Toksisitas Senyawa Benzena dan Bahayanya
Toksisitas Senyawa Benzena dan Bahayanya
Disusun oleh :
Kelompok 3
Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-
Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Salawat beserta
salam tidak lupa pula penulis ucapkan kepada nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita
kembali ke jalan Allah SWT.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Toksikologi Lingkkungan Dan Industri yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan. Dimana
dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai Toksisitas Senyawa Benzena . Penulis
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya sehingga dapat menambah
pengetahuan kita semua.
Akhir kata penulis mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam makalah ini, karena
penulis masih dalam proses pembelajaran. Untuk itu penulis menerima saran dan kritikan dari
pembaca sebagai batu loncatan bagi penulis untuk pembuatan makalah kedepannya.
Penulis
i
DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................................................1
BAB 2 PEMBAHASAN...............................................................................................................3
2.1 Benzena.............................................................................................................................3
2.9.1 Absorbsi...................................................................................................................10
2.9.3 Metabolisme............................................................................................................11
ii
2.9.4 Ekskresi....................................................................................................................11
BAB 3 PENUTUP.......................................................................................................................17
3.1 KESIMPULAN..............................................................................................................17
3.2 SARAN...........................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................18
LAMPIRAN..................................................................................................................................19
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Manusia dan makhluk hidup lainnya sering terpapar/terpajan (exposed) banyak jenis bahan
alami maupun bahan buatan manusia. Jenis bahan tersebut ada yang bersifat racun ataupun
aman. Keracunan berarti keadaan dimana tubuh seseorang sedang mengalami gangguan
diakibatkan suatu zat atau bahan kimia yang tentunya bersifat racun atau tidak aman. Bahan atau
zat yang beracun ini disebut toksik, sedangkan ilmu yang mempelajari batas aman dari bahan
kimia adalah toksikologi (Casarett and Doulls, 1996). Sangat banyak jenis zar beracun yang ada
di dunia ini, salah satunya adalah senyawa benzene dan turunannya.
Benzena ditemukan pada tahun 1825 oleh seorang ilmuwan Inggris, Michael Faraday, yang
mengisolasikannya dari gas minyak dan menamakannya bikarburet dari hidrogen. Pada tahun
1833, kimiawan Jerman, Eilhard Mitscherlich menghasilkan benzena melalui distilasi asam
benzoat (dari benzoin karet/gum benzoin) dan kapur. Mitscherlich memberinya nama benzin.
Pada tahun 1845, kimiawan Inggris, Charles Mansfield, yang sedang bekerja di bawah August
Wilhelm von Hofmann, mengisolasikan benzena dari tir (coal tar). Empat tahun kemudian,
Mansfield memulai produksi benzena berskala besar pertama menggunakan metode tir tersebut.
Benzena adalah senyawa kimia organik yang merupakan cairan tak berwarna dan mudah
terbakar serta mempunyai bau yang manis. Benzena adalah sejenis karsinogen. Benzena adalah
salah satu komponen dalam bensin dan merupakan pelarut yang penting dalam dunia industri.
Benzena juga adalah bahan dasar dalam produksi obat-obatan, plastik, bensin, karet buatan, dan
pewarna. Selain itu, benzena adalah kandungan alami dalam minyak bumi, namun biasanya
diperoleh dari senyawa lainnya yang terdapat dalam minyak bumi.
Pemanfaatan benzena dalam berbagai bidang kehidupan dan proses industrialisasi yang
memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, biologi yang akan menghasilkan buangan dalam bentuk
gas, cair, dan padat yang meningkat. Buangan ini tentunya akan menimbulkan perubahan
kualitas lingkungan yang mengakibatkan resiko pencemaran dan keracunan zat sehingga resiko
toksikologi juga akan meningkat.
Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dibahas lebih dalam mengenai toksisitas dari
senyawa benzena, dimulai dari jalur pemajanan hingga toksisitas dinamik dan toksisitas
kinetiknya.
1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan
makalah ini diantaranya :
1. Apa irtu benzene?
2. Bagaimana struktur benzene?
3. Bagaimana sifat kimia dan fisika benzene?
4. Berapa NAB Benzena?
5. Berapa Dosis respon benzene?
6. Bagaimana efek toksisitas benzene?
7. Bagaimana fase eksposisi benzene?
8. Bagaimana toksikokinetik senyawa benzene?
9. Bagaimana toksikodinamik senyawa benzene?
2
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Benzena
Benzena merupakan senyawa aromatik tersederhana. Cincin benzena dianggap sebagai
induk sama seperti alkana rantai lurus. Gugus alkil, halogen dan gugus nitro dinamai dalam
bentuk awalan pada benzena itu. Untuk pertama kalinya benzena diisolasi pada tahun 1825 oleh
Michael Faraday dari residu minyak yang tertimbun dalam pipa induk gas di London. Dewasa ini
sumber utama benzena, adalah benzena yang tersubstitusi dan senyawa aromatik lain adalah
petroleum. Sampai tahun 1940, batu bara merupakan sumber utama. Bermacam-macam senyawa
aromatik yang diperoleh dari sumber ini adalah hidrokarbon, fenol dan senyawa heterosiklik
aromatik ( Pudyoko S, 2010: Fesenden et al. 1991).
rumus molekul C6H6. Rumus molekul benzena memperlihatkan sifat ketidakjenuhan dengan
adanya ikatan [Link] ketika dilakukan uji bromine benzena tidak memperlihatkan sifat
ketidakjenuhan karena benzena tidak melunturkan warna dari air bromine. Hal ini membuat
benzena istimewa.
Berdasarkan hasil analisis, ikatan rangkap dua karbon-karbon pada benzena tidak
terlokalisasi pada karbon tertentu melainkan dapat berpindah-pindah. Gejala ini disebut
resonansi. Adanya resonansi pada benzena ini menyebabkan ikatan pada benzena menjadi stabil,
sehingga ikatan rangkapnya tidak dapat diadisi oleh air bromine (Hetiny, 2011).
3
2.3 Sifat Fisika dan Kimia
Seperti hidrokarbon alifatik dan alisiklik, benzena dan hidrokarbon aromatik lain bersifat
non polar. Mereka tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelaut organik seperti dietil eter, karbon
tetraklorida atau heksana. Benzena merupakan senyawa aromatik hidrokarbon yang mempunyai
rantai karbon tertutup dengan 6 atom hidrogen yang mempunyai sifat tidak jenuh. Benzena
sendiri digunakan secara luas sebagai palarut. Benzena secara umum disebut sebagai benzol
yang merupakan cairan yang tidak berwarna dengan bau yang segar. Senyawa benzena memiliki
sifat yang berguna yakni membentuk azetrotop dengan air (azetotrop yakni campuran yang
tersuling pada susunan konstan terdiri dari 91% benzena, 9% air dan mendidih pada 69,4oC).
Senyawa yang larut dalam benzena mudah dikeringkan dengan menyuling azetrorop
tersebut. Benzena menguap keudara dengan sangat cepat dan cepat terlarut didalam air. Benzena
sangat mudah terbakar. Secara umum orang dapat mencium bau benzena mulai dari konsentrasi
60 ppm sampai dengan 100 ppm dan untuk dapat merasakan benzena di air pada konsentrasi 0,5
– 4,5 ppm (Fesenden 1991).
4
2. Berat molekul 78.11 gr/mol
o
3. Titik nyala ‐11,1 C
o
4. Titik leleh 5,5 C
o
5. Titik didih 80,1 C
6. Berat jenis pada suhu 15oC 0,8787 gl/L
o
7. Kelarutan dalam air pada 25 C188% (w/w) atau 1,8 gr/L
8. Kelarutan dalam pelarut Alkohol, kloroform, eter, karbon
sulfida, aseton, minyak, karbon
tetraklorida, asam asetat glasial
9. Klasifikasi NFPA Kesehatan = 2, Penyalaan = 3,
Reaktivitas = 0
10. Klasifikasi HMIS (USA) Kesehatan = 2, Penyalaan = 3,
Reaktivitas = 0
11. Batas penyalaan Batas atas 7.8%, batas bawah 1.2%
12. Batas Paparan - ACGIH (TWA:0,5 ; STEL:2,5 ppm)
- NIOSH (TWA:1,6 STEL: 1 ppm)
- OSHA (TWA:1, STEL:5ppm
Sumber : MSDS Benzene from Science Laboratory, USA
5
Benzena pertama kali diproduksi secara komersial dari coal tar pada tahun 1849 dan dari
minyak pada tahun 1941. Setelah Perang Dunia II, kebutuhan benzena bagi industri sangat besar,
terutama untuk kebutuhan industri plastik, sehingga benzena kemudian diproduksi secara besar-
besaran dari industri minyak bumi. Terdapat empat proses kimia dalam produksi benzena :
catalytic reforming,
toluene hydrodealkylation , toluene disproportionation, dan steam cracking (ATSDR, 2007).
Benzena merupakan salah satu senyawa kimia yang paling banyak digunakan dalam
industri di dunia. Di Amerika Serikat, benzena merupakan salah satu dari 20 zat kimia terbanyak
yang diproduksi. Benzena digunakan secara luas sebagai pelarut dan industri obat sebagai bahan
baku atau bahan intermediet dalam pembuatan banyak senyawa kimia, dan juga sebagai zat aditif
pada bensin. Penggunaan utama benzena adalah untuk produksi etilbenzena, cumene, dan
sikloheksan. Etil benzena (penggunaan 55% benzena yang diproduksi) adalah senyawa
intermediet untuk pembentukan stirena, yang digunakan untuk pembentukan plastik. Cumene
(24%) digunakan untuk memproduksi fenol dan aseton. Fenol digunakan untuk membuat resin
dan nylon sebagai serat sintetik, sementara aseton digunakan sebagai pelarut dan industri obat.
Sikloheksan (12%) digunakan untuk membual nylon. Benzena juga merupakan salah satu
komponen dalam bensin tanpa timbal untuk meningkatkan nilai oktan bensin, oleh karena itu
polusi udara yang disebabkan senyawa aromatik terutama benzena dalam bensin tanpa timbal
meningkat (ATSDR,2007).
EPA telah menggolongkan benzena sebagai zat karsinogenik terhadap manusia (GrupA)
(EPA, 1998). Karena penggolongan oleh EPA ini, di masa sekarang penggunaan benzena sebagai
pelarut semakin dibatasi, tetapi diganti oleh pelarut organik lain. Tetapi, karena benzena masih
tetap terdapat dalam pelarut organik pengganti ini sebagai impuritis (pengotor), maka manusia
masih dapat terpapar oleh benzena di lingkungan kerja. Benzena juga digunakan dalam
industri pembuatan sepatu dan industri percetakan (ATSDR, 2007). Sebagai zat aditif pada
bensin, benzena dapat meningkatkan nilai oktan. Konsekuensinya adalah bensin mengandung
benzena beberapa persen, ketika pada tahun 1950-an diganti oleh Tetraetil timbal sebagai zat anti
ketuk. Tapi, karena timbal (Pb) juga merupakan zat berbahaya, maka benzena kembali digunakan
sebagai aditif pada bensin di beberapa negara.
6
2.5 Nilai Ambang Batas Benzena
7
2.6 Dosis Respon Benzena
IRIS (Integrated Risk Information System) telah menetapkan dosisi respon benzena yang
diperbolehkan RfD dan Rfc. RfD atau reference dose benzena adalah batas dosis respon melalui
jalur ingesti yaitu sebesar 4x10-3 mg/kg/hari .Sedangkan Rfc adalah batas dosis respon benzena
melalui jalur inhalasi adalah 0,03 mg/m3. (IRIS, 2003)
8
melalui inhalasi menyebabkan terjadinya vascular congestion pada otak. Paparan inhalasi kronis
dapat menyebabkan terjadinya distal neuropathy, susah tidur, dan kehilangan memori. Paparan
melalui oral mempunyai efek yang sama dengan pajanan melalui inhalasi. Studi pada hewan
menyatakan bahwa paparan benzena melalui inhalasi menyebabkan berkurangnya aktivitas
listrik di otak, kehilangan refleks, dan tremor. Paparan benzena melalui kulit tidak menyebabkan
kerusakan pada syaraf. Paparan akut melalui oral dan inhalasi dengan kadar benzena tinggi dapat
menyebabkan kematian, yang berhubungan dengan depresi sistem syaraf pusat (SSP).
Paparan tingkat rendah yang kronis berhubungan dengan efek terhadap sistem syaraf
peripheral. Paparan kronis benzena menyebabkan toksisitas yang lebihbesar dibandingkan
paparan akut, karena paparan ini dapat terjadi pada kadar di bawah ambang batas. Paparan pada
lingkungan kerja lebih banyak melalui pernafasan (inhalasi), selain melalui ingesti (tertelan) dan
melalui kulit. Gejala dan tanda keracunan kronis ini dapat muncul dengan cepat, tapi periode
laten dari benzena ini adalah selama 29 tahun, yaitu sejak paparan terakhir hingga toksisitasnya
dalam tubuh hilang (Hamilton [Link]. 2003).
2.9.1 Absorbsi
Benzena yang masuk melalui inhalasi apabila tidak segera dikeluarkan melalui ekspirasi,
maka akan diabsorpsi ke dalam darah. Benzena larut dalam cairan tubuh dalam konsentrasi
sangat rendah dan secara cepat dapat berakumulasi dalam jaringan lemak karena kelarutannya
yang tinggi dalam [Link] benzena mudah diabsorpsi oleh darah, yang sebelumnya diabsorpsi
dengan baik oleh jaringan lemak.
Absorbsi benzena kedalam jaringan tubuh dapat melalui beberapa cara yaitu, pernapasan
(inhalasi), melalui kulit (dermal) dan melalui saluran pencernaan (gastrointestinal).
9
1. Inhalasi (penafasan)
Benzena masuk ke dalam tubuh dalam bentuk uap melalui inhalasi, dan absorpsi terutama
melalui paru-paru, jumlah yang diinhalasi sekitar 40-50% dari keseluruhan jumlah
benzena yang masuk ke dalam tubuh. Benzena mudah diabsorpsi melalui pernafasan,
ketahanan paru-paru mengabsorpsi benzene mencapai lebih kurang 50% untuk beberapa
jam pada paparan di antara 2-100 cm3/ m3
2. Dermal (kontak kulit)
Diperkirakan dari studiin vitro yang dilakukan pada kulit manusia, bahwa absorpsi gas
benzena melalui kulit, lebih kecil dibandingkan dengan total absorbsi, tetapi absorpsi dari
gas benzena dapat merupakan rute paparan yang signifikan. Ada penemuan yang
menyatakan bahwa kontak melalui kulit merupakan rute utama absorpsi benzena pada
pekerja yang terpapar bensin cair
3. Gastrointestinal (pencernaan)
Absorpsi benzena yang efektif melalui pencernaan dapat mengakibatkan intoksikasi akut,
walaupun data kuan titatif pada manusia masih [Link] tidak ada informasi
tentang absorpsi oral dari benzena pada larutan encer, diasumsikan bahwa absorpsi oral
dari air adalah hampir 100%.
2.9.3 Metabolisme
Metabolic pathwaydan interaksi biokimia di dalam tubuh melaluiserangkaian reaksi biokimia.
Benzena dioksidasi pertama-tama di dalam hati (liver) oleh cytochrome P-450-monooksigenase
menjadi benzena oksida. Setelah reaksi ini, beberapa metabolit sekunder terbentuk
secara enzymatis dan nonenzymatis.
10
Metabolit adalah bahan yang dihasilkan secara langsung oleh reaksi biotransfusi. Setelah reaksi
oksidasi ini, beberapa metabolit sekunder akan terbentuk secara enzimatik dan non-enzimatik.
Biotransformasi benzena dalam tubuh berupa metabolit akhir yang utama adalah fenol yang
diekskresi lewat urin dalam bentuk terkonjugasi dengan asam sulfat atau glukuronat Sejumlah
kecil dimetabolisme menjadi kathekol, hidrokuinon, karbon dioksida, dan asam [Link]
metabolisme benzena .
2.9.4 Ekskresi
Eliminasi benzena dalam tubuh melalui eksresi dan ekhalasi, benzene terutama
dieksresikan di dalam urine sebagai metabolit khususnya konjugasi phenol dan glucuronic dan
sulphuric acid, dan ekhalasi ke udara dalam bentuk yang tidak berubah.
Diperkirakan sesudah terpajan benzene di tempat kerja pada tingkat 100 cm3/m3,
sejumlah 13,2% fenol, 10,2% quinol, 1,9 % t.t-mucowc acid, 1,6 % kathekol, dan 0,5% 1,2,4,-
benzenatriol dari jumlah yang diabsorpsi, diekskresikan lewat urin sesudah jam kerja. Proporsi
benzena yang diabsorpsi kemudian dieksresikan melalui ekshalasi adalah 8-17%. Sejumlah kecil
benzena juga terdeteksi dalam urin
Eliminasi benzena di tempat kerja mengikuti kinetika reaksi orde satu, waktu paruh
tergantung pada disposisi benzena pada beberapa bagian [Link] paruh yang lebih pendek
dilaporkan kira-kira 10-15 menit, sedang 40-60 menit, dan lama 16-20 [Link] dari benzena
yang diabsorpsi tanpa diubah adalah 12-50% lewat udara ekspirasi dan kurang dari 1% lewat
[Link] rata-rata fenol yang dieliminasi adalah sekitar 30% dari dosis yang diabsorpsi.
Untuk benzena yangtidak mengalami reaksi metabolisme, proses berlangsung reversibel, dan
benzene diekskresikan melalui paru-paru.
11
paparan. Paparan akut (14 hari atau kurang), paparan intermediet (15 -364 hari), paparan kronis
(lebih dari 365 hari).
12
leukemia akut). Efek kronik benzena lebih berbahaya pada anak-anak karena mereka memiliki
periode laten yang lebih panjang (ATSDR, 2007).
sedang (kurang lebih 120 mg/m3) mempunya jumlah sel darah putih dan merah yang lebih
rendah jika dibandingkan dengan pekerja yang terpapar benzena lebih rendah.
Pada studi terhadap sekelompok pekerja yang terpapar benzena dengan kadar 0,03 - 4,5
mg/m3, didapatkan tidak terdapat perbedaan haematologikal dengan pekerja yang tidak terpapar,
hal ini sesuai dengan literatur dari WHO yang menyatakan tidak ada efek terhadap sum-sum
tulang atau timbulnya anemia pada pekerja yang terpapar benzena selama 3,2 mg/m 3 (1 ppm)
atau kurang dari itu selama 10 tahun (WHO,2000).
13
2.10.6 Efek Reproduksi
Walaupun benzena dapat menembus plasenta, tapi tidak terdapat bukti tentang efek
teratogenik (efek pada janin) dan efek reproduktif (efek pada sistem reproduksi) manusia,
meskipun terdapat studi yang menyatakan paparan benzena kadar tinggi dapat menyebabkan
terganggunya siklus menstruasi. Pada studi tentang paparan benzena yang kurang dari 15 mg/m3
terhadap istri dari 823 pekerja pria, ditemukan tidak ada aborsi spontan yang terjadi.
14
Pengujian terhadap individu yang terpapar benzena dilakukan dengan menguji
keberadaan fenol dalam urin. Individu yang normal (tidak terpapar benzena) mengekskresikan
kurang dari 10 mg/L fenol. Pengujian dengan menggunakan fenol dalam urin ini dapat
digunakan walaupun pekerja tidak menyadari adanya paparan benzena karena benzena mungkin
hanya merupakan kontaminan dalam pelarut lain yang digunakan dalam industri. Fakta ini
dibuktikan oleh studi mengenai paparan benzena yang signifikan terhadap 33 pekerja wanita
yang menyatakan tidak menggunakan benzena sebagai pelarut dalam industrinya (Hamilton, et
al. 2003). Paparan benzena juga dapat diperkirakan dengan mengukur phenylmercapturic acid
(asam fenilmerkapturat) dan t,t-muconic acid dalam tubuh pekerja (Maria K, 2012).
leukemia. Sehingga, pekerja yang terpajan 3.2 mg/m 3 (1 ppm) benzena selama 40 tahun (40
ppm-tahun) akan berisiko 1.7 kali dibandingkan yang tidak terpapar.
bentuk radikal bebas yang paling berbahaya adalah anion superoksida (O2), hydroksi radikal
(OH) dan asam hipoklorit (HOCl) dan hydrogen peroksida (H 2O2). Adanya radikal bebas di
dalam hati dapat menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid yang dapat menimbulkan fibrosis
hati. Fibrosis ini terjadi sebagai respon dari sel kupfer sebagai makrofag di hati ( Abd Ellah et al,
2007). Sel-sel kupfer berfungsi untuk fagositosis dan presentasi antigen. Sel kupfer kemudian
akan mengeluarkan sitokin sebagai respon terhadap stres hepatoseluler yaitu Interleukin-1,
15
Interleukin-6 dan TNF-α. (Vrba & Modriansky, 2002). Jika stres oksidatif yang terjadi adalah
berat, maka seluruh struktur sel yang mayor terutama mitokondria dan protein sitoskeleton,
makromolekuler (DNA, lipid dan enzim) dapat teroksidasi, sehingga akhirnya rusak dan menjadi
inaktif yang berujung pada kematian sel. (Abd Ellah et al 2007).
16
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Benzena merupakan senyawa aromatik tersederhana. Benzena merupakan suatu
cairan yang tidak berwarna dengan bau yang manis (sweet odor), mudah menguap di
udara, larut dalam air dan mudah terbakar. Benzen memiliki dampak terhadap tubuh
apabila sudah terpapar. Paparan benzena terhadap tubuh mempunyai dampak yang
sangat buruk pada kesehatan antara paparan benzena yang berasal dari pelarut yang
mengandung benzena dengan kejadian acute myelogenous leukemia . Paparan benzen
dapat terjadi melalui inhalasi, pencernaan dan kontak kulit. Oranv yang terkena
paparan benzen berdampak pada kesehatan. Efek kesehatan disini terbagi menjadi
beberapa paparan, tergantung pada durasi /lama paparan. Paparan akut (14 hari atau
kurang), paparan intermediet (15 -364 hari), paparan kronis (lebih dari 365 hari).
Paparan benzen dapat terjadi pada industri percetakan, pembuatan sepatu,
pengolahan karet, dan pembuatan jas hujan pada proses kimianya. Efek paparan akan
terjadi secara akut, kronis, haematoksisitas dan depresi sum-sum tulang. Benzen
memiliki baku mutu lingkungan atau nilai ambang batas (NAB) dan dosis respon.
Nilai ambang batas pada benzen sebesar 10ppm atau 32 mg/m3. Sedangkan menurut
EPA mengatakan 5 ppb sebagai batas maksimum kadar benzena dalam air minum.
Sedangkan, Dosis respon pada benzen yamg diperbolehkan pada Rfd atau Rfc. RfD
atau reference dose benzena adalah batas dosis respon melalui jalur ingesti yaitu
sebesar 4x10-3 mg/kg/hari. Sedangkan Rfc adalah batas dosis respon benzena melalui
jalur inhalasi adalah 0,03 mg/m3.
3.2 SARAN
Dalam menggunakan senyawa benzena harus berhati hati karena benzena dapat menyebabkan
karsionegik dan kematian,oleh sebab itu dalam penggunaan nya harus seperlunya digunakan.
17
DAFTAR PUSTAKA
Http://[Link]/file?file=digital/20294860-S-Rendy%20Noor%[Link]
Http://[Link]/article/80-penyakit-akibat-kerja-yang-disebabkan-oleh-benzena
Hayat, Irmayanti. 2012. Analisis Besaran Resiko Kesehatan Terhadap Paparan Benzena Pada
Petugas SPBU. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Diunduh
melalui website [Link] Pada Tanggal 16 Februari 2019.
[Link]
Tonnyangga. 2011. Benzena Dan Turunannya. Benzena Dan Turunannya Tonnyangga Weblog.
Zulfikar. 2010. Sifat-Sifat Benzena Dan Turunannya. Sifat-Sifat Benzen Dan [Link]-
[Link] situs kimiia indonesia
18
LAMPIRAN
Data kontribusi anggota kelompok dalam menyusun makalah yang berjudul Toksisitas senyawa
Benzene ini adalah :
1. Rosya Triana Dinata ( 1611211009)
Berkontribusi dalam mencari dan memperoleh informasi mengenai benzena, struktur
benzena dan sifat fisika dan kimia senyawa benzena
2. Dilla Intan Gustiani (1611211021)
Berkontribusi dalam mencari dan memperoleh informasi mengenai toksiko kinetik
Senyawa benzena
3. Annisa (1611211042)
Berkontribusi dalam mencari dan memperoleh informasi mengenai toksiko dinamik
Senyawa benzena
4. Athia Khairiyah (1611212039)
Berkontribusi dalam mencari dan memperoleh informasi mengenai sumber dan
pemanfaatan Dan nilai ambang batas Benzena
5. Rivanni Aftanisa (1611213029)
Berkontribusi dalam mencari dan memperoleh informasi mengenai Dosis respon efek
toksisitas dan fase eksposisi senyawa benzena
19