Desain Kondensor PLTU 175 MW
Desain Kondensor PLTU 175 MW
1. Tipe Kondensor
Kondensor banyak digunakan di berbagai macam operasi di proses kimia maupun
perminyakan, termasuk destilasi, refrigeran, dan pembangkitan. Kondensor terdiri dari
2 jenis antara lain :
a. Surface Condenser
Proses pengubahan dilakukan dengan cara, sehingga uap akan memenuhi
permukaan luar pipa. Sedangkan air yang berfungsi sebagai pendingin akan
mengalir di dalam pipa (tube side), maka akan terjadi kontak antara keduanya
dimana uap yang memiliki temperatur panas akan bersinggungan dengan air
pendingin yang berfungsi untuk menyerap kalor dari uap. Sehingga temperatur
steam (uap) akan turun dan terkondensasi.
i. Horizontal Condenser
Banyak digunakan untuk mengondensasi tekanan tinggi atau uap korosif.
Tipe ini meletakkan tube pada posisi horizontal. Terdapat 2 jenis tempat
pengondensasian yaitu di shell dan di tube.
2. Flowchart Pendesainan
MULAI
MULAI
Mengumpulkan
Mengumpulkan data
data yang
yang dibutuhkan
dibutuhkan
untuk
untuk mendesain
mendesain kondenser
kondenser
Ya
Ya
Ya
Ya
3. Kriteria Pendesaianan Thermal
a. Kondensasi uap terjadi di sisi shell (Termodinamika, Tabel 3.4)
i. Fouling : fouling fluid (water) lebih disarankan untuk ditempatkan di tube
karena memudahkan dalam perawatan. Tube yang memanjang memungkinkan
dilakukan pembersihan secara mekanik.
ii. Biaya : dengan desain peletakan material korosif ke dalam tube, head dan
pipa, maka dibutuhkan material tahan korosif di bagian-bagian tersebut.
Apabila shell diisi fluida korosif, maka material tahan korosif akan
ditempatkan di seluruh Shell and Tube Heat Exchanger (STHE) dengan luasan
yang lebih besar dibanding di tube sehingga perawatan dan pembuatan
memerlukan biaya lebih besar.
iii. Pressure drop rendah : apabila fluida dengan viscous tinggi ditempatkan di
tube dan buffle, maka akan menghasilkan pressure drop besar. Berbeda dengan
di tube yang banyak aliran lurus, akan menghasilkan pressure drop rendah.
iv. Meningkatkan enthalpy : uap memiliki volume besar dan enthalpy lebih kecil
daripada liquid, maka dengan menempatkan di shell (luas permukaan yang
besar) maka akan lebih meningkatkan enthalpy dari pada penempatan di tube.
v. Resiko : pada umumnya STHE mencegah resiko pembekuan dengan cara
menempatkan fluida dingin di dalam tube, karena mudah untuk mengganti dari
pada ditempatkan di shell.
b. Pemilihan Tube
Tipe 1 in. 20 BWG panjang 6 m, dipilih untuk menjaga STHE apabila terjadi
fouling. Disarankan lebih besar dari 1 in. 14 BWG dengan panjang tube yang bagus
dengan panjang ±6 m dan tidak boleh lebih panjang dari 10 m. Kecepatan aliran di
tube direkomendasikan 0,9-2,44 m/s. (Process Heat Transfer : 198) .
Material tube menggunakan Copper brass (70% Cu, 30% Zi) yang merupakan
campuran tembaga dan zink. Material ini memiliki konduktifitas termal 111 W/mK
dan cukup kuat untuk menahan kecepatan fluida ±2 m/s.
c. Bentuk Penempatan Tube
Tata letak tube berbentuk segitiga dengan jarak pitch 0,0254 m. Tataletak ini dipilih
untuk memaksimalkan luasan penukar kalor tetapi sebanding dengan pressure
drop. Pembersihan dapat dilakukan dengan fluida pembersih. Clearance antar tube
disarankan lebih besar dari 0,25 in (0,00635 m).
6. Perhitungan
a. Energy Balance
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = 𝑄ℎ𝑜𝑡 (𝑡𝑢𝑟𝑏𝑖𝑛) + 𝑄ℎ𝑜𝑡 (𝑦5)
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = (1 − 𝑦1 − 𝑦2 − 𝑦3 − 𝑦4 − 𝑦5) × ṁ𝑡𝑜𝑡 × ℎ8 + 𝑦5 × ṁ𝑡𝑜𝑡 ×
ℎ25 − (1 − 𝑦1 − 𝑦2 − 𝑦3 − 𝑦4) × ṁ𝑡𝑜𝑡 × ℎ9
𝑘𝑔 𝐾𝐽 𝑘𝑔 𝐾𝐽
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = 0,666 × 210 × 2624 𝑘𝑔 + 0,0436 × 210 × 604,74 𝑘𝑔 −
𝑠 𝑠
𝑘𝑔 𝐾𝐽
0,7 × 210 × 289,25 𝑘𝑔
𝑠
𝐾𝐽
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = 329536,6127 (𝐾𝑊)
𝑠
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = ṁ 𝑐𝑜𝑙𝑑 × 𝐶𝑝 × ∆𝑇
𝐾𝐽 𝐾𝐽
329536,6127 = ṁ 𝑐𝑜𝑙𝑑 × 4,17 𝑘𝑔 𝐾 × (55 ̊𝐶 − 25 ̊𝐶 )
𝑠
𝑘𝑔
ṁ 𝑐𝑜𝑙𝑑 = 2634,1856 𝑠
e. Ukuran shell
Berdasarkan Tabel C.4 didapatkan ukuran shell 108 in (2,7432 m) berdasarkan tube
10206.
UD Ureq Ud
L Selisih
Btu/ nt (nt)cf KW/ Btu/ Btu/
(m) KW/ m2K Btu/hft2F
hft2F m2K hft2F hft2F
5 9828 10206 4,1013 722,3 2,176536 383,3101 -338,9759
6 8190 10206 3,4178 601,9 2,240173 394,5173 -207,3886
750
7 7020 7040 4,247 747,9 2,373375 417,9756 -329,9609
8 6143 7040 3,7161 654,4 2,427268 427,4666 -226,9779
9 5460 6108 3,8072 670,5 2,496344 439,6315 -230,8609
10 4914 5252 4,0829 719 2,559595 450,7708 -268,2755
5 13403,02 + 0 0 0 0 0
550 6 11168 12648 2,7579 485,7 2,175113 383,0596 -102,634
7 9573 10206 2,9295 515,9 2,293782 403,9583 -111,9611
8 8376 10206 2,5633 451,4 2,340017 412,1008 -39,32867
9 7446 8026 2,8974 510,3 2,447909 431,1017 -79,16093
10 6701 7040 2,0507 361,1 2,517288 443,3201 82,176525
5 16381 + 0 0 0 0 0
450 6 13651 + 0 0 0 0 0
7 11701 12648 2,3639 416,3 2,223215 391,5308 -24,778
8 10238 12648 2,0684 364,3 2,264564 398,8127 34,542557
9 9100 10206 2,2785 401,3 2,380606 419,2489 17,978303
10 8190 10206 2,0507 361,1 2,416735 425,6116 64,468065
5 18429 + 0 0 0 0 0
400 6 15537 + 0 0 0 0 0
7 13163 + 0 0 0 0 0
8 11518 12648 2,06 362,8 2,264564 398,8127 36,02574
9 10238 12648 1,8386 323,8 2,300759 405,1871 81,391415
10 9214 10206 2,0507 361,1 2,416735 425,6116 64,468065
Hasil didapatkan bahwa dengan UD 2,56 KW/m2K dengan panjang 9 m dan UD
450 Btu/hft2K.
𝐾𝑊 𝐵𝑡𝑢
𝑈𝐷 = 2,38060582 = 419,2489282
𝑚𝐾 ℎ𝑓𝑡 2 𝐹
Dari hasil perhitungan didapatkan hasil bahwa UD > Ureq, sehingga perhitungan
dapat dilanjutkan dengan hasil desain sebagai berikut.
Over-surface = (Uc/Ureq) – 1 = (3,19/2,28) – 1 = 40 %
Over-desain = (UD /Ureq) -1 = (2,38/2,28) − 1 = 4,48 %
−4
𝑘𝑔 2
∆𝑃𝑛 = 7,5 × 10 × 1 × (1490,644 ) / 1,027
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑛 = 1,6227 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃 = ∆𝑃𝑇𝑈𝐵𝐸 + ∆𝑃𝑀𝐼𝑁𝑂𝑅 + ∆𝑃𝑁𝑂𝑍𝑍𝐿𝐸
𝑇𝑂𝑇
𝐿 9
𝑛𝑏 = = = 6,56 ≅ 6 𝑏𝑎𝑓𝑓𝑙𝑒
𝐵 1,37
𝑑𝑠 𝐶 ′ 𝐵 2,7452 𝑚 × 0,00635 m × 1,37 m
𝑎𝑠 = = = 0,94064328 𝑚2
𝑃𝑇 0,0254 𝑚
𝑘𝑔
ṁ𝑠 149 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑠 = = = 158,4779712
𝑎𝑠 0,94064328 𝑚2 𝑠 𝑚2
𝑘𝑔
𝐷𝑒 𝐺𝑠 0,018542 m × 158,4779712
𝑅𝑒 𝑠 = = 𝑠 𝑚2 = 262365
𝜇𝑉𝑓𝑒𝑒𝑑 −5
1,12 x 10 kg/ms
𝑓𝐺𝑠 2 𝑑𝑠(𝑛𝑏 + 1)
∆𝑃𝑠 =
2000 𝐷𝑒 𝑠𝑉 ∅
𝑘𝑔 2
0,023 × (158,477 ) × 2,7432 m × (6 + 1)
∆𝑃𝑠 = 𝑠 𝑚2 = 1566,034 𝐾𝑃𝑎
2000 × 0,018542 m × 0,000191 × 1,0
Dari persamaan 11.65 dengan mengasumsikan total flow sebagai uap di kondisi
saat memasuki kondensor. Untuk kondensasi di shell dengan properi saturated
vapour, Bell and Mueller memberikan grafik untuk pengali dua fase rata-rata ∅−2
𝑉𝑂
dan sebagai fungsi fraksi uap dilambangkan xe .Dengan kondisi keluaran kondensor
berupa cairan, maka fraksi uap bernilai xe= 0.
∅−2 2
𝑉𝑂 (∆𝑃𝑓)𝑉𝑂 = 0,33 × 0,22𝑥𝑒 + 0,61𝑥𝑒 (0 ≤ xe ≤ 0,95)
∅−2
𝑉𝑂 (∆𝑃𝑓)𝑉𝑂 = 0,33 × 1566,034 𝐾𝑃𝑎 = 516,79 𝐾𝑃𝑎
Dari tabel dapat disimpulkan bahwa perhitungan dengan berbagai variasi tidak
dapat menurunkan tekanan secara signifikan. Pertimbangan selanjutnya yaitu
mengganti shell tipe E dengan tipe J (split flow). Tipe ini digunakan ketika drop
tekanan maksimum yang diizinkan melebihi tipe E. Aliran akan dibagi di sisi shell
dan mengurangi kecepatan aliran dan mengurangi penurunan tekanan. Sehingga
tipe shell and tube menjadi BJM dengan panjang tube 2,7452 m dan 10206 tube 2
laluan. Baffle spacing didapatkan dari Gambar 5.4 antara 0,4-1 sehingga diambil
B/ds 0,7.
∅−2
𝑉𝑂 (∆𝑃𝑓)𝑉𝑂 = 0,33 × 93,05𝐾𝑃𝑎 = 27,915 𝐾𝑃𝑎
−4
𝑘𝑔 2
∆𝑃𝑛, 𝑖𝑛 = 5 × 10 × 2,5 × (94,9 ) / 0,000191
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑛, 𝑖𝑛 = 2,947 𝐾𝑃𝑎
Menentukan nozzle sisi keluaran shell kondensor dengan nozzle 0,75 m.
𝑘𝑔
ṁ𝑉 149 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 𝜋 = 2
= 337,4282596
2 (𝜋/4) × (1 m) 𝑠 𝑚2
4 (𝐷𝑛𝑠)
∆𝑃𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 5 × 10−4 𝛼𝑟 𝐺𝑛2 /𝑠𝐿
−4
𝑘𝑔 2
∆𝑃𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 5 × 10 × 2,5 × (337,43 ) / 1,027
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 0,13858 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑠 = ∆𝑃𝑆𝐻𝐸𝐿𝐿 + ∆𝑃𝑛,𝑖𝑛 + ∆𝑃𝑛,𝑜𝑢𝑡
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑠 = 27,915 𝐾𝑃𝑎 + 2,947 𝐾𝑃𝑎 + 0,13858 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑠 = 31 𝐾𝑃𝑎 = 4,496 𝑃𝑠𝑖
u. Final Design Summary
Tube side fluid : cooling water
Shell-side fluid : condensing steam
Shell : Tipe BJM, 102 in. ID, horizontal STHE
Jumlah tube : 10206
Ukuran tube : 0,75 in. OD, 20 BWG, panjang 9 m
Layout tube : 1 in. Pitch segitiga
Laluan tube :2
Baffle : 40% cut, segmental type potong vertikal
Baffle spacing : 1,9 m
Jumlah baffle : Tipe J : 2 per laluan, total 4
Sealing strip : 1 sealing strip per 10 baris tube
Tube size nozzle : 1,5 m inlet dan outlet
Shell size nozzle : 2 buah nozzle diameter 1 m inlet,
1 buah nozzle diameter 0,75 m outlet
Material : tube menggunakan material copper brass (70%Cu,30%Zi),
shell menggunakan jenis material Stainless Steel.
Over-surface : 40 %
Over-desain : 4,48 %
Press. drop tube : 67,258 KPa = 9,755 Psi
Press. drop shell : 31 KPa=4,496 Psi
7. Lampiran
a. Heat transfer coefficient shell-side