0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan10 halaman

Kategorisasi Tindakan Fraud dalam Etika

Dokumen tersebut membahas tentang definisi fraud, etika bisnis dan hubungannya dengan fraud, jenis-jenis fraud, teori proses terjadinya fraud, dan sebab-sebab terjadinya fraud. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan bahwa fraud adalah tindakan yang disengaja untuk merugikan pihak lain, pelanggaran etika bisnis, dan dapat terjadi karena tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi menurut teori fraud triangle.

Diunggah oleh

Kartika Palupi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan10 halaman

Kategorisasi Tindakan Fraud dalam Etika

Dokumen tersebut membahas tentang definisi fraud, etika bisnis dan hubungannya dengan fraud, jenis-jenis fraud, teori proses terjadinya fraud, dan sebab-sebab terjadinya fraud. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan bahwa fraud adalah tindakan yang disengaja untuk merugikan pihak lain, pelanggaran etika bisnis, dan dapat terjadi karena tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi menurut teori fraud triangle.

Diunggah oleh

Kartika Palupi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Fraud

Kelompok 5
Kartika Palupi 01012681822003
Marzuki 01012681822005
Diar Estiwinengku 01012681721002
2.1 Definisi Fraud
Fraud (kecurangan) merupakan suatu tindakan yang dilakuan secara sengaja untuk tujuan
pribadi atau kelompok, dimana tindakan yang di sengaja tersebut telah menyebabkan kerugian
bagi pihak tertentu atau instansi tertentu. Dalam kata fraud itu sendiri dapat diartikan dengan
baerbagai makna yang terkandung di dalamnya seperti:
1. Kecurangan
2. Kebohongan
3. Penipuan
4. Kejahatan
5. Penggelapan barang-barang
6. Manipulasi data-data
7. Rekayasa informasi
8. Mengubah opini dengan pemutarbalikan fakta yang aa
9. Menghilangkan barang bukti secara sengaja

Untuk mengetahui lebih dalam tentang fraud ada beberapa pendapat para ahli yang telah
mendefinisikan tentang fraud ini.
1. Menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim, bahwa:
“fraud (kecurangan ) merupakan tindakan yang di sengaja oleh perorangan atau kesatuan
untuk menipu orang lain yang menyebabkan kerugian. Khususnya terjadi misrepresentation
(penyajian yang keliru) untuk merusak, atau dengan maksud menahan data bahan yang diperlukan
untuk pelaksanaan keputusan yang terdahulu.”
2. Menurut Black’s Law Dictionary
“Kecurangan adalah isitilah umum, mencakup berbagai ragam alat seseorang individual,
untuk memperoleh manfaat terhadap pihak lain dengan penyajian yang palsu. Tidak ada aturan
yang tetap dan tampak kecuali dapat ditetapkan sebagai dalil umum dalam mendefinisikan
kecurangan karena kecurangan mencakup kekagetan, akal (muslihat), kelicikan dan cara-cara yang
tidak layak/ wajar untuk menipu orang lain. Batasan satu-satunya mendefinisikan kecurangan
adalah apa yang membatasi kebangsaan manusia.”
Dapat kita tarik kesimpulan dari pendapat para ahli di atas bahwa fraud (kecurangan)
merupakan sesuatu yang disebabkan oleh keinginan seseorang yang teraplikasi dalam bentuk
perilakunya untuk melakukan suatu tindakan yang menyalahi aturan.

2.2 Etika Bisnis dan Fraud


Terdapat hubungan erat antara etika bisnis dan Fraud. Bahwa segala sesuatu tindakan yang
bersifat Fraud bias dikategorikan sebagai pelanggaran etika. Dari definisi di atas dapat kita pahami
bahwa Fraud merupakan bentuk tindakan kejahatan yang bersifat disengaja, baik dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung.

2.3 Definisi Resiko Fraud


Resiko fraud adalah resiko yang di alami oleh suatu perusahaan atau institusi karena factor
terjadnya tindakan fraud atau kecurangan yang di sengaja, baik kerugian yang bersifat materi
maupun non materi, dimana kerugian materi diukur dari segi finansial dengan mengacu pada mata
uang yang dipakai (rupiah, dollar, ringgit, yen, euro, dan sebagainya) dan kerugian non material
menyangkut dengan kerugian yang bersifat non keuangan seperti menurunnya kepercayaan public
pada perusahaan.

2.4 Teori Proses Terjadinya Fraud

Gambar 1.1 Segitiga Fraud (Fraud Triangle)

Konsep fraud triangle pertama kali diperkenalkan dalam SAS No. 99 yaitu standar audit di
Amerika Serikat yang terdiri dari: tekanan, kesempatan dan rasionalisasi. Tiga hal tersebut yang
mendorong terjadinya upaya fraud. Tekanan berhubungan dengan manajemen/pegawai lainnya
memiliki insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan, sedangkan opportunity adalah
kesempatan yang muncul sebelum tindak kecurangan dan rasionalisasi berkaitan dengan
pembenaran tindak kecurangan oleh pelaku.

1. Pertama, Tekanan yaitu insentif yang mendorong orang melakukan kecurangan karena
tuntutan gaya hidup, ketidakberdayaan dalam soal keuangan, perilaku gambling, mencoba-
coba untuk mengalahkan sistem dan ketidakpuasan kerja. Tekanan ini sesungguhnya
mempunyai dua bentuk yaitu nyata (direct) dan persepsi (indirect). Tekanan nyata
disebabkan oleh kondisi faktual yang dimiliki oleh pelaku seperti orang sering gambling
atau menghadapi persoalan-persoalan pribadi, sedangkan tekanan karena persepsi
merupakan opini yang dibangun oleh pelaku yang mendorong untuk melakukan
kecurangan seperti misalnya executive need.
2. Kedua, Kesempatan yaitu peluang yang menyebabkan pelaku secara leluasa dapat
menjalankan aksinya yang disebabkan oleh kontrol yang lemah, ketidakdisplinan,
kelemahan dalam mengakses informasi, tidak ada mekanisme audit, dan sikap apatis. Hal
yang paling menonjol di sini adalah dalam hal kontrol. Kontrol yang tidak baik akan
memberi peluang orang untuk melakukan kecurangan.
3. Ketiga, Rasionalisasi yaitu sikap yang ditunjukkan oleh pelaku dengan melakukan
justifikasi atas perbuatan yang dilakukan. Hal ini merujuk pada sikap, karakter atau sistem
nilai yang dianut oleh pelakunya. Rasionalisasi mengacu pada fraud yang bersifat
situasional. Pelaku akan mengatakan: “I’m only borrowing they money; I’ll pay it back”,
“Everyone does it”, “I’m not hurting anyone”, “It’s for a good purpose”, dan“It’s not that
serious”. Sikap dan perilaku rasionalisasi bisa juga akan melahirkan perilaku serakah.

Di sisi lain fraud triangle mempunyai kelemahan yaitu faktor tekanan dan rasionalisasi yang tidak
bias diobservasi dan juga keterbatasan lainnya dalam mendeteksi motif kecurangan pelaku.
Keterbatasan dalam fraud triangle dapat disempurnakan dengan model fraud triangle yang kedua
yaitu tindakan (Act), penyembunyian (Concealment), dan Perubahan (Conversion).
2.5 Bentuk- Bentuk Fraud
Kecurangan pada prinsipnya mempunyai banyak sekali bentuknya. Perkembangan fraud
adalah sejalan dengan semakin banyaknya aktivitas kehidupan. Bahwa tindakan fraud telah
memasuki berbagai sector baik private sector maupun dalam ruang lingkup aktivitas pemerintah.
Utu mencagah timbulnya kecurangan maka jalan yang terbaik adalah dengan memahami apa dan
bagaimana saja bentuk-bentuk kecurangan itu.

Sukrisno Agoes mengatakan bahwa kekeliruan dan kecurangan bias terjadi dalam berbagai
bentuk, yaitu:
1. Intentional error
Kekeliruan bias disengja dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiir dalam bentuk window
dressing (merekayasa laporan keuanagan supaya lebih terlihat lebih baik agar lebih mudah
mendapat kredit dari bank) dan check kiting ( saldo rekening bank ditampilkan lebih besar
sehingga rasio lancer terlihat lebh baik).
2. Unintentional error
Kecurangan yang terjadi secara tidak sengaja (kesalahan manusiawi), misalnya salah menjumlah
atau penerspsn standar akuntansi yang salah karena ketidaktahuan.
3. Collusion
Kecurangan yang di lakukan oleh lebih dari satu orang dengan cara bekerja sama dengan tujuan
untuk menugntungkan orang – orang tersebut, biasanya merugikan perusahaan atau pihak ke tiga.
Misalnya, di suatu perusahaan terjadi kolusi antara bagian pembelian, bagian gudang, bagian
keungan, dan pemasok dalam pembelian bahan atau barang. Kolusi merupakan bentuk kecurangan
yang sulit dideteksi, walaupun pengendalian nitern perusahaan cukup baik. Salah sat cara
pencegahan yang banyak digunakan adalah dilarangnya pegawai yang mempunyai hubungan
keluarga (suami istri, adik-kakak) untuk bekerja di perusahaan yang sama.
4. Intentional misrepresentation
Member saran bahwa sesuatu itu benar, padahal itu salah, oleh seseorang yang mengetahui bhwa
hal itu salah.
5. Negligent misrepresentation
Pernyataan bahwa hal itu salah oleh seeorang yang tidak mempuyai dasar yang kuat untuk
menyatakan bahwa hal itu betul.
6. False promises
Sesuatu janji yang di berikan tanpa keinginan untuk memenuhi janji tersebut.
7. Employee fraud
Kecurangan yang di lakukan pegawai untuk menguntungkan dirinya sendiri. Hal ini banyak kita
jumpai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari office boy yang memainkan bon pembelian
makanan sampai pegawai yang memasukkan pengeluaran pribadi untuk keluarganya sebagai biaya
perusahaan.
8. Management fraud
Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen sehingga merugikan pihak lain, termasuk
pemerintah. Misalnya manipulasi pajak, manipulasi kredit bank, kontrak yang menggunakan cost
plus fee.
9. Organized crime
Kejahatan yang terorganisasi, misalnya pemalsuan kartu kredit, pengiriman barang melebihi atau
kurang dari yang seharusnya dimana si pelaksana akan mendapat 10%.
10. Computer crime
Kejahatan dengan memanfaatkan teknologi komputer , sehingga si pelaku bias menstransfer dana
dari rekening orang lain ke rekeningnya sendiri.
11. White collar crime
Kejahatan yang dilakukan orang-orang berdasi (kalangan atas), misalnya mafia tanah, paksaan
secara halus untuk merger, dan lain-lain.
Bagi seorang auditor dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepadanya maka
tentunya ia akan mengikuti beberapa prosedur dan langkah-langkah yang dapat membuat kerjanya
itu berlangsung secara sistematis. Lebih jauh arens & Loebbecke menambahkan bahwa auditing
seharusnya dilkukan oleh seorang yang independent dan kompeten.
Adapun pengertian independent adalah dimana orang yang bersangkutan dalam audit dan
bebas dari pengaruh pribadi dan bertanggungjawab atas kegiatan objek yang di audit sehingga
dapat memberikan penilaian yang tidak memihak dan tanpa prasangka, sehingga hasl audit dapat
dipercaya objectivitasnya.

2.6 Sebab-sebab Suatu Fraud Bisa Terjadi


Dari berbagai kasus yang terjadi dan hasil pengalaman yang banyak dari para auditor member
banyak sekali kesimpulan yang dapat diberikan. Bahwa tindakan sebab musabab timbulnya fraud
dapat disebabkan oleh banyak hal terutama dari indiviu itu sendiri seperti factor ketidakkestabilan
emosional atau kurangnya kemampuan control yang mendalan dari pihak yang bersangkutan.
Maka efek itu bisa menimbulkan banyak hal seperti munculnya sikap suka foya-foya dengan sering
berbelanja barang-barang mewah, sering ke diskotik, berjudi, terlibat narkoba, dan factor tidak
nyaman berada dalam keluarga seperti merasa tertekan.
Dalam konsep keilmuan digariskan bahwa sebuah tindak kejahatan dalam skala yang kecil
perlahan akan menjadi besar pada saat orang mulai melihat itu sebagai bagian pencarian nilai
tambah yang wajar dan itu terjadi tanpa ada bisa mengungkapkankannya. Prbuatan kecurangan itu
akan terus berlangsung dengan aman keculi ada control dan tindakan tegas dari pimpinan. Maka
dari itu bentuk kecurangan atau tanda-tanda timbulnya fraud akan dapat di minimalisasi dimana
diberikan bentuk-bentuk penjelasan secara komprehensif kepada para karyawan tentang
bagaimana pentingnya penerapan system pengendalian intern guna menemukan atau menghindari
timbulnya kecurangan-kecurangan.
Fraud pada umumnya terjadi karena sejumlah alasan yang umumnya disebut sebagai the fraud
triangle. Ketiga alasan itu adalah sebagai berikut:
1. Tekanan
2. Adanya peluang
3. Adanya rasionalisasi.
Tanda-tanda fraud yang dilakukan oleh pihak manajemen secara umum:
1. Memberikan informasi yang salah dengan menutupi informasi yang sebenernya, dilakukan dengan
tujuan –tujuan tertentu. Informasi tersebut bisa ditujukan kepada pihak komisaris dan juga public.
2. Telah terjadi keterlambatan atau menyalahi perjanjian dalam kesepakatan dengan pihak ketiga
(mitra bisnis) dalam urusan bisnis atau sejenisnya, yang mana sifatnya itu perlu dicurigai, atau
dwaspadai karena memungkinkan timbulnya kerugian bagi perusahaan.
3. Dalam melakukan kinerja operasi telah memungkinkan tanda-tanda yang berbeda atau telah
terdapat sisi kelainan dari yang biasanya.
4. Telah mengubah bentuk struktur organisasi yang ada dengan bentuk lain yang baru dan dengan
alasan-alasan tertentu, seperti karena kepentingan perusahaan.
5. Sering dalam rapat memberikan usulan-usulan yang mengarah maksud-maksud tertentu, atau
memberikan pendapat yang mengubah opini audience (pihak yang mengikuti rapat)
2.7 Bentuk Tindakan Investigasi Fraud dengan Pendekatan Interview
Untuk memperoleh data-data dan informasi yang akurat dan tepat, maka ada beberapa hal
penting yang harus diperhatikan dalam interview:
1. Gunakan cara interogasi yang halus dan sopan, hindari kekerasan dan intimidasi.
2. Gunakan asas praduga tak bersalah terhadap tersangka.
3. Kemukakan fakta, bukan opini.
4. Tugaskan intervewer, satunmengajukan pertanyaan dan satu lagi mendengarkan,memperhatikan
dan mencatat.
5. Gunakan alat perekam
6. Dengarkan jawaban tersangka dengan penuh kesabaran, lakukan interupsi hanya untuk
memperjelas jawaban tersangka.
7. Ajukan pertanyaan-pertanyaan atau kalimat-kalimat untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan
keberanian tersangka untuk menceritakan dengan kata-katanya sendiri kejadian yang sebenernya.
8. Walaupun sulit (hanya bisa dilakukan oleh interogerator yang terlatih dan pengalaman) coba untuk
mengetahui apakah tersangka berbohong atau bicara jujur.
9. Jangan perbolehkan tersangka kembali ke ruang kerjanya, untuk menghindari lenyapnya bukti-
bukti yang di perlukan.
10. Perhatikan body language
11. Jangan mengajukan pertanyaan yang bersifat memancing emosi harga dirinya, karena jika itu
terjadi maka pertanyaan yang diajukan tidak akan terjawab karena yang bersangkutan merasa
harga dirinya diremehkan.
12. Jelaskan padanya bahwa hasil interview ini akan membawa pengaruh pada kemajuan perusahaan,
yaitu sesuai dengan yang dicita-citakan oleh banyak pihak tidak terkecuali bagi dirinya sendiri.
13. Penjelasan secara tegas dan jelas bahwa secara agama manapun tindakan dan perbuatan fraud
adalah idak dibenarkan dan dapat dikategorikan berdosa, sehingga yang bersangkutan perlu
secepatnya mengakui prbuatan salah tersebut.

2.8 Beberapa Solusi untuk Mencegah Terjadinya Risiko Fraud


Resiko dan tindakan terjadinya fraud sangat berbahaya bagi suatu perusahaan jika ini terus
dibiarkan. Maka ada beberapa saran untuk mencegah terjadinya kecurangan, yaitu:
1. Tingkatkan pengendalian intern yang terdapat pada perusahaan
2. Lakukan seleksi pegawai secara ketat, gunakan jasa psiolog dan hindari katebelece dalam
penerimaan pegawai.
3. Tingkatkan keandalan internal audit department, antara lain dengan:
 Memberikan balas jasa yang menarik
 Memberikan perhatian yang cukup besar terhadap laporan mereka.
 Mengharuskan internal auditor melaksanakan continuing professional education.
4. Berikan imbalan yang memadai untuk seluruh pegawai, timbulkan “sense of belonging” di antara
pegawai.
5. Lakukan otation of duties dan wajibkan para pegawai untuk menggunakan hak cuti mereka.
6. Lakukan pembinaan rohani
7. Berikan sangsi yang tegas kepada mereka yang melakukan kecurangan dan berikan penghargaan
kepada mereka yang berprestasi.
8. Tumbuhkan iklim keterbukaan di dalam perusahaan
9. Manajemen harus memberikan contoh dengan bertindak jujur, adil, dan bersih
10. Buat kebijakan tertulis mengenai fair dealing.

2.9 Studi Kasus


Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sesuai kewenangannya sebagai otoritas pengatur dan
pengawas lembaga jasa keuangan mengeluarkan keputusan membekukan kegiatan usaha PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan, yang beralamat di Komplek Jembatan Lima Indah Blok 15E
Nomor 2 Jalan KH Moh Mansyur, Jakarta Pusat, 10140. Demikian pernyataan tertulis OJK yang
diterima [Link] Pembekuan kegiatan usaha PT Sunprima Nusantara Pembiayaan dikeluarkan
melalui Surat Deputi Komisioner Pengawas IKNB II Nomor S-247/NB.2/2018 tanggal 14 Mei
2018 tentang Pembekuan Kegiatan Usaha PT Sunprima Nusantara Pembiayaan, terhitung sejak
tanggal 14 Mei 2018.

Sebelumnya, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 29/POJK.05/2014


tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan (POJK 29/2014), PT Sunprima
Nusantara Pembiayaan telah dikenakan sanksi peringatan pertama hingga peringatan ketiga karena
tidak memenuhi ketentuan Pasal 53 POJK 29/2014 yang menyatakan “Perusahaan pembiayaan
dalam melakukan kegiatan usahanya dilarang menggunakan informasi yang tidak benar yang dapat
merugikan kepentingan debitur, kreditur, dan pemangku kepentingan termasuk OJK”. Sanksi
pembekuan kegiatan usaha kepada PT Sunprima Nusantara Pembiayaan dikeluarkan karena
perusahaan tersebut belum menyampaikan keterbukaan informasi kepada seluruh kreditur dan
pemegang Medium Term Notes (MTN) sampai dengan berakhirnya batas waktu sanksi peringatan
ketiga.

Dengan dibekukannya kegiatan usaha PT Sunprima Nusantara Pembiayaan, maka


perusahaan dilarang melakukan kegiatan usaha pembiayaan. Dalam hal sebelum berakhirnya
jangka waktu pembekuan kegiatan usaha, PT Sunprima Nusantara Pembiayaan tetap melakukan
kegiatan usaha pembiayaan, OJK dapat langsung mengenakan sanksi pencabutan izin usaha.
Pengenaan sanksi tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pengawasan dan
tindak lanjut hasil pemeriksaan. Di samping itu, OJK juga telah mengambil langkah-langkah
pengawasan (mandatory supervisory actions) dengan melarang perusahaan mengambil keputusan
dan atau melakukan tindakan yang dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan, antara
lain, menggunakan dana keuangan Perusahaan dan atau melakukan transaksi keuangan yang tidak
wajar, menambah penerbitan surat utang dalam bentuk apapun termasuk MTN. Mengambil
tindakan dan atau perbuatan hukum yang memperburuk kondisi Perusahaan dan
melakukan pergantian pengurus perusahaan tanpa persetujuan OJK.

2.10 Daftar Pustaka


Agoes, Sukrisno. 2005. Peranan Internal Audit Departement, Enterprise Risk Management, dan
Good Corporate Governance Terhadap Pencegahan Fraud dan Implikasinya kepada Peningkatan
Mutu Lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

Fahmi, Irham. 2013. Etika Bisnis: Teori Kasus, dan Solusi. Bandung: Alfabeta

Joel G. Siegel dan Jae K. Shim, 1999, Kamus Istilah Akuntansi, Alex Media Komputindo, Jakarta,
hlm. 200.

Mulyadi, 2002, Auditing, Edisi 6, Salemba Empat, Jakarta, hlm. 26

Anda mungkin juga menyukai