BAB I
PENDAHULUAN
Kasus kekerasan dengan menggunakan senjata api terus meningkat dalam
dekade terakhir ini. Luka tembak merupakan kasus yang sering terjadi di Negara
maju dan negara berkembang. Kematian akibat luka tembak sering dikaitkan
dengan kasus-kasus kriminal, seperti pembunuhan dan bunuh diri, sehingga peran
dokter sebagai seorang ahli sangat penting dalam proses penyidikan.
Kasus kriminal akibat luka tembak sering terjadi di Amerika serikat.
Diperkirakan sekitar 70.000 jiwa korban luka tembak terjadi dengan angka
kematian sebanyak 30.000 jiwa. Di Indonesia jumlah kasus luka tembak dalam
kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2011
didapatkan 55 kasus, tahun 2012 didapatkan 142 kasus dan pada tahun 2013
didapatkan 164 kasus dengan korban meninggal sebanyak 191 jiwa sedangkan
534 lainnya mengalami luka-luka.
Luka tembak merupakan jenis kekerasan mekanik yang disebabkan oleh
senjata api proyektil yang didorong dari barrel dengan kecepatan tinggi, sehingga
dapat mengakibatkan karakteristik luka seperti luka tembak masuk, luka tembak
keluar, luka bakar pada kulit dan luka lecet. Kematian akibat kerusakan jaringan
yang lebih berat juga dapat terjadi akibat peluru mengenai bagian tubuh yang
densitasnya lebih besar.
Untuk mengungkap kebenaran dari suatu kasus tindak kriminal, khususnya
luka tembak dibutuhkan alat bukti yang dapat dibuktikan kebenaranya dalam
1
sidang peradilan. Keterbatasan alat dan pengetahuan yang dimiliki oleh pihak
penyidik, sehingga dibutuhkan suatu disiplin ilmu kedokteran forensik untuk
menyelidiki penyebab kematian korban.
Tugas dan peran dokter sebagai pemeriksa adalah menjelaskan tentang
berbagai hal, diantaranya adalah memastikan apakah luka tersebut merupakan
luka tembak, jenis luka tembak, senjata yang dipakai, jarak tembak, arah
tembakan, posisi korban dan luka tembak mana yang menyebabkan kematian.
Interpretasi yang benar mengenai luka tembak akan memberikan informasi
penting yang dapat menunjang pelaksanaan hukum selama proses investigasi dan
penting untuk menentukan jenis kematian.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. ASPEK HUKUM
2. DEFINISI
Luka tembak adalah luka yang disebabkan oleh penetrasi anak peluru
ke dalam tubuh yang diproyeksikan lewat senjata api atau persentuhan peluru
dengan tubuh. Luka tembak terjadi karena energi dari peluru saat menembus
tubuh. Semakin besar energi yang dihasilkan peluru, maka semakin parah
luka yang terjadi. Pada umumnya luka tembak ditandai dengan luka masuk
yang kecil dan luka keluar yang lebih besar. Peluru dengan ukuran lebih besar
yang ditembakan dari senapan menyebabkan luka yang lebih besar
dibandingkan dengan peluru berukuran kecil yang ditembakan dengan pistol.
3. ELEMEN BALISTIK
A. Jenis senjata api
Senjata api adalah senjata yang menggunakan tenaga hasil
peledakan mesiu yang dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang
berkecepatan tinggi melalui larasnya. Berdasarkan panjang larasnya
senjata api dibagi menjadi 2, yaitu :
1) Laras pendek
Yang termasuk dalam senjata api laras pendek adalah
revolver dan pistol. Revolver mempunyai metal drum (tempat
3
penyimpanan 6 peluru) yang berputar (revolve) setiap kali
trigger ditarik dan menempatkan peluru baru pada posisi siap untuk
di tembakkan. Revolver terdapat dua jenis, yaitu single action dan
double action. Pada tipe single action pelatuk harus dikokang setiap
kali akan menembak. Sedangkan pada double action revolver
penekanan picu secara berulang untuk langsung memutar silinder,
mensejajarkan laras dan tempat peluru, mengokang dan selanjutnya
melepaskan pelatuk untuk menembak. Sedangkan pistol mempunyai
mekanisme kerja peluru disimpan dalam sebuah silinder yang
diputar dengan menarik picunya. Pistol otomatis dan semi otomatis,
peluru disimpan dalam sebuah magasin, putaran pertama harus
dimasukkan secara manual ke dalam ruang ledaknya.
2) Laras panjang
Senjata laras panjang berkekuatan tinggi dengan daya tembak
sampai 3000 m, menggunakan peluru yang lebih panjang. Senjata
laras panjang dibagi menjadi dua, yaitu senapan tabur dan senapan
untuk menyerang. Senapan tabur dirancang untuk dapat
memuntahkan butir-butir tabur ganda lewat larasnya, sedangkan
senapan dirancang untuk memuntahkan peluru tunggal lewat
larasnya dan moncong senapan halus serta tidak terdapat rifling.
Sedangkan senapan untuk menyerang bekerja mengisi pelurunya
sendiri mampu melakukan tembakan otomatis sepenuhnya,
mempunyai kapasitas magasin yang besar dan dilengkapi ruang
4
ledak untuk peluru senapan dengan kekuatan sedang (peluru dengan
kekuatan sedang antara peluru senapan standar dan peluru pistol)
Berdasarkan arus larasnya, senjata api dibedakan menjadi :
1) Laras beralur (Rifled bore)
Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya,
maka permukaan dalam laras dibuat beralur spiral dengan diameter
yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru, sehingga anak
peluru yang didorong oleh ledakan mesiu saat melalui laras dipaksa
bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan
memperoleh gaya sentripetal, sehingga anak peluru tetap dalam
posisi ujung depannya di depan dalam lintasannya setelah lepas laras
menuju sasaran. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu, arah putaran
ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan.
a) Senjata api dengan alur ke kiri dikenal sebagai senjata tipe
COLT. Kaliber senjata yang banyak dipakai adalah kaliber 0.36;
0.38; dan 0.45. Pada kasus penembakan dengan jenis senjata ini
dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh
korban yaitu adanya goresan dan alur yang memutar ke arah kiri
bila dilihat dari basis anak peluru.
b) Senjata api dengan alur ke kanan dikenal sebagai senjata api tipe
SMITH & WESSON (tipe SW). Kaliber senjata yang banyak
dipakai: kaliber 0.22;0.36;0.38;0.45; dan 0.46. Dapat diketahui
dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban yaitu adanya
5
goresan dan alur yang memutar ke arah kanan bila dilihat dari
bagian basis anak peluru.
2) Laras tak beralur
Laras tak beralur atau laras licin (Smooth bore) dapat
melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak pada satu kali
tembakan. Contohnya adalah shot gun.
B. Peluru
Anak peluru tunggal mempunyai macam-macam bentuk
antaralain : flat nose, roun nose, hallow point, spine dan spitzer. Pistol
dan resolver modern mempunyai dua macam anak peluru, yaitu solid
metal bullet dan composite bullet. Sedangkan anak peluru khusus
mempunyai berbagai macam anak peluru, yaitu : anak peluru dum dum,
anak peluru granat, light bullet, anak peluru latihan, dan anak peluru
tandem.
C. Mesiu
Macam-macam mesiu yang terdapat di Indonesia antara lain
adalah : mesiu hitam, mesiu berasap sedikit dan knalkwik. Mesiu hitam
terdiri dari S,C dan NO³. Mesiu berasap sedikit terdiri dari nitrogliserite
atau dynamite dan knalkwik terdiri dari fulminating mercury sehingga
mudah meledak apabila tersentuh atau terkena gesekan.
D. Mekanisme kerja senjata
Mekanisme kerja senjata, baik senjata angin atau senajata api
pada prinsipnya sama yaitu memanfaatkan tekanan tinggi dari udara atau
6
gas untuk melontarkan anak proyektil atau anak peluru keluar dari laras
dengan kecepatan tinggi.
Pada senjata angin, tekanan yang tinggi diperoleh dengan cara
memanfaatkan udara atau dengan merubah CO2 cair menjadi gas dalam
ruangan yang volumenya tetap. Sedangkan pada senjata api, tekanan
yang tinggi diperoleh dari pembakaran mesiu sehingga dalam waktu
sekejap berubah menjadi gas dengan volume yang besar didalam ruangan
yang volumenya tetap. Dari satu gram mesiu dapat dihasilkan gas (CO2,
CO, hydrogen sulfanida, dan methane) antara 200-900 mililiter dengan
suhu yang sangat panas.
Fungsi picu pada senjata angin adalah untuk melepaskan udara
dengan tekanan yang dibuat tinggi guna melontarkan proyektil,
sedangkan pada senjata api untuk membuatnya, pin atau pemukul
penggalak melakukan tugasnya sehingga menimbulkan percikan api pada
penggalak (primer) untuk membakar mesiu. Selanjutnya, anak peluru
atau proyektil yang telah memiliki gaya kinetik tersebut meninggalkan
laras jalannya dan dipengaruhi oleh banyak hal, seperti berat, massa,
bentuk dan diameternya, gravitasi serta tahanan (resistensi) udara yang
dilaluinya. Akibat dari gravitasi tersebut, maka arah anak peluru atau
proyektil akan membentuk kurva. Semakin jauh moncong, maka
pengaruh gravitasi semakin dominan sehinggga bentuk kurvanya
semakin tampak nyata.
7
Menembak seseorang dari depan dan dari belakang penting untuk
membedakan jenis luka tembak masuk dengan luka tembak keluar. Luka
tembak masuk biasanya berbentuk bulat dengan tepi abrasi melingkar
yang mengelingi cacat yang disebabkan oleh senjata. Garis tepi abrasi
merupakan lecet atau kikisan kulit yang disebabkan oleh peluru saat
mendorong ke dalam. Garis tepi dapat berbentuk konsetntrik atau
eksentrik. Ketika peluru masuk ke dalam kulit, maka akan menyebabkan
abrasi tepikonsentrik, karena masuk ke perpendikuler kulit. Ketika ujung
peluru mempenetrasi kulit pada suatu sudut, maka akan menyebabkan
garis tepi abrasi yang eksentrik. Daerah margin abrasi eksentrik yang
tebal mengindikasikan sudut peluru yang lebih dangkal saat peluru
menembus kulit.
Luka tembak keluar dari senjata berkekuatan tinggi dikarenakan
oleh kecepatan dan energi kinetik yang tinggi dari amunisi yang
ditembakkan. Stellate-shaped exit wounds, sering ditemukan dan
mungkin menyerupai luka tembak masuk kontak. Walaupun luka tembak
keluar dari senjata bisa lebih besar dan mungkin menyebabkan banyak
kerusakan dibandingkan luka tembak keluar dari senjata genggam.
Dengan memperkirakan tepi luka, ada atau tidak adanya tepi abrasi dapat
dikonfirmasi. Normalnya, suatu peluru saat ditembakkan akan mengikuti
suatu lengkung arah atau jalur tertentu. Namun, semakin cepat peluru
melesat maka semakin lurus arah dan jalur peluru tersebut. Disipasi
8
energi adalah bagaimana energi kinetis peluru yang disalurkan ke tubuh
dari suatu kekuatan yang menahannya.
Pada kasus proyektil velositas medium dan tinggi, disipasi energi
dipengaruhi oleh Drag (hambatan), profile (profil) dan cavitation
(kavitasi). Drag adalah Faktor-faktor yang memperlambat suatu peluru,
termasuk tahanan angin, hambatan oleh jaringan. Profile adalah titik
tumbuk peluru merupakan profil dari peluru tersebut. Semakin besar
ukuran titik tumbuk semakin besar energi yang disalurkan. Cavitation
atau sering disebut sebagai perluasan alur masuk peluru merupakan
lubang di jaringan tubuh yang dihasilkan oleh energi kinetis peluru.
Lubang ini lebih besar daripada lubang masuk peluru, sehingga luka yang
dihasilkan lebih besar dari diameter peluru tersebut. Apabila energi
kinetis peluru semakin besar, maka peluru dapat menembus jaringan di
baliknya, sehingga harus selalu dikaji adanya lubang keluar peluru (exit
wound).
Luka tembak masuk berkaitan hubungannya dengan luka tembak
keluar, sehingga penting untuk menentukan arah tembakan. Arah
tembakan adalah jaras jalannya peluru memasuki tubuh melalui luka
tembak masuk menuju luka tembak keluar. Untuk alasan klaritas dan
konsistensi, ahli forensik selalu menggambarkan arah tembakan
berdasarkan tubuh korban dalam posisi anatomis standar saat ditembak.
Tubuh korban berdiri penuh dengan tangan ekstensi pada sisi tubuhnya
dengan bagian palmar ke depan. Sebagai contoh luka tembak yang
9
menembus dada kiri dan keluar pada punggung kanan bawah, arah
tembakan digambarkan dari depan ke belakang, kiri ke kanan dan atas
dan ke bawah. Biasanya ahli forensik hanya membuat opini dimana
posisi tubuh korban bisa atau tidak konsisten dengan arah tembakan, dan
hanya bisa disesuaikan dengan saksi mata misalnya posisi kepala, dada,
abdomen, dan ekstremitas.
1) Kepala
Ketika energi proyektil memasuki tengkorak dan mulai
mengalami disipasi, jaringan otak secara alamiah akan tertekan
secara berat (kepala adalah ruang tertutup yang dibatasi jaringan
tulang tengkorak yang kuat). Bila peluru mengenai wajah maka jalan
napas akan rusak atau hancur tergantung pada velositas peluru
2) Dada
Jaringan paru relative tahan terhadap kavitasi proyektil.
Alveoli membentuk massa berongga yang mudah bergerak.
Sedangkan jantung tidak tahan terhadap kavitasi daripada paru.
Namun lapisan terluar yang meliputi pembuluh pulmoner, aorta dan
jantung merupakan jaringan yang kuat dan elastis. Jaringan ini akan
menutupi luka akibat luka tembus velositas rendah, namun tidak
mampu mengatasi kavitasi akibat luka tembus velositas medium dan
tinggi. Bila terjadi cedera di antara garis puting dada dan pinggang,
maka selalu curigai kemungkinan adanya cedera abdominal.
3) Abdomen
10
Abdomen merupakan organ yang sering mengalami cedera
sekunder saat dada mengalami cedera. Ruang abdominal merupakan
ruang yang besar yang berisi jaringan yang berisi cairan, udara,
jaring padat dan jaringan tulang. Jaringan yang berisi udara dan
cairan lebih tahan terhadap kavitasi daripada jaringan padat.
4) Ekstremitas
Ekstremitas terdiri dari tulang, otot, pembuluh darah dan
jaringan saraf. Luka tembak sering menyebabkan tulang pecah dan
pecahan ini dapat mengakibatkan luka sekunder. Pecahan ini dapat
bersifat misil atau proyektil yang merusak jaringan lain disekitarnya.
Akibatnya jaringan di sekitar akan rusak sehingga fungsi sensorik,
motorik dan bahkan aliran sirkulasi akan terhambat atau bahkan
hancur.
Pada kasus luka ledakan dapat dibagi dalam 4 kategori yaitu :
primer, sekunder, tertier dan tambahan. Korban dapat mengalami luka
lebih dari satu mekanisme tersebut. Luka ledakan primer disebabkan
oleh efek langsung ledakan bertekanan tinggi terhadap jaringan tubuh.
Udara mudah menekan, tidak seperti air. Hasilnya, luka ledakan primer
hampir selalu mengenai struktur yang mengandung udara seperti paru,
telinga dan saluran cerna. Luka ledakan sekunder disebabkan karena
objek melayang dan menyerang orang yang berada disekitarnya. Luka
ledakan tertier adalah gambaran ledakan energi tinggi. Jenis ini terjadi
ketika orang-orang terlempar dan menabrak objek lainnya.
11
4. KLASIFIKASI LUKA TEMBAK
Berdasarkan ciri-ciri yang khas pada setiap tembakan yang dilepaskan
dari berbagai jarak, maka perkiraan jarak tembak dapat diklasifikasikan
menjadi :
A. Luka tembak masuk
Ciri-ciri luka tembak masuk biasanya dalam bentuk yang
berentetan dengan abrasi tepi yang melingkar di sekeliling defek yang
dihasilkan oleh peluru. Abrasi tepi tersebut berupa goresan atau lecet
pada kulit yang disebabkan oleh peluru ketika menekan masuk kedalam
tubuh. Ketika ujung peluru melakukan penetrasi ke dalam kulit, maka hal
tersebut akan menghasilkan abrasi tepi yang konsentris, yaitu goresan
pada kulit berbentuk cincin dengan ketebalan yang sama, oleh karena
peluru masuk secara tegak lurus terhadap kulit. Ketika ujung peluru
melakukan penetrasi pada kulit dengan membentuk sudut, maka hal ini
akan menghasilkan tepi yang eksentris, yaitu bentuk cincin yang lebih
tebal pada satu area. Area yang tebal dari abrasi tepi yang eksentris
mengindikasikan arah datangnya peluru. Sebagai tambahan, semakin
tebal abrasi tepi, semakin kecil sudut peluru pada saat mengenai sudut
kulit.
Luka tembak masuk yang tidak khas berbentuk ireguler dan
mungkin memiliki robekan pada tepi luka. Jenis luka masuk seperti ini
biasanya terjadi ketika peluru kehilangan putaran oleh karena menembak
di dalam laras senjata. Bahkan dalam perjalanannya dengan terpilin,
12
peluru bergerak secara terhuyung ketika menabrak kulit sehingga sering
memberikan gambaran bentuk D pada luka.
Luka tembak masuk yang tidak khas dapat disebabkan oleh
senjata yang tidak berfungsi baik atau oleh karena amunisis yang rusak,
tetapi lebih sering dihasilkan dari peluru jenis Ricochets atau peluru yang
mengenai benda lain terlebih dahulu, seperti jendela yang bergerak
otomatis, sebelum mengenai tubuh. Jenis lain dari luka tembak masuk
yang tidak khas terjadi ketika mulut senjata apu mengalami kontak
langsung dengan kulit diatas permukaan tulang, seperti padan tulang
tengkorak atau sternum. Ketika senjata ditembakkan, maka hal ini akan
menghentikan gas secara langsung dari mulut senjata ke dalam luka di
sekitar peluru. Gas akan mengalami penetrasi ke dalam jaringan
subkutan, dimana gas tersebut meluas sehingga menyebabkan kulit
disekitar luka tembak masuk menjadi meregang dan robek. Luka robek
atau laserasi menyebar dari bagian tengah dengan memberikan defek
berbentuk stellata atau penampak seperti bintang.
Luka tembak masuk dibedakan menjadi :
1) Luka tembak tempel (contact wounds)
Terjadi karena moncong senjata ditekan pada tubuh korban
dan ditembakkan. Bila tekanan pada tubuh erat disebut “hard
contact”, sedangkan yang tidak erat disebut “soft contact”. Luka
temple tembak dibagi menjadi tiga, yaitu :
a) Luka tembak tempel keras
13
Pada hard contact wound, moncong laras menekan kulit
dengan sangat keras, sehingga kulit menutupi moncong senjata.
Pada luka jenis ini akan didapatkan gas panas sisa pembakaran
pada tepi luka dan warna kehitaman dari jelaga. Jelaga ini
menempel pada kulit yang terbakar dan tidak dapat dihilangkan
hanya dengan mencuci atau menggosok luka.
b) Luka tembak tempel tidak erat
Pada jenis luka ini, moncong senjata secara utuh
(complete) menekan kulit dengan tekanan yang tidak terlalu erat.
Gas yang keluar mendahului anak peluru sehingga terbentuk
temporary gap antara kulit dan moncong senjata. Jelaga yang
dibawa oleh gas, terkumpul disekitar luka tembak masuk. Jelaga
ini dapat dibersihkan dengan mudah.
c) Luka tembak tempel bersudut
Pada jenis luka ini, moncong senjata ditempelkan pada
sudut tertentu pada kulit sehingga tidak semua bagian moncong
senjata kontak dengan kulit. Kontak yang tidak komplit dengan
kulit menyebabkan bentuk jelaga yang esentrik. Jelaga terdapat
dalam dua daerah yang berbeda. Pada daerah yang nyata atau
jelas terlihat (noticeable zone) akan tampak warna kehitaman
(black seared area) pada kulit dan berbentuk sirkular, oval atau
pear. Sedangkan pada daerah terang (light) akan tampak
berwana abu-abu dengan sedikit jelaga dan berbentuk seperti
14
kipas yang lebih mudah untuk dibersihkan. Pada daerah ini
terdapat bubuk mesiu yang tidak terbakar.
d) Luka tembak tempel inkomplit
Luka tembak tempel incomplete merupakan variasi dari
luka tembak tempel bersudut. Pada luka ini senjata ditempelkan
berlawanan dengan kulit tapi karena permukaan tubuh tidak
datar, terdapat gap antara moncong senjata dan kulit.
Pada umumnya luka berbentuk bundar yang dikelilingi kelim
lecet yang sama lebarnya pada setiap bagian. Jaringan subkutan 5-
7,5 cm di sekitar luka tembak masuk mengalami laserasi. Di
sekeliling luka tampak daerah yang berwarna merah atau merah
cokelat, yang menggambarkan bentuk dari moncong senjata, ini
disebut jejas laras. Rambut dan kulit sekitar luka dapat hangus
terbakar. Saluran luka akan berwarna hitam yang disebabkan oleh
butir-butir mesiu, jelaga dan minyak pelumas. Tepi luka dapat
berwarna merah karena terbentuknya COHb.
Bentuk luka tembak tempel sangat dipengaruhi oleh keadaan
densitas jaringan yang berada dibawahnya, dengan demikian dapat
dibedakan menjadi luka tembak tempel di daerah dahi, luka tembak
tempel di daerah pelipis dan luka tembak tempel di daerah perut.
Luka tembak tempel di daerah dahi mempunyai ciri yaitu luka
berbentuk bintang dan terdapat jejas laras. Luka tembak tempel di
daerah pelipis mempunyai ciri yaitu luka berbentuk bendar, terdapat
15
jejas laras. Luka tembak tempel di daerah perut mempunyai ciri :
Luka berbentuk bundar dan emungkinan besar tidak terdapat jejas
laras
2) Luka tembak jarak dekat (close range wounds)
Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh
korban masih dalam jangkauan butir-butir mesiu (luka tembak jarak
dekat) atau jangkauan jelaga dan api (luka tembak jarak sangat
dekat). Luka berbentuk bundar atau oval tergantung sudut masuknya
peluru dengan di sekitarnya terdapat bintik-bintik hitam (kelin tato)
dan atau jelaga (kelim jelaga), ukuran luka lebih kecil dibanding
peluru, di sekitar luka dapat ditemukan daerah yang berwarna merah
atau hangus terbakar. Bila terdapat kelim tato, berarti jarak antar
moncong senjata dengan korban sekitar 60 cm (50-60 cm), yaitu
untuk senjata genggam. Bila terdapat kelim jelaga, jaraknya sekitar
30 cm (25-30 cm). Bila terdapat juga kelim api, maka jarak antara
moncong senjata dengan korban adalah sekitar 15 cm.
3) Luka tembak jarak jauh
Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh
korban diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang
tidak terbakar atau terbakar sebagian, jarak diatas 45 cm, ukuran
luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru, warna kehitaman atau
kelim tattoo tidak ada, luka berbentuk bundar atau oval dengan
disertai adanya kelim lecet, bila senjata sering dirawat (diberi
16
minyak) maka pada kelim lecet dapat dilihat pengotoran berwarna
hitam berminyak, jadi ada kelim kesat atau kelim lemak.
B. Luka tembak keluar
Jika peluru yang ditembakkan dari senjata api mengenai tubuh
korban dan kekuatannya cukup untuk menembus dan keluar pada bagian
tubuh lainnya, maka luka tembak dimana peluru meninggalkan tubuh itu
disebut luka tembak keluar. Luka tembak keluar mempunyai ciri khusus
dan dapat dipakai sebagai perbedaan pokok dengan luka tembak masuk.
Ciri-ciri tersebut adalah tidak adanya kelim lecet pada luka tembak
keluar, dengan tidak adanya kelim lecet, kelim-kelim lainnya juga tidak
ditemukan. Disekitar luka tembak keluar dapat dijumpai daerah lecet
bila pada tempat keluar tersebut terdapat benda yang keras, misalnya :
ikat pinggang, atau korban sedang bersandar pada dinding.
Luka tembak keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak
masuk, hal ini disebabkan akibat terjadi deformitas anak peluru,
bergoyangnya anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang pecah
keluar dari luka tembak keluar. Pada anak peluru yang menembus tulang
pipih, seperti tulang atap tengkorak, maka akan terbentuk corong yang
membuka searah dengan gerak anak peluru.
Faktor-faktor yang menyebabkan luka tembak keluar lebih besar
dari luka tembak masuk adalah :
1) perubahan luas peluru karena terjadi deformitas sewaktu peluru
berada dalam tubuh dan membentur tulang, peluru sewaktu berada
17
dalam tubuh mengalami perubahan gerak, misalnya karena terbentur
bagian tubuh yang keras.
2) peluru bergerak berputar dari ujung ke ujung (end to end), keadaan
ini disebut “tumbling”, pergerakan peluru yang lurus menjadi tidak
beraturan atau disebut “yawning”
3) peluru pecah menjadi beberapa fragmen. Fragmen-fragmen ini
menyebabkan luka tembak keluar menjadi lebih besar. apabila peluru
mengenai tulang dan fragmen tulang tersebut ikut terbawa keluar,
maka fragmen tulang tersebut akan mengalami robekan tambahan
sehingga akan memperbesar luka tembak keluarnya.
Luka tembak keluar juga dapat berukuran lebih kecil dari luka
tembak masuk apabila terjadi pada luka tembak tempel/kontak, atau
pada anak peluru yang telah kehabisan tenaga pada saat keluar
meninggalkan tubuh. Bentuk luka tembak keluar tidak khas dan sering
tidak beraturan. Pada beberapa keadaan luka tembak keluar lebih kecil
dari luka tembak masuk, hal ini disebabkan karena :
1) Kecepatan atau velocity peluru sewaktu akan menembus keluar
berkurang, sehingga kerusakannya (lubang luka tembak keluar)
akan lebih kecil, perlu diketahui bahwa kemampuang peluru untuk
dapat menimbulkan kerusakan berhubungan langsung dengan
ukuran peluru dan velocity
2) Adanya benda menahan atau menekan kulit pada daerah dimana
peluru akan keluar yang berarti menghambat kecepatan peluru,
18
luka tembakkeluar akan lebih kecil bila dibandingkan dengan luka
tembak masuk
Bentuk dan jumlah luka tembak keluar tidak dapat diprediksi.
Pada luka tembak keluar sebagian (parsial exit wound), hal ini
dimungkinkan karena tenaga peluru tersebut hampir habis atau ada
penghalang yang menekan pada tempat dimana peluru akan keluar,
dengan demikian luka hanya berbentuk celah dan peluru tampak
menonjol sedikit pada celah tersebut. Jumlah luka tembak keluar dapat
lebih banyak dari pada luka tembak masuk, hal ini disebabkan karena:
1) Peluru pecah dan masing-masing pecahan membuat luka tembak
keluar
2) Peluru menyebabkan ada tulang yang patah dan tulang tersebut
terdorong keluar pada tempat yang berbeda dengan tempat
keluarnya peluru.
3) Dua peluru tersebut masuk kedalam tubuh melalui satu luka
tembak masuk (tandem bullet injury) dan di dalam tubuh ke dua
peluru tersebut berpisah dan keluar melalu tempat yang berbeda.
Peluru jarang dapat dihentikan oleh tulang, terutama tulang-
tulang yang tipis seperti scapula dan ileum atau bagian tipis dari
tengkorak. Anak peluru yang mengenai lokasi yang tidak biasa dapat
menyebabkan luka dan kematian tetapi luka tembak masuk akan lebih
sulit untuk ditemukan. Contohnya telinga, cuping hidung, mulut, ketiak,
vagina, dan rektum.
19
C. Perbedaan luka tembak masuk dengan luka tembak keluar
No Luka tembak masuk Luka tembak keluar
1. Ukurannya kecil, karena peluru Ukurannya lebih besar dan lebih
menembus kulit seperti bor tidak teratur dibandingkan luka
dengan kecepatan tinggi tembak masuk, karena kecepatan
peluru berkurang sehingga
menyebabkan robekan jaringan
2. Pinggiran luka melekuk ke arah Pinggiran luka melekuk keluar
dalam karena peluru menembus karena peluru menuju keluar
kulit dari luar
3. Pinggiran luka mengalami abrasi Pinggiran luka tidak mengalami
abrasi
4. Pakaian masuk ke dalam luka, Tidak ada
dibawa oleh peluru yang masuk
5. Pada luka bisa tampak hitam, Tidak ada
terbakar, kelim tattoo, atau
jelaga
6. Pada tulang tengkorak, pinggiran Tampak seperti gambaran mirip
luka teratur bentuknya kerucut
7. Bisa tampak berwarna merah Tidak ada
terang akibat adanya zat karbon
monoksida
8. Di sekitar luka tampak kelim Tidak ada
ekimosis
20
5. PEMERIKSAAN KORBAN LUKA TEMBAK
Pemeriksaan korban luka tembak meliputi pemeriksaan ditempat
kejadian perkara (TKP), pemeriksaan pada tubuh korban, otopsi korban luka
tembak dan pemeriksaan tambahan.
A. Pemeriksaan ditempat kejadian perkara (TKP)
Dari pemeriksaan di TKP dapat diperoleh gambaran tentang cara
kematian, apakah karena kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Tugas
dokter memeriksa apakah korban sudah meninggal atau belum,
memperkirakan saat kematian, cara kematian dan lain-lain. Beberapa hal
yang dilakukan dokter di tempat kejadian perkara (TKP), yaitu :
1) Memeriksa keadaan sekitar TKP, seperti : lokasi tembakan,
penemuan jenis senjata, anak peluru dan lain-lain.
2) Mengamankan barang bukti, yaitu sebelum menyentuh dilakukan
pemotretan atau dokumentasi terlebih dahulu, memegang dengan
memakai sarung tangan dan pakaian korban.
3) Mencatat penemuan pada pemeriksaan, diantaranya adalah :
membuat sketsa atau foto TKP, catat nomor buatan atau tipe senjata
yang digunakan dan mencatat jumlah luka tembak serta
mengidentifikasi jenis luka tembak (masuk atau keluar)
4) Mencari atau mengumpulkan barang bukti
5) Memberi bantuan kepada petugas penyidik, seperti : menentukaan
perkiraan kematian, jarak, sudut, posisi korban, memindahkan tubuh
21
korban ke rumah sakit, membuat foto-foto luka yang ditemukan serta
menyimpan semua benda asing yang ditemukan.
B. Pemeriksaan tubuh korban
Hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan tubuh korban
luka tembak adalah karakteristik luka tembak dan deskripsi luka tembak.
1. Karakteristik luka tembak
Komponen yang mungkin terdapat pada tubuh korban antara
lain efek nyala api menyebabkan luka bakar, efek asap menyebabkan
noda-noda kotor, efek mesiu menyebabkan tattoo atau stripling dan
efek anak peluru masuk dan keluar.
Efek nyala api yang menyebabkan luka bakar biasanya
karena jarak tempuh nyala api sekitar 15 cm. pada pistol dan resolver
kadang-kadang hanya mencapai 7,5cm. jadi jika korban ditembak
pada jarak kurang dari 15 cm, maka dpat ditemukan efek dari nyala
apiberupa luka bakar pada kulit dan rambut mongering karena
terbakar.
Efek asap yang menyebabkan noda-noda kotor disebabkan
karena pembakaran mesiu yang menimbulkan gas-gas seperti CO2,
N, NO, H2S, H2 dan sedikit methane serta oksigen. Pada smokeless
powder, gas-gas yang ditimbulkan jauh lebih sedikit daripada
blackpowder. Jarak tempuh asap tidak sejauh mesiu dan hanya
menempel pada permukaan sehingga dapat dihapus dengan
22
menggosok atau mencuci.. efek asap masih dapat terlihat pada jarak
tembakan sampai 30 cm.
Efek mesiu yang dapat menyebabkan tattoo atau stripling
disebabkan karena gas-gas panas dan sisa-sisa mesiu seperti nitrit
dan sellulose nitrit yang bercampur dengan karbon. Efek yang
ditimbulkan tergantung dari tipe senjata apinya, amunisi dan jarak
tembaknya.
Efek anak peluru yang menyebabkan luka tembak masuk dan
luka tembak keluar bermacam-macam, tergantung dari kecepatan,
posisi, bentuk dan besar anak peluru. Peluru berkecepatan tinggi
menimbulkan kerusakan yang lebih besar, menembus tulang dan
organ-organ berongga yang berisi cairan seperti jantung, ventrikel
otak, vesika urinaria dan lain-lain.
Efek metal yang menyebabkan fouling disebabkan karena
anak peluru, mesiu dan nyala api. Biasanya ditemukan kelainan
akibat fragmen-fragmen kecil dari metal yang tertanam dalam kulit.
Jarak tempuh fragmen biasanya pendek karena tertahan pada pakaian
korban.
Efek moncong laras menyebabkan imprint moncong terjadi
akibat tekanan dari moncong laras pada kulit. Gas-gas yang masuk
dan terbawa kulit melalui lubang luka akan menekan kulit keluar.
Factor lain yang menyebabkan imprint adalah pada waktu senjata
23
meletus dan terdorong yang kemudian menghantam kulit lagi akibat
dari tekanan yang terus menerus.
2. Deskripsi luka tembak
Deskripsi luka tembak yang sering ditemukan pada tubuh
korban meliputi luka tembak masuk dan luka tembak keluar. Hal-hal
yang penting dalam deskripsi luka tembak antara lain :
a) Lokasi meliputi : jarak dari puncak kepala atau telapak kaki
serta ke kanan dan kiri garis tengah tubuh dan lokasi secara
umum terhadap bagian tubuh.
b) Deskripsi luka luar meliputi : ukuran dan bentuk, lingkaran
abrasi, tebal dan pusatnya, luka bakar, lipatan kulit utuh atau
tidak dan tekanan ujung senjata.
c) Residu tembakan yang terlihat adalah trains powder, deposit
bubuk hitam, termasuk korona, tattoo dan metal stippling.
d) Perubahan biasanya terjadi karena atau oleh tenaga medis dan
oleh bagian pemakaman.
e) Track meliputi : penetrasi organ, arah (depan ke belakang,
belakang ke depan), kanan ke kiri atau kiri ke kanan dan atas ke
bawah.
f) Kerusakan sekunder ditemukan adanya perdarahan pada daerah
sekitar luka
Pada korban luka tembak akibat bunuh diri mempunyai ciri
klasik yaitu luka tembaknya hampir selalu kontak dengan letak
24
tembakan, yaitu daerah pelipis, dahi bagian tengah, langit-langit
mulut, daerah jantung dan pada daerah epigastrium. Dapat juga
ditemukan cadaveric spasme pada korban bunuh diri.
C. Otopsi korban
Otopsi pada korban luka tembak meliputi :
1) Luka tembak masuk dilukiskan dalam keadaan aslinya, lebih baik
kalau bias dipotret
2) Sebelum dibersihkan dilakukan paraffin test terlebih dahulu.
Terutama pada luka tembak jarak dekat.
3) Luka tembak karena peluru jenis shoftgun harus dipotret terlebih
dahulu untuk menentukan jarak tambalan..
4) Luka dibersihkan menggunakan sabun, lalu diperiksa apakah
terdapat tattoage kemudian lakukan pemotretan.
5) Sebelum dilakukan pemeriksaan dalam sebaiknya difoto x-ray
terlebih dahulu untuk mengeluarkan peluru yang masuk atau
bersarang dalam tubuh.
6) Letak luka tembak masuk dan keluar harus diukur dengan
mengambil patokan tumit dan garis tengah tubuh melalui tulang
punggung. Hal ini diperlukan untuk memperkirakan arah tembakan.
D. Pemeriksaan tambahan
1) Pemeriksaan mikroskopik
Perubahan yang tampak pada luka tembak masuk diakibatkan
oleh dua faktor, yaitu trauma mekanis dari peluru dan trauma thermis
25
akibat panas dari pembakaran mesiu. Pada pemeriksaan mikroskopis
luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat akan diperoleh
kompresi epithel dimana di sekitar luka tampak epithel yang normal
dan yang mengalami kompresi,elongasi,dan menjadi pipihnya sel-sel
epidermal serta elongasi dari inti sel.
Pada sel epidermis tepi luka juga akan mengalami distorsi
yang dapat bercampur dengan butir-butir mesiu. Epitel luka juga
tampak mengalami nekrosis koagulatif,epitel sembab, serta
vakuolisasi sel-sel basal. Panas yang dihasilkan dari pembakaran
mesiu akan memperlihatkan jaringan kolagen menyatu dengan
pewarnaan HE dan akan lebih banyak mengambil warna biru
(basofilik staining).
Pada luka akan tampak perdarahan yang masih baru dalam
epidermis (kelainan ini paling dominan), dan adanya butir-butir
mesiu. Sel-sel pada dermis akan mengalami beberapa perubahan
yakni intinya mengkerut, vakuolisasi dan pignotik. Pada
pemeriksaan mikroskopis akan terlihat butir-butir mesiu yang
tampak sebagai benda tidak beraturan, berwarna hitam atau hitam
kecoklatan.
Pada luka tembak tempel “hard contact”, permukaan kulit
sekitar luka tidak terdapat mesiu atau hanya sedikit sekali butir-butir
mesiu, butir-butir mesiu akan tampak banyak pada lapisan bawah,
khususnya disepanjang tepi saluran luka. Sedangkan pada luka
26
tembak tempel “soft contact” butir-butir mesiu akan terdapat pada
permukaan kulit dan jaringan dibawah kulit.
Pemeriksaaan mikroskopis pada luka tembak jarak dekat
akan ditemukan adanya butir-butir mesiu terutama terdapat pada
permukaan kulit dan hanya sedikit yang ditemukan pada lapisan-
lapisan kulit.
2) Pemeriksaan kimiawi
Hasil pemeriksaan kimiawi pada luka tembak tergantung dari
jenis mesiu yang gunakan. Pada black gun powder dapat ditemukan
kalium, karbon, nitrit, nitrat, sulfis, sulfat, karbonat, tiosianat dan
tiosulfat sedangkan pada smokeles gun powder dapat ditemukan
nitrit dan selulosa nitrat. Pada senjata api yang modern, unsur kimia
yang dapat ditemukan ialah timah, barium, antimon, dan merkuri.
Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan dari
peluru yang dapat ditemukan berupa timah, antimon, nikel, tembaga,
bismut perak dan thalium. Pemeriksaan terhadap unsur-unsur
tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian, didalam atau di sekitar
luka. Pada pelaku penembakan, unsur-unsur tersebut dapat dideteksi
pada tangan yang menggenggam senjata.
3) Pemeriksaan radiologi X-Ray dan Ct-scan
X-ray penting dilakukan pada pemeriksaan luka tembak.
Semua luka tembak harus dilakukan pemeriksaan rontgen, terutama
pada luka tembak keluar. Kegunaan x-ray antara lain : untuk melihat
27
apakah peluru atau bagian-bagian dari peliru masih ada didalam
tubuh, untuk mementukan letak peluru, untuk menentukan letak dari
fragmen-fragmen kecil dari peluru yang ditinggalkan didalam tubuh
sehingga dapat dikeluarkan, untuk mengidentifikasi jenis amunisi
dan senjata yang digunakan dan untuk mendokumentasikan arah
peluru..
Untuk menggunakan X-ray dalam menentukan letak peluru
akan menyingkat waktu otopsi. X-ray harus dilakukan pada seluruh
luka tembak keluar, karena walaupun ada luka keluar bukan berarti
arah peluru memang keluar, tetapi bias saja peluru tersebut
mempunyai cukup energi untuk menimbulkan defek di kulit tetapi
memantul kembali ke dalam tubuh. Luka keluar tersebut juga
mungkin disebabkan oleh fragmen tulang yang didorong keluar oleh
peluru.
X-ray juga berguna pada kasus dimana selubung peluru dan
inti terpisah pada saat memasuki tubuh, inti bisa saja keluar namun
selubungnya terperangkap didalam. Pada otopsi jika tidak disadari
maka pemeriksa akan menarik kesimpulan yang salah bahwa seluruh
peluru telah keluar maupun sebaliknya dimana selubung keluar
namun inti terperangkap. Kesalahan-kesalahan tersebut dapan
dihindari dengan x-ray yang akan menunjukan apakah terjadi
pemisahan inti dan selubung.
28
Pada luka tembus, pecahan-pecahan kecil dari peluru dapat
tertinggal disepanjang luka atau pada tulang yang terperforasi oleh
peluru. Pecahan tersebut biasanya terlewatkan pada otopsi, maka
perlu dilakukan X-ray sehingga dapat diambil untuk pemeriksaan
scanning electron microscope. Pemeriksaan ini berfungsi untuk
mengetahui asal metal. X-ray juga bisa memperlihatkan luka dari
luka tembak lama atau pecahan-pecahan peluru yang tidak
berhubungan dengan kematian. Pada luka lama sudah terjadi fibrosis
dan peluru sudah berwarna hitam karena terjadi oksidasi.
Pada gambaran radiologi juga dapat dilihat apakah terjadi
pemantulan dalam. Terdapat gambaran jejak pecahan-pecahan yang
terlihat bolak-balik. Namun X-ray juga mempunyai beberapa
kekurangan, antara lain kaliber dari peluru tidsak dapat ditentukan
dengan tepat, hal ini karena pembesaran dari gambaran peluru yang
tergantung dari jarak dengan sinar X-ray. Peluru yang dekat dengan
sinar terlihat lebih besar dan batas terlihat kabur daripada gambaran
yang lebih dekat ke film. Namun estimasi kaliber bisa didapatkan.
X-ray sebaiknya diambil pada saat jenazah masih berpakaian agar
dapat mendeteksi peluru yang keluar dari tubuh dan tetinggal di
pakaian.
CT-scan adalah alat yang lebih akurat untuk mengevaluasi
letak peluru dan pecahan-pecahan tulang. Dapat diketahui sejauh
mana peluru menemus organ atau jaringan. Pada luka tembak kepala,
29
dapat dilihat apa terjadi perdarahan otak, fraktur tulang vertebrae dan
lain-lain.
4) Paraffin test
Tes paraffin merupakan tes yang kurang spesifik, karena
hanya dapat mendeteksi adanya nitrate dan nitrite saja. Sehingga tes
ini dapat memberikan hasil positif jika tangan tercemar tembakau,
kacang-kacangan, pupuk atau obat-obatan.
5) Harrison dan Gilroy test
Tes ini dilakukan dengan menggunakan kassa yang telah
dibasahi dengan asam klorida. Bedanya dengan tes paraffin adalah
bahwa tes yang terakhir ini untuk mendeteksi adanya unsur logam,
merkuri, antimony, barium, atau timah hitam. Tentu harus
diperhitugkan apakah pekerjaannya berkaitan dengan logam-logam
tersebut.
6) Neutron Activation Analysis (NAA)
Tes ini lebih sensitif sebab masih dapat mendeteksi
antimony, barium, dan copper walaupun tangan yang digunakan
untuk menembak sudah dibersihkan.
7) Metode Atomic Absorbtion Spectroscopy (AAS) atau Flameless
Atomic Absorbtion Spectroscopy (FAAS).
30
6. VISUM ET REPERTUM PADA LUKA TEMBAK
A. Penulisan Visum et repertum pada luka tembak
No Deskripsi Penilaian
1. Jumlah luka
2. Lokasi luka a. Lokasi berdasarkan region
anatomiknya
b. Lokasi berdasarkan garis kordinat
atau berdasarkan bagian tertentu
dari tubuh
Catatan : pada setiap luka tembak
harus selalu diukur tinggi dari
tumit guna kepentingan
rekonstruksi.
3. Bentuk luka a. Bentuk sebelum dirapatkan
b. Bentuk sesudah dirapatkan
4. Ukuran luka a. Ukuran sebelum dirapatkan
b. Ukuran sesudah dirapatkan
5. Sifat luka a. Garis batas luka (bentuk, teppi,
sudut
b. Daerah didalam garis batas luka
(tebing luka, dasar luka)
c. Daerah disekitar garis batas luka
(tatoase, jelaga, dan lain-lain)
Contoh deskripsi kasus luka tembak :
Pada pemeriksaan ditemukan luka :
Jumlahnya : satu
31
Lokasinya : di perut bagian kanan atas 8 cm disebelah kanan dari garis
tengah tubuh dan setinggi 110 cm dari tumit.
Bentuknya : terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian luar berupa cincin lecet
dan bagian dalam berupa lubang. Posisi lubang terhadap
cincin lecet konsentris atau episentris.
Ukuranya : diameter cincin lecet 11 mm dan diameter lubang 9 mm
Sifat : garis batas luar dari cincin lecet bentuknya teratur ((bulat),
tepi tidak rata dan garis batas lubang bentuknya teratur
sedangkan tepinya tidak rata.
Tebing luka tidak rata. Berbentuk silinder dan terdiri atas
jaringan kulit, jaringan ikat, otot dan tulang.
Dasar cincin lecet merupakan jaringan ikat sedangkan dasar
lubang tidak dapat ditentukan pada pemeriksaan luar karena
menembus dinding perut.
Daerah sekitar cincin lecet terlihat memar berwarna merah
kebiruan, jelaga dan tatoase.
B. Cara Pengutaraan Jarak Tembak Dalam Visum et Repertum
Menurut Hadikusumo (1998), luka tembak tempel bentuknya
seperti bintang, dengan gambaran bundaran laras senjata api dengan
tambahan gambaran vizierkorrel (pejera, foresight) akibat panasnya
mulut laras. Bila larasnya menempel pada kulit, gas peluru ikut masuk ke
dalam luka, dan berusaha menjebol keluar lagi lewat jaringan disekitar
luka.
32
Sedangkan luka tembak jarak dekat terdapat sisa mesiu yang
menempel pada daerah sekitar luka. Gambaran mesiu ini tergantung jenis
senjata dan panjang laras. Mesiu hitam lebih jauh jangkauannya dari pada
mesiu tanpa asap. Sedangkan luka tembak jarak jauh, luka bersih dengan
cincin kontusio, pada arah tembakan tegak lurus permukaan sasaran
bentuk cincin kontusionya konsentris dan bundar.
1) Bila pada tubuh korban terdapat luka tembak masuk dan tampak
jelas adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga atau tato, maka
perkiraan atau penentuan jarak tembak tidak sulit. Kesulitan timbul
karena tidak ada kelim-kelim selain kelim lecet.
2) Bila ada kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak dekat,
maksimal 30 cm.
3) Bila ada kelim tato, berarti korban ditembak dari jarak dekat,
maksimal 60 cm dan seterusnya.
4) Bila hanya ada kelim lecet, cara pengutaraannya adalah sebagai
berikut : berdasarkan sifat lukanya, luka tembak tersebut merupakan
luka tembak jarak jauh, hal ini mengandung arti bahwa korban
ditembak dari jarak jauh, yang berarti diluar jangkauan atau jarak
tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar.
Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat, akan tetapi
antara korban dengan moncong senjata terdapat penghalang, seperti
bantal dan lain sebagainya.
33
5) Bila ada kelim api, berarti korban ditembak dari jarak yang sangat
dekat sekali, yaitu maksimal 15 sentimeter.
7. ASPEK MEDIKOLEGAL SENJATA API
UU No. 8 Tahun 1948 : Senjata genggam kaliber 22-32, Senjata bahu
(laras panjang ) hanya dengan kaliber 12 GA dan kaliber 22, Kalangan sipil :
Senjata api non organik TNI/POLRI.
A. Unsur Penyalahgunaan Senjata Api
Orang atau pelaku sebagai subyek hukum dari suatu tindak pidana
yang akan secara sadar mempertanggungjawabkan tindak pidana yang
dilakukan.
Pasal 359 KUHP
Unsur pertama : Barang siapa menurut Undang-undang adalah setiap
orang warga Negara atau siapa saja yang mampu bertanggung jawab yang
tunduk kepada peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Unsur kedua : Bahwa dari kata-kata tanpa hak dalam perumusan delik
ini, sudah dipastikan bahwa seseorang ( baik militer maupun non militer)
sepanjang menyangkut masalah-masalah senjata api munisi atau bahan
peledakharus ada ijin dari yang berwenang untuk itu.
34
Unsur ketiga : Menyerahkan menguasai, membawa, mempunyai,
mengangkut, menyembunyikan suatu senjata api, munisi atau bahan peledak.
B. Pertanggungjawaban Tindak Pidana Penyalahgunaan Senjata Api
Prosedur kepemilikan senjata api :
- Harus memenuhi syarat medis dan psikologis
- Pemohon haruslah orang yang tidak cepat gugup dan panik, tidak
emosional dan tidak cepat marah
- Dilihat kelayakan, kepentingan dan pertimbangan keamanan
- Berkelakuan baik
- Berusia 21-65 tahun
Tidak menggunakan prosedur
Pasal 49 ayat 1: Barangsiapa melakukan perbuatan yang terpaksa
dilakukannya umtuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain,
mempertahankan kehormatan atau harta benda sendiri atau kepunyaan orang
lain, dari pada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera
pada saat itu juga, tidak boleh dihukum
Pasal 50 KUHP : Barangsiapa melakukan perbuatan untuk
menjalankan peraturan undang-undang, tidak boleh dihukum.
35
BAB III
KESIMPULAN
1. KESIMPULAN
A. Luka tembak adalah luka yang disebabkan karena adanya penetrasi
peluru ke dalam tubuh yang diproyeksikan lewat senjata api,
umumnya ditandai dengan luka masuk kecil dan dapat disertai dengan
luka keluar yang lebih besar. Luka ini biasanya juga disertai dengan
kerusakan pembuluh darah, tulang dan jaringan disekitarnya.
B. Jenis senjata api diklarifikasikan berdasarkan berbagai hal, antara lain
berdasarkan tenaga pendorong yang terdiri dari senjata api dan senjata
angin. Berdasarkan cara penggunaannya senjata genggam, dapat juga
didasarkan pada bentuk permukaaan dalam laras yaitu senjata berlaras
rata dan senjata beralur melingkar.
C. Mekanisme senjata, baik senjata angin atau senjata api pada
prinsipnya sama yaitu memanfaatkan tekana tinggi dari udara atau gas
untuk melontarkan anak proyektil atau anak peluru keluar dari laras
dengna kecepatan tinggi. Tekanan tinggi tersebut dapat berasal dari
gas co2 atau pembakaran mesiu.
D. Luka tembak diklasifikasikan menjadi 2 yaitu luka tembak masuk dan
luka tembak keluar. Luka tembak masuk dibagi menjadi 3 kategori
yaitu luka tembak masuk kontak, luka tembak masuk jarak dekat dan
luka tembak masuk jarak jauh. Sedangkan luka tembak keluar pada
36
umumnya lebih besar dari luka tembak masuk, hal ini disebabkan
akibat terjadi deformitas anak peluru, bergoyangnya anak peluru dan
terikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari luka tembak keluar
E. Gambaran luka tembak dapat berupa gambaran makroskopik dan
mikroskopik. Pada gambaran makroskopik dapat dijumpai adanya
luka berbentuk bintang maupun oval, dipinggir luka biasa terdapat
adanya kelim pato maupun kelim jelaga. Sedangkan pada gambaran
mikroskopik dapat dilihat perubahan progresif epitel akibat panas dan
mekanik. Demikian pula kemungkinan didapatkannya butir-butir
mesiu dalam saluran luka dan pada permukaan epitel.
F. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan dalam kasus luka tembak
meliputi pemeriksaan radiologi yaitu X-Ray dan CT-Scan,
pemeriksaan paraffin tes, Harrison dan Gilroy test, Neutron
Activation Analysis (NAA) dan Metode Atomic Absorbtion
Spectroscopy (AAS) atau Flameless Atomic Absorbtion Spectroscopy
(FAAS).
2. SARAN
A. dokter sebagai seorang ahli atau calon dokter harus mampu
mendeskripsikan luka tembak sehingga dapat membuat Visum et
Repertum yang baik dan benar.
B. Seorang dokter atau calon dokter tidak hanya mempelajari ilmu
kedokteran tetapi juga mengetahui dasar hukum kesehatan
37
DAFTAR PUSTAKA
1. Arnold JL, Halpern P, Tsai MC, Smithline H: Mass casualty terrorist
bombings: acomparison of outcomes by bombing type. Ann Emerg Med
2004 Feb; 43(2): 263-73
2. Chadha P.V. 1995. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi
V. Jakarta : Widya Medika. Hal. 75-81
3. Dahlan, Sofwan. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter
dan Penegak Hukum. Cetakan [Link]:Badan Penerbit Universitas
Diponegoro:93-106
4. Di Maio, V.J.M. 1999. Gunshot Wounds Practical Aspects of Firearms,
Ballistics, and Forensic [Link] Edition. New York : CRC
Press
5. Hoediyanto, A. Hariadi. 2010. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
edisi : 7. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Universitas Airlangga. Surabaya. Hal : 99-114.
6. Hueske E. 2006. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory
Handbooks, Practice and Resource.
7. Tsokos, Michael. 2008. Forensic Pathology Reviews. Volume 5.
Berlin,Germany;Humana Press:139-149
38