100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
201 tayangan17 halaman

Cara Baca dan Hitung Barton Chart

Dokumen tersebut membahas proses aliran gas dan pengelolaan gas di Wailawi Nenang Station milik PT Benuo Taka, mencakup proses aliran gas dari sumur ke station, proses pengolahan di station seperti pemisahan gas dan kondensat, pengukuran di metering skid menggunakan barton recorder, serta rumus untuk menghitung laju aliran gas berdasarkan parameter dari barton recorder.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
201 tayangan17 halaman

Cara Baca dan Hitung Barton Chart

Dokumen tersebut membahas proses aliran gas dan pengelolaan gas di Wailawi Nenang Station milik PT Benuo Taka, mencakup proses aliran gas dari sumur ke station, proses pengolahan di station seperti pemisahan gas dan kondensat, pengukuran di metering skid menggunakan barton recorder, serta rumus untuk menghitung laju aliran gas berdasarkan parameter dari barton recorder.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB V

PEMBAHASAN

5.1. Proses Aliran Gas dan Proses Kerja Pengelolaan Gas di Wailawi
Nenang Station.
Pada proses produksi di plant PT. Benuo Taka Wailawi terdapat alur dari
sumuryang dimiliki perusahaan yang akan di gambarkan pada penjelasan di
bawah ini :
5.1.1. Proses aliran Gas yang Terjadi di Lokasi Sumur Blok Wailawi

Gambar 5.1 Proses Aliran Gas Wailawi Nenang Station


Gas dari reservoir naik ke wllhead melalui pipa yang disebut tubing,
pada wellhead terdapat valve-valve (katup) yang berfungsi untuk
menutup dan membuka aliran gas tersebut. Dari wellhead gas akan
mengalir diteruskan ke Wailawi Nenang Staion melalui FLOW Line 4
inch yang kemudian bersatu dengan pipa 6 inch menuju ke Wailawi
Nenang Station.

43
5.1.2. Proses Kerja Pengelolahan Gas di Wailawi Nenang Station.
Gas produksi dari 6 sumur masuk ke Manifold Skid, kemudian
dialirkan ke production separator (3 fasa) untuk dipisahkan antara gas,
kondensat, dan air. Gas dari poducion separator dialirkan ke pembangkit
listrik tenaga mii gas (PLTMG) 4 Mega Watt milik PT. PLN. Kondensat
dari poducion separator dialirkan ke Degassing Boot untuk membuang
kandungan gasnya, selanjutnya dibakar atau Flare. Air dari Production
Separator dialirkan ke Burn fit.

Gambar 5.2 Proses Pengelolahan Gas Wailawi Nenang Station


5.1.3. Proses Kerja di Metering Skid.
Aliran gas dari pengelolahan dialirakan ke metering skid sebelum
menuju PLTMG. Di metering skid diukur nilai dari tekanan, diffrensial,
dan temperature oleh barton chart sebagai data untuk mendapatkan nilai
laju alir gas.
5.2. Barton Recorder
Barton Recorder adalah suatu alat yang bekerja secara elektromekanikal
yang merekam sekaligus menyimpan suatu data berdasarkan masukan sinyal

44
baik secara elektronik, mekanik ataupun pneumatik. Penggunaan beberapa
buah warna yang berbeda pada Pen pencatat memberikan kemudahan dalam
mengefisiensikan pencatatan dari beberapa sinyal input yang masuk
berdasarkan perubahan pada proses. Barton Recorder sendiri pada umumnya
bekerja hampir mirip dengan cara kerja jam elektromekanik, dimana biasanya
kertas pencatatnya dibuat dalam 2 format utama. yaitu yang metode
pencatatannya dengan menggunakan kertas berbentuk persegi panjang yang
panjang dan kertas yang berbentuk seperti lingkaran (circular chart).
5.2.1. Komponen Barton Recorder
Berikut adalah komponen – komponen alur untuk menuju barton
recorder yang mana sebagai berikut :

1. Temperature Sensing
Merupakan sensor pembaca suhu dalam perhitungan barton recorder.

Gambar 5.4 Temperature Sensing

2. Differential Pressure Sensing


Merupakan sensor pembaca perbedaan tekanan yang diambil dari posisi
upstream dan downstream.

45
Gambar 5.5 Titik sensing Differential Pressure (upstream dan downstream)

3. Bellows
Merupakan sensor untuk differential pressure

Gambar 5.6 Bellows untuk Differential Pressure

4. Temperature and Static Pressure Connection


Merupakan penghubung dari sensor ke pembaca

Gambar 5.7 Temperature Connection (kiri) dan SP Connection (kanan)

46
5. Chart drive
Penggerak chart

Gambar 5.8 Chart Drive


6. Pen Mount and Three Pen
Pen mount yang mana merupakan penggerak untuk pen pembaca yaitu
three pen yang pemberi bacaan pada Barton Chart

Gambar 5.9 Pen Mount dan Three Pen

47
7. Manifold Barton Recorder
Untuk menyamakan pressure upstream dan downtream

Gambar 5.10 Manifold Barton Recorder


5.2.2. Parameter dalam Perhitungan Barton Recorder
Dalam Bartotn Recorder , Ada 3 Parameter yang akan digiunakan
dalam Perhitungan Barton Recorder yang mana itu adalah :
1. Static Pressure
Static Pressure atau Tekanan Static adalah tekanan normal gas yang
melewati meter di posisi down stream, biasanya sesuda plat orifice
dipasang pressure transmitter untuk mengukur pressure gas dan
biasanya di gunakan satuan Psi. Biasanya untuk tekanan gas yang di
alirkan melewati meter sesuai dengan kontrak kesepakatan antara
produsen dan konsumen semakin besar flow yang dibutuhkan biasanya
pressure yang dibutuhkan juga semakin besar. Pembacaan Static
Pressure pada chart dengan menggunakan skala 0 – 300 psi dan
diwakilkan pembacaannya pada kertas circular chart dengan tinta
warna biru.

48
2. Differential Pressure
Perbedaan tekanan antara pressure up stream terhadap pressure
down stream akibat adanya plat orifice sehingga terjadi penurunan
diameter luas penampang yang di lewati oleh gas. Satuan differential
pressure biasanya dalam InH2O supaya akurasi dalam perhitungan
menjadi lebih tinggi. Differential pressure ini akan digunakan untuk
menghitung flow aliran gas dengan menggunakan metode AGA. Dan
pada Three pen recorder Differential pressure dicatat dikertas
bartonchartdengan tinta warna merah. Semakin besar differential
pressure yang terbaca di differential pressure transmitter maka semakin
besar flow gas yang terhitung oleh meter. Dan semakin kecil nilai
differential pressure maka semakin kecil juga flow yang terhitung oleh
meter, apabila nilai differential nol maka tidak ada flow yang terhitung
oleh flow compdengan kata lain no flow. Pembacaan Differential
Pressure pada chart dengan menggunakan skala 0 – 100 “H2O.
[Link]
Temperature adalah salah satu parameter yang dibutuhkan dalam
perhitungan metode AGA. Biasanya temperature ini pada Three pen
recorder dicatat dikertas bartonchart dengan tinta warna hijau dalam
satuan °F, dimana temperature didapatkan daro posisi down stream
sesudah orifice. Pembacaan Temperature pada chart dengan
menggunakan skala 0 – 200 ⁰F.

5.2.3 Cara Pembacaan Chart Barton Recorder


Ada dua macam skala pada indicator/recorder yang umum dipakai,
yaitu:
- Skala Linier atau Uniform
- Skala Akar Kwadratis (Square Root)
Pada chart yang menggunakan skala linier mempunyai range 0 – 100 dan
untuk chart yang menggunakan skala kwadratis range 0 – 10

49
Gambar 5.11. skala linear dan square root
Pada PT Benuo Taka Wailawi menggunakan chart recorder dengan
skala Kwadratis (Square Root) yang dimana skala ini mempunyai range 0
– 10
1. Cara pembacaan untuk static pressure
Contoh : 17.00

Gambar 5.12 Diagram pada barton recorder


Pada tanggal 4 Desember 2018 pukul 17:00 terbaca pada chart adalah
3,83. Maka untuk mendapatkan static pressure sesungguhnya adalah
dengan cara sebagai berikut:
Step 1: Kwadratkan bacaan static pressure 3,83 x 3,83 = 14,67
Step 2: Kalikan dengan range skala static pressure 14,67 x 300 = 4401
Step 3: Bagi dengan 100 4401 : 100 = 44,01
Hasil dari pembacaan chart dari static pressure ditambahkan dengan
tekanan atmosfir 14,648, sehingga diperoleh hasil 44,01 + 14,648 = 58,658

50
Jadi, static pressure sesungguhnya pada 4 Desember 2018 pukul 17:00
adalah 58,658 psig atau bisa kita bulatkan menjadi 59 psig.
2. Cara pembacaan untuk temperature
Contoh :

17.00

Gambar 5. 13 Diagram chart pada barton recorder


Pada tanggal 4 Desember 2018 pukul 17:00 terbaca pada chart adalah
6,55. Maka untuk mendapatkan temperature sesungguhnya adalah dengan
cara sebagai berikut:
Step 1: Kwadratkan bacaan temperature 6,55 x 6,55 = 42,90
Step 2: Kalikan dengan range skala temperature 42,90 x 200 = 8580,5
Step 3: Bagi dengan 100 8580,5 : 100 = 85,805
Jadi, temperature sesungguhnya pada tanggal 13 bulan April tahun 2018
pukul 17:00 adalah 85,805 °F atau bisa kita bulatkan menjadi 86°F atau
30°C.
3. Cara pembacaan untuk differential pressure
Contoh :

17.00

Gambar 5. 14 Diagram pada diagram barton recorder

51
Pada 4 Desember 2018 pukul 17:00 terbaca pada chart adalah 5,4.
Maka untuk mendapatkan differential pressure sesungguhnya adalah
dengan cara sebagai berikut:
Step 1: Kwadratkan bacaan differential pressure 5,4 x 5,4 = 29,16
Step 2: Kalikan dengan range skala diefferential pressure 29,16 x 100 =
2916
Step 3: Bagi dengan 100 2916 : 100 = 29,16
Jadi, differential pressure sesungguhnya pada tanggal 4 Desember 2018
pukul 17:00 adalah 29,16 psig atau bisa kita bulatkan menjadi 29 psig.
5.2.4. Rumus untuk menghitung laju alir gas
Rumus untuk menghitung laju aliran gas telah disusun oleh AGA
(American Gas Association) sebagai berikut:
Q=Cx √ HW x PF x 0,000024
Dimana:
Q = laju alir gas, SCFD
C = konstanta aliran
Hw = Differential pressure, “H2O
Pf = Static Pressure, psig
Konstanta aliran (C) terdiri dari beberapa factor sebagai berikut:
C = FB x Y2 x FR x Fpb x Ftf x FG x Fvp x Ftb x Fa
Dimana:
FB = Faktor orifis dasar
FR = Faktor bilangan Reynolds
Y2 = Faktor ekspansi
Fpb = Faktor tekanan dasar
Ftf = Faktor suhu saat gas mengalir
FG = Faktor spesifik gravity
Fvp = Faktor super kompressibilitas
Ftb = Faktor suhu dasar
Fa = Faktor ekspansi thermal orifis

52
5.2.5 Perhitungan Chart Barton Recorder
Pada sub bab ini kami adakan perhitungan untuk mendapatkan laju alir
gas di PT Benuo Taka Wailawi pada hari Jum’at tanggal 4 Desember 2018.
Diketahui;
 Pipe Diameter : 6,065 inch
 Orifice : 1,4992
 S.G. : 0,6323
Dan data dari Barton Chart sebagai berikut:

Gambar 5.15 Barton Chart Tanggal 4 Desember 2018


Tabel Hasil Pembacaan pada Chart
Selasa 4 Desember 2018
Wakt Stati D Temperatur
u c Pressure e
1.00 4.18 4.98 6
2.00 4.18 4.98 6
3.00 4.18 4.98 6
4.00 4.18 4.98 6
5.00 4.18 4.98 6
6.00 4.18 4.98 6.1
7.00 4.18 4.98 6.15
8.00 4.18 4.98 6.15
9.00 4.18 5 6.35

53
10.00 4.15 5 6.2
11.00 4.15 5 6.5
12.00 4.05 5.05 6.7
13.00 4.02 5.1 6.8
14.00 4.02 5.2 7.38
15.00 3.95 5.3 7
16.00 3.9 5.36 6.82
17.00 3.83 5.4 6.55
18.00 3.8 5.3 6.25
19.00 3.83 5.2 6.15
20.00 4 5.1 6.1
21.00 4.1 5.08 6.1
22.00 4.2 5.05 6.08
23.00 4.2 5.05 6.06
24.00 4.2 5 6.09
Gambar 5.16 Tabel pembacaan hasil bacaan pada chart
Tabel Hasil Perhitungan Chart skala Square Root
Static
Time Press Diff Press Temp
(Psig) (Inc Wtr) (F)
1.00 52.42 24.80 72.00
2.00 52.42 24.80 72.00
3.00 52.42 24.80 72.00
4.00 52.42 24.80 72.00
5.00 52.42 24.80 72.00
6.00 52.42 24.80 74.42
7.00 52.42 24.80 75.65
8.00 52.42 24.80 75.65
9.00 52.42 25.00 80.65
10.00 51.67 25.00 76.88
11.00 51.67 25.00 84.50
12.00 49.21 25.50 89.78
13.00 48.48 26.01 92.48
14.00 48.48 27.04 108.93
15.00 46.81 28.09 98.00
16.00 45.63 28.73 93.02
17.00 44.01 29.16 85.81
18.00 43.32 28.09 78.13
19.00 44.01 27.04 75.65
20.00 48.00 26.01 74.42
21.00 50.43 25.81 74.42
22.00 52.92 25.50 73.93

54
23.00 52.92 25.50 73.45
24.00 52.92 25.00 74.18
1202.220 1919.9
Jumlah 6 620.89 2
Gambar 5.17 Tabel hasil perhitungan chart skala square root
5.3. Perhitungan Gas Final Metering
Yang mana pada proses ini untuk menghitung dan mengetahui jumlah gas
atau hydrocarbon yang lewat melalui metering pada barton recorder.
1. Langkah 1 (Mencari PF)
Mencari Static Pressure Rata-rata
P Static Rata-rata = Jumlah perhitungan static pressure : 24
= 1202,2206 : 24
= 50,09253 psig
Kemudian pressure rata-rata tersebut ditambahkan dengan tekanan
atmosfir 14,648 maka didapatkan hasil PF adalah 64,7405 Psig atau
dibulatkan menjadi 65 psig.
2. Langkah 2 (Mencari TF)
TF = Jumlah perhitungan temperature : 24
= 1919,92 : 24
= 79,9967 °F dibulatkan menjadi 80°F
3. Langkah 3 (Mencari HW)
HW = Jumlah perhitungan differential pressure : 24
= 620,89 : 24
= 25,870 psig dibulatkan menjadi 26 psig
4. Langkah 4 (√ HW x PF )
√ HW x PF = √ 26 x 65
= √ 1690
= 41
5. Langkah 5 (Mencari Fb)

55
Gambar tabel 5.18 diagram mencari Fb
Maka didapatkan Fb adalah 454,57
6. Langkah 6 (Mencari Y2)
Y2 = (lihat pada tabel expansion factors – flange taps)

Gambar table 5.19 Tabel mencari Y2

56
Maka didapatkan Y2 adalah 1,0027

7. Langkah 7 (Mencari FR)


b
FR = 1+
√ HW x PF
Cara mendapatkan b (lihat tabel “b” values for Reynolds number factor,
Fr)

Gambar 5.20 Tabel mencari Fr

57
Didapatkan b adalah 0,0381
b
Maka, FR = 1+
√ HW x PF
0,0381
= 1+
41
= 1 + 0,0009
= 1,0009
8. Langkah 8 (Mencari Fpb)

Gambar 5.21 Tabel mencari F pb


Maka didapatkan Fpb = 1,0023

9. Langkah 9 (Mencari Ftf)

Ftf =
√ 520
TF+ 460
=

520
80+460
=
520
540 √ = √ 0,9629 = 0,9813
10. Langkah 10 (Mencari FG)

FG =
√ √ 1
SG
=
1
0,6323
= √1,5815 = 1,2576

11. Langkah 11 (Mencari Fvp)


Fvp = √ PF x TF : 10.000 +1 = √ 65 x 80 : 10.000 +1
= 72,1111 : 10.000 + 1
= 1,0072
12. Langkah 12 (Mencari Ftb)
TF +460 80+460 540
Ftb = = = = 1,0385
520 520 520
13. Langkah 13 (Mencari Fa)
Fa = 1 + (0,0000185 x (TF-70)) = 1 + (0,0000185 x (80-70))
= 1 + (0,0000185 x 10)

58
= 1,000185
= 1,0002
14. Langkah 14 (Mencari C)
C = FB x Y2 x FR x Fpb x Ftf x FG x Fvp x Ftb x Fa
= 454,57 x 1,0027 x 1,0009 x 1,0023 x 0,9813 x 1,2576 x 1,0072 x
1,0385 x 1,0002
= 590,3376
15. Langkah 15 (Mencari Q)
Q=Cx √ HW x PF x 0,000024
= 590,3376 x 41 x 0,000024
= 0,5798 MMSCFD
Jadi, laju alir gas (Q) tanggal 4 Desember 2018 0,5798 MMSCFD.

59

Anda mungkin juga menyukai