0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
97 tayangan53 halaman

Geologi dan Penambangan Sawahlunto

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai lokasi, topografi, iklim, kondisi geologi regional dan stratigrafi di wilayah tambang PT Nusa Alam Lestari. Wilayah tambang terletak di Kabupaten Sawahlunto dan dikelilingi oleh formasi batuan Sawahlunto yang mengandung batubara. Iklimnya tropis dengan curah hujan tinggi pada bulan Oktober-April.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
97 tayangan53 halaman

Geologi dan Penambangan Sawahlunto

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai lokasi, topografi, iklim, kondisi geologi regional dan stratigrafi di wilayah tambang PT Nusa Alam Lestari. Wilayah tambang terletak di Kabupaten Sawahlunto dan dikelilingi oleh formasi batuan Sawahlunto yang mengandung batubara. Iklimnya tropis dengan curah hujan tinggi pada bulan Oktober-April.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum

1. Lokasi dan Topografi

Secara administratif konsesi penambangan PT. Nusa Alam Lestari

termasuk dalam wilayah Parambahan, Kec. Talawi, Kota Sawahlunto,

Sumatera Barat. Jarak antara daerah penambangan dengan Kota Padang ±

90 km disebelah timur Kota Padang, ditempuh dengan kendaraan roda

empat pada jalan Lintas Sumatra melalui Padang - Kota Solok - Kota

Sawahlunto dengan waktu tempuh ± 3-4 jam, yang dapat dilihat pada

Gambar 1.

Gambar 1. Peta Kesampaian Daerah Lokasi PT. Nusa Alam Lestari


Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2015)

7
8

Secara geografis wilayah penambangan PT. Nusa Alam Lestari

terletak pada koordinat 100o45’48’’ BT – 100o46’48” BT dan 00o36’45” LS –

00o37’12” LS.

Koordinat geografis batas wilayah Izin Usaha Penambangan (IUP)

operasi produksi batubara dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Koordinat Batas Wilayah Kuasa Penambangan (KP) Eksploitasi


No. Titik Bujur Timur Lintang (LU/LS)
koordinat (o) (') (") (o) (') (") Ket
1 100 45 48.19 0 36 54.35 LS
2 100 45 54.50 0 36 54.35 LS
3 100 45 54.50 0 36 51.80 LS
4 100 45 59.70 0 36 51.80 LS
5 100 45 59.70 0 36 53.65 LS
6 100 46 9.00 0 36 53.65 LS
7 100 46 9.00 0 36 49.78 LS
8 100 46 22.40 0 36 49.78 LS
9 100 46 22.40 0 36 45.84 LS
10 100 46 48.00 0 36 45.84 LS
11 100 46 48.00 0 37 8.21 LS
12 100 46 30.20 0 37 8.21 LS
13 100 46 30.20 0 37 12.00 LS
14 100 44 58.67 0 37 12.00 LS
15 100 44 58.67 0 37 5.50 LS
16 100 44 14.45 0 37 5.50 LS
17 100 44 14.45 0 36 59.00 LS
18 100 45 48.19 0 36 59.00 LS
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2009)

Berikut peta lokasi IUP OP batubara PT. Nusa Alam Lestari, Desa

Salak, Kec. Talawi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini:


9

Gambar 2. Peta Lokasi Wilayah IUP PT. Nusa Alam Lestari


Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2015)

2. Iklim dan Curah Hujan

Daerah tambang PT. Nusa Alam Lestari beriklim tropis dengan

suhu berkisar antara 22oC sampai 30oC dan terbagi dalam dua musim yaitu

musim hujan dan musim kemarau. Curah hujan di daerah PT. Nusa Alam

Lestari 2760,8 mm/tahun, sedangkan untuk curah hujan tertinggi 647 mm


10

pada bulan Oktober dan terendah 102,8 mm pada bulan Februari. (Sumber:

PT. Nusa Alam Lestari).

Dari data pos pengamatan curah hujan Kecamatan Talawi, jumlah

hari hujan daerah penyelidikan untuk tahun 2000 adalah 188 hari, volume

curah hujan 1.598,91 mm3 (rata-rata 385,43 mm3) dengan lama hujan 125

jam. Musim hujan di daerah penyelidikan berlangsung antara bulan

November hingga April, sementara suhu udara minimum dan

maksimumnya 25o C dan 32o C. Secara terperinci, curah hujan dan

banyaknya curah hujan yang mempengaruhi iklim.

3. Kondisi Geologi Regional

a. Kondisi Geologi Regional

Endapan batubara terjadi pada kala oligosen diendapkan dalam

cekungan antara gunung (Inter Mountain Basin) yang dikenal dengan

Cekungan Ombilin dan mempunyai luas ± 800 km2 yang berkembang

sejak awal zaman tersier memanjang pada arah barat – tenggara,

searah dengan struktur geologi yang banyak terdapat patahan (fault)

dan lipatan (fold).

Lokasi penambangan batubara PT. NAL sekarang ini terletak

dibagian barat cekungan ombilin dan terdapat pada formasi batuan

yang dikenal dengan nama Formasi Sawahlunto. Secara umum

lapisan tanah penutup batubara terdiri dari batu lempung (clay stone),

batu pasir (sand stone), batu lanau (silt stone).


11

Batubara ini terletak dibagian barat cekungan ombilin dan

terdapat pada formasi batuan yang dikenal dengan nama Formasi

Sawahlunto. Secara umum lapisan tanah penutup batubara terdiri dari

Batu Lempung (claystone), Batu Pasir (sandstone), dan Batu Lanau

(siltstone).

Kota Sawahlunto terletak diformasi Sawahlunto, batuan yang

terbentuk pada zaman itu diberi istilah kata Eochen sekitar 40 – 60

juta tahun yang lalu. Para ahli geologi berpendapat bahwa kepulauan

Nusantara yang kita kenal sekarang ini terbentuk sekitar 4 juta tahun

yang lalu. Mereka menduga ketika formasi Sawahlunto terbentuk,

pulau Sumatera belum ada seperti yang kita kenal sekarang ini.

Batuan tertua dari zaman pra-tersier yang terangkat ke

permukaan dengan cara struktur garben, diendapkan batuan-batuan

a. Alluvium Sungai (Qal), berumur kuarter yang terdiri dari material

lepas, berukuran lempung, pasir, kerikil dan bongkahan batuan

beku.

b. Tufa batu apung (Qpt), merupakan batuan vulkanik, berumur

kuarter terdiri dari batu apung didalam matriks kaca kelaran.

c. Anggota atas formasi ombilin (Tmou), merupakan batuan sedimen

berumur miosen tersier yang terdiri dari lempung dan napal

dengan sisipan batu pasir konglomerat mengandung kapur dan

berfosil.
12

d. Anggota bawah formasi ombilin (Tmol), merupakan batuan

sedimen, berumur miosen tersier yang terdiri dari batu pasir

kuarsa yang mengandung mika sisipan arkose, serpih lempungan,

konglomerat kuarsa dan batubara.

e. Batu Gamping Karang (Tml), merupakan batuan sedimen,

berumur oligosen, yang terdiri dengan batuan konglomerat dengan

sisipan batu pasir.

f. Formasi Brani (Tob), merupakan batuan sedimen, berumur

oligosen, yang terdiri dengan batuan konglomerat dengan sisipan

batu pasir.

g. Granit (G), susunan berkisar darilecio-granit sampai monzonit

kuarsa yang berumur trias.

h. Anggota Batu Gamping Formasi Kuantan (PCkl), merupakan

batuan hasil proses metamorfosis, terdri dari batu gamping, batu

sabak, filit, serpih terkersiknya dan kuarsit yang berumur perm

dan karbon.

Untuk lebih jelasnya peta geologi Kota Sawahlunto dapat

dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.


13

Gambar 3. Peta Geologi Kota Sawahlunto


Sumber: RTRW Kota Sawahlunto 2010-2030.

b. Stratigrafi Daerah

Daerah adapun berhubungan dengan penunjaman di daerah

busur kepulauan, penunjaman lempeng terjadi di sebelah barat pulau

Samudera Hindia yang masuk ke lempeng Eurasia. Akibat dari


14

kegiatan tektonik ini terjadi perlipatan (fold), patahan (fault) intrusi

dan terbentuknya cekungan antar pegunungan (inter mountain basin).

Proses selanjutnya batuan tersier meengisi bagian tengah dan

atas cekungan ini yang termasuk formasi Brani, formasi

Sangkarewang, formasi Sawahlunto, formasi Sawahtambang, formasi

Ombilin dan formasi Ranau. Stratigrafi Sawahlunto berdasarkan

umumnya dapat dibagi menjadi dua bagian utama, dapat dilihat pada

penjelasan di bawah ini.

1) Komplek Batuan Pra Tersier terdiri dari:

a) Formasi Silungkang, formasi ini dibedakan menjadi 4 satuan:

lava andesit, lava basalt, tufa andesit, dan tufa basalt.

b) Formasi Tuhur, formasi ini dicirikan oleh lempung abu-abu

kehitaman berlapisan baik, dengan sisipan batu pasir dan batu

gamping hitam.

2) Komplek Batuan Tersier terdiri dari:

a) Formasi Sangkarewang (Paleosen), disusun oleh batuan

sedimen paralis yang terdiri atas perlapisan batu lempung

napalan coklat-hitam berseling dengan batu pasir dan batu

lempung yang mengandung fosil ikan air tawar.

b) Formasi Brani (Paleosen), terdiri dari konglomerat dan batu

pasir kasar yang berwarna coklat keunguan yang terpilah

baik, padat, keras dan umumnya memperlihatkan suatu

perlapisan.
15

c) Formasi Sawahlunto (Eosen), formasi ini merupakan formasi

paling penting karena mengandung batubara yang dicirikan

dengan batu lanau, batu lempung dan berselingan dengan

batubara.

d) Formasi Sawahtambang (Oligosen), bagian bawah formasi ini

dicirikan oleh beberapa siklus endapan yang terdiri dari batu

pasir konglomerat tanpa adanya sisipan batu lempung atau

lanau.

e) Formasi Ombilin (Miosen Bawah), formasi ini terdiri dari

batu lempung gampingan, napal dan pasir gampingan yang

berwarna abu-abu kehitaman, berlapis tipis dan mengandung

fosil.

f) Formasi Ranau, formasi ini terdiri dari tufa, breksi, batu

apung berwarna abu-abu kehitaman.

Sebaran lateral dalam bentuk peta stratigrafi dapat dilihat

pada Gambar 4 di bawah ini.


16

Gambar 4. Peta Stratigrafi Kota Sawahlunto


Sumber: Dinas Perindagkopnaker Sawahlunto 2005.
17

Lapisan batubara terdapat pada formasi Sawahlunto.

Formasi Sawahlunto disusun oleh perulangan konglomerat, batu

pasir lanauan, batu lempung karbonan, dan beberapa sisipan

batubara. Ketebalan total formasi Sawahlunto kurang lebih 126 m.

Dijumpai tiga sisipan lapisan batubara. Lapisan yang atas adalah

Seam A dengan ketebalan rata-rata 2 m, kemiringan batubaa 3º-8º

dan tebal overburden antara 40-300 m. Seam B1 ketebalan rata-

rata 0,6-1,5 m, kemiringan batubara 3º-23º dan tebal interburden

antara 10-15 m. Seam B2 ketebalan rata-rata 0,8-1,5 m,

kemiringan batubara 3º-23º dan tebal interburden antara 0,8-3 m.

Dan yang paling bawah adalah Seam C dengan tebal 3-12 m,

kemiringan 3º-24º dan tebal interburden antara 14-20 m. Sebaran

lapisan batubara ini dikontrol oleh susunan stratigrafi dan struktur

geologi yang berkembang. Sebagian ada yang tersingkap di

permukaan dan ada yang menerus hingga pada kedalaman lebih

dari 500 m, mengikuti pola lipatan dan pensesaran.

c. Geologi Daerah Penambangan

Berdasarkan pola tektonik pulau Sumatera daerah telitian

termasuk dalam zona intra montana. Menurut P.H Silitonga dan

Kastowo (1995) daerah telitian termasuk dalam anggota Bawah

Formasi Ombilin (Tmol), yang berada pada batuan granit berumur

trias. Pengelompokan geologi Talawi berdasarkan kompleksitas

geologi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini:


18

Tabel 2. Pengelompokan Geologi Talawi Berdasarkan

Kompleksitas Geologi

No. PARAMETER KONDISI GEOLOGI

I Aspek Sederhana Moderat Kompleks


Tektonik
Sesar Hampir tidak Jarang Rapat
1. ada
Lipatan Hampir tidak Terlipat Terlipat
2.
terlipat sedang kuat
Intrusi Tidak Berpengaruh Sangat
3.
berpengaruh berpengaruh
Kemiringan Landai Sedang Terjal
4.
II Aspek Sederhana Moderat Kompleks
Sedimentasi
1. Variasi X < 10% 10% < X < X > 50%
ketebalan 50%
2. Kesinambungan Ribuan meter Ratusan Puluhan
meter meter
3. Percabangan Hampir tidak Beberapa Banyak
ada
4. Variasi kualitas Sedikit Bervariasi Sangat
bervariasi bervariasi
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2009)

Menurut Tabel 2 di atas kompleksitas geologi daerah Talawi

pada lapisan sedimen pembawa batubara termasuk dalam kriteria

geologi sederhana, sehingga perhitungan sumber daya batubara

terukur dari titik informasi singkapan dapat dihitung sejauh 300 m.

d. Lapisan Batubara Sapan Dalam

Dari eksplorasi terdahulu, pada saat penambangan telah

diketahui, terdapat 3 (tiga) lapisan (seam) batubara yang dapat di

tambang (mineable) dengan metode tamda. Lapisan tersebut adalah


19

seam A1, seam C1, dan seam C2 dengan kemiringan masing-masing

15o-30o.

1) Lapisan Batubara A1

Lapisan batubara seam A1 yang akan di tambang dengan

metode tamda memiliki ketebalan rata-rata 1,6 m tepat di atas roof

A1 terdapat clay dengan ketebalan 3 – 5 m.

2) Lapisan Batubara C1

Lapisan batubara seam C1 merupakan lapisan batubara di

bawah seam A1 yang akan di tambang dengan metode tamda

dengan ketebalan rata-rata 1,9 m. Posisi lapisan seam C1 mencapai

30 – 35 m di bawah lapisan seam A1.

3) Lapisan Batubara C2

Lapisan batubara seam C1 merupakan lapisan batubara

terbawah (di bawah seam C1) dengan ketebalan rata-rata 2,4 m.

Posisi lapisan seam C2 berada 4 – 12 m di bawah lapisan seam C1.

e. Karakteristik dan Kondisi Lapangan

Desain penambangan batubara bawah tanah Sapan Dalam

didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut, yaitu: kapasitas

produksi yang diinginkan, kondisi topografi, dan morfologi di

permukaan, kondisi geologi di area penambangan, kondisi dan

keberadaan batubara yang akan ditambang, kondisi geoteknik massa

batuan, peralatan yang akan digunakan serta kondisi permukaan

disekitar mulut tambang. Karakteristik massa batuan dan keberadaan


20

lapisan batubara yang akan menjadi pertimbangan dalam desain

penambangan adalah sebagai berikut:

1) Dasar dinding lereng bekas open pit dianggap sebagai garis

singkapan batubara terbawah yang di tambang.

2) Lapisan overburden sampai di atas permukaan tidak terlalu tebal

sehingga daerah kerja diperkirakan dalam lingkungan tidak terlalu

berat. Jarak floor A1 – top surface adalah antara 10 - 30 m.

3) Terdapat beberapa lapisan batubara, namun yang di tambang hanya

lapisan batubara tebal, yaitu: seam A1, seam C1, seam C2.

4) Kondisi hidrogeologi dianggap cukup sederhana, tidak kompleks,

dan dianggap pengendalian air tanah tidak begitu sulit.

5) Lapisan batubara memilki kemiringan relatif seragam antara 15 o-

35o dan dalam desain digunakan kemiringan sebesar 6o-12o.

f. Kondisi Hidrologi

Daerah Kota Sawahlunto dan sekitarnya dilalui oleh 5 sungai

atau batang utama. Sungai-sungai itu adalah:

1) Batang Ombilin

Sungai ini mengalir dari utara ke selatan dari Desa Talawi

ke desa Rantih Kecamatan Talawi, sungai Ombilin merupakan

sungai tersebar di daerah Sawahlunto sebagai sumber air baku

bagi PDAM. Sungai ini berhulu di danau Singkarak, Debit sungai

ini di daerah Sikalang-Rantih lebih dari 10 m3/detik.


21

2) Batang Malakutan

Sungai ini mengalir dari barat yang berhulu di desa

Siberambang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Solok ke timur

melewati desa Kolok Mudiak dan desa Kolok Tuo di Kecamatan

Barangin yang akhirnya bertemu dengan Batang Ombilin.

3) Batang Lunto

Sungai ini berhulu di desa Lumindai, Kecamatan Barangin

dan mengalir dari arah barat menuju timur dan membelah kota

Sawahlunto, Kecamatan Lembah Segar dan Muara di Batang

Ombilin.

4) Batang Sumpahan

Sungai ini berhulu di Kelurahan Sapan (Kelurahan Durian

II) di Kecamatan Barangin kemudian bertemu dengan Batang

Lunto dan akhirnya bermuara di Batang Ombilin.

5) Batang Lasi

Sungai ini berhulu di IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten

Solok yang mengalir menyusuri jalan dari Solok ke Sijunjung di

Kecamatan Silungkang, Kecamatan Silungkang dan keluar di

perbatasan Kota Sawahlunto-Sijunjung sungai ini kemudian

bertemu juga dengan Batang Ombilin di sungai Kuantan atau

Indragiri.

Keterdapatan air tanah di wilayah Kota Sawahlunto terbatas

pada celahan batuan sedangkan lapisan-lapisan batupasir


22

penyusun formasi Sawahtambang dan formasi Sawahlunto kurang

mengindikasikan sebagai lapisan pembawa air atau potensi air

tanah kecil.

4. Kualitas Batubara

PT. Nusa Alam Lestari melakukan penambangan denganv metode

tambang dalam sistem Room and Pillar maka tidak semua sisa cadangan

dapat diambil. Berdasarkan pengalaman tambang dalam sebelumnya di

PT. BA Ombilin maka mining recovery yang dipakai adalah 50% dari

100% cadangan yang artinya harapan tonase batubara terambil dari tiap

lapisan adalah sebagai berikut:

1) Kapasitas produksi tambang dalam pada seam C1 diproyeksikan

232.820 ton.

2) Kapasitas produksi tambang dalam pada seam C2 diproyeksikan

321.259 ton.

Tabel 3. Sisa Sumber Daya Cadangan Batubara Pada Izin Usaha


Penambangan 100 ha PT. Nusa Alam Lestari, Site Sapan
Dalam, Desa Salak, Kec. Talawi, Sawahlunto.

SEAM SISA CADANGAN MINEABLE (TON) 2015


TERUKUR TERUNJUK TEREKA TOTAL
S
u
m
Seam 248.358 781.640 496.901 1.526.899
b A1
e Seam 46.564 556.697 421.318 1.024.579
r C1
:
Seam 642.518 692.321 722.334 2.057.173
P C2
T Total 937.440 2.030.658 1.640.553 4.608.651
.
Nusa Alam Lestari (2015)
23

Dari hasil analisa sample (contoh) batubara sebagai berikut dapat


dilihat pada Tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4. Analisa Sample Batubara Seam C1 PT. Nusa Alam Lestari
No. Parameter Satuan Rata-rata
1 Total moisture (AR) (%) 7.86
2 Proximate analisis (ADB)
 Inherent moisture (%) 5.71
 Volatile moisture (%) 36.67
 Ash content (%) 12.65
 Fixed carbon (%) 44.96
3 Calori value (ADB) Kcal/kg 6.800 – 7.585
4 Total sulfur (%) 0.56 – 2.41
5 Coal rank - Subbituminus
Sumber: PT. Nusa Alam Lestari (2015)

Keterangan:

a) As Received (AR), yaitu batubara yang masih mengandung air total.

b) Air Dried Base (ADB), yaitu kondisi batubara yang telah

dikeringakan tetapi masih mengandung air (Inherent Moisture).

c) Dry Base (DB), yaitu kondisi batubara kering.

d) Day Ash Free (DAF), yaitu kondisi batubara yang hanya

mengandung volatile matter dan fixed carbon serta bebas dari

kandungan air dan kandungan abu.

5. Jam Kerja

Dalam penjadwalan kegiatan penambangan PT. Nusa Alam Lestari

menekankan sistem shift. Lama jam kerja dalam satu hari adalah 16 (enam

belas) jam. Dengan rincian sebagai berikut:

Shift I dimulai dari pukul 08.00 wib – 17.00 wib.

Shift II dimulai dari pukul 17.00 wib – 02.00 wib.


24

B. Landasan Teori

1. Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi merupakan konsep dasar tentang keseimbangan

air secara global dan juga menunjukkan semua hal yang berhubungan

dengan air (Robert J. Kodatie, 1996:3). Hidrogeologi dalam bahasa

inggris tertulis hydrogeology. Hidro berarti air dan geology berarti benda

sehingga dapat diartikan menjadi geologi air (the geology of water).

Secara umum daur hidrologi terjadi karena air yang menguap ke

udara dari permukaan tanah dan laut akan terkondensasi dan kembali

jatuh ke bumi. Kejadian ini disebut presipitasi yang dapat berbentuk

hujan, salju atau embun. Peristiwa perubahan air menjadi uap air dan

bergerak dari permukaan tanah ke udara disebut evaporasi, sedangkan

peng uapan air dari tanaman disebut transpirasi. Jika kedua proses ini

terjadi secara bersama-sama maka disebut evapotranspirasi. Untuk lebih

jelasnya daur hidrologi dapat dilihat pada Gambar 28 sebagai berikut:


25

Gambar 14. Daur hidrologi


Sumber: Bahan kuliah Hidrogeologi (Rusli HAR)

a. Presipitasi

Presipitasi adalah nama umum dari uap yang

mengkondensasi dan jatuh ke tanah dalam rangkaian proses siklus

hidrologi (Sosrodarsono dan Takeda, 1983). Presipitasi dapat

berbentuk tiga wujud, yaitu:

1) Hujan yang merupakan bentuk presipitasi yang paling penting.

2) Embun yang merupakan hasil kondensasi di permukaan tanah

atau tumbuhan.

3) Salju dan Es

Untuk wilayah Indonesia yang beriklim tropis, bentuk

presipitasi yang paling penting adalah hujan. Faktor-faktor yang

mempengaruhi terjadinya presipitasi adalah:


26

1) Adanya uap air di atmosfer.

2) Faktor-faktor meteorologis seperti suhu air, suhu udara,

kelembaban, kecepatan angin, tekanan dan sinar matahari.

3) Lokasi daerah berhubungan dengan sistem sirkulasi secara

umum.

4) Rintangan yang disebabkan oleh gunung dan lain-lain.

b. Infiltrasi

Infiltrasi adalah aliran air ke dalam ltanah melalui permukaan

tanah. Di dalam tanah air mengalir dalam arah lateral, sebagai aliran

antara (interflow) menuju mata air, danau dan sungai atau secara

vertikal yang dikenal dengan perkolasi menuju air tanah (Bambang

Triatmodjo,2008:91).

Gerak air di dalam tanah melalui pori-pori tanah dipengaruhi

oleh gaya gravitasi dan gaya kapiler. Gaya gravitasi menyebabkan

aliran air selalu menuju ke tempat yang lebih rendah, sedangkan

gaya kapiler menyebabkan air bergerak ke segala arah dari daerah

basah menuju ke daerah kering (Bambang Triatmodjo,2008:91).

Proses infiltrasi terjadi karena hujan yang jatuh di atas

permukaan tanah sebagian atau seluruhnya akan mengisi pori-pori

tanah. Curah hujan yang mencapai permukaan tanah akan bergerak

sebagai air limpasan permukaan (run off) atau sebagai infiltrasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi (Bambang

Triatmodjo,2008:92) adalah:
27

1) Kedalaman genangan dan tebal lapis jenuh

2) Kelembaban tanah

3) Pemampatan oleh hujan

4) Penyumbatan oleh butir halus

5) Tanaman penutup

6) Topografi

7) Intensitas hujan

c. Evapotranspirasi

Evapotranspirasi merupakan gabungan dari evaporasi dan

transpirasi. Evaporasi adalah proses berubahnya bentuk zat cair (air)

menjadi gas (uap air) dan masuk ke atmosfer, sedangkan transpirasi

adalah penguapan melalui tanaman, dimana air tanah diserap oleh

akar tanaman yang kemudian dialirkan melalui batang sampai ke

permukaan daun dan menguap menuju atmosfer (Bambang

Triatmodjo,2008:49).

Evaporasi dan transpirasi sulit dibedakan di alam terlebih di

daerah tropis yang mempunyai banyak tumbuhan, oleh karenanya

evaporasi dan transpirasi sering disatukan menjadi evapotranspirasi.

Evapotranspirasi adalah penguapan yang terjadi di permukaan lahan

yang meliputi permukaan tanah dan tanaman yang tumbuh di

permukaan tersebut (Bambang Triatmodjo,2008:49).


28

2. Air Bawah Permukaan

a. Air Tanah

Akumulasi air dan kapasitas transport dari suatu formasi

ditentukan oleh porositas. Porositas adalah sebagai perbandingan

volume pori-pori terhadap volume total. Ada dua jenis porositas yaitu

(Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal 218):

1) Porositas primer, yaitu porositas yang telah ada pada waktu pem

bentukan dan konsolidasi batuan.

2) Porositas sekunder, yaitu porositas yang dihasilkan dari tekanan

tektonik yang menyebabkan retakan dan saluran-saluran karena

pelarutan yang membentuk jalur-jalur aliran.

Porositas menentukan kapasitas memuat atau mengantarkan air

(permeable) dari suatu formasi batuan-batuan vulkanik mempunyai

porositas primer yang sangat rendah, tetapi rekahan-rekahan dan joint

serta bidang-bidang perlapisan adalah saluran utama dari gerakan air

pada zona ini. Permeabilitas akan sangat ditentukan dan tergantung

pada tingkat keretakannya (Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal 218-

219).

Menurut Todd (1980) keberadaan airtanah dibawah permukaan

tanah dapat dibagi menjadi zona aerasi dan zona jenuh. Zona aerasi

terdiri dari ruang antar butir yang ditempati sebagian dari air dan

sebagian udara. Dalam zona jenuh semua ruang antar butir diisi oleh

air dibawah tekanan hidrostatik. Kebanyakan dalam massa tanah di


29

bumi, satu zona aerasi berada diatas satu zona jenuh. Dalam zona

aerasi (air vadose) terdapat tiga zona, yaitu: zona airtanah permukaan,

zona vadose intermediate dan zona kapiler. Dimana air yang

berada pada zona tak-jenuh disebut air gantung (vadose water). Air

gantung yang terdapat dekat permukaan hingga tersedia bagi akar

tetumbuhan disebut air solum (solumn water), dan yang tersimpan

dalam ruang merambut (capillary zone) disebut air merambut

(capillary water).

Zona jenuh berasal dari bagian permukaan muka airtanah

sampai dengan batuan impermeabel. Tidak adanya lapisan

impermeabel diatas muka airtanah, membentuk permukaan zona jenuh,

ini disebut sebagai permukaan tekanan atmosfer dan terlihat pada

muka airtanah dalam sumur di akuifer bebas. Sebenarnya kejenuhan

melampui sedikit di atas muka airtanah akibat gaya kapiler. Air yang

berada di zona jenuh disebut dengan istilah airtanah.

b. Kualitas Air

Dinyatakan dalam istilah kuantitas dan jenis-jenis garam yang

larut didalamnya. Pentingnya faktor-faktor tersebut karena alasan

sebagai berikut (Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal 219):

1) Kerusakan pada peralatan penyaliran karena korosi.

2) Efek yang merugikan pada peralatan tambang.

3) Kerusakan pada sistem penyangga dalam tambang.


30

4) Dari aspek lingkungan dengan memompakan sejumlah besar air ke

sistem penyaliran umum daerah tersebut.

Pada umumnya korosi bertambah dengan berkurangnya nilai

pH dan bila pH turun < 6,5 sebaiknya dilakukan penyelidikan (Jurnal

Anton Yudi Umsini Putra, hal 218).

Baku mutu air limbah batu bara adalah ukuran batas atau kadar

unsur pencemar dan atau jumlah unsur pencemaran yang ditenggang

keberadaannya dalam air limbah batu bara yang akan dibuang atau

dilepas ke air permukaan dengan pH 6-9 (KEPMEN LH No. 113

Tahun 2003, Pasal 1, Lampiran I).

c. Sumber Air Tanah

Hampir semua air tanah adalah dibentuk dari presipitasi. Air

yang terdapat dalam batuan selama pembentukannya dan terjebak

didalamnya sering berkadar garam tinggi. Presipitasi air menjadi air

tanah dengan infiltrasi dan perkolasi dan mengisi kembali air tanah

yang ada didaerah dimana muka air tanahnya tinggi. Tanah yang

permeabilitasnya tinggi dan batuan cenderung mempunyai laju

pengisian kembali yang tinggi. Di daerah seperti ini rembesan dari

danau-danau dan sungai-sungai dalah satu-satunya sumber pengisian

kembali air. Daerah-daerah oleh aliran bawah tanah melalui akifer-

akifer yang sangat poros.

Jumlah air tanah yang ada di bumi saat ini adalah 1,69% dari

total air yang ada. Jumlah air di tanah dangkal (soil moisture) danau,
31

rawa/payau, sungai dan biologi adalah 0,0151% dan ini hanya kurang

lebih 9/1000 dari air tanah (Robert J. Kodoatie, 1996:8). Sumber atau

keterdapatan airtanah di bumi menurut White (1957), yaitu:

1) Air Meteorik

Air ini berasal dari proses hidrologi (air hujan),

diantaranya:

a) Secara langsung oleh infiltrasi pada permukaan tanah

b) Secara tidak langsung oleh perembesan influen (dimana

kemiringan muka air tanah menyusup di bawah permukaan air

atau kebalikan dari efluen) dari danau, sungai, saluran buatan

dan lautan.

c) Secara langsung dengan cara kondensasi uap air (dapat

diabaikan)

2) Air Juvenil
Air ini merupakan air baru yang berasal dari proses

pembekuan larutan magma dan bukan merupakan bagian hidrosfir.

Selanjutnya air ini dibagi lagi menurut sumber spesifiknya ke

dalam:

a) Air magmatik

b) Air gunung api dan air kosmik (yang dibawa oleh meteor).

3) Air Magmatik

Air magmatik adalah air yang berasal dari hasil pembekuan

larutan magma dan bercampur dengan air meteorik.


32

4) Air Metamorfik atau Rejuvenated

Air yang untuk sementara waktu telah dikeluarkan dari daur

hidrologi akibat pelapukan dan rekristalisasi mineral yang

mengandung air selama proses pembentukan batuan metamorf.

5) Air Konnat

Air tersebut merupakan air fosil yang terperangkap oleh

proses-proses geologi seperti pembentukan formasi dalam

cekungan sedimentasi, penurunan muka air laut, proses

pengangkatan dan proses lainnya. Jenis air ini tidak berhubungan

dengan siklus hidrologi. Air tersebut biasanya sangat

termineralisasi dan mempunyai salinitas yang lebih tinggi dari pada

air laut.

Air tanah ditemukan pada formasi geologi permeabel (tembus

air) yang dikenal dengan akuifer (juga disebut reservoir air tanah,

formasi pengikat air, dasar-dasar yang tembus air) yang merupakan

formasi pengikat air yang memungkinkan jumlah air yang cukup besar

untuk bergerak melaluinya pada kondisi lapangan yang biasa. Air

tanah juga ditemukan pada aquiclude (atau dasar semi permeabel)

yang mengandung air tetapi tidak mampu memindahkan jumlah air

yang nyata (seperti tanah liat).

Robert J. Kodoatie (1996:84) Kondisi alami dan distribusi

akifer, akuiklud dan akuitard dikendalikan oleh lithologi, stratigraphi

dan struktur dari materi simpanan geologi dan formasi. Lithologi


33

merupakan susunan fisik dari simpanan geologi. Susunan ini termasuk

komponen mineral, ukuran buitr, dan kumpulan butir (grain packing)

yang terbentuk dari sedimentasi atau batuan yang menampilkan sistem

geologi. Stratigrafi menjelaskan hubungan geometris dan umur antara

macammacam lensa, dasar dan formasi dalam geologi sistem dari asal

terjadinya sedimentasi. Bentuk struktur seperti pecahan, retakan,

lipatan dan patahan merupakan sifat-sifat geometrik dari sistem

geologi yang dihasilkan oleh perubahan bentuk (deformasi) akibat

proses penyimpanan (deposisi) dan proses kristalisasi dari batuan.

Pada simpanan yang belum terkonsolidasi (unconsolidated deposits)

lithologi dan stratigraphi merupakan pengendali yang paling penting.

Secara hidrogeologi terdapat beberapa istilah mengenai

keterdapatan air tanah, diantaranya:

1) Akuifer (Aquifer) adalah lapisan yang dapat menyimpan dan

mengalirkan air dalam jumlah yang ekonomis. Contoh: pasir,

kerikil, batupasir, batu gamping rekahan.

2) Akiklud (Aquiclude) adalah lapisan yang mampu menyimpan air,

tetapi tidak dapat mengalirkan dalam jumlah yang berarti

misalnya lempung, serpih, tuf halus, lanau.

3) Akifug (Aquifuge) adalah lapisan batuan yang kedap air, tidak

dapat menyimpan dan mengalirkan air, misalkan batuan kristalin,

metamorf kompak.

4) Akitar (Aquitard) adalah lapisan yang dapat menyimpan air dan


34

mengalirkan dalam jumlah yang terbatas, misalnya lempung

pasiran (sandy clay).

5) Berdasarkan posisi stratigrafinya, variasi posisi dari akuifer,

akuitar, akuifug dan akiklud ditunjang pula dengan sifat-sifat fisik

lainnya maka dapat ditentukan berbagai jenis akuifer (Fetter, 1994):

(a) Akuifer bebas (Unconfined aquifer / Phretic aquifer / Water

Table aquifer), akuifer ini hanya sebagian yang terisi oleh air

dan terletak pada suatu dasar yang kedap. Pada akuifer

demikian, permukaan air didalam sumur merupakan permukaan

bebas atau permukaan phreativ. Untuk mudahnya, dianggap

tubuh batuan ini tidak mempunyai rumbai-rumbai kapiler

(capillary fringe) dimana sebenarnya tebal tubuh air tanah

bervariasi dari satu titik ke titik lainnya. Seperti terlihat pada

Gambar 15 di bawah ini:

Gambar 15. Akuifer Bebas


Sumber: Fetter, 1994

(b) Akuifer setengah bebas (Semi-unconfined Aquifer), jika

lapisan semi-permiabel yang berada di atas akuifer memiliki


35

permeabilitas yang cukup besar sehingga aliran horisontal

pada lapisan tersebut tidak dapat diabaikan, maka akuifer

tersebut dikatakan setengah bebas. Seperti terlihat pada

Gambar 16 di bawah ini:

G
a
m
b
a
r
16. Akuifer Setengah Bebas
Sumber: Fetter, 1994

(c) Akuifer tertekan (Confined aquifer / non leaky aquifer),

akuifer yang sepenuhnya jenuh dengan air, bagian atas dan

bawahnya dibatasi oleh lapisan yang kedap air. Seperti terlihat

pada Gambar 17 di bawah ini:

Gambar 17. Akuifer Tertekan


Sumber: Fetter, 1994

(d) Akuifer setengah tertekan (Semi confined aquifer / leakage


36

aquifer), akuifer ini biasanya setengah terkurung yaitu akuifer

yang sepenuhnya jenuh air yang pada bagian atasnya dibatasi

oleh lapisan setengah kedap air (semi permiabel) dan

terletak pada dasar yang kedap air. Seperti terlihat pada

Gambar 18 di bawah ini:

G
a
m
b
a
r

1
8
. Akuifer Setengah Tertekan
Sumber: Fetter, 1994

Berdasarkan sifat fisik batuan, secara garis besar ada 2 jenis

media penyusun akuifer, yaitu sistem media pori dan sistem

media rekahan. Kedua sistem ini memiliki karakter airtanah yang

berbeda satu sama lain.

Pada sistem media berpori, airtanah mengalir melalui

rongga antar butir yang terdapat dalam suatu batuan misalnya

batupasir dan batuan aluvial.

Pada sistem media rekahan, air mengalir melalui rekahan-

rekahan yang terdapat pada batuan yang terkena tektonik kuat,


37

pada batugamping, batuan metamorf dan lava. Rekahan terjadi

selain akibat proses tektonik, juga akibat proses pelarutan pada

batu gamping. Seperti terlihat pada Gambar 19 di bawah ini:

Gambar 19. Model Akuifer Media Pori Ruang Antar Butir


dan Media Rekahan
Sumber: S. Mandel, 1981

Beberapa parameter akifer:

(1) Konduktivitas Hidrolik


Konduktivitas hidrolik (K) adalah angka yang

menyatakan tingkat kemudahan suatu lapisan akuifer untuk

menyimpan dan meluluskan air dari satu tempat ke tempat lain

dalam jumlah yang memadai. Nilai kelulusan suatu lapisan

tanah atau batuan atau lapisan akuifer dapat diukur di

laboratorium maupun di lapangan. Pengukuran di lapangan

dilakukan dengan pembuatan lubang bor, yang kemudian

dikonstruksi sesuai dengan pengujian akuifer, dengan metode

slug test maupun pumping test (uji pemompaan).

(2) Transmisivitas (T)

Transmisivitas adalah kemampuan akuifer untuk


38

meneruskan air melalui suatu bidang vertikal setebal akuifer

dengan lebar satu satuan panjang dan satu unit landaian

hidrolika (Todd, 1980).

(3) Koefisien Penyimpanan (S)

Merupakan volume air yang dilepaskan atau disimpan

persatuan luas permukaan akuifer persatuan perubahan head

pada permukaan tersebut.

(4) Specific Yield (Sy)

Specific yield (Sy) atau porositas efektif merupakan

perbandingan dalam persen (%) air yang dapat diambil dari

tanah atau batuan yang jenuh air dibandingkan dengan volume

total batuan atau tanah (Todd, 1980).

(5) Ketebalan Akuifer

Ditentukan dari data pemboran. Meskipun ketebalan

tidak pernah konstan dalam menganggap bahwa suatu akuifer

mempunyai ketebalan yang seragam diambil suatu nilai rata-

rata, ketebalan dapat mencapai ukuran puluhan meter.

Gerakan air tanah sebagian hasil dari cara-cara bahan

diendapkan semula, akuifer hampir tidak pernah seragam dalam

ciri-ciri hidroliknya. Bahkan bila struktur geologi sistem

akuifer diketahui detail gerakan air di dalamnya sulit untuk

diketahui, banyak detail gerakan air tanah masih jauh dari jelas.

Proses umum gerakan air tanah sangatlah sederhana,


39

suatu gerakan yang didorong oleh gaya berat, ditahan oleh

gesekan cairan pada medium porous. Bila kita bawa prinsip-

prinsip yang sederhana itu pada perlakuan matematis dari aliran

air tanah, asumsi dan generalisasi tertentu harus dilakukan.

Beberapa asumsi itu adalah:

(a) Akuifer haruslah homogen dan isotropic.

(b) Lapisan-lapisan semi tembus mempunyai ketahanan

hidrolik yang seragam.

(c) Koefisien permeabilitas merupakan invarian waktu.

(d) Transmisibilitas suatu akuifer bebas adalah konstan.

(e) Koefisien cadangan atau simpanan adalah konstan.

(f) Pelepasan air dari cadangan seketika.

(g) Mintakat kapiler diabaikan.

Dengan menggunakan kriteria ini, aliran air tanah

untuk keadaan tunak (nilai-nilai konstan dengan waktu pada

titik yang berbeda pada akuifer-stasioner), tak tunak (kerapatan

air tetap konstan) diperlukan secara matematis. Persamaan

dasar yang menjelaskan ini didasarkan atas hukum Darcy.

Disamping parameter-parameter lain, permeabilitas

merupakan salah satu parameter yang perlu diperhitungkan.

Secara umum, permeabilitas dapat diartikan sebagai

kemampuan suatu fluida bergerak melalui rongga pori massa

batuan.
40

3. Debit Air

a. Teori Pengukuran Debit

Menurut Bambang Triatmodjo (2008:110) mengatakan bahwa

Debit aliran diperoleh dengan mengalikan luas penampang aliran (A)

dan kecepatan (V), Q=AV. Luas tampang diperoleh dengan mengukur

elevasi permukaan air dan dasar sungai. Apabila dasar dan tebing

sungai tidak berubah, pengukuran elevasi sungai dilakukan hanya satu

kali. Kemudian dengan mengukur elevasi muka air untuk berbagai

kondisi, mulai dari debit kecilsampai debit besar (banjir), dapat dihitung

luas tampang untuk berbagai elevasi muka air tersebut. Kecepatan

aliran juga dihitung bersamaan dengan pengukuran elevasi muka air.

Dengan demikian dapat dihitung debit untuk berbagai kondisi aliran.

Selanjutnya dibuat kurva (rating curve) , yaitu hubungan antara elevasi

muka air dan debit. Penggunaan kurva debit hanya dapat dilakukan

apabila sungai tidak dipengaruhi oleh pasang surut.

Penentuan debit air tanah dapat dicari dengan rumus Darcy

(Todd, 1980):

Q =Kx Ix A

Keterangan:

Q = Debit, m3/detik
K = Konduktivitas Hidrolik, m/detik
I = Kemiringan Aliran Airtanah (dh/dl)
A = Luas Penampang Akuifer, m2
41

4. Sistem Penyaliran Tambang

Sistem penyaliran tambang adalah suatu metode yang dilakukan

untuk mencegah masuknya aliran air ke dalam lubang bukaan tambang

atau mengeluarkan air tersebut. Penyaliran bisa bersifat pencegahan atau

pengendalian air yang masuk ke lokasi penambangan. Hal yang perlu

diperhatikan adalah kapan cuaca ekstrim terjadi, yaitu ketika air tanah dan

air limpasan dapat membahayakan kegiatan penambangan, oleh sebab itu

kondisi cuaca pada tambang terbuka sangat besar efeknya terhadap

aktifitas penambangan. Apabila hal ini sudah diperhitungkan sebelumnya,

maka kegiatan penambangan akan terhindar dari kondisi yang

membahayakan tersebut.

Secara hidrologi air dibawah permukaan tanah dapat dibedakan

menjadi air pada daerah tak jenuh dan air pada daerah jenuh. Daerah tidak

jenuh air umumnya terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah dan

dicirikan oleh gabungan tiga fasa (Jurnal Anton Yudi Umsini Putra, hal

218), yaitu:

a. Fase padat (material atau butiran padatan).

b. Fase cair (air adsorbsi, air kapiler dan air infiltrasi).

c. Fase Gas.

Daerah ini dipisahkan dari daerah jenuh air oleh jaringan kapiler.

Daerah jenuh merupakan bagian dibawah zona tak jenuh. Air yang

terdapat pada zona atau daerah jenuh inilah yang disebut “Ground Water”.
42

Menurut Rudi Sayoga Gautama (1999:4-1) penanganan mengenai

masalah air tambang dalam jumlah besar pada tambang terbuka dan

tambang bawah tanah dapat dibedakan menjadi beberapa metode, yaitu:

a. Mengeluarkan Air Tambang (Mine dewatering)

Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk

ke lokasi penambangan. Beberapa metode penyaliran tambang (mine

dewatering) adalah sebagai berikut:

1) Membuat sump di dalam front tambang (Pit)

Sistem ini diterapkan untuk membuang air tambang dari

lokasi kerja. Air tambang dikumpulkan pada sumuran (sump),

kemudian dipompa keluar. Pemasangan jumlah pompa tergantung

pada kedalaman penggalian, dengan kapasitas pompa

menyesuaikan debit air yang masuk ke dalam lokasi penambangan.

2) Membuat Paritan

Pembuatan parit sangat ideal diterapkan pada tambang

terbuka open cast atau kuari. Parit dibuat berawal dari sumber mata

air atau air limpasan menuju kolam penampungan, langsung ke

sungai atau diarahkan ke selokan (riool). Jumlah parit ini

disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga bisa lebih dari satu.

Apabila parit harus dibuat melalui lalulintas tambang maka dapat

dipasang gorong-gorong yang terbuat dari beton atau galvanis.

Dimensi parit diukur berdasarkan volume maksimum pada saat


43

musim penghujan deras dengan memperhitungkan kemiringan

lereng. Bentuk standar melintang dari parit umumnya trapesium.

3) Sistem Adit

Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada

tambang terbuka yang mempunyai banyak jenjang. Saluran

horisontal yang dibuat dari tempat kerja menembus ke shaft yang

dibuat di sisi bukit untuk pembuangan air yang masuk ke dalam

tempat kerja. Pembuangan dengan sistem ini biasanya mahal,

disebabkan oleh biaya pembuatan saluran horisontal tersebut dan

shaft.

b. Penyaliran Tambang (Mine drainage)

Penyaliran tambang adalah mencegah air masuk ke lokasi

penambangan dengan cara membuat saluran terbuka sehingga air

limpasan yang akan masuk ke lubang bukaan dapat langsung dialirkan

ke luar lokasi penambangan. Upaya ini umumnya dilakukan untuk

penanganan air tanah yang berasal dari sumber air permukaan.

Beberapa metode penyaliran tambang (mine drainage) adalah

sebagai berikut:

a) Metode Siemens

Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan dibuat lubang

bor kemudian ke dalam lubang bor dimaksukkan pipa dan disetiap

bawah pipa tersebut diberi lubang-lubang. Bagian ujung ini masuk

ke dalam lapisan akuifer, sehingga air tanah terkumpul pada


44

bagian ini dan selanjutnya dipompa ke atas dan dibuang ke luar

daerah penambangan.

b) Metode Elektro Osmosis

Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda.

Bilamana elemen-elemen dialiri arus listrik maka air akan terurai,

H+ pada katoda (disumur besar) dinetralisir menjadi air dan

terkumpul pada sumur lalu dihisap dengan pompa.

c) Small Pipe with Vacuum Pump

Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang impermiabel

(jumlah air sedikit) dengan membuat lubang bor. Kemudian

dimasukkan pipa yang ujung bawahnya diberi lubang-lubang.

Antara pipa isap dengan dinding lubang bor diberi kerikil-kerikil

kasar (berfungsi sebagai penyaring kotoran) dengan diameter

kerikil lebih besar dari diameter lubang. Di bagian atas antara pipa

dan lubang bor di sumbat supaya saat ada isapan pompa, rongga

antara pipa lubang bor kedap udara sehingga air akan terserap ke

dalam lubang bor.

d) Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump)

Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai

permeabilitas rendah dan jenjang tinggi. Dalam metode ini dibuat

lubang bor kemudian dimasukkan pompa ke dalam lubang bor dan

pompa akan bekerja secara otomatis jika tercelup air. Kedalaman

lubang bor 50 meter sampai 60 meter.


45

e) Metoda Pemotongan atau Penggalian Air Tanah

Metoda ini digunakan untuk mengatasi air tanah dimana

lapisan akuifernya terletak pada permukaan atau pada lapisan atas.

Cara ini dilakukan dengan menggali/memotong lapisan akuifer

tersebut, sehingga air tanah tidak menerus kedalam pit, kemudian

bekas galian diisi dengan material yang kedap air.

f) Metoda Kombinsi dengan Lubang Bukaan Tambang Bawah

Tanah

Metoda ini dilakukan dengan membuat lubang bukaan

tambang bawah tanah secara mendatar, kemudian pada lubang

bukaan mendatar tersebut dibuat lubang bukaan secara vertikal

keatas menembus lapisan akuifer untuk menurunkan muka air

tanah. Air akan mengalir secara gravitasi sehingga tidak

dibutuhkan pemompaan.

Untuk lebih jelasnya tentang keenam metoda mine

drainage ini dapat dilihat pada gambar 20 berikut:


46

Gambar 20. Bentuk-bentuk metode mine drainage


Sumber: Awang Uwandhi, 2004

5. Hal yang Mempengaruhi Tambang

Beberapa hal yang mempengaruhi penyaliran tambang adalah

sebagai berikut:

a. Rencana Kemajuan Tambang

Rencana kemajuan tambang nantinya akan mempengaruhi pola

alir saluran yang akan dibuat, sehingga saluran tersebut menjadi efektif

dan tidak menghambat sistem kerja yang ada.

b. Curah Hujan

Curah hujan adalah banyaknya hujan yang terjadi pada suatu

daerah. Curah hujan merupakan faktor yang sangat penting dalam


47

perencanaan sistem penirisan, karena besar kecilnya curah hujan pada

suatu daerah tambang akan mempengaruhi besar kecilnya air tambang

yang harus ditanggulangi.

Angka-angka curah hujan yang diperoleh merupakan data yang

tidak dapat digunakan secara langsung untuk perencanaan pembuatan

sarana pengendalian air tambang, tetapi harus diolah terlebih dahulu

untuk mendapatkan nilai curah hujan yang lebih akurat. Curah hujan

merupakan data utama dalam perencanaan kegiatan penirisan tambang

terbuka.

Pengamatan curah hujan dilakukan dengan alat pengukur curah

hujan. Ada dua jenis alat pengukur curah hujan, yaitu alat ukur manual

dan otomatis. Alat ini biasanya diletakkan ditempat terbuka agar air

hujan yang jatuh tidak terhalang oleh bangunan atau pepohonan. Data

tersebut berguna pada saat penentuan hujan rencana. Analisa terhadap

data curah hujan ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu annual

series dengan mengambil satu data maksimum setiap tahunnya yang

berarti bahwa hanya besaran maksimum setiap tahun saja yang

dianggap berpengaruh dalam analisa data dan partial duration series,

yaitu dengan menentukan lebih dahulu batas bawah tertentu dari curah

hujan, selanjutnya data yang lebih besar dari batas bawah tersebut

diambil dan dijadikan data yang akan dianalisa.


48

1) Curah Hujan Rancangan (R)

Periode ulang hujan adalah hujan maksimum yang

diharapkan terjadi pada setiap n tahun. Jika suatu data curah hujan

mencapai harga tertentu (x) yang diperkirakan terjadi satu kali

dalam n tahun, maka n tahun dapat dianggap sebagai periode ulang

dari x. Perhitungan periode ulang dapat dilakukan dengan beberapa

metode salah satunya dengan metode Log Person (Suwarno, 2000).

6. Sump

Menurut Awang Suwandhi (2004) kolam penampung merupakan

tempat yang dibuat untuk menampung air sebelum air tersebut

dipompakan. Kolam penampung ini juga dapat berfungsi sebagai tempat

mengendapkan lumpur. Tata letak kolam penampung dipengaruhi oleh

sistem drainase tambang yang digunakan serta disesuaikan dengan letak

geografis daerah tambang dan kestabilan lereng tambang.

Berdasarkan tata letak kolam penampung (sump), sistem penirisan

tambang dapat dibedakan menjadi:

a. Sistem Penirisan Terpusat

Pada sistem ini sump-sump akan ditempatkan pada setiap

jenjang atau bench. Sistem pengaliran dilakukan dari jenjang paling

atas menuju jenjang-jenjang yang berada di bawahnya, sehingga

akhirnya air akan terpusat pada main sump untuk kemudian

dipompakan keluar tambang.


49

b. Sistem Penirisan Tidak Memusat

Sistem ini diterapkan untuk daerah tambang yang relatif

dangkal dengan keadaan geografis daerah luar tambang yang

memungkinkan untuk mengalirkan air secara langsung dari sump ke

luar tambang.

Berdasarkan penempatannya, sump dapat dibedakan menjadi

beberapa jenis, yaitu:

1) Travelling Sump

Sump ini dibuat pada daerah front tambang. Tujuan dibuatnya

sump ini adalah untuk menanggulangi air permukaan. Jangka waktu

penggunaan sump ini relatif singkat dan selalu ditempatkan sesuai

dengan kemajuan tambang.

2) Sump Jenjang

Sump ini dibuat secara terencana baik dalam pemilihan lokasi

maupun volumenya. Penempatan sump ini adalah pada jenjang

tambang dan biasanya di bagian lereng tepi tambang, sump ini disebut

sebagai sump permanen karena dibuat untuk jangka waktu yang cukup

lama dan biasanya dibuat dari bahan kedap air dengan tujuan untuk

mencegah meresapnya air yang dapat menyebabkan longsornya

jenjang.

3) Main Sump

Sump ini dibuat sebagai tempat penampungan air terakhir. Pada

umumnya sump ini dibuat pada elevasi terendah dari dasar tambang.
50

7. Pompa

a. Pengertian Pompa

Pompa merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan air

di daerah tambang, baik itu air tanah maupun air bawah tanah. Dalam

sistem penyaliran tambang, pompa sangat diperlukan untuk mencegah

maupun mengeluarkan air yang masuk ke lokasi tambang. Jenis pompa

yang banyak digunakan dalam kegiatan penyaliran tambang adalah

pompa sentrifugal. Pompa ini banyak digunakan di daerah tambang

karena mampu mengalirkan lumpur, perawatannya mudah dan

kapasitasnya besar.

Dalam pemilihan pompa, kita harus menyesuaikan dengan

beberapa faktor, yaitu:

1) Lokasi Pemindahan Air

Dalam pemilihan pompa, lokasi pemindahan air tambang

harus diketahui terlebih dahulu. Sehingga ketinggian buangan,

kemiringan, belokan, dan lain-lain dapat diketahui.

2) Debit Air yang Dipindahkan

Debit air yaitu jumlah air atau volume air yang

dipindahkan/dikeluarkan dari tempat yang satu ke tempat yang

lainya selama waktu tertentu dengan satuan m3/jam atau m3/detik.

3) Karakteristik Air

Pada umumnya air tambang mempunyai tingkat keasaman

yang tinggi dengan PH 5-7, biasanya berasal dari air resapan yang
51

ada pada lapisan permukaan tanah. Dengan tingginya tingkat

keasaman air tambang dapat menyebabkan kerusakan alat pompa

seperti rumah pompa, pipa (hose) dan dapat menyebabkan

menurunya produkfitas kerja pompa.

4) Kapasitas Motor

Kapasitas motor yaitu besarnya daya listrik yang dipakai

untuk menggerakkan motor tersebut (kw).

5) Spesifikasi pompa

Spesifikasi pompa adalah tipe nomor pompa, nama pompa,

dan jenis pompa.

6) Kapasitas pompa

Kapasitas pompa yaitu jumlah volume air yang dapat di

hisap/dialirkan oleh pompa tersebut persatuan waktu (m3/jam).

7) Head Pompa

Ada 2 pengertian head pompa, yaitu:

a) Tinggi Tekan (Delivery head)

Tinggi tekan pompa (delivery head) adalah jarak

vertikal antara sumbu pompa dengan titik buangan tertinggi

yang diukur dalam satuan meter.

b) Tinggi Hisap (Suction head)

Tinggi hisap (suction head) adalah jarak vertikal dari

permukaan air sampai kesuatu pompa.


52

b. Head Total Pompa

Dalam perhitungan head total pompa dapat menggunakan

rumus (Sularso, 2006:26):

HT = Hs + Hf + Hsv + Hv + Δ Hp

Dimana HT adalah head total pompa yang merupakan

penjumlahan dari head statis dan kerugian-kerugian yang ada pada

kondisi direncanakan seperti adanya belokan, sambungan, katup dan

lain-lain.

1) Hs (Headstatis) yaitu perbedaan elevasi pipa hisap dengan elevasi

pipa buang (m).

Hs = H1 – H2

Keterangan:

H1 = Elevasi pipa buang (mdpl)

H2 = Elevasi pipa hisap (mdpl)

2) Hf (Headfriction) yaitu kerugian energi akibat gesekan pada pipa

(m).

10,666 𝑄1,85
𝐻𝑓 = xL
𝐶 1,85 𝐷 4,85

Keterangan:

Hf = Faktor kekasaran (m)

Q = Debit aliran (m3/detik)

C = Koefisien

L = Panjang pipa aliran (m)

D = Diameter pipa (m)


53

3) Hv (head velocity) merupakan head kecepatan keluar (m).

𝑉2
𝐻𝑣 = 2𝑔

Keterangan:

V = Kecepatan (m/detik)

g = Gravitasi (m/detik2)

4) Hsv merupakan kehilangan energi akibat fitting-fitting dan

pemasangan konstruksi pada instalasi.

Hsv = Banyak x Le x Hf

𝑉2
𝐻𝑠𝑣 = 𝑓𝑛 ( )
2𝑔

𝐷 3,5 𝜃 0,5
𝑓𝑛 = [0,131 + 1,847 ( ) ] 𝑥 ( )
2𝑅 90

Keterangan:

D = Diameter dalam pipa (m)

R = Jari-jari lengkung sumbu belokan (m)

𝜃 = Sudut belokan (derajat)

5) Perhitungan Head Akibat Tekanan Potensial (Δ Hp).

Δ Hp = Hp1 – Hp2

0,0065 𝑥 𝐻2 5,256
𝐻𝑝1 = 10,33 (1 − )
288

0,0065 𝑥 𝐻1 5,256
𝐻𝑝2 = 10,33 (1 − )
288
54

c. Kapasitas Pemompaan

Kapasitas pompa yang diperlukan dapat dihitung setelah

jumlah airlimpasan diketahui. Untuk menghitung debit pompa yang

diperlukandapat digunakan persamaan berikut ini (Sularso, 2006:19).

𝑄
𝑄𝑝 =
𝐿𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑜𝑚𝑝𝑎𝑎𝑛 𝑥 3600 𝑥 𝐷

Keterangan:

Qp = Kapasitas pompa (m3/detik)

D = Lamanya genangan yang diperbolehkan (hari)

Q = Jumlah air limpasan yang akan dipompakan (m3)

d. Jumlah Pompa

Untuk menentukan jumlah pompa dapat dilakukan dengan

membandingkan antara volume air yang masuk ke areal tambang

dengan debit pemompaan.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan yaitu:

1) Kapasitas Pompa

Ada beberapa aspek yang perlu diketahui dalam

menentukan kapasitas pompa, yaitu:

a) Berat dan ukuran pompa yang akan diangkut dari pabrik ke

tempat pemakaian pompa.

b) Lokasi pemasangan pompa dan transportasi pengangkutan.

c) Jenis penggerak pompa yang harus disesuaikan dengan keadaan

lokasi pemasangan pompa.

d) Pengadaan suku cadang pompa.


55

e) Resiko dan keselamatan kerja dalam pemasangan dan

pengangkutan pompa.

8. Saluran Terbuka

Saluran terbuka berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air

ke tempat pengumpulan (kolam penampungan) atau tempat lain. Bentuk

penampungan saluran, umumnya dipilih berdasarkan debit air, tipe

material serta kemudahan dalam pembuatannya. Sumber air utama pada

tambang terbuka adalah air hujan, walaupun kadang kontribusi air tanah

juga tidak dapat diabaikan dalam menentukan debit.

Dalam merancang bentuk saluran penyaliran, beberapa hal yang

perlu diperhatikan antara lain, dapat mengalirkan debit air yang

direncanakan dan mudah dalam penggalian saluran serta tidak lepas dari

penyesuaian dengan bentuk topografi dan jenis tanah. Bentuk dan dimensi

saluran juga harus memperhitungkan efektifitas dan ekonomisnya.

Dalam sistem penyaliran itu sendiri terdapat beberapa bentuk

penampang penyaliran yang dapat digunakan. Bentuk penampang

penyaliran diantaranya bentuk segi empat, bentuk segi tiga dan bentuk

trapesium seperti yang terlihat pada Gambar 35 sebagai berikut:

Beberapa macam penampang saluran (Rudi Sayoga Gautama,

1999:4-3):

1) Bentuk Segi Empat

Lebar permukaan saluran (B) dan Lebar dasar saluran (b) = 2d

Luas penampang basah (A) = 2d2


56

Keliling Basah (P) = 4d

2) Bentuk Segi Tiga

Sudut tengah = 90o

Luas penampang basah (A) = d2

Jari-jari hidrolis (R) = d/(2√2)

Keliling basah (P) = 2d . √2

3) Bentuk Trapesium

Dalam menentukan dimensi saluran bentuk trapesium dengan

luas maksimum hidrolis, luas penampang basah saluran (A), jari-jari

hidrolik (R), kedalaman penampang aliran (d), lebar dasar saluran (b),

penampang sisi saluran dari dasar kepermukaan (a), lebar permukaan

saluran (B), dan kemiringan dinding saluran (m), mempunyai

hubungan yang dapat dinyatakan sebagai berikut:

A = b . d + m . d2

R = 0,5d

B = b + 2m . d

b = 2 [(√ m2 + 1)- m] d

a = d/sin 𝛼

m = cotg 𝛼

Penambahan tinggi jagaan adalah 15 % dari d.


57

n
Gambar 21. Bentuk-Bentuk Saluran Penampang
Sumber: Rudi
kemiringan dasar saluran Sayoga Gautama,
ditentukan 1999:4-5
dengan pertimbangan bahwa, suatu

aliran dapat memgalir secara alamiah tanpa terjadi pengendapan lumpur

pada dasar saluran, dimana menurut Pfleider (1968) kemiringan antara

0,25 – 0,5 % sudah cukup untuk mencegah adanya pengendapan lumpur

berupa adanya pengendalian. Dalam hal ini maka harga S = (0,25 %)

yang merupakan kemiringan dasar pit pada lokasi penambangan. Yang

dapat dilihat pada tabel 5 berikut:

Tabel 5. Nilai Koefisien Kekasaran N Untuk Rumus Manning


Tipe dinding saluran N
Semen 0,010 – 0,014
Beton 0,011 – 0,016
Bata 0,012 – 0,020
Besi 0,013 – 0,017
Tanah 0,020 – 0,030
Gravel 0,022 – 0,035
Tanah yang ditanami 0,025 – 0,040

Sumber: Rudi Sayoga Gautama, 2007:4-3


58

Perhitungan kapasitas pengaliran suatu saluran dapat dihitung

menggunakan rumus Manning (Rudi Sayoga Gautama, 1999: 4-3):

Q = 1/n . A . S1/2 . R2/3

Keterangan:

Q = Debit pengaliran maksimum (m3/detik)

A = Luas penampang (m2)

S = Kemiringan dasar saluran (%)

R = Jari-jari hidrolis (m)

n = Koefisien kekerasan dinding saluran menurutyyg


66

Anda mungkin juga menyukai