SKRIPSI
Oleh:
Shinta Aprilia Rizky Wulandari
NIM. 13670002
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2017
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI Stapylococcus epidermidis
SEDIAAN MIKROEMULSI EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia
calabura Linn.) DENGAN FASE MINYAK
ISOPROPIL MIRYSTATE
SKRIPSI
Oleh:
Shinta Aprilia Rizky Wulandari
NIM. 13670002
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2017
i
ii
iii
iv
PERSEMBAHAN
1
v
2
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dan terimakasih penulis kepada Allah SWT Yang Maha
Esa atas segala limpahan rahmat, karunia dan kekuatan yang diberikan sehingga
penulis menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini dengan judul
“Formulasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Staphylococcus epidermidis Sediaan
Mikroemulsi Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) dengan
Menggunakan Fase Minyak Isopropyl Myristate (IPM)”. Penulisan skripsi ini
dapat diselesaikan sebagai prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi
([Link]) pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dengan semaksimal mungkin,
walaupun masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengucapkan rasa hormat dan
terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Abdul Haris, [Link] selaku Rektor Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Bapak Bambang Pardjianto, Sp.B., [Link]-RE (K), selaku dekan Fakultas
kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang.
3. Ibu Dr. Roihatul Munti’ah, [Link], Apt selaku Ketua Program Studi
Farmasi Fakultas kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
4. Ibu Rahmi Annisa, [Link]., Apt. selaku dosen pembimbing I yang selalu
luar biasa sabar membimbing, memberikan masukan dan saran selama
penelitian dan penyusunan tugas akhir ini.
5. Bapak Weka Sidha Bhagawan, [Link]., Apt selaku pembimbing II yang
telah banyak meluangkan waktu serta bimbingan selama penelitian dan
penyusunan tugas akhir ini.
vi
3
6. Ibu Sinta Megawati, [Link]., selaku dosen pembimbing agama yang telah
meluangkan waktunya serta bimbingannya sehingga penyusunan tugas
akhir ini dapat terselesaikan.
7. Ibu Siti Maimunah, [Link]., Apt selaku ketua penguji tugas akhir yang
telah bersedia menguji dan memberikan masukan dan saran.
8. Seluruh dosen, staf administrasi Jurusan Farmasi UIN Maliki Malang atas
segala bantuan yang diberikan, terutama pada saat penelitian berlangsung.
9. Ibu Prilya Dewi selaku laboran mikrobiologi jurusan biologi yang turut
membantu dan selalu memberi motivasi kepada penulis
10. Keluarga tercinta, papa Fathul Hasan dan mama Tatik Dwi Wahyuni, serta
adik Hildan atas segala dukungan moral maupun materil, semangat, kasih
sayang dan doa yang selalu diberikan.
11. Teman-teman Farmasi angkatan 2013 khususnya Keluarga Transdermal
(Alfi, Ayun, Zahra, Jauhar, Caca, Delvi, Atiza, Novenda, Yola dan Atiqah)
yang telah berjuang bersama-sama serta berbagi suka dan duka
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan selama masa penelitian dan penyusunan tugas akhir.
Penulis menyadari bahwa penelitian dan penulisan skripsi ini masih jauh dari
sempurna, sehingga saran dan kritik yang membangun sangat diperlukan. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan bagi setiap orang yang
membacanya.
Penulis
vii
4
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 8
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 8
1.3.1 Tujuan Umum ................................................................................... 8
1.3.2 Tujuan Khusus .................................................................................. 8
1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................................... 8
1.5 Batasan Masalah......................................................................................... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Kersen (Muntingia Calabura L.) ............................................. 10
2.1.1 Deskripsi Tumbuhan Kersen ............................................................ 10
2.1.2 Taksonomi Tumbuhan Kersen ......................................................... 10
2.2 Kandungan Kimia Daun Kersen ................................................................ 11
2.2.1 Flavonoid ......................................................................................... 12
2.2.2 Tanin ................................................................................................ 13
2.2.3 Saponin............................................................................................. 14
2.3 Nama Daerah .............................................................................................. 15
2.4 Deskripsi Tumbuhan .................................................................................. 15
2.5 Habitat Tumbuhan Kersen ......................................................................... 16
2.6 Kegunaan/Khasiat Tumbuhan Kersen........................................................ 16
2.7 Kulit ........................................................................................................... 16
2.7.1 Struktur Kulit .................................................................................... 17
2.8 Ekstraksi Daun Kersen ............................................................................... 18
2.9 Mikroemulsi ............................................................................................... 19
2.9.1 Komponen Mikroemulsi ................................................................... 22
2.10 Komponen Bahan Pembentuk Mikroemulsi ............................................ 24
2.10.1 Pelarut Etanol 96%........................................................................ 24
viii
5
ix
6
x
7
DAFTAR GAMBAR
xi
8
DAFTAR TABEL
xii
9
DAFTAR SINGKATAN
xiii
10
LAMPIRAN
xiv
11
ABSTRAK
Daun kersen (Muntingia calabura L.) merupakan salah satu tanaman yang
berpotensi dalam bidang pengobatan, salah satunya sebagai antibakteri dalam pengobatan
antijerawat. Daun kersen mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Pada
penelitian ini dilakukan pengembangan formulasi berupa mikroemulsi ekstrak daun
kersen dalam meningkatkan kemampuan obat penetrasi kedalam kulit. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisik mikroemulsi ekstrak daun kersen serta
untuk mengetahui formula yang baik dalam pengujian aktivitas antibakteri mikroemulsi
ekstrak daun kersen terhadap Staphylococcus epidermidis.
Pembuatan mikroemulsi dilakukan dengan menggunakan kombinasi surfaktan
tween 80 dan span 80, PEG 400, IPM, air bebas CO2, serta ekstrak daun kersen dengan
konsentrasi 5%, 10% dan 15% dengan kecepatan pengadukan ±1000 rpm pada suhu 50oC
selama 30 menit. Kemudian dilakukan evaluasi karakteristik terhadap mikroemulsi
meliputi uji organoleptik, pH, pemeriksaan tipe emulsi, pemeriksaan ukuran partikel,
stabilitas freeze-thaw pada suhu 4oC dan 40oC dan uji kelembapan sediaan. Selanjutnya
uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in-vitro menggunakan metode difusi sumuran.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan One-Way ANOVA pada taraf kepercayaan
95%.
Hasil penelitian iniditunjukkan bahwa mikroemulsi ekstrak daun kersen memiliki
karakteristik yang baik pada F2 dengan konsentrasi ekstrak daun kersen 10% dengan
warna kuning jernih kecoklatan, bau khas daun kersen, memiliki nilai pH 5,94 dibuat
dengan tipe minyak dalam air (m/a), memiliki ukuran partikel 15,01 nm dengan nilai
polidispersitas indeks 0,22<0,5, uji kelebapan kadar air 59,13%. Serta dapat menghambat
pertumbuhan Staphylococcus epidermidis dengan aktivitas antibakteri sebesar 8,34 ± 0,13
maka dapat dikategorikan sedang serta pengujian aktivitas antibakteri menggunakan
cendro xitrol sebagai kontrol positif memiliki aktivitas sebesar 16,9 ± 0,51 dengan
kategori kuat.
xv
12
ABSTRACT
Cherry leaf (Muntingia calabura L.) is one of the potential plants in the field of
treatment, one of them as antibacterial in the treatment of anti-acne. Cherry leaves contain
flavonoid compounds, saponins and tannins. This research is about the formulation of
microemulsion of cottage leaf extract in improving penetration drug capability into skin.
The purpose of this research is to know microemulsion physic characteristic of cherry leaf
extract and to know good formula in testing of microbial activity of cherry leaf extract to
Staphylococcus epidermidis.
The preparation of microemulsion was done by using combination of surfactant
tween 80 and span 80, PEG 400, IPM, CO2 free water, and cherry leaf extract with
concentration of 5%, 10% and 15% with stirring speed ± 1000 rpm at 50 oC for 30
minutes. Then the characteristic evaluation of microemulsion includes organoleptic test,
pH, emulsion type examination, particle size examination, freeze-thaw stability at 4oC
and 40oC and moisture test. Furthermore, the antibacterial activity test was performed in-
vitro using the diffusion method of wells. Data analysis was performed using One-Way
ANOVA at 95% confidence level.
The results of this study showed that the microemulsion of cherry leaf extract had
good characteristic on F2 with the concentration of 10% cherry leaf extract with clear
brownish yellow color, peculiar leaf of cherry leaf, has pH value 5,94 made with type of
oil in water (m/a) has a particle size of 15.01 nm with an index polydispersity value of
0.22 <0.5, moisture content test of 59.13% and can inhibit the growth of Staphylococcus
epidermidis with antibacterial activity of 8.34 ± 0.13. The microbial activity using cendo
xitrol as a positive control has an activity of 16.9 ± 0.51 with strong category.
xvi
13
الملخص
ووالندر ,س .أ .ر .7102 .صياغة ومضاد للبكرتيا النشاط اختبار املكورات العنقودية البشروية كما إعداد مستحلب من استخراج
أوراق الكرز (منتينغيا كاالبورا)باستخدام ايزوبروبيل مرييستات مرحلة النفط.
املسرف )0( :رمحي النساء املاجستري
( )7ويكا صيدا باغوان املاجستري
ورقة الكرز) منتينغيا كاالبورا ( هي واحدة من النباتات احملتملة يف جمال العالج ،واحد منهم كما مضاد للجراثيم يف عالج مكافحة
حب الشباب .أوراق الكرز حتتوي على مركبات الفالفونويد ،الصابونني والعفص .يف هذا البحث ،صياغة ميكروكولسيون من
مستخلص أوراق الكوخ يف حتس ني القدرة على اخرتاق املخدرات يف اجللد .والغرض من هذا البحث هو معرفة علم الكيمياء
الكهرومغناطيسية من مستخلص نبات الكرز ومعرفة صيغة جيدة يف اختبار النشاط امليكرويب ملستخلص نبات الكرز إىل املكورات
العنقودية البشروية.
مت حتضري املستحضر الدقيق باستخدام مزيج من السطحي توين 01و 01و بيج 011و إيب و CO2جمانا و مستخرج أوراق
الكرز مع تركيز ٪5و ٪01و ٪05مع سرعة التحريك 0111 ±دورة يف الدقيقة عند oC51ل 01دقيقة .مث تقييم مميزة من
ميكروولزيون يشمل اختبار احلسية ،ودرجة احلموضة ،نوع مستحلب الفحص ،فحص حجم اجلسيمات ،جتميد ذوبان اجلليد
االستقرار يف oC0و oC01واختبار الرطوبة .وعالوة على ذلك ،مت إجراء اختبار النشاط املضاد للبكترييا يف املخترب باستخدام
طريقة انتشار اآلبار .مت إجراء حتليل البيانات باستخدام أنوفا يف اجتاه واحد عند مستوى الثقة .٪55
وأظهرت نتائج هذه الدراسة أن مستحلب مستخلص نبات كريسني كان له خاصية جيدة على F2مع تركيز مستخلص أوراق الكرز
بنسبة ٪01مع لون أصفر بين غامق ،ورقة غريبة من أوراق كريسني ،وقد قيمته الرقم اهليدروجيين 5،50مصنوع من نوع الزيت يف
املاء (م /أ) لديه حجم اجلسيمات من 05.10نانومرت مع قيمة بوليديسبريزييت مؤشر ،1.5< 1.77اختبار حمتوى الرطوبة من
. ٪55.00وميكن أن متنع منو املكورات العنقودية البشروية مع النشاط املضاد للبكترييا من 1.00 ± 0.00مث ميكن تصنيفها
فضال عن اختبار النشاط املضاد للبكترييا باستخدام زيرتول سيندرو كسيطرة إجيابية لديها نشاط 1.50 ± 0..5مع فئة قوية.
الكلمات املفتاح :ميكرومولزيس ،كريسني ليف مقتطف (منتينغيا كاالبورا) ، L.مضاد للجراثيم ،املكورات العنقودية البشروية،
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
menjadi tumbuhan obat. Obat tradisional yang berasal dari tumbuhan memiliki
Kecenderungan gaya hidup yang “back to nature” saat ini membuktikan bahwa
hal yang tradisional bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman. Banyak penelitian
tentang tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat, telah dilakukan dalam dunia
Tumbuhan kersen adalah jenis tumbuhan neotropik yaitu suatu jenis tumbuhan
yang tumbuh baik didaerah tropis, seperti Indonesia yang memiliki curah hujan
yang cukup tinggi, serta didukung dengan adanya sinar matahari disepanjang
tahun yang menyebabkan proses fotosintesis berlangsung dengan baik. Hal ini
ك لَ ُكمأ فِيهَا ُسب ُٗٗل َوأَن َز َل ِمنَ ٱل َّس َمآ ِء َمآءٗ فَأ َ أخ َر أجنَا َ ٱلَّ ِذي َج َع َل لَ ُك ُم أٱۡلَ أر
َ َض َم أه ٗدا َو َسل
1
2
lingkungan.
dari tumbuhan. Kata أَ ْز َواجً اtersebut mengandung arti tumbuhan yang baik dari
berbagai jenis tumbuhan. Lafadz (“ ) َشتَّ َٰىbermacam-macam” ia adalah sifat (na’ad)
untuk lafadz (“ )أَ ْز َواجًاberjenis-jenis”. Pengertian dari firman Allah SWT (ت َشتَّ َٰى
ٍ )نَبَا
adalah jenis yang bermacam-macam bentuk, ukuran, manfaat, warna, bau, dan
sangat beranekaragam jenisnya bahkan bentuk, ukuran, warna, bau, rasa dan
manfaatnya dengan diperantara air hujan. Dari air hujan tersebut mengurai jenis
tumbuhan dengan beberapa tingkatan mulai dari tingkat rendah yaitu tumbuhan
yang tidak jelas bagian akar, batang, daunnya sampai ketingkat tinggi yaitu
tumbuhan yang dapat dibedakan secara jelas bagian daun, batang, dan akarnya
(Savitri, 2008).
medis para dokter pada umumnya, Rosulullah SAW pernah menyebutkan bahwa
tumbuhan herbal baik untuk digunakan sebagai obat. Beberapa tumbuhan herbal
antara lain jintan hitam, delima, kurma, bawang putih dan berbagai jenis makanan
merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus dipelajari dan dimanfaatkan
seperti halnya sabda Nabi Muhammad SAW dalam HR. Ibnu Majah:
3
Hadis yang sama juga di riwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab
shohihnyab dari hadits Abu Zubair yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah
ِ ب رأَ بِِإ ْذ ِن، فَِإ َذا أَصاب الداواء الدااء،لِ ُك ِّل د ٍاء دواء
اهلل َعاز َو َج ال ََ َ ُ َ َ َ ٌ ََ َ
Atinya: “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan
izin allah penyakit itu akan sembuh” (HR. Ahmad bin Hakim) (Al-Jauziyah,
2008).
( )دَا ٍءbeserta obatnya ()د ََواء. Sakit yang diderita manusia, datangnya dari Allah
SWT dan Allah pula yang akan memberikan kesembuhan bagi orang yang sakit.
Hadist tersebut juga memberikan pelajaran agar kita selalu memiliki keyakinan
tentang segala penyakit yang kita derita pastilah ada obatnya. Oleh karena itu
tergantung bagaimana usaha manusia untuk sembuh dari suatu penyakit, sehingga
tugas kita adalah mencari alternatif pengobatan yang dapat digunakan untuk
dimanfaatkan, salah satunya yaitu dengan memanfaatkan bahan alam untuk diteliti
Bahan alam saat ini semakin marak digunakan dalam pengobatan karena
bahan alam dinilai memiliki efek samping yang lebih rendah dibanding obat
sintesis atau kimia, harganya lebih terjangkau, dan bahan bakunya mudah
diperoleh. Apabila dipandang dari dari sisi bahan alam, kini banyak kosmetik
maupun obat-obatan yang menggunakan bahan alam sebagai bahan aktif dari
produk yang akan dibuat, hal ini terus berkembang dengan seiringnya konsep
(Muhlisah, 2000).
Salah satu tumbuhan yang memiliki potensi dalam hal pengobatan yakni
Jerawat atau acne vulgaris merupakan suatu penyakit kulit yang ada pada
permukaan kulit, wajah, leher, dada dan punggung. Terjadi peradangan di kulit
akibat kelenjar minyak pada kulit terlalu aktif sehingga pori-pori kulit akan
bercampur dengan keringat, debu, dan kotoran lain, maka akan menyebabkan
timbunan lemak dengan bintik hitam di atasnya yang disebut komedo. Jika pada
komedo itu terdapat infeksi bakteri, maka terjadilah peradangan yang dikenal
dengan jerawat yang ukurannya bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran
Wasitaatmadja, 1997).
samping dalam penggunaaannya sebagai anti jerawat antara lain iritasi, sementara
yang relatif aman serta harganya terjangkau, salah satunya tumbuhan kersen.
anti jerawat pada konsentrasi 1ppm, 3ppm, 5ppm, 9ppm. Berdasarkan penelitian
tersebut dapat dilihat bahwa ekstrak etanol daun kersen lebih efektif dalam
bentuk sediaan topikal yang saat ini banyak dikembangkan dalam industri farmasi,
transdermal yang dapat menjaga kestabilan dan aktivitas daun kersen dalam
topikal lebih mudah menembus ke dalam kulit karena memiliki ukuran droplet
yang kecil dan kestabilan lebih baik dibandingkan emulsi (Candra & Sharma,
2008).
kulit, mikroemulsi tersusun atas fase minyak, fase air yang dapat disatukan oleh
permeasi obat dapat ditingkatkan, karena surfaktan dan kosurfaktan dapat dengan
sebagai peningkat penetrasi dalam formulasi transdermal, bahan yang tidak toksik
dan tidak mengiritasi kulit sehingga digunakan secara luas pada bahan-bahan
(Nandi, 2013).
7
span 80, kosurfaktan PEG 400 dan fase minyak isopropyl mirystate. Diharapkan
epidermidis agar memenuhi kualitas fisik yang baik sehingga dapat diterima oleh
(Muntingia calabura) ?
epidermidis ?
Staphylococcus epidermidis.
8
1.3 Tujuan
Staphylococcus epidermidis.
9
mikroemulsi
1. Serbuk simplisia daun kersen (Muntingia calabura L.) di beli dari Balai
yang meliputi uji fisik (organoleptis, pH, pemeriksaan tipe emulsi, ukuran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tengah. Kersen dapat tumbuh baik di tanah yang buruk serta dapat dijumpai
Indonesia tetapi kersen dapat tahan oleh kekeringan tetapi tidak toleran terhadap
2003):
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Malvales
Suku : Elaeocarpaceae
Marga : Muntingia
10
11
tumbuh dalam sistem jaringan tumbuhan, ternyata sudah diterangkan dalam Al-
ك َآليَةً لَِق ْوٍم يَ اذ اك ُرو َن ِ ِ ِ وما َذرأَ لَ ُكم ِيف ْاْلَر
َ ض ُمُْتَل ًفا أَلْ َوانُهُ ۗ إِ ان ِيف ََٰذل ْ ْ َ ََ
Artinya:“Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu
dibumi ini dengan berlain-lain macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
pelajaran”
SWT mengendalikan semua yang telah diciptakannya, baik manusia, hewan dan
tumbuhan yang diciptakan oleh Allah dibumi ini dapat dimanfaatkan oleh
didalam berbagai macam tumbuhan yang dapat berguna bagi manusia khususnya
satunya kandungan senyawa kimia dari daun kersen menurut penelitian yang
menurut Arum et al., (2012) didalam daun kersen terdapat adanya flavonoid,
triterpenoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Berdasarkan uji fitokimia yang telah
aktivitas bakteri.
2.2.1 Flavonoid
dikenalkan sebagai anti bakteri, anti karsinogenik, anti alergi, anti tumor serta
senyawa polar, maka flavonoid umumnya larut dalam pelarut etanol, metanol,
butanol, aseton, dimetilformamida, air dan lain-lain. Adanya gula yang terikat
pada flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air.
13
OH
OH
HO
O
OH
OH O
antibakteri, bekerja dengan cara merusak dinding sel bakteri. Gunawan, dkk
(2008) mekanisme kerja flavonoid terjadi akibat reaksi antara senyawa lipid dan
asam amino dengan gugus alkohol pada flavonoid, sehingga dinding sel
inti selbakteri. Senyawa ini kemudian akan bereaksi dengan DNA pada inti sel
bakteri. Akibat perbedaan kepolaran antara lipid dan penyusun DNA dengan
gugus alkohol pada senyawa flavonoid akan terjadi reaksi sehingga struktur lipid
dari DNA bakteri sebagai inti sel bakteri akan mengalami kerusakan dan lisis
berikatan dengan subunit GyrB (DNA gyrase subunit B) pada DNA gyrase
2005).
2.2.2 Tanin
larut dalam air karena bersifat polar. Mekanisme kerja tanin sebagai antibakteri
dinding sel atau membran sel. Tanin mampu menginaktivasi enzim, dan protein
transport pada membran sel. Beberapa enzim yang dihasilkan mikroba mampu
diinhibisi oleh astrigent yang dimiliki oleh tanin (Adi, Winarsih dan Hilmi, 2010).
2.2.3 Saponin
permukaan dan bersifat seperti sabun yang apabila dikocok kuat-kuat akan
menimbulkan busa (Harbone, 1987), pada umunya, saponin bereaksi netral (larut
dalam air), beberapa ada yang bereaksi dengan asam (sukar larut dalam air) dan
sebagian kecil ada yang bereaksi dengan basa. Mekanisme kerja saponin dalam
(Cannell, 1998), sehingga dapat merusak permeabilitas dinding sel serta sel
Jawa: talok, kersem, keres, kersen (sunda). Jakarta: ceri. Lumajang: baleci.
somz, Takhob (Laos), Takhob farang (Thailand), Krakhob barang (kamboja), dan
Pada umunya, buah tumbuhan kersen ini tunggal, berseling, bulat telur
bentuk lanset, panjang 6-10 cm, ujung dan pangkal runcing, tepinya bergerigi,
Bunganya berisi 1-3-5 kuntum, terletak di ketiak agak disebelah atas tumbuhnya
dalam, taju meruncing bentuk benang, berambut halus, mahkota bertepi rata,
bundar telur terbalik dan putih tipis. Benang sari berjumlah banyak, 10 sampai
bertahan pada kondisi asam, basa, maupun kekeringan, namun tidak tahan
terhadap garam, serta tumbuh baik pada pH 5,5-6,5 dan dapat hidup sampai
ketinggian 1000m diatas permukaan laut. Sebagai tumbuhan perintis, kersen dapat
1992)
dan dapat mengatasi penyakit gula darah (Zakaria et al., 2011). Buah kersen dapat
dimanfaatkan sebagai obat sakit kuning (Perry, 1980). Bagian tumbuhan ini telah
digunakan sebagai obat-obatan didaerah Asia Tenggara dan didaerah bagian tropis
benua Amerika. bunga kersen dapat digunakan untuk mengobati sakit kepala,
2.7 Kulit
lingkungan luar, baik berupa sinar matahari, iklim maupun faktor-faktor kimiawi
(Rostamailis, 2005). Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu kulit ari
17
(epidermis), sebagai lapisan yang paling luar, kulit jangat (dermis) dan jaringan
a. Epidermis
ketebalan hingga 150 mm. Sel dari lapisan bawah akan menuju epidermis
selama siklus hidup dan menjadi kulit mati pada korneum (Shailesh, 2008)
b. Dermis
Dermis merupakan lapisan kedua dari kulit. Dermis terdiri dari dua
lapisan yaitu bagian atas, pars papilaris dan bagian bawah retikularis. Baik
Latifah, 2007)
c. Subkutan (Hypodermis)
yang terletak paling dalam. Lapisan ini merupakan kumpulan dari sel
dibawahnya sehingga obat tersebut masuk dan disirkulasikan dalam aliran darah.
Mekanisme yang terjadi dalam absorbsi melalui stratum korneum antara lain;
a. Mekanisme Transepidermal
Mekanisme ini terjadi pada jalur pertama penetrasi obat dalam permukaan
keringat. Proses dalam lapisan stratum korneum memiliki dua jalur yakni, jalur
b. Mekanisme Transapendageal
Mekanisme ini terjadi pada jalur penetrasi dari obat melalui folikel rambut
dan kelenjar keringat karena terdapat pori-pori diantaranya sehingga obat tersebut
dapat berpenetrasi
19
ekstraksi (Depkes RI, 1995). Metode ekstraksi yang biasa digunakan adalah
maserasi, perkolasi dan soxhlet (Peres et al., 2006; Teddy, 2011). Selain metode
tersebut, terdapat metode ekstraksi baru yang lebih efisien, diantaranya adalah
frekuensi di atas deteksi telinga manusia, yaitu 20 kHz sampai 500 MHz
dinding maupun membran sel biologis serta penurunan ukuran partikel. Efek
tersebut menyebabkan penetrasi pelarut lebih baik ke dalam sel dan meningkatkan
laju perpindahan massa pada jaringan serta menfasilitasi perpindaan senyawa aktif
ke pelarut (Novak et al., 2008; Teddy, 2011). Pemilihan pelarut merupakan salah
satu faktor yang penting dalam proses ekstraksi. Jenis pelarut yang digunakan
dalam proses ekstraksi mempengaruhi jenis komponen aktif bahan yang terekstrak
calabura L.) adalah pelarut etanol. Pelarut etanol merupakan pelarut universal
golongan alkohol yang mudah melarutkan senyawaan yang sesuai dengan cukup
cepat karena sifat kepolarannya yang tinggi, memiliki titik didih yang cukup
20
rendah sehingga dapat mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu yang tinggi,
bersifat inert, serta memiliki harga yang terjangkau. Selain itu, ketoksikannya
rendah daripada pelarut alkohol lainnya yakni memiliki nilai LC50 7060 mg/kg
(Guenther, 2006).
etanol daun kersen pada konsentrasi 10% mengandung senyawa tanin, flavonoid,
Salah satu bakteri utama penyebab karies gigi adalah Streptococcus mutans yang
2.9 Mikroemulsi
fase spontan dengan ukuran mikroemulsi berada pada rentang 0,1-100 µm. Hal ini
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan
sesuatu dan Dia-lah yang memiliki perbedaan sesuatu yang terdiri atas berbagai
macam jenis dan raganya. Maka jelaslah bahwa Allah SWT telah menentukan
segala ciptaan-Nya berdasarkan ukuran yang telah ditetapkan. Setiap ciptaan pasti
memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Hal tersebut apabila
transdermal.
keuntungan dibandingkan sistem emulsi dan larutan kristalin. Fase dispersi pada
mikroemulsi dapat bertindak sebagai reservoir untuk obat hidrofilik atau lipofilik
tergantung dari sistem mana yang digunakan antara O/W atau W/O. Kontak
dengan membran semi permeable, seperti kulit atau membran mukosa, obat dapat
tipe tersebut. Berbeda dengan emulsi, mikroemulsi menyebabkan reaksi imun atau
meskipun tidak stabil pada suhu tinggi atau rendah. Total dosis pada obat dapat
dan parenteral. Peningkatan adsorbsi obat, modulasi kinetik pelepasan obat dan
22
kulit dipengaruhi oleh struktur internal dan tipe mikroemulsi yang diformulasikan,
minyak, surfaktan, kosurfaktan, dan fase air. Penggunaan fase minyak, surfaktan
disesuaikan dengan sifat fisika kimia bahan aktif obat untuk menghasilkan sistem
transparan yang memiliki jumlah fase lipid untuk melarutkan lipofilik. Selain itu,
mikroemulsi tipe O/W memiliki keuntungan tahan air, tidak lengket, dan
tidak hanya sebagai pelarut bahan obat bersifat lipofilik melainkan juga dapat
penetrasi transdermal (Muzaffar et al., 2013). Pemilihan jenis fase minyak yang
Berbagai jenis asam lemak jenuh maupun tak jenuh dapat digunakan untuk
melarutkan bahan aktif obat bersifat lipofilik untuk formulasi mikroemulsi M/A.
et al., 2007). Beberapa jenis fase minyak yang dapat digunakan dalam formulasi
mikroemulsi, yaitu asam lemak jenuh (contoh: asam laurat, asam miristat, asam
kaprik), asam lemak tidak jenuh (contoh: asam oleat, asam linoleat, asam
linolenik) dan asam lemak ester (contoh: etil atau metil ester dari miristik, laurik,
[Link] Surfaktan
film fleksibel yang dapat dengan mudah membentuk lapisan pada droplet
sehingga memiliki karakteristik lipofilik yang sesuai (Muzaffar et al., 2013). Jenis
dan konsentrasi surfaktan, kosurfaktan, dan rasio keduanya yang digunakan akan
terbentuk, dan kelarutan teradap air. Karakter lipofilisitas dan struktur surfaktan
(Lopes, 2014).
yang gugus hidrofilnya tidak bermuatan contohnya tween 80, lesitin, labrasol,
labrafil, dan span 80. Surfaktan kationik merupakan surfaktan yang memiliki
gugus hidrofil kation atau bermuatan positif, contohnya garam alkil trimethil
anion atau bermuatan negatif, contohnya garam alkana sulfonat, garam olefin
sulfonat, garam sulfonat asam lemak rantai panjang. (Muzaffar et al., 2013).
[Link] Kosurfaktan
mudah menguap, memiliki titik didih 78,29, berbau karakteristik dan rasa terbakar
dengan rumus molekul C2H6OH dengan berat molekul 46,07. Etanol merupakan
pelarut yang bersifat polar dan inert, serta mampu mempenetrasi sel dan
menyaring semua senyawa yang terdapat dalam sel. Etanol dapat bercampur
dengan kloroform, gliserin, eter, dan air. Etanol memiliki fungsi sebagai pengawet
2.10.2 Tween 80
etilenoksida. Tween 80 berupa cairan kental berwarna kuning dan agak pahit
emulsi topikal tipe minyak dalam air, dikombinasikan dengan emulsifier hidrofilik
pada emulsi minyak dalam air, dan untuk menaikkan kemampuan menahan air
pada salep, dengan konsentrasi 1-15% sebagai solubil izer. Tween 80 digunakan
26
secara luas pada kosmetik sebagai emulsifying agent (Smolinske, 1992). Tween
80 larut dalam air dan etanol (95%), namun tidak larut dalam mineral oil dan
HO(C2H4O)w
O CH(OC2H4O)yOH
H2C(PC2H4O)zR
Gambar 2.5. Struktur kimia Tween 80
2.10.3 Span 80
warna kuning gading, cairan seperti minyak kental, span merupakan ester sorbitan
yang memiliki bau khas, terasa lunak dan dengan pH 8. Kelarutannya tidak larut
tetapi terdispersi dalam air, bercampur dengan alkohol, tidak larut dalam propilen
glikol, larut dalam hampir semua minyak mineral dan nabati, sedikit larut dalam
eter. Berat jenis pada 20oC adalah 1 gram. Nilai HLB 4,3. Viskositas pada 25o
Ester sorbitan secara luas digunakan dalam kosmetik, produk makanan, dan
formulasi sebagai surfaktan nonionik lipofilik. Ester sorbitan secara umum dalam
formulasi berfungsi sebagai emulsifying agent dalam pembuatan krim, emulsi, dan
salep untuk penggunaan topikal. Viskositas pada 25oC adalah 1000 cps
(Smolinske, 1992)
dan formulasi sebagai surfaktan nonionik lipofilik. Ester sorbitan secara umum
27
emulsifying agent tunggal, ester sorbitan menghasilkan emulsi air dalam minyak
yang stabil dan mikroemulsi, namun ester sorbitan lebih sering digunakan dalam
emulsi atau krim, baik tipe M/A atau A/M (Rowe et al., 2009).
HO OH
O
CH3(CH2)7CH-CH(CH2)7COCH2CH
OH
Gambar 2.6. Struktur kimia Span 80
Isopropil miristat (IPM) adalah salah satu derivat asam lemak dengan
kenampaan cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, viskositas rendah dan
tidak berasa dengan rumus molekul C17H34O2 dan bobot molekul 270,51. IPM
memiliki viskositas antara 5-7 mPas (5-7 cP) pada suhu 25 ᵒC dan kurang
berminyak sehingga nyaman digunakan (Billany, 2005) selain itu IPM tahan
terhadap oksidasi, hidrolisis, dan tidak menjadi tengik (Rowe et al., 2009). IPM
dapat larut dengan aseton, kloroform, etanol 95%, etil asetat, lemak; praktis tidak
larut dalam gliserin, propilen glikol dan air. (Rowe et al., 2009).
penetrasi golongan asam lemak ester. IPM digunakan sebagai peningkat penetrasi
sediaan transdermal, telah digunakan dalam gel emulsi o/w dan berbagai
dalam stratum corneum dan mengganggu kekakuan lipid pada stratum corneum
bahan obat melewati lapisan stratum corneum secara intraseluler (Walker dan
Smith, 1996). IPM digunakan secara topikal dalam konsentrasi 1,0-10,0% (Rowe
et al., 2009).
Polietilen glikol 400 berwujud cair kental, tidak berwarna atau berwarna
sedikit kuning. PEG 400 sedikit berbau dan berasa pahit. Memiliki berat molekul
380-420, titik leleh 6-8oC. PEG 400 larut dalam air, aseton, alkohol, benzene,
gliserin dan glikol. Stabil secara kimia dalam udara dan dalam larutan. PEG 400
dikurangi dalam basis polietilenglikol (penisilin dan basitrasin). PEG 400 dapat
H
H
HO C (CH2-0-CH2)m C OH
H H
Gambar 2.8. Struktur kimia PEG 400
stabil secara fisik. Tujuannya adalah untuk mengetahui ukuran partikel pada
sediaan mikroemulsi. Ukuran partikel diukur dengan alat Particle Size Analyzer
(PSA). Dilakukan dengan cara mengukur distribusi ukuran globul dengan memilih
(untuk pengukuran sampel). Setelah alat PSA sudah siap kemudian dimasukan
sampel ke dalam kuvet, kuvet yang digunakan harus bebas dari busa (foam)
ataupun High yang artinya bahwa sampel siap diukur. Pengukuran berlangsung
hingga monitor keluar grafik hubungan antara diameter globul (µm) dengan
anaerob fakultatif berbentuk bola atau kokus berkelompok, tidak teratur, diameter
0,8-1,0µm tidak membentuk spora dan tidak bergerak, koloni berwarna putih dan
tumbuh cepat pada suhu 37oC. Salah satu 40 spesies yang termasuk genus
30
pada flora kulit, dan sedikit jumlahnya pada flora mukosa. Bakteri ini juga
berperan dalam pelepasan asam oleat, hasil hidrolisisnya oleh lipase yang diduga
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class : Bacilli
Ordo : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Uji aktivitas bakteri dari bahan alam dapat dilakukan secara in vitro.
Berikut ini merupakan uji aktivitas bakteri dari bahan alam secara in vitro (ICMR,
sediaan mikroemulsil yang paling stabil dengan kontrol positif dan kontrol negatif
uji. Berdasarkan Hugo & Russels (1998), uji difusi dapat dilakukan dengan
31
beberapa metode antara lain metode Kirby and Bauer, E-Test, Ditch-Plate
Technique dan Cup-Plate Technique. Pada metode Kirby and Bauer digunakan
kertas cakram berisi substansi antibakteri yang diletakkan pada media agar yang
telah ditanami bakteri. Prinsip metode difusi padat adalah uji potensi berdasarkan
a. Metode Dilusi
bakteri dalam media. Sedangkan pada dilusi padat setiap konsentrasi obat
dicampur media agar lalu ditanami bakteri. Larutan uji senyawa antibakteri pada
kadar terkecil yang terlihat jernih atau dengan tingkat kekeruhan terendah
pertumbuhan padat. Jika pada media padat tersebut tidak ada pertumbuhan
bakteri, maka kadar larutan uji tersebut ditetapkan sebagai Kadar Bunuh
al., 2001).
berupa zona bening disekeliling lubang sumuran. Bagian yang dihitung dengan
jangka sorong ataupun penggaris adalah diameter dari zona hambat yang
terbentuk.
32
ekstrak, kandungan senyawa antibakteri dan jenis bakteri (Jawetz et al., 2005).
2.15 Neomycin
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat sukar larut dalam etanol,
eter
lain, selain memakan waktu, juga beresiko mengandung kesalahan yang besar.
Untuk itu, kita memerlukan sebuah metode yang cepat dan beresiko mengandung
digunakan untuk pengujian lebih dari dua kategori pada variabel independen
(Subiyakto & Haryono, 1994). Sebelum melakukan uji ANOVA dengan software
Statistical Product Services Solutions (SPSS 23) dengan 95% atau α 0,05 taraf
sesudah sediaan mikroemulsi ekstrak daun kersen dan uji zona hambat aktivitas
yang digunakan sebaran data harus normal sedangkan untuk varians data yang
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
Bertanggung jawab
sebagai antibakteri
Ekstrak daun
kersen
HIPOTESIS
Karakteristik Sediaan
Memiliki karakteristik fisika kimia
sediaan mikroemulsi yang baik
ekstrak daun kersen (Muntingia
calabura)
Uji aktivitas bakteri Freeze- Karakteristik:
Staphylococcus thaw - Ukran partikel
epidermidis - Organoleptik
menggunakan metode - pH Memiliki aktivitas bakteri
difusi agar sumuran - Uji kelembapan Staphylococcus epidermidis dalam
- Pemeriksaan tipe sediaan mikroemulsi ekstrak daun
emulsi kersen
Analisis Data
34
35
35
manfaat, salah satunya untuk pengobatan anti jerawat. Timbulnya jerawat dapat
disebabkan oleh banyak faktor dan salah satunya faktor yang paling berpengaruh
kulit. Pengobatan jerawat hingga saat ini masih dikembangkan, salah satunya
lain dalam pengobatan antibakteri dari bahan alami salah satunya tumbuhan
menunjukkan bahwa simplisia daun kersen dan ekstrak etanol daun kersen
waktu panjang saat ini banyak diketahui memiliki efek samping berupa
yakni salah satunya daun kersen. Daun kersen dapat digunakan untuk mengganti
(drug delivery system) telah banyak diteliti sebagai peningkat bioavabilitas obat
36
dan salah satu teknik solubilisasi dapat dilakukan dengan cara membuat sediaan
karena homogen, memiliki ukuran partikel yang kecil, bentuk sediaan cair dan
jernih serta memiliki stabilitas tinggi dalam sistem pangan sangat komplek yang
dipengaruhi oleh fase minyak dan jenis surfaktan, suhu, pH dan pengenceran (Cho
dkk., 2008; Cui dkk., 2009). Mikroemulsi o/w dipengaruhi oleh campuran
kombinasi jenis surfaktan hidrofilik dan lipofilik, dan minyak. Mikroemulsi o/w
perbandingan tepat dapat digunakan sebagai pembawa senyawa aktif daun kersen.
semi empirik untuk memilih pengemulsi yang tepat atau kombinasi pengemulsi
mikroemulsi ekstrak daun kersen terbentuk maka perlu dilakukan uji karakteristik
sediaan antara lain mencakup: organoleptik, pH, pemeriksaan tipe emulsi, uji
freeze-thaw dan uji ukuran partikel. Sehingga dapat diketahui hasil uji
mengetahui luas zona hambat pada aktivitas antibakteri dapat dinyatakan positif
apabila terbentuk zona hambat berupa zona bening disekeliling lubang sumuran.
37
Bagian yang dihitung dengan jangka sorong adalah diameter dari zona hambat
zona hambat yang terbentuk maka aktivitas antibakteri dapat digolongkan menjadi
beberapa golongan yaitu antibakteri yang tergolong lemah (zonahambat < 5 mm),
sedang (zona hambat antara 5-10 mm), kuat (zona hambat antara 10-20 mm), dan
tergolong sangat kuat (zona hambat >20 mm). Tujuannya untuk mengetahui
dianalisis sesuai dengan literatur dengan menggunakan One Way Anova dengan
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
organoleptik, uji pH, uji ukuran partikel, tipe emulsi, stabilitas freeze-thaw
3938
39
F1 5% F2 10% F3 15%
Kontrol positif
Uji ukuran
partikel
Kontrol negatif
Uji pH
Kontrol
Uji tipe emulsi pembanding
untuk pembuatan sistem mikroemulsi dan untuk pengujiannya meliputi uji pH, uji
Maliki Malang untuk uji aktivitas antibakteri dan di Laboratorium Zat Padat
1. Variabel bebas : variabel bebas pada penelitian ini adalah variasi konsentrasi
2. Variabel terikat : variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil uji
dengan sistem pembawa obat koloidal yang tersusun atas fase minyak, fase
15%)
tipe emulsi dan pengukuran ukuran partikel sediaan yang relevan dimiliki oleh
subjek yang diteliti. Proses ini juga melibatkan proses penentuan (definisi) dan
waktu penggunaan dan penyimpanan. Uji stabilitas fisik yang dilakukan dalam
besar potensi atau konsentrasi suatu senyawa dapat memberikan efek bagi
mikroorganisme.
42
Alat yang akan digunakan pada penelitian ini terdiri dari, Timbangan
digital (Shimadzu Uni Bloc), Gelas ukur 100 mL (pyrex), Batang pengaduk,
alumunium foil, Laminar Air Flow (Minihelix II), Cawan petri, Pipet tetes,
reaksi (pyrex), pH meter tipe 510 (Eutech Instrument), Oven (Memmert UN 55),
tabung reaksi (pyrex), plastik wrap, botol semprot, lemari Pendingin (LG),
Bahan yang akan digunakan pada penelitian ini terdiri dari, Daun kersen
(Muntingia calabura) yang didapat di Materia Medika Batu, media Nutrient Agar
(NA), media Luria Bertani Broth (LBB), Pelarut Etanol 96% (PT. Bratachem),
PEG 400 (PT. Bratachem), Tween 80 (PT. Bratachem) Span 80, Isopropil
miristat, Cendo xitrol tetes mata, Metilen red, asam sulfat, asam asetat, kalium
(Muntingia calabura L). Simplisia daun kersen sebanyak 1kg dicuci, dipotong
kecil-kecil dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 30-37oC selama
etanol 96% sebagai pelarut. Metode ekstraksi yang digunakan adalah ekstraksi
30-40oC, suhu rendah digunakan untuk menjaga agar senyawa aktif tidak
sampai pelarut habis dengan ditandai tidak adanya penetesan pelarut pada labu
pelarut (Saman, 2013). Untuk menghilangkan pelarut yaitu dengan melakukan uji
bebas etanol pada ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura L.) agar dapat
Uji bebas etanol ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) dilakukan
dengan cara esterifikasi etanol dengan penambahan asam asetat dan asam sulfat
perubahan reaksi dari asam karboksilat dan alkohol menjadi suatu ester dengan
1999) dengan cara diambil satu gram ekstrak daun kersen lalu dimasukkan
44
kedalam tabung reaksi ditambahkan 1ml asam asetat dan 1ml asam sulfat pekat
dengan kapas.
yang ada didalam ekstrak etanol 96% daun kersen. Uji kandungan senyawa aktif
flavonoid, tanin dan saponin. Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan oleh
Nenden (2012). Pada ekstrak daun kersen, hasil penapisan fitokimia positif
reaksi, setelah itu ditambahkan logam Mg dan 4-5 tetes HCl pekat. Larutan
ditambah air (1:1) sambil dikocok dengan cara ekstrak etanol daun kersen
ditambahakan HCl 1 N sebanyak 1-2 tetes, apabila busa yang terbentuk dapat
45
bertahan selama 10 menit dengan ketinggian 1-3 cm, menunjukan ekstrak positif
Ekstrak kental daun kersen 1 gram dilarutkan dalam 5 mL FeCl3 1%. Jika
pH 4,5-7, Organoleptis yang stabil secara fisik, ukuran partikel dengan ukuran
0,1-100 µm, dan uji stabilitas sediaan yang stabil dalam kondisi freeze-thaw.
Ekstrak daun
1 Bahan aktif 5% 10% 15% -
kersen
2 IPM Fase minyak 5% 5% 5% 5%
3 Tween 80 Surfaktan 33,5% 33,5% 33,5% 33,5%
4 Span 80 Surfaktan 16,5% 16,5% 16,5% 16,5%
5 PEG 400 Kosurfaktan 5% 5% 5% 5%
6 Aquadest add Pelarut 100% 100% 100% 100%
46
Keterangan :
a. Formula 1 (R1, R2, R3) : sistem mikroemulsi dengan konsentrasi ekstrak daun
kersen 5% dengan replikasi sebanyak 3 kali
b. Formula 2 (R1, R2, R3) : sistem mikroemulsi dengan konsentrasi ekstrak daun
kersen 10% dengan replikasi sebanyak 3 kali
c. Formula 3 (R1, R2, R3) : sistem mikroemulsi dengan konsentrasi ekstrak daun
kersen 15% dengan replikasi sebanyak 3 kali
d. Formula 4 : sistem mikroemulsi tanpa bahan aktif (kontrol pembanding)
sistem pembawa obat koloidal yang tersusun atas fase minyak, fase air, dan
yang perlu diperhatikan mulai dari formulasi dan kondisi pembuatan. Surfaktan
Mikroemulsi ini dibuat dengan membuat fase air dan fase minyak secara
terpisah. Fase air adalah aquadest dan tween 80. Aquadest dan tween 80
PEG 400 sebagai kosurfaktan dan tambahkan ekstrak etanol daun kersen sambil
selama 24 jam sampai terbentuk mikroemulsi yang jernih serta untuk mengetahui
dilakukan serangkaian uji antara lain: ukuran partikel, uji Organoleptik, tipe
aquadest di dalam baker glass atau labu ukur. Sejumlah 10 ml larutan tersebut
diambil dan dimasukkan ke dalam kuvet. Kuvet yang digunakan harus bebas dari
busa (foam). Kuvet yang berisi sampel kemudian diamsukkan ke dalam sampel
holder. Alat dinyalakan dan dipilih menu particle size. Diukur selama 15 menit
dan akan menghasilkan ukuran partikel dan kurva distribusi (Malvern, 2004).
Interpretasi hasil dari pengukuran distribusi ukuran partikel yaitu distribusi ukuran
partikel yang disertai dengan jumlah atau volume dari ukuran-ukuran partikel
berupa warna, bau dan konsistensi sistem. Metode uji organoleptik dilakukan
dengan cara identifikasi aroma, warna, dan konsentrasi sediaan yang diamati
secara deskriptif (Swastika, 2013). Interpretasi hasil dari uji organoleptis yaitu
didapatkan sediaan sistem berwarna hijau jernih, tidak berbau dan larutan kental
4.6.3 Uji pH
pH mikroemulsi dilakukan dua kali, yaitu 48 jam setelah formulasi dan 6 hari
(akhir 3 siklus uji stabilitas dipercepat) setelah formulasi. Interpretasi hasil dari
larut air, yaitu metilen red dengan menambahkan metilen red kedalam
mikroemulsi yaitu, F1, F2, F3 dan (blanko) lalu ditetesi dengan menggunakan
metilen red sebanyak 0,5 ml diatas kaca arloji kemudian diaduk dengan batang
pengaduk. Jika mikroemulsi merupakan tipe minyak dalam air maka zat warna
metilen red akan melarut di dalamnya dan berdifusi merata ke seluruh bagian dari
air. Jika mikroemulsi merupakan tipe air dalam minyak maka partikel zat warna
saat penyimpanan dari waktu ke waktu dan memastikan sediaan tidak akan
pada lemari pendingin yang telah diatur suhunya 4oC. Setelah itu masing-masing
sediaan dilanjutkan diletakkan didalam oven dengan suhu 40oC. Pengujian ini
pemanasan yang merata kemudian penutup alat diturunkan. Secara otomatis, alat
akan memulai pengukuran hingga terbaca hasil pengukuran %MC pada layar,
disterilkan terlebih dahulu. Alat-alat seperti beaker glass, gelas ukur, erlenmeyer
dan karet pipet yang sudah dibungkus, disterilkan terlebih dahulu di dalam
autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit dan alat-alat seperti batang pengaduk,
pinset, spatula, gelas arloji yang sudah dibungkus dimasukkan dalam oven pada
suhu 160-170oC selama ± 2 jam, jarum ose dan pinset dibakar dengan
dalam autoklaf pada suhu 121oC dengan tekanan 1 atm selama 15 menit.
51
autoklaf selama 15 menit pada suhu ke dalam 121oC agar media LBB dalam
24 jam.
kedalam tabung steril dan dimasukkan 2 jarum ose bakteri S. epidermidis lalu
ditutup dengan kapas dan plastic wrap. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC
ke dalam cawan petri lalu dibiarkan sampai memadat. Kemudian dibuat sumuran
(well) menggunakan alat blue-tipe dengan diameter ± 6 mm, sumuran dibuat tegak
cawan petri ke dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37oC dan diamati zona
secara horizontal dan vertikal kemudian hasil yang didapat dikurangi diameter
sumuran.
analisis uji pH, dan uji aktivitas antibakteri dianalisis menggunakan metode
Salah satu bagian dari uji persyaratan analisis data, sebelum melakukan
beberapa asumsi data, yaitu data harus mempunyai sebaran (distribusi) normal
ataukah tidak dan mempunyai ragam yang homogen. Syarat uji normalitas dan
homogenitas yaitu P > 0,05 untuk mengetahui perbedaan yang bermakna bila
terdapat perbedaan pada uji ANOVA maka dilanjutkan uji LSD. Hasil uji
ANOVA dan LSD dikatakan memiliki perbedaan yang signifikan P < 0,05
(Sudjana, 1996).
53
BAB V
Preparasi sampel pada tahap ini terdiri dari proses pengambilan sampel,
kersen (Muntingi calabura L.) diperoleh dari Balai Tanaman Materia Medika
Batu sebanyak 1 kg, bagian tumbuhan yang diambil yaitu daun kersen. Daun
kersen yang diperoleh dipisahkan dari tangkai dan dicuci dengan air untuk
serbuk daun kersen lalu diayak dengan menggunakan ayakan 60 mesh, dengan
tujuan untuk meningkatkan luas permukaan sampel sehingga pelarut lebih mudah
menarik senyawa yang terkandung dalam sampel. Pada penelitian ini hasil
simplisia daun kersen yang diperoleh berwarna hijau muda sebanyak 500 gram.
Uji kadar air dilakukan untuk mengetahui presentase kandungan air yang
terdapat pada sampel. Tujuan dari analisa kandungan air adalah untuk menentukan
kualitas dan stabilitas bahan (Tabrani,1997). Pada penetuan kadar air simplisia
53
54
54
daun kersen alat yang digunakan yaitu moisture analyzer HC 103 memiliki
kelebihan analisa yang dapat memberikan pengukuran kadar air yang akurat dan
konsisten hanya dalam waktu sekitar tiga menit, pengoperasionan sederhana serta
mutu yang terjangkau. Analisa kandungan air daun kersen dengan moisture
Berdasarkan hasil pengujian kadar air didapatkan bahwa kadar air pada
simplisia daun kersen (Muntingia calabura L.) yakni sebesar 7,01%, 7,16% dan
7,23% (Lampiran 6) diketahui bahwa besarnya kadar air pada sampel daun kersen
tersebut telah memenuhi standar yang ditentukan. Kadar air pada suatu simplisa
bahan obat tidak boleh melebihi dari 10%, apabila lebih dari 10% maka simplisia
akan mudah rusak karena air akan memicu terjadinya pertumbuhan mikroba serta
etanol 96%, karena lebih mudah dalam melarutkan semua zat yang bersifat polar,
terbaik dari ekstrak daun sirsak sebagai antioksidan dengan metode ultrasonic
cleanser diperoleh dari rasio bahan:pelarut 1:10 (b/v). Proses ekstraksi ultrasonik
dilakukan 3 kali remaserasi selama 18 menit, hal ini dikarenakan ekstrak yang
didapat dari hasil maserasi yang pertama kurang mencukupi sehingga ekstraksi
filtrat dapat dipisahkan dari residunya. Filtrat yang diperoleh lalu dipekatkan
dengan vacum rotary evaporator pada suhu 50oC, hal ini bertujuan agar dapat
memekatkan ekstrak serta dapat memisahakan antara pelarut etanol 96% dengan
senyawa aktif dalam daun kersen. Proses evaporasi dihentikan apabila pelarut
tidak menetes lagi pada labu alas bulat. Setelah didapatkan ekstrak kental,
dihasilkan dengan berat awal lalu dikalikan 100%. Hasil ekstraksi daun kersen
Tabel 5.1 Hasil Ekstraksi Ultrasonik Ekstrak Etanol 96% daun Muntingia
calabura
Hasil
Berat Warna Berat Ekstrak
Pelarut Rendemen
Serbuk ekstrak pekat Pekat (g)
(%)
sebanyak 500 gram, ekstrak kental yang berwarna hijau pekat kehitaman sebesar
80 gram dengan rendemen ekstrak etanol pekat daun kersen sebesar 16%.
Menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Manik, dkk (2014) bahwa
ekstrak etanol 96% daun kersen diperoleh ekstrak kental sebanyak 199,62 gram
5.4 Uji Bebas Etanol dan Identifikasi Senyawa Aktif Daun Kersen
terdapat adanya kandungan etanol yang ada didalam sampel, selain itu etanol
Tabel 5.2 Hasil Uji Bebas Etanol ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.)
Jenis Perlakuan Hasil Keterangan
Asam asetat, asam
Etanol Tidak bau ester -
sulfat(dipanaskan)
Kalium dikarbonat, asam Berwarna coklat
Etanol -
sulfat
Tabel diatas menunjukkan hasil uji bebas etanol ekstrak daun kersen
positif bebas dari etanol, hal tersebut dibuktikan dengan dilakukan pengujian
dengan menggunakan dua metode reaksi yakni dengan reaksi esterifikasi dan
redoks. Esterifikasi dilakukan dengan reaksi kimia antara asam asetat dan asam
O H+kalor O
terdapat adanya bau ester, hal ini terjadi karena tidak ada atom H dari etanol yang
diikat oleh atom OH dari asam asetat, reaksi ini diperantarai oleh H2SO4 yang
berfungsi sebagai katalis dan bersifat asam kuat sehingga tidak menimbulkan
reaksi bau dari ester maka dapat dinyatakan ekstrak daun kersen bebas dari etanol.
asam sulfat dengan kalium dikarbonat menghasilkan warna coklat, dapat dilihat
Dari hasil reaksi redoks antara kalium dikromat, asam sulfat dan etanol
ekstrak daun kersen sudah bebas etanol, dengan demikian hasil pada pengujian
kersen yang digunakan bukan karena pelarut etanol. Hal ini sejalan dengan
etanol menghasilkan ekstrak sudah bebas dari etanol dibuktikan dengan tidak
terbentuk warna merah frambos maupun bau pisang. Setelah dilakukan pengujian
identifikasi senyawa aktif pada Tabel 5.3 diketahui bahwa ekstrak etanol daun
dapat memperkuat adanya dugaan terhadap aktivitas antibakteri. Hal ini didukung
Flavonoid pada umumnya mudah larut dalam air atau pelarut polar
dikarenakan memiliki ikatan dengan gugus gula (Markham, 1988). Dari analisis
perubahan warna menjadi jingga setelah ditambahkan serbuk Mg dan HCl pekat.
Menurut Prashant et al., (2011) mengatakan bahwa, penambahan HCl pekat pada
uji flavonoid dengan mereduksi inti £-benzopiron yang terdapat pada struktur
flavonol, flavonon dan xanton. Dalam ekstrak tumbuhan dapat diketahui apabila
terdapat senyawa flavonoid saat penambahan Mg dan HCl akan terbentuk garam
flavilium, garam ini lah yang dapat memberikan warna merah atau jingga
Dari analisis yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa didalam daun
kersen positif mengandung tanin. Hal ini dapat diketahui dari perubahan warna
yang terjadi saat ditambahkan larutan FeCl3, penambahan FeCl3 dilakukan agar
dapat mengetahui adanya gugus fenol yang terdapat dalam sampel. Hal tersebut
terjadi disebabkan oleh reaksi penambahan dengan salah satu gugus hidroksil
yang terdapat dalam senyawa tanin. Menurut Halimah (2010) terbentuknya warna
hijau kehitaman dalam ekstrak setelah ditambahkan dengan FeCl3 karena tanin
glukosa dan aglikon (Rusdi, 1990 dalam Marliana, dkk., 2005). Untuk
memastikan busa yang terbentuk berasal dari saponin selanjutnya ditetesi dengan
menggunakan larutan asam klorida, hal ini menunjukkan bahwa busa yang terjadi
karena pemecahan gula tersebut yang terdapat dalam uji saponin tidak hilang dan
tetap stabil sehingga dapat ditegaskan bahwa esktrak daun kersen terdapat adanya
senyawa saponin.
62
dengan tujuan menentukan kondisi dan komposisi bahan yang sesuai untuk
menghasilkan sediaan mikroemulsi yang jernih dan stabil, dalam hal ini yang
serta suhu, lama pengadukan dan kecepatan pengadukan. Proses pengadukan ini
tidak boleh terlalu cepat dan terlalu lama apabila terlalu cepat dapat menyebabkan
ukuran globul yang terdispersi menjadi tidak rata sehingga ukuran partikelnya
menjadi lebih besar. Sedangkan pengadukan yang terlalu lama akan menyebabkan
Mikroemulsi ekstrak etanol daun kersen dibuat 3 formula yaitu, F1, F2 dan
sama dan bahan aktifyang sama, namun jumlah konsentrasibahan aktif yang
mikroemulsi yaitu ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) yang dapat
digunakan dalam pengobatan jerawat dengan konsentrasi (5%, 10% dan 15%).
nonionik yang relatif aman karena sifat mengiritasinya rendah. Pada penelitian ini
emulsifying agent nonionik menyebabkan fase minyak dan fase air dapat saling
selain itu dapat meningkatkan penetrasi zat aktif kedalam kulit, dipilih konsentrasi
yang dilakukan oleh Athiyah (2015), hal tersebut dikarenakan pada konsentrasi
5% dapat membantu kelarutan dari zat aktif dalam sediaan mikroemulsi. Yang
ketiga optimasi fase minyak, fase minyak yang digunakan adalah isopropyl
transdermal sehingga dapat meningkatkan absorbsi obat ke dalam kulit selain itu
IPM dapat memberikan rasa halus dan nyaman ketika dipakai pada kulit,
pemilihan konsentrasi ini didasarkan pada penentuan IPM dari sediaan topikal
yakni antara 1-10% Rowe et al., (2009), digunakan konsentrasi IPM pada sediaan
5%. Bahan aktif yang digunakan yaitu ekstrak etanol daun kersen, dibuat dengan
sebagai pelarut agar ekstrak dapat larut dengan baik, karena DMSO merupakan
salah satu pelarut yang dapat melarutkan hampir semua senyawa polar maupun
non-polar selain itu DMSO tidak memberikan daya hambat pertumbuhan bakteri
ekstrak disaring karena terdapat bagian ekstrak yang tidak larut dengan
terdiri dari Tween 80, air bebas Co2dan fase minyak yang terdiri darispan 80, IPM
serta PEG 400. Kedua fase dipanaskan secara terpisah hingga homogen dengan
fisik mikroemulsi ekstrak etanol daun kersen telah memenuhi kriteria yang
Tabel 5.3 Hasil dari pemeriksaan organoleptis mikroemulsi ekstrak daun kersen
Pengamatan Hari ke-
Formula Pengamatan
1 3 5 8 15 22 29 35
Homogenitas HM HM HM HM HM HM HM HM
G G G G G G G G
Warna KJK3 KJK3 KJK3 KJK3 KJK3 KJK3 KJK3 KJK3
F1
Bentuk Semi Semi Semi Semi Semi Semi Semi Semi
solid solid solid solid solid solid solid solid
Bau Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas
Homogenitas HM
HM HM HM HM HM HM HM
G
G G G G G G G
F2 Warna KJK2 KJK2 KJK2 KJK2 KJK2 KJK2 KJK2 KJK2
Bentuk Semi Semi Semi Semi Semi Semi Semi Semi
solid solid solid solid solid solid solid solid
Bau Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas
Homogenitas HM HM HM HM HM HM HM HM
G G G G G G G G
Warna KJK1 KJK1 KJK1 KJK1 KJK1 KJK1 KJK1 KJK1
F3
Bentuk Semi Semi Semi Semi Semi Semi Semi Semi
solid solid solid solid solid solid solid solid
Bau Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas
Keterangan :
HMG : Homogen
Khas : Bau khas dari daun kersen
KJK : Kuning jernih kecoklatan
minggu pada ketiga formula menunjukkan sediaan stabil disimpan pada suhu
kamar (27oC) dengan nilai rentang yang ditentukan (Lampiran 6). Masing-masing
daun kersen sebanyak 5% memiliki warna kuning coklat muda dengan nilai
warna orange kecoklatan dengan nilai rentang 2 dan F3 memiliki warna yang
dengan nilai rentang 1. Hal ini dikarenakan pada F3 dengan konsentrasi ekstrak
daun kersen paling banyak (15%) dibandingkan dengan F1 (5%) dan F2 (10%),
konsentrasi maka bau khas daun kersen semakin tajam selain itu memperlihatkan
bahwa konsistensi dari F3 agak sedikit kental dibandingkan F1 dan F2, hal ini
dikarenakan laju air yang ada pada F3 lebih sedikit. Hasil pengamatan
organoleptik sediaan mikroemulsi ekstrak daun kersen homogen, karena tidak ada
5.6.2 Uji pH
mikroemulsi ekstrak daun kersen yang dibuat tidak menyebabkan iritasi pada
kulit, hal yang sama dijelaskan oleh Utami (2005) bahwa nilai pH sediaan tidak
boleh terlalu asam karena akan menyebabkan iritasi pada kulit serta tidak boleh
terlalu basa karena akan menyebabkan kulit bersisik. Dilakukan 2 kali pengujian
yakni sebelum pengujian stabilitas dan sesudah stabilitas freeze-thaw, berikut ini
merupakan hasil penentuan pH sebelum stabilitas dapat dilihat pada tabel dibawah
ini
6,5
6
F1
5,5 F2
5 F3
4,5
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 4 Minggu 8
mikroemulsi ekstrak daun kersen tetap jernih transparan, bau khas daun kersen,
tidak mengalami pemisahan fase dan tidak terdapat endapan, hal ini menunjukkan
minggu ke-4 dan ke-5 terjadi akibat pengaruh CO2, karena CO2 bereaksi dengan
mikroemulsi ekstrak daun kersen tidak terlalu berpengaruh selama masih memiliki
nilai signifikansi 0,072 (p>0,05) yang berarti bahwa data menunjukkan normal.
Selanjutnya dilakukan uji homogenitas data menggunakan Levene test hasil yang
signifikansi 0,246 (p>0,05) yang berarti bahwa tidak adanya pengaruh yang
dilakukan uji lanjutan Post-Hoc test yakni Tukey HSD, berdasarkan hasil yang
(p>0,05) yang artinya bahwa data tersebut tidak terdapat perberbedaan yang
mikroemulsi ekstrak daun kersen pada suhu yang berbeda secara bergantian yakni
suhu dingin (4oC) dan suhu tinggi (40oC) dalam rentang waktu tertentu, reaksi
yang terjadi bersifat reversible atau sebaliknya serta dilakukan pemeriksaan nilai
6,5
6 F1
5,5 F2
F3
5
4,5
Rata-Rata
secara organoleptis selama 6 siklus disimpan secara bergantian pada suhu dingin
(40C) dan suhu tinggi (400C). Uji stabilitas freeze-thaw menunjukkan bahwa
perubahan fisik, yang terjadi pada siklus ke-2 dan ke-3 saat disimpan pada suhu
memiliki warna kuning jernih dan F3 memiliki warna kuning kecoklatan tetapi
ketika sediaan mikroemulsi dipindahkan pada suhu ruang (29oC) maupun suhu
tinggi (40oC) sediaan kembali kebentuk dan warna semula, hal ini menunjukkan
bahwa fase air dan minyak dengan bantuan surfaktan dapat membentuk suatu
larutan tunggal yang terdispersi dengan baik serta bersifat reversible karena tidak
terjadi pemisahan fase. Menurut Faizatun et al., (2008) sediaan dapat dikatakan
stabil apabila tidak mengalami pemisahan fase, tidak memiliki endapan dan
gumpalan dapat dilihat pada Lampiran 3 selain itu pada ketiga formula sediaan
mikroemulsi ekstrak daun kersen tetap memiliki bau khas daun kersen serta
bentuk semisolid.
72
penurunan pada F3, hal ini terjadi dikarenakan perubahan suhu mengalami
menurun (Nandiet al., 2013) namun penurunan tersebut tidak terlalu signifikan
nilai signifikansi 0,690 (p>0,05) yang berarti bahwa data menunjukkan normal.
Selanjutnya dilakukan uji homogenitas data menggunakan Levene test hasil yang
(p>0,05) yang berarti bahwa tidak adanya pengaruh yang signifikan terhadap nilai
(LSD), hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai signifikan (p>0,05). Nilai
mikroemulsi ekstrak daun kersen sebelum dan sesudah stabilitas dilakukan untuk
Tabel 5.7 Hasil pengujian nilai pH sebelum dan sesudah stabilitas Freeze-thaw
Rata-rata ± SD
Formula
Sebelum Sesudah
F1 5,81 ± 0,08 5,79 ± 0,16
F2 5,94 ± 0,08 6,23 ± 0,07
F3 6,20 ± 0,43 6,09 ± 0,45
6,6
6,4
6,2
F1
6
F2
5,8
F3
5,6
5,4
sebelum sesudah
SPSS 23. Berdasarkan hasil uji tersebut pada F1 dan F3 diperoleh nilai
signifikansi 0,707 dan 0,188 (P>0,05) yang berarti bahwa menunjukkan tidak
terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai pH sebelum dan sesudah stabilitas
terbentuk, dilakukan denganpenambahan zat warna larut air yaitu metilen red pada
mikroemulsi ekstrak daun kersen yang dihasilkan bersifat m/a. Selain itu surfaktan
yang memiliki gugus polar cenderung lebih kuat sehingga membentuk tipe emulsi
Gambar 5.9 Hasil penentuan tipe mikroemulsi ekstrak daun kersen dengan
menggunakan mikroskop optik perbesaran (400x)
alat moisture analyzer HC 103. Didapatkan nilai kadar air dalam sediaan
konsentrasi F3 15% kadar air yang diperoleh 58,36% konsentrasi F2 10% kadar
air yang diperoleh 59,13% konsentrasi F1 5%, hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Jessica et al., (2016) bahwa standar kadar air dalam sediaan
maksimal 60%. Berdasarkan standar yang ditentukan hasil yang diperoleh sediaan
mikroemulsi ekstrak daun kersen masih dibawah rentang yang ditentukan, karena
dalam pengujian kadar air dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak sehingga dapat
antibakteri karena sulitnya pengerjaan, namun hasilnya akan lebih mudah terlihat.
Hal ini terjadi karena pada setiap lubang diisi dengan konsentrasi ekstrak, maka
dihasilkan akan lebih tinggi dan lebih kuat dalam menghambat pertumbuhan
untuk meregenerasi bakteri agar diperoleh bakteri yang muda serta tidak
macam yang pertama, media Luria Bertani Broth (LBB) merupakan media cair,
media yang tidak mengandung agar dan dapat digunakan untuk pemeliharaan
isolat bakteri serta peremajaan bakteri. Yang kedua, media Nutrient Agar (NA)
cair yaitu, media Luria Bertani Broth (LBB) dengan cara diambil 2 jarum ose
digunakan adalah kekeruhan (ada pertumbuhan bakteri) dan kejernihan (tidak ada
pertumbuhan bakteri), yang terlihat setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu
Nutrient Agar (NA) dilakukan dengan cara mencampurkan serbuk media agar NA
hotplate pada suhu 50oC sampai media agar dan aquadest, setelah itu dimasukan
media agar NA kedalam autoklaf selama 15 menit pada suhu 121oC agar media
steril dan aseptis yang dikerjakan didalam Laminar Air Flow (LAF). Pembuatan
media uji dilakukan dengan cara diambil biakan bakteri [Link] yang ada
200 µl kedalam cawan petri yang sudah disterilkan, lalu dimasukan media
Nutrient Agar (NA) dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 17 ml putar cawan
petri secara perlahan agar media NA dapat bercampur dengan bakteri, hingga
konsentrasi ekstrak daun kersen, serta dalam pengukuran zona hambat dapat
dengan tiga perlakuan dan disetiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Pada
78
penelitian adalah cendo xitrol tetes mata memiliki kandungan neomisin. Neomisin
ekstrak yaitu 5%, 10%, dan 15% sebanyak 50 µl pada media yang telah
menggunakan plastik wrap, diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC dalam
kondisi aerob sehingga agar dapat diamati zona bening yang terbentuk disekitar
sesuai dengan tujuan yaitu untuk mengetahui aktif atau tidaknya ekstrak daun
kersen terhadap bakteri gram positif [Link]. Dari hasil tersebut dapat
Tabel 5.8 Rata-rata hasil diameter zona hambat mikroemulsi ekstrak daun kersen
dengan sumuran berdiameter 6 mm
Rata-rata Diameter Zona Hambat
Konsentrasi Rata-rata ± Nilai
(mm)
ekstrak SD
Ulangan I Ulangan II Ulangan III
F1 5% 5,60 mm 6,61 mm 6,20 mm 6,13 ± 0,50
F2 10% 8,30 mm 8,49 mm 8,24 mm 8,34 ± 0,13
F3 15% 12,7 mm 11,21 mm 12,45 mm 12,2 ± 0,79
Kontrol (+) 17,21 mm 16,32 mm 17,21 mm 16,9 ± 0,51
Kontrol (-) 0 0 0 0
Kontrol 0
0 0 0
pembanding
Kontrol media 0 0 0 0
pada konsentrasi 5%, 10% dan 15% diperoleh hasil sesuai dengan standar kategori
respon zona hambat menurut Davis dan Stout (1971) memiliki rata-rata diameter
zona hambat yang termasuk dalam kategori sedang dan kuat. Pada F1 konsentrasi
konsentrasi 10% dan 15%, luas zona hambat yang ditunjukkan semakin besar
80
sedangkan pada F2 konsentrasi ekstrak 10% luas zona hambat sekitar 8 mm maka
dapat dikategorikan sedang, dan pada F3 konsentrasi ekstrak 15% luas zona
dibandingkan dengan semua perlakuan, maka dapat dikategorikan kuat. Hal ini
sesuai dengan pendapat Jawetz (2005) bahwa semakin tinggi konsentrasi zat
terhadap bakteri [Link] lebih rendah dibandingkan kontrol positif, hal ini
ekstrak etanol daun kersen masih mengandung berbagai senyawa lain yang dapat
daun kersen (Muntingia calbura L.) terhadap bakteri [Link] dapat dilihat
A B C D
. . . .
. . . .
Gambar 5.10 Hasil Zona hambat F1 5% (A) Zona hambat F2 10% (B) Zona
hambat F3 15% (C) Kontrol positif Neomisin (D)
Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pembayun et al., (2012)
menunjukkan bahwa gel ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki
81
kategori kuat. Ulya et al., (2015) juga menyebutkan bahwa minyak atsiri rimpang
20,29±1,31 mm.
daun kersen memiliki kandungan senyawa yang sama yaitu flavonoid, saponin
sebagai antibakteri karena dapat menghambat fungsi membran sel yaitu dengan
dengan cara menghambat sistem respirasi, karena dibutuhkan energi yang cukup
menyebabkan sitoplasma bocor dan keluar dari sel sehingga sel akan mati
(Adi,dkk2010). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dzen, dkk (2003)
menjelaskan juga bahwa mekanisme kerja dari senyawa saponin dapat dengan
82
sitoplasma rusak maka metabolit penting dalam bakteri akan keluar dan bahan
adalah tanin. Mekanisme kerja antibakteri senyawa tanin yaitu dengan merusak
suatu ikatan kompleks tanin terhadap enzim atau substrat mikroba dan
pembentukan suatu ikatan kompleks tanin terhadap ion logam yang dapat
menambah daya toksisitas tanin itu sendiri (Akiyama et al., 2001) sementara
menurut Naim (2004) aktivitas antibakteri senyawa tanin adalah cara merusak
terhambat.
dilakukan uji statistik dengan One-Way ANOVA dengan α 0,05 taraf kepercayaan
95% untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh konsentrasi terhadap zona
normalitas dengan Shapiro-Wilk yang bertujuan untuk melihat apakah data yang
menunjukkan nilai signifikansi 0,225 (p>0,05), hal ini menunjukkan bahwa data
apakah data yang didapat homogen atau tidak. Hasil homogenitas menunjukkan
nilai signifikansi 0,104 (p>0,05), hal ini menunjukkan bahwa data hasil penelitian
ini homogen.
ANOVA diketahui bahwa signifikansi 0,00 yang artinya (p<0,05) dengan nilai F
hitung (227,496) > f tabel (237) sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesa nol
(Ho) ditolak dan hipotesa 1 (H1) diterima, jadi pemberian ekstrak daun kersen
rata kelompok konsentrasi secara lebih spesifik dapat dilakukan uji Post-Hoc,
hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan P-value < 0,05
Menurut hasil uji Post-Hoc yang terdapat pada tabel diatas yang berfungsi
Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa data terdapat perbedaan yang signifikan,
positif, hal tersebut dikarenakan pada kontrol positif memiliki spektrum luas
sehingga dapat melawan bakteri baik Gram positif maupun Gram negatif selain itu
diameter zona hambat yang dihasilkan oleh kontrol positif lebih besar dari pada
zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak daun kersen. Hal tersebut juga terjadi
mikroemulsi yang dibuat, yakni perbedaan antar konsentrasi ekstrak 5% 10% dan
15%.
Semakin besar konsentrasi ekstrak daun kersen maka semakin besar pula
mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia
dengan serapi-rapinya”.
pengurangan semua demi kemaslahatan manusia (al Jazairi, 2008). Hal tersebut
menunjukkan bahwa nilai KHM serta KBM dalam pengujian aktivitas antibakteri
sediaan mikroemulsi ekstrak daun kersen merupakan ukuran yang sesuai dalam
dapat terhambat dengan konsentrasi yang terlalu kecil sehingga tidak dapat
konsentrasi yang lebih tinggi sampai melebihi batas rentang sebagai konsentrasi
maksimal yang dapat membunuh bakteri uji dimungkinkan akan terjadi kelebihan
dosis yang mengakibatkan iritasi pada kulit. Dalan hal penggunaan konsentrasi
yang berlebihan tidak dianjurkan dalam islam, karena pada dasarnya sesuatu yang
daun kersen dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan penyakit jerawat pada
rendah nilai PI maka menunjukkan ukuran yang semakin seragam. Ukuran yang
seragam ditunjukkan grafik yang cenderung lebih curam serta distribusi ukuran
partikelnya lebih sempit dengan memiliki titik puncak yang lebih tinggi. Dimana
lebih dari 0,5 menunjukkan distribusi yang luas, semakin mendekati nilai nol
kersen pada konsentrasi yang ditentukan secara umum dapat diaplikasikan pada
sistemik sehingga daun kersen dapat berpenetrasi ke dalam kulit, selain itu
obat dalam saluran cerna sehingga dapat mencegah terjadinya interaksi dengan
ukuran partikel selain itu ditunjukkan hasil evaluasi fisikuji organoleptik, pH,
stabilitas freeze-thaw dan aktivitas antibakteri yang baik. Pada konsentrasi 10%
distribusi ukuran yang sempit, hal ini dapat dikatakan bahwa mikroemulsi ekstrak
daun kersen memiliki homogenitas ukuran partikel yang baik. Selain itu
minyak sedikit hal tersebut mengakibatkan cahaya yang terdifraksi juga sedikit,
sehingga menghasilkan ukuran globul yang terbaca dalam alat particle size
BAB VI
6.1 Kesimpulan
tipe mikroemulsi o/w, memiliki nilai rata-rata ukuran partikel 15,01 nm,
farmasetik.
epidermidis.
88
89
6.2 Saran
yakni;
daun kersen
ukuran mikroemulsi.
90
DAFTAR PUSTAKA
Adi, P., S. Winarsih dan A. Hilmi. 2010. Aktivitas Ekstrak Etanol Kismis (Vitis
vinifera L.) Sebagai Antimikroba Terhadap Bakteri Penyebab Karies
Streptococcus mutans Strain 2302-unr Secara In Vitro. Program Studi.
Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
[Link]://[Link]/artikel/id/filedownload/gigi/[Link].
Diakses pada tanggal 11 Desember 2016.
Agnes D,C., Dina M, Fitrianti D,. Perbandingan Formulasi dan Evaluasi Gel
Antiseptik Tangan yang Mengandung Ekstrak Daun Kersen (Muntingia
calabura L.), Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix DC.) dan Kombinasinya.
Bandung: Universitas Islam Bandung, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, prodi farmasi, 2016
Akiyama H., Kazuyasu fujii., Osamu Y., Takashi O., Keiji I. 2001. Antibacterial
action of several tannins against Staphylococcus aureus. Journal of
antimocrobial Chemotheraphy (2001) 48: 487-491. http://
[Link]/cgi. May, 5th 2005.
Ansel, H., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat, Jakarta, UI
Press.
Cho, Y, H, Kim S, Bae EK., Mok CK., Park J. 2008. Formulation Cosurfaktan
free O/W Microemulsion Using Nonionic Surfactan Mixtures J. Food
Scl, Vol 73 (3):115-121
Djajadisastra, Joshita, et al., 2009. Formulasi Gel Topikal Dari Ekstrak neril
Folium Dalam Sediaan Anti Jerawat. Jurnal Farmasi Indonesia Vol 4
No. 4 Juli 2009: 210-216. Universitas Indonesia. Fakultas MIPA.
Gautam, D., Sharma, G., dan Goy al, R.P. (2010). Evaluation of Toxic Imp act of
Tartrazine on M ale Swiss Albino M ice. Pharmacologyonline. 1(1):
133-140.
Handa, S.S., 2008, Extraction Technologies for Medicinal and Aromatic Plants,
22, UNIDO, Italy.
Jawetz, E., Melnick, J. L., & Adelberg, E. A., 2005, Mikrobiologi Kedokteran,
edisi XXII, diterjemahkan oleh Bagian Mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga, 205, 235, Penerbit Salemba Medika,
Jakarta.
Lucida, H., Salman dan Hervian M.S., 2008, Uji Daya Peningkat Penetrasi Virgin
Coconut Oil (VCO) Dalam Basis Krim, Jurnal Sains dan Teknologi
Farmasi, 1, 13, ISSN 1410-0177
Manik, D. F., Hertiani, T., Anshory, H, Analisis Korelasi Antara Kadar Flavonoid
Dengan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Fraksi-Fraksi Daun
Kersen (Muntingi calabura L.) Terhadap Staphylococcus aureus. Vol 6
No. 2 Januari 2014
Martin, A., Swarbrick, J., and Cammarata, A. 1993. Physical Pharmacy. 3rd ed
Philadelphia: Lea & Febriger
Naim, R. 2004. “senyawa antimikroba dari tanaman” http: //www. kompas. com/
kompascetak/0409/15/sorotan/[Link]. Diakses Tanggal 5 Januari 2017.
Nindhin, M., Indumathy, R.,Sreeram, K.J., and Nair B. U. 2008. Synthetis of Iron
Oxid Nanoparticles of Narrow Size Distribution of Polisacaridde
Template. Bull. Matter. Sci 31:93-96
Novak, Joseph D. & Cañas, Alberto J. (2006). "The Theory Underlying Concept
Maps and How To Construct and Use Them", Institute for Human and
Machine Cognition. Accessed 24 Nov 2008.
Perry, L. M., 1980. Medicinal Plant of East and Southeast Asia, The MIT Press,
Cambridge Massachusetts and London English, 132.
Perry, R.H. 1984. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook 6 ed. New York:
[Link] Hill Book Company, Inc.
Robinson, T., 1991. The Organic Constituen of Higher Plants. 6th Edition.
Department of Biochemistry. Universitas of Masschussets.
Rostamailis. 2005. Perawatan Badan Kulit dan Rambut. Jakarta: Rineka Cipta.
Suprastiwi, E., 2006, Efek Antimikroba Polifenol dari Teh Hijau Jepang terhadap
Streptococcus Mutans, Laporan Penelitian: [Link] Gigi FKG-
UI
Ulya et al., 2015. Uji Aktivitas Antibakteri dan Antibiofilm Minyak Atsiri
Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roscoe) terhadap Bakteri
Staphylococcus epidermidis. Jember: Fakultas Farmasi, Universitas
Jember.
Steenis, CGGJ van. 2003. Flora, untuk sekolah di Indonesia. Pradnya Paramita,
Jakarta.
Verheij E.W.M. and Coronel, R.E (Ed). 1992. Plant Resources of South-East Asia.
No.2. Edible Fruits and Nuts. Prosea Foundation. Bogor. Indonesia.
p186-190.
William PC, Raquel OR, Demetrio RV., 2015., Bioactive Metabolite Profile and
antibacterial activity of ethanolic extracts from Muntingia calabura L.
leaves and steems. Int J. Tropical Biomedicine [Page 682-685]
97
Zakaria ZA, Fatimah CA, Mat Jais AM, Zaiton H, Henie EFP, Sulaiman
MR, Somchit MN, Thenamutha M, Kasthuri D., 2006., The In Vitro
Antibacterial Activity Of Muntingia Calabura Extracts. Int. [Link].
2(4): 439-442.
Zakaria ZA, Sani HM, Arafah AK, The LK Salleh ZM., Antinociceptive effect of
Semi-purified Petroleum ether partition of Muntingia calabura leaves. In
J. Pharmacognosy [page 408-419] Brazilian Journal of Pharmacognosy
Zatz, J.L. and G.P. Kushla, 1989, Gels, in: Pharmaceutica l Dosage Forms, H.A.
Lieberman, M.M. Rieger, G.S. Banker (Eds.), vol. 2, Marcel Dekker,
New York, 495-508.
Daun Kersen
- Dicuci bersih
- Dikeringkan dengan cara dianginkan
- Dikeringkan di dalam rumah kaca selama 1 minggu
dan tidak terkena matahari langsung
- Dihaluskan dengan penggiling
- Diayak dengan ayakan 60 mesh
Hasil
50 gram sampel
- Dimasukkan kedalam erlenmeyer
- Ditambahkan 500 ml etanol
- Dimasukkan kedalam sonikasi selama 18 menit
- Disaring menggunakan kertas saring
- Dirotav pada suhu 50oC dengan rotary evaporator
Hasil
1 mg ekstrak sampel
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
- Ditambah logam Mg dan4-5 tetes HCl pekat
Jingga/merah
Hijau kehitaman
99
Hasil
3 gram media NA
- Dilarutkan dengan 250 ml aquadest dalam erlenmeyer
- Dipanaskan dan diaduk menggunakan magnetic stirer
- Disterilkan dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit
- Dimasukkan dalam cawan petri hingga memadat
Hasil
100
Hasil
Hasil
Hasil
101
Lampiran 2. Perhitungan
l.5.4 FeCl3 1%
1 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑚𝑎𝑠𝑎𝑎 𝐹𝑒𝐶𝑙3 = × 10 𝑚𝑙 = 0,1 𝑔𝑟𝑎𝑚
100 𝑚𝑙
a. Ditimbang sebanyak 0,1 gram FeCl3 menggunakan neraca analitik
b. Dilarutkan FeCl3 menggunakan aquadest sebanyak 5 ml dalam gelas beker
50 ml.
c. Dimasukkan larutan dalam labu ukur 10 ml dan ditambahkan aquadest
sampai tanda batas, kemudian dihomogenkan.
102
pengamata F1 F2 F3
n R1 R2 R3 R1 R2 R3 R1 R2 R3
Homogenit HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG
as
Warna KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK
Bentuk Semis Semi Semis Semis Semis Semis Semis Semis Semis
olid solid olid olid olid olid olid olid olid
Bau Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas
Endapan - - - - - - - - -
Pengamata F1 F2 F3
n R1 R2 R3 R1 R2 R3 R1 R2 R3
Homogenit HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG
as
Warna KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK
Bentuk Semis Semi Semis Mem Memb Memb Memb Memb Membe
olid solid olid beku eku eku eku eku ku
Bau Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas
Endapan - - - - - - - - -
Pengamata F1 F2 F3
n R1 R2 R3 R1 R2 R3 R1 R2 R3
Homogenit HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG HMG
as
Warna KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK KJK
Bentuk Semis Semi Semis Semis Semisol Semisol Semis Semis Semis
olid solid olid olid id id olid olid olid
Bau Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas
Endapan - - - - - - - - -
110
UjiPh
Formula Minggu
1 2 4 8
F1a 5.43 5.92 5.82 5.75
F1b 5.58 6.10 5.97 5.89
F1c 5.63 6.12 5.87 5.62
Rata-rata 5.54 6.04 5.88 5.75
Nilai SD 0.10 0.11 0.07 0.13
F2a 5.79 6.10 5,94 5.70
F2b 5.79 6.25 6,13 5.81
F2c 5.81 6.22 6,18 6.03
Rata-rata 5.79 6.19 6.08 5.84
Nilai SD 0.01 0.07 0.12 0.16
F3a 5.65 5.83 5,71 5.68
F3b 6.15 6.51 6,23 5.86
F3c 6.58 6.75 6,64 6.38
Rata-rata 6.12 6.36 5.97 5.97
Nilai SD 0.46 0.47 0.46 0.36
111
Lampiran 5
Uji Normalitas
Tests of Normal ity
a
Kolmogorov -Smirnov Shapiro-Wilk
St at ist ic df Sig. St at ist ic df Sig.
pH sebelum ,231 9 ,180 ,849 9 ,072
a. Lillief ors Signif icance Correction
Oneway
Descriptives
pH sebelum
95% Confidence Interv al for
Mean
N Mean Std. Dev iation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum
5% 3 5,8100 ,08000 ,04619 5,6113 6,0087 5,73 5,89
10% 3 5,9433 ,08021 ,04631 5,7441 6,1426 5,86 6,02
15% 3 6,2067 ,43822 ,25300 5,1181 7,2953 5,72 6,57
Total 9 5,9867 ,28596 ,09532 5,7669 6,2065 5,72 6,57
pH sebelum
Lev ene
St at ist ic df 1 df 2 Sig.
2,748 2 6 ,142
ANOVA
pH sebelum
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups ,244 2 ,122 1,790 ,246
Within Groups ,410 6 ,068
Total ,654 8
Multiple Comparisons
Mean
Diff erence 95% Confidence Interv al
(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
Tukey HSD 5% 10% -,1333 ,21337 ,812 -,7880 ,5213
15% -,3967 ,21337 ,230 -1,0513 ,2580
10% 5% ,1333 ,21337 ,812 -,5213 ,7880
15% -,2633 ,21337 ,478 -,9180 ,3913
15% 5% ,3967 ,21337 ,230 -,2580 1,0513
10% ,2633 ,21337 ,478 -,3913 ,9180
pH sebelum
Subset
f or alpha
= .05
Konsentrasi N 1
Tukey HSDa 5% 3 5,8100 6,3
10% 3 5,9433
6,2
15% 3 6,2067
Sig. ,230 6,1
10% 3 5,9433
Mean of pH sebelum
5,9
15% 3 6,2067
Sig. ,123 5,8
UjiNormalitas
Oneway
Descriptives
pH sesudah
95% Conf idence Interv al f or
Mean
N Mean St d. Dev iation St d. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum
5% 3 5,7900 ,16000 ,09238 5,3925 6,1875 5,63 5,95
10% 3 6,2333 ,07024 ,04055 6,0589 6,4078 6,16 6,30
15% 3 6,0900 ,45508 ,26274 4,9595 7,2205 5,63 6,54
Total 9 6,0378 ,31272 ,10424 5,7974 6,2782 5,63 6,54
pH sesudah
Lev ene
St at ist ic df 1 df 2 Sig.
2,169 2 6 ,195
ANOVA
pH sesudah
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups ,307 2 ,154 1,938 ,224
Within Groups ,475 6 ,079
Total ,782 8
Mean
Diff erence 95% Confidence Interv al
(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
Tukey HSD 5% 10% -,4433 ,22980 ,211 -1,1484 ,2618
15% -,3000 ,22980 ,443 -1,0051 ,4051
10% 5% ,4433 ,22980 ,211 -,2618 1,1484
15% ,1433 ,22980 ,813 -,5618 ,8484
15% 5% ,3000 ,22980 ,443 -,4051 1,0051
10% -,1433 ,22980 ,813 -,8484 ,5618
115
pH sesudah
Subset
f or alpha
= .05
6,3
Konsentrasi N 1
Tukey HSDa 5% 3 5,7900 6,2
15% 3 6,0900
6,1
10% 3 6,2333
Sig. ,211 6,0
Duncana 5% 3 5,7900
Mean of pH sesudah
10% 3 6,2333
5,8
Sig. ,112
5,7
Means for groups in homogeneous subsets are display ed. 5% 10% 15%
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.
Konsentrasi
T-Test konsentrasi 5%
Paired Samples Statistics
St d. Error
Mean N St d. Dev iation Mean
Pair pH sebelum 5,8100 3 ,08000 ,04619
1 pH sesudah 5,7900 3 ,16000 ,09238
N Correlation Sig.
Pair pH sebelum &
3 1,000 ,000
1 pH sesudah
St d. Error
Mean N St d. Dev iation Mean
Pair pH sebelum 5,9433 3 ,08021 ,04631
1 pH sesudah 6,2333 3 ,07024 ,04055
N Correlation Sig.
Pair pH sebelum &
3 1,000 ,007
1 pH sesudah
St d. Error
Mean N St d. Dev iation Mean
Pair pH sebelum 6,2067 3 ,43822 ,25300
1 pH sesudah 6,0900 3 ,45508 ,26274
N Correlation Sig.
Pair pH sebelum &
3 ,974 ,145
1 pH sesudah
T-Test
117
One-Sample Statistics
St d. Error
N Mean St d. Dev iation Mean
pH sebelum 3 6,2067 ,43822 ,25300
pH sesudah 3 6,0900 ,45508 ,26274
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
One-way
Descriptives
Zonahambat
2.864 3 8 .104
ANOVA
zonahambat
Total 202.969 11
zonahambat
Tukey HSD
Homogeneous Subsets
Diameter Zona Hambat
Means Plots
20
Mean of Diameter Zona Hambat
10
0
K Neg K Pos 5% 10% 15%
Kelompok
Mencari F tabel :
Df1 = K-1
= 8-1 f tabel = 237
Df2 = n-k
=1
120
Lampiran 6
Nilai
Karakteristik Formula
1 2 3 4
F1
F2
Warna
F3
F4
F1
F2
Bau
F3
F4
F1
F2
Tekstur
F3
F4
Lampiran Span 80
133
134
135
136