ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK KREDIT
BERMASALAH (NONPERFORMING LOAN) SESUAI PSAK NO.
31 PADA [Link] MANDIRI (PERSERO), Tbk DI UNIT
REGIONAL CREDIT RECOVERY MAKASSAR
GUNAWAN ZAKARIAH
A31106641
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK KREDIT
BERMASALAH (NONPERFORMING LOAN) SESUAI PSAK
NO. 31 PADA [Link] MANDIRI (PERSERO), Tbk DI UNIT
REGIONAL CREDIT RECOVERY MAKASSAR
Oleh:
GUNAWAN ZAKARIAH
A31106641
Skripsi Sarjana Lengkap Untuk Memenuhi
Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Hasanuddin Makassar
Disetujui Oleh,
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Abdul Latief, [Link], Ak. Drs. Asri Usman, [Link], Ak.
NIP: 19630515 1992031003 NIP: 196510181994121002
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil Alamiin, segala puji dan syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
petunjuk-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat
dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad
SAW beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang telah
memberikan pedoman dan suri tauladan yang terbaik hingga akhir jaman.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melengkapi salah satu syarat dalam
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Hasanuddin Makassar. Dalam penulisan skripsi ini penulis mengakui
masih terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Keadaan ini semata-
mata karena keterbatasan kemampuan yang ada pada diri penulis, oleh karena
itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun.
Dalam menyusun skripsi ini penulis mengalami banyak hambatan
yang menimbulkan kesulitan, namun berkat bantuan, bimbingan, petunjuk,
dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan. Maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih yang tulus dan tak terhingga kepada:
1. Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan sumber
dari segala ilmu pengetahuan dan hanya atas rahmat dan izin-Nya
skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Ibu dan Bapakku tercinta H. Zakariah dan HJ. Maryanti, Kakakku satu-
satunya Megawati SE, kakak ipar ku Muh Ikbal SE, dan adik-adik ku
serta seluruh keluargaku yang senantiasa memberikan doa, nasehat,
dukungan, dan semangat dalam penyelesain skripsi ini.
3. Bapak Prof. DR. H. Muh. Ali, SE., M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Hasanuddin dan seluruh Pembantu Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Hasanuddin.
4. Bapak DR. H. Abdul Hamid Habbe, SE., [Link] selaku Ketua Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
5. Bapak Drs. Syahrir, [Link]., Ak selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
6. Bapak Drs. H. Abdul Latief, [Link], Ak., selaku dosen pembimbing
skripsi I, yang senantiasa sabar dan ikhlas dalam membimbing dan
meluangkan waktunya dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Bapak Drs. Asri Usman, Msi, Ak., selaku dosen pembimbing skripsi II,
yang senantiasa sabar dan ikhlas dalam membimbing dan
meluangkan waktunya dalam penyelesaian skripsi ini.
8. Bapak Drs. M. Ishak Amsari, [Link]., Ak selaku Penasehat Akademik
yang telah mengarahkan dan memberikan nasehat dalam perkuliahan.
9. Pimpinan dan staf Bank Mandiri (Persero), terutama kepada Pak Joko
dan Usdik yang telah membantu dan memberikan ijin untuk
mengadakan penelitian.
[Link] Umar, Pak Akbar, Pak Aso, Pak Safar, Pak Asmari, Pak Ichal, Pak
H. Muis, Pak Tarru, Ibu Sri, dan Santi yang selalu memberikan bantuan
selama penyusunan skripsi ini.
11. Teman-teman di Fakultas Ekonomi Jurusan akuntansi 2006 Unhas,
khususnya Ilham Sultan, Zulhaedir, Ria, Yana, Fitri, dan Azmi yang
telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi.
12. Teman-teman dan Sepupu ku, Khususnya Muh. Irfan, Ammar, Khalil,
Eming, K’ Harfiah, K’ Lina, Phipi, Ita, Dewi, Mita, Bang Fahri, Bang DK,
Dan Anho, yang telah banyak membantu dan memberikan saran-saran
dalam penyusunan skripsi.
[Link] Alumni Smansa 06 Sinjai, dimanapun kalian berada jangan
pernah menyerah pada keadaan, tetap smangat.
14. Semua pihak yang telah memberikan bantuan yang tak sempat disebutkan
satu per satu, penulis mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran.
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
dan bagi para pembaca, dan menjadi bagian dari ibadah untuk
mendapatkan keridhoan Allah SWT. Amin Yaa Rabbal Alamiin…..!
Makassar, Agustus 2011
Gunawan Zakariah
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………..i
HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………..ii
KATA PENGANTAR………………………………………………………….iii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………...vii
DAFTAR TABEL……………………………………………………………..xii
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………..4
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian…………………………………...5
1.3.1 Tujuan penelitian…………………………………………......5
1.3.2 Manfaat penelitiaan…………………………………………..5
1.4 Sistematika Penulisan…………………………………………….6
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Akuntansi ……………………………………………7
2.2 Asumsi Dasar Akuntansi…………………………………………9
2.3 Konsep Pengakuan dan Pengukuran unsur Laporan
Keuangan Menurut Standar Akuntansi Keuangan……………...11
2.3.1 Pengakuan Unsur Laporan Keuangan………………………11
2.3.2 Pengukuran Unsur Laporan Keuangan……………………...14
2.4 Konsep Akuntansi Perbankan…………………………………...16
2.4.1 Definisi Bank………………………………………………..16
2.4.2 Standar Akuntansi Keuangan Perbankan di Indonesia……...17
2.5 Akuntansi Pendapatan…………………………………………..17
2.6 kredit…………………………………………………………….19
2.6.1 Pengertian Kredit……………………………………………19
2.6.2 Pengakuan dan Pengukuran Kredit…………………………21
2.6.3 Unsur-Unsur Kredit…………………………………………22
2.6.4 Tujuan dan Fungsi Kredit…………………………………...23
2.6.5 Jenis-Jenis Kredit Perbankan………………………………..26
2.6.6 Pengertian dan Ruang Lingkup Risiko Kredit………………33
[Link] Pengertian Risiko Kredit………………………………...33
[Link] Ruang Lingkup Risiko Kredit…………………………...33
2.6.7 Nonperforming Loan………………………………………..34
2.6.8 Upaya Penyelamatan Kredit Macet…………………………38
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian……………………………………………...42
3.2 Jenis dan Sumber Data………………………………………..42
3.2.1 Jenis Data…………………………………………………...42
3.2.2 Sumber Data………………………………………………..43
3.3 Metode Pengumpulan Data…………………………………...43
3.4 Metode Analisis……………………………………………….44
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
4.1 Sejarah Umum Perusahaan…...……………………………….45
4.2 Visi dan Misi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk………………46
4.3 Gambaran Umum PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk, Regional
Credit Recovery Makassar……………………………….........48
4.4 Struktur Organisasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk, Regional
Credit Recovery Makassar…………………………………….49
4.5 Pembagian Tugas……………………………………………...50
4.6 Kegiatan Usaha Perusahaa…………………………………….52
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)……………………54
a. Pengakuan Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)……….54
b. Pengukuran Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan………55
5.2 Pendapatan Bunga…………………………………………….56
a. Pengakuan Pendapatan Bunga………………………..............56
b. Pengukuran pendapatan Bunga……………………………….57
5.3 Penyajian Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)……...…58
5.4 Analisis Terhadap NPL………………………………...……...58
5.5 Analisis Terhadap Pendapatan Bunga…………...……………72
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan………………………………...………………….73
6.2 Saran……………………………...…………………………...74
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 5.1 Rekapitulasi Portofolio NPL Berdasarkan Komposisi
Kredit Wilayah X…………………………………………………..53
Tabel 5.2 Rasio Pinjaman Bermasalah Bank Mandiri Wilayah X……………54
Tabel 5.3 Kategori Golongan Berdasarkan Tunggakan Angsuran
Bulanan Kredit……………………………………………………...55
Tabel 5.4 Perbandingan Perlakuan Akuntansi dan Nonperforming
Loan Menurut PSAK 31 Tentang Akuntansi Perbankan
(Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) dengan PAPI
(Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia)………………………..59
DAFTAR LAMPIRAN
Neraca Konsolidasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk. Dan Anak
Perusahaan 31 Oktober 2010 Dan 2009
Laporan Laba Rugi Konsolidasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk. Dan
Anak Perusahaan 31 Oktober 2010 dan 2009
Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk.
Dan Anak Perusahaan 31 Oktober 2010 dan 2009
Laporan Arus Kas Konsolidasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk. Dan Anak
Perusahaan 31 Oktober 2010 dan 2009
Catatan Atas Laporan keuangan konsolidasi PT. Bank Mandiri (Persero),
Tbk. Dan Anak Perusahaan 31 Oktober dan 2009
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia memiliki kebutuhan yang beraneka ragam dan tak terbatas.
Kebutuhan manusia akan terus meningkatkan seiring dengan perkembangan
kehidupan manusia. Padahal kemampuan sebagian besar masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan tersebut terbatas. Dalam memperoleh apa yang mereka
butuhkan diperlukan adanya pengorbanan. Bentuk pengorbanan yang paling
umum adalah pengorbanan dana. Oleh karena adanya keterbatasan kepemilikan
dana dalam memenuhi kebutuhan maka diperlukan adanya pinjaman/kredit.
Bank merupakan salah satu sarana yang mempunyai peran strategis dalam
pemberian dana berupa kredit. Selain itu, bank juga merupakan sebuah lembaga
keuangan yang telah banyak membantu dalam pemenuhan kebutuhan dana bagi
kegiatan perekonomian nasional. Bank berfungsi sebagai perantara antara pihak
yang memerlukan dana dengan pihak yang memiliki dana. Undang-undang Nomor
10 Tahun 1998 tentang perbankan menyebutkan bahwa fungsi utama perbankan
Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat yang
bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional ke arah peningkatan
kesejahteraan rakyat banyak. Dalam hal ini bank menyalurkan dana yang berasal
dari masyarakat dengan cara memberikan berbagai macam kredit. Pengelolaan dan
pengamanan kredit tidak terlepas dari kebijakan perkreditan
bank, yang mana hal tersebut menyangkut kebijakan terhadap
pengawasan atau supervise atas kredit yang diberikan.
Pengertian kredit menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998
adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman meminjam antara bank
dan pihak lain yang mewajibkan pihak pinjaman untuk melunasi hutangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Berdasarkan
ketentuan tersebut dalam pembukaan kredit perbankan harus didasarkan
pada persetujuan atas kesepakatan pinjaman meminjam atau dengan istilah
lain harus didahului dengan adanya perjanjian kredit.
Perjanjian kredit yang diberikan oleh bank kepada nasabah bukanlah
tanpa risiko, karena suatu risiko mungkin saja terjadi. Risiko yang umumnya
terjadi adalah risiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasan. Keadaan
tersebut sangatlah berpengaruh kepada kesehatan bank, karena uang yang
dipinjamkan kepada debitur berasal atau bersumber dari masyarakat yang
menyimpan pada bank itu sehingga resiko tersebut sangat berpengaruh atas
kepercayaan masyarakat kepada bank.
Analisis kredit mencakup latar belakang nasabah atau perusahaan, prospek
usahanya, jaminan, yang diberikan serta faktor-faktor lainnya. Tujuan analisis ini
adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman. Pemberian
kredit tanpa dianalisis terlebih dahulu akan sangat membahayakan
bank. Nasabah dalam hal ini dengan mudah memberikan data fiktif,
sehingga mungkin saja kredit sebenarnya tidak layak untuk diberikan
kepada calon debitur. Kemudian jika salah dalam menganalsis, maka
kredit yang disalurkan yang sebenarnya tidak layak menjadi layak
sehingga berakibat sulit untuk ditagih alias macet.
Kredit bermasalah (Non Performing Loan) merupakan salah satu
persoalan utama bagi yang dihadapi perbankan saat ini. Apalagi sejak
perekonomian bergejolak akibat imbas krisis global, jumlah kredit bermasalah
terutama kredit macet makin meningkat. Perbankan harus lebih hati-hati dalam
pemberian kredit dan memperkokoh manajeman kreditnya. Untuk itulah sebagai
bank milik pemerintah salah satunya PT. Bank Mandiri yang merupakan salah
satu bank yang akte pendirian maupun modalnya sepenuhnya dimiliki oleh
pemerintah Indonesia dan telah lama beroperasi tentunya memiliki banyak
metode dalam perlakuan akuntansi yang diterapkan.
Menurut PSAK 31 tentang perbankan, pada saat kredit diklasifikasikan
sebagai nonperforming, bunga yang telah diakui tetapi bunga tersebut belum tertagih
harus dibatalkan. Seluruh penerimaan yang berhubungan dengan kredit diragukan
dan macet diakui terlebih dahulu sebagai pengurang pokok kredit. Kelebihan
penerimaan dari pokok kredit diakui sebagai pendapatan bunga. Pendapatan bunga
dari kredit dan aktiva produktif lain yang nonperforming diakui pada saat pendapatan
tersebut diterima. Dasar pengukuran terhadap kredit sebagai
komponen dari aktiva baik aktiva performing maupun nonperforming
menggunakan konsep historical cost. Dalam hal penyajian kredit pada
laporan keuangan disajikan pada neraca sebagai komponen dari aktiva
dengan nama rekening “kredit yang diberikan” setelah dikurangi penyisihan
penghapusan kredit. Penyisihan penghapusan kredit merupakan risiko dari
kredit yang nonperforming. Kebijakan dan penanganan kredit nonperforming
atau bermasalah harus diungkapkan oleh bank.
karena penulis melihat bahwa kredit merupakan salah satu indikator penting
dalam keberhasilan suatu bank maka berdasarkan latar belakang di atas
penulis mencoba menganalisis bagaimana perlakuan akuntansi untuk kredit
bermasalah (nonperforming loan) dari segi pengakuan, pengukuran,
penyajian dan pengungkapannya dengan judul “Analisis Perlakuan Akuntansi
Untuk Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) Sesuai PSAK No. 31 Pada
PT Bank Mandiri (Persero), Tbk, Di Unit Regional Credit Recovery Makassar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka
yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah perlakuan akuntansi yang diterapkan oleh PT. Bank
Mandiri untuk nonperforming loan sudah sesuai dengan PSAK No.
31 (revisi thn 2000) tentang akuntansi perbankan ?
1.3 Tujuan dan Manfaat penelitian
1.3.1 Tujuan penelitian
Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kapan munculnya nilai kredit bermasalah, setelah itu
membandingkan perlakuan akuntansi pada PT. Bank Mandiri untuk
nonperforming loan dengan PSAK 31 tentang akuntansi perbankan.
2. Untuk memberikan pemahaman tentang metode akuntansi apa yang
diterapkan PT. Bank Mandiri untuk mengatasi nonperforming loan.
1.3.2 Manfaat penelitian
manfaat hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memberikan gambaran, penjelasan dan pemaparan
tentang ciri khusus perlakuan akuntansi untuk nonperforming
loan dan sebagai acuan bagi bank-bank umum yang ada di
Indonesia, dalam perlakuan akuntansinya harus menggunakan
PSAK No. 31 tentang akuntansi perbankan.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang akan digunakan dalam penulisan
skripsi ini adalah sebagai berikut :
BAB I Merupakan bab pendahuluan yang menguraikan latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan
sistematika penulisan.
BAB II Merupakan bab landasan teori yang menguraikan teori-teori
yang berhubungan erat dengan pokok masalah.
BAB III Merupakan bab yang membahas mengenai metode penelitian
yang terdiri atas objek penelitian, metode pengumpulan data,
jenis dan sumber data, dan metode analisi.
BAB IV Merupakan bab yang membahas gambaran umum perusahaan yang
meliputi : sejarah berdirinya PT. Bank Mandiri, visi dan misi, strukutr
organisasi, pembagian tugas dan kegiatan usaha PT. Bank Mandiri .
BAB V Merupakan bab pembahasan mengenai penjelasan atas
perlakuan akuntansi untuk kredit bermasalah (nonperforming
loan) pada PT. Bank Mandiri.
BAB VI Merupakan bab penutup, yang berisi kesimpulan dan saran-saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Akuntansi
Akuntansi lahir dari lingkungan ekonomi kapitalis. Ilmu akuntansi ini
memberikan informasi tentang kekayaan itu dari mana sumbernya. Utang atau
modal (Neraca), beberapa kenaikannya secara periodik (Laporan Laba Rugi).
Akuntansi ini adalah alat mengukur alat pertanggung jawaban sekaligus sistem
informasi. Yang diukur adalah aktivitas ekonomi yang memiliki sifat-sifat yang
sudah maju bukan aktivitas ekonomi yang masih kuno misalnya masih
menggunakan sistem barter. Cara pengukurannya juga menggunakan unit
moneter yang dianggap stabil dan menggunakan historical cost.
Akuntansi merupakan seni dalam mencatat, menggolongkan dan
mengikhtisarkan semua transaksi-transaksi dan peristiwa yang terkait
dengan keuangan yang telah terjadi dengan suatu cara yang bermakna
dan dalam satuan uang.
Definisi lain dapat juga dipakai untuk memahami lebih dalam
pengertian akuntansi ini. Dalam buku A Statement of basic Accounting
Theory (ASOBAT) dikutip dalam Sofyan Syafri Harahap (2008:5),
akuntansi diartikan sebagai berikut :
Proses mengindentifikasi, mengukur, dan menyampaikan informasi
ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal mempertimbangkan
berbagai alternatif dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya.
Komite istilah American Institute of Certified Public Accounting (AICPA)
dikutip dalam sofyan Syafri Harahap (2008:5) mendefinisikan akuntansi sebagai
berikut :
Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan
pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter,
transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat
keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
American accounting association dikutip dalam Soemarso S.R (2004:3)
mendefinisakan akuntansi sebagai :
Proses mengindentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi,
untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan
tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut.
Definisi ini mengandung dua pengertian, yakni :
1. Kegiatan Akuntansi
Bahwa akuntansi merupakan proses yang terdiri dari identifikasi,
pengukuran dan pelaporan informasi ekonomi.
2. Kegunaan Akuntansi
Bahwa informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi
diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan
mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan.
Tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi dari suatu
kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepantingan. Akuntansi juga
sangat erat kaitannya dengan informasi keuangan. Badan yang berwenang dan
beberapa para ahli memberi pengertian yang bervariasi bergantung pada
sudut dan penekanan yang mereka anut. Disamping itu, pengertian akuntansi
juga berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi.
2.2 Asumsi Dasar Akuntansi
Dalam Standar Akuntansi Keuangan (2004:6), Ikatan Akuntansi
Indonesia (IAI) mengakui asumsi dasar akuntansi sebagai berikut :
1. Dasar Akrual
Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar akrual.
Dengan dasar ini pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat
kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar)
dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan
keuangan pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan yang
disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada pemakai tidak
hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran
kas tetapi juga kewajiban pembayaran kas dimasa depan serta sumber
daya yang merepresentasikan kas yang akan diterima dimasa depan.
2. Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha
perusahaan dan akan melanjutkan usahanya dimasa depan. Karena itu,
perusahaan mengurangi secara material skala usahanya. Jika maksud atau
keinginan tersebut timbul, laporan keuangan mungkin harus disusun dengan
dasar yang berbeda atau dasar yang digunakan harus diungkapkan.
Dalam hal menyiapkan laporan keuangan, manajemen suatu peusahaan
menggunakan cara yang berbeda sesuai dengan tujuan perusahaan masing-
masing, maka laporan keuangan harus mengikuti Standar Akuntansi Keuangan
bila diterbitkan untuk pihak lain, misalnya pemegang saham, kreditur dan
masyarakat luas. Laporan keuangan harus jelas dan dapat dimengerti
berdasarkan kebijkan akuntansi yang berbeda diantara suatu perusahaan
dengan perusahaan lain, dalam suatu negara maupun antar negara.
Dalam pernyataan Standar Akuntansi (2004:7) diungkapkan
bahwa, agar laporan keuangan tersebut bisa dimengerti oleh pemakai
harus memenuhi empat karakteristik laporan keuangan, yaitu :
1. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan
keuangan adalah kemudahannya untuk dapat langsung dipahami
oleh pemakai. Jika diperlukan suatu tingkatan pemahaman yang
memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis.
2. Relevan
Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi
keputusan masa kini atau masa depan, menegaskan atau
mengoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu.
3. Keandalan
Informasi memiliki kualitas yang andal jika bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakaiannya
sebagai penyajian yang jujur atau tulus dari yang seharusnya disajikan
atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.
4. Dapat dibandingkan
Implikasi penting dari karakteristik kualitatif dapat diperbandingkan
adalah bahwa pemakai harus mendapat informasi tentang kebijakan
akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dari
perubahan kebijakan serta pengaruh perubahan tersebut. Selain itu
pemakai juga harus dimungkinkan untuk dapat mengidentifikasi
perbedaan kebijakan akuntansi yang diberlakukan untuk transaksi
serta peristiwa lain yang sama dalam sebuah perusahaan dari suatu
periode keperiode dan dalam perusahaan yang berbeda.
2.3 Konsep Pengakuan dan Pengukuran Unsur Laporan keuangan
menurut Standar Akuntansi Keuangan
2.3.1 Pengakuan Unsur Laporan Keuangan
Kalau suatu transaksi atau kejadiaan dikatakan “diakui” (to be recognized)
maka berarti jumlah rupiah transaksi tersebut dicatat ke dalam sistem pencatatan
sehingga akan mempengaruhi laporan keuangan. Suwardjono (2002:35),
berdasarkan penjelasan tersebut, pengakuan berhubungan dengan
masalah apakah suatu transaksi dicatat atau tidak.
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 31 tentang
perbankan, Ikatan Akuntan Indonesia (2007:4), “kredit yang diberikan dalam
rangka pembiayaan bersama dicatat sebesar tagihan bank yang
bersangkutan”. Menurut pernyataan ini, kredit diakui pada saat pencairannya
sebesar pokok kredit. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama diakui
sebesar pokok kredit yang merupakan porsi tagihan bank yang bersangkutan.
Dalam pengertian pokok kredit tidak termasuk bunga yang dibayar di muka
lainnya. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama kepada nasabah dananya
disediakan oleh lebih dari satu bank. Oleh karena itu, pokok kredit yang diakui
hanya sebesar porsi tagihan bank yang bersangkutan. Dalam perlakuan
akuntansinya, kredit bank diakui sebagai aktiva produktif dalam neraca.
Definisi pengakuan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2007:15), bahwa
pengakuan (recognition) merupakan proses pembentukan suatu pos yang
memenuhi definisi unsur serta kriteria pengakuan yakni :
a. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan
pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam perusahaan.
b. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata
maupun dalam jumlah uang dan mencantumkan kedalam neraca atau laporan
laba rugi dan kelalaian untuk mengakui pos tersebut tidak dapat diralat
melalui pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan maupun
melalui catatan atau materi penjelasan.
Didalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan,
PSAK (2004:21), dijelaskan tentang proses pengakuan yaitu :
a. Pengakuan aktiva
Aktiva diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa
manfaat ekonomi dimasa depan diperoleh dan aktiva tersebut
mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
b. Pengakuan kewajiban
Kewajiban diakui dalam neraca jika besar kemungkinan bahwa
pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan
dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang, dan
jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
c. Pengakuan penghasilan
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat
ekonomi dimasa depan yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau
penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal.
d. Pengakuan beban
Beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi
masa depan yang berkaitan dengan penurunan aktiva atau
peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal.
1.3.2 Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
Pengukuran (measurement) adalah penentuan jumlah rupiah
sebagai unit pengukuran suatu objek yang terlibat dalam suatu transaksi
keuangan (Suwardjono, 2002:35).
Ikatan Akuntan Indonesia dalam standar Akuntansi keuangan (2007:17)
mengemukakan definisi pengukuran adalah sebagai berikut :
Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan
memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan
laba rugi. Proses ini menyangkut pemilihan dasar pengkuruan tertentu.
Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan
kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. Berbagai dasar pengukuran
tersebut menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2007:17) adalah sebagai berikut :
a. Biaya historis
Asset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau
sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk
memperoleh asset tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar
jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation), atau
dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas
(atau setara kas) yang diharapkan akan dibayar untuk memenuhi
kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.
b. Current cost (biaya kini)
Asset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya
dibayar bila aset yang sama atau setara asset diperoleh sekarang.
Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang
tidak didiskontokan (undiscounted) yang mungkin akan diperlukan
untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang.
c. Realizable/settlement value (nilai realisasi/penyelesaian)
Asset dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh
sekarang dengan menjual asset dalam pelepasan normal (orderly value).
Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas (atau
setara kas) yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk
memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
d. Present value (nilai sekarang)
Asset dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih dimasa depan yang
didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat
memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban
dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan yang
didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan
untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
Dasar pengukuran yang lazimnya digunakan perusahaan dalam
penyusunan laporan keuangan adalah biaya historis.
1.4 Konsep Akuntansi Perbankan
2.4.1 Definisi Bank
Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
suatu negara. Semua sektor usaha baik sektor industri, perdagangan,
pertanian, perkebunan, jasa, perumahan, dan lainnya sangat
membutuhkan bank sebagai mitra dalam mengembangkan usahanya.
Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang dimaksud
dengan bank adalah :
Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkan ke masyrakat dalam bentuk
kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan
taraf hidup rakyat banyak.
Defenisi menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam pernytaan SAK No. 31
(2007:1) mendefinisikan bank sebagai berikut :
Bank adalah lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan
(financial intermediary) antara pihak yang memiliki dana dan pihak
yang memerlukan dana, serta sebagai lembaga yang berfungsi
memperlancar lalu lintas pembayaran. Falsafah yang mendasari
kegiatan usaha bank adalah kepercayaan masyarakat. Hal tersebut
tampak dalam kegiatan pokok bank yang menerima simpanan dari
masyarakat dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito berjangka
serta memberikan kredit kepada pihak yang memerlukan dana.
Berdasarkan definisi-definsi di atas, pada dasarnya tidak berbeda satu
sama lain. Kalaupun ada perbedaan hanya nampak pada tugas dan usaha bank.
2.4.2 Standar Akuntansi keuangan Perbankan di Indonesia
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 31 (revisi 2000)
tentang Akuntansi Perbankan telah diwajibkan oleh Bank Indonesia untuk
diterapkan di bank-bank yang beroperasi di Indonesia. PSAK tersebut
bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan
pengungkapan laporan keuangan bank. Elemen-elemen laporan keuangan
yang diwajibkan untuk diterbitkan menurut PSAK ini terdiri dari Neraca,
Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal Pemilik (untuk jenis
perusahaan perseroan digunakan Laporan laba Ditahan), dan Laporan Arus
Kas serta catatan atas laporan keuangan (PSAK No. 31 revisi 2000).
2.5 Akuntansi Pendapatan
Kredit yang diberikan oleh bank merupakan salah satu sumber
pendapatan dan keuntungan yang terbesar. Jenis pendapatan utama dari
operasi suatu bank dibagi atas pendapatan bunga dan pendapatan provisi dan
komisi serta pendapatan lainnya. Setiap jenis pendapatan diungkapkan secara
terpisah agar para pengguna laporan keuangan dapat menilai kinerja suatu
bank. Berikut ini dijabarkan pengertian pendapatan adalah sebagai beikut :
Ikatan Akuntan Indonesia dalam standar Akuntansi Keuangan, (2004:23)
mendefinisikan pendapatan :
Pendapatan adalah arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang
timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus
masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal
dari kontribusi penanaman modal.
Sigit Winarno, dkk dalam bukunya “Kamus Akuntansi” (2006:497)
mendefinisikan pendapatan sebagai :
Penerimaan uang tunai yang diperoleh selama jangka waktu tertentu,
baik dari hasil penjualan barang maupun jasa atau piutang dari
sumber-sumber lain, misalnya bunga deviden, atau sewa.
Drs. Ismail, Mba, Ak (2009:20) mendefinisikan pendapatan adalah
sebagai berikut :
Pendapatan merupakan semua pendapatan yang diterima bank baik
pendapatan yang diterima secara tunai maupun pendapatan non
tunai (pendapatan yang masih akan diterima). Pendapatan
dipisahkan menjadi pendapatan operasional merupakan pendapatan
yang berasal dari hasil operasional bank. Pendapatan non-
operasional merupakan pendapatan yang berasal dari bukan aktivitas
utama bank. Pendapatan non-operasional dapat diperoleh tidak rutin.
Financial Accounting Standar Board (FASB) dikutip dalam Sofyan
Syafri Harahap (2005:226) mendefinisikan pendapatan sebagai :
Arus kas masuk atau peningkatan nilai asset dari suatu entity atau
penyelesaian kewajiban dari entity atau gabungan keduanya
selama periode tertentu yang berasal dari penyerahan produksi
barang, pemberian jasa atas pelaksanaan kegiatan lainnya yang
merupakan kegiatan utama perusahaan yang sedang berjalan.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa secara
umum pendapatan (revenue) merupakan hasil dari suatu perusahaan
yang menghasilkan laba yang diperoleh selama jangka waktu tertentu.
2.6 Kredit
2.6.1 Pengertian Kredit
Dalam bahasa latin kredit “credere” yang artinya percaya. Maksudnya si
pemberi kredit percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit yang disalurkan
pasti akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Sedangkan bagi si penerima
kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk
membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya.
Pengertian kredit menurut Undang-Undang perbakan Nomor 10 tahun
1998 dalam buku manajemen perbankan (Drs. Ismail, Mba, Ak, 2010:93) adalah :
Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman meminjam antara
bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Selain itu beberapa para ahli menerjemahkan kredit dalam buku manajemen
perbankan (Drs. Ismail, Mba, Ak, 2010:93) sebagai berikut :
a. Kredit adalah suatu pemberian prestasi yang balas prestasinya (kontra
prestasi) akan terjadi pada suatu waktu di hari yang akan datang. (Drs.
Amir Rajab Batubara).
b. “In a general sense credit is based on confidence in the Debtors ability to
make a money payment at some future time” (Rollin G. Thomas)/ dan
apabila definisikan secara bebas, kredit dalam pengertian umum
merupakan kepercayaan atau kemampuan pihak debitur (penerima
kredit) untuk membayar sejumlah uang pada masa yang akan datang.
Pedoman Akuntansi perbankan indonesia.2001 dikutip dalam Drs.
Ismail, Mba. Ak, mendefinisikan kredit sebagai :
Kredit adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama, kredit
dalam restrukturisasi, dan pembelian surat berharga debitur yang
dilengkapi dengan note purchase agreement.
Ikatan Akuntan Indonesia dalam penyertaan SAK No. 31 (2007:3) tentang
Akuntansi perbankan memberikan definisi kredit sebagai berikut :
Kredit adalah peminjaman uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam
antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk
melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,
imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Hal yang termasuk dalam
pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan
bersama, kredit restrukturisasi, dan pembelian surat berharga nasabah
yang dilengkapi dengan Note Purchase Agreement (NPA).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kredit dapat berupa
uang atau tagihan yang nilainya diukur dengan uang. Contoh berbentuk tagihan
(kredit barang), misalnya bank membiayai kredit untuk pembelian rumah atau
mobil. Kredit ini berarti nasabah tidak memperoleh uang tetapi rumah, karena
bank membayar langsung ke developer dan nasabah hanya membayar cicilan
rumah tersebut setiap bulan. Kemudian adanya kesepakatan antara bank
(kreditur) dengan nasabah penerima kredit (debitur), bahwa mereka sepakat
sesuai dengan perjanjian kredit tercakup hak dan kewajiban masing-masing
pihak, termasuk jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama.
2.6.2 Pengakuan dan Pengukuran Kredit
Dalam PSAK No. 31 paragraf 12 kredit diakui pada saat pencairannya
sebesar pokok kredit. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama diakui sebesar
pokok kredit yang merupakan porsi tagihan bank yang bersangkutan.
Pada saat bank menandatangani perjanjian kredit dengan debitur,
bank mengakui kewajiban fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur
sebesar plafon kredit yang diperjanjikan atau yang dapat ditarik sesuai jadwal
penarikan atau penggunaan yang disepakati bank dengan debitur, kecuali
untuk penerusan kredit. Apabila bank memberikan kredit berdasarkan
perjanjian penerusan kredit atau kredit kelolaan, maka bank tidak
diperkenankan mengakui sebagai kredit bank. Tetapi mengungkapkannya
pada catatan atas laporan keuangan. Namun apabila bank mengakui risiko
maka bank mengakui sebagai kredit sebesar risko yang ditanggungnya.
Dalam PSAK No. 31 (Revisi 2000) paragraf 15 risiko atas kredit yang
disalurkan ke nasabah dengan perjanjian penerusan kredit (channeling)
kemungkinan tidak seluruhnya dijamin oleh pemerintah/penyedia dana
lainnya. Risiko atas kredit yang tidak dijamin oleh pemerintah/penyedia dana
lain tersebut menjadi resiko yang harus ditanggung oleh bank. Oleh karena
itu, bank harus mengakui kredit sebesar porsi kredit yang risikonya menjadi
tanggungan bank. Jika bank tidak mempunyai risiko atas penerusan kredit,
bank tidak mengakui kredit tersebut.
2.6.3 Unsur-Unsur Kredit
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu
fasilitas kredit (Drs. Ismail, Mba, Ak, 2010:94) adalah sebagai berikut :
1. Kreditur
Kreditur merupakan pihak yang memberikan kredit (pinjaman)
kepada pihak lain yang mendapat pinjaman. Pihak tersebut biasa
perorangan atau badan usaha. Bank yang memberikan kredit
kepada pihak peminjam merupakan kreditur.
2. Debitur
Debitur merupakan pihak yang membutuhkan dana, atau pihak
yang mendapat pinjaman dari pihak lain.
3. Kepercayaan (Trust)
Kreditur memberikan kepercayaaan kepada pihak yang menerima
pinjaman (debitur) bahwa debitur akan memenuhi kewajibannya untuk
membayar pinjamannya sesuai dengan jangka waktu tertentu yang
diperjanjikan. Bank merupakan pinjaman kepada pihak lain, sama artinya
dengan bank memberikan kepercayaan kepada pihak peminjam, bahwa
pihak peminjam akan dapat memenuhi kewajibannya.
4. Perjanjian
Perjanjian merupakan suatu kontrak perjanjian atau kesepakatan yang
dilakukan antar bank (kreditur) dengan pihak peminjam (debitur).
5. Risiko
Setiap dana yang disalurkan oleh bank selalu mengandung adanya
risiko tidak kembalinya dana. Risiko adalah kemungkinan kerugian
yang akan timbul atas penyaluran kredit bank.
6. Jangka waktu
Jangka waktu merupakan lamanya waktu yang diperlukan oleh
debitur untuk membayar pinjamannya kepada kreditur.
7. Balas jasa
Sebagai imbalan atas dana yang disalurkan oleh kreditur, maka
debitur akan membayar sejumlah uang tertentu sesuai dengan
perjanjian. Dalam perbankan konvensional, imbalan tersebut
berupa bunga, sementara di dalam bank syariah terdapat beberapa
macam imbalan, tergantung pada akadnya.
2.6.4 Tujuan dan Fungsi Kredit
Dalam praktiknya tujuan pemberian suatu kredit (Kasmir 2010:105)
sebagai berikut :
1. Mencari keuntungan
Tujuan utama pemberian kredit adalah untuk memperoleh keuntungan.
Hasil keuntungan ini diperoleh dalam bentuk bunga yang diterima oleh
bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan
kepada nasabah. Keutungan ini penting untuk kelangsungan hidup bank,
disamping itu keuntungan juga dapat membesarkan usaha bank.
2. Membantu usaha nasabah
Tujuan selanjutnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang
memerlukan dana, baik dana untuk investasi maupun untuk modal
kerja. Dengan dana tersebut maka pihak debitur akan dapat
mengembangkan dan memperluas usahanya.
3. Membantu pemerintah
Tujuan lainnya adalah membantu pemerintah dalam berbagai
bidang. Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan
oleh pihak perbankan, maka semakin baik, mengingat semakin
banyak kredit berarti adanya kucuran dana dalam rangka
peningkatan pembangunan diberbagai sektor, terutama sektor rill.
Disamping memiliki tujuan pemberian suatu fasilitas kredit juga
memiliki suatu fungsi yang sangat luas. Fungsi kredit yang secara luas
tersebut (Kasmir 2010:107) antara lain sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan daya guna uang
Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang, maksudnya
jika uang hanya disimpan saja di rumah tidak akan menghasilkan sesuatu
yang berguna. Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi
berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit.
2. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang
Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar
dari suatu wilayah kewilayah lainnya sehingga, suatu daerah yang
kekurangan uang dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut
akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.
3. Untuk meningkatkan daya guna barang
Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh si
debitur untuk mengolah barang yang semula tidak berguna menjadi
berguna dan bermanfaat.
4. Meningkatkan peredaran barang
Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari
suatu wilayah kewilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang
beredar dari satu wilayah kewilayah lainnya bertambah atau kredit
dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar.
5. Sebagai alat stabilitas ekonomi
Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai alat stabilitas
ekonomi, karena dengan adanya kredit yang diberikan akan
menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat.
6. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha
Bagi si penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan
berusaha, apa lagi si nasabah yang memegang modalnya pas-pasan.
7. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan
Semakin banyak kredit yang disalurkan maka akan semakin baik,
terutama dalam hal meningkatkan pendapatan.
8. Untuk meningkatkan hubungan internasional
Dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan saling
membutuhkan antara sipenerima kredit dengan sipemberi kredit.
Pemberian kredit oleh Negara lain akan meningkatkan kerja sama
di bidang lainnya, sehingga dapat pula tercipta perdamaian dunia.
2.6.5 Jenis-Jenis Kredit Perbankan
Beragamnya jenis usaha, menyebabkan beragam pula kebutuhan
akan dana. Kebutuhan dana yang beragam menyebabkan jenis kredit juga
menjadi beragam. Secara umum Drs. Ismail, Mba, Ak (2010:99), membagi
jenis-jenis kredit berdasarkan dari berbagai segi antara lain :
1. Kredit dilihat dari tujuan penggunaan
a. Kredit Investasi
Kredit investasi merupakan kredit yang diberikan oleh bank kepada debitur
untuk pengadaan barang-barang modal (aktiva tetap) yang mempunyai
nilai ekonomis lebih dari satu tahun. Secara umum, kredit investasi ini
ditujukan untuk mendirikan perusahaan baru, atau proyek baru, maupun
proyek pengembangan, modernisasi mesin, dan peralatan,
pembelian kendaraan yang digunakan untuk kelancaran usaha,
dan perluasan perusahaan.
b. Kredit Modal Kerja
Kredit modal kerja ini, biasanya diberikan dalam jangka pendek
yaitu lamanya satu tahun. Kredit modal kerja diberikan untuk
membeli bahan baku, biaya upah, untuk menutup piutang
dagang, pembelian barang dagangan, dan kebutuhan dana lain
yang sifatnya hanya digunakan selama 1 tahun.
c. Kredit Konsumtif
Kredit konsumtif merupakan kredit yang diberikan kepada nasabah
untuk membeli barang dan jasa untuk keperluan pribadi dan tidak untuk
digunakan keperluan usaha. Beberapa contoh kredit konsumtif antara
lain : kredit untuk pembelian rumah tinggal, kendaraan bermotor untuk
dipakai sendiri, dan kredit untuk keperluan lain yang habis dipakai.
2. Kredit Dilihat dari jangka Waktunya
a. Kredit jangka Pendek
Kredit jangka pendek merupakan kredit yang diberikan dengan
jangka waktu maksimal satu tahun. Kredit tersebut biasanya
diberikan oleh bank untuk membiayai modal kerja perusahaan
yang mempunyai siklus usaha dalam satu tahun.
b. Kredit Jangka Menengah
Kredit jangka menengah merupakan kredit yang diberikan dengan
jangka waktu antara satu tahun sampai tiga tahun. Kredit ini
dapat diberikan untuk ketiga jenis kredit yaitu modal kerja, kredit
investasi, dan kredit konsumtif.
c. Kredit Jangka Panjang
Kredit yang jangka waktunya lebih dari tiga tahun. Kredit ini diberikan untuk
kredit investasi, misalnya untuk pembelian gedung, pembangunan proyek,
pengadaan mesin dan peralatan, dan lain-lain yang nominalnya besar serta
kredit konsumtif yang nilainya besar, misalnya KPR.
3. Kredit Dilihat dari Cara Penarikannya
a. Kredit Sekaligus
Kredit sekaligus biasa disebut dengan kredit aflopend credit yaitu
kredit yang dicairkan sekaligus sesuai dengan plafon kredit yang
disetujui, kredit tersebut biasa dicairkan secara tunai, maupun
non tunai yaitu melalui pemindah bukuan.
b. Kredit Bertahap
Kredit yang pencairannya tidak sekaligus, akan tetapi dilakukan secara
bertahap 2,3,4 kali pencairannya dalam masa kredit. Pencairannya
disesuaikan dengan dana yang dibutuhkan oleh debitur. Kredit ini cocok
untuk investasi pembangunan, sehingga bank akan mencairkannya
sesuai dengan termin pembayaran proyek.
c. Kredit Rekening Koran
Kredit rekening Koran merupakan kredit yang penyediaan
dananya dilakukan melalui pemindah bukuan. Bank akan
memindahkan kredit tersebut ke dalam rekening giro nasabah,
sedangkan penarikannya dilakukan dengan menggunakan sarana
berupa cek, bilyet giro atau surat pemindah bukuan lainnya.
Penarikan kredit ini dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan
kebutuhan dan juga dapat mengembalikan kredit ini setiap saat serta
dapat dilakukan berulang-ulang, sehingga disebut rekening koran.
Jumlah yang ditarik juga bisa keseluruhan atau sebagian.
4. Kredit Dilihat dari Sektor Usaha
a. Sektor Industri
Kredit yang diberikan kepada nasabah yang bergerak dalam
sektor industri, yaitu sektor usaha mengubah bentuk dari bahan
baku menjadi barang jadi atau mengubah suatu barang menjadi
barang lain yang memiliki faedah lebih tinggi.
b. Sektor perdagangan
Kredit ini, diberikan kepada pengusaha yang bergerak dalam
bidang perdagangan, baik perdagangan kecil, menengah, dan
perdagangan besar. Kredit ini, dimaksud untuk memperluas
usaha nasabah dalam usaha perdagangan.
c. Sektor Pertanian, Peternakan, Perikanan dan perkebunan
Kredit ini, diberikan dalam rangka meningkatkan hasil di sektor
pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Kredit tersebut
biasanya diberikan dalam bentuk kredit modal kerja maupun
investasi kepada pengusaha tambak, petani, dan nelayan.
d. Sektor Jasa
Sektor jasa sebagaimana tersebut di bawah ini yang dapat
diberikan kredit oleh bank antara lain :
1) Jasa pendidikan
Pada kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, jasa pendidikan
merupakan jasa yang menarik bagi bank, karena jenis usaha
tersebut mudah diestimasikan pendapatannya. Jenis kredit
yang cocok adalah kredit investasi dengan jangka panjang.
2) Jasa Rumah Sakit
Bank dapat memberikan kredit kepada rumah sakit apabila
jaminan yang diberikan tidak memiliki banyak risiko, sehingga
apabila terjadi masalah kredit, maka bank dapat menjual jaminan
tersebut sebagai sumber pelunasan utang. Kredit yang sesuai
untuk jasa rumah sakit ialah kredit investasi jangka panjang.
3) Jasa Angkutan
Kredit yang diberikan untuk sektor angkutan, misalnya kredit kepada
pengusaha taksi, bus, angkutan darat, laut, dan udara, teramasuk di
dalamnya adalah kredit yang diberikan untuk biro perjalanan,
pergudangan, dan komunikasi. Kredit yang sesuai ialah kredit
investasi jangka panjang untuk membeli kendaraan alat angkutan.
4) Jasa Lainnya
Kredit yang diberikan kepada jasa lainnya, misalnya kredit untuk
profesi, pengacara, dokter, insinyur, kantor, dan akuntan.
e. Sektor Perumahan
Bank memberikan kredit kepada debitur yang bergerak di bidang
pembangunan perumahan. Pada umumnya, diberikan dalam
bentuk kredit konstruksi, yaitu untuk pembangunan perumahan.
5. Kredit Dilihat dari Segi Jaminan
a. Kredit dengan jaminan (Secured Loan)
Kredit dengan jaminan merupakan jenis kredit yang didukung dengan
jaminan (agunan). Kredit dengan jaminan ini dapat digolongkan menjadi
jaminan perorangan, benda berwujud, dan benda tidak berwujud.
b. Kredit Tanpa Jaminan (Unsecured Loan)
Kredit yang diberikan kepada debitur tanpa di dukung adanya
jaminan. Kredit tersebut diberikan atas dasar kepercayaan yang
diberikan oleh bank kepada debitur. Kredit tanpa jaminan ini
risikonya tinggi karena tidak ada pengaman yang dimiliki oleh
bank apabila debitur wan prestasi.
6. Kredit Dilihat dari Jumlahnya
Jenis kredit ini terdiri dari kredit UMKM (usaha mikro kecil dan
menengah), kredit UKM (usaha kecil dan menengah), kredit korporasi.
a. Kredit UMKM
Kredit UMKM merupakan kredit yang diberikan kepada
pengusaha dengan skala usaha kecil. Misalnya kredit yang
diberikan bank kepada pengusaha tempe.
b. Kredit UKM
Kredit yang diberikan kepada pengusaha dengan batasan antara
Rp 50.000.000,- dan tidak melebihi Rp 350.000.000,- UKM
sudah memiliki modal yang cukup, serta administrasi yang lebih
baik dibandingkan dengan UMKM, sehingga bank juga dapat
memenuhi permohonan kredit. Kredit UKM antara lain kredit
untuk koperasi, pengusaha kecil (perdagangan, toko dan grosir).
c. Kredit Korporasi
Jenis kredit ini merupakan kredit yang diberikan kepada debitur
dengan jumlah besar dan diperuntukkan kepada debitur besar
(korporasi). Pada umumnya, bank lebih mudah melakukan analisis
terhadap debitur korporasi karena data keuangannya lebih lengkap,
administrasinya baik, dan struktur permodalannya kuat.
2.6.6 Pengertian dan Ruang Lingkup Risiko Kredit
[Link] Pengertian Risiko Kredit
Risiko kredit terjadi pada saat pihak kreditur dan debitur melakukan
tindakan yang tidak hati-hati dalam melakukan keputusan kredit. Ketidak hati-hatian
tersebut terjadi karena berbagai faktor baik disebabkan oleh keinginan mendapatkan
uang dengan cepat dan secapatnya mempergunakan uang tersebut serta
diharapkan mampu memberikan turnover yang maksimal, juga karena faktor
disengaja dengan alasan memperoleh komisi tersembunyi dari calon debitur.
Menurut Irham fahmi dan yovi Lavianti Hadi (2010:79) menyatakan risiko
kredit adalah merupakan bentuk ketidak mampuan suatu perusahaan, institusi,
lembaga, maupun pribadi dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya secara
tepat waktu baik saat jatuh tempo maupun sesudah jatuh tempo dan itu semua
sesuai dengan aturan dan kesepakatan yang berlaku.
[Link] Ruang Lingkup Risiko Kredit
Masing-masing perusahaan harus membuat definisi keseluruhan
dari risiko kredit dan sub komponennya. Mashyud Ali (2006:23)
mengelompokkan secara umum dalam risiko kredit antara lain, yakni risiko
kredit kepada suatu pemerintahan dan Negara, risiko kredit kepada
korporasi, dan risiko kredit retail consumer.
1. Risiko Kredit kepada Pemerintah dan Negara
Risiko kredit pada suatu pemerintah (sovereign credit risk) adalah risiko
kerugian bank berkaitan dengan kemungkinan suatu Negara gagal
memenuhi perlunasan pokok serta beban bunga pinjamannya pada bank.
2. Risiko Kredit kepada korporasi
Risiko kredit kepada korporasi (corporate credit risk) adalah
pelunasan yang diderita bank atau investor atas terjadinya default
dalam pelunasan kembali pokok dan bunga perusahaan atau surat
utang yang diterbitkan oleh suatu perusahaan. Bentuk umum yang
dikenal dari surat utang tersebut adalah sekuritas penyertaan yang
dianggap mengandung tingkat risiko yang tertinggi.
3. Risiko Kredit kepada Retail Consumer
Pada portofolio retail customer loan, risiko tertinggi terutama terjadi
pada personal finance dalam bentuk penggunaan credit card. Diduga
hal itu terutama disebabkan oleh ciri unsercured lending yang
didukung oleh agunan dengan basis hukum kepemilikan yang kuat.
2.6.7 Nonperforming Loan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan PSAK No. 31 (2004:7), pada
saat kredit diklasifikasikan sebagai nonperforming loan, bunga yang telah diakui
tetapi belum tertagih harus dibatalkan. Apabila dilakukan pembatalan atas bunga
yang telah diakui tetapi bunga tersebut belum tertagih, pembatalan tersebut akan
mengurangi pendapatan bunga yang telah diakui. Dasar pengukuran terhadap
kredit sebagai komponen dari aktiva baik aktiva performing maupun
nonperforming menggunakan konsep historical cost. Dalam hal penyajian
kredit pada laporan keuangan disajikan pada neraca sebagai komponen
dari aktiva dengan nama rekening ”kredit yang diberikan” setelah dikurangi
penyisihan penghapusan kredit. Penyisihan penghapusan kredit
merupakan risiko dari kredit yang nonperforming.
Sedangkan pernyataan Standar Akuntansi Keuangan PSAK No. 31
(2007:5), kredit nonperforming pada umumnya merupakan kredit yang
pembayaran angsuran pokok dan/atau bunganya lewat 90 hari (Sembilan puluh)
hari atau lebih setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat
waktu sangat diragukan. Kredit nonperforming terdiri atas kredit yang
digolongkan sebagai kredit kurang lancar, diragukan, dan macet. Seluruh
penerimaan yang berhubungan dengan kredit diragukan dan macet diakui terlebih
dahulu sebagai pengurangan pokok kredit. Kelebihan penerimaan dari pokok
kredit diakui sebagai pendapatan bunga. Penerimaan dari kredit nonperforming
diakui untuk melunasi bunga terlebih dahulu. Akan tetapi, untuk kredit
nonperforming yang digolongkan diragukan dan macet, penerimaan ini
dipergunakan terlebih dahulu untuk mengurangi pokok kredit karena
kemungkinan ketertagihannya sangat rendah.
Untuk menentukan berkualitas tidaknya suatu kredit perlu diberikan
ukuran-ukuran tertentu Bank Indonesia menggolongkan kualitas kredit
menurut ketentuan (Kasmir 2008:106), sebagai berikut :
1. Lancar (pas)
Kriteria atau ukuran suatu kredit dapat dikatakan lancar apabila :
a. Pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu.
b. Memiliki mutasi rekening yang aktif
c. Bagian kredit yang dijamin dengan agunan tunai (cash collateral).
2. Dalam Perhatian Khusus (special mention)
Artinya suatu kredit dikatakan dalam perhatian khusus apabila
memenuhi kriteria antara lain :
a. Terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan/atau
bunga yang belum melampaui 90 hari.
b. Kadang-kadang terjadi cerukan.
c. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan.
d. Mutasi rekening relatif aktif.
e. Didukung dengan pinjaman baru.
3. Kurang Lancar (substandard)
Suatu kredit dikatakan kurang lancar apabila memenuhi kriteria,
antara lain :
a. Terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan/atau
bunga yang telah melewati 90 hari.
b. Sering terjadi cerukan.
c. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih
dari 90 hari.
d. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah.
e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur.
f. Dokumen pinjaman yang lemah.
Dikatakan diragukan apabila memenuhi kriteria berikut ini antara lain :
a. Terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan/atau
bunga yang telah melampaui 180 hari.
b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen.
c. Terjadi wan prestasi lebih dari 180 hari.
d. Terjadi kapitalisasi bunga.
e. Dokumen hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun
penigkatan jaminan.
Kualitas kredit dikatakan macet apabila memenuhi kriteria berikut
antara lain :
a. Terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan/atau
bunga yang telah melampaui 270 hari.
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru.
c. Dari segi hukum dan kondisi pasar, jaminan tidak dapat
dicairkan pada nilai yang wajar.
2.6.8 Upaya Penyelamatan Kredit Macet
Bank harus melaksanakan analisis yang mendalam sebelum
memutuskan untuk menyetujui ataupun menolak permohonan kredit dari
calon debitur. Hal ini dimaksud agar tidak terjadi permasalahan atas kredit
yang telah disalurkan. Akan tetapi, meskipun bank telah melakukan
analisis yang cermat, risiko kredit bermasalah juga mungkin terjadi. Tidak
ada satu pun bank di dunia ini yang tidak memiliki kredit bermasalah,
karena tidak mungkin dari semua kredit yang disalurkan semuanya lancar.
Upaya yang dilakukan bank untuk penyelamatan terhadap kredit
bermasalah (Kasmir 2008:125), antara lain :
1. Rescheduling
Rescheduling merupakan upaya yang dilakukan bank untuk menangani
kredit bermasalah dengan membuat penjadwalan kembali. Penjadwalan kembali
dapat dilakukan kepada debitur yang mempunyai itikad baik akan tetapi tidak
memiliki kemampuan untuk membayar angsuran pokok maupun angsuran bunga
dengan jadwal yang telah diperjanjikan. Penjadwalan kembali dilakukan oleh
bank dengan harapan debitur dapat membayar kembali kewajibannya.
Bebarapa alternatif rescheduling yang dapat diberikan bank antara lain :
a. Perpanjangan jangka waktu kredit.
b. Jadwal angsuran bulanan dirubah menjadi triwulan.
c. Memperkecil angsuran pokok dengan jangka waktu akan lebih lama.
2. Reconditioning
Reconditioning merupakan upaya bank dalam menyelamatkan
kredit dengan mengubah seluruh atau sebagian perjanjian yang telah
dilakukan oleh bank dengan nasabah. Perubahan kondisi dan persyaratan
tersebut harus disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi oleh
debitur dan menjalankan usahanya.
Beberapa alternatif reconditioning yang dapat diberikan bank antara lain :
a. Penurunan suku bunga.
b. Pembebasan sebagian atau seluruh bunga yang tertunggak,
sehingga nasabah pada perioede berikutnya hanya membayar
pokok pinjaman beserta bunga berjalan.
c. Kapitalisasi bunga, yaitu bunga yang tertunggak dijadikan satu
dengan pokok pinjaman. Penundaan pembayaran bunga, yaitu
pembayaran kredit oleh nasabah sebagai pembayaran pokok
pinjaman sampai dengan jangka waktu tertentu, kemudian
pembayaran bunga dilakukan pada saat nasabah sudah
mampu. Hal ini perlu dihitung dengan cash flow perusahaan.
3. Restructuring
Restructuring merupakan upaya yang dilakukan oleh bank dalam
menyelamatkan kredit bermasalah dengan cara mengubah struktur
pembiayaan yang mendasari pemberian kredit.
Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh bank dalam restrukturisasi antara
lain :
a. Bank dapat memberikan tambahan kredit.
b. Tambahan dana tersebut berasal dari modal debitur.
c. Kombinasi antara bank dan nasabah.
4. Kombinasi
Upaya penyelesaian kredit bermasalah yang dilakukan oleh bank
dengan cara kombinasi antara lain :
a. Rescheduling dan Restructuring
Upaya gabungan antara rescheduling dan restructuring
dilakukan misalnya, bank memperpanjang jangka waktu kredit
dan menambah jumlah kredit.
b. Rescheduling dan Reconditioning
Bank dapat melakukan kombinasi dua cara yaitu dengan
memperpanjang jangka waktu dan meringankan bunga. Dengan
perpanjangan dan keringanan bunga, maka total angsuran akan
menurun, sehingga nasabah diharapkan dapat membayar
kewajibannya.
c. Restructuring dan Reconditioning
\upaya penambahan kredit diakui dengan keringanan bunga
atau pembebasan tunggakan bunga akan dapat mendorong
pertumbuhan usaha nasabah.
d. Rescheduling, Restructuring dan Reconditioning
Upaya gabungan ketiga cara tersebut merupakan upaya maksimal
yang dilakukan oleh bank, misalnya ; jangka waktu diperpanjang,
kredit ditambah, dan tunggakan bunga dibebaskan.
5. Eksekusi
Eksekusi merupakan alternatif terakhir yang dapat dilakukan oleh bank
untuk menyelamatkan kredit bermasalah. Eksekusi meupakan penjualan agunan
yang dimiliki oleh bank. Hasil penjualan agunan diperlukan untuk melunasi
semua kewajiban debitur baik kewajiban atas pinjaman pokok, maupun bunga.
Sisa atas hasil penjualan agunan, akan dikembalikan kepada debitur. Sebaliknya
kekurangan atas hasil penjualan agunan menjadi tanggungan debitur, artinya
debitur diwajibkan untuk membayar kekurangannya.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini yang berhubung dengan penulisan skripsi, penulis
melakukan penelitian pada PT Bank Mandiri (Persero), Tbk , Di Unit Regional
Credit Recovery yang bertempat Jl. Hoscokro Aminoto No. 19 Makassar.
3.2 Jenis dan Sumber Data
3.2.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka seperti :
dalam laporan keuangan, laporan laba rugi, neraca, dan laporan
pendukung lainnya.
2. Data kualitatif, yaitu kumpulan data non angka yang sifatnya
deskriptif, misalnya : gambaran umum perusahaan, job description,
dan struktur organisasi perusahaan, beserta pembagian tugas dan
data lain berupa literature-literatur seperti skripsi, tesis, dan buku-
buku yang relevan dengan objek penelitian.
3.2.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Data Primer
Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari
perusahaan/instansi melalui hasil pengamatan, wawancara
dengan karyawan dan petugas yang bertugas khusus mengenai
kredit khususnya nonperforming loan, hal ini dilakukan untuk
mengatasi masalah mengenai kualitas kredit yang terdapat di bank
terutama tentang kredit yang bermasalah/nonperforming loan.
2. Data sekunder
Merupakan data yang diperoleh dari sumber di luar
perusahaan/instansi dalam bentuk literature-literatur akuntansi
dan perbankan maupun informasi lain yang berhubungan
dengan penulisan skripsi ini.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan metode
pengumpulan data sebagai berikut :
1. Penelitian Lapangan (field research)
Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan wawancara
dengan pihak-pihak yang terkait dengan PT. Bank Mandiri ,
sehingga data yang diperoleh akurat.
2. Penelitian kepustakaan (library research)
Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data serta
mempelajari literature-literatur berupa karya ilmiah, buku-buku
atau kepustakaan lain yang erat hubungannya dengan masalah
yang berkaitan dengan penelitian ini.
3.4 Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
metode deskriptif komparatif dimana penulisan akan memaparkan metode
perlakuan akuntansi untuk kredit bermasalah (nonperforming loan) pada PT.
Bank Mandiri dan membandingkan dengan pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan, keterangan tersebut penulis akan menganalisis apakah metode
yang diterapkan PT. Bank Mandiri sesuai PSAK 31 (Revisi thn 2000) tentang
akuntansi perbankan yang berlaku umum, khususnya dari segi pengakuan,
pengukuran, penyajian, dan pengungkapan untuk nonperforming loan.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
4.1 Sejarah Umum Perusahaan
Bank Mandiri (persero), Tbk didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai
bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh
pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat Bank milik pemerintah
yaitu : Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, bank Exim dan Bapindo–
dilebur menjadi Bank Mandiri (persero), Tbk. Masing-masing dari keempat
legacy Bank tersebut memainkan peran yang tak terpisahkan dalam
pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank
Mandiri (persero), Tbk meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun
memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.
Pasca setelah merger, Bank Mandiri (persero), Tbk melaksanakan
proses konsolidasi secara menyeluruh dan pada saat itu telah ditutup 194
kantor cabang yang saling berdekatan dan mengurangi jumlah karyawan,
dari jumlah gabungan 26.600 menjadi 17.620. Brand Bank Mandiri
(persero), Tbk telah diimplementasikan secara sekaligus ke semua
jaringan dan pada seluruh kegiatan periklanan dan promosi lainnya.
Satu dari sekian banyak keberhasilan Bank Mandiri (persero), Tbk yang
paling signifikan adalah keberhasilan dalam menyelesaikan implementasi sistem
teknologi baru. Sebelumnya Bank Mandiri (persero), Tbk mewarisi 9 core
banking sistem yang berbeda dari keempat bank. Setelah melakukan investasi
awal untuk segera mengkonsolidasikan kedalam system yang terbaik, maka
dilakukan sebuah program tiga tahun, dengan nilai US$200 juta, untuk
mengganti core banking system, menjadi satu system yang mempunyai
kemampuan untuk mendukung kegiatan consumer banking yang agresif.
Infrastruktur IT Bank Mandiri (persero), Tbk memberikan layanan straight-through
processing dan interface tunggal pada seluruh nasabah.
Nasabah korporat Bank Mandiri (persero), Tbk sampai dengan saat ini
masih mewakili kekuatan utama Indonesia. Menurut sektor usahanya,
portfolio kredit korporasi terdiversifikasi dengan baik, dan secara khusus
sangat aktif dalam sector manufaktur Food & Beverage, agrobisnis,
konstruksi, kimia dan tekstil. Persetujuan dan monitoring kredit dikendalikan
dengan proses persetujuan Four Eyes yang terstruktur, dimana keputusan
kredit dipisahkan dari kegiatan marketing dari unit Bisnis.
Sejak berdirinya, Bank Mandiri (persero), Tbk telah bekerja keras untuk
menciptakan tim manajemen yang kuat dan professional yang bekerja berlandaskan
pada prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang telah diakui secara
internasional. Bank Mandiri (persero), Tbk disupervisi oleh Dewan
Komisaris yang ditunjuk oleh Menteri Negara BUMN yang dipilih berdasarkan
anggota komunitas keuangan yang terpandang. Manajemen ekskutif tertinggi
adalah Dewan Direksi yang dipimpin oleh Direktur Utama. Dewan Direksi kami
terdiri dari banker dari legacy banks dan juga dari luar yang independen dan
sangat kompeten. Bank Mandiri (persero), Tbk juga mempunyai fungsi offices of
compliance, audit dan corporate secretary, dan juga menjadi obyek pemeriksaan
rutin dari auditor eksternal yang dilakukan oleh Bank Indonesia, BPKP dan BPK
serta auditor internasional. AsiaMoney magazine memberikan penghargaan atas
komitmen Bank Mandiri (persero), Tbk atas penerapan GCG dengan
memberikan Corporate Governance Award untuk katagori Best Overall for
Corporate Governance in Indonesia dan Best for Disclosure and Transparency.
4.2 Visi dan Misi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk.
Visi:
Bank terpecaya pilihan anda
Misi:
• Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar
• Mengembangkan sumber daya manusia professional
• Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder
• Melaksanakan manajemen terbuka
• Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan.
4.3 Gambaran Umum PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk, Regional Credit
Recovery (RCR) Makassar.
Regional Credit Recovery (RCR) adalah salah satu unit usaha Bank
Mandiri yang melayani masalah kredit macet dengan nilai nominal > Rp. 5 m
khusus bagi nasabah yang sudah termasuk dalam kolektibilitas 3, 4, dan 5.
menurut Bank Indonesia, kolektibilitas yaitu tingkat kemacetan debitur dalam
membayar kewajibannya kepada bank. Setelah terjadi serah terima debitur dari
unit usaha yang lain maka tugas RCR untuk kembali mengelompokkan debitur
tersebut, mulai dari debitur intrakomtabel dan ekstrakomtabel. Debitur yang
masuk pada jenis intrakomtabel adalah debitur yang baru masuk dalam
tanggungan RCR atau debitur yang mempunyai itikad baik untuk melunasi
hutangnya terhadap bank sedangkan debitur yang termasuk dalam jenis
ekstrakomtabel adalah debitur yang dimana sudah tidak mampu lagi untuk
membayar hutangnya terhadap pihak bank dan sudah melewati tahap hapus
buku. Kepada debitur yang sudah mengalami kebangkrutan dalam usahanya dan
sudah tidak mampu lagi membayar hutangnya terhadap bank, maka pihak bank
mempunyai trik untuk khusus untuk menaggulangi kejadian tersebut, yaitu seperti
dilakukannya hapus tagih serta proses restrukturisasi dimana hapus tagih ini
merupakan pengurangan piutang kredit bank kepada debitur yang meliputi
tunggakan BDO ( Bunga, Denda, dan Ongkos), dan hal ini dapat dilakukan oleh
nasabah selaku debitur untuk melakukan pengajuan hapus tagih terhadap pihak
bank dan melalui pengajuan tersebut maka pihak bank melakukan rapat melalui
RKK ( Rapat Komite Kredit ) serta restrukturisasi adalah upaya perbaikan yang
dilakukan bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami
kesulitan untuk memenuhi kewajibannya yang dilakukan antara lain melalui
penurunan suku bunga kredit, perpanjangan jangka waktu kredit dan atau
penjadwalan kembali, pengurangan (penghapus tagihan) tunggakan BDO kredit,
penambahan fasilitas kredit, dan atau penukaran/konversi kredit menjadi
penyertaan modal sementara. Setelah semua cara tersebut dilakukan dan
nasabah selaku debitur masih tetap saja tidak dapat melunasi hutangnya
tersebut terhadap pihak bank serta mengabaikan surat peringatan yang
dikeluarkan oleh pihak bank selama 3 kali berturut-turut maka pihak bank dapat
menempuh cara terakhir yaitu melalui proses lelang agunan/asset.
4.4 Struktur Organisasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk, Regional Credit
Recovery (RCR) Makassar.
Adapun bagan struktur organisasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk,
Regional Credit Recovery (RCR) Makassar adalah sebagai berikut :
Struktur Organisasi
PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk
Regional Credit Recovery Makassar
RCR Manager
Senior Recovery
Manager
Recovery Recovery Recovery Recovery
Manager Manager Manager Manager
(Makassar) (Makassar) (Manado) (Palu)
Asisten Recovery Asisten Recovery
Manager Manager
(Kendari) (Ambon)
4.5 Pembagian Tugas
Uraian tugas dari setiap bagian pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk,
Regional Credit Recovery Makassar, yaitu :
1. RCR Manager
Melayani debitur untuk permohonan keringanan penyelesaian kredit debitur
serta menyetujui/mengesahkan surat-surat yang akan dikirim ke debitur baik
itu surat peringatan, surat panggilan, maupun surat lelang agunan.
2. Senior Recovery Manager
Menghubungi debitur yang bermasalah, bernegoisasi dengan debitur yang
bermasalah, serta melakukan OTS/Survey ke daerah-daerah debitur bermasalah
yang agunanx akan dilelang, memeriksa isi surat-surat yang akan dikirim ke
debitur sebelum ditandatangani oleh RCR Manager dan menangani tes
wawancara bila ada yang ingin melamar pekerjaan di bagian tersebut.
3. Recovery Manager
Menghubungi dan menagih debitur yang bermasalah, bernegosiasi dengan
debitur yang bermasalah, serta melakukan OTS/Survey ke daerah-daerah
debitur bermasalah yang agunannya akan dilelang.
3. Legal Officer
Menangani masalah hokum, serta menangani bagian keuangan dan
keperluan-keperluan kantor, juga mengurus perjalan OTS para pegawai.
4. Asisten Recovery Manager
Mengurus surat masuk dan keluar pihak ketiga dan kantor pusat
lelang/lelang, serta membuat laporan pencapaian target tiap bulan.
4.6 Kegiatan Usaha Perusahaan
Kegiatan usaha Bank Mandiri (Persero), Tbk, adalah bergerak di bidang
jasa perbankan. Sebagai bank umum milik Negara, Bank Mandiri (persero),
Tbk, berkewajiban menunjang pelaksanaan kebijakan-kebijakan pemerintah
dalam bidang ekonomi, pembangunan, moneter, dan perbankan.
BAB V
PEMBAHASAN
Analisis perlakuan atas kredit bermasalah pada PT Bank Mandiri, Tbk
Cabang Makassar akan menekankan pada aspek pengakuan, pengukuran, dan
pencatatan, dan pelaporannya untuk mengevaluasi sejauh mana kesesuaian
perlakuan akuntansi dengan Pedoman Akuntansi yang berlaku umum.
Komposisi kredit pada PT Bank Mandiri, Tbk terdiri atas pinjaman
Korporasi, pinjaman Komersial segmen mikro dan pinjaman Konsumsi.
Pada Bank Mandiri Cabang Makassar,. Untuk kategori Kredit Bermasalah
(Non Performing Loan) rekapitulasi portofolio berdasarkan komposisi
kredit ini mengalami penurunan dari 2009 ke 2010, khususnya di Wilayah
X yang mencakup area Manado, Palu, Makassar, dan Jayapura seperti
yang ada pada tabel berikut :
Tabel 5.1
Rekapitulasi Portofolio NPL berdasarkan Komposisi Kredit Wilayah X
Tahun
Komposisi Kredit
2009 2010
Korporasi (Corporate) 9,804 -
Komersial segmen mikro 123,165 35,205
Konsumsi 102,381 -
Total 237,349 35,205
Sumber : Bank Mandiri Makassar
Pada tanggal 31 Desember 2009 dan 2010, rasio kredit bermasalah
bruto (rasio NPL-bruto) Mandiri (Wilayah XI) terhadap jumlah pinjaman yang
diberikan adalah masing-masing 3,21% dan 87,41%, sedangkan rasio kredit
bermasalah bersih (rasio NPL-bersih) masing-masing sebesar 1.07% dan
5,25%. Seperti yang diuraikan pada tabel berikut:
Tabel 5.2
Rasio Pinjaman Bermasalah Bank Mandiri Wilayah X
Tahun
Rasio Kredit Bermasalah
2009 2010
NPL Gross 3,21% 87,41%
NPL Net 1,07% 5,25%
Sumber: Bank Mandiri Makassar
5.1 Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)
a. Pengakuan Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Bank Mandiri bahwa kategori
kredit berdasarkan tunggakan angsurannya dibagi atas 4 golongan.
Golongan I jika tunggakan angsurannya 0 hari Kategori Lancar, Golongan
II jika tunggakannya 1 hari sampai 90 hari Kategori Dalam Perhatian
Khusus, Golongan III jika tunggakannya 91 hari sampai 180 hari kategori
Kurang Lancar, Golongan IV jika tunggakannya 180 hari sampai dengan
270 hari kategori diragukan dan lebih dari 270 hari untuk kategori Macet.
Tabel 5.3
Kategori Golongan Berdasarkan Tunggakan Angsuran Bulanan Kredit
Golongan Lama Tunggakan Kategori
Angsuran
Golongan I 0 hari Lancar
Golongan II 1 – 90 hari Dalam Perhatian Khusus
Golongan III 91 – 180 hari Kurang Lancar
Golongan IV 180– 270 hari Diragukan
Lebih dari 270 hari Macet
Sumber: Bank Mandiri Makassar
Kredit bermasalah atau NPL diakui pada saat tunggakan angsuran
masuk Golongan III dan seterusnya atau lebih dari 91 hari. Sedangkan
untuk Golongan I dan II merupakan Performing Loan. Apabila terjadi
perubahan kualitas suatu kredit atau perubahan golongan kredit yang
diakibatkan adanya keterlambatan pembayaran angsuran bunga dan
pokok yang tidak sesuai dengan jadwal angsuran. Perubahan tersebut
dalam pemberian kredit disebut dengan perubahan kolektibitas kredit.
b. Pengukuran Kredit Bermasalah (Non Performing Loan)
Dasar pengukuran terhadap kredit bermasalah (Nonperforming loan) pada
Bank Mandiri sebagai komponen dari aktiva produktif yang bermasalah
adalah menggunakan current cost dimana aktiva dinilai dalam jumlah kas
yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara aktiva yang
diperoleh sekarang. Pencatatatan terhadap aktiva produktif
bermasalah atau yang disebut dengan Nonperforming Loan tetap
disajikan dalam neraca.
5.2 Pendapatan Bunga
a. Pengakuan Pendapatan Bunga
Sebelum 1 Januari 2010, Pendapatan dan beban bunga diakui berdasarkan
konsep akrual. Pendapatan bunga yang berasal dari pinjaman yang diberikan
atau asset produktif lain yang bermasalah (nonperforming) tidak diakui,
kecuali pada saat pembayaran tunai diterima yang dikenal dengan konsep
cash basis. Pada saat asset keuangan diklasifikasikan sebagai bermasalah,
bunga yang telah diakui tetapi belum ditagih dibatalkan pengakuannya.
Selanjutnya bunga yang dibatalkan tersebut diakui sebagai tagihan
kontinjensi. Seluruh penerimaan pembayaran yang berhubungan dengan
pinjaman yang diberikan dengan kolektibilitas diragukan dan macet, harus
diakui terlebih dahulu sebagai pengurang terhadap pokok pinjaman yang
diberikan. Kelebihan penerimaan pembayaran atas pokok pinjaman yang
diberikan harus diakui sebagai pendapatan bunga dalam laporan laba rugi.
Pendapatan bunga dari kredit yang direstrukturisasi hanya dapat diakui
apabila telah diterima secara tunai sebelum kualitas kredit menjadi lancar.
Pendapatan bunga yang masih harus diterima atas asset non-performing
Bank Mandiri dan Anak Perusahaan dicatat sebagai
tagihan kontinjensi dalam laporan Komitmen dan Kontinjensi pada
catatan atas laporan keuangan konsolidasian.
b. Pengukuran Pendapatan Bunga
Konsep pengukuran pendapatan bunga yang diterapkan oleh Bank Mandiri
yaitu dengan menggunakan konsep Historical Cost dimana aktiva dicatat
sebesar pengeluaran kas (setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai yang
wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk memperoleh aktiva
tersebut pada saat perolehan. Adapun penilaian terhadap pendapatan bunga
dengan metode suku bunga efektif. Metode suku bunga efektif adalah
metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari
aset keuangan atau kewajiban keuangan dan metode untuk mengalokasikan
pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. Suku
bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi
pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur
dari instrumen keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih
singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau
kewajiban keuangan.
c. Penyajian Pendapatan Bunga
Penyajian pendapatan bunga pada laporan keuangan, disajikan pada
Laporan Laba Rugi Konsolidasian sebagai komponen Pendapatan dan
Beban Operasional. Pendapatan bunga dari kredit bermasalah merupakan
kelebihan penerimaan pokok pinjaman setelah penerimaan pembayaran
atas pinjaman yang diklasifikasikan kurang lancar, diragukan dan
macet yang dipergunakan terlebih dahulu untuk mengurangi pokok
pinjaman. Hal ini dapat dilihat pada Laporan Laba Rugi
Konsolidasian pada lembar lampiran.
5.3 Penyajian Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)
Penyajian kredit bermasalah (Nonperforming loan) pada laporan
keuangan disajikan di neraca atau on balanced sebagai komponen dari
aktiva dengan nama rekening “kredit yang diberikan setelah dikurangi
pendapatan yang ditangguhkan dan cadangan kerugian penurunan nilai”.
Secara lebih detail, kredit bermasalah disajikan pada catatan atas laporan
keuangan konsolidasian dengan nama kredit yang diberikan (kredit yang di
berikan berdasarkan sektor ekonomi dan kolektibilitas setelah di kurangi
pendapatan yang ditangguhkan dan cadangan kerugian penurunan nilai)
5.4 Analisis Terhadap NPL
Pengukuran yang digunakan oleh Bank Mandiri terhadap kredit bermasalah
(Nonperforming Loan) sebagai komponen dari aktiva produktif menggunakan
konsep Current Cost Pada tahun 2010, perlakuan dan penyajian kas dan setara
kas termasuk kredit yang diberikan dalam laporan arus kas konsolidasian
mengalami perubahan sehubungan dengan dicabutnya PSAK 31.
Cadangan kerugian penurunan nilai dalam laporan keuangan konsolidasian
pada tanggal dan periode sepuluh bulan yang berakhir pada tanggal 31 Oktober
2010, telah disusun berdasarkan PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi
2006). Sebelumnya cadangan kerugian untuk laporan keuangan
konsolidasian pada tanggal dan periode sepuluh bulan yang berakhir
pada tanggal 31 Oktober 2009 disusun berdasarkan PSAK 31
Tabel 5. 4
Perbandingan Perlakuan Akuntansi dan Nonperforming Loan menurut PSAK
31 tentang Akuntansi Perbankan (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan)
dengan PAPI (Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia).
Perlakuan Akuntansi PSAK 31 PAPI
a. Pengakuan dan 1. Pada saat kredit 1. Kredit Nonperforming diakui
Pengukuran diklarifikasikan secara kas, artinya bank tidak
sebagai boleh mengakui sebagai
Nonperforming bunga pendapatan sebelum
yang telah diakui menerima pembayaran secara
tetapi belum tertagih tunai dari debitur. Bunga
harus dibatalkan. kredit Nonperforming diakui
2. Seluruh penerimaan sebagai tagihan (pendapatan
yang berhubungan bunga kredit dalam
dengan kredit penyelesaian).
diragukan dan macet 2. Apabila diterima setoran dari
diakui terlebih dahulu debitor untuk kredit dengan
sebagai pengurang kualitas lancar, dalam
pokok kredit. perhatian khusus dan kurang
Kelebihan penerimaan lancar, maka urutan
dari pokok kredit penyelesaian kewajiban
diakui sebagai debitur kepada bank
pendapatan bunga. diperkirakan untuk :
Karena kemungkinan a. Biaya lain-lain
ketertagihannya sangat b. Membayar tunggakan
tipis. bunga atau denda bunga
3. Pendapatan bunga dari c. Jika ada sisa untuk
kredit dan aktiva membayar pokok kredit
produktif lain yang Sedangkan untuk kredit
Nonperforming diakui diragukan dan macet
pada saat pendapatan setoran yangditerima bank
tersebut diterima. didahulukan untuk
4. Agunan kredit yang menyelesaikan kredit dan
diambil alih diakui sisanya untuk membayar
sebesar nilai bersih tunggakan bunga kredit
yang dapat direalisasi tersebut relative sulit
(nilai wajar agunan untuk dapat
setelah dikurangi ditagih/diterima
estimasi biaya seluruhnya.
pelepasan). 3. Pada saat kredit tersebut
5. Selisih antara nilai diklarifikasikan sebagai kredit
agunan yang telah Nonperforming bank harus
diambil alih dari hasil membatalkan bunga kredit
penjualannya diakui yang sudah diakui sebagai
sebagai keuntungan pendapatan tetapi belum
atau kerugian pada dibayar debitur. Selanjutnya
saat penjualan agunan. bunga yang dibatalkan
6. Penerimaan kredit tersebut diakui sebagai
yang telah tagihan kontijensi
dihapusbukukan (pendapatan bunga kredit
diakui sebagai dalam penyelesaian).
penyesuaian terhadap Jika perubahan kualitas kredit
penyisihan kerugian tersebut terjadi setelah
kredit sebesar nilai tanggal neraca dan
pokok. Jika pemeriksaan lapangan oleh
penerimaan tersebut auditor eksternal selesai
melebihi nilai dilakukan, maka pembatalan
pokoknya maka tersebut dianggap sebagai
kelebihan tersebut peristiwa setelah tanggal
diakui sebagai neraca yang mempengaruhi
pendapatan bunga. tanggal neraca (subsequent
event) dan diakui sebagai
koreksi saldo laba.
Jika perubahan kualitas kredit
terjadi setelah tanggal neraca
dan pemeriksaan lapangan
oleh auditor eksternal telah
selesai dilakukan, maka
perubahan tersebut dianggap
sebagai perubahan estimasi
dan diakui sebagai koreksi
dalam laporan laba rugi tahun
berjalan.
4. Pengambilan agunan yang
diserahkan oleh debitur,
Agunan yang diambil alih
diakui sebesar nilai bersih
yang dapat direalisasi, yaitu
nilai wajar agunan setelah
dikurangi estimasi biaya
pelepasan. Apabila terdapat
penurunan nilai permanen
dari agunan yang diambil
alih, maka nilai agunan
tersebut wajib disesuaikan.
Apabila terdapat kesepakatan
antara bank dan debitur
bahwa agunan digunakan
untuk penyelesaian seluruh
kewajiban debitur, dan nilai
agunan yang diambil alih
lebih kecil darpada kewajiban
debitur, maka selisihnya
dibebankan pada penyisihan
kerugian kredit.
Apabila nilai agunan yang
diambil alih lebih besar dari
pada kewajiban debitur maka
agunan yang diambil alih
tersebut diakui maksimum
sebesar kewajiban yang
disepakati untuk disesuaikan.
Sedangkan selisih yang
merupakan hak debitur
dicatat dalam catatan
administrasi bank. dalam hal
terdapat penurunan nilai
permanen dari agunan yang
diambil alih maka nilai
agunan tersebut harus
disesuaikan sebesar nilai
permanen tersebut.
b. penyajian 1. Kredit disajikan secara 1. Kredit disajikan di neraca
neraca sebesar pokok sebesar pokok kredit/baki
kredit. debet.
2. Pendapatan bunga 2. Kredit sindikasi disajikan
dalam penyelesaian sebesar porsi kredit yang
yang merupakan resikonya ditanggung bank.
perhitungan bunga 3. Kredit yang dijamin disajikan
dari aktiva produktif sebesar kredit yang
yang nonperforming disalurkan oleh bank.
yang belum dapat 4. Kredit kelolaan disajikan
diakui sebagai pada pos kredit yang
pendapatan bunga diberikan sebesar resiko
dalam periode kredit yang ditanggung bank.
berjalan. 5. Bunga kredit nonperforming
diakui sebagai tagihan
kontijensi (pendapatan bunga
kredit dalam penyelesaian).
6. Agunan kredit yang diambil
alih disajikan dalam pos
aktiva dan lain-lain.
Jurnal :
a. Pada saat melakukan
pengakuan pendapatan
provisi kredit (apabila
dilakukan amortisasi).
Db. Pendapatan provisi
kredit yang diterima
dimuka.
Kr. Pendapatan provisi
kredit.
b. Pada saat melakukan
pembebanan bunga kredit
kepada debitur.
Db. Tagihan kontijensi
(pendapatan bunga kredit
dalam penyelesaian)
Kr. Rekening lawan-
tagihan kontijensi
(pendapatan bunga kredit
dalam penyelesaian)
c. Pada saat menerima
setoran bunga dari
debitur.
1. Kredit dengan kualitas
kurang lancar
a. Pembayaran debitur
lebih kecil dari
tunggakan bunga.
Db.
kas/rekening…/kliring
Kr. Pendapatan bunga
kredit (sebesar
tunggakan bunga yang
dilunasi).
Bersamaan dengan itu
dilakukan jurnal untuk
mengurangi tagihan
kontijensi (pendapatan
bunga kredit dalam
penyelesaian).
Db. Rekening lawan –
tagihan kontijensi
(pendapatan bunga
kredit dalam
penyelesaian).
Kr. Tagihan kontijensi
(pendapatan bunga
kredit dalam
penyelesaian).
b. Pembayaran debitur
lebih besar atau sama
dengan tunggakan
bunga.
Db.
Kas/rekening../kliring
Kr. Pendapatan bunga
kredit (sebesar total
tunggakan bunga yang
dilunasi).
Bersamaan dengan itu
dilakukan jurnal untuk
mengurangi tagihan
konjitensi (pendapatan
bunga kredit dalam
penyelesaian).
Db. Rekening lawan–
tagihan kontijensi
(pendapatan bunga
kredit dalam
penyelesaian).
Kr. Tagihan
kontijensi (pendapatan
bunga kredit dalam
penyelesaian).
Kelebihan setoran atas
tunggakan bunga
digunakan untuk
melunasi pokok,
dengan jurnal:
Db.
Kas/rekening../kliring
Kr. Kredit yang
diberikan
2. Kredit dengan kualitas
diragukan dan macet
a. Pembayaran
debitur lebih kecil
atau sama dengan
tunggakan pokok.
Db.
Kas/krening../kliri
ng.
Kr. Kredit yang
diberikan (sebesar
tunggakan pokok
kredit)
b. Pembayaran
debitur lebih besar
dari tunggakan
pokok yang
dilunasi)
Kelebihan
setoran atas
tunggakan pokok
digunakan untuk
melunasi bunga
dengan jurnal:
Db.
Kas/rekening../klir
ing
Kr. Pendapatan
bunga atas kredit
Bersamaan dengan
itu dilakukan
jurnal untuk
mengurangi
tagihan kontijensi
(pendapatan bunga
kredit dalam
penyelesaian).
Db. Rekening
lawan – tagihan
kontijensi
Kr. Tagihan
Kontijensi
(pendapatan bunga
kredit dalam
penyelesaian).
c. pengungkapan Hal-hal yang harus Hal-hal yang harus diungkapkan :
diungkapan : 1. ikhtisar perubahan penyisihan
1. ikhtisar perubahan kerugian dan penghapusan
penyisihan kerugian kredit yang diberikan dalam
dan penghapusan tahun yang bersangkutan
kredit yang diberikan yang menunjukkan saldo
dalam tahun yang awal, penyisihan yang
bersangkutan yang dibentuk selama tahun
menunjukkan saldo berjalan, penghapusan selama
awal, penyisihan yang tahun berjalan, penerimaan
dibentuk selama tahun kembali kredit yang telah
berjalan, penghapusan dihapusbukukan dan saldo
selama tahun berjalan, penyisihan pada akhir tahun.
penerimaan kembali 2. Kebijakan dan metode
kredit yang telah akuntansi penyisihan,
dihapusbukukan dan penghapusan, dan
saldo penyisihan pada penanganan kredit
akhir tahun. bermasalah.
2. Kebijakan dan metode 3. Metode yang digunakan
akuntansi penyisihan, untuk menentukan penyisihan
penghapusan, dan khusus dan umum.
penanganan kredit 4. Besarnya kredit bermasalah
bermasalah. dan penyisihannya untuk
3. Metode yang setiap sektor ekonomi.
digunakan untuk 5. Saldo kredit yang sudah
menentukan dihentikan pembebanan
penyisihan khusus dan bunganya.
umum. 6. Agunan yang diambil alih,
4. Besarnya kredit menurut nilai wajar yang
bermasalah dan dapat direalisasi.
penyisihannya untuk 7. Ikhtisar kredit yang
setiap sector ekonomi. dihapusbuku dalam tahun
5. Saldo kredit yang berjalan, penerimaan kembali
sudah dihentikan kredit yang telah dihapus
pembebanan buku, kredit yang telah
bunganya. dihapus tagih dan saldo akhir
tahun.
Pada Tahun 2009, Jumlah kredit yang di berikan (dalam jutaan rupiah)
oleh Bank Mandiri, Tbk, sebesar 188.053.536 dengan pendapatan provisi sebesar
766.526
Jurnal Kredit
Dari data tersebut, maka jurnal atas realisai kredit tersebut (dalam jutaan rupiah) :
Kredit Diberikan 188.053.536,-
Pendapatan Provisi – Kredit Diberikan 766.526,-
Kas / Rekening Nasabah 187.287.010,-
Untuk pendapatan bunga, bank akan menjurnal sebagai berikut :
Piutang Pendapatan Bunga 26.448.093,-
Pendapatan bunga 26.448.093,-
Non Performing Loan menurut PAPI
Total kredit yang diberikan selama 2009 sebesar 188.053.536,-, dari total
tersebut sebanyak 0,77% merupakan kredit bermasalah maka hal tersebut diukur
dengan menggunakan Current Cost pada saat itu yang selanjutnya akan
disajikan di Catatan atas Laporan Keuangan dan tidak disajikan di Neraca.
Estimasi nilai wajar dari kredit yang diberikan mencerminkan
jumlah diskonto dari estimasi kini dari arus kas masa depan yang
diharapkan akan diterima. Nilai wajar dari kredit yang diberikan dan
piutang pembiayaan konsumen ditentukan dengan mendiskontokan arus
kas yang diharapkan pada tingkat suku bunga pasar terkini.
Sedangkan bunga sebesar 6.065.545 (dalam jutaan rupiah) pada lampiran
5/131 yang terlanjur dicatat akan dinihilkan nilainya dengan melakukan jurnal :
Pendapatan bunga 6.065.545,-
Piutang Pendapatan Bunga 6.065.545,-
Selanjutnya bunga yang telah dibatalkan sebelumnya dicatat sebagai
tagihan Kontijensi dengan jurnal :
Tagihan Kontijen Kredit 6.065.545 ,-
Kontra – Tagihan Kontijensi Kredit 6.065.545,-
Jika terjadi pembayaran atas NPL maka didahulukan untuk
pelunasan pokok pinjaman dan jika terjadi kelebihan maka dicatat sebagai
pendapatan bunga dengan jurnal:
Kas xxx
Pendapatan bunga kredit xxx
Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal :
Kontra – Tagihan kontijensi kredit xxx
Tagihan Kontijensi xxx
Sebesar dengan jumlah tunggakan yang dilunasi.
Non Performing Loan menurut PSAK 31
Jika dari 188.053.536,- (dalam jutaan rupiah), dari total tersebut
sebanyak 0,77% merupakan kredit bermasalah terjadi perubahan koektibilitas
menjadi NPL maka hal tersebut diukur dengan menggunakan Historical Cost
atau sama dengan 0,77% x 188.053.536,- tanpa mendiskontokan arus kas
yang diharapkan pada tingkat suku bunga pasar terkini.
Sedangkan untuk bunga untuk NPL dihentikan pengakuannya dan
selanjutnya akan dicatat pada saat terjadi pembayaran bunga secara Cash Basis.
Kas 6.065.545,-
Pendapatan bunga kredit 6.065.545,-
5.5 Analisis Terhadap Pendapatan Bunga
Pada Bank Mandiri, pendapatan bunga yang diterima dari kredit
kategori bermasalah (Nonperforming Loan) diakui secara cash basis
dimana bunga tersebut diakui pada saat diterima tunai, bunga yang diakui
tetapi belum tertagih akan dibatalkan pengakuannya. Pembayaran atas
pinjaman untuk kredit kategori bermasalah terlebih dahulu diperuntukkan
mengurangi pokok pinjaman. Kelebihan penerimaan dari pokok pinjaman
diakui sebagai pendapatan bunga dalam Laporan Laba Rugi
Konsolidasian. Hal ini sesuai dengan penerapan, PAPI dan PSAK 31
untuk pelaporan sebelum 1 Januari 2010 maupun setelah 1 Januari 2010.
BAB VI
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan sebelumnya disimpulkan
perlakuan akuntansi atas kredit bermasalah (nonperforming loan) ditinjau dari
Pedoman akuntansi yang berlaku umum adalah sebagai berikut :
a. Perlakuan akuntansi yang diterapkan oleh Bank Mandiri untuk
kredit bermasalah (nonperforming loan) tidak sesuai dengan SAK
dimana kredit tersebut menggunakan current cost, sedangkan
dalam PSAK 31 mengukur dengan menggunakan historical cost.
b. Perlakuan akuntansi pendapatan bunga untuk kredit kategori
bermasalah pada Bank Mandiri diakui secara cash basis, bunga diakui
pada saat bunga tersebut diterima sedangkan bunga yang telah diakui
tetapi belum tertagih akan dibatalkan pengakuannya. Penerimaan
pembayaran atas kredit bermasalah dipergunakan terlebih dahulu untuk
mengurangi pokok pinjaman. Kelebihan penerimaan dari pokok
pinjaman diakui sebagai pendapatan bunga dalam laporan laba-rugi. Hal
ini telah sesuai dengan PSAK 31 dan PAPI dimana pendapatan bunga
dari kredit bermasalah, sedangkan mengenai pengukurannya Bank
Mandiri menggunakan konsep historical cost.
c. Untuk pelaporan keuangan 2010 terjadi perubahan khususnya dalam
hal pelaporan dan penyajian kredit bermasalah seiring dengan
dicabutnya penerapan PSAK 31 diganti dengan penerapan PSAK 50
dan 55 yang berdampak pada munculnya penurunan nilai asset.
6.2 SARAN
Mengacu pada kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya, perlakuan
akuntansi yang diterapkan oleh Bank Mandiri telah menggunakan metode yang
tepat dan sesuai dengan Standar Akuntansi yang berlaku umum kecuali untuk
pengukuran kredit bermasalah yang menggunakan current cost , sedangkan
dalam SAK pada PSAK 31 mengukur dengan menggunakan historical cost.
Pada PSAK 31 tentang perbankan tidak membahas secara detail mengenai
perlakuan akuntansi untuk kredit bermasalah. PSAK merupakan standar acuan
sedangkan untuk mempermudah pelaksanaan dalam pengungkapan kondisi
perusahaan, Bank Mandiri menerapkan sistem akuntansinya berdasarkan Pedoman
Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). Bank Indonesia mewajibkan kepada seluruh
perbankan Indonesia untuk menerapkan kedua ketentuan tersebut.
Mengenai kebijakan kredit bermasalah , pihak Bank Mandiri mestinya lebih
berhati-hati dalam kebijakan dan prosedur penanganan kredit bermasalah. Hal
tersebut juga sebagai antisipasi untuk menghindari jumlah cadangan penurunan
nilai yang terlalu besar jika terdapat perubahan penerapan standar akuntansi,
seperti yang terjadi pada pelaporan keuangan periode 2010 dimana dicabutnya
penerapan PSAK 31 dan diterapkannya PSAK 50 dan 55.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Masyhud, Haji, 2006, Manajemen Risiko: Strategi Perbankan dan
Dunia Usaha Mengahadapi Tantangan Globalisasi Bisnis, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
AL. Jusup Haryono, 2005, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 1, Universitas
Gadjah Madha, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Yogyakarta.
Harahap, 2005, Sofyan Syafri, Teori Akuntansi, Edisi Revisi, PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Ismail, 2009, Akuntansi Bank : Teori dan Aplikasi Dalam Rupiah, edisi
Pertama, kencana Prenada Media Group , Jakarta.
Ismail, 2010, Manajemen Perbankan : Dari Teori Menuju Aplikasi, Edisi
pertama, Rajawali Pers, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI),2001, Pedoman Akuntansi Perbankan
Indonesia, Revisi 2000, Diterbitkan atas kerja sama dengan Bank
Indonesia, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2007, Standar Akuntansi Keuangan,
Salemba Empat, Jakarta, Per 1 September.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI),2004, Standar Akuntansi Keuagan, Edisi
Revisi 2000, Salemba Empat, Jakarta.
Irham Fahmi, Yovi Lavianti Hadi, 2010, Pengantar Manajemen
Perkreditan, Alfabeta, Jakarta.
Kasmir, 2010, Dasar-Dasar Perbankan, Edisi Revisi, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Kasmir, 2008, Manajemen Perbankan, Edisi Revisi, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Soemarso, 2004, Akuntansi Suatu Pengantar, Revisi Buku 1, Edisi Kelima,
Salemba Empat, Jakarta.
Winwin Yadiati, Ilham Wahyudi, 2006, Pengantar Akuntansi, Edisi Revisi,
Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
Sofyan Syafri Harahap, Teori Akuntansi, Edisi revisi, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta 2008
Suwardjono, Akuntansi Pengantar : Proses Penciptaan Data Pendekatan
Sistem, Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta, 2002.
Winarno, Sigit; Ismaya, Sujana, Kamus Akuntansi, Pustaka Grafika,
Jakarta, 2006.
[Link]