan terhadap bahaya yang
ditimbulkan oleh pekerjaan.
d. Menempatkan tenaga kerja dalam suatu lingkungan kerja yang sesuai
dengan faal badan dan rohaninya
3. Definisi Keselamatan Kerja
Keselamatan Kerja merupakan suatu ilmu pengetahuan dan penerapan
guna mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit yang
disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja.
Menurut America Society of safety and Engineering (ASSE) diartikan
sebagai bidang kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis
kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja.

Perbedaan Sasaran Sifat

Keselamatan Kerja Manusia, Alat Teknis

Higiene Industri Lingkungan Teknis


Kerja

Kesehatan Kerja Manusia Medis

10. Lingkungan Kerja


a. Pengertian Lingkungan Kerja
Lingkungan Kerja adalah area / ruang yang dipergunakan untuk
aktivitas industri antara lain : tempat/ ruang kerja, ruang/ tempat
penyimpanan bahan baku hasil produksi, ruang/ tempat proses berikut, dan
semua benda-benda di sekitarnya, (seperti ; mesin dan bahan baku)
b. Faktor Lingkungan Kerja:
Faktor Lingkungan Kerja adalah unsur-unsur dari linkungan kerja
yang dapat mengakibatkan sakit, gangguan kesehatan, ketidak nyamanan
dan keselamatan dalam bekerja, sehinga mengakibatkan efisiensi kerja
menurun.
Faktor Lingkungan Kerja meliputi, unsur : fisik, kimia, biologi, ergonomi,
dan psikologi.

II. REGULASI BIDANG HIGIENE INDUSTRI


1. Pengertian Regulasi Higiene Industri
Standart Higiene Industri merupakan regulasi yang sangat penting di suatu
negara untuk melindungi kesehatan pekerja dari berbagai macam penyakit
akibat kerja. Standart higiene industri bisa berupa nilai ambang batas, kadar
tertinggi yang ditetapkan dan konsentrasi maksimal. Standart higiene industri
ini ditetapkan seperti pada intensitas cahaya, getaran yang diperkenankan,
bisisng hingga suhu dan kelembaban di tempat kerja

2. Fungsi Regulasi
a. Sebagai pedoman pelaksanaan Higiene Industri
b. Sebagai sarana untuk evaluasi
c. Upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat

3. Negara Pemerhati Standart Higiene Industri


a. Australia
1) NOHSC
b. Amerika
1) ACGIH
a. Threshold Limit Values (TLVs)
b. Biological Exposure Indices (BEIs)
2) OSHA
a. Permissible Exposure Limit (PELs)
3) NIOSH
a. Recomended Exposure Limits (RELs)
c. Inggris
1) HSE
a. Workplace Eexposure Limit (WEL)
b. Biological Monitoring Guidance Values (BMGV)
d. Indonesia
1) Permenakertrans No 13 Tahun 2011
a. Nilai Ambang Batas (NAB)
b. Paparan Singkat Diperkenankan (PSD)
c. Kadar Tertinggi Diperkenankan (KTD)
4. Istilah NAB, PSD, dan KTD
a. NAB
Nilai Ambang Batas (NAB) adalah standar faktor bahaya di tempat
kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu (time weighted
average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit
atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak
melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
Kegunaan NAB :
1) Sebagai kadar standar untuk perbandingan.
2) Sebagai pedoman untuk perencanaan proses produksi dan perencanaan
teknologi pengendalian bahaya-bahaya di lingkungan kerja.
3) Menentukan pengendalian bahan proses produksi terhadap bahan yang
lebih beracun dengan bahan yang sangat beracun.
4) Membantu menentukan diagnosis gangguan kesehatan, timbulnya
penyakitpenyakit dan hambatan-hambatan efisiensi kerja akibat faktor
kimiawi dengan bantuan pemeriksaan biologic
b. PSD
Paparan Singkat Diperkenankan (PSD) adalah kadar zat boleh
dilampaui agar tenaga kerja yang terpapar pada periode singkat yaitu tidak
lebih dari 15 menit masih dapat menerimanya tanpa mengakibatkan iritasi,
kerusakan jaringan tubuh maupun terbius yang tidak boleh dilakukan lebih
dari 4 kali dalam satu hari kerja.
c. KTD
Kadar Tertinggi Diperkenankan (KTD) adalah kadar bahan kimia di
udara tempat kerja yang tidak boleh dilampaui meskipun dalam waktu
sekejap selama tenaga kerja melakukan pekerjaan.

5. Faktor yang ada dalam Higiene Industri


a. Faktor Fisika
1. Iklim Kerja
2. Kebisingan
3. Getaran
4. Gelombang Mikro
5. Sinar UV9
6. Medan Magnet
b. Faktor Kimia
1. Padatan
2. Cair
3. Gas
4. Aerosol
5. Kabut
6. Uap Bahan Kimia

III. SANITASI

1. Definisi Sanitasi
Pengertian sanitasi menurut WHO adalah pengawasan penyediaan air
minum masyarakat, pembuangan tinja dan air limbah, pembuangan sampah,
vektor penyakit, kondisi perumahan, penyediaan dan penanganan makanan,
kondisi atmosfer dan keselamatan lingkungan kerja.
Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan
kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
Sanitasi industri merupakan suatu proses untuk membuat bersih lingkungan
industri sehingga dapat hidup sehat.
Sanitasi pangan merupakan hal terpenting dari semua ilmu sanitasi karena
sedemikian banyak lingkungan kita yang baik secara langsung maupun tidak
langsung berhubungan dengan suplai makanan manusia. Hal ini sudah disadari
sejak awal sejarah kehidupan manusia dimana usaha-usaha pengawetan
makanan telah dilakukan seperti penggaraman, pengasinan, dan lain-lain.
Sanitasi pangan berhubungan erat dengan sanitasi obat-obatan dan
kosmetik, karena penggunaan ketiga komoditi tersebut yang memerlukan
kontak baik secara internal maupun eksternal dengan tubuh manusia.
Demikian pula halnya sanitasi pangan tidak dapat dipisahkan dengan sanitasi
lingkungan dimana produk makanan disimpan, ditangani, diproduksi atau
dipersiapkan, dan daripraktek saniter serta higiene personalia yang harus
menangani makanan.
Dalam industri pangan, sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan secara aseptik
dalam persiapan, pengolahan dan pengkemasan produk makanan;
pembersihan dan sanitasi pabrik serta lingkungan pabrik dan kesehatan
pekerja.
Program sanitasi dijalankan sama sekali bukan untuk mengatasi masalah
kotornya lingkungan atau kotornya pemrosesan bahan, tetapi untuk
menghilangkan kontaminan dari makanan dan mesin pengolahan makanan
serta mencegah terjadinya kontaminasi kembali. Kontaminasi yang mungkin
timbul berasal dari pestisida, bahan kimia, insekta, tikus dan partikel-partikel
benda asing seperti kayu, metal, pecahan gelas, tetapi yang terpenting dari
semuanya adalah kontaminasi mikroba. Keberhasilan suatu proses sterilisasi
panas tergantung dari jumlah awal mikroorganisme dalam produk pangan
pada saat proses pemanasan (sterilisasi ataupun pasteurisasi) tersebut dimulai,
semakin kecil semakin baik. Kunci untuk mengontrol pertumbuhan mikroba
pada produk makanan dan di pabrik pengolahan makanan adalah program
higiene dan sanitasi yang efektif. Yang dimaksudkan dengan program sanitasi
bukanlah semata-mata merupakan pemakaian desinfektan saja tetapai lebih
dari itu. Derajat efektifitas suatu sanitasi pabrik secara langsung mempunyai
dampak pada kualitas produk akhir.

2. Prinsip Sanitasi Industri


Sanitasi mempunyai dua prinsip, yaitu
a. Membersihkan
Menghilangkan mikroba yang berasal darisisa makanan dan tanah yang
mungkin dapat menjadi media yang baik bagi pertumbuhan mikroba.
b. Sanitasi
Menggunakan zat kimia atau metode fisika untuk menghilangkan
sebagaimana besar mikroorganisme yang tertinggal pada permukaan alat
dan mesin pengolah makanan.

3. Ruang Lingkup Sanitasi Industri


Adapun ruang lingkup dari sanitasi industri adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian air
2. Tempat kerja
3. Sanitasi makanan
4. Pencegahan dan pembasmian vektor
5. Perlengkapan fasilitas sanitasi
6. Pembuangan dan pengendalian limbah

IV. HOUSEKEEPING

1. Pengertian Housekeeping
Housekeeping dapat diartikan sebagai manajemen tata letak yang
dilakukan ditempat kerja yang mencakup peralatan, dokumen, bangunan dan
ruangan untuk membuat tempat kerja menjadi bersih, rapih, aman dan nyaman
sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi bahaya
yang ada di tempat kerja.
Housekeeping yang efektif dapat menghilangkan beberapa bahaya
ditempat kerja dan membantu pekerjaan terlaksana dengan selamat dan
dengan benar. Housekeeping yang buruk dapat berkontribusi terhadap
kecelakaan dengan adanya bahaya yang tersembunyi sehingga mengakibatkan
cidera atau kerugian akibat kecelakaan. Jika kertas yang terlihat berserakan,
puing, ceceran dan tumpahan dianggp sebagai sesuatu yang norma, maka
bahaya keselamatan dan Kesehatan kerja mungkin dapat timbul karenanya.
Housekeeping tidak hanya mengenai kebersihan, namun juga termasuk
memelihara tempat kerja rapi dan tertib, memelihara ruangan dan lantai dari
bahaya terpeleset dan tersandung, membuang sampah, menyingkirkan barang
tak terpakai dan bahaya penyebab kebaran ditempat kerja. Selain itu juga perlu
memberikan perhatian pada lay out tempat kerja, penandaan lorong, fasilitas
penyimpanan dan perawatan peralatan. Good Housekeeping juga merupakan
bagian dasar dari pencegahan kecelakaan dan bahaya kebakaran.
Housekeeping yang efektif dilakukan pada kegiatan yang terus menerus,
bukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Pelaksanaan housekeeping yang
dilakukan mendadak pada waktu tertentu (panic clean up) biasanya
menimbulkan biaya lebih dan tidak efektif mengurangi kecelakaan kerja.

2. Dampak Housekeeping
Housekeeping yang buruk dapat menyebabkan:
1. Tersandung objek
2. Terbentur objek
3. Tertimpa objek yang jatuh
4. Terpeleset pada lantai yang berminyak, basah atau kotor
5. Tertusuk bagian objek yang menyolok
6. Teriris atau luka ditangan dan tubuh akibat bagian tajam benda seperti
paku, kawat atau logam
Housekeeping yang baik dapat menghasilkan:
1. Mengurangi potensi kecelakaan tersandung, terpeleset
2. Menurunkan potensi bahaya kebakaran
3. Lebih sedikit paparan bahaya terhadap pekerja berupa debu dan uap bahan
yang digunakan.
4. Pengendalian yang baik terhadap peralatan dan material
5. Pengurangan handling pergerakan barang
6. Lebih efisien dalam pembersihan dan perawatan peralatan
7. Kondisi tempat kerja dapat menjadi lebih higienis dan sehat bagi pekerja
8. Penggunaan ruang lebih menjadi lebih efektif.
9. Mengurangi kerusakan peralatan dengan perawatan yang lebih bersifat
preventif.
10. Mengurangi kebutuhan tenaga pembersih.
11. Meningkatkan kenyamanan kerja
12. Meningkatkan semangat kerja dan produktivitas.

3. Penerapan 5S (dalam bahasa Indonesia 5R) pada Housekeeping.


5S adalah istilah Jepang untuk menggambarkan secara sistematik praktek
housekeeping yang baik. Berasal dari Jepang dan terbukti efektif dibeberapa
negara. . 5S adalah singkatan dari 5 kata dalam bahasa jepang yang diawali
oleh huruf S; Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke. Dalam bahasa Indonesia,
kita bisa menterjemahkan 5S sebagai 5R; Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso
(Resik), Seiketsu (Rawat), Shitsuke (Rajin).
a. Seiri (Ringkas)
Membedakan/pemilahan antara yang diperlukan dan yang tidak
diperlukan serta membuang yang tidak diperlukan.
“Singkirkan Barang-barang yang tidak diperlukan dari tempat kerja”
b. Seiton (Rapi)
Prinsip dasar Seiton adalah melakukan pengaturan lingkungan kerja
dan peralatan secara rapi dengan sasaran tata letak dan penempatan yang
efisien sehingga pemborosan waktu untuk mencari barang bisa
dihilangkan, untuk memperlancar pekerjaan.
“Setiap barang yang berada di tempat kerja mempunyai tempat yang
pasti”
c. Seiso (Resik)
Menghilangkan sampah kotoran dan barang asing untuk memperoleh
tempat kerja yang lebih bersih. Terdapat tiga kategori luas untuk
mentargetkan Seiso, yaitu : area penyimpanan, peralatan dan lingkungan.
“Bersihkan segala sesuatu yang ada di tempat kerja”
d. Seiketsu (Rawat)
Memelihara barang dengan teratur rapi dan bersih juga dalam aspek
personal dan kaitannya dengan polusi:
”Semua orang memperoleh informasi yang dibutuhkannya di tempat
kerja, tepat waktu”
e. Shitsuke (Rajin)
Melakukan sesuatu yang benar sebagai kebiasaan, seperti
mengembalikan peralatan pada tempat penyimpanan, melakukan peralatan
perawatan, dan melakukan pembersihan tempat kerja.
“Lakukan apa yang harus dilakukan dan jangan melakukan apa yang
tidak boleh dilakukan”.

Anda mungkin juga menyukai