BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum
1. Lokasi dan Topografi
Secara administratif konsesi penambangan PT. Nusa Alam Lestari
termasuk dalam wilayah Parambahan, Kec. Talawi, Kota Sawahlunto,
Sumatera Barat. Jarak antara daerah penambangan dengan Kota Padang ±
90 km disebelah timur Kota Padang, ditempuh dengan kendaraan roda
empat pada jalan Lintas Sumatra melalui Padang - Kota Solok - Kota
Sawahlunto dengan waktu tempuh ± 3-4 jam, yang dapat dilihat pada
Gambar 1.
Gambar 1. Peta Kesampaian Daerah Lokasi PT. Nusa Alam Lestari
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2015)
7
8
Secara geografis wilayah penambangan PT. Nusa Alam Lestari
terletak pada koordinat 100o45’48’’ BT – 100o46’48” BT dan 00o36’45” LS –
00o37’12” LS.
Koordinat geografis batas wilayah Izin Usaha Penambangan (IUP)
operasi produksi batubara dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Koordinat Batas Wilayah Kuasa Penambangan (KP) Eksploitasi
No. Titik Bujur Timur Lintang (LU/LS)
koordinat (o) (') (") (o) (') (") Ket
1 100 45 48.19 0 36 54.35 LS
2 100 45 54.50 0 36 54.35 LS
3 100 45 54.50 0 36 51.80 LS
4 100 45 59.70 0 36 51.80 LS
5 100 45 59.70 0 36 53.65 LS
6 100 46 9.00 0 36 53.65 LS
7 100 46 9.00 0 36 49.78 LS
8 100 46 22.40 0 36 49.78 LS
9 100 46 22.40 0 36 45.84 LS
10 100 46 48.00 0 36 45.84 LS
11 100 46 48.00 0 37 8.21 LS
12 100 46 30.20 0 37 8.21 LS
13 100 46 30.20 0 37 12.00 LS
14 100 44 58.67 0 37 12.00 LS
15 100 44 58.67 0 37 5.50 LS
16 100 44 14.45 0 37 5.50 LS
17 100 44 14.45 0 36 59.00 LS
18 100 45 48.19 0 36 59.00 LS
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2009)
Berikut peta lokasi IUP OP batubara PT. Nusa Alam Lestari, Desa
Salak, Kec. Talawi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini:
9
Gambar 2. Peta Lokasi Wilayah IUP PT. Nusa Alam Lestari
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2015)
2. Iklim dan Curah Hujan
Daerah tambang PT. Nusa Alam Lestari beriklim tropis dengan
suhu berkisar antara 22oC sampai 30oC dan terbagi dalam dua musim yaitu
musim hujan dan musim kemarau. Curah hujan di daerah PT. Nusa Alam
Lestari 2760,8 mm/tahun, sedangkan untuk curah hujan tertinggi 647 mm
10
pada bulan Oktober dan terendah 102,8 mm pada bulan Februari. (Sumber:
PT. Nusa Alam Lestari).
Dari data pos pengamatan curah hujan Kecamatan Talawi, jumlah
hari hujan daerah penyelidikan untuk tahun 2000 adalah 188 hari, volume
curah hujan 1.598,91 mm3 (rata-rata 385,43 mm3) dengan lama hujan 125
jam. Musim hujan di daerah penyelidikan berlangsung antara bulan
November hingga April, sementara suhu udara minimum dan
maksimumnya 25o C dan 32o C. Secara terperinci, curah hujan dan
banyaknya curah hujan yang mempengaruhi iklim.
3. Kondisi Geologi Regional
a. Kondisi Geologi Regional
Endapan batubara terjadi pada kala oligosen diendapkan dalam
cekungan antara gunung (Inter Mountain Basin) yang dikenal dengan
Cekungan Ombilin dan mempunyai luas ± 800 km2 yang berkembang
sejak awal zaman tersier memanjang pada arah barat – tenggara,
searah dengan struktur geologi yang banyak terdapat patahan (fault)
dan lipatan (fold).
Lokasi penambangan batubara PT. NAL sekarang ini terletak
dibagian barat cekungan ombilin dan terdapat pada formasi batuan
yang dikenal dengan nama Formasi Sawahlunto. Secara umum
lapisan tanah penutup batubara terdiri dari batu lempung (clay stone),
batu pasir (sand stone), batu lanau (silt stone).
11
Batubara ini terletak dibagian barat cekungan ombilin dan
terdapat pada formasi batuan yang dikenal dengan nama Formasi
Sawahlunto. Secara umum lapisan tanah penutup batubara terdiri dari
Batu Lempung (claystone), Batu Pasir (sandstone), dan Batu Lanau
(siltstone).
Kota Sawahlunto terletak diformasi Sawahlunto, batuan yang
terbentuk pada zaman itu diberi istilah kata Eochen sekitar 40 – 60
juta tahun yang lalu. Para ahli geologi berpendapat bahwa kepulauan
Nusantara yang kita kenal sekarang ini terbentuk sekitar 4 juta tahun
yang lalu. Mereka menduga ketika formasi Sawahlunto terbentuk,
pulau Sumatera belum ada seperti yang kita kenal sekarang ini.
Batuan tertua dari zaman pra-tersier yang terangkat ke
permukaan dengan cara struktur garben, diendapkan batuan-batuan
a. Alluvium Sungai (Qal), berumur kuarter yang terdiri dari material
lepas, berukuran lempung, pasir, kerikil dan bongkahan batuan
beku.
b. Tufa batu apung (Qpt), merupakan batuan vulkanik, berumur
kuarter terdiri dari batu apung didalam matriks kaca kelaran.
c. Anggota atas formasi ombilin (Tmou), merupakan batuan sedimen
berumur miosen tersier yang terdiri dari lempung dan napal
dengan sisipan batu pasir konglomerat mengandung kapur dan
berfosil.
12
d. Anggota bawah formasi ombilin (Tmol), merupakan batuan
sedimen, berumur miosen tersier yang terdiri dari batu pasir
kuarsa yang mengandung mika sisipan arkose, serpih lempungan,
konglomerat kuarsa dan batubara.
e. Batu Gamping Karang (Tml), merupakan batuan sedimen,
berumur oligosen, yang terdiri dengan batuan konglomerat dengan
sisipan batu pasir.
f. Formasi Brani (Tob), merupakan batuan sedimen, berumur
oligosen, yang terdiri dengan batuan konglomerat dengan sisipan
batu pasir.
g. Granit (G), susunan berkisar darilecio-granit sampai monzonit
kuarsa yang berumur trias.
h. Anggota Batu Gamping Formasi Kuantan (PCkl), merupakan
batuan hasil proses metamorfosis, terdri dari batu gamping, batu
sabak, filit, serpih terkersiknya dan kuarsit yang berumur perm
dan karbon.
Untuk lebih jelasnya peta geologi Kota Sawahlunto dapat
dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.
13
Gambar 3. Peta Geologi Kota Sawahlunto
Sumber: RTRW Kota Sawahlunto 2010-2030.
b. Stratigrafi Daerah
Daerah adapun berhubungan dengan penunjaman di daerah
busur kepulauan, penunjaman lempeng terjadi di sebelah barat pulau
Samudera Hindia yang masuk ke lempeng Eurasia. Akibat dari
14
kegiatan tektonik ini terjadi perlipatan (fold), patahan (fault) intrusi
dan terbentuknya cekungan antar pegunungan (inter mountain basin).
Proses selanjutnya batuan tersier meengisi bagian tengah dan
atas cekungan ini yang termasuk formasi Brani, formasi
Sangkarewang, formasi Sawahlunto, formasi Sawahtambang, formasi
Ombilin dan formasi Ranau. Stratigrafi Sawahlunto berdasarkan
umumnya dapat dibagi menjadi dua bagian utama, dapat dilihat pada
penjelasan di bawah ini.
1) Komplek Batuan Pra Tersier terdiri dari:
a) Formasi Silungkang, formasi ini dibedakan menjadi 4 satuan:
lava andesit, lava basalt, tufa andesit, dan tufa basalt.
b) Formasi Tuhur, formasi ini dicirikan oleh lempung abu-abu
kehitaman berlapisan baik, dengan sisipan batu pasir dan batu
gamping hitam.
2) Komplek Batuan Tersier terdiri dari:
a) Formasi Sangkarewang (Paleosen), disusun oleh batuan
sedimen paralis yang terdiri atas perlapisan batu lempung
napalan coklat-hitam berseling dengan batu pasir dan batu
lempung yang mengandung fosil ikan air tawar.
b) Formasi Brani (Paleosen), terdiri dari konglomerat dan batu
pasir kasar yang berwarna coklat keunguan yang terpilah
baik, padat, keras dan umumnya memperlihatkan suatu
perlapisan.
15
c) Formasi Sawahlunto (Eosen), formasi ini merupakan formasi
paling penting karena mengandung batubara yang dicirikan
dengan batu lanau, batu lempung dan berselingan dengan
batubara.
d) Formasi Sawahtambang (Oligosen), bagian bawah formasi ini
dicirikan oleh beberapa siklus endapan yang terdiri dari batu
pasir konglomerat tanpa adanya sisipan batu lempung atau
lanau.
e) Formasi Ombilin (Miosen Bawah), formasi ini terdiri dari
batu lempung gampingan, napal dan pasir gampingan yang
berwarna abu-abu kehitaman, berlapis tipis dan mengandung
fosil.
f) Formasi Ranau, formasi ini terdiri dari tufa, breksi, batu
apung berwarna abu-abu kehitaman.
Sebaran lateral dalam bentuk peta stratigrafi dapat dilihat
pada Gambar 4 di bawah ini.
16
Gambar 4. Peta Stratigrafi Kota Sawahlunto
Sumber: Dinas Perindagkopnaker Sawahlunto 2005.
17
Lapisan batubara terdapat pada formasi Sawahlunto.
Formasi Sawahlunto disusun oleh perulangan konglomerat, batu
pasir lanauan, batu lempung karbonan, dan beberapa sisipan
batubara. Ketebalan total formasi Sawahlunto kurang lebih 126 m.
Dijumpai tiga sisipan lapisan batubara. Lapisan yang atas adalah
Seam A dengan ketebalan rata-rata 2 m, kemiringan batubaa 3º-8º
dan tebal overburden antara 40-300 m. Seam B1 ketebalan rata-
rata 0,6-1,5 m, kemiringan batubara 3º-23º dan tebal interburden
antara 10-15 m. Seam B2 ketebalan rata-rata 0,8-1,5 m,
kemiringan batubara 3º-23º dan tebal interburden antara 0,8-3 m.
Dan yang paling bawah adalah Seam C dengan tebal 3-12 m,
kemiringan 3º-24º dan tebal interburden antara 14-20 m. Sebaran
lapisan batubara ini dikontrol oleh susunan stratigrafi dan struktur
geologi yang berkembang. Sebagian ada yang tersingkap di
permukaan dan ada yang menerus hingga pada kedalaman lebih
dari 500 m, mengikuti pola lipatan dan pensesaran.
c. Geologi Daerah Penambangan
Berdasarkan pola tektonik pulau Sumatera daerah telitian
termasuk dalam zona intra montana. Menurut P.H Silitonga dan
Kastowo (1995) daerah telitian termasuk dalam anggota Bawah
Formasi Ombilin (Tmol), yang berada pada batuan granit berumur
trias. Pengelompokan geologi Talawi berdasarkan kompleksitas
geologi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini:
18
Tabel 2. Pengelompokan Geologi Talawi Berdasarkan
Kompleksitas Geologi
No. PARAMETER KONDISI GEOLOGI
I Aspek Sederhana Moderat Kompleks
Tektonik
Sesar Hampir tidak Jarang Rapat
1. ada
Lipatan Hampir tidak Terlipat Terlipat
2.
terlipat sedang kuat
Intrusi Tidak Berpengaruh Sangat
3.
berpengaruh berpengaruh
Kemiringan Landai Sedang Terjal
4.
II Aspek Sederhana Moderat Kompleks
Sedimentasi
1. Variasi X < 10% 10% < X < X > 50%
ketebalan 50%
2. Kesinambungan Ribuan meter Ratusan Puluhan
meter meter
3. Percabangan Hampir tidak Beberapa Banyak
ada
4. Variasi kualitas Sedikit Bervariasi Sangat
bervariasi bervariasi
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2009)
Menurut Tabel 2 di atas kompleksitas geologi daerah Talawi
pada lapisan sedimen pembawa batubara termasuk dalam kriteria
geologi sederhana, sehingga perhitungan sumber daya batubara
terukur dari titik informasi singkapan dapat dihitung sejauh 300 m.
d. Lapisan Batubara Sapan Dalam
Dari eksplorasi terdahulu, pada saat penambangan telah
diketahui, terdapat 3 (tiga) lapisan (seam) batubara yang dapat di
tambang (mineable) dengan metode tamda. Lapisan tersebut adalah
19
seam A1, seam C1, dan seam C2 dengan kemiringan masing-masing
15o-30o.
1) Lapisan Batubara A1
Lapisan batubara seam A1 yang akan di tambang dengan
metode tamda memiliki ketebalan rata-rata 1,6 m tepat di atas roof
A1 terdapat clay dengan ketebalan 3 – 5 m.
2) Lapisan Batubara C1
Lapisan batubara seam C1 merupakan lapisan batubara di
bawah seam A1 yang akan di tambang dengan metode tamda
dengan ketebalan rata-rata 1,9 m. Posisi lapisan seam C1 mencapai
30 – 35 m di bawah lapisan seam A1.
3) Lapisan Batubara C2
Lapisan batubara seam C1 merupakan lapisan batubara
terbawah (di bawah seam C1) dengan ketebalan rata-rata 2,4 m.
Posisi lapisan seam C2 berada 4 – 12 m di bawah lapisan seam C1.
e. Karakteristik dan Kondisi Lapangan
Desain penambangan batubara bawah tanah Sapan Dalam
didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut, yaitu: kapasitas
produksi yang diinginkan, kondisi topografi, dan morfologi di
permukaan, kondisi geologi di area penambangan, kondisi dan
keberadaan batubara yang akan ditambang, kondisi geoteknik massa
batuan, peralatan yang akan digunakan serta kondisi permukaan
disekitar mulut tambang. Karakteristik massa batuan dan keberadaan
20
lapisan batubara yang akan menjadi pertimbangan dalam desain
penambangan adalah sebagai berikut:
1) Dasar dinding lereng bekas open pit dianggap sebagai garis
singkapan batubara terbawah yang di tambang.
2) Lapisan overburden sampai di atas permukaan tidak terlalu tebal
sehingga daerah kerja diperkirakan dalam lingkungan tidak terlalu
berat. Jarak floor A1 – top surface adalah antara 10 - 30 m.
3) Terdapat beberapa lapisan batubara, namun yang di tambang hanya
lapisan batubara tebal, yaitu: seam A1, seam C1, seam C2.
4) Kondisi hidrogeologi dianggap cukup sederhana, tidak kompleks,
dan dianggap pengendalian air tanah tidak begitu sulit.
5) Lapisan batubara memilki kemiringan relatif seragam antara 15 o-
35o dan dalam desain digunakan kemiringan sebesar 6o-12o.
f. Kondisi Hidrologi
Daerah Kota Sawahlunto dan sekitarnya dilalui oleh 5 sungai
atau batang utama. Sungai-sungai itu adalah:
1) Batang Ombilin
Sungai ini mengalir dari utara ke selatan dari Desa Talawi
ke desa Rantih Kecamatan Talawi, sungai Ombilin merupakan
sungai tersebar di daerah Sawahlunto sebagai sumber air baku
bagi PDAM. Sungai ini berhulu di danau Singkarak, Debit sungai
ini di daerah Sikalang-Rantih lebih dari 10 m3/detik.
21
2) Batang Malakutan
Sungai ini mengalir dari barat yang berhulu di desa
Siberambang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Solok ke timur
melewati desa Kolok Mudiak dan desa Kolok Tuo di Kecamatan
Barangin yang akhirnya bertemu dengan Batang Ombilin.
3) Batang Lunto
Sungai ini berhulu di desa Lumindai, Kecamatan Barangin
dan mengalir dari arah barat menuju timur dan membelah kota
Sawahlunto, Kecamatan Lembah Segar dan Muara di Batang
Ombilin.
4) Batang Sumpahan
Sungai ini berhulu di Kelurahan Sapan (Kelurahan Durian
II) di Kecamatan Barangin kemudian bertemu dengan Batang
Lunto dan akhirnya bermuara di Batang Ombilin.
5) Batang Lasi
Sungai ini berhulu di IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten
Solok yang mengalir menyusuri jalan dari Solok ke Sijunjung di
Kecamatan Silungkang, Kecamatan Silungkang dan keluar di
perbatasan Kota Sawahlunto-Sijunjung sungai ini kemudian
bertemu juga dengan Batang Ombilin di sungai Kuantan atau
Indragiri.
Keterdapatan air tanah di wilayah Kota Sawahlunto terbatas
pada celahan batuan sedangkan lapisan-lapisan batupasir
22
penyusun formasi Sawahtambang dan formasi Sawahlunto kurang
mengindikasikan sebagai lapisan pembawa air atau potensi air
tanah kecil.
4. Kualitas Batubara
PT. Nusa Alam Lestari melakukan penambangan denganv metode
tambang dalam sistem Room and Pillar maka tidak semua sisa cadangan
dapat diambil. Berdasarkan pengalaman tambang dalam sebelumnya di
PT. BA Ombilin maka mining recovery yang dipakai adalah 50% dari
100% cadangan yang artinya harapan tonase batubara terambil dari tiap
lapisan adalah sebagai berikut:
1) Kapasitas produksi tambang dalam pada seam C1 diproyeksikan
232.820 ton.
2) Kapasitas produksi tambang dalam pada seam C2 diproyeksikan
321.259 ton.
Tabel 3. Sisa Sumber Daya Cadangan Batubara Pada Izin Usaha
Penambangan 100 ha PT. Nusa Alam Lestari, Site Sapan
Dalam, Desa Salak, Kec. Talawi, Sawahlunto.
SEAM SISA CADANGAN MINEABLE (TON) 2015
TERUKUR TERUNJUK TEREKA TOTAL
S
u
m
Seam 248.358 781.640 496.901 1.526.899
b A1
e Seam 46.564 556.697 421.318 1.024.579
r C1
:
Seam 642.518 692.321 722.334 2.057.173
P C2
T Total 937.440 2.030.658 1.640.553 4.608.651
.
Nusa Alam Lestari (2015)
23
Dari hasil analisa sample (contoh) batubara sebagai berikut dapat
dilihat pada Tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4. Analisa Sample Batubara Seam C1 PT. Nusa Alam Lestari
No. Parameter Satuan Rata-rata
1 Total moisture (AR) (%) 7.86
2 Proximate analisis (ADB)
Inherent moisture (%) 5.71
Volatile moisture (%) 36.67
Ash content (%) 12.65
Fixed carbon (%) 44.96
3 Calori value (ADB) Kcal/kg 6.800 – 7.585
4 Total sulfur (%) 0.56 – 2.41
5 Coal rank - Subbituminus
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2015)
Keterangan:
a) As Received (AR), yaitu batubara yang masih mengandung air total.
b) Air Dried Base (ADB), yaitu kondisi batubara yang telah
dikeringakan tetapi masih mengandung air (Inherent Moisture).
c) Dry Base (DB), yaitu kondisi batubara kering.
d) Day Ash Free (DAF), yaitu kondisi batubara yang hanya
mengandung volatile matter dan fixed carbon serta bebas dari
kandungan air dan kandungan abu.
5. Jam Kerja
Dalam penjadwalan kegiatan penambangan PT. Nusa Alam Lestari
menekankan sistem shift. Lama jam kerja dalam satu hari adalah 16 (enam
belas) jam. Dengan rincian sebagai berikut:
Shift I dimulai dari pukul 08.00 wib – 17.00 wib.
Shift II dimulai dari pukul 17.00 wib – 02.00 wib.
24
B. Landasan Teori
1. Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi merupakan konsep dasar tentang keseimbangan
air secara global dan juga menunjukkan semua hal yang berhubungan
dengan air (Robert J. Kodatie, 1996:3). Hidrogeologi dalam bahasa
inggris tertulis hydrogeology. Hidro berarti air dan geology berarti benda
sehingga dapat diartikan menjadi geologi air (the geology of water).
Secara umum daur hidrologi terjadi karena air yang menguap ke
udara dari permukaan tanah dan laut akan terkondensasi dan kembali
jatuh ke bumi. Kejadian ini disebut presipitasi yang dapat berbentuk
hujan, salju atau embun. Peristiwa perubahan air menjadi uap air dan
bergerak dari permukaan tanah ke udara disebut evaporasi, sedangkan
peng uapan air dari tanaman disebut transpirasi. Jika kedua proses ini
terjadi secara bersama-sama maka disebut evapotranspirasi. Untuk lebih
jelasnya daur hidrologi dapat dilihat pada Gambar 28 sebagai berikut:
25
Gambar 14. Daur hidrologi
Sumber: Bahan kuliah Hidrogeologi (Rusli HAR)
a. Presipitasi
Presipitasi adalah nama umum dari uap yang
mengkondensasi dan jatuh ke tanah dalam rangkaian proses siklus
hidrologi (Sosrodarsono dan Takeda, 1983). Presipitasi dapat
berbentuk tiga wujud, yaitu:
1) Hujan yang merupakan bentuk presipitasi yang paling penting.
2) Embun yang merupakan hasil kondensasi di permukaan tanah
atau tumbuhan.
3) Salju dan Es
Untuk wilayah Indonesia yang beriklim tropis, bentuk
presipitasi yang paling penting adalah hujan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya presipitasi adalah:
26
1) Adanya uap air di atmosfer.
2) Faktor-faktor meteorologis seperti suhu air, suhu udara,
kelembaban, kecepatan angin, tekanan dan sinar matahari.
3) Lokasi daerah berhubungan dengan sistem sirkulasi secara
umum.
4) Rintangan yang disebabkan oleh gunung dan lain-lain.
b. Infiltrasi
Infiltrasi adalah aliran air ke dalam ltanah melalui permukaan
tanah. Di dalam tanah air mengalir dalam arah lateral, sebagai aliran
antara (interflow) menuju mata air, danau dan sungai atau secara
vertikal yang dikenal dengan perkolasi menuju air tanah (Bambang
Triatmodjo,2008:91).
Gerak air di dalam tanah melalui pori-pori tanah dipengaruhi
oleh gaya gravitasi dan gaya kapiler. Gaya gravitasi menyebabkan
aliran air selalu menuju ke tempat yang lebih rendah, sedangkan
gaya kapiler menyebabkan air bergerak ke segala arah dari daerah
basah menuju ke daerah kering (Bambang Triatmodjo,2008:91).
Proses infiltrasi terjadi karena hujan yang jatuh di atas
permukaan tanah sebagian atau seluruhnya akan mengisi pori-pori
tanah. Curah hujan yang mencapai permukaan tanah akan bergerak
sebagai air limpasan permukaan (run off) atau sebagai infiltrasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi (Bambang
Triatmodjo,2008:92) adalah:
27
1) Kedalaman genangan dan tebal lapis jenuh
2) Kelembaban tanah
3) Pemampatan oleh hujan
4) Penyumbatan oleh butir halus
5) Tanaman penutup
6) Topografi
7) Intensitas hujan
c. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan gabungan dari evaporasi dan
transpirasi. Evaporasi adalah proses berubahnya bentuk zat cair (air)
menjadi gas (uap air) dan masuk ke atmosfer, sedangkan transpirasi
adalah penguapan melalui tanaman, dimana air tanah diserap oleh
akar tanaman yang kemudian dialirkan melalui batang sampai ke
permukaan daun dan menguap menuju atmosfer (Bambang
Triatmodjo,2008:49).
Evaporasi dan transpirasi sulit dibedakan di alam terlebih di
daerah tropis yang mempunyai banyak tumbuhan, oleh karenanya
evaporasi dan transpirasi sering disatukan menjadi evapotranspirasi.
Evapotranspirasi adalah penguapan yang terjadi di permukaan lahan
yang meliputi permukaan tanah dan tanaman yang tumbuh di
permukaan tersebut (Bambang Triatmodjo,2008:49).
28
2. Air Bawah Permukaan
a. Air Tanah
Akumulasi air dan kapasitas transport dari suatu formasi
ditentukan oleh porositas. Porositas adalah sebagai perbandingan
volume pori-pori terhadap volume total. Ada dua jenis porositas yaitu
(Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal 218):
1) Porositas primer, yaitu porositas yang telah ada pada waktu pem
bentukan dan konsolidasi batuan.
2) Porositas sekunder, yaitu porositas yang dihasilkan dari tekanan
tektonik yang menyebabkan retakan dan saluran-saluran karena
pelarutan yang membentuk jalur-jalur aliran.
Porositas menentukan kapasitas memuat atau mengantarkan air
(permeable) dari suatu formasi batuan-batuan vulkanik mempunyai
porositas primer yang sangat rendah, tetapi rekahan-rekahan dan joint
serta bidang-bidang perlapisan adalah saluran utama dari gerakan air
pada zona ini. Permeabilitas akan sangat ditentukan dan tergantung
pada tingkat keretakannya (Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal 218-
219).
Menurut Todd (1980) keberadaan airtanah dibawah permukaan
tanah dapat dibagi menjadi zona aerasi dan zona jenuh. Zona aerasi
terdiri dari ruang antar butir yang ditempati sebagian dari air dan
sebagian udara. Dalam zona jenuh semua ruang antar butir diisi oleh
air dibawah tekanan hidrostatik. Kebanyakan dalam massa tanah di
29
bumi, satu zona aerasi berada diatas satu zona jenuh. Dalam zona
aerasi (air vadose) terdapat tiga zona, yaitu: zona airtanah permukaan,
zona vadose intermediate dan zona kapiler. Dimana air yang
berada pada zona tak-jenuh disebut air gantung (vadose water). Air
gantung yang terdapat dekat permukaan hingga tersedia bagi akar
tetumbuhan disebut air solum (solumn water), dan yang tersimpan
dalam ruang merambut (capillary zone) disebut air merambut
(capillary water).
Zona jenuh berasal dari bagian permukaan muka airtanah
sampai dengan batuan impermeabel. Tidak adanya lapisan
impermeabel diatas muka airtanah, membentuk permukaan zona jenuh,
ini disebut sebagai permukaan tekanan atmosfer dan terlihat pada
muka airtanah dalam sumur di akuifer bebas. Sebenarnya kejenuhan
melampui sedikit di atas muka airtanah akibat gaya kapiler. Air yang
berada di zona jenuh disebut dengan istilah airtanah.
b. Kualitas Air
Dinyatakan dalam istilah kuantitas dan jenis-jenis garam yang
larut didalamnya. Pentingnya faktor-faktor tersebut karena alasan
sebagai berikut (Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal 219):
1) Kerusakan pada peralatan penyaliran karena korosi.
2) Efek yang merugikan pada peralatan tambang.
3) Kerusakan pada sistem penyangga dalam tambang.
30
4) Dari aspek lingkungan dengan memompakan sejumlah besar air ke
sistem penyaliran umum daerah tersebut.
Pada umumnya korosi bertambah dengan berkurangnya nilai
pH dan bila pH turun < 6,5 sebaiknya dilakukan penyelidikan (Jurnal
Anton Yudi Umsini Putra, hal 218).
Baku mutu air limbah batu bara adalah ukuran batas atau kadar
unsur pencemar dan atau jumlah unsur pencemaran yang ditenggang
keberadaannya dalam air limbah batu bara yang akan dibuang atau
dilepas ke air permukaan dengan pH 6-9 (KEPMEN LH No. 113
Tahun 2003, Pasal 1, Lampiran I).
c. Sumber Air Tanah
Hampir semua air tanah adalah dibentuk dari presipitasi. Air
yang terdapat dalam batuan selama pembentukannya dan terjebak
didalamnya sering berkadar garam tinggi. Presipitasi air menjadi air
tanah dengan infiltrasi dan perkolasi dan mengisi kembali air tanah
yang ada didaerah dimana muka air tanahnya tinggi. Tanah yang
permeabilitasnya tinggi dan batuan cenderung mempunyai laju
pengisian kembali yang tinggi. Di daerah seperti ini rembesan dari
danau-danau dan sungai-sungai dalah satu-satunya sumber pengisian
kembali air. Daerah-daerah oleh aliran bawah tanah melalui akifer-
akifer yang sangat poros.
Jumlah air tanah yang ada di bumi saat ini adalah 1,69% dari
total air yang ada. Jumlah air di tanah dangkal (soil moisture) danau,
31
rawa/payau, sungai dan biologi adalah 0,0151% dan ini hanya kurang
lebih 9/1000 dari air tanah (Robert J. Kodoatie, 1996:8). Sumber atau
keterdapatan airtanah di bumi menurut White (1957), yaitu:
1) Air Meteorik
Air ini berasal dari proses hidrologi (air hujan),
diantaranya:
a) Secara langsung oleh infiltrasi pada permukaan tanah
b) Secara tidak langsung oleh perembesan influen (dimana
kemiringan muka air tanah menyusup di bawah permukaan air
atau kebalikan dari efluen) dari danau, sungai, saluran buatan
dan lautan.
c) Secara langsung dengan cara kondensasi uap air (dapat
diabaikan)
2) Air Juvenil
Air ini merupakan air baru yang berasal dari proses
pembekuan larutan magma dan bukan merupakan bagian hidrosfir.
Selanjutnya air ini dibagi lagi menurut sumber spesifiknya ke
dalam:
a) Air magmatik
b) Air gunung api dan air kosmik (yang dibawa oleh meteor).
3) Air Magmatik
Air magmatik adalah air yang berasal dari hasil pembekuan
larutan magma dan bercampur dengan air meteorik.
32
4) Air Metamorfik atau Rejuvenated
Air yang untuk sementara waktu telah dikeluarkan dari daur
hidrologi akibat pelapukan dan rekristalisasi mineral yang
mengandung air selama proses pembentukan batuan metamorf.
5) Air Konnat
Air tersebut merupakan air fosil yang terperangkap oleh
proses-proses geologi seperti pembentukan formasi dalam
cekungan sedimentasi, penurunan muka air laut, proses
pengangkatan dan proses lainnya. Jenis air ini tidak berhubungan
dengan siklus hidrologi. Air tersebut biasanya sangat
termineralisasi dan mempunyai salinitas yang lebih tinggi dari pada
air laut.
Air tanah ditemukan pada formasi geologi permeabel (tembus
air) yang dikenal dengan akuifer (juga disebut reservoir air tanah,
formasi pengikat air, dasar-dasar yang tembus air) yang merupakan
formasi pengikat air yang memungkinkan jumlah air yang cukup besar
untuk bergerak melaluinya pada kondisi lapangan yang biasa. Air
tanah juga ditemukan pada aquiclude (atau dasar semi permeabel)
yang mengandung air tetapi tidak mampu memindahkan jumlah air
yang nyata (seperti tanah liat).
Robert J. Kodoatie (1996:84) Kondisi alami dan distribusi
akifer, akuiklud dan akuitard dikendalikan oleh lithologi, stratigraphi
dan struktur dari materi simpanan geologi dan formasi. Lithologi
33
merupakan susunan fisik dari simpanan geologi. Susunan ini termasuk
komponen mineral, ukuran buitr, dan kumpulan butir (grain packing)
yang terbentuk dari sedimentasi atau batuan yang menampilkan sistem
geologi. Stratigrafi menjelaskan hubungan geometris dan umur antara
macammacam lensa, dasar dan formasi dalam geologi sistem dari asal
terjadinya sedimentasi. Bentuk struktur seperti pecahan, retakan,
lipatan dan patahan merupakan sifat-sifat geometrik dari sistem
geologi yang dihasilkan oleh perubahan bentuk (deformasi) akibat
proses penyimpanan (deposisi) dan proses kristalisasi dari batuan.
Pada simpanan yang belum terkonsolidasi (unconsolidated deposits)
lithologi dan stratigraphi merupakan pengendali yang paling penting.
Secara hidrogeologi terdapat beberapa istilah mengenai
keterdapatan air tanah, diantaranya:
1) Akuifer (Aquifer) adalah lapisan yang dapat menyimpan dan
mengalirkan air dalam jumlah yang ekonomis. Contoh: pasir,
kerikil, batupasir, batu gamping rekahan.
2) Akiklud (Aquiclude) adalah lapisan yang mampu menyimpan air,
tetapi tidak dapat mengalirkan dalam jumlah yang berarti
misalnya lempung, serpih, tuf halus, lanau.
3) Akifug (Aquifuge) adalah lapisan batuan yang kedap air, tidak
dapat menyimpan dan mengalirkan air, misalkan batuan kristalin,
metamorf kompak.
4) Akitar (Aquitard) adalah lapisan yang dapat menyimpan air dan
34
mengalirkan dalam jumlah yang terbatas, misalnya lempung
pasiran (sandy clay).
5) Berdasarkan posisi stratigrafinya, variasi posisi dari akuifer,
akuitar, akuifug dan akiklud ditunjang pula dengan sifat-sifat fisik
lainnya maka dapat ditentukan berbagai jenis akuifer (Fetter, 1994):
(a) Akuifer bebas (Unconfined aquifer / Phretic aquifer / Water
Table aquifer), akuifer ini hanya sebagian yang terisi oleh air
dan terletak pada suatu dasar yang kedap. Pada akuifer
demikian, permukaan air didalam sumur merupakan permukaan
bebas atau permukaan phreativ. Untuk mudahnya, dianggap
tubuh batuan ini tidak mempunyai rumbai-rumbai kapiler
(capillary fringe) dimana sebenarnya tebal tubuh air tanah
bervariasi dari satu titik ke titik lainnya. Seperti terlihat pada
Gambar 15 di bawah ini:
Gambar 15. Akuifer Bebas
Sumber: Fetter, 1994
(b) Akuifer setengah bebas (Semi-unconfined Aquifer), jika
lapisan semi-permiabel yang berada di atas akuifer memiliki
35
permeabilitas yang cukup besar sehingga aliran horisontal
pada lapisan tersebut tidak dapat diabaikan, maka akuifer
tersebut dikatakan setengah bebas. Seperti terlihat pada
Gambar 16 di bawah ini:
G
a
m
b
a
r
16. Akuifer Setengah Bebas
Sumber: Fetter, 1994
(c) Akuifer tertekan (Confined aquifer / non leaky aquifer),
akuifer yang sepenuhnya jenuh dengan air, bagian atas dan
bawahnya dibatasi oleh lapisan yang kedap air. Seperti terlihat
pada Gambar 17 di bawah ini:
Gambar 17. Akuifer Tertekan
Sumber: Fetter, 1994
(d) Akuifer setengah tertekan (Semi confined aquifer / leakage
36
aquifer), akuifer ini biasanya setengah terkurung yaitu akuifer
yang sepenuhnya jenuh air yang pada bagian atasnya dibatasi
oleh lapisan setengah kedap air (semi permiabel) dan
terletak pada dasar yang kedap air. Seperti terlihat pada
Gambar 18 di bawah ini:
G
a
m
b
a
r
1
8
. Akuifer Setengah Tertekan
Sumber: Fetter, 1994
Berdasarkan sifat fisik batuan, secara garis besar ada 2 jenis
media penyusun akuifer, yaitu sistem media pori dan sistem
media rekahan. Kedua sistem ini memiliki karakter airtanah yang
berbeda satu sama lain.
Pada sistem media berpori, airtanah mengalir melalui
rongga antar butir yang terdapat dalam suatu batuan misalnya
batupasir dan batuan aluvial.
Pada sistem media rekahan, air mengalir melalui rekahan-
rekahan yang terdapat pada batuan yang terkena tektonik kuat,
37
pada batugamping, batuan metamorf dan lava. Rekahan terjadi
selain akibat proses tektonik, juga akibat proses pelarutan pada
batu gamping. Seperti terlihat pada Gambar 19 di bawah ini:
Gambar 19. Model Akuifer Media Pori Ruang Antar Butir
dan Media Rekahan
Sumber: S. Mandel, 1981
Beberapa parameter akifer:
(1) Konduktivitas Hidrolik
Konduktivitas hidrolik (K) adalah angka yang
menyatakan tingkat kemudahan suatu lapisan akuifer untuk
menyimpan dan meluluskan air dari satu tempat ke tempat lain
dalam jumlah yang memadai. Nilai kelulusan suatu lapisan
tanah atau batuan atau lapisan akuifer dapat diukur di
laboratorium maupun di lapangan. Pengukuran di lapangan
dilakukan dengan pembuatan lubang bor, yang kemudian
dikonstruksi sesuai dengan pengujian akuifer, dengan metode
slug test maupun pumping test (uji pemompaan).
(2) Transmisivitas (T)
Transmisivitas adalah kemampuan akuifer untuk
38
meneruskan air melalui suatu bidang vertikal setebal akuifer
dengan lebar satu satuan panjang dan satu unit landaian
hidrolika (Todd, 1980).
(3) Koefisien Penyimpanan (S)
Merupakan volume air yang dilepaskan atau disimpan
persatuan luas permukaan akuifer persatuan perubahan head
pada permukaan tersebut.
(4) Specific Yield (Sy)
Specific yield (Sy) atau porositas efektif merupakan
perbandingan dalam persen (%) air yang dapat diambil dari
tanah atau batuan yang jenuh air dibandingkan dengan volume
total batuan atau tanah (Todd, 1980).
(5) Ketebalan Akuifer
Ditentukan dari data pemboran. Meskipun ketebalan
tidak pernah konstan dalam menganggap bahwa suatu akuifer
mempunyai ketebalan yang seragam diambil suatu nilai rata-
rata, ketebalan dapat mencapai ukuran puluhan meter.
Gerakan air tanah sebagian hasil dari cara-cara bahan
diendapkan semula, akuifer hampir tidak pernah seragam dalam
ciri-ciri hidroliknya. Bahkan bila struktur geologi sistem
akuifer diketahui detail gerakan air di dalamnya sulit untuk
diketahui, banyak detail gerakan air tanah masih jauh dari jelas.
Proses umum gerakan air tanah sangatlah sederhana,
39
suatu gerakan yang didorong oleh gaya berat, ditahan oleh
gesekan cairan pada medium porous. Bila kita bawa prinsip-
prinsip yang sederhana itu pada perlakuan matematis dari aliran
air tanah, asumsi dan generalisasi tertentu harus dilakukan.
Beberapa asumsi itu adalah:
(a) Akuifer haruslah homogen dan isotropic.
(b) Lapisan-lapisan semi tembus mempunyai ketahanan
hidrolik yang seragam.
(c) Koefisien permeabilitas merupakan invarian waktu.
(d) Transmisibilitas suatu akuifer bebas adalah konstan.
(e) Koefisien cadangan atau simpanan adalah konstan.
(f) Pelepasan air dari cadangan seketika.
(g) Mintakat kapiler diabaikan.
Dengan menggunakan kriteria ini, aliran air tanah
untuk keadaan tunak (nilai-nilai konstan dengan waktu pada
titik yang berbeda pada akuifer-stasioner), tak tunak (kerapatan
air tetap konstan) diperlukan secara matematis. Persamaan
dasar yang menjelaskan ini didasarkan atas hukum Darcy.
Disamping parameter-parameter lain, permeabilitas
merupakan salah satu parameter yang perlu diperhitungkan.
Secara umum, permeabilitas dapat diartikan sebagai
kemampuan suatu fluida bergerak melalui rongga pori massa
batuan.
40
3. Debit Air
a. Teori Pengukuran Debit
Menurut Bambang Triatmodjo (2008:110) mengatakan bahwa
Debit aliran diperoleh dengan mengalikan luas penampang aliran (A)
dan kecepatan (V), Q=AV. Luas tampang diperoleh dengan mengukur
elevasi permukaan air dan dasar sungai. Apabila dasar dan tebing
sungai tidak berubah, pengukuran elevasi sungai dilakukan hanya satu
kali. Kemudian dengan mengukur elevasi muka air untuk berbagai
kondisi, mulai dari debit kecilsampai debit besar (banjir), dapat dihitung
luas tampang untuk berbagai elevasi muka air tersebut. Kecepatan
aliran juga dihitung bersamaan dengan pengukuran elevasi muka air.
Dengan demikian dapat dihitung debit untuk berbagai kondisi aliran.
Selanjutnya dibuat kurva (rating curve) , yaitu hubungan antara elevasi
muka air dan debit. Penggunaan kurva debit hanya dapat dilakukan
apabila sungai tidak dipengaruhi oleh pasang surut.
Penentuan debit air tanah dapat dicari dengan rumus Darcy
(Todd, 1980):
Q =Kx Ix A
Keterangan:
Q = Debit, m3/detik
K = Konduktivitas Hidrolik, m/detik
I = Kemiringan Aliran Airtanah (dh/dl)
A = Luas Penampang Akuifer, m2
41
4. Sistem Penyaliran Tambang
Sistem penyaliran tambang adalah suatu metode yang dilakukan
untuk mencegah masuknya aliran air ke dalam lubang bukaan tambang
atau mengeluarkan air tersebut. Penyaliran bisa bersifat pencegahan atau
pengendalian air yang masuk ke lokasi penambangan. Hal yang perlu
diperhatikan adalah kapan cuaca ekstrim terjadi, yaitu ketika air tanah dan
air limpasan dapat membahayakan kegiatan penambangan, oleh sebab itu
kondisi cuaca pada tambang terbuka sangat besar efeknya terhadap
aktifitas penambangan. Apabila hal ini sudah diperhitungkan sebelumnya,
maka kegiatan penambangan akan terhindar dari kondisi yang
membahayakan tersebut.
Secara hidrologi air dibawah permukaan tanah dapat dibedakan
menjadi air pada daerah tak jenuh dan air pada daerah jenuh. Daerah tidak
jenuh air umumnya terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah dan
dicirikan oleh gabungan tiga fasa (Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal
218), yaitu:
a. Fase padat (material atau butiran padatan).
b. Fase cair (air adsorbsi, air kapiler dan air infiltrasi).
c. Fase Gas.
Daerah ini dipisahkan dari daerah jenuh air oleh jaringan kapiler.
Daerah jenuh merupakan bagian dibawah zona tak jenuh. Air yang
terdapat pada zona atau daerah jenuh inilah yang disebut “Ground Water”.
42
Menurut Rudi Sayoga Gautama (1999:4-1) penanganan mengenai
masalah air tambang dalam jumlah besar pada tambang terbuka dan
tambang bawah tanah dapat dibedakan menjadi beberapa metode, yaitu:
a. Mengeluarkan Air Tambang (Mine dewatering)
Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk
ke lokasi penambangan. Beberapa metode penyaliran tambang (mine
dewatering) adalah sebagai berikut:
1) Membuat sump di dalam front tambang (Pit)
Sistem ini diterapkan untuk membuang air tambang dari
lokasi kerja. Air tambang dikumpulkan pada sumuran (sump),
kemudian dipompa keluar. Pemasangan jumlah pompa tergantung
pada kedalaman penggalian, dengan kapasitas pompa
menyesuaikan debit air yang masuk ke dalam lokasi penambangan.
2) Membuat Paritan
Pembuatan parit sangat ideal diterapkan pada tambang
terbuka open cast atau kuari. Parit dibuat berawal dari sumber mata
air atau air limpasan menuju kolam penampungan, langsung ke
sungai atau diarahkan ke selokan (riool). Jumlah parit ini
disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga bisa lebih dari satu.
Apabila parit harus dibuat melalui lalulintas tambang maka dapat
dipasang gorong-gorong yang terbuat dari beton atau galvanis.
Dimensi parit diukur berdasarkan volume maksimum pada saat
43
musim penghujan deras dengan memperhitungkan kemiringan
lereng. Bentuk standar melintang dari parit umumnya trapesium.
3) Sistem Adit
Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada
tambang terbuka yang mempunyai banyak jenjang. Saluran
horisontal yang dibuat dari tempat kerja menembus ke shaft yang
dibuat di sisi bukit untuk pembuangan air yang masuk ke dalam
tempat kerja. Pembuangan dengan sistem ini biasanya mahal,
disebabkan oleh biaya pembuatan saluran horisontal tersebut dan
shaft.
b. Penyaliran Tambang (Mine drainage)
Penyaliran tambang adalah mencegah air masuk ke lokasi
penambangan dengan cara membuat saluran terbuka sehingga air
limpasan yang akan masuk ke lubang bukaan dapat langsung dialirkan
ke luar lokasi penambangan. Upaya ini umumnya dilakukan untuk
penanganan air tanah yang berasal dari sumber air permukaan.
Beberapa metode penyaliran tambang (mine drainage) adalah
sebagai berikut:
a) Metode Siemens
Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan dibuat lubang
bor kemudian ke dalam lubang bor dimaksukkan pipa dan disetiap
bawah pipa tersebut diberi lubang-lubang. Bagian ujung ini masuk
ke dalam lapisan akuifer, sehingga air tanah terkumpul pada
44
bagian ini dan selanjutnya dipompa ke atas dan dibuang ke luar
daerah penambangan.
b) Metode Elektro Osmosis
Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda.
Bilamana elemen-elemen dialiri arus listrik maka air akan terurai,
H+ pada katoda (disumur besar) dinetralisir menjadi air dan
terkumpul pada sumur lalu dihisap dengan pompa.
c) Small Pipe with Vacuum Pump
Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang impermiabel
(jumlah air sedikit) dengan membuat lubang bor. Kemudian
dimasukkan pipa yang ujung bawahnya diberi lubang-lubang.
Antara pipa isap dengan dinding lubang bor diberi kerikil-kerikil
kasar (berfungsi sebagai penyaring kotoran) dengan diameter
kerikil lebih besar dari diameter lubang. Di bagian atas antara pipa
dan lubang bor di sumbat supaya saat ada isapan pompa, rongga
antara pipa lubang bor kedap udara sehingga air akan terserap ke
dalam lubang bor.
d) Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump)
Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai
permeabilitas rendah dan jenjang tinggi. Dalam metode ini dibuat
lubang bor kemudian dimasukkan pompa ke dalam lubang bor dan
pompa akan bekerja secara otomatis jika tercelup air. Kedalaman
lubang bor 50 meter sampai 60 meter.
45
e) Metoda Pemotongan atau Penggalian Air Tanah
Metoda ini digunakan untuk mengatasi air tanah dimana
lapisan akuifernya terletak pada permukaan atau pada lapisan atas.
Cara ini dilakukan dengan menggali/memotong lapisan akuifer
tersebut, sehingga air tanah tidak menerus kedalam pit, kemudian
bekas galian diisi dengan material yang kedap air.
f) Metoda Kombinsi dengan Lubang Bukaan Tambang Bawah
Tanah
Metoda ini dilakukan dengan membuat lubang bukaan
tambang bawah tanah secara mendatar, kemudian pada lubang
bukaan mendatar tersebut dibuat lubang bukaan secara vertikal
keatas menembus lapisan akuifer untuk menurunkan muka air
tanah. Air akan mengalir secara gravitasi sehingga tidak
dibutuhkan pemompaan.
Untuk lebih jelasnya tentang keenam metoda mine
drainage ini dapat dilihat pada gambar 20 berikut:
46
Gambar 20. Bentuk-bentuk metode mine drainage
Sumber: Awang Uwandhi, 2004
5. Hal yang Mempengaruhi Tambang
Beberapa hal yang mempengaruhi penyaliran tambang adalah
sebagai berikut:
a. Rencana Kemajuan Tambang
Rencana kemajuan tambang nantinya akan mempengaruhi pola
alir saluran yang akan dibuat, sehingga saluran tersebut menjadi efektif
dan tidak menghambat sistem kerja yang ada.
b. Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya hujan yang terjadi pada suatu
daerah. Curah hujan merupakan faktor yang sangat penting dalam
47
perencanaan sistem penirisan, karena besar kecilnya curah hujan pada
suatu daerah tambang akan mempengaruhi besar kecilnya air tambang
yang harus ditanggulangi.
Angka-angka curah hujan yang diperoleh merupakan data yang
tidak dapat digunakan secara langsung untuk perencanaan pembuatan
sarana pengendalian air tambang, tetapi harus diolah terlebih dahulu
untuk mendapatkan nilai curah hujan yang lebih akurat. Curah hujan
merupakan data utama dalam perencanaan kegiatan penirisan tambang
terbuka.
Pengamatan curah hujan dilakukan dengan alat pengukur curah
hujan. Ada dua jenis alat pengukur curah hujan, yaitu alat ukur manual
dan otomatis. Alat ini biasanya diletakkan ditempat terbuka agar air
hujan yang jatuh tidak terhalang oleh bangunan atau pepohonan. Data
tersebut berguna pada saat penentuan hujan rencana. Analisa terhadap
data curah hujan ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu annual
series dengan mengambil satu data maksimum setiap tahunnya yang
berarti bahwa hanya besaran maksimum setiap tahun saja yang
dianggap berpengaruh dalam analisa data dan partial duration series,
yaitu dengan menentukan lebih dahulu batas bawah tertentu dari curah
hujan, selanjutnya data yang lebih besar dari batas bawah tersebut
diambil dan dijadikan data yang akan dianalisa.
48
1) Curah Hujan Rancangan (R)
Periode ulang hujan adalah hujan maksimum yang
diharapkan terjadi pada setiap n tahun. Jika suatu data curah hujan
mencapai harga tertentu (x) yang diperkirakan terjadi satu kali
dalam n tahun, maka n tahun dapat dianggap sebagai periode ulang
dari x. Perhitungan periode ulang dapat dilakukan dengan beberapa
metode salah satunya dengan metode Log Person (Suwarno, 2000).
6. Sump
Menurut Awang Suwandhi (2004) kolam penampung merupakan
tempat yang dibuat untuk menampung air sebelum air tersebut
dipompakan. Kolam penampung ini juga dapat berfungsi sebagai tempat
mengendapkan lumpur. Tata letak kolam penampung dipengaruhi oleh
sistem drainase tambang yang digunakan serta disesuaikan dengan letak
geografis daerah tambang dan kestabilan lereng tambang.
Berdasarkan tata letak kolam penampung (sump), sistem penirisan
tambang dapat dibedakan menjadi:
a. Sistem Penirisan Terpusat
Pada sistem ini sump-sump akan ditempatkan pada setiap
jenjang atau bench. Sistem pengaliran dilakukan dari jenjang paling
atas menuju jenjang-jenjang yang berada di bawahnya, sehingga
akhirnya air akan terpusat pada main sump untuk kemudian
dipompakan keluar tambang.
49
b. Sistem Penirisan Tidak Memusat
Sistem ini diterapkan untuk daerah tambang yang relatif
dangkal dengan keadaan geografis daerah luar tambang yang
memungkinkan untuk mengalirkan air secara langsung dari sump ke
luar tambang.
Berdasarkan penempatannya, sump dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis, yaitu:
1) Travelling Sump
Sump ini dibuat pada daerah front tambang. Tujuan dibuatnya
sump ini adalah untuk menanggulangi air permukaan. Jangka waktu
penggunaan sump ini relatif singkat dan selalu ditempatkan sesuai
dengan kemajuan tambang.
2) Sump Jenjang
Sump ini dibuat secara terencana baik dalam pemilihan lokasi
maupun volumenya. Penempatan sump ini adalah pada jenjang
tambang dan biasanya di bagian lereng tepi tambang, sump ini disebut
sebagai sump permanen karena dibuat untuk jangka waktu yang cukup
lama dan biasanya dibuat dari bahan kedap air dengan tujuan untuk
mencegah meresapnya air yang dapat menyebabkan longsornya
jenjang.
3) Main Sump
Sump ini dibuat sebagai tempat penampungan air terakhir. Pada
umumnya sump ini dibuat pada elevasi terendah dari dasar tambang.
50
7. Pompa
a. Pengertian Pompa
Pompa merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan air
di daerah tambang, baik itu air tanah maupun air bawah tanah. Dalam
sistem penyaliran tambang, pompa sangat diperlukan untuk mencegah
maupun mengeluarkan air yang masuk ke lokasi tambang. Jenis pompa
yang banyak digunakan dalam kegiatan penyaliran tambang adalah
pompa sentrifugal. Pompa ini banyak digunakan di daerah tambang
karena mampu mengalirkan lumpur, perawatannya mudah dan
kapasitasnya besar.
Dalam pemilihan pompa, kita harus menyesuaikan dengan
beberapa faktor, yaitu:
1) Lokasi Pemindahan Air
Dalam pemilihan pompa, lokasi pemindahan air tambang
harus diketahui terlebih dahulu. Sehingga ketinggian buangan,
kemiringan, belokan, dan lain-lain dapat diketahui.
2) Debit Air yang Dipindahkan
Debit air yaitu jumlah air atau volume air yang
dipindahkan/dikeluarkan dari tempat yang satu ke tempat yang
lainya selama waktu tertentu dengan satuan m3/jam atau m3/detik.
3) Karakteristik Air
Pada umumnya air tambang mempunyai tingkat keasaman
yang tinggi dengan PH 5-7, biasanya berasal dari air resapan yang
51
ada pada lapisan permukaan tanah. Dengan tingginya tingkat
keasaman air tambang dapat menyebabkan kerusakan alat pompa
seperti rumah pompa, pipa (hose) dan dapat menyebabkan
menurunya produkfitas kerja pompa.
4) Kapasitas Motor
Kapasitas motor yaitu besarnya daya listrik yang dipakai
untuk menggerakkan motor tersebut (kw).
5) Spesifikasi pompa
Spesifikasi pompa adalah tipe nomor pompa, nama pompa,
dan jenis pompa.
6) Kapasitas pompa
Kapasitas pompa yaitu jumlah volume air yang dapat di
hisap/dialirkan oleh pompa tersebut persatuan waktu (m3/jam).
7) Head Pompa
Ada 2 pengertian head pompa, yaitu:
a) Tinggi Tekan (Delivery head)
Tinggi tekan pompa (delivery head) adalah jarak
vertikal antara sumbu pompa dengan titik buangan tertinggi
yang diukur dalam satuan meter.
b) Tinggi Hisap (Suction head)
Tinggi hisap (suction head) adalah jarak vertikal dari
permukaan air sampai kesuatu pompa.
52
b. Head Total Pompa
Dalam perhitungan head total pompa dapat menggunakan
rumus (Sularso, 2006:26):
HT = Hs + Hf + Hsv + Hv + Δ Hp
Dimana HT adalah head total pompa yang merupakan
penjumlahan dari head statis dan kerugian-kerugian yang ada pada
kondisi direncanakan seperti adanya belokan, sambungan, katup dan
lain-lain.
1) Hs (Headstatis) yaitu perbedaan elevasi pipa hisap dengan elevasi
pipa buang (m).
Hs = H1 – H2
Keterangan:
H1 = Elevasi pipa buang (mdpl)
H2 = Elevasi pipa hisap (mdpl)
2) Hf (Headfriction) yaitu kerugian energi akibat gesekan pada pipa
(m).
10,666 𝑄1,85
𝐻𝑓 = xL
𝐶 1,85 𝐷 4,85
Keterangan:
Hf = Faktor kekasaran (m)
Q = Debit aliran (m3/detik)
C = Koefisien
L = Panjang pipa aliran (m)
D = Diameter pipa (m)
53
3) Hv (head velocity) merupakan head kecepatan keluar (m).
𝑉2
𝐻𝑣 = 2𝑔
Keterangan:
V = Kecepatan (m/detik)
g = Gravitasi (m/detik2)
4) Hsv merupakan kehilangan energi akibat fitting-fitting dan
pemasangan konstruksi pada instalasi.
Hsv = Banyak x Le x Hf
𝑉2
𝐻𝑠𝑣 = 𝑓𝑛 ( )
2𝑔
𝐷 3,5 𝜃 0,5
𝑓𝑛 = [0,131 + 1,847 ( ) ] 𝑥 ( )
2𝑅 90
Keterangan:
D = Diameter dalam pipa (m)
R = Jari-jari lengkung sumbu belokan (m)
𝜃 = Sudut belokan (derajat)
5) Perhitungan Head Akibat Tekanan Potensial (Δ Hp).
Δ Hp = Hp1 – Hp2
0,0065 𝑥 𝐻2 5,256
𝐻𝑝1 = 10,33 (1 − )
288
0,0065 𝑥 𝐻1 5,256
𝐻𝑝2 = 10,33 (1 − )
288
54
c. Kapasitas Pemompaan
Kapasitas pompa yang diperlukan dapat dihitung setelah
jumlah airlimpasan diketahui. Untuk menghitung debit pompa yang
diperlukandapat digunakan persamaan berikut ini (Sularso, 2006:19).
𝑄
𝑄𝑝 =
𝐿𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑜𝑚𝑝𝑎𝑎𝑛 𝑥 3600 𝑥 𝐷
Keterangan:
Qp = Kapasitas pompa (m3/detik)
D = Lamanya genangan yang diperbolehkan (hari)
Q = Jumlah air limpasan yang akan dipompakan (m3)
d. Jumlah Pompa
Untuk menentukan jumlah pompa dapat dilakukan dengan
membandingkan antara volume air yang masuk ke areal tambang
dengan debit pemompaan.
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan yaitu:
1) Kapasitas Pompa
Ada beberapa aspek yang perlu diketahui dalam
menentukan kapasitas pompa, yaitu:
a) Berat dan ukuran pompa yang akan diangkut dari pabrik ke
tempat pemakaian pompa.
b) Lokasi pemasangan pompa dan transportasi pengangkutan.
c) Jenis penggerak pompa yang harus disesuaikan dengan keadaan
lokasi pemasangan pompa.
d) Pengadaan suku cadang pompa.
55
e) Resiko dan keselamatan kerja dalam pemasangan dan
pengangkutan pompa.
8. Saluran Terbuka
Saluran terbuka berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air
ke tempat pengumpulan (kolam penampungan) atau tempat lain. Bentuk
penampungan saluran, umumnya dipilih berdasarkan debit air, tipe
material serta kemudahan dalam pembuatannya. Sumber air utama pada
tambang terbuka adalah air hujan, walaupun kadang kontribusi air tanah
juga tidak dapat diabaikan dalam menentukan debit.
Dalam merancang bentuk saluran penyaliran, beberapa hal yang
perlu diperhatikan antara lain, dapat mengalirkan debit air yang
direncanakan dan mudah dalam penggalian saluran serta tidak lepas dari
penyesuaian dengan bentuk topografi dan jenis tanah. Bentuk dan dimensi
saluran juga harus memperhitungkan efektifitas dan ekonomisnya.
Dalam sistem penyaliran itu sendiri terdapat beberapa bentuk
penampang penyaliran yang dapat digunakan. Bentuk penampang
penyaliran diantaranya bentuk segi empat, bentuk segi tiga dan bentuk
trapesium seperti yang terlihat pada Gambar 35 sebagai berikut:
Beberapa macam penampang saluran (Rudi Sayoga Gautama,
1999:4-3):
1) Bentuk Segi Empat
Lebar permukaan saluran (B) dan Lebar dasar saluran (b) = 2d
Luas penampang basah (A) = 2d2
56
Keliling Basah (P) = 4d
2) Bentuk Segi Tiga
Sudut tengah = 90o
Luas penampang basah (A) = d2
Jari-jari hidrolis (R) = d/(2√2)
Keliling basah (P) = 2d . √2
3) Bentuk Trapesium
Dalam menentukan dimensi saluran bentuk trapesium dengan
luas maksimum hidrolis, luas penampang basah saluran (A), jari-jari
hidrolik (R), kedalaman penampang aliran (d), lebar dasar saluran (b),
penampang sisi saluran dari dasar kepermukaan (a), lebar permukaan
saluran (B), dan kemiringan dinding saluran (m), mempunyai
hubungan yang dapat dinyatakan sebagai berikut:
A = b . d + m . d2
R = 0,5d
B = b + 2m . d
b = 2 [(√ m2 + 1)- m] d
a = d/sin 𝛼
m = cotg 𝛼
Penambahan tinggi jagaan adalah 15 % dari d.
57
n
Gambar 21. Bentuk-Bentuk Saluran Penampang
Sumber: Rudi
kemiringan dasar saluran Sayoga Gautama,
ditentukan 1999:4-5
dengan pertimbangan bahwa, suatu
aliran dapat memgalir secara alamiah tanpa terjadi pengendapan lumpur
pada dasar saluran, dimana menurut Pfleider (1968) kemiringan antara
0,25 – 0,5 % sudah cukup untuk mencegah adanya pengendapan lumpur
berupa adanya pengendalian. Dalam hal ini maka harga S = (0,25 %)
yang merupakan kemiringan dasar pit pada lokasi penambangan. Yang
dapat dilihat pada tabel 5 berikut:
Tabel 5. Nilai Koefisien Kekasaran N Untuk Rumus Manning
Tipe dinding saluran N
Semen 0,010 – 0,014
Beton 0,011 – 0,016
Bata 0,012 – 0,020
Besi 0,013 – 0,017
Tanah 0,020 – 0,030
Gravel 0,022 – 0,035
Tanah yang ditanami 0,025 – 0,040
Sumber: Rudi Sayoga Gautama, 2007:4-3
58
Perhitungan kapasitas pengaliran suatu saluran dapat dihitung
menggunakan rumus Manning (Rudi Sayoga Gautama, 1999: 4-3):
Q = 1/n . A . S1/2 . R2/3
Keterangan:
Q = Debit pengaliran maksimum (m3/detik)
A = Luas penampang (m2)
S = Kemiringan dasar saluran (%)
R = Jari-jari hidrolis (m)
n = Koefisien kekerasan dinding saluran menurutyyg
66