BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kehamilan merupakan masa ketika seorang wanita membawa embrio
atau fetus didalam tubuhnya. Awal kehamilan terjadi pada saat sel telur
perempuan lepas dan masuk ke dalam saluran sel telur (Astuti, 2011).
Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan
masalah besar. Namun dengan berbagai upaya yang berkesinambungan dan
kerja keras bersama, angka kematian ibu (AKI) mengalami penurunan yang
cukup bermakna. Salah satu upaya yang dilakukan sesuai dengan target
Millenium Development Goals (MDGs) pada tujuan ke-5 yaitu meningkatkan
kesehatan ibu. Penyebab kematian ibu tersebut karena kehamilan atau
persalinan yang disebabkan oleh aspek medis, sosial, budaya dan agama.
Salah satu aspek medis tersebut yaitu persalinan dengan komplikasi.
Komplikasi dalam kehamilan seperti kehamilan ektopik, hyperemesis
gravidarum, abortus, eklamsi, plasenta previa yang sangat mengancam
nyawa ibu hamil. Dalam mengatasi penyebab masalah tersebut diperlukan
pendekatan yang berkualitas yang dimulai sejak perencanaan kehamilan dan
selama masa kehamilan. (Rusmita, 2015).
Kecemasan atau ansietas ibu hamil yang akan menghadapi proses
persalinan salah satu masalah gangguan emosional yang sering ditemui dan
menimbulkan dampak psikologis cukup serius. Menurut Stuart dan Laraia
(2005) kecemasan merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini
1
tidak memiliki objek yang spesifik, dialami secara subjektif dan
dikomunikasikan secara interpersonal. Kegelisahan dan kecemasan selama
kehamilan merupakan kejadian yang tidak terelakkan, hampir selalu
menyertai kehamilan, dan bagian dari suatu proses penyesuaian yang wajar
terhadap perubahan fisik dan psikologis yang terjadi selama kehamilan.
Perubahan ini terjadi akibat perubahan hormone yang akan mempermudah
janin untuk tumbuh dan berkembang sampai saat dilahirkan (Kushartanti,dkk,
2004).
Maramis (2005) juga menyebutkan bahwa sebagian besar calon ibu
yang menghadapi kelahiran anaknya dengan persaan takut dan cemas.
Semakin tua kehamilan, maka perhatian dan pikiran ibu hamil mulai tertuju
pada sesuatu yang dianggap klimaks, sehingga kecemasan dan ketakutan
yang dialami ibu hamil akan semakin intensif saat menjelang persalian.
Hal senada juga diungkap Basuki (2007), bahwa pada usia
kandungan 7 bulan keatas, tingkat kecemasan ibu hamil semakin akut dan
intensif seiring dengan mendekatnya kelahiran bayi. Rasa cemas dan takut
menjelang persalinan menduduki peringkat teratas yang paling sering dialami
ibu selama hamil.
Perubahan-perubahan fisik yang terjadi selama masa hamil akan
mempengaruhi sang calon ibu dan membuat merasa tidak nyaman, baik
secara fisik maupun psikis. Perut yang terus membesar, sesak napas seiring
dengan pertumbuhan janin, mood yang tidak menentu, ngidam, dan
2
kecemasan akan masa persalinan sering membuat calon ibu merasa tidak
percaya diri dan tidak nyaman (Sindhu, 2009).
Prenatal yoga (yoga selama kehamilan) merupakan salah satu jenis
modifikasi dari hatha yoga yang disesuaikan dengan kondisi ibu hamil.
Tujuan prenatal yoga adalah mempersiapkan ibu hamil secara fisik, mental,
dan spiritual untuk proses persalinan. Dengan persiapan matang, sang ibu
akan lebih percaya diri dan memperoleh keyakinan menjalani persalinan
dengan lancar dan nyaman (Pratignyo, 2014:14).
Berlatih yoga pada masa ini merupakan salah satu solusi yang
bermanfaat sebagai media self help yang akan mengurangi
ketidaknyamanan selama masa hamil, membantu proses persalinan, dan
bahkan mempersiapkan mental untuk masa awal setelah melahirkan dan
saat membesarkan anak (Sindhu, 2009:23).
World Healt Organization (WHO) tahun 2014 Angka Kematian Ibu
(AKI) di dunia yaitu 289.000 jiwa. WHO African Region (AFR) yaitu 171.000
jiwa, WHO Region of the American (AMR) 11.000 jiwa. WHO Enstem
Medicinean Region (EMR) yaitu 26.000 jiwa. WHO European Region (EUR)
yaitu 1.900 jiwa. WHO South-East Asia Region (SEAR) yaitu 68.000 jiwa.
WHO Westerm Pacific Region (WPR) yaitu 12.000 jiwa (WHO, 2014). Data
yang diperoleh dari Kementrian Kesehatan RI selama tahun 2013 penyebab
kematian ibu disebabkan karena perdarahan sebanyak 30,3 %, hipertensi
27,1 %, infeksi 7,3 % dan lain – lain 40,8 % (KemenKes RI,2013).
3
Data yang diperoleh dari Profil Depertemen Kesehatan RI (DEPKES
RI) tahun 2015 jumlah ibu hamil di Indonesia yaitu 7.790.235 (KemenKes RI,
2015). Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah
Tahun 2016 jumlah ibu hamil di Sulawesi Tengah yaitu 69.549 jiwa (DinKes
Provinsi Sulawesi Tengah, 2016). Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan
Kota Palu tahun 2016 jumlah ibu hamil di Kota Palu yaitu 7.569 jiwa (DinKes
Kota Palu, 2016).
Data yang diperoleh dari Puskesmas Singgani tahun 2016 jumlah ibu
hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Singgani berjumlah 886 jiwa dan pada
bulan November 2017 jumlah ibu hamil di Puskesmas Singgani berjumlah 71
jiwa (Puskesmas Singgani, 2016-2017).
Berdasarkan study pendahuluan menunjukan bahwa tingkat
kecemasan ibu hamil pada trimester III di Puskesmas Singgani masih cukup
tinggi, selama ini dalam mengatasi masalah kecemasan ibu hamil hanya
dilakukan konseling oleh bidan di puskesmas Singgani.
Dari hasil penelitian Miftah Hariyanto, dimana hasil penelitian hasil
perbandingan pre test dan post test tingkat kecemasan ibu hamil dengan
umur kehamilan lebih dari 32 minggu di Praktik Bidan Mandiri Kabupaten
Boyolali pada kelompok perlakuan diketahui bahwa sebelum dilakukan
senam hamil yoga diperoleh rata-rata kecemasan sebesar 18,06%,
sedangkan untuk sesudah dilakukan senam yoga diperoleh nilai rata-rata
tingkat kecemasan sebesar 15,46%. Hasil tersebut menunjukan bahwa
terjadi penurunan tingkat kecemasan sesudah dilakukan senam yoga.
4
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik melakukan
penelitian terkait dengan judul “Pengaruh Yoga Kehamilan Terhadap Tingkat
Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Di Puskesmas Singgani”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengambil
perumusan masalah yaitu “Apakah Senam Yoga Berpengaruh Terhadap
Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Di Puskesmas Singgani?”
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh yoga kehamilan terhadap tingkat kecemasan
ibu hamil trimester III di puskesmas Singgani.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui perbedaan kecemasan ibu hamil trimester III sebelum
dan sesudah dilakukan yoga pada kelompok eksperimen.
b. Mengetahui perbedaan kecemasan ibu hamil sebelum dan sesudah
dilakukan yoga pada kelompok kontrol.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Singgani
Memberikan masukan bagi bidan dalam penyusunan dalam kebijakan
program pelayanan kebidanan khususnya tentang pemberian asuhan
kebidanan dan penerapan yoga antenatal.
5
2. Bagi Akademi Kebidana Palu
Menambah wacana dan informasi mengenai yoga antenatal ibu hamil
trimester III.
3. Bagi Peneliti
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi dalam
memperluas ilmu kebidanan.
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Kehamilan
1. Pengertian kehamilan
Kehamilan adalah masa ketika seorang wanita membawa embrio atau
fetus di dalam tubuhnya. Awal kehamilan terjadi pada saat sel telur
perempuan lepas dan masuk dalam saluran sel telur. Pada saat
persetubuhan, berjuta-juta cairan sel sperma dipancarkan oleh laki-laki
dan masuk kedalam rongga rahim. Dengan kompetisi yang sangat ketat,
salah satu perma tersebut akan berhasil menembus sel telur dan bersatu
dengan sel telur tersebut. Peristiwa ini yang disebut dengan fertilisasi atau
konsepsi (Astuti Maya, 2011:16).
2. Perubahan pada kehamilan
Tubuh ibu akan bertambah besar, terutama pada bagian perut,
pinggul, dan payudara. Selama 9 bulan lebih (40 minggu), ibu akan
membawa janin di dalam kandungannya yang terus membesar sehingga
tubu ibu akan beradaptasi agar janin dapat tumbuh dengan baik dalam
kandungan. Perubahan bentuk tubuh ibu secara jelas dapat dilihat dan
diukur dengan bertambahnya berat badan ibu selama kehamilan.
Penambahan berat badan tersebut diakibatkan oleh pembesaran uterus
dan isinya (janin, air ketuban, dan plasenta), payudara serta peningkatan
volume darah, cairan ektraseluler (di luar sel), dan ekstravaskuler (di luar
pembuluh darah) (Astuti, 2011:37-38).
7
3. Kehamilan trimester III
Trimester III sering disebut periode menunggu sebab ibu hamil
merasa tidak sabar menunggu kelahiran banyinya. Pada akhir bulan ke
Sembilan atau ke-36, Rahim ibu mulai mencapai daerah tulang rusuk dan
ibu mungkin merasa tidak nyaman, khususnya jika ibu makan dalam
jumlah yang banyak dimalam hari. Ibu mungkin sering terbangun dimalam
hari karena mengeluh terasa panas dan sesak di dada. Karena beban
ditubuh semakin berat, tulang belakang semakin kearah depan sehingga
ibu mengalami kesulitan ketika memiringkan tubuhnya saat berbaring dan
mudah capek saat duduk lama (Astuti,2011:45).
4. Perubahan psikologis trimester III
Memasuki trimester ke-3 ini, ibu hamil seharusnya didampingi suami
atau keluarga untuk memberikan dukungan dan terlibat dalam kehamilan
tersebut karena pada saat ini, emosi ibu hamil mulai mencapai puncaknya.
Pada tahap ini, ibu akan menyadari bahwa sebentar lagi janin yang
dikandunganya akan segera lahir ke dunia dan hadir secara nyata
dihadapan ibu. Oleh karena itu, tahap ini sering disebut dengan priode
menunggu dan waspada. Seiring itu, biasanya timbul juga perasaan
cemas, ketakutan, dan adanya masalah rumah tangga, akan membuat ibu
semakin steres dan mungkin merasa belum siap menghadapi proses
persalinan. Kadang-kadang, ibu merasa bahwa bayinya akan lahir
sewaktu-waktu. Hal tersebut menyebabkan ibu harus meningkatkan status
kewaspadaan akan timbulnya tanda dan gejala terjadinya persalinan.
8
Ibu juga mulai khawatir tentang kemungkinan bayinya akan lahir normal,
terdapat penyulit, bayi sehat atau mengalami komplikasi (Astuti, 2011:47).
5. Ketidaknyamanan dalam Kehamilan
Dengan adanya kehamilan, maka akan terjadi perubahan pada ibu
baik secara fisiologis dan psikologis. Perubahan tersebut sebagian besar
adalah karena pengaruh hormone yaitu peningkatan hormone estrogen
dan progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum yang berkembang
menjadi korpus graviditas dan dilanjutkan sekresinya oleh plasenta
setelah terbentuk sempurna (Hani dkk, 2014)
Akibat perubahan kondisi fisik dan psikologis ibu selama hamil, timbul
ketidaknyamanan yang umum terjadi dalam masa kehamilan. Berikut ini
daftar beberapa ketidaknyamanan selama selama hamil (Astuti,2011) :
a) Rasa mual/muntah
b) Bercak-bercak di wajah (kloasma)
c) Sering buang air kecil, terutama dimalam hari
d) Mengidam makanan
e) Keputihan
f) Konstipasi (sembelit)
g) Kram pada kaki
h) Sakit kepala
i) Perut kembung
j) Bengkak pada kaki
k) Garis di perut (strie gravidarum)
9
l) Kelelahan
m) Susah tidur
n) Sesak napas
o) Pusing
p) Sakit punggung atas dan bawah
B. Konsep Yoga Kehamilan
1. Pengertian
Yoga adalah sebuah ilmu yang menjelaskan kaitan antara fisik,
mental dan spiritual manusia untuk mencapai kesehatan yang
menyeluruh. Yoga dari bahasa sanskerta yang berarti ‘union’ (persatuan)
ini terbentuk dari kebudayaan india kuno sejak 5.000 tahun lalu dan
bertujuan menyatukan atman (diri) dengan brahman (sang pencipta)
(shindu, 2014:24).
Kata yoga berasal dari bahasa sanskerta ‘yuj’ artinya
menggabungkan atau menyatukan (to join). Penyatuan ini mempunyai
makna bersatunya manusia dengan sang maha pencipta atau bermakna
keutuhan/keharmonisan diri secara fisik, mental, dan spiritual. Manusia
pada hakikatnya mempunyai keinginan untuk memahami dirinya dan
mengenal sang pencipta. Kebutuhan dasar manusia untuk merasakan
keutuhan serta kesatuan tubuh dan pikiran adalah latar belakang
munculnya gerakan yoga (Pratignyo, 2014:13).
Yoga adalah cara yang efektif untuk mempersiapkan persalinan
karena teknik pelatihan ini berfokus pada pengendalian otot untuk
10
kelahiran, teknik pernapasan, relaksasi dan ketenangan pikiran. Yoga
mempunyai peran dalam mempersiapkan wanita hamil karena
perubahan fisik dan psikologis. Perubahan yang dialami yoga prenatal
berfokus pada proses untuk wanita hamil. Yoga juga bermanfaat dalam
melatih dan menguasai teknik pernapasan selama kehamilan dan
persalinan. Latihan pernapasan dasar sama dengan melatih ketegangan,
mempercepat sirkulasi darah dan suplai oksigen cukup baik untuk ibu
maupun janin (Sarwendah, 2012).
2. Prinsip Yoga Kehamilan
a. Napas dengan penuh kesadaran
Napas yang dalam dan teratur bersifat bersifat
menyembuhkan dan menenangkan. Melalui teknik pernapasan
yang benar, sang ibu akan lebih dapat mengontrol pikiran dan
tubuhnya.
b. Gerakan yang lembut dan perlahan
Gerakan yang lembut dan mengalir akan membuat tubuh ibu
lebih luwes sekaligus kuat. Gerakan prenatal yoga fokus pada otot-
otot dasar panggul, otot panggul, pinggul, paha dan punggung.
c. Relaksasi dan meditasi
Dengan relaksasi dan meditasi, seluruh tubuh dan pikiran ibu
dalam kondisi yang rileks, tenang dan damai.
d. Ibu dan bayi
11
Prenatal yoga meluangkan waktu spesial dan meningkatkan
bonding antara ibu dan calon bayi. Jika ibu bahagia dan rileks, bayi
pun akan merasakan hal yang sama.
3. Manfaat Yoga Kehamilan
1) fisik
a) Meningkatkan energi, vitalitas dan daya tahan tubuh.
b) Melepaskan steres dan cemas.
c) Meningkatkan kualitas tidur.
d) Menghilangkan ketegangan otot.
e) Mengurangi keluhan fisik secara umum semasa kehamilan,
seperti nyeri punggung, hingga pembengkakan bagian tubuh.
f) Membantu proses penyembuhan dan pemulihan setelah
melahirkan.
2) Mental dan emosi
a) Menstabilkan emosi ibu hamil yang cenderung fluktuaktif.
b) Menguatkan tekad dan keberanian.
c) Meningkatkan rasa percaya diri dan focus .
d) Membangun afirmasi posotif dan kekuatan pikiran pada saat
melahirkan.
3) Spiritual
a) Menenangkan dan mengheningkan pikiran melalui relaksasi dan
meditasi.
12
b) Memberikan waktu yang tenang untuk menciptakan ikatan batin
antara ibu dengan bayi.
c) Menanamkan rasa kesabaran, intuisi dan kebijaksanaan
(Pratignyo, 2014:15).
4. Kontraindikasi dan waktu melakukan yoga kehamilan
Selama kehamilan yang sedang berlangsung dalam keadaan sehat,
tanpa kontrandikasi (diantaranya preeklamsia, plasenta previa totalis,
hipertensi, ada riwayat keguguran sebelumnya yang disebabkan oleh
lemahnya kandungan, dan penyakit jantung). Sangat disarankan berlatih
yoga secara rutin. Berlatihlah selama seminggu 1-2 kali selama 60-90
menit (Sindhu, 2014:35).
5. Persiapan yang perlu diperhatikan dalam yoga kehamilan
a) Persiapan
1) Kenakan pakaian yang pas (tidak terlalu longgar dan tidak terlalu
ketat yang akan mengganggu napas dan gerakan) dengan baha
yang ringan dan menyerap keringat.
2) Pakailah bra khusus untuk wanita hamil yang bias menyangga
payudara dengan baik.
3) Berlatih tanpa alas kaki (kaus kaki dan atau sepatu) diatas matras
yoga yang anti-slip untuk mencegah risiko terpeleset dan terkilir.
4) Gunakan beberapa alat bantu yang mudah ditemukan dirumah,
seperti bantal tidur, kursi pendek, kursi kayu, bean bag, dan ikat
pinggang.
13
5) Berlatilah dalam ruangan yang sama dan dengan waktu yang
sama setiap harinya, untuk menciptakan suasana dan
memudahkan pikiran ibu langsung “masuk” kesuasana yoga. Ibu
juga dapat memutar music yang lembut saat berlatih untuk
menciptakan suasana pikiran yang tenang.
6) Kosongkan perut sebelum berlatih, 2 jam setelah makan berat
dan 1 jam setelah makan ringan.
7) Minum air sesering mungkin sebelu, setelah, dan saat berlatih.
Ibu hamil sangat mudah terkea dehidrasi, yang dapat
membahayakan keselamatan ibu dan janin.
b) Hal yang perlu diperhatikan:
1) Tidak melakukan semua postur yang menekan keperut.
2) Melakukan postur memuntir tulang punggung secara lembut dan
hanya memuntir tulang punggung bagian atas mulai dari belikat
ke leher. Tulang punggung yang terpuntir sepenuhnya dari
pinggang hingga ke leher akan ikut memuntir Rahim ibu dan
membahayakan janin.
3) Tidak melakukan postur inversi/terbalik karna akan
mengakibatkan embolisme pemampatan udara dialiran darah.
4) Tidak berbaring terlentang dalam waktu lama.
5) Tidak bangun secara tiba-tiba dari posisi berbaring, jongkok, atau
duduk.
14
6) Jaga posisi tulang punggung tetap tegak, dan biarkan kedua kaki
diregangkan sejajar dengan pinggul saat berdiri.
7) Hindari suhu yang terlalu tinggi, maksimal 37oC saat berlatih
yoga.
8) Hindari pemakaian aroma terapi karena wanita hamil lebih
sensitive terhadap wangi-wangian dan senyawa kimia yang
terdapat pada aroma terapi dapat membahayakan janin.
9) Hindari melakukan postur dengan kepala yang lebih rendah dari
pada posisi jantung.
10) Hindari melakukan posisi berjongkok penuh apabila anda
menderita varises atau kaki bengkak saat hamil.
11) Berlakukan pepatah “apabila terasa nyaman, lanjutkan dan
apabila tidak nyaman, hentikan” dan apabila terjadi perdarahan,
mutlak hentikan dan secepatnya berkonsultasi dengan dokter.
6. Latihan yoga pada kehamilan trimester III
Ukuran janin yang semakin besar akan membebani tulang
punggung ibu dan membuat postur tubuh yang lebih baik dan kuat
semakin diperlukan. Fokus ibu saat ini adalah menciptakan ruang bagi
ibu dan janin agar dapat bernafas dan bergerak bebas, serta
mempersiapkan diri secara fisik, mental dan spiritual untuk menghadapi
proses persalinan. Lakukan postur-postur yoga berikut secara perlahan
(Shindu, 2014:112).
a. Pemanasan
15
Pemanasan sangat penting sebelum berlatih prenatal yoga.
Jika tidak melakkan pemanasan, otot – otot tubuh akan “kaget” dan
akibatnya tubuh merasa nyeri atau pegal setelah latihan.
Pemanasan yang dilakukan dengan kesadaran napas akan
membuat tubuh relaksasi dan aktif sehingga tubuh akan siap
melakukan gerakan – gerakan yoga (Pratignyo, 2014).
1) Pemanasan leher
a) Duduk bersila dengan nyaman dan luruskan tulang
punggung.
b) Letakkan kedua tangan diatas lutut.
c) Tengok kpala kearah kanan tahan posisi dan bernapas
relaks 3 – 5 kali.
d) Tengok kepala kearah kiri. Tahan posisi dan bernapas relaks
3 – 5 kali.
e) Rebahkan kepala kesamping kanan. Tahan posisi dan
bernapas relaks 3 -5 kali.
f) Rebahkan kepala kesamping kiri. Tahan posisi dan bernapas
relaks 3 – 5 kali.
g) Tundukkan kepala seluruhnya kebawah dan rasakan
peregangan leher bagian belakang.
h) Perlahan putar pergelangan leher dan kepala kekiri,
belakang, kanan, dan kembali kedepan. Lakukan sebanyak 3
– 4 kali.
16
i) Putar leher dan kepala kearah sebaliknya. Lakukan
sebanyak 3 – 4 kali.
j) Tundukkan kepala seluruhnya kebawah dan bernapas
normal.
k) Angkat kepala kembali ketengah dan relaks.
Gambar 1 Pemanasan leher (Pratignyo, 2014)
2) Peregangan dan pemuntiran samping tubuh
a) Duduk bersila dengan nyaman.
b) Buang napas, regangkan tubuh kesamping, dan pandang
keatas. Tahan lembut posisi ini dan bernapas normal 3 – 5
kali ulangi sisi lainnya.
c) Kembali duduk bersila menghadap depan.
17
d) Buang napas, perlahan memuntir tubuh kesamping kanan.
Tahan lembut posisi ini dan bernapas normal 3 – 5 kali.
Ulangi sisi lainnya.
Gambar 2 Peregangan samping tubuh (Pratignyo,2014)
3) Perengangan bahu dan pundak
a) Duduk bersila dengan nyaman.
b) Letakkan kedua tangan dipundak dan kedua siku
bersentuhan.
c) Tarik napas, putar lengan keatas, dan kedua siku
menghadap keatas.
d) Buang napas, lalu putar lengan kebelakang.
e) Ulangi gerakan 3 – 5 kali.
Gambar 3 Peregangan bahu (Pratignyo, 2014)
18
b. Postur Restroatif
Mudhasana (postur anak)
Membesarnya janin akan semakin membebani tulang
punggung bawah ibu. Postur ini adalah salah satu postur beristirahat
yang dapat “memindahkan” beban tersebut dari punggung ibu.
Berbeda variasi yang dilakukan pada trimester awal kehamilan,
lakukan postur ini dengan meregangkan lutut sedikit lebih lebar
untuk mengakomodasi perut ibu dan tumpuk kedua tangan untuk
mengistirahatkan kening.
Gambar 4 Mudhasana (Sindhu, 2014)
c. Postur Berdiri
1) Utkatasana (postur kursi)
Dalam tradisi kuandalini, postur yoga ini dikenal sebagai
postur dewi yang bermanfaat untuk menguatkan sekaligus untuk
melenturkan otot-otot dasar panggul, menguatkan kaki dan
membangkitkan rasa berani.
a) Berdiri dengan kedua kaki diregangkan lebih lebar daripada
pinggul.
b) Tarik napas, panjangkan tulang punggung. Buang napas,
tekuk lutut hingga sejajar dengan tumit. Pastikan lutut tertarik
19
keluar dan tulang ekor masuk. Condongkan tubuh sedikit
kedepan dan letakkan kedua tangan diatas paha. Tahan
dalam posisi ini sambil bernafas [erlahan selama yang ibu rasa
nyaman. Saat menahan dalam posisi ini, ibu juga dapat
merentangkan tangan kesamping dan menekuk siku.
c) Tarik napas, perlahan kembali luruskan lutut. Buang napas,
lakukan postur ini 2 putaran.
Gambar 5 Utkatasana (Sindhu, 2014)
1) Seri memutar panggul (pelvic Rocking)
Postur ini akan merileksasikan otot-otot pinggul dan
panngul. Postur ini tetap dapat dilakukan bahkan pada
detik-detik menjelang persalinan kelak, untuk memberikan
sensasi relaks pada daerah panggul dan melancarkan
proses kelahiran.
a) Teknik I
1. Berdiri dengan kedua kaki diregangkan lebih lebar
sedikit dari pada pinggul. Tekuk lutut sedikit dan
arahkan jari-jari kaki keluar. Letakkan kedua
tangan pada pinggul.
20
2. Perlahan, gerakkan pinggul berputar membentuk
lingkaran besar. Lakukan, sambil bernapas dalam,
sebanyak 5-10 putaran, dan putar arah.
3. Tarik napas, kembali luruskan lutut. Buang napas,
gerakkan otot kaki untuk melepaskan ketegangan
dan melancarkan kembali sirkulasi darah.
Gambar 6 Seri memutar panggul tehnik I (Sindhu,
2014)
b) Teknik II
1. Dalam posisi merangkak.
2. Perlahan, gerakkan pinggul berputar membentuk
lingkaran besar. Lakukan sambil bernapas dalam
sebanyak 5 putaran, dan putar arah.
3. Kembali dalam posisi merangkak. Perlahan,
gerakkan punggung berputar membentuk lingkaran
besar selama 5 putaran. Jaga agar punggung tetap
dalam posisi netral/tegak.
21
4. Duduk diatas tumit, dan istirahatkan kening pada
alas dalam postur mudhasana.
Gambar 7 seri memutar panggul tehnik II
(Sindhu, 2014)
2) Postur melenturkan dan menguatkan panggul
Saat kehamilan telah menginjak bulan-bulan terakhir sebelum
kelahiran, beban kandungan akan semakin menekan dan ulai
menurun “memenuhi” rongga panggul. Sendi panggul dan otot
dasar panggul yang elastis dan kuat akan berfungsi sebagai
“ayunan” yang akan menyangga kehamilan ibu pada akhir pada
akhir masa kehamilan ini dan menghindarkannya dari berbagai
ketidaknyamanan seperti lemah kandung kemih dan sembelit serta
membuat panggul lebih mudah “terbuka” untuk melancarkan
proses kelahiran.
1) Seri postur berjongkok
Posisi berjongkok merupakan satu posisi yang ideal
untuk melahirkan karena akan memaksimalkan tekanan
didalam panggul untuk “mendorong” bayi keluar sambil
menjaga otot-otot dasar panggul agar tetap relaks selama
prosesnya. Postur di bawah ini bermanfaat untuk
22
mengencangkan sekaligus melenturkan otot dasar panggul,
meningkatkan kelenturan lutut dan pinggul, melancarkan
pencernaan, serta melancarkan sirkulasi darah ke kaki.
a) Teknik I
1. Dari posisi berdiri. Regangkan kedua kaki sedikit lebih
lebar daripada pinggul. Arahkan jari kaki kearah luar
dan tumit kedalam.
2. Tekuk lutut dan perlahan turunkan pinggul turun ke
alas (atau ke bangku pendek). Letakkan kedua
tangan pada alas di depan tubuh atau di atas lutut.
Jaga agar tulang ekor tetap tertarik ke dalam. Tahan
posisi ini sambil tetap bernapas dalam selama 1
menit.
3. Letakkan tangan pada lutut, dan tekan tangan seraya
kembali berdiri.
Gambar 8 Seri postur berjongkok tehnik I (Sindhu,
2014)
b) Teknik II
1. Dari posisi berjongkok. Regangkan kaki lebih lebar
untuk merentang panggul lebih dalam. Condongkan
23
tubuh lebih ke depan dan letakkan kedua tangan
pada alas. Jaga agar punggung tidak membungkuk.
2. Perlahan, ayun tubuh ke sisi kiri dan tahan selama 3
detik. Kemudian , ayun tubuh ke sisi kanan dan tahan
selama 3 detik. Lakukan 5-10 putaran sambil
bernapas perlahan.
3. Kembali dalam posisi berjongkok, dan perlahan
berdiri sambil menggerak-gerakkan otot kaki.
Gambar 9 Seri postur berjongkok tehnik II (Sindhu,
2014)
c) Teknik III
1. Dari posisi berjongkok. Letakkan kedua tangan
pada alas. Jaga agar punggung tidak
membungkuk.
2. Tarik napas, angkat tumit kanan dari alas.
Buang napas, turunkan kembali tumit ke alas.
3. Tarik napas, angkat tumit kiri dari alas. Buang
napas, turunkan kembali tumit kiri ke alas.
Lakukan gerakan-gerakan ini seiring dengan
24
tarikan dan embusan napas 5-10 putran untuk
kedua sisi kaki.
4. Kembali dalam posisi berjongkok, dan perlahan
kembali berdiri sambil menggerak-gerakkan otot
kaki.
Gambar 10 Seri postur berjongkok tehnik III
(Sindhu, 2014)
d) Teknik IV
1. Dari posisi jongkok. Letakkan kedua tangan
pada alasdan condongkan tubuh lebih kedepan
sehingga hampir seperti posisi merangkak.
Angkat kedua tumit dari alas (menjinjit).
2. Buang napas, perlahan turunkan lutut kirivpada
alas (sambil mengangkat lutut kanan sedikit
lebih tinggi).
3. Tarik napas, kembali angkat lutut kiri dari dan
kembali dalam posisi berjongkok. Buang napas,
turunkan lutut kanan pada alas (dan angkat lutut
kiri sedikit lebih tinggi). Lakukan gerakan-
gerakan ini seiring dengan tarikan embusan
25
napas selama 5-10 putaran untuk kedua sisi
kaki.
4. Kembali dalam posisi berjongkok, dan perlahan
kembali berdiri sambil menggerak-gerakkan otot
kaki.
Gambar 11 Seri postur berjongkok tehnik IV
(Sindhu, 2014)
e) Teknik V
1. Dari posisi berjongkok. Tempelkan kedua siku
pada sisi dalam paha dan tempelkan kedua
telapak tangan didepan dada. Arahkan tulng
ekor ke arah dalam dan jaga agar punggung
tidak membungkuk. Tahan dalam posisi ini
selama 30 detik-1menit sambil bernapas dalam.
26
2. Perlahan, lepaskan tangan dan kembali berdiri
sambil menggerak-gerakkan otot kaki.
Gambar 12 Seri postur berjongkok tehnik V
(Sindhu, 2014)
2) Baddha Konasana ( seri postur kupu-kupu)
Baddha konasana merupakan salah satu postur yang
paling penting untuk diakukan saat hamil. Postur berikut ini
akan melatih otot-otot yang berhubungan langsung dengan
proses kelahiran membuat kuat sekaligus elastis. Saat
melakukannya, duduk di atas bantal tipis untuk meninggikan
pinggul dan menegakkan punggung.
a) Teknik I
1. Dududk diujung bantal tipis dengan kedua kaki lurus
dan diregangkan sejajar pinggul. Tekuk lutut kanan
dan letakkan telapak kaki kanan disisi dalam paha
kiri. Letakkan kedua tangan di pergelangan dan lutut
kanan.
2. Perlahan, ayunkan lutut kanan naik dan turun selama
10 putaran. Luruskan kembali kaki kanan, dan gerak-
27
gerakkan kembali otot kaki untuk melepas
ketegangan dari otot kaki.
3. Lakukan dengan sisi lainnya.
Gambar 13 Baddha Konasana (seri kupu-kupu)
tehnik I (Sindhu, 2014)
b) Teknik II
1. Kembali tekuk lutut kanan dan angkat kaki kanan dari
alas pegang lutut dan pergelangan kaki kanan
dengan tangan kanan.
2. Perlahan, gerakkan lutut kanan membuat lingkaran
besar selama 5 putaran, dan putar arah. Lakukan
sambil bernapas dalam. Lepaskan kaki dan gerak-
gerakkan otot kaki untuk melepas ketegangan dari
otot kaki.
3. Lakukan dengan sisi lainnya.
Gambar 14 Baddha Konasana (seri kupu-kupu)
tehnik II
28
c) Teknik III
1. Kembali tekuk lutut kanan dan angkat kaki kanan dari
alas. Pegang lutut dan pergelangan kaki kanan
dengan tangan kanan.
2. Perlahan, gerakkan tubuh ke kiri dan kanan selama 5
putaran. Lakukan sambil bernapas dalam.
3. Lakukan dengan sisi lainnya.
Gambar 15 Baddha Konasana (seri kupu-kupu) tehnik
III (Sindhu, 2014)
d) Teknik IV
1. Tekuk kedua lutut dan rpatkan keduan telapak kaki.
Tarik kedua tumit kearah daras panggul.
2. Perlahan, ayun kedua lutut bergerak naik turun.
Lakukan perlahan seiring dengan napas selama 10
putaran.
29
3. Kemali luruskan kaki, dan gerak-gerakkan kaki untuk
melepaskan ketegangan dari otot kaki.
Gambar 16 Baddha Konasana (seri kupu-kupu) tehnik
IV (Sindhu, 2014)
e) Teknik V
1. Tekuk kedua lutut dan rapatkan kedua telapak kaki.
2. Condongkan tubuh ke depan, dan selipkan tangan
pada alas bawah lutut.
3. Tarik napas, dan perlahan rentangkan tulang
punggung.
4. Buang napas, condongkan tubuh ke depan dan
tundukkan wajah. Usahakan untuk tidak
membungkukkan punggung. Tahan dalam posisi ini
sambil bernapas dalam selama 20 detik.
30
5. Tarik napas, kembali rentangkan tulang punggung
dan kembali duduk. Ibu dapat mengulangi posisi ini
sekali lagi, dan setelahnya luruskan kaki sambil
menggerak-gerakkannya untuk melepas ketegangan
dari otot kaki.
Gambar 17 Baddha Konasana (seri kupu-kupu) tehnik
V (Sndhu, 2014)
3) Putaran Sufi
Putaran ini berasal dari tradisi kundalini dan dinamakan
putaran sufi karena menyerupai gerakan menari berputar para
penari sufi. Putaran sufi bermanfaat untuk melenturkan sendi-
sendi panggul dan melepaskan ketegangan pada pinggang
dan pinggul.
1) Duduk dengan kedua lutut ditekuk dan telapak kaki di
tempelkan. Letakkan kedua tangan pada lutut.
Condongkan tubuh ke depan, jaga agar punggung tidak
membungkuk.
2) Perlahan, gerakkan tubuh berputar membuat lingkaran
besar. Lakukan selama 5-10 putaran, kemudian ganti
arah. Lakukan sambil bernapas dalam perlahan.
31
3) Kembali luruskan kaki dan gerak-gerakkan otot kaki.
Gambar 18 Putaran sufi (Sindhu, 2014)
C. Konsep Kecemasan
Menurut Stuart dan Laraia (2005) kecemasan adalah keadaan emosi yang
tidak memiliki objek yang spesifik dan kondisi ini dialami secara subjektif.
Kecemasan bagian dari labilitas fungsi logika yang melemahkan intuisi ataupun
sebaliknya. Kecemasan terjadi akibat respon maladaptive individu berupa
koping yang bersifat merusak (destruktif). Penyesuaian atau normalisasi
stressor yang gagal mengakibatkan ketegangan dan meningkatkan pemusatan
pada masalah yang dianggap penting.
Menurut Nurdiana (2012), rasa cemas yang dialami oleh ibu hamil
disebabkan karena meningkatnya hormone progesterone, selain itu ibu hamil
merasa cemas, peningkatan hormon itu juga menyebabkan gangguan perasaan
dan membuat ibu hamil cepat lelah. Hormon yang meningkat selama kehamilan
adalah hormon adrenalin. Hormon adrenalin dapat menimbulkan disreguasi
biokimia tubuh sehingga muncul ketegangan fisik pada ibu hamil seperti mudah
marah, gelisah, tidak mampu memusatkan pikiran, ragu-ragu bahkan mungkin
ingin lari dari kenyataan hidup.
32
Kehamilan dapat merupakan sumber kecemasan, terutama pada seorang ibu
yang labil jiwanya. Sejak saat hamil, ibu sudah mengalami kegelisahan dan
kecemasan. Kegelisahan dan kecemasan selama kehamilan merupakan
kejadian yang tidak bisa dihindari, hampir selalu menyertai kehamilan dan
bagian dari suatu proses penyesuaian yang wajar terhadap perubahan fisik dan
psikologis yang terjadi selama kehamilan (Kushartanti dkk, 2009).
Menurut Pieter dan Lubis (2010), ibu hamil akan mengalami bentuk-bentuk
perubahan psikis yaitu perubahan emosional, cenderung malas, sensitive,
gampang cemburu, minta perhatian lebih, persaan tidak nyaman, depresi,
steres, dan mengalami kecemasan.
Kecemasan pada ibu hamil dapat muncul karena masa panjang saat
menanti kelahiran penuh ketidakpastian dan juga bayangan tentang hal-hal
yang menakutkan saat proses persalinan. Ketakutan ini sering dirasakan pada
kehamilan pertama atau primigravida terutama dalam menghadapi persalinan
(Kartono 2007). Beban psikologi pada seorang wanita hamil, lebih banyak
terjadi pada umur kehamilan trimester III dibandingkan trimester I dan trimester
II. Pada keadaan beban psikologi berat yang dialami oleh wanita hamil,
seringkali bias mempegaruhi kehidupan janin intrauterin dan kelainan yang
timbul pada kehamilan muda bisa mempengaruhi terhadap pertumbuhan janin
intra uterin sehingga menyebabkan pertumbuhan janin terhambat atau intra
uterin growth restircition (IUGR), sampai gangguan denyut jantung janin bila
kehamilan tersebut sudah mendekati untuk melahirkan (Clapp, dkk, 2009).
33
Terdapat berbagai cara untuk menguurangi kecemasan, misalnya dengan
memberi informasi atau pengetahuan kepada ibu melalui konsultasi dengan
bidan ataupun mencari informasi melalui media cetak dan audiovisual, yaitu
menonton video proses persalinan. Hal ini menunjukan bahwa informasi tentang
proses persalinan yang didapat oleh ibu dapat mengurangi tingkat kecemasan
ibu dalam menghadapi persalinan (Fazdria,Sukmadewi, 2014)
Kecemasan selama kehamilan dalam proses persalinan yang tidak dapat
diatasi ibu menimbulkan ketegangan, menghalangi relaksasi tubuh,
menyebabkan keletihan atau bahkan mempengaruhi kondisi janin dalam
kandungan. Kondisi tersebut mengakibatkan otot tubuh menegang, terutama
otot – otot yang berada di jalan rahim ikut menjadi kaku dan keras sehingga kulit
mengembang. Tidak hanya itu, emosi yang tidak stabil dapat membuat rasa
sakit meningkat. Menjelang persalinan, ibu hamil membutuhkan ketenangan
agar proses persalinan menjadi lancar tanpa hambatan. Semakin ibu tenang
menghadapi persalinan maka persalinan akan berjalan semakin lancar (Zaenal,
2002).
A. Tingkat kecemasan
1) Kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari – hari dan
menyebabkan seseorang menjadi waspada. Kecemasan dapat memotivasi
belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. Cemas ringan
dapat ditujukan dengan :
34
a) Timbul perasaan berdebar – bedar, banyak bicara dan bertanya dapat
mengenal tempat, orang dan waktu.
b) Tekanan darah, nadi dan pernapasan normal.
c) Pupil mata normal.
d) Perasaan masih relative terasa aman dan tetap tenang.
e) Penampilan masih tetap tenang dan suara tidak tinggi.
2) Kecemasan sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada hal
yang penting yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang
selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Cemas sedang
dapat ditunjukan dengan :
a) Mulut kering, anoreksia, badan bergetar, ekspresi wajah ketakutan, tidak
mampu rileks, meremas – remas tangan, posisi badan sering berubah,
banyak bicara dengan volume keras.
b) Tanda – tanda vital sepertitekanan darah, nadi, pernapasan mulai
meningkat.
3) Kecemasan berat
Ketika mengalami kecemasan berat seseorang cenderung untuk
memusatkan pada suatu yang terinci, spesifik dan tidak dapat berpikir
tentang hal lain. Semua perilaku ditunjukan untuk menguragi ketegangan.
Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan
pada area lain. Cemas berat dapat ditunjukan dengan :
35
a) Nafas pendek, rasa tercekik, pusing, sakit kepala, rasa tertekan, rasa
nyeri dada, mual dan muntah, kondisi motorik berkurang, menyalahkan
orang lain, cepat tersinggung, volume suara keras serta sulit mengerti,
perilaku diluar kesadaran .
b) Tanda vital meningkat, berkeringat banyak, diare, peningkatan frekuensi
buang air, tidak mau melihat lingkungan, wajah tampak tegang.
4) Panik
Individu sangat kacau atau berbahaya bagi diri maupun orang lain, tidak
mampu bertindak, berkomunikasi dan berfungsi secara aktif (Stuart, 2007).
D. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep
satu terhadap konsep lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Tanari,dkk,
2017:73). Kerangka piker pada penelitian ini menjelaskan tentang alur kerja dari
penelitian yang akan dilaksanakan, pada awal penelitian akan diukur tingkat
kecemasan ibu hamil (pre test), lalu peneliti akan melakukan latihan yoga,
setelah itu mengkaji kembali kecemasan ibu hamil (post test). Kerangka pikir
pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan yoga
kehamilan terhadap kecemasan pada ibu hamil trimester III. Dalam penelitian ini
variable yang akan diteliti adalah ibu hamil trimester III dengan tingkat
kecemasan.
Senam Yoga Tingkat Kecemasan Ibu
Gambar 19 : Kerangka konsep penelitian
36
E. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara ata keyakinan kita dalam
menetapkan masalah (Tanari, dkk, 2017:73). Hipotesis pada penelitian ini
bertujuan untuk memberikan jawaban sementara atas penelitian pengaruh
senam yoga terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III. Adapun
hipotesis dari penelitian ini yaitu:
H0 : Tidak ada pengaruh yoga kehamilan terhadap tingkat kecemasan
ibu hamil trimester III
H1 : Ada pengaruh yoga kehamilan terhadp tingkat kecemasan ibu hamil
trimester III
37
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rencana Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan
menggunakan pre eksperimen dengan rancangan one pre test post test,
merupakan rancangan penelitian yang pengukurannya atau pengamatannya
dilakukan secara simultan pada suatu saat atau sekali waktu (Ari Setiawan,
2012).
Dalam hal ini yang akan diteliti adalah pengaruh yoga kehamilan
terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di puskesmas singgani.
Kelompok O1 Perlakuan O2
Intervensi Pre test X Post test
Keterangan :
Responden : Ibu hamil yang diberikan intervensi yoga kehamilan
X = Intervensi
O1 = Pre test hasil pengukuran kecemasan sebelum dilakukan
intervensi
O2 = Post test hasil pengukuran kecemasan setelah dilakukan
intervensi
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di puskesmas Singgani pada bulan Maret
sampai dengan bulan April 2018.
38
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek / subjek
yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Setiawan & Saryono,2011).Populasi dalam penelitian ini adalah semua
ibu hamil trimester III di puskesmas Siggani pada bulan Maret – April
tahun 2018.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi (Setiawan & Saryono,2011). Sampel dalam penelitian ini adalah
ibu hamil trimester III yang megalami tingkat kecemasan maupun yang
tidak mengalami kecemasan. Pengambilan sampel penelitian ini
menggunakan purposive sampling untuk mendapatkan data sesuai
dengan fokus penelitian ini. Jumlah besar sampel dalam penelitian ini
diperoleh dari perhitungan dengan rumus estimasi yang dimana populasi
tidak diketahui :
𝑍 2 1 x α/P (1 − 𝑃)
𝑛=
𝑑2
Keterangan:
n = Jumlah sampel
Z2= Nilai tabel Z =0.05 adalah 1,96
P = Proporsi = 0,5
39
D = Derajat Ketepatan = 0,02 (20%)
1,962 𝑥 0,5 (1 − 0,5)
𝑛=
0,022
3,84 x 0,5 x 0,5
𝑛=
0,04
0,96
𝑛=
0,04
𝑛 = 24 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
Sampel akan di gunakan dalam penelitian ini adalah 24 ibu hamil
trimester III sebagai kelompok eksperimen. Jadi jumlah sampel adalah
24 orang.
Maka peneliti menentukan responden penelitian dengan kriteria
inklusi sebagai berikut:
1) Ibu hamil trimester III dengan usia kehamilan 36 – 37 minggu
2) Tidak memiliki komplikasi
3) Bersedia menjadi responden
D. Variable Penelitian dan Definisi Operasional
1. Variable Penelitian
Variable yang akan diteliti adalah yoga kehamilan (variable independen)
sedangkan variable terikat (variable dependen) yaitu kecemasan ibu hamil
trimester III.
40
1. Definisi operasional
Definisi operasional adalah variabel kunci atau penting dapat diukur
secara operasional dan dapat dipertanggung jawabkan. Adapun
definisi operasional pada penelitian ini adalah:
a. Yoga kehamilan
Yoga kehamilan adalah latihan yoga yang dilakukan oleh ibu
hamil, mulai usia kehamilan 36 – 37 minggu dilakukan 2 kali
dalam seminggu yang diberikan oleh peneliti.
b. Kecemasan ibu hamil dapat muncul karena masa panjang saat
menanti kelahiran penuh ketidak pastian dan juga bayangan
tentang hal – hal menakutkan saat proses persalinan.
Alat ukur : kuesioner observasi
Cara ukur : pengisian kuesioner
Skala ukur : ordinal
Hasil ukur : Tinggi : 30 ≤ X < 40
Sedang : 20 ≤ X < 30
Rendah : 10 ≤ X < 20.
E. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh, terbagi atas dua jenis data, yaitu :
1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsug dari responden dengan
cara pembagian kuesioner pada ibu hamil trimester III yang dijadikan
sampel. Peneliti melakukan pengukuran atau mengkaji kecemasan ibu
41
hamil trimester III sebelum (pre test) dilakukan yoga. Kemudia diberikan
perlakuan sebanyak 2 kali atau seminggu 1 kali. Peneliti melakukan
pengukuran hasil kecemasan (post test) setelah perlakuan. Gerakan
yoga yang diberikan mulai dari pemanasan, mudhasana (postur anak),
utkatasana (postur kursi), seri memutar panggul, postur melenturkan dan
menguatkan panggul, baddha konasana (seri postur kupu – kupu), dan
putaran sufi Dengan durasi 30 menit.
Kuesioner tingkat kecemasan dibuat dengan menggunakan skala
ordinal dengan jumlah 10 pernyataan terdiri dari 7 pernyataan negatif
(nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7), jika jawaban “selalu” diberi nilai 4, jawaban
“sering” diberi nilai 3, jawaban “jarang” diberi nilai 2, jawaban “tidak
pernah” diberi nilai 1. Pernyataan positif terdiri dari 3 pernyataan (nomor
8, 9, 10), jika jawaban “selalu” diberi nilai 1, jawaban “sering” diberi nilai
2, jawaban “jarang” diberi nilai 3, jawaban “tidak pernah” diberi nilai 4.
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh melalui catatan dan laporan Puskesmas
Singgani.
42
F. Pengolahan Data
Kegiatan dalam mengolah data menurut nurkubo dan achmadi (2002)
meliputi:
1. Editing
Editing adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh
para pengumpul data. Tujuannya adalah mengurangi kesalahan atau
kekurangan yang ada didaftar pertanyaan.
2. Coding
Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari para responden kedalam
kategori.
3. Scoring
Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item yang perlu
diberi penilaian atau skor.
4. Tabulating
tabulating adalah pekerjaan untuk membuat tabel. Jawaban-jawaban
yang telah diberi kode kemudian dimasukkan kedalah tabel.
G. Analisa Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan program
komputerisasi (excel dan SPSS) adapun analisis dalam penelitian ini
menggunakan :
1. Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. Untuk data numerik digunakan
43
nilai mean atau rata – rata, median dan standar deviasi. Adapun pada
umumnya analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan
presentase dari tiap variabel.
2. Analisis Bivariat
Analisis proporsi atau presentase dengan membandingkan distribusi
silang antara dua variabel yang bersangkutan analisis dari uji statistik
perbedaan rata – rata. Melihat hasil dari hasil uji statistik ini akan dapat
disimpulkan adanya pengaruh antara kedua variabel tersebut apakah
bermakna atau tidak bermakna dengan menggunakan uji Mann whitney
dengan menggunakan nilai α = 0,05 (Dahlan, 2011).
H. Penyajian Data
Data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
44