PANDUAN PEMBIMBING KETERAMPILAN KLINIS
(SKILL LABORATORY)
BLOK 3
ETIKA DAN HUKUM KEDOKTERAN
BASIC LIFE SUPPORT
(BANTUAN HIDUP DASAR)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN AJARAN 2011/2012
1
Learning objectives :
Mahasiswa mampu melakukan Bantuan Hidup Dasar, yang
terdiri dari :
1. Memeriksa tingkat kesadaran berdasarkan penilaian AVPU
2. Membebaskan jalan nafas
3. Menilai jalan nafas dengan teknik Look, listen and feel
4. Memberikan bantuan nafas pada korban henti nafas
5. Memeriksa denyut nadi karotis
6. Melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada korban henti
nafas dan henti jantung
7. Menempatkan korban pada posisi pemulihan (recovery
position)
2
BASIC LIFE SUPPORT (BLS)/
BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)
Usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kehidupan
pada saat pasien atau korban mengalami keadaan yang mengancam
jiwa dikenal dengan Bantuan Hidup Dasar/Basic Life Support (BLS).
Sedangkan bantuan yang diberikan pada pasien /korban yang
dilakukan dirumah sakit sebagai kelanjutan dari BHD disebut
Bantuan Hidup Lanjut/Advance Cardiac Life Support (ACLS).
Yang dilakukan pada saat pertama kali menemukan
pasien/korban adalah melakukan penilaian dini. Jika dalam penilaian
dini penolong menemukan gangguan pada salah satu dari tiga
komponen ini:
1. Tersumbatnya jalan nafas
2. Tidak menemukan adanya nafas
3. Tidak ada nadi
Maka penolong harus segera melakukan tindakan Bantuan Hidup
dasar (BHD)
Tujuan dari bantuan hidup dasar sendiri, yaitu:
a. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi
(nafas)
b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi
jantung) dan ventilasi (fungsi pernafasan/paru) pada
pasien/korban yang mengalami henti jantung atau henti nafas
melalui Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi
Jantung Paru (RJP).
Untuk memudahkan pelaksanaannya maka digunakan akronim A-B-C
yang berlaku universal.
A = Airway control atau penguasaan jalan nafas
B = Breathing Support atau bantuan pernafasan
C = Circulatory Support atau bantuan sirkulasi lebih dikenal dengan
Pijatan Jantung Luar dan menghentikan perdarahan besar
3
Sebelum melakukan tahapan A (airway) terlebih dahulu dilakukan
prosedur awal pada pasien/korban, yaitu:
1. Memastikan keamanan lingkungan
Aman bagi penolong maupun aman bagi pasien/korban itu
sendiri.
2. Memastikan kesadaran pasien/korban
Dalam memastikan pasien/korban dapat dilakukan dengan
menyentuh atau menggoyangkan bahu pasien/korban
dengan lembut dan mantap, sambil memanggil namanya
atau Pak!!!/ Bu!!!!/ Mas!!!/Mbak!!!, dll.
Salah satu cara memeriksa kesadaran adalah dengan menilai
AVPU :
A (Alert) : kesadaran baik, orientasi baik saat ditanyakan
nama, tempat, tanggal, waktu
V (Verbal) : korban hanya memberi respon jika di panggil
P (Pain) : korban baru memberikan respon jika diberi
rangsang sakit
U (Unresponsive) : korban tidak berespon terhadap
rangsangan apapun
3. Meminta pertolongan
Bila diyakini pasien/korban tidak sadar atau tidak ada respon
segera minta pertolongan dengan cara : berteriak ”tolong
!!!!” beritahukan posisi dimana, pergunakan alat komunikasi
yang ada, atau aktifkan bel/sistem emergency yang ada (bel
emergency di rumah sakit).
4. Memperbaiki posisi pasien/korban
Tindakan BHD yang efektif bila pasien/korban dalam posisi
telentang, berada pada permukaaan yang rata/keras dan
[Link] ditemukan pasien/korban miring atau telungkup
pasien/korban harus ditelentangkan dulu dengan
membalikkan sebagai satu kesatuan yang utuh untuk
mencegah cedera/komplikasi.
4
5. Mengatur posisi penolong
Posisi penolong berlutut sejajar dengan bahu pasien/korban
agar pada saat memberikan batuan nafas dan bantuan
sirkulasi penolong tidak perlu banyak pergerakan
A (AIRWAY CONTROL) : Membebaskan Jalan Nafas
Setelah melakukan tahap awal kemudian :
1. Membuka Jalan Nafas
Pada pasien/korban tidak sadar tonus otot menghilang, maka
lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink sehingga
menyebabkan sumbatan jalan [Link] ini dapat dibebaskan
dengan tengadah kepala topang dahi ( Head tild Chin lift) dan
manuver pendorongan mandibula ( Jaw thrush manuver).
Cara melakukan tehnik Head tilt chin lift
a. Letakkan tangan pada dahi pasien/korban
b. Tekan dahi sedikit mengarah ke depan dengan telapak
tangan penolong.
c. Letakkan ujung jari tangan lainnya dibawah bagian ujung
tulang rahang pasien/korban
d. Tengadahkan kepala dan tahan/tekan dahi pasien/korban
secara bersamaan sampai kepala pasien/korban pada posisi
ekstensi.
5
Cara melakukan tehnik jaw thrush manuver
a. Letakkan kedua siku penolong sejajar dengan posisi
pasien/korban
b. Kedua tangan memegang sisi kepala pasien/korban
c. Penolong memegang kedua sisi rahang
d. Kedua tangan penolong menggerakkan rahang keposisi
depan secara perlahan
e. Pertahankan posisi mulut pasien/korban tetap terbuka
2. Bersihkan Jalan Nafas
Untuk memastikan jalan nafas bebas dari sumbatan karena
benda asing. Bila sumbatan ada dapat dibersihkan dengan tehnik
cross finger ( ibu jari diletakkan berlawan dengan jari telunjuk pada
mulut korban)
Cara melakukan tehnik cross finger
a. Silangkan ibu jari dan telunjuk penolong
b. Letakkan ibu jari pada gigi seri bawah korban/pasien dan jari
telinjuk pada gigi seri atas
c. Lakukan gerakan seperti menggunting untuk membuka
mulut pasien/korban.
d. Periksa mulut setelah terbuka apakah ada cairan,benda
asing yang menyumbat jalan nafas.
6
B ( BREATHING SUPPORT) Bantuan Pernafasan
Terdiri dari 2 tahap :
[Link] pasien/korban tidak bernafas
Dengan cara melihat (look) pergerakan naik turunnya dada,
mendengar (listen) bunyi nafas dan merasakan (feel) hembusan
nafas, dengan tehnik penolong mendekatkan telinga diatas mulut
dan hidung pasien/korban sambil tetap mempertahankan jalan nafas
tetap terbuka. Dilakukan tidak lebih dari 10 detik
2. Memberikan bantuan nafas
Bantuan nafas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut atau
mulut ke hidung. Bantuan nafas diberikan sebanyak 2 kali, waktu tiap
kali hembusan 1,5 – 2 detik dan volume 700 ml – 1000 ml (10 ml/kg
7
atau sampai terlihat dada pasien/korban mengembang. Konsentrasi
oksigen yang diberikan 16 – 17 %. Perhatikan respon pasien.
Cara memberikan bantuan pernafasan :
o Mulut ke mulut
Merupakan cara yang cepat dan efektif. Pada saat
memberikan penolong tarik nafas dan mulut penolong menutup
seluruhnya mulut pasien/korban dan hidung pasien/korban harus
ditutup dengan telunjuk dan ibu jari penolong. Volume udara yang
berlebihan dapat menyebabkan udara masuk ke lambung
o Mulut ke hidung
Direkomendasikan bila bantuan dari mulut korban tidak
memungkinkan,misalnya pasien/korban mengalami trismus atau
luka [Link] sebaiknya menutup mulut pasien/korban
pada saat memberikan bantuan nafas.
8
C (CIRCULATION) bantuan sirkulasi
Terdiri dari 2 tahap :
1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung pasien/korban
Ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher
pasien/korban dengan cara dua atau tiga jari penolong meraba
pertengahan leher sehingga teraba trakea, kemudian digeser ke
arah penolong kira-kira 1-2 cm, raba dengan lembut selam 5 – 10
detik. Bila teraba penolong harus memeriksa pernafasan, bila tidak
ada nafas berikan bantuan nafas mouth to mouth selama 2 menit
dengan kecepatan 1 nafas setiap 5-6 detik sehingga berkisar 10-12
kali bantuan nafas per menit. Bila ada nafas pertahankan airway
pasien/korban.
2. Memberikan bantuan sirkulasi
Jika dipastikan tidak ada denyut jantung berikan bantuan
sirkulasi atau kompresi jantung luar dengan cara:
o Dua jari penolong ( telunjuk dan jari tengah) menelusuri
tulang iga pasien/korban yang dekat dengan sisi penolong
sehingga bertemu tulang dada (sternum)
o Dari tulang dada (sternum), cari processus xiphoideus, 2- 3
jari ke atas dari processus xiphoideus, daerah tersebut
merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong.
o Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara
menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan
9
yang lain. Hindari jari-jari menyentuh dinding dada
pasien/korban.
o Posisi badan penolong tegak lurus menekan dinding dada
pasien/korban dengan tenaga dari berat badannya secara
teratur sebanyak 30 kali dengan kedalaman penekanan
1,5 – 2 inchi ( 4 – 5 cm)
o Tekanan pada dada harus dilepaskan dan dada dibiarkan
mengembang kembali ke posisi semula setiap kali
kompresi. Waktu penekanan dan melepaskan kompresi
harus sama
o Tangan tidak boleh berubah posisi
Ratio bantuan sirkulasi dan bantuan nafas 30 : 2 baik oleh
satu penolong maupun dua penolong. Kecepatan
kompresi adalah 100 kali permenit. Dilakukan selama 5
siklus
10
Tindakan kompresi yang benar akan menghasilkan tekanan sistolik
60 – 80 mmHg dan diastolik yang sangat rendah. Selang waktu mulai
dari menemukan pasien/korban sampai dilakukan tindakan bantuan
sirkulasi tidak lebih dari 30 detik.
11
PENILAIAN (EVALUASI) ULANG
Sesudah 5 siklus ventilasi dan kompresi kemudian
pasien/korban dievaluasi kembali
o Jika tidak ada denyut jantung dilakukan kompresi dan bantuan
nafas dengan ratio 30 : 2
o Jika ada nafas dan denyut jantung teraba letakkan korban pada
posisi pemulihan (recovery position)
o Jika tidak ada nafas tetapi teraba denyut jantung, berikan
bantuan nafas selama 1 menit dengan kecepatan 1 nafas setiap
6 detik dan monitor denyut jantung setiap saat.
Posisi Pemulihan (Recovery Position)
Ini adalah posisi aman untuk korban yang tidak sadar namun bisa
bernafas. Bila korban yang tidak bernafas terlentang, lidahnya bisa
menyumbat tenggorokan dan menahan udara melalui saluran nafas
ke paru-paru. Situasi ini berbahaya karena bisa menghentikan
pernafasan dan denyut jantung. Posisi pemulihan menjaga kepala,
leher dan punggung tetap segaris, menjaga saluran nafas terbuka
dan memungkinkan cairan keluar dari mulut bila korban muntah.
Ikuti semua langkah dibawah ini bila menemukan seorang korban
tertelungkup atau terbaring miring.
1. Berlututlah sejajar korban. Buka saluran nafas dengan menekan
dagunya memakai dua jari untuk mendongakkan kepala korban
(Head Tilt Chin Lift). Luruskan kaki dan lengan si korban yang
jauh dari anda, posisikan lengan korban disisi dekat anda agar
tegak lurus tubuh korban dan lipat sikunya dengan telapak
tengadah.
2. Dengan satu tangan ambil tangan si korban melintang dadanya
dan tempatkan punggung tangan menempel dibawah sisi pipi
dekat anda. Dengan tangan yang lain, tarik tungkai korban ke
posisi tertekuk tegak lalu tarik lututnya kearah anda.
3. Tarik lutut korban sampai ia terguling ke samping. Bila perlu
topang tubuhnya dengan lutut anda agar korban tidak terguling
dengan cepat. Biarkan tangan korban mengganjal kepalanya,
dan sedikit dongakkan kepala korban agar ia bisa bernafas.
12
4. Mungkin perlu diatur posisi tangan korban pengganjal kepala
dan bila memungkinkan tekuk pinggul dan kaki penopang agar
ada di posisi menopang tubuh
13
Kapankah BHD dihentikan?
1. Sampai pasien HIDUP kembali
2. Sampai bantuan datang
3. Sampai korban dipastikan mati
4. Sampai Penolong Kelelahan
14
ALUR BHD
PASTIKAN LINGKUNGAN AMAN
PERIKSA KESADARAN KORBAN (AVPU)
Unresponsive
MINTA PERTOLONGAN
PERBAIKI POSISI KORBAN
BEBASKAN AIRWAY
- Head Tilt Chin Lift
- Jaw Thrust Maneuver
- Bersihkan benda asing (cross finger)
BREATHING
(Look, Listen and Feel)
ADA NAFAS TIDAK ADA NAFAS
Recovery Position Berikan 2x nafas buatan
CEK DENYUT NADI
DENYUT NADI (+) DENYUT NADI (-)
Berikan nafas buatan 10 – 12 x per RJP (kompresi : ventilasi)
menit (lakukan selama 2 menit) 30 : 2 sebanyak 5 siklus
EVALUASI EVALUASI
15