LIKUIDASI BERTAHAP
Likuidasi bertahap (installment liquidation) merupakan likuidasi yang secara umum
memerlukan beberapa bulan dalam penyelesaiannya dan mencakup pembayaran periodik, atau
cicilan/bertahap, kepada para sekutunya selama periode likuidasi. Kebanyakan likuidasi
persekutuan dilakukan dalam periode yang diperpanjang dengan tujuan memperoleh jumlah
realisasi aset yang sebesar mungkin. Umumnya, para sekutu menerima pembayaran periodik
selama likuidasi karena mereka memerlukan dana tersebut untuk keperluan pribadi.
Likuidasi bertahap mencakup distribusi kas ke para sekutu sebelum menyelesaikan
likuidasi aset yang terjadi. Pihak akuntan secara khusus harus berhati-hati pada saat
mendistribusikan kas, karena dapat saja terjadi suatu peristiwa di masa mendatang yang mungkin
mengubah jumlah yang harus dibayarkan kepada masing-masing sekutu. Untuk alasan ini,
panduan praktis berikut ini dapat digunakan untuk membantu para akuntan dalam menentukan
pembayaran angsuran yang amam kepada para sekutu.
1. Tidak mendistribusikan uang tunai kepada para sekutu hingga seluruh liabilitas dan beban
likuidasi aktual maupun potensial telah dibayarkan atau telah dicadangkan seperlunya.
2. Antisipasi kemungkinan yang terburuk, atau lebih membatasi sebelum menentukan jumlah
angsuran tunai yang diterima oleh masing-masing sekutu:
a. Asumsikan bahwa seluruh aset nonkas yang tersisa akan dihapuskan sebagai kerugian;
yaitu dengan mengasumsikan bahwa tidak ada yang dapat direalisasikan pada
pelepasan aset.
b. Asumsikan bahwa defisit yang timbul dalam akun modal para sekutu akan
didistribusikan kepada sekutu yang tersisa; yaitu dengan mengasumsikan bahwa defisit
tersebut tidak akan dihapuskan oleh kontribusi modal tambahan para sekutu.
3. Setelah akuntan mengasumsikan kasus terburuk yang dapat terjadi, maka sisa saldo kredit
pada akun modal menunjukkan distribusi kas yang aman yang dapat didistribusikan kepada
para sekutu dalam jumlah yang sesuai.
Ilustrasi Likuidasi Bertahap
Ilustrasi yang digunakan dalam likuidasi lumsum dari persekutuan ABC sekarang juga digunakan
untuk mengilustrasikan likuidasi secara bertahap/berangsur. Aldi, Bayu, dan Citra memutuskan
untuk melakukan likuidasi terhadap usaha mereka selama beberapa periode waktu dan menerima
ditribusi kas yang tersedia secara bertahap selama proses likuidasi.
Ringkasan neraca saldo persekutuan ABC per tanggal 1 Mei 20X5, pada saat para sekutu
memutuskan untuk melikuidasi usaha, adalah sebagai berikut. Persentase pembagian laba dan rugi
masing-masing sekutu juga ditunjukkan.
PERSEKUTUAN ABC
Neraca Saldo
1 Mei 20X5
Kas Rp 10.000.000
Aset Nonkas Rp 90.000.000
Liabilitas Rp 42.000.000
Modal, Aldi (40%) Rp 34.000.000
Modal, bayu (40%) Rp 10.000.000
Modal, Citra (20%) Rp 14.000.000
Total Rp 100.000.000 Rp 100.000.000
Berikut adalah penjelasan mengenai kasus tersebut.
1. Laporan kekayaan bersih para sekutu tanggal 1 Mei 20X5 adalah sebagai berikut
Aldi Bayu Citra
Aset pribadi Rp 150.000.000 Rp 12.000.000 Rp 42.000.000
Liabilitas pribadi (86.000.000) (16.000.000) (14.000.000)
Kekayaan bersih Rp 64.000.000 Rp( 4.000.000) Rp 28.000.000
(defisit)
Bayu secara pribadi insolven; sedangkan Aldi dan Citra secara pribadi masih solven.
2. Aset nonkas yang dijual adalah sebagai berikut.
Tanggal Nilai Buku Proceed Kerugian
5/15/X5 Rp 55.000.000 Rp 45.000.000 Rp 10.000.000
6/15/X5 30.000.000 15.000.000 15.000.000
7/15/X5 5.000.000 5.000.000
3. Kreditor akan dibayar sebesar Rp 42.000.000 pada tanggal 20 Mei.
4. Para sekutu bersepakat untuk mengelola cadangan kas sebesar Rp 10.000.000 selama
proses likuidasi yang digunakan untuk membayar beban likuidasi.
5. Para sekutu bersepakat untuk mendistribusikan kas yang tersedia pada akhir setiap bulan;
yaitu likuidasi bertahap akan dilakukan pada tanggal 31 Mei dan 30 Juni. Distribusi kas
final kepada para sekutu akan dilakukan pada tanggal 31 Juli 20X5, akhir proses likuidasi.
Transaksi Selama Bulan Mei 20X5
Peristiwa yang terjadi selama bulan Mei 20X5 menghasilkan distribusi sebesar Rp 5.000.000
kepada para sekutu. Prosedur yang digunakan untuk menghasilkan jumlah ini adalah sebagai
berikut.
1. Penjualan aset yang bernilai Rp 55.000.000 menghasilkan kerugian sebesar Rp 10.000.000,
yang didistribusikan kepada ketiga sekutu berdasarkan rasio pembagian kerugian.
2. Pembayaran sebesar Rp 42.000.000 dilakukan kepada kreditor persekutuan atas liabilitas
yang diketahui.
3. Kas yang tersedia didistribusikan pada tanggal 31 Mei 20X5.
Untuk menentukan pembayaran kas yang aman untuk didistribusikan kepada para sekutu,
pihak akuntan harus membuat beberapa asumsi mengenai likuidasi masa depan atas aset yang
tersisa. Dengan mengasumsikan situasi terburuk yang mungkin terjadi, sisa aset yang bernilai
Rp 35.000.000 akan mengakibatkan total kerugian. Sebelum melakukan distribusi kas ke para
sekutu, seorang akuntan menyusun skedul pembayaran yang aman kepada para sekutu
(schedule of safe payments to partners) dengan menggunakan asumsi kasus terburuk. Figur
16-5 menunjukkan skedul pembayaran yang aman kepada para sekutu pada tanggal 31 Mei
20X5.
Skedul ini dimulai dengan saldo modal para sekutu pada tanggal 31 Mei. Skedul ini
secara logika hanya menggunakan akun modal yang berasal dari persamaan akuntansi: Aset –
Liabilitas = Saldo modal sekutu. Dengan demikian, misalnya jika ada kenaikan liabilitas yang
membuat aset neto berkurang, kesetaraan persamaan akuntansi juga akan menghasilkan
penurunan total saldo modal para sekutu. Oleh karena akun modal sekutu yang menjadi fokus
pembayaran kepada sekutu, maka tidak perlu memasukkan aset dan liabilitas ke dalam skedul
pembayaran aman kepada para sekutu. Skedul mencakup seluruh informasi yang diperlukan
agar para sekutu mengetahui berapa besar kas yang akan mereka terima pada setiap tanggal
distribusi kas.
Aldi, Citra, dan Bayu bersepakat untuk menahan uang tunai sebesar Rp 10.000.000
untuk menutupi beban likuidasi yang mungkin timbul. Selain itu, aset nonkas memiliki saldo
sisa sebesar Rp 35.000.000 pada tanggal 31 Mei. Asumsi kasus terburuk berupa kerugian total
atas aset nonkas dan beban likuidasi sebesar Rp 10.000.000, menimbulkan total biaya sebesar
Rp 45.000.000 yang harus didistribusikan ke akun modal para sekutu. Akun modal Aldi, Bayu,
dan Citra dikenakan beban masing-masing sebesar Rp 18.000.000, Rp 18.000.000, dan Rp
9.000.000 untuk bagian dari kerugian yang diasumsikan sebesar Rp 45.000.000 tadi. Asumsi
ini menghasilkan pro forma defisit dalam akun modal Bayu.
Dengan melanjutkan perencanaan kasus terburuk tersebut, akuntan mengasumsikan
bahwa Bayu insolven (yang benar terjadi dalam contoh ini) dan mendistribusikan pro forma
defisit dalam akun modal Bayu kepada Aldi dan Citra sesuai dengan rasio pembagian kerugian
sebesar 40:60 untuk Aldi dan 20:60 untuk Citra. Saldo kredit yang dihasilkan
mengidentifikasikan jumlah kas yang dengan aman dapat didistribusikan kepada para sekutu.
Pembagian kas pada tanggal 31 Mei ditunjukkan dalam Figur 16-5. Kas yang tersedia sebesar
Rp 3.000.000 didistribusikan kepada Aldi. Saldo akhir seharusnya memenuhi kesetaraan
jumlah aset dan ekuitas pada persamaan akuntansi. Jika kesetaraan tidak terwujud, maka
kemungkinan telah terjadi kesalahan yang harus dikoreksi sebelum meneruskan lebih lanjut.
Pada tanggal 31 Mei, setelah distribusi bertahap dilakukan, persamaan akuntansi akan menjadi:
Aset - Liabilitas = Ekuitas pemilik
Rp 45.0000.0000 - Rp0 = Rp45.000.000
Transaksi Selama Bulan Juni 20X5
Figur 16-4 berlanjut dengan transaksi untuk bulan Juni 20X5, yaitu sebagai berikut.
1. Aset nonkas sebesar Rp30.000.000 dijual pada tanggal 15 Juni dengan kerugian
sebesar Rp15.000.000. Kerugian tersebut didistribusikan ke para sekutu dengan
rasio pembagian kerugian, yang menghasilkan saldo modal Bayu sebesar nol.
2. Pada tanggal 30 Juni 20X5, kas yang tersedia didistribusikan kepada para sekutu
sebagai pembayaran bertahap.
Skedul pembayaran yang aman kepada para sekutu pada tanggal 30 Juni 20X5 dalam
Figur 16-5 menunjukkan bagaimana jumlah distribusi dihitung. Rencana kasus terburuk
mengasumsikan bahwa aset nonkas yang tersisa sebesar Rp5.000.000 harus dihapuskan
sebagai kerugian dan bahwa kas dalam cadangan sebesar Rp10.000.000 sepenuhnya
akan digunakan untuk beban likuidasi. Pro forma kerugian sebesar Rp15.000.000 ini
dialokasikan kepada para sekutu sesuai dengan rasio pembagian kerugian, sehingga
menimbulkan defisit sebesar Rp6.000.000 dalam akun modal Bayu. Dengan
melanjutkan skenario kasus terburuk ini, diasumsikan bahwa Bayu tidak dapat
menghapus saldo debit dalam modal ini. Oleh karena itu, potensi defisit sebesar
Rp6.000.000 ini dialokasikan kepada Aldi dan Citra menurut rasio pembagian laba dan
rugi yang terjadi yaitu 40:60 untuk Aldi dan 20:60 untuk Citra. Saldo kredit yang terjadi
dalam akun modal para sekutu menunjukkan jumlah kas yang dapat didistribusikan
dengan aman. Uang tunai yang tersedia sebesar Rp15.000.000 akan didistribusikan
kepada Aldi dan Citra pada tanggal 30 Juni, sebagaimana ditunjukkan dalam Figur 16-
4.
Transaksi selama Bulan Juli 20X5
Bagian terakhir Figur 16-4 menunjukkan penyelesaian transaksi likuidasi selama bulan
Juli 20X5.
1. Aset yang tersisa dijual pada nilai bukunya sebesar Rp5.000.000.
2. Biaya likuidasi yang sebenarnya sebesar Rp7.500.000 dibayarkan dan dialokasikan
kepada para sekutu dengan rasio pembagian kerugian, menimbulkan defisit sebesar
Rp3.000.000 dalam akun modal Bayu. Sisa sebesar Rp2.500.000 dari Rp10.000.000
yang dicadangkan untuk biaya yang dikeluarkan untuk distribusi kepada para
sekutu.
3. Oleh karena Bayu secara pribadi insolven dan tidak dapat memberikan konstribusi
kepada persekutuan, maka defisit sebesar Rp3.000.000 tersebut didistribusikan
kepada Aldi dan Citra dengan rasio pembagian kerugian. Perhatikan bahwa ini
merupakan defisit aktual, bukan pro forma defisit.
4. Sisa kas sebesar Rp7.500.000 dibayarkan kepada Aldi dan Citra sampai sebatas
saldo modal mereka. Setelah distribusi akhir ini, semua saldo akun menjadi nol,
yang mengindikasikan penyelesaian proses likuidasi.
Rencana Distribusi Kas
Pada awal proses likuidasi, akuntan umumnya menyusun rencana distribusi kas (cash
distribution plan), yang memberikan gambaran kepada para sekutu mengenai pembayaran kas
secara bertahap yang akan diterima oleh masing-masing pada saat telah tersedia kasa dalam
persekutuan. Distribusi bertahap aktual ditentukan dengan menggunakan laporan realisasi dan
likuidasi, yang dilengkapi dengan skedul pembayaran aman kepada para sekutu sebagaimana yang
disajikan pada bagian akhir bab ini. Rencana ditribusi kas merupakan proyeksi pro forma
penggunaan kas apabila telah tersedia uang tunai.
Daya serap kerugian
Konsep dasar dari rencana distribusi kas pada awal proses likuidasi adalah daya serap kerugian
(loss absorption power – LAP). LAP seorang sekutu diartikan sebagai kerugian maksimum yang
dapat terjadi dalam persekutuan sebelum saldo akun modal sekutu dilunasi. Daya serap kerugian
merupakan fungsi dari dua elemen, sebagai berikut:
LAP = Saldo akun modal sekutu
Bagian kerugian sekutu
Sebagai contoh, pada 1 Mei 20X5 Aldi memiliki saldo kredit akun modal sebesar
Rp34.000.000 dan 40 persen bagian dalam kerugian persekutuan ABC. LAP Aldi adalah:
LAP = Rp34.000.000
0,40
= Rp85.000.000
Ini berarti bahwa kerugian atas pelepasan aset nonkas atau dari biaya likuidasi tambahan
sebesar Rp85.000.000 akan menghapuskan saldo kredit dalam akun modal Aldi, sebagai berikut:
Rp85.000.000 × 0,40 = Rp34.000.000
Ilustrasi Rencana Distribusi Kas
Ilustrasi berikut ini didasarkan pada contoh persekutuan ABC. Neraca saldo akun laporan posisi
keuangan persekutuan ABC pada tanggal 1 Mei 20X5, hari saat para sekutu memutuskan
melikuidasi usaha, disajikan sebagai berikut:
Perksekutuan
ABC
Neraca Saldo
1 Mei 20X5
Kas Rp10.000.000
Aset Nonkas Rp 90.000.000
Liabilitas Rp 42.000.000
Modal, Aldi (40%) 34.000.000
Modal, Bayu (40%) 10.000.000
Modal, Citra (20%) 14.000.000
Total Rp 100.000.000 Rp 100.000.000
Para sekutu meminta rencana distribusi kas pada tanggal 1 Mei 20X5, untuk menentukan
distribusi atas kas setelah tersedia selama proses likuidasi. Rencana semacam itu selalu
memberikan pembayaran kepada kreditor persekutuan sebelum distribusi dapat dilakukan kepada
para sekutu. Figur 16-6 menyajikan rencana distribusi kas pada tanggal 1 Mei, tanggal awal proses
likuidasi.
Pengamatan penting dari contoh tersebut adalah sebagai berikut:
1. Daya serap kerugian masing-masing sekutu dihitung ketika saldo modal sebelum likuidasi
dibagi dengan persentase pembagian kerugian para sekutu. Aldi memiliki LAP tertinggi
(Rp85.000.000), Citra memiliki LAP tertinggi berikutnya (Rp70.000.000), dan Bayu
memiliki LAP terendah (Rp25.000.000). LAP masing-masing sekutu merupakan jumlah
kerugian yang sepenuhnya mengeliminasi saldo kredit modal netonya. Aldi adalah sekutu
yang paling tidak rentan terhadap kerugian, dan Bayu adalah yang paling rentan terhadap
kerugian.
2. Sekutu yang paling tidak rentan akan menjadi yang paling pertama untuk menerima
pembayaran tunai setelah pembayaran kepada para kreditor. Aldi akan menjadi satu-
satunya sekutu yang menerima kas hingga LAP menurun ke tingkat sekutu tertinggi
berikutnya, yaitu Citra. Untuk menurunkan LAP Aldi sebesar Rp15.000.000 membutuhkan
pembayaran sebesar Rp6.000.000 (Rp15.000.000 × 0,40) kepada Aldi. Setelah
pembayaran sebesar Rp6.000.000 kepada Aldi, daya serap kerugian yang baru akan sama
dengan Citra, yang dihitung dengan saldo modal Aldi yang tersisa sebesar Rp28.000.000
dibagi dengan persentase pembagian kerugiannya sebesar 40 persen (Rp28.000.000 ÷ 0,40
= Rp70.000.000).
3. LAP Aldi dan Citra sekarang akan sama, dan mereka akan menerima distribusi kas hingga
LAP masing-masing menurun ke tingkat tertinggi berikutnya, yaitu sebesar Rp25.000.000
sebagaimana LAP Bayu. Mengalihkan LAP Rp45.000.000 (Rp70.000.000 –
Rp25.000.000) dengan rasio pembagian kerugian kedua sekutu menunjukkan berapa
banyak kas yang tersedia berikutnya agar dapat dibayarkan dengan aman kepada masing-
masing sekutu. Aldi dan Citra akan menerima distribusi kas sesuai dengan rasio pembagian
kerugiannya. Dengan tersedianya kas sebesar Rp27.000.000, maka yang akan
didistribusikan kepada Aldi dan Citra masing-masing adalah dengan rasio 40:60 untuk Aldi
dan 20:60 untuk Citra.
4. Terakhir, saat ketiga sekutu tersebut memiliki LAP yang sama, maka sisa kas yang tersedia
akan didistribusikan menurut rasio pembagian kerugian masing-masing sekutu.
Ringkasan rencana distribusi kas pada bagian bawah Figur 16-6 diberikan kepada masing-
masing sekutu, agar sekutu mampu menentukan jumlah relatif yang akan diterima masing-masing
apabila telah tersedia kas pada persekutuan.
PERTIMBANGAN TAMBAHAN
Inkorporasi Persekutuan
Seiring dengan persekutuan yang terus berkembang, maka para sekutu dapat
memutuskan untuk menginkorporasikan/meleburkan usaha untuk memiliki akses pendanaan
ekuitas tambahan, membatasi tanggung jawab pribadi, mendapatkan keuntungan pajak tertentu,
atau untuk mencapai tujuan usaha lain yang lebih kuat. Pada inkorporasi, persekutuan dihentikan,
serta aset dan liabilitas direvaluasi dengan nilai pasarnya. Keuntungan atau kerugian revaluasi
dialokasikan ke akun modal para sekutu dengan rasio pembagian keuntungan dan kerugian.
Modal saham dalam perseroan yang baru kemudian didistribusikan secara proporsional
pada akun modal para sekutu. Entitas bisnis terpisah dari persekutuan harus menutup catatan
akuntansinya dan perseroan, sebagai entitas bisnis baru, harus membuka catatan akuntansi yang
baru untuk mencatat penerbitan modal saham kepada para sekutu sebelumnya.
Neraca saldo persekutuan ABC pada tanggal 1 Mei 20X5, sebagaimana yang
ditunjukkan sebelumnya, digunakan untuk mengilustrasikan inkorporasi persekutuan. Asumsikan
para sekutu bersepakat untuk menginkorporasikan persekutuan tersebut, daripada melikuidasi
persekutuan.
Perseroan yang baru disebut sebagai PT Induk. Pada saat pengubahan dari persekutuan
menjadi perseroan, seluruh aset dan liabilitas harus ditaksir dan dinilai dengan nilai pasar.
Keuntungan atau kerugian yang timbul harus didistribusikan kepada para sekutu sesuai dengan
rasio pembagian keuntungan dan kerugian masing-masing sekutu. Asumsikan bahwa aset nonkas
memiliki nilai pasar sebesar Rp80.000.000. Kerugian sebesar Rp10.000.000 terhadap nilai pasar
dialokasikan ke akun modal para sekutu sebelum inkorporasi, sebagai berikut:
Modal, Aldi 4.000.000
Modal, Bayu 4.000.000
Modal, Citra 2.000.000
Aset Nonkas 10.000.000
(Mengakui kerugian akibat pengurangan aset menjadi nilai pasar).
Aset neto persekutuan memiliki nilai wajar sebesar Rp48.000.000 (Rp90.000.000 aset
dikurangi Rp42.000.000 liabilitas). Perseroan menerbitkan 4.600 lembar saham biasa dengan
nominal Rp1.000 per lembar untuk ditukar dengan aset dan liabilitas persekutuan ABC. Jurnal
yang dibuat oleh PT Induk untuk memperoleh aset dan liabilitas persekutuan yang ditukar dengan
penerbitan 4.600 lembar saham adalah sebagai berikut:
Kas 10.000.000
Aset Nonkas 80.000.000
Liabilitas 42.000.000
Modal Saham Biasa 4.600.000
Tambahan Modal Disetor – Agio Saham 43.400.000
(Penerbitan saham untuk aset dan liabilitas persekutuan).
Para sekutu membuat ayat jurnal berikut ini pada pembukuan persekutuan.
Investasi pada Saham PT Induk 48.000.000
Liabilitas 42.000.000
Kas 10.000.000
Aset Nonkas 80.000.000
(Penerimaan saham PT Induk dalam pertukaran untuk aset neto persekutuan).
Ayat jurnal final adalah sebagai berikut:
Modal, Aldi 30.000.000
Modal, Bayu 6.000.000
Modal, Citra 12.000.000
Investasi pada Saham PT Induk 48.000.000
(Distribusi saham PT Induk kepada para sekutu).
LAPORAN KEUANGAN PRIBADI PARA SEKUTU
Pada awal proses likuidasi, para sekutu biasanya meminta laporan keuangan pribadi
untuk menentukan kemampuan membayar utang (solvensi) dari seorang sekutu. Berikut
merupakan beberapa pedoman untuk menyiapkan laporan keuangan:
1. Laporan kondisi keuangan, atau laporan posisi keuangan pribadi, yang menyajikan aset
dan liabilitas sekutu tersebut pada waktu tertentu.
2. Laporan perubahan kekayaan bersih, atau laporan laba rugi pribadi, yang menyajikan
sumber utama perubahan kekayaan bersih sekutu tersebut.
Ilustrasi Laporan Keuangan
Berikut merupakan kondisi keuangan pribadi Aldi pada tanggal 1 Mei 20X5, hari pada saat para
mitra memutuskan untuk melikuidasi persekutuan ABC. Kekayaan bersih Aldi pada tanggal ini
adalah sebagai berikut:
Aset pribadi Rp150.000.000
Liabilitas pribadi (86.000.000)
Kekayaan bersih Rp 64.000.000
Laporan Kondisi Keuangan
Ilustrasi laporan tahun 20X5 sebagai berikut:
1. Piutang terhadap Aldi dari pihak lain memiliki nilai sekarang sebesar Rp3.500.000
2. Aldi memiliki dua investasi, satu diantaranya adalah kepentingan dalam Persekutuan ABC,
dinilai pada estimasi nilai pasar kini, yang dalam hal ini sama dengan nilai bukunya sebesar
Rp34.000.000. Investasi efek yang diperdagangkan ditunjukkan pada nilai pasar.
3. Nilai penyebaran tunai asuransi jiwa disajikan secara neto dari setiap utang pinjaman yang
tertera di dalam kebijakannya.
4. Rumah dan barang-barang pribadi Aldi disajikan pada nilai taksiran.
5. Liabilitas disajikan pada estimasi nilai likuidasi kini atau nilai diskonto arus kas masa
depan.
6. Estimasi pajak penghasilan atas selisih antara estimasi nilai kini aset dan liabilitas dengan
dasar pengenaan pajak mewakili jumlah pajak penghasilan yang harus ditanggung Aldi
jika seluruh aset dikonversi menjadi kas dan seluruh liabilitas dibayarkan.
7. Kekayaan bersih adalah selisih antara estimasi nilai kini aset dan liabilitas Aldi termasuk
estimasi pajak.
Laporan Perubahan Kekayaan Bersih
Laporan perubahan kekayaan bersih Aldi ditampilkan pada Figur 16-9, yang diilustrasikan sebagai
berikut:
1. Laporan keuangan tersendiri antara perubahan kekayaan bersih yang terealisasi dan yang
belum terealisasi. Perubahan yang terealisasi adalah arus kas ke atau dari Aldi yang telah
terjadi. Perubahan yang belum terealisasi adalah arus kas yang setara dengan keuntungan
atau kerugian akibat pemilikan (holding gains or losses). Keuntungan atau kerugian
tersebut tidak dapat dikonversi ke kas. Misalnya, Aldi menerima Rp3.000.000 dari
persekutuan ABC selama tahun yang berakhir pada 1 Mei 20X5. Selain itu, kepentingan
Aldi pada persekutuan mengalami kenaikan sebesar Rp8.000.000 selama tahun berjalan.
2. Aldi mengalami kenaikan kekayaan bersih yang terealisasi sebesar Rp42.200.000 selama
tahun yang berakhir pada 1 Mei 20X5. Sumber utamanya adalah gaji sebesar Rp36.900.000
dari karyawan penuh waktu di luar persekutuan ABC.
3. Penurunan kekayaan bersih yang terealisasi jumlahnya besar selama tahun yang berakhir
pada 1 Mei 20X5 adalah untuk pengeluaran pribadi sebesar Rp18.800.000.
4. Kenaikan yang belum terealisasi Rp17.600.000 selama tahun berjalan terutama dari
kenaikan nilai rumah pribadi Aldi (Rp8.000.000) dan kenaikan nilai investasi dari
kepentingan persekutuan pada persekutuan ABC (Rp8.000.000). Keuntungan akibat
pemilikan yang belum terealisasi sebesar Rp1.600.000 ada di dalam investasi efek yang
dapat diperdagangkan milik Aldi.
5. Perubahan estimasi liabilitas pajak merupakan penurunan yang belum terealisasi karena
jumlah ini diakibatkan hanya jika Aldi mengonversi asetnya menjadi kas.
6. Perubahan kekayaan bersih yang belum terealisasi neto ditambahkan pada perubahan
kekayaan bersih yang terealisasi neto untuk mendapatkan total perubahan kekayaan bersih
Aldi untuk setiap tahunnya. Kekayaan bersih Aldi meningkat sebesar Rp13.000.000
selama tahun yang berakhir pada 1 Mei 20X4, dan Rp24.000.000 selama tahun yang
berakhir pada 1 Mei 20X5.
Pengungkapan Catatan Kaki
Pengungkapan catatan kaki yang memadai harus menyertakan dua laporan keuangan pribadi.
Catatan kaki harus menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
1. Metode yang digunakan untuk menilai aset utama.
2. Nama dan sifat bisnis dimana orang tersebut memiliki investasi besar.
3. Metode dan asumsi yang digunakan untuk menghitung estimasi dasar pengenaan pajak dan
pernyataan bahwa ketentuan pajak dalam likuidasi yang sebenarnya mungkin akan berbeda
dengan estimasinya karena beban pajak yang sebenarnya akan berdasarkan pada realisasi
aktual yang ditentukan oleh nilai pasar pada saat likuidasi.
4. Jatuh tempo, suku bunga, dan perincian lain dari piutang dan utang.
5. Informasi lain yang diperlukan untuk menyajikan kekayaan bersih seseorang sepenuhnya.