Gambaran Spiritual Pasien Jiwa di RSJD
Gambaran Spiritual Pasien Jiwa di RSJD
Mini Riset
Oleh:
Taufik La Rosi
Harlina Hardi
Fadhila Tamsio
Selvira Rezkyani Amalia A
Ivon Yolandini
2018
1
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumWarahmatullahiWabarakatuh
syukur alhamdulillah, penulis ucapkan beribu tahmid, takbir dan rasa syukur
kepada sang maha pengasih dan pemilik kesempurnaan atas segala limpahan
nikmat dan karunia iman, nikmat kesehatan, dan ilmunya sehingga penulis dapat
merampungkan penelitian yang berjudul “Gambaran Spiritual Harian Pada
Pasien Gangguan Jiwa Di Ruang 11(Larasati) di RSID Dr. Amino
Gondhohutomo Jawa Tengah”, dimana hasil penelitian ini merupakan salah satu
tugas dalam praktek profesi ners pada stase Keperawatan Jiwa.
Tak lupa pula penulis mengirimkan salam dan salawat yang senantiasa
tercurahkan kepada teladan kebaikan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga
beliau, para sahabat, dan para pengikut beliau sampai akhir zaman. Penyelesaian
tugas akhir ini tidak luput dari bantuan beberapa pihak yang dengan kerendahan
hati dan senantiasa memberikan sumbangsih berupa tenaga, dukungan moril
serta ilmunya. Melalui kesempatan ini, penulis menghanturkan terimakasih yang
tak terhingga kepada :
1. Direktur RSJD Dr. Amino Gondohutomo Kota Semarang
2. Kepala ruang 11 (Larasati) RSJD Dr. Amino Gondohutomo
3. Pembimbing rumah sakit yang telah meluangkan waktunya dengan senang
hati untuk mengarahkan, membimbing, serta memberikan saran dan petunjuk
kepada penulis hingga tugas pembuatan penelitian iniselesai. Penulis
meminta maaf apabila dalam penyusunan penelitian ini penulis sempat
membuat kesalahan. Terima kasih atas segala bantuan yang hanya mampu
penulis balas dengan ucapan terimakasih yang setinggi–setingginya.
4. Dosen pembimbing kampus yang juga telah meluangkan waktunya dengan
senang hati, bersahabat, memahami jiwa keinginan penulis untuk
mengarahkan, membimbing, serta memberikan saran dan petunjuk kepada
penulis hingga tugas pembuatan penelitian iniselesai. Penulis meminta maaf
2
apabila dalam penyusunan penelitian ini penulis sempat membuat kesal atau
marah. Terimakasih atas segala bantuan yang hanya mampu penulis balas
dengan ucapan terima kasih yang setinggi–setingginya
5. Responden penelitian ini yang telah bersedia membantu berlangsungnya
penelitian ini
Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak lepas dari kekurangan maupun
kelebihannya, maka dari itu penulis berharap adanya analisis yang lebih
mendalam lagi sehingga dapat terjadi perubahan ide, saran, maupun kritikan
konstruktif agar penulisan–penulisan berikutnya yang berhubungan dengan
penelitian ini dapat terbangun ideal dan bermanfaat maksimal.
Penulis
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................................1
KATA PENGANTAR ...............................................................................................2
DAFTAR ISI ..............................................................................................................4
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................................6
DAFTAR TABEL ......................................................................................................7
BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian.................................................................................................
[Link] Institusii Pendidikan ......................................................................................
2. Bagi Respoden ......................................................................................................
3. Bagi Perawat atau Teman Sejawat ........................................................................
4. Bagi Peneliti ..........................................................................................................
4
[Link] Spiritual ..........................................................................................
[Link] Spiritual ............................................................................................
[Link] Spiritual .......................................................................................
[Link] Spiritual.................................................................................................
[Link]-Faktor Yng Mempengaruhi Spiritualitas ..............................................
A. Kesimpulan.....................................................................................................
B. Saran ...............................................................................................................
5
DAFTAR LAMPIRAN
6
DAFTAR TABEL
7
BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Gangguan jiwa psikotik merupakan permasalahan kesehatan seluruh
dunia. Semakin modern dan industrial masyarakat, semakin besar pula
stressor psikososialnya yang pada gilirannya menyebabkan orang jatuh sakit
karena tidak mampu mengatasinya dan individu yang kemudian menjadi
pasien gangguan jiwa psikotik disebabkan karena hidupnya cenderung
menderita ketidakpastian tentang rasa dirinya atau keberadaannya di dunia
ini. Pasien psikotik diliputi macam-macam delusi dan halusinasi yang terus
menerus berganti coraknya, dan tidak teratur sifatnya sering merasa iri hati,
cemburu, curiga, dendam, emosinya pada umumnya beku dan sangat apatis.
Pasien gangguan jiwa psikotik juga merasa dirinya penting, besar dan ada
yang sering sangat fanatik religious, berlebih-lebihan sekali.
Gangguan jiwa psikotik juga menunjuk pada semua bentuk perilaku
yang abnormal, mulai dari yang ringan sampai yang melumpuhkan. Ada
yang kurang senang dengan istilah ini karena dipandang mengandaikan
adanya dualisme antara jiwa dan badan serta memberikan kesan seolah-olah
selalu terjadi gangguan serius terhadap fungsi kehidupan normal.
Istilah ini diterima dan dipakai secara resmi. Dulu istilah penyakit jiwa
diartikan sama dengan gangguan mental. Kini, dipersempit dengan hanya
mencakup gangguan-gangguan yang melibatkan patologi otak atau berupaya
disorganisasi kepribadian yang parah. Istilah ini memang cocok bila yang
dimaksudkan adalah gangguan-gangguan yang benar-benar melumpuhkan.
Namun rasanya kurang tepat untuk jenis-jenis gangguan yang lebih
disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya.
Melihat permasalah tersebut, bahwa pentingnya tenaga kesehatan
khususnya perawat dalam menangani pasien gangguan jiwa psikotik berupa
menghindari frustasi-frustasi dan macam- macam kesulitan psikis dengan
menciptakan kontak sosial yang sehat dan baik. Membiasakan pasien
8
memiliki sikap hidup atau attitude yang positif, dan melihat hari depan
dengan rasa keberanian serta menghadapi realitas dengan rasa yang optimis
dan juga usaha agar pasien bisa menjadi ekstrovert.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas sangat
berpengaruh terhadap penderita gangguan jiwa. Penelitian oleh Sarjana,
Fitrikasari & Sari (2015) menyatakan bahwa faktor terbesar yang
berpengaruh terhadap proses penyembuhan ialah doa dan agama ditambah
dengan dukungan dari keluarga dan lingkungan. Agar pasien jiwa memiliki
kemampuan yang baik dalam spritualnya, bagaimana hubungan dengan
Tuhan.
B. RumusanMasalah
Berdasarkan latarbelakang di atas, focus masalah dalam penelitian ini
adalah, “Bagaimana Gambaran Skala Pengalaman Spiritual Harian Pada
Pasien Gangguan Jiwa Di Ruang 11 (Larasati) RSJD Dr. Amino
Gondhohutomo Provinsi Jawa Tengah?”
C. TujuanPeneltian
1. TujuanUmum
Mengetahui gambaran skala pengalaman spiritual harian pada pasien
gangguan jiwa di ruang 11 (Larasati) RSJD Dr. Amino Gondhohutomo
Provinsi Jawa Tengah
2. TujuanKhusus
a. Mendeskripsikan karakteristik pasien gangguan jiwa di Ruang 11
(Larasati) RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah.
b. Mendeskripsikan nilai spiritual pada pasien gangguan jiwa di Ruang
11 (Larasati) RSJD [Link] Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah.
c. Mendeskripsikan Masalah Keperawatan yang mengalami gangguan
jiwa di Ruang 11 (Larasati) RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi
Jawa Tengah.
9
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pendidikan.
Diharapkan dapat menciptakan generasi penerus yang dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan dalam hal penelitian tentang
manajemen spiritual pada pasien dengan gangguan kejiwaan.
2. Bagi Responden
Diharapkan pasien dengan gangguan jiwa untuk lebih teratur dalam
menjalankan kegiatan spiritual sehari-hari.
3. Bagi perawat atau teman sejawat
Dapat memberikan wawasan baru dan informasi tambahan tentang seperti
apa gambaran manajemen spiritual pasien dengan gangguan jiwa.
Sehingga diharapkan dapat mendukung perkembangan praktik tidak
hanya dirumah sakit namun juga di komunitas
4. Bagi Peneliti
Diharapkan dapat dijadikan sebagai pengalaman yang nyata dalam
melaksanakan penelitian secara ilmiah dalam rangka mengembangkan
10
BAB II
TINJAUAN TEORI
11
2. Faktor Yang Menyebabkan Gangguan Jiwa
Menurut Stuart & Sundeen (2008) penyebab gangguan jiwa dapat
dibedakan atas :
a. Faktor Biologis/Jasmaniah
1) Keturunan
2) Jasmaniah
3) Temperamen
4) Penyakit dan cedera tubuh
b. Ansietas dan Ketakutan
Kekhawatiran pada sesuatu hal yang tidak jelas dan perasaan yang
tidak menentu akan sesuatu hal menyebabkan individu merasa
terancam, ketakutan hingga terkadang mempersepsikan dirinya
terancam.
c. Faktor Psikologis
Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang
dialami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya. Pemberian
kasih sayang orang tua yang dingin, acuh tak acuh, kaku dan keras
akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan serta memiliki kepribadian
yang bersifat menolak dan menentang terhadap lingkungan.
d. Faktor Sosio-Kultural
Beberapa penyebab gangguan jiwa menurut Wahyu (2012) yaitu :
1) Penyebab primer (primary cause) Kondisi yang secara langsung
menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, atau kondisi yang tanpa
kehadirannya suatu gangguan jiwa tidak akan muncul.
2) Penyebab yang menyiapkan (predisposing cause) Menyebabkan
seseorang rentan terhadap salah satu bentuk gangguan jiwa.
3) Penyebab yang pencetus (precipatating cause) Ketegangan-
ketegangan atau kejadian-kejadian traumatik yang langsung dapat
menyebabkan gangguan jiwa atau mencetuskan gangguan jiwa.
12
4) Penyebab menguatkan (reinforcing cause) Kondisi yang
cenderung mempertahankan atau mempengaruhi tingkah laku
maladaptif yang terjadi.
5) Multiple cause Serangkaian faktor penyebab yang kompleks serta
saling mempengaruhi. Dalam kenyataannya, suatu gangguan jiwa
jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal, bukan sebagai
hubungan sebab akibat, melainkan saling mempengaruhi antara
satu faktor penyebab dengan penyebab lainnya.
e. Faktor Presipitasi
Faktor stressor presipitasi mempengaruhi dalam kejiwaan seseorang.
Sebagai faktor stimulus dimana setiap individu mempersepsikan
dirinya melawan tantangan, ancaman, atau tuntutan untuk koping.
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh setiap situasi
dimana individu tidak mampu menyesuaikan. Lingkungan dapat
mempengaruhi konsep diri dan komponennya. Lingkungan dan
stressor yang dapat mempengaruhi gambaran diri dan hilangnya
bagian badan, tindakan operasi, proses patologi penyakit, perubahan
struktur dan fungsi tubuh, proses tumbuh kembang, dan prosedur
tindakan serta pengobatan (Stuart&Sundeen, 2008).
13
berkomunikasi dengan orang lain. Gejala klinis skizofrenia sering
bingung, depresi, menarik diri atau cemas.
2) Demansia
Demansia diklasifikasikan sebagai gangguan medis dan kejiwaan,
demensia terkait dengan hilangnya fungsi otak. Demensia
melibatkan masalah progresif dengan memori, perilaku, belajar,
dan komunikasi yang mengganggu fungsi sehari-hari dan kualitas
hidup.
3) Gangguan Jiwa Neurotik
Gangguan kepribadian dan gangguan jiwa yang lainnya
merupakan suatu ekspresi dari ketegangan dan konflik
dalamjiwanya, namun umumnya penderita tidak menyadari bahwa
ada hubungan antara gejala-gejala yang dirasakan dengan konflik
emosinya. Gangguan ini tanpa ditandai kehilangan intrapsikis atau
peristiwa kehidupan yang menyebabkan kecemasan (ansietas),
dengan gejala-gejala obsesi, fobia, dan kompulsif
4) Depresi
Depresi merupakan penyakit jiwa akibat dysphoria (merasa sedih),
tak berdaya, putus asa, mudah tersinggung, gelisah atau kombinasi
dari karakteristik ini. Penderita depresi sering mengalami kesulitan
dengan memori, konsentrasi, atau mudah terganggu dan juga
sering mengalami delusi atau halusinasi. Ketika seseorang dalam
keadaan depresi ada penurunan signifikan dalam personal hygiene
dan mengganggu kebersihan mulut.
B. Konsep Spiritual
1. Pengertian Spiritual
Spiritual adalah keyakinan seseorang terhadap Sang Pencipta dan
Yang Maha Kuasa, dimana terdapat hubungan antara manusia dengan
Tuhannya (Hawari, 2002). Spiritual merupakan sesuatu yang dipercayai
manusia terhadap kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan), alami atau kepada
14
tujuan yang lebih besar dari kekuatan diri sendiri (Mauk & Schmidt,
2004 dalam Potter & Perry, 2009). Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa spiritualitas merupakan suatu konsep keyakinan yang
ditunjukkan dengan hubungan batiniah dengan Tuhan, sesama manusia,
alam dan lingkungan.
Agama berhubungan dengan perbuatan atau bagian dariperbuatan.
Agama merupakan suatu sistem yang terorganisir dan praktik pemujaan
seseorang dalam mengekspresikan spiritualitasnya. Individu dalam
setiap agama akan memiliki spiritualitas yang berbeda, misalnya pada
umat Budha mereka mempercayai adanya empat kebenaran mulia
sedangkan umat Kristen memandang bahwa dalam mencari tujuan hidup
dengan cara mencintai Tuhan (Potter & Perry, 2009).
2. Indikator spiritual
Aktivitas spiritual merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan spiritual guna mendekatkan diri dengan Tuhan
untuk mencari tujuan hidup, kebutuhan mencintai dan dicintai serta rasa
keterkaitan dan mendapatkan maaf (Gunarsa, 2009). Ruang lingkup
aktivitas spiritual meliputi semua jenis kegiatan spiritual yang
berhubungan dengan ibadah (Mustiadi, 2016). Indikator yang
mempengaruhi manusia dalam mencapai kebermaknaan dalam hidupnya
yaitu dengan menjalankan kegiatan spiritual yang kaitannya dengan
ibadah (Bastaman, 2005). Semakin banyak seseorang melakukan
kegiatan spiritual maka akan semakin baik hubungannya dengan Tuhan,
dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan (Gultom, Bidjuni dan Kallo,
2016).
Dengan ibadah yang khusus, berulang melibatkan aspek motorik,
kognisi, afektif yang dan dilakukan dengan tata cara tertentu dan
terstruktur maka manusia akan mampu menemukan kemaknaan hidup
yang hakiki. Kegiatan spiritual yang terarah diatur oleh agama, sehingga
diperlukan pendekatan diri dengan agama dan serta mendapatkan
15
ketenangan dalam menghadapi persoalan. Individu akan merasa tenang
karena berdoa, meditasi maupun kegiatan spiritual dapat mengaktivasi
kerja otak dalam pengaturan emosi.
3. Karakteristik Spiritualitas
Pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan harus memperhatikan
kebutuhan spiritual pasien. Berikut adalah karakteristik spiritualitas
menurut Hamid, antara lain.
a. Hubungan dengan diri sendiri
Hubungan dengan diri sendiri berasal dari kekuatan dalam individu
atau kemandirian. Hubungan tersebut seperti pengetahuan diri
tentang siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya, dan sikap
percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan/masa depan, dan
memiliki ketenangan pikiran, harmoni atau selarasan dengan diri
sendiri.
b. Hubungan dengan alam harmonis
Mampu mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa, dan iklim.
Selain itu juga mampu berkomunikasi dengan alam dengan cara
bertanam, berjalan kaki dan melindungi alam.
c. Hubungan dengan orang lain harmonis/suportif
Mampu berhubungan baik dengan orang lain, seperti mengasuh
anak, orang tua dan orang sakit, serta meyakini kehidupan dan
kematian (mengunjungi, melayat, dan lain-lain).
d. Hubungan dengan ketuhanan
Hubungan dengan ketuhanan dapat dilihat dari individu agamis atau
tidak agamis, seperti teratur melaksanakan ibadah, selalu berdoa, dan
menjaga alam.
4. Aspek Spiritualitas
Bussing (2010) menjelaskan bahwa terdapat empat aspek spiritual
pada setiap individu, baik pada remaja maupun dewasa. Adapun empat
aspek spiritual adalah sebagai berikut:
16
a. Orientasi agama
Orientasi agama yaitu pandangan individu tentang kepercayaan dan
keyakinan adanya Tuhan. Hal tersebut diaplikasikan dalam bentuk
ritual agama seperti beribadah dan berdoa.
b. Mencari dan mengembangkan pengetahuan
Individu yang memiliki keyakinan spiritualitas tinggi akan memiliki
dorongan lebih untuk mencari tahu tentang makna kehidupan,
keinginan untuk mengembangkan kemampuan diri, dan selalu ingin
meningkatkan kebaikan.
c. Kesadaran berinteraksi
Kesadaran berinteraksi menjadi hal penting dalam kehidupan, karena
sebagai makhluk sosial akan saling membutuhkan. Individu yang
memiliki keyakinan spiritualitas tinggi akan menjaga hubungan baik
dengan sesama. Adapun macam-macam kesadaran berinteraksi
meliputi hubungan interaksi dengan diri sendiri, dengan orang lain,
dan lingkungan sekitar.
d. Keyakinan kepada Tuhan
Keyakinan kepada Tuhan merupakan elemen penting dalam aspek
spiritualitas. Meyakini adanya kekuatan yang lebih tinggi
menjadikan individu meyakini bahwa manusia merupakan makhluk
spiritual.
17
disibukkan oleh pekerjaan dan waktu untuk beribadah lebih sedikit
dibandingkan usia lansia.
b. Kebudayaan
Latar belakang sosial budaya dan tradisi agama di dalam keluarga
maupun lingkungan tempat tinggal akan mempengaruhi tingkat
spiritual, sikap, tingkah laku, kepercayaan dan nilai-nilai yang
diyakini.
c. Keluarga
Peran keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan
spiritualitas anak terutama peran orang tua. Hal ini dikarenakan
keluarga merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama
anak dalam mempersepsikan kehidupan di dunia.
d. Pengalaman hidup
Cara pandang dalam memaknai pengalaman hidup dan kemampuan
koping seseorang dipengaruhi oleh spiritualitas. Pengalaman hidup
positif membuat seseorang bersyukur dan pengalaman negatif
dianggap sebagai cobaan untuk menguji keimananan seseorang.
e. Krisis dan perubahan
Krisis yang dimaksudkan adalah kondisi ketika seseorang
menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan
bahkan kematian. Pada pasien dengan penyakit terminal dan
prognosis yang buruk, keyakinan spiritual dan keinginan untuk
sembahyang atau berdoa lebih tinggi dibandingkan pasien dengan
penyakit akut. Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang dihadapi
tersebut merupakan pengalaman spiritual, dan juga pengalaman yang
bersifat fisik dan emosional.
f. Terpisah dari ikatan spiritual
Pasien dengan penyakit kronik lebih banyak menghabiskan waktu di
pelayanan kesehatan. Hal tersebut memberikan tekanan tersendiri
bagi pasien yaitu pasien merasa kehilangan kebebasan pribadi.
18
Semakin lama pasien terpisah dari ikatan spiritual, maka dapat
beresiko terjadinya perubahan fungsi spiritualnya.
g. Isu moral terkait dengan terapi
Terapi medis sering dipengaruhi oleh keyakinan agama pasien,
sehingga konflik antara terapi dengan keyakinan agama sering
dialami oleh pasien dan tenaga kesehatan.
h. Terapi Spiritual
Terapi spiritual berdasarkan Nursing Intervention Classificatin
(NIC) meliputi:
i. Memfasilitasi pertumbuhan spiritual
Memfasilitasi pertumbuhan spiritual pada pasien untuk
mengidentifikasi kapasitas, terhubung dengan dan berseru kepada
sumber makna, tujuan, kenyamanan, kekuatan, dan harapan dalam
hidup mereka. Berikut beberapa intervensi yang dapat dilakukan
yaitu:
1) Tunjukkan kepedulian dan berikan kenyamanan dengan
menghabiskan waktu bersama pasien dan keluarga pasien.
2) Dorong percakapan yang membantu pasien dalam memilah
masalah spiritual.
3) Bantu pasien mengidentifikasi hambatan dan sikap yang
menghambat pertumbuhan atau penemuan diri.
4) Tawarkan individu dan kelompok prayer support.
5) Dorong pasien untuk mengkaji komitmen spiritualnya
berdasarkan keyakinan dan nilai-nilai.
6) Fasilitasi lingkungan yang menunjang meditasi atau perilaku
merenung untuk merefleksikan diri.
7) Merujuk untuk mengikuti support grup
j. Mengembangkan spiritual
1) Perlakukan pasien dengan bermartabat dan hormat
19
2) Dorong pasien untuk menggunakan komitmen spiritualnya
untuk mengatasi hambatan dan sikap yang menghambat
perkembangan spiritual.
3) Gunakan alat untuk memonitor dan mengevaluasi
kesejahteraan spiritual pasien
4) Gunakan tehnik klarifikasi nilai untuk membantu pasien
mengklarifikasi kepercayaan dan nilai
k. Terapi spiritual
Dukungan spiritual dilakukan untuk membantu pasien merasa
seimbang dan memiliki hubungan dengan kekuatan yang lebih besar.
Berikut beberapa intervensi yang dapat dilakukan, yaitu:
1) Gunakan komunikasi terapeutik untuk meningkatkan
kepercayaan dan kepedulian.
2) Dorong individu untuk merenungkan kehidupan di masa lalu
dan fokus pada peristiwa dan hubungan yang memberikan
kekuatan dan dukungan spiritual.
3) Berikan privasi dan waktu sendiri bagi pasien untuk melakukan
kegiatan spiritual.
4) Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam kegiatan support
group.
5) Ajarkan metode relaksasi, meditasi, dan guide imagery
6) Fasilitasi pasien untuk melakukan meditasi, beribadah, dan
kegiatan keagamaan lainnya
7) Berdoa bersama dengan pasien
20
Terlebih pada orang dengan skizofrenia (ODS), dimana pasien lebih
menunjukkan perubahan maladaptif. Berikut perubahan maladaptif
yang harus diperhatikan, antara lain:
1) Verbalisasi distres
Pasien yang mengalami gangguan fungsi spiritual biasanya
mengungkapkan masalah yang dialaminya dan mengekspresikan
kebutuhan untuk mendapatkan bantuan. Kepekaan perawat
sangat penting untuk menyimpulkan masalah yang sedang terjadi
pada pasien.
2) Perubahan perilak
Perubahan perilaku pada pasien seperti perasaan bersalah, takut,
depresi, cemas mungkin menunjukkan adanya distres spiritual.
Reaksi setiap pasien dalam menghadapi akan berbeda-beda, dan
pada orang dengan skizofrenia (ODS) lebih sering terlihat
perilaku maladaptif seperti bereaksi secara emosional.
21
bahwa seseorang yang memiliki keyakinan spiritual lebih tinggi
diperkirakan lebih kecil kemungkinan mengalami depresi.
2) Bunuh diri dan penyalahgunaan zat
Dari 68 penelitian yang meneliti bunuh diri, 84% menemukan
bahwa kemungkinan kecil bunuh diri atau sikap yang sedikit
negatif yaitu pada orang dengan keyakinan agama tinggi. Dari
hampir 140 studi yang telah meneliti keterlibatan agama dan
penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, 90% menemukan
korelasi terbalik yang signifikan secara statistik antara keduanya
3) Emosi positif
Kesejahteraan dan emosi positif meliputi kegembiraan, harapan,
dan optimisme. Dari 100 studi yang meneliti hubungan ini, 79
menemukan bahwa seseorang yang beragama tinggi memiliki
kesejahteraan, kebahagiaan, dan kepuasan hidup, daripada
mereka yang kurang beragama. Dari 16 penelitian yang meneliti
hubungan antara agama dan tujuan atau makna hidup, 15
menemukan bahwa seseorang yang beragama memiliki tujuan
dan makna dalam hidup lebih besar.
4) Dukungan sosial
Hampir semua penelitian (19 dari 20 studi) yang meneliti agama
dan dukungan sosial menemukan korelasi yang signifikan bahwa
seseorang yang beragama tidak hanya memiliki jaringan
dukungan yang lebih besar, tetapi juga memiliki kualitas jaringan
sosial yang lebih tinggi.
5) Kesehatan fisik
Bidang psikoneuroimunologi menyatakan bahwa emosi positif
dan dukungan sosial berdampak pada fungsi kekebalan tubuh
yang lebih baik dan kesehatan jantung yang lebih kuat. Depresi
dan isolasi sosial pada penderita dapat memperburuk kesehatan
dan pemulihan yang lambat dari penyakit.
22
6) Memerlukan layanan kesehatan
Penelitian terhadap 542 pasien (usia enam puluh atau lebih) yang
sering dirawat di Duke University Medical Center, orang-orang
yang menghadiri pelayanan keagamaan 1x/minggu atau lebih
adalah 56% dan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk
dirawat di rumah sakit (p <0,0001)
7) Implikasi
Ada bukti yang berkembang dari penelitian sistematis bahwa
keyakinan dan praktik keagamaan berkaitan dengan kesehatan
mental yang lebih baik, kesehatan fisik yang lebih baik, dan
frekuensi menggunakan pelayanan kesehatan yang minimal.
23
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survei, jenis penelitian kuantitatif,
sedangkan dalam menganalisa data menggunakan statistik deskriptif. Jenis
penelitian kuantitatif menggunakan angka-angka dan analisis mengunakan
statistik (Sugiyono, 2011). Statistik deskripif digunakan untuk melihat
gambaran fenomena yang terjadi di populasi dan digunakan untuk membuat
penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program dimasa
sekarang (Notoatmodjo, 2010). Pendekatan dalam penelitian ini
menggunakan yaitu dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan
data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Penelitian ini
menggambarkan manajeman spiritual terhadap pasien di RSJD Dr. Amino
Gondohutomo
2. Sampel
Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh
populasi (Notoatmodjo, 2010). Metode pengambilan sampel dalam
penelitian ini adalah total sampling. Metode total sampling yaitu
pengambilan sampel penelitian dari keseluruhan total populasi yang ada
(Notoatmodjo, 2010). Sampel pada penelitian ini adalah semua pasien
yang ada di ruang 11 (Larasati) RSJD Dr Amino Gondohutomo yang
berjumlah 11 orang.
24
Penelitian ini menggunakan kriteria sampel sebagai berikut:
a. Kriteria inklusi ialah karakteristik umum dari subyek peneliti dari
suatu populasi target yang layak untuk diteliti (Setiadi, 2013). Adapun
kriterianya adalah
1) Klien dengan gangguan jiwa
2) Klien yang setuju menjadi responden
b. Kriteria Ekslusi
Kriteria ekslusi ialah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang
memenuhi kriteria inklusi dan studi karena berbagai sebab (setiadi,
2013).
1) Klien yang tidak keadaanya tidak terkontrol
C. Definisi Operasional
25
Tingkat Jenjang Kuesioner 1. Tamat SD Ordinal
Pendidikan pendidikan 2. Tamat SMP
terakhir yang 3. Tamat SMA
telah 4. Tamat DI
ditamatkan 5. Tamat SI
pasien
26
Aktivitas Aktivitas Lembar 1 = Melakukan Ordinal
ibadah ibadah sesuai Kuesioner 2 = Tidak melakukan
agama yang
di anut
D. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruang 11 (Larasati) Rumah Sakit Jiwa
Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang.
E. Waktu Penelitian
Waktu Penelitian dilakukan padatanggal 6-8 Juni 2018 yang terdiri dari
tiga tahap yaitu, penyusunan proposal, pengumpulan data, dan pelaporan hasil
penelitian.
F. Etika Penelitian
Etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting
dalam penelitian. Hal ini dikarenakan keperawatan merupakan cabang ilmu
yang berhubungan langsung dengan manusia, sehingga segi etika penelitian
harus diperhatikan. Menurut Hidayat (2009), masalah etika yang harus
diperhatikan oleh seorang peneliti meliputi :
Peneliti membuat surat permohonan sebagai calon responden
penelitian.
1. Lembar persetujuan (Informed concent)
Informed concent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan
responden. Informed concent diberikan sebelum penelitian dilakukan
dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.
2. Tanpa nama (Anonimity)
Anonimity adalah tidak memberikan nama responden pada lembar alat
ukur tapi hanya menulis kode pada lembar pengumpulan data.
27
3. Kerahasiaan(Confidentiality)
Confidentiality adalah menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik
informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah
dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data
tertentu yang dilaporkan kepada hasil riset.
I. Analisa Data
1. Pengolahan Data
Pengumpulan data ini dilakukan setelah kegiatan penelitian selesai. Alat
ukur pengumpulan data perlu diperhatikan kembali agar dapat
memperkuat hasil penelitian (Hidayat, 2007). Data dalam peneitian ini
diolah melalui tahap sebagai berikut :
a. Editing
Peneliti melakukan proses editing yang berupa pengecekan jumlah
lembar kuesioner, kelengkapan data seperti identitas atau data yang
masih rancau.
28
b. Coding
Peneliti melakukan proses coding yang merupakan pemberian kode
berupa angka agar tidak menyebabkan kerancuan dalam mengklarifikasi
data. Beberapa kategori, yaitu
Untuk item pengetahuan dapat menggunakan coding sebagai berikut :
6 = berkali-kali dalam sehari
5 = setiap hari
4 = kebanyakan hari
3 = beberapa hari
2 = sesekali
1 = tidak pernah
c. Processing
Setelah dilakukan editing dan coding selanjutnya peneliti
memproses data yang didapatkan melalui progam komputer.
d. Cleansing
Setelah peneliti memproses data yang didapatkan selanjutnya
peneliti melakukan cleansing yang merupakan kegiatan mengecek
kembali data yang diolah apakah ada kesalahan atau tidak.
2. Analisa data
29
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden
Berdasarkan tabel dibawah in disebutkan gambaran karakteristik pasien di
Ruang Larasati RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.1
Distribusi responden berdasarkan karakteristik pasien di Ruang 11 (Larasati)
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah Periode Juni 2018 (n =
11)
Umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Remaja 3 27.3 27.3 27.3
dewasa pertengahan 3 27.3 27.3 54.5
dewasa akhir 4 36.4 36.4 90.9
Lansia 1 9.1 9.1 100.0
Total 11 100.0 100.0
Pendidikan
Pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak bekerja 5 45.5 45.5 45.5
Wiraswasta 4 36.4 36.4 81.8
Mahasiswa 2 18.2 18.2 100.0
Total 11 100.0 100.0
Masalah
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid HDR 2 18.2 18.2 18.2
Halusinasi 4 36.4 36.4 54.5
RBD 1 9.1 9.1 63.6
ISOS 3 27.3 27.3 90.9
Waham 1 9.1 9.1 100.0
Total 11 100.0 100.0
30
B. Analisa Univariat
1. Spiritual
Tabel 4.2
Distribusi responden berdasarkan Kategori Spiritual berdasarkan Pertanyaan
Kuesioner DSES (Daily Spiritual Experience Scale) di Ruang Larasati
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah Periode Juni 2018
(n = 11)
31
% within mekanisme
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
spiritual
% of Total 27.3% 54.5% 18.2% 100.0%
Tabel 4.4 diperoleh hasil bahwa dari 11 responden, peneliti memperoleh hasil
untuk kategori remaja masing-masing sebanyak 3 responden (27.3%) memiliki
nilai spiritual sedang dan rendah. Pada kategori umur dewasa pertengahan
diperoleh hasil nilai spiritual rendah sebanyak 3 responden (27.3%), nilai
spiritual sedang 3 responden (27.3%). Sedangkan pada kategori umur dewasa
akhir masing-masing sebanyak 4 responden (36.4%) responden berada pada nilai
spiritual tinggi sebanyak 2 responden (18.2%). Dan pada kategori umur lansia
terdiri dari 1 responden (9.1%) berada pada nilai sprirual rendah.
32
% within mekanisme
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
spiritual
% of Total 27.3% 54.5% 18.2% 100.0%
Tabel 4.5 diperoleh hasil bahwa dari 11 responden, peneliti memperoleh hasil
untuk nilai spiritual rendah terbanyak responden berada pada tingkat pendidikan
SMA yakni sebanyak 2 responden (18.2%). Pada tingkat pendidikan SMP
terbanyak berada pada nilai spiritual sedang sebanyak 2 responden (18.2%). Pada
tingkat pendidikan SD nilai spiritual sedang sebanyak 1 responden (9.1%) dan
pada tingkat pendidikan DI hanya terdiri dari 1 responden (9.1%).
Tabel 4.6 diperoleh hasil bahwa tingkat pekerjaan tertinggi pada kategori nilai
spiritual sedang yakni yang tidak bekerja sebanyak 3 orang (27.3%)
33
5. Aktvitas ibadah
Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Responden BerdasarkanKategori Aktivitas sholat 5
waktu di Ruang Larasati RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa
Tengah Periode Juni 2018 (n = 11)
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan hasil bahwa klien lebih banyak yang tidak
melakukan aktivitas ibadah disetiap harinya, yaitu sebanyak 7 responden (63.6%)
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas menunjukkan hasil bahwa kategori
spiritual pasien berada pada kategori spiritual yang sedang dimana terdapat 6
pasien (54.5%). Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sarjana, Fitrikasari &
Sari (2015) menyatakan bahwa faktor terbesar yang berpengaruh terhadap
proses penyembuhan ialah doa dan agama ditambah dengan dukungan dari
keluarga dan lingkungan. Agar pasien jiwa memiliki kemampuan yang baik
dalam spritualnya, bagaimana hubungan dengan Tuhan. Spiritual merupakan
sesuatu yang dipercayai manusia terhadap kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan),
alami atau kepada tujuan yang lebih besar dari kekuatan diri sendiri (Mauk
&Schmidt, 2004 dalam Potter & Perry, 2009). Individu dalam setiap agama
akan memiliki spiritualitas yang berbeda-beda (Potter & Perry, 2009).
34
Ruang lingkup aktivitasspiritual meliputi semua jenis kegiatan spiritual
yangberhubungan dengan ibadah (Mustiadi, 2016). Indikator yang
mempengaruhi manusia dalam mencapai kebermaknaan dalam hidupnya yaitu
dengan menjalankan kegiatan spiritual yang kaitannya dengan ibadah
(Bastaman, 2005). Semakin banyak seseorang melakukan kegiatan spiritual
maka akan semakin baik hubungannya dengan Tuhan, dirinya sendiri, orang
lain dan lingkungan (Gultom, Bidjuni dan Kallo, 2016).
Berdasarkan tabel diatas tentang distribusi frekuensi responden
berdasarkan umur, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berada
pada kategorik dewasa akhir sebanyak 4 orang (36.4%) dengan kategori
spiritual tinggi. Sesuai dengan teori periode perkembangan spiritual pada tahap
ini digunakan untuk intropeksi diri dan mengkaji kembali dimensi spiritual,
kemampuan intropeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri
individu tersebut. Biasanya kebanyakan padatahap ini kebutuhan spiritual
[Link] frekuensi responden berdasarkan pendidikan dapat
diketahui bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMA sebanyak 6
orang (54.5%). Hal ini tidak sejalan dengan dengan teori Craven dan Himle
yang mengatakan semakin tinggi pengetahuan yang diperoleh maka semakin
luas atau pengalaman yang diperoleh untuk nilai-nilai spiritual sehingga sangat
dibutuhkan pendidikan yang tinggi agar dapat memperluah wawasan/ilmu
pengetahuan (Yosep, 2013)
Berdasarkan tabel diatas dijelaskan pula tentang distribusi frekuensi
responden berdasarkan pekerjaan dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden tidak bekerja sebanyak 5 orang (45.5%), hal ini sejalan dengan teori
Craven dan Himle yang mengatakan tanpa pengalaman hidup seseorang baik
itu pengalaman negatif maupun positif dapat mempengaruhi spiritual
seseorang, dengan seseorang yang belum mendapat pekerjaan akan lebih
mendekatkan diri kepada Tuhan agar diberi rezeki (Yosep, 2013).
Gangguan jiwa psikotik juga menunjuk pada semua bentuk perilaku
yang abnormal, mulai dari yang ringan sampai yang melumpuhkan. Ada
yang kurang senang dengan istilah ini karena dipandang mengandaikan
35
adanya dualisme antara jiwa dan badan serta memberikan kesan seolah-olah
selalu terjadi gangguan serius terhadap fungsi kehidupan normal.
Melihat permasalah tersebut, bahwa pentingnya
tenagakesehatankhususnyaperawat dalam menangani pasien gangguan jiwa
psikotik berupa menghindari frustasi-frustasi dan macam- macam kesulitan
psikis dengan menciptakan kontak sosial yang sehat dan baik. Membiasakan
pasien memiliki sikap hidup atau attitude yang positif, dan melihat hari
depan dengan rasa keberanian serta menghadapi realitas dengan rasa yang
optimis dan juga usaha agar pasien bisa menjadi ekstrovert.
36
BAB V
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti kepada 11
responden terkait gambaran spirituali pada pasien gangguan jiwa di Ruang
11 Larasati RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, maka dapat di
ambil kesimpulan bahwa :
1. Berdasarkan umur dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berada
pada kategorik dewasa akhir sebanyak 4 orang (36.4%). Distribusi
frekuensi responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden berpendidikan SMA sebanyak 6 orang (54.5%).
Berdasarkan distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan dapat
diketahui bahwa sebagian besar responden tidak bekerja sebanyak 5 orang
(45.5%) dan berdasarkan distribusi frekuensi responden berdasarkan
masalah keperawatan , klien terbanyak adalah masalah dengan halusinasi
yakni sebanyak 4 orang (36.4%)
B. Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menciptakan generasi penerus
yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dalam hal penelitian
tentang manajemen spiritual pada pasien dnegan gangguan kejiwaan.
2. Bagi Responden.
Diharapkan pasien dengan gangguan jiwa untuk lebih teratur dalam
menjalankan kegiatan spiritual khususnya dalam menjalankan sholat
wajib 5 waktu.
3. Bagi perawat atau teman sejawat.
Dapat memberikan wawasan baru dan informasi tambahan tentang
seperti apa gambaran manajemen spiritual pasien dengan gangguan
37
jiwa. Sehingga diharapkan dapat mendukung perkembangan praktik
tidak hanya dirumah sakit namun juga di komunitas
4. Bagi Peneliti.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pengalaman
yang nyata dalam melaksanakan penelitian secara ilmiah dalam rangka
mengembangkan diri dalam melaksanakan fungsi perawatan sebagai
perawat peneliti yang dapat digunakan dalam penelitiannya. Bagi
peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti mengenai faktor-faktor
apa saja yang dapat memotivasi pasien dengan gangguan jiwa dalam
melakukan spiritul.
38
DAFTAR PUSTAKA
Agus M. Hardjana, 1994. Stres Tanpa Distres: Seni Mengolah Stres Yogyakarta:
Kanisius.
Ann Isaacs, 2005. Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatri. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Gultom, P., Bidjuni, H., & Kallo, V. (2016). Hubungan Aktivitas Spiritual dengan
Tingkat Depresi di Balai Penyantunan Lanjut Usia Senja Cerah Kota
Manado. E-Journal Keperawatan (e-Kp), 4, 1-7.
Gunarsa, S.D. (2009). Dari Anak Sampai Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi
Perkembangan. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Syam, Amir. 2010. Hubungan Antara Kesehatan Spiritual Dengan Kesehatan Jiwa
Pada Lansia Muslim Di Sasana Tresna Werdha KBRP Jakarta Timur. UI.
Underwood, L.G., and Jeanne A. Teresi. 2002. The Daily Spiritual Experience
Scale:Development, Theoretical Description, Reliability, Exploratory
Factor Analysis, and Preliminary Construct Validity Using HealthRelated
Data. Journal of Annual Behavior [Link]. [Link]. [Link].22–33.
MI: The Society of Behavioral Medicine.
39
Yosep, Iyus. 2013. Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung: PT Refika
Aditama
40
DAFTAR LAMPIRAN
Nama Pasien :
Usia :
Berkali- Setiap Kebanyakan Beberapa Sesekali Tidak
kali dalam hari hari hari pernah
No Pertanyaan
sehari
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Saya merasakan kehadiran Tuhan
2 Saya mengalami koneksi sepanjang
hidup
3 Selama ibadah atau di aktu lain
ketika berhubungan dengan Tuhan,
saya merasa gembira, yang
mengangkat saya dari keseharian
saya.
4 Saya menemukan kekuatan dalam
agama atau spiritualitas saya
5 Saya menemukan kenyamanan
dalam agama atau spiritualitas saya
6 Saya merasakan kedamaian batin
yang dalam atau harmoni
7 Saya meminta bantuan Tuhan di
tengah-tengah setiap hari
Kegiatan
8 Saya merasakan kasih Allah bagi
saya secara langsung
9 Saya jatuh cinta Tuhan kepada saya
melalui orang lain
10 Saya secara rohani tersentuh oleh
keindahan
Penciptaan
11 Saya merasa bersyukur atas berkah
saya
12 Saya merasakan kepedulian tanpa
pamrih terhadap orang lain
13 Saya menerima orang lain bahkan
ketika mereka melakukan sesuatu
yang menurut saya salah
14 Saya ingin lebih dekat dengan
Tuhan atau bersatu dengan
Dia
41
Tidak dekat Agak dekat Sangat Sedekat
No Pertanyaan sama sekali dekat mungkin
(1) (2) (3) (4)
15 Secara umum, seberapa dekat
perasaan Anda kepada Tuhan?
42
Lampiran 2. Hasil Olah Data
43