0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
219 tayangan18 halaman

Terapi Musik dalam Keperawatan Holistik

Dokumen tersebut membahas tentang terapi musik sebagai salah satu terapi komplementer dalam penatalaksanaan keperawatan. Terapi musik menggunakan musik dan aktivitas bermusik untuk mengatasi kebutuhan pasien secara fisik, emosi, kognitif, dan sosial. Terapi musik memiliki berbagai manfaat seperti menurunkan rasa sakit, meningkatkan kesehatan jiwa, dan meningkatkan kekebalan tubuh.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
219 tayangan18 halaman

Terapi Musik dalam Keperawatan Holistik

Dokumen tersebut membahas tentang terapi musik sebagai salah satu terapi komplementer dalam penatalaksanaan keperawatan. Terapi musik menggunakan musik dan aktivitas bermusik untuk mengatasi kebutuhan pasien secara fisik, emosi, kognitif, dan sosial. Terapi musik memiliki berbagai manfaat seperti menurunkan rasa sakit, meningkatkan kesehatan jiwa, dan meningkatkan kekebalan tubuh.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

TERAPI KOMPLEMENTER DALAM PENATALAKSANAAN


KEPERAWATAN “TERAPI MUSIK”

OLEH SGD 4
Ni Putu Giri Karmany (1302105010)
Dewa Ayu Made Yuni Maryastuti (1302105030)
Ni Made Karisma Wijayanti (1302105032)
Ni Putu Lilik Cahyani (1302105052)
Dewa Ayu Made Indah Kristianti (1302105062)
K. Arsta Kusma Jaya (1302105063)
Ni Made Yuli Kusuma Dewi (1302105066)
Wayan Sri Utami Dewi (1302105069)
Putu Ari Sintya Dewi (1302105070)
I Gusti Ayu Anga Sukmanti (1302105081)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2016
LEARNING TASK

Hari/Tanggal : Selasa/ 26 April 2016


Tema : Terapi komplementer dalam penatalaksanaan keperawatan
 Aromatheraphy (Kelompok 1 dan 5)
 Art therapy (Kelompok 2 dan 6)
 Terapi tertawa (Kelompok 3 dan 7)
 Terapi musik (Kelompok 4 dan 8)
Pembahasan:
1. Pengertian/Definisi
2. Jenis-jenis
3. Manfaat (terutama dalam dunia kesehatan)
4. Kelemahan
5. Prosedur kerja/langkah-langkah terapi (deskripsi dan dibuat dalam bentuk
panduan/protap)
6. Hambatan dalam aplikasinya pada penatalaksanaan keperawatan
7. Deskripsikan secara ringkas penelitian pendukung terapi (min 3 jurnal pendukung, min
10 tahun terakhir) dan lampirkan

PEMBAHASAN

1. Pengertian Terapi Musik


 Terapi musik merupakan sebuah terapi di mana musik digunakan dalam hubungan terapi
untuk mengatasi kebutuhan fisik, emosi, kognitif, dan sosial individu dengan cara
menciptakan lagu, menyanyikan lagu ataupun mendengarkan music (American Music
Therapy association, 2016 ).
 Terapi musik adalah suatu proses yang menggabungkan antara aspek penyembuhan musik
itu sendiri dengan kondisi dan situasi; fisik /tubuh, emosi, mental, spiritual, kognitif dan
kebutuhan sosial seseorang. Terapi musik adalah metode penyembuhan dengan musik
melalui energi yang dihasilkan dari musik itu sendiri (Natalina, 2013).
 Terapi musik merupakan sebuah pekerjaan yang menggunakan music dan aktivitas music
untuk mengatasi kekurangan dalam aspek fisik, emosi, kognitif, dan social pada anak-anak
serta orang dewasa yang mengalami gangguan dan penyakit tertentu. Terapi musik
memanfaatkan kekuatan music untuk membantu klien menata dirinya sehingga mereka
mampu mencari jalan keluar, mengalami perubahan dan akhirnya sembuh dari gangguan
yang diderita. Karena itu terapi music bersifat humanitik (Djohan, 2006).

2. Jenis-Jenis Terapi Musik


Menurut Natalina (2013), Terapi musik terdiri dari dua jenis yaitu:
a. Aktif-Kreatif
Terapi musik diterapkan dengan melibatkan klien secara langsung untuk ikut aktif dalam
sebuah sesi terapi melalui cara: menciptakan lagu (composing) yaitu klien diajak untuk
menciptakan lagu sederhana ataupun membuat lirik atau terapis yang akan melengkapi
secara harmoni; improvisasi yaitu klien membuat musik secara spontan dengan menyanyi
ataupun bermain musik pada saat itu juga atau membuat improvisasi dari musik yang
diberikan oleh terapis. Improvisasi dapat juga sebagai ungkapan perasaan klien akan
suasana hatinya, situasi yang dihadapi maupun perasaan terhadap seseorang; dan re-
creating musik yaitu klien menyanyi dan akan melatih pernafasan, pengucapan kata-kata
yang teratur, artikulasi dan juga melatih lafal bicara dengan jelas. Lirik lagu yang sesuai
juga dapat menjadi bahan diskusi yang mengungkapakan perasaan klien.
b. Pasif-Reseptif
Pada sesi reseptif dimana klien akan mendapatkan terapi dengan mendengarkan musik.
Terapi ini akan menekankan pada physical, emotional intellectual, aesthetic atau spiritual
dari musik itu sendiri sehingga klien akan merasakan ketenangan atau relaksasi. Musik
yang digunakan dapat bermacam jenis dan gaya tergantung dengan kondisi yang dihadapi
klien.

3. Manfaat Terapi Musik


Terapi musik merupakan pengobatan secara holistik yang langsung menuju pada symptom
penyakit. Terapi ini akan berhasil jika ada kerjasama antara klien dengan terapisnya. Proses
penyembuhan sepenuhnya tergantung pada kondisi klien, apakah seseorang benar-benar siap
menerima proses secara keseluruhan.
 Menurut Natalina (2013), secara umum terapi musik memiliki beberapa manfaat, yaitu:
a. Meningkatkan Kecerdasan
Musik meningkatkan kecerdasan, yaitu daya ingat yaitu menyanyi dengan
menghafalkan lirik lagu, akan melatih daya ingat, konsentrasi pada saat terlibat dalam
bermusik (menyanyi, bermain instrument) akan menyebabkan otak bekerja secara
terfokus, emosional, musik mampu memberi pengaruh secara emosional terhadap
makhluk hidup, musik meningkatkan kerja otot, mengaktifkan motorik kasar dan halus,
musik meningkatkan produktifitas, kreatifitas dan imajinasi.
b. Meningkatkan Motivasi
Motivasi adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan perasaan dan mood
tertentu. Apabila ada motivasi, semangat pun akan muncul dan segala kegiatan bisa
dilakukan. Begitu juga sebaliknya, jika motivasi terbelenggu, maka semangat pun
menjadi luruh, lemas, tak ada tenaga untuk beraktivitas. Dari hasil penelitian,
ternyata jenis musik tertentu bisa meningkatkan motivasi, semangat dan
meningkatkan level energi seseorang.
c. Pengembangan Diri
Musik ternyata sangat berpengaruh terhadap pengembangan diri seseorang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa orang yang punya masalah perasaan, biasanya
cenderung mendengarkan musik yang sesuai dengan perasaannya. Misalnya orang
yang putus cinta, mendengarkan musik atau lagu bertema putus cinta atau sakit
hati. Dan hasilnya adalah masalahnya menjadi semakin parah. Dengan mengubah jenis
musik yang didengarkan menjadi musik yang memotivasi, dalam beberapa hari
masalah perasaan bisa hilang dengan sendirinya atau berkurang sangat banyak.
Seseorang bisa mempunyai kepribadian yang diinginkan dengan cara mendengarkan
jenis musik yang tepat.
d. Meningkatkan Kemampuan Mengingat
Terapi musik bisa meningkatkan daya ingat dan mencegah kepikunan. Hal ini bisa
terjadi karena bagian otak yang memproses musik terletak berdekatan dengan
memori. Sehingga ketika seseorang melatih otak dengan terapi musik, maka secara
otomatis memorinya juga ikut terlatih. Atas dasar inilah terapi musik banyak digunakan
di sekolah-sekolah modern di Amerika dan Eropa untuk meningkatkan prestasi
akademik siswa. Sedangkan di pusat rehabilitasi, terapi musik banyak digunakan untuk
menangani masalah kepikunan dan kehilangan ingatan.
e. Menyeimbangkan Tubuh
Menurut penelitian para ahli, stimulasi musik membantu menyeimbangkan organ
keseimbangan yang terdapat di telinga dan otak. Jika organ keseimbangan sehat,
maka kerja organ tubuh lainnya juga menjadi lebih seimbang dan lebih sehat.

 Menurut Natalina (2013) ada beberpa manfaat terapi musik untuk kesehatan, antara lain:
a. Relaksasi, Mengistirahatkan Tubuh dan Pikiran
Terapi musik memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk mengalami
relaksasi yang sempurna. Dalam kondisi relaksasi (istirahat) yang sempurna itu,
seluruh sel dalam tubuh akan mengalami re-produksi, penyembuhan alami
berlangsung, produksi hormon tubuh diseimbangkan dan pikiran mengalami
penyegaran.
b. Kesehatan Jiwa
Seorang ilmuwan Arab dalam bukunya ''Great Book About Music'', mengatakan
bahwa musik membuat rasa tenang, sebagai pendidikan moral, mengendalikan
emosi, pengembangan spiritual, menyembuhkan gangguan psikologis. Pernyataannya
itu tentu saja berdasarkan pengalamannya dalam menggunakan musik sebagai terapi.
Sekarang di zaman modern, terapi musik banyak digunakan oleh psikolog maupun
psikiater untuk mengatasi berbagai macam gangguan kejiwaan, gangguan mental atau
gangguan psikologis.
c. Mengurangi Rasa Sakit
Musik bekerja pada sistem saraf otonom yaitu bagian sistem saraf yang bertanggung
jawab mengontrol tekanan darah, denyut jantung dan fungsi otak, yang
mengontrol perasaan dan emosi. Menurut penelitian, kedua sistem tersebut
bereaksi sensitif terhadap musik. Ketika kita merasa sakit, kita menjadi takut, frustasi
dan marah yang membuat kita menegangkan otot-otot tubuh, hasilnya rasa sakit
menjadi semakin parah. Mendengarkan musik secara teratur membantu tubuh relaks
secara fisik dan mental, sehingga membantu menyembuhkan dan mencegah rasa
sakit. Dalam proses persalinan, terapi musik berfungsi mengatasi kecemasan dan
mengurangi rasa sakit. Sedangkan bagi para penderita nyeri kronis akibat suatu
penyakit, terapi musik terbukti membantu mengatasi rasa sakit.
d. Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Dr John Diamond dan Dr David Nobel, telah melakukan riset mengenai efek dari
musik terhadap tubuh manusia dimana mereka menyimpulkan bahwa: Apabila
jenis musik yang kita dengar sesuai dan dapat diterima oleh tubuh manusia, maka
tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan sejenis hormon (serotonin ) yang dapat
menimbulkan rasa nikmat dan senang sehingga tubuh akan menjadi lebih kuat
(dengan meningkatnya sistem kekebalan tubuh) dan membuat kita menjadi lebih
sehat.
e. Meningkatkan Olahraga
Mendengarkan musik selama olahraga dapat memberikan olahraga yang lebih baik
dalam beberapa cara, di antaranya meningkatkan daya tahan, meningkatkan mood dan
mengalihkan seseorang dari setiap pengalaman yang tidak nyaman selama olahraga.
f. Mengatasi Ketegangan otot
Stres dan tekanan yang dirasakan setiap hari seringkali berimbas pada kesehatan.
Misalnya setelah seharian duduk di depan komputer, otot pada bagian punggung, leher,
dan pundak menjadi tegang. Musik bisa memberikan efek menenangkan dan
mengendurkan otot yang tegang tersebut.
g. Mengurangi Depresi
Musik memberikan efek menenangkan yang bisa membuat gelombang otak menjadi
stabil. Menyanyikan musik juga bisa memberikan kekuatan bagi orang yang depresi.
Meski musik tak bisa sepenuhnya menyembuhkan orang yang depresi, namun musik
bisa meredakan gejala depresi yang dirasakan.
h. Mengatasi Insomnia
Salah satu penyebab insomnia adalah kesulitan untuk melepaskan diri dari pikiran yang
membuat stres. Musik yang ringan dan menenangkan bisa membuat pikiran menjadi
lebih bebas dan membuat tubuh lebih mudah untuk tertidur. Musik dengan instrumen
minimalis dan diulang-ulang akan memberikan efek terbaik untuk membuat cepat tidur.
i. Kesehatan Jantung
Para ahli mengatakan bahwa ritme detak jantung berperan penting dalam membuat
detak jantung menjadi lebih stabil. Jika memiliki masalah dengan kesehatan jantung
atau detak jantung yang tak stabil, mendengarkan musik bisa membantu untuk membuat
detak jantung menjadi lebih stabil.
j. Membantu Pencernaan
Ini adalah salah satu manfaat dari terapi musik. Musik memiliki efek tak langsung pada
sistem pencernaan. Musik bisa menenangkan dan menghilangkan stres. Ini akan
menurunkan produksi asam pada pencernaan. Ketika merasa tenang, produksi asam
pada lambung akan seimbang.

4. Kelemahan Terapi Musik


Adapun beberapa kelemahan atau kekurangan dari terapi musik menurut C, James (2016)
diantaranya:
a. Ingatan lama yang mucul kembali
Bagi sebagian orang yang menjalani terapi musik memungkinkan adanya ingatan lama
yang muncul kembali entah sengaja maupun tidak sengaja dilupakannya, hal ini bukannya
dapat memberikan bantuan tetapi memicu peningkatan depresi dari orang tersebut.
b. Kurangnya pengetahuan
Kurangnya pengetahuan dari masyarakat tentang pemahamannya mengenai terapi musik
mengakibatkan adanya kesalahpahaman, seperti masyarakat beranggapan jika biaya terapi
musik sangatlah mahal. Hal ini dikarenakan terapi musik masih sangat baru diketahui
masyarakat awam

5. Prosedur Kerja / Langkah-Langkah Terapi (Deskripsi dan Dibuat Dalam Bentuk


Panduan / Protap)
 Prosedur Pelaksanaan Terapi
1) Persiapan
- Cek catatan keperawatan atau catatan medis klien (jika ada)
- Siapkan alat – alat (Tape music / radio, CD musik, headset, alat – alat music yang
sesuai)
- Identifikasi factor atau kondisi yang dapat menyebabkan kontra indikasi
- Cuci tangan
2) Tahap Orientasi
- Beri salam dan panggil klien dengan namanya
- Jelaskan tujuan, prosedur, dan lamanya tindakan pada klien / keluarga
3) Tahap kerja
- Berikan kesempatan klien bertanya sebelum kegiatan dilakukan
- Menanyakan keluhan utama klien
- Jaga privasi klien. Memulai kegiatan dengan cara yang baik
- Menerapkan perubahan pada perilaku dan / atau fisiologi yang diinginkan seperti
relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.
- Menetapkan ketertarikan klien terhadap musik
- Identifikasi pilihan music klien
- Berdiskusi dengan klien dengan tujuan berbagi pengalaman dalam music
- Pilih pilihan music yang mewakili pilihan music klien
- Bantu klien untuk memilih posisi yang nyaman
- Batasi stimulasi eksternal seperti cahaya, suara, pengujung, panggilan telepon selama
mendengarkan music
- Dekatkan tape music / CD dan perlengkapan dengan klien.
- Pastikan tape music / CD dan perlengkapan dalam kondisi baik
- Dukung dengan headphone jika diperlukan
- Nyalakan music dan lakukan terapi music
- Pastikan volume music sesuai dan tidak terlalu keras
- Hindari menghidupkan music dan meninggalkan dalam waktu yang lama
- Fasilitasi jika klien ingin berpartisipasi aktif seperti memainkan alat music atau
bernanyi jika diinginkan dan memungkinkan saat itu
- Hindari stimulasi music setelah nyeri / luka kepala akut
- Menetapkan perubahan pada perilaku dan / atau fisiologi yang diinginkan seperti
relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit
- Menetapkan ketertarikan klien terhadap music
- Identifikasi pilihan music klien
4) Terminasi
- Evaluasi hasil kegiatan (kenyamanan klien)
- Simpulkan hasil kegiatan
- Berikan umpan balik positif
- Kontrak pertemuan selanjutnya
- Akhiri kegiatan dengan cara yang baik
- Bereskan alat – alat
- Cuci tangan
5) Dokumentasi
- Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan
- Nama Kx, Umur, Jenis kelamin, dll
- Keluhan utama
- Tindakan yang dilakukan (terapi music)
- Lama tindakan
- Jenis terapi music yang diberikan
- Reaksi selama, setelah terapi pemberian terapi music
- Respon klien
- Nama perawat
- Tanggal pemeriksaan.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
“Terapi Musik”
Mata Kuliah : Komunitas 3
Kompetensi : Pemberian Terapi Musik
Pengertian : Pemanfaatan kemampuan music dan elemen music oleh
terapis kepada klien
Tujuan : Memperbaiki kondisi fisik, emosional, dan kesehatan spiritual
klien
Persiapan alat dan bahan : 1. Tape music / radio
2. CD Musik
3. Headset
4. Alat – alat music yang sesuai
Prosedur :

NO PROSEDUR

Pre interaksi
1 Cek catatan keperawatan atau catatan medis klien (jika ada)
2 Siapkan alat – alat
3 Identifikasi factor atau kondisi yang dapat menyebabkan kontra indikasi
4 Cuci tangan
Tahap orientasi
5 Beri salam dan panggil klien dengan namanya
6 Jelaskan tujuan, prosedur, dan lamanya tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja
7 Berikan kesempatan klien bertanya sebelum kegiatan dilakukan
8 Menanyakan keluhan utama klien
9 Jaga privasi klien. Memulai kegiatan dengan cara yang baik
10 Menerapkan perubahan pada perilaku dan / atau fisiologi yang diinginkan seperti
relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.
11 Menetapkan ketertarikan klien terhadap musik
12 Identifikasi pilihan music klien
13 Berdiskusi dengan klien dengan tujuan berbagi pengalaman dalam music
14 Pilih pilihan music yang mewakili pilihan music klien
15 Bantu klien untuk memilih posisi yang nyaman
16 Batasi stimulasi eksternal seperti cahaya, suara, pengujung, panggilan telepon selama
mendengarkan music
17 Dekatkan tape music / CD dan perlengkapan dengan klien.
18 Pastikan tape music / CD dan perlengkapan dalam kondisi baik
19 Dukung dengan headphone jika diperlukan
20 Nyalakan music dan lakukan terapi music
21 Pastikan volume music sesuai dan tidak terlalu keras
22 Hindari menghidupkan music dan meninggalkan dalam waktu yang lama
23 Fasilitasi jika klien ingin berpartisipasi aktif seperti memainkan alat music atau
bernanyi jika diinginkan dan memungkinkan saat itu
24 Hindari stimulasi music setelah nyeri / luka kepala akut
25 Menetapkan perubahan pada perilaku dan / atau fisiologi yang diinginkan seperti
relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit
26 Menetapkan ketertarikan klien terhadap music
27 Identifikasi pilihan music klien
Terminasi
28 Evaluasi hasil kegiatan (kenyamanan klien)
29 Simpulkan hasil kegiatan
30 Berikan umpan balik positif
31 Kontrak pertemuan selanjutnya
32 Akhiri kegiatan dengan cara yang baik
33 Bereskan alat – alat
34 Cui tangan
Dokumentasi
35 Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan
- Nama Kx, Umur, Jenis kelamin, dll
- Keluhan utama
- Tindakan yang dilakukan (terapi music)
- Lama tindakan
- Jenis terapi music yang diberikan
- Reaksi selama, setelah terapi pemberian terapi music
- Respon klien
- Nama perawat
- Tanggal pemeriksaan.

6. Hambatan Dalam Aplikasinya Pada Penatalaksanaan Keperawatan


Hambatan diberikan terapi musik :
a. Masih belum pasti yang mana lebih efektif dan berpengaruh. Apakah terapi musik yang
aktif yaitu pasien memainkan music sendiri sambil menikmati musiknya, atau terapi music
pasif yaitu pasien hanya mendengarkan musiknya. Belum ada penelitian yang memastikan
sebenarnya yang member efek baik itu memainkan musiknya atau mendengarkan
musiknya. Selain itu untuk jenis musik yang baik digunakan agar memberikan efek yang
baik pula dalam situasi tertentu belum dapat dipastikan sehingga terkadang masih menjadi
hambatan dalam pemberian pilihan musik untuk terapi musik yang berefek baik (Chanda
dan Levitin, 2013).
b. Hambatan juga terletak pada kesukaan musik antara pasien satu dengan yang lain berbeda,
sehingga perlu pemilihan jenis musik yang banyak. Namun jika musik yang akan diberikan
sudah ditentukan oleh pemberi terapi maka kemungkinan tidak semua pasien dapat
menikmati musiknya dan mendapat efek yang baik (Chanda dan Levitin, 2013).
c. Faktor keadaan kesehatan pasien juga dapat menjadi penghambat ketika keadaan kesehatan
pasien yang kurang baik dan merasakan ketidaknyamanan, maka pasien kemungkinan akan
menolak untuk diberikan terapi musik (Julidar, 2012).
d. Dari segi alat dan keadaan lingkungan juga dapat menjadi penghambat dalam dilakukannya
terapi musik. Alat pendengar maupun alat music yang sudah tidak layak pakai dapat
merusak kualitas musik yang akan diberikan kepada pasien untuk dinikmati dan diserap.
Sedangkan faktor keadaan lingkungan yang dapat menjadi penghambat yaitu lingkungan
yang bising, lingkungan dengan pemandangan yang kurang menarik, dan lingkungan yang
kotor (Julidar, 2012).
e. Terapi yang tidak berkelanjutan juga dapat menghambat efek dari terapi musik. Terkadang
terapi music yang diberikan oleh pemberi terapi waktunya terbatas sehingga belum
memberikan efek yang maksimal. Terapi perlu dilanjutkan untuk selanjutnya di rumah
masing-masing dan dapat dibantu keluarga. Namun seringkali pasien maupun keluarga
tidak menghiraukan sehingga terapi tidak dilanjutkan dan diterapkan untuk waktu lanjut
(Julidar, 2012).

7. Deskripsikan secara ringkas penelitian pendukung terapi (min 3 jurnal


pendukung, min 10 tahun terakhir) dan lampirkan
 Jurnal 1 : Effects of music on depression in older people: a randomised controlled
trial
Depresi merupakan gangguan psikiatrik dengan gejala mood yang rendah, energy yang
rendah, konsentrasi yang buruk, tidak merasa senang, rendahnya self-care dan konsep diri.
Penanganan farmakoterapi untuk depresi pada usia lanjut seringkali melibatkan interaksi
antara obat karena adanya polifarmasi dan perubahan yang berhubungan dengan usia.
Sehingga diperlukan penanganan alternative yang dapat digunakan pada lansia dengan
depresi. Terapi musik telah digunakan pada beberapa spesialisasi domain seperti psikiatri,
neurologi, perawatan koroner begitu pula operasi dan perawatan geriatric pada umumnya.
Namun penelitian yang meneliti pengaruh terapi musik pada lansia yang berada di
komunitas belum banyak dijelaskan. Pada jurnal tersebut menggunakan 50 partisipan di
mana 25 partisipan sebagai grup kontrol dan 24 partisipan sebagai grup intervensi.
Pengukuran skor depresi menggunakan The Geriatric Depression Scale (GDS-15) yang
terdiri dari 15 pertanyaan tertutup dan berfokus pada bagaimana perasaan partisipan selama
minggu sebelumnya. Tipe musik yang digunakan adalah Cina, Malaysia, India dan Western
dengan ritme lambat. Partisipan memilih 1 tipe musik yang dimainkan seama sesi tersebut.
Setiap sesi berlangsung selama 30 menit sebelum data dikumpulkan. Keempat jenis musik
tersebut mempunyai karaktr 60-80 ketukan/menit tanpa ketukan yang beraksen, perkusi,
dan sikopasi. Karakteristik tersebut dipilih berdasarkanbeberapa penelitian sebelumnya.
Intervensi dilakukan selama delapan minggu yang dibagi menjadi beberapa tahap. Pada
tahap pertama, instrument diberikan pada minggu pertama selama pengumpulan subjek
untuk memperoleh informasi dasar. Pada tahap kedua, untuk grup intervensi, dilakukan
pengukuran depresi pada lansia 5 menit setelah diberikan intervensi dan 30 menit sebelum
dilakukan intervensi pada minggu pertama. Selanjutnya untuk minggu kedua hingga
kedelepan, diukur 30 menit setelah diberikan intervensi terapi musik. Selama penelitian,
CD atau MP3 Player yang berisi semua musik yang telah disiapkan dapat didengarkan di
rumah. Partisipan diberikan earphone atau speaker untuk mendengarkan musik. Ketika
musik dimulai, perawat meninggalkan partisipan sendiri dan berada pada jarak yang dapat
dijangkau untuk berjaga – jaga kejadian yang tak terduga, Setelah 30 menit perawat
menghentikan musik dan segera mengukur level depresi lansia. Partisipan yang berada di
grup kontrol diberikan istirahat penuh selama 30 menit dan skor depresinya diiukur setelah
istirahat. Hasil kedua grup kemudian dibandingkan. Pada tingkat depresi kedua grup
ditemukan tidak ada perbedaan yang signifikan kedua grup pada minggu kedua. Namun
pada minggu keempat ditemukan perbedaan yang signifikan pada minggu keempat,
keenam, ketujuh dan kedelapan. Pada grup kontrol ditemukan hasil tidak terdapat
penurunan yang signifikan pada skor depresinya. Di sisi lain, terdapat penurunan skor
depresi yang signifikan selama delapan minggu pada grup intervensi terapi musik.
Berdasarkan RCT tersebut ditunjukkan bahwa mendengarkan musik merupakan intervensi
yang efektif dalam menurunkan tingkat depresi pada lansia. Efek akumulatif selama
terkonfirmasi dalam dua bulan meskipun karena besar sampel yang kecil, penelitian ini
dipertimbangkan sebagai pilot study. Sehingga dalam praktiknya, penaga kesehatan
professional diharpkan dapat menganjurkan lansia untuk mendengarkan musik sebagai
self-therapy yang dapat menurunkan tingkat depresi dan mengembangkan proses
penyembuhan dalam kehidupa mereka sehari – hari.

 Jurnal 2 : Effects Of Music Therapy On Pain Among Female Breast Cancer Patients
After Radical Mastectomy: Results From A Randomized Controlled Trial
Kanker payudara adalah salah satu penyebab utama kematian di kalangan wanita usia
35-50 tahun dan telah semakin menjadi beban kesehatan masyarakat yang signifikan
karena morbiditas yang terkait tinggi, angka kematian, dan biaya perawatan kesehatan
yang luar biasa. Data dari negara-negara maju menunjukkan bahwa satu dari setiap delapan
wanita memiliki kemungkinan untuk berkembangnya kanker payudara. China memiliki
populasi kanker payudara terbesar di dunia, dan tingkat peningkatan tahunan adalah sekitar
1-2% lebih tinggi dari rata-rata dunia.
Terapi musik telah digunakan dalam pengaturan perawatan kesehatan berganda untuk
mengurangi rasa sakit pasien, kecemasan, dan stres. Studi tentang efek terapi musik pada
nyeri pada pasien kanker dengan berbagai diagnosa telah mengungkapkan banyak manfaat
termasuk meningkatkan kenyamanan dan relaksasi dengan mengurangi rasa sakit yang
dilaporkan sendiri, kecemasan, kesusahan terkait pengobatan, mual, dan muntah. Hal ini
juga melaporkan bahwa pasien dapat mengambil manfaat dari terapi musik yang secara
langsung meredakan rasa sakit pada pasien melalui fisiologis tertentu, psikologis, dan
mekanisme sosioemosional. Terapi musik juga telah terbukti memiliki efek melalui
ekspresi mu opiat reseptor, morfin-6 glukuronat, dan tingkat interleukin-6.
Artikel ini melaporkan uji coba terkontrol secara acak untuk menilai efek terapi musik
pada nyeri di antara 120 pasien kanker payudara setelah mastektomi radikal. Uji coba
terkontrol secara acak ini dilakukan di Departemen Bedah Onkologi Center, Rumah Sakit
Afiliasi Pertama Xi'an Jiaotong University. Populasi sasaran adalah pasien dengan kanker
payudara dirawat di departemen bedah onkologi di sebuah rumah sakit yang komprehensif
di Cina. Ukuran sampel dihitung berdasarkan perubahan PRI-skor total. Pasien secara acak
dialokasikan untuk dua kelompok menggunakan kode pengacakan yang dihasilkan oleh
perangkat lunak komputer dengan 60 di masing-masing kelompok. Kriteria inklusi
diperlukan pasien wanita berusia antara 25 dan 65 tahun dengan diagnosis patologis dari
kanker payudara yang diperlukan untuk tindakan mastektomi radikal (termasuk modifikasi
mastektomi radikal [MRM] dan luas mastektomi radikal [ERM]). Pasien yang alergi
terhadap suara atau memiliki sensitivitas suara seperti : epilepsi atau tidak suka
mendengarkan musik dikeluarkan. Semua pasien menerima Personal Controlled Analgesia
(PCA) setelah mastektomi radikal.
Kelompok intervensi menerima terapi musik dari hari pertama setelah mastektomi
radikal dan untuk hari ketiga ke rumah sakit untuk kemoterapi selain perawatan rutin,
sedangkan kelompok kontrol hanya menerima perawatan rutin. Skor nyeri diukur pada
awal dan tiga posttests menggunakan Kuesioner Umum dan versi Cina Short-Form dari
mcgill nyeri Angket. Pasien pada kelompok intervensi diberi pengenalan nama musik 202
dan empat jenis musik di perpustakaan media musik yang tersimpan di MP3 player. Terapi
musik disampaikan oleh seorang peneliti yang terlatih. Bentuk persetujuan yang
ditandatangani oleh pasien sebelum intervensi dimulai. Para pasien pada kelompok
intervensi diperintahkan untuk memilih musik yang mereka sukai, mengontrol volume
musik dan mendengarkan melalui headphone yang terhubung ke pemutar MP3.
Terapi musik ditemukan untuk mengurangi skor PRI-total dalam kelompok intervensi
secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan perbedaan rata-rata (95%
CI). Hasil yang sama ditemukan untuk Visual Skala Analog (VAS) dan Sekarang Nyeri
Intensitas (PPI) skor. Temuan dari penelitian ini memberikan beberapa bukti bahwa terapi
musik memiliki efek positif baik jangka panjang ataupun jangka pendek dan mengurangi
rasa sakit pada pasien kanker payudara setelah melakukan mastektomi radikal. Terapi
musik dapat dianggap sebagai terapi tambahan untuk pasien kanker payudara wanita.
Total waktu intervensi yang dilakukan dirumah sakit pada pasien rawat inap setelah
mastektomi radikal (rata-rata 1 – 2 hari) dan dengan dua periode kemoterapi (masing-
masing dengan rata-rata 5 – 7 hari). Pasien diinstruksikan untuk mendengarkan musik dua
kali sehari (30 menit per sesi), sekali di pagi hari (dengan batas waktu 06:00-08:00) dan
sekali di malam hari (dengan batas waktu 09:00-11:00). Selama masa pasca operasi di
rumah sakit jika pasien melewatkan sesi mendengarkan musik, pasien didorong oleh
peneliti untuk mematuhi terapi. Setelah pasien keluar dari rumah sakit mereka ditindak
lanjuti/dipantau oleh peneliti melalui telepon

 Jurnal 3 : Effect of Group Music Intervention on psychiatric symptoms and


depression in patient with schizoprenia
Terapi musik adalah pemanfaatan musik untuk membantu dengan cara integrasi
fisiologis, psikologis, dan emosional selama pengobatan. Therapy musik aktif dan pasif
terapi musik dapat memperbaiki psikosis dan depresi, termasuk dalam kasus-kasus yang
resisten terhadap terapi. Salah satunya adalah Schizoprenia merupakan salah satu gangguan
mental yang paling serius therapy musik dapat membantu orang dengan Schizoprenia
meningkatkan meningkatkan kondisi mental mereka dan dapat bermanfaat jika sesi terapi
musik yang cukup dapat tersedia dengan baik. Therapy musik dapat meningkatkan kualitas
hidup pasien dengan penyakit mental jangka panjang.
Penelitian dilakukan di Hualien, sebuah kota di Taiwan Timur penelitian dilakukan di
sebuah panti werda yang memiliki 420 tempat tidur. Dari jumlah tersebut, 266 tidak
memenuhi kriteria inklusi, dan 74 menolak untuk berpartisipasi. Sisanya 80 pasien secara
acak dialokasikan ke kelompok perlakuan sebanyak 38 pada MIG, dan 42 dialokasikan ke
UCG. Selama 3 bulan, 73 pasien (92%) menyelesaikan penelitian. Sebanyak 7 pasien tidak
menyelesaikan penelitian termasuk 4 pasien dalam kelompok MT dan 3 pasien dalam
kelompok UCG karena relokasi ke bangsal akut. Lima dari mereka hilang pada kunjungan
post test, sedangkan 2 dari mereka hilang pada saat tindak lanjut kunjungan. Peserta yang
memenuhi kriteria inklusi yaitu dewasa diagnosis dengan skizofrenia oleh psikiater,
menurut edisi keempat dari Diagnosis dan Statistik Manual of Mental Disorders, 1 dan
mampu duduk dan tenang selama minimal 1 jam. Pasien dengan defisit pendengaran dan
kesulitan komunikasi verbal termasuk kriteria eksklusi.
Intervensi yang dilakukan yaitu kedua kelompok tetap menerima obat sesuai resep
mereka dan mendapat perawatan sehari-hari. Perawatan di panti werda termasuk perawatan
24 jam dengan aktivitas sehari-hari, perawatan dasar, penyediaan makanan, dan kegiatan
sosial seperti menonton TV, mengunjungi keluarga. MIG dihadiri 60 menit terapi musik
dalam dua kali seminggu selama 5 minggu. Terapi musik terdiri dari 10 sesi intervensi
musik aktif dan pasif termasuk mendengarkan musik, menyanyikan lagu-lagu populer
Taiwan, memainkan alat perkusi, menonton video musik, dan diskusi. Intervensi terapi
musik disampaikan oleh asisten penelitian yang terlatih dalam terapi musik dalam grup.
Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi musik kelompok dapat secara efektif mengurangi
skor PANSS dan CDSS pada pasien dengan schizophrenia. Hasil menunjukkan bahwa
PANSS dan CDSS skor meningkat secara signifikan dari awal sampai post test penilaian
antara kedua kelompok. Untuk menghindari gangguan dengan program rehabilitasi bagi
pasien skizofrenia di rumah jompo, terapi musik kelompok dilakukan dua kali seminggu
selama 5 minggu. Oleh karena itu, 10 kelompok sesi terapi musik dilakukan dengan
kehadiran rata-rata 8,2 sesi. Ini lebih tinggi dari yang dalam penelitian lainnya. Oleh
karena itu, pasien mengikuti lebih banyak sesi, dan lebih sedikit pasien meninggalkan
penelitian ini dibandingkan dengan penelitian lain. Keterlibatan perawat erat hubungannya
dengan pasien yang berada di panti werda oleh karena itu, perawat harus memiliki
keterampilan dalam memberikan terapi musik. Keakraban dengan pasien memudahkan
untuk melakukan sesi terapi musik kelompok dan memberikan pasien perawatan
rehabilitasi kejiwaan yang lebih nyaman. Terapi musik adalah metode ekonomis dan
mudah dikelola untuk ameliorating depresi dan gejala kejiwaan, dan meningkatkan kualitas
hidup pasien schizoprenia.
Daftar Pustaka

American Music Therapy association. (2016). What is Music Therapy ?. retrieved from
[Link]
Chan, M. F., Wong, Z. Y. Onishi, H., dan Thayala, N. V. (2011). Effects of music on depression
in older people: a randomised controlled trial. The Journal of Clinical Nursing. 21,
776-783
Chanda, M.L. dan Levitin, D.J. (2013). The Neurochemistry of Music. Trends in Cognitive
Sciences, Vol. 17(4)
Clear, James. (2016). Mozart as Medicine: The Health Benefits of Music. Retrieved from
[Link]

Djohan. (2006 ). Terapi musik, teori dan aplikasinya. Yogyakarta. Galangpress


Julidar, Khusna. (2012). Penerapan Musik Sebagai Media Terapi Fisik Motorik Bagi Anak
Penyandang Cerebral Palsy Di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (Ypac) Semarang.
Digilib Unnes
Lu, S. F., Lo, K. C. H., Sung, C. H., Hsieh, C. T., Yu, C. S., et al. (2013). Effect of group music
intervention on psychiatric symtomps and depresion in patient with Schizophrenia.
Complementary Therapy in medicine.( 21). 682-688
Mei Li, X., Yan, H., Na Zhou, K., Nong Dang, S.,Lao Wang, D., Ping Zhang, Y. (2011). Effects
Of Music Therapy On Pain Among Female Breast Cancer Patients After Radical
Mastectomy: Results From A Randomized Controlled Trial. Clinical Trial: Breast
Cancer Res Treat.128,411–419
Natalina, D. (2013). Terapi Musik Bidang Keperawatan. Jakarta. Mitra Wacana Media.

Anda mungkin juga menyukai