0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan31 halaman

Struktur dan Jenis Perkerasan Kaku

Makalah ini membahas tentang perkerasan kaku (rigid pavement) yang terdiri dari 3 kalimat: Perkerasan kaku adalah susunan konstruksi perkerasan yang menggunakan plat beton sebagai lapisan atasnya. Plat beton ini mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar. Komponen utama perkerasan kaku adalah plat beton semen dan lapisan pondasi bawah yang berfungsi sebagai lantai kerja.

Diunggah oleh

Feky B
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan31 halaman

Struktur dan Jenis Perkerasan Kaku

Makalah ini membahas tentang perkerasan kaku (rigid pavement) yang terdiri dari 3 kalimat: Perkerasan kaku adalah susunan konstruksi perkerasan yang menggunakan plat beton sebagai lapisan atasnya. Plat beton ini mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar. Komponen utama perkerasan kaku adalah plat beton semen dan lapisan pondasi bawah yang berfungsi sebagai lantai kerja.

Diunggah oleh

Feky B
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

“PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT)”

Disusun Oleh :

Kelompok 6

NAMA :

- FEKI BONGGA BATO’TANETE (6160505160001)


- Ika
- ULVI AMBA LINGGI (6160505160208)

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA PAULUS

MAKASSAR

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Kasih dan karunia-Nya sehingga
kami selaku penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ”Perkerasan Kaku (Rigid
Pavement)”.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai
pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
mereka, kedua orang tua dan segenap keluarga besar yang telah memberikan dukungan,
moril, dan kepercayaan yang sangat berarti bagi penulis dan semoga semua ini bisa
memberikan sebuah nilai kebahagiaan dan menjadi bahan tuntunan kearah yang lebih baik
lagi. Penulis tentunya berharap isi makalah ini tidak meninggalkan celah, berupa kekurangan
atau kesalahan, namun kemungkinan akan selalu tersisa kekurangan yang tidak disadari oleh
penulis.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penulis mengharapkan agar makalah
ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Makassar, November 2018

Penulis,
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkerasan kaku adalah suatu susunan kontruksi perkerasan dimana sebagai
lapisan atas digunakan plat beton yang terletak diatas pondasi atau langsung di atas tanah
dasar pondasi (sub grade).
Plat beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan
mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar yang melingkupi daerah yang cukup
luas. Dengan demikian, bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari
plat beton itu sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan
perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi, dan lapis perkerasan;
dimana masing-masing lapisan memberikan kontribusinya.
Yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan dalam memikul beban lalu
lintas adalah kekuatan beton itu sendiri. Sedangkan kekuatan dari dasar tanah hanya
berpengaruh kecil terhadap kekuatan daya dukung struktural perkerasan kaku.
Lapisan pondasi bawah, jika digunakan di bawah plat beton, dimaksudkan untuk
sebagai lantai kerja, dan untuk drainase dalam menghindari terjadinya “pumping”.
Pumping adalah peristiwa keluarnya air disertai butiran-butiran tanah dasar
melalui sambungan dan retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat gerakan
lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air
bebas yang terakumulasi di bawah plat beton. Pumping dapat mengakibatkan terjadinya
rongga di bawah plat beton sehingga menyebabkan rusak/retaknya plat beton.
Kontruksi perkerasan kaku merupakan perkerjaan yang memerlukan keahlian
khusus dan sering kali membutuhkan peralatan penghamparan yang rumit dan mahal.
Pada kontruksi perkerasan kaku struktur utama adalah lembaran plat beton, kontruksi
perkerasan ini disebut kaku.
Perkerasan beton semen dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu :
1. Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan
2. Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan
3. Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan
4. Perkerasan beton semen pra-tegang
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja bagian-bagian dari perkerasan kaku (Rigid Pavement)?
2. Bagaimana sambungan pada perkerasan kaku?
3. Bagaimana persyaratan pelaksanaan perkerasan kaku?
4. Bagaimana perawatan pada perkerasan kaku?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagian-bagian dari perkerasan kaku.
2. Untuk mengetahui sambungan-sambungan pada perkerasan kaku.
3. Untuk mengetahui persyaratan pelaksanaan pada perkerasan kaku.
4. Untuk mengetahui cara perawatan pada perkerasan kaku.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)


1. Pengertian, Jenis dan Sifat Perkerasan Kaku
Perkerasan kaku atau perkerasan beton semen adalah suatu konstruksi
(perkerasan) dengan bahan baku agregat dan menggunakan semen sebagai bahan
ikatnya, ( Aly,2004 ). Perkerasan kaku merupakan struktur yang terdiri dari pelat
beton semen yang bersambung (tidak menerus) tanpa atau dengan tulangan, atau
menerus dengan tulangan dan terletak di atas lapis pondasi bawah, tanpa atau dengan
pengaspalan sebagai lapis aus (nonstruktural).
Pada saat ini dikenal ada 5 jenis perkerasan beton semen yaitu :
1. Perkerasan beton semen tanpa tulangan dengan sambungan (Jointed plain
concrete pavement).
2. Perkerasan beton semen bertulang dengan sambungan (Jointed reinforced
concrete pavement).
3. Perkerasan beton semen tanpa tulangan (Continuosly reinforced concrete
pavemen).
4. Perkerasan beton semen prategang (Prestressed concrete pavement).
5. Perkerasan beton semen bertulang fiber (Fiber reinforced concrete
pavemen).

Gambar 1. Macam-macam perkerasan Beton Semen


Dalam perkerasan kaku untuk dapat memenuhi fungsi perkerasan dalam
memikul beban, maka perkerasan harus:
a. Mereduksi tegangan yang terjadi pada tanah dasar sampai batas-batas yang
masih mampu dipikul tanah dasar tersebut tanpa menimbulkan perbedaan
lendutan/penurunan yang dapat merusak perkerasan itu sendiri.
b. Direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi
pengaruh kembang susut dan penurunan kekuatan tanah dasar serta
pengaruh cuaca dan kondisi lingkungan.

Dalam perencanaan perkerasan kaku ada beberapa faktor yang harus


diperhatikan, antara lain:
a. Peranan perkerasan kaku dan intensitas lalu lintas yang akan dilayani.
b. Volume lalu lintas, konfigurasi sumbu dan roda, beban sumbu, ukuran dan
tekanan beban, pertumbuhan lalu lintas, jumlah jalur dan arah lalu lintas.
c. Umur rencana perkerasan kaku ditentukan atas dasar
pertimbanganpertimbangan peranan perkerasan, pola lalu lintas dan nilai
ekonomi perkerasan serta faktor pengembangan wilayah.
d. Kapasitas perkerasan yang direncanakan harus dipandang sebagai
pembatasan.
e. Daya dukung dan keseragaman tanah dasar sangat mempengaruhi
keawetan dan kekuatan pelat perkerasan.
f. Lapis pondasi bawah meskipun bukan merupakan bagian utama dalam
menahan beban, tetapi merupakan bagian yang tidak bisa diabaikan
dengan fungsi sebagai berikut:
 mengendalikan pengaruh kembang susut tanah dasar.
 mencegah intrusi dan pemompaan pada sambungan, retakan pada
tepitepi pelat
 memberikan dukungan yang mantap dan seragam pada pelat
 sebagai perkerasan jalan kerja selama pelaksanaan
g. Kekuatan lentur beton (flexural strength) merupakan pencerminan
kekuatan yang paling cocok untuk perencanaan karena tegangan kritis
dalam perkerasan beton terjadi akibat melenturnya perkerasan beton
tersebut.
2. Komponen Konstruksi Perkerasan Kaku
Pada konstruksi perkerasan beton semen, sebagai konstruksi utama adalah
berupa satu lapis beton semen mutu tinggi. Sedangkan lapis pondasi bawah (subbase
berupa cement treated subbase maupun granular subbbase) berfungsi sebagai
konstruksi pendukung atau pelengkap.
Adapun Komponen Konstruksi Perkerasan Beton Semen ( Rigid Pavement )
adalah sebagai berikut :
a. Tanah Dasar ( Subgrade )
Tanah dasar adalah bagian dari permukaan badan jalan yang dipersiapkan untuk
menerima konstruksi di atasnya yaitu konstruksi perkerasan. Tanah dasar ini
berfungsi sebagai penerima beban lalu lintas yang telah disalurkan / disebarkan
oleh konstruksi perkerasan. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyiapan
tanah dasar (subgrade) adalah lebar, kerataan, kemiringan melintang keseragaman
daya dukung dan keseragaman kepadatan.
Pada konstruksi perkerasan kaku fungsi tanah dasar tidak terlalu menentukan,
dalam arti kata bahwa perubahan besarnya daya dukung tanah dasar tidak
berpengaruh terlalu besar pada nilai konstruksi (tebal) perkerasan kaku.

b. Lapis Pondasi ( Subbase )


Lapis pondasi ini terletak di antara tanah dasar dan pelat beton semen mutu tinggi.
Sebagai bahan subbase dapat digunakan unbound granular (sirtu) atau bound
granural (CTSB, cement treated subbase). Pada umumnya fungsi lapisan ini tidak
terlalu struktural, maksudnya keberadaan dari lapisan ini tidak untuk
menyumbangkan nilai struktur perkerasan beton semen.
Fungsi utama dari lapisan ini adalah sebagai lantai kerja yang rata dan uniform.
Apabila subbase tidak rata, maka pelat beton juga tidak rata. Ketidakrataan ini
dapat berpotensi sebagai crack [Link] fungsi tersebut terdapat juga fungsi
lainnya, antara lain:
1) Menyediakan lapisan yang seragam, stabil, dan permanen.
2) Menaikkan harga Modulus Reaksi Tanah Dasar (Modulus of Sub-grade
Reaction = K), menjadi Modulus Reaksi Komposit (Modulus of Composit
Reaction).
3) Mengurangi kerusakan sebagai akibat pembekuan (frost action).
4) Melindungi gejala “pumping” butiran-butiran halus tanah pada daerah
sambungan, retakan dan ujung samping perkerasan.
“Pumping” : adalah proses pengocokan butiran-butiran sub-grade
atau sub-base pada daerah-daerah sambungan (basah atau kering)
akibat gerakan vertical plat karena beban lalu lintas kejadian ini
mengakibatkan turunnya daya dukung lapisan bawah tersebut.
5) Mengurangi bahaya retak.
6) Menyediakan lantai kerja bagi alat-alat berat.

c. Subbase Course
Subbase course adalah bagian dari struktur perkerasan antara base course dan
tanah dasar. Fungsi utama adalah pendukung struktural tapi juga dapat:
1) Meminimalisir terjadinya ambles pada jalan
2) Meningkatkan drainase subbase umumnya terdiri dari bahan bahan kualitas
lebih rendah dari pada lapisan atas, tetapi lebih baik daripada tanah dasar.
Bahan agregat yang bagus dan berkualitas tinggi mengisi struktural. Sebuah
subbase tidak selalu dibutuhkan atau digunakan.

d. Base Course
Base Course berada di bawah lapis permukaan. Hal ini memberikan distribusi
beban tambahan, kontribusi dan resistensi drainase, memberikan dukungan lapisan
di atasnya dan platform yang stabil untuk peralatan konstruksi (ACPA, 2001). Bisa
juga membantu mencegah gerakan tanah tanah dasar karena tekanan dari atas. Base
course biasanya di buat dari:
1) Agregat dasar. Sebuah lapisan dasar sederhana dari agregat.
2) Agregat stabil atau tanah. yaitu tananh yang telah dipadatkan hingga
memperleh kestabilan tertentu. Kekuatannya diperkirakan 20-25persen dari
kekuatan lapis pertama.
3) Lean concrete. Berupa pasta semen portland dan lebih kuat daripada agregat
stabil. Lean concrete dapat dibangun untuk sebanyak 25 – 50 persen dari
kekuatan lapis permukaan.
e. Bound Breaker di atas Subbase
Bound breaker adalah plastik tipis yang diletakan di atas subbase agar tidak terjadi
bounding antara subbase dengan pelat beton di atasnya. Selain itu, permukaan
subbase juga tidak boleh di - groove atau di - brush.

f. Alur Permukaan atau Grooving/Brushin


Agar permukaan tidak licin maka pada permukaan beton dibuat alur-alur (tekstur)
melalui pengaluran/penyikatan (grooving/brushing) sebelum beton disemprot
curing compound, sebelum beton ditutupi wet burlap dan sebelum beton mengeras.
Arah alur bisa memanjang ataupun melintang.

3. Faktor Lain yang Mempengaruhi Susunan Perkerasan Kaku


Adapun faktor lain yang mempengaruhi susunan perkerasan kaku antara lain sebagai
berikut:
a. Tulangan
Pada perkerasan beton semen terdpat dua jenis tulangan, yaitu tulangan pada
pelat beton untuk memperkuat pelat beton tersebut dan tulangan sambungan
untuk menyambung kembali bagian – bagian pelat beton yang telah terputus
(diputus). Kedua tulangan tersebut memiliki bentuk, lokasi serta fungsi yang
berbeda satu sama lain. Adapun tulangan tersebut antara lain :
1) Tulangan Pelat
Tulangan pelat pada perkerasan beton semen mempunyai bentuk, lokasi dan
fungsi yang berbeda dengan tulangan pelat pada konstruksi beton yang lain
seperti gedung, balok dan sebagainya. Tebal pelat taksiran dipilih dan total
fatik serta keruusakan erosi dihitung berdasarkan komposisi lalu lintas selama
umur rencana. Jika kerusakan fatik atau erosi lebih dari 100%, tebal taksiran
dinaikkan dan proses perencanaan diulangi.
Tebal rencana adalah tebal taksiran yang paling kecil yang mempunyai total
fatik dan atau total kerusakan erosi lebih kecil atau sama dengan 100%.
Adapun karakteristik dari tulangan pelat pada perkerasan beton semen adalah
sebagi berikut :
 Bentuk tulangan pada umumnya berupa lembaran atau gulungan. Pada
pelaksanaan di lapangan tulangan yang berbentuk lembaran lebih baik
daripada tulangan yang berbentuk gulungan. Kedua bentuk tulangan
ini dibuat oleh pabrik.
 Lokasi tulangan pelat beton terletak ¼ tebal pelat di sebelah atas.
Fungsi dari tulangan beton ini yaitu untuk “memegang beton” agar
tidak retak (retak beton tidak terbuka), bukan untuk menahan momen
ataupun gaya lintang. Oleh karena itu tulangan pelat beton tidak
mengurangi tebal perkerasan beton semen.
2) Tulangan Sambungan
Tulangan sambungan ada dua macam yaitu tulangan sambungan arah
melintang dan arah memanjang. Sambungan melintang merupakan
sambungan untuk mengakomodir kembang susut ke arah memanjang pelat.
Sedangkan tulangan sambungan memanjang merupakan sambungan untuk
mengakomodir gerakan lenting pelat beton
Adapun ciri dan fungsi dari masing – masing tulangan sambungan adalah
sebagai berikut :
- Tulangan Sambungan Melintang
 Tulangan sambungan melintang disebut juga dowel
 Berfungsi sebagai sliding device‟ dan load transfer device’.
 Berbentuk polos, bekas potongan rapi dan berukuran besar.
 Satu sisi dari tulangan melekat pada pelat beton, sedangkan satu
sisi yang lain tidak lekat pada pelat beton
 Lokasi di tengah tebal pelat dan sejajar dengan sumbu jalan.
- Tulangan Sambungan Memanjang
 Tulangan sambungan memanjang disebut juga Tie Bar.
 Berfungsi sebagai unsliding devices dan rotation devices.
 Berbentuk deformed / ulir dan berbentuk kecil.
 Lekat di kedua sisi pelat beton.
 Lokasi di tengah tebal pelat beton dan tegak lurus sumbu jalan.
 Luas tulangan memanjang dihitung dengan rumus seperti pada
tulangan melintang.
b. Sambungan/Joint
Fungsi dari sambungan atau joint adalah mengendalikan atau mengarahkan retak
pelat beton akibat shrinkage (susut) maupun wrapping (lenting) agar teratur baik
bentuk maupun lokasinya sesuai yang kita kehendaki (sesuai desain). Dengan
terkontrolnya retak tersebut, maka retak akan tepat terjadi pada lokasi yang
teratur, dimana pada lokasi tersebut telah kita beri tulangan sambungan.
Sambungan tersebut antara lain :
- Sambungan memanjang dan melintang
 Semua sambungan memanjang dan melintang harus dibuat sesuai dengan
detail dan letak pada Gambar Rencana.
 Semua sambungan melintang harus dibuat sejalur untuk seluruh lebar
perkerasan. Bidang-bidang permukaan sambungan harus diusahakan tegak
lurus terhadap bidang permukaan perkerasan.
 Dalam pembuatan sambungan, perhatian khusus perlu diberikan guna
menghindari ketidakrataan permukaan sambungan tersebut. Apabila pada
sambungan diperlukan, maka harus digunakan mistar 3meter (10gft) untuk
menjamin kerataan pada sambungan tersebut. Pembentukan sambungan
yang ditempatkan didepan perata (screed) dapat dibuat tenggelam (tip),
sedangkan apabila ditempatkan dibelakang perata dapat dipasang
menonjol pada permukaan.
 Sambungan dengan lidah-alur, harus dicetak secara teliti dengan bahan
cetakan yang cukup kuat agar didapat bentuk yang sempurna dengan
menggunakan mesin penghampar acuan geligir.
 Apabila sambungan melintang dilakukan dengan cara menggergaji, maka
penggergajian sambungan melintang harus diusahakan sebelum retak awal
terjadi.

Pada sambungan melintang terdapat 2 jenis sambungan yaitu sambungan susut


dan sambungan lenting. Sambungan susut diadakan dengan cara memasang
bekisting melintang dan dowel antara pelat pengecoran sebelumnya dan
pengecoran berikutnya. Sedangkan sambungan lenting diadakan dengan cara
memasang bekisting memanjang dan tie bar.
Pada setiap celah sambungan harus diisi dengan joint sealent dari bahan khusus
yang bersifat thermoplastic antara lain rubber aspalt, coal tars ataupun rubber
tars. Sebelum joint sealent dicor/dituang, maka celah harus dibersihkan terlebih
dahulu dari segala kotoran.

- Sambungan Pelaksana (Contruction Joints)


 Sambungan pelaksana memanjang
Sambungan ini biasanya digunakan pada sambungan arah memanjang
(diantara jalur-jalur penghamparan yang terpisah) dapat dibentuk baik
dengan cara glinier atau dengan baja cetakan standart. Apabila digunakan
lapisan pondasi bawah stabilisasi, maka sambungannya dapat ditiadakan.

- Sambungan Muai (Expansion Joint)


Sambungan muai harus ditempatkan di antara pertemuan bangunan (misal:
lubang got/manhole, bak penampung) dengan plat perkerasan beton. Kecuali
apabila tidak disebutkan lain dalam Gambar Rencana, maka sambungan
harus [Link] jenis sambungan jadi dengan ketebalan tidak kurang dari
0,6 cm. Jika tidak ditentukan lain, maka untuk sambungan muai melintang
harus dibuat tegak lurus sumbu perkerasan, dan harus dibuat selebar
perkerasan.
 Sambungan Muai pada Ujung-ujung Jembatan. (Expansion Joints at
Bridge Ends)
 Sambungan Muai dengan Ruji.
 Bahan Pengisi Sambungan (Joint Filler).
 Sambungan Susut
1) Sambungan susut memanjang
2) Sambungan susut dan sambungan pelaksanaan melintang
3) Sambungan susut melintang
4) Sambungan pelaksanaan melintang
5) Sambungan isolasi
Pola Sambungan

Pola sambungan pada perkerasan beton semen harus mengikuti batasan-batasan


sebagai berikut :

a. Hindari bentuk panel yang tidak teratur. Usahakan bentuk panel persegi mungkin.
b. Jarak maksimum sambungan memanjang 3-4 meter.
c. Jarak maksimum sambungan melintang 25 kali tebal pelat, maksimum 5,0 meter.
d. Semua sambungan susut harus menerus sampai kerb dan mempunyai kedalaman
seperempat dan sepertiga dari tebal perkerasan masing- masing untuk lapis
pondasi berbutir dan lapis stabilisasi semen.
e. Antar sambungan harus bertemu pada satu tiitik untuk menghindri terjadinya retak
refleksi pada lajur yang bersebelahan.
f. Sudut antar sambungan yang lebih kecil dari 60 derajat harus dihindari dengan
mengatur 0,5 m panjang terakhir dibuat tegak lurus terhadap tepi perkerasan.
g. Apabila sambungan berada dalam area ,5 meter dengan manhole atau bangunan
yang lain, jarak sambungan harus diatur sedemikian rupa sehingga antara
sambungan dengan manhole atau bangunan yang lain tersebut membentuk sudut
tegak lurus. Hal tersebut berlaku untuk bangunan yang berbentuk bundar. Untuk
bangunan berbentuk segiempat, sambungan harus berada pada sudutnya atau di
antara dua sudut.
h. Semua bangunan lain seperti manhole harus dipisahkan dari perkerasan dengan
smbungan muai selebar 12 mm yang meliputi keseluruhan tebal pelat.
i. Perkerasan yang berdekatan dengan bangunan lain atau manhole hars ditebalkan
20% dari keetbalan normal dan berangsur-angsur berkurang sampai ketebalan
normal sepanjang 1,5 meter seperti ditunjukkan pada gambar.
j. Panel yang tidak persegi empat dan yang mengelilingi manhole harus diberi
tulangan berbentuk anyaman sebesar 0,15% terhadap penampang beton semen dan
dipasang 5 cm di bawah permukaan atas. Tulangan harus dihentikan 7,5 cm dari
sambungan.
4. Sistem Penyalur Beban (Load Transfer Devile)
a. Ruji (Dowel)
Batang ruji harus ditempatkan ditengah ketebalan pelat. Posisi ruji pada arab
horizontal dan vertikal harus dijamin dengan menggunakan perlengkapan atau
dengan cara penempatan dengan mesin yang telah teruji. Kepadatan beton yang
baik di sekeliling ruji sangat dituntut agar supaya ruji bisa berfungsi secara
sempurna.
b. Pelapis Ruji (Dowel Coating)
Bagian batang ruji yang bisa bergerak bebas, harus dilapisi dengan bahan
pencegah karat. Sesudah bahan pencegah korosi kering, maka bagian ini harus
dilapisi dengan lapisan tipis pelumas (dengan cara menyapukan) segera sebelum
ruji dipasang. Ujung batang ruji yang dapat bergerak bebas harus dilengkapi
dengan topi/ penutup ruji. Pelapis ruji dari jenis Alastic yang telah teruji dapat
digunakan sebagai pengganti pelumas, atau penggunaan jenis pelapis lainnya
yang dimaksudkan untuk mencegah lekatan dan atau karat, dapat juga
dipertimbangkan.
c. Penutup Sambungan (Joint Sealing)
Bagian atas Sambungan muai dan sambungan yang digergaji harus ditutup
dengan bahan penutup yang disyaratkan, sebelum lalu lintas diizinkan melewati
kekerasan. Celah sambungan harus dibersihkan dari bahan-bahan asing sebelum
bahan penutup dipasang. Semua bidang celah sambungan harus bersih dari
bahan-bahan lepas dan bila digunakan bahan penutup yang dituang panas,
permukaannya harus kering. Bahan penutup harus dipasang dalam celah
sambungan sesuai detail yang ditunjukkan pada gambar rencana. Pemasangan
harus dilakukan sedemikian, sehingga bahan penutup tidak melimpah atau
mencuat diatas permukaan pelat. Setiap kelebihan bahan penutup pada
permukaan pelat harus segera disingkirkan dari permukaan pelat dan dibersihkan.
Bahan penutup sambungan yang dibuang tidak boleh dituangkan pada suhu yang
dapatmenimbulkan ketidak sempurnaan pemasangan. Petunjuk dari pabrik
pembuat bahan penutup dapat digunakan dalam mempersiapkan spesifikasi.
B. Perencanaan Tebal Perkerasan Kaku
1. Besaran Rencana
a. Umur Rencana Umur rencana perkerasan jalan ditentukan atas pertimbangan
klasifikasi fungsional jalan, pola lalu lintas serta nilai ekonomi jalan yang
bersangkutan, yang dapat ditentukan antara lain dengan metode Benefit Cost
Ratio, Internal Rate of Return, kombinasi dari metode tersebut atau car lain yang
tidak terlepats dari pola pengembangan wilayah. Umumnya perkerasan beton
semen daqpat direncanakan dengan umur rencana (UR) 20 tahun sampai 40
tahun.
b. Lalu Lintas Rencana Lalu lintas harus dianalisis berdasarkan hasil perhitungan
volume lalu lintas dan konfigurasi sumbu yang diperoleh berdasarkan data
terakhir (≤ 2 tahun terakhir). Adapun karakterstik kendaraan yang ditinjau yaitu :
- Jenis kendaraan
Untuk keperluan perencanaan perkerasan kaku hanya kendaraan niaga
yang mempunyai berat total minimum 5 ton yang ditinjau.
- Konfigurasi sumbu
 Sumbu tunggal dengan roda tunggal (STRT)
 Sumbu tunggal dengan roda ganda (STRG)
 Sumbu tandem/ganda dengan roda ganda (SGRG)

c. Kekuatan Tanah Dasar


Kekuatan tanah dasar dinyatakan dalam modulus reaksi tanah dasar (k). Nilai k
dapat diperoleh dari hasil korelasi dengan CBR. Nilai CBR rendaman yang
digunakan untuk perencanaan dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang
diambil dari NAASRA (National Association of Australian State Road Authority)
sebagai berikut :
- Log Cs = 1,7 − 0,005 𝑃0,425 + 0,002 𝑃0,075
−𝐿 (0,02 + 0,0004 𝑃0,425…………………………………(1)
- Log Cs = 1,9 − 0,004 𝑃2,36 − 0,005 𝑃0,425
+𝑃0,075/𝑃0,425 [5,20−0,50*𝑃0,075/𝑃0,425] 10−3−0,01 𝐼…………..(2)

Dimana :
Cs = CBR rendaman
P2,36 = Persentase tanah lolos ayakan dengan lubang 2,36 mm
P0,425 = Persentase tanah lolos ayakan dengan lubang 0,425 mm
P 0,075 = Persentase tanah lolos ayakan dengan lubang 0,075 mm
L = Batas menyusut ( shrinkage limit ) tanah ( % )
I = Indeks plastisitas tanah ( % )

Dari kedua persamaan tersebut dapat diperoleh CBR tanah dasar yang akan
digunakan untuk perencanaan dengan persamaan sebagai berikut :

Css = 0,25 ( 3Csmin + Csmaks ) ............................................................ (3)


Dimana :

Css = Nilai CBR rendaman yang digunakan untuk perencanaan

Csmin = Nilai minimum yang diperoleh dari persamaan (1) dan (2)

Csmaks = Nilai maksimum yang diperoleh dari persamaan (1) dan (2)

2. Perencanaan Tebal Pelat


Langkah – langkah dalam perencanaan tebal pelat adalah sebagai berikut :
- Memilih suatu tebal pelat tertentu
- Untuk setiap kombinasi konfigurasi dan beban sumbu serta suatu harga k tertentu,
maka:
a. Tegangan lentur yang terjadi pada pelat beton ditentukan dengan
menggunakan nomogram korelasi beban sumbu dan harga k (ada 3
nomogram, untuk sumbu tunggal roda tunggal, sumbu tunggal roda ganda dan
sumbu ganda roda ganda).
b. Perbandingan tegangan dihitung dengan membagi tegangan lentur yang
terjadi pada pelat dengan kuat lentur tarik (MR) beton.
c. Jumlah pengulangan beban yang diijinkan ditentukan berdasarkan harga
perbandingan tegangan.

3. Perencanaan Tulangan
Tujuan dari penulangan yaitu
a. Membatasi lebar retakan
b. Mengurangi jumlah sambungan melintang
c. Mengurangi biaya pemeliharaan
d. Penulangan Pelat pada Perkerasan Beton Bersambung
C. Pelaksanaan Perkerasan Kaku
1. Persyaratan Sifat Campuran
a. Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan dan
"slump" yang dibutuhkan perawatan dan pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-
19 90 (AASHTO T22), Pd M-16-1996-03 (AASHTO T23), SNI 03-2493-1991
(AASHTO T126), SNI 03-2458-1991 (AASHTO T141).
b. Kuat tekan karateristik beton harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan.
Dengan menggunakan cara pengujian "the third point" kuat lentur karakteristik
harus tidak kurang dari 45 kg/cm2
c. Beton tersebut harus merupakan jenis yang memiliki sifat kemudahan pengerjaan
yang sesuai untuk mencapai pemadatan penuh dengan instalasi yang digunakan
dengan tanpa pengaliran yang tak semestinya. Slump optimum sebagaimana
diukur dengan cara pengujian AASHTO T 199 harus tidak kurang dari 20 mm
dan tidak lebih besar dan 60 mm. Slump tersebut harus dipertahankan dalam
batas toleransi ± 20 mm dari slump optimum yang disetujui. Beton yang tidak
memenuhi persyaratan-persyaratan slump tersebut tidak boleh digunakan untuk
plat beton perkerasan.
d. Bilamana pengujian beton berumur 7 hari menghasilkan kuat beton di bawah
kekuatan yang disyaratkan maka Kontraktor tidak diperkenankan mengecor beton
lebih lanjut sampai penyebab dari hasil yang tidak memenuhi persyaratan tersebut
dapat diketahui dengan pasti dan sampai telah diambil tindakan-tindakan yang
menjamin bahwa produksi beton memenuhi ketentuan yang disyaratkan. Kuat
tekan beton berumur 28 hari yang tidak memenuhi ketentuan harus diperbaiki
sebagaimana disyaratkan. Kekuatan beton dianggap lebih kecil dari yang
disyaratkan bilamana hasil pengujian serangkaian benda uji dari suatu bagian
pekerjaan lebih kecil dari kuat tekan karakteristik.
e. Pekerjaan dapat pula dihentikan dan atau memerintahkan Kontraktor mengambil
tindakan perbaikan untuk meningkatkan mutu campuran atas dasar hasil
pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari. Dalam keadaan demikian, Kontraktor
harus segera menghentikan pengecoran beton yang dipertanyakan tetapi dapat
memilih menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan beton berumur 7 hari
diperoleh, sebelum menerapkan tindakan perbaikan.
f. Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat mencakup
pembongkaran dan penggantian seluruh beton tidak boleh berdasarkan pada hasil
pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari saja, perlu analisis teknis.
2. Penyiapan Tanah Dasar atau Lapis Pondasi
Persiapan penting sebelum penghamparan beton, meliputi berbagai hal
sepertimembentuk, membuat penyesuaian-penyesuaian seperlunya pada permukaan
tanahdasar atau lapis pondasi bawah, dan bila perlu, menambahkan air dan
memadatkankembali permukaan akhir, disesuaikan dengan alinemen dan potongan
[Link] permukaan secara teliti sangat penting bagi pelaksanaan
ditinjau darisegi jumlah beton yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Bila
digunakanmetoda acuan gelincir, dianjurkan agar lapis pondasi bawah dibuat paling
sedikit 60cm lebih lebar pada masing-masing sisi memanjang hamparan, sebagai
landasan roda rantai mesin penghampar. Apabila dalam pelaksanaan penghamparan
digunakanacuan tetap, pembentukan akhir permukaan biasanya dilakukan dengan alat
yang bergerak di atas acuan yang dipasang sesuai dengan rencana [Link]-
bagian permukaan yang menonjol harus dikupas hingga ketinggiansesuatu dengan
yang telah ditetapkan. Bagian-bagian yang rendah harus diisi dandipadatkan sesuai
dengan persyaratan pemadatan. Bila alat pengupas dilengkapidengan sistem pengatur
ketinggian otomatis, maka alat tersebut dapat langsungdioperasikan di atas
permukaan yang akan dibentuk. Pembentukan akhi permukaanlapis pondasi bawah
dengan stabilisasi semen harus diselesaikan sebelum bahanmengeras (yang biasanya
berlangsung antara 2 sampai 6 jam.
3. Acuan Perkerasan
Pondasi acuan harus dipadatkan dan dibentuk sesuai dengan alipyemen
danketinggian jalan yang bersangkutan, sehingga acuan pada waktu dipasang,
dapatdisangga secara seragam pada seluruh panjangnya dan terletak pada elevasi
yang benar. Pembuatan galian untuk meletakkan acuan pada ketinggian yang tepat,se
baikuya dilakukan dengan cara mengupas/mengeruk. Bekas galian di kiri dan
kanan pondasi acuan, harus diisi dan dipadatkan kembali tiap lapis dengan tebal
setiap lapistidak boleli lebih besar dari 1,25 cm. Alinyemen dan elevasi acuan harus
diperiksadan bila perlu diperbaiki menjelang penghamparan [Link] terdapat
acuan yang rusak atau sesudah pondasi yang tidak stabildiperbaiki, acuan harus
disetel kembali. Acuan harus dipasang cukup jauh di depan tempat penghamparan
beton sehingga kemungkinan pemeriksaan dan perbaikan acuan tanpa mengganggu
kelancaran penghamparan. Setelah acuan dipasang pada posisi yang benar, tanah
dasar atau lapis pondasi bawah pada kedua sisi luar dandalam dasar acuan harus
dipadatkan dengan baik, menggunakan alat pemadat mesin atau manual. Acuan harus
disangga pada tempatnya, paling sedikit dengan tiga pasak padasetiap 3 meter (10 ft)
panjang. Setiap bagian acuan harus benar-benar terikat kuatsehingga tidak dapat
bergerak. Pada setiap titik acuan tidak boleh menyimpang lebihdari 0,64 cm (V4
inch) dari garisnya. Tidak diizinkan adanya penurunan atau pelenturan acuan yang
berlebihan akibat peralatan pelaksanaan. Sebelum penghamparan dilakukan sisi
dalam acuan harus diminyaki.
4. Pemasangan Tulangan
a. Apabila pada perkerasan bersambung digunakan tulangan, maka tulangan
tersebut harus terdiri dari anyaman kawat dilas (welded wire
fabric).Kondisi permukaan tulangan yang berkaitan dengan bahan asing
dan kerak. Lebar dan panjang anyaman kawat atau anyaman batang baja harus
sedemikian rupa, sehingga pada waktu anyaman tersebut dipasang, kawat/batang
baja yang paling pinggir terletak tidak kurang dari 5 cm (2 inch) atau tidak lebih
dari 10cm (4 inch) dari sambungan plat.
b. Apabila perlengkapan tulangan ditunjukkan datum Gambar Rencana,
maka batang-batang baja pada setiap persilangan harus diikat kuat. Batang batang
baja yang disambung, bagian ujung-ujungnya harus berimpit sepanjang tidak
kurang dari 30 kali diameternya.
c. Apabila anyaman batang baja dibuat di pabrik dengan cara mengelas pada tiap
persilangan batang-batang tersebut, maka bagian ujung-ujung batang memanjang
harus berimpit sepanjang minimum 30 kali diameternya.
Apabila pola anyaman sedemikian rupa sehingga batang-batang memanjang tepi
atau yang ujung batang-batang melintangnya tumpang tindih tersebut
maka, batang-batang baja harus mempunyai jarak tidak kurang dari 5 cm (2 inch)
agar campuran beton dapat dipadatkan dengan baik
d. Ujung lembar anyaman kawat baja harus disusun ditumpang-tindihkan, lembar
anyaman harus diikat kuat untuk mencegah pergeseran, terutama pada saat ditarik
oleh mesin penghampar.
e. Apabila pelat dibuat dengan dua kali mengecor, maka tebal makaimum lapis
pertama adalah 10 cm untuk tebal pelat S 15 cm dan tebal maksimum
lapis pertama 2 /3 dari tebal pelat apabila tebal pelat 15 cm. Permukaan lapis
pertama merupakan tempat untuk meletakkan tulangan. Penghamparan lapisan
pertama harus mencakup seluruh lebar dengan panjang yang cukup untuk
memungkinkan agar anyaman dengan panjang penuh dapat digelar
padakedudukan akhir tanpat erjadi penyimpangan lebih jauh. Untuk
mencegah pergeseran, anyaman yang berdampingan harus diikat dengan kawat be
ton. Dalam pengecoran lapisan berikutnya, adukan dituang di, atas tulangan.
Untuk jangka waktu tertentu permukaan beton lapis pertama tidak boleh
dibiarkan terbuka, terutama pada keadaan cuaca panas atau berangin. Biasanya 30
menit merupakan jangka waktu maksimum yang masih diizinkan. Posisi tulangan
selama penghamparan harus selalu diperiksa dan apabila dipandang perlu harus
dilakukan perbaikan.
f. Apabila beton dibuat dengan penghamparan satu lapis maka lembar
anyamankawat atau anyaman batang baja dapat diletakkan di atas
permukaanhamparan, kemudian anyaman tersebut dimasukkan (dengan mesin)
dengancara menggetarkan atau menekannya sampai elevasi yang dikehendaki.
Pada pemasangan tersebut harus diperhatikan agar beton diatas kawat/batang baja
tidak pecah/retak atau mengakibatkan perubahan kedudukan anyaman dariyang
semestinya. Pada setiap sambungan melintang harus selalu diperiksa untuk
memastikan tersedianya jarak antara sambungan dengan tepi anyaman.
g. Apabila dikehendaki penggunaan beton menerus dengan tulangan, sebagaimana
tercantum dalam gambar rencana, maka tulangan harus dipasang sedemikian rupa
sehingga mempunyai selimut tidak kurang dari 5 cm (2 inch) dan tulangan
melintang (sebagai anggota anyaman) tidak boleh terletak di bawah tengah
tengah tebal pelat, kecuali apabila dikehendaki lain atau ditunjukkan dalam
gambar rencana. Apabila beton dibuat dengan penghamparan satu
lapis, maka tulangan harus diletakkan pada dudukan agar pada saat pengecoran
tulangan tersebut dapat ditahan pada kedudukan yang telah ditentukan. Apabila
tidak digunakan tulangan melintang, tulangan dapat dipasang melalui pipa yang
terpasang pada mesin penghampar. Tumpangan (overlaping) pada sambungan
untuk batang tulangan, anyaman batang bajaatau anyaman kawat dilas yang
dibuat di pabrik biasanya ditunjukkan padagambar rencana dan harus diperiksa
selama pelaksanaan. Tulagnan 18 yang cukup dan penempatan yang semestinya
adalah sangat penting. Bahaya kerusakan pada sambungan tulangan pada umur
muda dapat dikurangi dengan cara mengatur pola sambungan secara miring atau
bertangga dari satu tepi perkerasan ke tepi lainnya. Panjang tumpangan tulangan
pada sambungan harus diperlihatkan pada gambar rencana atau spesifikasi dan
harus tidakkurang dari 30 kali diameternya, tapi tidak boleh kurang dari 40 cm
(16 inch).
5. Penggergajian
Penggergajian harus dilakukan sedemikian sehingga tidak terjadi penggumpalan pada
beton muda dan pada saat belum terjadi retak acak, waktu penggergajian
terbaik yaitu antara 8-20 jam setelah pengecoran.
Dengan cara penggergajian baik dengan menggunakan amta gergaji intan (diamond
blades), bilah pengikis bawah (wet abrasive blades) maupun bila pengikis kering
(dry abrasive blades), harus dilakukan secara perlahan-lahan, untuk mencegah
terjadinya sambungan yang kasar. Kecenderungan retak acak akibat
keterlambatan penggergajjan pada sambungan memanjang lebih kecil dibanding pada
sambungan melintang.
6. Sekat Pemisah Tipis
Sekat pemisah dari polyethyline atau bahan lainnya yang mempunyai tebal tidak
kurang dari 0,33 mm, dapat disisipkan ke dalam beton plastis dengan mesin. Sekat
pemisah harus terpasang secara vertikal. Penyisipan jangan sampai mengakibatkan
seluruh sekat terbenam di bawah permukaan plat atau jangan sampai menimbulkan
pelepasan butir (revelling). Sambungan ini jangan ditutup (sealed ). Sekat pemisah
polyethylene tidak dapat mengendalikan terjadinya retak memanjang.
7. Pengecoran
a. Peralatan pengecoran harus mampu mengalirkan adukan beton dari
mesin pengaduk atau alat pengangkut dan menuangkannya pada setiap tempat
tanpa terjadi pemisahan butir (segregasi) dan tanpa merusak permukaan yang
dihampar. Pada pekerjaan besar, pengecoran seringkali menuntut penggunaan ulir
(screw), ban berjalan (belt), atau wadah (hopper) sebagai alat penghampar
adukan. Peralatan ini biasanya beroperasi dari bahu jalan dan menuangkan
adukan ke seluruh lebar permukaan yang telah dibentuk. Apabila
dalam pengecoran digunakan mesin pengaduk di tempat, penuangan adukan
beton kemesin penghampar,dapat dilakukan dengan menggunakan wadah
(bucket) dalengan (boom). Apabila pengecoran dilakukan dengan mesin
pengaduk berjalan (transit mixer ), dan untuk menuangkan adukan hanya tersedia
talang(chute), maka disarankan dilakukan penghamparan jalur sesaat (lane at
atime). Apabila beton tanpa tulangan tidak dilaksanakan dengan
mesin penghampar acuan gelincir, maka biasanya adukan dituangkan (di atas per
muakaan) di depan mesin penghampar dengan men ggunakan truk pelimpah
(dump truck).
b. Apabila lebar penghamparan tidak sama (misal pada jalan
masuk/ramp, persimpangan), maka metoda pengecoran yang biasa tidak selalu da
pat diterapkan. Meskipun demikian, perlu diperhatikan agar untuk mencapai
kedudukan akhir, adukan jangan dituang secara sembarangan dengan didorong
atau digetarkan. Perataan secara manual perlu dilakukan, untuk menghindarkan
pemisahan butir.
8. Penghamparan
Pada pekerjaan besar, biasanya harus disediakan baik penghampar jenisdayung
(paddle) atau ulir (auger), atau ban berjalan, maupun jenis wadah (hopper) dan ulir
(auger), kecuali apabila digunakan penghampar acuan gelincir. Pada
mesin penghampar acuan gelincir, yang peralatan penghampar (speader) merupakan
bagian yang sudah melekat (built-in). Untuk mengurangi pemisahan butir, semua
peralatan harus dioperasikan secara seksama.
Pada pekerjaan yang lebih kecil, penghamparan dapat dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain dengan peralatan manual. Dalam hal apapun, beton
harus dihampar dengan ketebalan yang cukup untuk pemadatan dan penyelesaian
akhir. Apabila tulangan terdiri dari anyaman dan harus diletakkan secara manual,
maka beton di bawah anyanian harus dihainpar terlebih dahulu tersendiri (struck-off),
kemudian anyaman diletakkan dan selanjutnya lapisan berikutnya dihampar.
Pada pekerjaan besar, kadang-kadang digunakan dua buah mesin penghampar.
Apabila tulangan yang berbentuk anyaman akan dimasukkan pada kedudukan
yangdikehendaki dengan cara menggetarkan atau menekannya dengan mesin, maka
betondapat dihampar langsung untuk seluruh tebal
9. Pemadatan
a. Metoda
Petunjuk pemadatan beton dapat dilihat pada Buku Petunjuk Pelaksanaan Beton.
Pemadatan pada sambungan dan tepi-tepi, penekanan, pemadatan secara tumbuk,
dan pemadatan secara getar, sampai tingkat tertentu cukup efektif, tapi tidak
secara otomatis menjamin kepadatan beton. Mesin getar, baik jenis internal
maupun jenis permukaan dapat memberikan hasil yang baik.
b. Prosedur
Seluruh perkerasan harus dipadatkan seefektif mungkin. Perhatian khusus harus
diberikan terhadap tepi-tepi sepanjang sumbu, dan pada sambungan-sambungan
lainnya. Mesin pemasang anyaman dapat memberikan sebagian kepadatan.
Penggetar internal dioperasikan di dalam beton untuk mengeluarkan udara
sewaktu mesin penghampar bergerak. Mesin penggetar harus diberhentikan
apabila mesin penghampar berhenti.
c. Keadaan Khusus
Sekitar ruji dan dudukan, pada tepi-tepi dan sudut-sudut atau
sekitar pembuangan air (drains), dan pada pelat-pelat tidak beraturan pada jalan
masuk/ramps dan persimpangan, diperlukan ketelitian khusus untuk menjamin
kepadatan yang baik.

10. Penyelesaian Akhir


a. Mesin penghampar acuan gelincir
Mesin penghampar acuan gelincir dirancang untuk sekali lintasan dapat
menghampar, memadatkan, membentuk permukaan dan meratakan beton yang
masih plastis, sehingga dapat memberikan beton yang padat, seragam, dan untuk
mendapatkan permukaan yang disyaratkan, hanya memerlukan penyelesaian
akhir (dengan tangan) yang minimum. Mesin penghampar harus menggetarkan
beton pada seluruh lebar dan ketebalan. Penggetaran biasanya dilakukan dengan
jenis penggetar internal. Mesin penghampar acuan gelincir sedapat mungkin
harus dioperasikan dengan gerakan yang menerus, dan seluruh operasi
pengadukan, pengangkutan, dan penghamparan harus terkoordinasi agar supaya
dapat dicapai kecepatan yang seragam dan penghentian mesin penghampar yang
minimum. Apabila mesin penghampar perlu dihentikan, maka elemen
getarnyapun harus dihentikan. Mesin penghampar acuan gelincir mampu
mengatasi kesalahan bentuk permukaan lapis pondasi bawah atau tanah dasar
secara teliti, dengan menggunakan peralatan otomatis.
b. Peralatan
Persyaratan uneralatan penyelesaian akhir harus tidak terlalu agar supaya tidak
menutup kemungkinan penggunaan peralatan baru yang lebih baik. Apabila
digunakan secara tepat, alat penyelesaian akhir yang berbentuk pipa (tube) bias
cukup efektif.
c. Prosedur
Terlepas dari jenis alat yang digunakan, hasil yang balk dapat dicapai bila semua
peralatan dikoordinasikan, distel secara tepat, dan dioperasikan oleh etugas yang
berpengalaman. Pada setiap operasi senantiasa disediakan sedikit cadangan beton
di depan peralatan penyelesaian akhir.
d. Pembentukan tekstur permukaan
Permukaan perkerasan harus mencakup tekstur halus dan kasar. Tekstrur harus
diperoleh dari pasir dalam mortar semen. Tekstur kasar dibentuk dengan cara
sebagaimana yang diuraikan di bawah. Berbagai jenis pola tekstur kasar dapat
diterapkan pada permukaan beton. Pada suatu pekerjaan, mungkin diperlukan
tekstur yang berbeda. Metoda pembentukan tekstur harus dipertimbangkan
terhadap lingkungan, kecepatan dan kepadatan lalu lintas, topografi serta
geometrik perkerasan. Tekstur yang kesat dapat diciptakan pada perkerasan beton
dengan menerapkan satu atau lebih metoda sebagai berikut: menarik lembargoni,
menyapu permukaan, menggores dengan sisir kawat, atau metoda lainnya.
Kekesatan yang sangat tinggi mungkin diperlukan untuk mendapatkan keamanan
tambahan pada daerah-daerah kritis, misal sekitar gerbong tol, persimpangan
padat, atau lokasi laindimana frekuensi pengereman, percepatan, atau
pembelokan sering terjadi. Hal ini dapat diatasi dengan pembentuk tekstur yang
lebih dalam dari pada yang biasanya, pengaluran (grooving), atau jika diperlukan
dengan memberikan aluminium oxida, silicon carbide, atau partikel-partikel lain
yang tahan aus ke permukaan beton. Pengaluran harus dilakukan antara 1-3 jam
sesudah pengecoran.
e. Perapihan tepi
Tepi-tepi sepanjang agaris cetakan dan pada sambungan muai harus dirapihkan
dengan peralatan pembentuk tepi. Sambungan susut, kecuali apabila yang
dibentuk. dengan cara menggergaji juga harus dirapihkan. Kadang-kadang
sambungan pelaksanaan juga perlu dirapihkan, kecuali apabila sambungan
tersebut akan ditakik dan diisi.
f. Jalan masuk dan persimpangan
Biasanya pada jalan masuk dan persimpangan digunakan pelat-pelat bentuk
tak lazim untuk menghindarkan penggunaan alat mekanik yang rumit. Meskipun
bagian perkerasan ini cenderung rusak lebih awal dibandingkan dengan bagian
perkerasan lainnya, sehingga diperlukan usaha tambahan untuk menghampar dan
menyelesaikan beton pada jalan masuk dan persimpangan tanpa memaksakan diri
menggunakan beton dengan slump sangat tinggi atau cara-cara lainnya yang
masih layak.
g. Persyaratan permukaan
1) Permukaan perkerasan pada jalur utama
Pada jalur utama, permukaan perkerasan arah memanjang harus mempunyai
perbedaan kerataan maksimum 3 mm apabila diukur dengan mistar 3 meter.
Penyimpangan yang lebih dari 3 mm tapi lebih kecil atau sama dengan 13
mm, harus diperbaiki dengan cara menggerinda sedemikian rupa, sehingga
tidak memberikan permukaan yang licin. Jika lebih dari 13 mm, perkerasan
harus diganti atau jika mungkin diberi lapis tambah. Dalam arah melintang,
penyimpangan sampai 6,5 mm dalam 3 meter masih diizinkan.
2) Permukaan perkerasan jalan masuk dan persimpangan
Pada jalan masuk dan persimpangan, toleransi permukaan untuk
jenis perkerasan ini, sulit dipenuhi. Usaha tambahan harus dilakukan denga
menggunakan teknik pelaksanaan yang dapat menghasilkan toleransikerataan
permukaan seperti pada jalur utama. Atas dasar pertimbangan tersebut,
toleransi kerataan permukaan arah memanjang dapat dinaikkan.
D. Perawatan dan Perlindungan Beton
Setelah penyelesaian akhir selesai dan lapisan air menguap dari permukaan atau
segera setelah pelekatan dengan beton tidak terjadi maka seluruh permukaan beton harus
segera ditutup dan dipelihara sesuai dengan salah satu metoda yang diuraikan di bawah.
Dalam semua hal, dimana perawatan memerlukan penggunaan air, maka operasi
perawatan harus dititikberatkan pada penyediaan air. Biasanya masa perawatan
dilakukan selama 7 hari, tapi waktu tersebut dapat diperpendek bila 70 persen kekuatan
tekan atau lentur beton dapat dicapai lebih awal
1. Perawatan dengan Selaput
Setelah lapisan air menguap dari permukaan perkerasan, maka permukaan beton harus
segera dilapisi secara merata dengan bahan perawat selaput cairan dengan
menggunakan mesin penyemprot yang sudah teruji dengan jumlah tidak kurang dari
0,27 liter per m. Untuk menjamin kekentalan dan penyebaran pigmen yang merata
dalam bahan perawat, maka bahan perawat dalam tangki penampung harus diaduk
menjelang dipindahkan ke dalam penyemprot dan selama penyemprotan harus tetap
diaduk. Pada bagian-bagian perkerasan di mana penggunaan mesin penyemprot
tidak praktis, sebaiknya digunakan alat penyemprot manual yang telah teruji. Bidang-
bidang tepi perkerasan harus segera dilapisi paling lambat 60 menit setelah acuan
dibongkar. Apabila pada masa perawatan terjadi kerusakan lapisan perawatan, maka
lapisan perawat tersebut harus segera diperbaiki.
2. Perawatan dengan Lembar Goni atau Terpal
Permukaan dan bidang tegak beton harus seluruh di tutup denganlembar goni/ terpal.
Sebelum ditutup, lembar penutup harus dibuat jenuh [Link] penutup harus
diletakkan sedemikian rupa sehingga menempeldengan permukaan beton, tetapi tidak
boleh diletakkan sebelum beton cukupmengeras guna mencegah pelekatan. Selama
masa perawatan, lembar penutupharus tetap dalam keadaan basah dan tetap pada
tempatnya.
3. Perawatan dengan Kertas Kedap Air
Setelah beton cukup mengeras (untuk mencegah pelekatan), maka seluruh permukaan
beton harus segera ditutup dengan kertas kedap air. Tepi-tepi lembar kertas yang satu
harus menumpang 30 cm dengan tepi-tepi lembaryang satu harus menumpang 30 cm
dengan tepi-tepi lembar lainnya yang berdampingan. Kertas kedap air harus cukup
lebar untuk menutup seluruh lebar perkerasan termasuk bidang-bidang tegak setelah
acuan dibongkar. Kertas perawatan harus ditempatkan dan dijaga dalam keadaan
menempel pada permukaan dan bidang-bidang tegak selama masa perawatan. Kertas
yang sobek dan tidak bias ditambal atau diperbaiki, harus dibuang. Kertas perawatan
harus diletakkan hanya pada permukaan yang lembab. Apabila permukaan beton
tampak kering maka permukaan tersebut harus dibasahi dengan cara menyemprot
secara halus untuk mencegah kerusakan pada beton muda.
4. Perawatan dengan Lembar Polyethylene Putih
Permukaan dan bidang-bidang tegak perkerasan harus seluruhnyaditutup dengan
lembar polyethylene putih yang harus diletakkan ketika permukaan beton masih
lembab. Jika permukaan tampak kering, maka permukaan harus dibasahi dengan
penyemprotan air secara halus sebelumlembar dipasang. Lembar-lembar yang
berdampingan harus mempunyai lebartumpangan 45 cm dan harus ditindih
sedemikian rupa agar tetap menempel pada permukaan. Lembar penutup harus
mempunyai lebar yang cukup untuk dapat menutup permukaan dan bidang-bidang
tegak setelah acuan dibongkar. Lembar polyethylene harus tetap ditempatnya selama
masa perawatan. Untukmemudahkan penanganan, tebal minimum lembar
polyethylene sebaiknya 0,1mm.
5. Perawatan Celah Gergajian
Selama perawatan celah gergajian perkerasan harus dilindungi
dari pengeringan yang cepat. Hal ini seringkali dilakukan dengan kertas pilihan, atau
bahan lainnya yang sesuai.
6. Perlindungan Perkerasan Yang Sudah Selasai
Perkerasan yang sudah selesai dan perlengkapannya harus dilindungi dari lalu lintas
umum dan lalu lintas pelaksanaan. Perlindungan ini termasuk penyediaan petugas
untuk mengatur lalu lintas; memasang dan memelihararambu peringatan, lampu
lampu, rintangan, jembatan penyeberangan. Setiapkerusakan yang terjadi pada
perkerasan sebelum dibuka. untuk lalu lintas umum, harus diperbaiki atau diganti.
7. Perlindungan Terbadap Hujan
Untuk melindungi beton yang belum cukup keras terhadap pengaruh hujan, maka
setiap saat harus tersedia bahan untuk melindungi beton tersebut, seperti lembar goni,
terpal, kertas perawat, atau lembar plastik. Disamping itu, apabila digunakan metoda
acuan gelincir, maka harus direncanakan penanggulangan darurat untuk melindungi
permukaan dan tepi. Apabila diperkirakan akan segera turun hujan, maka semua
petugas harus mengambil tindakan yang perlu guna memberikan perlindungan
menyeluruh kepada beton yang belum mengeras.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Perkerasan kaku adalah suatu susunan kontruksi perkerasan dimana sebagai
lapisan atas digunakan plat beton yang terletak diatas pondasi atau langsung diatas tanah
dasar pondasi (sub grade). Plat beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang
tinggi, akan mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar yang melingkupi daerah
yang cukup luas. Dengan demikian, bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan
diperoleh dari plat beton itu sendiri.
Yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan dalam memikul bebanlalu
lintas adalah kekuatan beton itu sendiri. Sedangkan kekuatan dari tanah dasarhanya
berpengaruh kecil terhadap kekuatan daya dukung steuktural perkerasan [Link]
pondasi bawah, jika digunakan di bawah plat beton, dimaksudskan untuk drainase dalam
menghindari terjadinya “pumping”.
Surface Course merupakan lapisan yang langsung berhubungan dengan beban
lalu lintas dan terbuat dari PCC. Hal ini memberikan karakteristik gesekan, kelicinan,dan
drainase. Selain itu, memiliki fungsi sebagai lapisan waterproofing base, subbase,dan
tanah dasar. Surface Course dapat bervariasi dalam ketebalan tetapi biasanyaantara 150
mm (6inci) (untuk muatan ringan) dan 300 mm (12inci) (untuk beban berat dan lalu
lintas tinggi).
Base Course berada di bawah lapisan permukaan. Hal ini memberikan distribusi
beban tambahan, kontribusi dan resistensi drainase, memberikan dukungan lapisan di
atasnya dan platform yang stabil untuk peralatan kontruksi (ACPA, 2001). Biasa juga
membantu mencegah gerakan tanah dasar karena tertekan dari atas. Subbase course
adalah bagian dari struktur perkerasan antara base course dan tanah dasar. Fungsi utama
adalah dapat pendukung struktural tapi juga dapat:
a) Meminimalisir terjadinya ambles pada jalan
b) Meningkatkan drainase

Subbase umumnya terdiri dari bahan bahan kualitas lebih rendah dari pada
lapisan atas, tetapi lebih baik daripada tanah dasar. Bahan agregat yang bagus dan
berkualitas tinggi mengisi struktural. Sebuah subbase tidak selalu dibutuhkan atau
digunakan. Sambungan dipasang pada perkerasan beton semen untuk mengendalikan
penyebaran retakan akibat susut serta untuk menampung pemuaian pelat akibat
perubahan suhudan kelembaban.

Sambungan memanjang biasanya merupakan sambungan pelaksanaan dan


sambungan susut dipasang membujur jalan. Sedangkan sambungan melintang
dapat berupa sambungan susut, sambungan muai dan juga sambungan pelaksanaan.

Setelah penyelesaian akhir selesai dan lapisan air menguap dari permukaan
atausegera setelah pelekatan dengan beton tidak terjadi maka seluruh permukaan beton
harus segera ditutup dan dipelihara sesuai dengan salah satu metoda yang diuraikan
di bawah.

Dalam semua hal, dimana perawatan memerlukan penggunaan air, maka operasi
perawatan harus dititikberatkan pada penyediaan air. Biasanya masa perawatan
dilakukan selama 7 hari, tapi waktu tersebut dapat diperpendek bila 70 persen kekuatan
tekan atau lentur beton dapat dicapai lebih awal.

B. Saran
Pembuatan makalah ini ditujukan kepada mahasiswa khususnya jurusan sipil agar
sedikit mengerti mengenai perkerasaan kaku. Dengan bekal materi yang ada dapat
memambantu mahasiswa dalam proses perkuliahan. Untuk pengetahuan dan pengalaman
yang lebih mendalam dibutuhkan pembelajaran yang lebih banyak dan terperinci.
DAFTAR PUSTAKA

Wimbawa, Arta. 2013. Perkerasan Kaku, (Online)


([Link] diakses 9 November 2014.

Ekabimaranto, A., Fandi. 2012. Perkerasan Kaku, (Online),


([Link] , diakses 10 November 2014

Common questions

Didukung oleh AI

Lapis pondasi bawah berfungsi untuk mengendalikan pengaruh kembang susut tanah dasar, mencegah intrusi dan pemompaan pada sambungan, serta memberikan dukungan yang mantap dan seragam pada pelat beton . Subbase juga mengurangi kerusakan akibat pembekuan, mengurangi retak, dan menyediakan lantai kerja bagi alat berat . Meski bukan bagian struktural utama, subbase berperan penting dalam mendukung keseluruhan struktur perkerasan kaku .

Komponen utama dari perkerasan kaku adalah tanah dasar (subgrade), lapis pondasi (subbase), lapis dasar (base course), dan pelat beton semen mutu tinggi . Tanah dasar merupakan bagian permukaan jalan yang mendukung konstruksi di atasnya dan memiliki persyaratan seperti lebar dan keseragaman daya dukung . Lapis pondasi berfungsi menyediakan lantai kerja rata dan seragam serta meningkatkan kapasitas reaksi tanah dasar . Lapis dasar memberikan distribusi beban tambahan serta mendukung stabilitas peralatan konstruksi . Pelat beton semen bertindak langsung sebagai distribusi beban lalu lintas ke tanah dasar .

Memperhatikan pola sambungan dalam perkerasan kaku penting untuk mengurangi risiko retak yang acak dan tidak terkendali pada beton . Sambungan yang terencana baik mengarahkan retak pada lokasi yang sudah dikuatkan sehingga tidak mengganggu struktur keseluruhan perkerasan. Pengaturan pola sambungan dapat dilakukan dengan cara miring atau bertangga .

Teknik perawatan penting untuk menjaga perkerasan kaku meliputi perlindungan dari lalu lintas selama belum siap digunakan, perawatan sambungan gergajian untuk mencegah pengeringan cepat, dan perlindungan dari hujan secara darurat sebelum beton mengeras . Selain itu, segala kerusakan sebelum dibuka untuk lalu lintas umum harus diperbaiki .

Perkerasan beton semen bertulang dengan sambungan (Jointed reinforced concrete pavement) menggunakan tulangan untuk menahan retak yang dihasilkan dari susut dan lenturan . Sedangkan, perkerasan beton semen prategang (Prestressed concrete pavement) menggunakan teknologi prategang untuk menambah kekuatan beton, sehingga mampu menopang beban lebih besar dengan ketebalan lebih kecil .

Persiapan tanah dasar untuk perkerasan kaku harus memenuhi beberapa syarat seperti lebar, kerataan, kemiringan melintang, keseragaman daya dukung, dan keseragaman kepadatan . Keseragaman tanah dasar penting untuk menunjang beban lalu lintas meskipun perubahan daya dukung tanah dasar tidak berpengaruh besar pada konstruksi perkerasan kaku .

Sambungan dalam perkerasan kaku berfungsi untuk mengendalikan retak pelat beton akibat susut maupun lentur dan untuk menampung pemuaian akibat perubahan suhu dan kelembaban . Jenis sambungan yang ada meliputi sambungan memanjang, melintang yang dapat berupa sambungan susut, sambungan lenting, sambungan muai (expansion joint), dan sambungan pelaksana (construction joint).

Kekuatan lentur beton signifikan dalam perencanaan perkerasan kaku karena mencerminkan kekuatan yang paling cocok untuk menjelaskan tegangan kritis yang dialami perkerasan beton akibat pembebanan lalu lintas yang menyebabkan lenturan . Dengan ini, perencanaan dapat dilakukan untuk memastikan pelat beton memiliki kekuatan cukup dalam mengatasi beban tersebut .

Joint sealant dalam sambungan perkerasan kaku digunakan untuk mengisi celah sambungan, melindungi dari kotoran dan air yang dapat merusak sambungan dan retakan. Sealant dari bahan thermoplastic seperti rubber asphalt mencegah inflitrasi yang dapat merusak struktur . Sebelum sealant dicor, celah harus bersih dari kotoran .

Sambungan muai pada perkerasan kaku ditempatkan di antara plat perkerasan dan bangunan lain, misalnya manhole, untuk menampung pemuaian pelat akibat perubahan suhu . Sambungan ini biasanya terbuat dari bahan dengan ketebalan tertentu yang dirancang untuk memfasilitasi pergerakan plat tanpa menimbulkan retak atau kerusakan .

Anda mungkin juga menyukai