CARA PENGGUNAAN ISDN, CLOPIDOGREL, DAN ASPILET
1. ISDN
Tindakan farmakologis utama isosorbide dinitrate adalah relaksasi otot polos
vaskular dan dilatasi arteri perifer dan vena. Tablet oral isosorbide dinitrate
diindikasikan untuk pencegahan angina pektoris akibat penyakit arteri koroner.
Dosis awal yang biasa dari tablet oral isosorbide dinitrate adalah 5 mg hingga 20
mg, dua atau tiga kali sehari. Untuk terapi pemeliharaan, 10 mg hingga 40 mg,
direkomendasikan dua atau tiga kali sehari. Hipotensi berat dapat terjadi bahkan
dengan dosis kecil isosorbide dinitrate. Oleh karena itu obat ini harus digunakan
dengan hati-hati. Hipotensi yang disebabkan oleh isosorbide dinitrate dapat
disertai dengan bradikardia paradoks dan peningkatan angina pektoris.
Cara penggunaan ISDN:
- Untuk mencegah terjadinya angina pektoris pada pasien penyakit jantung
koroner, maka pasien akan diberikan tablet minum. Dosis yang akan
diberikan oleh dokter adalah 20-120 mg/hari. Besarnya dosis tergantung
pada respon tubuh pasien. Jika memungkinkan, dosis akan ditingkatkan.
Sedangkan batas maksimal pengkonsumsian obat ini adalah 240 mg/hari.
- Sedangkan jika gejala angina sudah terjadi, maka perlu pengobatan dengan
isosorbide dinitrate dalam bentuk tablet sublingual. Dosis yang akan diberikan
oleh dokter biasanya 2.5-10 mg/hari. Obat ini diminum dengan cara
diletakkan di bawah lidah pasien.
- Sedangkan pada kasus gagal jantung, dokter akan memberikan isosorbide
dinitrate dalam bentul tablet minum dan tablet sublingual. Untuk tablet minum
sendiri, dosis yang diberikan adalah sekitar 30-160 mg/hari. Dosis bisa
ditingkatkan tergantung kondisi pasien hingga mencapai batas maksimal 240
mg/hari. Sedangkan untuk tablet sublingual, dosis yang akan diberikan
biasanya berkisar 5-10 mg. Dan harus dikonsumsi setiap 2 jam sekali.
- Khusus untuk isosorbide dinitrate yang berupa suntikan, hanya diberikan oleh
dokter secara langsung pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Besarnya
dosis juga tergantung pada keadaan pasien.
(NIH, 2010).
2. Clopidogrel
Tablet Clopidogrel diindikasikan untuk mengurangi tingkat infark miokard (MI)
dan stroke pada pasien dengan peningkatan segmen ACS non-ST (angina tidak
stabil [UA] / non-ST-elevasi infark miokard [NSTEMI]), Clopidogrel harus
diberikan bersamaan dengan aspirin.
Tablet Clopidogrel diindikasikan untuk mengurangi tingkat infark miokard dan
stroke pada pasien infark miokard akut dengan ST-elevasi (STEMI) yang harus
dikelola secara medis. Clopidogrel bisulfate harus diberikan bersamaan dengan
aspirin. Pada pasien Acute Coronary Syndrome yang membutuhkan efek
antiplatelet dalam beberapa jam, mulai tablet clopidogrel dengan loading dose
(dosis pemuatan) 300 mg tunggal dan kemudian dilanjutkan dengan 75 mg
sekali sehari. Memulai clopidogrel tanpa dosis pemuatan akan menunda
pembentukan efek antiplatelet beberapa hari. Sedangkan pada pasien infark
miokard yang baru terjadi, stroke yang baru terjadi, atau penyakit arteri perifer
diberikan Clopidogrel 75 mg sehari sekali secara oral tanpa dosis pemuatan
(NIH, 2018).
3. Aspilet
Aspirin adalah analgesik prototipikal yang digunakan dalam pengobatan nyeri
ringan hingga sedang. Ini memiliki sifat anti-inflamasi dan antipiretik dan
bertindak sebagai penghambat siklooksigenase yang menghasilkan
penghambatan biosintesis prostaglandin. Aspirin juga menghambat agregasi
trombosit dan digunakan dalam pencegahan trombosis arteri dan vena. Aspilet
tablet dengan komposisi asam asetilsalisilat 80 mg di dalam setiap satu butir
tabletnya. Adapun dosis Aspilet yang dianjurkan adalah:
- Pada pengobatan penderita dengan serangan jantung, dosis yang dianjurkan
yaitu 2 tablet 80 mg sampai dengan 4 tablet 80 mg yang diberikan 1 kali
sehari (terutama saat serangan) dan 1 tablet 80 mg yang diberikan 1 kali
sehari (pada saat rumatan).
- Pada pengobatan penderita dengan serangan jantung, dosis yang dianjurkan
yaitu 2 tablet 80 mg sampai dengan 4 tablet 80 mg yang diberikan 1 kali
sehari (dalam 2 x 24 jam pasca stroke) dan 1 tablet 80 mg yang diberikan 1
kali sehari (pada saat rumatan).
(NIH, 2018)
RETINOPATHY OF PREMATURITY (ROP)
Retinopati prematuritas (ROP) adalah penyakit mata pada beberapa bayi
prematur yang lahir sebelum 31 minggu. Ini adalah masalah yang mempengaruhi
jaringan di belakang mata yang disebut retina. Penyebab ROP belum diketahui
secara pasti. Pembuluh darah di mata biasanya selesai berkembang beberapa
minggu sebelum kelahiran. Seorang bayi yang lahir awal terkena banyak hal
berbeda. Obat-obatan, oksigen, cahaya terang, atau perubahan suhu bisa
memengaruhi perkembangan pembuluh darah mata.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat berkontribusi pada ROP:
- Berat badan lahir rendah
- Seberapa dini bayi dilahirkan. Bayi prematur yang lahir pada 28 minggu
memiliki risiko lebih besar untuk mengalami ROP dari pada bayi prematur
yang lahir pada usia 32 minggu.
- Memberi bayi oksigen ekstra setelah lahir.
- Bayi prematur juga lebih mungkin untuk mendapatkan ROP jika mereka
memiliki masalah kesehatan lainnya. Masalah-masalah ini termasuk anemia,
tidak cukup vitamin E, atau masalah pernapasan.
(American Academy of Ophthalmology, 2018)
Efek primer oksigen terhadap pembuluh darah retina yang belum matang
pada binatang percobaan adalah terjadinya vasokonstriksi retina. Apabila
konstriksi ini bertahan akan diikuti oleh penutupan pembuluh darah pada
berbagai tingkat, kemudian akan menimbulkan kerusakan endotel dan akan
menyebabkan penutupan sempurna pembuluh darah yang belum matang
tersebut. Pembuluh darah baru akan terbentuk pada daerah yang mengalami
kerusakan kapiler retina tersebut. Pembuluh darah baru ini akan menyebar di
permukaan retina dan berkembang sampai ke korpus vitreus (Nasution, A.,
2001).
Kanul nasal : Low flow device flow < 2 L/menit
Masker : 1 L/menit (low flow)
(Budiman, A., 2016)
GLIBENKLAMID
Glibenklamid adalah agen hipoglikemik oral sulfonilurea baru untuk
mengontrol diabetes mellitus. Dosis awal adalah 2,5 hingga 5 mg dan dosis
maintenance (pemeliharaan) berkisar antara 2,5 mg hingga 40 mg setiap
hari, tetapi mayoritas pasien yang telah terkontrol dengan baik pada
glibenklamid membutuhkan 10 mg setiap hari atau kurang; sebagai dosis
tunggal diminum dengan atau segera setelah sarapan. Peningkatan dosis di
atas 15 hingga 20 mg biasanya tidak menghasilkan efek yang meningkat,
tetapi penambahan biguanide menghasilkan peningkatan kontrol pada
banyak pasien. Ketika dosis harian melebihi 10 mg, direkomendasikan bahwa
dosis harian total diberikan dalam dua dosis terbagi; satu dosis dengan
sarapan dan yang lainnya dengan makan malam. Ketika glibenklamid dipakai
sebagai dosis pagi tunggal, variasi glukosa darah selama 24 jam telah
terbukti kecil (NIH, 2012).