Diagnosa dan Konsep CRF dalam Keperawatan
Diagnosa dan Konsep CRF dalam Keperawatan
1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan
rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Paliatif
dengan Cronic Renal Failure (CRF) disusun sebagai upaya memenuhi kewajiban
dalam belajar mengajar dan diharapkan tugas ini dapat membantu kami, teman-
teman dan siapa saja yang membutuhkannya dalam melaksanakan proses belajar
mengajar sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Terima kasih dan penghargaan kami kepada Ns. Sanny Frisca, M. Kep.
khususnya selaku dosen mata kuliah Keperawatan Paliatif yang telah memberikan
tugas, dan berbagai pihak yang telah berperan dalam penyelesaian tugas ini. Kami
mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan tugas ini di masa mendatang.
Semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Penulis
2
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB VI PENUTUP
3
BAB I
PENDAHULUAN
Gagal ginjal kronis atau CRF adalah kerusakan ginjal progresif yang
berakibat fatal yang di tandai dengan urenia ( urea dan limnba nitrogen lain nya
yang beredar dalam darah serta komplikasi nya jika tidak di lakukan dialisis atau
transplatasi ginjal ) (Nursalam, 2011).
Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang
beragam , mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umum
nya berakhir dengan gagal ginjal. Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang di
tandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irevesible , pada suatu derajat yang
memrlukan terapi pengganti ginjal yang teteap ,berupa dialisis dan transplatasi
ginjal (FKUI, 2006).
Di Amerika Serikat insiden penyakit GGK di perkirakan 100 kasus per4 juta
penduduk pertahun dan akan meningkat sekitar 8% setiap tahun nya. Di Indonesia
jumlah penderita gagal ginjal kronik terus menerus meningkat dan diperkirakan
pertumbuhannya sekitar 10% Setiap [Link] ini belum ada penelitian
epidemiologi tentang prepalensi penyakit ginjal kronik di Indonesia. Dari data di
beberapa pusat nefrologi di Indonesia di perkirakan prevalensi penyakit ginjal
kronik masing –masing beriksar 100-150/1 juta penduduk ( Suwitra, 2006).
4
1.2 Rumusan Masalah
A. Apa yang dimaksud dengan CRF
B. Bagaimana konsep medis dari CRF
C. Bagaimana dengan konsep keperawatan dengan CRF
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah
metabolik tubuh atau melakukan fugsi reguler [Link] bahan yang biasa nya di
eleminasi di urin menumpuk dalam cairan tubuh akibat gangguan exkresi renal
dan menyebabkan gangguan fungsi endokrin dan metabolik ,cairan elektrolit,
serta asam basa. Gagal ginjal merupakan penyakit sistemik yang ,merupakan jalur
akhir yang umum nya dari berbagai penyakit tractus urinarius dan [Link]
tahun 50.000 orang Amerika Serikat meninggal akibat gagal ginjal. (Suharyanto
& Madjid, 2009, halaman 183)
Gagal ginjal kronis atau GGK atau penyakit ginjal tahap akhir merupakan
gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irefervisbel dimana kemampuan
tubyuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit ,menyebab kan urenia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam
darah ). (Smeltzer dan Bare ,1997) (Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 183)
Gagal ginjal kronik merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang
progresif dan irreversibel dari berbagai penyebab (Price dan Wilson, 1995)
Sedangkan menurut Soeparman, dkk (1998) gagal ginjal kronik adalah penurunan
vaal ginjal yang menahun, yang tidak reversible dan cukup lanjut. (Suharyanto &
Madjid, 2009, halaman 183)
B. Etiologi
Menurut brenner dan lazarus dalam princedan wilson (1987) penyebab
penyakit ginjal stadium terminal yang paling banyak di new england
adalah sebagai berikut
1) Glumerulonefritis kronik (24%)
2) Nefropati diabetik (15%)
6
3) Nefroskelrosis hipertensif (9%)
4) Penyakit ginjal polikistik (8%)
5) Piolonefritis kronis dan nefritis interstisial lain (8%)
(Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 183)
Gagal ginjal kronis selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR stadium
gagal ginjal kronis didasarkan pada tingkat GFR (glomerular filtration rate) yang
tersisa dan mencangkup.
3. Gagal ginjal: yang terjadi apabila GFR kurang dari 20% normal.
7
Terjadi bila GFR menjadi kurang dari 5% dari normal. Hanya
sedikit nefron yang tersisa diseluruh ginjal ditemukan jaringan parut dan
atrofi tubulus (corwin, 1994)
([Link]
Kronik)
b. Stadium 2
c. Stadium 3
d. Stadium 4
8
Penurunan berat pada GFR (15-29). Teruskan pengobatan untuk
komplikasi CKD dan belajar semaksimal mungkin mengenai
pengobatan untuk kegagalan ginjal. Masing-masing pengobatan
membutuhkan persiapan. Bila kita memilih hemodialisis,kita akan
membutuhkan tindakan untuk memperbesar dan memperkuat
pembuluh darah dalam lengan agar siap menerima pemasukan
jarum secara sering.
e. Stadium 5
D. Manisfestasi Klinis
Pada gagal ginjal kronik akan terjadi rangkaian perubahan. Bila GFR
menurun 5-10% dari keadaan normal dan terus mendekati 0, maka
pasien akan menderita sindrom uremik yaitu suatu kompleks gejala yang
di akibatkan atau berkaitan dengan retensi metabolik nitrogen akibat
gagal ginjal .
Dua kelompok gejala klinis dapat terjadi pada sindrom uremik yaitu :
1) Gangguan fungsi pengaturan dan eksresi : kelainan volume
cairan dan elektrolit,ketidaksimbangan asam basah ,retensi
metabolik nitrogen serta metabolik lain nya serta anemia akibat
defisiensi sekresi ginjal (eritropoetin)
2) Gabungan kelainan kardiovaskuler ,neoromuskular ,saluran
cernah ,damn kelainan lain nya (dasar kelainan sistem ini belum
banyak di ketahui). Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 187)
9
D. Pemeriksaan Penunjang
Pengertian Dialisis
Dialysis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan
produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses
tersebut. Dialysis adalah proses yang menggantikan secara fungsional pada
gangguan fungsi ginjal dengan membuang kelebihan cairan dan / akumulasi
toksin endogen atau eksogen (Doengoes, 1993).
Dialysis adalah suatu proses dimana solute dan air mengalami difusi secara pasif
melalui suatu membran berpori dari suatu kompartemen cair menuju
kompartemen lainnya. Pada dialysis, molekul solute berdifusi lewat membran
semipermiabel dengan cara mengalir dari sisi cairan yang lebih pekat (konsentrasi
solute lebih tinggi) ke cairan yang lebih pekat (konsentrasi solute lebih rendah).
Dialysis dilakukan pada ginjal untuk mengeluarkan zat-zat toksik dan limbah
tubuh yang dalam keadaan normal diekskresikan oleh ginjal yang sehat. Tujuan
dialis adalah untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai
fungsi ginjal pulih kembali.
Dialisis akut diperlukan bila tedapat kadar kalium yang tinggi, kelebihan muatan
cairan atau edema pulmoner yang mengancam, asidosis yang meningkat,
pericarditis dan konfusi berat. Dialysis kronis atau pemeliharaan dibutuhkan pada
gagal ginjal kronis (penyakit ginal stadium akhir) dalam keadaan sebagai berikut:
terjadinya tanda-tanda atau gejala uremia yang mengenai seluruh sistem tubuh
( mual, muntah, anorexia berat, letargo, konfusi), peningkatan kadar kalium
serum, kelebihan volume cairan yang tidak responsif terhadap terapi diuretic serta
pembatasan cairan, dan penurunan status kesehatan umum. (Suharyanto &
Madjid, 2009, halaman 199)
10
1) Hemodialisa
2) Dialisis peritoneal
Prinsip dasar kedua teknik itu adalah sama, yaitu difusi solute dan air dari
plasma ke larutan dialysis sebagai respon terhadap perbedaan konsentrasi atau
tekanan tertentu. Pada suatu membran semipermiabel yang diletakkan diantara
darah penderita pada satu sisi dan larutan yang sudah diketahui susunannya
(dialist) pada sisi lainnya, makan substansi yang dapat menembus membran akan
bergerak dari konsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi rendah. (Suharyanto &
Madjid, 2009, halaman 200)
Bila kadar kalium dalam darah tinggi dan kadar bak dialysis rendah, maka
kalium bergerak keluar dari darah masuk ke bak dialysis bujur sangkar mewakili
solute yang lebih tinggi konsentrasinya. Dalam dialisat (misalnya bikarbonat),
sehingga difusinya adalah dari bak ke darah. Ultrafiltrasi (pembuangan air) dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Komplikasi dialisis
11
kematian diantara pasien-pasien yang menjalani hemodialisis kronis adalah
penyakit kardiovaskuler arteriosklerotik. Gangguan metabolisme lipid
(hipertrigliseridemia) tampaknya semakin diperberat dengan tindakan
hemodialisis.
1) Hemodialisa
12
pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir atau end stage renal disease
(ESRD) yang memerlukan terapijangka panjang atau permanen.
Tujuan hemodialisis adalah untuk mengeluarkan zat-zat nitrogen
yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan.
Terdapat tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis, yaitu: difusi,
osmosis, ultrafiltrasi.
Toksin dan zat limbah didalam darah dikeluarkan melalui proses
difusi dengan cara bergerak dari darah yang memiliki konsentrasi tinggi,
ke cairan dialisat dengan konsentrasi yang lebih rendah. Cairan dialisat
tersusun dari semua elektrolit yang penting dengan konsentrsi ekstrasel
yang ideal. (Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 202)
Kelainan cairan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses
osmosis. Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradient
tekanan, dimana air bergerak dari daerah dengan tekanan yang lebih tinggi
(tubuh pasien) ke tekanan yang lebih rendah (cairan dialisat). Gradient ini
dapat ditingkatkan melalui penambahan tekanan negative yang dikenal
sebagai ultrafiltrasi pada mesin dialysis. Tekanan negative diterapkan pada
alat ini sebagai kekuatan penghisap pada membran dan memfasilitasi
pengeluaran air.
Fistula
13
antara ujung dan sisi pembuluh darah). Fistula tersebut membutuhkan waktu 4-6
minggu untuk menjadi ‘matang’ sebelum siap [Link] ini diperlukan
untuk memberi kesempatan agar fistula pulih dan segmenvena fistula berdilatasi
dengan baik sehingga dapat menerima jarum berlumen besar dengan ukuran 14-
16. Jarum ditusukkan ke dalam pembuluh darah agar cukup banyak aliran darah
yang akan mengalir melalui dialiser. Segmen-arteri fistula digunakan untuk
memasukkan kembali (reinfus) darah yang sudah didialisis. ( Suharyanto &
Madjid, 2009, halaman 203)
Tandur
Suatu mesin ginjal buatan atau hemodialyzer terdiri dari membran semipermiabel
dan cairan dialysis. Terdapat 2 tipe dasar dialyzer yaitu:
Suatu sistem dialysis terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan satu lagi
untuk cairan dialysis. Bila sistem ini bekerja, darah mengalir dari penderita
14
melalui tabung plastic (jalur arteri), melalui dialyzer hollow fiber dan kembali ke
penderita melalui jalur vena.
Urea, kreatinin, asam urat, dan fosfat dapat berdifusi dengan mudah dari
darah ke dalam cairan dialysis karena unsure-unsur ini tidak terdapat dalam cairan
dialysis. Natrium asetat yang lebih tinggi konsentrasinya dalam cairan
dialysis,akan berdifusi kedalam darah. Tujuan menambahkan asetat adalah untuk
mengoreksi asidosis penderita uremia. Asetat dimetabolisme oleh tubuh penderita
menjadi bikarbonat. Glukosa dalam konsentrasi yang rendah (200mg/100ml)
ditambahkan ke dalam bak dialysis yang dapat mengakibatkan kehilangan kalori.
15
3) Efek samping obat dan pedoman kapan harus memberikan dokter
mengenai efek samping tersebut.
4) Perawatan akses vaskuler: pencegahan, pendeteksian, dan penatalaksanaan
komplikasi yang berkaitan dengan akses vaskuler.
5) Dasar pemikiran unutk diet dan pembatasan cairan: konsekuensi akibat
kegagalan dalam mematuhi pembatasan ini. (Suharyanto & Madjid, 2009,
halaman 207)
6) Pedoman pencegahan dan penatalaksanaan berlebihan volum cairan.
7) Strategi untuk pendeteksian, penatalaksanaan dan pengurangan gejala
pruritus, neuropati serta gejala-gejala lainnya.
8) Penatalaksanaan komplikasi dialysis yang lain dan efek samping terapi
(dialysis, pembatasan diet, dan obat-obatan).
9) Strategi untuk menangani atau mengurangi kecemasan serta
ketergantungan pasien sendiri dan anggota kelurga mereka.
10) Pengaturan financial unutuk dialysis: strategi untuk mengindentifikasi dan
mendapatkan sumber-sumber financial.
11) Strategi untuk mempertahankan kemandirian dan mengatasi kecemasan
anggota keluarga. (Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 208)
16
Larutan dialisat dilarutkan dari botol iraci fleksibel melalui kateter peritoneal
permanen yang dikenal sebagai kateter Tenckhoff. Setelah larutan dialisat
diinfuskan ke dalam kavum peritneal melalui keteter, kantongnya dilipat dan
disisipkan dibalik baju pasien selama [Link] ini akan memberikan
kebebasan pada pasien dan mengurangi frekuensi penyambungan serta pelepasan
sambungan pada ujung kateter sehingga resiko kontaminasi dan peritonitis dapat
dihindari. Keberhasilan CAPD tergantung pada pemeliharaan kateter peritoneal
[Link] kateter yang dapat terjadi mencakup obstruksi satu arah,
tercabutnya kateter dari panggul, terbelitnya kateter dengan otentum, perembesan
cairan dialisat, infeksi dari lokasi keluar, pembentukan bekuan fibrin dan
kontaminasi bakteri dan jamur.
Prinsip-Prinsip CAPD
CAPD bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang sama seperti pada bentuk dialysis
lainnya, yaitu: difusi dan osmosi. Namun, karena CAPD merupakan
terpikontinyu, kadar produk limbah nitrogen dalam serum berada dalam keadaan
yang stabil. Fluktuasi hasil-hasil laboraturium pada CAPD tidak terlalu ekstrim
jika dibandingkan dengan dialisis peritoneal intermiten, karena proses dialysis
berlangsung secara konstan. Kadar elektrolit biasanya berada dalam kisaran
normal.
17
Setiap pertukaran biasanya memerlukan 30 sampai 60 menit atau lebih. Lama
waktu pertukaran terdiri atas 5m sampai 10 menit periode infus (pemasukan
cairan dialisat), 20 menit drainase (pengeluaran cairan dialisat) dan waktu retensi
selama 10 sampai 30 menit atau lebih.
Indikasi CAPD
1. Pasien-pasien yang menjalani hemodialysis rumatan (maintenance) atau
hemodialysis kronis yang mempunyai masalah-masalah dengan cara terapi
yang sekarang, seperti gangguan fungsi atau kegagalan alat untuk akses
vaskuler, rasa haus yang berlebihan, hipertensi berat, sakit kepala pasca
dialisis dan anemia berat yang memerlukan tranfusi.
2. Pasien yang sedang menunggu operasi pencangkokan ginjal.
3. Penyakit ginjal stadium terminal yang terjadi akibat penyakit diabetes
mellitus.
4. Pasien lansia, jika keluarga atau masyarakat memberikan dukungan.
Kontraindikasi CAPD
1. Perlekatan akibat pembedahan atau penyakit inflamasi sistemik yang
dialami sebelumnya. Perlekatan akan mengurangi klirens solute.
2. Nyeri punggung kronis yang terjadi berkurang disertai riwayat kelainan
pada diskus intervertebralis yang dapat diperburuk dengan adanya tekanan
cairan dialisat dalam abdomen yang kontiyu.
3. Riwayat kolostomi, ileostomi, nefrostomiatauileal conduit, dapat
meningkatkan resiko peritonitis, meskipun bukan kontraindikasi absolut.
4. Pasien yang mendapatkan terapi imunosupresif, karena akan mengalami
komplikasi akibat kesembuahan luka yang buruk pada lokasi pemasangan
kateter.
5. Diverticulitis, karena CAPD kadang disetai dengan ruptur diverticulum.
( Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 222)
18
Komplikasi CAP
1. Peritonitis
Merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai dan paling
[Link] ini terjadi pada 60-80% pasien yang menjalanidialisis
[Link] peritonitis disebabkan oleh kontaminasi
staphylococcus epidermidis.
2. Kebocoran cairan dialisat
Kebocoran cairan dialisat melalui luka insisi atau luka pada pemasangan
kateter dapat segera diketahui sesudah kateter dipasang. Biasanya
kebocoran tersebut terhenti spontan jika terapi dialysis ditunda selama
beberapa hari untuk menyembuhkan luka insisi dan tempat keluarnya
kateter.
3. Perdarahan
Cairan drainase (effluent) dialisat yang mengandung darah kadang-kadang
dapat terlihat, khususnya pada pasien wanita yang sering haid. Cairan
hipertonik menarik darah dari uterus lewat orifisium tuba falopi yang
bermuara ke dalam kavum peritoneal.
4. Komplikasi lain
a. Hernia abdomen, mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan intra
abdomen yang terus-menerus.
b. Hipertrigliseridemia.
c. Nyeri panggung bawah dan anoreksia, akibat adanya cairan dalam
rongga abdomen disamping rasa manis yang selalupa dan indera
pengecap yang berkaitan dengan absorpsiglukosa.
5. Gangguan citra tubuh dan seksualitas
Pasien mengalami gangguan citra tubuh dengan adanya kateter abdomen
dan kantong penampung serta selang dibadannya. Usurkan pinggang akan
meningkat 2,5sampai 5 cm atau lebih bila terdapat cairan pada hingga
abdomen. (Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 223)
19
Seksualitas dan fungsi seksualitas dapat berubah. Pasien disetai
pasangannya mungkin enggan untuk melakukan aktivitas seksual, dan
keengganan ini sebagian timbul karena secara psikologis, kateter menjadi
penghalang aktivitas tersebut. Keberadaan 2 liter cairan dialisat, kateter
peritoneal dan kantong drainase dapat mengganggu fungsi seksual dan
citra tubuh.
Pendidikan Pasien dengan CAPD
1) Menyampaikan informasi dasar tentang CAPD : anatomi dan
fisiologi, proses penyakit, prosedur pertukaran, risiko komplikasi,
teknik memeriksa tanda-tanda vital, perawatan kateter, dan contact
person.
2) Memperjelas terapi diet
Mengkonsumsi makanan tinggi protein
Meningkatkan asupan serat untuk menghindari konstipasi,
karena dapat menggangu drainase cairan dialisat.
Membantu asupan karbohidrat untuk menghindari kenaikan
berat badan yang berlebihan.
Biasanya tidak diperlukan pembatasan asupan kalium
natrium dan cairan.
3) Menjelaskan pentingnya perawatan tindak lanjut untuk
mengingatkan kembali teknik aseptic untuk menghindari infeksi.
Mengganti selang bila diperlukan.
Mengevaluasi hasil pemeriksaan nimia darah.
Memberikan umpan balik.
Memberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan
pengetahuan tambahan.
4) Memberikan kesempatan dan semangat kepada pasien untuk
mengungkapkan keprihatinan, keraguan dan kecemasannya.
(Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 224)
20
E. Penanganan dan Pengobatan
1) Hipertensi
o Hipertensi dapat di kontrol dengan pembatasan natrium dan cairan.
o Pemberian obat antihipertensi metildopa (aldomet) propranolol,
kolinidin (catapres).
Apabila pendrita sedang mengalami terapi hemodialisa pemberisan
antihiprtensi di hentikan karena dapat mengakibatkan hipotrensi
dan syok. yang di akibatkan oleh keluarnya cairan intravaskuler
melalui ultrafiltrasi.
o Pemberian diuretik furosemik (lasik).
2) Hiperkalemia
Merupakan kompikasi yang paling serius , karena bila K+ serum mencapai
sekitar 7mEq/I , dapat mengakibatkan aritmia dan juga henti jantung.
Hiperkalimia dapat di obati dengan pemberian glukosa dan insulin
intravena yang akan memasukan K+ ke dalam sel, atau dengan pemberian
kalisum glukosan 10%.
3) Anemia
Anemia pada gagal ginjal kronik di akibatkan penurunsann sekresi
eritipoeitrin oleh ginjal. Pengobatannya adalah pemberian hormon
eritopoeitin yaitu rekombinan eritopoeitin ( r-EPO) selain dengan
pemberian vitamin dan asam folat, besi dan tranfusi darah.
4) Asidosis
Asidosis ginjal biasan nya tidak diobati dengan HCO3 plasma turun di
bawah angka 15 mEq/L bila asidosis berat akan di koreksi dengan
pemberian NAHCO3 (natrium bikarbonat)
5) Diet Rendah Fosfat
Dengan pemberian gel yang dapat mengikat fosfat di dalam usus. Gel yang
dapat mengikat fosfat harus di makan bersama dengan makanan.
6) Pengobatan Hiperurisemia
Obat pilihan untuk mengobati hiperurisemia pada penyakit ginjal lanjut
adalah pemberian alokurinal. Obat ini mengurangi kadar asam urat dengan
21
menghambat biosintesis sebagian asam urat total yang dihasilkan
tubuh.(Suharyanto & Madjid, 2009, halaman 192)
22
BAB III
PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN
Menurut Dongoes et al (2000), riwayat keperawatan yang perlu dikaji meliputi
aktivitas-istirahat, nyeri-kenyamanan, keamanan, penyuluhan pembelajaran dan
seluruh sistem. Seluruh sistem yang disini yaitu sistem sirkulasi, eliminasi,
neurosensori, pernapasan, dan gastrostointestinal. Riwayat penyakit terdahulu
maupun riwayatpenyakit dalam keluarga juga perlu digali yang meliputi riwayat
diabetes melitus, hipertensi, infeksi saluran kemih kronis, batu ginjal dan riwayat
[Link] dalam penyakit.
Pada aktivitas/istirahat terlihat tanda dan gejala yang dipengaruhi oleh sistem
neurosensori yang ditunjukkan berupa sakit kepala, kram otot/kejang sindrom
“kaki gelisah”, kelemahan otot, kehilangan tonus, dan menyebabkan keletihan,
kelemahan, malaise, aktivitas fisik rendah (Smezer & Bare, 2000). Tanda yang
ditunjukkan pasien gagal ginjal dapat berupa ketidakmampuan berkonsentrasi,
kejang, penurunan tingkat kesedaran akibat azotemia dan ketidakseibangan
elektrolit/asam basa. ([Link]
Fanuva%20Endang%20Tri%[Link] , halaman 28)
Pada pasien gagal ginjal penurunan berat badan akibat dehidrasi karena
restriksi cairan dan penggunaan diuretik. Adanya restriksi cairan dan penurunan
23
peningkatan frekuensi berkemih, poluria (pada kegagalan dini), penurunan
frekuensi/oliguria (fase akhir), disuria ataupun berdasarkan volumenya dapat
ditemukan oliguria (biasanya 12-21 hari) dan poliuria (2-6 L/hr). Keluhan
gastrointestinal berupa mual muntah anoreksia, sesuai dengan hasil pemeriksaan
fisik yaitu adanya distensi abdomen, nyeri ulu hati. Mual muntah yang dirasakan
pasien gagal ginjal dapat menyebabkan penurunan intake nutrisi.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
24
c) Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan
cairan mempengaruhi sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskuler
sistemik, gangguan frekuensi irama, konduksi jantung, akumulasi toksik,
klasifikasi jaringan lunak.
([Link]
[Link], halaman 27)
Kriteria hasil:
25
3) Turgor kulit dan adanya edema
4) Distensi vena leher
([Link]
[Link], halaman 28)
5) Tekanan darah, denyut dan irama nadi.
Rasional : pengkajian merupakan dasar berkelanjutan untuk memantau
perubahan dan mengevaluasi intervensi.
6) Batasi masukan cairan
26
j. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake inadekuat, mual, muntah, anoreksia, pembatasan diet dan
penurunan membrane mukosa mulut.
Tujuan: mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat.
Kriteria hasil:
a. Mengkonsumsi protein yang mengandung nilai biologis tinggi
b. Memilih makanan yang menimbulkan nafsu makan dalam pembatasan diet
c. Mematuhi medikasi sesuai jadwal untuk mengatasi anoreksia dan tidak
menimbulkan rasa kenyang
d. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri rasional pembatasan diet dan
hubungannya dengan kadar kreatinin dan urea
e. Mengkonsulkan daftar makanan yang dapat diterima
f. Melaporkan peningkatan nafsun makan
g. Menunjukkan tidak adanya perlambatan atau penurunan berat badan yang
cepat
h. Menunjukkan turgor kulit yang normal tanpa edema, kadar albumin
plasma dapat diterima
Intervensi:
a. Kaji status nutrisi
27
1) Riwayat diet
2) Makanan kesukaan
3) Hitung kalori
Rasional: pola diet sekarang dan dahulu dapat dipertimbangkan dalam
menyusun menu.
a. Kaji factor-faktor yang dapat merubah masukan nutrisi:
1) Anoreksia, mual dan muntah
2) Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien
3) Depresi
4) Kurang memahami diet
Rasional: menyediakan informasi mengenai factor lain yang dapat diubah
atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan diet.
b. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet.
Rasional: mendorong peningkatan masukan diet.
c. Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi:
telur, produk susu, daging.
([Link]
[Link], halaman 36)
Rasioanl: protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan
nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan.
d. Anjurkan cemilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium, diantara
waktu makan.
Rasional: mengurangi makanan dan protein yang dibatasi dan
menyediakan kalori untuk energi, membagi protein untuk pertumbuhan
dan penyembuhan jaringan.
e. Ubah jadwal medikasi sehingga medikasi ini tidak segera diberikan
sebelum makan.
Rasional: ingesti medikasi sebelum makan menyebabkan anoreksia dan
rasa kenyang.
k. Jelaskan rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan penyakit
ginjal dan peningkatan urea dan kadar kreatinin.
28
Rasional: meningkatkan pemahaman pasien tentang hubungan antara
diet, urea, kadar kreatinin dengan penyakit renal.
l. Sediakan jadwal makanan yang dianjurkan secara tetulis dan anjurkan
untuk memperbaiki rasa tanpa menggunakan natrium atau kalium.
Rasional: daftar yang dibuat menyediakan pendekatan positif terhadap
pembatasan diet dan merupakan referensi untuk pasien dan keluarga yang
dapat digunakan dirumah.
([Link]
[Link], halaman 37)
Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan.
29
Tanda-tanda vital dalam batas normal : tekanan darah: 90/60-130/90 mmHg,
nadi: 60-80 x/menit, kuat teratur,
Akral hangat (([Link]
[Link], halaman 38)
Capillary refill kurang dari 3 detik
Nilai laboratorium dalam batas normal (kalium 3,5-5,1 mmol/L, urea 15 -39
mg/dl)
Intervensi :
Auskultasi bunyi jantung dan paru, evaluasi adanya edema perifer atau
kongesti vaskuler dan keluhan dispnea, awasi tekanan darah,perhatikan
postural misalnya: duduk, berbaring dan berdiri.
Rasional: mengkaji adanya takikardi, takipnea, dispnea, gemerisik, mengi dan
edema.
Evaluasi bunyi jantung akan terjadi friction rub, tekanan darah, nadi perifer,
pengisian kapiler, kongesti vaskuler, suhu tubuh dan mental.
Rasional: mengkaji adanya kedaruratan medic.
Kaji tingkat aktivitas dan respon terhadap aktivitas.
Rasional: ketidakseimbangan dapat mengganggu kondisi dan fungsi jantung.
Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yaitu kalium.
Rasional: menurunkan tahanan vaskuler sistemik.
30
c. Tidak terjadi perubahan perilaku misalnya peka, menarik diri,
depresiataupun psikosis
d. Tidak terjadi gangguan lapang perhatian misalnya, penurunan kemampuan
untuk mengemukakan pendapat
e. Nilai laboratorium dalam batas normal (ureum) 15-39 mg/dl, kreatinin 0,6-
1,3mg/dl)
Intervensi :
a. Kaji luasnya gangguan kemampuan berfikir, memori dan orientasi serta
perhatikan lapang pandang.
Rasional: memberikan perbandingan untuk mengevaluasi perkembangan atau
perbaikan gangguan.
b. Pastikan dari orang terdekat tingkat mental klien biasa.
Rasional: beberapa perbaikan dalam mental, mungkin diharapkan dengan
perbaikan kdar urea, kreatinin, elektrolit dan Ph serum yang lebih normal.
c. Berikan orang terdekat informasi tentang status klien.
Rasional: dapat membantu menurunkn kekacauan dan meningkatkan
kemungkinan dapat dipahami.
d. .Komunikasikan informasi dengan kalimat pendek dan sederhana.
Rasional: perbaikan peningkatan atau keseimbangan dapat mempengaruhi
kognitif atau mental.
31
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi integritas
kulit.
Kriteria hasil :
a. Klien menunjukkan perilaku atau tehnik untuk mencegah kerusakan atau
cidera kulit.
b. Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
c. Tidak terjadi edema
d. Gejala neuropati perifer berkurang
Intervensi:
1) Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor dan perhatikan adanya
kemerahan,ekimosis, purpura.
Rasional: mengetahui adanya sirkulasi atau kerusakan yang dapat
menimbulkan pembentukan dekubitus atau infeksi.(
([Link]
[Link], halaman 37)
A. INTERVENSI / IMPLEMENTASI
1. Meningkatkan istirahat
Posisikan tempat tidur untuk mencapai efektivitas pernapsan yang
maksimal; berikan oksigen jika diperlukan.
Mulai upaya mencegah gangguan pernapasan, sirkulasi, dan
vaskular.
Dorong pasien untuk meningkatkan aktivitas secara bertahap dan
rencanakan istirahat dengan aktivitas san olahraga ringan.
2. Meningkatkan status nutrisi
Berikan diet bernutrisi tinggi protein yang dilengkapi dengan
vitamin B kompleks dan vitamin lain, termasuk vitamin A,C, dan
K.
32
Dorong pasien untuk makan: berikan makanan dalam jumlah
sedikit, tetapi sering, pertimbangkn pilihan pasien, dan berikan
suplemen protein, jika diindikasikan
Berikan nutrien dengan slang pemberian makan atau nutrisi
parenteral total jika diperlukan
Berikan pasien dengan feses berlemak (steatorea) bentuk vitamin
A, D, E larut-lemak yang dapat dilarutkan dalam air dan berikan
asam folat dan zat besi untuk mencegah anemia
Berikan diet rendah protein untuk sementara jika pasien
menunjukkan tanda-tanda akan mengalami koma atau berlanjut ke
koma; batasi natrium jika diperlukan.
3. Memberikan perawatan kulit
Ganti posisi pasien secara sering
Hindari menggunakan sabun yang mengiritasi dan plester perekat.
Berikan lotion untuk melembutkan kulit yang teriritasi; lakukan
tindakan untuk mencegah agar pasien tidak menggaruk kulit.
4. Mengurangi risiko cedera
Gunakan bantalan di pagar tempat tidur jika pasien mengalami
agitasi atau gelisah
Orientasikan pasien pada waktu, tempat, dan prosedur untuk
meminimalkan agitasi
Instruksikan pasien untuk meminta bantuan untuk keluar dari
tempat tidur
Evaluasi dengan saksama setiap cedera karena kemungkinan dapat
terjadi perdarahan internal
Berikan tindakan pengamanan untuk mencegah cedera atau luka
terpotong/sayatan (silet listrik, sikat gigi lembut)
Berikan tekanan ke tempat punksi vena untuk meminimalkan
perdarahan
5. Memantau dan menangani komplikasi
33
pantau perdarahan dan hemoragi
pantau status mental pasien dengan seksama dan laporkan
perubahan yang ditemukan sehingga terapi ensefalopati dapat
dimulai secara tepat.
Secara cermat pantau kadar elektrolit serum dan pernaiki jika hasil
pemeriksaan tidak normal
Berikan oksigen jika terjadi desaturasi oksigen; pantau adanya
demam atau nyeri abdomen, yang dapat menandai awitan
peritonitis bakterial atau infeksi lain
Kaji status kardiovaskular dan respirasi; berikan diuretik,
implementasikan pembatasan cairan, dan atur posisi pasien, jika
perlu
Pantau asupandan haluaran, perubahan berat badan setiap hari,
perubahan lingkar perut/abdomen, dan terjadinya edema
Pantau nokturia dan oliguria, karena kondisi ini mengindikasikan
memburuknya disfungsi hati.
A. DISCHARGE PLANING
1. Istirahat di tempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus,asistes,dan
demam
2. Diet rendah protein. Bila ada asites di berikan diet rendah garam II,dan
bila proses tidak aktif,di perlukan diet tinggi protein
3. Mengatasi infeksi dengan antibiotik
4. Memperbaiki keadaan gizi, bila perlu dengan pemberian asam amino
essensial berantai cabang dan glukosa
5. Roboansia vitamin B kompleks. Dilarang makan dan minum bahan
yang mengandung alkohol. (Nanda jilid 3)
34
Rujuk pasien ke alcoholics anonymous, perawatan psikiatrik,
konseling, atau penasihat spiritual jika diindikasikan
Lanjutkan pembatasan natrium; tekankan untuk menghindari
memakan kerang mentah
Berikan intruksi tertulis, penyuluhan, dukungan, dan penguatan
kepada pasien dan keluarga
Anjurkan istirahat dan kemungkinan perubahan gaya hidup (diet
seimbang, adekuat, dan eliminasi alkohol)
Instruksikan keluarga mengenai gejala ensefalopati yang akan terjadi
dan kecenderungan terjadinya perdarahan dan infeksi
Berikan dukungan dan penguatan kepada pasien dan berikan umpan
balik positif ketika pasien mengalami keberhasilan
Rujuk pasien untuk mendapatkan perawatan di rumah, di bantu
kepindahan pasien dari rumah sakit ke rumah.
35
Pemeriksaan Penunjang
(2000) adalah :
1) Urine
2) Darah
36
a) b) Sel darah merah, menurun pada defesien eritropoetin seperti azotemia.
f) Kalsium menurun
3) Pemeriksaan radiologik
a) Foto ginjal, ureter dan kandung kemih (kidney, ureter dan bladder/KUB):
menunjukkan ukuran ginjal, ureter, kandung kemih, dan adanya obstruksi
(batu).
b) Pielogram ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi
ekstravaskuler, masa
c) Sistouretrogram berkemih; menunjukkan ukuran kandung kemih, refluks
kedalam ureter dan retensi.
37
d) Ultrasonografi ginjal: menentukan ukuran ginjal dan adanya masa, kista,
obstruksi pada saluran perkemuhan bagian atterjadi karena kehilangan
kemampuan ginjal untuk
e) Biopsy ginjal: mungkin dilakukan secara endoskopik, untuk menentukan
sel jaringan untuk diagnosis hostologis.
f) Endoskopi ginjal dan nefroskopi: dilakukan untuk menentukan pelis ginjal
(keluar batu, hematuria dann pengangkatan tumor selektif).
g) Elektrokardiografi (EKG): mungkin abnormal menunjukkan
ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.
h) Fotokaki, tengkorak, kolumna spinal dan tangan, dapamenunjukkan
demineralisasi, kalsifikasi.
i) Pielogram intravena (IVP), menunjukkan keberadaan dan posisi ginjal,
ukuran dan bentuk ginjal.
j) CT scan untuk mendeteksi massa retroperitoneal (seperti penyebararn
tumor).
k) Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendeteksi struktur ginjal,
luasnya lesi invasif ginjal.
38
BAB VI
PENUTUP
2.3 Kesimpulan
Gagal ginjal kronis atau CRF adalah kerusakan ginjal progresif yang
berakibat fatal yang di tandai dengan urenia ( urea dan limnba nitrogen lain nya
yang beredar dalam darah serta komplikasi nya jika tidak di lakukan dialisis atau
transplatasi ginjal ) (Nursalam, 2011).
Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang
beragam , mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umum
nya berakhir dengan gagal ginjal. Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang di
tandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irevesible , pada suatu derajat yang
memrlukan terapi pengganti ginjal yang teteap ,berupa dialisis dan transplatasi
ginjal (FKUI, 2006).
2.4 Saran
39
Analisa Jurnal
40
Comparation / perbandingan : tidak ditemukan dalam jurnal
41
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Majid, Toto Suharyanto. 2000. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan
Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: EGC
([Link]
Kronik)
([Link]
Fanuva%20Endang%20Tri%[Link],
([Link]
[Link]
42
Ethical considerations include respecting patient autonomy, ensuring informed consent, discussing potential outcomes and quality of life, and revisiting decisions as the patient's condition evolves, necessitating a sensitive, patient-centered approach .
Proper fluid and nutritional management can significantly improve the prognosis of chronic kidney disease by stabilizing vital functions and preventing further renal damage. This includes maintaining ideal weight, preventing edema, and ensuring adequate nutrient intake to preserve protein levels and overall health .
Potential long-term hemodialysis complications include cardiovascular disease, lipid metabolism disorders, congestive heart failure, coronary artery disease, and side effects like hypotension, air embolism, and muscle cramps due to fluid and electrolyte shifts .
Chronic kidney disease progresses through five stages: Stage 1 with normal GFR but kidney damage; Stage 2 with slight GFR reduction; Stage 3 with moderate GFR reduction; Stage 4 with severe GFR reduction; and Stage 5 involving kidney failure requiring dialysis or transplantation .
Recommended lifestyle modifications for chronic kidney disease patients include adhering to dietary restrictions, carefully managing fluid intake, frequent exercise, and avoiding nephrotoxic substances, all aimed at slowing disease progression and improving life quality .
Patient education is crucial in fluid management for chronic kidney disease patients as it enhances their understanding and cooperation with fluid restrictions, which is vital in maintaining a proper fluid balance and preventing complications like edema .
When GFR drops to 5-10% of normal, patients experience the uremic syndrome, characterized by fluid and electrolyte imbalance, nitrogen retention, and systemic symptoms such as anemia, cardiovascular issues, gastrointestinal disturbances, and neuromuscular symptoms .
Monitoring laboratory values is crucial to assess kidney function, detect abnormalities, and adjust treatment. Critical values include serum electrolytes, BUN, creatinine, and protein levels, as these indicate kidney health and the progression of disease .
Dialysis is used in end-stage renal disease to remove excess fluid and waste when kidneys cannot. The two main techniques are hemodialysis and peritoneal dialysis. Both rely on solute and water diffusion through a semipermeable membrane, but via different methods and setups .
The primary causes of terminal kidney disease in New England include chronic glomerulonephritis (24%), diabetic nephropathy (15%), hypertensive nephrosclerosis (9%), polycystic kidney disease (8%), and chronic pyelonephritis and other interstitial nephritis (8%).