BAB 2
TINJAUAN PUSTAKAN
2.1. Konsep Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku
seseorang ( Notoatmodjo, 2005).
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dipengaruhi oleh
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, yakni karakteristik
orang yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan, misalnya :
tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin dan sebagainya.
Faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan fisik, social, budaya,
ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini merupakan faktor
yang paling dominan yang mewarnai prilaku seseorang. Menurut
(Irmayati, dkk. 2007), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
adalah :
6
7
a. Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran atau penelitian, maka jelas dapat kita
kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.
b. Media
Media yang secara khusus di desain untuk mencapai
masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah
televisI, radio, koran, dan majalah.
c. Keterpaparan Informasi
Pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary
adalah “That of which one is apprised or told: intelligence, news”.
Kamus ini menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat
diketahui. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai
transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti
yang lain sebagai mana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang
mengartikan sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan,
menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa dan
menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Sedangkan informasi
sendiri mencakup data, teks, image, suara, kode, program komputer
dan data akses. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada
hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intanglibe), sedangkan
informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh
8
dari data dan observasi terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan
melalui komunikasi.
3. Tingkat Pengetahuan
Menurut Benyamin Bloom (1908) dalam buku Notoatmodjo
(2005) mendefinisikan pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt
behavior). Sehingga pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
a. Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajar
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari
keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa
yang dipelajaran antara lain menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Diartikan sebagai suatu kemempuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek
atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang
9
dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan
makanan yang bergizi.
c. Menerapkan (application)
Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah di pelajari pada kondisi yang sebenarnya. Aplikasi
disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-
hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau
situasi yang lain. Misalnya dalam konteks atau situasi yang lain.
Misalnya dalam menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-
perhitungan hasil penulisan, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus
pemecahan masalah (problem solving cyclel) di dalam pemecahan
masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
d. Analisa (analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
obyek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam satu
struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja
seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesa (syntesis)
Menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
10
keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah kemampuan
untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemempuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi. Penilaian-
penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yangditentukan sendiri
atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
4. Cara Memperoleh Pengetahuan
Pengetahuan memungkinkan seseorang memecahkan masalah yang
dihadapinya. Menurut Notoatmodjo (2005), cara yang digunakan untuk
memperoleh pengetahuan dapat dilakukan dengan cara tradisional dan
modern (ilmiah). Cara tradisional dapat diperoleh dengan cara coba salah
(trial and error) dimana cara ini telah banyak dipakai orang sebelum
adanya kebudayaan bahkan mungkin sebelum adanya peradaban, cara
kekuasaan atau otoritas yaitu cara memperoleh pengetahuan dari
kehidupan sehari-hari, cara memperoleh memperoleh pengetahuan
berdasarkan pengalaman masa lalu. Untuk memecahkan suatu masalah,
dan cara memperoleh pengetahuan melalui jalan pikiran dimana cara ini
sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia. Sedangkan cara
modern yaitu cara baru dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini
lebih sistematis, logis dan alamiah. Cara ini disebut metode penulisan
(Notoatmodjo, 20035).
11
5. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan domain di atas
(Notoatmodjo, 2005).
Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan
determinan perilaku dari analisis factor-faktor yang mempengaruhi
perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara
lain teori Lawrence Green (Green dalam Notoatmodjo, 2005) mencoba
menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan
seseorang atau masyarakat dipengaruhi perilaku (non behaviour causes).
Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau dibentuk dari 3 faktor,
yaitu :
a. Faktor-faktor pengaruh (Predisposing Factor) yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai-nilai.
b. Faktor-faktor pendukung (Enabling Factor) yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau
sarana-sarana kesehatan.
c. Faktor-faktor penguat (Reinforcing Factor) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan.
12
2.2. Pengertian Vitamin A
Vitamin A pertama kali diidentifikasi pada tahun 1913 dan merupakan
vitamin pertama yang dikenali dari pelarut lemak. Selanjutnya, vitamin ini sebagai
retinol. Vitamin A juga sering disebut anty-infective vitamin karena perannya
dalam mendukung kegiatan dari sistem kekebalan. Vitamin A dapat dipecah
lemak menjadi empat fungsi utama, yaitu membantu reproduksi sel secara normal
(diferensiasi). Sel-sel yang tidak terdiferensiasi biasanya akan berkembang
menjadi sel-sel kanker. Fungsi kedua adalah menjaga kesehatan sel pada berbagai
macam struktur mata dan diperlukan untuk mentransfer cahaya menjadi tanda-
tanda syaraf di retina (Godam, 2006).
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat
diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata (agar dapat melihat
dengan baik), dan untuk kesehatan tubuh (meningkatkan daya tahan tubuh untuk
melawan penyakit misalnya campak, diare dan penyakit infeksi lain) (Jide, 2008).
2.3. Manfaat Vitamin A
Vitamin A atau berdasarkan struktur kimianya disebut Retinol atau Retinal
atau juga Asam Retinoat, dikenal sebagai faktor pencegahan xeropthalmia,
berfungsi untuk pertumbuhan sel epitel dan pengatur kepekaan rangsang sinar
pada saraf mata, Jumlah yang dianjurkan berdasarkan Angka Kecukupan Gizi
yang dianjurkan (KGA-2004) per hari 400 ug retinol untuk anak-anak dan dewasa
500 ug retinol. Sumbernya ada yang hewani sebagai retinol dan ada juga dari
nabati sebagai pro vitamin A sebagai karotin nanti dalam usus dengan bantuan
13
tirosin baru dikonversi menjadi retinol. Larut dalam lemak tidak larut dalam air
(Jide, 2008).
Kebutuhan gizi seseorang akan vitamin A akan bergantung pada sejumlah
faktor-faktor yang saling berhubungan, termasuk umur, kecepatan pertumbuhan,
jenis kelamin, efisiensi penyerapan dan penyimpanan, efisiensi pengangkutan
plasma dan penggunaannya dalam sel-sel yang menjadi sasarannya, kecepatan
inaktifasi, besarnya pendaurulangan dan status kesehatan secara keseluruhan
(Nasution, 2008).
Manfaat lainnya dari vitamin A adalah untuk pertumbuhan normal dan
pengembangan embrio dan janin, memengaruhi gen yang menentukan rangkaian
perkembangan organ-organ pada perkembangan embrio. Selain itu vitamin ini
juga berfungsi untuk reproduksi normal, dengan pengaruh pada fungsi dan
pembentukan sperma, indung telur dan plasenta. Pola konsumsi makanan sehari-
hari diduga merupakan penyebab utama kurangnya vitamin A pada anak-anak.
Penyebab lainnya adalah tidak terpenuhinya kebutuhan vitamin A pada ibu hamil,
dan ibu menyusui, terganggunya proses pencernaan makanan (malabsorbsi), diare,
atau karena penyakit liver kronis.
Manajer Operasi Lapangan Vitamin A HKI, menjelaskan, angka
kecukupan gizi anak hingga usia tiga tahun seharusnya sebesar 350 Retino
Ekivalen (RE) per hari, atau setara tiga butir telur atau 250 gram bayam perhari.
Namun dalam survey yang dilakukan Nutrition & Helath Surveillance System
tahun 2001 menunjukkan, makanan yang dikonsumsi 50 persen anak berusia 1-2
tahun tidak mengandung vitamin A dalam jumlah memadai, yaitu 350 RE per
14
harinya. Sumber hayati yang mengandung Vitamin A adalah sayuran berdaun
hijau, buah-buahan berwarna orang tua, maupun produk hewani. Kadar vitamin A
tinggi (di atas 150 RE/100 gram ) antara lain terdapat pada pepaya, labu kuning,
wortel, bayam dan ubi jalar. Sedangkan sumber hewani, yaitu telur, hati dan
daging ayam, dengan kadar di atas 250 RE/100 gram (Siswono, 2006).
2.4. Tujuan Pemberian Vitamin A
Peranan vitamin A yang paling baik untuk dijelaskan adalah dalam
penglihatan. Vitamin A, khususnya dalam dosis tinggi, efektif dalam
penyembuhan banyak kelainan-kelainan kulit. Analog-analog aktif vitamin A
termasuk asam retinoat dan beberapa dari kelompok retimoid. Meskipun
demikian, hal yang pasti tentang bagaimana menyembuhkan kelainan-kalainan
yang cenderung menimbulkan kulit menjadi bersisik atau terjadinya penggerakan
(keratinasi) masih belum jelas (Nasution, 2008).
Pemberian Vitamin A pada Balita dapat mencegah terjadinya
kelainan/penyakit pada mata (Xeroftalmia). Kata Xeroftalmia berarti “mata
kering” atau dalam bahasa Mandar diartikan ”buta Rarang” karena terjadi
kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata
dan apabila tidak segera diobati dapat menimbulkan kebutaan. Vitamin A juga
dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak, sehingga ketika anak
mengalami sakit, anak tersebut sakitnya tidak terlalu parah ini artinya dapat
mencegah kematian pada anak (Jide, 2008).
15
2.5. Bahaya Kekurangan Vitamin A
Xeroftalmia adalah suatu keadaan selaput ikat mata yang kering karena
kekurangan vitamin A, terkadang sampai jaringan selaput bening pada mata rusak.
Penyakit ini oleh Oey disebutkan sebagai penyebab utama kebutaan pada anak-
anak terutama pada anak prasekolah. Xeroftalmia hanya salah satu dari wujud
KVA. Ada konsekuensi lain yang terjadi pada orang yang KVA, seperti buta senja
(hemarofia), sel epitel conjuctiva yang abnormal, tingginya kesakitan terutama
diare dan ISPA, tingginya kematian pada balita, rendahnya respons imun tubuh
dan pertumbuhan terganggu (Diah, 2004).
Vitamin A (Retinol) merupakan salah satu dari beberapa vitamin.
Kekurangan maupun kelebihannya akan menimbulkan bahaya kesehatan yang
serius. Kedua keadaan ini timbul pada kondisi yang sangat. Kekurangan terjadi
dibanyak negara berkembang dalam baik endemik dan kadang-kadang hanya
terlihat dimasyarakat yang teknologinya sudah maju pada penderita yang
mengalami mal absorpsi yang hebat, penyakit kelainan pengangkutan, atau
penyakit hati (Nasution, 2008).
Jumlah harian vitamin A yang diperoleh bagi orang dewasa ditetapkan
1000 πg (3300 SI) “setara retinol” untuk laki-laki dan 800 πg (2664 SI) untuk
wanita. Kekurangan vitamin telah dipelajari secara meluas pada hewan-hewan
percobaan dan manusia. Tanda-tanda awalnya termasuk hilangnya selera makan,
terhambatnya pertumbuhan dan lemahnya kekebalan yang disertai dengan
menurunya ketahanan terhadap infeksi. Lemahnya fungsi sel batang retina dapat
dideteksi pada saat cadangan dalam hati hampir habis dan vitamin A plasma turun
16
dibawah kisaran normal (20-50 πg per desiliter). Jika penurunan terus terjadi akan
timbul pengerakan (keratinisasi) jaringan epitel pada mata, paru-paru, kelenjar
eksokrin, saluran pencernaan dan saluran lendir. Pada manusia tanda-tanda yang
sangat penting secara klinis nampak pada bagian mata (Nasution, 2008).
Kurang vitamin A atau disebut juga dengan Xeroftalmia adalah kelainan
pada mata akibat Kurang Vitamin A. Kata Xeroftalmia ini diartikan sebagai “mata
kering” karena serapan vitamin A pada mata mengalami pengurangan. kalau
diperhatikan dengan teliti (bisa dilakukan oleh seorang ibu balita), terlihat terjadi
kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata
(Jide, 2008)
Untuk mengenal mata yang kering (xeroftalmia), akan lebih jelas bila
terlebih dahulu dikenal mata yang sehat, dapat dilihat dari bagian-bagian organ
mata sebagai berikut :
1. Kornea (selaput bening) benar-benar jernih
2. Bagian putih mata benar-benar putih
3. Pupil (orang-orangan mata) benar-benar hitam
4. Kelopak mata dapat membuka dan menutup dengan baik
5. Bulu mata teratur dan mengarah keluar
Setelah diketahui mata yang sehat, maka selanjutnya dengan mudah dapat
dilihat mata yang tidak sehat atau akibat dari mata yang mengalami kekurangan
vitamin A (Jide, 2008).
17
2.6. Landasan Teori
Penelitian ini berangkat dari sebuah teoriyang disampaikan oleh Benyamin
Bloom (1908), dalam buku Notoadmodjo (2007), bahwa pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (overt behavior).
2.7. Kerangka Konsep
Penelitian ini akan mengidentifikasi Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang
Pemberian Vitamin A Pada Balita di Puskesmas Padang Rubek Kecamatan Kuala
Pesisir Kabupaten Nagan Raya Tahun 2014. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada
kerangka konsep berikut ini :
Variabel Independent Variabel Dependent
[Link] ibu Pemberian Vitamin A
pada balita
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian