0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan20 halaman

Anatomi Sendi Lutut dan Fleksinya

Dokumen tersebut membahas tentang anatomi sendi lutut yang terdiri atas tulang-tulang, ligamen, otot-otot, dan biomekanika gerakan sendi lutut."

Diunggah oleh

Aim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan20 halaman

Anatomi Sendi Lutut dan Fleksinya

Dokumen tersebut membahas tentang anatomi sendi lutut yang terdiri atas tulang-tulang, ligamen, otot-otot, dan biomekanika gerakan sendi lutut."

Diunggah oleh

Aim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian teori

1. Anatomi

a. definisi sendi lutut

Sendi lutut adalah salah satu sendi kompleks dalam tubuh manusia. Femur, tibia, fibula,
dan patella disatukan menjadi satu kelompok yang kompleks oleh ligament. (Ballinger, 2007)

Sendi merupakan pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari [Link]
tiga jenis utama berdasarkan kemungkinan gerakannya yaitu sendi fibrus, sendi tulang rawan
dan sendi sinovial (C Evelyn, 1999).
Sendi fibrus atau sinartroses adalah sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat ikat,
maka tidak mungkin ada gerakan antara tulang – tulangnya, misalnya: sutura antara tulang
pipih tengkorak. Sendi tulang rawan atau amfiartroses adalah sendi dengan gerakan
sedikit dan permukaan persendiannya dipisahkan oleh bahan dan mungkin sedikit
gerakannya. Misalnya, Simphisis pubis, dimana sebuah bantalan
tulang rawan mempersatukan kedua tulang pubis. Sendi synovial atau diartroses adalah
persendian yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya.

Gambar 2.1 Anatomi Knee Joint kanan dari sisi Anterior view dan Posterior view
(Nucleus Medical Art, 1997-2007)
Gambar 2.2 Anatomi Knee Joint Kanan dari sisi Lateral view dan Medial view
(Nucleus Medical Art, 1997-2007)

Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur, epiphysis proksimalis, tulang
tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi yang terbentuk dari tulang yang
berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella disebut articulatio patella femoral, antara
tulang tibia dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan antara tulang
tibia dengan tulang fibula proximal disebut articulatio tibio fibular proxsimal (De Wolf,
1996).
Sendi lutut merupakan suatu sendi yang disusun oleh beberapa tulang , ligament beserta
otot, sehingga dapat membentuk suatu kesatuan yang disebut dengan sendi lutut atau knee
joint. Anatomi sendi lutut terdiri dari:
1. Tulang pembentuk sendi lutut antara lain:
a. Tulang Femur
Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang kerangka pada
bagian pangkal yang berhubungan dengan acetabulum membentuk kepala sendi yang disebut
caput femoris. Di sebelah atas dan bawah dari columna femoris terdapat taju yang
disebut trochantor mayor dan trochantor minor, di bagian ujung membentuk persendian
lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut condylus medialis dan condylus lateralis, di
antara kedua condylus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patella)
yang disebut dengan fosa condylus (Syaifuddin, 1997).

b. Tulang Tibia
Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula, pada bagian
ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os
maleolus medialis. (Syaifuddin, 1997).
c. Tulang Fibula
Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang membentuk persendian lutut
dengan os femur pada bagian ujungnya. Terdapat tonjolan yang disebut os maleolus lateralis
atau mata kaki luar. (Syaifuddin, 1997).
d. Tulang Patella
Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang femur. Jarak patella
dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan yang berubah hanya jarak patella dengan
femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan otot-otot atau tendon adalah sebagai
pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90 derajat, kedudukan patella di antara kedua
condylus femur dan saat extensi maka patella terletak pada permukaan anterior femur
(Syaifuddin, 1997).
2. Ligamentum pembentuk sendi lutut

Gambar 2.3 Susunan Ligamen Sendi Lutut Anterior View ([Link], [Link], 2002)

Stabilitas sendi lutut yang lain adalah ligamentum. Ada beberapa ligamentum yang
terdapat pada sendi lutut antara lain :
a. Ligamentum crusiatum anterior, yang berjalan dari depan eminentia intercondyloidea
tibia, ke permukaan medial condylus lateralis femur, fungsi menahan hiperekstensi dan
menahan bergesernya tibia ke depan.
b. Ligamentum crusiatum posterior, berjalan dari facies lateralis condylus medialis femoris,
menuju fossa intercondyloidea tibia, berfungsi menahan bergesernya tibia, ke arah belakang.
c. Ligamentum collateral lateralle yang berjalan dari epicondylus lateralis ke capitulum fibulla,
yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping luar.
d. Ligamentum collateral mediale tibia (epicondylus medialis tibia), yang berfungsi
menahan gerakan valgus atau samping dalam dan eksorotasi, dan secara bersamaan ligament
collateral juga berfungsi menahan bergesernya ke depan pada posisi lutut fleksi 90 derajat.
e. Ligamentum popliteum abligum, berasal dari condylus lateralis femoris menuju
ke insertio musculus semi membranosus melekat pada fascia musculus popliteum.
f. Ligamentum transversum genu, membentang pada permukaan anterior meniscus
medialis dan lateralis. Semua ligament tersebut berfungsi sebagai fiksator dan stabilisator
sendi lutut. Tranversum genu di samping ligament ada juga bursa pada sendi lutut. Bursa
merupakan kantong yang berisi cairan yang memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan,
berdinding tipis dan dibatasi oleh membran synovial. Ada beberapa bursa yang terdapat pada
sendi lutut antara lain : (a) bursa popliteus, (b) bursa supra patellaris, (c) bursa infra
patellaris, (d) bursa subcutan prapatellaris, (e) bursa sub patellaris, (f) bursa prapatellaris.
3. Sistem Otot

Gambar 2.4 Otot Paha dan Pangkal Paha Tampak dari Depan ([Link] [Link], 2002)
Keterangan Gambar 2.4 Otot Paha dan Pangkal Paha Tampak dari Depan ([Link]
[Link], 2002) yaitu :
1. Musculus vatus medial
2. Femur condylus medial
3. Ligament patella
4. Bursa subcutanea infrapatellaris
5. Caput fibula
6. Bursa subtendinea prepatellaris
7. Fascialata, tractus, illiotibialis
8. Musculus Vastus lateralis
9. Musculus Rectus femoris

Otot-otot yang bekerja pada sendi lutut yaitu:


a. Bagian anterior adalah musculus rectus femoris, musculus vastus lateralis, musculus Vastus
medialis, musculus vastus intermedius.
b. Bagian posterior adalah musculus biceps femoris, musculus semitendinosus, musculus
semimembranosus, musculus Gastrocnemius.
c. Bagian medial adalah musculus Sartorius
d. Bagian lateral adalah musculus Tensorfacialatae

4. Biomekanik sendi lutut


Aksis gerak fleksi dan ekstensi terletak di atas permukaan sendi, yaitu melewati
condylus femoris. Sedangkan gerakan rotasi aksisnya longitudinal pada daerah condylus
medialis (Kapandji, 1995). Secara biomekanik, beban yang diterima sendi lutut dalam
keadaan normal akan melalui medial sendi lutut dan akan diimbangi oleh otot-otot paha
bagian lateral, sehingga resultannya akan jatuh di bagian sentral sendi lutut.
a. Osteokinematika
Osteokinematika yang memungkinkan terjadi adalah gerakan fleksi dan ekstensi pada
bidang sagital dengan lingkup gerak sendi fleksi antara 120-130 derajat, bila posisi hip fleksi
penuh, dan dapat mencapai 140 derajat, bila hip ekstensi penuh, untuk gerakan ekstensi,
lingkup gerak sendi antara 0 – 10 derajat gerakan putaran pada bidang rotasi dengan lingkup
gerak sendi untuk endorotasi antara 30 – 35 derajat, sedangkan untuk eksorotasi antara 40-45
derajat dari posisi awal mid posision. Gerakan rotasi ini terjadi pada posisi lutut fleksi 90
derajat (Kapandji, 1995), gerakan yang terjadi pada kedua permukaan tulang meliputi
gerakan rolling dan sliding. Saat tulang femur yang bergerak maka, gerakan rolling ke arah
belakang dan sliding ke arah depan (berlawanan arah). Saat fleksi, femur rolling ke
arah belakang dan sliding ke belakang, untuk gerakan ekstensi, rolling ke depan dan
sliding ke belakang. Saat tibia yang bergerak fleksi adapun ekstensi maka rolling maupun
sliding bergerak searah, saat fleksi maka rolling maupun sliding bergerak searah,
saat fleksi rolling dan sliding ke arah belakang, sedangkan saat ekstensi rolling dan sliding
bergerak ke arah depan.

b. Artrokinematika
Artrokinematika pada sendi lutut di saat femur bergerak rolling dan sliding
berlawanan arah, disaat terjadi gerak fleksi femur rolling ke arah belakang dan sliding-nya
ke depan, saat gerakan ekstensi femur rolling kearah depannya sliding-nya ke belakang. Jika
tibia bergerak fleksi ataupun ekstensi maka rolling maupun sliding terjadi searah, saat fleksi
menuju dorsal, sedangkan ekstensi menuju ventral (Kapandji, 1995)

b. Myologi
Grup otot yang terdapat pada knee joint memilki pergerakan flexor dan ekstensor,
dimana fleksor pada knee joint mencakup otot hamstring sedangkan ekstensor pada knee joint
mencakup otot quadriceps.
a) Otot Quadriseps
- Rectus Femoris berfungsi : ekstensi betis pada lutut dan fleksi paha pada hip.
Origo: straight head, anterior inferior iliac spine. Reflected head, ilium diatas acetabulum.
Insersio: quadriceps tendon ke patella, via ligamentum patelle sampai pada tibia tubercle
- Vastus lateralis berfungsi : ekstensi pada sendi lutut.
Origo: diatas garis intertrochantor,dibagian bawah dari greater trochantor, lateral linea
aspera, lateral supracondylar ridge dan lateral intermuscular septum.
Insersio: lateral quadriceps tendon ke patella, via ligamentum patellae sampai pada tibia
tubercle.
- Vastus medialis berfungsi : ekstensi pada sendi lutut dan untuk stabilisasi pada patella.
Origo: dibawah intertrochantor, spiral line, medial linea aspera dan medial intermuscular
septum.
Insersio: medial quadriceps tendon ke patella dan secara langsung sampai medial patella, via
ligamentum patellae sampai pada tibia tubercle.
- vastus intermedius berfungsi : ekstensi pada sendi lutut.
Origo: anterior dan lateral shaft pada femur
Insersio: tendon quadriceps ke patella, via ligamentum patellae sampai pada tibia tubercle

Gambar 2.5
Otot quadriceps (Sobotta, 2011)
b) Otot Hamstring
- biceps femoris berfungsi : fleksi dan lateral rotasi pada sendi lutut dan ekstensi pada sendi
pinggul
origo: long head, seperempat atas bagian dalam dari permukaan posterior ishial tuberosity.
Insersio: stylois process head of fibula, lateral collateral ligament dan lateral tibial condyle.
-Semi tendinosus berfungsi: fleksi, medial rotasi pada sendi lutut dan ekstensi pada sendi
pinggul.
Origo: seperempat atas bagian dalam dari permukaan posterior ischial tuberosity.
Insersio: bagian atas medial dari tibia dibawah gracialis
-Semi Membranosus berfungsi: fleksi, medial rotasi pada sendi lutut dan ekstensi pada sendi
pinggul.
Origo: seperempat atas bagian dalam dari permukaan posterior ischial tuberosity.
Insersio: medial condyle dari tibia dibawah articular margin, fascia over popliteus dan
oblique popliteal ligament.
Gambar 2.6
Otot hamstring (Sobotta, 2011)

2. Lompatan

a. Definisi

lompatan adalah suatu gerakan mengangkat tubuh dari satu titik ke titik yang lain
yang lebih jauh atau tinggi dengan ancang-ancang lari cepat atau lambat dengan menumpu
satu kaki dan mendarat dengan kaki atau tubuh lainya dengan keseimbangan yang baik
(Djumidar [Link], :2004: 65)

Factor-faktor yang mempengaruhi tinggi lompatan.


1) Kekuatan otot .
Kekuatan menurut Mochamad Sajoto (1988: 16) adalah komponen kondisi
fisik seseorang tentang kemampuannya dalam menggunakan otot untuk menerima
beban sewaktu bekerja. Sedangkan menurut Suharno (1985: 21) kekuatan adalah
kemampuan dari otot untuk dapat mengatasi tahanan atau beban dalam menjalankan
aktivitas.
0 = Tidak ada pergerakan otot
1 = Pergerakan otot yang dapat terlihat, namun tidak ada pergerakan sendi
2 = Pergerakan sendi, namun tidak dapat melawan gravitasi
3 = Pergerakan melawan gravitasi, namun tidak melawan tahanan
4 = Pergerakan melawan tahanan, namun kurang dari normal
5 = Kekuatan normal

2) Keseimbangan.
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan kesetimbangan
tubuh ketika ditempatkan di berbagai posisi. Keseimbangan juga bisa diartikan
sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol pusat massa tubuh (center of mass) atau
pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support).
Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di
dukung oleh sistem muskuloskleletal dan bidang tumpu. Dalam penelitian yang kami
lakukan, kami mengeksperimenkan keseimbangan dinamis tubuh.
Keseimbangan dinamis tubuh merupakan suatu kemampuan untuk
mempertahankan kesetimbangan ketika bergerak. Keseimbangan dinamis adalah
pemeliharaan pada tubuh melakukan gerakan atau saat berdiri pada landasan yang
bergerak (dynamic standing) yang akan menempatkan ke dalam kondisi yang tidak
stabil. Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi sistem
sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan
muskuloskeletal (otot, sendi, dan jaringan lunak lain) yang dimodifikasi/ diatur dalam
otak (kontrol motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai
respon terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal. Dipengaruhi juga oleh
faktor lain seperti usia, motivasi, kondisi, lingkungan, kelelahan, pengaruh obat dan
pengalaman terdahulu.

3) Kelentukan sendi.
Kelenturan (flexibility) merupakan kemampuan tubuh untuk melakukan
latihan-latihan dengan amplitudo gerakan yang besar atau luas. Menurut Bompa
(2000), flexibility refers to the range of motion around a joint (dalam Juniardi, 2013).
Dapat dijelaskan bahwa kelenturan merupakan kemampuan pergelangan atau
persendian untuk dapat melakukan gerakan ke semua arah dengan amplitudo gerakan
(range of motion) yang besar dan luas sesuai dengan fungsi persendian yang
digerakkan. Istilah lain dari kelenturan yang sering ditemukan adalah keluwesan dan
fleksibilitas

4) Kemampuan melakukan gerakan


b. proses terjadinya loncatan
Pada kenyataannya kita sering melakukan lompatan, baik pada waktu olahraga,
maupun karena hanya ingin melompat (lagi kurang waras). Namun kenapa kita bisa
melompat dan juga kenapa kita sering heran jika ada seseorang yang tidak lebih tinggi
daripada kita namun tinggi lompatannya luar biasa. Pada dasarnya manusia hanya bisa
melompat dengan ketinggian 20-25% dari tinggi orang tersebut, jelas kalah jauh dari kutu
loncat yang bisa meloncat 100 kali tinggi tubuhnya. Jadi daripada arah pembicaraan ini
makin gak jelas kemana, kita langsung saja ke pokoknya. Pada akhir diskusi, semoga para
pembaca juga bisa memberi ide bagaimana caranya untuk menambah tinggi lompatan dengan
aman dan sehat (beberapa latihan dapat menambah tinggi lompatan secara drastis tapi
efeknya Anda bisa-bisa harus operasi lutut beberapa tahun kemudian).

Bagaimana proses terjadinya lompatan:

1. Peregangan – peregangan penting untuk menjaga kelenturan/keseimbangan saat melompat.


Otot yang fleksibel (rasio kelenturan otot paha depan yang belakang yang dianggap baik
adalah 3 : 2) dapat memberikan lompatan yang maksimum, sebaliknya fleksibilitas yang
kurang baik akan membatasi kekuatan lompatan kita dan bahkan meningkatkan potensi
cedera.

2. Mengambil 1-2 langkah sebagai ancang-ancang lompatan – inti dari ancang-ancang


sebelum melompat adalah menambah momentum sehingga saat melakukan tolakan,
sepersekian dari energi yang kita hasilkan saat mengambil ancang-ancang akan dipakai untuk
meningkatkan daya angkat.

3. Mengambil posisi – ambil posisi paha bagian belakang 30 derajat (terhadap pijakan), lutut
ke bawah 60 derajat, pergelangan kaki 25 derajat, dan posisi kedua tangan di sisi badan untuk
menghasilkan tenaga yang maksimal tanpa menimbulkan potensi untuk mencederai lutut.

4. Dorong badan dengan kekuatan kaki – pada saat ini, otot punggung bagian bawah sangat
penting, tolakkan kaki bagian depan sambil mengayunkan kedua tangan ke atas dan hebuskan
napas saat melakukan gerakan ini.

5. Mendarat – mendaratkan dengan aman dengan bantalan kaki depan menyentuh lantai
terlebih dahulu dan alirkan hentakan sampai ke lutut dan paha atas seakan-akan tubuh kita
adalah pegas.
Otot-otot yang berperan:

1. Otot punggung bagian bawah – Otot ini adalah otot yang paling sering diabaikan, padahal
perannya sangat besar. Untuk meningkatkan kekuatannya, lakukan “deadlift” atau angkat besi
dengan benar dan didampingi oleh pelatih yang profesional di bidangnya.

2. Otot perut – otot ini khususnya otot perut bagian dalam berperan penting pada saat kita
melompat maupun berlari. Otot perut berguna untuk mengangkat tubuh kita ke atas. Cobalah
lakukan gerakan lompatan sambil memegang perut dan punggung bagian belakang dan Anda
dapat merasakan bagian mana saja yang berkontraksi saat melompat. Sudah banyak latihan
yang ditujukan untuk melatih otot perut, namun hati-hati saat melatih otot perut karena
gerakan yang salah dapat mencederai tulang punggung Anda.

3. Otot betis – otot betis bagian depan maupun belakang bersama dengan otot paha bagian
belakang berperan penting untuk memberikan tolakan secara vertikal terhadap pijakan.

4. Otot paha – seperti yang dikatakan sebelumnya, otot betis dan otot paha bagian belakang
bekerja bersama untuk memberikan kelenturan/keseimbangan sehingga Anda dapat
memusatkan kekuatan lompatan dan mengarahkan ke mana arah lompatan Anda. Coba
bayangkan bila Anda memiringkan lutut/betis ke depan sementara paha tetap ditahan lurus
sejajar dengan betis, hasilkan Anda akan jatuh ke depan, kecuali Anda adalah Michael
Jackson yang sedang melakukan trik “Anti-Gravity Lean”.

5. Otot pangkal paha belakang alias bokong – no comment, katanya sih otot ini ikut berperan.
Jadi semakin sering Anda melompat maka semakin seksi bokong Anda (hoax).

6. Otot pada ujung jari (kaki tentunya) – Ternyata tidak hanya balerina yang bertumpu pada
kekuatan ujung jari, tapi Anda-pun juga. Coba lihat saat kita melakukan lompat tali,
meskipun gerakan pada bagian tubuh lain tidak banyak, tapi kenyataannya kita dapat
melompat beberapa centi dengan tolakan ujung jari kaki. Pada loncatan yang baik, bagian
inilah yang bersentuhan paling akhir dari pijakan, dengan tetap menfokuskan tokana pada
ujung jari kaki tepat sebelum meninggalkan pijakan, tinggi lompatan dapat ditingkatkan.
Untuk melatihkan dapat melakukan gerakan jinjit lalu kembalikan pada posisi normal, lalu
ulangi terus menerus.

Bagaimanapun juga, lompatan tidak lepas dari pelajaran Fisika. Dikatakan bahwa tubuh
seorang balerina seolah-olah melayang saat ia melompat. Namun hal itu sebenarnya adalah
perpindahan “center of mass” pada saat sang balerina menggerakkan kedua tangan dan
kakinya ke atas seperti yang ditunjukkan gambar di bawah ini.
3. Knee decker
a. Definisi
Menurut Donal d Shurr, L. P. T., knee orthosis adalah custom made yang memberi tahanan
pada ligamen secara maksimum pada saat normal fleksi pada cedera ligamen lutut. Menurut
Edward P. Van Hanswyk, B.S., C.O., dan Bruce E. Baker, M.D., knee orthosis adalah salah
satu program rehabilitasi untuk membantu mempermudah pergerakan pada saat latihan
rehabilitasi dan untuk perlindungan terhadap tekanan pada ligamen. Dari penjelasan diatas
dapat disimpulkan Knee orthosis atau biasa disebut knee support merupakan alat bantu yang
bisa mengurangi tekanan berlebihan pada sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor,
bisa karena trauma, bisa karena rematik, bisa karena pengapuran, bisa karena overuse, intinya
adalah kondisi dimana lutut terasa nyeri ketika dipakai untuk aktivitas. Knee decker termasuk
dalam salah satu jenis knee orthosis, knee orthosis adalah orthosis yang memanjang di atas
dan di bawah lutut diindikasikan untuk masalah pada lutut dan tidak ada masalah pada
pinggul dan pergelangan kakinya.

Fungsi knee deker adalah (nugroho nugie, 2013) :


a. Mengurangi nyeri pada lutut
b. Memberikaan proteksi dan support serta fiksasi sendi lutut yang maksimal pada kaki
sehingga mengurangi beban berat badan yang sepenuhnya di sangga oleh sendi lutut.
c. Sebagai alat bantu untuk menjaga kestabilan sendi lutut saat beraktivitas
d. Jika knee decker memilki plat, platnya berfungsi untuk menjaga agar sendi lutut tetap stabil
dan menopang berat badan, sehingga pasien dapat beraktivitas kembali.

Adapun jenis dari knee orthosis itu sendiri, sebagai berikut :


a. Knee decker elastic/neoprene
Terbuat dari bahan sleeve serta memberikan penekanan sekitar lutut sehingga dapat menjaga
area tetap hangat. selain itu, elastic/neoprene ini tidak memberikan kontrol pada kestabilan
AP atau ML namun memberikan tekanan membantu menambah procioception.
Gambar 2.7
knee decker elastic neoprene (Kaskus, 2016)

b. Elastic /neoprene with flexible sidebar or joint


Pada knee orthosis ini tidak jauh berbeda dengan knee decker elastic/neoprene banyak
terdapat dipasaran/fabricated yang berbagai ukuran. Mekanisme kerja pada knee decker
elastic /neoprene with sidebars or joint ini juga memberikan penekanan di sekitar area lutut,
hanya terdapat sedikit penambahan ML kontrol sidebars dan joint sangat kecil serta
memberikan penekanan nenambah proprioception selain itu juga dapat mengurangi luas
akibat cedera.

Gambar 2.8
neoprane with sidebars (Braceshop, 2016)
c. Custom made conventional
Orthosis ini terbuat dari tracing yang memiliki fungsi dapat memberikan beberapa
kontrol pada lutut. Pada desain ini dibuat kaku dan dibuat fit agar tidak mudah dalam
pergerakan. Desain ini memiliki kontak poin yang lebih kecil dan memiliki tekanan yang
lebih tinggi pada area tersebut.
29

Gambar 2.9
Custom conventional (DMEdirect, 2015)
d. Custom moulded shell
Orthosis ini terbuat dari cast dari anggota badan yang cidera, fugsinya yaitu dapat
memberikan kontrol yang lebih selain itu desain ini juga sangat fit dan memiliki kontak area
yang lebar.
Gambar 2.10
Custom moulded (braceshop, 2016)

e. Off the shell moulded


Desain ini terdapat dalam berbagai ukuran dan fungsi karena sangat banyak dipasaran yang
siap pakai biasanya digunakan untuk cedera olahraga oleh para atlet (kerusakan ligamen)
seperti atlet lari namun selain untuk cedera olahraga itu sendiri ada beberapa didesign untuk
treatment pada arthritis juga.

Gambar 2.11
Off the shell (Prairie therapy, 2015)
f. Post operative
Desain ini digunakan setelah operasi yang biasanya dipakai untuk waktu yang relatif
singkat, selain itu juga memiliki mekanisme knee yang dapat mengatur jarak gerak dalam
fleksi dan ekstensi untuk mencegah terjadinya kontraktur.

Gambar 2.12
Post operative (Breg, 2016)

g. Backslab
Backslab ini terbuat dari POP bandage, aluminium atau thermoplastic yang memiliki
fungsi untuk menahan lutut tidak bergerak. desain ini dirancang untuk istirahat di tempat
tidur/bedrest atau berjalan sebentar, namun ortosis ini tidak memiliki joint karena fungsinya
hanya untuk immobilisasi.
Gambar 2 .12
Backslab (Chaneco, 2016)

b. Knee decker yang diambil oleh peneliti


Dalam penelitian ini peneliti mengambil knee decker elastic/neoprene sebagai alat
yang digunakan untuk melakukan penelitian. Knee decker elastic/ neoprene terbuat dari
bahan elastis yang lentur, Benda Elastis adalah benda yang saat diberikan gaya akan
mengalami perubahan bentuk dan saat gayanya dihilangkan benda akan kembali ke bentuk
awal (namiyo, 2014).
Knee decker elastic/neoprene sangat banyak terdapat dipasaran/fabricated yang
tersedia dalam berbagai ukuran mulai dari small, medium, large hingga xtra large seperti
pada Walgreens at the corner of happy and healthy yang merupakan salah satu toko online
yang menyediakan berbagai macam knee decker dengan berbagai ukuran.

Gambar 2.13
Knee decker elastic neoprene (Bhineka mentari dimensi, 2016)
4. penelitian yang relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Frank Randall, A.T.C., M.A, Harold Shurr,
C.P.O (1978), Dengan judul The Use of Prophylactic Knee Orthosis at Iowa
State University yang didasarkan oleh analisisdari 31 pemain bola di iowa
state university yang menggunakan prophylactic knee orthosis untuk toleransi
pada cidera lutut dalam waktu 20 hari yang akan diteliti untuk menentukan
bagaimana hubungan antara injury dan penggunaan orthosis.
2. Penelitian oleh Mirzaei et al., (2010) yang berjudul Effects Of Six Weeks Of Depth

Jump Vs. Countermovement Jump Training On Sand On Muscle Soreness And

Performance, dimana sejumlah 30 subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok,

kelompok perlakuan depth jump, counter movement dan kelompok kontrol. Penelitian

dilakukan selama 6 minggu, menunjukkan hasil bahwa depth jump dan

countermovement jump efektif dalam meningkatkan performa otot.

3. Penelitian oleh Nabizadeh et al, tahun 2013 yang berjudul Comparison Of Three

Deep Jump Plyometric Trainings On Vertical Jump In Basketball Players, dimana

sejumlah 30 subjek kelompok perlakuan yang meliputi tingginya alat latihan depth

jump yang berupan box yang memiliki tinggi 50cm, 60cm, 70cm. Dimana latihan

dilakukan 3 sesi per-minggu, 1 sesi selama 30-40 menit. Hasil menunjukkan tidak ada

perbedaan antara ketiga kelompok perlakuan tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa

deep jump plyometric training berpengaruh dalam meningkatkan vertical jump pada

pemain basket.
Kerangka Pikir

Loncatan

Faktor

-Kekuatan otot

-Keseimbangan
Faktor Pendukung
-Kelenturan sendi
Ortotik Prostetik ( knee
-Kemampuan melompat decker )

Manfaat

-menjaga kestabilan
knee
-mensupport kerja knee
-memberikan
penekanan di sekitar
area knee
-menjaga area lutut
tetap hangat

Gambar 2.14

Kerangka pikir

Keterangan gambar :

Faktor yang mempengaruhi pada saat meloncat antara lain : kekuatan otot , keseimbangan ,
kelenturan sendi , kemampuan meloncat . dari faktor inilah yang mempengaruhi ketika meloncat .
penggunaan knee decker di harapkan dapat mampu mempengaruhi tinggi loncatan pada pemain bola
basket .
Kerangka konsep

Intervensi ortotik
Subjek : pengaruh knee prostetik (knee decker)
support terhadap tinggi
loncatan pemain basket

Loncatan yang lebih


tinggi

Gambar 2.15

Kerangka konsep

Keterangan gambar:

Subjek dengan kriteria inklusi meliputi : (1) subjek seorang pemain basket kampus 2
poltekkes surakarta, (2) subjek berumur 18-25 tahun dan mahasiswa Poltekkes kemenkes Surakarta,
(3) subjek bersedia bekerjasama dan mengikuti program penelitian, (4) Subjek mau mengenakan knee
decker selama masa penelitian kecuali waktu istirahat dan saat perkuliahan, (5) Subjek sedang tidak
memakai alat lain kecuali knee decker yang sudah di tentukan.

Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah hipotesis alternatif yaitu ada pengaruh pemakaian
knee decker terhadap tinggi loncatan pada pemain basket.

Anda mungkin juga menyukai