Struktur dan Jenis Perkerasan Kaku
Struktur dan Jenis Perkerasan Kaku
Disusun Oleh :
Kelompok 6
NAMA :
MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Kasih dan karunia-Nya sehingga
kami selaku penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ”Perkerasan Kaku (Rigid
Pavement)”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai
pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
mereka, kedua orang tua dan segenap keluarga besar yang telah memberikan dukungan,
moril, dan kepercayaan yang sangat berarti bagi penulis dan semoga semua ini bisa
memberikan sebuah nilai kebahagiaan dan menjadi bahan tuntunan kearah yang lebih baik
lagi. Penulis tentunya berharap isi makalah ini tidak meninggalkan celah, berupa kekurangan
atau kesalahan, namun kemungkinan akan selalu tersisa kekurangan yang tidak disadari oleh
penulis.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penulis mengharapkan agar makalah
ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkerasan kaku adalah suatu susunan kontruksi perkerasan dimana sebagai
lapisan atas digunakan plat beton yang terletak diatas pondasi atau langsung di atas tanah
dasar pondasi (sub grade).
Plat beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan
mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar yang melingkupi daerah yang cukup
luas. Dengan demikian, bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari
plat beton itu sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan
perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi, dan lapis perkerasan;
dimana masing-masing lapisan memberikan kontribusinya.
Yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan dalam memikul beban lalu
lintas adalah kekuatan beton itu sendiri. Sedangkan kekuatan dari dasar tanah hanya
berpengaruh kecil terhadap kekuatan daya dukung struktural perkerasan kaku.
Lapisan pondasi bawah, jika digunakan di bawah plat beton, dimaksudkan untuk
sebagai lantai kerja, dan untuk drainase dalam menghindari terjadinya “pumping”.
Pumping adalah peristiwa keluarnya air disertai butiran-butiran tanah dasar
melalui sambungan dan retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat gerakan
lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air
bebas yang terakumulasi di bawah plat beton. Pumping dapat mengakibatkan terjadinya
rongga di bawah plat beton sehingga menyebabkan rusak/retaknya plat beton.
Kontruksi perkerasan kaku merupakan perkerjaan yang memerlukan keahlian
khusus dan sering kali membutuhkan peralatan penghamparan yang rumit dan mahal.
Pada kontruksi perkerasan kaku struktur utama adalah lembaran plat beton, kontruksi
perkerasan ini disebut kaku.
Perkerasan beton semen dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu :
1. Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan
2. Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan
3. Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan
4. Perkerasan beton semen pra-tegang
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja bagian-bagian dari perkerasan kaku (Rigid Pavement)?
2. Bagaimana sambungan pada perkerasan kaku?
3. Bagaimana persyaratan pelaksanaan perkerasan kaku?
4. Bagaimana perawatan pada perkerasan kaku?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagian-bagian dari perkerasan kaku.
2. Untuk mengetahui sambungan-sambungan pada perkerasan kaku.
3. Untuk mengetahui persyaratan pelaksanaan pada perkerasan kaku.
4. Untuk mengetahui cara perawatan pada perkerasan kaku.
BAB II
PEMBAHASAN
c. Subbase Course
Subbase course adalah bagian dari struktur perkerasan antara base course dan
tanah dasar. Fungsi utama adalah pendukung struktural tapi juga dapat:
1) Meminimalisir terjadinya ambles pada jalan
2) Meningkatkan drainase subbase umumnya terdiri dari bahan bahan kualitas
lebih rendah dari pada lapisan atas, tetapi lebih baik daripada tanah dasar.
Bahan agregat yang bagus dan berkualitas tinggi mengisi struktural. Sebuah
subbase tidak selalu dibutuhkan atau digunakan.
d. Base Course
Base Course berada di bawah lapis permukaan. Hal ini memberikan distribusi
beban tambahan, kontribusi dan resistensi drainase, memberikan dukungan lapisan
di atasnya dan platform yang stabil untuk peralatan konstruksi (ACPA, 2001). Bisa
juga membantu mencegah gerakan tanah tanah dasar karena tekanan dari atas. Base
course biasanya di buat dari:
1) Agregat dasar. Sebuah lapisan dasar sederhana dari agregat.
2) Agregat stabil atau tanah. yaitu tananh yang telah dipadatkan hingga
memperleh kestabilan tertentu. Kekuatannya diperkirakan 20-25persen dari
kekuatan lapis pertama.
3) Lean concrete. Berupa pasta semen portland dan lebih kuat daripada agregat
stabil. Lean concrete dapat dibangun untuk sebanyak 25 – 50 persen dari
kekuatan lapis permukaan.
e. Bound Breaker di atas Subbase
Bound breaker adalah plastik tipis yang diletakan di atas subbase agar tidak terjadi
bounding antara subbase dengan pelat beton di atasnya. Selain itu, permukaan
subbase juga tidak boleh di - groove atau di - brush.
a. Hindari bentuk panel yang tidak teratur. Usahakan bentuk panel persegi mungkin.
b. Jarak maksimum sambungan memanjang 3-4 meter.
c. Jarak maksimum sambungan melintang 25 kali tebal pelat, maksimum 5,0 meter.
d. Semua sambungan susut harus menerus sampai kerb dan mempunyai kedalaman
seperempat dan sepertiga dari tebal perkerasan masing- masing untuk lapis
pondasi berbutir dan lapis stabilisasi semen.
e. Antar sambungan harus bertemu pada satu tiitik untuk menghindri terjadinya retak
refleksi pada lajur yang bersebelahan.
f. Sudut antar sambungan yang lebih kecil dari 60 derajat harus dihindari dengan
mengatur 0,5 m panjang terakhir dibuat tegak lurus terhadap tepi perkerasan.
g. Apabila sambungan berada dalam area ,5 meter dengan manhole atau bangunan
yang lain, jarak sambungan harus diatur sedemikian rupa sehingga antara
sambungan dengan manhole atau bangunan yang lain tersebut membentuk sudut
tegak lurus. Hal tersebut berlaku untuk bangunan yang berbentuk bundar. Untuk
bangunan berbentuk segiempat, sambungan harus berada pada sudutnya atau di
antara dua sudut.
h. Semua bangunan lain seperti manhole harus dipisahkan dari perkerasan dengan
smbungan muai selebar 12 mm yang meliputi keseluruhan tebal pelat.
i. Perkerasan yang berdekatan dengan bangunan lain atau manhole hars ditebalkan
20% dari keetbalan normal dan berangsur-angsur berkurang sampai ketebalan
normal sepanjang 1,5 meter seperti ditunjukkan pada gambar.
j. Panel yang tidak persegi empat dan yang mengelilingi manhole harus diberi
tulangan berbentuk anyaman sebesar 0,15% terhadap penampang beton semen dan
dipasang 5 cm di bawah permukaan atas. Tulangan harus dihentikan 7,5 cm dari
sambungan.
4. Sistem Penyalur Beban (Load Transfer Devile)
a. Ruji (Dowel)
Batang ruji harus ditempatkan ditengah ketebalan pelat. Posisi ruji pada arab
horizontal dan vertikal harus dijamin dengan menggunakan perlengkapan atau
dengan cara penempatan dengan mesin yang telah teruji. Kepadatan beton yang
baik di sekeliling ruji sangat dituntut agar supaya ruji bisa berfungsi secara
sempurna.
b. Pelapis Ruji (Dowel Coating)
Bagian batang ruji yang bisa bergerak bebas, harus dilapisi dengan bahan
pencegah karat. Sesudah bahan pencegah korosi kering, maka bagian ini harus
dilapisi dengan lapisan tipis pelumas (dengan cara menyapukan) segera sebelum
ruji dipasang. Ujung batang ruji yang dapat bergerak bebas harus dilengkapi
dengan topi/ penutup ruji. Pelapis ruji dari jenis Alastic yang telah teruji dapat
digunakan sebagai pengganti pelumas, atau penggunaan jenis pelapis lainnya
yang dimaksudkan untuk mencegah lekatan dan atau karat, dapat juga
dipertimbangkan.
c. Penutup Sambungan (Joint Sealing)
Bagian atas Sambungan muai dan sambungan yang digergaji harus ditutup
dengan bahan penutup yang disyaratkan, sebelum lalu lintas diizinkan melewati
kekerasan. Celah sambungan harus dibersihkan dari bahan-bahan asing sebelum
bahan penutup dipasang. Semua bidang celah sambungan harus bersih dari
bahan-bahan lepas dan bila digunakan bahan penutup yang dituang panas,
permukaannya harus kering. Bahan penutup harus dipasang dalam celah
sambungan sesuai detail yang ditunjukkan pada gambar rencana. Pemasangan
harus dilakukan sedemikian, sehingga bahan penutup tidak melimpah atau
mencuat diatas permukaan pelat. Setiap kelebihan bahan penutup pada
permukaan pelat harus segera disingkirkan dari permukaan pelat dan dibersihkan.
Bahan penutup sambungan yang dibuang tidak boleh dituangkan pada suhu yang
dapatmenimbulkan ketidak sempurnaan pemasangan. Petunjuk dari pabrik
pembuat bahan penutup dapat digunakan dalam mempersiapkan spesifikasi.
B. Perencanaan Tebal Perkerasan Kaku
1. Besaran Rencana
a. Umur Rencana Umur rencana perkerasan jalan ditentukan atas pertimbangan
klasifikasi fungsional jalan, pola lalu lintas serta nilai ekonomi jalan yang
bersangkutan, yang dapat ditentukan antara lain dengan metode Benefit Cost
Ratio, Internal Rate of Return, kombinasi dari metode tersebut atau car lain yang
tidak terlepats dari pola pengembangan wilayah. Umumnya perkerasan beton
semen daqpat direncanakan dengan umur rencana (UR) 20 tahun sampai 40
tahun.
b. Lalu Lintas Rencana Lalu lintas harus dianalisis berdasarkan hasil perhitungan
volume lalu lintas dan konfigurasi sumbu yang diperoleh berdasarkan data
terakhir (≤ 2 tahun terakhir). Adapun karakterstik kendaraan yang ditinjau yaitu :
- Jenis kendaraan
Untuk keperluan perencanaan perkerasan kaku hanya kendaraan niaga
yang mempunyai berat total minimum 5 ton yang ditinjau.
- Konfigurasi sumbu
Sumbu tunggal dengan roda tunggal (STRT)
Sumbu tunggal dengan roda ganda (STRG)
Sumbu tandem/ganda dengan roda ganda (SGRG)
Dimana :
Cs = CBR rendaman
P2,36 = Persentase tanah lolos ayakan dengan lubang 2,36 mm
P0,425 = Persentase tanah lolos ayakan dengan lubang 0,425 mm
P 0,075 = Persentase tanah lolos ayakan dengan lubang 0,075 mm
L = Batas menyusut ( shrinkage limit ) tanah ( % )
I = Indeks plastisitas tanah ( % )
Dari kedua persamaan tersebut dapat diperoleh CBR tanah dasar yang akan
digunakan untuk perencanaan dengan persamaan sebagai berikut :
Csmin = Nilai minimum yang diperoleh dari persamaan (1) dan (2)
Csmaks = Nilai maksimum yang diperoleh dari persamaan (1) dan (2)
3. Perencanaan Tulangan
Tujuan dari penulangan yaitu
a. Membatasi lebar retakan
b. Mengurangi jumlah sambungan melintang
c. Mengurangi biaya pemeliharaan
d. Penulangan Pelat pada Perkerasan Beton Bersambung
C. Pelaksanaan Perkerasan Kaku
1. Persyaratan Sifat Campuran
a. Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan dan
"slump" yang dibutuhkan perawatan dan pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-
19 90 (AASHTO T22), Pd M-16-1996-03 (AASHTO T23), SNI 03-2493-1991
(AASHTO T126), SNI 03-2458-1991 (AASHTO T141).
b. Kuat tekan karateristik beton harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan.
Dengan menggunakan cara pengujian "the third point" kuat lentur karakteristik
harus tidak kurang dari 45 kg/cm2
c. Beton tersebut harus merupakan jenis yang memiliki sifat kemudahan pengerjaan
yang sesuai untuk mencapai pemadatan penuh dengan instalasi yang digunakan
dengan tanpa pengaliran yang tak semestinya. Slump optimum sebagaimana
diukur dengan cara pengujian AASHTO T 199 harus tidak kurang dari 20 mm
dan tidak lebih besar dan 60 mm. Slump tersebut harus dipertahankan dalam
batas toleransi ± 20 mm dari slump optimum yang disetujui. Beton yang tidak
memenuhi persyaratan-persyaratan slump tersebut tidak boleh digunakan untuk
plat beton perkerasan.
d. Bilamana pengujian beton berumur 7 hari menghasilkan kuat beton di bawah
kekuatan yang disyaratkan maka Kontraktor tidak diperkenankan mengecor beton
lebih lanjut sampai penyebab dari hasil yang tidak memenuhi persyaratan tersebut
dapat diketahui dengan pasti dan sampai telah diambil tindakan-tindakan yang
menjamin bahwa produksi beton memenuhi ketentuan yang disyaratkan. Kuat
tekan beton berumur 28 hari yang tidak memenuhi ketentuan harus diperbaiki
sebagaimana disyaratkan. Kekuatan beton dianggap lebih kecil dari yang
disyaratkan bilamana hasil pengujian serangkaian benda uji dari suatu bagian
pekerjaan lebih kecil dari kuat tekan karakteristik.
e. Pekerjaan dapat pula dihentikan dan atau memerintahkan Kontraktor mengambil
tindakan perbaikan untuk meningkatkan mutu campuran atas dasar hasil
pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari. Dalam keadaan demikian, Kontraktor
harus segera menghentikan pengecoran beton yang dipertanyakan tetapi dapat
memilih menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan beton berumur 7 hari
diperoleh, sebelum menerapkan tindakan perbaikan.
f. Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat mencakup
pembongkaran dan penggantian seluruh beton tidak boleh berdasarkan pada hasil
pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari saja, perlu analisis teknis.
2. Penyiapan Tanah Dasar atau Lapis Pondasi
Persiapan penting sebelum penghamparan beton, meliputi berbagai hal
sepertimembentuk, membuat penyesuaian-penyesuaian seperlunya pada permukaan
tanahdasar atau lapis pondasi bawah, dan bila perlu, menambahkan air dan
memadatkankembali permukaan akhir, disesuaikan dengan alinemen dan potongan
[Link] permukaan secara teliti sangat penting bagi pelaksanaan
ditinjau darisegi jumlah beton yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Bila
digunakanmetoda acuan gelincir, dianjurkan agar lapis pondasi bawah dibuat paling
sedikit 60cm lebih lebar pada masing-masing sisi memanjang hamparan, sebagai
landasan roda rantai mesin penghampar. Apabila dalam pelaksanaan penghamparan
digunakanacuan tetap, pembentukan akhir permukaan biasanya dilakukan dengan alat
yang bergerak di atas acuan yang dipasang sesuai dengan rencana [Link]-
bagian permukaan yang menonjol harus dikupas hingga ketinggiansesuatu dengan
yang telah ditetapkan. Bagian-bagian yang rendah harus diisi dandipadatkan sesuai
dengan persyaratan pemadatan. Bila alat pengupas dilengkapidengan sistem pengatur
ketinggian otomatis, maka alat tersebut dapat langsungdioperasikan di atas
permukaan yang akan dibentuk. Pembentukan akhi permukaanlapis pondasi bawah
dengan stabilisasi semen harus diselesaikan sebelum bahanmengeras (yang biasanya
berlangsung antara 2 sampai 6 jam.
3. Acuan Perkerasan
Pondasi acuan harus dipadatkan dan dibentuk sesuai dengan alipyemen
danketinggian jalan yang bersangkutan, sehingga acuan pada waktu dipasang,
dapatdisangga secara seragam pada seluruh panjangnya dan terletak pada elevasi
yang benar. Pembuatan galian untuk meletakkan acuan pada ketinggian yang tepat,se
baikuya dilakukan dengan cara mengupas/mengeruk. Bekas galian di kiri dan
kanan pondasi acuan, harus diisi dan dipadatkan kembali tiap lapis dengan tebal
setiap lapistidak boleli lebih besar dari 1,25 cm. Alinyemen dan elevasi acuan harus
diperiksadan bila perlu diperbaiki menjelang penghamparan [Link] terdapat
acuan yang rusak atau sesudah pondasi yang tidak stabildiperbaiki, acuan harus
disetel kembali. Acuan harus dipasang cukup jauh di depan tempat penghamparan
beton sehingga kemungkinan pemeriksaan dan perbaikan acuan tanpa mengganggu
kelancaran penghamparan. Setelah acuan dipasang pada posisi yang benar, tanah
dasar atau lapis pondasi bawah pada kedua sisi luar dandalam dasar acuan harus
dipadatkan dengan baik, menggunakan alat pemadat mesin atau manual. Acuan harus
disangga pada tempatnya, paling sedikit dengan tiga pasak padasetiap 3 meter (10 ft)
panjang. Setiap bagian acuan harus benar-benar terikat kuatsehingga tidak dapat
bergerak. Pada setiap titik acuan tidak boleh menyimpang lebihdari 0,64 cm (V4
inch) dari garisnya. Tidak diizinkan adanya penurunan atau pelenturan acuan yang
berlebihan akibat peralatan pelaksanaan. Sebelum penghamparan dilakukan sisi
dalam acuan harus diminyaki.
4. Pemasangan Tulangan
a. Apabila pada perkerasan bersambung digunakan tulangan, maka tulangan
tersebut harus terdiri dari anyaman kawat dilas (welded wire
fabric).Kondisi permukaan tulangan yang berkaitan dengan bahan asing
dan kerak. Lebar dan panjang anyaman kawat atau anyaman batang baja harus
sedemikian rupa, sehingga pada waktu anyaman tersebut dipasang, kawat/batang
baja yang paling pinggir terletak tidak kurang dari 5 cm (2 inch) atau tidak lebih
dari 10cm (4 inch) dari sambungan plat.
b. Apabila perlengkapan tulangan ditunjukkan datum Gambar Rencana,
maka batang-batang baja pada setiap persilangan harus diikat kuat. Batang batang
baja yang disambung, bagian ujung-ujungnya harus berimpit sepanjang tidak
kurang dari 30 kali diameternya.
c. Apabila anyaman batang baja dibuat di pabrik dengan cara mengelas pada tiap
persilangan batang-batang tersebut, maka bagian ujung-ujung batang memanjang
harus berimpit sepanjang minimum 30 kali diameternya.
Apabila pola anyaman sedemikian rupa sehingga batang-batang memanjang tepi
atau yang ujung batang-batang melintangnya tumpang tindih tersebut
maka, batang-batang baja harus mempunyai jarak tidak kurang dari 5 cm (2 inch)
agar campuran beton dapat dipadatkan dengan baik
d. Ujung lembar anyaman kawat baja harus disusun ditumpang-tindihkan, lembar
anyaman harus diikat kuat untuk mencegah pergeseran, terutama pada saat ditarik
oleh mesin penghampar.
e. Apabila pelat dibuat dengan dua kali mengecor, maka tebal makaimum lapis
pertama adalah 10 cm untuk tebal pelat S 15 cm dan tebal maksimum
lapis pertama 2 /3 dari tebal pelat apabila tebal pelat 15 cm. Permukaan lapis
pertama merupakan tempat untuk meletakkan tulangan. Penghamparan lapisan
pertama harus mencakup seluruh lebar dengan panjang yang cukup untuk
memungkinkan agar anyaman dengan panjang penuh dapat digelar
padakedudukan akhir tanpat erjadi penyimpangan lebih jauh. Untuk
mencegah pergeseran, anyaman yang berdampingan harus diikat dengan kawat be
ton. Dalam pengecoran lapisan berikutnya, adukan dituang di, atas tulangan.
Untuk jangka waktu tertentu permukaan beton lapis pertama tidak boleh
dibiarkan terbuka, terutama pada keadaan cuaca panas atau berangin. Biasanya 30
menit merupakan jangka waktu maksimum yang masih diizinkan. Posisi tulangan
selama penghamparan harus selalu diperiksa dan apabila dipandang perlu harus
dilakukan perbaikan.
f. Apabila beton dibuat dengan penghamparan satu lapis maka lembar
anyamankawat atau anyaman batang baja dapat diletakkan di atas
permukaanhamparan, kemudian anyaman tersebut dimasukkan (dengan mesin)
dengancara menggetarkan atau menekannya sampai elevasi yang dikehendaki.
Pada pemasangan tersebut harus diperhatikan agar beton diatas kawat/batang baja
tidak pecah/retak atau mengakibatkan perubahan kedudukan anyaman dariyang
semestinya. Pada setiap sambungan melintang harus selalu diperiksa untuk
memastikan tersedianya jarak antara sambungan dengan tepi anyaman.
g. Apabila dikehendaki penggunaan beton menerus dengan tulangan, sebagaimana
tercantum dalam gambar rencana, maka tulangan harus dipasang sedemikian rupa
sehingga mempunyai selimut tidak kurang dari 5 cm (2 inch) dan tulangan
melintang (sebagai anggota anyaman) tidak boleh terletak di bawah tengah
tengah tebal pelat, kecuali apabila dikehendaki lain atau ditunjukkan dalam
gambar rencana. Apabila beton dibuat dengan penghamparan satu
lapis, maka tulangan harus diletakkan pada dudukan agar pada saat pengecoran
tulangan tersebut dapat ditahan pada kedudukan yang telah ditentukan. Apabila
tidak digunakan tulangan melintang, tulangan dapat dipasang melalui pipa yang
terpasang pada mesin penghampar. Tumpangan (overlaping) pada sambungan
untuk batang tulangan, anyaman batang bajaatau anyaman kawat dilas yang
dibuat di pabrik biasanya ditunjukkan padagambar rencana dan harus diperiksa
selama pelaksanaan. Tulagnan 18 yang cukup dan penempatan yang semestinya
adalah sangat penting. Bahaya kerusakan pada sambungan tulangan pada umur
muda dapat dikurangi dengan cara mengatur pola sambungan secara miring atau
bertangga dari satu tepi perkerasan ke tepi lainnya. Panjang tumpangan tulangan
pada sambungan harus diperlihatkan pada gambar rencana atau spesifikasi dan
harus tidakkurang dari 30 kali diameternya, tapi tidak boleh kurang dari 40 cm
(16 inch).
5. Penggergajian
Penggergajian harus dilakukan sedemikian sehingga tidak terjadi penggumpalan pada
beton muda dan pada saat belum terjadi retak acak, waktu penggergajian
terbaik yaitu antara 8-20 jam setelah pengecoran.
Dengan cara penggergajian baik dengan menggunakan amta gergaji intan (diamond
blades), bilah pengikis bawah (wet abrasive blades) maupun bila pengikis kering
(dry abrasive blades), harus dilakukan secara perlahan-lahan, untuk mencegah
terjadinya sambungan yang kasar. Kecenderungan retak acak akibat
keterlambatan penggergajjan pada sambungan memanjang lebih kecil dibanding pada
sambungan melintang.
6. Sekat Pemisah Tipis
Sekat pemisah dari polyethyline atau bahan lainnya yang mempunyai tebal tidak
kurang dari 0,33 mm, dapat disisipkan ke dalam beton plastis dengan mesin. Sekat
pemisah harus terpasang secara vertikal. Penyisipan jangan sampai mengakibatkan
seluruh sekat terbenam di bawah permukaan plat atau jangan sampai menimbulkan
pelepasan butir (revelling). Sambungan ini jangan ditutup (sealed ). Sekat pemisah
polyethylene tidak dapat mengendalikan terjadinya retak memanjang.
7. Pengecoran
a. Peralatan pengecoran harus mampu mengalirkan adukan beton dari
mesin pengaduk atau alat pengangkut dan menuangkannya pada setiap tempat
tanpa terjadi pemisahan butir (segregasi) dan tanpa merusak permukaan yang
dihampar. Pada pekerjaan besar, pengecoran seringkali menuntut penggunaan ulir
(screw), ban berjalan (belt), atau wadah (hopper) sebagai alat penghampar
adukan. Peralatan ini biasanya beroperasi dari bahu jalan dan menuangkan
adukan ke seluruh lebar permukaan yang telah dibentuk. Apabila
dalam pengecoran digunakan mesin pengaduk di tempat, penuangan adukan
beton kemesin penghampar,dapat dilakukan dengan menggunakan wadah
(bucket) dalengan (boom). Apabila pengecoran dilakukan dengan mesin
pengaduk berjalan (transit mixer ), dan untuk menuangkan adukan hanya tersedia
talang(chute), maka disarankan dilakukan penghamparan jalur sesaat (lane at
atime). Apabila beton tanpa tulangan tidak dilaksanakan dengan
mesin penghampar acuan gelincir, maka biasanya adukan dituangkan (di atas per
muakaan) di depan mesin penghampar dengan men ggunakan truk pelimpah
(dump truck).
b. Apabila lebar penghamparan tidak sama (misal pada jalan
masuk/ramp, persimpangan), maka metoda pengecoran yang biasa tidak selalu da
pat diterapkan. Meskipun demikian, perlu diperhatikan agar untuk mencapai
kedudukan akhir, adukan jangan dituang secara sembarangan dengan didorong
atau digetarkan. Perataan secara manual perlu dilakukan, untuk menghindarkan
pemisahan butir.
8. Penghamparan
Pada pekerjaan besar, biasanya harus disediakan baik penghampar jenisdayung
(paddle) atau ulir (auger), atau ban berjalan, maupun jenis wadah (hopper) dan ulir
(auger), kecuali apabila digunakan penghampar acuan gelincir. Pada
mesin penghampar acuan gelincir, yang peralatan penghampar (speader) merupakan
bagian yang sudah melekat (built-in). Untuk mengurangi pemisahan butir, semua
peralatan harus dioperasikan secara seksama.
Pada pekerjaan yang lebih kecil, penghamparan dapat dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain dengan peralatan manual. Dalam hal apapun, beton
harus dihampar dengan ketebalan yang cukup untuk pemadatan dan penyelesaian
akhir. Apabila tulangan terdiri dari anyaman dan harus diletakkan secara manual,
maka beton di bawah anyanian harus dihainpar terlebih dahulu tersendiri (struck-off),
kemudian anyaman diletakkan dan selanjutnya lapisan berikutnya dihampar.
Pada pekerjaan besar, kadang-kadang digunakan dua buah mesin penghampar.
Apabila tulangan yang berbentuk anyaman akan dimasukkan pada kedudukan
yangdikehendaki dengan cara menggetarkan atau menekannya dengan mesin, maka
betondapat dihampar langsung untuk seluruh tebal
9. Pemadatan
a. Metoda
Petunjuk pemadatan beton dapat dilihat pada Buku Petunjuk Pelaksanaan Beton.
Pemadatan pada sambungan dan tepi-tepi, penekanan, pemadatan secara tumbuk,
dan pemadatan secara getar, sampai tingkat tertentu cukup efektif, tapi tidak
secara otomatis menjamin kepadatan beton. Mesin getar, baik jenis internal
maupun jenis permukaan dapat memberikan hasil yang baik.
b. Prosedur
Seluruh perkerasan harus dipadatkan seefektif mungkin. Perhatian khusus harus
diberikan terhadap tepi-tepi sepanjang sumbu, dan pada sambungan-sambungan
lainnya. Mesin pemasang anyaman dapat memberikan sebagian kepadatan.
Penggetar internal dioperasikan di dalam beton untuk mengeluarkan udara
sewaktu mesin penghampar bergerak. Mesin penggetar harus diberhentikan
apabila mesin penghampar berhenti.
c. Keadaan Khusus
Sekitar ruji dan dudukan, pada tepi-tepi dan sudut-sudut atau
sekitar pembuangan air (drains), dan pada pelat-pelat tidak beraturan pada jalan
masuk/ramps dan persimpangan, diperlukan ketelitian khusus untuk menjamin
kepadatan yang baik.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perkerasan kaku adalah suatu susunan kontruksi perkerasan dimana sebagai
lapisan atas digunakan plat beton yang terletak diatas pondasi atau langsung diatas tanah
dasar pondasi (sub grade). Plat beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang
tinggi, akan mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar yang melingkupi daerah
yang cukup luas. Dengan demikian, bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan
diperoleh dari plat beton itu sendiri.
Yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan dalam memikul bebanlalu
lintas adalah kekuatan beton itu sendiri. Sedangkan kekuatan dari tanah dasarhanya
berpengaruh kecil terhadap kekuatan daya dukung steuktural perkerasan [Link]
pondasi bawah, jika digunakan di bawah plat beton, dimaksudskan untuk drainase dalam
menghindari terjadinya “pumping”.
Surface Course merupakan lapisan yang langsung berhubungan dengan beban
lalu lintas dan terbuat dari PCC. Hal ini memberikan karakteristik gesekan, kelicinan,dan
drainase. Selain itu, memiliki fungsi sebagai lapisan waterproofing base, subbase,dan
tanah dasar. Surface Course dapat bervariasi dalam ketebalan tetapi biasanyaantara 150
mm (6inci) (untuk muatan ringan) dan 300 mm (12inci) (untuk beban berat dan lalu
lintas tinggi).
Base Course berada di bawah lapisan permukaan. Hal ini memberikan distribusi
beban tambahan, kontribusi dan resistensi drainase, memberikan dukungan lapisan di
atasnya dan platform yang stabil untuk peralatan kontruksi (ACPA, 2001). Biasa juga
membantu mencegah gerakan tanah dasar karena tertekan dari atas. Subbase course
adalah bagian dari struktur perkerasan antara base course dan tanah dasar. Fungsi utama
adalah dapat pendukung struktural tapi juga dapat:
a) Meminimalisir terjadinya ambles pada jalan
b) Meningkatkan drainase
Subbase umumnya terdiri dari bahan bahan kualitas lebih rendah dari pada
lapisan atas, tetapi lebih baik daripada tanah dasar. Bahan agregat yang bagus dan
berkualitas tinggi mengisi struktural. Sebuah subbase tidak selalu dibutuhkan atau
digunakan. Sambungan dipasang pada perkerasan beton semen untuk mengendalikan
penyebaran retakan akibat susut serta untuk menampung pemuaian pelat akibat
perubahan suhudan kelembaban.
Setelah penyelesaian akhir selesai dan lapisan air menguap dari permukaan
atausegera setelah pelekatan dengan beton tidak terjadi maka seluruh permukaan beton
harus segera ditutup dan dipelihara sesuai dengan salah satu metoda yang diuraikan
di bawah.
Dalam semua hal, dimana perawatan memerlukan penggunaan air, maka operasi
perawatan harus dititikberatkan pada penyediaan air. Biasanya masa perawatan
dilakukan selama 7 hari, tapi waktu tersebut dapat diperpendek bila 70 persen kekuatan
tekan atau lentur beton dapat dicapai lebih awal.
B. Saran
Pembuatan makalah ini ditujukan kepada mahasiswa khususnya jurusan sipil agar
sedikit mengerti mengenai perkerasaan kaku. Dengan bekal materi yang ada dapat
memambantu mahasiswa dalam proses perkuliahan. Untuk pengetahuan dan pengalaman
yang lebih mendalam dibutuhkan pembelajaran yang lebih banyak dan terperinci.
DAFTAR PUSTAKA
Lapis pondasi bawah berfungsi untuk mengendalikan pengaruh kembang susut tanah dasar, mencegah intrusi dan pemompaan pada sambungan, serta memberikan dukungan yang mantap dan seragam pada pelat beton . Subbase juga mengurangi kerusakan akibat pembekuan, mengurangi retak, dan menyediakan lantai kerja bagi alat berat . Meski bukan bagian struktural utama, subbase berperan penting dalam mendukung keseluruhan struktur perkerasan kaku .
Komponen utama dari perkerasan kaku adalah tanah dasar (subgrade), lapis pondasi (subbase), lapis dasar (base course), dan pelat beton semen mutu tinggi . Tanah dasar merupakan bagian permukaan jalan yang mendukung konstruksi di atasnya dan memiliki persyaratan seperti lebar dan keseragaman daya dukung . Lapis pondasi berfungsi menyediakan lantai kerja rata dan seragam serta meningkatkan kapasitas reaksi tanah dasar . Lapis dasar memberikan distribusi beban tambahan serta mendukung stabilitas peralatan konstruksi . Pelat beton semen bertindak langsung sebagai distribusi beban lalu lintas ke tanah dasar .
Memperhatikan pola sambungan dalam perkerasan kaku penting untuk mengurangi risiko retak yang acak dan tidak terkendali pada beton . Sambungan yang terencana baik mengarahkan retak pada lokasi yang sudah dikuatkan sehingga tidak mengganggu struktur keseluruhan perkerasan. Pengaturan pola sambungan dapat dilakukan dengan cara miring atau bertangga .
Teknik perawatan penting untuk menjaga perkerasan kaku meliputi perlindungan dari lalu lintas selama belum siap digunakan, perawatan sambungan gergajian untuk mencegah pengeringan cepat, dan perlindungan dari hujan secara darurat sebelum beton mengeras . Selain itu, segala kerusakan sebelum dibuka untuk lalu lintas umum harus diperbaiki .
Perkerasan beton semen bertulang dengan sambungan (Jointed reinforced concrete pavement) menggunakan tulangan untuk menahan retak yang dihasilkan dari susut dan lenturan . Sedangkan, perkerasan beton semen prategang (Prestressed concrete pavement) menggunakan teknologi prategang untuk menambah kekuatan beton, sehingga mampu menopang beban lebih besar dengan ketebalan lebih kecil .
Persiapan tanah dasar untuk perkerasan kaku harus memenuhi beberapa syarat seperti lebar, kerataan, kemiringan melintang, keseragaman daya dukung, dan keseragaman kepadatan . Keseragaman tanah dasar penting untuk menunjang beban lalu lintas meskipun perubahan daya dukung tanah dasar tidak berpengaruh besar pada konstruksi perkerasan kaku .
Sambungan dalam perkerasan kaku berfungsi untuk mengendalikan retak pelat beton akibat susut maupun lentur dan untuk menampung pemuaian akibat perubahan suhu dan kelembaban . Jenis sambungan yang ada meliputi sambungan memanjang, melintang yang dapat berupa sambungan susut, sambungan lenting, sambungan muai (expansion joint), dan sambungan pelaksana (construction joint).
Kekuatan lentur beton signifikan dalam perencanaan perkerasan kaku karena mencerminkan kekuatan yang paling cocok untuk menjelaskan tegangan kritis yang dialami perkerasan beton akibat pembebanan lalu lintas yang menyebabkan lenturan . Dengan ini, perencanaan dapat dilakukan untuk memastikan pelat beton memiliki kekuatan cukup dalam mengatasi beban tersebut .
Joint sealant dalam sambungan perkerasan kaku digunakan untuk mengisi celah sambungan, melindungi dari kotoran dan air yang dapat merusak sambungan dan retakan. Sealant dari bahan thermoplastic seperti rubber asphalt mencegah inflitrasi yang dapat merusak struktur . Sebelum sealant dicor, celah harus bersih dari kotoran .
Sambungan muai pada perkerasan kaku ditempatkan di antara plat perkerasan dan bangunan lain, misalnya manhole, untuk menampung pemuaian pelat akibat perubahan suhu . Sambungan ini biasanya terbuat dari bahan dengan ketebalan tertentu yang dirancang untuk memfasilitasi pergerakan plat tanpa menimbulkan retak atau kerusakan .