Panduan Perawatan Sistem Rem ABS
Panduan Perawatan Sistem Rem ABS
Malang
2019
A. Pengertian ABS (Anti-lock Brake System)
Sistem ABS adalah suatu sistem yang merupakan pengembangan dari
sistem rem pada kendaraan yang dilengkapi dengan sistem kontrol, dengan
pemasangan sensor putaran roda maka dapat diketahui apakah roda dalam
keadaan slip akibat perlambatan, kelengkapan lain dipasang juga unit aktuator
serta electronic control unit (ECU), sehingga sensor dapat memberikan sinyal ke
ECU untuk diolah sedemikian rupa dan menghasilkan sinyal output ke aktuator
guna mengkondisikan roda tidak terjadi slip.
ABS (Antilock Brake System ) adalah sistem rem yang mengontrol tekanan
minyak rem dan master cylinder ke setiap cylinder roda / caliper agar tidak terjadi
penguncian saat pengereman berlangsung. Lebih khusus lagi kontrol yang cukup
pada tekanan minyak rem agar selalu pada angka slip optimum antara roda dan
permukaan jalan, sehingga kendaraan dapat berhenti dengan baik dan cepat.
Dengan penerapan sistem kontrol tersebut pengereman optimal dapat
dipertahankan selama proses pengereman berlangsung dalam berbagai keadaan
(panik) dan kondisi jalan, sehingga perlambatan tetap optimal dan kendaraan
bergerak stabil serta kemampuan kendali berjalan normal.
ABS berfungsi untuk mencegah terjadinya roda mengunci/blokir saat
pengereman mendadak/penuh, sehingga kendaraan akan stabil. Kestabilan jalan
kendaraan saat pengereman sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :
1. Kondisi koefisien jalan (simetris/asimertis)
2. Pada aksel mana roda blokir
3. Jarak sumbu roda
Keuntungan sistim ABS adalah sebagal berikut:
1. Penguncian roda depan dapat dicegah pada saat terjadi pengereman secara
mendadak, sehingga pengendahan tetap stabil.
2. Penguncian roda belakang dapat dicegah pada saat terjadi pengereman
mendadak sehingga terhindar dari bagian belakang kendaraan memutar dan
steering terjaga tetap lurus.
3. Dengan menggunakan 3 (tiga) chanel atau 4 (empat) channel, pengaturan gaya
pengereman pada setiap roda depan, dan roda belakang baik secara bersamaan
maupun sendirl - sendiri. Dapat lebih mempertinggi stabilitas pengendaraan
walaupun pada saat koefisien gesek (y) antara roda dan permukaan jalan tidak
sama.
4. Electronic control mengatur gaya pengereman menuju koefisien yang
optimum gaya gesek antara roda dan permukaan jalan yang akan
memperpendek jarak pengereman.
5. ABS dapat bekerja secara konvensional dengn fungsi Fail-Safe bila ABS tidak
bekerjja dengan baik. Saat fungsi Fail-Safe aktif, lampu peringatan akan
menyala untuk mengingatkan pengemudi akan adanya masalah pada sistem
ABS.
6. Fungsi Self-Diagnostic juga dimasukkan untuk memudahkan perawatan dan
perbaikan.
B. Fungsi dan Cara kerja Komponen ABS
KECEPATAN KOMPUTASI
PUTARAN DAN PENGATURAN TEKANAN
RODA KONTROL TEKANAN REM REM
CALIPER
GAYA
PENGEREMAN
ABS merupakan sistem tambahan pada sistem rem kendaraan terpasang
secara terpadu (integrated), dalam fungsi kerjanya keduanya bekerja bersama
mencapai tujuan sistem dan bila ABS terdapat gangguan/rusak tidak mengganggu
fungsi utama sistem rem sehingga ABS hanya sebagai fungsi tambahan untuk
meregulasi tekanan pada kondisi dan keadaan pengereman tertentu.
a. Tujuan Anti Lock Brake Syistem (ABS)
Ada beberapa tujuan yang dicapai pada kendaraan yang dilengkapi
dengan sistem ABS antara lain :
1) Kemampuan pengendalian stir baik saat pengereman penuh.
2) Stabilitas kendaraan tetap baik saat pengereman pada semua kondisi
jalan.
3) Jarak pengereman sekecil mungkin dapat tercapai.
b. Fungsi Komponen ABS
Komponen ABS memiliki fungsi masing-masing sehingga sistem
dapat bekerja sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Komponen-
komponen ABS antara lain :
1) Sensor Putaran dan Roda Gigi
Sensor putaran dan roda gigi berfungsi membangkitkan sinyal
listrik dengan menginduksikan arus bolak balik berdasarkan putaran roda
atau sinyal digital.
Tugas roda gigi merubah aliran garis gaya magnet dari sebuah
magnet permanen pada sensor.
Pada roda gigi terbuat dari bahan besi magnet
(Fero Magnetis), proses pembu-atan dengan
sinter atau pres potong dingin.
Jumlah gigi tergantung tipe ABS dan merk
kendaraan.
Contoh : 48 gigi/putaran roda
Sedan = 40 60 gigi
Bis dan Truk = 30 90 gigi
A
Sensor ini adalah sensor pasif, ini berarti bahwa roda harus
berputar dengan putaran tertentu supaya sinyal dapat dibangkitkan.
6) Sensor G (Perlambatan)
Sensor G berfungsi memberikan informasi tentang tingkat
perlambatan pada kendaraan. Biasanya ini digunakan pada kendaraan
dengan empat penggerak roda.
Fungsi :
a) Mengukur percepatan/perlambatan kendaraan.
b) Memberi informasi ke CPU saat pengereman dengan kondisi kritis.
Sensor G untuk pengukuran perlambatan kendaraan
Kendaraan dengan penggerak 4 roda permanen dan kopling visko
didefferensial pusat membutuhkan sebuah sensor yang mengukur
perlambatan, dengan demikian apabila perlambatan kecil dan ABS sudah
bekerja batas slip dari roda belakang akan diperkecil kelebihan
pengereman pada roda belakang dapat dihindari.
Sensor G untuk mengukur percepatan kendaraan
Pada kendaraan dengan 4 WD kemungkinan bahwa semua empat
roda terjadi slip percepatan, dengan demikian hasil perhitungan kecepatan
reverensi salah maka akan lebih teliti dengan sensor G untuk mengukur
percepatannya.
Sensor G untumengukur gaya putaran kendaraan
Pada kendaraan dengan jarak sumbu roda pendek pada aksel depan
sering dipakai prinsip ABS regulasi GMA (menaikkan secara bertaha-
tahap)
Prinsip GMA harus dimatikan saat gaya putar kendaraan > 0,4 g
2. Kelistrikan ABS
Skema komponen listrik ABS terdiri dari komponen utama yaitu :
Komponen ”1” dan ”2” merupakan unit pasangan komponen yang
membangkitkan sinyal listrik (input), Komponen ”3” pada umumnya juga disebut
Electronic Control Unit (ECU) yang tugasnya mengelola sinyal input dan
membangkitkan sinyal kontrol, komponen ”4” didalamnya terdapat ”katup elektro
hidraulis” dalam sistem kontrol unit ini bertugas sebagai aktor/aktuator yang
menerima sinyal kontrol sehingga katup-katup dapat bekerja secara elekrik
berdasarkan sinyal kontrol dari ECU. Ketiga komponen utama ini merupakan
komponen elektrik bekerja dalam sistem yang dapat mengendalikan/ meregulasi
tekanan hidrolis saat pengereman pada kondisi dan keadaan yang diharapkan.
Konfigurasi rangkaian komponen listrik pada rem ABS adalah merupakan sistem
kontrol elektronik aplikasi dan terintegrasi pada sistem rem mobil secara
sederhana dapat digambarkan skema blok diagram sebagai berikut:
AKTOR
( Unit
Cara kerja ABS aliran tertutup dengan katup magnet 2/2 sebagai berikut:
1) Fase Menaikkan Tekanan
Tidak ada arus listrik ke katup masuk maupun katup buang, Katup
masuk membuka saluran dan katup buang menutup. Pedal rem diinjak
maka cairan rem mengalir menuju kaliper melalui katup masuk 2/2
Terjadi [Link] naiknya tekanan tergantung seberapa
besar injakan pedal Tekanan terus naik hingga terjadi slip (roda tidak
berputar tetapi kecepatan kendaraan masih tinggi).
2) Fase Menahan Tekanan
Jika slip roda masih hampir mendekati 20%. Hanya katup masuk yang
diberi arus listrik Katup masuk bergeser pada posisi menutup
saluran. Dan katup buang tetap pada posisi menutup Tekanan pada
kaliper tertahan. Maka tekanan dipertahankan untuk itu dengan
tertahannya tekanan dan dalam waktu yang sama energi kinetik
kendaraan juga turun, terjadilah suatu kondisi dimana tekanan rem
lebih besar maka slip naik lagi melebihi hingga 20%.
Cara kerja ABS aliran tertutup dengan katup magnet 3/3 sebagai berikut:
1) Fase Menaikkan Tekanan
Tidak ada arus listrik ke katup magnet 3/3 katup pada posisi
membuka saluran dari silinder master ke kaliper dan menutup saluran
ke penyimpan tekanan rendah. Tekanan silinder master mengalir
melelui katup magnet 3/3 ke kaliper terjadi pengereman , pedal
rem turun.
2) Menahan Tekanan
Katup magnet 3/3 diberi arus listrik sebesar 2 amper katup pada
posisi menutup ketiga saluran tekanan pada kaliper tertahan Saluran
hidraulis dari kaliper rem diposisi katup berarus 2 amper menyebabkan
tidak ada hubungan ke silinder master maupun ke saluran buang
akibatnya tekanan hidraulik terperangkap dan tekanannya
dipertahankan tetap atau dalam posisi ini adalah posisi menahan
tekanan dan selanjutnya posisi ini dipertahankan sampai kondisi
slipnya naik dan memerlukan tahapan proses berikutnya yakni
menurunkan tekanan.
3) Menurunkan Tekanan
Katup magnet 3/3 diberi arus listrik 5 amper katup pada posisi tetap
menutup saluran dari silinder master dan membuka saluran dari kaliper
ke saluran penyimpan tekanan. Tekanan kaliper turun mengalir ke
tabung penyimpanan tekanan dan selanjutnya dipompakan kembali ke
saluran silinder master pedal rem naik.
Keterangan :
1. Pedal rem 8. Lampu kontrol ABS
2. Sensor posisi pedal rem 9. Sensor putaran roda depan kiri
3. Penguat gaya rem 10. Sensor putaran roda depan kanan
4. Unit hidraulis 11. Sensor putaran roda belakang
kanan
5. Pompa tekanan tinggi 12. Sensor putaran roda belakang kiri
6. Silinder master 13. Kontrol unit ABS
7. Reservoir
Skema Sistem ABS Aliran Terbuka
Keterangan :
1. Pedal rem 6. Kaliper
2. Silinder master 7.
3. Reservoir 8. Katup buang
4. Katup masuk 9. Pompa tekanan tinggi
5. Katup anti balik 10. Katup anti balik
Cara Kerja ABS aliran terbuka dengan katup magnet 2/2, sebagai berikut :
1) Menaikkan tekanan :
Katup masuk dan katup buang tidak diberi
arus listrik Katup masuk pada posisi membuka
saluran dan katup buang menutup saluran.
Tekanan cairan rem mengalir melalui katup
masuk ke kaliper Terjadi pengereman.
2) Menahan tekanan :
3) Menurunkan tekanan :
Katup masuk dan katup buang diberi arus
listrik katup masuk pada posisi menutup saluran
dan katup buang membuka saluran.
Tekanan cairan rem pada kaliper mengalir
melalui katup buang ke reservoir Tekanan turun
pompa tekanan tinggi mengisap cairan dari
reservoir dan ditekan ke dalam sa-luran rem
Pedal rem bergerak naik sampai batas tertentu.
Cara Kerja ABS aliran terbuka dengan katup magnet 3/3, sebagai berikut :
4) Menaikkan tekanan :
5) Menahan tekanan :
6) Menurunkan tekanan :
e. Contoh penggunaan:
1) ATE (Teves) Mark 4, Add-On dengan/tanpa sensor pedal
2) ATE Mark 2, dengan pompa tekanan tinggi
3) Bendix Addonix, Bendix Antiskid.
4. Perawatan Komponen ABS
Peralatan :
Kotak Alat Multimeter
Solder Osciloskop
Bahan :
Cairan rem DOT-4
Timah
Bensin
Uraian Kerja :
Sebelum melakukan pekerjaan harap diperhatikan hal-hal yang terkait
dengan keselamatan kerja, antara lain :
a. Melepas dan memasang ABS Hydraulic Unit.
1) Lepaskan kabel negatif battery
2) Lepaskan konektor ABS Hydraulic Unit (1) dengan menarik pengunci
(2)
1. 5.
2. 6.
3. 7.
4.
a. Lampu Peringatan ABS
Prosedur pemeriksaan :
1) ON-kan kunci kontak.
2) Cek apakah lampu peringatan ABS (1) menyala selama ± 2 detik lalu
mati.
3) Jika nyala terus berarti ada masalah pada sistem ABS, periksa dengan
ScanTool atau kedipan lampu peringatan ABS.
b. Lampu peringatan EBD (Lampu Peringatan Rem)
Prosedur pemeriksaan :
1) ON-kan kunci kontak.
2) Cek apakah lampu peringatan EBD (1) harus menyala saat
di”handbrake”
3) Turunkan rem tangan dengan kunci kontak ON dan cek apakah lampu
peringatan mati. Jika tidak mati, cek juga volume reservoir di master
rem.
c. Sensor Putaran Roda Depan
Pemeriksaan :
Tegangan Output
1) OFF-kan kunci kontak
2) Dongkrak kendaraan
3) Hubungkan AVO meter diantara 2 terminal pada konektor (1).
4) Putar roda dengan tangan ¾ sampai 1¼ putaran per detik, periksa
tegangan AC.
AVO meter Osiloscope Kesimpulan
Tegangan AC
5) Jika tidak sesuai, periksa sensor, ring dan pemasangan.
Tahanan
1) Lepas konektor sensor putaran roda (4)
2) Ukur tahanan sensor putaran diantara 2 terminal pada konektor
dengan AVO meter
3) Ukur tahanan sensor putaran antara salah satu terminal pada konektor
dengan bodi sensor
[A]: Terminal arrangement of 9. ABS hydraulic unit / control 19. To ECM, TCM, SDM
ABS hydraulic unit / control module assembly and A/C control module (if
a: Upside
module assembly 10. ABS fail-safe relay (transistor) 20. Stop lamp
equipped)
1. Battery 11. ABS pump motor relay 21. Brake light switch
2. Main fuse box (transistor)
12. Pump motor 22. G sensor (For 4WD
3. Ignition switch 13. Solenoid valves modelBrake
23. only)fluid level switch
4. Circuit fuse box 14. Right-rear wheel speed sensor 24. Parking brake switch
5. Combination meter 15. Left-rear wheel speed sensor 25. Monitor connector
6. ABS warning lamp 16. Right-front wheel speed sensor 26. Internal memory
7. EBD warning lamp 17. Left-front wheel speed sensor 27. Power control unit
(Brake warning
8. Lamp lamp)
driver module 18. Data link connector
Referensi
Manual Book Suzuki Aerio/Baleno