0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan32 halaman

Lesson Study untuk Membangun Komunitas Belajar

Lesson study adalah upaya pembinaan sekelompok guru dalam meningkatkan profesionalisme pembelajaran. Guru belajar bersama untuk merancang, mengajar, dan mengevaluasi pelajaran agar terus meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Hasil lesson study dapat diterapkan untuk membangun learning community atau komunitas belajar kolaboratif antarguru.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan32 halaman

Lesson Study untuk Membangun Komunitas Belajar

Lesson study adalah upaya pembinaan sekelompok guru dalam meningkatkan profesionalisme pembelajaran. Guru belajar bersama untuk merancang, mengajar, dan mengevaluasi pelajaran agar terus meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Hasil lesson study dapat diterapkan untuk membangun learning community atau komunitas belajar kolaboratif antarguru.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA TULIS ILMIAH

“LESSON STUDY DALAM UPAYA MEMBANGUN LEARNING


COMMUNITY”

Di Buat Dalam Mengikuti Lomba Mahasiswa Berprestasi

DISUSUN OLEH:

Jeiniaty Yosefina Sulastri (1601050026)


Magdalena D. Bay Raka (1501050030)
Merlyn Yoan Trivosa Benu (1501050006)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah

“LESSON STUDY DALAM PERSPEKTIF LEARNING COMUNITY”

Disusun Oleh:

Jeiniaty Yosefina Sulastri


Magdalena D. Bay Raka
Merlyn Yoan Trivosa Benu

Kupang ……..Maret 2018


Mengetahui Menyetujui
Dosen pembimbing Ketua Program Studi

Marsianus David Setiawan Bani, [Link]., [Link] Hartoyo Yudhawardana, [Link]., [Link].
NIP. 19820314 200812 1 001 NIP. 19691110 199903 1 003

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan karya ilmiah dengan judul
“Lesson Study dalam Perspektif Learning Comunity” untuk berkontribusi dalam
mengikuti Lomba Karya Ilmiah. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak
Marsianus D.S. Bani,[Link].,[Link]. yang yang telah dengan sabar membimbing dan
membantu serta menyemangati kami dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini
serta dapat menambah pemahaman baru seputar dunia pendidikan.

Kami berharap, dengan penyusunan karya tulis ilmiah ini dapat berguna
untuk menambah wawasan serta pengetahuan pembaca mengenai bagaimana
Lesson Study dalam upaya membangun Learning Comunity.

Kami meminta maaf apabila dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini
terdapat beberapa kesalahan. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat dipahami
pembaca serta harapan kami, ide dan gagasan kami dapat diterima sehingga
memberi manfaat tidak hanya bagi kami tetapi juga bagi para pemangku
kepentingan bersama.

Kupang, Maret 2018

Penyusun

3
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Lembar Pengesahan ii
Kata Pengantar iii
Daftar Isi iv

Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 3
1.3. Tujuan 3
1.4. Manfaat 3

Bab II Landasan Teori


2.1 Lesson Study 5
2.2 Learning Community 11
2.3 Lesson Study dalam Upaya membangun Learning Community 14

Bab III Metodologi 18


Bab IV Analisis dan Sintesis 20
Bab V Penutup 25

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas hidup


masyarakat. Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat tentang
mencerdaskan kehidupan bangsa, maka setiap elemen masyarakat wajib
menempuh pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai jembatan untuk
menurunkan derajat perbedaan setiap manusia. Namun terkadang pendidikan
masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting di mata masyarakat.
Pendidikan di Indonesia semakin hari kualitasnya semaki rendah. Hal ini
disebabkan karena pandangan akan tujuan pendidikan yang salah terhadap
tujuan pendidikan. Banyak orang menganggap pendidikan itu merupakan
pekerjaan yang menyita biaya, tenaga dan keuangan. Oleh karena itu tidaklah
heran apabila pendidikan di Indonesia sangatlah rendah. Berdasarkan Survey
United Nations Education Scientific And Cultural Organization (UNESCO),
terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di asia pacific
Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas
para guru, kualitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang.
Permasalahan utama yang dihadapi dunia penddikan dewasa ini adalah
rendanhya prestasi belajar siswa. Hal ini merupakan sebuah koreksi bagi
kinerja dunia pendidikan, khususnya para pegiat pendidikan. Ini
mencerminkan proses pendidikan dan pembelajaran yang gagal. Terkait
dengan kondisi tersebut, maka setidaknya kita perlu melakukan intropeksi
terhadap segala hal yang telah kita perbuat untuk proses pendidikan anak

1
bangsa. Salah satu elemen pendidikan yang perlu dievaluasi adalah tenaga
pendidik atau guru.
Keadaan guru di Indonesia juga sangat memprihatinkan Kebanyakan guru
belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya
sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU NO 20/2003, yaitu merencanakan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan bimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan
melakukan pengabdian masyarakat. Seorang guru yang memiliki posisi
strategi dalam usaha tercapainya kualitas pendidikan yang semakin baik
amat dituntut kemampuan profesionalnya. Skill dan profesionalitas
senantiasa harus ditingkatkan, terutama dalam menyiapkan sumber daya
manusia yang mampu menghadapi persaingan global.
Pemerintah sering melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas guru,
dengan harapan bahwa ketika kualitas guru atau pendidik meningkat, maka
kualitas pembelajaran juga dapat meningkat. Namun sayang kebanyakan guru
terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang mengajar, mereka
menganggap mengajar adalah menyampaikan materi kepada peserta didik,
sehingga kebanyakan guru mengajar hanya sekedar berceramah kepada
peserta didik, hal ini yang membuat peserta didik beranggapan bahwa proses
pembelajaran adalah proses yang membosankan. Salah satu upaya
peningkatan kualitas guru yang perlu diadakan pemerintahan adalah Lesson
Study.
Lesson Studdy adalah upaya pembinaan yang dilakukan terhadap
sekelompok guru dalam meningkatkan profesionalismenya dalam
pembelajaran. Apabila kegiatan ini dilakukan maka akan meningkatkan
kemampuan guru dalam menangani kelas. Salah satu upaya yang dapat
diterapkan guru setelah mengikuti ini adalah Learning Community. Learning
Community adalah komunitas belajar secara kolaboratif yang
berkesinambungan.
Berdarakan uraian di atas, penyusun melakukan suatu telaah pustaka
dalam hal meningkatkan keprofesionalan guru melakukan proses
pembelajaran untuk menelaah lebih dalam, dengan judul ” Lesson Study
Dalam Upaya Membangun Learning Community”.
1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang di angkat:


1. Bagaimana Lesson Study dalam upaya membangun Learning
Community untuk meningkatkan kualitas pembelajaran?
2. Apa saja keuntungan dalam menerapkan Lesson Study dalam upaya
membangun Learning Community ?
1.3 Tujuan

Penyusunan karya tulis ini bertujuan ;


1. Mengetahui lesson study dalam upaya membangun learning
community untuk meningkatkan kualitas pembelajaraan.
2. Mengetahui keuntungan dalam menerapkan lesson study dalam upaya
membangun learning community baik untuk pendidik.

1.4 Manfaat

1. Manfaat teoritis
“Dapat memberikan manfaat dalam pengembangan profesinalisme guru
guna memperbaiki masalah pendidikan terkait meningkatkan kualitas
pembelajaran, dengan menggunakan Lesson Study dalam upaya
membangun Learning Community”
2. Manfaat praktis
a. Manfaat bagi pendidik
Tumbuhnya prinsip kolegalitas diantara guru-guru mata pelajaran,
khususnya yang sejenis. Hal ini ditunjukkan dengan semakin
efektifnya kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Prinsip kolegalitas ini merupakan salah satu faktor untuk membangun
Komunitas Belajar (Learning Communities).
b. Manfaat bagi pelajar.
Suasana pembelajaran lebih menyenangkan, karena kemasan materi
pelajaran disajikan lebih menarik, sehingga mengubah persepsi siswa
terhadap pelajaran yang dianggap sulit, menakutkan dan menjemukan.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Lesson study

4
2.1.1 Pengertian

Lesson study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang


jugyokenkyu, yang berasal dari dua kata jugyo = lesson atau pembelajaran
dan kenkyu = study atau pengkajian. Berdasarkan terjemahan
tersebut, lesson study adalah pengkajian atau penelitian tentang
pembelajaran. Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam
pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk
meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru
secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan,
melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson
Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus
menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk
mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni
memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus,
berdasarkan data.
2.1.2 Ciri-ciri Lesson study

Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan


pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya
berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:
1) Tujuan bersama untuk jangka panjang.
2) Materi pelajaran yang penting.
3) Studi tentang siswa secara cermat
4) Observasi pembelajaran secara langsung

2.1.3 Manfaat Lesson Study

Lesson study yang merupakan sebuah kerja kolaboratif antara


guru diharapkan memberi sumbangan yang besar terhadap peningkatan
mutu pendidikan dalam hal ini peningkatan mutu profesional guru.
Dengan demikian manfaat dari pelaksanaan lesson study tersebut

5
dapat dijadikan acuan dalam peningkatan profesionalisme guru. Adapun
manfaat lesson study adalah :
1. Menciptakan suasana keakraban dan kekeluargaan antar sesama
guru.
2. Memberi peluang bagi guru untuk memecahkan berbagai
masalah dan menciptakan solusinya secara bersama-sama serta
saling bertukar pengalaman.
3. Memberikan kesempatan bagi guru untuk dapat membuat
perencanaan pembelajaran secara bersama-sama dan
mempraktekan hasil kerjanya.
4. Membuat guru menjadi lebih profesional dalam mengajar
sehingga menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi
peserta didik sebagai tujuan meneruskan para peserta didik
yang terbaik demi masa depan Indonesia.

2.1.4 Pelaksanaan Lesson Study

Pola kegiatan lesson study bersiklus yang terdiri atas perencanaan


(Plan), pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). Setelah refleksi dapat kembali
ke perencanaan lagi untuk tindakan lebih lanjut Bentuk pelaksanaan
kegiatan lesson study bersiklus seperti tampak dalam gambar berikut :

Gambar 2.1 Siklus Kegiatan Lesson Staudy


1. Tahap Perencanaan (Plan)
Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson
Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan

6
kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi
dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara
membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana
belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata
yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya,
secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala
permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan
dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam
penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang
benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi
segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan
pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai
dengan tahap akhir pembelajaran.
2. Tahap Do (Pelaksanaan)
Tahap pelaksanaan LS bertujuan untuk mengimplementasikan
rancangan pembelajaran. Dalam proses pelaksanaan tersebut, salah
satu guru berperan sebagai pelaksana LS dan guru yang lain sebagai
pengamat. Fokus pengamatan bukan pada penampilan guru yang
mengajar, tetapi lebih diarahkan pada kegiatan belajar siswa dengan
berpedoman pada prosedur dan insturumen yang telah disepakati pada
tahap perencanaan. Pengamat tidak diperkenankan mengganggu proses
pembelajaran.
Berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disusun, guru model
melaksanakan pembelajaran di kelas yang telah ditentukan, sementara
anggota lain bertindak sebagai observer, yang mengamati proses
pembelajaran dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah
dikembangkan. Dengan demikian, bersamaan dengan dilaksanakannya
proses pembelajaran, dilakukan pengambilan data yang diperlukan
unutk kepentingan refleksi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan,
diantaranya:

7
1) Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah
disusun bersama.
2) Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam
setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure
yang disebabkan adanya program LS.
3) Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak
diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan
mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
4) Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi
siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan
lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah
disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
5) Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung
dan bukan untuk mengevalusi guru.
6) Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau
photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih
lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses
pembelajaran.
7) Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa
selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau
diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa
yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa
melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan
pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum
dalam RPP.
3. Tahap See (Refleksi)
Tujuan refleksi adalah untuk menemukan kelebihan dan
kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Kegiatan diawali dengan
penyampaian kesan dari pembelajar dan selanjutnya diberikan kepada
pengamat. Kritik dan saran diarahkan dalam rangka peningkatan
kualitas pembelajaran dan disampaikan secara bijak tanpa
merendahkan atau menyakiti hati guru yang membelajarkan. Masukan
yang positif dapat digunakan untuk merancang kembali pembelajaran

8
yang lebih baik. Segera setelah proses pembelajaran berakhir,
dilakukan postclass discussion atau kegiatan refleksi. Refleksi diikuti
oleh semua anggota kelompok yang dimaksudkan untuk mengkaji
hasil pengamatan setiap anggota kelompok dan hasil rekaman proses
pembelajaran. Menurut Widjajanti (2006) dalam Rusman 2011, dengan
pemahaman bahwa LS adalah forum untuk saling belajar dalam upaya
mengembangkan kompetensi masing-masing anggota tim, maka
semangat dalam tahap refleksi ini adalah secara bersama-sama
menemukan solusi untuk masalah yang muncul agar pembelajaran
berikutnya dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan lebih baik.
Dengan demikian, perlu dipahami bahwa kegiatan refleksi bukan
dimaksudkan untuk menilai kemampuan mengajar guru model.
Meskipun semangat yang terkandung dalam LS adalah saling
belajar, namun mengingat budaya kita yang belum terbiasa dan tidak
mudah untuk menerima kritik secara langsung, maka disarankan fokus
evaluasi adalah pada bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran
yang dilaksanakan. Oleh karena itu, guru lain sebagai pengamat
diharuskan untuk mendengarkan, mengamati, dan mencatat setiap
tanggapan siswa secara rinci dan teliti. Diharapkan, guru model dapat
menarik simpulan atas pembelajaran yang ia laksanakan, berdasarkan
hasil evaluasi terhadap respon siswa dari hasil pengamatan guru lain
dan dari hasil rekaman video. Dengan memperhatikan bagaimana
siswa belajar, diharapkan guru yang bersangkutan dapat
mengidentifikasi kelebihannya dan kekurangannya dalam
melaksanakan pembelajaran.
Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau
keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses
pembelajaran, baik pada tataran individual, maupun menajerial.

2.1.5 Tipe Lesson Study

9
Dari kegiatan Lesson Study yang telah dilakukan, guru dapat
memperoleh pengalaman yang tak terlupakan. Lesson Study dapat
diselenggalarakan guru dari berbagai mata pelajaran dan jenjang
sekolah. Berdasarkan bentuk penyelenggaraan, Lesson Study dibagi
menjadi dua tipe, yaitu:
1) Lesson Study berbasis sekolah
Lesson study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru di berbagai
bidang studi dengan Kepala Sekolah yang bersangkutan dengan tujuan
agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran
di sekolah dapat lebih ditingkatkan.
2) Lesson Study berbasis MGMP. .
Sedangkan lesson study berbasis MGMP merupakan pengkajian
tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok mata
pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran
pada bidang studi tertentu. Tujuan dari pelaksanaan lesson study
berbasis MGMP adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil
belajar mata pelajaran tertentu di silayah tersebut. Pelaksanaan lesson
study berbasis MGMP dapat dilakukan secara bergiliran dari satu sekolah
ke sekolah lain.

2.1.6 Kelebihan dan Kekurangan Lesson Study

1) Kelebihan

a. Peran guru yang dapat berubah-ubah: siapapun dapat berperan


sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru
pengamat di lain waktu. Pergantian peran ini menciptakan rasa
saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara
efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar.

b. Model ini dapat diterapkan di setiap bidang, mulai dari seni,


bahasa, sampai matematika dan olahraga pada setiap tingkat
kelas.

10
c. Dapat dilaksanakan antar / lintas kelas

2) Kekurangan

a. Kejenuhan guru.

b. Tidak semua guru bisa mengikuti rangkaian lesson study.

c. Persiapan guru model dalam menghadapi lesson study

d. Anggaran dana untuk kegiatan lesson study kurang mencukupi.

2.2 Learning community


2.2.1 Pengertian dan Hakikat Komunitas Pembelajaran

Learning community dalam bahasa Indonesia diterjemahkan


menjadi komunitas belajar. Komunitas belajar adalah sekelompok
orang yang melakukan pertukaran nilai-nilai umum atau keyakinan dan
secara aktif bersepakat untuk belajar bersama satu dengan yang lain.

Senge (1990) mendefinisikan komunitas pembelajaran sebagai; Sebuah


organisasi dimana anggotanya mengembangkan kapasitasnya secara
terus menerus untuk mencapai hasil yang diinginkan, mendorong pola
berpikir yang baru dan luas, dan terus belajar bagaimana belajar
bersama-sama.
11
Inti dari model baru dimana sekolah berfungsi sebagai sebuah
komunitas pembelajaran adalah konsep bahwa belajar sepanjang hayat
merupakan aktivitas dasar setiap individu dan warga sekolah secara
keseluruhan. Sebuah sekolah seyogyanya dapat menjawab secara kreatif
dan adaptif perubahan yang terjadi di dunia pendidikan dan di dalam
masyarakat. Setiap anggota masyarakat belajar hendaknya dihargai dan
memiliki tujuan yang sama untuk mencapai pendidikan yang bermutu.
Semua stakeholder perlu bertekad dan terlibat aktif di dalam penemuan
dan pemecahan masalah di kelas, pelaksanaan pengajaran dan manajemen
sekolah. Model sekolah sebagai sebuah komunitas pembelajaran akan
bermuara pada:
1. Peningkatan kualitas hasil belajar siswa
2. Peningkatan yang bersifat terus menerus
3. Meningkatkan inovasi dan kreatifitas
4. Menumbuhkan keterampilan dan pemahaman
5. Meningkatkan tekad dan energi
6. Menumbuhkan respon terhadap lingkungan luar
7. Meningkatkan pelatihan dan program pengembangan untuk seluruh
anggota komunitas, dan
8. Sekolah dan partisipasi masyarakat yang lebih efektif

2.2.2 Ciri-Ciri Learning Community

Sekolah sebagai komunitas pembelajaran hendaknya memiliki tekad


yang bulat mengenai nilai pembelajaran untuk semua. Hal ini didasarkan
pada keyakinan bahwa belajar sesunguhnya menyenangkan, bahwa semua
anggota komunitas memiliki kapasitas untuk belajar, dan setiap orang
memiliki kemampuan yang dapat digunakan dan karenanya perlu
dihormati. Manusia perlu belajar bagaimana belajar. Secara umum, masih
banyak sekolah yang berfokus pada isi pembelajaran semata. Dalam
sebuah komunitas, pembelajaran seharusnya terfokus pada proses, isi dan
hasil (outcome). Membangun komunitas pembelajaran sesungguhnya
mengharuskan sekolah mendefinisikan kembali harapan-harapan guru,
orang tua, kepala sekolah dan siswa serta hubungan mereka secara utuh.

12
2.2.3 Manfaat dari sebuah komunitas pembelajaran antara lain:

1. Memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan pengajaran


mereka

2. Mendorong siswa, guru dan orang tua untuk bekerja sama

3. Menyediakan informasi dan pembelajaran kepada semua stakeholder

4. Meningkatkan kualitas dan kedalaman berpikir

5. Mendorong proses inkuiri dimana komunitas belajar bersama\

6. Membangun keterampilan untuk mengelola perubahan

7. Menghubungkan sekolah dengan lingkungan yang lebih luas

8. Menciptakan kaitan dan integrasi mata pelajaran di dalam kurikulum

9. Menggunakan hasil assesmen yang menunjukkan bahwa siswa


mengetui dan dapat melakukannya

10. Terus menerus memeriksa apakah perkataan sesuai dengan perbuatan

11. Menekankan pentingnya tempat untuk belajar

12. Melaksanakan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan individu dan


system

13. Mendorong peningkatkan melalui program pengembangan

13
14. Memeriksa kembali pandangan tentang pelaksanaan belajar-mengajar

2.3 Lesson Study dalam upaya membangun Learning Community

Sistem Pendidikan Nasional kita mengisyaratkan guru sebagai tenaga


profesional yang memiliki eksistensi penting. Dalam UU No. 14 tahun 2005
tentang Guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini di jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Pasal 1 ayat 1). Sebagai
tenaga professional, sejatinya guru harus mampu memberi kontribusi yang
signifikan dalam peningkatan kualitas pembelajaran.
Salah satu pendekatan pengembangan profesi guru yang sekarang
digulirkan yaitu Lesson Study (LS). Lesson Study merupakan upaya
pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara
kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan
mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Melalui komponen
PLAN (perencanaan mengajar), DO (pelaksanaan) dan SEE (refleksi/diskusi
pasca pembelajaran) , Lesson Study memenuhi elemen dasar membangun
Komunitas Belajar, seperti yang dikemukakan di atas.
Tumbuhnya prinsip kolegalitas diantara guru-guru mata pelajaran,
khususnya yang sejenis. Hal ini ditunjukkan dengan semakin efektifnya
kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Prinsip kolegalitas ini
merupakan salah satu faktor untuk membangun Komunitas Belajar (Learning
Communities).
Menurut Rusman (2011), ”Lesson Study merupakan salah satu upaya
pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh
sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam
merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan melaporkan hasil
refleksi kegiatan pembelajarannya. Lesson Study juga merupakan kegiatan

14
yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar yang secara
konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri baik individual
maupun jerial. Selanjutnya Mulyana (dalam Rusman, 2011), juga
menyatakan “Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi
pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan
berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual
learning untuk membangun komunitas belajar”. Learning Community
(komunitas belajar) adalah salah satu aspek penting yang harus ada dalam
setiap kelas. Guru yang afektif akan mengupayakan agar didalam
pembelajaran yang dilaksanakannya terbentuk komunitas belajar yang
efektif. Komunitas belajar yang ada didalam sebuah kelas pada sebuah
kegiatan pembelajaran akan sangat berpengaruh pada keterlibatan siswa
dalam proses pembelajaran, dan pada akhirnya pencapaian tujuan
pembelajaran. pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dasar dari metode
kolaboratif adalah teori interaksional yang memandang belajar sebagai suatu
proses membangun makna melalui interaksi sosial. Dengan kegiatan LS
yang menciptakan learning community dalam pembelajaran, telah
memberikan dampak yang sangat positif bagi semua pihak, terutama bagi
sekolah, guru dan siswa. Beberapa diantaranya adalah :
1. Bagi Sekolah
a. Guru yang sering mengikuti kegiatan LS, menunjukkan kinerja
yang lebih baik, setidaknya dalam kegiatan pembelajaran di
sekolahnya.
b. Dukungan moril dan materil dari para pimpinan sekolah semakin
meningkat. Setiap kegiatan implementasi LS, selain dihadiri oleh
guru peserta, juga kepala sekolah. Kehadiran pimpinan sekolah ini
akan memberi motivasi bagi guru untuk terlibat pada setiap
kegiatan LS.

2. Bagi Guru

15
a. Tumbuhnya semangat guru dalam mencari dan menerapkan
berbagai model-model atau strategi pembelajaran. Sebab, setiap
dilaksanakan open class, guru berusaha untuk menerapkan model-
model pembelajaran yang lain dari yang pernah dipakai dalam
open class sebelumnya.

b. Tumbuhnya prinsip kolegialitas diantara guru-guru mata pelajaran,


khususnya yang sejenis. Hal ini ditunjukkan dengan semakin
efektifnya kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Prinsip kolegialitas ini merupakan salah satu faktor untuk
membangun Komunitas Belajar (Learning Communities).

c. Guru banyak mendapat pengetahuan dan pencerahan, terutama


yang berkaitan dengan pembelajaran, dari teman sejawat, para
dosen pembimbing, bahkan juga dari Tim JICA (Japan
International Cooperation Agency), yang memberi dukungan pada
kegiatan LS di Indonesia.

3. Bagi Siswa

a. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan, karena kemasan


materi pelajaran disajikan lebih menarik, sehingga mengubah
persepsi siswa terhadap pelajaran matematika yang dianggap sulit,
menakutkan dan menjemukan.

b. Siswa lebih banyak terlibat dalam kegiatan pembelajaan, karena


guru sering menggunakan model pembelajaran kooperatif dan
kolaboratif.

c. Siswa dituntut untuk tampil menyampaikan presentasi hasil kerja


kelompoknya

16
d. Siswa yang mengalami kesulitan belajar, mudah dideteksi, karena
guru model aktif memperhatikan dan membimbing kelompok.
Selain itu juga observer bisa mengamati aktifitas individu siswa
dalam kelompok dan hasil pengamatannya itu disampaikannya
pada kegiatan refleksi.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

17
3.1 Metode Penulisan

Untuk mempermudah penulisan maka pengumpulan data-data dilakukan


dengan menggunakan beberapa metode sebagai berikut metode study
literature yaitu merupakan metode pengumpulan data dari berbagai sumber
yang berhubungan dengan topic. Pada penyusunan ini, penyusun menganalisis
permasalahan yang didasarkan pada data dan atau informasi serta telaah
pustaka untuk menghasilkan alternatif model penyelesaian masalah (solusi)
atau gagasan yang kreatif.

3.2. Prosedur Penulisan

Penulisan ini dilaksanakan dengan mengacu pada empat tahap berikut.


Studi Litelatur

Pengumpulan Data

Konseptualisasi

Analisa

Kesimpulan dan Saran

Gambar 3.1 Diagram Alir Penulisan

18
3.2 Waktu dan Tempat Penulisan dan Penelitian

Waktu penulisan dilakukan pada bulan Januari 2018 bertempat di


perpustakaan . Sedangkan waktu penelitian dilakukan pada bulan 2 oktober
2016. Penelitian dilakukan di SMPN 2 Sumberpucung Malang yang
didampingi oleh Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM).

19
BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Hasil penelitian

Berdasarkan hasil kajian dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa


sumber, Hasil pelaksanaan pembelajaran dalam suatu komunitas belajar
(Learning Community) dan lesson study dapat dijadikan sumber dan
bahan refleksi dalam rangka perbaikan dan peningkatan kompetensi
peserta didik. Terbentuknya komunitas belajar (Learning Community)
antara lembaga pendidikan (guru, dosen, siswa, mahasiswa) dengan unsur
dunia kerja (dunia usaha dan industri) merupakan kebutuhan yang sangat
mendesak. proses pembelajaran yang dilakukan secara berkesinambungan
dalam tiga tahapan yaitu merencanakan (plan), melaksanakan (do),
mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran/refleksi (see).
Pengkajian ini dilakukan dengan metode studi literature yang terdiri atas
beberapa langkah yaitu pengumpulan data, konsep yang diteliti
(konseptualisasi) dan analisis.
4.1.1 Pengumpulan Data

Berdasarkan hasil kajian dengan menggunakan metode studi literatur


diperoleh data yang hampir sama dari setiap sumber. Dari beberapa
sumber yang telah dikaji, terlihat bahwa proses pembelajaran yang terjadi
di Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur masih rendah, yang
disebabkan oleh kurangnya persiapan yang matang oleh guru dalam proses
perencanaan untuk melakukan kegiatan pembelajaran, hal ini
megakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang terkesan monoton,
yaitu guru hanya berceramah. Kebiasaan guru yang menggunakan metode
ceramah dalam proses pembelajaran mengakibatkan peserta didik menjadi
20
pasif dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut,
maka penyusun melakukan telaah pustaka guna meningkatan kompetensi
atau kualitas guru atau keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan Lesson Study dalam untuk membangun
Learning Community.

4.1.2 Konseptualisasi

Konsep yang digunakan dalam pengkajian ini meliputi 3 komponen


penting;

1) Lesson Study merupakan salah satu upaya pembinaan untuk


meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh
sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam
merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan
hasil pembelajaran.

2) Learning Community atau Komunitas belajar adalah sekelompok


orang yang melakukan pertukaran nilai-nilai umum atau
keyakinan dan secara aktif bersepakat untuk belajar bersama
satu dengan yang lain.

3) Melalui penerapan dan pelaksanaan lesson study dan open lesson


dapat dijadikan sarana untuk membangun komunitas belajar di
kalangan komunitas yang dimaksud di atas.

4.2 Analisis dan Pembahasan

Berdasarkan hasil kajian dari beberapa sumber, terlihat bahwa untuk


mengimplementasikan komunitas belajar dibutuhkan suatu gerakan yang

21
mampu menyentuh semua komponen. Individu yang menyadari pentingnya
peningkatan kemampuan atau kompetensi, berdiskusi, berinteraksi, untuk
saling belajar dan membelajarkan, berkolaborasi dengan prinsip saling
membutuhkan. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka digunakan
Lesson Study. terdapat 3 tahap dalam upaya pembinaan profesionalisme guru
melalui Lesson Study, yaitu Plan (Tahap Perencanaan), Do (Tahap
Pelaksanaan), dan See (Tahap Refleksi).
Pada tahap perencanaan (Plan), kelompok kolaboratif bekerja sama untuk
membuat perencanaan pembelajaran, tahap ini bertujuan untuk menghasilkan
rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peserta didik
secara efektif serta membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam
pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dapat dilakukan secara sendiri.
Pada tahap ini, beberapa pendidik berkolaborasi untuk memperkaya ide terkait
dengan rancangan pembelajaran yang akan dihasilkan baik dalam aspek
pedagogis, maupun aspek penyiapan alat bantu pembelajaran seperti scenario,
RPP, dan lembar observasi. Sebelum ditetapkan sebagai hasil final, semua
komponen yang tertuang dalam rancangan pembelajaran disimulasikan. Pada
tahap ini juga ditetapkan prosedur pengamatan termasuk instrumen yang
diperlukan.
Tahap pelaksanaan dimaksudkan untuk menerapkan rancangan
pembelajaran yang telah dirumuskan bersama pada tahap sebelumnya. Pada
tahap ini, kelompok bersama-sama mejalankan rancangan pada tahap awal,
dimana salah satu anggota (guru/dosen) bertindak sebagai “guru model”
sedangkan yang lain bertindak sebagai pengamat (observer). Pengamat
lainnya (selain anggota kelompok perencana) juga dapat bertindak sebagai
observer. Fokus pengamatan diarahkan pada aktivitas belajar peserta didik
dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen pengamatan yang telah
disepakati pada tahap perencanaan, bukan untuk mengevaluasi penampilan
guru yang sedang bertugas mengajar. Selama pembelajaran berlangsung,
pengamat tidak boleh mengganggu atau mengintervensi kegiatan
pembelajaran. Pengamat juga dapat melakukan perekaman kegiatan

22
pembelajaran melalui video camera atau foto digital untuk keperluan
dokumentasi dan atau bahan diskusi pada tahap berikutnya, atau bahkan untuk
kegiatan penelitian. Kehadiran pengamat di dalam ruang kelas di samping
mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dari pembelajaran
yang sedang berlangsung.
Tahap refleksi dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan
pelaksanaan pembelajaran. Anggota dari setiap kelompok bekerja sama untuk
melakukan evaluasi. Guru yang telah bertugas sebagai pengajar mengawali
diskusi dengan menyampaikan kesan-kesan dalam melaksanakan
pembelajaran. Kesempatan berikutnya diberikan kepada anggota kelompok
perencana yang dalam tahap do bertindak sebagai pengamat. Selanjutnya
pengamat dari luar diminta menyampaikan komentar dan lesson learned dari
pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas peserta didik. Kritik dan
saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti guru demi
perbaikan. Sebaliknya, pihak yang dikritik harus dapat menerima masukan
dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan
masukan dari diskusi maka dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya
yang lebih baik.
Manfaat dari penggunaan Lesson Study dalam prespektif Learning
Community adalah 1) guru menjadi termotivasi dan bangkit untuk membuat
inovasi dalam pembelajarannya sehingga terjadi pembelajaran yang aktif,
komunaktif, dan menyenangkan. Motivasi guru ini tumbuh karena adanya
kerjasama antara guru dalam kelompok; 2) adanya persiapan pembelajarn
yang lebih baik dari guru, baik itu persiapan mental, administrasi, dan
penguasaan materi; dan 3) guru menjadi terdorong untuk belajar lebih banyak
dalam hal materi dan lainnya.

PLAN LEARN
Lesso ING
n DO COMM
study SEE
UNITY

23
Dengan adanya kolaborasi antara guru dengan rekan lainnya (bisa jadi
kolaborasi guru dengan expert di dunia kerja) akan terjadi pembelajaran
di kelas yang sarat makna, selanjutnya dari hasil observasi dan diskusi
yang dilakukan usai pelaksanaan pembelajaran dilakukan refleksi
pembelajaran yang telah berlangsung, akan menghasilkan suatu
kesimpulan yang dapat digunakan untuk me-refinepembelajaran
(memperbaiki pembelajaran secara berkelanjutan) melalui siklus lesson
study.

Dari ketiga siklus atau tahapan dalam Lesson Study di atas, menunjukan
bahwa konsep kelompok yang berkolaboratif sudah nampak sejak tahap awal
atau tahap perencanaan,. Dimana guru-guru dalam kelompok tersebut,
kolaboratif melaksanakan kegiatan secara berkesinambungan. Kegiatan yang
terjadi dalam Learning Community berprinsip pada tiga tahap yang ada pada
Lesson Study yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam setiap kelompok
Learning Community, guru-guru menggunakan tiga tahap tersebut untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan menggunakan Lesson Study
dalam prespektif Learning Community maka terdapat perubahan dalam
kegiatan pembelajaran, antara lain perubahan pemantapan dasar akademik
pengajaran, perubahan dalam struktur pembelajaran ditunjukkan dengan
digunakan eksperimen atau diskusi, perubahan reaksi peserta didik selama
proses pembelajaran. Dengan perubahan-perubahan tersebut maka guru
menjadi lebih inovatif dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan
pembelajaran di kelas. Disamping itu, hasil belajar peserta didik menjadi
meningkat.

24
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan Lesson study dalam perspektif


Learning community, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Lesson study dalam perspektif larning community bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih baik, maka digunakan
Lesson Study. Terdapat 3 tahap dalam upaya pembinaan profesionalisme
guru melalui pendekatan Lesson Study, yaitu pertama tahap perencanaan
(Plan), tujuan dari tahap ini menghasilkan rancangan pembelajaran yang
diyakini mampu membelajarkan peserta didik secara efektif serta
membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran, kedua
tahap pelaksanaan (Do), dimaksudkan untuk menerapkan rancangan
pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya oleh salah

25
satu guru model. Dan ketiga tahap refleksi (See) dimaksudkan untuk
menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran untuk
dapat ditindak lanjuti.
2. Manfaat dari penggunaan pendekatan Lesson Study dalam prespektif
Learning Community adalah 1) guru menjadi termotivasi dan bangkit
untuk membuat inovasi dalam pembelajarannya sehingga terjadi
pembelajaran yang aktif, komunaktif, dan menyenangkan. Motivasi guru
ini tumbuh karena adanya kerjasama antara guru dalam kelompok; 2)
adanya persiapan pembelajarn yang lebih baik dari guru, baik itu persiapan
mental, administrasi, dan penguasaan materi; dan 3) guru menjadi
terdorong untuk belajar lebih banyak dalam hal materi dan lainnya.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil diatas, Lesson Study dalam perspektif Learning


Community perlu mempersiapkan keanggotaan yang benar-benar ingin
meningkatkan profesinalismenya dalam pembelajaran, agar kolaborasi yang
berkesinambungan ini dapat dipersiapkan sebaik mungkin untuk hasil yang
semaksimal mungkin.

26
DAFTAR PUSTAKA

Hendayana, dkk. [Link] Study Suatu Strategi Untuk Meningkatkan


Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEPJICA). Bandung: UPI
Press.

Istamar Syamsuri dan Ibrohim. [Link] Study (Studi Pembelajaran) Model


Pembinaan Pendidik Secara Kolaboratif dan Berkelanjutan; dipetik dari
Program SISTTEMS-JICA di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur (2006-
2008).Malang: FMIPA UM.

Sudirtha, I [Link] Model Pembelajaran dan Bentuk Asesmen Formatif


Terhadap Hasil Belajar Micro Teaching dengan Mengontrol Persepsi
Tentang Profesi [Link] Eksperimen pada Mahasiswa FTK
[Link]. Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri
Jakarta,2016.

27
Tim Lesson Study FMIPA UNY. [Link]-rambu Pelaksanaan Lesson Study.
Yogyakarta: FMIPA.

28

Anda mungkin juga menyukai