0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan40 halaman

Stigma dan Dukungan Keluarga ODHA

Dokumen tersebut membahas tentang tiga topik utama yaitu prinsip hidup ODHA, family centered pada ODHA, dan stigma masyarakat terhadap ODHA. Dokumen tersebut menjelaskan pentingnya dukungan keluarga bagi ODHA dan berbagai bentuk stigma serta diskriminasi yang dihadapi oleh ODHA dari masyarakat beserta penyebab dan dampaknya.

Diunggah oleh

anon_493838093
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan40 halaman

Stigma dan Dukungan Keluarga ODHA

Dokumen tersebut membahas tentang tiga topik utama yaitu prinsip hidup ODHA, family centered pada ODHA, dan stigma masyarakat terhadap ODHA. Dokumen tersebut menjelaskan pentingnya dukungan keluarga bagi ODHA dan berbagai bentuk stigma serta diskriminasi yang dihadapi oleh ODHA dari masyarakat beserta penyebab dan dampaknya.

Diunggah oleh

anon_493838093
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KEPERAWATAN HIV/AIDS

“Prinsip Hidup ODHA, Family Centered pada ODHA, dan Stigma Masyarakat
terhadap ODHA”

DISUSUN OLEH :
Ika Rahmawandini Maulidia (I1031171011)
Ike (I1031171012)
Vega Yamaha (I1031171016)
Nabila Nur Husaini (I1031171017)
Rahmanadanti Daud (I1031171020)
Suparwati (I1031171024)
Dedi Ismatullah (I1031171036)
Nur An Nissa (I1031171043)
Karlina Ollah Adi (I1031171044)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat-Nya yang telah
melimpahkan kepadakami, sehingga kami dapat menyelesakan makalah ini dengan tepat
waktu. Makalah ini merupakan salah satu tugas kelompok mata kuliah hiv/aids pada semester
tiga.
Dalam menyelesaikan makalah ini, kami telah banyak mendapat bantuan dan masukan
dari beberapa pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih
kepada Bapak Ners Herman.,[Link]., [Link] selaku dosen mata kuliah HIV/AIDS yang telah
memberikan bimbingan kami dan kepada semua pihak yang telah membantu kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang membangun sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini kedepannya.

Pontianak, 18 September 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 3
1.3 Tujuan ............................................................................................................................ 3
1.4 Manfaat .......................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................ 5
2.1 Pengertian ODHA ......................................................................................................... 5
2.2 Makna Hidup ODHA .................................................................................................... 5
2.3 Perlindungan Hak Asasi Manusia pada ODHA ............................................................ 6
2.4 Pandangan dan tanggapan Masyarakat pada ODHA.................................................... 10
2.5 Family Centered pada ODHA ...................................................................................... 12
2.6 Pengertian Stigma dan Deskriminasi............................................................................ 17
2.7 Bentuk-Bentuk Stigma dan Deskriminasi HIV/AIDS .................................................. 18
2.8 Stigma Masyarakat ....................................................................................................... 19
2.9 Dimensi Stigma dan Deskriminasi ............................................................................... 20
2.10 Faktor – Faktor Penyebab Stigma dan Deskriminasi ................................................... 21
2.11 Dampak yang Ditimbulkan Stigma dan Deskriminasi ................................................. 22
2.12 Fakta Adanya Stigma dan Deskriminasi ...................................................................... 24
2.13 Penanganan terhadap Stigma dan Deskriminasi........................................................... 24
2.14 Stigma Masyarakat Indonesia terhadap Penderita HIV dan Solusinya ........................ 25
2.15 Pemecahan Masalah atau Soulsi pada ODHA.............................................................. 28
2.16 Peran ODHA ................................................................................................................ 34
BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 35
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 35
3.2 Saran ............................................................................................................................. 36
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 37

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang
Penanggulanan HIV dan AIDS, Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired
Immune Deficiency Syndrome atau yang biasa disebut AIDS merupakan gejala
rusaknya sistem kekebalan tubuh yang diakibatkan oleh virus yang disebut Human
Immunodeficiency atau yang lebih dikenal dengan HIV. Seseorang yang
terkontaminasi virus HIV akan rentan terserang penyakit, karena virus ini bekerja
dengan melemahkan sistem imun. Hal yang menjadi salah satu ciri terkontaminasi virus
ini adalah mudahnya terkena infeksi oportunistik seperti tumor, kuman, dan jamur.
Orang dengan HIV/AIDS atau disingkat ODHA adalah istilah yang digunakan
bagipenderita penyakit mematikan menular seksual HIV/AIDS. HIV/AIDS disebut
penyakit menular seksual disebabkan penularan awal dan yang paling banyak memang
diakibatkan dari aktivitas tersebut. Kegiatan prostitusilah yang menumbuh suburkan
penyebaran penyakit ini. Sedangkan istilah mematikan, disebabkan oleh virus ini
menyerang sistem kekebalan tubuh yang akan membawa kematian pada pasien dan
sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Obat
yang tersedia saat ini hanyalah untuk memperkuat pertahanan tubuh ODHA, bukan
menyembuhkan Odha dari HIV/AIDS.
Pada 2016, tercatat sudah ada lebih dari 36,7 juta jiwa yang hidup dengan Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Jumlahnya pun terus meningkat sampai sekarang. Di
Indonesia sendiri, jumlah pengidap terus bertambah setiap tahun. Keadaan ini adalah
tantangan berat untuk mencapai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) hingga
tahun 2030. Berdasarkan data Laporan Perkembangan HIV/AIDS Direktorat Jenderal
(Ditjen) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian
Kesehatan (Kemenkes) RI, pada 2010-2014, penderita HIV karena aktivitas
heteroseksual menduduki jumlah tertinggi. Kemudian pada 2015-2017, situasi menjadi
lebih rumit karena faktor 'tak diketahui' menjadi lebih dominan, meskipun faktor
hubungan heteroseksual juga menjadi salah satu faktor utama meningkatnya jumlah
pengidap. Dalam data P2PL sepanjang 2016 hingga trimester kedua 2017, jumlah
pengidap laki-laki lebih banyak dari pada perempuan. Kedua tahun menunjukkan,
jumlah pengidap laki-laki hampir mencapai 65 persen dari jumlah keseluruhan. Hingga

1
Juni 2017, P2PL Kemenkes RI mencatat jumlah pengidap HIV banyak berkumpul di
provinsi besar Indonesia.
Family centered care didefinisikan oleh Association for the care of children`s
Health (ACCH) sebagai filosofi dimana pemberi perawatan mementingkan dan
melibatkan peran penting dari keluarga,dukungan keluarga akan membangun kekuatan
,membantu untuk membuat suatu pilihan yang [Link] sangat memerlukaan
dukungan keluarga.
Odha menjadi bagian penting dalam upaya Penanggulangan HIV/AIDS karena
mereka adalah orang-orang yang hidupnya tersentuh dan terpengaruh secara langsung
oleh virus ini. Mereka adalah sumber pengertian yang paling tepat dan paling dalam
mengenai HIV/AIDS. Pengertian ini penting dimiliki oleh setiap orang, terutama oleh
mereka yang pekerjaannya berhubungan dengan HIV/AIDS. Banyak yang tidak tepat
dalam cara orang melihat peranan Odha. Odha diajak berpartisipasi, tetapi tetap bukan
sebagai bagian masyarakat. Odha cenderung dijadikan obyek untuk memuaskan rasa
ingin tahu. Odha dijadikan contoh-dalam konotasi negatif.
Odha dijadikan token (tanda partisipasi saja). Dengan merangkul Odha atau
mendatangkan Odha ke sebuah pertemuan, orang bisa kelihatan politically correct.
Odha dijadikan pemancing rasa iba. Yang menyedihkan juga, Odha dijadikan sebuah
komoditi. Terus terang saja, Odha memang menarik. Odha direndahkan tapi diminati
karena ada gunanya. Orang mencibir padanya, tetapi tetap berusaha mengintip.
Faktanya, stigma terhadap Odha telah menjadi sumber ketakutan bagi sebagian
masyarakat. Acapkali muncul berbagai perdebatan yang mempertentangkan antara
kepentingan masyarakat umum dengan Odha. Akibatnya, hak-hak Odha dalam
kehidupan sehari-hari sering terabaikan. Alasan yang sering digunakan adalah demi
menyelamatkan masyarakat, tetapi apabila dikaji kembali ternyata hanya karena
pemahaman yang salah dari mitos-mitos negatif tentang Odha. Seperti mitos bahwa
AIDS merupakan suatu penyakit yang sangat mematikan, berbahaya, belum dapat
disembuhkan, tidak ada obatnya, mudah menular dan tidak dapat dicegah.
UNAIDS (2011) mendefiniskan stigma dan diskriminasi terkait dengan HIV
sebagai ciri negative yang diberikan pada seseorang sehingga menyebabkan tindakan
yang tidak wajar dan tidak adil terhadap orang tersebut berdasarkan status HIV-nya.
HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit kutukan akibat dari perbuatan buruk seperti seks
bebas atau penyalahgunaan [Link] itu, berdekatan dan berinteraksi dengan
ODHA masih dianggap dapat menularkan virus HIV sehingga banyak orang enggan

2
untuk berhubungan dan berinteraksi dengan ODHA. Hal tersebut tidak saja dilakukan
oleh masyarakat pada umumnya, tetapi dari kalangan medis pun masih menunjukkan
perilaku diskriminatif terhadap ODHA. Dengan adanya hal-hal di atas ini penulis
mencoba membahas tentang prinsip hidup bersama ODHA,Family Centre care ,serta
stigma pada ODHA.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ODHA?
2. Bagaimana ODHA memaknai hidupnya?
3. Bagaimana perlindungan hak asasi manusia pada ODHA?
4. Bagaimana pandangan dan sikap masyarakat pada ODHA?
5. Bagaimana Family Centered pada ODHA?
6. Apa pengertian stigma dan deskriminasi?
7. Apa bentuk-bentuk stigma dan deskriminasi HIV/AIDS?
8. Bagaimana stigma masyarakat?
9. Bagaimana dimensi stigma dan deskriminasi?
10. Apa faktor-faktor penyebab stigma dan deskriminasi?
11. Apa dampak yang ditimbulkan stigma dan deskriminasi?
12. Apa fakta adanya stigma dan deskriminasi?
13. Bagaimana penanganan terhadap stigma dan deskriminasi?
14. Bagaimana stigma masyarakat Indonesia terhadap penderita HIV/AIDS dan
solusinyya?
15. Bagaimana solusi atau pemecahan masalah pada ODHA?
16. Bagaimana peran ODHA dalam menanggulangi HIV/AIDS?
1.3 Tujuan
1. Untuk dapat mengetahui tentang ODHA
2. Untuk dapat mengetahui makna hidup ODHA
3. Untuk dapat mengetahui perlindungan hak asasi manusia pada ODHA
4. Untuk dapat mengetahui pandangan dan sikap masyarakat pada ODHA
5. Untuk dapat mengetahuiFamily Centered pada ODHA
6. Untuk dapat mengetahui pengertian stigma dan deskriminasi
7. Untuk dapat mengetahui bentuk-bentuk stigma dan deskriminasi HIV/AIDS
8. Untuk dapat mengetahui stigma masyarakat
9. Untuk dapat mengetahui dimensi stigma dan deskriminasi
10. Untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab stigma dan deskriminasi

3
11. Untuk dapat mengetahui dampak yang ditimbulkan stigma dan deskriminasi
12. Untuk dapat mengetahui fakta adanya stigma dan deskriminasi
13. Untuk dapat mengetahui penanganan terhadap stigma dan deskriminasi
14. Untuk dapat mengetahui stigma masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS dan
solusinya
15. Untuk dapat mengetahui solusi atau pemecahan masalah pada ODHA
16. Untuk dapat mengetahui peran ODHA dalam mengatasi atau menanggulani
HIV/AIDS.
1.4 Manfaat
Manfaat yang ingin kami capai adalah untuk memberikan informasi kepada para
pembaca,utamanya bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang ODHA, sehingga
dengan demikian kita dapat bersikap lebih bijak terhadap ODHA.

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ODHA
Dalam bahasa inggris orang yang terinfeksi HIV/AIDS itu disebut PLWHA
(People Live with HIV/AIDS), sedangkan di Indonesia kategori ini diberi nama ODHA
(Orang dengan HIV/AIDS) dan OHIDA (Orang yang hidup dengan HIV/AIDS) baik
keluarga serta lingkungannya. ODHA atau orang dengan HIV/AIDS merupakan orang
yang menderita HIV/AIDS yang secara fisik sama dengan kita yang tidak menderita
HIV/AIDS. Mereka pada umumnya memiliki ciri-ciri yang sama seperti orang yang
sehat sehingga tidak dapat diketahui apakah seseorang itu menderita HIV/AIDS atau
tidak.
2.2 Makna Hidup Bagi ODHA
Berdasarkan suatu penelitian diperoleh data yang menunjukkan bahwa ada
perbedaan dalam memaknai hidupnya dan juga dalam hal psikis dimana pada awal
partisipan atau penderita merasa kaget dan shock, namun setelah 4-5 tahun penderita
merasa lebih optimis dalam menjalani hidupnya dan kondisi yang ia alami saat ini tidak
menghalanginya untuk melakukan rutinitas sehari-hari seperti bekerja dan mengurus
keluarga.(Burhan dkk, 2014)
Subjek dalam menerima diri dan keadaan saat ini dipengaruhi oleh pemikiran
subjek sendiri yang telah menyadari risiko perbuatan sebelumnya dan mengambil
hikmah dari apa yang dialami. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Steger et. Al
(2009) yang menyebutkan bahwa pencarian makna ditandai dengan keterbukaan pikiran
dan berpikir reflektif yang dapat mempengaruhi cara orang mengevaluasi pengalaman
mereka.(Burhan dkk, 2014)
Pernyataan Baumeister dan Vohs (2015) mengatakan jika individu tidak memiliki
makna dalam hidup, maka individu tersebut tidak dapat mencapai kebahagiaannya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa individu yang memiliki makna dalam
hidupnya menunjukkan kebahagiaan, kepuasan hidup dan mampu mengurangi
kecemasan terhadap kesehatannya. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil
penelitian ini, dimana ketiga subjek dapat beraktifitas dan menjaga makanan, teratur
minum obat, menerima dan memaknai penyakit serta statusnya sebagai ODHA dapat
berdampak pada penilaian ODHA terhadap hidupnya yaitu merasa bahagia dan
optimis.(Burhan dkk, 2014)

5
Steger dan Kashdan (2007) menyatakan bahwa jika seseorang merasakan
ketidakbermaknaan dalam hidupnya, maka individu tersebut harus dimotivasi untuk
memperoleh makna hidupnya karena proses pencarian makna hidup ini adalah proses
yang dinamis. Untuk mencapai kebermaknaan individu akan menerapkan sistem nilai
mereka sendiri dan kemudian diarahkan oleh motivasi instrinsik mereka untuk
mencapai tujuan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan suatu proses pemaknaan
dalam hidup yang dilakukan oleh ODHA, dimana ODHA memiliki motivasi yang
berasal dari diri sendiri yaitu berupa keinginan untuk berubah dan hidup lebih baik serta
termotivasi karena adanya dukungan sosial dari keluarga. Motivasi-Motivasi yang
dimiliki ODHA tersebut kemudian mempengaruhi tujuan hidup yang ingin dicapai
ODHA. Dan proses tersebut akan terus ada sepanjang rentang kehidupan. (Steger dan
Kashdan, 2007)
Fava dan Ruini (2003) menjelaskan bahwa unsur yang berkaitan dengan makna
diri adalah pengaktualisasian diri. Dalam penelitian ini, subjek menunjukkan
pengaktualisasian dirinya dengan memenuhi segala kebutuhannya dan keluarga
kemudian mengetahui tujuan hidup, dan hal tersebut disalurkan oleh subjek dengan
bekerja, karena subjek merasa dengan bekerja ia dapat memenuhi semua kebutuhannya
dan keluarga dan dengan memenuhi kebutuhan tersebut subjek merasakan kebahagian
bersama keluarganya.(Burhan dkk, 2014)
Pengalaman-pengalaman yang dilalui ODHA baik itu sebelum maupun setelah
didiagnosa dapat berpengaruh terhadap presepsi diri dan perubahan dalam perilaku,
terutama yang berhubungan dengan kesehatan. Hal tersebut juga didukung oleh hasil
pembahasan Calhoun dan Tedeschi (2006) yang berpendapat bahwa dengan mengingat
kematian dan pengalaman tragis dapat merubah persepsi terhadap dirinya, memiliki
hubungan yang lebih baik dan perubahan dalam tujuan atau makna hidup. Hal tersebut
juga dirasakan oleh ketiga subjek penelitian yang merasakan dirinya lebih baik dan
hubungan sosialisasi yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sebelum didiagnosa
HIV/AIDS. (Burhan dkk, 2014)
2.3 Perlindungan Hak Asasi Manusia pada ODHA
Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena
diberikan kepadanya oleh masyarakat, bukan berdasarkan hukum positif yang berlaku,
melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Manusia memilikinya karena ia
manusia, dalam hak asasi manusia termasuk bahwa hak itu tidak dapat dihilangkan atau
dinyatakan tidak berlaku oleh negara. Negara dapat saja tidak mengakui hak-hak itu.

6
Dengan demikian hak-hak asasi tidak dapat dituntut didepan hakim. Tetapi itulah yang
menentukan hak-hak yang dimikili oleh manusia sebagai manusia itu menunjukkan
bahwa dalam negara itu martabat manusia belum diakui sepenuhnya, itulah paham
tentang hak asasi manusia (Nurhayati Massa, 2014).
Hukum merupakan aturan-aturan yang berfungsi untuk mengatur kehidupan
manusia dalam masyarakat agar dapat hidup dengan tenang, tentram, damai, bahagia
dan sejahtera berdasarkan rasa keadilan yang berlaku dalam masyarakat. Setiap
masyarakat manusia baik yang sederhana maupun yang sudah maju mempunyai hukum
yang sesuai dengan perasaan keadilan yang hidup dalam masyakatnya. Melihat dari
pengertian diskriminasi menurut UU No.39 Tahun 1999 pasal 1 ayat 3 “Diskriminasi
adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak
langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik,
kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan
politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan,
pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan
baik individu maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya,
dan aspek kehidupan lainnya.” Dan bahwa diskriminasi merupakan salah satu tindakan
pelanggaran hak asasi manusia, maka mereka yang menjadi korban diskriminasi,
seharusnya mendapatkan keadilannya sebagai manusia yang memiliki hak kodrat dari
Sang Pencipta. Padahal sebenarnya tentang HIV/AIDS sendiri memiliki perlindungan
secara internasional yang dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan,
modul-modul, pedoman-pedoman pun konfrensi-konfrensi terkait diskriminasi terhadap
penderita HIV/AIDS yang bisa diikuti dan lain sebagainya. Semakin merajalelanya
perlakuan diskriminasi di lingkungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam
bentuk apapun itu, membuat pemerintah mengambil sebuah langkah kebijakan untuk
menghapus segala bentuk diskriminasi yang ada, seperti meratifikasi konvensi
internasional (Agyta Gaghenggang, 2013)
Langkah kebijakan yang dibuat adalah antara lain, Kode Etik Ketenagakerjaan
dibawah Undang-Undang Ras, Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap
Perempuan (International Convention on the Elimination of All Forms of Dicrimination
Againts Women/ CEDAW) yang telah diratifikasi melalui UU No.7 Tahun 1984 dan
diperkuat dengan UU No.29 Tahun 1999 tentang Konvensi Internasional tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, 1965 (International Convention on
the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, 1965), UU No.40 Tahun 2008

7
tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan [Link] pula halnya dengan
penderita HIV/AIDS seharusnya mendapatkan keadilan hukum atas hidup mereka. Dan
bahwa diskriminasi adalah salah satu yang di larang dalam HAM, maka ada peraturan-
peraturan yang mengayomi penderita HIV/AIDS, mungkin secara kasat mata hanya
terlihat seperti sanksi moral saja.
Selanjutnya di tinjau dari Penjelasan Pasal 2 UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia dijelaskan bahwa hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia tidak
dapat dilepaskan dari manusia pribadi karena tanpa hak asasi manusia dan kebebasan
dasar manusia yang bersangkutan kehilangan harkat dan martabat kemanusiaannya.
Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban baik secara hukum maupun secara politik,
ekonomi, sosial dan moral, untuk melindungi dan memajukan serta mengambil
langkah-langkah konkrit demi tegaknya hak asasi manusia dan kebebasan dasar
manusia. Dengan demikian negara dan pemerintah bertanggung jawab untuk
menghormati, melindungi, membela dan menjamin hak asasi manusia setiap warga
Negara dan penduduknya tanpa diskriminasi, termasuk penderita HIV/AIDS.
Dalam UU No.39 Tahun 1999 Pasal 9 ayat 3 bahwa setiap orang berhak atas
lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pada Pasal 28H ayat 1 UUD 1945 menyebutkan
: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.” Pada kata-kata terakhir menyebutkan berhak memperoleh pelayanan
kesehatan, tapi ini seakan tidak berlaku pada penderita HIV/AIDS, kenyataanya adalah
“pelayanan diskriminasi”, entah itu dari masyarakat sekitar, petugas kesehatan ataupun
pihak-pihak yang seharusnya bisa membantu penderita HIV/AIDS.
Stigma yang makin lama makin menguat tersebut memberikan dampak yang
semakin buruk bagi ODHA. Masyarakat justru tergiring untuk mendiskriminasikan
mereka dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai fakta dapat kita lihat di masyarakat
seperti pemecatan ODHA dari perusahaan. Sebenarnya tindakan ini menyalahi
Keputusan Menakertrans No 68/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan
HIV/AIDS di Tempat Kerja. Kejadian yang cukup ironi juga terjadi di rumah sakit
yang mana seharusnya rumah sakit adalah tempat acuan untuk mengambil sikap
terhadap ODHA. Seperti pengakuan salah seorang penderita HIV/AIDS di Malang,
Jawa Timur, penderita yang menderita HIV/AIDS tersebut ingin melakukan operasi
penyakit namun ditolak oleh pihak rumah sakit karena ketidaksanggupan dokter dan

8
pihak rumah sakit untuk mengganti peralatan rumah sakit yang digunakan dalam
operasi. Secara implisit hal ini menunjukkan adanya diskriminasi terhadap ODHA.
Selanjutnya Pasal 6 UU No 36/2009 menyebutkan, setiap orang berhak
mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Kemudian,
salah satu prinsip etis utama dari hubungan dokter-pasien, yakni keadilan. Keadilan,
yaitu perlakuan yang sama untuk setiap orang dalam situasi kondisi yang sama, dengan
menekankan persamaan dan kebutuhan menurut kategori penyakit yang diderita,
bukannya jasa, kekayaan, status sosial atau kemampuan membayar. Seharusnya para
penderita HIV/AIDS juga mendapatkan apa yang disebutkan diatas. Bukannya
pembedaan karena dianggap nista dan sangat tidak pantas untuk mendapatkan
pelayanan kesahatan yang layak.
Hak pasien sebenarnya merupakan hak yang asasi yang bersumber dari hak dasar
individual dalam bidang kesehatan, the right of self determination. Pasal 7 dan 8 UU
No 36/2009, bisa menjadi salah satu solusi bagi penderita HIV/AIDS yang
mendapatkan tindakan diskriminasi dari para [Link] adalah beberapa peraturan
kebijakan yang mengatur tentang HIV/AIDS antara lain:
1. Strategi Nasional HIV dan AIDS 2003-2007
2. Strategi Nasional HIV dan AIDS 2007-2010 dan rencana Aksi Nasioanal
Penanggulanagn HIV/AIDS di Indonesia
3. Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2010-2014
4. Kepres RI No. 36 Tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS
5. Keputusan Menakertrans No. 68 Tahun 2004 tentang Pencegahan dan
Penanggulanagn HIV/AIDS di Tempat Kerja
6. Perpres RI No. 75 Tahun 2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS
7. Permenkokesra RI No. 02/PER/MENKO/KESRA/I/2007 tentang kebijakan
Nasional Penganggulanagn HIV dan AIDS Melalui Pengurangan Dampak Buruk
Penggunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik
8. Permendagri RI No. 20 Tahun 2007 tentang Komisi Penaggulangan AIDS
9. Joint ILO/WHO Guidelines on Health Services and HIV/AIDS (Pedoman Bersama
ILO/WHO tentang Pelayanan Kesehatan dan HIV/AIDS)
10. Global Business Coalition on HIV/AIDS, New York
11. Joint United Nations Programmeon HIV/AIDS, Geneva
12. World Health Organization, Geneva

9
Secara umum, substansi hukum memiliki potensi untuk berfungsi melindungi
terhadap hak pengidap HIV/AIDS. Namun demikian, potensi perlindungan tersebut
masih bersifat umum dan parsial. Seharusnya, perlindungan HAM bersifat
komprehensif, partisipatif dan non diskriminasi. Prinsip ini sesuai dengan kedudukan
setiap individu yang sederajat sebagai umat manusia dan memiliki kebaikan yang
melekat di dalam harkat dan martabatnya masing-masing, mengingat substansi hukum
yang terkait dengan perlindungan hak pengidap HIV/AIDS masih parsial dan
kadangkala terjadi perlakuan-perlakuan diskriminatif, maka pada masa yang akan
datang perlu dibentuk undang-undang khusus yang mengatur tentang perlindungan hak
pengidap HIV/AIDS (Nurhayati Massa, 2014).
2.4 Pandangan dan Sikap Masyarakat pada ODHA
Pandangan negatif terhadap ODHA masih banyak terjadi di masyarakat. Hal ini
terlihat dari penelitian yang menunjukkan bahwa hampir separuh dari responden
(49,7%) memiliki sikap negatif terhadap ODHA. Bentuk sikap negatif ini diantaranta
tidak bersedia makan makanan yang disediakan atau dijual oleh ODHA, tidak
memperbolehkan anaknya bermain dengan anak HIV, tidak mau menggunakan toilet
bersama dengan ODHA, bahkan menolak untuk tinggal dekat dengan orang yang
menunjukkan gejala HIV/AIDS. Apabila terdapat ODHA dalam keluarga, mereka
merasa takut untuk tidur bersama dengan ODHA dan tidak bersedia merawat seperti
menyiapkan makanan dan membersihakan peralatan makanan, serta duduk dekat
dengan orang-orang terinfeksi HIV yang tidak menunjukkan gejala sakit.
Pandangan negatif terhadap ODHA yang masih melekat di dalam masyarakat
membuat diskriminasi terhadap ODHA semakin kuat. Masih banyak masyarakat baik
yang berasal dari kelas bawah sampai dengan seorang dokter sekalipun
mendiskriminasikan ODHA seperti yang terajadi di di Yogyakarta seorang dokter di
sebuah rumah sakit terkemuka yang menganggap bahwa ODHA itu adalah manusia
yang kotor, yang melakukan hal-hal yang tidak bermoral seperti pengguna narkoba,
PSK (Penjaja Seks Komersil), wanita simpanan, dll, sehingga ketika mendapatkan
pasien ODHA ia tidak mau merawatnya. Padahal HIV AIDS itu tidak hanya diderita
oleh golongan tersebut saja bahkan ibu rumah tangga atau seorang guru pun bisa
menderita HIV/AIDS, yang dimana profesi mereka dianggap mulia atau baik-baik saja.
Sebenarnya hak ODHA sama seperti manusia lainnya, tetapi karena ketakutan
dan kekurangpahaman masyarakat mengenai keberadaan virus tersebut, membuat hak
ODHA sering dilanggar. Hingga saat ini sikap dan pandangan masyarakat terhadap

10
ODHA sangatlah buruk sehingga melahirkan permasalahan serta tindakan yang
melukai fisik maupun mental bagi ODHA tak terkecuali keluarga dan orang-orang
terdekatnya. Hasil penelitian ditemukan bahwa stigma terhadap status HIV/AIDS yang
didapatkan oleh ODHA lebih tinggi di lingkungan masyarakat (71,4%), selanjutnya di
tempat pelayanan kesehatan (35,5%) dan yang terendah adalah di lingkungan keluarga
(18,5%) (Yana, Amiruddin & Maria, 2007). Berdasarkan persentase diatas terlihat
adanya perbandingan yang cukup signifikan antara persentase masyarakat, pelayanan
kesehatan maupun keluarga. Dalam hal ini dapat dilihat masih kentalnya pandangan
negatif mengenai ODHA di lingkungan masyarakat karena kurangnya informasi
mengenai HIV/AIDS. Peningkatan pengetahuan masyarakat, penyedia layanan
kesehatan dan anggota keluarga menjadi hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan
pemahaman akan HIV/AIDS. Hal tersebut perlu dilakukan agar ODHA tidak lagi
diperlakukan seperti monster ataupun mahluk menyeramkan lainnya, yang membuat
masyarakat memutuskan relasi dengan mereka, tetapi menerima mereka selayaknya
manusia biasa, karena secara fisik ODHA tidak memiliki ciri khas tertentu, mereka bisa
tetap menjalankan aktifitas normal seperti masyarakat lainnya yang status HIVnya
negatif.
Hingga saat ini yang menjadi hambatan dalam penanggulanagn dan pencegahan
dari HIV/AIDS adalah masih tingginya pandangan negatif masyarakat terhadap ODHA.
Pandangan negatif berasal dari pikiran seorang indiviu atau masyarakat bahwa penyakit
AIDS merupakan akibat dari perilaku amoral yang tidak dapat diterima masyarakat.
Pandangan negatif terhadap ODHA tergambar dalam sikap sinis, perasaan ketakutan
yang berlebihan, dan pengalaman negatif terhadap ODHA. Banyak yang beranggapan
bahwa orang yang terinfeksi HIV/AIDS layak mendapatkan hukuman akibat
perbuatannya sendiri. Mereka juga beranggapan bahwa ODHA adalah orang yang
bertanggung jawab terhadap penularan HIV/AIDS. Hal inilah yang menyebabkan orang
dengan infeksi HIV menerima perlakuan yang tidak adil, diskriminasi, dan stigma
karena penyakit yang diderita. Isolasi sosial, penyebarluasan status HIV dan penolakan
dalam berbagai lingkup kegiatan kemasyarakatan seperti dunia pendidikan, dunia kerja,
dan layanan kesehatan merupakan bentuk stigma yang banyak [Link]
penolakan masyarakat dan lingkungan akan kehadiran orang yang terinfeksi HIV/AIDS
menyebabkan sebagian ODHA harus hidup dengan menyembunyikan status (Zahroh
Shaluhiyah,2015)

11
Tidak semua orang atau tidak semua pihak memperlakukan ODHA dengan
perlakuan yang tidak menyenangkan maupun diskriminasi, tetapi masih banyak pula
orang-orang maupun LSM atau yayasan yang peduli dan bergerak di bidang HIV/AIDS
baik pencegahannya sampai dengan pendampingan bagi ODHA. LSM ataupun yayasan
tersebut sangat memperjuangkan hak-hak ODHA untuk dapat hidup normal dan
diterima oleh masyarakat dengan baik tanpa adanya diskriminasi maupun stigma
negatif. Mereka memperlakukan ODHA layaknya manusia normal yang dapat
beraktifitas sama seperti masyarakat pada umunya. Orang yang memiliki pengetahuan
cukup tentang faktor risiko, transmisi, pencegahan, dan pengobatan HIV/AIDS
cenderung tidak takut dan tidak memberikan pandangan negatif terhadap ODHA.
2.5 Family Centered pada ODHA
Di Indonesia perkembangan kasus HIV/AIDS sangat pesat dan sudah menyebar
ke berbagai wilayah, dari kota sampai ke desa. Virus HIV bukan hanya menyerang
kaum homoseksual, pekerja seks, pengguna narkoba, tapi juga ibu-ibu rumah tangga
maupun [Link] penting dalam dunia kedokteran untuk menekan
pengembangbiakan virus HIV adalah obat Antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi
secara teratur. Perilaku kepatuhan dalam berobatmerupakan salah satu cara untuk
mempertahankan agar ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dapat hidup lebih lama.
Kedisiplinan dalam mengkonsumsikan obat ini dapat membantu mempertahankan
konsistensi efektifitas ARV dalam tubuh penderita sehingga resistensi tidak terjadi dan
memperlambat berkembangnya virus dalam tubuh. ARV memang tidak bisa mematikan
virus HIV di dalam tubuh, tetapi dapat menekan pengembangbiakan virus tersebut.
Pada kondisi dimana ODHA seolah-olah sehat, virus tersebut juga tak terdeteksi lagi
(undetectable) oleh tes ELISA, yaitu alat yang digunakan untuk mendeteksi jumlah
virus dalam tubuh. Berdasarkan penelitian dari berbagai rumah sakit di Jakarta
ditemukan bahwa obat ARV hanya mampu meningkatkan kualitas hidup ODHA
sehingga terapi ARV tidak boleh dihentikan seumur hidupnya. Namun demikian tidak
sedikit ODHA yang berhenti mengkonsumsi ARV setelah tubuhnya merasa lebih baik.
Padahal bila ARV dihentikan, virus HIV di dalam tubuh bisa muncul lagi. Penghentian
pengobatan bahkan lebih berbahaya bagi ODHA, karena berisiko membuat tubuh
resisten terhadap obat tersebut.
Indikasi peningkatan ini dipicu oleh berbagai faktor, terutama kurangnya
informasi dan pengetahuan publik mengenai penyakit tersebut. Hal ini menyebabkan
adanya pemahaman yang salah dari masyarakat ataupun keluarga serta penderita

12
ODHA sendiri terhadap penyakit HIV/AIDS. Berbagai reaksi yang ditimbulkan di
kalangan masyarakat maupun keluarga karena ketidaktahuan tentang penyakit ini,
antara lain, adalah marah, panik, terguncang, perasaan takut yang berlebihan,
pengingkaran, serta pengucilan terhadap orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Perasaan
serta sikap yang reaksional terhadap penyakit HIV/AIDS menyebabkan banyak
keluarga belum dan bahkan tidak siap menerima anggotanya yang terinfeksi virus
tersebut. Sikap represif keluarga maupun masyarakat ini sangat mempengaruhi
kehidupan bersosialisasi para ODHA dengan lingkungan sosialnya. Permasalahan yang
terkait dengan ODHA tidak sekedar masalah kesehatan saja tetapi justru masalah sosial
lainnya yang menyangkut aspek aspek lain, yaitu bagaimana agar mereka hidup sehat
setelah mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV yang mematikan, serta masalah
psikologis yang terutama terjadi ketika hasil tes darah ternyata positif mengidap HIV
(kaget, sedih, dan stres). Masalah lain yang juga dialami oleh mereka adalah penolakan
diri terhadap kenyataan bahwa ia terinfeksi virus HIV, sekalipun kelihatannya sehat.
Kondisi kejiwaan inilah yang menyebabkan ODHA merasa tidak berguna, mempunyai
masa depan suram, tidak dapat melakukan apa-apa untuk dirinya maupun keluarga dan
tidak memiliki akses untuk memperoleh pekerjaan serta memiliki keterbatasan dalam
interaksi sosialnya. ODHA bukan hanya berurusan dengan kondisi penyakit, tetapi
kondisi penyakit yang disertai dengan stigma sosial yang sangatdiskriminatif. Selain
itu, disamping pelayanan medis yang masih sangatdibutuhkan ODHA untuk
mempertahankankesehatannya, mereka juga membutuhkanserangkaian pelayanan lain
seperti dukunganpsikososial dalam menghadapi situasi kehidupan yang dijalaninya
sehari-hari.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat disini didefinisikan terdiri
dari ayah, ibu, anak, bibi, paman, keponakan, kakek, nenek bahkan anak angkat.
Keluarga merupakan lingkungan dimana seseorang mengalami proses sosialisasi dalam
pertumbuhan dan perkembangan pribadinya. Disinilah fungsi keluarga memegang
kendali untuk seorang anak dalam menunjukan eksistensi dan mengaktualisasikan
dirinya dalam masyarakat. ”Keluarga inti merupakan pengelompokan manusia yang
paling universal, terdapat disegala tempat dalam segala zaman”, meskipun bentuknya
mungkin sedikit berbeda-beda. Tapi kita selalu melihat bahwa fungsi keluarga inti itu
selalu sama, yakni hubungan seksual yang mendapat pengesahan masyarakat, fungsi
ekonomi, fungsi pengembangan keturunan,dan fungsi pendidikan bagi anak-anak yang
dilahirkan di dalam lingkungan keluarga tersebut.

13
Fungsi maupun pola kekerabatan yang selalu terbentuk dalam relasi antar anggota
keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi anggota-anggotanya, baik secara
psikis maupun fisik. Polarisasi kedekatan ini terwujud dalam segala aspek kehidupan
individu dalam keluarga, baik saat senang, cemas, sedih ataupun mengalami suatu
peristiwa yang dapat merenggut kehidupan pribadinya. Keluargalah yang selalu ada
saat seseorang membutuhkan dan memberikan perhatian serta dukungan secara material
maupun non material. Pola kekeluargaan manusia sebagian ditentukan oleh tugas
khusus yang dibebankan kepadanya: keluarga adalah satu-satunya lembaga sosial yang
diberi tanggung jawab untuk mengubah suatu organisme biologis menjadi manusia.
Pada saat sebuah lembaga mulai membentuk kepribadian seseorang dalam hal-hal
penting, keluarganya tentu berperan dalam persoalan perubahan itu, dengan
mengajarkan kemampuan berbicara dan menjalankan banyak fungsi social.
(Rahakbauw, Nancy.2016)
Orang yang terdekat dengan penderita adalah keluarga. Peran keluarga sangat
dibutuhkan untuk memelihara kesehatan anggota keluarganya yang sakit. Dukungan
keluarga merupakan suatu bentuk hubungan interpersonal berupa sikap, tindakan dan
penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa diterima,
dalam hal ini keluarga yang menderita HIV/ AIDS. Keluarga dapat membantu
menurunkan kesakitan dan mempercepat proses pemulihan dari suatu penyakit dengan
cara memberikan dukungan pada anggota keluargannya yang sakit. Baik buruknya
dukungan keluarga sangat mempengaruhi kondisi kesehatan anggota keluarga yang
sedang sakit, karena anggota keluarga yang sedang sakit membutuhkan dorongan dari
luar dirinya untuk menjaga atau membantu meningkatkan kesehatan dirinya. Bagi
penderita HIV/ AIDS dalam menjalani kehidupannya akan terasa sulit, karena dari segi
fisik akan mengalami perubahan berkaitan dengan perkembangan penyakitnya.
Tekanan emosional dan psikologis bisa dialami karena dikucilkan oleh keluarga atau
masyarakat (Nihayati, 2012).Penelitian ini menunjukkan sebanyak 18 orang (27, 7%)
penderita HIV/ AIDS belum terbuka dengan keluarganya. Hubungan yang baik dan
adanya kepercayaan pada anggota keluarga akan membantu dalam pemulihan kondisi.
Dalam penelitian ini sebanyak 44 responden (67,7%) terbuka dan berterus terang
tentang kondisi penyakitnya pada salah satu anggota keluargannya, terutama pada
pasangan hidupnya. Kejujuran dalam mengungkapkan penyakit akan mempermudah
keluarga dalam memberikan dukugan yang dibutuhkan. Dukungan keluarga yang baik
akan berdampak berdampak positif terhadap pekerjaan, psikologis, sosial dan pekerjaan

14
seseorang sehingga akan membantu dalam meningkatkan kesehatan dan memerangi
penyakit. Pasien dengan dukungan yang suportif memiliki peluang memiliki kualitas
hidup yang lebih baik. Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup pasien yang menderita HIV/ AIDS (Budiarto, Sri.2006).
Family Centered Care didefinikan oleh Association For the Care of Children’s
Health (ACCH) sebagai filosofi dimana pemberi perawatan mementingkan dan
melibatkan peran penting dari keluarga, dukungan keluarga akan membangun kekuatan,
membantu untuk membuat suatu pilihan yang terbaik, dan meningkatkan pola normal
yang ada dalam kesehariannya selama anak sakit dan menjalani penyembuhan. Family
Centered Care didefinisikan menurut Hanson (dalam Dusht dan Trivetee 2009) sebagai
pendekatan inovatif dalam merencanakan, melakukan dan mengevaluasi tidakan
keperawatan. Yang diberikan didasarkan pada manfaat hubungan anatara perawat dan
keluarga yaitu orang tua. Stower (1992 dalam Fiane 2012), Family Centered Care
merupakan suatu pendekatan yang holistic. Pendekatan Family Centered Care tidak
hanya memfokuskan asuhan keperawatan kepada anak sebagai klien atau individu
dengan kebutuhan biologis, psikologi, social dan spiritual (biopsikospiritual) tetapi juga
melibatkan keluarga sebagai bagian yang konstan dan tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan anak. Gill yang menyebutkan bahwa Family Centered Care merupakan
kolaborasi bersama antara orang tua dan tenaga professional. Kolaborasi orang tua dan
tenaga professional. Kolaborasi bersama antara orang tua dan tenaga professional.
Kolaborasi orang tua dan tenaga professional dalam membentuk mendukung keluarga
terutama dalam aturan perawatan yang mereka lakukan merupakan filosofi Family
Centered Care yang dimaksudkan merupakan dasar pemikiran dalam keperawatan anak
yang digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan kepada anak dengan
melibatkan keluarga sebagai fokus utama perawatan. Kutipan definisi dari para ahli
diatas memberikan bahwa dalam penerapan Family Centered Care sebagai suatu
pendekatan holistik dan filosofi dalam keperawatan anak. Perawat sebagai tenaga
professional perlu melibatkan orangtua dalam perawatan anak. Adapun peran perawat
dalam menerapkan Family Centered Care adalah sebagai mitra dan pasilitator dalam
perawatan ODHA dirumah sakit.
Tujuan penerapan konsep Family Centered Care dalam perawatan ODHA,
menurut Brunner and Suddarth adalah memberikan kesempatan bagi orangtua dan
keluarga untuk merawat ODHA selama proses hospitalisasi dengan pengawasan dari
perawat sesuai dengan aturan yang berlaku. Selain itu Family Centered Care juga

15
bertujuan untuk meminimalkan trauma selama perawatan ODHA di rumah sakit dan
meningkatkan kemandirian sehingga peningkatan kualitas hidup dapat tercapai
Menurut Shelton terdapat beberapa elemen Family Centered Care, yaitu:
a. Perawat menyadari bahwa keluarga adalah bagian yang konstan dakam kehidupan
ODHA, sementara system layanan dan anggota dalam system tersebut
[Link] perawat bahwa keluarga adalah bagian yang konstan,
merupakan hal yang penting. Fungsi perawat sebagai motivator menghargai dan
menghormati peran keluarga dalam merawat ODHA serta bertanggung jawab
penuh dalam mengelola kesehatan ODHA. Beberapa hal yang diterapkan untuk
menghargai dan mendukung individualitas dan kekuatan yang dimiliki dalam satu
keluarga seperti
1). Kunjungan yang dibuat dirumah keluarga atau ditempat lain dengan waktu dan
lokasi yang disepakati bersama keluarga.
2). Perawat mengkaji keluarga berdasarkan kebutuhan keluarga.
3). Orangtua adalah bagian dari keluarga yang menjadi fokus utama dari
perawatan yang diberikan semua perawatan yang dibutuhkan.
4). Perencanaan Perawatan yang diberikan bersifat komprehensif dan perawatan
memberikan semua perawatan yang dibutuhkan.
b. Memfasilitasi kerjasama antara keluarga dan perawat di semua tingkat pelayanan
kesehatan, merawat orang dengan HIV AIDS, pengebangan program pelaksanaan
dan evaluasi serta pembentukan kebijakan hal ini ditunjukkan ketika:
1). Kolaborasi untuk memberi perawatan kepada ODHA peran kerjasama anatra
orangtua dan tenaga professional sangat penting dan vital. Keluarga bukan
sekedar sebagai pendamping tetapi terlibat didalam pemberian pelayanan
kesehatan. Tenaga professional memberikan pelayanan sesuai dengan keahlian
dan ilmu yang mereka peroleh. Dalam kerja sama antara orangtua dengan
tenaga professional orangtua bisa memberikan masukan untuk perawatan yang
diberikan. Beberapa disebabkan karena kurangnya pengalaman tenaga
professional dalam melakukan kerjasama dengan orang tua (Shelton 1987,
dalam Fretes, 2012)
2). Kerjasama dalam mengembangkan masyarakat dan pelayanan rumah sakit.
Hal yang harus diutamakan pada tahap ini adalah kolaborasi dengan bidang
lain untuk menunjang proses [Link] Centered Care memberikan
kesempatan kepada orang tua dengan professional untuk berkontribusi melalui

16
pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki untuk mengembangkan
perawatan terhadap ODHA di rumah sakit.
3). Kolaborasi dalam tahap kebijakan Family Centered Care dapat tercapai
melalui kolaborasi orang tua dan tenaga professional dalam tahap kebijakan.
Kolaborasi ini untuk memberikan manfaat ODHA dan tenaga professional.
Menghargai kemampuan yang mereka miliki dengan memberikan pengetahuan
mereka tentang system pelayanan kesehatan serta kompetensi mereka.
Keterlibatan mereka dalam membuat keputusan menambah kualitas pelayanan
kesehatan
c. Menghormati keanekaragaman ras, etnis budaya dan social ekonomi dalam
keluarga. Tujuannya adalah untuk menunjang keberhasilan perawatan anak mereka
dirumah sakit dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan anak diagnosa
medis. Hal ini akan menjadi sulit apabila program perawatan diterapkan
bertentangan dengan nilai – nilai yang dianut dalam keluarga (Shelton, 1987,
dalam Fretes, 2012).
d. Mengakui kekuatan keluarga dan individualitas serta memperhatikan perbedaan
mekanisme koping dalam keluarga elemen ini mewujudkan 2 konsep yang
seimbang. Pertama, Family Centered Care harus mengambarkan keseimbangan
ODHA dan keluarga.
e. Memberikan informasi yang lengkap dan jelas kepada orangtua dan secara
berkelanjutan dengan dukungan penuh.
f. Mendorong dan memfasilitasi keluarga untuk saling mendukung.
g. Menerapkan kebijakan yang komprehensif dan program program yang
memberikan dukungan emosional dan keuangan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
2.6 Pengertian Stigma dan Deskriminasi
Stigma adalah bentuk prasangka (prejuidice) yang mendiskritkan atau menolak
seseorang atau kelompok karena mereka dianggap beda dengan diri kita atau
kebanyakan orang. (Ardhiyanti, Yulrina, dkk. 2015)
Stigma adalah suatu proses yang dinamis dari devaluasi pencemaran atau
kehilangan kepercayaanseseorang dimata orang lain. (Sofro, Muchils Ahsan Udji.
2015)
Stigma berhubungan dengan kekuasaan dan dominasi dimasyarakat. Pada
puncaknya, stigma akan mencitakan kesetaraan sosial. Stigma berurat akar didalam

17
struktur masyarakat, dan juga dalam norma-norma dan nilai-nilai yang mengatur
kehidupan sehari-hari. Ini, menyebabkan beberapa kelompok kurang dihargai dan
merasa malu sedangkan kelompok lain merasa superior. (Ardhiyanti, Yulrina, dkk.
2015)
Deskriminasi adalah suatu aksi atau tindakan terhadap prasangka. Stigma bersifat
pasif, sedangkan deskriminasi bersifat aktif. Deskriminasi terjadi ketika pandangan-
pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang
secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorsng.
Contoh-contoh deskriminasi meliputi para staf rumah sakit yang menolak memberikan
pelayanan kesehatan pada ODHA, atasan yang memberhentikan pegawainya
berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka, atau keluarga/masyarakat
yang menolak mereka yang hdup atau divonis hidup dengan HIV/AIDS. tindakan
deskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia.
(Ardhiyanti, Yulrina, dkk. 2015)
Stigma dan diskriminasi saling berhubungan satu dengan yang lain, saling
memperkuat dan saling mengesahkan. Diskriminasi dapat dijelaskan sebagai pembuat
stigma, sedangkan stigma bisa menyebabkan diskriminasi. (Sofro, Muchils Ahsan Udji.
2015)
2.7 Bentuk-Bentuk Stigma dan Deskriminasi HIV/AIDS
Stigma yang terkait HIV dan AIDS yang ditujukan kepada ODHA dapat dalam
bentuk, sebagai beirkut :
 Menjauhi ODHA atau tidak meginginkan untuk menggunakan peralatan yang
sama.
 Penolakan oleh keluarga, teman atau masyarakat terhadap ODHA.
 Peradilan moral berupa sikap yang menyalahkan ODHA karena penyakitnya dan
menganggapnya sebagai orang yang tidak bermoral.
 Keengganan untuk melibatkan ODHA dalam suatu kelompok atau organisasi.
 Diskriminasi yaitu penghilangan kesempatan untuk ODHA seperti ditolak bekerja,
penolakan dalam pelayanan kesehatan bahkan perlakuan yang berbeda pada
ODHA oleh petugas kesehatan.
 Pelecehan terhadap ODHA baik lisan maupun fisik.
 Pelanggaran hak asasi manusia, seperti pembukaan status HIV seseorang pada
orang lain.

18
 Tanpa seijin penderita, dan melakukan tes HIV tanpa adanya informed consent
(Ahwan, Zainul. 2014)
2.8 S tigma Masyarakat
Hasil penelitian menunjukkan stigma dari masyarakat bisa berasal dari keluarga
terdekat, teman dan tetangga, serta dari akses layanan publik. Stigma dari keluarga
diterima ODHA pecandu narkoba suntik dalam bentuk diskriminasi dan pembiaran.
Diskriminasi terjadi karena keluarga merasa takut tertular infeksi virus HIV. Bentuk
deskriminasi seperti barangbarang yang dipisahkan penggunaannya, barang yang
disentuh ODHA langsung dibersihkan, dan dikucilkan dengan tidak membolehkan
anak-anak bermain bersama ODHA. Pembiaran oleh keluarga yang diterima ODHA
pecandu narkoba suntik berupa anggapan oleh keluarga bahwa ODHA bersangkutan
dianggap tidak ada dalam keluarga meskipun secara fisik ia ada dalam lingkungan
keluarga. Stigma dari teman atau tetangga yang diterima ODHA pecandu narkoba
suntik berbentuk diskriminasi dan intimidasi (bullying). Diskriminasi tidak hanya pada
saat ODHA masih hidup, tetapi juga pada saat sudah meninggal. ODHA juga menerima
intimidasi dalam bentuk kata-kata yang merendahkan. Perlakuan berbeda kepada
ODHA pecandu narkoba suntik menurut keluarga merupakan reaksi dari penerimaan
kondisi ODHA dan kurangnya informasi tentang HIV/AIDS yang diderita anggota
keluarganya. Reaksi keluarga saat mengetahui anggota keluarganya terinfeksi HIV
adalah kaget, marah dan sedih. Perasaan ini kemudian diekspresikan secara beragam.
Ada keluarga yang bisa menerima kondisi ODHA dan mendukung pengobatannya. “Ya
agak kaget sedikit tapi kita kan bersyukur pada Allah, ya habis bagaimana, jalannya
kalau sudah mengidap virus HIVnya masa mau didiamkan. Harus kita diobati, ya ada
obatnya untuk menidurkan virus-virusnya, bukan untuk menyembuhkan”. Ibu Fr –
Keluarga ODHA di Jakarta. Namun ada pula keluarga yang tidak bisa menerima
kondisi anggota keluarganya yang terinfeksi HIV. Sering kali kekerasan fisik menjadi
cara untuk mengekspresikan kondisi tersebut. “Saya marah sambil nangis, kalau bapak
sering marah, sering mukul juga” Ibu Ha – Keluarga ODHA di Jakarta. Stigma juga
diterima ODHA pecandu narkoba suntik dari pelayanan kesehatan dan panti rehabilitasi
pecandu narkoba. Stigma yang diterima berupa kata-kata dan tindakan yang
merendahkan, perlakuan kasar, disamakan dengan pasien gangguan mental, dan
pendapat yang tidak dipercaya. Akibat perlakuan tersebut, beberapa informan mengaku
tidak ingin melanjutkan pengobatan. Menurut petugas kesehatan, tidak ada perlakuan
yang berbeda yang diberikan kepada pasien biasa dengan pasien ODHA pecandu

19
narkoba suntik. Perlakuan berbeda hanya diberikan kepada pasien ODHA pecandu
narkoba suntik yang tidak patuh pada tahapan terapi atau yang memberikan sikap kasar.
(Ardani, Irfan.2017)
2.9 Dimensi Stigma dan Deskriminasi
Dimensi stigma menurut Jones terdapat enam (dalam Breitkopf, 2004), yakni:
1. Concealability, yakni sampai sejauh mana suatu kondisi dapat disembunyikan atau
tidak tampak oleh orang lain.
2. Course, menjelaskan bagaimana kondisi terstigmatisasi berubah dari waktu ke
waktu.
3. Strains, menjelaskan bagaimana hubungan interpersonal seseorang menjadi tegang.
4. Aesthetic Qualities, menjelaskan bagaimana penampilan seseorang sangat
dipengaruhi oleh kondisi stigmatisasi.
5. Cause, menjelaskan apakah seseorang mengalami stigmatisasi karena bawaan dari
lahir atau didapatkan.
6. Peril, menjelaskan kemungkinan keberbahayaan pada orang lain terkait dengan
kondisi terstigmatisasi.
Diskriminasi yaitu sejumlah perilaku yang membedakan seseorang berdasarkan
keanggotaan dari suatu kelompok sosial. Diskriminasi terdiri atas tiga bentuk
yaitu, blatant, subtle, dan covert, misalnya dlam interaksi personal, institusional,
organisasional dan budaya. Berikut ini merupakan penjelasan dari ketiga bentuk
diskriminasi :
1. Blatant Discrimination, yaitu sejumlah perilaku yang tidak menyamakan dan
bersifat berbahaya, yang ditujukan kepada seseorang. Tipe ini bersifat intensional,
relatif dapat dilihat, dan dapat dengan mudah didokumentasikan. Sebagai contoh,
seorang pria berkulit hitam, diikat dengan rantai di belakang truk dan ditarik
sepanjang jalan di Texas hingga dia meninggal.
2. Subtle Discrimination, merupakan sejumlah perilaku yang mendeskreditkan dan
bersifat berbahaya. Tipe ini bersifat kurang nyata dan terlihat dibandingkan dengan
tipe blatant discrimination. Hal ini sering menjadi bukan perhatian karena orang
telah menginternalisasi diskriminasi ini sebagai sesuatu yang normal, natural
ataupun hal yang biasa. Subtle discrimination lebih sulit untuk didokumentasikan,
dan tidak bersifat intensional. Walaupun demikian, kemungkinan besar
diskriminasi ini lebih sering terjadi. Sebagai contoh, seorang guru tidak
memberikan perhatian kepada bakat anak kecil berkulit hitam di bidang seni. Anak

20
ini walaupun masih duduk di kelas tiga, tapi dia dapat menghasilkan karya-karya
yang orisisnil. Guru tersebut menganggap bahwa bakat tersebut tidaklah mungkin
dimiliki oleh anak itu. Anak ini memiliki masalah membaca yang juga dimiliki
oleh anak-anak kulit hitam lainnya di Amerika. Karakteristik inilah yang justru
lebih terlihat dan disadari dari anak tersebut dibandingkan bakatnya dibidang seni.
3. Covert Discrimination, sejumlah perilaku yang tidak menyamakan dan bersifat
berbahaya, yang biasanya disembunyikan, bertujuan dan seringnya dimotivasi oleh
keinginan jahat. Perilaku ini sangat sulit untuk didokumentasikan. Sebagai contoh,
suatu perusahaan yang didalam peraturannya tidak menginginkan adanya
diskriminasi, terjadi praktek membebani segolongan orang tertentu berdasarkan
ras, dengan menyuruh menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang lebih banyak
dibandingkan orang lain namun harus diselesaikan dalam tenggang waktu yang
sama.( Ahwan, Zainul. 2014)
2.10 Faktor-Faktor Penyebab Stigma dan Deskriminasi
Stigma dan deskriminasi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Terjadi
ditengah keluarga, masyarakat, sekolah, tempat peribadatan, tempat kerja, dan juga
tempat ayanan hukum dan kesehatan. Orang bisa melakukan deskriminasi baik dalam
kapasitas pribadi maupun profesional, sementara lembaga bisa melakukan diskriminasi
melalui kebijakan dan kegiatan mereka. (Ardhiyanti, Yulrina, dkk. 2015)
Stigma daan diskriminasi menghambat dan membatasi upaya pencegahan HIV
tentulah tidak benar karena insiden infeksi HIV baru terjadi sebelum seseorang
terdeteksi HIV/AIDS. sehingga tidak akan ada stigma dan diskriminasi. (Ardhiyanti,
Yulrina, dkk. 2015)
Jika tes HIV dilakukan sesuai dengan standar prosedur operasi tes HIV yang
baku, maka biarpun seseorang yang sudah terdeteksi HIV/AIDS mendapatkan stigma
dan diskriminasi mereka sudah siap. Dalam konseling sebelum tes ada kesepakatan
bahwa jika terdeteksi mengidap HIV, maka mereka akan menghentikan penularan HIV
dimulai dari dirinya. Yang terjadi adalah banyak orang yang tidak menyadari dirinya
sudah mengidap HIV/AIDS sehingga, tanpa mereka sadari mereka menularkan HIV
pada orang lain. Mereka ini sama sekali tidak mengalami stigma dan diskriminasi.
(Ardhiyanti, Yulrina, dkk. 2015)
Penelitian di Amerika Serikat (2000) menunjukan beberapa faktor yang menjadi
penyebab munculnya stigma dan diskriinasi, antara lain:
1. Kurangnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS.

21
2. Persepsi yang salah tentang cara penularan HIV.
3. Kesalahan dalam mencari tindakan dan pengobatan.
4. Adanya pelporan epidemic yang kurang benar dan anggapan bahwa penyakit
HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan.
5. Adanya prasangka dan ketakutan yang berlebihan terhadap masalah sosial yang
sesintif.
Stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap
HIV/AIDS yang menjadi penghalang bagi sebagian orang untuk menjalani tes HIV.
Stigma dan diskriminasi justru terjadi karena informasi HIV/AIDS yang disebarluaskan
selama ini tidak akurat karena dibumbui dengan moral. (Ardhiyanti, Yulrina, dkk.
2015)
Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, melacur, seks bebas,
jajan,dan hohmoseksual. Akibatnya, masyarakat membenurkan orang-orang yang
terdeteksi mengidap HIV/AIDS dengan stigma dan diskriminasi. Padahal, penularan
HIV melaui hubungan seksual tidak ada kaitannya secara langsung dengan zina,
melacur, seks bebas, jajan, [Link] perlu dilakukan adalah memupus stigma
dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS dengan
cara memberikan informasi yang akurat tetang cara-cara penularan HIV. Selain
informasi HIV/AIDSyang tidak akurat karena dibalut dengan moral, dalam peraturan
daerah (PERDA) pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS pun pncegahan selalu
dikaitkan dengn moral serta iman dan taqwa. Pengaitan itula yaang mendorong stigma
dan diskriminasi karena dikesankan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS adalah
orang-orang yang tidak bermoral dan tidak mempunyai iman dan taqwa. (Ardhiyanti,
Yulrina, dkk. 2015)
Kesimpulannya, stigma pada HIV/AIDS dapta disebabkan karena adanya
semacam vonis mati bai pengidap HIV/AIDS (belum ada obat untuk sembuh), kesalah
pahaman pengertian HIV/AIDS, adanya mitos seputar HIV/AIDS sering dikaitkan
dengan perilaku tertentu, adanya prejudis terhadap kelompok masyarakat tertentu
karena suku, gender dan atau orientasi seksualnya serta berita media yang bias tentang
HIV/AIDS. (Ardhiyanti, Yulrina, dkk. 2015)
2.11 Dampak yang ditimbulkan Stigma dan Deskriminasi
Stigma dan diskriminasi pada ODHA akan menyebabkan ODHA menjadi enggan
membuka diri, takut perlakuan masyarakat dan tidak bisa bebas akses terhadap
pengobatan. Stigma dan diskriminasi pada ODHA merupakan kesenjangan terbesar

22
dalam upaya pencegahan penularan HIV lebih luas, memberikan pelayanan yang
adekuat serta pengobatan dan dukungan. Adapun dampak lain dari stigma dan
diskriminasi adalah sebagai berikut:
1. Melanggar Hak Asasi Manusia (HAM)
Perlakuan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA melanggar hak-hak dasar
ODHA. Di antaranya adalah hak untuk hidup, mendapatkan perawatan, memiliki
pekerjaan, dan lain-lain. Tidak ada seorang pun yang berhak merenggut hak-hak
mendasar ini dari hidup ODHA.
2. Menutup kesempatan bagi ODHA untuk mengembangkan diri
Stigma bisa membuat ODHA kehilangan pekerjaan, pasangan, dan keluarga.
Banyak juga anak-anak dengan HIV/AIDS yang terpaksa putus sekolah karena
mendapatkan perlakuan yang tidak adil di sekolah. Padahal, seperti orang-orang
pada umumnya, ODHA bisa memberikan kontribusi bagi lingkungan di sekitarnya.
Baik itu untuk keluarganya, lingkungan kerjanya, bahkan masyarakat secara
umum.
3. Membuat ODHA mengasingkan diri
Diskriminasi terhadap ODHA bisa membuat mereka menutupi identitasnya,
menarik diri, atau mengasingkan diri dari masyarakat. Hal tersebut dapat berakibat
buruk terhadap kesehatan ODHA. Mereka bisa jadi malu untuk periksa ke dokter
atau mendapatkan perawatan di rumah sakit. Akibatnya jelas bisa fatal, yaitu
kematian.
Stigma terhadap ODHA juga bisa membuat mereka depresi, menjauhkan diri dari
keluarga dan lingkungan sekitar, atau yang lebih ekstrem adalah bunuh diri.
4. Menghambat program pemerintah dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di
masyarakat
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA juga akan berdampak pada terbukanya
penyebaran penyakit HIV/AIDS. Stigma dan diskriminasi akan mematahkan
semangat seseorang untuk melakukan Voluntary Counseling and Testing (VCT)
atau tes HIV/AIDS. Stigma bahkan bisa membuat orang-orang merasa enggan
untuk mencari informasi dan cara perlindungan terhadap penyakit HIV/AIDS. Oleh
karena itu, hentikan stigma dan diskriminasi pada ODHA. Bukan stigma dan
diskriminasi yang bisa menghentikan persebaran virus HIV dalam masyarakat,
melainkan kepedulian dan pemahaman setiap orang tentang HIV/AIDS.
(Ardhiyanti, Yulrina, dkk. 2015)

23
2.12 Fakta Adanya Stigma dan Deskriminasi
 Soweto, Afrika Selatan.
Informan/pengasuh enggan memberi tahu status HIV ke anak-anak yang
bersangkutan karena merasa adanya stigma, kurang pengetahuan dan keterampilan.
 Rumania
Stigma menyebabkan banyak orang tua yang anaknya terinfeksi HIV tidak mau
memberi tahu anaknya bahwa ia terinfeksi HIV.
Beberapa kelompok Agama di Amerika dan tempat lain menganggap epidemi
AIDS sebagai peringatan terhadap pesan moral yang berhubungan dengan prilaku
seks, penyalahgunaan obat nakotik, dosa dan penyakit.
 Indonesia
HIV dan AIDS merupakan kutukan dari tuhan atas umat manusia modern yang
selama ini mengingkai perintah dan ajaran agama. Selama ini kaum agama yang
merasa terpinggirkan argumen-argumen tentang kehidupan duniawi. Dengan
epidemi HIV dan AIDS ini merasa punya dukungan dari langit. (Ardhiyanti,
Yulrina, dkk. 2015)
2.13 Penanganan terhadap Stigma dan Diskriminasi
Masyarakat dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS yang rendah, relatiif akan
memberikan stigma dan diskriminasi yang tinggi pada ODHA. Pada tahun 2000 telah
dilkukan penelitian di Amerika Serikat mengenai adakah hubungan antara pengetahuan
tentang HIV dengan stigma pada ODHA. Dari 21,5 sampai 30% responden yang
memberi stigma pada ODHA, ternyata 81,3% (sebagian besar) menjawab kurang benar
mengenai cara penularan virus HIV, dengan hasil penelitian ini dapat diketahui adanya
stigma dan diskriminasi terhadap ODHA oleh sebab itu maka perlu adanya
penanganan terhadap stigma dan diskriminasi yang bisa dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
 Usahakan para ODHA dilibatkan sebagai subjek dab bukan objek dalam
perencanaan dan pelaksaan program pelayanan HIV/AIDS.
 Menyediakan sumber-sumber informasi yang diperlukan untuk mengubah persepsi
dan perilaku masyarakat terhadap ODHA.
 Meninggkatkan pelayanaan dukungan untuk ODHA, ada baiknya kalau diadakan
kelompok dukungan sebya (KDS) yang melibatkan ODHA berserta “Peer Group”
juga melibatkan keluarga ( OHIDA= Orang hidup bersama ODHA).

24
Memberikan pemahaman yang benar mengenai hak asasi manusia. Hak asasi
manusia pada umumnya diperhtikan tidak hanya pada ODHA, tapi juga bagi orang
sekitar ODHA. Hingga saat ini, agaknya kita hanya terlalu memperhatikan hak-hak
asasi manusia untuk ODHA, tapi kurang memperhatikan hak-hak asasi manusia untuk
ODHA, tapi kurang memperhtikan hak-hak asasi manusia selain ODHA. (Sofro,
Muchils Ahsan Udji. 2015)
2.14 Stigma Masyarakat Indonesia terhadap Penderita HIV/AIDS dan Solusinya
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai stigma yang terkait dengan HIV/AIDS
peneliti akan terlebih dahulu membahas pengertian stigma itu sendiri. Stigma
merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yang merujuk pada sebauh tato yang
dikenakan pada tubuh seseorang dikarenakan ia telah melakukan beberapa tindak
kejahatan. Tanda tersebut menunjukkan juga adanya penurunan dan rusaknya moral
seseorang, sehingga patut untuk dijauhi. Stigmatisasi ini biasanya dikenakan untuk
mendiskreditkan seseorang berdasarkan agama, ras, dan gender. Stigma ini ditujukan
pada hal-hal yang memalukan yang dimilliki oleh seseorang. Pada awalnya stigma juga
tidak dikaitkan dengan penyakit yang diidap ataupun perilaku yang dimiliki, namun
semenjak AIDS dan HIV ditemukan, stigmatisasi juga dikenakan kepada para ODHA.
(Paryati, Try dkk. 2013)
Beberapa fenomena yang terjadi di masyarakat terkait dengan stigma kepada
penderita HIV / AIDS dan solusi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Ketakutan akan Stigma dan Diskriminasi, kendala utama penanganan HIV/AIDS
Masyarakat masih memberikan stigma dan diskriminasi kepada penderita
HIV/AIDS. Faktor-faktor yang menimbulkan stigma dan diskriminasi di
masyarakat adalah karena penyakit HIV/AIDS dapat mengancam jiwa, informasi
yang kurang tepat mengenai penyakit HIV/AIDS dan adanya kepercayaan
dimasyarakat bahwa penyakit ini adalah merupakan suatu “hukuman” atas
perbuatan yang melanggar moral atau tidak bertanggungjawab sehingga penderita
HIV/AIDS itu “pantas” untuk menerima perlakuan-perlakuan yang tidak
selayaknya mereka dapatkan. Adanya ketakutan, stigmatisasi dan diskriminasi
menimbulkan dampak penolakan dari masyarakat bahkan penolakan dari akses
pendidikan dan kesehatan. Tindakan penolakan itu bisa berupa sekedar ucapan
hingga berupa penyiksaan psikologis dan fisik yang traumatis. Trauma yang
diterima penderita HIV menjadi bertumpuk-tumpuk, selain trauma karena tahu

25
yang akan terjadi pada tubuhnya bila menderita HIV, juga trauma karena adanya
stigma dan diskriminasi yang melekat terus sepanjang hidupnya.
Ketakutan tidak diterima masyarakat dan ditolak dimana-mana bisa
menghambat kemauan para resiko tinggi menderita HIV dan orang yang dicurigai
menderita HIV untuk dilakukan pemeriksaan. Mereka tidak ingin tahu dan tidak
mau tahu kalau mereka menderita HIV. Padahal kemauan secara sadar untuk
mendatangi fasilitas untuk mengetes positif tidaknya orang ini sangat dibutuhkan
saat ini. Perkembangan di bidang kesehatan memberikan kemudahan pengetesan
HIV yang sebanding dengan pengetesan gula darah, dimana Rapid Test HIV dapat
dilakukan hanya dengan menggunakan sedikit darah dapat dilakukan ditingkat
Puskesmas tertentu. Akan menjadi percuma dibangunnya klinik VCT di tiap RSUD
dan puskesmas berbasis reproduksi bila stigma dan diskriminasi masih saja
menghantui para resiko tinggi HIV/AIDS untuk menggunakan fasilitas ini.
Perkembangan penelitian obat-obatan antiretroviral maupun penelitian obat-
obatan peningkat sistem imun mampu mengurangi dampak buruk dari penyakit ini.
Seharusnya, penderita HIV bisa diperlakukan yang sama dengan pengindap virus
yang lain. Bukankah virus Flu Babi lebih menakutkan karena bisa menular tanpa
adanya kontak fisik sekalipun? Fakta sudah membuktikan bahwa disaat ini
HIV/AIDS sudah menjadi penyakit yang dapat dicegah dan diterapi maka
diharapkan perubahan perilaku penolakan, stigma dan diskriminasi akan dapat
dikurangi. (Paryati, Try dkk. 2013)
2. Stigma HIV/AIDS masih berkutat pada masalah seks
Awalnya memang perkembangan HIV/AIDS dikalangan yang suka berganti-
ganti pasangan, Homoseksual, dan Pekerja Seks Komersial (PSK) cukup tinggi,
tetapi itu terjadi pada tahun sekitar tahun 1970 hingga tahun 1980 an. Sehingga
yang terjadi di masyarakat memberikan stigma bahwa yang terkena HIV / AIDS
biasanya juga dari kalangan homoseksual dan PSK. Penularan melalui hubungan
seksuallah yang digembar-gemborkan sebagai penyebab utama penyakit HIV /
AIDS sehingga kampanye penggunaan kondom dan safe sex pun digalakkan
dimana-mana.
Kampanye dan konseling juga dilakukan pada kalangan yang dianggap
beresiko tinggi terhadap penyakit HIV/AIDS ini. Bermunculan LSM dan lembaga-
lembaga milik pemerintah yang menekankan perilaku seksual sebagai penyebab
utama penularan penyakit ini, dan ini masih berlangsung hingga sekarang. Usaha-

26
usaha yang telah dilakukan antara lain adalah adanya Peer Konseling, Penyuluhan
Kesehatan Reproduksi, Penyluhan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR),
penyuluhan kepada organisasi yang menampung para homoseksual, skreening
kepada pada PSK, serta fokus – fokus lain yang masih saja berkutat pada “seks”.
Usaha – usaha ini sudah cukup berhasil menekan penularan HIV / AIDS lewat
transmisi seksual. (Paryati, Try dkk. 2013)
3. Paradigma baru pola transmisi HIV/AIDS yang didominasi oleh pengguna
narkotika intavena dan masalah yang terkait
Padahal saat ini pola transmisi HIV / AIDS lewat seksual sudah tergeser
dengan pengguna narkotika intravena terinfeksi HIV. Pada tahun 2002 saja,
pengguna narkotika intravena terinfeksi HIV mencapai 50-78% dan 63% yang
dirawat di UPIPI RSU [Link] berlatar belakang pengguna narkotika
intravena. Begitu pula yang terjadi didunia, pergeseran ini sudah merupakan hal
yang global.
Yang menjadi masalah yang baru adalah para pengguna narkotika intravena
adalah kalangan yang “eksklusif” tidak mudah untuk dijamah oleh orang-orang
diluar kalangan mereka. Masalah pertama adalah pengguna narkotika intravena
ini tidak memiliki wadah atau pengkoordinasi sebagaimana organisasi
homoseksual atau organisasi yang mewadahi para PSK. Sehingga kesulitan terjadi
untuk mendata dan memberikan konseling kepada orang-orang yang resiko tinggi
dari kalangan ini, dampaknya progresivitas pertumbuhan HIV/AIDS di seluruh
dunia menjadi sangat tidak terkontrol. (Paryati, Try dkk. 2013)
Masalah kedua, para pengguna ini banyak berasal dari kalangan yang dianggap
“orang baik-baik” bahkan selebriti yang baru bisa terjamah setelah tertangkap
tangan menggunakan narkotika. Pembuktiannya seseorang menggunakan narkotika
saja cukup sulit, sehingga konseling juga jarang terjadi sebelum orang tersebut
ketahuan memakainya. Masalah ketiga, penggunaan narkotika intravena itu adalah
hal yang melanggar hukum sehingga tidak akan ada orang mau dengan sukarela
mengakui kalau menggunakannya meskipun diiming-iming akan mendapatkan
pemeriksaan dan konseling HIV/AIDS gratis. Pemeriksaan rutinpun susah
dilakukan pada kalangan ini, berbeda dengan para PSK yang berada dilokalisasi
yang bisa dilakukan pemantauan berkala dari pihak Puskesmas terdekat. (Paryati,
Try dkk. 2013)

27
2.15 Pemecahan Masalah atau Solusi yang dihadapi ODHA
1. Mengubah Presepsi Masyarakat
Seseorang yang terinfeksi HIV / AIDS bukan berarti hak hidupnya secara
layak dicabut. Secara asasi, mereka seperti halnya masyarakat pada umumnya yang
masih mempunyai hak dan kewajiban. Tidak ada apapun yang menyatakan bahwa
sebuah virus dapat mencabut hak seseorang. Dalam konteks itu maka, sikap-sikap
diskriminatif dan mendiskreditkan kedudukan mereka dalam masyarakat yang
mengarah pada pengucilan hak asasi manusia dapat dianggap sebagai bentuk
pelanggaran hak asasi manusia.
Begitu halnya persoalan yang terjadi dengan ODHA. Berangkat dari sejumlah
kasus yang dialami oleh ODHA diatas, sangat jelas menunjukkan masalah sosial
yang ditimbulkan, lebih banyak dari pada masalah medisnya. Persoalan sosial inilah
yang justru menjadi persoalan utama bagi ODHA karena persoalan sosial ini
menyangkut interaksinya dengan lingkungan sosial dimana mereka harus menjalani
kehidupan mereka seperti sewajarnya.
Dalam kepentingan ini memang harus ada perubahan persepsi masyarakat
terhadap ODHA. Perubahan persepsi ini menjadi kunci utama dalam mendukung
kebutuhan-kebutuhan ODHA lainnya seperti perlindungan hukum, peningkatan
keterampilan, penanganan masalah kesehatan reproduksi, meningkatkan ekonomi
ODHA dan sebagainya.
Masyarakat dapat membantu menghilangkan stigma (cap buruk) dan
diskriminasi. Masyarakat dapat menggerakkan diri untuk memperlihatkan
dukungannya, seperti dengan Malam Renungan AIDS, yang membantu upaya
advokasi dan peningkatan kepedulian terhadap orang dengan HIV. Masyarakat
dapat melaksanakan program perawatan tanpa menunggu bantuan dari luar,
sehingga mengurangi beban keluarga yang hidup dengan AIDS. Komunitas dapat
memobilisasi sumber daya mereka, sehingga lebih banyak kegiatan yang dapat
dilaksanakan tanpa harus bergantung pada hibah dari donor.
2. Pihak Pemerintah
ODHA membutuhkan komitmen politis pemerintah dari tingkat nasional
hingga tingkat lokal. Kebijakan pemerintah dan strategi politik memperhatikan apa
yang dirasakan ODHA, apa yang dibutuhkan ODHA, apa yang tidak dibutuhkan
ODHA, suasana yang seperti apa yang dibutuhkan ODHA, untuk bisa hidup sehat
secara fisik dan secara psikologis, dan sejenisnya. Oleh karena segala kebijakan,

28
pelayanan, program, dan strategi yang efektif adalah yang client-centered, dalam
konteks ini menempatkan ODHA sebagai pusat. (Mboi, 2007 )
3. Meningkatkan Keterlibatan dan Peran ODHA dalam penanggulangan HIV/AIDS
Upaya pencegahan penularan HIV tidak dapat perawatan yang baik. Walaupun
memakan waktu cukup lama, mata masyarakat mulai terbuka mengenai hal ini. Kini
disadari bahwa ODHA orang dengan HIV / AIDS sesungguhnya mempunyai peran
yang sangat penting dalam upaya pencegahan penularan.
Dukungan dan perawatan sangat erat kaitannya dengan pencegahan. Melihat
pengalaman di beberapa tempat / negara, meningkatkan dukungan dan perawatan
terbukti sangat menunjang keberhasilan upaya pencegahan mereka. Dengan
memberikan perhatian yang cukup pada dukungan dan perawatan, ketakutan yang
berlebihan dapat dikikis, dalam masyarakatnya (baik yang terinfeksi maupun tidak)
rasa aman dan nyaman timbul, dan dengan demikian HIV / AIDS mulai mendapat
perhatian serius sebagaimana mestinya dari semua orang. Menghubungkan
pencegahan dengan dukungan dan perawatan adalah salah satu hal yang paling
masuk akal yang pernah tercetus dalam upaya penanggulangan HIV / AIDS.
ODHA menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan HIV / AIDS
karena mereka adalah orang-orang yang hidupnya tersentuh dan terpengaruh secara
langsung oleh virus ini. Mereka adalah sumber pengertian yang paling tepat dan
paling dalam mengenai HIV / AIDS. Pengertian ini penting dimiliki oleh setiap
orang, terutama oleh mereka yang pekerjaannya berhubungan dengan HIV / AIDS.
(Murni, 2006)
4. Dukungan dan Pelayanan untuk Orang HIV+
Orang yang terinfeksi HIV+ / orang dengan HIV / AIDS / ODHA) juga berhak
atas kehidupan yang sehat. Tidak seorangpun yang mengharapkan untuk menjadi
sakit atau terinfeksi sesuatu yang belum ada obatnya. Jika ada orang yang terkena
juga penyakit ini, maka ini adalah bukti bahwa upaya pencegahan yang
dilaksanakan belum mencapai semua orang atau belum tepat caranya. Oleh karena
itu, upaya pencegahan HIV+ tidak bisa berhenti pada pencegahan saja. Tetapi harus
bahu membahu dengan upaya memberikan dukungan dan layanan bagi yang sudah
terinfeksi. Bahkan sudah juga harus dipikirkan apa yang akan dilakukan jika
dukungan dan layanan ini tidak diberikan dengan semestinya, misalnya dengan
melanggar kode etik, secara diskriminatif, atau jika tidak diberikan sama sekali.

29
Apalagi jika kita lihat jauh, salah satu konsekuensi dari kampanye pencegahan
HIV / AIDS yang gencar mungkin banyak orang akan merasa perlu untuk mentes
dirinya secara sukarela. Belum lagi mereka yang diketahui statusnya karena sudah
ada gejala klinis yang khas AIDS, atau surveillance yang identitasnya bocor sampai
ke orang yang bersangkutan. Jadi jelas perlu ada program-program dukungan dan
pelayanan bagi orang- orang yang sudah di tes, baik yang hasilnya positif ataupun
negatif. (Murni, 2006)
a. Dukungan Pertama Mulai dari Saat Menjalani Tes
Dukungan dan Pelayanan untuk orang HIV+ (orang dengan HIV/AIDS atau
ODHA) sebenarnya sudah dimulai sejak orang tersebut mengetahui status
HIVnya. Bentuknya sudah dijelaskan dalam prinsip- prinsip tes HIV yang
tercantum dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS. Disana disebutkan
mengenai informed consent (dengan pengetahuan dan kesadaran) orang yang
bersangkutan, konseling yang harus diberikan sebelum dan sesudah tes, serta
kerahasiaan yang harus dijunjung tinggi. Semua itu sangat berpengaruh pada
kesehatan fisik dan mental orang itu selanjutnya.
Ketiga prinsip ini sayangnya masih sering dilanggar di lapangan. Masih ada
orang yang di tes tanpa sepengetahuan dan seijinnya. Apakah rasanya
diberitahu bahwa kita terkena HIV (bahkan sering disebut “kena AIDS” secara
tidak tepat)? Juga penyediaan konseling pre dan pasca tidak secara disiplin
dijalankan. Konseling pre tes mempersiapkan orang yang akan menjalani tes.
Sedangkan konseling pasca tes adalah sangat vital, karena itu adalah informasi
dan pemahaman pertama yang dibawa pulang oleh seseorang setelah ia
mendapatkan diagnosanya. Pulang membawa hasil diagnosa sebuah penyakit
berat tanpa pemahaman yang cukup bisa berakibat buruk, mulai dari depresi
sampai yang fatal seperti berusaha bunuh diri. Begitu pula dengan bocornya
rahasia, yang dampaknya bisa mengganggu hubungan sosial sampai terjadinya
diskriminasi yang tidak perlu terjadi.
Dampak dari pelanggaran semua ini sifatnya bisa umum atau malah sangat
pribadi, termasuk pengaruh ke kesehatan fisik, kesehatan mental, keuangan
(misalnya menghabiskan seluruh dana untuk pengobatan antiretroviral tanpa
informasi yang cukup), hubungan keluarga, hubungan seksual, perkawinan,
anak, keamanan, kelangsungan hidup (tidak mengertiMasa Tanpa Gejala dan
produktifitasnya sendiri), sampai masalah pada saat kematian (pemusnahan

30
pakaian, sprei, penggunaan plastik berlebihan, dll ). Termasuk disini adalah
dampaknya bagi upaya pencegahan penularan. Orang HIV+ yang berdaya,
mendapatkan konseling, akan dapat menjaga orang lain (pasangan seks, tenaga
kesehatan, pemakai jarum suntik/tindik/tatto, dan bayinya) dari penularan
sebaik ia menjaga dirinya sendiri.
b. Keterbatasan Obat - obatan
Jika seseorang sakit, maka yang utama ia cari adalah obat penyembuhannya
untuk kembali sehat. Hal ini berlaku untuk semua penyakit. Tidak berbeda
dengan HIV. Namun kenyataan yang harus dihadapi orang HIV+ adalah
ketiadaan obat penyembuh tersebut. Harapan yang sangat besar lalu
digantungkan pada obat-obatan antiretroviral. Walaupun belum sempurna,
obat-obatan ini telah terbukti dapat menurunkan kadar virus dalam darah
seseorang sampai tidak bisa dideteksi lagi. Obat-obatan ini masih terus
menerus diteliti
Pertama, obat-obatan ini harganya jauh diatas jangkauan masyarakat. Kedua,
pengadannya tidak merata serta tidak dapat dijamin ada / tidaknya. Ketiga,
fasilitas dan kemampuan monitoring atas dampak obat-obatan ini masih sangat
rendah. Contoh dengan tes viral load : harga tes yang mahal mengakibatkan
kurangnya klien di laboratorium, petugas disana menjadi kurang terlatih, serta
reagensia menjadi kadaluarsa. Keempat, informsi yang up-to-date serta
imbang mengenai obat-obatan ini kurang.
Informasi dapat membantu orang-orang dengan HIV dalam membuat
pertimbangan-pertimbangan, untuk kemudian mengambil keputusan yang
terbaik bagi dirinya sendiri dan orang lain. Jika seseorang kaya informasi,
maka lebih mudah baginya untuk membuat pertimbangan dan keputusan itu
dimanapun ia berada.
Selain itu konseling vital untuk dijadikan satu paket dengan tes dan
pengadaannya pun harus lebih disiplin. Sebaiknya tidak ada tes tanpa
konseling. Konseling pun bisa dijalani setelah “paket” tes selesai, selama
orang itu membutuhkannya. Tantangannya disini, konseling seperti ini belum
umum. Orang yang pergi konsultasi ke konselor atau psikolog seringkali dicap
“bermasalah” dan cenderung dilihat secara negatif, termasuk oleh orang yang
memerlukannya sekalipun.

31
c. Perlakuan yang Etis dan Tidak Diskriminatif
Hubungan orang HIV+ yang pertama dan seringkali satu- satunya adalah
dengan tenaga kesehatan yang memeriksanya. Kemudian beberapa kali di
dalam hidupnya ia akan berhubungan lagi dengan tenaga-tenaga kesehatan.
Tenaga kesehatan pun menjadi role model bagi masyarakat dan penyedia
layanan yang lain tentang bagaimana bersikap terhadap orang HIV+ karena
dianggap lebih tahu. Kurangnya informasi dan pemahaman dari pihak tenaga
kesehatan memberi ruang untuk terjadinya ketakutan yang berlebihan dan
diskriminasi, mulai dari disepelekannya kerahasiaan sampai menolak untuk
merawat. Hal ini mempengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Perlu ada peningkatan di pihak tenaga kesehatan tentang praktek etika
perawatan. Dari pihak pasien pun perlu ada pemberdayaan, agar pasien paham
akan adanya etika ini. Dengan demikian dapat mengambil peran lebih aktif
dalam proses perawatan dirinya tanpa ketergantungan yang terlalu besar.
d. Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Oportunistik
Pada orang HIV+ dimana daya tahan tubuh untuk melawan penyakit rendah.
Sehingga ada penyakit-penyakit yang mengambil kesempatan dalam
kesempitan, yang disebut penyakit oportunistik. Pada orang yang sudah masuk
tahap AIDS, penyakit inilah yang menyebabkan kematian.
e. Terapi Non Medis
Antara lain jamu, pijat, tusuk jarum, dan memelihara apotik hidup.
Pengembangan terapi-terapi ini untuk HIV / AIDS perlu didorong dan
didukung, agar bisa mengisi kekosongan obat-obatan medis. Bagi banyak
masyarakat Indonesia, agamapun telah menjadi semacam terapi. Hal ini pun
perlu dikembangkan untuk HIV / AIDS. Selain terapi-terapi non medis yang
sudah disebutkan diatas, masih banyak lagi bentuk terapi yang masih bisa
digali dan bisa kita pelajari. Misalnya meditasi, terapi seni (contoh : musik),
terapi suatu, olahraga yang proporsional, pengaturan nutrisi, melakukanhobi
(contoh : berkebun, menyanyi), dan menjalani cara hidup sehat dan seimbang.
f. Kelompok Dukungan Sebaya
Kelompok dukungan sebaya sebenarnya salah satu dari terapi non-medis
diatas. Berbagi masalah dan berpikir serta mencari jalan keluar bersama sudah
kita kenal sejak lama, dan dapat membuat orang tertolong secara emosional
dan secara praktis.

32
Kelompok dukungan sering disebut support group, self-help group, peer
support group, atau PWA group. Semua ini artinya sama, yaitu kelompok
dukungan yang dikelola oleh dan untuk orang-orang HIV+. Ada kelompok
yang khusus bagi orang HIV+ saja, ada pula yang melibatkan orang-orang
dekat seperti keluarga, teman, ataupun juga melibatkan relawan.
Yang agak khusus dengan HIV / AIDS, stigma dan diskriminasi yang
menyertai ODHA menjadi faktor penting di belakang bermunculannya
kelompok dukungan. Bagi banyak orang HIV+ di banyak tempat di dunia :
- Kelompok dukungan adalah tempat satu-satunya dimana mereka merasa
nyaman, bisa keluar dari isolasi, terjaga kerahasiaannya, aman, dan
terdukung. Terutama di negara berkembang, dimana pelayanan untuk
orang HIV+ masih lemah atau bahkan tidak ada sama sekali, kelompok
dukungan memiliki peran besar dalam upaya penanggulangan HIV / AIDS
secara keseluruhan.
- Kelompok dukungan menjadi badan dimana dukungan diberikan dan
perawatan disediakan.
- Kelompok dukungan menjadi tempat dimana pendidikan dan
penyebarluasan informasi mengenai HIV / AIDS terjadi.
- Kelompok dukungan menutupi kurangnya layanan konseling yang
mestinya ada menyertai semua tes HIV tetapi sering tidak dilaksanakan.
- Kelompok-kelompok dukungan ini ada yang berkembang menjadi bahan
advokasi yang menyuarakan keprihatinan tentang hidup dengan HIV /
AIDS, berusaha mempengaruhi pembuatan kebijakan, dan berperan dalam
proses pengambilan keputusan.
Tak ada rumus khusus untuk membentuk kelompok dukungan, namun ada satu
prinsip yang sudah dibuktikan berkali-kali. Cara yang sudah terbukti dapat
menjawab kebutuhan orang-orang HIV+ di dalam kelompok itu dan
memastikan efektifitas keberadaan kelompok ini adalah mendesain program
dan struktur kelompok yang berpusat pada klien, yaitu orang-orang HIV+ yang
menjadi anggotanya. Rancang program, kegiatan, dan bentuknya dengan
memperhitungkan kapasitas dan keterbatasan serta realita kelompok itu
sendiri. Terakhir, ada dua area yang menuntut perhatian seorang HIV+
sekaligus menolong diri sendiri dan menjadikan diri aktifis untuk mengangkat
keprihatinan orang HIV+ lainnya. (Demarto, 2008)

33
2.16 Peran ODHA dalam Pencegahan
1. Memberikan motivasi pada teman-teman dan pasangannya untuk melakukan tes.
2. Saling memberikan dukungan antara sesama ODHA untuk menjalankan hidup
sehat.
3. Melakukan diseminasi nformasi dan advokasi untuk menghapus diskrimasi dan
stigmatisasi terhadap ODHA.
4. Memperluas jaringan layanan dalam rangka memudahkan dukungan layanan
terkait dengan kebutuhan ODHA.
5. Pemutusan mata rantai penularan terhadap pasangan melalui pencegahan dan
perilaku aman.

34
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam bahasa inggris orang yang terinfeksi HIV/AIDS itu disebut PLWHA
(People Live with HIV/AIDS), sedangkan di Indonesia kategori ini diberi nama ODHA
(Orang dengan HIV/AIDS) dan OHIDA (Orang yang hidup dengan HIV/AIDS) baik
keluarga serta lingkungannya. ODHA atau orang dengan HIV/AIDS merupakan orang
yang menderita HIV/AIDS yang secara fisik sama dengan kita yang tidak menderita
HIV/AIDS. Mereka pada umumnya memiliki ciri-ciri yang sama seperti orang yang
sehat sehingga tidak dapat diketahui apakah seseorang itu menderita HIV/AIDS atau
tidak.
Berdasarkan suatu penelitian diperoleh data yang menunjukkan bahwa ada
perbedaan dalam memaknai hidupnya dan juga dalam hal psikis dimana pada awal
partisipan atau penderita merasa kaget dan shock, namun setelah 4-5 tahun penderita
merasa lebih optimis dalam menjalani hidupnya dan kondisi yang ia alami saat ini tidak
menghalanginya untuk melakukan rutinitas sehari-hari seperti bekerja dan mengurus
keluarga.
Hak pasien sebenarnya merupakan hak yang asasi yang bersumber dari hak dasar
individual dalam bidang kesehatan, the right of self determination. Pasal 7 dan 8 UU
No 36/2009, bisa menjadi salah satu solusi bagi penderita HIV/AIDS yang
mendapatkan tindakan diskriminasi dari para medis.
Pandangan negatif terhadap ODHA masih banyak terjadi di masyarakat. Hal ini
terlihat dari penelitian yang menunjukkan bahwa hampir separuh dari responden
(49,7%) memiliki sikap negatif terhadap ODHA. Bentuk sikap negatif ini diantaranta
tidak bersedia makan makanan yang disediakan atau dijual oleh ODHA, tidak
memperbolehkan anaknya bermain dengan anak HIV, tidak mau menggunakan toilet
bersama dengan ODHA, bahkan menolak untuk tinggal dekat dengan orang yang
menunjukkan gejala HIV/AIDS. Apabila terdapat ODHA dalam keluarga, mereka
merasa takut untuk tidur bersama dengan ODHA dan tidak bersedia merawat seperti
menyiapkan makanan dan membersihakan peralatan makanan, serta duduk dekat
dengan orang-orang terinfeksi HIV yang tidak menunjukkan gejala sakit.
Orang yang terdekat dengan penderita adalah keluarga. Peran keluarga sangat
dibutuhkan untuk memelihara kesehatan anggota keluarganya yang sakit. Dukungan

35
keluarga merupakan suatu bentuk hubungan interpersonal berupa sikap, tindakan dan
penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa diterima,
dalam hal ini keluarga yang menderita HIV/ AIDS. Keluarga dapat membantu
menurunkan kesakitan dan mempercepat proses pemulihan dari suatu penyakit dengan
cara memberikan dukungan pada anggota keluargannya yang sakit. Baik buruknya
dukungan keluarga sangat mempengaruhi kondisi kesehatan anggota keluarga yang
sedang sakit, karena anggota keluarga yang sedang sakit membutuhkan dorongan dari
luar dirinya untuk menjaga atau membantu meningkatkan kesehatan dirinya.
Penanggulangan atau pemecahan masalah pada ODHA adalah presepsi
masyarakat, kebijakan pemerintah dan strategi politik memperhatikan apa yang
dirasakan ODHA, apa yang dibutuhkan ODHA, apa yang tidak dibutuhkan ODHA,
penanggulangan atau keterlibatan para penderita HIV/AIDS.
3.2 Saran
Penulis berharap makalah ini dapat dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan
luas. Perlu dilakukan perbandingan studi literature lebih lanjut mengenai Prinsip Hidup
pada ODHA, Family Centered pada ODHA, dan Stigma pada penderita ODHA.
Penulis menyadari kekurangan dan menerima kritik dan saran lebih lanjut.

36
DAFTAR PUSTAKA

Agyta Gaghenggang. 2013. Diskriminasi terhadap Penderita HIV/AIDS Menurut Hak Asasi
Manusia. Lex et Societatis. 1(5): 85-89.

Ahwan, Zainul. 2014. “Stigma dan diskriminasi HIV & AIDS pada Orang dengan HIV dan
AIDS (ODHA) di masyarakat basis anggota Nahdlatul Ulama’ [NU] Bangil”.Fakultas
Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Yudharta
[Link]://[Link]/wp-content/uploads/2014/11/[Link]

Ardani, Irfan.2017. ”Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sebagai Hambatan
Pencarian Pengobatan: Studi Kasus pada Pecandu Narkoba Suntik di Jakarta”. Buletin
Penelitian Kesehatan, Vol. 45, No. 2, Juni 2017: 81 – 88.
http:??[Link]/10.22435/bpk.v45i2.6042.81-88.

Ardhiyanti, Yulrina, dkk. 2015. Bahan Ajar AIDS Pada Kebidanan. Yogyakarta: Deepublish.

Budiarto, Sri.2006.”Gambaran Dukungan Keluarga Pada Pasien HIV/AIDS”Rahakbauw,


Nancy.2016. Dukungan Keluarga Terhadap Kelangsungan Hidup ODHA (Orang
Dengan HIV/ AIDS). INSANI. Vol.3(2):64-82. ISSN : 2407-6856

Burhan, Riri Fitria, Endang Fourianalistyawati, Zuhroni. 2014. “Gambaran Kebermaknaan


Hidup Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta Tinjauannya Menurut Islam” Jurnal
Psikogenesis Vol. 2, No.2.

Massa, Nurhayati. 2014. Perlindungan Hak ODHA ditinjau dari Perspektif HAM. Ilmu
Hukum. Fakultas Hukum. Universitas Negeri Gorontalo.

Paryati, Try dkk. 2013. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stigma dan Diskriminasi kepada
ODHA(Orang dengan HIV/AIDS) oleh petugas kesehatan : kajian literatur”.Program
Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
: Bandung

Sofro, Muchils Ahsan Udji. 2015. Sehat dan Sukses dengan HIV. Jakarta: PT Elex
GramediaKomputindo.

Widiyanto, Wahyu. 2009. Strategi Koping Penderita HIV/AIDS. Universitas Muhammadiyah


Surakarta.
Zahroh Shaluhiyah, dkk. 2015. Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan HIV/AIDS. Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional. 9(4): 334.

37

Anda mungkin juga menyukai