0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
169 tayangan9 halaman

Prospeksi Batubara di Kalimantan Tengah

Dokumen ini merangkum hasil penyelidikan potensi endapan batubara di wilayah KP PT. Energitama Bumi Arum, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Penyelidikan dilakukan pada Maret-April 2009 melalui pemboran 102 lubang dengan kedalaman total 2.600,5 meter. Hasilnya menunjukkan adanya 8 lapisan batubara potensial dengan ketebalan 0,1-2,2 meter dan kualitas baik berdasarkan analisis laboratorium.

Diunggah oleh

Fly Away
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
169 tayangan9 halaman

Prospeksi Batubara di Kalimantan Tengah

Dokumen ini merangkum hasil penyelidikan potensi endapan batubara di wilayah KP PT. Energitama Bumi Arum, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Penyelidikan dilakukan pada Maret-April 2009 melalui pemboran 102 lubang dengan kedalaman total 2.600,5 meter. Hasilnya menunjukkan adanya 8 lapisan batubara potensial dengan ketebalan 0,1-2,2 meter dan kualitas baik berdasarkan analisis laboratorium.

Diunggah oleh

Fly Away
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROSPEKSI ENDAPAN BATUBARA DAN PEMBORAN

WILAYAH KP PT. ENERGITAMA BUMI ARUM


DAERAH HAJAK-TRINSING DAN SEKITARNYA
KECAMATAN TEWEH TENGAH
KABUPATEN BARITO UTARA
KALIMANTAN TENGAH

OLEH
RAHMAT E. WIYANTO
HERMAN BUDAYA

MEI 2009

1
DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

LETAK DAN KESAMPAIAN DAERAH

MORFOLOGI, IKLIM, PENDUDUK DAN BUDAYA

GEOLOGI

POTENSI BATUBARA

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

LAMPIRAN-LAMPIRAN

 TABEL-TABEL

 FOTO-FOTO

 PETA-PETA

 DATA PEMBORAN

 PENAFSIRAN KORELASI PENAMPANG HORISONTAL PROSPEK 1

 PENAFSIRAN KORELASI PENAMPANG HORISONTAL PROSPEK 2

 PENAFSIRAN KORELASI PENAMPANG VERTIKAL PROSPEK 1

 PENAFSIRAN KORELASI PENAMPANG VERTIKAL PROSPEK 2

2
PENDAHULUAN

Penyelidikan potensi sebaran batubara di dalam wilayah KP PT. ENERGITAMA BUMI


ARUM dilakukan pada tanggal 11 Maret-16 Maret 2009. Wilayah KP tersebut terletak di
daerah Desa Hajak dan Jambu, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara,
Propinsi Kalimantan Tengah. Dari hasil penyelidikan tersebut dideliniasi beberapa
prospek yang perlu ditindaklanjuti. Penyelidikan dikonsentrasikan di bagian selatan
wilayah KP.

Program pemboran berlangsung pada tanggal 21 Maret hingga 27 April 2009. Program
pemboran dilangsungkan di blok Desa Hajak-Desa Trinsing, yaitu Prospek 1 dan Prospek
2. Karena di dalam blok ini ditemukan beberapa singkapan batubara dan merupakan
wilayah yang paling potensial untuk segera ditindaklanjuti. Jumlah lubang pemboran di
blok ini adalah 102 lubang bor dengan total kedalaman 2600,5 meter.

LETAK DAN KESAMPAIAN DAERAH

Lokasi KP PT. ENERGITAMA BUMI ARUM secara administratif terletak di wilayah


Desa Hajak, Desa Trinsing, dan Desa Jambu, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten
Barito Utara, Kalimantan Tengah (Gambar 1). Dan secara astronomis terletak pada garis
lintang selatan dan bujur timur seperti terlihat pada Tabel 1.

Daerah penyelidikan dan pemboran dilaksanakan di blok Desa Hajak dan Desa Trinsing.
Wilayah blok ini berjarak kurang lebih 20 KM dari Kota Muara Teweh ke arah selatan
dan dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan bermotor kurang lebih 20 menit.

Wilayah penyelidikan mempunyai lokasi yang sangat strategis. Hal ini disebabkan akses
menuju port site dari daerah prospek sangatlah dekat. Akses menuju jalan hauling yang
telah ada hanya lebih kurang 7 KM dari daerah prospek dan selanjutnya menuju port site
berjarak lebih kurang 13 KM melalui jalan hauling yang telah ada.

3
MORFOLOGI, IKLIM, PENDUDUK DAN BUDAYA

Bentuk morfologi daerah penyelidikan merupakan daerah undulating yaitu daerah dengan
bentuk permukaan bergelombang lemah. Tidak ada daerah yang curam di wilayah
penyelidikan dan kemiringan batubara sangat landai. Sehingga jika ada lapisan batubara,
tanah penutupnya tidak akan terlalu tebal dengan kata lain stripping rationya
(perbandingan volume tanah penutup dan volume batubara / Vob:Vbb) cukup rendah,
artinya bila tanah penutupnya dibuka akan membutuhkan biaya rendah.

Daerah penyelidikan merupakan hutan campuran dan tidak ada hutan lindung serta tidak
ada hutan produksi maupun hutan tanaman industri. Jenis tanaman yang ada adalah
tanaman karet yang merupakan hasil budidaya masyarakat setempat dan dibiarkan
tumbuh liar, selebihnya adalah jenis tanaman hutan khas daerah tropis. Sedangkan
tanaman kelapa sawit menempati wilayah relatif sangat sempit dan merupakan hasil
budidaya masyarakat setempat.

Iklim di daerah penyelidikan adalah sama dengan daerah lain di Indonesia. Musim hujan
terjadi pada bulan Oktober-April dan musim kemarau pada bulan April-Oktober.
Penyelidikan dan program pemboran dilaksanakan pada saat musim hujan.

Penduduk di daerah penyelidikan dan pemboran didominasi oleh suku dayak, kemudian
suku Jawa, Banjar, Bugis, Madura dan lain-lain. Mata pencaharian penduduk setempat
adalah sebagian besar bertani dan berladang, pedagang, TNI/POLRI, pegawai negeri
sipil, dan wiraswasta. Dari pengamatan di lapangan kesan yang terlihat adalah bahwa
mereka sangat senang dengan adanya kegiatan eksplorasi di daerahnya karena kegiatan
eksplorasi di wilayah tersebut dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Sebagian dari penduduk mempunyai lahan garapan untuk berkebun dan berladang di
dalam daerah propsek. Lahan garapan di dalam daerah prospek pada umumnya adalah
tanaman karet utnuk diambil getahnya.

4
GEOLOGI

Secara umum wilayah KP berada pada Formasi Pamaluan dan Formasi Warukin. Di mana
kedua Formasi tersebut mengandung batubara. Pengamatan di lapangan di wilayah blok
Desa Hajak dan Desa Trinsing ini memang merupakan daerah potensial untuk
pengendapan batubara. Adanya batuan batupasir kuarsa, batulanau, batulumpur, serpih
hitam, dan batulempung, di mana batuan-batuan tersebut merupakan ciri khas hasil
pengendapan daerah daratan pesisir (rawa) ke daerah neritik (dekat pantai) atau
merupakan ciri khas hasil pengendapan danau.

Daerah-daerah tersebut adalah daerah reduksi, di mana proses pembusukan berlangsung


lebih baik. Sehingga di wilayah ini dimungkinkan untuk diendapkan bahan fosil, seperti
batubara.

POTENSI BATUBARA

Sebanyak 31 lokasi singkapan batubara teramati di daerah penyelidikan. Dari


pengamatan di lapangan sebaran batubara di wilayah KP sangat baik dan mempunyai
ketebalan bervariasi 0,6 – >1,2 meter. Dengan arah lapisan hampir timur-barat dan
kemiringan landai ke arah selatan (085/5°-11°SE) serta ditafsirkan merupakan sayap dari
suatu struktur lipatan. Patahan teramati dari hasil penafsiran data lubang pemboran yang
merupakan patahan turun.

Berdasarkan kemiringan lapisan dan ketingggian lokasi singkapan batubara berdasarkan


elevasi alat GPS, kemungkinan di wilayah KP ada beberapa lapisan batubara. Dari hasil
penafsiran kemungkinan ada 8 lapisan batubara di wilayah blok Desa Hajak dan Desa
Trinsing (Gambar 2), ditafsirkan bahwa seam yang satu merupakan seam bawah dari
seam yang lainnya. Karena lingkungan geologi wilayah ini sangat potensial untuk
terbentuk dan diendapkan batubara. Pengambilan conto batubara dengan cara grab
sample pada beberapa singkapan. Sebanyak 11 conto batubara diambil dan sebanyak 6

5
conto batubara dikirim ke Laboratorium PT. Geoservice untuk dianalisa kandungannya.
Dari hasil analisa laboratorium batubara di wilayah blok ini mempunyai kualitas yang
sangat baik. (Tabel 2) dan (Tabel 3)

Pemboran

Program pemboran dilaksanakan di wilayah blok Desa Hajak dan Desa Trinsing, Prospek
1 (427 HA) dan Prospek 2 (322 HA) (Gambar 3). Jumlah lubang bor yang telah
diselesaikan adalah 102 lubang bor dengan total kedalaman 2600,5 meter. Dengan
perincian, open hole 2584 meter dan coring 16,5 meter. (Tabel 4)

Dari hasil pengamatan open hole dan coring didapatkan satu sampai beberapa seam di
setiap lokasi lubang bor. Coring dilakukan untuk mengetahui ketebalan batubara yang
nyata dari pemboran, hubungan dengan batuan bawahnya, dan kemiringan lapisan yang
diukur pada long core axis sehingga akan diketahui kemiringan lapisan sebenarnya
terhadap bidang horisontal. Ketebalan yang terekam berkisar antara 10 CM dan 2,2 M.
Dari hasil pengamatan coring DC-20 kemiringan lapisan batubara terukur pada 5°.

Sebanyak 8 conto batubara dari hasil coring yang mewakili masing-masing seam dikirim
ke Laboratorium PT. Geoservices untuk dianalisa kualitasnya. Hasil analisa kualitas
batubara dari hasil coring seperti terlihat pada Tabel 5 dan Tabel 6. Berdasarkan data
pemboran, dalam hal ini ketebalan setiap seam batubara dan hasil analisa laboratorium
dari conto coring batubara, dapat dihitung rata-rata kadar kualitas batubara apabila
dilakukan internal blending, yaitu untuk :

Total Moisture (TM) % = 20,78


Moisture % = 12,94
Ash % = 4,71
Total Sulfur (TS) % = 1,38
Kalori Cal/g = 6156

6
Kadar kualitas batubara akan berubah seiring dengan makin banyaknya conto batubara
yang di analisa setiap seamnya, mengingat ketebalan setiap seam akan berbeda searah
striking dan searah dipping.

Perhitungan cadangan

Perhitungan cadangan dibatasi oleh beberapa asumsi-asumsi. Hal ini disebabkan


perhitungan cadangan bisa dikatakan merupakan cadangan terukur. Asumsi-asumsi
tersebut adalah sebagai berikut:
- Jarak dan ketinggian titik bor berdasarkan pembacaan alat GPS.
- Perhitungan cadangan dibatasi pada batubara dengan ketebalan ≥ 0.4 meter
- Perhitungan panjang searah striking dibatasi antara dua lubang bor yang
berdekatan.
- Titik bor terluar, panjang searah striking terluarnya adalah setengah dari jarak
titik bor tersebut dengan titik bor terdekat. Bila ada singkapan yang searah
dengan striking dan berjarak dari titik terluar, maka panjangnya adalah jarak
titik terluar dengan singkapan (maksimal 500 meter) ditambah setengah jarak
titik terluar dengan titik bor terdekat.
- Perhitungan panjang searah down dip dibatasi antara dua lubang bor yang
berdekatan, dengan ketentuan setengah dari jarak dua titik bor yang
berdekatan.
- Titik bor terluar bila tidak ada titik bor terdekatnya, panjang searah down dip
terluarnya adalah dibatasi maksimal 150 meter. Bila ada singkapan yang
searah dengan up dip dan berjarak dari titik terluar, maka panjangnya adalah
jarak titik terluar dengan singkapan (maksimal 500 meter) ditambah setengah
jarak titik terluar dengan titik bor terdekat.
- Jika ada sisipan parting, maka dilihat ketebalan batubara di bagian atas dan di
bawah parting harus lebih dari 0.4 meter sehingga total dihitung ketebalan
batubara sedikitnya 0.8 meter. Asumsinya adalah bahwa bentuk parting
merupakan lensa-lensa yang mempunyai kecenderungan tidak menerus.

7
Dari batasan asumsi-asumsi tersebut di atas dihasilkan perhitungan cadangan total terukur
adalah (Tabel 7A dan 7B):
Prospek 1 = 1.988.524 Ton
Prospek 2 = 1.256.379 Ton
Total = 3.244.903 Ton
Dan potensi cadangan yang kemungkinan bisa diambil atau ditambang adalah:
Prospek 1 = 1.268.004 Ton
Prospek 2 = 794.077 Ton
Total = 2.062.081 Ton

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Disimpulkan wilayah KP PT. ENERGITAMA BUMI ARUM sangat potensial akan


adanya tambang batubara. Hal ini didukung dari hasil analisa data pemboran dan hasil
analisa kualitas batubara. Akses yang dekat lebih kurang 7 KM ke jalan hauling yang
telah ada dan lebih kurang 13 KM menuju port site di Sungai Barito melalui jalan
hauling serta masyarakat yang menginginkan lapangan kerja adalah keuntungan lainnya.

Untuk membuat perhitungan lebih bersifat mineable yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut:
- Pembuatan peta topografi di Prospek 1 (427 HA) dan di Prospek 2 (322 HA)
dengan skala 1 : 5.000 di blok Desa Hajak dan Desa Trinsing. Pembuatan peta
topografi tentu saja untuk mengetahui secara benar keadaan permukaan
sesungguhnya baik itu lembah sungai, tebing, dan puncak. Dan juga untuk
membuat jalan sebagai akses keluar dari daerah prospek (daerah rencana
penambangan).
- Data pemboran dan topografi digunakan untuk membuat desain tambang yang
diinginkan dan penentuan stripping ratio. Sehingga perhitungan mineable bisa
dipertanggungjawabkan dengan kondisi keekonomian saat ini.

8
- Infill pemboran searah down dip perlu dilakukan untuk memperkecil faktor
kesalahan perhitungan cadangan mineable.
- Pendataan tataguna lahan segera dilakukan untuk perhitungan kompensasi dan
sekali lagi ujungnya juga untuk menghitung nilai ekonomis tambang.

Pendataan studi sosial, biologi, fisika, dan kimia dilakukan di wilayah blok Desa Hajak
dan Desa Trinsing. Data-data ini akan digunakan untuk penyusunan studi kelayakan dan
penyusunan AMDAL.

Pemetaan di wilayah prospek lainnya untuk mendapatkan potensi cadangan batubara baru
(Prospek 3, Prospek 4, Prospek 5, dan Prospek 6). Berdasarkan informasi awal dari
masyarakat bahwa daerah-daerah prospek tersebut ditemukan singkapan batu bara.

Anda mungkin juga menyukai