0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
72 tayangan38 halaman

Analisis Luka Tembak dan Penanganannya

Dokumen tersebut membahas tentang luka tembak akibat senjata api dan peran dokter forensik dalam menyelidiki kasus tersebut. Ia menjelaskan peningkatan kasus luka tembak di berbagai negara dan karakteristik luka yang ditimbulkannya. Dokumen ini juga mendefinisikan luka tembak dan unsur-unsur balistik yang relevan seperti jenis senjata, peluru dan mesiu guna mengungkap kebenaran suatu kasus.

Diunggah oleh

Vidy Vidya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
72 tayangan38 halaman

Analisis Luka Tembak dan Penanganannya

Dokumen tersebut membahas tentang luka tembak akibat senjata api dan peran dokter forensik dalam menyelidiki kasus tersebut. Ia menjelaskan peningkatan kasus luka tembak di berbagai negara dan karakteristik luka yang ditimbulkannya. Dokumen ini juga mendefinisikan luka tembak dan unsur-unsur balistik yang relevan seperti jenis senjata, peluru dan mesiu guna mengungkap kebenaran suatu kasus.

Diunggah oleh

Vidy Vidya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Kasus kekerasan dengan menggunakan senjata api terus meningkat dalam

dekade terakhir ini. Luka tembak merupakan kasus yang sering terjadi di Negara

maju dan negara berkembang. Kematian akibat luka tembak sering dikaitkan

dengan kasus-kasus kriminal, seperti pembunuhan dan bunuh diri, sehingga peran

dokter sebagai seorang ahli sangat penting dalam proses penyidikan.

Kasus kriminal akibat luka tembak sering terjadi di Amerika serikat.

Diperkirakan sekitar 70.000 jiwa korban luka tembak terjadi dengan angka

kematian sebanyak 30.000 jiwa. Di Indonesia jumlah kasus luka tembak dalam

kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2011

didapatkan 55 kasus, tahun 2012 didapatkan 142 kasus dan pada tahun 2013

didapatkan 164 kasus dengan korban meninggal sebanyak 191 jiwa sedangkan

534 lainnya mengalami luka-luka.

Luka tembak merupakan jenis kekerasan mekanik yang disebabkan oleh

senjata api proyektil yang didorong dari barrel dengan kecepatan tinggi, sehingga

dapat mengakibatkan karakteristik luka seperti luka tembak masuk, luka tembak

keluar, luka bakar pada kulit dan luka lecet. Kematian akibat kerusakan jaringan

yang lebih berat juga dapat terjadi akibat peluru mengenai bagian tubuh yang

densitasnya lebih besar.

Untuk mengungkap kebenaran dari suatu kasus tindak kriminal, khususnya

luka tembak dibutuhkan alat bukti yang dapat dibuktikan kebenaranya dalam

1
sidang peradilan. Keterbatasan alat dan pengetahuan yang dimiliki oleh pihak

penyidik, sehingga dibutuhkan suatu disiplin ilmu kedokteran forensik untuk

menyelidiki penyebab kematian korban.

Tugas dan peran dokter sebagai pemeriksa adalah menjelaskan tentang

berbagai hal, diantaranya adalah memastikan apakah luka tersebut merupakan

luka tembak, jenis luka tembak, senjata yang dipakai, jarak tembak, arah

tembakan, posisi korban dan luka tembak mana yang menyebabkan kematian.

Interpretasi yang benar mengenai luka tembak akan memberikan informasi

penting yang dapat menunjang pelaksanaan hukum selama proses investigasi dan

penting untuk menentukan jenis kematian.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. ASPEK HUKUM

2. DEFINISI

Luka tembak adalah luka yang disebabkan oleh penetrasi anak peluru

ke dalam tubuh yang diproyeksikan lewat senjata api atau persentuhan peluru

dengan tubuh. Luka tembak terjadi karena energi dari peluru saat menembus

tubuh. Semakin besar energi yang dihasilkan peluru, maka semakin parah

luka yang terjadi. Pada umumnya luka tembak ditandai dengan luka masuk

yang kecil dan luka keluar yang lebih besar. Peluru dengan ukuran lebih besar

yang ditembakan dari senapan menyebabkan luka yang lebih besar

dibandingkan dengan peluru berukuran kecil yang ditembakan dengan pistol.

3. ELEMEN BALISTIK

A. Jenis senjata api

Senjata api adalah senjata yang menggunakan tenaga hasil

peledakan mesiu yang dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang

berkecepatan tinggi melalui larasnya. Berdasarkan panjang larasnya

senjata api dibagi menjadi 2, yaitu :

1) Laras pendek

Yang termasuk dalam senjata api laras pendek adalah

revolver dan pistol. Revolver mempunyai metal drum (tempat

3
penyimpanan 6 peluru) yang berputar (revolve) setiap kali

trigger ditarik dan menempatkan peluru baru pada posisi siap untuk

di tembakkan. Revolver terdapat dua jenis, yaitu single action dan

double action. Pada tipe single action pelatuk harus dikokang setiap

kali akan menembak. Sedangkan pada double action revolver

penekanan picu secara berulang untuk langsung memutar silinder,

mensejajarkan laras dan tempat peluru, mengokang dan selanjutnya

melepaskan pelatuk untuk menembak. Sedangkan pistol mempunyai

mekanisme kerja peluru disimpan dalam sebuah silinder yang

diputar dengan menarik picunya. Pistol otomatis dan semi otomatis,

peluru disimpan dalam sebuah magasin, putaran pertama harus

dimasukkan secara manual ke dalam ruang ledaknya.

2) Laras panjang

Senjata laras panjang berkekuatan tinggi dengan daya tembak

sampai 3000 m, menggunakan peluru yang lebih panjang. Senjata

laras panjang dibagi menjadi dua, yaitu senapan tabur dan senapan

untuk menyerang. Senapan tabur dirancang untuk dapat

memuntahkan butir-butir tabur ganda lewat larasnya, sedangkan

senapan dirancang untuk memuntahkan peluru tunggal lewat

larasnya dan moncong senapan halus serta tidak terdapat rifling.

Sedangkan senapan untuk menyerang bekerja mengisi pelurunya

sendiri mampu melakukan tembakan otomatis sepenuhnya,

mempunyai kapasitas magasin yang besar dan dilengkapi ruang

4
ledak untuk peluru senapan dengan kekuatan sedang (peluru dengan

kekuatan sedang antara peluru senapan standar dan peluru pistol)

Berdasarkan arus larasnya, senjata api dibedakan menjadi :

1) Laras beralur (Rifled bore)

Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya,

maka permukaan dalam laras dibuat beralur spiral dengan diameter

yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru, sehingga anak

peluru yang didorong oleh ledakan mesiu saat melalui laras dipaksa

bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan

memperoleh gaya sentripetal, sehingga anak peluru tetap dalam

posisi ujung depannya di depan dalam lintasannya setelah lepas laras

menuju sasaran. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu, arah putaran

ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan.

a) Senjata api dengan alur ke kiri dikenal sebagai senjata tipe

COLT. Kaliber senjata yang banyak dipakai adalah kaliber 0.36;

0.38; dan 0.45. Pada kasus penembakan dengan jenis senjata ini

dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh

korban yaitu adanya goresan dan alur yang memutar ke arah kiri

bila dilihat dari basis anak peluru.

b) Senjata api dengan alur ke kanan dikenal sebagai senjata api tipe

SMITH & WESSON (tipe SW). Kaliber senjata yang banyak

dipakai: kaliber 0.22;0.36;0.38;0.45; dan 0.46. Dapat diketahui

dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban yaitu adanya

5
goresan dan alur yang memutar ke arah kanan bila dilihat dari

bagian basis anak peluru.

2) Laras tak beralur

Laras tak beralur atau laras licin (Smooth bore) dapat

melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak pada satu kali

tembakan. Contohnya adalah shot gun.

B. Peluru

Anak peluru tunggal mempunyai macam-macam bentuk

antaralain : flat nose, roun nose, hallow point, spine dan spitzer. Pistol

dan resolver modern mempunyai dua macam anak peluru, yaitu solid

metal bullet dan composite bullet. Sedangkan anak peluru khusus

mempunyai berbagai macam anak peluru, yaitu : anak peluru dum dum,

anak peluru granat, light bullet, anak peluru latihan, dan anak peluru

tandem.

C. Mesiu

Macam-macam mesiu yang terdapat di Indonesia antara lain

adalah : mesiu hitam, mesiu berasap sedikit dan knalkwik. Mesiu hitam

terdiri dari S,C dan NO³. Mesiu berasap sedikit terdiri dari nitrogliserite

atau dynamite dan knalkwik terdiri dari fulminating mercury sehingga

mudah meledak apabila tersentuh atau terkena gesekan.

D. Mekanisme kerja senjata

Mekanisme kerja senjata, baik senjata angin atau senajata api

pada prinsipnya sama yaitu memanfaatkan tekanan tinggi dari udara atau

6
gas untuk melontarkan anak proyektil atau anak peluru keluar dari laras

dengan kecepatan tinggi.

Pada senjata angin, tekanan yang tinggi diperoleh dengan cara

memanfaatkan udara atau dengan merubah CO2 cair menjadi gas dalam

ruangan yang volumenya tetap. Sedangkan pada senjata api, tekanan

yang tinggi diperoleh dari pembakaran mesiu sehingga dalam waktu

sekejap berubah menjadi gas dengan volume yang besar didalam ruangan

yang volumenya tetap. Dari satu gram mesiu dapat dihasilkan gas (CO2,

CO, hydrogen sulfanida, dan methane) antara 200-900 mililiter dengan

suhu yang sangat panas.

Fungsi picu pada senjata angin adalah untuk melepaskan udara

dengan tekanan yang dibuat tinggi guna melontarkan proyektil,

sedangkan pada senjata api untuk membuatnya, pin atau pemukul

penggalak melakukan tugasnya sehingga menimbulkan percikan api pada

penggalak (primer) untuk membakar mesiu. Selanjutnya, anak peluru

atau proyektil yang telah memiliki gaya kinetik tersebut meninggalkan

laras jalannya dan dipengaruhi oleh banyak hal, seperti berat, massa,

bentuk dan diameternya, gravitasi serta tahanan (resistensi) udara yang

dilaluinya. Akibat dari gravitasi tersebut, maka arah anak peluru atau

proyektil akan membentuk kurva. Semakin jauh moncong, maka

pengaruh gravitasi semakin dominan sehinggga bentuk kurvanya

semakin tampak nyata.

7
Menembak seseorang dari depan dan dari belakang penting untuk

membedakan jenis luka tembak masuk dengan luka tembak keluar. Luka

tembak masuk biasanya berbentuk bulat dengan tepi abrasi melingkar

yang mengelingi cacat yang disebabkan oleh senjata. Garis tepi abrasi

merupakan lecet atau kikisan kulit yang disebabkan oleh peluru saat

mendorong ke dalam. Garis tepi dapat berbentuk konsetntrik atau

eksentrik. Ketika peluru masuk ke dalam kulit, maka akan menyebabkan

abrasi tepikonsentrik, karena masuk ke perpendikuler kulit. Ketika ujung

peluru mempenetrasi kulit pada suatu sudut, maka akan menyebabkan

garis tepi abrasi yang eksentrik. Daerah margin abrasi eksentrik yang

tebal mengindikasikan sudut peluru yang lebih dangkal saat peluru

menembus kulit.

Luka tembak keluar dari senjata berkekuatan tinggi dikarenakan

oleh kecepatan dan energi kinetik yang tinggi dari amunisi yang

ditembakkan. Stellate-shaped exit wounds, sering ditemukan dan

mungkin menyerupai luka tembak masuk kontak. Walaupun luka tembak

keluar dari senjata bisa lebih besar dan mungkin menyebabkan banyak

kerusakan dibandingkan luka tembak keluar dari senjata genggam.

Dengan memperkirakan tepi luka, ada atau tidak adanya tepi abrasi dapat

dikonfirmasi. Normalnya, suatu peluru saat ditembakkan akan mengikuti

suatu lengkung arah atau jalur tertentu. Namun, semakin cepat peluru

melesat maka semakin lurus arah dan jalur peluru tersebut. Disipasi

8
energi adalah bagaimana energi kinetis peluru yang disalurkan ke tubuh

dari suatu kekuatan yang menahannya.

Pada kasus proyektil velositas medium dan tinggi, disipasi energi

dipengaruhi oleh Drag (hambatan), profile (profil) dan cavitation

(kavitasi). Drag adalah Faktor-faktor yang memperlambat suatu peluru,

termasuk tahanan angin, hambatan oleh jaringan. Profile adalah titik

tumbuk peluru merupakan profil dari peluru tersebut. Semakin besar

ukuran titik tumbuk semakin besar energi yang disalurkan. Cavitation

atau sering disebut sebagai perluasan alur masuk peluru merupakan

lubang di jaringan tubuh yang dihasilkan oleh energi kinetis peluru.

Lubang ini lebih besar daripada lubang masuk peluru, sehingga luka yang

dihasilkan lebih besar dari diameter peluru tersebut. Apabila energi

kinetis peluru semakin besar, maka peluru dapat menembus jaringan di

baliknya, sehingga harus selalu dikaji adanya lubang keluar peluru (exit

wound).

Luka tembak masuk berkaitan hubungannya dengan luka tembak

keluar, sehingga penting untuk menentukan arah tembakan. Arah

tembakan adalah jaras jalannya peluru memasuki tubuh melalui luka

tembak masuk menuju luka tembak keluar. Untuk alasan klaritas dan

konsistensi, ahli forensik selalu menggambarkan arah tembakan

berdasarkan tubuh korban dalam posisi anatomis standar saat ditembak.

Tubuh korban berdiri penuh dengan tangan ekstensi pada sisi tubuhnya

dengan bagian palmar ke depan. Sebagai contoh luka tembak yang

9
menembus dada kiri dan keluar pada punggung kanan bawah, arah

tembakan digambarkan dari depan ke belakang, kiri ke kanan dan atas

dan ke bawah. Biasanya ahli forensik hanya membuat opini dimana

posisi tubuh korban bisa atau tidak konsisten dengan arah tembakan, dan

hanya bisa disesuaikan dengan saksi mata misalnya posisi kepala, dada,

abdomen, dan ekstremitas.

1) Kepala

Ketika energi proyektil memasuki tengkorak dan mulai

mengalami disipasi, jaringan otak secara alamiah akan tertekan

secara berat (kepala adalah ruang tertutup yang dibatasi jaringan

tulang tengkorak yang kuat). Bila peluru mengenai wajah maka jalan

napas akan rusak atau hancur tergantung pada velositas peluru

2) Dada

Jaringan paru relative tahan terhadap kavitasi proyektil.

Alveoli membentuk massa berongga yang mudah bergerak.

Sedangkan jantung tidak tahan terhadap kavitasi daripada paru.

Namun lapisan terluar yang meliputi pembuluh pulmoner, aorta dan

jantung merupakan jaringan yang kuat dan elastis. Jaringan ini akan

menutupi luka akibat luka tembus velositas rendah, namun tidak

mampu mengatasi kavitasi akibat luka tembus velositas medium dan

tinggi. Bila terjadi cedera di antara garis puting dada dan pinggang,

maka selalu curigai kemungkinan adanya cedera abdominal.

3) Abdomen

10
Abdomen merupakan organ yang sering mengalami cedera

sekunder saat dada mengalami cedera. Ruang abdominal merupakan

ruang yang besar yang berisi jaringan yang berisi cairan, udara,

jaring padat dan jaringan tulang. Jaringan yang berisi udara dan

cairan lebih tahan terhadap kavitasi daripada jaringan padat.

4) Ekstremitas

Ekstremitas terdiri dari tulang, otot, pembuluh darah dan

jaringan saraf. Luka tembak sering menyebabkan tulang pecah dan

pecahan ini dapat mengakibatkan luka sekunder. Pecahan ini dapat

bersifat misil atau proyektil yang merusak jaringan lain disekitarnya.

Akibatnya jaringan di sekitar akan rusak sehingga fungsi sensorik,

motorik dan bahkan aliran sirkulasi akan terhambat atau bahkan

hancur.

Pada kasus luka ledakan dapat dibagi dalam 4 kategori yaitu :

primer, sekunder, tertier dan tambahan. Korban dapat mengalami luka

lebih dari satu mekanisme tersebut. Luka ledakan primer disebabkan

oleh efek langsung ledakan bertekanan tinggi terhadap jaringan tubuh.

Udara mudah menekan, tidak seperti air. Hasilnya, luka ledakan primer

hampir selalu mengenai struktur yang mengandung udara seperti paru,

telinga dan saluran cerna. Luka ledakan sekunder disebabkan karena

objek melayang dan menyerang orang yang berada disekitarnya. Luka

ledakan tertier adalah gambaran ledakan energi tinggi. Jenis ini terjadi

ketika orang-orang terlempar dan menabrak objek lainnya.

11
4. KLASIFIKASI LUKA TEMBAK

Berdasarkan ciri-ciri yang khas pada setiap tembakan yang dilepaskan

dari berbagai jarak, maka perkiraan jarak tembak dapat diklasifikasikan

menjadi :

A. Luka tembak masuk

Ciri-ciri luka tembak masuk biasanya dalam bentuk yang

berentetan dengan abrasi tepi yang melingkar di sekeliling defek yang

dihasilkan oleh peluru. Abrasi tepi tersebut berupa goresan atau lecet

pada kulit yang disebabkan oleh peluru ketika menekan masuk kedalam

tubuh. Ketika ujung peluru melakukan penetrasi ke dalam kulit, maka hal

tersebut akan menghasilkan abrasi tepi yang konsentris, yaitu goresan

pada kulit berbentuk cincin dengan ketebalan yang sama, oleh karena

peluru masuk secara tegak lurus terhadap kulit. Ketika ujung peluru

melakukan penetrasi pada kulit dengan membentuk sudut, maka hal ini

akan menghasilkan tepi yang eksentris, yaitu bentuk cincin yang lebih

tebal pada satu area. Area yang tebal dari abrasi tepi yang eksentris

mengindikasikan arah datangnya peluru. Sebagai tambahan, semakin

tebal abrasi tepi, semakin kecil sudut peluru pada saat mengenai sudut

kulit.

Luka tembak masuk yang tidak khas berbentuk ireguler dan

mungkin memiliki robekan pada tepi luka. Jenis luka masuk seperti ini

biasanya terjadi ketika peluru kehilangan putaran oleh karena menembak

di dalam laras senjata. Bahkan dalam perjalanannya dengan terpilin,

12
peluru bergerak secara terhuyung ketika menabrak kulit sehingga sering

memberikan gambaran bentuk D pada luka.

Luka tembak masuk yang tidak khas dapat disebabkan oleh

senjata yang tidak berfungsi baik atau oleh karena amunisis yang rusak,

tetapi lebih sering dihasilkan dari peluru jenis Ricochets atau peluru yang

mengenai benda lain terlebih dahulu, seperti jendela yang bergerak

otomatis, sebelum mengenai tubuh. Jenis lain dari luka tembak masuk

yang tidak khas terjadi ketika mulut senjata apu mengalami kontak

langsung dengan kulit diatas permukaan tulang, seperti padan tulang

tengkorak atau sternum. Ketika senjata ditembakkan, maka hal ini akan

menghentikan gas secara langsung dari mulut senjata ke dalam luka di

sekitar peluru. Gas akan mengalami penetrasi ke dalam jaringan

subkutan, dimana gas tersebut meluas sehingga menyebabkan kulit

disekitar luka tembak masuk menjadi meregang dan robek. Luka robek

atau laserasi menyebar dari bagian tengah dengan memberikan defek

berbentuk stellata atau penampak seperti bintang.

Luka tembak masuk dibedakan menjadi :

1) Luka tembak tempel (contact wounds)

Terjadi karena moncong senjata ditekan pada tubuh korban

dan ditembakkan. Bila tekanan pada tubuh erat disebut “hard

contact”, sedangkan yang tidak erat disebut “soft contact”. Luka

temple tembak dibagi menjadi tiga, yaitu :

a) Luka tembak tempel keras

13
Pada hard contact wound, moncong laras menekan kulit

dengan sangat keras, sehingga kulit menutupi moncong senjata.

Pada luka jenis ini akan didapatkan gas panas sisa pembakaran

pada tepi luka dan warna kehitaman dari jelaga. Jelaga ini

menempel pada kulit yang terbakar dan tidak dapat dihilangkan

hanya dengan mencuci atau menggosok luka.

b) Luka tembak tempel tidak erat

Pada jenis luka ini, moncong senjata secara utuh

(complete) menekan kulit dengan tekanan yang tidak terlalu erat.

Gas yang keluar mendahului anak peluru sehingga terbentuk

temporary gap antara kulit dan moncong senjata. Jelaga yang

dibawa oleh gas, terkumpul disekitar luka tembak masuk. Jelaga

ini dapat dibersihkan dengan mudah.

c) Luka tembak tempel bersudut

Pada jenis luka ini, moncong senjata ditempelkan pada

sudut tertentu pada kulit sehingga tidak semua bagian moncong

senjata kontak dengan kulit. Kontak yang tidak komplit dengan

kulit menyebabkan bentuk jelaga yang esentrik. Jelaga terdapat

dalam dua daerah yang berbeda. Pada daerah yang nyata atau

jelas terlihat (noticeable zone) akan tampak warna kehitaman

(black seared area) pada kulit dan berbentuk sirkular, oval atau

pear. Sedangkan pada daerah terang (light) akan tampak

berwana abu-abu dengan sedikit jelaga dan berbentuk seperti

14
kipas yang lebih mudah untuk dibersihkan. Pada daerah ini

terdapat bubuk mesiu yang tidak terbakar.

d) Luka tembak tempel inkomplit

Luka tembak tempel incomplete merupakan variasi dari

luka tembak tempel bersudut. Pada luka ini senjata ditempelkan

berlawanan dengan kulit tapi karena permukaan tubuh tidak

datar, terdapat gap antara moncong senjata dan kulit.

Pada umumnya luka berbentuk bundar yang dikelilingi kelim

lecet yang sama lebarnya pada setiap bagian. Jaringan subkutan 5-

7,5 cm di sekitar luka tembak masuk mengalami laserasi. Di

sekeliling luka tampak daerah yang berwarna merah atau merah

cokelat, yang menggambarkan bentuk dari moncong senjata, ini

disebut jejas laras. Rambut dan kulit sekitar luka dapat hangus

terbakar. Saluran luka akan berwarna hitam yang disebabkan oleh

butir-butir mesiu, jelaga dan minyak pelumas. Tepi luka dapat

berwarna merah karena terbentuknya COHb.

Bentuk luka tembak tempel sangat dipengaruhi oleh keadaan

densitas jaringan yang berada dibawahnya, dengan demikian dapat

dibedakan menjadi luka tembak tempel di daerah dahi, luka tembak

tempel di daerah pelipis dan luka tembak tempel di daerah perut.

Luka tembak tempel di daerah dahi mempunyai ciri yaitu luka

berbentuk bintang dan terdapat jejas laras. Luka tembak tempel di

daerah pelipis mempunyai ciri yaitu luka berbentuk bendar, terdapat

15
jejas laras. Luka tembak tempel di daerah perut mempunyai ciri :

Luka berbentuk bundar dan emungkinan besar tidak terdapat jejas

laras

2) Luka tembak jarak dekat (close range wounds)

Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh

korban masih dalam jangkauan butir-butir mesiu (luka tembak jarak

dekat) atau jangkauan jelaga dan api (luka tembak jarak sangat

dekat). Luka berbentuk bundar atau oval tergantung sudut masuknya

peluru dengan di sekitarnya terdapat bintik-bintik hitam (kelin tato)

dan atau jelaga (kelim jelaga), ukuran luka lebih kecil dibanding

peluru, di sekitar luka dapat ditemukan daerah yang berwarna merah

atau hangus terbakar. Bila terdapat kelim tato, berarti jarak antar

moncong senjata dengan korban sekitar 60 cm (50-60 cm), yaitu

untuk senjata genggam. Bila terdapat kelim jelaga, jaraknya sekitar

30 cm (25-30 cm). Bila terdapat juga kelim api, maka jarak antara

moncong senjata dengan korban adalah sekitar 15 cm.

3) Luka tembak jarak jauh

Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh

korban diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang

tidak terbakar atau terbakar sebagian, jarak diatas 45 cm, ukuran

luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru, warna kehitaman atau

kelim tattoo tidak ada, luka berbentuk bundar atau oval dengan

disertai adanya kelim lecet, bila senjata sering dirawat (diberi

16
minyak) maka pada kelim lecet dapat dilihat pengotoran berwarna

hitam berminyak, jadi ada kelim kesat atau kelim lemak.

B. Luka tembak keluar

Jika peluru yang ditembakkan dari senjata api mengenai tubuh

korban dan kekuatannya cukup untuk menembus dan keluar pada bagian

tubuh lainnya, maka luka tembak dimana peluru meninggalkan tubuh itu

disebut luka tembak keluar. Luka tembak keluar mempunyai ciri khusus

dan dapat dipakai sebagai perbedaan pokok dengan luka tembak masuk.

Ciri-ciri tersebut adalah tidak adanya kelim lecet pada luka tembak

keluar, dengan tidak adanya kelim lecet, kelim-kelim lainnya juga tidak

ditemukan. Disekitar luka tembak keluar dapat dijumpai daerah lecet

bila pada tempat keluar tersebut terdapat benda yang keras, misalnya :

ikat pinggang, atau korban sedang bersandar pada dinding.

Luka tembak keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak

masuk, hal ini disebabkan akibat terjadi deformitas anak peluru,

bergoyangnya anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang pecah

keluar dari luka tembak keluar. Pada anak peluru yang menembus tulang

pipih, seperti tulang atap tengkorak, maka akan terbentuk corong yang

membuka searah dengan gerak anak peluru.

Faktor-faktor yang menyebabkan luka tembak keluar lebih besar

dari luka tembak masuk adalah :

1) perubahan luas peluru karena terjadi deformitas sewaktu peluru

berada dalam tubuh dan membentur tulang, peluru sewaktu berada

17
dalam tubuh mengalami perubahan gerak, misalnya karena terbentur

bagian tubuh yang keras.

2) peluru bergerak berputar dari ujung ke ujung (end to end), keadaan

ini disebut “tumbling”, pergerakan peluru yang lurus menjadi tidak

beraturan atau disebut “yawning”

3) peluru pecah menjadi beberapa fragmen. Fragmen-fragmen ini

menyebabkan luka tembak keluar menjadi lebih besar. apabila peluru

mengenai tulang dan fragmen tulang tersebut ikut terbawa keluar,

maka fragmen tulang tersebut akan mengalami robekan tambahan

sehingga akan memperbesar luka tembak keluarnya.

Luka tembak keluar juga dapat berukuran lebih kecil dari luka

tembak masuk apabila terjadi pada luka tembak tempel/kontak, atau

pada anak peluru yang telah kehabisan tenaga pada saat keluar

meninggalkan tubuh. Bentuk luka tembak keluar tidak khas dan sering

tidak beraturan. Pada beberapa keadaan luka tembak keluar lebih kecil

dari luka tembak masuk, hal ini disebabkan karena :

1) Kecepatan atau velocity peluru sewaktu akan menembus keluar

berkurang, sehingga kerusakannya (lubang luka tembak keluar)

akan lebih kecil, perlu diketahui bahwa kemampuang peluru untuk

dapat menimbulkan kerusakan berhubungan langsung dengan

ukuran peluru dan velocity

2) Adanya benda menahan atau menekan kulit pada daerah dimana

peluru akan keluar yang berarti menghambat kecepatan peluru,

18
luka tembakkeluar akan lebih kecil bila dibandingkan dengan luka

tembak masuk

Bentuk dan jumlah luka tembak keluar tidak dapat diprediksi.

Pada luka tembak keluar sebagian (parsial exit wound), hal ini

dimungkinkan karena tenaga peluru tersebut hampir habis atau ada

penghalang yang menekan pada tempat dimana peluru akan keluar,

dengan demikian luka hanya berbentuk celah dan peluru tampak

menonjol sedikit pada celah tersebut. Jumlah luka tembak keluar dapat

lebih banyak dari pada luka tembak masuk, hal ini disebabkan karena:

1) Peluru pecah dan masing-masing pecahan membuat luka tembak

keluar

2) Peluru menyebabkan ada tulang yang patah dan tulang tersebut

terdorong keluar pada tempat yang berbeda dengan tempat

keluarnya peluru.

3) Dua peluru tersebut masuk kedalam tubuh melalui satu luka

tembak masuk (tandem bullet injury) dan di dalam tubuh ke dua

peluru tersebut berpisah dan keluar melalu tempat yang berbeda.

Peluru jarang dapat dihentikan oleh tulang, terutama tulang-

tulang yang tipis seperti scapula dan ileum atau bagian tipis dari

tengkorak. Anak peluru yang mengenai lokasi yang tidak biasa dapat

menyebabkan luka dan kematian tetapi luka tembak masuk akan lebih

sulit untuk ditemukan. Contohnya telinga, cuping hidung, mulut, ketiak,

vagina, dan rektum.

19
C. Perbedaan luka tembak masuk dengan luka tembak keluar

No Luka tembak masuk Luka tembak keluar


1. Ukurannya kecil, karena peluru Ukurannya lebih besar dan lebih
menembus kulit seperti bor tidak teratur dibandingkan luka
dengan kecepatan tinggi tembak masuk, karena kecepatan
peluru berkurang sehingga
menyebabkan robekan jaringan
2. Pinggiran luka melekuk ke arah Pinggiran luka melekuk keluar
dalam karena peluru menembus karena peluru menuju keluar
kulit dari luar
3. Pinggiran luka mengalami abrasi Pinggiran luka tidak mengalami
abrasi
4. Pakaian masuk ke dalam luka, Tidak ada
dibawa oleh peluru yang masuk
5. Pada luka bisa tampak hitam, Tidak ada
terbakar, kelim tattoo, atau
jelaga
6. Pada tulang tengkorak, pinggiran Tampak seperti gambaran mirip
luka teratur bentuknya kerucut

7. Bisa tampak berwarna merah Tidak ada


terang akibat adanya zat karbon
monoksida
8. Di sekitar luka tampak kelim Tidak ada
ekimosis

20
5. PEMERIKSAAN KORBAN LUKA TEMBAK

Pemeriksaan korban luka tembak meliputi pemeriksaan ditempat

kejadian perkara (TKP), pemeriksaan pada tubuh korban, otopsi korban luka

tembak dan pemeriksaan tambahan.

A. Pemeriksaan ditempat kejadian perkara (TKP)

Dari pemeriksaan di TKP dapat diperoleh gambaran tentang cara

kematian, apakah karena kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Tugas

dokter memeriksa apakah korban sudah meninggal atau belum,

memperkirakan saat kematian, cara kematian dan lain-lain. Beberapa hal

yang dilakukan dokter di tempat kejadian perkara (TKP), yaitu :

1) Memeriksa keadaan sekitar TKP, seperti : lokasi tembakan,

penemuan jenis senjata, anak peluru dan lain-lain.

2) Mengamankan barang bukti, yaitu sebelum menyentuh dilakukan

pemotretan atau dokumentasi terlebih dahulu, memegang dengan

memakai sarung tangan dan pakaian korban.

3) Mencatat penemuan pada pemeriksaan, diantaranya adalah :

membuat sketsa atau foto TKP, catat nomor buatan atau tipe senjata

yang digunakan dan mencatat jumlah luka tembak serta

mengidentifikasi jenis luka tembak (masuk atau keluar)

4) Mencari atau mengumpulkan barang bukti

5) Memberi bantuan kepada petugas penyidik, seperti : menentukaan

perkiraan kematian, jarak, sudut, posisi korban, memindahkan tubuh

21
korban ke rumah sakit, membuat foto-foto luka yang ditemukan serta

menyimpan semua benda asing yang ditemukan.

B. Pemeriksaan tubuh korban

Hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan tubuh korban

luka tembak adalah karakteristik luka tembak dan deskripsi luka tembak.

1. Karakteristik luka tembak

Komponen yang mungkin terdapat pada tubuh korban antara

lain efek nyala api menyebabkan luka bakar, efek asap menyebabkan

noda-noda kotor, efek mesiu menyebabkan tattoo atau stripling dan

efek anak peluru masuk dan keluar.

Efek nyala api yang menyebabkan luka bakar biasanya

karena jarak tempuh nyala api sekitar 15 cm. pada pistol dan resolver

kadang-kadang hanya mencapai 7,5cm. jadi jika korban ditembak

pada jarak kurang dari 15 cm, maka dpat ditemukan efek dari nyala

apiberupa luka bakar pada kulit dan rambut mongering karena

terbakar.

Efek asap yang menyebabkan noda-noda kotor disebabkan

karena pembakaran mesiu yang menimbulkan gas-gas seperti CO2,

N, NO, H2S, H2 dan sedikit methane serta oksigen. Pada smokeless

powder, gas-gas yang ditimbulkan jauh lebih sedikit daripada

blackpowder. Jarak tempuh asap tidak sejauh mesiu dan hanya

menempel pada permukaan sehingga dapat dihapus dengan

22
menggosok atau mencuci.. efek asap masih dapat terlihat pada jarak

tembakan sampai 30 cm.

Efek mesiu yang dapat menyebabkan tattoo atau stripling

disebabkan karena gas-gas panas dan sisa-sisa mesiu seperti nitrit

dan sellulose nitrit yang bercampur dengan karbon. Efek yang

ditimbulkan tergantung dari tipe senjata apinya, amunisi dan jarak

tembaknya.

Efek anak peluru yang menyebabkan luka tembak masuk dan

luka tembak keluar bermacam-macam, tergantung dari kecepatan,

posisi, bentuk dan besar anak peluru. Peluru berkecepatan tinggi

menimbulkan kerusakan yang lebih besar, menembus tulang dan

organ-organ berongga yang berisi cairan seperti jantung, ventrikel

otak, vesika urinaria dan lain-lain.

Efek metal yang menyebabkan fouling disebabkan karena

anak peluru, mesiu dan nyala api. Biasanya ditemukan kelainan

akibat fragmen-fragmen kecil dari metal yang tertanam dalam kulit.

Jarak tempuh fragmen biasanya pendek karena tertahan pada pakaian

korban.

Efek moncong laras menyebabkan imprint moncong terjadi

akibat tekanan dari moncong laras pada kulit. Gas-gas yang masuk

dan terbawa kulit melalui lubang luka akan menekan kulit keluar.

Factor lain yang menyebabkan imprint adalah pada waktu senjata

23
meletus dan terdorong yang kemudian menghantam kulit lagi akibat

dari tekanan yang terus menerus.

2. Deskripsi luka tembak

Deskripsi luka tembak yang sering ditemukan pada tubuh

korban meliputi luka tembak masuk dan luka tembak keluar. Hal-hal

yang penting dalam deskripsi luka tembak antara lain :

a) Lokasi meliputi : jarak dari puncak kepala atau telapak kaki

serta ke kanan dan kiri garis tengah tubuh dan lokasi secara

umum terhadap bagian tubuh.

b) Deskripsi luka luar meliputi : ukuran dan bentuk, lingkaran

abrasi, tebal dan pusatnya, luka bakar, lipatan kulit utuh atau

tidak dan tekanan ujung senjata.

c) Residu tembakan yang terlihat adalah trains powder, deposit

bubuk hitam, termasuk korona, tattoo dan metal stippling.

d) Perubahan biasanya terjadi karena atau oleh tenaga medis dan

oleh bagian pemakaman.

e) Track meliputi : penetrasi organ, arah (depan ke belakang,

belakang ke depan), kanan ke kiri atau kiri ke kanan dan atas ke

bawah.

f) Kerusakan sekunder ditemukan adanya perdarahan pada daerah

sekitar luka

Pada korban luka tembak akibat bunuh diri mempunyai ciri

klasik yaitu luka tembaknya hampir selalu kontak dengan letak

24
tembakan, yaitu daerah pelipis, dahi bagian tengah, langit-langit

mulut, daerah jantung dan pada daerah epigastrium. Dapat juga

ditemukan cadaveric spasme pada korban bunuh diri.

C. Otopsi korban

Otopsi pada korban luka tembak meliputi :

1) Luka tembak masuk dilukiskan dalam keadaan aslinya, lebih baik

kalau bias dipotret

2) Sebelum dibersihkan dilakukan paraffin test terlebih dahulu.

Terutama pada luka tembak jarak dekat.

3) Luka tembak karena peluru jenis shoftgun harus dipotret terlebih

dahulu untuk menentukan jarak tambalan..

4) Luka dibersihkan menggunakan sabun, lalu diperiksa apakah

terdapat tattoage kemudian lakukan pemotretan.

5) Sebelum dilakukan pemeriksaan dalam sebaiknya difoto x-ray

terlebih dahulu untuk mengeluarkan peluru yang masuk atau

bersarang dalam tubuh.

6) Letak luka tembak masuk dan keluar harus diukur dengan

mengambil patokan tumit dan garis tengah tubuh melalui tulang

punggung. Hal ini diperlukan untuk memperkirakan arah tembakan.

D. Pemeriksaan tambahan

1) Pemeriksaan mikroskopik

Perubahan yang tampak pada luka tembak masuk diakibatkan

oleh dua faktor, yaitu trauma mekanis dari peluru dan trauma thermis

25
akibat panas dari pembakaran mesiu. Pada pemeriksaan mikroskopis

luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat akan diperoleh

kompresi epithel dimana di sekitar luka tampak epithel yang normal

dan yang mengalami kompresi,elongasi,dan menjadi pipihnya sel-sel

epidermal serta elongasi dari inti sel.

Pada sel epidermis tepi luka juga akan mengalami distorsi

yang dapat bercampur dengan butir-butir mesiu. Epitel luka juga

tampak mengalami nekrosis koagulatif,epitel sembab, serta

vakuolisasi sel-sel basal. Panas yang dihasilkan dari pembakaran

mesiu akan memperlihatkan jaringan kolagen menyatu dengan

pewarnaan HE dan akan lebih banyak mengambil warna biru

(basofilik staining).

Pada luka akan tampak perdarahan yang masih baru dalam

epidermis (kelainan ini paling dominan), dan adanya butir-butir

mesiu. Sel-sel pada dermis akan mengalami beberapa perubahan

yakni intinya mengkerut, vakuolisasi dan pignotik. Pada

pemeriksaan mikroskopis akan terlihat butir-butir mesiu yang

tampak sebagai benda tidak beraturan, berwarna hitam atau hitam

kecoklatan.

Pada luka tembak tempel “hard contact”, permukaan kulit

sekitar luka tidak terdapat mesiu atau hanya sedikit sekali butir-butir

mesiu, butir-butir mesiu akan tampak banyak pada lapisan bawah,

khususnya disepanjang tepi saluran luka. Sedangkan pada luka

26
tembak tempel “soft contact” butir-butir mesiu akan terdapat pada

permukaan kulit dan jaringan dibawah kulit.

Pemeriksaaan mikroskopis pada luka tembak jarak dekat

akan ditemukan adanya butir-butir mesiu terutama terdapat pada

permukaan kulit dan hanya sedikit yang ditemukan pada lapisan-

lapisan kulit.

2) Pemeriksaan kimiawi

Hasil pemeriksaan kimiawi pada luka tembak tergantung dari

jenis mesiu yang gunakan. Pada black gun powder dapat ditemukan

kalium, karbon, nitrit, nitrat, sulfis, sulfat, karbonat, tiosianat dan

tiosulfat sedangkan pada smokeles gun powder dapat ditemukan

nitrit dan selulosa nitrat. Pada senjata api yang modern, unsur kimia

yang dapat ditemukan ialah timah, barium, antimon, dan merkuri.

Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan dari

peluru yang dapat ditemukan berupa timah, antimon, nikel, tembaga,

bismut perak dan thalium. Pemeriksaan terhadap unsur-unsur

tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian, didalam atau di sekitar

luka. Pada pelaku penembakan, unsur-unsur tersebut dapat dideteksi

pada tangan yang menggenggam senjata.

3) Pemeriksaan radiologi X-Ray dan Ct-scan

X-ray penting dilakukan pada pemeriksaan luka tembak.

Semua luka tembak harus dilakukan pemeriksaan rontgen, terutama

pada luka tembak keluar. Kegunaan x-ray antara lain : untuk melihat

27
apakah peluru atau bagian-bagian dari peliru masih ada didalam

tubuh, untuk mementukan letak peluru, untuk menentukan letak dari

fragmen-fragmen kecil dari peluru yang ditinggalkan didalam tubuh

sehingga dapat dikeluarkan, untuk mengidentifikasi jenis amunisi

dan senjata yang digunakan dan untuk mendokumentasikan arah

peluru..

Untuk menggunakan X-ray dalam menentukan letak peluru

akan menyingkat waktu otopsi. X-ray harus dilakukan pada seluruh

luka tembak keluar, karena walaupun ada luka keluar bukan berarti

arah peluru memang keluar, tetapi bias saja peluru tersebut

mempunyai cukup energi untuk menimbulkan defek di kulit tetapi

memantul kembali ke dalam tubuh. Luka keluar tersebut juga

mungkin disebabkan oleh fragmen tulang yang didorong keluar oleh

peluru.

X-ray juga berguna pada kasus dimana selubung peluru dan

inti terpisah pada saat memasuki tubuh, inti bisa saja keluar namun

selubungnya terperangkap didalam. Pada otopsi jika tidak disadari

maka pemeriksa akan menarik kesimpulan yang salah bahwa seluruh

peluru telah keluar maupun sebaliknya dimana selubung keluar

namun inti terperangkap. Kesalahan-kesalahan tersebut dapan

dihindari dengan x-ray yang akan menunjukan apakah terjadi

pemisahan inti dan selubung.

28
Pada luka tembus, pecahan-pecahan kecil dari peluru dapat

tertinggal disepanjang luka atau pada tulang yang terperforasi oleh

peluru. Pecahan tersebut biasanya terlewatkan pada otopsi, maka

perlu dilakukan X-ray sehingga dapat diambil untuk pemeriksaan

scanning electron microscope. Pemeriksaan ini berfungsi untuk

mengetahui asal metal. X-ray juga bisa memperlihatkan luka dari

luka tembak lama atau pecahan-pecahan peluru yang tidak

berhubungan dengan kematian. Pada luka lama sudah terjadi fibrosis

dan peluru sudah berwarna hitam karena terjadi oksidasi.

Pada gambaran radiologi juga dapat dilihat apakah terjadi

pemantulan dalam. Terdapat gambaran jejak pecahan-pecahan yang

terlihat bolak-balik. Namun X-ray juga mempunyai beberapa

kekurangan, antara lain kaliber dari peluru tidsak dapat ditentukan

dengan tepat, hal ini karena pembesaran dari gambaran peluru yang

tergantung dari jarak dengan sinar X-ray. Peluru yang dekat dengan

sinar terlihat lebih besar dan batas terlihat kabur daripada gambaran

yang lebih dekat ke film. Namun estimasi kaliber bisa didapatkan.

X-ray sebaiknya diambil pada saat jenazah masih berpakaian agar

dapat mendeteksi peluru yang keluar dari tubuh dan tetinggal di

pakaian.

CT-scan adalah alat yang lebih akurat untuk mengevaluasi

letak peluru dan pecahan-pecahan tulang. Dapat diketahui sejauh

mana peluru menemus organ atau jaringan. Pada luka tembak kepala,

29
dapat dilihat apa terjadi perdarahan otak, fraktur tulang vertebrae dan

lain-lain.

4) Paraffin test

Tes paraffin merupakan tes yang kurang spesifik, karena

hanya dapat mendeteksi adanya nitrate dan nitrite saja. Sehingga tes

ini dapat memberikan hasil positif jika tangan tercemar tembakau,

kacang-kacangan, pupuk atau obat-obatan.

5) Harrison dan Gilroy test

Tes ini dilakukan dengan menggunakan kassa yang telah

dibasahi dengan asam klorida. Bedanya dengan tes paraffin adalah

bahwa tes yang terakhir ini untuk mendeteksi adanya unsur logam,

merkuri, antimony, barium, atau timah hitam. Tentu harus

diperhitugkan apakah pekerjaannya berkaitan dengan logam-logam

tersebut.

6) Neutron Activation Analysis (NAA)

Tes ini lebih sensitif sebab masih dapat mendeteksi

antimony, barium, dan copper walaupun tangan yang digunakan

untuk menembak sudah dibersihkan.

7) Metode Atomic Absorbtion Spectroscopy (AAS) atau Flameless

Atomic Absorbtion Spectroscopy (FAAS).

30
6. VISUM ET REPERTUM PADA LUKA TEMBAK

A. Penulisan Visum et repertum pada luka tembak

No Deskripsi Penilaian
1. Jumlah luka
2. Lokasi luka a. Lokasi berdasarkan region
anatomiknya
b. Lokasi berdasarkan garis kordinat
atau berdasarkan bagian tertentu
dari tubuh
Catatan : pada setiap luka tembak
harus selalu diukur tinggi dari
tumit guna kepentingan
rekonstruksi.
3. Bentuk luka a. Bentuk sebelum dirapatkan
b. Bentuk sesudah dirapatkan
4. Ukuran luka a. Ukuran sebelum dirapatkan
b. Ukuran sesudah dirapatkan
5. Sifat luka a. Garis batas luka (bentuk, teppi,
sudut
b. Daerah didalam garis batas luka
(tebing luka, dasar luka)
c. Daerah disekitar garis batas luka
(tatoase, jelaga, dan lain-lain)

Contoh deskripsi kasus luka tembak :

Pada pemeriksaan ditemukan luka :

Jumlahnya : satu

31
Lokasinya : di perut bagian kanan atas 8 cm disebelah kanan dari garis

tengah tubuh dan setinggi 110 cm dari tumit.

Bentuknya : terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian luar berupa cincin lecet

dan bagian dalam berupa lubang. Posisi lubang terhadap

cincin lecet konsentris atau episentris.

Ukuranya : diameter cincin lecet 11 mm dan diameter lubang 9 mm

Sifat : garis batas luar dari cincin lecet bentuknya teratur ((bulat),

tepi tidak rata dan garis batas lubang bentuknya teratur

sedangkan tepinya tidak rata.

Tebing luka tidak rata. Berbentuk silinder dan terdiri atas

jaringan kulit, jaringan ikat, otot dan tulang.

Dasar cincin lecet merupakan jaringan ikat sedangkan dasar

lubang tidak dapat ditentukan pada pemeriksaan luar karena

menembus dinding perut.

Daerah sekitar cincin lecet terlihat memar berwarna merah

kebiruan, jelaga dan tatoase.

B. Cara Pengutaraan Jarak Tembak Dalam Visum et Repertum

Menurut Hadikusumo (1998), luka tembak tempel bentuknya

seperti bintang, dengan gambaran bundaran laras senjata api dengan

tambahan gambaran vizierkorrel (pejera, foresight) akibat panasnya

mulut laras. Bila larasnya menempel pada kulit, gas peluru ikut masuk ke

dalam luka, dan berusaha menjebol keluar lagi lewat jaringan disekitar

luka.

32
Sedangkan luka tembak jarak dekat terdapat sisa mesiu yang

menempel pada daerah sekitar luka. Gambaran mesiu ini tergantung jenis

senjata dan panjang laras. Mesiu hitam lebih jauh jangkauannya dari pada

mesiu tanpa asap. Sedangkan luka tembak jarak jauh, luka bersih dengan

cincin kontusio, pada arah tembakan tegak lurus permukaan sasaran

bentuk cincin kontusionya konsentris dan bundar.

1) Bila pada tubuh korban terdapat luka tembak masuk dan tampak

jelas adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga atau tato, maka

perkiraan atau penentuan jarak tembak tidak sulit. Kesulitan timbul

karena tidak ada kelim-kelim selain kelim lecet.

2) Bila ada kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak dekat,

maksimal 30 cm.

3) Bila ada kelim tato, berarti korban ditembak dari jarak dekat,

maksimal 60 cm dan seterusnya.

4) Bila hanya ada kelim lecet, cara pengutaraannya adalah sebagai

berikut : berdasarkan sifat lukanya, luka tembak tersebut merupakan

luka tembak jarak jauh, hal ini mengandung arti bahwa korban

ditembak dari jarak jauh, yang berarti diluar jangkauan atau jarak

tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar.

Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat, akan tetapi

antara korban dengan moncong senjata terdapat penghalang, seperti

bantal dan lain sebagainya.

33
5) Bila ada kelim api, berarti korban ditembak dari jarak yang sangat

dekat sekali, yaitu maksimal 15 sentimeter.

7. ASPEK MEDIKOLEGAL SENJATA API

UU No. 8 Tahun 1948 : Senjata genggam kaliber 22-32, Senjata bahu

(laras panjang ) hanya dengan kaliber 12 GA dan kaliber 22, Kalangan sipil :

Senjata api non organik TNI/POLRI.

A. Unsur Penyalahgunaan Senjata Api

Orang atau pelaku sebagai subyek hukum dari suatu tindak pidana

yang akan secara sadar mempertanggungjawabkan tindak pidana yang

dilakukan.

Pasal 359 KUHP

Unsur pertama : Barang siapa menurut Undang-undang adalah setiap

orang warga Negara atau siapa saja yang mampu bertanggung jawab yang

tunduk kepada peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Unsur kedua : Bahwa dari kata-kata tanpa hak dalam perumusan delik

ini, sudah dipastikan bahwa seseorang ( baik militer maupun non militer)

sepanjang menyangkut masalah-masalah senjata api munisi atau bahan

peledakharus ada ijin dari yang berwenang untuk itu.

34
Unsur ketiga : Menyerahkan menguasai, membawa, mempunyai,

mengangkut, menyembunyikan suatu senjata api, munisi atau bahan peledak.

B. Pertanggungjawaban Tindak Pidana Penyalahgunaan Senjata Api

Prosedur kepemilikan senjata api :

- Harus memenuhi syarat medis dan psikologis

- Pemohon haruslah orang yang tidak cepat gugup dan panik, tidak

emosional dan tidak cepat marah

- Dilihat kelayakan, kepentingan dan pertimbangan keamanan

- Berkelakuan baik

- Berusia 21-65 tahun

Tidak menggunakan prosedur

Pasal 49 ayat 1: Barangsiapa melakukan perbuatan yang terpaksa

dilakukannya umtuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain,

mempertahankan kehormatan atau harta benda sendiri atau kepunyaan orang

lain, dari pada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera

pada saat itu juga, tidak boleh dihukum

Pasal 50 KUHP : Barangsiapa melakukan perbuatan untuk

menjalankan peraturan undang-undang, tidak boleh dihukum.

35
BAB III

KESIMPULAN

1. KESIMPULAN

A. Luka tembak adalah luka yang disebabkan karena adanya penetrasi

peluru ke dalam tubuh yang diproyeksikan lewat senjata api,

umumnya ditandai dengan luka masuk kecil dan dapat disertai dengan

luka keluar yang lebih besar. Luka ini biasanya juga disertai dengan

kerusakan pembuluh darah, tulang dan jaringan disekitarnya.

B. Jenis senjata api diklarifikasikan berdasarkan berbagai hal, antara lain

berdasarkan tenaga pendorong yang terdiri dari senjata api dan senjata

angin. Berdasarkan cara penggunaannya senjata genggam, dapat juga

didasarkan pada bentuk permukaaan dalam laras yaitu senjata berlaras

rata dan senjata beralur melingkar.

C. Mekanisme senjata, baik senjata angin atau senjata api pada

prinsipnya sama yaitu memanfaatkan tekana tinggi dari udara atau gas

untuk melontarkan anak proyektil atau anak peluru keluar dari laras

dengna kecepatan tinggi. Tekanan tinggi tersebut dapat berasal dari

gas co2 atau pembakaran mesiu.

D. Luka tembak diklasifikasikan menjadi 2 yaitu luka tembak masuk dan

luka tembak keluar. Luka tembak masuk dibagi menjadi 3 kategori

yaitu luka tembak masuk kontak, luka tembak masuk jarak dekat dan

luka tembak masuk jarak jauh. Sedangkan luka tembak keluar pada

36
umumnya lebih besar dari luka tembak masuk, hal ini disebabkan

akibat terjadi deformitas anak peluru, bergoyangnya anak peluru dan

terikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari luka tembak keluar

E. Gambaran luka tembak dapat berupa gambaran makroskopik dan

mikroskopik. Pada gambaran makroskopik dapat dijumpai adanya

luka berbentuk bintang maupun oval, dipinggir luka biasa terdapat

adanya kelim pato maupun kelim jelaga. Sedangkan pada gambaran

mikroskopik dapat dilihat perubahan progresif epitel akibat panas dan

mekanik. Demikian pula kemungkinan didapatkannya butir-butir

mesiu dalam saluran luka dan pada permukaan epitel.

F. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan dalam kasus luka tembak

meliputi pemeriksaan radiologi yaitu X-Ray dan CT-Scan,

pemeriksaan paraffin tes, Harrison dan Gilroy test, Neutron

Activation Analysis (NAA) dan Metode Atomic Absorbtion

Spectroscopy (AAS) atau Flameless Atomic Absorbtion Spectroscopy

(FAAS).

2. SARAN

A. dokter sebagai seorang ahli atau calon dokter harus mampu

mendeskripsikan luka tembak sehingga dapat membuat Visum et

Repertum yang baik dan benar.

B. Seorang dokter atau calon dokter tidak hanya mempelajari ilmu

kedokteran tetapi juga mengetahui dasar hukum kesehatan

37
DAFTAR PUSTAKA

1. Arnold JL, Halpern P, Tsai MC, Smithline H: Mass casualty terrorist

bombings: acomparison of outcomes by bombing type. Ann Emerg Med

2004 Feb; 43(2): 263-73

2. Chadha P.V. 1995. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi

V. Jakarta : Widya Medika. Hal. 75-81

3. Dahlan, Sofwan. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter

dan Penegak Hukum. Cetakan [Link]:Badan Penerbit Universitas

Diponegoro:93-106

4. Di Maio, V.J.M. 1999. Gunshot Wounds Practical Aspects of Firearms,

Ballistics, and Forensic [Link] Edition. New York : CRC

Press

5. Hoediyanto, A. Hariadi. 2010. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

edisi : 7. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

Universitas Airlangga. Surabaya. Hal : 99-114.

6. Hueske E. 2006. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory

Handbooks, Practice and Resource.

7. Tsokos, Michael. 2008. Forensic Pathology Reviews. Volume 5.

Berlin,Germany;Humana Press:139-149

38

Anda mungkin juga menyukai