5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Jurnal penelitian skripsi yang berjudul Analisis Geometri Jalan Angkut
Dari Front Pit 1 Blok 24 Menuju Stock Rom Batubara Pada Pt Senamas
Energindo Mineral Desa Jaweten Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito
Timur Provinsi Kalimantan Tengah yang ditulis oleh Aetco Septa Teknik
Pertambangan Universitas Palangka Raya pada tahun 2007. Penelitian pada
jurnal ini bertujuan untuk menghitung pengaruh geometri jalan aktual terhadap
produktivitas alat angkut dan menghitung kondisi geometri jalan angkut dari
front menuju stock ROM yang ada pada pertambangan batubara di PT. Senamas
Energindo Mineral. Dari hasil analisis diperoleh Kondisi Geometri Jalan
Aktualsebagai berikut : Lebar jalan angkut aktual pada jalan lurus berkisar
16,14 m – 18,45 m ( 2 jalur ) dan lebar jalan pada tikungan berkisar antara
14,55 m – 16,45 m. Jari-jari tikungan berkisar antara 12,63 m – 17,45 m.
Sedangkan dari hasil perhitungan teoritis, ukuran jari-jari tikungan minimum
yang bisa dilalui ADT Volvo A40F dengan kecepatan rencana 30 km/jam adalah
33 m. Superelevasi setiap tikungan pada jalan angkut jalur T1, T2 dan T3 yang
mempunyai superelevasi berkisar antara T1 0,00, T2 007 m/m – 0,01 m/m.
Nilai superelevasi yang akan diterapkan adalah sebesar 4% atau 0,04 m/m. Nilai
cross slope pada setiap segmen jalan belum memenuhi standar minimum antara
6
-0,06 mm/m sampai 0,00 mm/m sehingga perlu adanya perbaikan cross slope
dibeberapa segmen jalan. Nilai gradejalan bervariasi mulai dari 0% sampai 7%
namun standar grade yang digunakan sebesar 10%. Jadi grade yg lebih dari 8%
harus diturunkan, sehingga grade aktual di lapangan tidak melebihi standar
minimum sehingga grade tidak perlu melakukan penurunan [Link]
aktual alat angkut Articulated dump truck tipe Volvo A40F dengan
menggunakan Excavator volvo EX480DL sebesar 59,56 BCM/jam.
Pada jurnal penelitian skripsi yang berjudul Analisa Geometri Jalan
Angkut Pada Kegiatan Pengupasan Lapisan Tanah Penutup (Ob) di Pt
Hillconjaya Sakti Site Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur Provinsi
Kalimantan Tengah yang ditulis oleh Riak Manggulung Teknik Pertambangan
Universitas Palangka Rayapada tahun 2013. Penelitian pada jurnal ini
bertujuan untuk menganalisa geometri jalan angkut dari front penambangan ke
dumping area. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa secara teoritis masih ada
jalan yang belum memenuhi syaratjalan minimum seperti Lebar jalan di
lapangan pada jalan lurus mulai dari 14,32 m – 20,62 m, pada tikungan 18,22 m
– 21,89 m. Sedangkan lebar jalan minimum secara teoritis pada dua jalur untuk
keadan lurus adalah 17 meter dan untuk lebar di tikungan adalah 27 meter.
Grade jalan angkut di berkisar dari -1% - 11%. Nilai superelevasi di lapangan
pada tikungan I 0,66% dan tikungan II 0,08%. Kemiringan melintang atau cross
slope perlu dibuat guna mencegah air yang berasal dari hujan tidak tergenang
7
pada badan jalan. Pembuatan cross dapat dibuat dengan cara meninggikan
bagian tengah dari jalan (poros jalan) pada jalam dua jalur, beda tinggi yang
harus dibuat sebesar 18 cm.
Pada jurnal berjudul analisis perbaikan jalan angkut batubara dengan
metode URCI di PT. Pamapersada Nusantara yang ditulis oleh Ivania Ceria
Teknik Pertambangan Universitas Palangka Raya pada tahun 2017 penelitian
lebih ditekankan pada geometri jalan yaitu lebar dan grade jalan. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendapatkan geometri jalan yang dibuat sesuai
dengan standarisasi. Metode penelitian yang dilakukan di lapangan adalah
dengan cara melakukan pengukuran jalan hauling hingga menuju front
penambangan dengan memperhitungkan jarak, lebar, dan kemiringan dengan
menyesuaikan standarisasi perhitungan teknis,dimana jalan dibagi menjadi
beberapa segmen dengan Kode STA, kemudian data tersebut diolah dengan
menggunakan AutoCad 2007. Hasil penelitian yang didapatkan lebar jalan
untuk jalan lurus 5 m dan 9 m, sedangkan untuk tikungan 8,11 m dan 14,25 m.
Kesimpulan yang didapatkan bahwa pada jalan STA 57-58 masih mengalami
kekurangan lebar 1m dan kemiringan jalan pada STA 9-10 mencapai 30,48%
dan harus dilakukan pemotongan sebesar 25%.
2.2 Jalan Angkut
Secara umum, jalan angkut memiliki fungsi utama untuk menunjang
kelancaran operasi penambangan terutama dalam kegiatan pengangkutan.
8
Pengangkutan dalam hal ini dapat dimaksudkan untuk mengangkut bijih atau
material hasil penambangan, konsentrat, membuang overburden, penyediaan
peralatan penambangan maupun pengolahan, tenaga kerja dan sebagainya
(Keputusan menteri ESDM nomor 1827 K/30/MEM/2018). Konstruksi jalan
tambang secara garis besar sama dengan jalan angkut di kota. Perbedaan yang
khas terletak pada permukaan jalannya (road surface) yang jarang sekali
dilapisi oleh aspal atau beton seperti pada jalan angkut di kota, karena jalan
tambang sering dilalui oleh peralatan mekanis yang memakai crawler track.
Untuk membuat jalan angkut tambang diperlukan bermacam alat mekanis
seperti:
1. Bulldozer yang berfungsi untuk pembersihan lahan dan pembabatan,
perintisan badan jalan, potong-timbun, perataan dan lain-lain.
2. Alat garu (roater atau ripper) untuk membantu pembabatan dan
mengatasi batuan yang agak keras.
3. Alat muat untuk memuat hasil galian yang volumenya besar
4. Alat angkut untuk mengangkut hasil galian tanah yang tidak diperlukan
dan membuangnya di lokasi penimbunan
5. Motor grader untuk meratakan dan merawat jalan angkut
6. Alat gilas untuk memadatkan dan mempertinggi daya dukung jalan
Dalam suatu rancangan jalan angkut baik konstruksi maupun geometri
jalan disesuaikan dengan alat angkut yang akan digunakan. Rencana alat angkut
9
merupakan alat angkut dengan ukuran terbesar yang mewakili kelompoknya
(kelompok truk), dipergunakan untuk merencanakan bagian-bagian dari
geomeri jalan. Pada lebar jalan dipengaruhi oleh jumlah jalur dan lebar alat
angkut yang digunakan, rancangan tikungan dipengaruhi oleh sifat membelok
alat angkut, sedangkan kelandaian jalan (grade) akan dipengaruhi oleh daya
alat itu sendiri. Dengan rancangan rancangan teknis jalan angkut yang sesuai
dengan alat angkut rencana, maka diharapkan fungsi, umur dan pelayanan jalan
maksimum.
Alat angkut juga akan mempengaruhi rencana konstruksi jalan angkut
karena setiap alat angkut mempunyai berat dan daya alat angkut yang
bermacam-macam sehingga perlu penyesuaian antara alat angkut dengan
rencana konstruksi jalan. Selain hal diatas kecepatan alat angkut yang akan
digunakan juga akan mempengaruhi rancangan teknis jalan yaitu pada besar
tikungan dan jarak pandang. Kecepatan rencana yang dipilih adalah kecepatan
tertinggi terus-menerus dimana alat angkut dapat berjalan dengan aman.
2.3 Parameter Jalan Angkut
A. Lebar Jalan Angkut Lurus
Penentuan lebar jalan angkut minimum untuk jalan lurus lihat
gambar 2.1 didasarkan pada “rule of thumb” yang dikemukakan oleh
AASHTO Manual Rural Highway Design.
1
Lmin =[([Link] )+ {(n+1) (2 .Wt )} ] .............................. 2.1
10
Keterangan :
Lmin = Lebar minimum pada jalur lurus (m)
n = Jumlah jalur
Wt = Lebar satu unit kendaraan (m)
Gambar 2.1 Lebar Jalan Angkut 2 Jalur pada Jalan Lurus
(Awang Suwandhi, 2004 : 3)
B. Lebar Jalan Angkut pada Tikungan
Untuk penentuan lebar jalan angkut pada tikungan lihat gambar 2.2
dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
Wmin =n (U+ Fa +Fb +Z)+C ..................................................... 2.2
(U+Fa +Fb )
Z= .............................................................. 2.3
2
Keterangan :
Wmin = Lebar jalan pada tikungan (m)
U = Jarak jejak roda truk (m)
Fa = Lebar juntai depan (m)
Fb = Lebar juntai belakang (m)
11
Z = Jarak sisi luar truk ke tepi jalan (m)
C = Jarak antar truk (m)
Gambar 2.2 Lebar Jalan Angkut 2 Jalur pada Belokan
(Awang Suwandhi, 2004 : 4)
C. Kemiringan (Grade) Jalan Angkut
Perhitungan kemiringan jalan angkut dapat dilakukan dengan
rumus:
Beda Tinggi
Grade (%)= x 100% .......................................... 2.4
Jarak
Kemiringan jalan maksimum yang dapat dengan baik dilalui oleh
alat angkut (truk) adalah antara 10-12% tergantung truk yang digunakan.
D. Superelevasi dan Radius Tikungan
Superelevasi adalah kemiringan melintang pada belokan jalan. Pada
jalan belokan merupakan daerah berbahaya karena pada jalan belokan
tersebut truk akan mengalami gaya sentrifugal, maka untuk mengimbangi
gaya tersebut maka pada jalan belokan diperlukan kemiringan jalan atau
superelevasi yaitu perbedaan ketinggian tepi jalan terluar dengan tepi
jalan bagian dalam pada suatu tikungan lihat gambar 2.3. Untuk
12
menghitung besarnya superelevasi dan jari-jari tikungan dapat
menggunakan rumus sebagai berikut. (Silvia. S 1999 Dasar-dasar
perencanaan geometri jalan) :
V2
e+f= ................................................... 2.5
127R
Keterangan :
e = super elevasi
f = koefisien gesekan melintang maksimum
v = kecepatan kendaraan (km/jam)
R = Jari-jari tikungan (m)
Gambar 2.3 Superelevasi (Silvia Sukirman, 1999 : 116)
Nilai f ditentukan berdasarkan kecepatan rencana yaitu :
- Untuk kecepatan < 60 km/jam maka:
f = (-0,00065V) + 0,192
(Joetata Hadihardjaja,Rekayasa jalan raya,1997)
- Untuk kecepatan rencana antara 80-11 km/jam, maka :
13
f = (-0,00125V) + 0,24
E. Kemiringan Melintang (Cross Fall)
Untuk menghindari agar disaat hujan air tidak tergenang pada jalan,
maka kemiringan melintang (cross fall) dilakukan dengan cara membuat
bagian tengah jalan lebih tinggi dari bagian pinggir jalan. Nilai yang
umum dari cross fall yang direkomendasikan adalah sebesar 20 sampai 40
mm/m lihat gambar 2.4 jarak bagian tepi jalan ke bagian tengah/pusat
jalan (William H. and Mark Kuchta, 1995 dalam Awang Suwandhi,2004)
Gambar 2.4 Double Cross fall (Awang Suwandhi, 2004)
F. Safety Berm
Safety berm/tanggul penahan adalah pembatas jalan tambang yang
berfungsi sebagai penahan mesin pada bagian bahu [Link] dari
safety berm dibuat minimal ½ kali diameter roda alat angkut terbesar lihat
gambar 2.5.
14
Gambar 2.5 Safety Berm
2.4 Pemeliharaan Jalan
Pemeliharaan Jalan adalah kegiatan penanganan jalan, berupa pencegahan,
perawatan dan perbaikan yang diperlukan untuk mempertahankan kondisi jalan
agar tetap berfungsi secara optimal melayani lalu lintas sehingga umur rencana
yang ditetapkan dapat tercapai.
2.4.1 Konsep Pemeliharaan Hauling Road
Pemeliharaan suatu hauling road harus dilaksanakan secara
teratut dari waktu ke waktu untuk menjamin bahwa hauling road
tersebut selalu pada kondisi yang baik dan layak. Pemeliharaan hauling
road akan terdiri dari beberapa tahapan seperti :
a. Inspeksi hauling road dengan parameter yang terukur untuk
mengidentifikasi kondisi hauling road
15
b. Membuat penilaian kondisi hauling road dengan suatu cara yang
terukur
c. Pengadaan bahan, peralatan, dan tenaga untuk perbaikan yang
diperlukan seperti, tanah, aggregate base coarse, dan bahan lainnya
d. Rating atau penilaian kembali setelah dilakukan perbaikan.
Menurut US Army Corps of Engineers (TM 5-626, Unsurfaced
Road Maintenance Management) dalam Didiek Djarwadi (2010),
terdapat 7 parameter yang dinilai untuk menetapkan kondisi hauling
road antara lain :
1. Ketidaksempurnaan bentuk potongan melintang hauling road
(improper cross section)
2. Ketidaksempurnaan drainase hauling road (inadequate road side
drainage)
3. Permukaan jalan yang bergelombang (corrugated)
4. Debu (dust)
5. Lubang di hauling road (potholes)
6. Lendutan di hauling road (rutting)
7. Kondisi permukaan base coarse yang lepas (loose aggregate)
Dalam URCI (Unsurfaced Road Condition Index), penilaian
kondisi jalan ditetapkan berdasarkan nilai yang dicapai berdasarkan
hitungan pengurangan nilai pada masing-masing parameter yang dinilai.
16
Penilaian terhadap kondisi hauling roadakan berupa pengurangan
terhadap kondisi hauling road yang ideal. Masing-masing penilaian
(pengurangan nilai) terhadap tujuh (7) parameter tersebut kemudian
digabungkan/dijumlahkan untuk mengetahui tingkat kerusakan hauling
road.
Gambar 2.6 Kondisi Jalan berdasarkan penilaian URCI
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-5)
1. Ketidaksempurnaan bentuk potongan melintang hauling
road(Improper Cross Section)
Hauling road mempunyai suatu potongan melintang tipikal
yang biasa dilaksanakan adalah lihat gambar [Link]
pada hauling road ditemukan suatu keadaan yang tidak memenuhi
potongan melintang lihat gambar 2.7, maka akan dilakukan
pengurangan nilai sesuai dengan sistem penilaian URCI yang
disesuaikan dengan kondisi aktual lapangan.
17
Gambar 2.7 Potongan melintang tipikal hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-6)
Gambar 2.8 Tingkat kondisi potongan melintang suatu hauling road
(US Army, 1995 dalamDidik Djarwadi, 2010 : 10-6)
2. Permukaan jalan yang bergelombang (corrugated)
Apabila hauling road dilalui oleh kendaraan dengan beban
berat, hisapan roda akan menimbulkan pengaruh pada permukaan
antara lain adalah jalan bergelombang (corrugated). US Army
(1995) menyampaikan bahwa tingkatan gelombang terdiri atas 3
tingkatan seperti ditunjukkan oleh lihat gambar 2.9.
18
Gambar 2.9 Tingkat severity permukaan jalan yang
bergelombang pada hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-10)
3. Lubang di Hauling Road (potholes)
Lubang (potholes) pada hauling road dapat mengurangi
kenyamanan pengguna dan hal tersebut termasuk hal yang
mengurangi nilai kondisi hauling [Link] Army membagi severity
pothole pada hauling road dalam 3 (tiga) kategori seperti terlihat
pada lihat gambar 2.9.
4. Lendutan di hauling road (Rutting)
Lendutan (rutt) pada permukaan hauling road disebabkan oleh
karena konsentrasi lintasan kendaraan pada suatu jalur
(channelized) secara berulang-ulang. Didiek Djarwadi, dalam
materinya menyatakan bahwa AASHTO (1993) maupun US Army
menetapkan bahwa batasan lendutan (rutt) yang diijinkan adalah 75
mm. US Army memasukkan lendutan (rutt) ke dalam manajemen
19
pemeliharaan hauling road dan besar dan kedalaman lendutan akan
mempengaruhi severity (tingkat kerusakan).
Gambar 2.10 Tingkat severity pothole pada hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-15)
5. Kondisi permukaan base coarse yang lepas (loose aggregate)
Lapisan base coarse suatu hauling road dapat terlepas dan
dalam kondisi tidak padat. Hal ini disebabkan oleh karena base
coarse berasal dari agregat yang bergradasi sama sehingga tidak
terdapat ikatan (interlocking) diantara butiran agregat karena
rongga pori masih cukup besar dan tidak terisi oleh butiran agregat
yang lebih kecil. Lalu lintas dengan beban cukup berat juga
menimbulkan pengaruh lepasnya agregat bagian atas.
20
Gambar 2.11 Tingkat kerusakan lendutan pada Hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-17)
Gambar 2.12 Tingkat severity aggregate lepas (loose aggregate)
pada hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-19)
Cara pengurangan nilai oleh adanya kelima kerusakan pada
permukaan hauling roadtersebut diatas oleh US Army disampaikan
dalam hitungan dan kemudian dimasukkan ke dalam grafik
pengurangan nilai terhadap kondisi ideal hauling road.
luas kerusakan
Bobot Kerusakan= luas total segmen hauling road x100% ................ 2.27
21
Gambar 2.13 Grafik-Grafik Pengurangan Nilai Kerusakan Jalan (US Army, 1995
dalam Didik Djarwadi, 2010)
22
6. Ketidaksempurnaan drainase (inadequate roadside drainage)
Ketidaksempurnaan drainase adalah apabila pada parit di
kedua sisi jalan terdapat hambatan sehingga air tidak dapat
mengalir dengan lancarkeluar dari badan jalan. Hambatan-
hambatan tersebut dapat berupa :
a. Terdapat hambatan terhadap aliran air.
b. Terdapat genangan air di dalam saluran drainase.
c. Saluran air ditumbuhi tanaman.
Adapun tingkatan kondisi pengurangan nilai
ketidaksempurnaan drainase dapat dilihat pada lihat gambar
2.13dibawah ini.
Cara pengurangan nilai pada ketidaksempurnaan drainase
disampaikan melalui hitungan :
panjang drainase yang rusak
Bobot kerusakan= x 100% ................................2.28
panjang total drainase
23
Gambar 2.14 Tingkatan kondisi drainase hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-8)
Hasil perhitungan bobot kerusakan dimasukkan pada grafik
kerusakan permukaan jalan seperti gambar dibawah untuk
mendapatkan pengurangan nilai.
Gambar 2.15 Grafik pengurangan nilai ketidaksempurnaan
drainase hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-8)
24
7. Debu (dust)
Debu terjadi dari partikel halusbase coarse dan surface coarse
yang lepas dari massa oleh karena kehilangan daya lekat karena
kekurangan air, kontaminan batubara yang jatuh dan terlindas oleh
dump truck sehingga menjadi partikel halus. Debu pada hauling
road dipengaruhi oleh kondisi permukaan hauling road dan jenis
muatan yang melewati hauling road [Link] hauling road
dengan lapisan tanah, terdapat partikel-partikel halus yang cukup
besar sehingga potensi terjadinya debu sangat besar. Pada hauling
road yang permukaan surface-nya dilapisi agregat batuan
berdiameter tertentu akan mengurangi terjadinya debu. Tetapi
kualitas agregat juga akan menentukan terjadinya debu pada
hauling road. Agregat dengan kualitas rendah dapat pecah menjadi
butiran halus oleh beban kendaraan yang berulang dan memberikan
potensi terjadinya [Link] batubara yang berlebih juga
berpotensi juga berpotensi pencemaran terhadap permukaan
hauling road dan berpotensi timbulnya [Link] Didiek
Djarwadi (2010), US Army (1995) menyampaikan bahwa tingkatan
pencemaran oleh debu pada hauling road terdiri dari 3 tingkatan
seperti ditunjukkan oleh lihat gambar 2.15.
25
Cara pengurangan nilai pada pencemaran debu pada hauling
road oleh US Army disampaikan langsung dalam suatu nilai seperti
pada tabel berikut
Tabel 2.1 Pengurangan nilai oleh pencemaran debu
Tingkat severity Pengurangan nilai
Low severity 2
Medium severity 4
High severity 16
Sumber : US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-15
Debu pada unsurfaced road dapat diatasi dengan cara
penyiraman air atau penggunaan binder (pengikat) pada base
coarse atau surface layer.
Setelah dihasilkan jumlah pengurangan nilai akibat kerusakan
jalan, jumlah tersebut diplotkan pada grafik penetapan nilai URCI
dibawah ini dengan q adalah nilai pengurangan untuk setiap jenis
kerusakan yang nilainya 5.
26
Gambar 2.16 Tingkat severity pencemaran debu
pada hauling road
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-12)
Gambar 2.17 Grafik Penetapan Nilai URCI
berdasarkan jumlah pengurangan nilai
(US Army, 1995 dalam Didik Djarwadi, 2010 : 10-23)
2.4.2 Jenis Jenis Road Maintenance
Berdasarkan jenis kerusakan jalan, maintennace jalan dapat
dibagi menjadi 4 jenis yaitu :
27
- Patching
Patching adalah suatu aktivitas perbaikan jalan untuk menutup
lubang (Potholes) dipermukaan jalan, biasanya grader/dozer melakukan
ripping pada area seputas lubang secukupnya sesuai kebutuhan guna
menyatukan antara permukaan jalan lama dengan yang baru kemudian
ditambah material, selanjutnya dihampar dengan grader/dozer untuk
membentuk cross fall jalan layer per layer kemudian dipadatkan hingga
didapat nilai CBR sesuai rencana. Pada aktivitas ini terdapat
penambahan material.
- Resetting atau Caping
Resetting atau Caping adalah suatu aktivitas perbaikan jalan
untuk menambah ketebalan permukaan jalan yang aus atau menipis
karena friction dengan permukaan ban unit yang lewat dalam periode
tertentu atau adjusment elevasi permukaan jalan. Pada umumnya
permukaan jalan di-ripping terlebih dahulu sesuai kebutuhan supaya
ada ikatan menyatu antar permukaan lama dan baru kemudian material
dihampar lalu dipadatkan. Jadi dalam aktivitas ini ada penambahan
material.
- Repair Maintenance
Repair maintenance adalah suatu aktivitas perbaikan jalan
dengan cara me-ripping permukaan jalan sesuai kebutuhan kemudian
28
dilakukan pembentukan cross fall. Kegiatan ini biasanya dilakukan
pada jenis kerusakan jalan undulating, rough corrugation, atau rutting.
Jadi pada aktivitas ini bisa terjadi penambahan material atau tidak
dengan penambahan material disesuaikan dengan kondisi aktual
lapangan. Apabila terjadi kerusakan pada sub base jalan repair
maintenance dilakukan dengan menggali dan membuang material sub
base yang jelek diganti dengan yang bagus selanjutnya dilakukan
pemadatan sampai didapatkan nilai CBR yang diinginkan.
- Maintenance
Maintenance adalah suatu aktivitas perbaikan jalan dimana
grader hanya melakukan pen-scrap-an material tanpa melakukan
ripping dan tanpa melakukan penambahan material. Pada umumnya
diterapkan pada jenis kerusakan jalan yang ringan seperti loose
material atau up heavel pada permukaan jalan.