0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan4 halaman

Penatalaksanaan Hematemesis dan Melena

Dokumen tersebut merangkum rekam medis pasien rawat inap yang mengalami hematemesis dan melena. Terdapat penggunaan beberapa obat seperti lansoprazole, ranitidine, metoklopramide, metronidazole, dan ciprofloxacin untuk terapi dan monitoring gejala serta efek samping obat.

Diunggah oleh

afifahdwirahmatika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan4 halaman

Penatalaksanaan Hematemesis dan Melena

Dokumen tersebut merangkum rekam medis pasien rawat inap yang mengalami hematemesis dan melena. Terdapat penggunaan beberapa obat seperti lansoprazole, ranitidine, metoklopramide, metronidazole, dan ciprofloxacin untuk terapi dan monitoring gejala serta efek samping obat.

Diunggah oleh

afifahdwirahmatika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tgl Subyektif Obyektif Assesment Plan

23/12 Mual GCS : 456 Lansoprazole METO :


/18 muntah +
Diagnosis :  Indikasi : Terapi hematemesis melena • Berkurang atau tidaknya
Muntah Hematemesis dan mengatasi mual muntah. mual muntah yang
darah + Melena dirasakan pasien
 Mekanisme Kerja : Menurunkan
BAB hitam Obat : sekresi asam lambung di sel parietal • NGT tidak kotor
+ lambung dengan cara menghambat
Lansoprazole- 1 x • Warna feses pasien tidak
30 mg enzim (H+, K+) ATPase sehingga hitam
akan menghambat langkah akhir
pembentukan asam lambung (DIH, MESO :
2009).
• Ada atau tidaknya
 Dosis literature : 30 mg sehari sekali keluhan sakit kepala
(DIH, 2009). atau diare pada pasien.
 Dosis pasien : 1 x 30 mg (Tepat dosis) REKOMENDASI:

 Rute : Intravena Penggunaan maksimal 7


hari (Syam, 2013).
 ESO : Sakit kepala (3-7%), sakit perut
(5%), diare (7%), mual (1-3%),
konstipasi (1-5%) (DIH, 2009).
 DRP : Tidak ada
23/12 Mual GCS : 456 Ranitidine METO :
/18 muntah +
Ur/Cr : 93.7/2.54  Indikasi: Terapi hematemesis melena • Berkurang atau tidaknya
Muntah dan mengatasi mual muntah. mual muntah yang
darah + Diagnosis : dirasakan pasien
Hematemesis  Mekanisme Kerja: Mengurangi
BAB hitam Melena sekresi asam lambung dengan cara • NGT tidak kotor
+ menghambat reseptor H2 pada sel
Obat : parietal lambung (DIH, 2009). • Warna feses pasien tidak
hitam
Ranitidine- 2 x
 Dosis literatur: 150 mg tiap 12 jam
150 mg (PO) MESO :
(PO); 50 mg tiap 12 jam (IV) (DIH,
Ranitidine- 2 x 50 2009). • Monitoring Ur/Cr pasien
mg (IV)
 Dosis pasien: 2 x 150 mg (PO) dan 2 SARAN
x 50 mg (IV) (Tepat dosis)
• Menyarankan kepada
 Rute : Intravena/peroral dokter untuk
menggunakan salah satu
 ESO : Sakit kepala, nyeri dada, saja (Lansoprazole).
meningkatkan serum
aminotransferase, peningkatan SCr • Monitoring Ur/Cr pasien
(Medscape, 2018).

 DRP : Duplikasi Terapi


: ESO Potensial peningkatan SCr

23/12 Mual GCS : 456 Metoklopramide METO :


/18 muntah +
KU : Cukup  Indikasi: Terapi untuk mual dan • Berkurang atau tidaknya
muntah pada perawatan paliatif (DIH, mual muntah pasien
Obat : 2009).
MESO :
Metoklopramide 3
 Mekanisme Kerja: Memblok reseptor
x 10 mg dopamin dan juga menghambat • Ada atau tidaknya gejala
reseptor serotonin di area kemoreseptor ekstrapiramidal syndrom
SSP, meningkatkan respon terhadap pada pasien (badan
kaku, tremor, gelisah,
asetilkolin jaringan pada saluran GI sesak, gangguan
atas yang menyebabkan peningkatan menelan, akinesia).
motilitas dan percepatan pengosongan
lambung tanpa meragsang sekresi asam REKOMENDASI
lambung (DIH, 2009). • Maksimal pemberian
 Dosis literatur: 3x 10 mg, dosis adalah 5 hari (BNF,
maksimal 500 mikrogram/kgBB/hari 2018) atau pemberian
(DIH, 2009). obat k/p.

 Dosis pasien: 3 x 10 mg (Tepat dosis).

 Rute : Intravena

 ESO : Ekstrapiramidal sindrom seperti


dystonia akut, bradikardi, hipotensi,
reaksi hipersensitifitas (DIH, 2009).

 DRP : ESO potensial ekstrapiramidal


sindrom

23/12 - Suhu : 35,8º C Metronidazole METO :


/18
Leukosit : 23,17.  Indikasi : Terapi empiris antibakteri • Monitoring nilai leukosit
103 /ul (↑) (Schizas and Williams, 2010). pasien (3,5-10. 103 /ul)
Obat :  Mekanisme Kerja : Berinteraksi • Monitoring TTV pasien
dengan DNA sehingga menyebabkan
Metronidazole 3 x hilangnya struktur helix DNA dan MESO :
500 mg kerusakan untai DNA. Hal ini • Monitoring ada atau
menghambat sintesis protein dan tidaknya mual dan
kematian sel organisme (DIH, 2009). muntah pada pasien
 Dosis literatur : 500 mg tiap 8 jam • Monitoring ada atau
(DIH, 2009). tidaknya tanda
konstipasi pada pasien
 Dosis pasien : 3 x 500 mg (Tepat
dosis) Intervensi dokter :
 Rute : Intravena • Metronidazole
digunakan 7 hari
 ESO : mual dan konstipasi (PPAM, 2018).
 DRP : Tidak ada • Menginformasikan
ketika penggunaan obat
sudah hari kelima
• Usul pemeriksaan kultur
darah
23/12 - Suhu : 35,8º C Ciprofloxacin METO :
/18
Leukosit : 23,17.  Indikasi : Terapi empiris antibakteri • Monitoring nilai leukosit
103 /ul (↑) (Schizas and Williams, 2010). pasien (3,5-10. 103 /ul)
Ur/Cr : 95.7/2.54  Golongan antibiotik : Floroquinolon • Monitoring TTV pasien
(↑)
 Mekanisme Kerja : Menghambat MESO :
CrCl : 20.2 sintesis DNA pada organisme yang
ml/min • Ada atau tidaknya mual
rentan melalui penghambatan DNA
dan muntah pasien
gyrase dan topoisomerase IV yang
Obat :
penting dalam replikasi DNA bakteri • Monitoring nilai SCr
• Ciprofloxacin 2 (DIH, 2009). pasien
x 400 mg
 Dosis literatur : CrCl 5-29 ml/min: 200- Intervensi dokter :
(23/12)
400 mg iv tiap 12-24 jam (Medscape,
• Ciprofloxacin 2 2018). • Menginformasikan
x 200 mg (24- bahwa obat maksimal
29/12)  Dosis pasien : 2 x 200 mg (Tepat dosis) penggunaan obat 7 hari
 Rute : Intravena • Menurunkan dosis
menjadi 2 x 200 mg
 ESO : mual muntah (3%), nyeri berkaitan dengan AKI
abdomen (2%), diare (2%), pasien
peningkatan serum kreatinin (1%)
(DIH, 2009). • Monitoring ESO
potensial peningkatan
 DRP : kreatinin
ESO potensial mual muntah • Usul pemeriksaan kultur
darah
ESO potensial peningkatan kreatinin
KIE pasien :
• Segera melaporkan
apabila pasien mual
muntah setelah
pemberian ciprofloxacin

03/01 - PLT : Asam Asetil Salisilat METO :


/18 1037.103 /uL (↑)
• Indikasi: Anti-platelet/ anti-agregasi - Monitoring PPT
PTT/APTT : - trombosit
- Monitoring APTT
Diagnosis: • Mekanisme : Menghambat aktivitas
Trombositosis enzim COX 1 dan COX 2 yang - Monitoring PLT(142-
selanjutnya menghambat produksi 424.103/ul)
Obat : tromboksan (zat yg merangsang MESO :
ASA - 1 x 80 mg agregasi trombosit).
- Keluhan mual
• Dosis literature : 75-100 mg (DIH,
2009). - Resiko adanya
perdarahan GI →
• Dosis pasien : 1 x 80 mg (Tepat dosis). pemeriksaan hematologi
• Rute : Peroral Rekomendasi :
• ESO Potensial angioedema, - Pemberian ASA setelah
bronkospasme, peptic ulcer, 5-7 hari pasien berhenti
perdarahan GI, mual, tinnitus hematemesis melena
(Medscape, 2018). (Laine et al., 2012).
- Penggunaan jangka lama
sebaiknya dilakukan
pengecekan PTT, APTT,
INR, FH

25/12 - GCS : 456 Albumin 20% METO :


/18
Albumin : 2,41  Indikasi: Memenuhi kebutuhan • Monitoring nilai
(↓) albumin Kandungan : Albumin 20% albumin pasien (3,5-5,5
250 ml g/dl).
Terapi : Albumin
20% - 250 ml  Mekanisme : Albumin menjaga MESO :
keseimbangan sirkulasi volume darah
dan merupakan pembawa dari hormon, • Ada atau tidaknya tanda
enzim, obat dan racun reaksi alergi, urtikaria,
demam pada pasien
 Rute : Intravena
• Monitoring TTV pasien.
 ESO : Reaksi alergi, urtikaria, demam,
REKOMENDASI :
perubahan pada RR, Nadi dan TD.
• KIE kepada pasien untuk
 DRP : Indikasi tidak teratasi mengkonsumsi putih
telur sebagai sumber
albumin atau konsumsi
suplemen albumin
(Proalbumin 3x1 capsul)

Anda mungkin juga menyukai