0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
198 tayangan17 halaman

Desain Kondensor PLTU 175 MW

Dokumen tersebut merangkum desain kondensor pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 175 MW. Secara singkat, dokumen tersebut menjelaskan tentang tipe kondensor yang digunakan, alur proses perancangan kondensor, kriteria perancangan termal, asumsi-asumsi yang dibuat, dan perhitungan-perhitungan dasar yang dilakukan. Dokumen tersebut memberikan gambaran menyeluruh tentang proses perancangan kondensor pada PLTU.

Diunggah oleh

Eka Siti Nurlaili
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
198 tayangan17 halaman

Desain Kondensor PLTU 175 MW

Dokumen tersebut merangkum desain kondensor pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 175 MW. Secara singkat, dokumen tersebut menjelaskan tentang tipe kondensor yang digunakan, alur proses perancangan kondensor, kriteria perancangan termal, asumsi-asumsi yang dibuat, dan perhitungan-perhitungan dasar yang dilakukan. Dokumen tersebut memberikan gambaran menyeluruh tentang proses perancangan kondensor pada PLTU.

Diunggah oleh

Eka Siti Nurlaili
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DESAIN KONDENSOR PLTU 175 MW

Oleh Singgih Karunia Almasa


3210131012

1. Tipe Kondensor
Kondensor banyak digunakan di berbagai macam operasi di proses kimia maupun
perminyakan, termasuk destilasi, refrigeran, dan pembangkitan. Kondensor terdiri dari
2 jenis antara lain :
a. Surface Condenser
Proses pengubahan dilakukan dengan cara, sehingga uap akan memenuhi
permukaan luar pipa. Sedangkan air yang berfungsi sebagai pendingin akan
mengalir di dalam pipa (tube side), maka akan terjadi kontak antara keduanya
dimana uap yang memiliki temperatur panas akan bersinggungan dengan air
pendingin yang berfungsi untuk menyerap kalor dari uap. Sehingga temperatur
steam (uap) akan turun dan terkondensasi.
i. Horizontal Condenser
Banyak digunakan untuk mengondensasi tekanan tinggi atau uap korosif.
Tipe ini meletakkan tube pada posisi horizontal. Terdapat 2 jenis tempat
pengondensasian yaitu di shell dan di tube.

Gambar X. Horizontal shell-side condensor

ii. Vertical Condenser


Jenis ini banyak digunakan di vertical thermosiphon reboiler ketika fluida
pemanas adalah steam. Tipe ini jarang digunakan untuk proses kondensasi.
(Process Heat Transfer : 541)

b. Direct Contact Condenser


Cara kerja dari kondensor jenis ini yaitu proses kondensasi dilakukan dengan cara
mencampurkan air pendingin dan uap secara langsung. Jenis dari kondensor ini
disebut spray condenser.

2. Flowchart Pendesainan
MULAI
MULAI

Mengumpulkan
Mengumpulkan data
data yang
yang dibutuhkan
dibutuhkan
untuk
untuk mendesain
mendesain kondenser
kondenser
Ya

Ya

Ya

Ya
3. Kriteria Pendesaianan Thermal
a. Kondensasi uap terjadi di sisi shell (Termodinamika, Tabel 3.4)
i. Fouling : fouling fluid (water) lebih disarankan untuk ditempatkan di tube
karena memudahkan dalam perawatan. Tube yang memanjang memungkinkan
dilakukan pembersihan secara mekanik.
ii. Biaya : dengan desain peletakan material korosif ke dalam tube, head dan
pipa, maka dibutuhkan material tahan korosif di bagian-bagian tersebut.
Apabila shell diisi fluida korosif, maka material tahan korosif akan
ditempatkan di seluruh Shell and Tube Heat Exchanger (STHE) dengan luasan
yang lebih besar dibanding di tube sehingga perawatan dan pembuatan
memerlukan biaya lebih besar.
iii. Pressure drop rendah : apabila fluida dengan viscous tinggi ditempatkan di
tube dan buffle, maka akan menghasilkan pressure drop besar. Berbeda dengan
di tube yang banyak aliran lurus, akan menghasilkan pressure drop rendah.
iv. Meningkatkan enthalpy : uap memiliki volume besar dan enthalpy lebih kecil
daripada liquid, maka dengan menempatkan di shell (luas permukaan yang
besar) maka akan lebih meningkatkan enthalpy dari pada penempatan di tube.
v. Resiko : pada umumnya STHE mencegah resiko pembekuan dengan cara
menempatkan fluida dingin di dalam tube, karena mudah untuk mengganti dari
pada ditempatkan di shell.
b. Pemilihan Tube
Tipe 1 in. 20 BWG panjang 6 m, dipilih untuk menjaga STHE apabila terjadi
fouling. Disarankan lebih besar dari 1 in. 14 BWG dengan panjang tube yang bagus
dengan panjang ±6 m dan tidak boleh lebih panjang dari 10 m. Kecepatan aliran di
tube direkomendasikan 0,9-2,44 m/s. (Process Heat Transfer : 198) .
Material tube menggunakan Copper brass (70% Cu, 30% Zi) yang merupakan
campuran tembaga dan zink. Material ini memiliki konduktifitas termal 111 W/mK
dan cukup kuat untuk menahan kecepatan fluida ±2 m/s.
c. Bentuk Penempatan Tube
Tata letak tube berbentuk segitiga dengan jarak pitch 0,0254 m. Tataletak ini dipilih
untuk memaksimalkan luasan penukar kalor tetapi sebanding dengan pressure
drop. Pembersihan dapat dilakukan dengan fluida pembersih. Clearance antar tube
disarankan lebih besar dari 0,25 in (0,00635 m).

Gambar 1. Triangular pitch


d. Laluan Tube
Pada pendesainan ini menggunakan 2 laluan untuk menghasilkan STHE yang pas,
tidak terlalu panjang atau berdiameter besar. Laluan tube dapat mempengaruhi
kecepatan fluida di tube dan shell. Semakin sedikit laluan maka kecepatan fluida
akan semakin rendah dan mendekati laminer. Apabila diperbanyak memang akan
membuat aliran turbulen tetapi menimbulkan korosi di tube.
e. Tipe Shell dan Head
Pendesainan kondenser mengambil tipe BEM dengan pertimbangan sebagai
berikut (Tabel 5.D,235) :
 Front End Stat Head
Dipilih tipe B (bonnet) karena lebih murah dan memiliki kemungkinan
kebocoran yang minimal. Perawatan tipe ini diperlukan pelepasan head dari
shell tapi lebih safety daripada tipe head yang dapat dibongkar pasang.
 Tipe Shell
Dipilih tipe E, yang merupakan tipe floating head yang dapat meredam fluida
fouling. Tipe shell yang fleksibel karena per tube dapat dibongkar pasang.
Tipe ini juga tidak membutuhkan expansion joint seperti di tube sheet HE.
 Tipe tube HE
Dipilih tipe M, kelebihan yang dimiliki sama dengan tipe B.
f. Baffle dan Tubesheet
Baffle cut untuk steam (2 fase) dipilih 40% untuk memberikan distribusi aliran
dengan baik. Ketebalan tubesheet bervariasi tergantung parameter yang digunakan,
pada aktualnya antara 1-6 in (0,0254 - 0,1524 m).
g. Sealing Strip
Sepasang seling strip dipasang per 10 baris tube. Pemilihan ini dipilih berdasarkan
rekomendasi Simplified Delaware Method.
4. Asumsi
Pada pendesaianan kondensor ini diambil beberapa asumsi antara lain :
a. Kondensor tipe horizontal.
b. Kondisi operasi saat steady state.
c. Kehilangan panas dari kondenser ke lingkungan diabaikan.
d. Asumsi ϕi=1.0.
e. Temperatur dinding tube diasumsikan 50 ̊C (Perhitungan Tfilm).
5. Properties
Temperatur fluida pendingin masuk ke kondenser Tc in 25 ̊C
Temperatur fluida pendingin keluar dari kondenser Tc out 55 ̊C
Temperatur fluida steam masuk ke kondenser Th in 69,1 ̊C
Temperatur fluida steam keluar dari kondenser Th out 69,1 ̊C
Mass flow fluida panas PLTU total ṁ tot 210,067 kg/s
Prosentase ekstraksi mass flow dari turbin tingkat 1 y1 14,38 %
Prosentase ekstraksi mass flow dari turbin tingkat 2 y2 9,416 %
Prosentase ekstraksi mass flow dari turbin tingkat 3 y3 0,722 %
Prosentase ekstraksi mass flow dari turbin tingkat 4 y4 4,515 %
Prosentase ekstraksi mass flow dari turbin tingkat 5 y5 4,363 %
ID tube (3/4 in. 20 BWG) Di 0,01727 m
OD tube (3/4 in. 20 BWG) Do 0,01905 m
Percepatan gravitasi g 9,8067 m/s2
Konduktifitas Thermal Tube (Cu70%,30%) k 0,111 KW/m K
Fouling fluida air RDi 8,806 m2K/W
Fouling fluida steam RDo 96,867 m2K/W
Spesifik grafity air s 1,027
Spesifik gravity vapour (69,1̊ C) sv 0,000191
Fluida Air pada 40 ̊C
Cp (KJ/kg.K) 4,17
k (KW/m.K) 6,2748 x 10-4
µ (kg/m.s) 6,527 x 10-4
ρ (kg/m )
3
992,7345
Pr 4,5
Steam pada 69,1 ̊C
Properti Feed Kondensat
Cp (KJ/kg.K) 1,9852 -
-5
kv (KW/m.K) 2,1986 x 10 6,62308 x 10-4
µv (kg/m.s) 1,12 x 10-4 (ref. temp. film)
ρv (kg/m )3
0,191 978,2678
Pr 2,6 -

6. Perhitungan
a. Energy Balance
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = 𝑄ℎ𝑜𝑡 (𝑡𝑢𝑟𝑏𝑖𝑛) + 𝑄ℎ𝑜𝑡 (𝑦5)
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = (1 − 𝑦1 − 𝑦2 − 𝑦3 − 𝑦4 − 𝑦5) × ṁ𝑡𝑜𝑡 × ℎ8 + 𝑦5 × ṁ𝑡𝑜𝑡 ×
ℎ25 − (1 − 𝑦1 − 𝑦2 − 𝑦3 − 𝑦4) × ṁ𝑡𝑜𝑡 × ℎ9
𝑘𝑔 𝐾𝐽 𝑘𝑔 𝐾𝐽
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = 0,666 × 210 × 2624 𝑘𝑔 + 0,0436 × 210 × 604,74 𝑘𝑔 −
𝑠 𝑠
𝑘𝑔 𝐾𝐽
0,7 × 210 × 289,25 𝑘𝑔
𝑠
𝐾𝐽
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = 329536,6127 (𝐾𝑊)
𝑠

𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 = ṁ 𝑐𝑜𝑙𝑑 × 𝐶𝑝 × ∆𝑇
𝐾𝐽 𝐾𝐽
329536,6127 = ṁ 𝑐𝑜𝑙𝑑 × 4,17 𝑘𝑔 𝐾 × (55 ̊𝐶 − 25 ̊𝐶 )
𝑠
𝑘𝑔
ṁ 𝑐𝑜𝑙𝑑 = 2634,1856 𝑠

b. Mean Temperanture Difference


(𝑇ℎ 𝑜𝑢𝑡 − 𝑇𝑐 𝑖𝑛)
(∆𝑇𝑙𝑛)𝑐𝑓 = = 26,309 ̊𝐶
(ln(𝑇ℎ 𝑜𝑢𝑡/𝑇𝑐 𝑜𝑢𝑡)
Dalam kasus ini tidak terdapat perpedaan temperatur pada steam (∆T=0) atau
isothermal. Sehingga berdasarkan referensi buku Heat Transfer Process halaman
99, apabila salah satu fluida yang masuk heat exchanger dalam kondisi isothermal,
maka LMTD corection factor bernilai 1 (F=1.0).
∆𝑇𝑚 = 26,309 ̊𝐶
c. Perkiraan Overall Heat Transfer Coefficient
Dari Tabel 3.5 dipertimbangkan untuk kondensor dengan steam di sisi shell dan air
di sisi tube 400 ≤ UD ≤ 1000 Btu/h.ft2. ̊ F ( 2271.305 ≤ UD ≤ 5678.263 Watt/m2.K).
Maka diambil nilai tengahnya yaitu 750 Btu/h.ft2. ̊ F (4258,6975 Watt/m2.K)

d. Area perpindahan panas dan jumlah tube


𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 329536,6127 𝐾𝑊/𝑠
𝐴= = = 2941,162 𝑚2
𝑈𝐷 × ∆𝑇𝑚 4,258 𝐾𝑊/𝑚2. 𝐾 × 26,309 ̊𝐶
𝐴 2941,162 𝑚2
𝑛𝑡 = = = 8190,73 ≅ 10206 𝑡𝑢𝑏𝑒
𝜋 × 𝐷𝑖 × 𝐿 𝜋 × 0,01727 m × 6 m
Pemilihan tube dilakukan pendekatan pada Tabel C.4 buku Process Heat Transfer.

e. Ukuran shell
Berdasarkan Tabel C.4 didapatkan ukuran shell 108 in (2,7432 m) berdasarkan tube
10206.

f. Jumlah laluan dan kecepatan fluida di tube


4 × ṁ × (𝑛𝑝/𝑛𝑡)
𝑅𝑒 =
𝜋 × 𝐷𝑖 × 𝜇
4 × 2634,1856 𝑘𝑔/𝑠 × (𝑛𝑝/10206)
𝑅𝑒 = = 29150 𝑛𝑝
𝜋 × 0,01727 𝑚 × 6,527 x 10−4 kg/ms
Desain diberikan 2 laluan untuk memperikan turbulensi yang cukup pada tube.
Sehingga kecepatan di dalam tube menjadi.
4 × ṁ × (𝑛𝑝/𝑛𝑡)
𝑉=
𝜌 × 𝜋 × 𝐷𝑖 2
𝑘𝑔 2
4 × 2634,1856 𝑠 × (10206)
𝑉= 2
kg 10−4 kg
992,7345 3 × 𝜋 × 0,01727 𝑚 × (6,527 x ms )
m
𝑉 = 2,22 𝑚/𝑠
Desain didapatkan 2,22 m/s, masih dalam kisaran yang dapat diterima(< 2,43 m/s).

g. Overal coefficient yang diperlukan


𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑
𝑈𝑟𝑒𝑞 =
𝑛𝑡 × 𝜋 × Do × 𝐿 × ∆𝑇𝑚
𝐾𝑊
329536,6127 𝑠
𝑈𝑟𝑒𝑞 =
10206 × 𝜋 × 0,01905 m × 6 𝑚 × 26,309 𝐶
𝐾𝑊 𝐵𝑡𝑢
𝑈𝑟𝑒𝑞 = 3,417780418 2
= 601,9
𝑚 𝐾 ℎ𝑓𝑡 2 𝐹

h. Menghitung hi dengan mengasumsikan ϕi=1.0.


𝑅𝑒 = 29150 × 𝑛𝑝 = 29150 × 2 = 58300
𝑘 𝑎𝑖𝑟 1 𝜇 0,14
ℎ𝑖 = ( ) × 0,023𝑅𝑒 0,8 𝑃𝑟 3 ( )
𝐷𝑖 𝜇𝑤
6,2748 x 10−4 𝐾𝑊/𝑚𝐾 1
ℎ𝑖 = ( ) × 0,023(58300)0,8 (4,5)3 × 1.0
0,01727 m
𝐾𝑊
ℎ𝑖 = 8,959057762 𝑚2 𝐾 = 1577,781308 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑓𝑡 2 𝐹
i. Menghitung ho.
Menentukan muatan kondensat dengan persamaan (Heat Transfer Process :11.35).
𝑊 (1 − 𝑦1 − 𝑦2 − 𝑦3 − 𝑦4) × ṁ𝑡𝑜𝑡 149 𝑘𝑔/𝑠
Г ∗= 2/3
= 2/3
=
𝐿𝑛𝑡 𝐿𝑛𝑡 6𝑚 × (10206)2/3
𝑘𝑔
Г ∗= 0,052804658
𝑚𝑠
Dalam menentukan ho diperlukan viscositas kondenstat di kondisi dinding tube.
Sedangkan properti yang lain menggunakan temperatur vapour masuk shell.
Sehingga diasumsikan temperatur dinding tube 50 ̊C diatara temperatur pendingin
rata-rata 40 ̊C dan vapour rata-rata 69,1 ̊C.
𝑇𝑓 = 0,75𝑇𝑤 + 0,25𝑇𝑣 = 0,75 × 50 ̊C + 0,25 × 69,1 ̊C = 54,775 ̊C
Dari tabel steam properties didapatkan µL pada temperatur 54,775 ̊C sebesar
5,06.10-4 KJ/kgK.
1
𝑘𝐿3 𝜌𝐿 (𝜌𝐿 − 𝜌𝑣 )𝑔 3
ℎ𝑜 = 1,52 [ ]
4 𝜇𝐿 Г ∗
KW kg kg 𝑚 1/3
(6,62308 ×10−4 )3 ×992,74 ×(992,74−978,27) ×9,8 2
mK m3 m3 𝑠
ℎ𝑜 = 1,52 [ KJ 𝑘𝑔 ]
4×5,06×10−4 ×0,052804658
kg K 𝑚𝑠
𝐾𝑊
ℎ𝑜 = 4,800817879 = 845,4729185 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑓𝑡 2 𝐹
𝑚𝐾

j. Menghitung UD dari perhitungan fouling dan overall coefficient


m2K
𝑅𝐷𝑖 𝐷𝑜 8,806 W × 0,01905 m m2K
𝑅𝐷 = + 𝑅𝐷𝑜 = + 96,867
𝐷𝑖 0,01727 m W
m2K
𝑅𝐷 = 0,106579379
KW
−1
𝐷𝑜 𝐷𝑜 ln(𝐷𝑜/𝐷𝑖) 1
𝑈𝐷 = [ + + + 𝑅𝐷 ]
ℎ𝑖 𝐷𝑖 2𝑘𝑡𝑢𝑏𝑒 ℎ𝑜
−1
0,01905 m
0,01905 m 0,01905 m × ln ( ) 1 m2K
0,01727 m
𝑈𝐷 = [ + + + 0,106579379 ]
𝐾𝑊 𝐾𝑊 𝐾𝑊 KW
8,959 2 × 0,01727 m 2 × 0,111 4,8
𝑚 𝐾 𝑚𝐾 𝑚𝐾
𝐾𝑊 𝐵𝑡𝑢
𝑈𝐷 = 2,175113223 = 383,0595892
𝑚𝐾 ℎ𝑓𝑡 2 𝐹
Nilai UD < Ureq mengindikasikan bahwa overall coeficient yang dibutuhkan dalam
proses ini lebih kecil dari Ureq. Sehingga dilakukan iterasi dengan UD bervariasi
di dalam range 400 < Ud < 1000 Btu/hft2F. Besaran yang divariasikan yaitu
panjang tube dan jumlah tube untuk menentukan UD < Ureq dan masih dalam range
Ud. Hasil iterasi didapatkan data sebagai berikut.

UD Ureq Ud
L Selisih
Btu/ nt (nt)cf KW/ Btu/ Btu/
(m) KW/ m2K Btu/hft2F
hft2F m2K hft2F hft2F
5 9828 10206 4,1013 722,3 2,176536 383,3101 -338,9759
6 8190 10206 3,4178 601,9 2,240173 394,5173 -207,3886
750
7 7020 7040 4,247 747,9 2,373375 417,9756 -329,9609
8 6143 7040 3,7161 654,4 2,427268 427,4666 -226,9779
9 5460 6108 3,8072 670,5 2,496344 439,6315 -230,8609
10 4914 5252 4,0829 719 2,559595 450,7708 -268,2755

5 11341 12648 3,3095 582,8 2,117791 372,9645 -209,8678


6 9450 10206 3,4178 601,9 2,240173 394,5173 -207,3886
650
7 8026 10206 2,9295 515,9 2,293782 403,9583 -111,9611
8 7088 8026 3,2596 574 2,402704 423,1406 -150,9049
9 6300 7040 3,3032 581,7 2,474801 435,8377 -145,8907
10 5670 6108 3,4265 603,4 2,540991 447,4943 -155,9489

5 13403,02 + 0 0 0 0 0
550 6 11168 12648 2,7579 485,7 2,175113 383,0596 -102,634
7 9573 10206 2,9295 515,9 2,293782 403,9583 -111,9611
8 8376 10206 2,5633 451,4 2,340017 412,1008 -39,32867
9 7446 8026 2,8974 510,3 2,447909 431,1017 -79,16093
10 6701 7040 2,0507 361,1 2,517288 443,3201 82,176525

5 16381 + 0 0 0 0 0
450 6 13651 + 0 0 0 0 0
7 11701 12648 2,3639 416,3 2,223215 391,5308 -24,778
8 10238 12648 2,0684 364,3 2,264564 398,8127 34,542557
9 9100 10206 2,2785 401,3 2,380606 419,2489 17,978303
10 8190 10206 2,0507 361,1 2,416735 425,6116 64,468065

5 18429 + 0 0 0 0 0
400 6 15537 + 0 0 0 0 0
7 13163 + 0 0 0 0 0
8 11518 12648 2,06 362,8 2,264564 398,8127 36,02574
9 10238 12648 1,8386 323,8 2,300759 405,1871 81,391415
10 9214 10206 2,0507 361,1 2,416735 425,6116 64,468065
Hasil didapatkan bahwa dengan UD 2,56 KW/m2K dengan panjang 9 m dan UD
450 Btu/hft2K.

Ujicoba Perhitungan ke-2.


k. Area perpindahan panas dan jumlah tube ke-2.
𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑 329536,6127 𝐾𝑊/𝑠
𝐴= = = 4901,937623 𝑚2
𝑈𝐷 × ∆𝑇𝑚 2,555 𝐾𝑊/𝑚2. 𝐾 × 26,309 ̊𝐶
𝐴 4901,937623 𝑚2
𝑛𝑡 = = = 9100 ≅ 10206 𝑡𝑢𝑏𝑒
𝜋 × 𝐷𝑖 × 𝐿 𝜋 × 0,01727 m × 9 m

l. Jumlah laluan dan kecepatan fluida di tube ke-2.


Desain sama dengan perhitungan 1 dengan 2 laluan.
𝑅𝑒 = 58300 dan 𝑉 = 2,22 𝑚/𝑠

m. Overal coefficient yang diperlukan ke-2.


𝑞 𝑐𝑜𝑛𝑑
𝑈𝑟𝑒𝑞 =
𝑛𝑡 × 𝜋 × Do × 𝐿 × ∆𝑇𝑚
𝐾𝑊
329536,6127 𝑠
𝑈𝑟𝑒𝑞 =
10206 × 𝜋 × 0,01905 m × 9 𝑚 × 26,309 𝐶
𝐾𝑊 𝐵𝑡𝑢
𝑈𝑟𝑒𝑞 = 2,278520279 2 = 401,27
𝑚 𝐾 ℎ𝑓𝑡 2 𝐹

n. Menghitung hi dengan mengasumsikan ϕi=1.0 ke-2.


Nilai hi sama dengan perhitungan pertama.
𝐾𝑊
ℎ𝑖 = 8,959057762 𝑚2 𝐾 = 1577,781308 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑓𝑡 2 𝐹

o. Menghitung ho trial ke-2.


Menentukan muatan kondensat dengan persamaan (Heat Transfer Process :11.35).
𝑊 (1 − 𝑦1 − 𝑦2 − 𝑦3 − 𝑦4) × ṁ𝑡𝑜𝑡 149 𝑘𝑔/𝑠
Г ∗= = =
𝐿𝑛𝑡 2/3 𝐿𝑛𝑡 2/3 9𝑚 × (10206)2/3
𝑘𝑔
Г ∗= 0,035203105
𝑚𝑠
Dari tabel steam properties didapatkan µL pada temperatur 54,775 ̊C sebesar
5,06.10-4 KJ/kgK.
1
𝑘𝐿3 𝜌𝐿 (𝜌𝐿 − 𝜌𝑣 )𝑔 3
ℎ𝑜 = 1,52 [ ]
4 𝜇𝐿 Г ∗
1/3
KW kg kg 𝑚
(6,62308 × 10−4 )3 × 992,74 × (992,74 − 978,27) × 9,8 2
mK m3 m3 𝑠 ]
ℎ𝑜 = 1,52 [
KJ 𝑘𝑔
4 × 5,06 × 10−4 × 0,035203105
kg K 𝑚𝑠
𝐾𝑊
ℎ𝑜 = 5,495564602 = 967,8248914 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑓𝑡 2 𝐹
𝑚𝐾
p. Menghitung UD dari perhitungan fouling dan overall coefficient ke-2.
m2K
𝑅𝐷 = 0,106579379
KW
−1
𝐷𝑜 𝐷𝑜 ln(𝐷𝑜/𝐷𝑖) 1
𝑈𝐷 = [ + + + 𝑅𝐷 ]
ℎ𝑖 𝐷𝑖 2𝑘𝑡𝑢𝑏𝑒 ℎ𝑜
−1
0,01905 m
0,01905 m 0,01905 m × ln ( ) 1 m2K
0,01727 m
𝑈𝐷 = [ + + + 0,106579379 ]
𝐾𝑊 𝐾𝑊 𝐾𝑊 KW
8,96 2 × 0,01727 m 2 × 0,111 5,495
𝑚 𝐾 𝑚𝐾 𝑚𝐾

𝐾𝑊 𝐵𝑡𝑢
𝑈𝐷 = 2,38060582 = 419,2489282
𝑚𝐾 ℎ𝑓𝑡 2 𝐹
Dari hasil perhitungan didapatkan hasil bahwa UD > Ureq, sehingga perhitungan
dapat dilanjutkan dengan hasil desain sebagai berikut.
Over-surface = (Uc/Ureq) – 1 = (3,19/2,28) – 1 = 40 %
Over-desain = (UD /Ureq) -1 = (2,38/2,28) − 1 = 4,48 %

q. Faktor koreksi untuk sensible heat transfer.


Dikarenakan dalam pengondensasian, temperatur uap tidak berubah (isotermal)
sehingga faktor koreksi =1. Sehingga UD’ > Ureq.

r. Penurunan tekanan di sisi tube dengan asumsi ϕ=1.0.


Menentukan penurunan tekanan mayor di sisi tube.
𝑓 = 0,4137 𝑅𝑒 −0,2585 = 0,4137 58300−0,2585 = 0,024252618
𝑘𝑔
ṁ𝑡 (𝑛𝑝/𝑛𝑡) 2634,1856 𝑠 × (2/10206) 𝑘𝑔
𝐺𝑡 = = = 2203,158058
𝐴𝑓 (𝜋/4) × (0,01727 m)2 𝑠 𝑚2
𝑓 𝑛𝑝 𝐿𝑡 𝐺 2 0,0243 × 2 × 9 𝑚 × (2203,15)2
∆𝑃𝑡 = = = 59,72819 𝐾𝑃𝑎
2000 𝐷𝑖 𝑠 ∅ 2000 × 0,01727 m × 1,027 × 1,0
Menentukan penurunan tekanan di sisi head, belokan 180 ̊ tube. Dari tabel 5.1
dengan jumlah laluan 2, didapatkan 𝛼𝑟 sebesar 2,5.
𝑘𝑔 2
(2203,158 𝑠𝑚2)
∆𝑃𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 = 5 × 10−4 𝛼𝑟 𝐺𝑡 2 /𝑠 = 5 × 10−4 × 2,5 ×
1,027
∆𝑃𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 = 5,907869314 𝐾𝑃𝑎
Menentukan penurunan tekanan nozzle yang memasuki head STHE dengan
diameter nozzle 1,5 m.
4×ṁ
𝑅𝑒 𝑛 =
𝜋 × 𝐷 𝑛𝑜𝑧𝑧𝑙𝑒 × 𝜇𝑎𝑖𝑟
4 × 2634,1856 𝑘𝑔/𝑠
𝑅𝑒 𝑛 = = 3425718
𝜋 × 1,5 𝑚 × 6,527 x 10−4 kg/ms
𝑘𝑔
ṁ𝑡 2634,1856 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑛 = 𝜋 = 2
= 1490,644
2 (𝜋/4) × (1,5 m) 𝑠 𝑚2
4 (𝐷𝑛)
∆𝑃𝑛 = 7,5 × 10−4 𝑁𝑠𝐺𝑛2 /𝑠

−4
𝑘𝑔 2
∆𝑃𝑛 = 7,5 × 10 × 1 × (1490,644 ) / 1,027
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑛 = 1,6227 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃 = ∆𝑃𝑇𝑈𝐵𝐸 + ∆𝑃𝑀𝐼𝑁𝑂𝑅 + ∆𝑃𝑁𝑂𝑍𝑍𝐿𝐸
𝑇𝑂𝑇

∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑡 = 59,73 𝐾𝑃𝑎 + 5,908 𝐾𝑃𝑎 + 1,6227 𝐾𝑃𝑎


∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑡 = 67258,76275 𝐾𝑃𝑎 = 9,755 𝑃𝑠𝑖
Dikarenakan hasil < 10 Psi, maka pressure drop masih diperbolehkan.

s. Penurunan tekanan di sisi shell.


Untuk perhitungan friction factor di sisi shell menggunakan diagram pada
Lampiran 1. Didapatkan nilai f sebesar 0,021. Diameter shell pada perhitungan
sebelumnya sebesar 2,7432 m. Pada Gambar 3.12, dengan nilai OD tube ¾ in ∆ 1”
pitch didapatkan :
Clearance antara tube yang berdekatan C’ 0,00635 m
Equivalent diameter De 0,018542 m
Baffle cut Bc 40%
Rasio baffle dengan diameter shell B/ds 0,5
Friction factor shell (Gambar 5.1) f 0,023

𝐿 9
𝑛𝑏 = = = 6,56 ≅ 6 𝑏𝑎𝑓𝑓𝑙𝑒
𝐵 1,37
𝑑𝑠 𝐶 ′ 𝐵 2,7452 𝑚 × 0,00635 m × 1,37 m
𝑎𝑠 = = = 0,94064328 𝑚2
𝑃𝑇 0,0254 𝑚
𝑘𝑔
ṁ𝑠 149 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑠 = = = 158,4779712
𝑎𝑠 0,94064328 𝑚2 𝑠 𝑚2
𝑘𝑔
𝐷𝑒 𝐺𝑠 0,018542 m × 158,4779712
𝑅𝑒 𝑠 = = 𝑠 𝑚2 = 262365
𝜇𝑉𝑓𝑒𝑒𝑑 −5
1,12 x 10 kg/ms
𝑓𝐺𝑠 2 𝑑𝑠(𝑛𝑏 + 1)
∆𝑃𝑠 =
2000 𝐷𝑒 𝑠𝑉 ∅
𝑘𝑔 2
0,023 × (158,477 ) × 2,7432 m × (6 + 1)
∆𝑃𝑠 = 𝑠 𝑚2 = 1566,034 𝐾𝑃𝑎
2000 × 0,018542 m × 0,000191 × 1,0
Dari persamaan 11.65 dengan mengasumsikan total flow sebagai uap di kondisi
saat memasuki kondensor. Untuk kondensasi di shell dengan properi saturated
vapour, Bell and Mueller memberikan grafik untuk pengali dua fase rata-rata ∅−2
𝑉𝑂
dan sebagai fungsi fraksi uap dilambangkan xe .Dengan kondisi keluaran kondensor
berupa cairan, maka fraksi uap bernilai xe= 0.
∅−2 2
𝑉𝑂 (∆𝑃𝑓)𝑉𝑂 = 0,33 × 0,22𝑥𝑒 + 0,61𝑥𝑒 (0 ≤ xe ≤ 0,95)

∅−2
𝑉𝑂 (∆𝑃𝑓)𝑉𝑂 = 0,33 × 1566,034 𝐾𝑃𝑎 = 516,79 𝐾𝑃𝑎

Mendesain nozzle shell dengan diameter nozzle di shell = 2 m.


𝑘𝑔
ṁ𝑉 149 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑛 = 𝜋 = 2
= 47,45
2 (𝜋/4) × (2 m) 𝑠 𝑚2
4 (𝐷𝑛𝑠)
∆𝑃𝑛, 𝑖𝑛 = 5 × 10−4 𝛼𝑟 𝐺𝑛2 /𝑠𝑣
𝑘𝑔 2
∆𝑃𝑛 = 5 × 10−4 × 2,5 × (47,45 ) / 1,027
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑛 = 2,74 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 = ∆𝑃𝑆𝐻𝐸𝐿𝐿 + ∆𝑃𝑁𝑂𝑍𝑍𝐿𝐸
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑡 = 516,79 𝐾𝑃𝑎 + 2,74 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑡 = 519,53 𝐾𝑃𝑎 = 75,35 𝑃𝑠𝑖 (∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑡 ≫ 10 𝑃𝑠𝑖)
Dikarenakan hasil > 5 Psi, maka pressure drop tidak direkomendasikan. Untuk itu
dilakukan perubahan desain shell untuk mengurangi penurunan tekanan.
Perubahan dilakukan dengan iterasi dari beberapa nilai yang dimanipulasi.
Perubahan yang memungkinkan dilakukan yaitu memanipulasi B/ds dengan hasil
sebagai berikut.

B/ds jml Baffle ∆P shell (Pa) ∆P n (Pa) ∆P tot (Pa)


0,4 8 3146050,65 8841,29 3154891,94
0,5 6 1566034,10 8841,29 1574875,39
0,6 5 932163,15 8841,29 941004,45
0,7 4 570712,14 8841,29 579553,43
0,8 4 436951,48 8841,29 445792,77
0,9 3 276196,49 8841,29 285037,78
1 3 223719,16 8841,29 232560,45

Dari tabel dapat disimpulkan bahwa perhitungan dengan berbagai variasi tidak
dapat menurunkan tekanan secara signifikan. Pertimbangan selanjutnya yaitu
mengganti shell tipe E dengan tipe J (split flow). Tipe ini digunakan ketika drop
tekanan maksimum yang diizinkan melebihi tipe E. Aliran akan dibagi di sisi shell
dan mengurangi kecepatan aliran dan mengurangi penurunan tekanan. Sehingga
tipe shell and tube menjadi BJM dengan panjang tube 2,7452 m dan 10206 tube 2
laluan. Baffle spacing didapatkan dari Gambar 5.4 antara 0,4-1 sehingga diambil
B/ds 0,7.

Ujicoba Perhitungan ke-3.


t. Shell-side pressure drop.
Dikarenakan shell menggunakan tipe J, sehingga aliran massa dibagi menjadi 2.
𝑑𝑠 𝐶 ′ 𝐵 2,7452 𝑚 × 0,00635 m × 2,7452 m
𝑎𝑠 = = = 1,317 𝑚2
𝑃𝑇 0,0254 𝑚
𝑘𝑔
0,5 × ṁ𝑠 0,5 × 149 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑠′ = = = 56,59927543
𝑎𝑠 1,88 𝑚2 𝑠 𝑚2
𝑘𝑔
𝐷𝑒 𝐺𝑠 0,018542 m × 56,59
𝑅𝑒 ′ 𝑠 = = 𝑠 𝑚2 = 93702
𝜇𝑉 −5
10 kg
1,12 x ms
𝑓𝐺𝑠 2 𝑑𝑠(𝑛𝑏 + 1)
∆𝑃𝑠 =
2000 𝐷𝑒 𝑠𝑉 ∅
𝑘𝑔 2
0,025 × (56,5 ) × 2,7432 m × (2 + 1)
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑠 =
2000 × 0,018542 m × 0,000191 × 1,0
∆𝑃𝑠 = 93,05 𝐾𝑃𝑎
Dari persamaan 11.65 dengan mengasumsikan total flow sebagai uap di kondisi
saat memasuki kondensor. Untuk kondensasi di shell dengan properi saturated
vapour, Bell and Mueller memberikan grafik untuk pengali dua fase rata-rata ∅−2
𝑉𝑂
dan sebagai fungsi fraksi uap dilambangkan xe .Dengan kondisi keluaran kondensor
berupa cairan, maka fraksi uap bernilai xe= 0.
∅−2 2
𝑉𝑂 (∆𝑃𝑓)𝑉𝑂 = 0,33 × 0,22𝑥𝑒 + 0,61𝑥𝑒 (0 ≤ xe ≤ 0,95)

∅−2
𝑉𝑂 (∆𝑃𝑓)𝑉𝑂 = 0,33 × 93,05𝐾𝑃𝑎 = 27,915 𝐾𝑃𝑎

Menentukan 2 nozzle di sisi masuk shell kondensor dengan diameter nozzle 1 m.


𝑘𝑔
0,5 × ṁ𝑉 0,5 × 149 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑛, 𝑖𝑛 = 𝜋 = 2
= 94,9
2 (𝜋/4) × (1 m) 𝑠 𝑚2
4 (𝐷𝑛𝑠)
∆𝑃𝑛, 𝑖𝑛 = 5 × 10−4 𝛼𝑟 𝐺𝑛2 /𝑠𝑣

−4
𝑘𝑔 2
∆𝑃𝑛, 𝑖𝑛 = 5 × 10 × 2,5 × (94,9 ) / 0,000191
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑛, 𝑖𝑛 = 2,947 𝐾𝑃𝑎
Menentukan nozzle sisi keluaran shell kondensor dengan nozzle 0,75 m.
𝑘𝑔
ṁ𝑉 149 𝑠 𝑘𝑔
𝐺𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 𝜋 = 2
= 337,4282596
2 (𝜋/4) × (1 m) 𝑠 𝑚2
4 (𝐷𝑛𝑠)
∆𝑃𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 5 × 10−4 𝛼𝑟 𝐺𝑛2 /𝑠𝐿

−4
𝑘𝑔 2
∆𝑃𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 5 × 10 × 2,5 × (337,43 ) / 1,027
𝑠 𝑚2
∆𝑃𝑛, 𝑜𝑢𝑡 = 0,13858 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑠 = ∆𝑃𝑆𝐻𝐸𝐿𝐿 + ∆𝑃𝑛,𝑖𝑛 + ∆𝑃𝑛,𝑜𝑢𝑡
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑠 = 27,915 𝐾𝑃𝑎 + 2,947 𝐾𝑃𝑎 + 0,13858 𝐾𝑃𝑎
∆𝑃𝑇𝑂𝑇 𝑠 = 31 𝐾𝑃𝑎 = 4,496 𝑃𝑠𝑖
u. Final Design Summary
Tube side fluid : cooling water
Shell-side fluid : condensing steam
Shell : Tipe BJM, 102 in. ID, horizontal STHE
Jumlah tube : 10206
Ukuran tube : 0,75 in. OD, 20 BWG, panjang 9 m
Layout tube : 1 in. Pitch segitiga
Laluan tube :2
Baffle : 40% cut, segmental type potong vertikal
Baffle spacing : 1,9 m
Jumlah baffle : Tipe J : 2 per laluan, total 4
Sealing strip : 1 sealing strip per 10 baris tube
Tube size nozzle : 1,5 m inlet dan outlet
Shell size nozzle : 2 buah nozzle diameter 1 m inlet,
1 buah nozzle diameter 0,75 m outlet
Material : tube menggunakan material copper brass (70%Cu,30%Zi),
shell menggunakan jenis material Stainless Steel.
Over-surface : 40 %
Over-desain : 4,48 %
Press. drop tube : 67,258 KPa = 9,755 Psi
Press. drop shell : 31 KPa=4,496 Psi
7. Lampiran
a. Heat transfer coefficient shell-side

b. Recomended baffle cut


c. Gambar diagram Re dengan f (friction factor).
d. Desain Geomerti Kondensor

Anda mungkin juga menyukai