EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD)
MAKALAH
Mata Kuliah Epidemiologi Penyakit Menular
Dosen :Lila Kania Rahsa Puji, [Link], [Link]
05KSMP003
KELOMPOK 3
1. DIAN HANDAYANI (161040500074)
2. ELISA SUSANTI (161040500107)
3. NURUL AZSKIA (161040500101)
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) KHARISMA PERSADA
TANGERANG SELATAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemudahan dan petunjuk dalam menyelesaikan makalah yang
berjudul “Epidemiologi Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD)”.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Epidemiologi
Penyakit Menular.
Penyusun menyadari tanpa bantuan dari berbagai pihak, tidak banyak yang
bisa penyusun lakukan dalam menyelesaikan makalah ini. Untuk itu, penyusun
menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas semua bantuan dan
dukungannya selama pelaksanaan dan penyusunan makalah ini kepada ibu Lila
Kania Rahsa Puji, [Link], [Link] selaku dosen mata kuliah Epidemiologi Penyakit
Menular.
Tangerang Selatan, 23 September2018
Penyusun
i
DAFTAR ISI
Kata pengantar ............................................................................................. i
Daftar Isi ......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................... 3
1.3. Tujuan ................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................
2.1. Definisi Penyakit Menular DBD ............................................
2.2. Analisa Situasi Penyakit Menular DBD .................................
2.3. Triad Epidemiologi Penyakit Menular DBD ..........................
2.4. Rawayat Alamiah Penyakit Menular DBD ............................
2.5. Penularan dan Pencegahan Penyakit Menular DBD ..............
BAB III PENUTUP ......................................................................................
3.1. Kesimpulan .............................................................................
3.2. Saran .......................................................................................
Daftar Pustaka ..............................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
[Link] Belakang
Demam berdarah dengue ( DBD ) merupakan penyakit arbovirus dari
keluarga flavivirus yang memiliki empat serotype berbeda (DEN-1, 2, -3, and
-4) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes
albopictus. Demam berdarah dengue ( DBD ) menjadi perhatian di seluruh
dunia terutama di Asia dikarenakan sebagai penyebab utama kesakitan dan
kematian anak. Data dari WHO menunjukkan sekitar 1,8 miliar (lebih dari
70%) dari populasi berisiko dengue di seluruh dunia yang tinggal di negara
anggota WHO wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat, menderita hampir
75% dari beban penyakit global saat ini disebabkan oleh demam berdarah
dengue ( DBD ).
Gambar [Link] dengan risiko transmisi virus [Link] :WHO, 2012.
1
Epidemi demam berdarah dengue ( DBD ) adalah masalah kesehatan
utama masyarakat di Indonesia, Myanmar, Sri Langka, Thailand dan Timor Leste
yangberada di zona hujan tropis dan katulistiwa dimana nyamuk Aedes aegypti
tersebar luas di daerah perkotaan dan pedesaan, tempat beberapa serotype virus
beredar. Demam berdarah dengue ( DBD ) pertama kali digunakan di Asia
Tenggara tahun 1953 di Filipina. DBD di Indonesia pertama kali dicurigai pada
tahun 1968 terdapat di Surabaya dan konfirmasi virologisnya diperoleh pada
tahun [Link] 1972 epidemi pertama di luar Jawa dilaporkan terdapat di
Sumatera Barat dan lampung kemudian tahun 1973 disusul Riau, Sulawesi Utara
dan Bali. Saat ini demam berdarah dengue ( DBD ) sudah endemis di kota besar
dan penyakit ini telah berjangkit di daerah pedesaan.
Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Indonesia tahun 2012
menyebutkan jumlah penderita DBD di Indonesia sebanyak 90.245 kasus dengan
jumlah kematian 816 orang (Indeks Rate/IR= 37,27 per 100.000 penduduk dan
Case Fatality Rate/CFR= 0,90 %). Jumlah kasus penyakit DBD terbanyak terdapat
di Provinsi Jawa Barat yaitu 19.663 kasus diikuti oleh Jawa Timur (8.177 kasus),
Jawa Tengah (7.088 kasus) dan DKI Jakarta (6669 kasus).Keempatnya merupakan
provinsi yang memiliki jumlah penduduk terbesar dimana ini merupakan faktor
risiko dari penyebaran penyakit dengue.
2
Gambar 2. Jumlah Kasus Infeksi Dengue per Provinsi pada Tahun 2012. Sumber
: Kementrian Kesehatan, 2013
Sedangkan untuk jumlah kematian penyakit demam berdarah dengue
(DBD) tiap provinsi pada tahun 2012, tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat
yaitu 167 kematian yang diikuti oleh Provinsi Jawa Timur (114 kematian) dan
Jawa Tengah (108 kematian) dan Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah kematian
DBD yang rendah yaitu 4 kematian, hal tersebut dikarenakan sistim surveilans
dan manajemen penatalaksanaan kasus DBD di DKI Jakarta yang cukup baik.
Gambar 3. Jumlah Kematian Infeksi Dengue per Provinsi pada Tahun 2012.
Sumber : Kementrian Kesehatan, 2013
3
[Link] Masalah
1. Bagaimana analisa situasi DBD?
2. Bagaimana Triad DBD?
[Link]
1. Mahasiswa mampu menjelaskan epidemiologi DBD
2. Mahasiswa mampu memahami triad epidemiologi DBD
4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh virus Dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes dan ditandai
dengan demam mendadak 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau
lesu, gelisah, nyeri ulu hati, akral dingin, sering kali desertai pendarahan di
kulit berupa bintik pendarahan, kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah
darah dan kesadaran menurun (Widoyono, 2008: 60-63).
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus [Link]
ini termasuk dalam group B Arthropod Borne Viruses (Arbovirusis)
kelompok Flafivirus dari famili Flaviviridae yang terdiri dari empat serotipe
yaitu virus dengue-1 (DEN1), virus dengue-2 (DEN2), virus dengue-3
(DEN3), virus dengue-4 (DEN4).Keempat jenis virus ini masing-masing
saling berkaitan sifat antigennya dan dapat menyebabkan sakit pada
[Link] tipe virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di
[Link] penelitian menunjukan bahwa dengue-3 merupakan serotipe
virus yang dominan menyebabkan gejala klinis berat dan penderita banyak
yang meninggal (Fitriyani, 2007: 2-3).
2.2. Analisa Situasi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD
adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk
ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes,
5
misalnya Aedes aegypti atau Aedes [Link] empat jenis virus
dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam
[Link] dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili
[Link] demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan
subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang
[Link] Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya
terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia suatu
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes
aegypti betina lewat gigitan saat menghisap darah manusia (Brooks, 2007).
Penyakit demam berdarah juga mewabah di [Link]
kematian sekitar 1.317 orang tahun 2010, Indonesia menduduki urutan
tertinggi kasus demam berdarah dengue di ASEAN. Indonesia bekerja sama
dengan negara-negara anggota ASEAN dalam membasmi penyakit DBD.
Berdasarkan data Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), jumlah
kasus DBD di Indonesia tahun 2010 ada 150.000 kasus. Potensi penyebaran
DBD di antara negara-negara anggota ASEAN cukup tinggi mengingat
banyak wisatawan keluar masuk dari satu negara ke negara lain.
2.3. Triad Epidemiologi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Menurut WHO, faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit
DBD, antara lain faktor host, lingkungan (environment), dan faktor virusnya
sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Faktor
lingkungan (environment) yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan
air laut, curah hujan, kecepatan angin, kelembaban udara, musim), kondisi
6
geografis ini juga dipengaruhi oleh kondisi demografis (kepadatan penduduk,
mobilitas penduduk, perilaku, adat istiadat, dan sosial ekonomi penduduk)
(Lizda Iswari, 2008: E-79).
1. Faktor Agent (Penyebab)
Agent (penyebab penyakit) yaitu semua unsur atau elemen hidup dan mati
yang kehadiran atau ketidakhadirannya, apabila di ikuti dengan kontak
yang efektif dengan manusia rentan dalam keadaan yang memungkinkan
akan menjadi stimulus untuk mengisi dan memudahkan terjadinya suatu
proses penyakit. Dalam hal ini yang menjadi agent dalam penyebaran
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah virus Dengue
(Fitriyani, 2007: 4).
2. Faktor Host (Penjamu)
Host (Penjamu) yang dimaksud adalah penderita penyakit DBD. Faktor
host (penjamu) antara lain umur, ras, sosial ekonomi, cara hidup, status
perkawian, hereditas, nutrisi dan imunitas. Beberapa penyebab faktor
penjamu (Bismi Rahma Putri, 2009: 4):
a. Kelompok umur akan berpengaruh terhadap penularan penyakit.
Beberapa penelitian yang telah dilakuakn menunjukan bahwa
kelompok umur yang paling banyak diserang DBD adalah kelompok
<15 tahun, yang sebagian besar merupakan usia sekolah.
b. Kondisi sosial ekonomi akan mempengaruhi perilaku manusia dalam
mempercepat penularan penyakit DBD, seperti kurangnya pendingin
ruangan (AC) di daerah tropis membuat masyarakat duduk-duduk
7
diluar rumah pada pagi dan sore hari. Waktu pagi dan sore tersebut
merupakansaat nyamuk Aedes aegypti mencari mangsanya.
c. Tingkat kepadatan penduduk. Penduduk yang padat akan
memudahkan penularan DBD karena berkaitan dengan jarak terbang
nyamuk sebagai vektornya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan
bahwa kejadian epidemi DBD banyak terjadi pada daerah yang
berpenduduk padat.
d. Imunitas adalah daya tahan tubuh terhadap benda asing atau sistem
kekebalan. Jika sistem kekebalan tubuh rendah atau menurun, maka
dengan mudah tubuh akan terserang penyakit.
e. Status gizi diperoleh dari nutrisi yang diberikan. Secara umum
kekurangan gizi akan berpengaruh terhadap daya tahan dan respons
imunologis terhadap penyakit.
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang diklasifikasikan atas empat komponen
yaitulingkungan fisik, lingkungan kimia, lingkungan biologi dan
lingkungan sosial.
a. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik mencakup keadaan iklim yang terdiri dari
curah hujan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin, sinar
matahari, dan ketinggian [Link] fisik berpengaruh
langsung terhadap komposisi spesies vektor habitat perkembangan
nyamuk sebagai vektor, populasi, longivitas dan penularannya.
8
1) Curah Hujan
Curah hujan mempunyai kontribusi dalam tersedianya
habitat [Link] hujan akan menambah genangan air sebagai
tempat perindukan nyamuk. Pengaruh curah hujan terhadap vektor
bervariasi, tergantung pada jumlah curah hujan, suhu udara,
kelembaban udara, frekuensi hari hujan, keadaan geografis dan
tempat penampunan air yang merupakan sebagai tempat
perkembangbiakan [Link] Asia Tenggara Di temukan
hubungan yang kuat antara curah hujan dan insident
[Link] puncak transmisi diketahui pada bulan-bulan
dengan curah hujan tinggi dengan temperatur tinggi, karena pada
prinsipnya habitat laarva Aedes aegypti adalah tersedianya water
storage [Link] beberapa tempat penyakit Dengue datang
sebelum tiba musim hujan dan meningkat saat peralihan musim
(Fitriyani, 2007: 5).
2) Kelembaban Udara
Kelembaban nisbi merupakan faktor yang membatasi bagi
pertumbuhan, penyebaran dan umur [Link] ini erat kaitannya
dengan sistem pernafasan trakea, sehingga nyamuk sangat rentan
terhadap kelembaban [Link] nyamuk yang mempunyai
habitat hutan lebih rentan terhadap perubahan kelembaban dari
pada spesies yang mempunyai habitat iklim kering (Fitriyani,
2007: 5-6).
9
3) Temperatur Udara
Temperatur udara merupakan salah satu pembatas antara
penyebaran [Link] berpengaruh pada daur hidup,
kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangannya.
Adaptasi suatu spesies terhadap keadaan suhu udara yang tinggi
dan rendah akan mempengaruhi sebaraan geografis spesies
tersebut. Siklus gonotropik atau perkembangan telur, umur dan
proses pencemaran nyamuk dipengaruhi oleh temperatur. Kondisi
lingkungan dengan temperatur 27⁰C-30⁰C dalam waktu yang lama
akan mengurangi populsi vektor (Fitriyani, 2007: 5).
4) Kecepatan Angin
Kecepatan angin secara tidak langsung mempengaruhi
suhu udara dan kelembaban [Link] langsung dari
kecepatan angin yaitu kemampuan terbang. Apabila kecepatan
angin 11-14 m/detik akan menghambat aktivitas terbang nyamuk.
Nyamuk Aedes aegypti mempunyai jarak terbang paling efektif
50-100 mil atau 81-161 km (Fitriyani, 2007: 6).
5) Sinar Matahari
Pada umumnya sinar matahari berpengaruh terhadap
aktivitas nyamuk dalam mencari makan dan [Link]
nyamuk mempunyai variasi dalam pilihan intensitas cahaya untuk
aktivitas terbang, aktivitas mengigit dan pilihan tempat istirahat
(Fitriyani, 2007: 6).
10
6) Ketinggian Tempat
Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit DBD
hidup pada ketinggian 0-500 meter dari permukaan dengan daya
hidup yang tinggi, sedangkan pada ketinggian 1000 meter dari
permukaan laut nyamuk Aedes aegypti idealnya masih bisa
bertahan hidup. Ketinggian 1000-1500 meter dari permukaan laut
pada daerah Asia Tenggara merupakan batas penyebaran nyamuk
Aedes [Link] di daerah Amerika Latin nyamuk masih
bisa bertahan pada ketinggian 2200 meter dari permukaan laut
dengan suhu 17oC (Bismi Rahma Putri, 2009: 5).
b. Lingkungan Kimia
Air adalah materi yang sangat penting dalam
[Link] ada satupun makhluk hidup yang dapat hidup tanpa
[Link] merupakan habitat nyamuk [Link] berperan penting
terhadap perkembangbiakan [Link] dapat dipengaruhi oleh
perubahan penyediaan air. Salah satu diantaranya adalah infeksi yang
ditularkan oleh serangga yang bergantung pada air (water related
insect vector) seperti Aedes aegypti dapat berkembangbiak pada air
dengan pH normal 6,5-9 ( Fitriyani, 2007: 6).
c. Lingkungan Biologi
Lingkungan biologi berpengaruh terhadap resiko penularan
penyakit menular. Hal yang berpengaruh antara lain jenis parasit,
status kekebalan tubuh penduduk, jenis dan populasi serta potensi
11
vektor dan adanya predator dan populasi hewan yang ada (Fitriyani,
2007: 6).
d. Lingkungan Sosial Ekonomi
Menurut Andriani (2001) secara umum faktor berkaitan
dengan lingkungan sosial ekonomi adalah (Bismi Rahma Putri, 2009:
6):
1) Kepadatan penduduk, akan mempengaruhi ketersedian makanan
dan kemudahan dalam penyebaran penyakit.
2) Kehidupan sosial seperti perkumpulan olahraga, fasilitas
kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas ibadah dan lain
sebagainya.
3) Stratifikasi sosial berdasarkan tingkat pendidikan, pekerjaan, etnis
dansebagainya.
4) kemiskinan, biasanya berkaitan dengan malnutrisi, fasilitas yang
tidak memadai, secara tidak langsung merupakan faktor
penunjang dalam proses penyebaran penyakit menular.
5) Keberadaan dan ketersediaan fasilitas kesehatan.
2.4. Riwayat Alamiah Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD)
Perjalanan penyakit DBD sering susah diramalkan, karena gejala
klinis DBD menyerupai penyakit lain dan sebagian penderita dengan renjatan
berat dapat disembuhkan walaupun hanya dengan pengobatan yang
sederhana. Penjelasan tentang riwayat alamiah penyakit DBD dapat dibagi
menjadi beberapa fase, yaitu fase suseptibel (rentan), subklinis, klinis dan
12
[Link] suseptibel dimulai pada saat nyamuk Aedes aegypti yang tidak
infektif kemudian menjadi infektif setelah menggigit manusia yang sakit atau
dalam keadaan viremia (WHO, 2004).Nyamuk Aedes aegypti yang telah
menghisap virus dengue dapat menjadi penular DBD seumur hidupnya.
Fase subklinis merupakan tahapan yang dimulai dari paparan agen
penyebab DBD hingga timbulnya manifestasi klinis disebut dengan masa
inkubasi [Link] fase ini penyakit belum menampakkan tanda dan gejala
klinis, atau disebut dengan fase subklinis (asimtomatis).Masa inkubasi ini
dapat berlangsung dalam hitungan detik pada reaksi toksik atau
hipersensitivitas.
Fase subklinis DBD ialah waktu setelah virus Dengue masuk
bersama air liur nyamuk ke dalam tubuh, virus tersebut kemudian
memperbanyak diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah
bening untuk kemudian masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Virus ini
berada di dalam darah hanya selama 3 hari sejak ditularkan oleh nyamuk
(Lestari, 2007).
Pada fase subklinis ini, jumlah trombosit dalam tubuh masih dalam
keadaan normal selama 3 hari pertama (Rena et al, 2009). Akan tetapi,
sebagai perlawanan tubuh akan membentuk antibodi, selanjutnya akan
terbentuk kompleks virus-antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai
antigennya. Kompleks antigen-antibodi ini akan melepaskan zat-zat yang
merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun.
13
Proses autoimun menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat
yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah
kapiler dan dapat mengakibatkan bocornya sel-sel darah seperti trombosit dan
eritrosit (Widoyono, 2008). Jika hal ini terjadi, maka penyakit DBD akan
memasuki fase klinis dimana sudah mulai ditemukan gejala dan tanda secara
klinis adanya suatu penyakit.
WHO (2004) membagi menjadi 4 (empat) tingkatan derajat berat penyakit
DBD, antara lain:
a. Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi
perdarahan ialah uji tourniqet.
b. Derajat II : Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau
perdarahan lain. Terjadi hemokonsentrasi yaitu peningkatan hematokrit di
atas atau sama dengan 20% karena perembesan plasma.
c. Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan darah menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis
dengan tanda kebiruan di sekitar mulut, kulit dingin dan lembap dan anak
tampak gelisah.
d. Derajat IV : Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan
tekanan darah tidak terukur. Fase terakhir dalam perjalan penyakit DBD
ialah tahap pemulihan atau kematian jika tidak tertangani dengan baik.
Tahap pemulihan bergantung pada penderita dalam melewati fase
kritisnya. Tahap pemulihan dapat dilakukan dengan pemberian infus atau
transfer trombosit. Bila penderita dapat melewati masa kritisnya maka
14
pada hari keenam dan ketujuh penderita akan berangsur membaik dan
kembali normal pada hari ketujuh dan kedelapan, namun apabila
penderita tidak dapat melewati masa kritisnya maka akan menimbulkan
kematian (Lestari, 2007).
2.5. Penularan dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Penularan
Sebenarnya ada beberapa jenis nyamuk yang bertindak
sebagai vektor virus dengue seperti Aedes aegypti, Aedes
polynesiensis dan Aedes albopictus. Namun nyamuk Aedes aegypti
merupakan vektor utama terjadinya DBD di seluruh wilayah
Indonesia. Nyamuk Aedes aegypti ini dapat dikenali dengan melihat
ciri khasnya berupa bercak-bercak putih di sekujur tubuh dan kakinya.
Nyamuk ini dapat terbang tanpa henti hingga 4 jam dengan jarak
tempuhnya yang dapat mencapai 5 km dalam sekali perjalanannya.
Nyamuk betina bertanggung jawab terhadap penularan virus dengue
karena bersifat antrofilik dan memerlukan darah untuk memproduksi
telurnya. Berbeda dengan nyamuk jantan yang biasanya hanya
berumur seminggu dan hidup dengan menghisap nektar.
Virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti betina
ini didapatkan dari seseorang yang sebelumnya telah terjangkiti DBD
atau seseorang yang tidak terkena DBD namun terdapat virus dengue
di dalam darahnya. Di dalam tubuh nyamuk, virus ini pun akan masuk
dan berkembang biak di dalam usus halusnya. Setelah melewati fase
15
perkembang biak kan di usus halus nyamuk, virus dengue yang terdiri
dari empat tipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 ini
kemudian akan berpindah tempat menuju ke kelenjar saliva atau
kelenjar ludah nyamuk dan siap ditularkan lagi ke manusia lewat
gigitannya. Proses pengigitan nyamuk betina biasanya berlangsung
pada siang dan sore hari. Ketika nyamuk betina menggigit manusia,
kelenjar saliva yang telah terinfeksi virus dengue tersebut kemudian
akan masuk ke dalam tubuh dan mulai menginfeksi. Di dalam tubuh
manusia, virus dengue ini akan mengalami masa inkubasi selama
kurun waktu 4 hingga 7 hari. Untuk kemudian menyerang sistem
peredaran darah yang menyebabkan terjadinya kebocoran pembuluh
darah dan penurunan trombosit dalam jumlah besar hingga
menimbulkan beberapa gejala seperti dijelaskan sebelumnya.
b. Pencegahan
1) Vaksin Demam Berdarah
Saat ini terhitung sejak tahun 2016 yang lalu, vaksin untuk
mencegah demam berdarah telah tersedia di Indonesia. Vaksin
demam berdarah pertama di dunia ini telah diresmikan oleh
WHO dan kesediaannya di Indonesia telah mendapat izin dari
BPOM.
Vaksin bernama dengvaxia ini diproduksi oleh Sanofi Pasteur,
perusahaan asal Perancis, setelah melewati penelitian selama 20
tahun dan studi klinis terhadap 30 ribu orang di seluruh dunia.
16
Vaksin ini terbukti efektif untuk digunakan pada anak berusia 9-
16 tahun dan orang dewasa. Pemberian vaksin dengvaxia sendiri
dilakukan bertahap sebanyak 3 kali suntikan dengan jarak waktu
6 bulan. Di mana setiap suntikannya mengandung vaksin untuk
4 tipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4).
Meski begitu, tindakan vaksinasi ini tak menjamin seseorang
akan 100% terbebas dari infeksi virus dengue. Kemungkinan
terinfeksi masih ada, meski dengan peluang yang lebih kecil dan
gejala yang lebih ringan. Untuk itu, menjaga kebersihan
lingkungan tetaplah menjadi prioritas utama yang harus
dilakukan guna mencegah perkembangbiakkan nyamuk
pembawa virus penyebab demam berdarah.
2) 3M Plus
Cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah demam berdarah
yakni dengan melakukan vaksin dengvaxia dan menjaga kebersihan
sekitar dengan menerapkan gerakan 3M yakni menguras, menutup dan
mengubur barang-barang yang tak lagi terpakai. Selain itu, ada
beberapa tips lain (+) yang dapat diterapkan untuk meminimalisir
penularan penyakit demam berdarah diantaranya sebagai berikut :
a. Usahakan untuk tidak tinggal di daerah padat penduduk dan
menjauhi daerah kumuh.
17
b. Gunakan selalu obat nyamuk baik semprot maupun oles saat
berada di dalam ruangan.
c. Ketika berada di luar ruangan, usahakan untuk mengenakan
pakaian dengan lengan dan celana panjang.
d. Pasanglah kawat antinyamuk di seluruh ventilasi rumah.
e. Gunakan kelambu di tempat tidur.
f. Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala yang
menunjukkan tanda-tanda demam berdarah.
Tindakan pencegahan dengan sedini mungkin menumbuhkan
kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, merupakan cara
terefektif dalam menekan perkembangbiakkan nyamuk pembawa
virus penyebab demam berdarah. Penting untuk bersegera mungkin
memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami beberapa gejala yang
dicurigai sebagai gejala demam berdarah.
18
BAB III
PENUTUP
[Link]
1. Di Indonesia, demam berdarah bukanlah penyakit yang asing, dari tahun
ke tahun penyakit ini selalu menghantui bangsa Indonesia, dengan
bertambahnya informasi yang diberikan pada masyarakat lewat berbagai
media dan bertambahnya kegiatan pemberantasan yang semakin banyak
dan dengan cara yang bervariasi, akan menurunkan jumlah korban demam
berdarah di waktu yang akan datang.
2. Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
virus Dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes dan ditandai dengan
demam mendadak 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau lesu,
gelisah, nyeri ulu hati, akral dingin, sering kali desertai pendarahan di
kulit berupa bintik pendarahan, kadang-kadang mimisan, berak darah,
muntah darah dan kesadaran menurun
3. Pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau
mengurangi vektor nyamuk demam berdarah. Dengan mengubur barang
bekas yang dapat menampung air, menguras tempat penampungan air dan
menimbun barang-barang bekas atau sampah. Atau kita bisa juga berburu
jentik.
[Link]
19
Beberapa ada cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD
melalui metode pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah:
1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat,
modifikasi tempat. perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan
manusia, dan perbaikan desain rumah.
2. Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) pada tempat
air kolam, dan bakteri (Bt.H-14).
3. Pengasapan atau fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion).
4. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan
air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
20
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jendral PP dan PL Depkes RI. Modul Pelatihan Bagi Pelatih
Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) Dengan
Pendekatan Komunikasi Perubahan Perilaku(Communication For Behavioral
Impact), Jakarta : Depkes RI. 2008
Nasry N , Nur. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta : Rineka
Cipta. 2006
[Link] Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, &
[Link] : Penerbit Airlangga. 2008
Yatim, Faisal. Macam-macam Penyakit Menular & Cara Pencegahan,
Jakarta:Pustaka Obor Popular. 2007
21