0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
160 tayangan33 halaman

Perhitungan Head Pompa dalam Dewatering

Dokumen tersebut menjelaskan istilah-istilah penting dalam sistem dewatering pompa, termasuk suction head, suction length, discharge head, friction loss, total dynamic head, dan net positive suction head. Dokumen tersebut juga memberikan tabel tentang tekanan atmosferik dan uap air pada berbagai suhu.

Diunggah oleh

fuji
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
160 tayangan33 halaman

Perhitungan Head Pompa dalam Dewatering

Dokumen tersebut menjelaskan istilah-istilah penting dalam sistem dewatering pompa, termasuk suction head, suction length, discharge head, friction loss, total dynamic head, dan net positive suction head. Dokumen tersebut juga memberikan tabel tentang tekanan atmosferik dan uap air pada berbagai suhu.

Diunggah oleh

fuji
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Istilah-istilah dalam dunia pompa

Endi Dwinata 5 years ago

Sebelum saya ingin mengulas lebih dalam mengenai "Mining Dewatering Pump Application", ada
baiknya saya terlebih dahulu mengenalkan istilah-istilah yang biasa terdapat dalam sistem
"Dewatering".

Ada banyak istilah dalam sistem "Dewatering", tapi ada beberapa yang memang sangat-sangat
penting untuk kita pahami bersama sehingga mempermudah kita dalam upaya untuk memahami
tentang sistem tersebut.

1. Suction Head
Suction Head adalah jarak vertikal (tegak lurus) antara permukaan air dengan titik pusat impeller
pompa. Ada juga yang menyebutkan sebagai "Suction Lift", dalam hal ini pengertiannya adalah
sama.

2. Suction Length
Suction Length adalah jarak antara ujung dari strainer (penyaring) sampai dengan inlet pompa.
Biasa juga disebut sebagai panjang pipa isap.

3. Discharge Head
Discharge Head adalah jarak vertikal (tegak lurus) antara titik pusat impeller pompa hingga titik
tertinggi pada buangan akhir pipa. Biasa juga disebut dengan "Delivery Head", dalam hal ini
pengertiannya adalah sama.

4. Discharge Length
Discharge Length adalah jarak antara outlet pompa sampai dengan ujung akhir buangan pipa, Biasa
juga disebut dengan panjang pipa buang (discharge).

5. Static Head
Static Head adalah hasil penjumlahan dari pada "Suction Lift" dengan "Discharge Head". Atau biasa
di sebut dengan "elevasi".
atau bisa dikatakan juga jarak statis antara permukaan air sampai dengan titik tertinggi pada
buangan akhir pipa.

6. Friction Loss
Friction Loss adalah kerugian-kerugian yang timbul dalam sistem yang di akibatkan oleh gesekan
cairan dengan permukaan dalam pipa, belokan-belokan pipa, valve, soket ("T" atau "Y") pipa, dll.
Nilai tersebut di konversikan ke dalam tinggi vertikal dalam satuan panjang (meter, feet dll). biasa
disebut juga "Head Loss"

7. Total Dynamic Head (TDH)


TDH adalah hasil penjumlahan antara "Static Head" dengan "Friction Loss". Atau bisa dikatakan juga
jarak dinamis antara permukaan air sampai dengan titik tertinggi pada buangan akhir pipa.
NPSH adalah kebutuhan minimum pompa untuk bekerja secara normal. NPSH menyangkut
apa yang terjadi di bagian suction pompa, termasuk apa yang datang ke permukaan
pendorong. NPSH dipengaruhi oleh pipa suction dan konektor-konektor, ketinggian dan
tekanan fluida dalam pipa suction, kecepatan fluida dan temperatur. NPSH dinyatakan
dalam satuan feet.
Ada 2 macam NPSH yaitu NPSHa (Net Positive Suction Head Available) dan NPSHr (Net
Positive Suction Head Required).

NPSHa adalah nilai NPSH yang ada pada system di mana pompa akan bekerja.
NPSHr adalah nilai NPSH spesifik pompa agar bekerja dengan normal, yang diberikan oleh
pembuat berdasarkan hasil pengetesan.
NPSHa dapat dicari dengan formula:

NPSHa = Ha + Hs – Hvp – Hf – Hi
Ha = Atmospheric Head (dalam feet), yaitu tekanan atmosferik pada ketitinggian terhadap
permukaan laut. (lihat contoh tabel Ha air pada beberapa elevasi terhadap permukaan
laut).
Untuk menentukan Ha kita perlu memperhatikan tangki atau vessel yang isinya akan
disedot dengan pompa, apakah itu tangki terbuka atau berventilasi, atau apakah itu
tertutup/kedap udara. Nilai Ha dimulai dari 33.9 feet (14.7 psi x 2.31).
Untuk tangki tertutup tak bertekanan, nilai Ha sama dengan Hvp dan mereka saling
menghilangkan. Untuk Tangki tertutup bertekanan, dalam setiap 10 psi tekanan akan
ditambahkan 23.1 feet pada nilai Ha nya.
Hs = Static Head level fluida,positif atau negatif (dalam feet)
Yaitu tinggi dari center line suction pompa ke level fluida dalam tangki yang akan disedot.
Elevasi yang positif menambahkan energi ke fluida dan elevasi negatif menyerap energi dari
fluida.
Hvp = Vapor Head fluida (dalam feet)
Vapor Head dikalkulasi dengan memantau temperatur fluida dan mencocokkan nilai Hvp nya
pada grafik yang terlampir.

Hf = Friction Head atau Friction Losses dalam suction piping dan konektor-konektornya
Friction Head dapat dikalkulasi, dtaksir atau diukur. Nilai Friction Head dapat dikalkulasi
dengan melihat tabel Friction Head pipa dan fitting. Jika jarak pompa dari tangki relative
dekat maka nilai Friction Head dapat diabaikan.
Hi = Inlet Head atau kehilangan energi yang terjadi pada leher suction pompa
(dari flange sampai permukaan baling-baling) dinyatakan dalam feet. Dapat juga
disebut safety factor 2 feet.

Tabel 1: Tekanan Atmosferik Dan Barometrik Air Menurut


Ketinggian

Tekanan Tekanan Titik

Ketinggian Barometrik Atmosferik Didih

Kaki Inch mm Feet


(Feet) Meter Hg Hg Psia Water Air

-1000 -304.8 31.0 788 15.2 35.2 213.8

-500 -152.4 30.5 775 15.0 34.6 212.9

0 0.0 29.9 760 14.7 33.9 212.0

500 152.4 29.4 747 14.4 33.3 211.1

1000 304.8 28.9 734 14.2 32.8 210.2

1500 457.2 28.3 719 13.9 32.1 209.3

2000 609.6 27.8 706 13.7 31.5 208.4

2500 762.0 27.3 694 13.4 31.0 207.4

3000 914.4 26.8 681 13.2 30.4 206.5

3500 1066.8 26.3 668 12.9 29.8 205.6

4000 1219.2 25.8 655 12.7 29.2 204.7

4500 1371.6 25.4 645 12.4 28.8 203.8

5000 1524.0 24.9 633 12.2 28.2 202.9

5500 1676.4 24.4 620 12.0 27.6 201.9

6000 1828.8 24.0 610 11.8 27.2 201.0

6500 1981.2 23.5 597 11.5 26.7 200.1

7000 2133.6 23.1 587 11.3 26.2 199.2

7500 2286.0 22.7 577 11.1 25.7 198.3

8000 2438.4 22.2 564 10.9 25.2 197.4


8500 2590.8 21.8 554 10.7 24.7 196.5

9000 2743.2 21.4 544 10.5 24.3 195.5

9500 2895.6 21.0 533 10.3 23.8 194.6

10000 3048.0 20.6 523 10.1 23.4 193.7

15000 4572.0 16.9 429 8.3 19.2 184.0

Tabel 2: Tekanan Uap Air

Specific Tekanan
Temperatur Grafity Tekanan Uap Air

Uap Air (Feet


°F °C 60°F Kepadatan (Psi) Abs.)

32 0 1.002 62.42 0.0885 0.204

40 4.4 1.001 62.42 0.1217 0.281

45 7.2 1.001 62.40 0.1475 0.340

50 10.0 1.001 62.38 0.1781 0.411

55 12.8 1.000 62.36 0.2141 0.494

60 15.6 1.000 62.34 0.2563 0.591

65 18.3 0.999 62.31 0.3056 0.706

70 21.1 0.999 62.27 0.6331 0.839

75 23.9 0.998 62.24 0.4298 0.994

80 26.7 0.998 62.19 0.5069 1.172

85 29.4 0.997 62.16 0.5959 1.379

90 32.2 0.996 62.11 0.6982 1.617

95 35.0 0.995 62.06 0.8153 1.890

100 37.8 0.994 62.00 0.9492 2.203

110 43.3 0.992 61.84 1.2750 2.965


120 48.9 0.990 61.73 1.6920 3.943

130 54.4 0.987 61.54 2.2230 5.196

140 60.0 0.985 61.39 2.8890 6.766

150 65.6 0.982 61.20 3.7180 8.735

160 71.1 0.979 61.01 4.7410 11.172

170 76.7 0.975 60.79 5.9920 14.178

180 82.2 0.972 60.57 7.5100 17.825

190 87.8 0.968 60.35 9.3390 22.257

200 93.3 0.964 60.13 11.5260 27.584

212 100.0 0.959 59.81 14.6960 35.353

220 104.4 0.956 59.63 17.1860 41.343

240 115.6 0.984 59.10 24.9700 60.770

260 126.7 0.939 58.51 35.4300 87.050

280 137.8 0.929 58.00 49.2000 122.180

300 1148.9 0.919 57.31 67.0100 168.220

320 160.0 0.909 56.66 89.6600 227.550

340 171.1 8.898 55.96 118.0100 303.170

360 182.2 0.886 55.22 153.0400 398.490

380 193.3 0.874 54.47 195.7700 516.750

NPSHa < NPSHr dengan kata lain NPSHa system haruslah lebih besar dari NPSHr pompa
yang dipergunakan agar pompa tersebut dapat bekerja dengan baik.

Contoh kasus #1
Pada gambar di bawah akan dilakukan pemompaan fluida air dari tangki terbuka yang
berada pada level sama dengan permukaan laut (Ha = 33.9 feet) Level tangki adalah 22
feet dari centerline pompa (Hs1 = 22 feet). Friction losses adalah 2 feet (Hf = 2 feet).
Temperatur air adalah 70ºF maka Hvp adalah 0.839 (lihat tabel 2). Head inlet (Hi) sebagai
safety factor adalah 2 feet.

Tentukanlah NPSHa dan NPSHr pompa

Penyelesaian:

NPSHa = Ha + Hs1 – Hvp – Hf – Hi


= 33.9 + 22 – 0.839 – 2 – 2
= 51.061 feet
Diketahui bahwa tujuan pemompaan adalah untuk mengeluarkan fluida air dari tangki,
maka kita harus mempertimbangkan tinggi terendah fluida air dalam tangki dari center line
pompa saat pemompaan (Hs2) yaitu 7 feet.

Maka NPSHa = Ha + Hs1 – Hvp – Hf – Hi


= 33.9 + 7 – 0.839 – 2 – 2
= 36.061 feet
Maka untuk menghindari kondisi NPSHa yang tidak memadai ke pompa pada saat
pemompaan fluida dari tangki maka NPSHr pompa haruslah kurang dari 36 feet pada
duty point.
Contoh kasus #2
Pada gambar di bawah akan dilakukan pemompaan fluida air dari level yang lebih rendah 8
feet dari center line pompa (Hs1 = -8 feet). Pompa ini berada pada level 5000 feet di atas
permukaan laut (Ha = 28.2 feet). Temperatur fluida air adalah 50ºF (Hvp = 0.411). Friction
losses adalah 1 (Hf = 1 foot) dan Hi = 2.

Tentukanlah NPSHa dan NPSHr pompa

Penyelesaian:

NPSHa = Ha + Hs1 – Hvp – Hf – Hi


= 28.2 + (- 8 ) – 0.411 – 1 – 2
= 16.789 feet
Diketahui bahwa tujuan pemompaan adalah untuk mengeluarkan fluida air dari tangki,
maka kita harus mempertimbangkan tinggi terendah fluida air dalam tangki dari center line
pompa saat pemompaan (Hs2) yaitu -14 feet.

Maka NPSHa = Ha + Hs1 – Hvp – Hf – Hi


= 28.2 + (- 14) – 0.411– 1 – 2
= 10.789 feet
Maka untuk menghindari kondisi NPSHa yang tidak memadai ke pompa pada saat
pemompaan fluida dari tangki maka NPSHr pompa haruslah kurang dari 10 feet pada
duty point.
Contoh kasus #3
Ada banyak proses yang menggunakan tangki tertutup (kedap udara), contohnya pada
pabrik pemrosesan susu atau pabrik obat-obatan di mana sangat penting untuk
menghindari produk yang steril terkontaminasi oleh udara luar. Contoh lain pada tempat
pembuatan bir, gas dan karbonisasi tidak boleh keluar tari tangki proses. Seperti yang telah
dikemukakan di muka bahwa pada kondisi ini nilai Ha yang menambahkan energi ke fluida
(+) dan nilai Hvp yang menyerap energi dari fluida (-) adalah sama maka mereka saling
menghilangkan. Maka formulanya menjadi lebih sederhana:

NPSHa = Hs – Hf – Hi
Pada gambar di bawah dilakukan pemompaan dari tangki kedap udara yang permukaan
fluidanya berjarak 18 feet di atas center line pompa. (Hs1 = 18). Sedangkan level terendah
fluida dari centerline pompa saat pemompaan keluar adalah 8 feet (Hs2 = 8). Friction losses
(Hf) adalah 1.5 dan Hi adalah 2 feet.

Tentukanlah NPSHa dan NPSHr pompa

Penyelesaian:
NPSHa pada awal kerja adalah:

NPSHa = Hs1 – Hf – Hi
= 18 – 1. 5 – 2
= 14.5 feet

NPSHa pada saat level fluida terendah adalah:

NPSHa = Hs2 – Hf – Hi
= 8 – 1.5 – 2
= 4.5 feet
Maka untuk menghindari kondisi NPSHa yang tidak memadai ke pompa pada saat
pemompaan fluida dari tangki maka NPSHr pompa haruslah kurang dari 4 feet pada duty
point

POMPA ( PUMP)
Pompa adalah suatu alat atau mesin yang digunakan untuk memindahkan cairan dari suatu tempat
ke tempat yang lain melalui suatu media perpipaan dengan cara menambahkan energi pada cairan
yang dipindahkan dan berlangsung secara terus menerus.
Pompa beroperasi dengan prinsip membuat perbedaan tekanan antara bagian masuk (suction)
dengan bagian keluar (discharge). Dengan kata lain, pompa berfungsi mengubah tenaga mekanis
dari suatu sumber tenaga (penggerak) menjadi tenaga kinetis (kecepatan), dimana tenaga ini
berguna untuk mengalirkan cairan dan mengatasi hambatan yang ada sepanjang pengaliran.

Pompa Sentrifugal
Salah satu jenis pompa pemindah non positip adalah pompa sentrifugal yang prinsip kerjanya
mengubah energi kinetis (kecepatan) cairan menjadi energi potensial (dinamis) melalui suatu
impeller yang berputar dalam casing.
Sesuai dengan data-data yang didapat, pompa reboiler debutanizer di Hidrokracking Unibon
menggunakan pompa sentrifugal single - stage double suction.

Klasifikasi Pompa Sentrifugal


Pompa Sentrifugal dapat diklasifikasikan, berdasarkan :
1. Kapasitas :
 Kapasitas rendah < 20 m3 / jam
 Kapasitas menengah 20 -:- 60 m3 / jam
 Kapasitas tinggi > 60 m3 / jam
2. Tekanan Discharge :
 Tekanan Rendah < 5 Kg / cm2
 Tekanan menengah 5 -:- 50 Kg / cm2
 Tekanan tinggi > 50 Kg / cm2
3. Jumlah / Susunan Impeller dan Tingkat :
 Single stage : Terdiri dari satu impeller dan satu casing
 Multi stage : Terdiri dari beberapa impeller yang tersusun seri dalam satu casing.
 Multi Impeller : Terdiri dari beberapa impeller yang tersusun paralel dalam satu casing.
 Multi Impeller – Multi stage : Kombinasi multi impeller dan multi stage.
4. Posisi Poros :
 Poros tegak
 Poros mendatar

5. Jumlah Suction :
 Single Suction
 Double Suction
6. Arah aliran keluar impeller :
 Radial flow
 Axial flow
 Mixed fllow

Bagian-bagian Utama Pompa Sentrifugal

Secara umum bagian-bagian utama pompa sentrifugal dapat dilihat sepert gambar berikut :
Rumah Pompa Sentrifugal

A. Stuffing Box
Stuffing Box berfungsi untuk mencegah kebocoran pada daerah dimana poros pompa menembus
casing.
B. Packing
Digunakan untuk mencegah dan mengurangi bocoran cairan dari casing pompa melalui poros.
Biasanya terbuat dari asbes atau teflon.
C. Shaft (poros)
Poros berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama beroperasi dan tempat
kedudukan impeller dan bagian-bagian berputar lainnya.
D. Shaft sleeve
Shaft sleeve berfungsi untuk melindungi poros dari erosi, korosi dan keausan pada stuffing box.
Pada pompa multi stage dapat sebagai leakage joint, internal bearing dan interstage atau distance
sleever.
E. Vane
Sudu dari impeller sebagai tempat berlalunya cairan pada impeller.
F. Casing
Merupakan bagian paling luar dari pompa yang berfungsi sebagai pelindung elemen yang berputar,
tempat kedudukan diffusor (guide vane), inlet dan outlet nozel serta tempat memberikan arah
aliran dari impeller dan mengkonversikan energi kecepatan cairan menjadi energi dinamis (single
stage).
G. Eye of Impeller
Bagian sisi masuk pada arah isap impeller.
H. Impeller
Impeller berfungsi untuk mengubah energi mekanis dari pompa menjadi energi kecepatan pada
cairan yang dipompakan secara kontinyu, sehingga cairan pada sisi isap secara terus menerus akan
masuk mengisi kekosongan akibat perpindahan dari cairan yang masuk sebelumnya.
I. Wearing Ring
Wearing ring berfungsi untuk memperkecil kebocoran cairan yang melewati bagian depan impeller
maupun bagian belakang impeller, dengan cara memperkecil celah antara casing dengan impeller.
J. Bearing
Beraing (bantalan) berfungsi untuk menumpu dan menahan beban dari poros agar dapat berputar,
baik berupa beban radial maupun beban axial. Bearing juga memungkinkan poros untuk dapat
berputar dengan lancar dan tetap pada tempatnya, sehingga kerugian gesek menjadi kecil.
K. Casing
Merupakan bagian paling luar dari pompa yang berfungsi sebagai pelindung elemen yang berputar,
tempat kedudukan diffusor (guide vane), inlet dan outlet nozel serta tempat memberikan arah
aliran dari impeller dan mengkonversikan energi kecepatan cairan menjadi energi dinamis (single
stage).

Kapasitas Pompa
Kapasitas pompa adalah banyaknya cairan yang dapat dipindahkan oleh pompa setiap satuan
waktu . Dinyatakan dalam satuan volume per satuan waktu, seperti :
 Barel per day (BPD)
 Galon per menit (GPM)
 Cubic meter per hour (m3/hr)
Head Pompa
Head pompa adalah energi per satuan berat yang harus disediakan untuk mengalirkan sejumlah zat
cair yang direncanakan sesuai dengan kondisi instalasi pompa, atau tekanan untuk mengalirkan
sejumlah zat cair,yang umumnya dinyatakan dalam satuan panjang.
Menurut persamaan Bernauli, ada tiga macam head (energi) fluida dari sistem instalasi aliran,
yaitu, energi tekanan, energi kinetik dan energi potensial
Hal ini dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Karena energi itu kekal, maka bentuk head (tinggi tekan) dapat bervariasi pada penampang yang
berbeda. Namun pada kenyataannya selalu ada rugi energi (losses).
Pada kondsi yang berbeda seperti pada gambar di atas maka persamaan Bernoulli adalah sebagai
berikut :

1. Head Tekanan
Head tekanan adalah perbedaan head tekanan yang bekerja pada permukaan zat cair pada sisi tekan
dengan head tekanan yang bekerja pada permukaan zat cair pada sisi isap.
Head tekanan dapat dinyatakan dengan rumus :
2. Head Kecepatan
Head kecepatan adalah perbedaan antar head kecepatan zat cair pada saluran tekan dengan head
kecepatan zat cair pada saluran isap.
Head kecepatan dapat dinyatakan dengan rumus :

3. Head Statis Total


Head statis total adalah perbedaan tinggi antara permukaan zat cair pada sisi tekan dengan
permukaan zat cair pada sisi isap.
Head statis total dapat dinyatakan dengan rumus :
Z = Zd - Zs(5)
Dimana :
Z : Head statis total
Zd : Head statis pada sisi tekan
Zs : Head statis pada sisi isap
Tanda + : Jika permukaan zat cair pada sisi isap lebih rendah dari sumbu pompa (Suction lift).
Tanda - : Jika permukaan zat cair pada sisi isap lebih tinggi dari sumbu pompa (Suction head).

4. Kerugian head (head loss)


Kerugian energi per satuan berat fluida dalam pengaliran cairan dalam sistem perpipaan disebut
sebagai kerugian head (head loss).
Head loss terdiri dari :
a. Mayor head loss (mayor losses)
Merupakan kerugian energi sepanjang saluran pipa yang dinyatakan dengan rumus :

Harga f (faktor gesekan) didapat dari diagram Moody (lampiran - 6) sebagai fungsi dari Angka
Reynold (Reynolds Number) dan Kekasaran relatif (Relative Roughness - ε/D ), yang nilainya
dapat dilihat pada grafik (lampiran) sebagai fungsi dari nominal diameter pipa dan kekasaran
permukaan dalam pipa (e) yang tergantung dari jenis material pipa.
Sedangkan besarnya Reynolds Number dapat dihitung dengan rumus :

b. Minor head loss (minor losses)


Merupakan kerugian head pada fitting dan valve yang terdapat sepanjang sistem perpipaan. Dapat
dicari dengan menggunakan Rumus :
Dalam menghitung kerugian pada fitting dan valve dapat menggunakan tabel pada lampiran 4.
Besaran ini menyatakan kerugian pada fitting dan valve dalam ukuran panjang ekivalen dari pipa
lurus.

c. Total Losses
Total losses merupakan kerugian total sistem perpipaan, yaitu :

Daya Pompa

Daya pompa adalah besarnya energi persatuan waktu atau kecepatan melakukan kerja.
Ada beberapa pengertian daya, yaitu :
[Link] hidrolik (hydraulic horse power)
Daya hidrolik (daya pompa teoritis) adalah daya yang dibutuhkan untuk mengalirkan sejumlah zat
cair. Daya ini dapat dihitung dengan rumus :
2. Daya Poros Pompa (Break Horse Power)
Untuk mengatasi kerugian daya yang dibutuhkan oleh poros yang sesungguhnya adalah lebih besar
dari pada daya hidrolik.
Besarnya daya poros sesungguhnya adalah sama dengan effisiensi pompa atau dapat dirumuskan
sebagai berikut :

3. Daya Penggerak (Driver)


Daya penggerak (driver) adalah daya poros dibagi dengan effisiensi mekanis (effisiensi transmisi).
Dapat dihitung dengan rumus :

Effisiensi Pompa
Effisiensi pada dasarnya didefinisikan sebagai perbandingan antara output dan input atau
perbandingan antara HHP Pompa dengan BHP pompa.
Harga effisiensi yang tertinggi sama dengan satu harga effisiensi pompa yang didapat dari pabrik
pembuatnya.
Effisiensi pompa merupakan perkalian dari beberapa effiaiensi, yaitu:
Referensi utama : Ir. Sularso, MSME dan Prof. Dr. Haruo Tahara, Pompa dan Kompresor, PT
Pradnya Paramita, Jakarta, 1983.
Lampiran :
Grafik fungsi dari Angka Reynold (Reynolds Number) dan Kekasaran relatif (Courtesy
[Link]/) :

SYSTEM PENYEKAT PADA POMPA


Menyambung pembahasan saya mengenai pompa pada tulisan sebelumnya. Kali ini saya akan
sedikit mengulas tentang system penyekatan (Sealing System).
Pemilihan yang tepat pada sebuah seal sangat penting bagi keberhasilan pemakaian pompa. Untuk
mendapatkan kehandalan pompa yang terbaik, pilihan penyekat harus tepat antara jenis seal dan
lingkungan yang dipakai.

Dasar-dasar Penyekat (Seal)


Ada dua jenis seal: statis dan dinamis.

Seal statis dipakai di mana tidak ada gerakan yang terjadi pertemuan antara kedua permukaan
yang akan disekat. Gasket dan O-ring merupakan contoh yang umum dari seal statis.

Seal Dinamis digunakan di mana ada permukaan yang bergerak relatif terhadap satu sama lain.
Seal dinamis misalnya digunakan pada poros yang berputar dan menghantarkan power melalui
dinding sebuah tangki (Gambar 1), melalui casing dari pompa (Gambar 2), atau melalui rumah
peralatan berputar lainnya seperti filter atau layar.

Contoh umum dari pemakaian alat-alat penyekat adalah penyekat untuk poros yang berputar pada
pompa. Untuk mengetahui lebih banyak tentang fungsi dari penyekat ini, kita harus tahu terlebih
dahulu dasar-dasar pengetahuan pompa.
Pada pompa sentrifugal, cairan masuk ke pompa melalui bagian ‘suction’ pada pusat (eye) impeller
yang berputar. (gambar 3 dan 4).
Pada saat kipas impeller berputar, mereka menghantarkan gerakan untuk memasukan produk, yang
kemudian meninggalkan impeller, dikumpulkan di dalam rumah pompa(casing) dan meninggalkan
pompa melalui tekanan pada sisi keluar (discharge) pompa.
Tekanan discharge akan menekan beberapa produk ke bawah di belakang impeller menuju poros,
di mana ia akan mencoba keluar sepanjang poros yang berputar. Pabrik pembuat pompa
menggunakan berbagai macam teknik untuk mengurangi adanya tekanan produk yang mencoba
keluar. Beberapa cara yang umum dilakukan adalah:
1. Penambahan lobang penyeimbang (balance hole) melalui impeller untuk
memberikan jalan bagi tekanan yang akan keluar melalui sisi isap impeller.
2. Penambahan kipas pada sisi belakang impeller (back pump-out vanes).
Bagaimanapun juga, sepanjang tidak ada jalan untuk mengurangi adanya tekanan ini seluruhnya,
maka peralatan penyekat mutlak diperlukan untuk membatasi keluarnya produk. Seperti penyekat
kompresi (packing )atau penyekat mekanis (mechanical seals).
Stuffing Box Packing
Pengaturan penggunaaan ‘stuffing box’ ditunjukan pada gambar di bawah. Ia terdiri dari:
1. 5 ring packing.
2. Sebuah lantern ring yang digunakan untuk menginjeksi peluamas dan atau untuk
membuang cairan
3. Sebuah penekan (gland) untuk menahan packing dan menjaga kebutuhan tekanan
yang disesuaikan dengan kondisi pengencangan packing.

Fungsi dari packing adalah untuk mengontrol kebocoran, bukan untuk mencegah seluruh
kebocoran. Karena packing harus selalu terlumasi dan kebocoran yang dianjurkan untuk menjaga
adanya pelumasan adalah sekitar 40 sampai 60 tetes per menit.
Metode pelumasan pada packing tergantung pada ko0ndisi cairan yang dipompa dan juga tekanan
pada stuffing box. Ketika tekanan stuffing box di atas tekanan atmosfir dan cairan yang ditekan
bersih dan tidak korosif, maka cairan pada pompa itulah yang berfungsi sebagai pelumas paking.
(gambar 6).

Tatkala tekanan pada stuffing box di bawah tekanan atmosfir, sebuah lantern ring di pasang dan
pelumas di injeksikan ke dalam stuffing box. (gambar 7). Sebuah pipa bypass dari sisi tekan pompa
ke penghubung lantern ring umumnya dipakai untuk menyediakan aliran cairan jika cairannya
bersih.
Manakala cairan yang dipompakan kotor atau berpartikel, perlu diinjeksikan cairan pelumas yang
bersih dari luar melalui lantern ring (gambar 8). Aliran sebanyak 0.2 sampai 0.5 gpm diperlukan
dan sebuah keran pengatur serta flowmeter perlu dipasang untuk mendapatkan aliran yang akurat.
Lantern ring biasanya dipasang pada tengah stuffing box, tetapi untuk cairan yang sangat kental
seperti bahan baku kertas disarankan dipasang di leher stuffing box untuk menghindari
tersumbatnya lantern ring.

Rumah packing (gland) pada gambar 5 sampai 8 merupakan tipe ‘quench gland’. Air, minyak atau
cairan lainnya dapat diinjeksi ke dalam gland untuk mengurangi panas poros, ia dapat memperkecil
perpindahan panas dari poros ke rumah bearing. Alasan inilah yang membolehkan temperatur kerja
dari pompa lebih tinggi dari tempertur desain bearing dan [Link] ‘quench gland’ yang sama
dapat digunakan untuk mencegah keluarnya racun atau cairan berbahaya keluar ke udara luar di
sekitar pompa. Ini dinamakan ‘smothering gland’, dengan mengalirkan cairan dari luar dan
membawa kebocoran yang tidak diinginkan ke parit atau tangki pengumpul cairan bekas.

MECHANICAL SEAL

Pengertian
Mechanical Seal, apabila diterjemahkan secara bebas, adalah alat pengeblok mekanis. Namun
penerjemahan tersebut menjadi lebih susah dimengerti dan dibayangkan bila dibandingkan
pengertian teknisnya. Mengapa? Karena pengertian seal mekanis mengandung arti begitu luas.
Apakah semua tipe seal mekanis bisa disebut dengan mechanical seal? O-ring merupakan seal
mekanikal, demikian juga Labyrinth Seal, namun keduanya jelas bukan MechanicalSeal.

Mechanical seal yang dibahas pada situs ini adalah suatu tipe Seal yang dipakai pada pompa-
pompa kelas industri, agitator, mixer, chiller dan semua rotating equipment (mesin-mesin yang
berputar).

Untuk mempermudah pemahaman, maka situs ini merasa perlu menyatakan penulisan mechanical
seal yang ideal adalah Mechanical Seal dan disepakati terlebih dahulu bahwa mechanical seal pada
dasarnya adalah masuk golongan seal. Seal tidak akan diterjemahkan namun diperjelas
pengertiannya lewat serangkaian contoh.
Terminologi
Yang paling susah buat pemula adalah pengertian atas istilah-istilah yang digunakan dalam
penyebutan bagian mechanical seal. Untuk itu mari kita samakan persepsi dahulu atas hal-hal
sebagai berikut:

SHAFT adalah as/bagian poros sebuah alat dan merupakan bagian utama dari mesin-mesin yang
berputar. Buku manual mesin-mesin lebih sering menggunakan kata shaft dibandingkan as.

SHAFT SLEEVE adalah sebuah bushing/adapter yang berbentuk selongsong yang terpasang
pada shaft dengan tujuan melindungi shaft akibat pengencangan baut/screw MechanicalSeal.

SEAL adalah suatu part/bagian dalam sebuah konstruksi alat/mesin yang berfungsi untuk sebagai
penghalang/pengeblok keluar/masuknya cairan, baik itu fluida proses maupun pelumas. Pada
sepeda motor atau mobil sering kali bengkel bilang karet sil, sil-as kruk, oil-seal. Analogi lainnya,
coba anda bayangkan sebuah aquarium. Apa yang akan terjadi jika kaca-kaca ditempelkan tanpa
diberi lem kaca/sealant?
Lem kaca setelah mengeras, pada kondisi tersebut adalah seal. Bisa disepakati bahwa Seal lebih
merujuk pada pengertian suatu fungsi. Apapun bentuk dan materialnya, apabila berfungsi untuk
mencegah kebocoran, maka dia disebut sebagai Seal.

O-RING awalnya adalah merujuk pada karet berbentuk bundar yang berfungsi sebagai Seal.
Perkembangan teknologi o-ring sebagai alat pengeblok cairan sekunder (secondary sealing device)
menghasilkan berbagai tipe o-ring berdasarkan materialnya. Material o-ring, ada dari karet alam,
EPDM, Buna, Neoprene, Viton, Chemraz, Kalrez, Isolast hingga tipe Encapsulated O-Ring,
dimana o-ring dibalut dengan PTFE. Ada pula yang murni dibuat dari PTFE dan disebut dengan
Wedge.
SEALFACE adalah bagian paling penting, paling utama dan paling kritis dari sebuah Mechanical
Seal dan merupakan titik PENGEBLOK CAIRAN UTAMA (primary sealing device) Terbuat dari
bahan Carbon atau Silicone Carbide atau Tungsten Carbide atau keramik atau Ni-resist, dengan
serangkaian teknik pencampuran. Permukaan material yang saling bertemu (contact) dibuat
sedemikian halusnya hingga tingkat kehalusan / kerataan permukaan mencapai 1 - 2 lightband.
Seringkali Sealface disebut juga dengan contact face. Seal faces berarti ada 2 sealface. Yang satu
diam dan melekat pada dinding pompa, dan yang lainnya berputar, melekat pada shaft.
Yang berputar biasanya terbuat dari bahan yang lebih lunak/soft. Kombinasinya bisa berupa
carbon versus silicone carbide, carbon vs ceramic, carbon vs tungten carbide, silicone carbide vs
silicone carbide, silicone carbide vs tungsten carbide.
Setelah memahami bagian-bagian yang menyusun Mechanical Seal, maka bisa dilanjutkan bahwa
MechanicalSeal adalah suatu sealing device yang merupakan kombinasi menyatu antara sealface
yang melekat pada shaft yang berputar dan sealface yang diam dan melekat pada dinding statis
casing/housing pompa/tangki/vessel/kipas.
Sealface yang ada pada shaft yang berputar seringkali disebut sebagai Rotary Face/Primary
Ring. Sedangkan Sealface yang diam atau dalam kondisi stasioner sering disebut
sebagai StationaryFace / Mating Ring / Seat.

Dengan demikian bisa diambil simpulan definisi Mechanical Seal adalah Sebuah alat pengeblok
cairan/gas pada suatu rotating equipment, yang terdiri atas:
1. Dua buah sealface yang bisa aus, dimana salah satu diam dan satunya lagi berputar,
membentuk titik pengeblokan primer (primary sealing).
2. Satu atau sekelompok o-ring/bellows/PTFE wedge yang merupakan titik
pengeblokan sekunder (secondary sealing).
3. Alat pembeban mekanis untuk membuat sealface saling menekan.
4. Asesoris metal yang diperlukan untuk melengkapi rangkaian Mechanical Seal.
Cara Kerja Mechanical Seal
Titik utama pengeblokan dilakukan oleh dua sealfaces yang permukaannya sangat halus dan rata.
Gesekan gerak berputar antara keduanya meminimalkan terjadinya kebocoran. Satu sealface
berputar mengikuti putaran shaft, satu lagi diam menancap pada suatu dinding yang disebut
dengan Glandplate.
Meterial dua sealfaces itu biasanya berbeda. Yang satu biasanya bersifat lunak, biasanyacarbon-
graphite, yang lainnya terbuat dari material yang lebih keras seperti silicone-carbide.
Pembedaan antara material yang digunakan pada stationary sealface dan rotating sealfaceaalah
untuk mencegah terjadinya adhesi antara dua buah sealfaces tersebut. Pada sealface yang lebih
lunak biasanya terdapat ujung yang lebih kecil sehingga sering dikenal sebagai wear-nose (ujung
yang bisa habis atau aus tergesek).

Ada 4 (empat) titik sealing/pengeblokan, yang juga merupakan jalur kebocoran jika titik
pengeblokan tersebut gagal.

Silakan lihat gambar di atas. Titik pengeblokan utama (primary sealing) adalah pada contactface,
titik pertemuan 2 buah sealfaces, lihat Point A. Jalur kebocoran di Point B diblok oleh suatu O-
Ring, atau V-Ring atau Wedge (baca: WED). Sedangkan jalur kebocoran di Point C dan Point D,
diblok dengan gasket atau O-Ring.

Point B, C & D disebut dengan secondary sealing.

KAVITASI

Kavitasi adalah fenomena perubahan phase uap dari zat cair yang sedang mengalir, karena
tekanannya berkurang hingga di bawah tekanan uap jenuhnya. Pada pompa bagian yang sering
mengalami kavitasi adalah sisi isap pompa. Hal ini terjadi jika tekanan isap pompa terlalu rendah
hingga dibawah tekanan uap jenuhnya, hal ini dapat menyebabkan :
 Suara berisik, getaran atau kerusakan komponen pompa tatkala gelembung-gelembung
fluida tersebut pecah ketika melalui daerah yang lebih tinggi tekanannya
 Kapasitas pompa menjadi berkurang
 Pompa tidak mampu membangkitkan head (tekanan)
 Berkurangnya efisiensi pompa.
Secara umum, terjadinya kavitasi diklasifikasikan atas 5 alasan dasar :
1. Vaporisation - Penguapan.
Fluida menguap bila tekanannya menjadi sangat rendah atau temperaturnya menjadi sangat tinggi.
Setiap pompa sentrifugal memerlukan head(tekanan) pada sisi isap untuk mencegah penguapan.
Tekanan yang diperlukan ini, disiapkan oleh pabrik pembuat pompa dan dihitung berdasarkan
asumsi bahwa air yang dipompakan adalah 'fresh water' pada suhu 68oF. Dan ini disebut Net
Positive Suction Head Available (NPSHA)
Karena ada pengurangan tekanan (head losses) pada sisi suction( karena adanya valve, elbow,
reduser, dll), maka kita harus menghitung head total pada sisi suction dan biasa disebut Net
Positive Suction Head is Required (NPSHR).
Nah nilai keduanya mempengaruhi terjadinya penguapan, maka untuk mencegah penguapan,
syaratnya adalah :
NPSHA - Vp ≥ NPSHR
Dimana Vp : Vapor pressure fluida yang dipompa.
Dengan kata lain untuk memelihara supaya vaporization tidak terjadi maka kita harus melakukan
hal berikut :
1. Menambah Suction head, dengan :
 Menambah level liquid di tangki.
 Meninggikan tangki.
 Memberi tekanan tangki.
 Menurunkan posisi pompa(untuk pompa portable).
 Mengurangi head losses pada suction piping system. Misalnya dengan mengurangi jumlah
fitting, membersihkan striner, cek mungkin venting tangki tertutup) atau bertambahnya speed
pompa.
2. Mengurangi Tempertur fluida, dengan :
 Mendinginkan suction dengan fluida pendingin
 Mengisolasi suction pompa
 Mencegah naiknya temperature dari bypass system dari pipa discharge.
3. Mengurangi NPSHR, dengan :
 Gunakan double suction. Ini bias mengurangi NPSHR sekitar 25 % dan dalam beberapa
kasus memungkinkan penambahan speed pompa sebesar 40 %.
 Gunakan pompa dengan speed yang lebih rendah.
 Gunakan impeller pompa yang memiliki bukaan 'lobang' (eye) yang lebih besar.
 Install Induser, dapat mereduksi NPSHR sampai 50 %.
 Gunakan pompa yang lebih kecil. Menggunakan 3 buah pompa kecil dengan ukuran
kapasitas separuhnya, hitungannya lebih murah dari pada menggunakan pompa besar dan spare-
nya. Lagi pula dapat menghemat energy.
KAVITASI PADA POMPA (II)
Pada bagian pertama tulisan yang lalu, kita telah mengenal apa itu kavitasi, efek yang
ditimbulkannya dan klasifikasi kavitasi,yaitu :

1. Vaporisation - Penguapan.
Selanjutnya kita kaji secara singkat klasifikasi yang kedua

2. Air Ingestion - Masuknya Udara Luar ke Dalam System


Pompa sentrifugal hanya mampu meng'handle' 0.5% udara dari total volume. Lebih dari 6% udara,
akibatnya bisa sangat berbahaya, dapat merusak komponen pompa.
Udara dapat masuk ke dalam system melalui beberapa sebab, antara lain :
 Dari packing stuffing box (Bagian A - Lihat Gambar). Ini terjadi, jika pompa dari
kondensor, evaporator atau peralatan lainnya bekerja pada kondisi vakum.
 Letak valve di atas garis permukaan air (water line).
 Flens (sambungan pipa) yang bocor.
 Tarikan udara melalui pusaran cairan (vortexing fluid).
 Jika 'bypass line' letaknya terlalu dekat dengan sisi isap, hal ini akan menambah suhu udara
pada sisi isap.
 Berkurangnya fluida pada sisi isap, hal ini dapat terjadi jika level cairan terlalu rendah.
Vortexing Fluida
Keduanya, baik penguapan maupun masuknya udara ke dalam system berpengaruh besar terhadap
kinerja pompa yaitu pada saat gelembung-gelembung udara itu pecah ketika melewati 'eye
impeller'(Bagian G - Lihat Gambar) sampai pada sisi keluar (Sisi dengan tekanan yang lebih
tinggi). Terkadang, dalam beberapa kasus dapat merusak impeller atau casing. Pengaruh terbesar
dari adanya jebakan udara ini adalah berkurangnya kapasitas pompa.

3. Internal Recirculation - Sirkulasi Balik di dalam System


Kondisi ini dapat terlihat pada sudut terluar (leading edge) impeller, dekat dengan diameter luar,
berputar balik ke bagian tengah kipas. Ia dapat juga terjadi pada sisi awal isap pompa.
Efek putaran balik ini dapat menambah kecepatannya sampai ia menguap dan kemudian 'pecah'
ketika melalui tempat yang tekanannya lebih tinggi. Ini selalu terjadi pada pompa dengan NPSHA
yang rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, kita harus tahu nilai Suction Spesific Speed , yang
dapat digunakan untuk mengontrol pompa saat beroperasi, berapa nilai terdekat yang teraman
terhadap nilai BEP(Best Efficiency Point) pompa yang harus diambil untuk mencegah terjadinya
masalah.
Nilai Suction Spesific Speed yang diijinkan adalah antara 3.000 sampai 20.000. Rumus yang
dipakai adalah :

Dimana :
rpm = Kecepatan Pompa
Capacity = Gallons per menit, atau liters per detik dari impeller terbesar pada nilai BEP(Best Efficiency
Point) -nya.
Head = Net Positive Suction Head is Required (feet atau meter)pada nilai rpm-nya.
Catatan penting :
 Untuk pompa double suction, kapasitas dibagi 2 karena ada 2 impeller eyes.
 Ideal untuk 'membeli' pompa dengan nilai Suction Spesific Speed kurang dari 8500(5200
metrik) kecuali untuk kondisi yang ekstrim.
 Mixed Hydrocarbon dan air panas idealnya pada 9000 ÷ 12000 (5500÷7300 metric) atau
lebih tinggi, lebih bagus.
 Nilai Suction Spesific Speed yang tinggi menandakan impeller eye-nya lebih besar dari
biasanya dan biasanya nilai efisiensinya disesuaikan dengan nilai NPSHR yang rendah.
 Lebih tinggi nilai Suction Spesific Speed memerlukan desain khusus, operasinya
memungkinkan adanya kavitasi.
 Biasanya, pompa yang beroperasi dibawah 50% dari nilai BEP-nya tidakreliable.
Jika kita memakai open impeller, kita dapat mengoreksi internal recirculation dengan mengatur
suaian(clearance) impeller sesuai dengan spesifikasi pabrik pembuatnya.

Jenis impeller
Untuk jenis Closed Impeller lebih banyak masalahnya dan kebanyakan pada prakteknya
dikembalikan ke pabrik pembuatnya untuk di evaluasi atau mungkin didesain ulang pada
impellernya atau perubahan ukuran suaian(clearance) pada wearing ring.

KAVITASI PADA POMPA (III)

Pada dua tulisan yang lalu : di sini dan di sini, kita telah mengenal apa itu kavitasi, efek yang
ditimbulkannya dan klasifikasi kavitasi,yaitu :

1. Vaporisation - Penguapan.
2. Air Ingestion - Masuknya Udara Luar ke Dalam System
3. Internal Recirculation - Sirkulasi Balik di dalam System
Selanjutnya kita kaji secara singkat klasifikasi yang keempat :
4. Turbulence - Pergolakan Aliran
Kita selalu menginginkan aliran fluida pada kecepatan yang konstan. Korosi dan hambatan
yang ada pada system perpipaan dapat merubah kecepatan fluida dan setiap ada perubahan
kecepatan, tekanannya juga berubah. Untuk menghambat hal tersebut, perlu dilakukan
perancangan system perpipaan yang baik. Antara lain memenuhi kondisi berikut :
Jarak minimum antara suction pompa dengan elbow yang pertama minimal 10 X diameter
[Link] pengaturan banyak pompa, pasang suction bells pada bays yang terpisah, sehingga satu
sisi isap pompa tidak akan mengganggu yang lainnya. Jika ini tidak memungkinkan, beberapa
buah pompa bisa dipasang pada satu bak isap (sump) yang besar, dengan syarat :
 Posisi pompa tegak lurus dengan arah aliran.
 Jarak antara dua 'center line' pompa minimum dua kali suction diameter.
 Semua pompa dalam keadaan 'runing'.
 Bagian piping upstream paling tidak memiliki pipa yang lurus dengan panjang
minimal 10 x diameter pipa.
 Setiap pompa harus memiliki kapasitas kurang dari 15.000 gpm.
 Suaian dasar pompa seharusnya sekitar 30% diameter pipa isap.
 Hubungan kedalaman pemasangan pompa dengan kapasitas disesuaikan dengan
table berikut :
Kapasitas Kedalaman Minimum
20,000 GPM 4 FEET
100,000 GPM 8 FEET
180,000 GPM 10 FEET
200,000 GPM 11 FEET
250,000 GPM 12 FEET
Untuk metrik :
Kapasitas Kedalaman Minimum
4,500 M3/HR 1.2 METERS
22,500 M3/HR 2.5 METERS
40,000 M3/HR 3.0 METERS
45,000 M3/HR 3.4 METERS
55,000 M3/HR 3.7 METERS
5. Vane Passing Syndrome
Kerusakan akibat kavitasi jenis ini terjadi ketika diameter luar impeller lewat terlalu dekat dengan
'cutwater' pompa. Kecepatan aliran fluida ini bertambah tatkala alirannya melalui lintasan kecil
tersebut, tekanan berkurang dan menyebabkan penguapan lokal. Gelembung udara yang terbentuk
kemudian pecah pada tempat yang memiliki tekanan yang lebih tinggi, sedikit diluar
alur cutwater. Hal inilah yang menyebabkan kerusakan padavolute(rumah keong) pompa.
Untuk mencegah pergerakan poros yang berlebihan, beberapa pabrik pembuat memasangbulkhead
rings pada suction eye. Pada sisi keluar (discharge), ring dapat dibuat untuk memperpanjang sisi
keluar dari dinding discharge sampai selubung impeller.

PENGARUH KAVITASI TERHADAP KINERJA POMPA

Pada empat tulisan sebelumnya kita telah mengenal pengaruh kavitasi dan klasifikasi kavitasi
berdasarkan penyebab utamanya.
Kali ini kita kembali memperdalam pengaruh kavitasi ini secara lebih detil. Sebelumnya kita telah
tahu pengaruh kavitasi secara umum adalah sebagai berikut :
 Berkurangnya kapasitas pompa
 Berkurangnya head (pressure)
 Terbentuknya gelembung-gelembung udara pada area bertekanan rendah di dalam
selubung pompa (volute)
 Suara bising saat pompa berjalan.
 Kerusakan pada impeller atau selubung pompa(volute).
Pada tulisan ini akan kita bahas kenapa semua itu bisa terjadi.
Kavitasi dinyatakan dengan cavities atau lubang di dalam fluida yang kita pompa. Lubang ini juga
dapat dijelaskan sebagai gelembung-gelembung, maka kavitasi sebenarnya adalah pembentukan
gelembung-gelembung dan pecahnya gelembung tersebut. Gelembung terbentuk tatkala cairan
mendidih. Hati-hati untuk menyatakan mendidih itu sama dengan air yang panas untuk disentuh,
karena oksigen cair juga akan mendidih dan tak seorang pun menyatakan itu panas.
Mendidihnya cairan terjadi ketika ia terlalu panas atau tekananya terlalu rendah. Pada tekanan
permukaan air laut 1 bar (14,7 psia) air akan mendidih pada suhu 212oF (100oC). Jika tekanannya
turun air akan mendidih pada suhu yang lebih rendah. Ada tabel yang menyatakan titik didih air
pada setiap suhu yang berbeda. Sebagai contoh dapat dilihat tabel berikut :
Fahrenheit Centigrade Vapor pressure lb/in2 A Vapor pressure (Bar) A
40 4.4 0.1217 0.00839
100 37.8 0.9492 0.06546
180 82.2 7.510 0.5179
212 100 14.696 1.0135
300 148.9 67.01 4.62
Satuan tekanan di sini yang digunakan adalah absolute bukan pressure gauge, ini jamak dipakai
tatkala kita berbicara mengenai sisi isap pompa untuk menghindari tanda minus. Maka saat
menyebut tekanan atmosfir nol, kita katakan 1 atm sama dengan 14,7 psia pada permukaan air laut
dan pada sistim metrik kita biasa memakai 1 bar atau 100 kPa.
Kita balik ke paragraf pertama untuk menjelaskan akibat dari kavitasi, sehingga kita lebih tahu apa
sesungguhnya yang terjadi.

Kapasitas Pompa Berkurang


 Ini terjadi karena gelembung-gelembung udara banyak mengambil tempat(space), dan kita
tidak bisa memompa cairan dan udara pada tempat dan waktu yang sama. Otomatis cairan yang
kita perlukan menjadi berkurang.
 Jika gelembung itu besar pada eye impeller, pompa akan kehilangan pemasukan dan
akhirnya perlu priming (tambahan cairan pada sisi isap untuk menghilangkan udara).
Tekanan (Head) kadang berkurang
Gelembung-gelembung tidak seperti cairan, ia bisa dikompresi (compressible). Nah, hasil
kompresi inilah yang menggantikan head, sehingga head pompa sebenarnya menjadi berkurang.

Pembentukan gelembung pada tekanan rendah karena mereka tidak bisa terbentuk pada
tekanan tinggi.
Kita harus selalu ingat bahwa jika kecepatan fluida bertambah, maka tekanan fluida akan
berkurang. Ini artinya kecepatan fluida yang tinggi pasti di daerah bertekanan rendah.
Ini akan menjadi masalah setiap saat jika ada aliran fluida melalui pipa terbatas, volute atau
perubahan arah yang mendadak. Keadaan ini sama dengan aliran fluida pada penampang kecil
antara ujung impeller dengan volute cut water.

Bagian-bagian Pompa Rusak


 Gelembung-gelembung itu pecah di dalam dirinya sendiri, ini
dinamakanimploding kebalikan dari exploding. Gelembung-gelembung itu pecah dari segala sisi,
tetapi bila ia jatuh menghantam bagian dari metal seperti impeller atau voluteia tidak bisa pecah
dari sisi tersebut, maka cairan masuk dari sisi kebalikannya pada kecepatan yang tinggi dilanjutkan
dengan gelobang kejutan yang mampu merusak part pompa. Ada bentuk yang unik yaitu bentuk
lingkaran akibat pukulan ini, dimana metal seperti dipukul dengan 'ball peen hammer'.
 Kerusakan ini kebanyakan terjadi membentuk sudut ke kanan pada metal, tetapi
pengalaman menunjukan bahwa kecepatan tinggi cairan kelihatannya datang dari segala sudut.
Semakin tinggi kapasitas pompa, kelihatannya semakin mungkin kavitasi terjadi. NilaiSpecific
speed pump yang tinggi mempunyai bentuk impeller yang memungkinkan untuk beroperasi pada
kapasitas yang tinggi dengan power yang rendah dan kecil kemungkinan terjadi kavitasi. Hal ini
biasanya dijumpai pada casing yang berbentuk pipa, dari pada casing yang berbentuk volute seperti
yang sering kita lihat.

Common questions

Didukung oleh AI

Cavitation in centrifugal pumps occurs when pressure in the pump falls below the vapor pressure of the fluid, causing the fluid to vaporize. Conditions leading to cavitation include inadequate NPSHa, high suction temperature, and high suction friction losses. Consequences of cavitation are noisy operation, vibrations, decreased pump efficiency, reduction in capacity, and potential damage to pump components like impellers. Proper NPSHa calculation and pump maintenance can mitigate these issues .

Elevation inversely affects atmospheric pressure; as altitude increases, atmospheric pressure decreases, reducing Ha in the NPSHa formula. This means less atmospheric pressure is available to push fluid into the pump, which can be problematic for pumping systems at higher altitudes since they start with a lower head. For instance, at 5000 feet elevation, the atmospheric head is reduced to 28.2 feet compared to 33.9 feet at sea level, requiring adjustments in system design to ensure adequate NPSHa .

The Net Positive Suction Head Available (NPSHa) is calculated by considering several factors: atmospheric head (Ha), static head (Hs), vapor head (Hvp), friction head (Hf), and inlet head (Hi). The formula is: NPSHa = Ha + Hs - Hvp - Hf - Hi. Each element either adds or subtracts energy from the system; Ha provides initial head energy, Hs relates to fluid height differences, Hvp accounts for vapor pressure based on fluid temperature, Hf considers friction losses in piping, and Hi serves as a safety margin .

Suction specific speed (Ns) is an important factor in pump reliability, indicating how well a pump can handle low NPSHa conditions. Ideal Ns values are application-dependent; lower Ns (<8500) is better for reliable operations, ensuring efficiency and lowering cavitation risk. Higher Ns values are used in specific applications like handling mixed hydrocarbons (9000-12000). Designing pumps with appropriate Ns based on application specifics helps prevent operational issues and ensure reliable performance .

Turbulence contributes to pump cavitation by causing rapid changes in fluid velocity and pressure, leading lower local pressures that facilitate vaporization. To minimize turbulence, system design should ensure smooth and consistent fluid flow. Techniques include maintaining an appropriate distance between the pump suction and the first bend, using gradual pipe diameter transitions, and streamlining flow paths to reduce sharp turns and obstacles. These measures help maintain stable pressure and reduce the risk of cavitation from turbulence .

In closed, pressurized tanks, Ha and Hvp influence NPSHa calculation by canceling each other out; Ha adds pressure due to the tank's pressurization, while Hvp subtracts due to vapor pressure. This mutual cancellation simplifies the NPSHa formula to NPSHa = Hs - Hf - Hi, focusing on the static head, friction loss, and inlet head factors without needing to account for Ha and Hvp separately .

Altering a pump's operating point—moving it away from its Best Efficiency Point (BEP)—can reduce efficiency and increase cavitation risk. Operating below 50% of BEP can lead to higher internal recirculation and turbulence, causing uneven load distribution and increased susceptibility to cavitation. To optimize efficiency, the operating point should be kept close to the BEP, ensuring minimal energy losses and stable system pressure. Adjustments like modifying impeller size or adjusting pump speed can help maintain the desired operating point .

Mechanical seals prevent air ingestion by providing effective sealing at dynamic interfaces within pump systems. They comprise rotating and stationary seal faces made from different materials to minimize adhesion and wear. Typical materials are softer carbon-graphite and harder silicon-carbide, forming tight sealing points that block air entry at junctions such as the stuffing box. Properly designed mechanical seals reduce air ingress, which is crucial for maintaining pump efficiency and preventing cavitation .

To prevent vaporization-induced cavitation, a pump system should ensure NPSHa exceeds NPSHr by selection and application of appropriate measures. These include increasing the fluid level in the tank, reducing friction losses by optimizing the piping layout, maintaining a lower suction fluid temperature, and using lower speed pumps with improved suction designs like double suction, adding inducers, or choosing impellers with larger eye openings. Each of these adjustments helps maintain pressure above the fluid's vapor pressure, mitigating the risk of cavitation .

Friction head losses significantly affect a pumping system when the distance or complexity of the suction piping is high, causing increased resistance. For instance, in a system with numerous valves, bends, and fittings, the cumulative friction losses can diminish the effective energy available to move the fluid. This loss results in lower NPSHa and potential cavitation if not compensated in the system design, highlighting the importance of efficient piping layouts and appropriate component sizing .

Anda mungkin juga menyukai