100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
52 tayangan44 halaman

Pengaruh Yoga pada Kecemasan Ibu Hamil

Bab pendahuluan dokumen tersebut menjelaskan tentang latar belakang masalah kecemasan ibu hamil trimester III dan manfaat yoga kehamilan untuk mengurangi kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yoga kehamilan terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di Puskesmas Singgani.

Diunggah oleh

Poppy Deevii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
52 tayangan44 halaman

Pengaruh Yoga pada Kecemasan Ibu Hamil

Bab pendahuluan dokumen tersebut menjelaskan tentang latar belakang masalah kecemasan ibu hamil trimester III dan manfaat yoga kehamilan untuk mengurangi kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yoga kehamilan terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di Puskesmas Singgani.

Diunggah oleh

Poppy Deevii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kehamilan merupakan masa ketika seorang wanita membawa embrio

atau fetus didalam tubuhnya. Awal kehamilan terjadi pada saat sel telur

perempuan lepas dan masuk ke dalam saluran sel telur (Astuti, 2011).

Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan

masalah besar. Namun dengan berbagai upaya yang berkesinambungan dan

kerja keras bersama, angka kematian ibu (AKI) mengalami penurunan yang

cukup bermakna. Salah satu upaya yang dilakukan sesuai dengan target

Millenium Development Goals (MDGs) pada tujuan ke-5 yaitu meningkatkan

kesehatan ibu. Penyebab kematian ibu tersebut karena kehamilan atau

persalinan yang disebabkan oleh aspek medis, sosial, budaya dan agama.

Salah satu aspek medis tersebut yaitu persalinan dengan komplikasi.

Komplikasi dalam kehamilan seperti kehamilan ektopik, hyperemesis

gravidarum, abortus, eklamsi, plasenta previa yang sangat mengancam

nyawa ibu hamil. Dalam mengatasi penyebab masalah tersebut diperlukan

pendekatan yang berkualitas yang dimulai sejak perencanaan kehamilan dan

selama masa kehamilan. (Rusmita, 2015).

Kecemasan atau ansietas ibu hamil yang akan menghadapi proses

persalinan salah satu masalah gangguan emosional yang sering ditemui dan

menimbulkan dampak psikologis cukup serius. Menurut Stuart dan Laraia

(2005) kecemasan merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar

berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini

1
tidak memiliki objek yang spesifik, dialami secara subjektif dan

dikomunikasikan secara interpersonal. Kegelisahan dan kecemasan selama

kehamilan merupakan kejadian yang tidak terelakkan, hampir selalu

menyertai kehamilan, dan bagian dari suatu proses penyesuaian yang wajar

terhadap perubahan fisik dan psikologis yang terjadi selama kehamilan.

Perubahan ini terjadi akibat perubahan hormone yang akan mempermudah

janin untuk tumbuh dan berkembang sampai saat dilahirkan (Kushartanti,dkk,

2004).

Maramis (2005) juga menyebutkan bahwa sebagian besar calon ibu

yang menghadapi kelahiran anaknya dengan persaan takut dan cemas.

Semakin tua kehamilan, maka perhatian dan pikiran ibu hamil mulai tertuju

pada sesuatu yang dianggap klimaks, sehingga kecemasan dan ketakutan

yang dialami ibu hamil akan semakin intensif saat menjelang persalian.

Hal senada juga diungkap Basuki (2007), bahwa pada usia

kandungan 7 bulan keatas, tingkat kecemasan ibu hamil semakin akut dan

intensif seiring dengan mendekatnya kelahiran bayi. Rasa cemas dan takut

menjelang persalinan menduduki peringkat teratas yang paling sering dialami

ibu selama hamil.

Perubahan-perubahan fisik yang terjadi selama masa hamil akan

mempengaruhi sang calon ibu dan membuat merasa tidak nyaman, baik

secara fisik maupun psikis. Perut yang terus membesar, sesak napas seiring

dengan pertumbuhan janin, mood yang tidak menentu, ngidam, dan

2
kecemasan akan masa persalinan sering membuat calon ibu merasa tidak

percaya diri dan tidak nyaman (Sindhu, 2009).

Prenatal yoga (yoga selama kehamilan) merupakan salah satu jenis

modifikasi dari hatha yoga yang disesuaikan dengan kondisi ibu hamil.

Tujuan prenatal yoga adalah mempersiapkan ibu hamil secara fisik, mental,

dan spiritual untuk proses persalinan. Dengan persiapan matang, sang ibu

akan lebih percaya diri dan memperoleh keyakinan menjalani persalinan

dengan lancar dan nyaman (Pratignyo, 2014:14).

Berlatih yoga pada masa ini merupakan salah satu solusi yang

bermanfaat sebagai media self help yang akan mengurangi

ketidaknyamanan selama masa hamil, membantu proses persalinan, dan

bahkan mempersiapkan mental untuk masa awal setelah melahirkan dan

saat membesarkan anak (Sindhu, 2009:23).

World Healt Organization (WHO) tahun 2014 Angka Kematian Ibu

(AKI) di dunia yaitu 289.000 jiwa. WHO African Region (AFR) yaitu 171.000

jiwa, WHO Region of the American (AMR) 11.000 jiwa. WHO Enstem

Medicinean Region (EMR) yaitu 26.000 jiwa. WHO European Region (EUR)

yaitu 1.900 jiwa. WHO South-East Asia Region (SEAR) yaitu 68.000 jiwa.

WHO Westerm Pacific Region (WPR) yaitu 12.000 jiwa (WHO, 2014). Data

yang diperoleh dari Kementrian Kesehatan RI selama tahun 2013 penyebab

kematian ibu disebabkan karena perdarahan sebanyak 30,3 %, hipertensi

27,1 %, infeksi 7,3 % dan lain – lain 40,8 % (KemenKes RI,2013).

3
Data yang diperoleh dari Profil Depertemen Kesehatan RI (DEPKES

RI) tahun 2015 jumlah ibu hamil di Indonesia yaitu 7.790.235 (KemenKes RI,

2015). Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah

Tahun 2016 jumlah ibu hamil di Sulawesi Tengah yaitu 69.549 jiwa (DinKes

Provinsi Sulawesi Tengah, 2016). Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan

Kota Palu tahun 2016 jumlah ibu hamil di Kota Palu yaitu 7.569 jiwa (DinKes

Kota Palu, 2016).

Data yang diperoleh dari Puskesmas Singgani tahun 2016 jumlah ibu

hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Singgani berjumlah 886 jiwa dan pada

bulan November 2017 jumlah ibu hamil di Puskesmas Singgani berjumlah 71

jiwa (Puskesmas Singgani, 2016-2017).

Berdasarkan study pendahuluan menunjukan bahwa tingkat

kecemasan ibu hamil pada trimester III di Puskesmas Singgani masih cukup

tinggi, selama ini dalam mengatasi masalah kecemasan ibu hamil hanya

dilakukan konseling oleh bidan di puskesmas Singgani.

Dari hasil penelitian Miftah Hariyanto, dimana hasil penelitian hasil

perbandingan pre test dan post test tingkat kecemasan ibu hamil dengan

umur kehamilan lebih dari 32 minggu di Praktik Bidan Mandiri Kabupaten

Boyolali pada kelompok perlakuan diketahui bahwa sebelum dilakukan

senam hamil yoga diperoleh rata-rata kecemasan sebesar 18,06%,

sedangkan untuk sesudah dilakukan senam yoga diperoleh nilai rata-rata

tingkat kecemasan sebesar 15,46%. Hasil tersebut menunjukan bahwa

terjadi penurunan tingkat kecemasan sesudah dilakukan senam yoga.

4
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik melakukan

penelitian terkait dengan judul “Pengaruh Yoga Kehamilan Terhadap Tingkat

Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Di Puskesmas Singgani”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengambil

perumusan masalah yaitu “Apakah Senam Yoga Berpengaruh Terhadap

Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Di Puskesmas Singgani?”

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh yoga kehamilan terhadap tingkat kecemasan

ibu hamil trimester III di puskesmas Singgani.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui perbedaan kecemasan ibu hamil trimester III sebelum

dan sesudah dilakukan yoga pada kelompok eksperimen.

b. Mengetahui perbedaan kecemasan ibu hamil sebelum dan sesudah

dilakukan yoga pada kelompok kontrol.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas Singgani

Memberikan masukan bagi bidan dalam penyusunan dalam kebijakan

program pelayanan kebidanan khususnya tentang pemberian asuhan

kebidanan dan penerapan yoga antenatal.

5
2. Bagi Akademi Kebidana Palu

Menambah wacana dan informasi mengenai yoga antenatal ibu hamil

trimester III.

3. Bagi Peneliti

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi dalam

memperluas ilmu kebidanan.

6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Kehamilan

1. Pengertian kehamilan

Kehamilan adalah masa ketika seorang wanita membawa embrio atau

fetus di dalam tubuhnya. Awal kehamilan terjadi pada saat sel telur

perempuan lepas dan masuk dalam saluran sel telur. Pada saat

persetubuhan, berjuta-juta cairan sel sperma dipancarkan oleh laki-laki

dan masuk kedalam rongga rahim. Dengan kompetisi yang sangat ketat,

salah satu perma tersebut akan berhasil menembus sel telur dan bersatu

dengan sel telur tersebut. Peristiwa ini yang disebut dengan fertilisasi atau

konsepsi (Astuti Maya, 2011:16).

2. Perubahan pada kehamilan

Tubuh ibu akan bertambah besar, terutama pada bagian perut,

pinggul, dan payudara. Selama 9 bulan lebih (40 minggu), ibu akan

membawa janin di dalam kandungannya yang terus membesar sehingga

tubu ibu akan beradaptasi agar janin dapat tumbuh dengan baik dalam

kandungan. Perubahan bentuk tubuh ibu secara jelas dapat dilihat dan

diukur dengan bertambahnya berat badan ibu selama kehamilan.

Penambahan berat badan tersebut diakibatkan oleh pembesaran uterus

dan isinya (janin, air ketuban, dan plasenta), payudara serta peningkatan

volume darah, cairan ektraseluler (di luar sel), dan ekstravaskuler (di luar

pembuluh darah) (Astuti, 2011:37-38).

7
3. Kehamilan trimester III

Trimester III sering disebut periode menunggu sebab ibu hamil

merasa tidak sabar menunggu kelahiran banyinya. Pada akhir bulan ke

Sembilan atau ke-36, Rahim ibu mulai mencapai daerah tulang rusuk dan

ibu mungkin merasa tidak nyaman, khususnya jika ibu makan dalam

jumlah yang banyak dimalam hari. Ibu mungkin sering terbangun dimalam

hari karena mengeluh terasa panas dan sesak di dada. Karena beban

ditubuh semakin berat, tulang belakang semakin kearah depan sehingga

ibu mengalami kesulitan ketika memiringkan tubuhnya saat berbaring dan

mudah capek saat duduk lama (Astuti,2011:45).

4. Perubahan psikologis trimester III

Memasuki trimester ke-3 ini, ibu hamil seharusnya didampingi suami

atau keluarga untuk memberikan dukungan dan terlibat dalam kehamilan

tersebut karena pada saat ini, emosi ibu hamil mulai mencapai puncaknya.

Pada tahap ini, ibu akan menyadari bahwa sebentar lagi janin yang

dikandunganya akan segera lahir ke dunia dan hadir secara nyata

dihadapan ibu. Oleh karena itu, tahap ini sering disebut dengan priode

menunggu dan waspada. Seiring itu, biasanya timbul juga perasaan

cemas, ketakutan, dan adanya masalah rumah tangga, akan membuat ibu

semakin steres dan mungkin merasa belum siap menghadapi proses

persalinan. Kadang-kadang, ibu merasa bahwa bayinya akan lahir

sewaktu-waktu. Hal tersebut menyebabkan ibu harus meningkatkan status

kewaspadaan akan timbulnya tanda dan gejala terjadinya persalinan.

8
Ibu juga mulai khawatir tentang kemungkinan bayinya akan lahir normal,

terdapat penyulit, bayi sehat atau mengalami komplikasi (Astuti, 2011:47).

5. Ketidaknyamanan dalam Kehamilan

Dengan adanya kehamilan, maka akan terjadi perubahan pada ibu

baik secara fisiologis dan psikologis. Perubahan tersebut sebagian besar

adalah karena pengaruh hormone yaitu peningkatan hormone estrogen

dan progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum yang berkembang

menjadi korpus graviditas dan dilanjutkan sekresinya oleh plasenta

setelah terbentuk sempurna (Hani dkk, 2014)

Akibat perubahan kondisi fisik dan psikologis ibu selama hamil, timbul

ketidaknyamanan yang umum terjadi dalam masa kehamilan. Berikut ini

daftar beberapa ketidaknyamanan selama selama hamil (Astuti,2011) :

a) Rasa mual/muntah

b) Bercak-bercak di wajah (kloasma)

c) Sering buang air kecil, terutama dimalam hari

d) Mengidam makanan

e) Keputihan

f) Konstipasi (sembelit)

g) Kram pada kaki

h) Sakit kepala

i) Perut kembung

j) Bengkak pada kaki

k) Garis di perut (strie gravidarum)

9
l) Kelelahan

m) Susah tidur

n) Sesak napas

o) Pusing

p) Sakit punggung atas dan bawah

B. Konsep Yoga Kehamilan

1. Pengertian

Yoga adalah sebuah ilmu yang menjelaskan kaitan antara fisik,

mental dan spiritual manusia untuk mencapai kesehatan yang

menyeluruh. Yoga dari bahasa sanskerta yang berarti ‘union’ (persatuan)

ini terbentuk dari kebudayaan india kuno sejak 5.000 tahun lalu dan

bertujuan menyatukan atman (diri) dengan brahman (sang pencipta)

(shindu, 2014:24).

Kata yoga berasal dari bahasa sanskerta ‘yuj’ artinya

menggabungkan atau menyatukan (to join). Penyatuan ini mempunyai

makna bersatunya manusia dengan sang maha pencipta atau bermakna

keutuhan/keharmonisan diri secara fisik, mental, dan spiritual. Manusia

pada hakikatnya mempunyai keinginan untuk memahami dirinya dan

mengenal sang pencipta. Kebutuhan dasar manusia untuk merasakan

keutuhan serta kesatuan tubuh dan pikiran adalah latar belakang

munculnya gerakan yoga (Pratignyo, 2014:13).

Yoga adalah cara yang efektif untuk mempersiapkan persalinan

karena teknik pelatihan ini berfokus pada pengendalian otot untuk

10
kelahiran, teknik pernapasan, relaksasi dan ketenangan pikiran. Yoga

mempunyai peran dalam mempersiapkan wanita hamil karena

perubahan fisik dan psikologis. Perubahan yang dialami yoga prenatal

berfokus pada proses untuk wanita hamil. Yoga juga bermanfaat dalam

melatih dan menguasai teknik pernapasan selama kehamilan dan

persalinan. Latihan pernapasan dasar sama dengan melatih ketegangan,

mempercepat sirkulasi darah dan suplai oksigen cukup baik untuk ibu

maupun janin (Sarwendah, 2012).

2. Prinsip Yoga Kehamilan

a. Napas dengan penuh kesadaran

Napas yang dalam dan teratur bersifat bersifat

menyembuhkan dan menenangkan. Melalui teknik pernapasan

yang benar, sang ibu akan lebih dapat mengontrol pikiran dan

tubuhnya.

b. Gerakan yang lembut dan perlahan

Gerakan yang lembut dan mengalir akan membuat tubuh ibu

lebih luwes sekaligus kuat. Gerakan prenatal yoga fokus pada otot-

otot dasar panggul, otot panggul, pinggul, paha dan punggung.

c. Relaksasi dan meditasi

Dengan relaksasi dan meditasi, seluruh tubuh dan pikiran ibu

dalam kondisi yang rileks, tenang dan damai.

d. Ibu dan bayi

11
Prenatal yoga meluangkan waktu spesial dan meningkatkan

bonding antara ibu dan calon bayi. Jika ibu bahagia dan rileks, bayi

pun akan merasakan hal yang sama.

3. Manfaat Yoga Kehamilan

1) fisik

a) Meningkatkan energi, vitalitas dan daya tahan tubuh.

b) Melepaskan steres dan cemas.

c) Meningkatkan kualitas tidur.

d) Menghilangkan ketegangan otot.

e) Mengurangi keluhan fisik secara umum semasa kehamilan,

seperti nyeri punggung, hingga pembengkakan bagian tubuh.

f) Membantu proses penyembuhan dan pemulihan setelah

melahirkan.

2) Mental dan emosi

a) Menstabilkan emosi ibu hamil yang cenderung fluktuaktif.

b) Menguatkan tekad dan keberanian.

c) Meningkatkan rasa percaya diri dan focus .

d) Membangun afirmasi posotif dan kekuatan pikiran pada saat

melahirkan.

3) Spiritual

a) Menenangkan dan mengheningkan pikiran melalui relaksasi dan

meditasi.

12
b) Memberikan waktu yang tenang untuk menciptakan ikatan batin

antara ibu dengan bayi.

c) Menanamkan rasa kesabaran, intuisi dan kebijaksanaan

(Pratignyo, 2014:15).

4. Kontraindikasi dan waktu melakukan yoga kehamilan

Selama kehamilan yang sedang berlangsung dalam keadaan sehat,

tanpa kontrandikasi (diantaranya preeklamsia, plasenta previa totalis,

hipertensi, ada riwayat keguguran sebelumnya yang disebabkan oleh

lemahnya kandungan, dan penyakit jantung). Sangat disarankan berlatih

yoga secara rutin. Berlatihlah selama seminggu 1-2 kali selama 60-90

menit (Sindhu, 2014:35).

5. Persiapan yang perlu diperhatikan dalam yoga kehamilan

a) Persiapan

1) Kenakan pakaian yang pas (tidak terlalu longgar dan tidak terlalu

ketat yang akan mengganggu napas dan gerakan) dengan baha

yang ringan dan menyerap keringat.

2) Pakailah bra khusus untuk wanita hamil yang bias menyangga

payudara dengan baik.

3) Berlatih tanpa alas kaki (kaus kaki dan atau sepatu) diatas matras

yoga yang anti-slip untuk mencegah risiko terpeleset dan terkilir.

4) Gunakan beberapa alat bantu yang mudah ditemukan dirumah,

seperti bantal tidur, kursi pendek, kursi kayu, bean bag, dan ikat

pinggang.

13
5) Berlatilah dalam ruangan yang sama dan dengan waktu yang

sama setiap harinya, untuk menciptakan suasana dan

memudahkan pikiran ibu langsung “masuk” kesuasana yoga. Ibu

juga dapat memutar music yang lembut saat berlatih untuk

menciptakan suasana pikiran yang tenang.

6) Kosongkan perut sebelum berlatih, 2 jam setelah makan berat

dan 1 jam setelah makan ringan.

7) Minum air sesering mungkin sebelu, setelah, dan saat berlatih.

Ibu hamil sangat mudah terkea dehidrasi, yang dapat

membahayakan keselamatan ibu dan janin.

b) Hal yang perlu diperhatikan:

1) Tidak melakukan semua postur yang menekan keperut.

2) Melakukan postur memuntir tulang punggung secara lembut dan

hanya memuntir tulang punggung bagian atas mulai dari belikat

ke leher. Tulang punggung yang terpuntir sepenuhnya dari

pinggang hingga ke leher akan ikut memuntir Rahim ibu dan

membahayakan janin.

3) Tidak melakukan postur inversi/terbalik karna akan

mengakibatkan embolisme pemampatan udara dialiran darah.

4) Tidak berbaring terlentang dalam waktu lama.

5) Tidak bangun secara tiba-tiba dari posisi berbaring, jongkok, atau

duduk.

14
6) Jaga posisi tulang punggung tetap tegak, dan biarkan kedua kaki

diregangkan sejajar dengan pinggul saat berdiri.

7) Hindari suhu yang terlalu tinggi, maksimal 37oC saat berlatih

yoga.

8) Hindari pemakaian aroma terapi karena wanita hamil lebih

sensitive terhadap wangi-wangian dan senyawa kimia yang

terdapat pada aroma terapi dapat membahayakan janin.

9) Hindari melakukan postur dengan kepala yang lebih rendah dari

pada posisi jantung.

10) Hindari melakukan posisi berjongkok penuh apabila anda

menderita varises atau kaki bengkak saat hamil.

11) Berlakukan pepatah “apabila terasa nyaman, lanjutkan dan

apabila tidak nyaman, hentikan” dan apabila terjadi perdarahan,

mutlak hentikan dan secepatnya berkonsultasi dengan dokter.

6. Latihan yoga pada kehamilan trimester III

Ukuran janin yang semakin besar akan membebani tulang

punggung ibu dan membuat postur tubuh yang lebih baik dan kuat

semakin diperlukan. Fokus ibu saat ini adalah menciptakan ruang bagi

ibu dan janin agar dapat bernafas dan bergerak bebas, serta

mempersiapkan diri secara fisik, mental dan spiritual untuk menghadapi

proses persalinan. Lakukan postur-postur yoga berikut secara perlahan

(Shindu, 2014:112).

a. Pemanasan

15
Pemanasan sangat penting sebelum berlatih prenatal yoga.

Jika tidak melakkan pemanasan, otot – otot tubuh akan “kaget” dan

akibatnya tubuh merasa nyeri atau pegal setelah latihan.

Pemanasan yang dilakukan dengan kesadaran napas akan

membuat tubuh relaksasi dan aktif sehingga tubuh akan siap

melakukan gerakan – gerakan yoga (Pratignyo, 2014).

1) Pemanasan leher

a) Duduk bersila dengan nyaman dan luruskan tulang

punggung.

b) Letakkan kedua tangan diatas lutut.

c) Tengok kpala kearah kanan tahan posisi dan bernapas

relaks 3 – 5 kali.

d) Tengok kepala kearah kiri. Tahan posisi dan bernapas relaks

3 – 5 kali.

e) Rebahkan kepala kesamping kanan. Tahan posisi dan

bernapas relaks 3 -5 kali.

f) Rebahkan kepala kesamping kiri. Tahan posisi dan bernapas

relaks 3 – 5 kali.

g) Tundukkan kepala seluruhnya kebawah dan rasakan

peregangan leher bagian belakang.

h) Perlahan putar pergelangan leher dan kepala kekiri,

belakang, kanan, dan kembali kedepan. Lakukan sebanyak 3

– 4 kali.

16
i) Putar leher dan kepala kearah sebaliknya. Lakukan

sebanyak 3 – 4 kali.

j) Tundukkan kepala seluruhnya kebawah dan bernapas

normal.

k) Angkat kepala kembali ketengah dan relaks.

Gambar 1 Pemanasan leher (Pratignyo, 2014)

2) Peregangan dan pemuntiran samping tubuh

a) Duduk bersila dengan nyaman.

b) Buang napas, regangkan tubuh kesamping, dan pandang

keatas. Tahan lembut posisi ini dan bernapas normal 3 – 5

kali ulangi sisi lainnya.

c) Kembali duduk bersila menghadap depan.

17
d) Buang napas, perlahan memuntir tubuh kesamping kanan.

Tahan lembut posisi ini dan bernapas normal 3 – 5 kali.

Ulangi sisi lainnya.

Gambar 2 Peregangan samping tubuh (Pratignyo,2014)

3) Perengangan bahu dan pundak

a) Duduk bersila dengan nyaman.

b) Letakkan kedua tangan dipundak dan kedua siku

bersentuhan.

c) Tarik napas, putar lengan keatas, dan kedua siku

menghadap keatas.

d) Buang napas, lalu putar lengan kebelakang.

e) Ulangi gerakan 3 – 5 kali.

Gambar 3 Peregangan bahu (Pratignyo, 2014)

18
b. Postur Restroatif

Mudhasana (postur anak)

Membesarnya janin akan semakin membebani tulang

punggung bawah ibu. Postur ini adalah salah satu postur beristirahat

yang dapat “memindahkan” beban tersebut dari punggung ibu.

Berbeda variasi yang dilakukan pada trimester awal kehamilan,

lakukan postur ini dengan meregangkan lutut sedikit lebih lebar

untuk mengakomodasi perut ibu dan tumpuk kedua tangan untuk

mengistirahatkan kening.

Gambar 4 Mudhasana (Sindhu, 2014)

c. Postur Berdiri

1) Utkatasana (postur kursi)

Dalam tradisi kuandalini, postur yoga ini dikenal sebagai

postur dewi yang bermanfaat untuk menguatkan sekaligus untuk

melenturkan otot-otot dasar panggul, menguatkan kaki dan

membangkitkan rasa berani.

a) Berdiri dengan kedua kaki diregangkan lebih lebar daripada

pinggul.

b) Tarik napas, panjangkan tulang punggung. Buang napas,

tekuk lutut hingga sejajar dengan tumit. Pastikan lutut tertarik

19
keluar dan tulang ekor masuk. Condongkan tubuh sedikit

kedepan dan letakkan kedua tangan diatas paha. Tahan

dalam posisi ini sambil bernafas [erlahan selama yang ibu rasa

nyaman. Saat menahan dalam posisi ini, ibu juga dapat

merentangkan tangan kesamping dan menekuk siku.

c) Tarik napas, perlahan kembali luruskan lutut. Buang napas,

lakukan postur ini 2 putaran.

Gambar 5 Utkatasana (Sindhu, 2014)

1) Seri memutar panggul (pelvic Rocking)

Postur ini akan merileksasikan otot-otot pinggul dan

panngul. Postur ini tetap dapat dilakukan bahkan pada

detik-detik menjelang persalinan kelak, untuk memberikan

sensasi relaks pada daerah panggul dan melancarkan

proses kelahiran.

a) Teknik I

1. Berdiri dengan kedua kaki diregangkan lebih lebar

sedikit dari pada pinggul. Tekuk lutut sedikit dan

arahkan jari-jari kaki keluar. Letakkan kedua

tangan pada pinggul.

20
2. Perlahan, gerakkan pinggul berputar membentuk

lingkaran besar. Lakukan, sambil bernapas dalam,

sebanyak 5-10 putaran, dan putar arah.

3. Tarik napas, kembali luruskan lutut. Buang napas,

gerakkan otot kaki untuk melepaskan ketegangan

dan melancarkan kembali sirkulasi darah.

Gambar 6 Seri memutar panggul tehnik I (Sindhu,

2014)

b) Teknik II

1. Dalam posisi merangkak.

2. Perlahan, gerakkan pinggul berputar membentuk

lingkaran besar. Lakukan sambil bernapas dalam

sebanyak 5 putaran, dan putar arah.

3. Kembali dalam posisi merangkak. Perlahan,

gerakkan punggung berputar membentuk lingkaran

besar selama 5 putaran. Jaga agar punggung tetap

dalam posisi netral/tegak.

21
4. Duduk diatas tumit, dan istirahatkan kening pada

alas dalam postur mudhasana.

Gambar 7 seri memutar panggul tehnik II

(Sindhu, 2014)

2) Postur melenturkan dan menguatkan panggul

Saat kehamilan telah menginjak bulan-bulan terakhir sebelum

kelahiran, beban kandungan akan semakin menekan dan ulai

menurun “memenuhi” rongga panggul. Sendi panggul dan otot

dasar panggul yang elastis dan kuat akan berfungsi sebagai

“ayunan” yang akan menyangga kehamilan ibu pada akhir pada

akhir masa kehamilan ini dan menghindarkannya dari berbagai

ketidaknyamanan seperti lemah kandung kemih dan sembelit serta

membuat panggul lebih mudah “terbuka” untuk melancarkan

proses kelahiran.

1) Seri postur berjongkok

Posisi berjongkok merupakan satu posisi yang ideal

untuk melahirkan karena akan memaksimalkan tekanan

didalam panggul untuk “mendorong” bayi keluar sambil

menjaga otot-otot dasar panggul agar tetap relaks selama

prosesnya. Postur di bawah ini bermanfaat untuk

22
mengencangkan sekaligus melenturkan otot dasar panggul,

meningkatkan kelenturan lutut dan pinggul, melancarkan

pencernaan, serta melancarkan sirkulasi darah ke kaki.

a) Teknik I

1. Dari posisi berdiri. Regangkan kedua kaki sedikit lebih

lebar daripada pinggul. Arahkan jari kaki kearah luar

dan tumit kedalam.

2. Tekuk lutut dan perlahan turunkan pinggul turun ke

alas (atau ke bangku pendek). Letakkan kedua

tangan pada alas di depan tubuh atau di atas lutut.

Jaga agar tulang ekor tetap tertarik ke dalam. Tahan

posisi ini sambil tetap bernapas dalam selama 1

menit.

3. Letakkan tangan pada lutut, dan tekan tangan seraya

kembali berdiri.

Gambar 8 Seri postur berjongkok tehnik I (Sindhu,

2014)

b) Teknik II

1. Dari posisi berjongkok. Regangkan kaki lebih lebar

untuk merentang panggul lebih dalam. Condongkan

23
tubuh lebih ke depan dan letakkan kedua tangan

pada alas. Jaga agar punggung tidak membungkuk.

2. Perlahan, ayun tubuh ke sisi kiri dan tahan selama 3

detik. Kemudian , ayun tubuh ke sisi kanan dan tahan

selama 3 detik. Lakukan 5-10 putaran sambil

bernapas perlahan.

3. Kembali dalam posisi berjongkok, dan perlahan

berdiri sambil menggerak-gerakkan otot kaki.

Gambar 9 Seri postur berjongkok tehnik II (Sindhu,

2014)

c) Teknik III

1. Dari posisi berjongkok. Letakkan kedua tangan

pada alas. Jaga agar punggung tidak

membungkuk.

2. Tarik napas, angkat tumit kanan dari alas.

Buang napas, turunkan kembali tumit ke alas.

3. Tarik napas, angkat tumit kiri dari alas. Buang

napas, turunkan kembali tumit kiri ke alas.

Lakukan gerakan-gerakan ini seiring dengan

24
tarikan dan embusan napas 5-10 putran untuk

kedua sisi kaki.

4. Kembali dalam posisi berjongkok, dan perlahan

kembali berdiri sambil menggerak-gerakkan otot

kaki.

Gambar 10 Seri postur berjongkok tehnik III

(Sindhu, 2014)

d) Teknik IV

1. Dari posisi jongkok. Letakkan kedua tangan

pada alasdan condongkan tubuh lebih kedepan

sehingga hampir seperti posisi merangkak.

Angkat kedua tumit dari alas (menjinjit).

2. Buang napas, perlahan turunkan lutut kirivpada

alas (sambil mengangkat lutut kanan sedikit

lebih tinggi).

3. Tarik napas, kembali angkat lutut kiri dari dan

kembali dalam posisi berjongkok. Buang napas,

turunkan lutut kanan pada alas (dan angkat lutut

kiri sedikit lebih tinggi). Lakukan gerakan-

gerakan ini seiring dengan tarikan embusan

25
napas selama 5-10 putaran untuk kedua sisi

kaki.

4. Kembali dalam posisi berjongkok, dan perlahan

kembali berdiri sambil menggerak-gerakkan otot

kaki.

Gambar 11 Seri postur berjongkok tehnik IV

(Sindhu, 2014)

e) Teknik V

1. Dari posisi berjongkok. Tempelkan kedua siku

pada sisi dalam paha dan tempelkan kedua

telapak tangan didepan dada. Arahkan tulng

ekor ke arah dalam dan jaga agar punggung

tidak membungkuk. Tahan dalam posisi ini

selama 30 detik-1menit sambil bernapas dalam.

26
2. Perlahan, lepaskan tangan dan kembali berdiri

sambil menggerak-gerakkan otot kaki.

Gambar 12 Seri postur berjongkok tehnik V

(Sindhu, 2014)

2) Baddha Konasana ( seri postur kupu-kupu)

Baddha konasana merupakan salah satu postur yang

paling penting untuk diakukan saat hamil. Postur berikut ini

akan melatih otot-otot yang berhubungan langsung dengan

proses kelahiran membuat kuat sekaligus elastis. Saat

melakukannya, duduk di atas bantal tipis untuk meninggikan

pinggul dan menegakkan punggung.

a) Teknik I

1. Dududk diujung bantal tipis dengan kedua kaki lurus

dan diregangkan sejajar pinggul. Tekuk lutut kanan

dan letakkan telapak kaki kanan disisi dalam paha

kiri. Letakkan kedua tangan di pergelangan dan lutut

kanan.

2. Perlahan, ayunkan lutut kanan naik dan turun selama

10 putaran. Luruskan kembali kaki kanan, dan gerak-

27
gerakkan kembali otot kaki untuk melepas

ketegangan dari otot kaki.

3. Lakukan dengan sisi lainnya.

Gambar 13 Baddha Konasana (seri kupu-kupu)

tehnik I (Sindhu, 2014)

b) Teknik II

1. Kembali tekuk lutut kanan dan angkat kaki kanan dari

alas pegang lutut dan pergelangan kaki kanan

dengan tangan kanan.

2. Perlahan, gerakkan lutut kanan membuat lingkaran

besar selama 5 putaran, dan putar arah. Lakukan

sambil bernapas dalam. Lepaskan kaki dan gerak-

gerakkan otot kaki untuk melepas ketegangan dari

otot kaki.

3. Lakukan dengan sisi lainnya.

Gambar 14 Baddha Konasana (seri kupu-kupu)

tehnik II

28
c) Teknik III

1. Kembali tekuk lutut kanan dan angkat kaki kanan dari

alas. Pegang lutut dan pergelangan kaki kanan

dengan tangan kanan.

2. Perlahan, gerakkan tubuh ke kiri dan kanan selama 5

putaran. Lakukan sambil bernapas dalam.

3. Lakukan dengan sisi lainnya.

Gambar 15 Baddha Konasana (seri kupu-kupu) tehnik

III (Sindhu, 2014)

d) Teknik IV

1. Tekuk kedua lutut dan rpatkan keduan telapak kaki.

Tarik kedua tumit kearah daras panggul.

2. Perlahan, ayun kedua lutut bergerak naik turun.

Lakukan perlahan seiring dengan napas selama 10

putaran.

29
3. Kemali luruskan kaki, dan gerak-gerakkan kaki untuk

melepaskan ketegangan dari otot kaki.

Gambar 16 Baddha Konasana (seri kupu-kupu) tehnik

IV (Sindhu, 2014)

e) Teknik V

1. Tekuk kedua lutut dan rapatkan kedua telapak kaki.

2. Condongkan tubuh ke depan, dan selipkan tangan

pada alas bawah lutut.

3. Tarik napas, dan perlahan rentangkan tulang

punggung.

4. Buang napas, condongkan tubuh ke depan dan

tundukkan wajah. Usahakan untuk tidak

membungkukkan punggung. Tahan dalam posisi ini

sambil bernapas dalam selama 20 detik.

30
5. Tarik napas, kembali rentangkan tulang punggung

dan kembali duduk. Ibu dapat mengulangi posisi ini

sekali lagi, dan setelahnya luruskan kaki sambil

menggerak-gerakkannya untuk melepas ketegangan

dari otot kaki.

Gambar 17 Baddha Konasana (seri kupu-kupu) tehnik

V (Sndhu, 2014)

3) Putaran Sufi

Putaran ini berasal dari tradisi kundalini dan dinamakan

putaran sufi karena menyerupai gerakan menari berputar para

penari sufi. Putaran sufi bermanfaat untuk melenturkan sendi-

sendi panggul dan melepaskan ketegangan pada pinggang

dan pinggul.

1) Duduk dengan kedua lutut ditekuk dan telapak kaki di

tempelkan. Letakkan kedua tangan pada lutut.

Condongkan tubuh ke depan, jaga agar punggung tidak

membungkuk.

2) Perlahan, gerakkan tubuh berputar membuat lingkaran

besar. Lakukan selama 5-10 putaran, kemudian ganti

arah. Lakukan sambil bernapas dalam perlahan.

31
3) Kembali luruskan kaki dan gerak-gerakkan otot kaki.

Gambar 18 Putaran sufi (Sindhu, 2014)

C. Konsep Kecemasan

Menurut Stuart dan Laraia (2005) kecemasan adalah keadaan emosi yang

tidak memiliki objek yang spesifik dan kondisi ini dialami secara subjektif.

Kecemasan bagian dari labilitas fungsi logika yang melemahkan intuisi ataupun

sebaliknya. Kecemasan terjadi akibat respon maladaptive individu berupa

koping yang bersifat merusak (destruktif). Penyesuaian atau normalisasi

stressor yang gagal mengakibatkan ketegangan dan meningkatkan pemusatan

pada masalah yang dianggap penting.

Menurut Nurdiana (2012), rasa cemas yang dialami oleh ibu hamil

disebabkan karena meningkatnya hormone progesterone, selain itu ibu hamil

merasa cemas, peningkatan hormon itu juga menyebabkan gangguan perasaan

dan membuat ibu hamil cepat lelah. Hormon yang meningkat selama kehamilan

adalah hormon adrenalin. Hormon adrenalin dapat menimbulkan disreguasi

biokimia tubuh sehingga muncul ketegangan fisik pada ibu hamil seperti mudah

marah, gelisah, tidak mampu memusatkan pikiran, ragu-ragu bahkan mungkin

ingin lari dari kenyataan hidup.

32
Kehamilan dapat merupakan sumber kecemasan, terutama pada seorang ibu

yang labil jiwanya. Sejak saat hamil, ibu sudah mengalami kegelisahan dan

kecemasan. Kegelisahan dan kecemasan selama kehamilan merupakan

kejadian yang tidak bisa dihindari, hampir selalu menyertai kehamilan dan

bagian dari suatu proses penyesuaian yang wajar terhadap perubahan fisik dan

psikologis yang terjadi selama kehamilan (Kushartanti dkk, 2009).

Menurut Pieter dan Lubis (2010), ibu hamil akan mengalami bentuk-bentuk

perubahan psikis yaitu perubahan emosional, cenderung malas, sensitive,

gampang cemburu, minta perhatian lebih, persaan tidak nyaman, depresi,

steres, dan mengalami kecemasan.

Kecemasan pada ibu hamil dapat muncul karena masa panjang saat

menanti kelahiran penuh ketidakpastian dan juga bayangan tentang hal-hal

yang menakutkan saat proses persalinan. Ketakutan ini sering dirasakan pada

kehamilan pertama atau primigravida terutama dalam menghadapi persalinan

(Kartono 2007). Beban psikologi pada seorang wanita hamil, lebih banyak

terjadi pada umur kehamilan trimester III dibandingkan trimester I dan trimester

II. Pada keadaan beban psikologi berat yang dialami oleh wanita hamil,

seringkali bias mempegaruhi kehidupan janin intrauterin dan kelainan yang

timbul pada kehamilan muda bisa mempengaruhi terhadap pertumbuhan janin

intra uterin sehingga menyebabkan pertumbuhan janin terhambat atau intra

uterin growth restircition (IUGR), sampai gangguan denyut jantung janin bila

kehamilan tersebut sudah mendekati untuk melahirkan (Clapp, dkk, 2009).

33
Terdapat berbagai cara untuk menguurangi kecemasan, misalnya dengan

memberi informasi atau pengetahuan kepada ibu melalui konsultasi dengan

bidan ataupun mencari informasi melalui media cetak dan audiovisual, yaitu

menonton video proses persalinan. Hal ini menunjukan bahwa informasi tentang

proses persalinan yang didapat oleh ibu dapat mengurangi tingkat kecemasan

ibu dalam menghadapi persalinan (Fazdria,Sukmadewi, 2014)

Kecemasan selama kehamilan dalam proses persalinan yang tidak dapat

diatasi ibu menimbulkan ketegangan, menghalangi relaksasi tubuh,

menyebabkan keletihan atau bahkan mempengaruhi kondisi janin dalam

kandungan. Kondisi tersebut mengakibatkan otot tubuh menegang, terutama

otot – otot yang berada di jalan rahim ikut menjadi kaku dan keras sehingga kulit

mengembang. Tidak hanya itu, emosi yang tidak stabil dapat membuat rasa

sakit meningkat. Menjelang persalinan, ibu hamil membutuhkan ketenangan

agar proses persalinan menjadi lancar tanpa hambatan. Semakin ibu tenang

menghadapi persalinan maka persalinan akan berjalan semakin lancar (Zaenal,

2002).

A. Tingkat kecemasan

1) Kecemasan ringan

Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari – hari dan

menyebabkan seseorang menjadi waspada. Kecemasan dapat memotivasi

belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. Cemas ringan

dapat ditujukan dengan :

34
a) Timbul perasaan berdebar – bedar, banyak bicara dan bertanya dapat

mengenal tempat, orang dan waktu.

b) Tekanan darah, nadi dan pernapasan normal.

c) Pupil mata normal.

d) Perasaan masih relative terasa aman dan tetap tenang.

e) Penampilan masih tetap tenang dan suara tidak tinggi.

2) Kecemasan sedang

Memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada hal

yang penting yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang

selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Cemas sedang

dapat ditunjukan dengan :

a) Mulut kering, anoreksia, badan bergetar, ekspresi wajah ketakutan, tidak

mampu rileks, meremas – remas tangan, posisi badan sering berubah,

banyak bicara dengan volume keras.

b) Tanda – tanda vital sepertitekanan darah, nadi, pernapasan mulai

meningkat.

3) Kecemasan berat

Ketika mengalami kecemasan berat seseorang cenderung untuk

memusatkan pada suatu yang terinci, spesifik dan tidak dapat berpikir

tentang hal lain. Semua perilaku ditunjukan untuk menguragi ketegangan.

Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan

pada area lain. Cemas berat dapat ditunjukan dengan :

35
a) Nafas pendek, rasa tercekik, pusing, sakit kepala, rasa tertekan, rasa

nyeri dada, mual dan muntah, kondisi motorik berkurang, menyalahkan

orang lain, cepat tersinggung, volume suara keras serta sulit mengerti,

perilaku diluar kesadaran .

b) Tanda vital meningkat, berkeringat banyak, diare, peningkatan frekuensi

buang air, tidak mau melihat lingkungan, wajah tampak tegang.

4) Panik

Individu sangat kacau atau berbahaya bagi diri maupun orang lain, tidak

mampu bertindak, berkomunikasi dan berfungsi secara aktif (Stuart, 2007).

D. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep

satu terhadap konsep lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Tanari,dkk,

2017:73). Kerangka piker pada penelitian ini menjelaskan tentang alur kerja dari

penelitian yang akan dilaksanakan, pada awal penelitian akan diukur tingkat

kecemasan ibu hamil (pre test), lalu peneliti akan melakukan latihan yoga,

setelah itu mengkaji kembali kecemasan ibu hamil (post test). Kerangka pikir

pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan yoga

kehamilan terhadap kecemasan pada ibu hamil trimester III. Dalam penelitian ini

variable yang akan diteliti adalah ibu hamil trimester III dengan tingkat

kecemasan.

Senam Yoga Tingkat Kecemasan Ibu

Gambar 19 : Kerangka konsep penelitian

36
E. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara ata keyakinan kita dalam

menetapkan masalah (Tanari, dkk, 2017:73). Hipotesis pada penelitian ini

bertujuan untuk memberikan jawaban sementara atas penelitian pengaruh

senam yoga terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III. Adapun

hipotesis dari penelitian ini yaitu:

H0 : Tidak ada pengaruh yoga kehamilan terhadap tingkat kecemasan

ibu hamil trimester III

H1 : Ada pengaruh yoga kehamilan terhadp tingkat kecemasan ibu hamil

trimester III

37
BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rencana Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan

menggunakan pre eksperimen dengan rancangan one pre test post test,

merupakan rancangan penelitian yang pengukurannya atau pengamatannya

dilakukan secara simultan pada suatu saat atau sekali waktu (Ari Setiawan,

2012).

Dalam hal ini yang akan diteliti adalah pengaruh yoga kehamilan

terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di puskesmas singgani.

Kelompok O1 Perlakuan O2
Intervensi Pre test X Post test
Keterangan :

Responden : Ibu hamil yang diberikan intervensi yoga kehamilan

X = Intervensi

O1 = Pre test hasil pengukuran kecemasan sebelum dilakukan

intervensi

O2 = Post test hasil pengukuran kecemasan setelah dilakukan

intervensi

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di puskesmas Singgani pada bulan Maret

sampai dengan bulan April 2018.

38
C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek / subjek

yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Setiawan & Saryono,2011).Populasi dalam penelitian ini adalah semua

ibu hamil trimester III di puskesmas Siggani pada bulan Maret – April

tahun 2018.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi (Setiawan & Saryono,2011). Sampel dalam penelitian ini adalah

ibu hamil trimester III yang megalami tingkat kecemasan maupun yang

tidak mengalami kecemasan. Pengambilan sampel penelitian ini

menggunakan purposive sampling untuk mendapatkan data sesuai

dengan fokus penelitian ini. Jumlah besar sampel dalam penelitian ini

diperoleh dari perhitungan dengan rumus estimasi yang dimana populasi

tidak diketahui :

𝑍 2 1 x α/P (1 − 𝑃)
𝑛=
𝑑2

Keterangan:

n = Jumlah sampel

Z2= Nilai tabel Z =0.05 adalah 1,96

P = Proporsi = 0,5

39
D = Derajat Ketepatan = 0,02 (20%)

1,962 𝑥 0,5 (1 − 0,5)


𝑛=
0,022

3,84 x 0,5 x 0,5


𝑛=
0,04

0,96
𝑛=
0,04

𝑛 = 24 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔

Sampel akan di gunakan dalam penelitian ini adalah 24 ibu hamil

trimester III sebagai kelompok eksperimen. Jadi jumlah sampel adalah

24 orang.

Maka peneliti menentukan responden penelitian dengan kriteria

inklusi sebagai berikut:

1) Ibu hamil trimester III dengan usia kehamilan 36 – 37 minggu

2) Tidak memiliki komplikasi

3) Bersedia menjadi responden

D. Variable Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variable Penelitian

Variable yang akan diteliti adalah yoga kehamilan (variable independen)

sedangkan variable terikat (variable dependen) yaitu kecemasan ibu hamil

trimester III.

40
1. Definisi operasional

Definisi operasional adalah variabel kunci atau penting dapat diukur

secara operasional dan dapat dipertanggung jawabkan. Adapun

definisi operasional pada penelitian ini adalah:

a. Yoga kehamilan

Yoga kehamilan adalah latihan yoga yang dilakukan oleh ibu

hamil, mulai usia kehamilan 36 – 37 minggu dilakukan 2 kali

dalam seminggu yang diberikan oleh peneliti.

b. Kecemasan ibu hamil dapat muncul karena masa panjang saat

menanti kelahiran penuh ketidak pastian dan juga bayangan

tentang hal – hal menakutkan saat proses persalinan.

Alat ukur : kuesioner observasi

Cara ukur : pengisian kuesioner

Skala ukur : ordinal

Hasil ukur : Tinggi : 30 ≤ X < 40

Sedang : 20 ≤ X < 30

Rendah : 10 ≤ X < 20.

E. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh, terbagi atas dua jenis data, yaitu :

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsug dari responden dengan

cara pembagian kuesioner pada ibu hamil trimester III yang dijadikan

sampel. Peneliti melakukan pengukuran atau mengkaji kecemasan ibu

41
hamil trimester III sebelum (pre test) dilakukan yoga. Kemudia diberikan

perlakuan sebanyak 2 kali atau seminggu 1 kali. Peneliti melakukan

pengukuran hasil kecemasan (post test) setelah perlakuan. Gerakan

yoga yang diberikan mulai dari pemanasan, mudhasana (postur anak),

utkatasana (postur kursi), seri memutar panggul, postur melenturkan dan

menguatkan panggul, baddha konasana (seri postur kupu – kupu), dan

putaran sufi Dengan durasi 30 menit.

Kuesioner tingkat kecemasan dibuat dengan menggunakan skala

ordinal dengan jumlah 10 pernyataan terdiri dari 7 pernyataan negatif

(nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7), jika jawaban “selalu” diberi nilai 4, jawaban

“sering” diberi nilai 3, jawaban “jarang” diberi nilai 2, jawaban “tidak

pernah” diberi nilai 1. Pernyataan positif terdiri dari 3 pernyataan (nomor

8, 9, 10), jika jawaban “selalu” diberi nilai 1, jawaban “sering” diberi nilai

2, jawaban “jarang” diberi nilai 3, jawaban “tidak pernah” diberi nilai 4.

2. Data sekunder

Data sekunder diperoleh melalui catatan dan laporan Puskesmas

Singgani.

42
F. Pengolahan Data

Kegiatan dalam mengolah data menurut nurkubo dan achmadi (2002)

meliputi:

1. Editing

Editing adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh

para pengumpul data. Tujuannya adalah mengurangi kesalahan atau

kekurangan yang ada didaftar pertanyaan.

2. Coding

Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari para responden kedalam

kategori.

3. Scoring

Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item yang perlu

diberi penilaian atau skor.

4. Tabulating

tabulating adalah pekerjaan untuk membuat tabel. Jawaban-jawaban

yang telah diberi kode kemudian dimasukkan kedalah tabel.

G. Analisa Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan program

komputerisasi (excel dan SPSS) adapun analisis dalam penelitian ini

menggunakan :

1. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian. Untuk data numerik digunakan

43
nilai mean atau rata – rata, median dan standar deviasi. Adapun pada

umumnya analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan

presentase dari tiap variabel.

2. Analisis Bivariat

Analisis proporsi atau presentase dengan membandingkan distribusi

silang antara dua variabel yang bersangkutan analisis dari uji statistik

perbedaan rata – rata. Melihat hasil dari hasil uji statistik ini akan dapat

disimpulkan adanya pengaruh antara kedua variabel tersebut apakah

bermakna atau tidak bermakna dengan menggunakan uji Mann whitney

dengan menggunakan nilai α = 0,05 (Dahlan, 2011).

H. Penyajian Data

Data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.

44

Anda mungkin juga menyukai