0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan24 halaman

Epidemiologi Demam Berdarah Dengue DBD

Makalah ini membahas epidemiologi penyakit menular demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Analisis situasi menunjukkan DBD menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dan berpotensi menyebar ke negara ASEAN lainnya. Triad epidemiologi DBD terdiri atas faktor host, lingkungan, dan virus itu sendiri.

Diunggah oleh

Anonymous 24ToNsb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan24 halaman

Epidemiologi Demam Berdarah Dengue DBD

Makalah ini membahas epidemiologi penyakit menular demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Analisis situasi menunjukkan DBD menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dan berpotensi menyebar ke negara ASEAN lainnya. Triad epidemiologi DBD terdiri atas faktor host, lingkungan, dan virus itu sendiri.

Diunggah oleh

Anonymous 24ToNsb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DEMAM BERDARAH DENGUE

(DBD)

MAKALAH

Mata Kuliah Epidemiologi Penyakit Menular

Dosen :Lila Kania Rahsa Puji, [Link], [Link]

05KSMP003

KELOMPOK 3

1. DIAN HANDAYANI (161040500074)

2. ELISA SUSANTI (161040500107)

3. NURUL AZSKIA (161040500101)

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) KHARISMA PERSADA

TANGERANG SELATAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah

memberikan kemudahan dan petunjuk dalam menyelesaikan makalah yang

berjudul “Epidemiologi Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD)”.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Epidemiologi

Penyakit Menular.

Penyusun menyadari tanpa bantuan dari berbagai pihak, tidak banyak yang

bisa penyusun lakukan dalam menyelesaikan makalah ini. Untuk itu, penyusun

menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas semua bantuan dan

dukungannya selama pelaksanaan dan penyusunan makalah ini kepada ibu Lila

Kania Rahsa Puji, [Link], [Link] selaku dosen mata kuliah Epidemiologi Penyakit

Menular.

Tangerang Selatan, 23 September2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar ............................................................................................. i

Daftar Isi ......................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ..................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah ............................................................... 3

1.3. Tujuan ................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................

2.1. Definisi Penyakit Menular DBD ............................................

2.2. Analisa Situasi Penyakit Menular DBD .................................

2.3. Triad Epidemiologi Penyakit Menular DBD ..........................

2.4. Rawayat Alamiah Penyakit Menular DBD ............................

2.5. Penularan dan Pencegahan Penyakit Menular DBD ..............

BAB III PENUTUP ......................................................................................

3.1. Kesimpulan .............................................................................

3.2. Saran .......................................................................................

Daftar Pustaka ..............................................................................................

ii
BAB I

PENDAHULUAN

[Link] Belakang

Demam berdarah dengue ( DBD ) merupakan penyakit arbovirus dari

keluarga flavivirus yang memiliki empat serotype berbeda (DEN-1, 2, -3, and

-4) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes

albopictus. Demam berdarah dengue ( DBD ) menjadi perhatian di seluruh

dunia terutama di Asia dikarenakan sebagai penyebab utama kesakitan dan

kematian anak. Data dari WHO menunjukkan sekitar 1,8 miliar (lebih dari

70%) dari populasi berisiko dengue di seluruh dunia yang tinggal di negara

anggota WHO wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat, menderita hampir

75% dari beban penyakit global saat ini disebabkan oleh demam berdarah

dengue ( DBD ).

Gambar [Link] dengan risiko transmisi virus [Link] :WHO, 2012.

1
Epidemi demam berdarah dengue ( DBD ) adalah masalah kesehatan

utama masyarakat di Indonesia, Myanmar, Sri Langka, Thailand dan Timor Leste

yangberada di zona hujan tropis dan katulistiwa dimana nyamuk Aedes aegypti

tersebar luas di daerah perkotaan dan pedesaan, tempat beberapa serotype virus

beredar. Demam berdarah dengue ( DBD ) pertama kali digunakan di Asia

Tenggara tahun 1953 di Filipina. DBD di Indonesia pertama kali dicurigai pada

tahun 1968 terdapat di Surabaya dan konfirmasi virologisnya diperoleh pada

tahun [Link] 1972 epidemi pertama di luar Jawa dilaporkan terdapat di

Sumatera Barat dan lampung kemudian tahun 1973 disusul Riau, Sulawesi Utara

dan Bali. Saat ini demam berdarah dengue ( DBD ) sudah endemis di kota besar

dan penyakit ini telah berjangkit di daerah pedesaan.

Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Indonesia tahun 2012

menyebutkan jumlah penderita DBD di Indonesia sebanyak 90.245 kasus dengan

jumlah kematian 816 orang (Indeks Rate/IR= 37,27 per 100.000 penduduk dan

Case Fatality Rate/CFR= 0,90 %). Jumlah kasus penyakit DBD terbanyak terdapat

di Provinsi Jawa Barat yaitu 19.663 kasus diikuti oleh Jawa Timur (8.177 kasus),

Jawa Tengah (7.088 kasus) dan DKI Jakarta (6669 kasus).Keempatnya merupakan

provinsi yang memiliki jumlah penduduk terbesar dimana ini merupakan faktor

risiko dari penyebaran penyakit dengue.

2
Gambar 2. Jumlah Kasus Infeksi Dengue per Provinsi pada Tahun 2012. Sumber

: Kementrian Kesehatan, 2013

Sedangkan untuk jumlah kematian penyakit demam berdarah dengue

(DBD) tiap provinsi pada tahun 2012, tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat

yaitu 167 kematian yang diikuti oleh Provinsi Jawa Timur (114 kematian) dan

Jawa Tengah (108 kematian) dan Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah kematian

DBD yang rendah yaitu 4 kematian, hal tersebut dikarenakan sistim surveilans

dan manajemen penatalaksanaan kasus DBD di DKI Jakarta yang cukup baik.

Gambar 3. Jumlah Kematian Infeksi Dengue per Provinsi pada Tahun 2012.

Sumber : Kementrian Kesehatan, 2013

3
[Link] Masalah

1. Bagaimana analisa situasi DBD?

2. Bagaimana Triad DBD?

[Link]

1. Mahasiswa mampu menjelaskan epidemiologi DBD

2. Mahasiswa mampu memahami triad epidemiologi DBD

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan

oleh virus Dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes dan ditandai

dengan demam mendadak 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau

lesu, gelisah, nyeri ulu hati, akral dingin, sering kali desertai pendarahan di

kulit berupa bintik pendarahan, kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah

darah dan kesadaran menurun (Widoyono, 2008: 60-63).

Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus [Link]

ini termasuk dalam group B Arthropod Borne Viruses (Arbovirusis)

kelompok Flafivirus dari famili Flaviviridae yang terdiri dari empat serotipe

yaitu virus dengue-1 (DEN1), virus dengue-2 (DEN2), virus dengue-3

(DEN3), virus dengue-4 (DEN4).Keempat jenis virus ini masing-masing

saling berkaitan sifat antigennya dan dapat menyebabkan sakit pada

[Link] tipe virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di

[Link] penelitian menunjukan bahwa dengue-3 merupakan serotipe

virus yang dominan menyebabkan gejala klinis berat dan penderita banyak

yang meninggal (Fitriyani, 2007: 2-3).

2.2. Analisa Situasi Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD

adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk

ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes,

5
misalnya Aedes aegypti atau Aedes [Link] empat jenis virus

dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam

[Link] dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili

[Link] demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan

subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang

[Link] Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya

terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia suatu

penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes

aegypti betina lewat gigitan saat menghisap darah manusia (Brooks, 2007).

Penyakit demam berdarah juga mewabah di [Link]

kematian sekitar 1.317 orang tahun 2010, Indonesia menduduki urutan

tertinggi kasus demam berdarah dengue di ASEAN. Indonesia bekerja sama

dengan negara-negara anggota ASEAN dalam membasmi penyakit DBD.

Berdasarkan data Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), jumlah

kasus DBD di Indonesia tahun 2010 ada 150.000 kasus. Potensi penyebaran

DBD di antara negara-negara anggota ASEAN cukup tinggi mengingat

banyak wisatawan keluar masuk dari satu negara ke negara lain.

2.3. Triad Epidemiologi Demam Berdarah Dengue (DBD)

Menurut WHO, faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit

DBD, antara lain faktor host, lingkungan (environment), dan faktor virusnya

sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Faktor

lingkungan (environment) yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan

air laut, curah hujan, kecepatan angin, kelembaban udara, musim), kondisi

6
geografis ini juga dipengaruhi oleh kondisi demografis (kepadatan penduduk,

mobilitas penduduk, perilaku, adat istiadat, dan sosial ekonomi penduduk)

(Lizda Iswari, 2008: E-79).

1. Faktor Agent (Penyebab)

Agent (penyebab penyakit) yaitu semua unsur atau elemen hidup dan mati

yang kehadiran atau ketidakhadirannya, apabila di ikuti dengan kontak

yang efektif dengan manusia rentan dalam keadaan yang memungkinkan

akan menjadi stimulus untuk mengisi dan memudahkan terjadinya suatu

proses penyakit. Dalam hal ini yang menjadi agent dalam penyebaran

penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah virus Dengue

(Fitriyani, 2007: 4).

2. Faktor Host (Penjamu)

Host (Penjamu) yang dimaksud adalah penderita penyakit DBD. Faktor

host (penjamu) antara lain umur, ras, sosial ekonomi, cara hidup, status

perkawian, hereditas, nutrisi dan imunitas. Beberapa penyebab faktor

penjamu (Bismi Rahma Putri, 2009: 4):

a. Kelompok umur akan berpengaruh terhadap penularan penyakit.

Beberapa penelitian yang telah dilakuakn menunjukan bahwa

kelompok umur yang paling banyak diserang DBD adalah kelompok

<15 tahun, yang sebagian besar merupakan usia sekolah.

b. Kondisi sosial ekonomi akan mempengaruhi perilaku manusia dalam

mempercepat penularan penyakit DBD, seperti kurangnya pendingin

ruangan (AC) di daerah tropis membuat masyarakat duduk-duduk

7
diluar rumah pada pagi dan sore hari. Waktu pagi dan sore tersebut

merupakansaat nyamuk Aedes aegypti mencari mangsanya.

c. Tingkat kepadatan penduduk. Penduduk yang padat akan

memudahkan penularan DBD karena berkaitan dengan jarak terbang

nyamuk sebagai vektornya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan

bahwa kejadian epidemi DBD banyak terjadi pada daerah yang

berpenduduk padat.

d. Imunitas adalah daya tahan tubuh terhadap benda asing atau sistem

kekebalan. Jika sistem kekebalan tubuh rendah atau menurun, maka

dengan mudah tubuh akan terserang penyakit.

e. Status gizi diperoleh dari nutrisi yang diberikan. Secara umum

kekurangan gizi akan berpengaruh terhadap daya tahan dan respons

imunologis terhadap penyakit.

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang diklasifikasikan atas empat komponen

yaitulingkungan fisik, lingkungan kimia, lingkungan biologi dan

lingkungan sosial.

a. Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik mencakup keadaan iklim yang terdiri dari

curah hujan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin, sinar

matahari, dan ketinggian [Link] fisik berpengaruh

langsung terhadap komposisi spesies vektor habitat perkembangan

nyamuk sebagai vektor, populasi, longivitas dan penularannya.

8
1) Curah Hujan

Curah hujan mempunyai kontribusi dalam tersedianya

habitat [Link] hujan akan menambah genangan air sebagai

tempat perindukan nyamuk. Pengaruh curah hujan terhadap vektor

bervariasi, tergantung pada jumlah curah hujan, suhu udara,

kelembaban udara, frekuensi hari hujan, keadaan geografis dan

tempat penampunan air yang merupakan sebagai tempat

perkembangbiakan [Link] Asia Tenggara Di temukan

hubungan yang kuat antara curah hujan dan insident

[Link] puncak transmisi diketahui pada bulan-bulan

dengan curah hujan tinggi dengan temperatur tinggi, karena pada

prinsipnya habitat laarva Aedes aegypti adalah tersedianya water

storage [Link] beberapa tempat penyakit Dengue datang

sebelum tiba musim hujan dan meningkat saat peralihan musim

(Fitriyani, 2007: 5).

2) Kelembaban Udara

Kelembaban nisbi merupakan faktor yang membatasi bagi

pertumbuhan, penyebaran dan umur [Link] ini erat kaitannya

dengan sistem pernafasan trakea, sehingga nyamuk sangat rentan

terhadap kelembaban [Link] nyamuk yang mempunyai

habitat hutan lebih rentan terhadap perubahan kelembaban dari

pada spesies yang mempunyai habitat iklim kering (Fitriyani,

2007: 5-6).

9
3) Temperatur Udara

Temperatur udara merupakan salah satu pembatas antara

penyebaran [Link] berpengaruh pada daur hidup,

kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangannya.

Adaptasi suatu spesies terhadap keadaan suhu udara yang tinggi

dan rendah akan mempengaruhi sebaraan geografis spesies

tersebut. Siklus gonotropik atau perkembangan telur, umur dan

proses pencemaran nyamuk dipengaruhi oleh temperatur. Kondisi

lingkungan dengan temperatur 27⁰C-30⁰C dalam waktu yang lama

akan mengurangi populsi vektor (Fitriyani, 2007: 5).

4) Kecepatan Angin

Kecepatan angin secara tidak langsung mempengaruhi

suhu udara dan kelembaban [Link] langsung dari

kecepatan angin yaitu kemampuan terbang. Apabila kecepatan

angin 11-14 m/detik akan menghambat aktivitas terbang nyamuk.

Nyamuk Aedes aegypti mempunyai jarak terbang paling efektif

50-100 mil atau 81-161 km (Fitriyani, 2007: 6).

5) Sinar Matahari

Pada umumnya sinar matahari berpengaruh terhadap

aktivitas nyamuk dalam mencari makan dan [Link]

nyamuk mempunyai variasi dalam pilihan intensitas cahaya untuk

aktivitas terbang, aktivitas mengigit dan pilihan tempat istirahat

(Fitriyani, 2007: 6).

10
6) Ketinggian Tempat

Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit DBD

hidup pada ketinggian 0-500 meter dari permukaan dengan daya

hidup yang tinggi, sedangkan pada ketinggian 1000 meter dari

permukaan laut nyamuk Aedes aegypti idealnya masih bisa

bertahan hidup. Ketinggian 1000-1500 meter dari permukaan laut

pada daerah Asia Tenggara merupakan batas penyebaran nyamuk

Aedes [Link] di daerah Amerika Latin nyamuk masih

bisa bertahan pada ketinggian 2200 meter dari permukaan laut

dengan suhu 17oC (Bismi Rahma Putri, 2009: 5).

b. Lingkungan Kimia

Air adalah materi yang sangat penting dalam

[Link] ada satupun makhluk hidup yang dapat hidup tanpa

[Link] merupakan habitat nyamuk [Link] berperan penting

terhadap perkembangbiakan [Link] dapat dipengaruhi oleh

perubahan penyediaan air. Salah satu diantaranya adalah infeksi yang

ditularkan oleh serangga yang bergantung pada air (water related

insect vector) seperti Aedes aegypti dapat berkembangbiak pada air

dengan pH normal 6,5-9 ( Fitriyani, 2007: 6).

c. Lingkungan Biologi

Lingkungan biologi berpengaruh terhadap resiko penularan

penyakit menular. Hal yang berpengaruh antara lain jenis parasit,

status kekebalan tubuh penduduk, jenis dan populasi serta potensi

11
vektor dan adanya predator dan populasi hewan yang ada (Fitriyani,

2007: 6).

d. Lingkungan Sosial Ekonomi

Menurut Andriani (2001) secara umum faktor berkaitan

dengan lingkungan sosial ekonomi adalah (Bismi Rahma Putri, 2009:

6):

1) Kepadatan penduduk, akan mempengaruhi ketersedian makanan

dan kemudahan dalam penyebaran penyakit.

2) Kehidupan sosial seperti perkumpulan olahraga, fasilitas

kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas ibadah dan lain

sebagainya.

3) Stratifikasi sosial berdasarkan tingkat pendidikan, pekerjaan, etnis

dansebagainya.

4) kemiskinan, biasanya berkaitan dengan malnutrisi, fasilitas yang

tidak memadai, secara tidak langsung merupakan faktor

penunjang dalam proses penyebaran penyakit menular.

5) Keberadaan dan ketersediaan fasilitas kesehatan.

2.4. Riwayat Alamiah Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD)

Perjalanan penyakit DBD sering susah diramalkan, karena gejala

klinis DBD menyerupai penyakit lain dan sebagian penderita dengan renjatan

berat dapat disembuhkan walaupun hanya dengan pengobatan yang

sederhana. Penjelasan tentang riwayat alamiah penyakit DBD dapat dibagi

menjadi beberapa fase, yaitu fase suseptibel (rentan), subklinis, klinis dan

12
[Link] suseptibel dimulai pada saat nyamuk Aedes aegypti yang tidak

infektif kemudian menjadi infektif setelah menggigit manusia yang sakit atau

dalam keadaan viremia (WHO, 2004).Nyamuk Aedes aegypti yang telah

menghisap virus dengue dapat menjadi penular DBD seumur hidupnya.

Fase subklinis merupakan tahapan yang dimulai dari paparan agen

penyebab DBD hingga timbulnya manifestasi klinis disebut dengan masa

inkubasi [Link] fase ini penyakit belum menampakkan tanda dan gejala

klinis, atau disebut dengan fase subklinis (asimtomatis).Masa inkubasi ini

dapat berlangsung dalam hitungan detik pada reaksi toksik atau

hipersensitivitas.

Fase subklinis DBD ialah waktu setelah virus Dengue masuk

bersama air liur nyamuk ke dalam tubuh, virus tersebut kemudian

memperbanyak diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah

bening untuk kemudian masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Virus ini

berada di dalam darah hanya selama 3 hari sejak ditularkan oleh nyamuk

(Lestari, 2007).

Pada fase subklinis ini, jumlah trombosit dalam tubuh masih dalam

keadaan normal selama 3 hari pertama (Rena et al, 2009). Akan tetapi,

sebagai perlawanan tubuh akan membentuk antibodi, selanjutnya akan

terbentuk kompleks virus-antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai

antigennya. Kompleks antigen-antibodi ini akan melepaskan zat-zat yang

merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun.

13
Proses autoimun menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat

yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah

kapiler dan dapat mengakibatkan bocornya sel-sel darah seperti trombosit dan

eritrosit (Widoyono, 2008). Jika hal ini terjadi, maka penyakit DBD akan

memasuki fase klinis dimana sudah mulai ditemukan gejala dan tanda secara

klinis adanya suatu penyakit.

WHO (2004) membagi menjadi 4 (empat) tingkatan derajat berat penyakit

DBD, antara lain:

a. Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi

perdarahan ialah uji tourniqet.

b. Derajat II : Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau

perdarahan lain. Terjadi hemokonsentrasi yaitu peningkatan hematokrit di

atas atau sama dengan 20% karena perembesan plasma.

c. Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,

tekanan darah menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis

dengan tanda kebiruan di sekitar mulut, kulit dingin dan lembap dan anak

tampak gelisah.

d. Derajat IV : Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan

tekanan darah tidak terukur. Fase terakhir dalam perjalan penyakit DBD

ialah tahap pemulihan atau kematian jika tidak tertangani dengan baik.

Tahap pemulihan bergantung pada penderita dalam melewati fase

kritisnya. Tahap pemulihan dapat dilakukan dengan pemberian infus atau

transfer trombosit. Bila penderita dapat melewati masa kritisnya maka

14
pada hari keenam dan ketujuh penderita akan berangsur membaik dan

kembali normal pada hari ketujuh dan kedelapan, namun apabila

penderita tidak dapat melewati masa kritisnya maka akan menimbulkan

kematian (Lestari, 2007).

2.5. Penularan dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)

a. Penularan

Sebenarnya ada beberapa jenis nyamuk yang bertindak

sebagai vektor virus dengue seperti Aedes aegypti, Aedes

polynesiensis dan Aedes albopictus. Namun nyamuk Aedes aegypti

merupakan vektor utama terjadinya DBD di seluruh wilayah

Indonesia. Nyamuk Aedes aegypti ini dapat dikenali dengan melihat

ciri khasnya berupa bercak-bercak putih di sekujur tubuh dan kakinya.

Nyamuk ini dapat terbang tanpa henti hingga 4 jam dengan jarak

tempuhnya yang dapat mencapai 5 km dalam sekali perjalanannya.

Nyamuk betina bertanggung jawab terhadap penularan virus dengue

karena bersifat antrofilik dan memerlukan darah untuk memproduksi

telurnya. Berbeda dengan nyamuk jantan yang biasanya hanya

berumur seminggu dan hidup dengan menghisap nektar.

Virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti betina

ini didapatkan dari seseorang yang sebelumnya telah terjangkiti DBD

atau seseorang yang tidak terkena DBD namun terdapat virus dengue

di dalam darahnya. Di dalam tubuh nyamuk, virus ini pun akan masuk

dan berkembang biak di dalam usus halusnya. Setelah melewati fase

15
perkembang biak kan di usus halus nyamuk, virus dengue yang terdiri

dari empat tipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 ini

kemudian akan berpindah tempat menuju ke kelenjar saliva atau

kelenjar ludah nyamuk dan siap ditularkan lagi ke manusia lewat

gigitannya. Proses pengigitan nyamuk betina biasanya berlangsung

pada siang dan sore hari. Ketika nyamuk betina menggigit manusia,

kelenjar saliva yang telah terinfeksi virus dengue tersebut kemudian

akan masuk ke dalam tubuh dan mulai menginfeksi. Di dalam tubuh

manusia, virus dengue ini akan mengalami masa inkubasi selama

kurun waktu 4 hingga 7 hari. Untuk kemudian menyerang sistem

peredaran darah yang menyebabkan terjadinya kebocoran pembuluh

darah dan penurunan trombosit dalam jumlah besar hingga

menimbulkan beberapa gejala seperti dijelaskan sebelumnya.

b. Pencegahan

1) Vaksin Demam Berdarah

Saat ini terhitung sejak tahun 2016 yang lalu, vaksin untuk

mencegah demam berdarah telah tersedia di Indonesia. Vaksin

demam berdarah pertama di dunia ini telah diresmikan oleh

WHO dan kesediaannya di Indonesia telah mendapat izin dari

BPOM.

Vaksin bernama dengvaxia ini diproduksi oleh Sanofi Pasteur,

perusahaan asal Perancis, setelah melewati penelitian selama 20

tahun dan studi klinis terhadap 30 ribu orang di seluruh dunia.

16
Vaksin ini terbukti efektif untuk digunakan pada anak berusia 9-

16 tahun dan orang dewasa. Pemberian vaksin dengvaxia sendiri

dilakukan bertahap sebanyak 3 kali suntikan dengan jarak waktu

6 bulan. Di mana setiap suntikannya mengandung vaksin untuk

4 tipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4).

Meski begitu, tindakan vaksinasi ini tak menjamin seseorang

akan 100% terbebas dari infeksi virus dengue. Kemungkinan

terinfeksi masih ada, meski dengan peluang yang lebih kecil dan

gejala yang lebih ringan. Untuk itu, menjaga kebersihan

lingkungan tetaplah menjadi prioritas utama yang harus

dilakukan guna mencegah perkembangbiakkan nyamuk

pembawa virus penyebab demam berdarah.

2) 3M Plus

Cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah demam berdarah

yakni dengan melakukan vaksin dengvaxia dan menjaga kebersihan

sekitar dengan menerapkan gerakan 3M yakni menguras, menutup dan

mengubur barang-barang yang tak lagi terpakai. Selain itu, ada

beberapa tips lain (+) yang dapat diterapkan untuk meminimalisir

penularan penyakit demam berdarah diantaranya sebagai berikut :

a. Usahakan untuk tidak tinggal di daerah padat penduduk dan

menjauhi daerah kumuh.

17
b. Gunakan selalu obat nyamuk baik semprot maupun oles saat

berada di dalam ruangan.

c. Ketika berada di luar ruangan, usahakan untuk mengenakan

pakaian dengan lengan dan celana panjang.

d. Pasanglah kawat antinyamuk di seluruh ventilasi rumah.

e. Gunakan kelambu di tempat tidur.

f. Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala yang

menunjukkan tanda-tanda demam berdarah.

Tindakan pencegahan dengan sedini mungkin menumbuhkan

kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, merupakan cara

terefektif dalam menekan perkembangbiakkan nyamuk pembawa

virus penyebab demam berdarah. Penting untuk bersegera mungkin

memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami beberapa gejala yang

dicurigai sebagai gejala demam berdarah.

18
BAB III

PENUTUP

[Link]

1. Di Indonesia, demam berdarah bukanlah penyakit yang asing, dari tahun

ke tahun penyakit ini selalu menghantui bangsa Indonesia, dengan

bertambahnya informasi yang diberikan pada masyarakat lewat berbagai

media dan bertambahnya kegiatan pemberantasan yang semakin banyak

dan dengan cara yang bervariasi, akan menurunkan jumlah korban demam

berdarah di waktu yang akan datang.

2. Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh

virus Dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes dan ditandai dengan

demam mendadak 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau lesu,

gelisah, nyeri ulu hati, akral dingin, sering kali desertai pendarahan di

kulit berupa bintik pendarahan, kadang-kadang mimisan, berak darah,

muntah darah dan kesadaran menurun

3. Pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau

mengurangi vektor nyamuk demam berdarah. Dengan mengubur barang

bekas yang dapat menampung air, menguras tempat penampungan air dan

menimbun barang-barang bekas atau sampah. Atau kita bisa juga berburu

jentik.

[Link]

19
Beberapa ada cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD

melalui metode pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah:

1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat,

modifikasi tempat. perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan

manusia, dan perbaikan desain rumah.

2. Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) pada tempat

air kolam, dan bakteri (Bt.H-14).

3. Pengasapan atau fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion).

4. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan

air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

20
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendral PP dan PL Depkes RI. Modul Pelatihan Bagi Pelatih

Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) Dengan

Pendekatan Komunikasi Perubahan Perilaku(Communication For Behavioral

Impact), Jakarta : Depkes RI. 2008

Nasry N , Nur. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta : Rineka

Cipta. 2006

[Link] Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, &

[Link] : Penerbit Airlangga. 2008

Yatim, Faisal. Macam-macam Penyakit Menular & Cara Pencegahan,

Jakarta:Pustaka Obor Popular. 2007

21

Anda mungkin juga menyukai