TUGAS MATA KULIAH TERAPI KOMPLEMENTER
BIOLOGICALLY BASED THERAPIES :
AROMATHERAPY, HERBAL MEDICINE, FUNCTIONAL FOODS AND
NUTRACEUTICALS
Disusun oleh :
Anas Sepyadi / SNR.172120008
Ariandi / SNR.172120003
Nining Rohani / SNR.172120014
PROGRAM STUDI NERS TAHAP AKADEMIK
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN 2019
AROMATERAPI
A. Pengertian Aromaterapi
Tidak semua pengharum ruangan aman bagi kesehatan. Pengharum
ruangan tertentu dapat menyebabkan pusing, mual, hingga muntah. Bahkan
zat pewangi tertentu dapat mengganggu pertumbuhan janin. Pemakaian
produk apapun yang mengandung zat-zat kimia, jika digunakan berlebihan
atau berkontak langsung melalui sistem pernapasan, akan menimbulkan
gangguan pada fungsi sistem saraf. Penggunaan pengharum ruangan dari
bahan alami cenderung lebih aman dibandingkan dengan pengharum ruangan
sintetis. Pengharum ruangan alami yang berasal dari minyak atsiri memiliki
efek aromaterapi yang bermanfaat bagi kesehatan (Anna, 2010).
Aromaterapi berasal dari dua kata, yaitu aroma dan terapi. Aroma
berarti bau harum atau bau-bauan dan terapi berarti pengobatan. Sehingga
aromaterapi adalah salah satu pengobatan penyakit dengan menggunakan bau-
bauan yang umumnya berasal dari tumbuh-tumbuhan serta berbau harum,
gurih, dan enak yang disebut minyak atsiri (Agusta, 2002).
B. Kandungan Aromaterapi
Dalam pembuatan aromaterapi yang menyehatkan, digunakan minyak
atsiri yang benar-benar alami bukan bahan sintetis agar diperoleh manfaat
aromaterapi untuk pengobatan. Minyak atsiri disebut juga minyak eteris,
essential oil atau minyak terbang, karena minyak ini mudah menguap pada
suhu kamar. Minyak atsiri dihasilkan dari bagian jaringan tanaman tertentu
seperti akar, batang, kulit, daun, buah atau biji (Lutony dan Rahmayati, 2000).
Menurut Guenther (2006), minyak atsiri merupakan salah satu hasil
metabolisme dalam tanaman yang terbentuk karena reaksi berbagai
persenyawaan kimia dengan adanya air. Minyak atsiri disintesa dalam sel
kelenjar pada jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam pembuluh
resin.
Minyak atsiri memiliki aroma yang sangat khas pada masing-masing
tanaman. Karena baunya yang khas, minyak atsiri dalam tanaman berguna
untuk menarik serangga untuk proses penyerbukan. Namun, minyak atsiri
pada tanaman juga dapat berfungsi untuk mengusir hewan atau serangga
pengganggu. Aroma yang khas dari minyak atsiri dihasilkan dari senyawa
kimia yang dikandungnya. Kandungan minyak atsiri pada umumnya dapat
berupa terpen, persenyawaan berantai lurus, turunan benzena dan bermacam-
macam persenyawaan lainnya (Guenther, 2006).
Minyak atsiri yang digunakan dalam pembuatan aromaterapi harus
diperhatikan kandungannya. Minyak atsiri umumnya terdiri dari berbagai
campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur carbon (C),
Hidrogen (H), dan oksigen (O) serta beberapa persenyawaan kimia yang
mengandung unsur nitrogen (N) dan belerang (S). Pada umumnya komponen
kimia dalam minyak atsiri dibagi menjadi dua golongan yaitu hidrokarbon dan
oxygenated hydrocarbon, termasuk di dalamnya senyawa terpena (Ketaren,
1985).
1. Golongan Hidrokarbon
Persenyawaan hidrokarbon yang banyak dijumpai dalam minyak atsiri
sebagian besar berupa monoterpene, sesquiterpene, diterpen dan
politerpen, serta parafin, olefin dan hidrokarbon aromatik.
2. Oxygenated Hydrocarbon
Persenyawaan ini terdiri dari hidrogen (H), karbon (C) dan oksigen (O).
Persenyawaan yang termasuk dalam golongan ini adalah persenyawaan
alkohol, aldehida, keton, oksida, ester dan ether. Atom C dalam
persenyawaan dapat berikatan jenuh ataupun tidak jenuh.
Golongan persenyawaan oxygenated hydrocarbon merupakan
persenyawaan yang menyebabkan bau wangi dalam minyak atsiri, sedangkan
golongan hidrokarbon berpengaruh kecil terhadap nilai wangi minyak atsiri.
Persenyawaan oxygenated hidrocarbon memiliki kelarutan yang baik pada
alkohol encer, serta lebih tahan dan stabil terhadap proses oksidasi dan
resinifikasi. Persenyawaan hidrokarbon lebih mudah mengalami oksidasi dan
resinifikasi sehingga menurunkan kelarutan minyak (Ketaren, 1985).
Terpena merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh dan unit
terkecil dalam molekulnya disebut isoprena (C5H8) . Sifat terpena berupa
cairan tidak berwarna dan umumnya berbau wangi. Senyawa terpena dapat
barupa rantai lurus/alifatis atau berbentuk siklis. Senyawa terpena alifatis
hanya terdapat dalam beberapa jenis komponen minyak atsiri yang
mengandung gugus hidroksil dan karbonil, misalnya geraniol dalam minyak
mawar dan sitronelol yang terdapat dalam minyak sereh. Contoh terpena siklis
yang banyak terdapat dalam minyak atsiri adalah limonene, pinene, menthol
pada peppermint (Ketaren, 1985).
Minyak atsiri yang dimanfaatkan untuk aromaterapi harus dilarutkan
dalam pelarut tertentu seperti alkohol. Persenyawaan terpena terutama
monoterpene dan sesquiterpene berbau kurang wangi dan sukar larut dalam
alkohol encer terutama jika terkena cahaya matahari dan oksigen udara. Untuk
meningkatkan kelarutan minyak atsiri dalam alkohol kandungan terpene harus
dipisahkan. Fungsi dari pemisahan terpene adalah untuk memperbesar
kelarutan minyak dalam alkohol, memperbesar resistensi minyak terhadap
kerusakan yang disebabkan oleh oksidasi cahaya dan memperbesar
konsentrasi senyawa oxygenated hidrocarbon yang berbau lebih wangi
(Ketaren, 1985).
C. Proses Pembuatan Aromaterapi
Untuk memperoleh minyak atsiri dari tanaman dapat dilakukan
penyulingan. Sebelum penyulingan tanaman diberi perlakuan seperti
perajangan dengan tujuan memudahkan pengeluaran minyak. Untuk bahan
tertentu dilakukan pelayuan dan pengeringan yang bertujuan untuk
mengurangi kadar air dan menguraikan zat yang tidak berbau sehingga
menimbulkan bau wangi contohnya pada tanaman cengkeh (Ketaren, 1985).
Menurut Ketaren (1985), penyulingan minyak atsiri dapat dilakukan
dengan tiga cara yaitu pengulingan dengan air langsung, penyulingan dengan
air dan uap serta penyulingan dengan uap langsung. Jenis penyulingan yang
digunakan disesuaikan dengan sifat bahan atau tanaman yang akan disuling.
Selain penyulingan terdapat beberapa cara lain untuk mendapatkan minyak
atsiri diantaranya :
1. Pengepresan untuk bahan yang berupa biji, buah atau kulit buah yang
dihasilkan tanaman citrus.
2. Ekstraksi dengan pelarut menguap yang biasanya menggunakan pelarut
berupa alkohol, benzena dan petroleum eter.
3. Ekstraksi dengan lemak padat yang biasanya digunakan untuk
mengekstraksi minyak dari bunga yang tidak tahan terhadap panas.
D. Sifat Aromaterapi
Sifat-sifat yang dimiliki oleh minyak atsiri sehingga berkhasiat
sebagai aromaterapi adalah bersifat sebagai antivirus, antibakteri, antijamur,
dan antiseptik. Minyak atsiri juga dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat
sehingga dapat mempengaruhi emosi seseorang. Dengan sifat demikian
aromaterapi dapat menciptakan lingkungan yang sehat, terhindar dari berbagai
penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri, virus, dan jamur serta terciptanya
suasana nyaman dan tentram (Agusta, 2002).
E. Manfaat Aromaterapi
Aromaterapi minyak atsiri dapat digunakan untuk mengatasi masalah
mental dan psikologi. Minyak atsiri berpengaruh terhadap otak melalui alat
penciuman. Molekul minyak atsiri yang masuk ke alat penciuman akan
ditangkap oleh lendir yang terdapat pada silia alat penciuman dan akan
diteruskan ke otak. Efek minyak atsiri di otak akan berpengaruh terhadap
pikiran dan emosi (Agusta, 2002). Menurut Stevensen (1996), uap minyak
atsiri yang dihirup akan menimbulkan vibrasi di hidung. Minyak yang
mempunyai manfaat tertentu akan mempengaruhi sistem limbik, tempat pusat
memori sehingga mempengaruhi suasana hati.
Menurut Agusta (2002), beberapa masalah psikologis yang dapat
diatasi dengan menghirup aromaterapi minyak atsiri adalah diantaranya :
1. Depresi
Depresi merupakan suatu jenis gangguan mental atau kejiwaan yang
dialami oleh banyak orang. Depresi dapat diakibatkan ketidaknyamanan
dalam bekerja atau adanya beban pikiran. Akibat dari depresi adalah
berkurangnya nafsu makan, sukar tidur, kelelahan, hilangnya kemampuan
untuk berkonsentrasi dan sering berpikir pendek. Dengan menggunakan
minyak atsiri akan tercipta suasana rileks sehingga terhindar dari depresi.
Beberapa minyak atsiri yang dapat memberikan rasa rileks adalah
lavender, kenanga, chamomile, jeruk neroli dan beberapa jenis minyak
atsiri lainya.
2. Stres
Stres adalah respon tubuh terhadap banyaknya tuntutan. Banyaknya
persoalan hidup sehari-hari akan bereaksi terhadap tubuh. Bagi tubuh,
stres akan menimbulkan respon yang sama, apa pun penyebabnya. Sinyal
syaraf dikirim ke otak melalui beberapa kelenjar dan akan bereaksi dengan
mengeluarkan hormon untuk mengatasinya. Oleh karena itu, stres tidak
hanya cemas dan tegang saja, tetapi merupakan kunci dalam naik turunnya
kehidupan. Aromaterapi yang dapat mencegah timbulnya stres adalah
lavender, jeruk bergamot, cendana, jahe, jeruk lemon, dan jenis minyak
atsiri lainnya.
3. Insomnia
Insomnia dapat disebabkan oleh rasa gelisah, ketegangan, rasa sakit,
ketidakseimbangan emosi, dan rasa cemas untuk tidak bisa bangun tepat
waktu. Lingkungan tempat tidur juga memberi pengaruh yang signifikan
terhadap insomnia. Pengharum ruangan dari aromaterapi berupa minyak
akar wangi, jeruk lemon, marjoram dan minyak lainnya dapat memberikan
suasana yang nyaman sehingga insomnia dapat dikurangi.
Ketiga jenis masalah psikologis di atas dapat dikurangi dengan
menghirup bau-bauan yang wangi yang berasal dari minyak atsiri. Berbagai
jenis minyak atsiri memberikan efek yang dapat mempengaruhi sistem syaraf.
Uap minyak atsiri yang ditebarkan / didifusikan ke seluruh ruangan dengan
alat pengharum ruangan.
F. Jenis Aromaterapi
Beberapa jenis minyak atsiri yang potensial digunakan untuk
pengharum ruangan yang dapat mempengaruhi emosi dan pikiran adalah
sebagai berikut :
Jenis Minyak Kegunaan
Cendana / Sandalwood Membantu mengurangi depresi, mengatasi sulit tidur
dan stres/perasaan sedih, sangat bermanfaat untuk
meditasi
Jasmine Memberikan efek suasana romantis, namun tidak
dianjurkan untuk penggunaan yang terlalu banyak
karena menyebabkan udara menjadi tidak segar.
Greentea Merangsang semangat, menenangkan, menyegarkan
pikiran
Lemon Menenangkan suasana, aromanya dapat menimbulkan
rasa percaya diri, merasa lebih santai, menenangkan
saraf tanpa menghilangkan kesadaran
Lavender Membantu terciptanya keseimbangan tubuh dan
pikiran. Membantu imsomnia
Lotus Menyejukkan, memberi rasa nyaman, membantu
penyembuhan, mengurangi depresi, sangat disarankan
untuk relaksasi
Rose Mengurangi rasa marah, stres dan cemas
Rosemary Melegakan otot dan pikiran. Aromanya membantu
lebih berkonsentrasi dan percaya diri
Pepermint Aroma yang begitu menyegarkan, membangkitkan
suasana, mengurangi ketegangan
Night Queen Membuat rasa nyaman dan rileks
Opium Menggembirakan, memberi energi dan semangat
terentu (ctt: dalam konsentrasi tertentu)
Ylang-lang Memberikan rasa gembira, relaksasi, membantu
penyembuhan menghilangkan depresi
Musk Kelembutan, damai dan mengurangi rasa takut
Frangipani Semangat kerja, gembira, percaya diri, mengatasi
depresi panic
Bergamot Memeberikan energi positif, mengerangi depresi,
tegang dan sedih serta menghilangkan lelah
Champaka Menambah semangat, seasana gembira, kehangatan
dan relaksasi
Patcholi Menyejukkan pikiran, daya tahan tubuh, rasa tenang
dan sensualitas
Gardenia Sensasional, ketenangan, suasana bahagia dan damai
Proses pembuatan pengharum ruangan dari minyak atsiri hampir
sama dengan pembuatan parfum. Menurut Ketaren (1985), pengharum
ruangan mengandung tiga macam komponen, yaitu zat pewangi, zat pengikat
dan bahan pelarut.
1. Zat pewangi (odoriferus substance)
Komponen zat pewangi terdiri dari persenyawaan kimia yang
menghasilkan bau wangi seperti minyak atsiri. Persenyawaan yang
menghasilkan wangi dapat berupa alkohol, ester, aldehida, keton, asam
organik, lakton, amina dan oksida yang berbau wangi. Dalam pengharum
ruangan yang berbahan alami biasanya terdiri dari beberapa jenis
campuran zat pewangi. Beberapa zat pewangi yang ada dalam minyak
atsiri seperti pada minyak bunga rose yang mengandung sitronelol dan
graniol, minyak cengkeh mengandung eugenol, minyak jasmin
mengandung benzil asetat dan benzil benzoat dan
2. Zat pengikat (fixative)
Penguapan zat pewangi dapat terjadi dengan sangat cepat sehingga wangi
besrifat semantara. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu zat yang berfungsi
untuk mengikat zat pewangi atau mengurangi kecepatan penguapan zat
pewangi. Beberapa sifat yang harus dimiliki oleh bahan pengikat adalah
memiliki titik uap lebih tinggi dari titik uap zat pewangi, tidak berbau atau
berbau wangi dan larut sempurna dalam etanol, minyak atsiri dan
persenyawaan aromatik berwujud cair. Bahan pengiakat yang dapat
digunakan dalam pembuatan pengharum ruangan dari minyak atsiri
adalah minyak nilam. Minyak nilam merupakan salah satu jenis minyak
atsiri yang memiliki kemampuan untuk mengikat zat pewangi dari minyak
atsiri yang lain.
3. Bahan Pelarut (diluent)
Bahan pelarut merupakan bahan yang digunakan untuk mengencerkan zat
pewangi. Tujuan pengenceran adalah menurunkan konsentrasi zat
pewangi sehingga memiliki tingkat wangi tertentu sesuai dengan yang
dikehendaki.
Minyak atsiri memiliki komponen tertentu yang memunculkan
aroma wangi dan memberi manfaat tertentu bagi kesehatan manusia. Jumlah
komponen kimia dalam suatu minyak atsiri sangat bevariasi untuk setiap jenis
tanaman penghasilnya. Karena banyaknya kandungan dari minyak atsiri,
banyak manfaat pengobatan yang diberikan.
HERBAL MEDICINE (PENGOBATAN HERBAL)
A. Pengertian Pengobatan Herbal
Pengobatan herbal (herbalism) adalah pengobatan tradisional atau
pengobatan rakyat mempraktekkan yang didasarkan pada pemakaian
tumbuhan-tumbuhan dan ekstrak tumbuhan. Herbalism adalah juga dikenal
sebagai pengobatan berkenaan dengan penggunaan tumbuhan untuk
pengobatan, medis secara herbal, obat herbal, herbology, dan phytotherapy.
Kadang-kadang lingkup dari obat bahan tumbuhan yang dipergunakan
diperluas termasuk produk-produk jamur dan lebah, mineral-mineral, kulit
kerang dan bagian binatang tertentu.
Pengobatan Herbal dan Kembali ke alam adalah dua phrase kata yang
banyak kita dengar akhir akhir ini. Pengobatan secara herbal merupakan
pilihan alternatif yang banyak diminati masyarakat terutama dalam bidang
pengobatan.
B. Sejarah Pengobatan Herbal
Bangsa Yunani dan bangsa Roma kuno melakukan penggunaan
tanaman herbal untuk penyembuhan. Sebagaimana tertulis dalam catatan
Hipocrates, praktek bangsa Yunani dan Roma dalam pengobatan herbal
menjadi acuan dalam pelaksanaan pengobatan di barat di kemudian hari.
Sejak jaman dulu kala, dimana pengobatan ala barat belum dikenal,
penggunaan tanaman berkhasiat obat atau lebih umum dikenal dengan herbal
sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat. Tetapi lambat laun tersingkirkan
karena pengaruh perkembangan pengobatan kedokteran yang pesat dan
menjadikan herbal sebagai alternatif pilihan saja.
Padahal sejak zaman kerajaan kerajaan di nusantara waktu lampau
sudah banyak terbukti keampuhan dan khasiat herbal, dan disamping itu lebih
murah meriah dan efek samping yang ditimbulkan sangat kecil. Tetapi
walaupun begitu masih banyak masyarakat kita yang meragukan khasiat
herbal.
C. Manfaat Pengobatan Herbal
Obat-obatan herbal berfungsi melemahkan racun untuk proses
penyembuhan penyakit pada manusia, yaitu mengendalikan dan membunuh
kandungan racun dalam tubuh manusia. Selain itu obat-obatan herbal juga
dapat membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) yang tidak dimiliki tubuh
manusia, dengan tujuan melindungi dari unsur yang merusak organ tubuh.
Obat-obatan herbal juga dapat memperbaiki jaringan tubuh yang
rusak,sebagai contoh obat herbal yang berasal dari ramuan mahkota dewa
dapat menyembuhkan penyakit kanker, tumor dan jantung. Terapi pengobatan
dengan herbal (tumbuhan berkhasiat) bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel
organ tubuh yang rusak akibat radang dengan penyembuhannya bersifat
permanen.
D. Efek Samping Pengobatan Herbal
Pada prinsipnya, obat-obatan herbal memiliki potensi efek samping
yang sama dengan obat-obatan sintetis atau konvensional. Tubuh kita tidak
bisa membedakan antara pengobatan menggunakan herbal dengan pengobatan
sintetis. Produk obat herbal merupakan bagian-bagian dari tumbuhan
(misalnya akar, daun, kulit, dll) dan mengandung banyak senyawa kimia aktif.
Senyawa ini, selain mempunyai khasiat penyembuhan juga dapat memiliki
efek samping yang dapat merugikan.
Para ahli pengobatan herbal meyakini bahwa penggunaan kombinasi
ekstrak tumbuhan memiliki efek penyembuhan yang lebih ampuh dibanding
dengan hanya menggunakan satu komponen tumbuhan saja. Kombinasi dari
tumbuh-tumbuhan ini memiliki efek sinergi, yang saling melengkapi dan
bahkan menambah daya khasiatnya. Kombinasi ini juga diklaim dapat
mengurangi efek samping yang tidak diinginkan, misalnya dapat mengurangi
kejadian keracunan dibanding hanya dengan menggunakan satu jenis herbal.
Namun, secara teoritis, kombinasi zat kimia aktif dalam beberapa jenis herbal
juga bisa berinteraksi untuk membuat ramuan herbal menjadi lebih beracun
daripada menggunakan satu jenis herbal.
Efek samping ini dapat terjadi dalam beberapa cara, misalnya
keracunan, kontraindikasi dengan obat lain, dan lain-lain. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam penggunaan obat-obatan herbal antara lain :
1. Keamanan obat herbal pada umumnya;
2. Kandungan racun yang mungkin dikandung tanaman herbal yang
digunakan;
3. Efek yang merugikan pada organ tertentu, seperti sistem kardiovaskuler,
sistem saraf, hati, ginjal dan kulit;
4. Keamanan obat-obatan herbal untuk pengguna yang rentan, misalnya:
anak-anak dan remaja, lansia, wanita selama kehamilan dan menyusui,
pasien dengan kanker dan pasien bedah;
5. Interaksi yang mungkin terjadi di antara komponen obat herbal;
6. Waktu penggunaan yang tepat
E. Contoh Pengobatan Herbal Berdasarkan Penyakit
1. Hipertensi
Obat Herbal yang diberikan untuk orang yang memiliki penyakit
Hipertensi adalah yang memiliki efek farmakologi hipotensif. Artinya obat
tersebut mampu menurunkan tekanan darah. Demikian juga tanaman
tersebut memiliki efek diuretik yaitu merangsang pengeluaran air seni. Air
seni yang sering keluar akan menyebabkan ketegangan pembuluh darah
rileks dan mengendur. Disamping itu digunakan juga obat herbal yang
memiliki fungsi memperbaiki sistem metabolisme tubuh. Agar proses
metabolisme lebih baik hingga pengobatan lebih sempurna. Untuk
Hipertensi yang tidak diiringi dengan adanya komplikasi maka bisa
menggunakan tanaman herbal sambiloto dan Pegagan. jika hipertensi
tergolong berat maka ditambah dengan tanaman sambung nyawa.
Disamping itu hendaknya Mengurangi / menghindari konsumsi
garam yang berlebihan, minum kopi, alkohol, daging kambing, durian,
merokok, sayuran yang mengandung purin tinggi jika komplikasi dengan
asam urat.
2. Diabetes Melitus
Penyakit Diabets militus dicirikan dengan tingginya kadar gula
darah melebihi batas normal. Hal ini disebabkan rusaknya sel-sel beta pada
pulau-pulau langerhans . Oleh karena itu obat herbal yang diberikan
menggunakan herbal yang memiliki efek farmakologi hipoglikemik
( mampu menurunkan kadar gula darah ). Disamping itu obat tersebut juga
berguna memperbaiki sel-sel yang telah rusak. Tanaman obat yang
digunakan untuk penyakit kencing manis yang tidak di iringi komplikasi
adalah : Daun Mimba, Brotowali, Tapak Dara, dan sambiloto.
Hendaknya mengurangi atau berpantangan makan makanan
manis / bergula, makanan yang banyak karbohidrat, dan makanan
berlemak tinggi.
3. Batu ginjal / batu kandung kemih
Batu ginjal biasanya terjadi karena adanya Proses pengendapan
senyawa- senyawa kimia tertentu yang mengkristal hingga mirip batu. Ia
bisa terletak di ginjal sehingga disebut batu ginjal atau di kandung kemih
sehingga disebut batu kandung kemih. dalam mengobati penyakit batu
ginjal / kandung kemih digunakan obat herbal yang berfungsi meluruhkan
batu. Demikian juga digunakan obat yang berefek diuretik, atau
memperlancar pengeluaran air seni. ini dimaksudkan agar batu yang telah
diluruhkan itu dapat keluar dengan mudah lewat air seni . Untuk mengatasi
peradangan yang mungkin terjadi pada proses pengeluaran batu ginjal dan
batu kandung kemih . maka ditambahkan tanaman obat yang berfungsi
menghilangkan dan mengobati peradangan.
Obat / tanaman herbal yang biasa digunakan untuk mengobati
batu ginjal / batu kandung kemih adalah Tempuyung, tapak liman, dan
[Link] untuk minum banyak air jika belum terjadi gaga
ginjal kronis. hendaknya mengurangi atau menghindari teh, kopi,
softdrink, coklat, arbei, jeruk, dan bayam.
F. Hubungan Pengobatan Herbal dengan Kesehatan / Keperawatan
Pengobatan secara medis dan dengan herbal apabila dibandingkan,
masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Jika satu
jenis obat medis secara spesifik menyembuhkan satu penyakit, namun obat-
obatan herbal mampu menjadi penawar rasa sakit berbagai jenis penyakit.
Obat-obatan herbal juga dapat memperbaiki jaringan tubuh yang rusak,sebagai
contoh obat herbal yang berasal dari ramuan mahkota dewa dapat
menyembuhkan penyakit kanker, tumor dan jantung.
Pengobatan secara medis dapat lebih mengoptimalkan darah sebagai
indikator dan menjaga agar darah normal secara klinis (pemeriksaan
laboratorium), namun tanpa mempedulikan dampaknya terhadap kerusakan
organ tubuh lainnya. Sebagai contoh suntikan cairan insulin untuk penderita
diabetes ternyata memiliki potensi mengakibatkan rusaknya kelenjar tubuh
yang biasanya memproduksi insulin. Terapi pengobatan dengan herbal
(tumbuhan berkhasiat) bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel organ tubuh
yang rusak akibat radang dengan penyembuhannya bersifat permanen.
Hubungannya dalam kesehatan / keperawatan, pengobatan herbal
dapat menjadi kombinasi dalam pemberian asuhan keperawatan, apa lagi
banyak masyarakat sekarang mulai mencari alternatif lain untuk mencegah
penyakit dan kesehatannya. Pengobatan herbal pun semakin mendapat tempat
dimasyarakat. Pengobatan herbal dapat menjadi terapi pengobatan dalam
kesehatan / keperawatan guna untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal
dalam mengobati pasien.
FUNCTIONAL FOOD (PANGAN FUNGSIONAL)
A. Pengertian
Makanan yang dikonsumsi sehari-hari berfungsi untuk mencukupi
kebutuhan tubuh akan energi dan zat-zat gizi, baik makro maupun mikro.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, semakin meningkat pula
berbagai penyakit degeneratif, yang penyebabnya diduga antara lain berasal
dari perubahan pola konsumsi makanan, dan pola hidup. Kemajuan teknologi
menyebabkan orang mulai beralih kepada konsep makanan siap saji, proses
pengolahan makanan dengan menggunakan bahan tambahan pangan, makanan
yang mengandung kadar lemak atau kadar gula yang tinggi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis makanan
memiliki peran dalam mencegah maupun mengobati penyakit. Berawal dari
konsep ini, maka lahirlah makanan fungsional. Secara sederhana, makanan
fungsional didefinisikan sebagai makanan yang mempunyai fungsi tidak
hanya untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dasar bagi tubuh, tetapi juga
memiliki fungsi lainnya (Tapsell, 2009). Konsep makanan fungsional mula-
mula berasal dari filosofi Hipropcates yaitu, “Let your food be your medicine
and let your medicine be your food” (jadikanlah makananmu sebagai obatmu
dan obatmu sebagai makananmu).
Makanan fungsional ini sering disebut juga dengan makanan yang
mempunyai fungsi kesehatan, khususnya untuk pencegahan (prevention)
penyakit. Istilah makanan fungsional digunakan pertama kali oleh para peniliti
di Jepang pada sekitar tahun 1984, ketika pemerintah Jepang mulai
memikirkan anggaran untuk kesehatan bagi lansia yang menjadi tanggung
jawab pemerintah, dan semakin lama semakin meningkat populasi lansia,
sehingga diantisipasi dengan konsumsi makanan fungsional untuk mencegah
berbagai penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
B. Jenis-jenis pangan fungsional
Makanan fungsional dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu
berdasarkan sumber makanan dan cara pengolahan. Berdasarkan sumbernya,
makanan fungsional dibedakan menjadi makanan fungsional nabati dan
makanan fungsional hewani. Makanan fungsional nabati adalah makanan
fungsional yang berasal dari tumbuhan, contohnya: kedelai, beras merah,
tomat, bawang putih, anggur, teh dan sebagainya. Makanan fungsional hewani
adalah makanan fungsional yang berasal dari hewan, contohnya: ikan, susu
dan produk-produk olahannya.
Berdasarkan cara pengolahannya, makanan fungsional dibedakan
menjadi tiga kelompok, yaitu : makanan fungsional alami, makanan
fungsional tradisional dan makanan fungsional modern. Makanan fungsional
alami adalah makanan yang tersedia di alam dan tidak mengalami proses
pengolahan, contohnya adalah buah-buahan dan sayur-sayuran yang dimakan
segar. Makanan fungsional tradisional adalah makanan fungsional yang diolah
secara tradisional, contohnya : tempe, dadih, dan sebagainya. Makanan
fungsional modern adalah makanan fungsional yang dibuat secara khusus
dengan menggunakan perencanaan dan teknologi khusus. Contohnya adalah
makanan khusus untuk penderita diabetes seperti Diabetasol dan Diabetamil.
Produk ini mengandung serat dan senyawa fungsional lain yang dapat
menurunkan respon gula darah sehingga sangat baik untuk penderita diabetes.
C. Komponen Pangan Fungsional
Komponen makanan fungsional dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu: zat gizi dan non gizi. Zat gizi dapat berupa zat gizi makro yang
mempunyai efek fisiologis (contoh : resistant starch atau asam lemak omega
3) atau zat gizi mikro yang jumlah konsumsinya melebihi rekomendasi
konsumsi per hari. Komponen non gizi contohnya adalah mikroorganisme
atau bagian kimia dari tumbuhan. Komponen bioaktif dari makanan
fungsional adalah :
1. Zat gizi : asam amino, beberapa jenis protein, asam lemak tak jenuh ganda
(PUFA = polyunsaturated fatty acids), vitamin, mineral, dsb.
2. Zat non gizi : serat pangan, prebiotik, probiotik, fitoestrogen, fitosterol dan
fitostanol, poliphenol dan isoflavon, gula alkohol, bakteri asam laktat, dsb.
D. Pembuatan atau Produksi Pangan Fungsional
Produk makanan dapat dibuat menjadi fungsional dengan
menggunakan beberapa pendekatan :
1. Menghilangkan komponen yang diketahui atau diidentifikasi
menyebabkan efek merugikan saat dikonsumsi.
2. Meningkatkan konsentrasi komponen yang secara alami terdapat dalam
bahan makanan sampai pada kadar dimana dapat menghasilkan fungsi
yang diinginkan (contoh: fortifikasi dengan zat gizi mikro untuk mencapai
konsumsi harian yang lebih tinggi dari rekomendasi asupan yang
dianjurkan namun sesuai dengan anjuran pedoman diet untuk mengurangi
resiko penyakit) atau meningkatkan konsentrasi komponen non gizi pada
tingkat yang diketahui dapat meningkatkan manfaat yang diinginkan.
3. Menambahkan komponen yang tidak umum terdapat pada sebagian besar
bahan makanan, tidak selalu berupa zat gizi makro atau zat gizi mikro
namun mempunyai efek yang telah terbukti menguntungkan (contoh:
vitamin non antioksidan, atau prebiotik fruktan).
4. Mengganti komponen, biasanya komponen zat gizi makro (contoh:
lemak), yang umumnya dikonsumsi secara berlebih sehingga dapat
menyebabkan efek yang merugikan, diganti dengan komponen yang
mempunyai efek menguntungkan bagi kesehatan [contoh: chicory inulin
seperti Rafticream (ORAFTI, Tienen, Belgium)].
5. Meningkatkan bioavibilitas atau stabilitas dari komponen yang diketahui
dapat menghasilkan efek fungsional atau menurunkan resiko yang
merugikan dari bahan makanan.
NUTRASEUTIKAL
Nutraseutikal (Nutraceutic) adalah istilah yang berasal dari kata “nutrisi”
dan “farmasi”. Produk nutrasetikal didefinisikan sebagai zat yang memiliki
manfaat fisiologis atau memberikan perlindungan terhadap penyakit kronis,
menunda proses penuaan dan meningkatkan harapan hidup. Saat ini nutrasetikal
mendapat banyak perhatian karena memiliki potensi nutrisi, keamanan dan efek
terapi. Nutraseutikal dapat juga diartikan sebagai produk makanan yang
mengandung komponen medis (obat) dan nutrisi yang digunakan untuk
meningkatkan kesehatan dengan mencegah atau mengobati penyakit.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nutrasetikal dapat mencegah
dan mengatasi berbagai penyakit seperti diabetes, aterosklerosis, osteoporosis,
penyakit kardiovaskular, kanker dan penyakit neurologis. Sebagian besar senyawa
nutrasetikal memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Beberapa nutraceuticals yang
populer seperti ginseng, Echinacea, teh hijau, glukosamin, omega-3, lutein, asam
folat dan minyak ikan telah terbukti melalui riset ilmiah memiliki sifat terapeutik.
Ruang lingkup nutraseutikal yaitu mempelajari tentang senyawa yang
berasal dari bahan alam dan nutrisi untuk meningkatkan kesehatan, mencegah
proses penyakit dan mengendalikan gejala penyakit. Nutrasetikal memilki aspek
sebagai pencegah atau pengobatan penyakit dan dikonsumsi layaknya makanan /
minuman biasa dan bisa dalam bentuk seperti obat (pil, kapsul, bubuk, cair).
Manfaat nutraseutikal secara garis besar ada 2 yaitu pencegahan penyakit
dan pengobatan penyakit. Pada pencegahn penyakit contohnya yaitu : antioksidan,
produk nutrisi kecantikan dan kebugaran. Sedangkan sebagai pengobatan penyakit
contohnya : produk terapi kanker, diabetes, hipertensi dan osteoporosis.