0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan13 halaman

Pengujian Densitas Suspensi Semen

Dokumen ini membahas tentang pengujian densitas suspensi semen dengan menambahkan zat aditif seperti barite dan bentonit. Dilakukan pengukuran densitas menggunakan mud balance dan dibandingkan hasilnya dengan perhitungan teoritis. Ditemukan adanya perbedaan antara hasil pengukuran dan perhitungan.

Diunggah oleh

dafiq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan13 halaman

Pengujian Densitas Suspensi Semen

Dokumen ini membahas tentang pengujian densitas suspensi semen dengan menambahkan zat aditif seperti barite dan bentonit. Dilakukan pengukuran densitas menggunakan mud balance dan dibandingkan hasilnya dengan perhitungan teoritis. Ditemukan adanya perbedaan antara hasil pengukuran dan perhitungan.

Diunggah oleh

dafiq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

16

BAB III
PENGUJIAN DENSITAS SUSPENSI SEMEN

3.1. TUJUAN PERCOBAAN


1. Mengetahui densitas suspensi semen dengan menggunakan alat mud
balance
2. Mengetahui efek penambahan zat aditif terhadap densitas suspensi
semen

3.2. DASAR TEORI


Densitas suspensi semen didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah
berat bubuk semen, air pencampur dan aditif terhadap jumlah volume bubuk
semen, air pencampur dan aditif.
Dirumuskan sebagai berikut:
Ws  Wadd  Wair
SGS 
Vs  Vadd  Vair
dimana:
SGS = densitas suspensi semen
Ws = berat bubuk semen
Wadd = berat aditif
Wair = berat air
Vs = volume bubuk semen
Vadd = volume aditif
Vair = volume air
17

Densitas suspensi semen sangat berpengaruh terhadap tekanan hidrostatis


suspensi semen didalam lubang sumur. Apabila formasi tidak sanggup menahan
tekanan suspensi semen, maka akan menyebabkan formasi pecah sehingga akan
terjadi lost [Link] dua jenis zat additif yang berhubungan dengan control
density, yaitu Extender dan Weighting Agent. Extender adalah aditif yang
digunakan dalam suspensi semen untuk mengurangi densitas semen dan juga
berfungsi untuk menambah yield slurry. Extender yang berupa clay juga dapat
berfungsi mengurangi air bebas (free water) dalam suspensi semen, selain itu
dapat juga berupa gas yang dilarutkan dalam suspensi semen seperti
nitrogen/udara yang hasilnya memberikan compressive strength yang cukup.
Weighting Agents adalah aditif yang digunakan untuk menambah densitas
suspensi semen, berupa material dengan densitas lebih berat dari densitas suspensi
semen yang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
 Distribusi ukuran partikel dari material aditif harus cocok (compatible)
dengan ukuran partikel semen. Ukuran partikel aditif yang lebih besar dari
partikel semen akan cenderung mengendap sedangkan partikel berukuran
lebih kecil memiliki kecenderungan menambah viskositas suspensi semen
 Kadar air yang terkandung dalam material aditif tidak banyak (unhidrous)
 Material aditif harus sukar bereaksi (inert) dengan semen, baik pada saat
pencampuran dalam suspensi maupun saat proses hidrasi semen dan juga
compatible dengan aditif lain yang mungkin dicampurkan dalam semen
Densitas suspensi semen yang rendah sering digunakan dalam operasi
primary cementing dan remedial cementing guna menghindari terjadinya fracture
pada formasi yang lemah. Untuk menurunkan densitas dapat dilakukan dengan
menambahkan clay atau zat-zat kimia silikat jenis extender atau menambahkan
bahan-bahan yang dapat memperbesar volume suspensi semen, seperti pozzolan.
Sedangkan densitas suspensi semen yang tinggi digunakan bila tekanan
formasi cukup besar. Untuk memperbesar densitas dapat ditambahkan pasir
ataupun material-material pemberat kedalam suspensi semen, seperti barite.
18

Pengukuran densitas di laboratorium berdasarkan dari data berat dan


volume tiap komponen yang ada dalam suspensi semen, sedangkan di lapangan
menggunakan alat pressurized mud balance.
19

3.3. ALAT DAN BAHAN


3.3.1. Alat
 Timbangan digital
 Pressurized mud balance
 Gelas ukur
 Blender
3.3.2. Bahan
 Semen portland kelas A
 Air
 Barite
20

3.3.3. GAMBAR ALAT

Gambar 3.1 Timbangan Digital


([Link])
21

Gambar 3.2. Mixer Blender


(Laboratorium Analisa Semen Pemboran)
22

5 6 7
1 4
3
2

Keterangan:
1. Lid
2. Cup
3. Base
4. Knife dan Fulcrum
5. Rider
6. Arm Balance
7. Calibrator

Gambar 3.3. Mud Balance


(Laboratorium Analisa Semen Pemboran)
23

3.4. PROSEDUR PERCOBAAN


1. Mengkalibrasi peralatan pressurized mud balance dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
Membersihkan peralatan mud balance
Mengisi cup dengan air hingga penuh lalu ditutup dan membersihkan
bagian luarnya
Meletakkan kembali mud balance pada kedudukan semula
Menempatkan rider pada posisi skala 8.33 ppg (densitas air)
Meneliti nuovo glass, bila tidak seimbang mengkalibrasikan screw
sampai seimbang
2. Menyiapkan suspensi semen yang telah dibuat dari komposisi 600 gram
semen portland, 10 gram barite dan 197,9 ml air kemudian mengukur
densitas suspensi semen dengan menggunakan rumus:
Ws  Wadd  Wair
SGS 
Vs  Vadd  Vair

dimana:
SGS = densitas suspensi semen
Ws = berat bubuk semen
Wadd = berat aditif
Wair = berat air
Vs = volume bubuk semen
Vadd = volume aditif
Vair = volume air
3. Memasukkan suspensi semen kedalam cup mud balance, kemudian cup
ditutup dan semen yang melekat pada dinding bagian luar dibersihkan
sampai bersih.
4. Meletakkan balance arm pada kedudukan semula, kemudian atur rider
hingga seimbang.
5. Membaca skala sebagai densitas suspensi semen pengukuran.
24

3.5. HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN


3.5.1. Hasil Percobaan
Tabel III-1.
Hasil Pengukuran Densitas Suspensi Semen
Air Semen Additive (Gram) Densitas
Plug
(ml) (Gram) Barite Bentonite (Ppg)
Asisten 161 350 - - 15,5
A 161 350 2 - 16
B 162 350 4 - 15,7
C 162,197 350 6 - 15,1
D 163 350 8 - 15,5
E 163 350 10 - 15,55
F 163 350 12 - 15,7
G 164 350 14 - 15,9
H 164,199 350 16 - 16
I 172 350 - 2 15,5
J 182 350 - 4 15,05
K 192,72 350 - 6 14,8
L 203 350 - 8 14,5
M 214 350 - 10 14,61
N 225 350 - 12 14,4
O 235 350 - 14 13,8
P 246 350 - 16 13,8

3.5.2 Perhitungan
− Type semen = A
− Berat semen = 350 gram
− % Aditif = 1,7%
− Berat additive Barite = 6 gram
− BWOC Barite = 0,2

− ρ air = 1 gr cc

− ρ Barite = 4,2 gr
cc

− ρ semen = 3,14 gr cc

− WCR = 46 %
25

gr semen
 Volume Semen =
densitas semen
350
=
3,14
= 111,5 cc
gr aditif
 Volume Additive =
densitas aditif
6
=
4,2
= 1,42 cc

%WCR  (% BWOCaddX %add )


 Volume air =  Wsemen
100
46  (0,2 X (1,7)
=  350
100
= 162 ml
Ws  Wadd  Wair
 ρ teoritis =  8.33 ppg
Vs  Vadd  Vair
350  6  162
=  8.33 ppg
111,5  1,42  162
= 15,68 ppg
 ρ pengukuran = 15,1 ppg

 teoritis   pengukuran
 % kesalahan =  100%
 teoritis

15,68  15,1
=  100%
15,68
= 3,48 %

3.6. PEMBAHASAN
26

Pada praktikum kali ini yang berjudul “Pengukuran Densitas” mempunyai


tujuan yaitu untuk mengetahui pengaruh dari penambah additive terhadap densitas
dan untuk mengetahui densitas semen itu sendiri. Alat yang digunakan untuk
mengukur densitas semen ialah mud balance.
Densitas semen ialah perbandingan antara jumlah berat bubuk semen, air
pencampur dan additive terhadap jumlah volume bubuk semen, air pencampur
dan additive. Densitas semen sangat berpengaruh bagi tekanan hidrostatik (Ph),
karena Ph = 0,052 x SGS x D. SGS ialah densitas suspensi semen, jadi bila
densitas semen kecil maka tekanan hidrostatik juga akan bernilai kecil.
Tekanan hidrostatik ini sangatlah penting karena bila tekanan hidrostatik
lebih kecil dari tekanan formasi (Pf) maka ada kemungkinan fluida formasi akan
mudah masuk ke dalam semen, hal ini dapat berpengaruh terhadap sifat fisik
semen dan bila fluida yang masuk tersebut bersifat korosif maka dapat membuat
kualitas semen itu turun dan dapat mengakibatkan korosi pada peralatan
pemboran seperti casing. Namun bila tekanan hidrostatik (Ph) lebih besar dari
tekanan rekah formasi (Prf) maka dapat mengakibatkan formasi itu rekah dan
terjadi loss circulation. Jadi tekanan hidrostatik ini harus disetting di atas tekanan
formasi namun di bawah tekanan rekah formasi. Densitas semen ini berfungsi saat
berada di annulus dan casing, dalam kondisi masih berupa bubur semen. Jika
semen sudah memadat maka ia tidak memiliki tekanan hidrostatik.
Penggunaan additive juga sangat berpengaruh untuk mensetting densitas
semen. Additive yang digunakan ada dua macam yaitu weighting agent dan
extander. Weighting agent berfungsi untuk menaikkan densitas semen contohnya
barite yang digunakan dalam praktikum ini. Sedangkan extander berfungsi untuk
mengurangi densitas semen.
Pada hasil praktikum kali ini didapatkan harga densitas dari semen +
barite sebesar 15,1 ppg. Sedangkan berdasarkan perhitungan densitas teoritis
didapatkan sebesar 15,691 ppg. Dari kedua nilai densitas ini diperkirakan besar %
kesalahannya sebesar 3,91%. Foam pada semen juga bisa sangat berpengaruh
pada penurunan densitas, karena itu foam tersebut harus dihilangi sebelum
ditimbang dengan mud balance.
27

Pada hasil praktikum semua plug yang telah dibuat grafik, hasil densitas
yang didapat hampir keseluruhan benar, karena pengaruh penambahan barite pada
semen akan menaikkan densitas, sedangkan penambahan bentonite akan
memperkecil densitas semen. Kesalahan terjadi pada plug A dan B untuk plug
yang menggunakan penambahan barite karena pada plug A dan B densitasnya
menurun mungkin disebabkan penggunaan semen lama, atau kesalahan pada
pengukurannya. Sedangkan pada plug dengan penambahan bentonite terjadi
kesalahan pada plug L dan M karena densitas semennya makin bertambah bukan
mengurang, mungkin disebabkan karena kesalahan pengukuran.
Aplikasi lapangan pada praktikum penentuan densitas semen ini ialah
untuk menjaga tekanan hidrostatik tetap di atas tekanan formasi dan di bawah
tekanan rekah formasi untuk menjaga agar semen tidak terkontaminasi ataupun
mencegah terjadinya rekah pada formasi.

3.7. KESIMPULAN
28

1. Pada praktikum ini didapatkan densitas semen + barite sebesar 15,1


ppg.
2. % kesalahan pada pengujian ini sebesar 3,9 %.
3. Adanya foam pada semen sangat berpengaruh karena dapat menurunkan
densitas semen.
4. barite yang digunakan sebagai penambahan semen pada praktikum kali
ini berfungsi untuk menaikkan densitas semen.
5. Tekanan hidrostatik (Ph) harus lebih besar dari tekanan formasi (Pf)
namun harus lebih kecil dari tekanan rekah formasi (Prf).
6. Densitas semen berfungsi saat berada di annulus dan casing saat dalam
kondisi masih berupa bubur semen, jika semen sudah memadat maka ia
tidak memiliki tekanan hidrostatik.
7. Pembacaan grafik pada praktikum ini secara keseluruhan benar, namun
ada beberapa yang tidak sesuai. Karena fungsi additive barite akan
menaikkan densitas semen, sedangkan penambahan bentonite akan
memperkecil densitas semen. Kesalahan yang terjadi dapat disebabkan
kualitas semen yang dipakai, kurang teliti atau kesalahan pembacaan.
8. Aplikasi lapangan pada praktikum ini ialah untuk mencegah tekanan
hidrostatik lebih besar dari tekanan formasi, namun tetap di bawah
tekanan rekah formasi, hal ini berguna untuk mencegah terjadinya
problem loss circulation dan terkontaminasinya semen yang membuat
kualitas semen menurun.

Anda mungkin juga menyukai